• Tidak ada hasil yang ditemukan

PROFIL KESEHATAN KABUPATEN ACEH SINGKIL

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PROFIL KESEHATAN KABUPATEN ACEH SINGKIL"

Copied!
167
0
0

Teks penuh

(1)

2014

PROFIL KESEHATAN

KABUPATEN ACEH

SINGKIL

SIE DATA & INFORMASI

D I N A S

K E S E H A T A N

K A B U P A T E N

A C E H

S I N G K I L

(2)

KATA PENGANTAR

Berkat rahmat Allah SWT, buku “Profil Kesehatan Kabupaten Aceh Singkil Tahun 2014” ini telah dapat diterbitkan dari rangkaian penyajian data dan informasi yang dilaksanakan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Aceh Singkil.

Profil Kesehatan Kabupaten Aceh Singkil merupakan kelanjutan dari profil tahun-tahun sebelumnya dan peremajaan serta adanya perkembangan data dan informasi kesehatan sebagai hasil berbagai upaya kesehatan selama tahun 2014. Data yang dihimpun ini merupakan bahan yang sangat berguna dalam melakukan analisa kecenderungan di bidang kesehatan terutama untuk penentuan strategi dan kebijakan pembangunan kesehatan dimasa mendatang.

Dalam rangka peningkatkan mutu Profil Kesehatan Kabupaten Aceh Singkil berikutnya diharapkan saran dan kritik yang membangun serta partisipasi dari semua pihak khususnya dalam upaya mendapatkan data dan informasi yang akurat, tepat waktu dan sesuai dengan kebutuhan.

Kepada semua pihak yang telah menyumbangkan pikiran dan tenaga dalam penyusunan profil kesehatan tahun 2014, kami sampaikan terima kasih. Mudah-mudahan “Profil Kesehatan Kabupaten Aceh Singkil Tahun 2014” ini bermanfaat dalam mengisi kebutuhan data dan informasi kesehatan yang terkini sesuai dengan harapan kita semua.

Singkil, Juni 2015 Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Aceh Singkil

H. Edy Widodo, SKM,M.Kes Nip. 19670112 199103 1 004

(3)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ... i

DAFTAR ISI ... ii

DAFTAR TABEL ... iii

DAFTAR GRAFIK ... iv

BAB I PENDAHULUAN ... 1

BAB II GAMBARAN UMUM ... 4

A. KEADAAN GEOGRAFIS ... 4

B. KEADAAN PENDUDUK ... 5

C. KEADAAN LINGKUNGAN ... 8

1. Rumah Sehat ... 8

2. Air Bersih ... 9

3. Tempat-Tempat Umum (TTU) ... 10

BAB III SITUASI DERAJAT KESEHATAN ... 12

A. MORTALITAS ... 12

1. Angka Kematian Neonatal (AKN) ... 12

2. Angka Kematian Bayi (AKB) ... 14

3. Angka Kematian Balita (AKABA) ... 15

4. Angka Kematian Ibu (AKI) ... 17

B. MORBIDITAS ... 18

1. Pola 10 Penyakit Terbanyak di Puskesmas ... 18

2. Penyakit Menular ... 19

a. TB Paru... 19

b. HIV/AIDS ... 20

c. Kusta ... 21

d. Demam Berdarah (DBD) ... 22

e. Pneumonia Pada Balita ... 23

(4)

BAB IV SITUASI UPAYA KESEHATAN ... 26

A. PELAYANAN KESEHATAN DASAR ... 26

1. Cakupan K1 dan K4 ... 26

2. Pertolongan Persalinan oleh Nakes ... 28

3. Pelayanan Kesehatan Ibu Nifas ... 30

4. Pelayanan Komp.Maternal Neonatal ... 32

5. Kunjungan Neonatal ... 34

6. Pelayanan Kesehatan Bayi ... 35

7. Pelayanan Kesehatan Anak Balita ... 36

8. Pelayanan Keluarga Berencana (KB) ... 37

9. Pelayanan Imunisasi ... 39

a. Imunisasi Dasar Pada Bayi ... 39

b. Desa UCI ... 41

B. AKSES DAN MUTU PELAYANAN KESEHATAN .. 42

1. Indikator Pelayanan Kesehatan Rumah Sakit .... 42

2. Pelayanan Jaminan Kesehatan ... 43

C. PERBAIKAN GIZI MASYARAKAT ... 45

1. Pemberian Kapsul Vitamin A ... 46

2. Pemberian Tablet Besi ... 47

BAB V SITUASI SUMBER DAYA KESEHATAN ... 49

A. SARANA KESEHATAN ... 49

B. UPAYA KESEHATAN UKBM ... 51

C. KETERSEDIAAN OBAT ... 54

D. TENAGA KESEHATAN ... 61

1. Jumlah & Rasio Tenaga Kesehatan ... 62

2. Persebaran SDM Kesehatan ... 63

E. PEMBIAYAAN KESEHATAN ... 64

1. Anggaran Dinas Kesehatan Kab.A.Singkil ... 64

(5)

DAFTAR TABEL

Tabel IV.1 Indikator Pelayanan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Di Kabupaten Aceh Singkil

Tahun 2014 ... 42 Tabel V.1 Jumlah Sarana Pelayanan Kesehatan

Menurut Kepemilikan/Pengelola di Kabupaten

Aceh Singkil Tahun 2014... 51 Tabel V.2 Ketersediaan Obat menurut Jenis Obat Di

(6)

DAFTAR GRAFIK

Grafik II.1 Jumlah Penduduk Menurut Kecamatan di

Kabupaten Aceh Singkil Tahun 2013 – 2014 ... 5 Grafik II.2 Kepadatan Penduduk Menurut Kecamatan

di Kabupaten Aceh Singkil Tahun 2014 ... 6 Grafik II.3 Piramida Penduduk Kabupaten Aceh Singkil

Tahun 2014 ... 7 Grafik II.4 Persentase Rumah Sehat Menurut Kecamatan

di Kabupaten Aceh Singkil Tahun 2014 ... 8 Grafik II.5 Jumlah Keluarga Pengguna Air Bersih di

Kabupaten Aceh Singkil Tahun 2014 ... 9 Grafik II.6 Jumlh TTU Sehat di Kabupaten Aceh Singkil

Tahun 2014 ... 10 Grafik III.1 Jumlah Kematian Neonatus di Kabupaten

Aceh Singkil Tahun 2012-2014 ... 13 Grafik III.2 Angka Kematian Bayi di Kabupaten Aceh Singkil

Tahun 2010-2014 ... 14 Grafik III.3 Jumlah Kematian Balita di Kabupaten Aceh

Singkil Tahun 2011-2014 ... 16 Grafik III.4 Jumlah Kematian Ibu Di Kabupaten Aceh Singkil

Tahun 2010-2014 ... 18 Grafik III.5 Sepuluh Penyakit Terbesar di Kabupaten Aceh

Singkil Tahun 2014 ... 18 Grafik III.6 Angka Insiden & prevalensi kasus TB Paru

per Kecamatan Di Kab. Aceh Singkil Tahun

(7)

Grafik III.7 Kasus Baru HIV, AIDS, & IMS Di Kabupaten

Aceh Singkil Tahun 2012-2014 ... 21 Grafik III.8 Kasus DBD Kab. Aceh Singkil Tahun 2010-2014 22

Grafik III.9 Perkiraan & Penemuan Kasus Pneumonia Balita per Kecamatan di Kab. Aceh Singkil

Tahun 2014 ... 24 Grafik III.10 Kasus Diare ditangani Per Kecamatan di

Kabupaten Aceh Singkil Tahun 2014 ... 25 Grafik IV.1 Cakupan K1 & K4 Per Kecamatan di Kabupaten

Aceh Singkil Tahun 2014 ... 27 Grafik IV.2 Cakupan Pertolongan Persalinan oleh Nakes

di Kab. Aceh Singkil Tahun 2010-2014 ... 29 Grafik IV.3 Cakupan Pelayanan Kesehatan Ibu Nifas

Kabupaten Aceh Singkil Tahun 2010-2014 ... 31 Grafik IV.4 Cakupan Penanganan Komplikasi

Maternal dan Neonatal Kab. Aceh Singkil

Tahun 2012-2014 ... 33

Grafik IV.5 Persentase Pelayanan Kunjungan Neonatus

Kabupaten Aceh Singkil Tahun 2014 ... 34 Grafik IV.6 Cakupan Kunjungan Bayi Kabupaten Aceh Singkil

Tahun 2014 ... 35 Grafik IV.7 Cakupan Pelayanan Kesehatan Anak Balita di Kab.

Aceh Singkil Tahun 2014 ... 37 Grafik IV.8 Persentase KB Baru Menurut Kecamatan

Kabupaten Aceh Singkil Tahun 2013-2014 ... 38 Grafik IV.9 Persentase Peserta KB Aktif Menurut

Alat Kontrasepsi Kab. Aceh Singkil Tahun 2014 38 Grafik IV.10 Persentase cakupan Imunisasi Campak Kabupaten

(8)

Grafik IV.11 Persentase Desa UCI Kabupaten Aceh Singkil

Tahun 2014 ... 41 Grafik IV.12 Pencapaian Jumlah Kunjungan RJTP, RITP,

RJTL, & RITL Kabupaten Aceh Singkil

Tahun 2014 ... 45 Grafik IV.13 Persentase Pemberian Kapsul Vitamin A pada

Balita Di Kabupaten Aceh Singkil Tahun 2014 46 Grafik IV.14 Persentase Pemberian Tablet Besi di Kabupaten

Aceh Singkil Tahun 2014 ... 47 Grafik V.1 Jumlah Fasilitas Pelayanan Kesehatan

Dasar Kabupaten Aceh Singkil Tahun 2014 ... 50 Grafik V.2 Jumlah Fasilitas Kesehatan UKBM Kabupaten

Aceh Singkil Tahun 2014 ... 52 Grafik V.3 Rasio Posyandu Terhadap Balita di Kabupaten

Aceh Singkil Tahun 2014 ... 53 Grafik V.4 Jumlah Tenaga Kesehatan Pada Puskesmas

di Kabupaten Aceh Singkil Tahun 2014 ... 63 Grafik V.5 Jumlah Anggaran Kesehatan Dinas

(9)

PENDAHULUAN

Keberhasilan suatu pembangunan dapat dilihat dari suatu nilai yaitu indeks pembangunan kesehatan/Human Development Indekx (IPM/HDI). IPM merupakan indeks yang mengukur pencapaian keseluruhan suatu negara yang di representasikan tiga dimensi pembangunan manusia yaitu 1) indeks kesehatan; panjang umur dan menjalani hidup sehat yang diukur dari angka harapan hidup waktu lahir. 2) indeks pendidikan; diukur dari tingkat kemampuan baca tulis seseorang dan rata-rata lama sekolah. Serta 3) indeks daya beli; memiliki standar hidup yang layak diukur dengan pengeluaran riil per kapita.

Pada tahun 2011, diperoleh data dari Profil Indonesia tahun 2013 bahwa IPM di Indonesia sebesar 73,29 terjadi peningkatan dari tahun 2012 yang sebesar 72,77. untuk Propinsi Aceh angka IPM tahun 2011 sebesar 72,16, sedangkan di tahun 2012 terjadi peningkatan menjadi 72,51. Demikian pula halnya untuk Kab. Aceh Singkil, terjadi peningkatan angka IPM dari 68,98 di tahun 2011 menjadi 69,37 di tahun 2012.

IPM di kategorikan menjadi 3, yaitu IPM tinggi (IPM ≥ 80), IPM sedang (IPM 50 – 79,99), dan IPM rendah (IPM < 50). Berdasarkan kategori tersebut keadaan IPM di Indonesia termasuk dalam kategori IPM sedang. Demikian juga halnya dengan IPM untuk Propinsi Aceh dan IPM Kabupaten Aceh Singkil Tahun 2012.

BAB

I

(10)

Angka Harapan Hidup (AHH) adalah perkiraan lama hidup rata-rata penduduk dengan asumsi tidak ada perubahan pola mortalitas (kematian) menurut umur. Untuk Propinsi Aceh tahun 2013 diketahui AHH adalah 69 tahun sementara nasional 72 tahun. Selanjutnya untuk Kabupaten Aceh Singkil AHH tahun 2011 adalah 65,10 menjadi 65,28 di tahun 2012. Umur harapan hidup berkaitan dengan kesehatan.

Bila dilihat permasalahan kesehatan yang ada tidak lepas dari masih tingginya angka kematian ibu, kematian bayi, kematian balita, masih ditemuinya gizi kurang pada balita, masih tingginya angka kesakitan penyakit menular, kecenderungan peningkatan penyakit tidak menular, belum memadainya jumlah dan penyebaran tenaga kesehatan terutama di wilayah kepulauan dan terpencil. Selain itu, juga dapat disebabkan masih rendahnya kesadaran masyarakat untuk hidup sehat dan bersih.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan, pasal 17 ayat 1 menyebutkan bahwa pemerintah bertanggung jawab terhadap ketersediaan akses informasi, edukasi dan fasilitas pelayanan kesehatan untuk meningkatkan dan memelihara derajat kesehatan yang setinggi-tingginya. Sedangkan pasal 169 disebutkan pemerintah memberikan kemudahan kepada masyarakat untuk memperoleh akses terhadap informasi kesehatan dalam upaya meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Salah satu cara untuk memberikan gambaran informasi kesehatan tentang capaian program kesehatan di Kabupaten Aceh Singkil Tahun 2014 adalah dengan Profil Kesehatan Kabupaten Aceh Singkil 2014, yang merupakan suatu alat ukur dalam pencapaian indikator pembangunan kesehatan yang ada, sehingga kedepannya diharapkan dapat membantu merancang, mengarahkan pembangunan kesehatan ke arah yang lebih baik.

(11)

Metodologi penyusunan Profil Kesehatan Kabupaten Aceh Singkil tahun 2014 ini dilakukan dengan pengumpulan data, memvalidasi, analisis, korelasi antar tabel dan program, serta check and balance dari seluruh kegiatan program bertujuan untuk menghasilkan informasi sehingga dapat di gunakan untuk perencanaan program kedepannya. Diharapkan informasi yang disajikan lebih mendekati keakuratan dengan gambaran kesehatan dari kondisi yang sebenarnya. Sajian data-data dilakukan dalam bentuk tabel dan grafik, sedangkan pembahasannya menyajikan perbandingan dengan pencapaian indikator tahun sebelumnya dan dibandingkan dengan target nasional yakni Standar Pelayanan Minimum (SPM) dan Target Millenium Developments Goals (MDGs).

Profil Kesehatan Kabupaten Aceh Singkil 2014 terdiri dari 5 (lima) bab yaitu :

Bab I – Pendahuluan. Bab ini menyajikan tentang latar belakang diterbitkannya Profil Kesehatan Kabupaten Aceh Singkil 2014 serta sistematika penyajiannya.

Bab II – Gambaran Umum. Bab ini menyajikan tentang gambaran umum yang meliputi; kependudukan, lingkungan fisik serta perilaku yang terkait dengan kesehatan.

Bab III – Situasi Derajat Kesehatan. Bab ini berisi mengenai hasil-hasil pembangunan kesehatan sampai dengan tahun 2014 yang mencakup angka kematian (mortalitas), angka kesakitan (morbiditas) umur harapan hidup, status gizi masyarakat.

Bab IV – Situasi Upaya Kesehatan. Bab ini berisi tentang upaya-upaya kesehatan yang telah dilakukan oleh bidang kesehatan sampai tahun 2014, untuk tercapainya dan berhasilnya program-program pembangunan bidang kesehatan. Gambaran tentang upaya kesehatan yang telah dilakukan itu meliputi pencapaian pelayanan kesehatan dasar, pencapaian kesehatan rujukan, pencapaian upaya kesehatan

(12)

pencegahan dan pemberantasan penyakit dan upaya perbaikan gizi masyarakat, dan Pelayanan Kesehatan Jiwa Masyarakat.

Bab V – Situasi Sumber Daya Kesehatan. Bab ini mengenai sumber daya pembangunan bidang kesehatan sampai tahun 2014. Gambarannya mencakup tentang keberadaan fasilitas Kesehatan, keadaan tenaga, dan pembiayaan kesehatan, dan di akhiri dengan kata-kata penutup.

(13)

GAMBARAN UMUM

A. KEADAAN GEOGRAFIS

Kabupaten Aceh Singkil merupakan salah satu Kabupaten dari 23 Kabupaten yang berada dalam Propinsi Aceh, yang dimekarkan dari Kabupaten Aceh Selatan, dan terbentuk pada tahun 1999 yaitu dengan keluarnya Undang-Undang No.14 tahun 1999 tanggal 27 April 1999. Namun pada tanggal 2 Januari tahun 2007 terjadi pemekaran dengan terbentuknya kota Subulussalam menjadi Pemerintah Kota. Luas wilayah Kabupaten Aceh Singkil seluas 2.187 Km2, terdiri dari 11 Kecamatan, 120 desa/kelurahan. Posisi Kabupaten Aceh Singkil terletak pada 20 02’–20 27’30” Lintang Utara dan 970 04’–970 45’ 00 Bujur Timur, dengan batas-batasnya sebagai berikut :

 Sebelah Utara berbatasan dengan Kota Subulussalam  Sebelah Selatan berbatasan dengan Samudera Indonesia  Sebelah Timur berbatasan dengan Provinsi Sumatera Utara  Sebelah Barat berbatasan dengan Kecamatan Trumon

Kabupaten Aceh Selatan

Kabupaten Aceh Singkil berada di ujung selatan Provinsi Aceh di Pulau Sumatera, sebagian wilayahnya berada di kawasan Taman Nasional Gunung Leuser yang terdiri dari dua wilayah yakni daratan dan kepulauan. Kepulauan yang menjadi bagian dari Kabupaten Aceh Singkil adalah kepulauan Pulau Banyak dan Haloban.

Kabupaten Aceh Singkil mempunyai iklim tropis yang bertipe A dan B serta terdapat 2 (dua) musim, yaitu penghujan (yang biasanya berlangsung bulan Agustus–Januari) dan musim kemarau (biasanya berlangsung bulan Maret–Agustus). Selain itu terdapat juga musim Barat terjadi pada bulan Maret-Juni dan musim Timur terjadi pada bulan September-November. Suhu udara berkisar antara 240C–280C

BAB

II

(14)

dan curah hujan berkisar antara 1.500–1.300 mm/tahun, dengan hari rata–rata 140 hari/tahun.

B. KEADAAN PENDUDUK

Berdasarkan data Biro Pusat Statistik (BPS), jumlah penduduk Kabupaten Aceh Singkil tahun 2013 sebanyak 110.706 jiwa.

Pada tahun 2014 diketahui jumlah penduduk Kabupaten Aceh Singkil sebanyak 112.613. Kabupaten Aceh Singkil mengalami kenaikan jumlah penduduk sebesar 1.457 jiwa. Dari kenaikan jumlah penduduk tersebut dapat di hitung Laju pertumbuhan penduduk Aceh Singkil tahun 2013-2014, yaitu 1,32%. Laju pertumbuhan penduduk tahun 2012-2013 sebesar 2,71%. Artinya terjadinya penurunan laju pertumbuhan penduduk dari tahun sebelumnya. Laju pertumbuhan penduduk ini dipengaruhi oleh kematian, kelahiran, migrasi masuk dan migrasi keluar. Penurunan laju pertumbuhan penduduk pada tahun ini bisa disebabkan oleh semakin baiknya program Keluarga Berencana di Kabupaten Aceh Singkil.

Jumlah Penduduk Kabupaten Aceh Singkil menurut kecamatan pada tahun 2013-2014 dapat dilihat pada Grafik dibawah ini :

Grafik II.1

Jumlah Penduduk Menurut Kecamatan di Kabupaten Aceh Singkil Tahun 2013-2014

(15)

Di Tahun 2014 jumlah penduduk Kab. Aceh Singkil mengalami kenaikan di setiap kecamatan. Kenaikan yang paling besar terlihat di kecamatan Gunung Meriah sebesar 433 orang dan Kecamatan Singkil sebesar 221 orang. Kepadataan dan penyebaran penduduk dengan luas wilayah Aceh Singkil tahun 2014 sebesar 60,0 sedangkan ditahun 2013 sebesar 59,59. Artinya terjadi peningkatan kepadatan penduduk sebesar 0.41 poin dari tahun sebelumnya. Gambaran Kepadatan penduduk per kecamatan di Kabupaten Aceh Singkil pada tahun 2014 dapat dilihat pada grafik dibawah ini :

Grafik II.2

Kepadatan Penduduk Menurut Kecamatan di Kabupaten Aceh Singkil Tahun 2014

Sumber : Badan Pusat Statistik Kab. Aceh Singkil 2014

Kepadatan penduduk dipengaruhi oleh besarnya wilayah pada masing-masing kecamatan. Tingkat kepadatan penduduk di Kabupaten Aceh Singkil jika dilihat dari kecamatan maka yang tertinggi adalah kecamatan Pulau Banyak sebesar 285,6%, dengan luas wilayah 15 km² dan jumlah penduduk sebanyak 4.285 jiwa. Sedangkan yang terendah adalah Pulau Banyak Barat sebesar 10,42% dengan luas wilayah 279 km² dan jumlah penduduk sebanyak 2,904 jiwa.

(16)

Data dari Badan Pusat Statistik, jumlah penduduk Kabupaten Aceh Singkil pada tahun 2014 tercatat sebesar 112.163 jiwa yang terdiri dari 56.589 jiwa laki-laki dan 55.572 jiwa perempuan. Dari angka tersebut di peroleh angka rasio jenis kelamin sebesar 101,83, yang artinya jumlah penduduk laki-laki hampir seimbang dengan penduduk perempuan. Atau setiap 100 orang perempuan terdapat 102 orang laki-laki.

Berdasarkan distribusi penduduk menurut jenis kelamin dan kelompok umur maka kita dapat memperoleh gambaran piramida penduduk Kab. Aceh Singkil sebagai berikut.

Grafik II.3 Piramida Penduduk

Di Kabupaten Aceh Singkil Tahun 2014

Sumber: Badan Pusat Statistik Kab. Aceh Singkil 2014

Komposisi penduduk di Kab. Aceh Singkil menurut kelompok umur, menunjukan bahwa yang berusia muda (0-14 tahun) sebesar 43.082 jiwa atau 38,4%, yang berusia produktif (15-64 tahun) sebesar 66.314 jiwa atau 59.12% dan yang berusia tua (≥ 65 tahun) sebesar 2.765 jiwa atau 2.47%. Dengan demikian angka beban tanggungan

(17)

(Dependency Ratio) penduduk Kab. Aceh Singkil pada tahun 2014 sebesar 69,14%.

C. KEADAAN LINGKUNGAN

Untuk menilai keadaan lingkungan dan upaya yang dilakukan untuk menciptakan lingkungan sehat telah dipilih empat indikator yang diprogramkan dalam sektor kesehatan, yaitu persentase rumah sehat, presentase keluarga yang memiliki persediaan air minum sehat, persentase TTU sehat, dan persentase Tempat Pengelolaan Makanan yang di bina.

1. Persentase Rumah Sehat

Rumah Sehat adalah bangunan rumah tinggal yang memenuhi syarat kesehatan yaitu rumah yang memiliki jamban sehat, sarana air bersih, tempat pembuangan sampah, sarana pembuangan air limbah ventilasi yang baik, kepadatan hunian rumah yang sesuai dengan lantai rumah yang tidak terbuat dari tanah (Kepmenkes no. 829/Menkes/SK/VII/1999 tentang persyaratan Kesehatan Perumahan).

Di kabupaten Aceh Singkil tahun 2014 diperoleh data jumlah seluruh rumah 24.680 rumah, rumah yang sudah memenuhi syarat di tahun lalu sebesar 10.284 rumah. Rumah yang di bina di tahun ini adalah 11.084 rumah. Dan total rumah yang telah memenuhi syarat adalah 21.367 rumah atau sekitar 86,58% dapat di lihat pada grafik di bawah ini.

Grafik II.4

Persentase Rumah Sehat

(18)

Sumber : Subdin P2P & PL Tahun 2014 2. Air Bersih

Air minum adalah air yang di gunakan untuk konsumsi manusia. Menurut Kementerian Kesehatan RI, syarat-syarat air minum adalah tidak berasa, tidak berbau, tidak berwarna, tidak mengandung mikroorganisme yang berbahaya, tidak mengandung logam berat. Berdasarkan hasil pemeriksaan yang dilakukan kepada 24.680 KK tahun 2012 melalui kegiatan Survei Kesehatan Lingkungan Dasar anggaran APBK Kab. Aceh Singkil Tahun 2012 diperoleh data bahwa Aceh Singkil telah memiliki akses air bersih 91,8%. Secara terperinci dapat di gambarkan sebagai berikut: jumlah keluarga menggunakan sumur gali adalah yang terbesar yaitu 4.797 KK, yang kedua adalah jaringan perpipaan (PDAM) sebesar 3.353 KK, dan yang terkecil penggunanya adalah sumur gali pompa 957 KK, dan terminal air 372 KK.

Grafik II.5

Keluarga pengguna Air Bersih di Kabupaten Aceh Singkil Tahun 2014

(19)

Sumber : Subdin P2P & PL Tahun 2014

3. Tempat Tempat Umum (TTU)

Tempat-tempat umum (TTU) dan Tempat Umum Pengelolaan Makanan (TUPM) merupakan suatu sarana yang di kunjungi banyak orang, dan berpotensi menjadi tempat penyebaran penyakit. TUPM meliputi hotel, restoran, sekolah dan lain-lain. Sedangkan TUPM sehat adalah tempat umum dan tempat pengelolaan makanan dan minuman yang memenuhi syarat kesehatan, yaitu memiliki sarana air bersih, tempat pembuangan sampah, sarana pembuangan air limbah, ventilasi yang baik, luas lantai (luas ruangan) yang sesuai dengan banyaknya pengunjung dan memiliki pencahayaan yang baik. Hasil pemantauan terhadap kualitas penyehatan tempat umum dan pengolahan makanan di Kab. Aceh Singkil dapat dilihat pada grafik II.6 berikut ini.

Grafik II.6

JUMLAH TTU SEHAT

(20)

Sumber : Subdin P2P & PL Tahun 2014

Jumlah keseluruhan hotel yang ada di Kabupaten Aceh Singkil sebanyak 27 buah, restoran 62 buah, dan Sekolah Dasar (SD) 111 buah. TTU dan TUPM yang terbanyak terdapat di 2 kecamatan yaitu Kecamatan Singkil sebagai Pusat Pemerintahan dan ibukota kabupaten, diikuti oleh kecamatan Gunung Meriah sebagai pusat perekonomian di Aceh Singkil. Hasil survey sanitasi dasar tahun 2012, di peroleh bahwa TTU dan TUPM Kab. Aceh Singkil secara absolute dinyatakan sehat mengenai hasil pengawasan terhadap kualitas penyehatan tempat umum dan pengolahan makanan tahun 2007 dinyatakan sehat secara absolut di 11 Kecamatan tersebut.

(21)

BAB

III

SITUASI DERAJAT KESEHATAN

Derajat kesehatan masyarakat dinilai dengan menggunakan beberapa indikator yang mencerminkan kondisi mortalitas (kematian), status gizi dan morbiditas (kesakitan). Pada bagian ini, derajat kesehatan masyarakat di Indonesia digambarkan melalui Angka Mortalitas; terdiri dari angka kematian neonatal, Angka Kematian Bayi (AKB), dan Angka Kematian Balita (AKABA), Indeks Pembangunan Manusia termasuk angka harapan hidup, Angka Morbiditas; angka kesakitan beberapa penyakit balita dan dewasa.

Selain dipengaruhi oleh faktor kesehatan seperti pelayanan kesehatan dan ketersediaan sumber daya kesehatan, derajat kesehatan masyarakat juga dipengaruhi oleh faktor lain seperti faktor ekonomi, pendidikan, serta lingkungan sosial.

A. MORTALITAS

Mortalitas adalah ukuran jumlah kematian pada suatu kelompok populasi. Mortalitas dapat mengekspresikan jumlah satuan kematian per 1000 individu dalam periode waktu tertentu.

Salah satu tujuan Millenium tahun 2015 adalah menurunkan jumlah kematian Anak dengan menghitung Angka Kematian Bayi (AKB) dan Angka Kematian Balita (AKABA) di suatu Negara. Upaya percepatan penurunan AKB dan AKABA menjadi prioritas Kementrian Kesehatan RI dan secara konsisten menjadi Rencana Aksi Daerah (RAD) seluruh Provinsi dan Kabupaten/Kota.

1. Angka Kematian Neonatal (AKN)

Angka Kematian Neonatal (AKN) adalah jumlah penduduk yang meninggal satu bulan pertama setelah kelahiran (0-28 hari) yang dinyatakan dalam 1.000 kelahiran hidup pada tahun yang sama.

(22)

Dari data yang di peroleh dari pengelola Program KIA diperoleh jumlah kematian pada usia neonatus tahun 2014 sebanyak 19. Jika di konversikan kedalam bentuk AKN diperoleh bahwa AKN Kabupaten Aceh Singkil Tahun 2014 adalah 8. Artinya dalam 1.000 jumlah kelahiran hidup terjadi 8 kasus kematian neonatal. Angka kematian neonatal tersebut meningkat dari tahun sebelumnya yaitu 18 kasus atau 8 angka. Adapun penyebab kematian neonatus adalah : BBLR 4 kasus, Asfiksia 9 kasus, tetanus 1 kasus, kelainan kongenital, dan Lain-lain 4 kasus (Protein mal nutrition, obstruksi usus, kelainan jantung, pneumonia, gangguan pemberian ASI, Diare, cacat bawaan).

Dalam kurun waktu 3 tahun terakhir, jumlah kematian neonatal fluktuatif. Di tahun 2012 jumlah kematian neonatal di ketahui 11 kasus, terjadi penurunan di tahun 2013 menjadi 18 kasus. Di tahun ini terjadi peningkatan kembali menjadi 19 kasus.

Kondisi naik turunnya kasus kematian neonatal dalam 3 tahun terakhir, indikator kuncinya adalah kebijakan penempatan tenaga bidan di desa, cakupan persalinan oleh nakes, inisiasi menyusui dini dan perlindungan tetanus neonatorum.

Kondisi kematian neonatal di kabupaten Aceh Singkil dalam 3 tahun terakhir tergambar pada grafik dibawah ini.

Grafik III.1

Jumlah Kematian Neonatus Di Kabupaten Aceh Singkil Tahun 2012 – 2014

(23)

Sumber : Subdin Pengendalian Penyakit dan Kesling 2014

2. Angka Kematian Bayi (AKB)

Angka kematian bayi (AKB) atau Infant Mortality Rate (IMR) adalah jumlah penduduk yang meninggal sebelum mencapai usia 1 tahun yang dinyatakan dalam 1.000 kelahiran hidup pada tahun yang sama. Usia bayi merupakan kondisi yang rentan baik terhadap kesakitan maupun kematian. Dari 47 kematian balita per 1.000 kelahiran hidup, lebih dari tiga perempatnya (80%) disumbangkan oleh umur 0-11 bulan atau bayi. Sehingga angka kematian bayi tidak jauh berbeda dengan angka kematian bayi.

Berdasarkan data fasilitas pelayanan dasar (puskesmas) dan jaringannya serta fasilitas rujukan (RSUD) diketahui AKB Aceh tahun 2014 sebesar 15 per 1000. Angka ini lebih rendah dari perkiraan Nasional. Di tahun 2012 berdasarkan hasil Survey Dasar Kesehatan Indonesia (SDKI) capaian AKB sebesar 32.

Hasil laporan jumlah kematian bayi di Kabupaten Aceh Singkil tahun 2010-2014 dapat dilihat pada gambar di bawah ini.

Grafik III.2

Jumlah Kematian Bayi Di Kabupaten Aceh Singkil Tahun 2010-2014

(24)

Sumber : Subdin Pengendalian Penyakit dan Kesling 2014

Berdasarkan grafik diatas dapat dilihat bahwa jumlah kematian bayi di Kab. Aceh Singkil Tahun 2010 s/d 2014 mengalami naik turun, di tahun 2011 s/d 2013 terjadi penurunan angka yang cukup berarti. Di tahun 2014 melonjak lagi menjadi 38 kasus kematian bayi. Penyebab kematian bayi di tahun 2014 dibagi menjadi 2 golongan umur yaitu neonatal (0 – 28 hari) sebanyak 19 kasus dan bayi (29 hari – 11 bulan) sebanyak 19 kasus. Kematian bayi 19 kasus disebabkan oleh pneumonia 3 kasus, diare 5 kasus, lain lain sebanyak 11 kasus seperti kejang demam dan kematian tanpa diketahui penyebabnya.

Berbagai faktor dapat menyebabkan adanya penurunan AKB seperti yang digrafikkan pada grafik diatas, seperti pemerataan pelayanan kesehatan berikut fasilitasnya. Hal ini disebabkan AKB sangat sensitif terhadap perbaikan pelayanan kesehatan. Selain itu, perbaikan kondisi ekonomi yang tercermin dengan pendapatan masyarakat yang meningkat juga dapat berkontribusi melalui perbaikan gizi yang berdampak pada daya tahan terhadap infeksi penyakit.

(25)

3. Angka Kematian Balita (AKABA)

Kematian Balita merupakan kematian yang mencakup bayi sebelum mencapai umur 1 tahun dan kematian anak balita yang terjadi dalam rentang usia 1-4 tahun. Oleh karen itu yang dimaksud dengan kematian balita adalah kematian yang terjadi pada balita sebelum usia 5 tahun (bayi + anak balita).

AKABA merupakan jumlah anak yang meninggal mencapai usia 5 tahun yang dinyatakan sebagai angka per 1,000 kelahiran hidup dan sebelum umur 5 tahun. Millenium Development Goals (MDGS) menetapkan nilai normatif AKABA, yaitu sangat tinggi dengan nilai > 140, tinggi dengan nilai 71-140, sedangkan dengan nilai 20-70 dan rendah dengan nilai < 20.

AKABA yang di laporkan di Provinsi Aceh tahun 2013 adalah 14 KH artinya dari 1000 balita lahir hidup terdapat 14 balita yang meninggal dalam setahun.

Pada tahun 2014 di Kabupaten Aceh Singkil, Angka kematian balita yaitu 19 (ditemukan 47 orang balita mati). Sebagian besar kematian balita di kontribusi pada periode neonatal, sehingga upaya untuk meningkatkan pelayanan kesehatan pada bayi baru lahir menjadi sangat strategis dalam percepatan pencapaian target MDGs. Jika diperinci jumlah kematian ini di ketahui di sumbang pada usia neonatus sebesar 19 kasus (0 – 29 hari), kematian bayi 19 kasus (29 hari – 1 tahun), dan anak balita 9 kasus (1 thn – 5 tahun). Penyebab kematian anak balita diketahui disebabkan demam 8 kasus, dan tenggelam sebanyak 1 kasus.

Grafik di bawah ini menunjukkan gambaran AKABA dalam periode 3 tahun terakhir di Kabupaten Aceh Singkil.

Grafik III.3

Jumlah Kematian Balita Di Kabupaten Aceh Singkil Tahun 2012-2014

(26)

Sumber : Subdin Pengendalian Penyakit dan Kesling 2014

4. Angka Kematian Ibu (AKI)

Angka kematian ibu (AKI) adalah jumlah kematian wanita pada saat hamil atau kematian dalam kurun waktu 42 hari sejak terminasi kehamilan tanpa memandang lamanya kehamilan atau tempat persalinan. Kematian yang dihitung dapat terjadi karena kehamilannya, persalinannya dan masa nifas bukan karena sebab-sebab lain seperti kecelakaan, terjatuh, dll.

Target MDGs untuk penurunan kematian ibu adalah menurunkan ¾ pada tahun 2015 dari tahun 1990. Pada tahun 1994 AKI adalah 390 per 100,000 kelahiran hidup. Berdasarkan target MDGs berarti di tahun 2015 AKI ditargetkan maksimal ≈ 100 kematian per 100,000 kelahiran hidup.

Di Kab. Aceh Singkil jumlah kematian ibu mengalami kenaikan di 5 tahun terakhir (2010-2014). Jumlah kematian ibu di tahun 2010 sebanyak 6 jiwa (AKI 382,6 per 100,000 kelahiran hidup). Dari tahun 2010 sampai 2014 AKI cenderung meningkat perlahan. Di tahun 2014

(27)

jumlah kematian ibu meningkat menjadi 10 orang dengan rincian 3 orang kematian ibu hamil, kematian ibu bersalin 2 orang dan 5 orang kematian ibu nifas. Dari 10 orang kematian ibu tersebut diketahui terjadi di Kecamatan Kuta Baharu 3 orang, Singkil Utara 2 orang, Gunung Meriah 2 orang, Singkil 1 orang, Pulau Banyak 1 orang, dan Simpang Kanan 1 orang. Angka kematian ibu dari tahun 2010 sampai 2014 dapat di gambarkan dalam grafik dibawah ini.

Grafik III.4

Jumlah Kematian Ibu Di Kabupaten Aceh Singkil Tahun 2010-2014

Sumber : Subdin Pengendalian Penyakit dan Kesling 2014 B. MORBIDITAS

Morbiditas dapat diartikan angka kesakitan (insiden maupun prevalen) dari suatu penyakit. Morbiditas menggambarkan kejadian penyakit dalam suatu populasi pada kurun waktu tertentu. Morbiditas

(28)

juga berperan dalam penilaian terhadap derajat kesehatan masyarakat.

1. Pola 10 (Sepuluh) Penyakit Terbanyak di Puskesmas Data kesakitan penduduk yang berasal dari masyarakat bersumber dari SP2TP yang ada di Puskesmas dapat dilihat pada grafik dibawah ini:

Grafik III.5

Sepuluh Penyakit Terbesar di Puskesmas Kabupaten Aceh Singkil

Tahun 2014

Sumber : SP2TP 2014

Penyakit menular yaitu ISPA masih menduduki peringkat pertama penyakit terbanyak pada pasien rawat jalan di fasilitas kesehatan diKabupaten Aceh Singkil dengan jumlah kasus sebanyak 9.683 orang, disusul yg kedua dan ketiga yaitu penyakit common cold dan penyakit jaringan otot dengan jumlah kasus masing-masing 6.472 atau 3.383 kasus. Sedangkan penyakit terendah adalah penyakit kulit infeksi sebesar 1.304 kasus. Jika dilihat di tahun 2014 bahwa pola 10 penyakit di Kabupaten Aceh Singkil masih relatif sama, masih seputar penanganan penyakit menular.

2. Penyakit Menular a. TB Paru

Beban penyakit yang di sebabkan oleh tuberkulosis dapat diukur dengan prevalensi (jumlah kasus baru dan kasus kambuh yang

(29)

muncul dalam kurun waktu satu tahun), insidensi (jumlah kasus tuberkulosis pada kurun waktu satu tahun) dan mortalitas/kematian (jumlah kematian akibat tuberkulosis dalam kurun waktu satu tahun)

Jumlah kasus baru BTA+ yang ditemukan pada tahun 2014 sebanyak 107 kasus baru dan 124 kasus keseluruhan (kasus lama dan kambuh). Dari data tersebut di peroleh insidens rate TB paru adalah 95,4 per 100.000 jumlah penduduk dan prevalens ratenya adalah 110,5 per 100.000 jumlah penduduk

Dalam grafik di bawah ini terlihat gambaran kasus TB paru sebagai berikut:

Grafik III.6

Angka Insiden dan prevalensi kasus TB Paru Di Kabupaten Aceh Singkil Tahun 2013 – 2014

(30)

b. HIV & AIDS

HIV/AIDS merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi Human Immunodeficiency Virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh. Infeksi tersebut menyebabkan penderita mengalami penurunan ketahanan tubuh sehingga sangat mudah untuk terinfeksi berbagai macam penyakit lain.

Sebelum memasuki fase AIDS, penderita terlebih dulu dinyatakan sebagai HIV Positif. Jumlah HIV positif yang ada di masyarakat dapat diketahui melalui 3 metode, yaitu pada layanan Voluntary, Counseling, and Testing (VCT), zero Survey, dan Survei Terpadu Biologis dan Perilaku (STBP).

Pada Tahun 2014 di Kabupaten Aceh Singkil Jumlah Kasus Infeksi Menular Seksual tidak ada, HIV 2 orang, dan penderita AIDS sebanyak 1 kasus. Penderita HIV tahun 2014 dengan rincian 1 orang laki-laki dan 1 orang perempuan di Kecamatan Simpang Kanan di kelompok umur 25 – 49 thn. Penderita AIDS 1 orang adalah laki-laki di Kecamatan Singkil Utara, juga di kelompok umur 25 – 49 thn. Berikut ini akan adalah grafik kasus baru HIV, AIDS, dan IMS di Kabupaten Aceh Singkil.

Grafik III.7

Kasus baru HIV,AIDS, dan IMS

(31)

Sumber: Subdin Pencegahan & Pemberantasan Penyakit Tahun 201 c. Kusta

Kusta adalah penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi bakteri Mycbacterium leprae. Penatalaksanaan kasus yang buruk dapat menyebabkan kusta menjadi progresif, menyebabkan kerusakan permanen pada kulit, saraf, anggota gerak dan mata.

Pada tahun 2000, dunia termasuk Indonesia telah berhasil mencapai status eliminasi (jumlah penderita kurang dari 1 kasus per 10.000 penduduk). Sejak tercapai status eliminasi kusta, situasi di Indonesia menunjukkan kondisi yang relatif statis. Hal ini terlihat dari angka penemuan kasus baru kusta yang berkisar antara 7 – 8 per 100.000 penduduk per tahunnya. Untuk Provinsi Aceh tahun 2012 kasus kusta baru PB 125 orang dan MB 470 orang. Kasus baru pada anak berumur 0-14 tahun berjumlah PB = 71 kasus, MB = 246 kasus.

Di kabupaten Aceh Singkil sendiri pada tahun ini terlapor jumlah penderita kusta baru adalah 1 kasus yaitu kusta MB 1 orang perempuan.

(32)

Demam Bedarah Dengue (DBD) merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus Dengue yang ditularkan oleh nyamuk Aedes Aegypti yang bisa menyerang anak berumur kurang 15 tahun dan juga orang dewasa. Adapun masa inkubasinya selama lebih kurang 7 s/d 14 hari tergantung daya tahan tubuh seseorang.

Pada tahun 2013 Jumlah Penderita DBD untuk propinsi Aceh yang dilaporkan sebanyak 1.359 kasus dengan jumlah kematian 13 orang (Incidence Rate = 28,36 per 100.000 penduduk dan CFR = 1,0%). Incidence Rate DBD Kabupaten Aceh Singkil 22,3 dengan jumlah kasus 25 dan tidak ada kasus kematian akibat DBD.

Trend Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kabupaten Aceh singkil yang yang dilaporkan melalui profil kesehatan mulai tahun 2010 s/d 2014 dapat dilihat pada grafik dibawah ini :

Grafik III.8

Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) Di kabupaten Aceh Singkil Tahun 2010-2014

Sumber: Subdin Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit 2010-2014 Kasus DBD dalam 5 tahun terakhir sangat bervariasi dan cenderung naik turun. Kasus tertinggi terjadi tahun 2012 yaitu dengan terjadinya KLB kasus DBD di Kabupaten Aceh Singkil dengan di temukannya kasus DBD sebanyak 102 kasus di sepanjang tahun.

(33)

Kasus DBD tersebut terjadi di Kecamatan Gunung Meriah 94 kasus, Singkil 4 kasus dan Kuta Baharu 1 kasus.

Setiap tahunnya insiden DBD masih menjadi masalah di kabupaten Aceh Singkil. Dikarenakan tingginya mobilitas penduduk dari dan ke daerah-daerah dengan tingkat endemisitas kasus DBD yang tinggi, kondisi geografis yang berpantai dan rawa, dan musim yang tidak menentu serta sumber perindukan nyamuk yang tidak segera dimusnahkan secara cepat oleh penduduk maupun petugas kesehatan.

Di tahun 2014 Kasus DBD cukup banyak, yaitu yang di laporkan sebanyak 25 kasus. Dengan rincian 11 penderita adalah laki-laki dan 14 orang perempuan. Keseluruhan kasus DBD tahun 2014 terjadi di Kecamatan Singkil 2 kasus, Singkil Utara 2 Kasus, Gunung Meriah 20 kasus, Simpang Kanan 1 kasus.

e. Pneumonia pada Balita

Berdasarkan kelompok umur penduduk, period prevalens pneumonia yang tertinggi terjadi pada kelompok umur 1-4 tahun, kemudian mulai meningkat pada umur 45-54 tahun. Untuk itu penanganan pneumonia pada balita yang tepat sangat di butuhkan guna mengatasi permasalahan kesehatan di Indonesia.

Kasus Pneumonia pada balita di Propinsi Aceh tahun 2013 berjumlah 47.258. seluruh kasus yang di temukan telah di tangani secara tepat. Tahun 2014 di Kabupaten Aceh Singkil perkiraan penderita pneumonia adalah 1.222 kasus, dan jumlah penderita yang di temukan dan di tangani adalah 17 kasus, meningkat dari tahun sebelumnya yaitu 5 kasus. Dapat di lihat pada grafik di bawah ini.

(34)

Grafik III.9

Perkiraan dan Penemuan Kasus Pneumonia Pada Balita di Kabupaten Aceh Singkil Tahun 2014

Sumber: Subdin Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit 2014 f. Diare

Cakupan penanganan kasus diare di Kabupaten Kota seluruh Indonesia belum maksimal begitu juga halnya di propinsi Aceh. Masih banyak terjadi kasus diare yang belum mendapatkan pelayanan yang memadai. Tingginya angka diare menggambarkan perilaku masyarakat. Salah satu penyebab diare pada masyarakat adalah perilaku hidup sehat yang belum baik. Masih banyak sampah yang di buang bukan pada tempatnya, buang hajat tidak di jamban, serta kebiasaan minum air mentah dan makan tidak mendahulukan dengan mencuci tangan dll.

Dari data Profil Kesehatan Propinsi Aceh tahun 2013 di ketahui perkiraan kasus diare berjumlah 196.948 sementara kasus yang ditangani laki 51.343 (52,1%) lebih sedikit dibandingkan dengan diare pada perempuan 56.239 (57,1%).

(35)

Grafik III.10

Kasus Diare Yang Ditangani Menurut Kecamatan Di kabupaten Aceh Singkil Tahun 2014

Sumber: Subdin Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit 2014

Dari grafik di atas dapat dilihat bahwa jumlah kasus diare di tahun 2014 terbesar berada di kecamatan Gunung Meriah dan Singkil Utara sebanyak 722 kasus, di karenakan di kecamatan tersebut memang jumlah penduduk nya yang besar. Dan jumlah kasus diare yang terkecil adalah di kecamatan Danau Paris sebanyak 105 kasus.

(36)

BAB

IV

SITUASI UPAYA KESEHATAN

Secara umum upaya kesehatan terdiri atas dua unsur utama, yaitu upaya kesehatan masyarakat dan upaya kesehatan perorangan. Upaya kesehatan masyarakat adalah setiap kegiatan yang di lakukan oleh pemerintah dan atau masyarakat serta swasta, untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan serta mencegah dan menanggulangi timbulnya masalah kesehatan di masyarakat. Upaya

kesehatan ini mencakup upaya-upaya promosi kesehatan,

pemeliharaan kesehatan, pemberantasan penyakit menular, pengendalian penyakit tidak menular, penyehatan lingkungan, dan penyediaan sanitasi dasar, perbaikan gizi masyarakat, kesehatan jiwa, pengamanan sediaan farmasi dan alat kesehatan, pengamanan penggunaan zat aditif dalam makanan dan minuman, pengamanan narkotika, psikotropika, zat adiktif dan bahan berbahaya, serta penanggulangan bencana dan bantuan kemanusiaan.

Sedangkan upaya kesehatan perorangan merupakan setiap kegiatan yang dilakukan oleh pemerintah dan atau masyarakat serta swasta, untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan serta mencegah dan menyembuhkan penyakit serta memulihkan kesehatan perorangan, yang mencangkup antara lain; upaya promosi kesehatan, pencegahan penyakit, pengobatan rawat jalan, pengobatan rawat inap, pembatasan dan pemulihan kecacatan yang ditujkan terhadap perorangan.

Berikut diuraikan situasi upaya kesehatan selama tahun 2014. A. PELAYANAN KESEHATAN DASAR

(37)

1. Cakupan Kunjungan Ibu Hamil (K1 dan k4)

Pelayanan kesehatan ibu hamil diwujudkan melalui pemberian pelayanan antenatal sekurang-kurangnya 4 kali selama masa kehamilan, dengan distribusi waktu minimal 1 kali pada trimester pertama (usia kehamilan 0-12 minggu), 1 kali pada trimester kedua (usia kehamilan 12-24 minggu), dan 2 kali pada trimester ketiga ( usia kehamilan 24 – 36 minggu). Standar waktu pelayanan tersebut dianjurkan untuk menjamin perlindungan terhadap ibu hamil dan atau pun janin, berupa deteksi dini faktor resiko, pencegahan dan penanganan dini komplikasi kehamilan.

Capaian pelayanan kesehatan ibu hamil dapat dinilai dengan menggunakan indikator cakupan K1 dan K4. Cakupan K1 adalah jumlah ibu hamil yang telah memperoleh pelayanan antenatal pertama kali, dibandingkan jumlah sasaran ibu hamil di satu wilayah kerja pada kurun waktu satu tahun.

Cakupan K4 adalah jumlah ibu hamil yang telah memperoleh pelayanan antenatal sesuai dengan standar paling sedikit 4 kali sesuai dengan jadwal yang dianjurkan, dibandingkan sasaran ibu hamil di satu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu. Indikator tersebut memperlihatkan akses pelayanan kesehatan terhadap ibu hamil dan tingkat kepatuhan ibu hamil dalam memeriksakan kehamilannya ke tenaga kesehatan.

Grafik IV.1

Cakupan K1 dan K4 Menurut Kecamatan Di kabupaten Aceh Singkil Tahun 2014

(38)

Sumber : Subdin P2PL 2014

Dari grafik di atas terlihat Persentase K1 tertinggi di Kecamatan Singkohor (121,7%), Simpang Kanan (102,0%), Singkil dan Pulau Banyak (100,0%) dan terendah Kecamatan Pulau Banyak Barat(88,7 %). Capaian K1 ini khususnya di 2 Kecamatan diatas menunjukkan angka lebih dari 100%. Artinya jumlah ibu hamil yang mendapatkan pelayanan K1 melebihi sasaran setahun yang ditetapkan, dimana penetapan sasaran tahunan di hitung secara estimasi dari data Penduduk oleh BPS. Hal ini bisa di artikan banyaknya mobilitas dari dan ke kecamatan yang mendapat kan capaian 100% tersebut sehingga melebihi sasaran yang di tetapkan.

Secara keseluruhan di Kabupaten Aceh Singkil diketahui cakupan K1 di Kabupaten Aceh Singkil tahun 2014 adalah 99,7% dan Cakupan K4 adalah 89,1%. Jika dinilai sesuai stándar Pelayanan Minimal (SPM) Kesehatan cakupan K4 Kab, Aceh Singkil Tahun 2014 mengalami peningkatan dibandingkan dengan tahun 2013 yakni dari 96,5% menjadi 99,7%. Dan, apabila dibandingkan dengan target nasional SPM bidang Kesehatan Kab. Aceh Singkil sudah mencapai target yakni seharusnya cakupan K4 adalah 95% di tahun 2015.

Berbagai upaya dilakukan untuk meningkatkan cakupan K1 dan K4 di Kab. Aceh Singkil. Pemerintah menyediakan program Bantuan Operasional Kesehatan bagi puskesmas di tahun 2014 dengan kegiatan seperti; kelas ibu hamil dan Distric Tim Problem

(39)

Solving (DTPS) dan Jaminan Persalinan (Jampersal) mendukung paket pelayanan antenatal (K1, K4).

2. Pertolongan persalinan oleh Tenaga Kesehatan

Cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan adalah Jumlah ibu bersalin yang mendapat pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi kebidanan di satu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu.

Komplikasi dan kematian ibu maternal serta bayi baru lahir sebagian besar terjadi pada masa persalinan, hal ini antara lain disebabkan pertolongan tidak dilakukan oleh tenaga kesehatan yang mempunyai kompetensi kebidanan (profesional) dan persalinan bukan pada fasilitas kesehatan.

Adapun capaian cakupan pertolongan persalinan berdasarkan kecamatan di kabupaten Aceh Singkil dapat dilihat pada grafik 4.2.

Grafik IV.2

Cakupan Pertolongan Persalinan oleh Tenaga Kesehatan Kabupaten Aceh Singkil Tahun 2010 – 2014

Sumber : Subdin P2PL 2014

Pada tahun 2014, cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga Kesehatan yang memiliki kompetensi bidang kesehatan Kab. Aceh Singkil sebesar 89%. Jika di lihat dalam kurun waktu 5 tahun terakhir, cakupan pertolongan persalinan oleh nakes ini terlihat trend

(40)

nya naik turun. Di bandingankan tahun sebelumnya 2013 cakupan ini mengalami sedikit peningkatan sebesar 4,2 %. Dan jika di bandingan juga dengan target nasional yaitu SPM bidang kesehatan, di tahun 2014 tidak mencapai target minimal SPM tersebut. Hal ini harusnya menjadi perhatian yang cukup serius bagi kita semua. Di karenakan kucuran dana yang alokasi nya cukup memadai untuk penanganan masalah ini seperti dana BOK, Jamkesmas, Jampersal, JKA dan sebagainya, namun jika dilihat dari segi capaian nya yang terlihat adalah penurunan dan belum mencapai target yang seharusnya.

Keterkaitan antara kematian ibu dengan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan dan di fasilitas kesehatan sangat erat. Oleh karena itu, pembangunan sarana kesehatan seperti POSKESDES beserta tempat tinggal bidan diharapkan bidan akan siaga selalu berada di tempat tugasnya dan mampu melakukan pertolongan persalinan. Selain itu, ada kegiatan yang dilaksanakan melalui program Bantuan Operasional Kesehatan TA. 2014 yakni kemitraan bidan dan dukun. Salah satu hal yang menjadi alasan seorang ibu melahirkan di rumah dan dibantu oleh dukun adalah kekurangan biaya. Mengingat adanya anggapan akan mahalnya biaya persalinan apabila ditolong oleh dokter maupun bidan serta biaya hidup selama bersalin di fasilitas kesehatan. Maka dari itu, salah satu program Pemerintah dalam meringankan beban masyarakat dengan mengeluarkan Program Jaminan Persalinan (Jampersal). Jaminan ini menanggung pembiayaan pemeriksaan kehamilan, pertolongan persalinan, hingga pelayanan nifas termasuk pelayanan bayi baru lahir dan KB pasca persalinan.

3. Pelayanan Kesehatan Ibu Nifas

Pelayanan kesehatan ibu nifas adalah pelayanan kesehatan sesuai standar pada ibu mulai 6 jam sampai 42 hari pasca bersalin oleh tenaga kesehatan. Untuk deteksi dini komplikasi pada ibu nifas

(41)

diperlukan pemantauan pemeriksaan terhadap ibu nifas dengan melakukan kunjungan nifas minimal sebanyak 3 kali dengan ketentuan waktu sebagai berikut; (i). Kunjungan nifas pertama (KF1) pada masa 6 jam sampai dengan 3 hari setelah persalinan, (ii). Kunjungan nifas kedua (KF2) dalam waktu 2 minggu setelah persalinan (8-14 hari) dan (iii). Kunjungan nifas ketiga (KF3) dalam waktu 6 minggu setelah persalinan (36-42 hari).

Keberhasilan upaya kesehatan ibu nifas diukur melalui indikator cakupan pelayanan kesehatan ibu nifas (cakupan KF3). Cakupan indikator KF3 yang meningkat secara nasional dalam 5 tahun terakhir merupakan hasil dari berbagai upaya yang di lakukan oleh Pemerintah dan masyarakat termasuk sektor swasta. Program penempatan Pegawai Tidak Tetap (PTT) untuk dokter dan bidan terus dilaksanakan. Selain itu dengan diluncurkannya dana BOK sejak tahun 2010, Puskesmas, Poskesdes, dan posyandu lebih terbantu dalam mengintensifkan upaya kesehatan salah satunya pelayanan kesehatan ibu nifas. Dukungan pemerintah makin meningkat sejak di luncurkannya Jampersal tahun 2011, dimana pelayanan nifas termasuk paket manfaat yang di jamin oleh jampersal. Cakupan pelayanan ibu nifas di Kab. Aceh Singkil dapat dilihat pada grafik IV.3.

Grafik IV.3

Cakupan Pelayanan Kesehatan Ibu Nifas Kabupaten Aceh Singkil Tahun 2010 – 2014

(42)

Sumber : Subdin P2PL 2014

Cakupan pelayanan kesehatan ibu nifas Kab. Aceh Singkil Tahun 2014 yakni sebesar 86,1%, dimana cakupan tersebut belum memenuhi target SPM di tahun 2015 sebesar 90.0%. Selain itu, dari grafik diatas dapat dilihat juga bahwa cakupan di tahun ini mengalami penurunan dari tahun sebelumnya yaitu 0,5% (tahun 2012 target nasional SPM Kesehatan sudah tercapai). Secara umum di Kabupaten Aceh Singkil terlihat kondisi cakupan nifas dalam periode 5 tahun terakhir trendnya naik turun. Di harapkan di tahun mendatang cakupan nifas dapat lebih meningkat. Hal ini mungkin akan tercapai jika kinerja kita sebagai petugas kesehatan terutama yang berada di lapangan lebih dimaksimalkan lagi.

4. Pelayanan Komplikasi Maternal dan Neonatal

Komplikasi maternal adalah kesakitan pada ibu hamil, ibu bersalin, ibu nifas dan atau janin dalam kandungan, baik langsung maupun tidak langsung, termasuk penyakit menular dan tidak menular yang dapat mengancam jiwa ibu dan janin, yang tidak di sebabkan oleh trauma/kecelakaan. Pencegahan dan penanganan komplikasi maternal adalah pelayanan kepada ibu dengan komplikasi

(43)

penanganan definitif sesuai standar oleh tenaga kesehatan kompeten pada tingkat pelayanan dasar dan rujukan. Indikator yang di gunakan adalah cakupan penanganan komplikasi maternal.

Neonatal komplikasi adalah neonatal dengan penyakit atau kelainan yang dapat menyebabkan kecacatan dan atau kematian, seperti asfiksia, ikterus, hipotermia, tetanus neonatorum. Infeksi, trauma lahir, BBLR, sindroma gangguan pernafasan, dan kelainan kongenital sesuai dengan pemeriksaan Manajemen Terpadu Bayi Muda (MTBM).

Penanganan Neonatal komplikasi adalah neonatal komplikasi yang mendapat pelayanan sesuai standar oleh tenaga kesehatan baik di rumah, sarana pelayanan kesehatan dasar maupun rujukan.

Berikut ini akan di sajikan grafik pelayanan komplikasi Maternal dan Neonatal di Kabupaten Aceh Singkil.

Grafik IV.4

Cakupan Pelayanan Penanganan Komplikasi Kebidanan dan Neonatus

(44)

Sumber : Subdin P2PL 2014

Dari grafik diatas terlihat untuk penanganan komplikasi kebidanan/ maternal di Kabupaten Aceh Singkil angka cakupannya masih sangat kecil. Masih sangat jauh dari target Nasional SPM tahun 2015 yang seharusnya 80%. Begitu juga hal nya dengan cakupan penanganan komplikasi neonatal yang rata-rata selama 3 tahun terakhir dibawah angka 30%. Bahkan di tahun ini hanya tercapai 15,3%. Dan jika dibandingkan dengan target mininal Nasional untuk cakupan ini adalah 90% di tahun 2010.

Kondisi cakupan penanganan komplikasi yang rendah ini tidak hanya terjadi di Kabupaten Aceh singkil saja. Secara meluas di Propinsi Aceh cakupan ini juga rendah. Dari data profil propinsi tahun 2013 di ketahui cakupan penanganan komplikasi maternal adalah 47,6%.

Demikian juga halnya dengan Penanganan Komplikasi Neonatal. Dari data profil propinsi 2013, jumlah bayi baru lahir hidup tahun 2013 neonatal resti komplikasi yang mendapat pelayanan sebanyak 44,65%. Cakupan penanganan komplikasi neonatal yang rendah dapat di sebabkan oleh beberapa permasalahan diantaranya sistem pencatatan dan pelaporan penanganan neonatal dengan komplikasi yang belum mengakomodir semua laporan faskes dasar dan rujukan swasta. Selain itu di mungkin kan juga disebabkan masih terdapat tenaga kesehatan yang belum memahami defenisi operasional dari terminologi penanganan neonatal dengan komplikasi.

(45)

Indikator yang menggambarkan pelayanan kesehatan bagi neonatal adalah kunjungan neonatus (KN)1 dan KN lengkap. Cakupan pelayanan tersebut dapat dilihat pada grafik dibawah ini.

Grafik IV.5

Persentase Pelayanan Kunjungan Neonatus Kabupaten Aceh Singkil Tahun 2014

Sumber : Subdin P2PL 2014

Berdasarkan grafik diatas dapat dilihat bahwa cakupan KN1 Kab. Aceh Singkil tahun 2014 adalah 101,3% dan KN lengkap sebesar 94,4%. Cakupan kunjungan neonatus di tahun ini mengalami penurunan di bandingkan tahun 2013 dimana KN1 sebesar 102,7% dan KN lengkap sebesar 96,4%.

6. Pelayanan Kesehatan Pada Bayi

Pelayanan kesehatan bayi adalah pelayanan kesehatan sesuai standar yang diberikan oleh tenaga kesehatan kepada bayi sedikitnya 4 kali, selama periode 29 hari sampai dengan 11 bulan setelah lahir.

(46)

Pelayanan ini meliputi pemberian imunisasi dasar (BCG, DPT/HB1-3, Polio 1-4 dan campak), stimulasi deteksi intervensi dini tumbuh kembang (SDIDTK) bayi, pemberian vitamin A pada bayi, dan penyuluhan perawatan kesehatan bayi serta penyuluhan ASI eksklusif, MP-ASI dan lain-lain.

Indikator cakupan pelayanan kesehatan bayi merupakan penilaian terhadap upaya peningkatan akses bayi memperoleh pelayanan kesehatan dasar, mengetahui sedini mungkin adanya kelainan atau penyakit, pemeliharaan kesehatan dan pencegahan penyakit serta peningkatan kualitas hidup bayi. Indikator cakupan pelayanan kesehatan bayi ini dapat di lihat melalui cakupan kunjunagan bayi minimal 4 kali.

Grafik IV.6

Cakupan Kunjungan Bayi Kabupaten Aceh Singkil Tahun 2014

Sumber : Subdin P2PL 2014

Dari grafik 4.6 diatas ini dapat dilihat bahwa bayi di Kab. Aceh Singkil telah mendapatkan pelayanan kesehatan dasar seluruhnya (sesuai dengan sasaran yang ada) dengan rata-rata cakupan kunjungan bayi Kabupaten Aceh Singkil tahun 2014 adalah 90,2%. Hal ini sudah sesuai dengan target pelayanan minimal SPM Nasional

(47)

yaitu 90%. Dari 11 Kecamatan di Aceh Singkil terlihat ada 4 Kecamatan belum mencapai target Nasional SPM, yaitu Kecamatan Pulau Banyak, Gunung Meriah, Suro, dan Kuala Baru. Cakupan Kunjungan bayi terendah ada di Kecamatan Suro yaitu 57,7%.

7. Pelayanan Kesehatan Anak Balita

Cakupan pelayanan kesehatan anak balita pada tahun 2014 sebesar 79,6% kondisinya di tahun ini meningkat dari tahun sebelumnya yaitu 69,30%. Angka cakupan ini masih jauh dari target SPM tahun 2010 yaitu 90%. Dimana persentase pelayanan yang terendah berada pada kecamatan Suro sebesar 18,1% dan yang tertinggi pada Kecamatan Danau Paris yaitu 101,1%. Dibeberapa kecamatan ada yang melebihi dari persentase 100%, dikarenakan jumlah sasaran jauh lebih sedikit dibandingkan dengan jumlah balita yang terlayani oleh tenaga kesehatan. Atau juga bisa dikarenakan kesalahan pencatatan oleh petugas kesehatan yaitu ada balita yang mendapat pelayanan terhitung lebih dari satu sekali.

Grafik IV.7

Cakupan Pelayanan Kesehatan Anak Balita Kabupaten Aceh Singkil Tahun 2014

(48)

Sumber : Subdin P2PL 2014

8. Pelayanan Keluarga Berencana (KB)

Program Keluarga Berencana (KB) dilakukan dalam rangka mengatur jumlah kelahiran atau menjarangkan kelahiran. Sasaran program KB adalah Pasangan Usia Subur (PUS) yang lebih dititikberatkan pada kelompok Wanita Usia Subur (WUS) yang berada pada kisaran usia 15 – 49 tahun.

Tingkat pencapaian pelayanan keluarga berencana dapat dilihat dari cakupan pasangan usia subur (PUS) yang sedang menggunakan alat/metode kontrasepsi (KB aktif), cakupan peserta KB yang baru menggunakan alat/metode kontrasepsi, tempat pelayanan KB dan jenis kontrasepsi yang digunakan akseptor. Persentase peserta KB aktif dari tahun lalu dan tahun ini dapat di lihat pada grafik di bawah ini.

(49)

Persentase KB Baru Menurut Kecamatan Kabupaten Aceh Singkil Tahun 2013 – 2014

Sumber : Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Sejahtera Tahun 2014

Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana Sejahtera Tahun 2014, peserta KB baru di Kabupaten Aceh Singkil menurun jika di bandingkan dengan cakupan tahun lalu. Tahun 2014 diketahui cakupan KB aktif adalah 6,8% sedangkan tahun lalu 13,7% penurunan cukup signifikan.

Grafik IV.9

Persentase Peserta KB Aktif Menurut Alat/metode Kontrasepsi Kab. Aceh Singkil Tahun 2014

(50)

Sumber : Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Sejahtera Tahun 2014

Metode/alat kontasepsi yang digunakan pasangan usia subur sebagai peserta KB Aktif di Kab. Aceh Singkil Tahun 2014 yang terbesar adalah Suntik (47,0%) dan Pil (32%). Sedangkan metode yang paling sedikit digunakan adalah Metode operasi pria (0,1%) dan penggunaan IUD (2%).

9. Pelayanan Imunisasi

Program imunisasi merupakan salah satu upaya untuk melindungi penduduk terhadap penyakit tertentu. Beberapa penyakit menular yang termasuk ke dalam peyakit yang Dapat Dicegah dengan Imunisasi (PD3I) antara lain : Difteri, Tetanus, Hepatitis B, radang selaput otak, radang paru-paru, pertusis, dan polio.

Proses pembentukan antibodi untuk melawan antigen secara alamiah disebut imunisasi alamiah. Sedangkan program imunisasi melalui pemberian vaksin adalah upaya stimulasi terhadap sistem kekebalan tubuh untuk menghasilkan antibodi dalam upaya melawan penyakit dengan melumpuhkan “antigen” dilemahkan yang berasal dari vaksin. Program imunisasi diberikan kepada populasi yang dianggap rentan terjangkit penyakit menular, yaitu bayi, anak usia sekolah, wanita usia subur, dan ibu hamil.

a. Imunisasi Dasar Pada Bayi

Sebagai salah satu kelompok yang menjadi sasaran program imunisasi, setiap bayi wajib mendapatkan Lima Imunisasi dasar Lengkap yang terdiri dari : 1 dosis BCG, 3 dosis DPT, 4 dosis polio, 1 dosis hepatitis B, dan 1 dosis campak. Dari kelima imunisasi dasar lengkap yang di wajibkan tersebut, campak merupakan imunisasi yang mendapat perhatian lebih yang di buktikan dengan komitmen Indonesia pada lingkup ASEAN dan SEARO untuk mempertahankan cakupan imunisasi campak sebesar 90%. Hal ini terkait dengan realita

(51)

bahwa campak adalah penyebab utama kematian pada balita. Dengan demikian pencegahan campak memiliki peran signifikan dalam penurunan angka kematian balita.

Grafik IV.10

Persentase Cakupan Imunisasi Campak Kabupaten Aceh Singkil Tahun 2014

Sumber : Subdin Pencegahan dan pemberantasan penyakit 2014

Data dari Profil Indonesia 2013 bahwa Indonesia memiliki cakupan imunisasi campak sebesar 97,8% terjadi penurunan dibandingkan tahun lalu 99,3% turun 1,5%. Pada grafik 4.9 dapat diketahui bahwa pada tahun 2014, Kab. Aceh Singkil mencapai cakupan imunisasi campak sebesar 86,2% belum mecapai target nasional tahun 2011 ≥ 90%. Cakupan imunisasi yang terendah berada di Kec. Gunung Meriah 77,5% dan yang tertinggi cakupannya di Kecamatan Suro 100%.

Program Imunisasi pada bayi mengharapkan agar setiap bayi mendapatkan kelima jenis imunisasi dasar lengkap. Keberhasilan

(52)

seorang bayi dalam mendapatkan 5 jenis imunisasi dasar tersebut diukur melalui indikator imunisasi dasar lengkap. Di Kabupaten Aceh Singkil tahun 2014 capaian imunisasi dasar lengkap adalah 87,2%. Artinya dari 100 orang bayi, 87 orang telah mendapatkan imunisasi lengkap. Capaian indikator ini di Indonesia pada tahun 2013 sebesar 90%. Hal ini telah mencapai target Renstra Indonesia tahun 2013 sebesar 88%.

b. Desa UCI (Universal Child Immunization)

Indikator lain yang diukur untuk menilai keberhasilan pelaksanaan imunisasi adalah Universal Child Immunization (UCI). UCI adalah gambaran suatu desa/ kelurahan dimana > 80% dari jumlah bayi (0-11 bulan) yang ada di desa/kelurahan tersebut sudah mendapat imunisasi dasar lengkap. Adapaun target UCI sesuai dengan standar pelayanan minimal (SPM) menetapkan target 100 % desa UCI pada tahun 2010 untuk setiap kabupaten. Sedangkan target UCI pada Renstra tahun 2012 adalah sebesar 90%.

Grafik IV.11

Persentase Desa UCI Kabupaten Aceh Singkil Tahun 2014

(53)

Dari grafik diatas dapat dilihat bahwa cakupan desa UCI di Kab. Aceh Singkil tahun 2014 mengalami penurunan dari tahun sebelumnya yaitu 70,8%. Tetapi sudah mencapai target UCI pada Renstra tahun 2012.

B. AKSES DAN MUTU PELAYANAN KESEHATAN

Beberapa kegiatan pokok upaya kesehatan perorangan adalah peningkatan pelayanan kesehatan rujukan, pelayanan kesehatan bagi penduduk miskin di kelas III di rumah sakit, cakupan pelayanan gawat darurat, dan lain-lain.

1. Indikator Pelayanan Kesehatan di Rumah Sakit

Informasi mengenai rumah sakit umum di Kabupaten Aceh Singkil berdasarkan tinggi rendahnya BOR, LOS, BTO, TOI, GDR dan NDR dapat dilihat pada tabel 4.1 di bawah ini ;

Tabel IV.1

Indikator Pelayanan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kabupaten Aceh Singkil Tahun 2014

No. Nama

Rumah Sakit

BOR LOS BTO TOI NDR GDR

(%) (Hari) (Hari) (Hari) (o/oo) (o/oo)

(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8)

1 RSUD Aceh

Singkil

21,4 4.8 20,5 14,0 1,4 0,5

Sumber :RSUD Kab. Aceh Singkil Tahun 2014

BOR (Bed Occupation Rate) adalah persentase pemanfaatan tempat tidur. RSUD Aceh Singkil belum mencapai angka ideal dalam hal indikator BOR yaitu 21.4% dari angka ideal 60-85%.

LOS (Length Of Stay) adalah rata-rata hari rawat seorang pasien. Indikator ini selain memberikan gambaran tingkat efisiensi, juga dapat memberikan gambaran mutu pelayanan. Secara umum nilai LOS yang ideal antara 6-9 hari. Untuk Kabupaten Aceh Singkil

(54)

tahun 2014 indikator LOS sebesar 4,8 hari, hal ini masih jauh dari angka ideal.

BTO (Bed Turn Over) adalah frekuensi pemakaian tempat tidur pada satu periode (biasanya 1 tahun), berapa kali tempat tidur dipakai dalam satu satuan waktu tertentu. Idealnya dalam 1 tahun, satu tempat tidur rata-rata dipakai 40-50 kali. Kabupaten Aceh Singkil tahun 2014 untuk BTO sebesar 20,5.

TOI (Turn Over Interval) adalah rata-rata tempat tidur tidak dipakai sampai saat digunakan kembali. RSUD Aceh Singkil tahun 2014 mendapat TOI sebesar 14 hari, masih sesuai dengan angka idealnya yaitu 1 – 3 hari.

NDR (Net Death Rate) adalah angka kematian pasien setelah di rawat > 48 jam per 1.000 pasien keluar. Indikator ini memberikan gambaran mutu pelayanan di rumah sakit. Asumsinya jika pasien meninggal setelah mendapatkan perawatan 48 jam berarti ada faktor pelayanan rumah sakit yang terlibat dengan kondisi meninggalnya pasien. Namun jika pasien meninggal kurang dari 48 jam masa perawatan, dianggap faktor keterlambatan pasien datang ke rumah sakit yang menjadi penyebab utama pasien meninggal. Nilai NDR yang ideal adalah < 25 per 1.000 pasien keluar. Nilai NDR RSUD Kabupaten Aceh Singkil tahun 2014 sebesar 1,4, hal ini masih tergolong ideal.

GDR (Gross Death Rate) adalah angka kematian umum untuk setiap 1.000 penderita keluar dari rumah sakit. Pada GDR, tidak melihat berapa lama pasien berada di rumah sakit dari masuk sampai meninggal. Nilai ideal GDR adalah < 45 per 1.000 pasien keluar. Sedangkan GDR untuk RSUD Aceh Singkil tahun 2013 adalah 0,5. Angka ini masih termasuk angka yang ideal.

(55)

Tujuan penyelenggaraan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yaitu untuk meningkatkan akses mutu pelayanan kesehatan terhadap seluruh masyarakat miskin dan hampir miskin agar tercapai derajat kesehatan masyarakat yang optimal secara efektif dan efisien. Melalui JKN diharapkan dapat menurunkan angka kematian ibu, menurunkan angka kematian bayi dan balita serta menurunkan angka kelahiran di samping dapat terlayaninya kasus-kasus kesehatan bagi masyarakat miskin.

Pelaksanaan program JKN 2014 merupakan kelanjutan pelaksanaan Jamkesmas tahun 2011 dengan penyempurnaan dan peningkatan terhadap aspek kepesertaan, pelayanan kesehatan, pendanaan dan organisasi manajemen.

Jumlah kepesertaan JKN untuk Kabupaten Aceh Singkil tahun 2014 adalah 96.291 jiwa yang di kategorikan dalam 2 kategori PBI (Penerima Bantuan Iuran) dan Non PBI. Yang termasuk dalam peserta kategori PBI adalah Peserta Jamkesmas dahulu, JKRA (Jaminan Kesehatan Rakyat Aceh). Sedangkan yang kategori peserta Non PBI adalah Askes PNS, Jamsostek, Peserta Umum, Askes Polri dan TNI.

Program JKN melingkupi pelayanan kesehatan dasar di puskesmas dan pelayanan kesehatan rujukan di rumah sakit. Kunjungan pelayanan puskesmas terdiri dari Rawat Jalan Tingkat Pertama (RJTP) dan Rawat Inap Tingkat Pertama (RITP). Sedangkan kunjungan di pelayanan kesehatan Rumah Sakit terdiri dari Rawat Jalan Tingkat Lanjut (RITL). Adapun cakupan pelayanan kesehatan di Kabupaten Aceh Singkil tahun 2014 dapat dilihat pada gambar 4.11 di bawah ini.

(56)

Grafik IV.12

Pencapaian Jumlah Kunjungan RJTP, RITP, RJTL & RITL Kabupaten Aceh Singkil Tahun 2014

Sumber : Subdin Pengendalian Penyakit dan Kesling 2014

Dari grafik di atas dapat dilihat gambaran bahwa jumlah kunjungan peserta JKN pada pelayanan kesehatan tingkat pertama puskesmas bahwa kunjungan rawat jalan jauh lebih besar dibandingkan rawat inap yaitu kunjungan rawat jalan 90.490 dibandingkan 457 kunjungan rawat inap. Pola yang sama juga terlihat pada pelayanan kesehatan tingkat Lanjutan di Rumah Sakit, kunjungan rawat jalan jauh lebih besar dari pada rawat inap, yaitu 7.901 kunjungan rawat jalan dibandingkan 2.817 kunjungan rawat inap.

(57)

Permasalahan gizi masyarakat merupakan salah satu isu kesehatan masyarakat yang menyita perhatian sektor kesehatan. Status gizi juga merupakan salah satu penentu kondisi derajat kesehatan masyarakat. Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan melakukan upaya perbaikan gizi masyarakat dalam rangka merespon permasalahan gizi yang sering ditemukan seperti anemia gizi besi, kekurangan vitamin A, dan gangguan akibat kekurangan yodium.

1. Pemberian Kapsul Vitamin A

Pemberian Kapsul vitamin A dilakukan terhadap bayi (6 – 11 bulan) dengan dosis 100.000 SI, anak balita (12-59 bulan) dengan dosis 200.000 SI, dan Ibu nifas diberikan kapsul Vitamin A 200.000 SI, sehingga bayinya akan memperoleh vitamin A yang cukup melalui ASI. Pemberian kapsul vitamin A diberikan secara serentak setiap bulan Februari dan Agustus pada balita usia 6-59 bulan.

Grafik 4.13

Persentase Pemberian Kapsul Vitamin A pada Balita Kabupaten Aceh Singkil Tahun 2014

(58)

Sumber : Subdin Pengendalian Penyakit dan Kesling 2014

Data dari Profil Kesehatan Indonesia tahun 2013 bahwa cakupan pemberian kapsul vitamin A pada balita mencapai 75,5%, menurun dari tahun lalu 2012 sebesar 82,8%. Untuk data Provinsi Aceh Tahun 2013 diketahui cakupan pemberian Vitamin A sebesar 86,8%.

Di Kabupaten Aceh Singkil tahun 2014, dapat dilihat pada grafik diatas gambaran pemberian Vitamin A balita yaitu 88,84% menurun dari tahun sebelumnya yaitu 90,5%. Jika di lihat masing-masing puskesmas cakupan vitamin A paling tinggi terdapat di Puskesmas Pulau Banyak, Simpang Kanan, Kuta Baharu (100%), dan yang terendah cakupan vitamin A di puskesmas Singkohor (69,03%). 2. Pemberian Tablet Besi

Anemia gizi merupakan masalah umum yang sering dijumpai di masyarakat. Jenis anemia gizi terbanyak adalah anemia defisiensi besi. Sekitar 50% - 70% wanita hamil menderita jenis anemia ini. Anemia defisiensi besi (Fe) pada ibu hamil akan menimbulkan

(59)

dampak yang sangat besar terutama terhadap ibu dan janin yang dikandungnya. Untuk mengatasi hal tersebut, berbagai upaya di antaranya melalui program suplementasi tablet tambah darah (Fe 3). Namun dalam pelaksanaannya masih terkendala antara lain seperti; efek samping obat yang tinggi, sehingga ibu hamil enggan untuk mengkonsumsinya. Berikut gambar cakupan pemberian tablet besi pada ibu hamil di Kabupaten Aceh Singkil Tahun 2014.

Grafik 4.14

Cakupan Pemberian Tablet Besi Kabupaten Aceh Singkil Tahun 2014

Sumber : Subdin Pengendalian Penyakit dan Kesling 2014

Dari data Profil Propinsi Aceh tahun 2013 diketahui ibu hamil yang mendapat tablet Fe-1 sebesar 104.988 (88,53%) dan mendapat fe-3 sebanyak 95.683 (80,68%).

Di Kabupaten Aceh Singkil sendiri di tahun 2014 dari grafik diatas terlihat cakupan pemberian Fe-1 sebesar 94,79% meningkat dari tahun sebelumnya yaitu 76,2%, sedangkan Fe-3 sebesar 87,15% di tahun 2014. Cakupan ini masih tergolong rendah, untuk itu masih dibutuhkan sosialisasi tentang pentingnya tablet besi (Fe1 dan Fe3) bagi ibu hamil. Mengingat kekurangan yang diakibatkan oleh asupan

Gambar

Grafik II.1   Jumlah Penduduk Menurut Kecamatan di
Grafik III.7   Kasus Baru HIV, AIDS, &amp; IMS Di Kabupaten
Grafik IV.11   Persentase Desa UCI Kabupaten Aceh Singkil
Grafik II.1
+7

Referensi

Dokumen terkait

Dalam penelitian ini penulis akan membahas salah satu kitab tafsir yang monumental pada abad V H karya Imam Ibnul Jauzi (597 H) yang secara sempurna membahas

Perangkat lunak dari kerja sistem meliputi sensor sebagai masukan mengirim data ke PLC yang sudah terdapat program ladder yang berfungsi untuk mengendalikan output berupa motor

Soal berkategori baik menunjukkan bahwa soal tersebut mampu membedakan tingkat kemampuan siswa dengan baik, sehingga butir soal tersebut dapat disimpan dan digunakan kembali

Konsep gitar akustik rotan ini adalah dengan mengaplikasikan papan rotan laminasi yang merupakan produk hasil riset Pak Dodi Mulyadi di PIRNAS (Pusat Inovasi

2 Pengembangan minat dan bakat dakwah di MAN 1 dan MAN 3 Malang dilakukan dengan cara: a Memberikan rangsangan untuk mengembangkan minat dakwah siswa, b Mengapresiasi partisipasi

Pelayanan Bimbingan dan Konseling di Sekolah Layanan bimbingan dan konseling di sekolah merupakan suatu program pelayanan yang diperuntukan bagi siswa baik yang

Mengawal dan menjaga kualitas pelaksanaan audit, dimulai dari perencanaan sampai dengan pelaporan audit, dilakukan untuk menjaga keprcayaan daripada pihak pengguna

Target yang dituju dalam kegiatan ini adalah para ibu rumah tangga di wilayah Cengkareng Barat, Jakarta Barat.Dimana antara lain sebagai ibu rumah tangga yang