PERAN PRESSURE GARMENT
DALAM PENCEGAHAN
JARINGAN PARUT HIPERTROFIK
PASCA LUKA BAKAR
Neidya Karla
Pembimbing : dr. Tertianto Prabowo, SpKFR Penguji : dr. Marietta Shanti P., SpKFR
Tinjauan Kepustakaan I 5th August 2016
PENDAHULUAN
Luka Bakar Cedera pada kulit akibat panas, radiasi, listrik, kimia 265.000 kematian setiap tahunnya ; hampir 50% terjadi di Asia Tenggara Komplikasi : - Fisik - Psikis Tatalaksana interdisiplinANATOMI
• Kulit merupakan organ tubuh terluas dengan berat 16% berat tubuh
• Tebalnya kulit bervariasi mulai 0,5 - 6 mm tergantung dari letak, umur dan jenis kelamin.
ANATOMI
1. EPIDERMIS
– lapisan luar kulit yang tipis dan avaskuler
– Berfungsi sebagai proteksi barier, organisasi sel, sintesis vitamin D dan sitokin, pembelahan dan mobilisasi sel, pigmentasi (melanosit) dan pengenalan alergen (sel Langerhans)
– Terdiri dari 5 lapisan :
• Stratum korneum • Stratum lucidum • Stratum granulosum • Stratum spinosum
ANATOMI
2. DERMIS
– Terdiri atas jaringan ikat yang menyokong epidermis dan menghubungkannya dengan jaringan subkutis
– Terdiri dari 2 lapisan, yaitu
• Lapisan papiler (tipis) yang mengandung jaringan ikat jarang
• Lapisan retikuler (tebal) terdiri dari jaringan ikat padat.
– Berfungsi sebagai struktur penunjang,
mechanical strength, suplai nutrisi, menahan shearing forces dan respon inflamasi.
ANATOMI
3. SUBKUTAN
– Terdiri dari lapisan lemak.
– Berfungsi melekat ke struktur dasar, isolasi panas, cadangan kalori, kontrol bentuk tubuh dan mechanical shock
LUKA BAKAR
• Suatu bentuk kerusakan atau kehilangan jaringan yang disebabkan kontak dengan sumber panas seperti api, air panas, bahan kimia, listrik dan radiasi.
• Morbiditas dan mortalitas tinggi
• Memerlukan penatalaksanaan khusus sejak awal (fase syok) sampai fase lanjut.
• Hal terpenting dari luka bakar adalah area permukaan tubuh yang terkena, kedalaman luka bakar, lokasi luka bakar, umur pasien, keadaan umum, dan
KLASIFIKASI LUKA BAKAR
1. Luka bakar derajat I
– Kerusakan terbatas pada lapisan epidermis superfisial
– Kulit kering hiperemik, berupa eritema – Tidak nyeri
KLASIFIKASI LUKA BAKAR
2. Derajat II Dangkal (Superficial)
– Folikel rambut, kelenjar keringat, kelenjar sebasea utuh.
– Mungkin terdiagnosa sebagai derajat II superficial setelah 12-24 jam ! bula terbentuk
– Ketika bula dihilangkan, luka tampak berwarna merah muda dan basah.
– Jarang menyebabkan jaringan parut hipertrofik. – Jika tidak ada infeksi, maka
penyembuhan akan terjadi secara spontan kurang dari 3 minggu.
KLASIFIKASI LUKA BAKAR
3. Derajat II dalam (Deep)
– Kerusakan mengenai hampir seluruh bagian dermis – Organ-organ kulit seperti folikel-folikel rambut,
kelenjar keringat, kelenjar sebasea sebagian besar masih utuh.
– Juga dijumpai bula
– Permukaan luka berwarna merah muda dan putih – Jika infeksi dicegah, luka bakar akan sembuh dalam
KLASIFIKASI LUKA BAKAR
4. Luka bakar derajat III (Full Thickness burn)
– Kerusakan meliputi seluruh tebal dermis – Tidak dijumpai bula
– Organ-organ kulit rusak
– Kulit berwarna putih dan pucat.
– Terjadi koagulasi protein pada epidermis yang dikenal sebagai jaringan parut
– Tidak ada nyeri – Hilang sensasi
– Penyembuhan lama karena
tidak ada proses epitelisasi spontan dari dasar luka
KLASIFIKASI LUKA BAKAR
5. Luka bakar derajat IV
– Luka mencapai lapisan otot, tendon dan tulang dengan adanya kerusakan yang luas.
– Kulit yang terbakar berwarna abu-abu dan pucat – Terletak lebih rendah dibandingkan kulit sekitar
– Terjadi koagulasi protein pada epidemis dan dermis yang dikenal scar
– Tidak dijumpai rasa nyeri – Hilang sensori
FASE PENYEMBUHAN LUKA
Inflamasi • 0-3 hari • Vasikontriksi • Reaksi hemostatis. • sel mast menghasilkan serotonin dan histamin ! permeabilitas kapiler ↑ ! eksudasi cairan, pembentukan sel radang ! edema Destruksi Makrofag mengeliminasi bakteri, memfagosit, serta mencerna sisa-sisa jaringan Proliferasi • Hari ke 3-24 • Pelepasan beberapa substansi seperti kolagen, elastin, hyaluronic acid, fibronektin dan proteoglikan • Angiogenesis • Epitelisasi; fibroblas mengeluarkan keratinocyte grow factor (KGC) Maturasi • Minggu 3-12 bulan • Sintesa kolagen dilanjutkanTATALAKSANA LUKA BAKAR
1. Fase akut / syok
2. Fase sub-akut dimulai ketika pasien secara hemodinamik telah stabil. Penanganan fase subakut berupa mengatasi infeksi, perawatan luka, dan nutrisi.
3. Fase lanjut / rehabilitasi, dilakukan rehabilitasi yang bertujuan untuk
meningkatkan kemandirian melalui pencapaian perbaikan
JARINGAN PARUT HIPERTROFIK
• Merupakan lesi yang menimbul akibat produksi
kolagen berlebihan pada proses penyembuhan luka.
• Jaringan parut hipertrofik berwarna merah,
menimbul, nodular dan kadang-kadang terasa gatal atau nyeri.
• Jaringan parut tetap terlokalisir pada daerah
JARINGAN PARUT HIPERTROFIK
• Jaringan parut hipertrofik merupakan
komplikasi tersering pada luka bakar
• Prevalensi terbentuknya jaringan parut
hipertrofik sekitar 67% dari seluruh kejadian luka bakar, lebih sering terjadi pada wanita dan pasien usia muda.
• Faktor risiko : jenis kelamin, usia, letak luka
PATOGENESIS JARINGAN PARUT
HIPERTROFIK
TATALAKSANA JARINGAN PARUT
HIPERTROFIK
• Jaringan parut menjadi masalah yang sulit
ditangani pada pasien luka bakar.
• Beberapa hal yang bisa dilakukan untuk
mencegah terbentuknya atau progresifitas jaringan parut hipertrofik adalah sebagai berikut : – Massage – Pressure garment – Silikon topikal – Injeksi steroid – Operasi
PRESSURE GARMENT
• Pressure garment merupakan terapi
menggunakan pakaian yang dapat memberikan tekanan pada jaringan dibawahnya.
• Mulai digunakan sejak 1970an
• Terbuat dari bahan yang kuat dan elastis
MEKANISME KERJA
PRESSURE GARMENT
1. Mengontrol sintesis kolagen dengan
membatasi suplai darah, oksigen dan nutrisi ke jaringan parut sehingga jaringan parut
menjadi berwarna putih atau pucat dan edema berkurang. Kedua hal ini menjadi indikator apakah tekanan yang diberikan sudah cukup atau belum.
MEKANISME KERJA
PRESSURE GARMENT
2. Mengurangi produksi kolagen yang berlebihan Tekanan ! iskemik jaringan.
• metabolisme jaringan menurun
• menghambat a-macroglobulin sehingga aktifitas kolagenase meningkat.
• Degenerasi kolagen, menurunkan ikatan antar serat kolagen, dan mengurangi jumlah kondroitin sulfat.
»Menurunkan hidrasi jaringan parut ! mempercepat stabilisasi sel mast dan
mengurangi neovaskularisasi dan produksi matriks ekstraseluler
MEKANISME KERJA
PRESSURE GARMENT
3. Rearangement serat kolagen yang baru terbentuk.
Tekanan merangsang perubahan arah
pertumbuhan serat kolagen, remodeling, dan
realignment dan menekan pertumbuhan colagen yang bergelung sehingga jaringan parut yang
METODE PEMBUATAN
PRESSURE GARMENT
• Metode faktor reduksi; yaitu dengan cara
mengukur lingkar tubuh pasien dikurangi
dengan persentase tertentu (10, 15, atau 20%) tanpa memperhitungkan kemampuan regangan bahan / kain yang akan digunakan.
• Hukum Laplace berdasarkan pengukuran
lingkar tubuh pasien dan kemampuan regangan kain.
APLIKASI
PRESSURE GARMENT
Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam penggunaan pressure garment, yaitu :
• Digunakan segera setelah luka bakar mengering • Digunakan 23 jam sehari selama 6-18 bulan,
atau hingga fase maturasi selesai. Sehingga kepatuhan pasien sangat dibutuhkan untuk mendapatkan hasil yang maksimal.
–Jika terjadi luka baru, penggunaan pressure garment harus dihentikan selama beberapa hari sampai luka tersebut mengering
APLIKASI PRESSURE GARMENT
Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam penggunaan pressure garment, yaitu :
• Mencuci pressure garment lebih baik
menggunakan mesin cuci daripada manual dengan tangan
• Pressure garment yang digunakan dengan cara
yang baik dan benar akan berkurang kemampuan tekanannya sekitar 50% dalam 1 bulan.
• Pressure garment yang baru harus dibuat
PENUTUP
Luka bakar merupakan masalah global dengan angka kematian cukup tinggi setiap tahunnya. Bagi korban luka bakar yang berhasil melewati fase akut pun harus menghadapi komplikasi yang
dapat mengganggu fungsi fisik maupun
psikologis. Jaringan parut hipertrofik merupakan komplikasi tersering pada luka bakar yang
PENUTUP
• Pressure garment hanyalah salah satu bagian dari keseluruhan proses rehabilitasi luka bakar pada umumnya, dan secara khusus pada jaringan parut hipertrofik.
• Program rehabilitasi lain seperti latihan, splinting, dan positioning juga harus dilakukan ! hasil yang optimal baik dari segi fungsional maupun kosmetik. • Meningkatkan kualitas hidup pasien.