• Tidak ada hasil yang ditemukan

ARAH PENGEMBANGAN SEKTOR SANITASI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "ARAH PENGEMBANGAN SEKTOR SANITASI"

Copied!
25
0
0

Teks penuh

(1)

II - 1

BAB II

ARAH PENGEMBANGAN SEKTOR SANITASI

Bagian ini akan menjelaskan secara singkat tentang gambaran umum situasi sanitasi Kabupaten Banjarnegara saat ini, visi dan misi sanitasi kabupaten yang akan memberikan arahan tentang pembangunan sanitasi kabupaten lima tahun kedepan, kebijakan umum sanitasi kabupaten saat ini dan arah ke depan serta tujuan dan sasaran pembangunan sektor sanitasi.

2.1 Gambaran Umum Kabupaten Banjarnegara 2.1.1 Kondisi Geografis

Secara geografis Kabupaten Banjarnegara terletak antara 7⁰12’ – 7⁰31’ Lintang Selatan dan 109⁰29’ – 109⁰45’50” Bujur Timur. Berada pada jalur pegunungan di bagian tengah Provinsi Jawa Tengah sebelah barat yang membujur dari arah barat ke timur.

Batas wilayah administrasi Kabupaten Banjarnegara adalah sebagai berikut : a. Sebelah Utara : Kab. Pekalongan dan Kab. Batang

b. Sebelah Timur : Kab. Wonosobo c. Sebelah Selatan : Kab. Kebumen

d. Sebelah Barat : Kab. Purbalingga dan Kab. Banyumas

Wilayah Kabupaten Banjarnegara memiliki luas 1.070 Km2. Kabupaten Banjarnegara terbagi dalam 20 kecamatan yang terdiri dari 266 desa dan 12 kelurahan, serta terbagi dalam 953 dusun, 5.150 Rukun Tetangga (RT) dan 1.312 Rukun Warga (RW). Kecamatan hasil pemekaran dari Kecamatan Banjarnegara dan Kalibening yang terealisasi pada tanggal 1 Juni 2004, yaitu Kecamatan Pagedongan dan Kecamatan Pandanarum. Luas wilayah, banyaknya desa/kelurahan, RT dan RW dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 2.1

Kedudukan Ibukota Kecamatan, Jumlah Desa, Kelurahan dan Dusun Dirinci menurut Kecamatan di Kabupaten Banjarnegara Tahun 2010

No. Kecamatan Ibukota Kecamatan

Banyaknya

Dusun Desa Kelurahan Total

1. Susukan Susukan 15 15 43

2. Purworejo

Klampok Klampok 8 8 35

3. Mandiraja Mandiraja Kulon 16 16 50

4. Purwonegoro Purwonegoro 13 13 60

5. Bawang Manktrianom 18 18 61

(2)

II - 2 No. Kecamatan Ibukota

Kecamatan

Banyaknya

Dusun Desa Kelurahan Total

7. Pagedongan Pagedongan 9 9 42 8. Sigaluh Gembongan 14 1 15 37 9. Madukara Kutayasa 18 2 20 60 10. Banjarmangu Banjarmangu 17 17 51 11. Wanadadi Wanadadi 11 11 35 12. Rakit Rakit 11 11 52 13. Punggelan Punggelan 17 17 79 14. Karangkobar Leksana 13 13 41 15. Pagentan Pagentan 16 16 58 16. Pejawaran Panusupan 17 17 56 17. Batur Batur 8 8 37 18. Wanayasa Wanayasa 17 17 49 19. Kalibening Kalibening 16 16 57 20. Pandanarum Beji 8 8 32 Jumlah 266 12 278 953

Sumber : Kabupaten Banjarnegara Dalam Angka, 2010

2.1.2 Kependudukan

Jumlah Penduduk Kabupaten Banjarnegara dari tahun ke tahun mengalami peningkatan, hal ini dapat dilihat dari jumlah penduduk sebesar 903.059 jiwa pada tahun 2006 menjadi sebesar 932.688 jiwa pada tahun 2010. Secara umum pertambahan penduduk di Kabupaten Banjarnegara tidak mengalami peningkatan yang pesat. Dalam 5 tahun terakhir rata-rata tingkat pertumbuhan penduduk Kabupaten Banjarnegara adalah sebesar 0,78%. Peningkatan jumlah penduduk juga terjadi pada tiap-tiap kecamatan yang ada di Kabupaten Banjarnegara.

Diperinci tiap kecamatan, jumlah penduduk terbesar terdapat di Kecamatan Punggelan yaitu sebesar 70.278 jiwa pada tahun 2006 dan 72.468 jiwa pada tahun 2010. Sedangkan jumlah penduduk terkecil terdapat di Kecamatan Pandanarum yaitu sebesar 21.777 jiwa pada tahun 2006 dan 22.157 jiwa pada tahun 2010.

Berdasarkan angka pertumbuhan penduduk dari tahun ke tahun di Kabupaten Banjarnegara dapat diketahui bahwa pertumbuhan penduduk terbesar adalah pada tahun 2008/2009 yaitu sebesar 0,88% dan pertumbuhan terkecil adalah pada tahun 2005/2006 yaitu 0,67%. Jika dirinci tiap kecamatan dalam 5 tahun terakhir, maka dapat diketahui bahwa rata-rata angka pertumbuhan penduduk tertinggi adalah berada di Kecamatan Sigaluh yaitu sebesar 1,63% dan pertumbuhan penduduk terendah adalah berada di Kecamatan Pagentan sebesar 0,25%. Gambaran tingkat pesebaran penduduk di kabupaten Banjarnegara dapat dilihat pada Peta 2.1 berikut:

(3)
(4)

Strategi Sanitasi Kabupaten Banjarnegara

Secara lebih lengkapnya jumlah dan pertumbuhan penduduk Kabupaten Banjarnegara dapat dilihat pada Tabel berikut.

Tabel 2.2

Jumlah Penduduk Menurut Kecamatan di Kabupaten Banjarnegara Tahun 2006 – 2010 No. Kecamatan 2006 2007 2008 2009 2010 1. Susukan 60.211 61.021 61.522 61.944 62.603 2. Purworejo Klampok 46.646 47.026 47.465 47.937 48.317 3. Mandiraja 66.581 66.729 66.829 67.087 67.303 4. Purwonegoro 69.871 70.603 71.114 71.927 72.396 5. Bawang 53.003 53.426 53.613 53.957 54.279 6. Banjarnegara 60.175 60.267 60.505 60.637 60.946 7. Pagedongan 34.952 35.268 35.718 36.292 36.809 8. Sigaluh 28.739 29.273 29.886 30.247 30.657 9. Madukara 40.799 41.024 41.449 41.819 42.077 10. Banjarmangu 39.988 40.380 40.597 41.011 41.261 11. Wanadadi 29.457 29.644 29.821 29.897 29.931 12. Rakit 49.176 49.654 50.224 50.770 51.387 13. Punggelan 70.278 70.878 71.507 72.029 72.468 14. Karangkobar 28.009 28.151 28.261 28.484 28.788 15. Pagentan 37.033 37.157 37.290 37.382 37.408 16. Pejawaran 41.366 41.829 42.167 42.641 43.080 17. Batur 37.855 38.119 38.487 38.861 39.094 18. Wanayasa 43.330 43.891 44.345 45.418 46.135 19. Kalibening 43.813 44.327 44.898 45.365 45.592 20. Pandanarum 21.777 21.846 21.932 21.956 22.157 Jumlah 903.059 910.513 917,630 925.661 932.688 Sumber : Kabupaten Banjarnegara Dalam Angka, 2010

2.1.3 Laju Pertambahan dan Kepadatan Penduduk

Berdasarkan angka pertumbuhan penduduk dari tahun ke tahun di Kabupaten Banjarnegara dapat diketahui bahwa pertumbuhan penduduk terbesar adalah pada tahun 2008/2009 yaitu sebesar 0,88% dan pertumbuhan terkecil adalah pada tahun 2005/2006 yaitu 0,67%. Jika dirinci tiap kecamatan dalam 5 tahun terakhir, maka dapat diketahui bahwa rata-rata angka pertumbuhan penduduk tertinggi adalah berada di Kecamatan Sigaluh yaitu sebesar 1,63% dan pertumbuhan penduduk terendah adalah berada di Kecamatan Pagentan sebesar 0,25%. Secara lebih lengkapnya jumlah dan pertumbuhan penduduk Kabupaten Banjarnegara dapat dilihat pada Tabel berikut.

(5)

Strategi Sanitasi Kabupaten Banjarnegara

Tabel 2.3

Angka Pertumbuhan Penduduk Kabupaten Banjarnegara Diperinci Tiap Kecamatan Tahun 2005/2006–2009/2010 (dalam persen)

No. Kecamatan 2005/ 2006 2006/ 2007 2007/ 2008 2008/ 2009 2009/ 2010 Rata-rata Pertumbuhan 1, Susukan 0,75 1,35 0,82 0,69 1,06 0,98 2, Purworejo Klampok 0,85 0,81 0,93 0,99 0,79 0,88 3, Mandiraja 0,32 0,22 0,15 0,39 0,32 0,27 4, Purwonegoro 0,61 1,05 0,72 1,14 0,65 0,89 5, Bawang 0,16 0,80 0,35 0,64 0,60 0,60 6, Banjarnegara 0,29 0,15 0,39 0,22 0,51 0,32 7, Pagedongan 0,19 0,90 1,28 1,61 1,42 1,30 8, Sigaluh 1,35 1,86 2,09 1,21 1,36 1,63 9, Madukara 0,98 0,55 1,04 0,89 0,62 0,77 10, Banjarmangu 0,63 0,98 0,54 1,02 0,61 0,79 11, Wanadadi 0,64 0,63 0,60 0,25 0,11 0,40 12, Rakit 0,38 0,97 1,15 1,09 1,22 1,11 13, Punggelan 0,60 0,85 0,89 0,73 0,61 0,77 14, Karangkobar 0,88 0,51 0,39 0,79 1,07 0,69 15, Pagentan 0,81 0,33 0,36 0,25 0,07 0,25 16, Pejawaran 0,88 1,12 0,81 1,12 1,03 1,02 17, Batur 0,92 0,70 0,97 0,97 0,60 0,81 18, Wanayasa 0,97 1,29 1,03 2,42 1,58 1,58 19, Kalibening 1,32 1,17 1,29 1,04 0,50 1,00 20, Pandanarum 0,68 0,32 0,39 0,11 0,92 0,43 Jumlah 0,67 0,83 0,78 0,88 0,76 0,78

Sumber : Kabupaten Banjarnegara Dalam Angka, 2010

Jumlah rumah tangga tahun 2010 di Kabupaten Banjarnegara adalah 245.242 KK dengan rata-rata per KK adalah 4 jiwa, sedangka angka kepadatan penduduk sebesar 872 jiwa/Km2. jumlah rumah tangga terbesar adalah di Kecamatan Purwonegoro yaitu 21.314 keluarga, jumlah rumah tangga terkecil adalah di Kecamatan Pandanarum yaitu sebesar 6.411 keluarga. Kemudian jika dilihat berdasarkan jumlah kepadatan penduduknya maka, angka kepadatan penduduk tertinggi adalah di Kecamatan Banjarnegara yaitu sebesar 2.323 jiwa/Km2, dan angka kepadatan penduduk terendah adalah di Kecamatan Pandanarum yaitu sebesar 378 jiwa/Km2.

Secara lebih jelasnya mengenai jumlah rumah tangga dan angka kepadatan penduduk di Kabupaten Banjarnegara dapat dilihat pada tabel di bawah ini:

(6)

Strategi Sanitasi Kabupaten Banjarnegara

Tabel 2.4

Luas, Jumlah Penduduk, Rumah Tangga dan Rata-rata Anggota Rumah Tangga Menurut Kecamatan di Kabupaten Banjarnegara

Tahun 2010 No Kecamatan Luas (Km2) Jmlh Penduduk (Jiwa) Jmlh Rmh Tangga (KK) Kepadatan (Jiwa/Km2) Rata-rata (Jiwa/KK) 1 Susukan 52,66 62.603 15.875 1.189 4 2 Purworejo Klampok 21,87 48.317 11.570 2.209 4 3 Mandiraja 52,61 67.303 16.853 1.279 4 4 Purwonegoro 73,86, 72.396 21.314 980 3 5 Bawang 55,25 54.279 15.066 982 4 6 Banjarnegara 26,24 60.946 14.542 2.323 4 7 Pagedongan 80,51 36.809 8.889 457 4 8 Sigaluh 39,56 30.657 8.313 775 4 9 Madukara 48,20 42.077 10.310 873 4 10, Banjarmangu 46,36 41.261 12.251 890 3 11 Wanadadi 28,27 29.931 8.561 1.059 3 12 Rakit 32,45 51.361 14.766 1.583 3 13 Punggelan 102,84 72.468 18.272 705 4 14 Karangkobar 39,67 28.788 7.553 726 4 15 Pagentan 46,19 37.408 10.015 810 4 16 Pejawaran 52,25 43.080 10.726 824 4 17 Batur 47,17 39.094 9.729 829 4 18 Wanayasa 82,01 46.135 12.872 563 4 19 Kalibening 83,78 45.592 11.354 544 4 20 Pandanarum 58,56 22.157 6.411 378 3 Jumlah 1.069,71 932.688 245.242 872 4 Sumber : Kabupaten Banjarnegara Dalam Angka, 2010

2.2 Skenario Pengembangan Wilayah Kabupaten Banjarnegara

2.2.1 Visi dan Misi Kabupaten Banjarnegara

Visi Kabupaten Banajrnegara adalah “Banjarnegara yang Mandiri, Berkualitas,

Sejahtera, Bermartabat, Iman dan Taqwa berdasarkan Pancasila”. Kabupaten

Banjarnegara sebagai daerah otonom dan telah mendapatkan penyerahan urusan pemerintahan, mempunyai kewajiban dan kewenangan untuk merumuskan kebijakan-kebijakan dalam mewujudkan tujuan daerah, yaitu masyarakat yang sejahtera.

Sedangkan Misi Kabupaten Banjarnegara adalah :

1. Menyelenggarakan pemerintahan yang efisien, efektif dan bersih (bebas KKN) dengan mengutamakan masyarakat.

(7)

Strategi Sanitasi Kabupaten Banjarnegara

3. Mengembangkan pemberdayaan masyarakat dan kemitraan dalam pelaksanaan pembangunan.

4. Meningkatkan kualitas dan kecerdasan sumberdaya manusia dalam pembangunan yang berkelanjutan.

5. Memulihkan dan meningkatkan pertumbuhan perekonomian rakyat dari keterpurukan ekonomi nasional.

6. Menciptakan rasa aman dan tentram dalam suasana kehidupan yang demokratis dan agamis.

2.2.2 Pengembangan Wilayah Kabupaten Banjarnegara

Secara wilayah Kabupaten Banjarnegara terbagai atas 3 kelompok utama, yaitu : wilayah bagian utara yang memiliki orientasi pusat pelayanan di Kawasan Perkotaan Karangkobar, wilayah bagian selatan-timur yang memiliki orientasi pusat pelayanan di Kawasan Perkotaan Banjarnegara, dan Wilayah selatan-barat yang memiliki orientasi pusat pelayanan di Kawasan Perkotaan Purworejo Klampok,

Berdasarkan pada karakteristik diatas maka wilayah pengembangan Kabupaten Banjarnegara di bagi menjadi :

a. Wilayah Pengembangan I, meliputi : Kecamatan Batur, Kecamatan Pagentan, Kecamatan Pejawaran, Kecamatan Wanayasa, Kecamatan Kalibening, Kecamatan Pandanarum, dan Kecamatan Karangkobar, Pusat Pelayanan wilayah pengembangan I adalah kawasan perkotaan Karangkobar, Rencana pengembangan fungsi utama di wilayah pengembangan I adalah :

- Pariwisata

- Pertanian Lahan Kering, Hortikultura, dan perkebunan - Agropolitan

- Konservasi Lingkungan - Sumberdaya Energi - Sumberdaya Mineral

b. Wilayah Pengembangan II, meliputi : Kecamatan Madukara, Kecamatan Banjarmangu, Kecamatan Punggelan, Kecamatan Wanadadi, Kecamatan Banjarnegara, Kecamatan Bawang, Kecamatan Pagedongan, Kecamatan Sigaluh, Pusat Pelayanan wilayah pengembangan II adalah kawasan perkotaan Banjarnegara, Rencana pengembangan fungsi utama di wilayah pengembangan II adalah :

- Perdagangan dan Jasa - Industri

- Pendidikan - Perikanan - Pariwisata

- Pertanian lahan basah (sawah), Pertanian Lahan Kering, dan Perkebunan - Sumberdaya Energi

(8)

Strategi Sanitasi Kabupaten Banjarnegara

c. Wilayah Pengembangan III, meliputi : Kecamatan Rakit, Kecamatan Purwonegoro, Kecamatan Mandiraja, Kecamatan Purworejo Klampok, Kecamatan Susukan, Pusat Pelayanan wilayah pengembangan III adalah kawasan perkotaan Purworejo Klampok, Rencana pengembangan fungsi utama di wilayah pengembangan III adalah :

- Perdagangan dan Jasa - Hasil Kerajinan

- Pertanian lahan basah (sawah) - Perikanan (Minapolitan) - Industri

- Sumberdaya mineral

Selengkapnya mengenai pembagian wilayah pengembangan di Kabupaten Banjarnegara dapat dilihat pada Tabel di bawah ini.

Tabel 2.5

Rencana Sistem Perwilayahan Kabupaten Banjarnegara Satuan Wilayah

Pembangunan

Pusat

Pelayanan Wilayah Pelayanan

Rencana Fungsi Penopang Kegiatan Wilayah Wilayah Pengembangan I Kawasan Perkotaan Karangkobar Kecamatan Batur Kecamatan Pagentan Kecamatan Pejawaran Kecamatan Wanayasa Kecamatan Kalibening Kecamatan Pandanarum Kecamatan Karangkobar - Pariwisata

- Pertanian Lahan Kering, Hortikultura, dan perkebunan - Agropolitan - Konservasi Lingkungan - Sumberdaya Energi - Sumberdaya Mineral Wilayah Pengembangan II Kawasan Perkotaan Banjarnegara Kecamatan Madukara Kecamatan Banjarmangu Kecamatan Punggelan Kecamatan Wanadadi Kecamatan Banjarnegara Kecamatan Bawang Kecamatan Pagedongan Kecamatan Sigaluh

- Perdagangan dan Jasa - Industri

- Perikanan - Pendidikan - Pariwisata

- Pertanian lahan basah (sawah), Pertanian Lahan Kering, dan Perkebunan - Sumberdaya Energi - Sumberdaya Mineral Wilayah Pengembangan III Kawasan Perkotaan Purworejo Klampok Kecamatan Rakit Kecamatan Purwonegoro Kecamatan Mandiraja Kecamatan Purworejo Klampok Kecamatan Susukan

- Perdagangan dan Jasa - Hasil Kerajinan

- Pertanian lahan basah (sawah)

- Perikanan (Minapolitan) - Industri

- Sumberdaya Mineral Sumber : Rencana Tim Penyusun, 2010

(9)

Strategi Sanitasi Kabupaten Banjarnegara 2.2.3 Struktur Pusat Pelayanan

Struktur wilayah Kabupaten Banjarnegara direncanakan mengikuti konsep dan skenario perkembangan wilayah Kabupaten Banjarnegara yaitu perkembangan Banjarnegara Bagian Utara, Selatan dan Tengah. Sistem pusat-pusat kegiatan di wilayah Kabupaten Banjarnegara dapat dilihat pada Tabel di bawah ini:

Tabel 2.6

Rencana Struktur Perkotaan di Wilayah Kabupaten Banjarnegara Hirarki Struktur

Kota Keterangan Kawasan Perkotaan

I Pusat Kegiatan Lokal (PKL)

Kawasan Perkotaan yang akan dikembangkan menjadi PKL adalah kota-kota yang wilayah pelayanannya telah berkembang lebih dari 1 administrasi kecamatan, Skala fasilitas/kegiatan yang dikembangkan di kota ini memiliki pelayanan sebagian atau satu wilayah Kabupaten,

- Kawasan Perkotaan Banjarnegara - Kawasan Perkotaan Purworejo Klampok II Pusat Kegiatan Lokal Promosi (PKLp)

Pusat Kegiatan Lokal Promosi (PKLp) merupakan kawasan perkotaan yang dalam jangka waktu tertentu akan diusulkan menjadi Pusat Kegiatan Lokal (PKL), - Kawasan Perkotaan Karangkobar III Pusat Pelayanan Kawasan (PPK)

Kawasan Perkotaan yang akan dikembangkan menjadi PPK adalah kota-kota ibukota kecamatan yang memiliki skala kecamatan dan

beberapa desa, Kota-kota ini merupakan pusat

pemerintahan, aktifitas sosial, serta kegiatan perekonomian di tingkat lokal (kecamatan),

- Kawasan Perkotaan Sigaluh - Kawasan Perkotaan Pagedongan - Kawasan Perkotaan Bawang - Kawasan Perkotaan Purwonegoro - Kawasan Perkotaan Susukan

- Kawasan Perkotaan Rakit - Kawasan Perkotaan Rakit - Kawasan Perkotaan

Madukara

- Kawasan Perkotaan Banjarmangu - Kawasan Perkotaan

(10)

Strategi Sanitasi Kabupaten Banjarnegara Hirarki Struktur

Kota Keterangan Kawasan Perkotaan

Wanadadi - Kawasan Perkotaan Pagentan - Kawasan Perkotaan Punggelan - Kawasan Perkotaan Pandanarum - Kawasan Perkotaan Wanayasa - Kawasan Perkotaan Pejawaran

- Kawasan Perkotaan Batur - Kawasan Perkotaan

Mandiraja

- Kawasan Perkotaan Kalibening

Sumber : RTRW Kabupaten Banjarnegara 2011-2031

2.3 Gambaran Umum Situasi Sanitasi

Paparan tentang gambaran umum situasi sanitasi kota merupakan ringkasan dari Buku Putih Sanitasi Kabupaten Banjarnegara yang menggambarkan tentang kondisi sanitasi kabupaten saat ini. Terdiri dari gambaran umum sub sektor air limbah domestik, sub sektor persampahan, sub sektor drainase lingkungan dan sektor air bersih.

2.3.1 Sub Sektor Air Limbah

Kondisi umum penanganan limbah cair rumah tangga di Kabupaten Banjarnegara adalah mempergunakan sistem setempat (onsite system) berupa septic tank, namun juga dijumpai penggunaan cubluk di beberapa tempat. Sampai saat ini Kabupaten Banjarnegara hanya memiliki sistem pengolahan air limbah terpusat IPLT namun pemanfaatannya tidak optimal bahkan terkesan kurang berfungsi. Walaupun demikian, dibeberapa lokasi sudah dibangun sistem komunal untuk melayani satu kawasan pemukiman, pondok pesantren maupun industri tahu melalui program sanitasi berbasis masyarakat (Sanimas) dan IPAL komunal.

Sejak tahun 2008 Pemerintah Kabupaten Banjarnegara telah dibangun Sistem Pengolahan air limbah komunal di beberapa lokasi. Pemilihan Teknologi pengolahan air limbah komunal adalah Instalasi Pengelohan Air Limbah Komunal dan MCK Umum.

(11)

Strategi Sanitasi Kabupaten Banjarnegara

Melalui program SANIMAS dan SLBM, Pemerintah Kabupaten Banjarnegara dari tahun 2008 sampai 2010 telah membangun 5 Lokasi Pengolahan Air Limbah Komunal dan MCK umum dengan cakupan pelayanan mencapai 1.500 jiwa tersebar di 5 Kecamatan Banjarnegara. Pembangunan IPAL Komunal dan MCK Umum melibatkan Masyarakat. SIDLACOM (Survey, Investigasi, Design, Land Aquicision, Contruction, Operasional and Maintenance) mulai dari pembentukan KSM, pemilihan Teknologi, penentuan pengguna, perencanaan, pembangunan, operasional dan pemeliharaan dilakukan bersama masyarakat dengan tenaga pendamping.

Keterlibatan masyarakat dalam perencanaan, pembangunan dan operasional serta pemeliharaan memberikan dampak yang positif dalam masa operasional sarana Instalasi Pengelolaan Air Limbah dan MCK Umum di Kabupaten Banjarnegara. IPAL secara operasional dan pemeliharaan dikelola oleh masyarakat sehinggga pengelolaan sarana IPAL dan MCK umum berjalan dengan baik.

Permasalahan yang dihadapi oleh Kabupaten Banjarnegara dalam pengelolaan air limbah adalah :

a. Belum ada peraturan daerah yang mengatur secara khusus penanganan air limbah di Kabupaten Banjarnegara

b. Kabupaten Banjarnegara belum memiliki master plan pengelolaan air limbah c. Konstruksi septic tank yang ada di Kabupaten Banjarnegara sebagian besar

belum memenuhi kriteria teknis yang ada

d. Sebagian besar masyarakat di Kabupaten Banjarnegara belum memahami dan menyadari pentingnya pengelolaan air limbah.

2.3.2 Sub Sektor Persampahan

Pelayanan pengelolaan sampah mencakup kawasan perkotaan di beberapa Kecamatan, antara lain Kecamatan Banjarnegara, Kecamatan Madukara. Menurut Unit Pelayanan Umum Daerah ( UPTD ) Pengelolaan Sampah Kabupaten Banjarnegara volume sampah pada tahun 2010 mencapai 19.544,9 meter ³ dengan rata rata 53,5 m³ per hari. Tingkat pelayanan ini baru mencakup 49,52% dari timbulan sampah perkotaan sebesar 108,14 m3/ hari.

Pelayanan pengelolaan sampah dilakukan dengan pengambilan dari Tempat Penampungan Sampah Sementara dalam periode tertentu. Terdapat 102 lokasi tempat penampungan sampah sementara, 5 Dipo transfer dan 9 kontainer yang diletakkan di pasar dan permukiman kota. Komposisi sampah yang diangkut dan di tamping di UPTD Pengelolaan Sampah (TPA Winong) sebagian besar adalah sampah organic dan plastik.

Permasalahan yang dihadapi Kabupaten Banjarnegara dalam pengelolaan sampah adalah:

a. Kabupaten Banjarnegara belum memiliki master plan pengelolaan sampah b. Kesadaran masyarakat dalam memilah sampah masih rendah

(12)

Strategi Sanitasi Kabupaten Banjarnegara

c. Terbatasnya armada pengangkut sampah, sehingga sering terjadi timbunan sampah di tempat penampungan sampah sementara.

d. Sistem pengambilan sampah masih bersifat langsung ke rumah-rumah dan belum dilakukan pemilahan

e. Jenis TPA yang dipakai masih mempergunakan sistem open dumping f. Luas lahan TPA sekarang ini sudah tidak mencukupi

g. Terbatasnya Tempat Sampah 3R untuk pemilahan.

2.3.3 Sub Sektor Drainase Lingkungan

Topografi Kabupaten Banjarnegara yang sebagian besar terdiri dari bukit bukit mengakibatkan air hujan dapat mengalir dengan lancar menuju ke badan penerima air. Kondisi tanah di Kabupaten Banjarnegara yang sebagian besar terdiri dari Tanah liat menyebabkan tanah tidak bisa menyerap air secara maksimal sehingga cadangan air tanah sedikit, dan terjadi kecenderungan air lebih banyak mengalir ke badan penerima. Hal tersebut menyebabkan terjadinya sedimentasi pada badan penerima air.

Topografi wilayah wilayah Kabupaten Banjarnegara yang berbukit dan pegunungan dimanfaatkan dalam sistem saluran drainase yang mengandalkan gravitasi. Kondisi ini belum memerlukan adanya kebutuhan romah pompa atau pintu saluran karena drainase akan langsung mengarah pada saluran utama/ primer. Namun demikian, untuk mengurangi besaran aliran air permukaan dibuat juga biopori atau peresapan di beberapa titik/ wilayah di Kabupaten Banjarnegara yang sekaligus untuk menyimpan cadangan air permukaan.

Cakupan layanan drainase adalah masyarakat perkotaan atau Ibukota Kecamatan. Sistem pengelolaan drainase di Kabupaten Banjarnegara adalah Sistem yang konvensional yaitu dengan cara mengalirkan air hujan secepat cepatnya ke badan penerima. Sedangkan system drainase yang modern adalah dengan cara meresapkan air sebanyak banyaknya kedalam tanah untuk cadangan air dalam tanah. Kawasan Kota Banjarnegara saluran drainase mengacu pada Masterplan Drainase Kota Banjarnegara yagn disusun tahun 2008.

Permasalahan yang dihadapi Pemerintah Kabupaten Banjarnegara dalam pengelolaan saluran drainase antara lain :

1. Kesadaran masyarakat dalam partisipasi merawat saluran drainase kurang sehingga saluran kurang berfungsi dengan baik.

2. Pengelolaan drainase masih pada kawasan perkotaan.

(13)

Strategi Sanitasi Kabupaten Banjarnegara 2.3.4 Sub Sektor Air Bersih

Pelayanan air bersih di Kabupaten Banjarnegara terbagi menjadi 2 pelayanan antara lain adalah Pelayanan masyarakat Perkotaan yang dilayani oleh Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM TIRTA SERAYU) dan Pelayanan masyarakat Perdesaan (SAB Perdesaan). Masyarakat pedesaan dilayani dengan Sarana Air Bersih Perdesaaan yang khusus melayani kebutuhan air bersih masyarakat perdesaan. Dari tahun 2005 program Sarana Air Bersih telah melayani 123.000 keluarga. Beberapa desa, air dialirkan dengan menggunakan pompa, dan di beberapa desa air dialirkan secara grafitasi.

Permasalahan yang dihadapai Pemerintah Kabupaten Banjarnegara dalam penanganan sarana air bersih/minum antara lain adalah:

1) Pada musim kemarau sumber mata air (sungai) kering sehingga debit air menurun dan tidak mampu memenuhi kebutuhan masyarakat akan air.

2) Cadangan air tanah yang menurun sehingga banyak sumur mengalami kekeringan.

3) Kondisi topografi Banjarnegara yang berbukit dan Letak rumah yang berjauhan menuntut investasi yang cukup besar untuk pengadaan Sarana Air Bersih.

4) Kesadaran masyarakat akan konservasi air masih rendah. 5) Biaya operasional dan perawatan yang cukup besar.

2.4 Visi dan Misi Sanitasi Kabupaten Banjarnegara

Visi misi sanitasi telah dirumuskan untuk memberi arahan bagi pengembangan sanitasi Kabupaten Banjarnegara dalam rangka mencapai visi misi kabupaten. visi misi sanitasi dapat dilihat dalam Tabel berikut.

Visi dan Misi Sanitasi  Visi

Terwujudnya Lingkungan yang Bersih dan Sehat menuju Masyarakat Sejahtera Tahun 2016.

 Misi

1. Meningkatkan pembangunan sarana dan prasarana sanitasi dan air minum

2. Meningkatkan cakupan dan kualitas layanan sanitasi dan air minum

3. Meningkatkan kemandirian dan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan fasilitas sanitasi dan sarana air minum

4. Membudayakan perilaku hidup bersih dan sehat

5. Mengembangkan jejaring kerja dan kemitraan dalam pengelolaan sanitasi dan air minum

(14)

Strategi Sanitasi Kabupaten Banjarnegara

2.5 Kebijakan Umum dan Strategi Sektor Sanitasi Kabupaten Tahun 2012 - 2016 Mengacu kepada Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Banjarnegara Tahun 2012-2016 maka arah kebijakan umum dan strategi pembangunan sektor sanitasi mengacu kepada arah kebijakan umum dan strategi pembangunan Kabupaten Banjarnegara sebagai berikut:

2.5.1 Kebijakan Umum Terkait Pembangunan Sektor Sanitasi

a. Bidang Sosial Budaya

1) Kebijakan dalam urusan pendidikan diarahkan pada meningkatkan penyediaan sarana dan prasarana pendidikan sanitasi

2) Kebijakan dalam urusan kesehatan diarahkan pada meningkatkan upaya lingkungan yang sehat dan perilaku hidup bersih dan sehat,

3) Kebijakan dalam urusan kesehatan diarahkan pada meningkatkan kapasitas sistem, organisasi dan individu dalam meningkatkan kesehatan masyarakat Kabupaten Banjarnegara

4) Kebijakan dalam urusan kesehatan diarahkan pada meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan kepada masyarakat

5) Kebijakan dalam urusan kesehatan diarahkan pada meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pembiayaan kesehatan, sehingga masyarakat mampu dapat mensubsidi masyarakat yang kurang mampu

6) Kebijakan dalam urusan pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak diarahkan pada meningkatkan pengarusutamaan gender (PUG) dalam pembangunan sanitasi

7) Kebijakan dalam urusan pemberdayaan masyarakat desa/kelurahan diarahkan pada memfasilitasi pengembangan masyarakat dan lembaga kelurahan dalam melaksanakan pembangunan sanitasi

b. Bidang Ekonomi

1) Kebijakan dalam urusan penanaman modal diarahkan pada meningkatkan dukungan dari sisi SDM maupun infrastruktur sanitasi

2) Kebijakan dalam urusan penanaman modal diarahkan pada meningkatkan promosi potensi dan peluang investasi di sektor sanitasi

(15)

Strategi Sanitasi Kabupaten Banjarnegara

c. Bidang Tata Ruang, Sarana dan Prasarana

Kebijakan dalam urusan penataan ruang diarahkan pada meningkatkan keterlibatan para pelaksana pembangunan dalam rencana pemanfaatan tata ruang sebagai dasar pelaksanaan pembangunan sanitasi

d. Bidang Perumahan

Kebijakan dalam urusan perumahan diarahkan pada meningkatkan penataan lingkungan kawasan kumuh perumahan Kabupaten Banjarnegara

e. Bidang Pekerjaan Umum

1) Kebijakan dalam urusan pekerjaan umum diarahkan pada mewujudkan keterpaduan perencanaan pembangunan saluran drainase kota dengan perencanaan penataan ruang kota

2) Kebijakan dalam urusan pekerjaan umum diarahkan pada meningkatkan dan memperhatikan relevansi kondisi kontur dalam perencanaan saluran drainase/gorong yang masih kurang diperhatikan

3) Kebijakan dalam urusan pekerjaan umum diarahkan pada meningkatkan kapasitas dan kualitas pelayanan saluran drainase/gorong-gorong perkotaan dengan meningkatkan ketegasan sanksi dalam mengoptimalkan fungsi saluran drainase

4) Kebijakan dalam urusan pekerjaan umum diarahkan pada meningkatkan kualitas dan kuantitas saluran drainase perkotaan di wilayah Kabupaten Banjarnegara 5) Kebijakan dalam urusan pekerjaan umum diarahkan pada mewujudkan sistem

jaringan dan manajemen pengolahan air baku secara terpadu

6) Kebijakan dalam urusan pekerjaan umum diarahkan pada meningkatkan keterlibatan masyarakat dalam pembangunan prasarana air minum

7) Kebijakan dalam urusan pekerjaan umum diarahkan pada meningkatkan kuantitas dan kualitas sarana sanitasi kota melalui rencana induk sistem sanitasi Kabupaten Banjarnegara

8) Kebijakan dalam urusan pekerjaan umum diarahkan pada meningkatkan keterlibatan masyarakat dalam pembangunan sarana pengelolaan air limbah dalam skala komunitas

9) Kebijakan dalam urusan pekerjaan umum diarahkan pada meningkatkan kapasitas air minum.

(16)

Strategi Sanitasi Kabupaten Banjarnegara f. Bidang Komunikasi dan Informatika

Kebijakan dalam urusan komunikasi dan informatika diarahkan pada meningkatkan kerjasama pemerintah daerah dengan mass media dalam rangka penyebarluasan informasi pembangunan sanitasi.

2.5.2 Arah Strategi Terkait Pembangunan Sektor Sanitasi 2.5.2.1 Sub Sektor Air Limbah

Pengelolaan air limbah di Kabupaten Banjarnegara belum sepenuhnya berjalan optimal. Terlihat dengan masih banyaknya masyarakat yang melakukan praktek Buang Air Besar Sembarangan (BABs). Pemerintah kabupaten juga belum memiliki sarana dan prasarana pendukung pengolahan lumpur tinja IPLT (Instalasi Pengolahan Lumpur Tinja). Masyarakat Banjarnegara biasanya memakai jasa sedot tinja swasta yang pembuangan lumpurnya ke Kabupaten Banyumas.

Beberapa inisiatif telah dilakukan oleh pemerintah kabupaten Banjarnegara, antara lain dengan pembangunan IPAL komunal berbasis masyarakat (program SANIMAS) di beberapa wilayah padat penduduk dan kumuh di wilayah kecamatan kota Banjarnegara. Data menunjukan hingga tahun 2011, jumlah IPAL SANIMAS di Kabupaten Banjarnegara telah mencapai 9 Sanimas yang berbentuk MCK umum.

Seiring berkembangnya Kabupaten Banjarnegara menjadi kota Pusat Kegiatan Lokal (PKL) dalam Rencana Tata Ruang Wilayah di Provinsi Jawa Tengah dan pertumbuhan jumlah penduduk yang semakin pesat, berakibat pada meningkatnya volume pencemar khususnya yang berasal dari buangan domestik, baik air limbah cucian dan kamar madi (grey water) dan limbah WC (black water). Sehingga baik dalam jangka pendek atau menengah maupun jangka panjang diperlukan suatu pengelolaan air limbah yang terpadu dalam mendukung pembangunan sanitasi di Kabupaten Banjarnegara.

Di dalam SSK ini telah dilakukan penentuan wilayah prioritas pengembangan sistem pengelolaan air limbah (apakah on site maupun off site) secara umum. Beberapa kriteria telah digunakan dalam penentuan prioritas tersebut, yaitu: kepadatan penduduk, klasifikasi wilayah (perkotaan atau perdesaan), karakteristik tata guna lahan/Center of Business Development (CBD) (komersial atau rumah tangga), serta resiko kesehatan lingkungan.

Berdasarkan kriteria tersebut dihasilkan suatu peta yang menggambarkan kebutuhan sistem pengelolaan air limbah untuk perencanaan pengembangan sistem. Peta tersebut terbagi dalam beberapa zonasi, dimana zona tersebut sekaligus merupakan

(17)

Strategi Sanitasi Kabupaten Banjarnegara

dasar bagi kota dalam merencanakan pengembangan jangka panjang pengelolaan air limbah Kabupaten Banjarnegara, yang ujungnya adalah pengelolaan air limbah terpusat (off site system).

Rencana pengembangan tersebut diilustrasikan sebagai berikut:

 Zona 1, merupakan area dengan tingkat resiko yang kecil yang dapat diatasi dalam jangka pendek dengan pilihan system setempat (on site) dengan skala rumah tangga (household based). Tahapan penanganannya dengan kegiatan utama untuk perubahan perilaku dan pemicuan. Zona ini mencakup 19 desa di dua kecamatan, yaitu kecamatan Sigaluh dan Kecamatan Batur. Dalam peta zonasi sub sector air limbah diberi warna biru muda.

 Zona 2, merupakan area dengan tingkat resiko menengah yang dapat diatasi dalam jangka pendek dengan perubahan perilaku dilakukan dengan program-program pemicuan (CLTS) dan oleh karena merupakan daerah pada penduduk maka pemilihan system nya adalah system setempat dengan pendekatan komunal (tidak berbasis rumah tangga). Zona ini mencakup 242 desa/kelurahan yang tersebar hamper diseluruh kecamatan. Dalam peta zonasi sub sector air limbah ini diberi warna hijau.

 Zona 4, merupakan area dengan tingkat resiko tinggi karena merupakan kawasan padat, CBD serta kondisi topografi kurang menguntungkan. Dalam jangka panjang harus diatasi dengan pilihan system terpusat (off site). Zona ini mencakup 17 desa/Kelurahan di wilayah kecamatan Banjarnegara. Dalam peta zonasi sub sektor limbah diberi warna merah.

(18)

Strategi Sanitasi Kabupaten Banjarnegara

(19)

Strategi Sanitasi Kabupaten Banjarnegara 2.5.2.2 Sub Sektor Persampahan

Berdasarkan kriteria yang ada dalam Standar Pelayanan Minimun (SPM), wilayah pengembangan pelayanan persampahan dapat diidentifikasi. Terdapat 2 (dua) kriteria utama dalam penetapan prioritas penanganan persampahan saat ini yaitu tata guna lahan/klasifikasi wilayah (komersial/CBD, permukiman, fasilitas umum, terminal, dsb) dan kepadatan penduduk. Hasil dari penentuan wilayah dan kebutuhan pelayanan persampahan Kabupaten Banjarnegara terdapat 3 (tiga) zona yang dapat diilustrasikan sebagai berikut:

 Zona 1, merupakan area yang harus terlayani dengan system tidak langsung yakni dari rumah tangga ke Tempat Pengumpulan Sementara (TPS) baru ke Tempat Pengolahan Akhir (TPA). Minimal 80% cakupan layanan harus diatasi dalam jangka menengah (5 tahun) ke depan. Terdapat 171 Desa/kelurahan yang tersebar hampir diseluruh wilayah kecamatan di Kabupaten Banjarnegara. Dalam peta diberi warna biru tua.

 Zona 2, merupakan area yang dalam jangka waktu menengah (medium term action) harus terlayani dengan system layanan langsung dari sumber ke TPA. Dalam Zona ini terdapa 84 Desa/ kelurahan yang tersebar di wilayah kecamatan Madukara, kecamatan Wanadadi serta kecamatan Rakit. Dalam peta diberi warna kuning.

Zona 3, merupakan area padat dan kawasan bisnis (Central Business District/CBD) karena itu harus terlayani penuh 100% (full coverage) yang harus diatasi dengan pilihan system langsung ke TPA dalam jangka waktu pendek. Zona ini mencakup 23 desa/kelurahan tersebar di kecamatan Banjarnegara, kecamatan Bawang, dan kecamatan Purworejo Klampok. Dalam peta diberi warna merah.

(20)

Strategi Sanitasi Kabupaten Banjarnegara

(21)

Strategi Sanitasi Kabupaten Banjarnegara 2.5.2.3 Sub Sektor Drainase Lingkungan

Dalam menentukan wilayah pengembangan saluran drainase yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing wilayah di tingkat desa/kelurahan, maka disusun prioritas pengembangan sistem drainase. Penentuan daerah prioritas ini disusun berdasarkan 5 (lima) kriteria seleksi yang mengacu ke SPM, yaitu kepadatan penduduk, tata guna lahan (perdagangan, jasa, maupun permukiman), daerah genangan air hujan, serta tingkat resiko kesehatan.

Perencanaan penanganan ke depan dapat diilustrasikan sebagai berikut:

 Zona 1, merupakan area dengan tingkat resiko yang relative kecil yang dapat diatasi dalam jangka panjang mencakup 213 desa/kelurahan yang tersebar hampir diseluruh Kecataman di Kabupaten Banjarnegara. Dalam peta diberi warna orange.

 Zona 2, merupakan area dengan tingkat resiko menengah yang dapat diatasi dalam jangka menengah dan panjang mencakup 54 desa/kelurahan yang meyebar di beberapa kecamatan di Kabupaten Banjarnegara. Dalam peta diberi warna merah hati.

 Zona 3, merupakan area dengan tingkat resiko relatif tinggi karena merupakan kawasan padat dan kawasan bisnis (Central Business District/CBD) yang harus diatasi dalam jangka menengah, mencakup 10 kelurahan dan 1 desa di wilayah Kecamatan Banjarnegara; Kelurahan Kalibend, Sukanandi, Parakancanggah, Kenteng, Krandegan, Rejasa, Kutabanjarnegara, Wangon, Semampir, Semarang, desa Singomerto. Dalam peta diberi warna coklat tua

(22)

Strategi Sanitasi Kabupaten Banjarnegara

(23)

Strategi Sanitasi Kabupaten Banjarnegara 2.5.2.4 Sub Sektor Air Bersih

Pelayanan air bersih di Kabupaten Banjarnegara terbagi menjadi 2 pelayanan antara lain adalah Pelayanan masyarakat Perkotaan yang dilayani oleh Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM TIRTA SERAYU) dan Pelayanan masyarakat Perdesaan (SAB Perdesaan). Masyarakat pedesaan dilayani dengan Sarana Air Bersih Perdesaaan yang khusus melayani kebutuhan air bersih masyarakat perdesaan. Dari tahun 2005 program Sarana Air Bersih telah melayani 123.000 keluarga. Beberapa desa, air dialirkan dengan menggunakan pompa, dan di beberapa desa air dialirkan secara grafitasi

Untuk mencapai sasaran tersebut PDAM Kabupaten Banjarnegara tengah berupaya menambah sumber air baku dimana lokasi sumber air berada di Kabupeten Banjarnegara. Selanjutnya wilayah prioritas pengembangan air bersih disusun berdasarkan beberapa kriteria, diantaranya tata guna lahan, kepadatan penduduk, kualitas air dan kemampuan membayar masyarakat. Hasil penyusunan prioritas ini dapat diilustrasikan sebagai berikut:

 Zona 1, merupakan area yang perlu penanganan jangka pendek dan segera, mencakup 117 desa/kelurahan; tersebar dibeberapa wilayah kecamatan di Kabupaten Banjarnegara. Dalam peta diberi warna abu-abu.

 Zona 2, merupakan area yang perlu penanganan jangka menengah dan panjang, meliputi 161 desa/ kelurahan. Dalam peta diberi warna coklat.

(24)

Strategi Sanitasi Kabupaten Banjarnegara

(25)

Strategi Sanitasi Kabupaten Banjarnegara

2.6 Sasaran Umum dan Arahan Tahapan Pencapaian

Tujuan umum pembangunan sektor sanitasi Kabupaten Banjarnegara tahun 2012 – 2016 adalah untuk mendukung pencapaian Visi dan Misi Sanitasi Kota yang juga merupakan bagian yang tidak terpisahkan dengan arah dan tujuan pembangunan Kabupaten Banjarnegara sebagaimana tertuang dalam dokumen RPJMD Kabupaten Banjarnegara.

a. Tujuan Sektor Sanitasi

1) Meningkatkan keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan sanitasi terutama dalam perihal air limbah, persampahan, drainase dan air bersih

2) Tersedianya sarana dan prasarana sanitasi yang mampu menjangkau seluruh masyarakat

3) Peningkatan cakupan layanan sanitasi di seluruh wilayah kabupaten 4) Mengembangkan keterlibatan sektor swasta dalam pengelolaan sanitasi 5) Merubah perilaku masyarakat Banjarnegara untuk hidup bersih dan sehat.

b. Sasaran Sektor Sanitasi

1) Tersedianya perencanaan pengelolaan sektor sanitasi skala kabupaten yang terintegrasi dan berkelanjutan.

2) Meningkatnya cakupan layanan sektor sanitasi melalui peningkatan sarana prasarana sanitasi yang memadai.

3) Meningkatnya kemandirian dan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sektor sanitasi

4) Meningkatnya jejaring kerja dan kemitraan dalam pengelolaan sanitasi

5) Meningkatnya peran serta masyarakat dan pemangku kepentingan kota dalam peningkatan efektivitas pelaksanaan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat.

c. Arahan Pentahapan Pencapaian Sektor Sanitasi

Arahan pentahapan pencapaian pembangunan sektor sanitasi disusun berdasarkan pilihan sistem dan penetapan zona sanitasi dengan mempertimbangkan:

1) Arah pengembangan kota yang merupakan perwujudan dari visi dan misi Kabupaten Banjarnegara dalam jangka panjang

2) Kepadatan penduduk Kabupaten Banjarnegara 3) Kawasan beresiko sanitasi

Referensi

Dokumen terkait

Selaku dekan Fakultas Psikologi Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya yang telah banyak memberikan dukungan serta kebijakan pada akademik saya.. Hapsari,

1) Tujuan pembelajaran harus dinyatakan secara eksplisit. 2) Penahapan pembelajaran dilakukan berdasarkan kerumitan materi. 3) Penahapan pembelajaran hendaknya dilakukan

Kation golongan IIA tidak bereaksi dengan asam klorida tetapi membentuk Kation golongan IIA tidak bereaksi dengan asam klorida tetapi membentuk endapan dengan

SMP Negeri 3 Gamping saat ini masih menggunakan Ms. Excel sebagai pengolahan datanya sehingga dianggap belum memanfaatkan kinerja komputer secara optimal. Namun dengan

Hasil analisis data dan pembahasan terhadap tujuan penelitian tentang pengaruh danan simpan pinjam perempuan terhadap peningkatan pendapatan usaha menjahit di Desa

Lihat saja bayaran Allah untuk “pekerjaan” yang satu ini, pekerjaan tahajjud; siapa yang shalat dua rakaat di tengah malam, khairun minaddunyaa wa maa fiihaa, maka baginya lebih

Tipe Alterasi dan mineralisasi yang berkembang pada daerah penelitian yaitu:  Tipe alterasi yang berkembang di daerah penelitian ada 3 yaitu alterasi propilitik

Meminta laporan kepada koordinator editor dan oordinator setter sehubungan dengan penyelesaian pengerjaan naskah.. Menggunakan sarana dan prasarana yang ada di perusahaan demi