• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Penelitian ini merupakan penelitian Research and Development (R & D),

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Penelitian ini merupakan penelitian Research and Development (R & D),"

Copied!
62
0
0

Teks penuh

(1)

115 BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. HASIL PENELITIAN

Penelitian ini merupakan penelitian Research and Development (R & D), yaitu penelitian dan pengembangan sumber belajar biologi yang menghasilkan produk akhir berupa prototype aplikasi panduan belajar. Prosedur penelitian mengacu pada tahapan penulisan bahan ajar yang diutarakan oleh Robert Maribe Branch 2009 yaitu menggunakan tahapan analysis, design, development, implementation, evaluation (ADDIE model). Namun dalam dalam penelitian ini hanya menerapkan pada tahapan ADD (analysis, design, development).

Berikut ini adalah langkah-langkah penulisan panduan belajar keanekaragaman capung untuk mempelajari keanekaragaman hayati dengan menggunakan model ADD:

1. Tahap Analisis

a. Analisis Potensi Hasil Penelitian Sebagai Sumber Belajar 1) Hasil Identifikasi Jenis Capung yang Ditemukan di Rawa

Jombor Dalam Penelitian Tria Septiani Subagyo

Berdasarkan penelitian keanekaragaman capung yang telah dilakukan di Rawa Jombor, Klaten pada bulan Februari – April 2016 teridentifikasi 30 spesies capung. Jenis capung yang diambil dari enam lokasi pengamatan di Rawa Jombor 28 jenis yang tertangkap

(2)

116

dan 2 spesies tidak tertangkap namun teridentifikasi keberadaanya. Tabel 31. Data Spesies Capung Rawa Jombor

No NAMA SPESIES LOKASI SAMPLING

1 2 3 4 5 6 1. Acisoma panorpoides 2. Aethriamanta aethra 3. Agriocnemis femina 4. Agriocnemis pygmaea 5. Agrionoptera insignis 6. Anax guttatus 7. Brachydiplax chalybea 8. Bracythemis contaminata 9. Copera marginipes 10. Crocothemis servillia 11. Diplacodes trivialis 12. Epophtalmia vittigera 13. Gynacantha subinterrupta 14. Ictinogomphus decoratus 15. Ischnura senegalensis 16. Lathrecista asiatica 17. Libellago lineata 18. Neurothemis terminata 19. Orthethrum sabina 20. Orthethrum testaceum 21. Pantala flavescens 22. Potamarcha congener 23. Pseudagrion microcephallum 24. Pseudagrion rubriceps 25. Rodhothemis rufa 26. Ryothemis phyllis 27. Tholymis tillarga 28. Urothemis signata 29. Zyxomma obtusum 30. Zyxomma petiolatum

Jumlah Total Spesies 17 13 13 11 16 10

Jumlah Total Individu 244 145 155 109 69 147 Indeks Keanekaragaman 1,64 1,77 2,23 2,00 2,09 1,73 Keterangan : Lokasi sampling 1 Waduk

Lokasi sampling 2 Aliran Masuk Menuju Waduk Lokasi sampling 3 Rawa

Lokasi sampling 4 Kolam

Lokasi sampling 5 Aliran Keluar dari Waduk Lokasi sampling 6 Sawah

(3)

117

Tabel 32. Data Klimatik Rawa Jombor Selama Pengamatan Waktu Pengamatan Intensitas

Cahaya (Lux)

Suhu Udara Kecepatan Angin 08.00 – 11.00 WIB 104 –1238 28 – 37 oC 0 – 6,4 m/s

2) Identifikasi Proses Dan Produk Penelitian Sebagai Sumber Belajar

Hasil penelitian biologi dapat dimanfaatkan sebagai sumber belajar biologi di SMA. Hasil penelitian biologi harus dikaji berdasarkan kurikulum pendidikan biologi yang berlaku untuk dapat diangkat sebagai sumber belajar. Menurut Suhardi (2012 : 14) setidaknya terdapat enam persyaratan yang perlu dikaji agar suatu hasil penelitian dapat dikembangkan sebagai sumber belajar. Berikut ini merupakan penjabaran dari keeman syarat tersebut dalam rangka mengangkat hasil penelitian biologi keanekaragaman capung di Rawa Jombor, Klaten sebagai panduan belajar biologi bagi peserta didik kelas X SMA:

2.1 Kejelasan Potensi Ketersediaan Objek dan Permasalahan yang Diangkat

Objek penelitian ini adalah hewan dari kelas Odonata atau Capung yang berada di Rawa Jombor, Klaten pada bulan Februari – April 2016 teridentifikasi 30 spesies capung. Adapun permasalahan yang diangkat adalah persamaan dan perbedaan ciri

(4)

118

morfologi Odonata/capung jantan dewasa yang menjadi petunjuk adanya persamaan dan perbedaan jenis capung. Objek dan permasalahan tersebut dapat digunakan untuk menemukan fakta dan konsep sehingga hasil penelitian ini telah memenuhi syarat kejelasan potensi ketersediaan objek dan permasalahan yang diangkat.

2.2 Kesesuaian Dengan Tujuan Pembelajaran

Pemanfaatan hasil penelitian ini sesuai dengan potensi ketersediaan objek dan permasalahan yang diangkat yaitu permasalahan biologi pada konsep keanekaragaman hayati tingkat jenis yang diperoleh dari hasil penelitian keanekaragaman capung di Rawa Jombor, Klaten. Potensi ketersediaan objek dan permasalahan ini sesuai dengan Standar Kompetensi (KI) dan Kompetensi Dasar (KD) pada materi Biologi kelas X SMA semester I.

KI yang ingin dicapai adalah KI 3. Memahami, menerapkan, menganalisis pengetahuan faktual, konseptual, prosedural berdasarlam rasa ingintahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologim seni, budaya, dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait penyebab fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat

(5)

119

dan minatnya untuk memecahkan masalah. KD yang ingin dicapai adalah KD 3.2 Menganalisis data hasil obervasi tentang berbagai tingkat keanekaragaman hayati (gen, jenis dan ekosistem) di Indonesia. Hasil penelitian dijabarkan ke dalam Tujuan Pembelajaran yang relevan dalam mempelajari KI dan KD yang ingin di capai.

2.3 Kejelasan Sasaran Materi dan Peruntukannya

Pengangkatan hasil penelitian keanekaragaman capung di Rawa Jombor, Klaten menjadi sebuah sumber belajar digunakan untuk mempelajari materi keanekaragaman hayati khususnya pada sub materi keanekaragaman hayati tingkat jenis. Materi ini diperuntukkan bagi siswa kelas X SMA semester I. Hasil penelitian ini dinilai telah memenuhi persyaratan kejelasan sasaran materi dan peruntukannya.

2.4 Kejelasan Informasi yang Akan Diungkap

Informasi yang diperoleh dari penelitian ini adalah ciri umum capung, persamaan dan perbedaan ciri morfologi capung, ciri umum habitat capung, perilaku capung, keanekaragaman jenis capung, cara mengklasifikasi capung kedalam kelompok-kelompok yang lebih kecil, cara mengidentifikasi jenis capung, peran capung bagi kehidupan, dan cara pelestarian capung. Informasi tersebut berupa fakta-fakta yang ditemukan selama kegiatan pembelajaran menggunakan produk hasil penelitian.

(6)

120

Informasi yang ditemukan dapat merujuk pada konsep-konsep biologi yang sesuai dengan hasil kegiatan.

2.5 Kejelasan Pedoman Eksplorasi

Pedoman eksplorasi yang dilakukan dalam penelitian telah dijabarkan pada Bab III tentang metode penelitian. Prosedur penelitian yang telah dilakukan tidak semua dapat diangkat menjadi sumber belajar bagi peserta didik, akan tetapi prosedur penelitian tersebut perlu disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi peserta didik dan guru. Beberapa hal yang perlu menjadi pertimbangan dalam memilih prosedur kerja yang dapat diangkat antara lain: kemudahan dalam pelaksanaan, ketersediaan waktu, ketersediaan tenaga, ketersediaan fasilitas, dan kemampuan peserta didik dan guru. Selain itu, pengangkatan pedoman eksplorasi sebagai sumber belajar harus berprinsip pada pengembangan keterampilan proses sains yang dapat dilakukan oleh peserta didik.

2.6 Kejelasan Perolehan yang Akan Diperoleh

Perolehan yang diharapkan dapat dicapai oleh peserta didik dari hasil penelitian ini antara lain:

(a) Perolehan Kognitif

(i) Pengetahuan tentang ciri morfologi, habitat, dan perilaku capung.

(7)

121

(ii) Pengetahuan tentang persamaan dan perbedaan ciri morfologi capung.

(iii) Pengetahuan mengenai keanekaragaman jenis capung yang ada di Rawa Jombor, Klaten.

(iv) Pengetahuan tentang peranan capung bagi kehidupan. (v) Pengetahuan tentang upaya pelestarian capung.

(b) Perolehan Afektif

(i) Tanggung jawab dalam melaksanakan tugas. (ii) Mengembangkan sikap mandiri dalam belajar

(iii) Mengembangkan sikap ketelitian, kehati-hatian, dan sabar dalam melakukan kegiatan belajar.

(iv) Menumbuhkan kecintaan terhadap makhluk hidup dan alam sekitar.

(v) Menyadari kekayaan keanekaragaman hayati Indonesia.

(c) Perolehan Psikomotorik

(i) Mengembangkan kemampuan mengamati ciri morfologi, habitat, dan perilaku capung yang ditemukan di Rawa Jombor, Klaten.

(ii) Mengembangkan kemampuan identifikasi capung yang ditemukan di Rawa Jombor, Klaten.

(8)

122

(iii) Mengembangkan keterampilan menggunakan alat-alat komunikasi dalam pembelajaran.

Setelah hasil penelitian memenuhi persyaratan untuk dapat dikembangkan sebagai sumber belajar, tahap selanjutnya adalah mengkaji proses dan produk yang ada di dalamnya. Di dalam suatu penelitian biologi terdapat fakta, konsep, dan proses sains yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi sumber belajar dalam rangkam meningkatkan kualitas proses dan hasil pembelajaran biologi. Berikut adalah hasil kajian proses dan produk yang relevan dengan permasalahan Biologi di SMA: a) Hasil Penelitian Berupa Proses

Hasil penelitian berupa proses diperoleh dari metode ilmiah yang telah dilakukan selama pelaksanaan penelitian keanekaragaman capung di Rawa Jombor, Klaten yang berupa langkah-langkah kegiatan penelitian. Langkah-langkah tersebut meliputi:

(1) Identifikasi Masalah

Masalah yang teridentifikasi dalam penelitian ini adalah keberadaan capung di Rawa Jombor, Klaten menunjukkan terancamnya kawasan tersebut sebagai habitat hidup capung. Data ilmiah mengenai keberadaan capung di Rawa Jombor,

(9)

123

Klaten juga belum ada. Kawasan Rawa Jombor, Klaten menyimpan potensi sebagai laboratorium alam yang dapat dijadikan ruang belajar yang menarik. Namun potensi ini belum banyak dimanfaatkan oleh sekolah-sekolah untuk mengadakan kegiatan belajar ataupun kegiatan keilmiahan.

(2) Perumusan Masalah

Rumusan masalah yang dapat ditarik dari penelitian keanekaragaman capung di Rawa Jombor, Klaten oleh Tria Septiani Subagyo, yakni apa saja jenis-jenis capung yang ada di Rawa Jombor, Klaten selama bulan Februari-Maret 2016.

(3) Perumusan Tujuan

Tujuan dari dilakukannya penelitian keanekaragaman capung di Rawa Jombor, Klaten adalah untuk mengetahui jenis-jenis capung yang ada di Rawa Jombor, Klaten selama bulan Februari-Maret 2016.

(4) Penyusunan Prosedur Penelitian

Prosedur penelitian disusun sebagai panduan pelaksanaan kegiatan penelitian agar kegiatan yang dilakukan dapat sesuai dengan tujuan penelitian yang diinginkan. Penyusunan prosedur penelitian meliputi penentuan objek penelitian, penentuan

(10)

124

populasi dan sampel penelitian, penentuan alat dan bahan yang digunakan, penetuan waktu dan tempat pelaksanaan penelitian, penentuan teknik analisis data penelitian, dan penarikan kesimpulan.

(5) Pelaksanaan Kegiatan

Pelaksanaan kegiatan penelitian dilakukan dalam dua tahap, yaitu tahap pertama adalah survei sebelum pelaksanaan untuk mempertimbangkan metode yang tepat, alat dan bahan yang dibutuhkan, kemampuan peneliti, dan waktu pelaksanaan, dan tahap kedua adalah pengambilan data lapangan yang dilakukan sesuai dengan perencanaan dan hasil survei penelitian.

(6) Analisis Data dan Pembahasan Hasil Penelitian

Data penelitian yang telah diperoleh kemudian dianalisis dan dihubungkan dengan pustaka-pustaka yang relevan. Hasil yang didapatkan dari analisis dan pembahasan hasil penelitian adalah jenis-jenis capung yang ada di Rawa Jombor, Klaten dan hubungannya dengan kondisi lingkungan yang ada pada saat penelitian.

(11)

125 (7) Penarikan Kesimpulan

Penarikan kesimpulan disesuaikan dengan tujuan yang ingin dicapai dari penelitian keanekaragaman capung ini. Kesimpulan yang diperoleh adalah diketahuinya jumlah jenis capung yang ada di Rawa Jombor, Klaten selama kurun waktu penelitian.

b) Hasil Penelitian Berupa Produk

Produk yang diperoleh dari hasil penelitian ini berupa fakta dan digeneralisasi menjadi konsep. Berikut adalah fakta dan konsep yang diperoleh dari hasil penelitian:

Tabel 33. Fakta dan konsep yang diperoleh dari hasil penelitian keanegaragaman capung di Rawa Jombor, Klaten

No Fakta Konsep

1.  Semua capung yang ditemui

memiliki bentuk tubuh yang beruas-ruas.

 Semua capung yang ditemua memiliki bentuk tubuh simetris bilateral

 Semua capung yang ditemui memiliki tiga bagian tubuh yaitu kepala (caput), dada (toraks), dan perut (abdomen).

Ciri umum Filum Arthropoda

(12)

126

 Semua capung yang ditemukan memiliki sistem reproduksi terpisah (terdapat hewan jantan dan betina).

2.  Semua capung yang ditemui

memiliki kepala yang terdiri dari sepasang mata berukuran besar, sepasang antena

berbentuk duri, dan sebuah mulut bertipe mulut pengunyah.  Semua capung yang ditemui

memiliki dada yang terdiri dari dua pasang sayap bertipe sayap membran, tiga pasang kaki bertipe kaki raptorial.

 umumnya capung yang ditemui memiliki perut berbentuk silinder memanjang, beruas-ruas sebanyak sepuluh tuas, dan memiliki alat kelamin sekunder.

Ciri umum capung

3. Terdapat perbedaan ciri morfologi capung dalam hal

Dasar klasifikasi capung

(13)

127

ukuran, bentuk, dan warna pada tubuh capung yang ditemui.

4.  Capung yang ditemui terbagi ke

dalam 2 sub-ordo yang berbeda.  Capung yang ditemui terbagi ke

dalam 7 Famili yang berbeda.

Pengklasifikasian ke dalam

kelompok yang lebih kecil dan spesifik 5. Dijumpai 30 macam capung

dari jenis yang berbeda.

Keanekaragaman tingkat jenis

6.  Semua capung biasa

(Anisoptera) yang ditemui memiliki bentuk pangkal sayap yang melebar.

 Semua capung biasa

(Anisoptera) yang ditemui memiliki bentuk sayap depan berbeda dengan sayap belakang

 Semua capung biasa

(Anisoptera) yang ditemui, posisi sayap pada saat istirahat

dalam keadaan

terbuka/horizontal.

Ciri umum

(14)

128

7.  Semua capung jarum

(Zygoptera) yang ditemui memiliki pangkal sayap yang menyempit.

 Semua capung jarum

(Zygoptera) yang ditemui memiliki bentuk sayap depan dan sayap belakang yang relatif sama.

 Semua capung jarum

(Zygoptera) yang ditemui, posisi sayap pada saat istirahat dalam keadaan tertutup / tegak lurus dengan tubuh.

Ciri umum

Zygoptera

8.  Semua capung betina yang

ditemui memiliki alat kelamin sekunder di ujung abdomen.  Semua capung jantan yang

ditemui memiliki alat kelamin sekunder di ruas ke 3 abdomen.  Semua capung jantan dewasa

yang ditemui umumnya memiliki warna lebih

Perbedaan ciri morfologi capung jantan dan capung betina

(15)

129

kuat/menarik daripada capung betina.

9.  Keanekaragaman dan populasi

capung merupakan bioindikator perairan yang sehat.

 Beberapa capung yang dijumpai sedang memangsa lalat, belalang, dan capung lain.  Beberapa capung yang dijumpai

menjadi mangsa laba-laba, burung, dan capung lain.

 Capung di Rawa Jombor Klaten menjadi objek penelitian biologi.

Peran capung bagi kehidupan

3) Seleksi Hasil Penelitian Sebagai Sumber Belajar Biologi yang Sesuai Dengan Persoalan Biologi termuat Dalam Panduan Belajar

Menurut Suhardi (2009 : 15), setelah hasil penelitian memenuhi persyaratan sebagai sumber belajar, terdapat dua hal yang perlu dipertimbangkan dalam rangka mengangkat proses dan produk

(16)

130

penelitian sebagai sumber belajar. Kedua hal tersebut adalah sebagai berikut :

a) Penyesuaian Prosedur Kerja Penelitian dengan Kegiatan Pembelajaran

Prosedur kerja penelitian harus disesuaikan dengan kegiatan pembelajaran, khususnya kegiatan belajar yang dilakukan peserta didik. Beberapa hal yang perlu diperhatikan antara lain ketersediaan objek/media, langkah kerja, dan lokasi kegiatan belajar yang dilakukan. Kegiatan yang akan dilakukan peserta didik dalam penelitian ini adalah kombinasi kegiatan lapangan dan kegiatan di dalam kelas sehinga menuntut peserta didik untuk turun langsung ke lapangan menghadapi objek dan permasalahan yang ada. Prosedur kerja yang dikembangkan dalam aplikasi ini yaitu kegiatan observasi, proses identidikasi, proses klasifikasi, penarikan kesimpulan dan mengkomunikasikan hasil observasi yang diperoleh. Kegiatan di kelas dilaksanakan sebagai pendahuluan sebelum kegiatan lapangan. Kegiatan lapangan ini membutuhkan alokasi waktu yang cukup banyak sehingga tidak memungkinkan untuk dilaksanakan pada jam pelajaran. Oleh karena itu, alternatif pelaksanaan kegiatan penelitian ini adalah dengan melaksanakan di luar jam pelajaran yaitu setelah jam belajar mengajar selesai atau di hari libur sekolah.

(17)

131

b) Penyesuaian Produk Penelitian dengan Kurikulum yang Berlaku

Menurut Suhardi (2012 : 6) suatu hasil penelitian memiliki potensi besar untuk diangkat sebagai sumber belajar. Namun hasil sebuah penelitian memungkinkan untuk tidak mendukung penuh konsep-konsep dalam kurikulum yang berlaku. Untuk itu diperlukan juga modifikasi dengan menambahkan konsep-konsep tersebut dari sumber lain yang relevan agar pencapaian kompetensi yang diharapkan dapat lebih optimal. Produk penelitian harus dikaji kesesuaiannya dengan kurikulum yang berlaku, dalam hal ini kurikulum 2013 bidang studi Biologi SMA kelas X agar konsep yang diperoleh melalui penelitian sesuai dengan tujuan pembelajaran yang berlaku.

4) Penerapan Hasil Penelitian Sebagai Sumber Belajar Ke Dalam Organisasi Instruksional

a) Konsep dan Sub Konsep

Konsep yang akan dicapai dalam kegiatan pembelajaran ini adalah keanekaragaman capung di Rawa Jombor, Klaten dengan sub konsep keanekaragaman gen, keanekaragaman jenis, manfaat keanekaragaman hayati namun di tekankan pada keanekaragaman jenis .

(18)

132 b) Kompetensi Dasar

Kompetensi dasar yang sesuai yakni KD 3.2 Menganalisis data hasil obervasi tentang berbagai tingkat keanekaragaman hayati (gen, jenis dan ekosistem) di Indonesia.

c) Hasil Belajar

Dari kegiatan belajar ini peserta didik diharapkan dapat menemukan konsep keanekaragaman hayati khususnya mengenai keanekaragaan tingkat gen, jenis, dan keanekaragaman hayati. d) Tujuan

(a) Siswa mampu menyebutkan (C1) ciri-ciri morfologi capung berdasarkan hasil pengamatan.

(b) Siswa mampu menemukan (C4) perbedaan dan persamaan ciri morfologi capung yang ditemukan dari hasil pengamatan.

(c) Siswa mampu mengklasifikasi (C3) capung ke dalam kelompok yang lebih kecil.

(d) Siswa mampu menggunakan (C3) aplikasi identifikasi jenis capung untuk mengidentifikasi jenis capung yang ditemukan.

(e) Siswa mampu mengumpulkan (C5) informasi mengenai peranan capung bagi kehidupan.

(19)

133

e) Uraian Materi

Materi yang digunakan dalam sumber belajar ini adalah materi hasil penelitian Biologi mengenai keanekaragaman capung di Rawa Jombor, Klaten.

f) Sasaran

(a) Sasaran pengamatan (objek belajar) : hewan dari kelas Odonata atau Capung yang berada di sekitar Sekolah. (b) Sasaran peruntukan (subjek belajar) : siswa SMA kelas

X semester I. g) Jenis Kegiatan

Kegiatan pembelajaran ini merupakan perpaduan antara kegiatan belajar ekstrakulikuler dan intrakulikuler. Hal ini dikarenakan dalam kegiatan pembelajaran ini terdapat kegiatan yang harus dilakukan di luar jam sekolah dan pada jam sekolah.

Kegiatan Intrakurikuler meliputi :

(a) Persiapan awal kegiatan belajar yaitu pengarahan sebelum peserta didik melakukan studi lapangan.

(b) Pelaporan hasil kegiatan yang telah dilakukan. Kegiatan ekstrakurikuler meliputi :

(a) Pelaksanaan pengamatan keanekaragaman capung di kawasan Rawa Jombor, Klaten

(20)

134 h) Waktu

Penelitian yang dilakukan disesuaikan dengan materi pembelajaran yang diangkat dalam aplikasi yang dibuat. Penelitian ini dilaksanakan pada semester I kelas X SMA tahun ajaran 2016/2017 dengan jumlah jam 2 x 45 menit untuk kegiatan intrakulikuler dan 2 x 45 menit utuk kegiatan ekstrakulikuler. i) Pendekatan

Pendekatan yang digunakan dalam kegiatan belajar ini adalah pendekatan induktif yaitu dari fakta menuju ke konsep. Kegiatan pembelajaran yang dilakukan peserta didik menggunakan aplikasi ini adalah peserta didik melakukan kegiatan di lapangan kemudian menarik kesimpulan dari kegiatan yang telah dilakukan tersebut.

j) Metode Mengajar

Metode mengajar yang digunakan adalah observasi dan diskusi.

k) Sarana dan Prasarana

Alat dan bahan yang digunakan dalam kegiatan pembelajaran ini adalah: handphone android, aplikasi panduan pengamatan, buku catatan, alat tulis, insect-net, lop/kaca pembesar, kamera, dan binokuler.

(21)

135

Kegiatan belajar yang disusun dalam aplikasi ini adalah kombinasi diskusi dan kegiatan belajar kelompok.

m) Sistem interaksi

Sistem interaksi yang dapat terjadi dalam kegiatan pembelajaran ini adalah

(a) Peserta didik – Objek (b) Peserta didik – Peserta didik (c) Guru – Objek

(d) Guru – Peserta didik n) Alat Evaluasi

Alat evaluasi yang digunakan dalam kegiatan pembelajaran menggunakan aplikasi ini adalah tugas dan tes sumatif yang terpisah dari bahan ajar. Tes sumatif ini digunakan sebagai evaluasi tahap akhir untuk mengetahui hasil belajar peserta didik mengunakan aplikasi tersebut.

b. Analisis Peserta Didik

Peserta didik yang menjadi sasaran penggunaan panduan belajar keanekaragaman capung di Rawa Jombor, Klaten adalah peserta didik SMA kelas X yang rata-rata berumur 16-17 tahun. Menurut Jean Piaget dalam Dwi Siswoyo, dkk., (2008 : 102-103), perkembangan intelektual peserta didik umur 11-14 tahun termasuk ke dalam tahap operasional formal. Perubahan perilaku dari peserta didik antara lain

(22)

136

adalah telah memiliki kemampuan mengoordinasikan dua ragam kemampuan kognitif secara serentak maupun beruntun. Misalnya kapasitas merumuskan hipotesis dan kemampuan menggunakan prinsip-prinsip abstrak. Kegiatan-kegiatan yang terdapat dalam aplikasi keanekaragaman capung di Rawa Jombor, Klaten menuntut peserta didik untuk berpikir abstrak dan mengikuti prosedur metode ilmiah, sehingga aplikasi ini sesuai dengan tahap perkembangan kognitif peserta didik.

Salah satu media pembelajaran yang saat ini hampir dimiliki oleh semua peserta didik yakni smartphone berbasis android. Smartphone diminati peserta didik karena fleksibilitas dan fungsinya yang sangat beragam. Potensi media yang dimiliki peserta didik ini sesuai dengan desain yang dirancang aplikasi panduan pengamatan capung berbasis android. Diharapkan dengan adanya bentuk media yang dekat dengan peserta didik serta dapat digunakan dimana dan kapan saja dapat memudahkan dalam proses pembelajaran.

c. Analisis Kompetensi/Kurikulum

Analisis kurikulum ini mengacu pada Kompetensi Inti (KI) dan Kompetensi Dasar (KD) pada kurikulum 2013 pada materi keanekaragaman hayati. Tahap ini digunakan untuk memahami tingkat kedalaman kompetensi yang dituntut oleh kurikulum. Analisis tersesbut mencakup identifikasi Kompetensi Inti, Kompetensi Dasar,

(23)

137

dan menyusun Indikator Pembelajaran pada materi yang akan dipelajari. Berikut adalah tabel KI, KD, dan Indikator Pembelajaran pada materi keanekaragaman hayati:

Tabel 34. Standar Kompetensi, Kompetensi Dasar, dan Indikator Pembelajaran.

Standar Kompetensi Kompetensi Dasar Indikator Pembelajaran KI 3. Memahami, menerapkan, menganalisis pengetahuan faktual, konseptual, prosedural berdasarkan rasa ingintahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologim seni, budaya, dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait penyebab fenomena 3.2 Menganalisis data hasil obervasi tentang berbagai tingkat keanekaragaman hayati (gen, jenis dan ekosistem) di Indonesia.

1. Peserta didik mampu mengidentifikasi

keanekaragaman capung di lingkungan sekitar sekolah 2. Peserta didik mampu

mengklasifikasikan

keanekaragaman capung di lingkungan sekitar sekolah 3. Peserta didik mampu menjelaskan habitat-habitat capung.

4. Peserta didik mampu Menyajikan data (gambar, foto, deskripsi) berbagai jenis capung yang hidup

(24)

138 dan kejadian, serta

menerapkan pengetahuan

prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah.

di lingkungan sekitar berdasarkan pengamatan. 5. Peserta didik mampu

menjelaskan data hasil observasi keanekaragaman capung di lingkungan sekitar sekolah. 6. Peserta didik mampu

menjelaskan peran

keanekaragaman terhadap kestabilan lingkungan. 7. Peserta didik mampu

menganalisis kemungkinan yang terjadi jika terjadi perubahan jumlah dan jenis keanekaragaman hayati terhadap

keseimbangan lingkungan. 8. Peserta didik mampu

menjelaskan usaha-usaha pelestarian

keanekaragaman hayati Indonesia.

(25)

139 d. Analisis Instruksional

Kompetensi Inti (KI) dan Kompetensi Dasar (KD) tersebut kemudian dijabarkan kedalam tujuan pembelajaran sebagai berikut: a) Mengumpulkan data jenis dan morfologi capung yang hidup di

lingkungan sekitar sekolah melalui identifikasi.

b) Mengumpulkan informasi habitat capung di lingkungan sekitar sekolah

c) Mengumpulkan informasi mengenai peranan capung bagi kehidupan dan menganalisis upaya-upaya pelestariannya.

2. Tahap Design

a. Penyusunan Kerangka Aplikasi

Dari hasil analisis kompetensi, disusun kerangka isi Aplikasi Panduan Pengamatan Capung yang menggambarkan keseluruhan materi dan kegiatan yang akan dimuat dalam Aplikasi Panduan Pengamatan Capung. Kerangka isi tersebut antara lain memuat:

Tabel 35. Kerangka Aplikasi Panduan Pengamatan Capung

No Komponen Keterangan

1. Menu Utama

Menu Utama menampilkan keseluruhan bagian aplikasi, antara lain:

(26)

140  Panduan Penggunaan  Mengenal Keanekaragaman Capung  Identifikasi Spesies  Glosarium  Tentang Aplikasi  Daftar Referensi 2. Panduan Penggunaan

Petunjuk penggunaan Aplikasi memuat mengenai hal-hal yang harus diperhatikan dan dilakukan oleh peserta didik dan guru dalam menggunakan Aplikasi.

3.

Mengenal

Keanekaragaman Capung

Mengenal Keanekaragaman Capung berisi mengenai dasar materi yakni keanekaragaman (gen, spesies dan ekosistem), serta pengenalan capung melalui 5W+1H, antara lain:

 Apakah capung itu ?  Siapakah capung itu?  Dimana capung hidup?

 Kapan Capung Bisa Dijumpai?  Bagaimana Capung Hidup?

(27)

141

 Mengapa capung perlu dipelajari?

4.

Panduan Identifikasi Capung

Pada bagian ini memuat beberapa informasi runtutan dalam mengidentifikasi capung antara lai:  Bagaimana menangkap capung?

 Bagaimana cara memegang

capung?

 Bagaimana cara membedakan capung jarum dan capung biasa ?  Bagaimana cara membedakan

capung jantan dan capung betina ?  Bagaimana cara membedakan antar spesies capung menggunakan aplikasi panduan pengamatan?

5. Identifikasi Spesies

Identifikasi Spesies berisi 30 spesies capung yang dijabarkan menjadi beberapa bagian, antara lain:

 Foto spesies jantan dan betina  Nama spesies

 Taksonomi spesies  Deskripsi umum

(28)

142

 Morfometri

 Peta perjumpaan di lokasi

sampling

6. Glosarium

Glosarium berisi daftar penjelasan istilah – istilah asing.

7. Tentang Aplikasi

Tentang Aplikasi berisi keterangan pengembang aplikasi, antara lain:  Dosen Pembimbing  Instansi Terkait  Anggota Tim  Tim IT  Email Pengembang  Email Instansi  Instagram Instansi 8. Daftar Referensi

Daftar Referensi berisi list literatur yang digunakan sebagai acuan pembuatan aplikasi

b. Penyusunan Materi Dalam Aplikasi

Pada tahap ini dilakukan penyusunan materi yang akan dituangkan ke dalam Aplikasi Panduan Pengamatan Capung. Dari sistematika yang telah dibuat maka materi yang akan dituang ke dalam aplikasi meliputi: Pengertian capung, Taksonomi capung , Habitat

(29)

143

capung , Perilaku capung, peran capung dalam kehidupan manusia dan lingkungan.

c. Penyusunan Sistematika Produk

Tahap ini menentukan sistematika penyajian materi pada produk supaya runtut sesuai dengan tahap-tahap dan mudah dalam mempelajari isi materi Aplikasi panduan Pengamatan Capung. Berikut adalah urutan penyajian kegiatan di dalam Aplikasi yang dibuat:

1) Membuka menu Panduan Penggunaan Tujuan :

a) Mengetahui tata cara penggunaan aplikasi b) Mengetahui runtutan bagian yang akan dibuka 2) Membuka menu Mengenal Keanekaragaman Capung

Tujuan :

a) Mengetahui dasar materi keanekaragaman hayati (gen, spesies dan ekosistem)

b) Mengenal Keanekaragaman Capung

c) Mengetahui Pengertian capung secara umum d) Mengetahui Taksonomi capung

e) Mengetahui Habitat capung f) Mengetahui Perilaku Capung

(30)

144

g) Mengetahui peran Capung dalam kehidupan manusia dan lingkungan

3) Membuka menu Panduan Identifikasi Capung Tujuan :

a) Mengetahui cara menangkap capung b) Mengetahui cara memegang capung c) Mengidentifikasi sub-ordo capung d) Mengidentifikasi jenis kelamin capung e) Mengidentifikasi spesies capung 4) Membuka menu Identifikasi Spesies

Tujuan :

a) Mengenal Keanekaragaman Capung dari hasil observasi di Rawa Jombor

b) Berlatih mengidentifikasi capung menggunakan aplikasi baik capung secara langsung, gambar maupun ilustrasi untuk lebih menguatkan pemahaman keanekaragaman spesies.

d. Pembuatan Skenario, Tombol Fungsi Dan Story Board

Pada tahap ini dilakukan pembuatan skenario untuk mengetahui urutan dalam pengoperasian Aplikasi. Tombol fungsi yang digunakan untuk berpindah dari halaman 1 ke halaman lainnya. Rancangan

(31)

145

storyboard digunakan untuk mengatur tata letak setiap halaman yang ada.

e. Perancangan Alat Evaluasi

Alat evaluasi yang digunakan dalam kegiatan pembelajaran Aplikasi ini adalah tes sumatif. Tes sumatif yang ada di dalam bahan ajar digunakan sebagai acuan penilaian untuk mengetahui keefektifan/keberhasilan penyusunan aplikasi terhadap hasil belajar peserta didik.

3. Tahap Development a. Pra Penulisan

Pada tahap ini dilakukan kajian referensi dan sumber pustaka serta keperluan lain yang mendukung dalam proses penyusunan Aplikasi Panduan Pengamatan Capung.

b. Penyusunan Draf Aplikasi

Penyusunan draf aplikasi dilakukan oleh tim IT sesuai dengan kerangka dan sistematika penulisan media panduan belajar yang telah disusun penulis.

c. Penyuntingan / Validasi

Produk awal hasil penyusunan panduan belajar kemudian di review oleh ahli yang relevan, yakni dosen ahli materi dan dosen ahli media untuk memperoleh masukan dan komentar. Masukan dan komentar dari dosen ahli digunakan untuk menyempurnakan panduan belajar sebelum diuji coba terbatas di MAN Yogyakarta III. Tujuan tahap ini adalah untuk menghindari adanya kesalahan konsep dan bahasa.

(32)

146 1) Ahli Media

Penilaian oleh dosen ahli media ditinjau dari empat aspek yaitu: aspek materi, aspek penyajian, aspek desain dan aspek bahasa. Selama proses konsultasi diperoleh beberapa saran dan penilaian terhadap aplikasi yang dikembangkan. Berikut adalah penilaian dosen ahli media :

Tabel 36. Hasil penilaian kelayakan Aplikasi Panduan Pengamatan oleh ahli media

Keterangan : Ahli Media 1. Handziko Christy, M.Pd Ahli Media 2. Ciptono M.Si

Ahli Media 3. Yuni Wibowo M.Pd Aspek Penilaian Ahli Media Frekuensi

Sudah Baik Belum Baik

Aspek Materi 1 6 0 2 6 0 3 5 1 ∑f 17 1 % 94,44% 5,56% Aspek Penyajian 1 8 1 2 7 2 3 7 2 ∑f 22 5 % 81,48% 18,52% Aspek Desain 1 14 0 2 13 1 3 11 3 ∑f 38 4 % 90,48% 9,52% Aspek Bahasa 1 10 1 2 11 0 3 8 3 ∑f 29 4 % 87,88% 12,12%

Total Frekuensi Tiap Aspek 106 14

(33)

147 (1) Aspek Materi

Hasil penilaian aspek materi oleh ahli media menunjukkan bahwa persentase aspek kelengkapan materi sebesar 94,44% sudah baik dan 5,56% dikatakan belum baik oleh ahli media. Hal ini menunjukkan bahwa aplikasi ini sudah baik karena modus dengan persentase baik jauh lebih tinggi.

(2) Aspek Penyajian

Hasil penilaian aspek materi oleh ahli media menunjukkan bahwa persentase aspek penyajian materi sebesar 81,48% sudah baik dan 18,52% dikatakan belum baik oleh ahli media. Hal ini menunjukkan bahwa secara umum aplikasi ini sudah baik karena modus dengan persentase baik jauh lebih tinggi.

(3) Aspek Desain

Hasil penilaian aspek materi oleh ahli media menunjukkan bahwa persentase aspek penyajian desain sebesar 90,48% sudah baik dan 9,52% dikatakan belum baik oleh ahli media. Hal ini menunjukkan bahwa secara umum aplikasi ini sudah baik karena modus dengan persentase baik jauh lebih tinggi.

(4) Aspek Bahasa

Hasil penilaian aspek materi oleh ahli media menunjukkan bahwa persentase aspek penyajian desain sebesar 87,88% sudah baik dan 12,12% dikatakan belum baik oleh ahli media. Hal ini

(34)

148

menunjukkan bahwa secara umum aplikasi ini sudah baik karena modus dengan persentase baik jauh lebih tinggi.

Persentase penilaian aplikasi panduan pengamatan capung secara keseluruhan ditinjau dari aspek materi, aspek penyajian, aspek desain dan aspek bahasa sebesar 88,57% dikatakan sudah baik dan 11,43% dikatakan belum baik oleh alhi media. Berikut adlah proporsi penilaian kelayakan aplikasi panduan pengamatan capung oleh ahli media disajikan dalam diagram pie:

Gambar 37. Diagram Pie Hasil Penilaian Kelayakan oleh Ahli Media

Selama proses konsultasi juga diperoleh beberapa saran terhadap aplikasi yang dikembangkan. Berikut adalah saran dosen ahli media terhadap aplikasi yang dikembangkan :

Tabel 37. Saran oleh Dosen Ahli Media Aspek Penilaian Ahli Media Saran Aspek Materi

1 a. Sudah baik namun masih terlihat teralu banyak text.

89% 11%

Persentase Kelayakan Aplikasi Oleh Ahli Media

(35)

149

b. Pada bagian mengapa capung perlu dipelajai, belum disampaikan mengapa capung membantu bidang pertanian. 2 a. Sudah bagus, diperjelas pada beberapa

judul yang dimaksud rawa jombor klaten atau rawa jombor sleman

3 a. Keruntutan materi di tingkatakan Aspek

Penyajian

1 a. Perlu ditambahkan studi kasus untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis.

b. Perlu ditambahkan kaitan materi dengan kehidupan sehari-hari.

2 a. Sudah baik

3 a. Belum ada tugas atau pertanyaan yang mendorong siswa belajar lebih jauh b. Perlu ditambahakan panduan identifikasi

capung Aspek

Desain

1 a. Desain aplikasi sudah cukup baik.

b. Diluar keterbatasan teknis aplikasi, akan sangat baik jika panduan identifikasi spesies disertai dengan gambar morfologi per bagian identifikasi.

c. Font kurang besar sedikit. 2 a. Sudah baik

3 a. Perlu dibuat sub title yang tidak membingungkan

b. Pada mengenal capung perlu di pisah per bagian supaya tidak terlalu panjang Aspek

Bahasa

1 a. Beberapa istilah dan kata ada yang masih kurang tepat.

2 a. Perhatikan kata dan resolusi minimal pada gadget supaya tidak terpenggal 3 a. Diperpendek paragrafnya

b. Pemilihan kata beberapa ambigu

2) Ahli Materi

Penilaian oleh dosen ahli materi ditinjau dari aspek kebenaran konsep yang dilakukan melalui konsultasi selama proses penyusunan modul. Melalui proses konsultasi kepada dosen ahli materi, kemudian aplikasi panduan pengamatan capung disusun dengna memuat materi.

(36)

150

Antara lain: Keanekaragaman (gen,spesies,ekosistem) khususnya capung; Klasifikasi Capung; Panduan dalam mengidentifikasi capung; Keanekaragaman capung di Rawa Jombor. Selama proses konsultasi diperoleh beberapa saran dan penilaian terhadap aplikasi yang dikembangkan. Berikut adalah penilaian dosen ahli materi :

Tabel 38. Hasil penilaian kebenaran konsep Aplikasi Panduan Pengamatan oleh ahli materi

Ahli Materi Persentase Penilaian kebenaran konsep

Benar Salah

1. Triatmanto, M.Si 94,79 % 5,21 %

2. Suhandoyo, M.Si 90.62 % 9,38 %

3. Diagal Wisnu P, S.Si 90.62 % 9,38 %

Rata – rata 92,01 % 7,99 %

Berdasarkan hasil validasi dari dosen ahli dapat diketahui bahwa kriteria benar kemunculan terbanyak yakni 92,01 %, sedangkan kriteria salah memiliki frekuensi kemunculan sebesar 7,99 %. Artinya kriteria benar menjadi modus dalam penelitian ini. Sehingga konserp dalam aplikasi ini secara umum sudah sesuai dengan referensi. Beberapa konsep yang belum sesuai dengan referensi diperbaiki sesuai saran dari ahli materi. Berikut adalah proporsi penilaian ahli materi apabila disajikan dalam diagram pie :

(37)

151

Gambar 38. Diagram Pie Hasil Penilaian Aspek Kebenaran Konsep oleh Ahli Materi

Selain penilaian konsep kebenaran, ahli materi juga memberikan beberapa saran. Saran dosen ahli materi tersebut dijadikan acuan dalam perbaikan aplikasi. Berikut adalah saran dari dosen ahli materi: Tabel 39. Saran oleh Dosen Ahli Materi

Aspek Penilaian Saran

1. Triatmanto, M.Si a. Odonata lebih tepat jika di definiskan serangga yang kepalanya di dominasi mata dan gigi.

b. Segmen dalam bahasa indonesia adalah sekmen, antar segmen ada sekat/septum. c. Bioindikator lebih tepat jika yang

dimaksud adalah saat fase nimfa. d. Penggunaan kata sahabat petani rancu e. Artropoda berasal dari kata artros:ruas

dan podos:kaki. Yang beruas kaki bukan badannya.

f. Insecta mempunyai kaki 3 pasang yang terletak pada setiap ruas.

g. Insang pada nimfa merupakan insang trakea

h. Setiap kali bertambah besar nimfa akan berganti kulit. Pergantian kulit ini berlangsung beberapa kali.

7,99%

92,01%

Persentase Kebenaran Konsep oleh Ahli Materi

(38)

152

i. Ciri spesies yang sama adalah memiliki struktur taksonmi sama dan dapat interbreeding serta menghasilkan keturunan fertil.

j. Berikan definisi, Mata majemuk adalah...

k. Semua bagian tambahan pada makluk hidup disebut appendages/embelan. l. Bagian kaki serangga antara lain:

ruas pertama : coxa, kedua:trochanther, ketiga:femur, keempat: tibia, kelima: tarsus

2. Suhandoyo, M.Si a. Identifikasi proses melihat ciri morfologi.

b. Rancu definisi spesies masih bisa varietas. Lebih baik gunakan istilah memiliki kesamaan ciri taksonomi dan dapat melakukan perkawinan serta keturunannya fertil.

c. Capung bukan merupakan nenek moyang serangga yang ada melainkan sudah ada sejak zaman dahulu.

d. Penjelasan kurang lugas,

Zygoptera adalah ordo serangga yang bagaimana...

Anisoptera adalah ordo serangga yang bagaimana...

e. Jelaskan makanan capung dewasa dan saat nimfa berbeda

f. Sumber air akan lebih tepat jika diganti sumber perairan

g. Jelaskan apakah ecdysis, moulting dan ganti kulit sama atau berbeda.

h. Penyusunan kalimat diperbaiki, misalnya “insecta adalah serangga dengan ciri berkaki 6”.

i. Capung merupakan salah satu komponen penting dalam menyeimbangkan ekosistem.

3. Diagal Wisnu P, S.Si

a. Bedakan antara klasifikasi dan identifikasi

b. Spesies adalah unit dasar, masih ada subspesies dan varietas.

(39)

153

d. Jelaskan kenapa capung menjadi bioindikator lingkungan

e. Jelaskan lugas peran capung dalam mengontrol hama tanaman

f. Tidak semua anisoptera matanya berhimpitan (gomphidae)

g. Tidak semua zygoptera berukuran kecil. Gunakan “umumnya”

h. Capung biasa umumnya memiliki daya terbang jauh sedangkan capung jarum daya terbangnya rendah

i. Jelaskan dengan lugas, Capung saat fase Nimfa hidup di dalam air

j. Konsisten dalam penggunaan istilah misal caung jarum: zygoptera dan capung biasa: anisoptera

k. Banyak kalimat yang terlalu panjang sehingga sulit dimengerti

d. Revisi I

Revisi dilakukan dari berdasarkan hasil penyuntingan, masukan dan saran oleh dosen ahli materi dan media untuk menyempurnakan produk yang dihasilkan. Tahap ini merupakan tahap terakhir sebelum melakukan penilaian terhadap produk. Berikut merupakan beberapa perubahan pada aplikasi sebelum revisi dan setelah revisi pertama:

(40)

154

Tabel 40. Tabel perubahan aplikasi sebelum dan setelah revisi I

No. Sebelum Revisi Setelah Revisi I

1.

2. Capung masuk dalam Ordo Odonata yang diambil dari Bahasa Yunani odon (gigi) dan – ata(akhiran penamaan kelompok zoologi), sehingga diartikan kelompok serangga yang memiliki gigi.

Capung masuk dalam Ordo Odonata yang diambil dari Bahasa Yunani odon (gigi) dan – ata (akhiran penamaan kelompok zoologi), sehingga diartikan kelompok serangga yang proporsi kepalanya di dominasi mata majemuk dan gigi.

3. Perut capung memiliki bentuk memanjang, umumnya seperti tabung namun sebagian lainnya pipih. Perut capung memiliki 10 segmen/ sekat.

Perut capung memiliki bentuk memanjang, umumnya seperti tabung namun sebagian lainnya pipih. Perut capung memiliki 10 segmen, antar segmen terpisah oleh septum/sekat.

4. Secara deskriptif capung masuk dalam kerajaan animalia/ hewan. Tergolong dalam fillum arthropoda / hewan dengan tubuh beruas-ruas. Tergolong pada kelas insecta/ serangga yang memiliki 6 tungkai (kaki). Tergolong dalam ordo odonata / memiliki gigi. Odonata terbagi menjadi tiga Sub-Ordo namun hanya dua divisi yang dapat ditemukan di Rawa Jombor

Secara deskriptif capung masuk dalam kerajaan animalia/ hewan. Tergolong dalam fillum arthropoda / hewan dengan kaki beruas-ruas. Tergolong pada kelas insecta/ serangga yang memiliki 3 pasang tungkai (kaki). Tergolong dalam ordo odonata / serangga yang kepalanya di dominasi mata majemuk dan gigi. Odonata terbagi menjadi tiga Sub-Ordo namun hanya dua

(41)

155 yaitu: capung biasa (Anisoptera) dan capung jarum (Zygoptera).

Sub-Ordo yang dapat ditemukan di Rawa Jombor yaitu: capung biasa (Anisoptera) dan capung jarum (Zygoptera).

5. Keanekaragaman spesies atau keanekaragaman antar spesies, yakni beragamnya spesies akibat perbedaan jumlah dan susunan gen. Spesies adalah individu yang dapat kawin/interbreeding dengan sejenisnya dan mampu menghasilkan keturunan fertil.

Keanekaragaman spesies yakni beragamnya spesies akibat perbedaan jumlah dan susunan gen. Ciri spesies yang sama adalah dapat kawin/interbreeding dengan sejenisnya dan mampu menghasilkan keturunan fertil. 6. Capung dikenal sebagai

bioindikator lingkungan perairan dan sahabat bagi petani sebagai natural pestcontrol yang memakan hama tanaman.

Capung dikenal sebagai bioindikator lingkungan, karena nimfa capung hidup di dalam perairan tertentu, semakin tercemar semakin sedikit yang dapat bertahan hidup. Capung bermanfaat bagi petani sebagai predator yang memakan hama tanaman.

e. Uji Keterbacaan

Aplikasi yang telah divalidasi oleh ahli media dan ahli materi kemudian di revisi. Produk revisi ini kemudian di uji keterbacaan pada 3 orang Guru Biologi dan 12 orang peserta didik kelas X semester di MAN Yogyakarta III, Sleman. Hasil penilaian kelayakan modul oleh guru biologi dan peserta didik sebagai berikut :

a) Guru Biologi

Penilaian oleh guru biologi di tinjau dari empat aspek utama, yaitu aspek materi, aspek penyajian, aspek desain dan aspek bahasa. Berikut adalah hasil penilaian guru terhadap aplikasi panduan pengamatan capung:

(42)

156

Tabel 41. Hasil Penilaian Guru Terhadap Aplikasi

Aspek Penilaian Guru Frekuensi

Sudah Baik Belum Baik

Aspek Materi 1 6 0 2 6 0 3 4 2 ∑f 16 2 % 88,88 11,12 Aspek Penyajian 1 9 0 2 8 1 3 6 3 ∑f 23 4 % 85,18 14,82 Aspek Desain 1 12 2 2 14 0 3 1 13 ∑f 39 3 % 92,85 7,15 Aspek Bahasa 1 9 0 2 9 0 3 7 2 ∑f 25 2 % 92,59 7,41

Total Frekuensi Tiap Aspek 103 11

Rata-rata Persentase 90,35 9,65 Keterangan : Guru Biologi 1. Rini Utami, S.Pd

Guru Biologi 2. Siti Mahmudah, S.Pd

Guru Biologi 3. Siti Nur Rochmah, S.Pd, MA (1) Aspek Materi

Hasil penilaian aspek materi oleh Guru Biologi menunjukkan bahwa persentase aspek materi sebesar 88,88% sudah baik dan 11,12% dikatakan belum baik oleh guru Biologi. Hal ini menunjukkan bahwa aplikasi ini sudah baik karena modus dengan persentase baik jauh lebih tinggi.

(43)

157

Hasil penilaian aspek penyajian oleh Guru Biologi menunjukkan bahwa persentase aspek penyajian materi sebesar 85,18% sudah baik dan 14,82% dikatakan belum baik oleh Guru Biologi. Hal ini menunjukkan bahwa secara umum aplikasi ini sudah baik karena modus dengan persentase baik jauh lebih tinggi.

(3) Aspek Desain

Hasil penilaian aspek materi oleh Guru Biologi menunjukkan bahwa persentase aspek penyajian desain sebesar 92,85% sudah baik dan 7,15% dikatakan belum baik oleh Guru Biologi. Hal ini menunjukkan bahwa secara umum aplikasi ini sudah baik karena modus dengan persentase baik jauh lebih tinggi.

(4) Aspek Bahasa

Hasil penilaian aspek materi oleh Guru Biologi menunjukkan bahwa persentase aspek penyajian desain sebesar 92,59% sudah baik dan 7,41% dikatakan belum baik oleh Guru Biologi. Hal ini menunjukkan bahwa secara umum aplikasi ini sudah baik karena modus dengan persentase baik jauh lebih tinggi.

Persentase penilaian aplikasi panduan pengamatan capung secara keseluruhan ditinjau dari aspek materi, aspek penyajian, aspek desain dan aspek bahasa sebesar 90,35 %dikatakan sudah baik dan 9,65% dikatakan belum baik oleh Guru Biologi. Berikut

(44)

158

adalah proporsi penilaian kelayakan aplikasi panduan pengamatan capung oleh ahli media disajikan dalam diagram pie: Gambar 39. Diagram Pie Penilaian Kelayakan oleh Guru Biologi

Selama proses konsultasi juga diperoleh beberapa saran terhadap aplikasi yang dikembangkan. Berikut adalah saran guru biologi terhadap aplikasi yang dikembangkan :

Tabel 42.Saran oleh Guru Biologi

Aspek Penilaian Saran

Rini Utami, S.Pd a. Penjelasan materi keanekaragaman spesies kurang jelas

b. Keterangan gambar tidak jelas pada materi siapa capung itu

c. Bagian penjelasan zygoptera sebaiknya diperbaiki

d. Beberapa kata tidak baku “nampak seharusnya tampak”

e. Ada beberapa kata yang tidak baku seperti kemendikbud dan indonesia, seharusnya diawali huruf kapital

f. Pembagian kolom zygoptera dan anisoptera membingungkan

g. Kata yang berpasangan beberapa ada yang belum diberi tanda hubung

90,35% 9,36%

Persentase Kelayakan Aplikasi Oleh Guru Biologi

(45)

159

h. Judul bab siapakah capung itu ?, disarankan diubah menjadi bagaimana kedudukan capung dalam taksonomi. Siti Mahmudah,

S.Pd

a. Disarankan menambah bagian usaha pelestarian capung dan pesan moral b. Disarankan menambah foto habitat

masing-masing lokasi sampling

c. Aplikasi ini juga sesuai digunakan untuk pengayaan

Siti Nur Rochmah, S.Pd, MA

a. Materi terlalu banyak kata. b. Sebaiknya dibuat lebih sederhana c. Tidak semua peserta didik mengenal

capung secara dekat. b) Peserta Didik

Tanggapan peserta didik terhadap kelayakan modul pengayaan ini dilakukan oleh 12 peserta didik kelas X MAN Yogyakarta III. Berikut adalah hasil penilaian kelayakan modul oleh peserta didik :

Tabel 43. Hasil tanggapan peserta didik terhadap kelayakan aplikasi Aspek penilaian

Persentase Kriteria Penilaian Kelayakan Sangat setuju Setuju Kurang setuju Tidak setuju Aspek Penyajian 47,92 % 47,92 % 4,16 % 0,00 % Aspek Bahasa 38,89 % 58,32 % 2,79 % 0,00 % Aspek Pelaksanaan 75,00 % 25,00 % 0,00 % 0,00 % Aspek Kemandirian 33,33 % 58,33 % 8,34 % 0,00 % Aspek Manfaat 51,67 % 48,33 % 0,00 % 0,00 % Rata-Rata Persentase 49,36% 47,58% 3,06% 0,00%

(1) Aspek Kelayakan Penyajian

Hasil tanggapan peserta didik terhadap aspek kelayakan isi pada aplikasi panduan pengamatan capung ini menunjukkanbahwa persentase kelayakan penyajian sebesar 47,92 % dikatakan sangat setuju, 47,92 % dikatakan setuju, 4,16

(46)

160

% dikatakan kurang setuju, dan 0,00 % dikatakan tidak setuju. Hasil tersebut menunjukkan bahwa sangat setuju merupakan modus dalam tanggapan peserta didik karena mempunyai frekuensi kemunculan paling banyak. Disimpulkan kelayakan aplikasi ini sangat baik menurut peserta didik.

(2) Aspek Kelayakan Bahasa

Hasil tanggapan peserta didik terhadap aspek Kelayakan Bahasa pada aplikasi panduan pengamatan capung ini menunjukkan bahwa persentase kelayakan bahasa sebesar 38,89 % dikatakan sangat setuju, 58,32 % dikatakan setuju, 2,79 % dikatakan kurang setuju, dan 0,00 % dikatakan tidak setuju. Hasil tersebut menunjukkan bahwa setuju merupakan modus dalam tanggapan peserta didik karena mempunyai frekuensi kemunculan paling banyak. Disimpulkan kelayakan aplikasi ini baik menurut peserta didik.

(3) Aspek Kelayakan Pelaksanaan

Hasil tanggapan peserta didik terhadap aspek Kelayakan Pelaksanaan pada aplikasi panduan pengamatan capung ini menunjukkan bahwa persentase kelayakan bahasa sebesar 75 % dikatakan sangat setuju, 25 % dikatakan setuju, 0,00 % dikatakan kurang setuju, dan 0,00 % dikatakan tidak setuju. Hasil tersebut menunjukkan bahwa sangat setuju merupakan modus dalam tanggapan peserta didik karena mempunyai frekuensi

(47)

161

kemunculan paling banyak. Disimpulkan kelayakan aplikasi ini sangat baik menurut peserta didik.

(4) Aspek Kelayakan Kemandirian

Hasil tanggapan peserta didik terhadap aspek Kelayakan Kemandirian pada aplikasi panduan pengamatan capung ini menunjukkan bahwa persentase kelayakan Kemandirian sebesar 33,33 % dikatakan sangat setuju, 58,33 % dikatakan setuju, 8,34 % dikatakan kurang setuju, dan 0,00 % dikatakan tidak setuju. Hasil tersebut menunjukkan bahwa setuju merupakan modus dalam tanggapan peserta didik karena mempunyai frekuensi kemunculan paling banyak. Disimpulkan kelayakan aplikasi ini baik menurut peserta didik.

(5) Aspek Kelayakan Manfaat

Hasil tanggapan peserta didik terhadap aspek Kelayakan Kemandirian pada aplikasi panduan pengamatan capung ini menunjukkan bahwa persentase kelayakan Kemandirian sebesar 51,67 % dikatakan sangat setuju, 48,33 % dikatakan setuju, 0,00% dikatakan kurang setuju, dan 0,00 % dikatakan tidak setuju. Hasil tersebut menunjukkan bahwa sangat setuju merupakan modus dalam tanggapan peserta didik karena mempunyai frekuensi kemunculan paling banyak. Disimpulkan kelayakan aplikasi ini baik menurut peserta didik.

(48)

162

Persentase tanggapan peserta didik MAN Yogyakarta III terhadap kelayakan aplikasi panduang pengamatan capung secara keseluruhan ditinjau dari 4 aspek adalah sebagai berikut : sebesar 49,36% dikatakan sangat setuju, 47,58% dikatakan setuju, 3,06% dikatakan kurang setuju, dan 0,00% dikatakan tidak setuju. Hasil ini menunjukkan bahwa aplikasi panduan pengamatan capung ini secara keseluruhan memiliki kelayakan sangata baik untuk digunakan. Berikut adalah proporsi penilaian kelayakan aplikasi panduan pengamatan capung oleh peserta didik yang disajikan dalam diagram pie:

Gambar 40. Diagram pie tanggapan peserta didik terhadap kelayakan aplikasi

Berdasarkan angket yang diberikan kepada peserta didik didapatkan beberapa saran dan masukan, antara lain:

Tabel 44. Saran dari peserta didik

No. Saran

1. Ditambahkan ilustrasi atau tabel penggolongan capung berdasarkan waktu aktifnya

49% 48%

3% 0%

Persentase Penilaian oleh Peserta Didik

(49)

163

2. Pada menu mengenal capung judul dan isi dibedakan warna dan ukuran font nya. Tulisannya terlalu banyak 3. Ditambahkan identifikasi bebas, sehingga pengguna

dapat memasukkan beberapa ciri capung lalu akan tersaring mana yang mendekati

4. Aplikasinya mudah dan praktis untuk dipakai mempelajari capung, saran supaya paragraf jangan terlalu panjang sehingga tidak membuat bingung.

5. Tambahkan animasi supaya lebih menarik

f. Revisi Akhir

Masukan dan saran yang diberikan oleh guru dan peserta didik dijadikan dasar untuk revisi panduan belajar sebagai revisi akhir sehingga didapatkan produk akhir berupa Aplikasi Panduan Pengamatan Capung untuk mempelajari materi keanekaragaan hayati Indonesia bagi peserta didik kelas SMA kelas X. Salah satu revisi media yakni menambahkan menu panduan identifikasi capung, sehingga pengguna mengetahui cara mengidentifikasi capung mulai dari yang sederhana seperti teknik menangkap capung hingga langkah yang rumit seperti mengidentifikasi.

(50)

164

Tabel 45. Tabel Perubahan Aplikasi Sebelum Revisi Dan Setelah Revisi Akhir

No. Sebelum Revisi Setelah Revisi Akhir

Sebelum revisi akhir, tidak terdapat kolom panduan identifikasi capung.

Setelah revisi akhir, di tambahkan kolom panduan identifikasi capung.

Sebelum revisi akhir, tidak terdapat foto lokasi-lokasi sampling capung.

Penambahan foto lokasi sampling di Rawa Jombor.

(51)

165 B. PEMBAHASAN

1. Tahap Analisis

Proses pengembangan aplikasi panduan pengamatan capung berbasis android ini diawali dengan tahap analisis. Tahap analisis ini dibutuhkan untuk menetapkan dan mendefinisikan syarat-syarat pengembangan suatu sumber belajar. Secara umum tahap analisis ini meliputi analisis potensi hasil penelitian sebagai sumber belajar, analisis peserta didik, analisis kompetensi/kurikulum, dan analisis instruksional pembelajaran. Berikut merupakan penjabaran pada setiap tahap analisis:

a. Analisis Potensi Hasil Penelitian Sebagai Sumber Belajar

Analisis pertama merupakan analisis potensi hasil penelitian sebagai sumber belajar, yakni penelitian Keanekaragaman Jenis Capung di Rawa Jombor Klaten yang dilakukan oleh Tria Septiani Subagyo. Pada tahap ini diketahui hasil apa saja yang di dapatkan dari hasil penelitian dan potensi apa yang bisa dijadikan sebagai sumber belajar. Analisis potensi hasil penelitian terbagi menjadi dua tahap, pertama hasil identifikasi jenis capung yang ditemukan di Rawa Jombor dalam penelitian Tria Septiani Subagyo dan kedua identifikasi proses dan produk penelitian sebagai sumber belajar. Berikut merupakan penjabaran analisis potensi hasil penelitian sebagai sumber belajar:

(52)

166

1) Hasil Identifikasi Jenis Capung Yang Ditemukan Di Rawa Jombor Dalam Penelitian Tria Septiani Subagyo

Hasil dari proses analisis potensi hasil penelitian sebagai sumber belajar menunjukkan bahwa, data yang diperoleh dari penelitian Keanekaragaman Jenis Capung di Rawa Jombor Klaten oleh Tria Septiani Subagyo mendapatkan 30 spesies capung. Dari total lebih dari 860 individu yang tertangkap, diantaranya terdapat tiga famili Capung Jarum (Zygoptera) yakni: Coenagrionidae, Platycnemididae, Chlorocypyphidae dan empat famili Capung Biasa (Anisoptera) yakni: Aeshnidae, Gomphidae, Libellulidae, Corduliidae. Tingkat keanekaragaman jenis capung di kawasan Rawa Jombor sebesar 2,57 termasuk dalam kategori sedang. Lokasi pengamatan dilakukan pada 6 titik antara lain: waduk, sungai aliran masuk, sungai aliran keluar, sawah, rawa, dan perkebunan.

Satu cakupan wilayah Rawa Jombor dengan jumlah 30 spesies capung merupakan potensi kenekaragaman yang tinggi dan layak untuk diangkat. Keanekaragaman spesies tersebut diharapkan dapat memudahkan peserta didik dalam memahami konsep keanekaragaman, khususnya keanekaragaman spesies.

Pengembangan aplikasi panduan pengamatan capung ini mengacu pada prosedur Research and Development (RnD) model ADDIE yang terdiri dari tahap analysis, design, development dan

(53)

167

evaluation. Namun dalam penelitian ini dimodifikasi sampai pada tahap analysis, design dan development (ADD) saja.

2) Identifikasi Proses Dan Produk Penelitian Sebagai Sumber Belajar

Berdasarkan hasil analisis dari enam persyaratan kelayakan sumber belajar menurut Menurut Suhardi (2012 : 14) antara lain: kejelasan potensi ketersediaan objek dan permasalahan yang diangkat, kesesuaian dengan tujuan pembelajaran, kejelasan sasaran materi dan peruntukannya, kejelasan informasi yang akan diungkap, kejelasan pedoman eksplorasi, kejelasan perolehan yang akan diperoleh. Berdasarkan hasil analisis disimpulkan bahwa secara keseluruhan media yang akan dirancang layak dan memenuhi dengan teori tersebut. Setelah dipastikan layak dan sesuai kemudian dilakukan analisis proses dan produk dari hasil penelitian tersebut.

a) Hasil Penelitian Berupa Proses

Berdasarkan hasil analisis proses pada penelitian Tria Septiani Subagyo, maka didapatakan tujuh langkah proses sains yang terdapat dalam penelitian ini, antara lain: identifikasi masalah, perumusan masalah, perumusan tujuan, penyusunan prosedur penelitian, pelaksanaan kegiatan, analisis data dan pembahasan hasil penelitian, serta penarikan kesimpulan. Tahapan penelitian ini sesuai dengan

(54)

168

pendekatan yang diterapkan kurikulum 2013, yakni pendekatan sains/ scientific approach. Pendekatan ilmiah dalam pembelajaran sebagaimana yang dimaksud meliputi: mengamati, menanya, mengumpulkan informasi/ eksperimen, mengasosiasikan/ mengolah informasi, dan mengkomunikasikan.

b) Hasil Penelitian Berupa Analisis Produk

Berdasarkan hasil analisis produk yang ada dalam penelitian Tria Septiani Subagyo, didapatkan fakta yang digeneralisir menjadi sembilan konsep, antara lain : ciri umum filum arthropoda, ciri umum capung, dasar klasifikasi capung, pengklasifikasian ke dalam kelompok yang lebih kecil dan spesifik, keanekaragaman tingkat jenis, ciri umum anisoptera, ciri umum zygoptera, perbedaan ciri morfologi capung jantan dan capung betina, dan peran capung bagi kehidupan. Konsep ini kemudian digunakan sebagai dasar penyusunan materi dalam aplikasi panduan pengamatan capung. Primack (2013: 12) menjelaskan bahwa bahan ajar yang ditulis berdasarkan kondisi lingkungan sekitar mampu menyumbang kontribusi konservasi biodiversitas yang tinggi. Salah satu cara untuk memperkenalkan konservasi biodiversitas sekitar yakni dengan menggunakan aplikasi panduan pengamatan capung ini.

(55)

169 b. Analisis Peserta Didik

Hasil dari analisis peserta didik menunjukkan bahwa target sasaran pengguna aplikasi panduan pengamatan capung sesuai dengan teori Jean Piaget dimana peserta didik kelas X telah berada pada tahap operasional yang sudah mampu untuk mengkoordinasikan mengoordinasikan dua ragam kemampuan kognitif secara serentak maupun beruntun.

(Collette & Chiapetta, 1994: 50) menjelaskan dalam tahap kognitif operasional formal siswa memiliki kemampuan berpikir abstrak, kemampuan bernalar, berpikir secara proporsional, kemampuan untuk mengidentifikasi dan mengontrol variabel-variabel, serta kemampuan menguji hipotesis. Berdasarkan hal tersebut maka aplikasi ini disusun dengan model self instructional supaya dapat mengakomodasi potensi yang dimiliki siswa. Pada survey yang dilakukan pada saat Praktik Pengalaman Lapangan menunjukkan sebagian besar peserta didik kelas X memiliki smartphone berbasis android, sehingga sangat sesuai antara kondisi, teori dan model aplikasi yang akan dirancang.

c. Analisis Kompetensi/Kurikulum

Hasil dari analisis kurikulum menunjukkan bahwa KD 3.2 Menganalisis data hasil obervasi tentang berbagai tingkat keanekaragaman hayati (gen, jenis dan ekosistem) di Indonesia, sesuai dengan konsep aplikasi panduan pengamatan capung yang disusun.

(56)

170

Pada KD 3.2 peserta didik dituntut untuk mampu menganalisis data hasil obeservasi keanekaragaman hayati, yakni disini hasil penelitian Keanekaragaman Spesies Capung di Rawa Jombor Klaten oleh Tria Septiani Subagyo. Pada data ini dapat dijabarkan menjadi beberapa tipe keanekaragaman, antara lain:

 Keanekaragaman gen dimana dalam satu spesies capung memiliki genetis yang berbeda sehingga tetap ada perbedaan baik ukuran atau pola sayap ,

 Keanekaragaman spesies dimana terdapat 30 spesies, sehingga sangat baik untuk menggambarkan keanekaragaman spesies melalui capung,

 keanekaragaman ekosistem dimana terdapat beberapa tipe ekosistem di Rawa Jombor Klaten, misalnya; waduk, sawah, rawa, sungai dan perkebunan. Dari beberapa tipe ekosistem tadi, terdapat keterkaitan data capung yang berbeda pada setiap tipe ekosistem.

Berdasarkan penjabaran tersebut maka, Aplikasi Panduan Pengamatan Spesies Capung Di Rawa Jombor Klaten ini sesuai untuk dikembangkan sebagai sumber belajar bagi peserta didik kelas X SMA semester I pada materi keanekaragaman hayati.

d. Analisis Instruksional

Pada tahap analisis instruksional ini dilakukan penjabaran indikator pencapaian kompetensi. Berbagai indikator pencapaan

(57)

171

kompetensi yang termuat dalam aplikasi panduan pengamatan capung ini antara lain :

1. Mengumpulkan data jenis dan morfologi capung yang hidup di lingkungan sekitar sekolah melalui identifikasi;

2. Mengumpulkan informasi habitat capung di lingkungan sekitar sekolah;

3. Mengumpulkan informasi mengenai peranan capung bagi kehidupan dan menganalisis upaya-upaya pelestariannya.

Melalui aplikasi ini diharapkan peserta didik mampu menganalisis keanekaragaman hayati khususnya keanekaragaman spesies. Melalui pengamatan di habitat aslinya diharapkan peserta didik dapat mengetahui habitat capung dan mengaitkan dengan bagaimana cara pelestariannya.

4. Tahap Desain

Tahap desain terdiri dari lima tahapan, antara lain : penyusunan kerangka aplikasi, penyusunan materi dalam aplikasi, penyusunan sistematika produk, pembuatan skenario, tombol fungsi dan story board, perancangan alat evaluasi.

Dari kelima tahap ini diperoleh konten/materi yang akan digunakan, layout aplikasi, serta instrumen untuk melakukan evaluasi pada aplikasi. Berdasarkan konsultasi dan saran dari dosen pembimbing dipilihlah penyusunan aplikasi dengan pendekatan kombinasi deduktif-induktif.

(58)

172

Pada dasarnya aplikasi panduan pengamatan capung terbagi menjadi bagian, antara lain:

Panduan Penggunaan Aplikasi berisi petunjuk penggunaan bagi pengguna yang akan memakai aplikasi. Petunjuk penggunaan ini adalah menu pertama yang wajib dibuka oleh pengguna sehingga paham runtutan langkah-langkah dan bagian-bagian mana yang harus dia buka terlebih dahulu.

Prosedur Identifikasi Capung berisi langkah-langkah dalam mengidentifikasi capung. Dimulai dari yang paling sederhana seperti cara memegang capung hingga yang cukup rumit yakni mengidentifikasi capung

Mengenal Capung berisi semua materi tentang capung yang sudah diseleksi terkait keanekaragaman gen, spesies dan ekosistem. Materi yang disajikan mengacu pada penelitian Keanekaragaman Spesies Capung di Rawa Jombor.

30 Spesies Capung Di Rawa Jombor merupakan menu yang berisi foto dan keterangan detail dari 30 spesies capung yang dijumpai dalam penelitian Keanekaragaman Spesies Capung di Rawa Jombor. Menu ini digunakan untuk memudahkan pemahaman konsep keanekaragaman spesies, berlatih identifikasi capung dan memudahkan identifikasi capung. Menu lain adalah menu tambahan seperti Menu Glosarium yang berisi daftar kata sulit. Menu Referensi yang berisi daftar referensi. Menu

(59)

173

Tentang Aplikasi berisi tentang tim peneliti, organisasi terkait dan informasi pengembang aplikasi.

5. Tahap Development

Pada tahap development ini dilakukan penyusunan media yang telah dirancang menjadi produk jadi melalui enam tahap, antara lain: Pra-Penulisan, Penyusunan Draf Aplikasi, Penyuntingan/Validasi, Revisi I, Uji Coba Terbatas, dan Revisi Akhir. Berikut penjabaran setiap tahapnya: a. Pra Penulisan

Kajian referensi dan sumber pustaka yang relevan dalam proses penyusunan Aplikasi Panduan Pengamatan Capung ini antara lain: Buku Dragonflies of Singapore, Naga Terbang Wendit, Capung Cihuni, An annotated List of Javan Odonata, A Pocket Guide Dragonflies of Peninsular Malaysia and Singpore, Pengenalan Pelajaran Serangga, Introduction To Dragonflies And Damselflies Watching, Dragonflies and Damselflies of South Africa, Seri Panduan Lapangan: Mengenal Capung. Penyusunan konten juga melibatkan beberapa jurnal dan website yang relevan.

b. Penyusunan Draf Aplikasi

Setelah layout dan kerangka isi telah disiapkan kemudian draf aplikasi disusun oleh tim IT. Penyusunan ini memerlukan beberapa kali pengubahan berdasarkan masukan dan saran saat bimbingan.

Gambar

Tabel 31. Data Spesies Capung Rawa Jombor
Tabel 32. Data Klimatik Rawa Jombor Selama Pengamatan  Waktu Pengamatan  Intensitas
Tabel  33.  Fakta  dan  konsep  yang  diperoleh  dari  hasil  penelitian keanegaragaman capung di Rawa Jombor, Klaten
Tabel 34. Standar Kompetensi, Kompetensi Dasar, dan Indikator  Pembelajaran.
+7

Referensi

Garis besar

Dokumen terkait

Situ Lengkong atau Situ Panjalu adalah pulau kecil yang masih alami dengan udara yang sejuk, ciri khas dari daerah pegunungan dengan pesona alam yang indah

Tidak jelas apakah perlakuan dalam suatu siklus dilakukan secara terus-menerus selama periode tertentu, sampai data pengamatan bersifat jenuh (menunjukkan pola yang menetap)

pembelajaran murid Pensyarah yang berkompetensi membangunkan guru untuk meningkatkan kualiti pembelajaran murid Pensyarah yang berkompetensi membangunkan

Hal ini diduga berkaitan dengan jumlah kapang yang tumbuh akan lebih banyak pada konsentrasi inokulum yang lebih tinggi, menyebabkan protein kacang gude yang ada

Teknik Analisis Accidental Sampling hanya dapat dilakukan apabila peneliti tidak mengetahui sampling frame dan sulit menemui anggota populasi yang dapat dipilih menjadi

Fenologi pembungaan dua varietas jambu air S.boerlagei dimulai dari terbentuknya kuncup induksi (inisiasi) hingga bunga mekar dan menjadi bakal buah, waktu yang

Persamaan regresi (Gambar 6.) menunjukkan Jumlah biji merah tertinggi ada pada kemiringan lereng (8-16), dalam hal ini kemiringan lereng tidak berpengaruh nyata

Sendratari Ramayana merupakan hasil dari pengulangan kembali, penataan dan pengaturan suatu karya dari cerita wewayangan yang ada di India yang berkisah tentang