• Tidak ada hasil yang ditemukan

122358 306.7 HAN h Hubungan Antara Analisis

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "122358 306.7 HAN h Hubungan Antara Analisis"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

4. ANALISIS DAN INTERPRETASI DATA

Pada bab ini akan diuraikan hasil penelitian dan interpretasinya. Pembahasan dalam bab 4 ini meliputi gambaran umum partisipan, ada tidaknya hubungan antara sikap terhadap hubungan seksual, masturbasi, pornografi dan homoseksual dengan religiusitas pada muslim dewasa muda. Serta hubungan dimensi religiusitas dengan sikap terhadap hubungan seksual, masturbasi, pornografi dan homoseksual.

4.1. Gambaran Umum Partisipan Penelitian

Pada penelitian ini kuesioner yang disebar sebanyak 120 eksemplar, namun yang dapat diolah hanya 100 eksemplar. Hal ini disebabkan oleh adanya ketidaklengkapan jawaban dan data kontrol. Gambaran umum merupakan karakteristik subjek, seperti misalnya: jenis kelamin, status, dan pendidikan terakhir.

[image:1.595.113.504.288.572.2]

4.1.1. Gambaran Umum Berdasarkan Jenis Kelamin

Tabel 4.1. Gambaran Umum Berdasarkan Jenis Kelamin

Jenis Kelamin Frekuensi %

Laki-laki 50 50

Perempuan 50 50

TOTAL 100 100

Berdasarkan tabel di atas mengenai gambaran umum subjek dalam jenis kelamin, dapat terlihat bahwa subjek laki-laki dan perempuan memiliki presentase yang sama besar, yakni masing-masing 50%,atau sebanyak 50 orang.

4.1.2. Gambaran Umum Berdasarkan Status Perkawinan

(2)
[image:2.595.123.488.102.215.2]

Tabel 4.2. Gambaran Umum Berdasarkan Status Pernikahan

Status Pernikahan Frekuensi %

Belum Nikah 42 42

Nikah 58 58

TOTAL 100 100

[image:2.595.119.495.243.571.2]

4.1.3. Gambaran Umum Berdasarkan Tingkat Pendidikan

Tabel 4.3. Gambaran Umum Berdasarkan Tingkat Pendidikan

Pendidikan Akhir Frekuensi %

SMA 29 29

D3 S1 S2

18 48 5

18 48 5

TOTAL 100 100

Berdasarkan tabel diatas, dapat dilihat bahwa tingkat pendidikan akhir yang paling besar persentasenya yakni sarjana (S1) sebanyak 48% atau 48 orang, kemudian berturut-turut dibawahnya yakni SMA (29% atau 29 orang), D3 (18% atau 18 orang) dan S2 (5% atau lima orang).

4.1.4 Gambaran Sikap Terhadap Perilaku Hubungan Seksual, Masturbasi,

Pornografi dan Homoseksual Secara Umum

(3)
[image:3.595.108.519.97.494.2]

Tabel 4.4 Penggolongan Skor dan Gambaran Umum Sikap terhadap Perilaku Hubungan Seksual, Masturbasi, Pornografi, dan Homoseksual

Negatif Sedang Positif Penggolongan

skor 0 – 4 5 – 10 11 – diatas 13

N = 16 N = 55 N = 29

Hubungan

Seksual

16% 55% 29%

Negatif Sedang Positif

Penggolongan

skor 0 – 9 10 – 17 18 – diatas 22

N = 17 N = 59 N = 18

Masturbasi

17% 59% 18%

Negatif Sedang Positif

Penggolongan

skor 0 – 18 19 – 27 28 – diatas 34

N = 22 N = 51 N = 27

Pornografi

22% 51% 27%

Negatif Sedang Positif

Penggolongan

skor 0 – 2 3 – 6 7 – diatas 9

N = 19 N = 49 N = 32

Homoseksual

19% 49% 32%

Tabel diatas menjelaskan mengenai penggolongan skor dan hasil temuan mengenai gambaran umum dari sikap terhadap perilaku hubungan seksual, masturbasi, pornografi, dan homoseksual. Berikut ini penjelasan dari tabel diatas:

Pada perilaku hubungan Seksual, rentang skor mulai 0 – 4 digolongkan menjadi sikap negatif, 5 – 10 digolongkan sedang, dan 11 – diatas 13 digolongkan menjadi sikap positif. Dari hasil temuan didapatkan bahwa sebanyak 55 subjek (55%) memiliki sikap yang masih ragu-ragu dalam menyikapi perilaku hubungan seksual, 29 subjek (29%) memiliki sikap yang lebih terbuka dan sisanya 16 subjek (16%) memiliki sikap yang lebih tertutup terhadap perilaku hubungan seksual.

(4)

Sedangkan pada perilaku pornografi, rentang skor dimulai dari 0 – 18 untuk sikap negatif, 19 – 27 untuk sedang, dan 28 – diatas 34 untuk sikap positif. Hasil temuan menyatakan bahwa terdapat 51 subjek (51%) menyatakan sikap ragu-ragu, 27 subjek (27%) menyatakan sikap lebih terbuka, dan 22 subjek (22%) menyatakan sikap lebih tertutup terhadap perilaku pornografi.

Kemudian pada perilaku homoseksual ditentukan rentang skor mulai dari 0 – 2 untuk menyatakan sikap negatif, 3 – 6 untuk sikap sedang, dan 7 – diatas 9 untuk menyatakan sikap positif terhadap perilaku homoseksual. Dari hasil temuan dapat dilihat sebanyak 49 subjek (49%) menyatakan sikap masih ragu-ragu, 32 subjek (32 %) menyatakan sikap yang lebih terbuka, dan 19 subjek (19%) menyatakan sikap yang lebih tertutup terhadap perilaku homoseksual.

4.1.5 Gambaran Religiusitas Secara Umum

Dikarenakan konstruk religiusitas yang dikemukakan oleh Glock dan Stark merupakan variabel multidimensional, maka penghitungan tidak dapat menghasilkan skor tunggal. Sehingga untuk melihat kereligiusan seseorang, harus melihat skor pada masing-masing dimensi.

(5)
[image:5.595.109.514.86.552.2]

Tabel 4.5 Penggolongan Skor dan Gambaran Umum Religiusitas

Rendah Sedang Tinggi

Penggolongan

skor 6 – 31 32 – 35 36

N = 21 N = 33 N = 36

Dimensi

Kepercayaan/

ideologis

21% 33% 36%

Rendah Sedang Tinggi

Penggolongan

skor 5 – 20 21 – 25 26 – 30

N = 19 N = 51 N = 30

Dimensi

Ritual/

peribadatan

19% 51% 30%

Rendah Sedang Tinggi

Penggolongan

skor 7 – 33 34 – 38 39 – 42

N = 21 N = 43 N = 26

Dimensi

Pengalaman/

eksperensial

21% 43% 26%

Rendah Sedang Tinggi

Penggolongan

skor 5 – 22 23 – 30 31 – 36

N = 18 N = 56 N = 26

Dimensi

Intelektual/

pengetahuan

18% 56% 26%

Rendah Sedang Tinggi

Penggolongan

skor 6 – 27 28 – 32 33 – 36

N = 21 N = 52 N = 27

Dimensi

Konsekuensi

21% 52% 27%

Pada dimensi Kepercayaan atau ideologis, rentang skor dimulai dari 6 – 31 untuk kategori rendah, 32 – 35 untuk kategori sedang, dan 36 untuk kategori tinggi. Dari tabel diatas, dijelaskan bahwa sebanyak 36 subjek (36%) memiliki kereligiusan yang tinggi dalam hal keyakinannya terhadap doktrin-doktrin teologi agama Islam. Sedangkan 33 subjek (33%) memiliki kereligiusan yang sedang dan sisanya, yakni 21 subjek (21%) memiliki kereligiusan yang rendah dalam hal keyakinan doktrin-doktrin teologi ajaran agama Islam.

(6)

51 subjek (51%) memiliki kereligiusan yang sedang dalam pelaksanaan ritual peribadatan. Sedangkan 30 subjek (30%) memiliki kereligiusan yang tinggi dan 19 subjek (19%) lainnya memiliki kereligiusan yang rendah dalam hal pelaksanaan ritual peribadatan.

Pada dimensi pengalaman atau eksperensial, rentang skor rendah dimulai pada 5 – 33, skor sedang dimulai pada 34 – 38, dan skor tinggi pada 39 – 42. Sebanyak 43 subjek (43%) memiliki kereligiusan yang sedang dalam hal penghayatan pengalaman religius, sebanyak 26 subjek (26%) memiliki kereligiusan yang tinggi dan sisanya, 21 subjek (21%) memiliki kereligiusan yang rendah dalam hal penghayatan pengalaman religius.

Selanjutnya pada dimensi intelektual atau pengetahuan, rentang skor dimulai dari 5 – 22 untuk skor rendah, 23 – 30 untuk skor sedang, dan 31 – 36 untuk skor tinggi. Sebanyak 56 subjek (56%) memiliki kereligiusan yang sedang, 26 subjek (26%) memiliki kereligiusan yang tinggi dan 18 subjek (18%) memiliki kereligiusan yang rendah dalam hal pemahaman agama dan keinginan untuk menambah pemahaman agama Islam.

Dimensi yang terakhir, yakni dimensi konsekuensi membagi rentang skor menjadi 6 – 27 untuk skor rendah, 28 – 32 untuk skor sedang, dan 33 – 36 untuk skor tinggi. Dari hasil penghitungan dikatakan bahwa sebanyak 52 subjek (52%) memiliki kereligiusan yang rendah, 27 subjek (27%) memiliki kereligiusan yang tinggi, dan sisanya 21 subjek (21%) memiliki kereligiusan yang rendah dalam perilaku sehari-hari berkaitan dengan ajaran agama Islam.

4.2. Hasil Analisis Data Utama

4.2.1 Hubungan Antara Sikap Terhadap Hubungan Seksual, Masturbasi, Pornografi dan Homoseksual dengan Religiusitas

Penghitungan data utama hasil penelitian menggunakan teknik korelasi Pearson’s Product-Moment, dengan hasil yang dapat dilihat pada halaman

(7)
[image:7.595.82.552.107.522.2]

Tabel 4.6 Hubungan antara Sikap terhadap Hubungan Seksual, Masturbasi, Pornografi dan Homoseksual dengan Religiusitas pada Dewasa Muda Muslim

Kepercayaan/ Ideologis Ritual/ Peribadatan Pengalaman/ Eksperensial Intelektual/ Pengetahuan Konsekuensi Hubungan Seksual Sig.(2-tailed) -.122 (.228) -.222* (.027) -.246* (.005) -.276* (.005) -.214* (.033) Masturbasi Sig.(2-tailed) -.206* (.040) -.052 (.606) -.177 (.078) -.143 (.155) -.104 (.301) Pornografi Sig.(2-tailed) .023 (.819) -.038 (.710) -.094 (.352) -.146 (.149) -.042 (.678) Homoseksual Sig.(2-tailed) .037 (.713) -.420** (.000) -.367** (.000) -.378* (.000) -.334** (.001)

* Signifikan pada l.o.s 0.05 **Signifikan pada l.o.s 0.01

Dari tabel diatas dapat disimpulkan bahwa:

1. Sikap terhadap perilaku hubungan seksual memiliki korelasi negatif yang signifikan dengan dimensi ritual, pengalaman, pengetahuan, dan konsekuensi. Dalam artian, semakin positif sikap individu terhadap perilaku hubungan seksual maka semakin rendah tingkat religiusitasnya dalam hal pelaksanaan ritual agama, penghayatan pengalaman religius, pemahaman akan agama, dan perilaku sehari-harinya. Demikian pula sebaliknya, semakin negatif sikap individu terhadap perilaku hubungan seksual maka semakin tinggi tingkat religiusitasnya dalam hal pelaksanaan ritual agama, penghayatan pengalaman religius, pemahaman agama dan dalam berperilaku sehari-hari.

(8)

semakin rendah tingkat religiusitanya dalam pandangannya terhadap pandangan teologis atau doktrin-doktrin agama. Demikian pula sebaliknya, semakin positif sikap individu terhadap perilaku masturbasi maka semakin tinggi tingkat religiusitasnya dalam pandangan mengenai teologis atau doktrin-doktrin agamanya.

3. Sikap terhadap perilaku pornografi sendiri tidak berkorelasi secara signifikan dengan dimensi-dimensi religiusitas.

4. Sikap terhadap perilaku homoseksual secara signifikan berkorelasi negatif dengan dimensi ritual, pengalaman, pengetahuan, dan konsekuensi. Sehingga dapat dinyatakan bahwa semakin positif sikap individu terhadap perilaku homoseksual, maka semakin rendah tingkat religiusitasnya dalam hal praktek ritual, penghayatan pengalaman religius, pemahaman ajaran agama, serta perilaku sehari-hari. Demikian pula sebaliknya, semakin negatif sikap individu terhadap perilaku homoseksual, maka semakin tinggi tingkat religiusitasnya dalam hal praktek ritual, penghayatan pengalaman religius, pemahaman ajaran agama, dan dalam berperilaku sehari-hari.

4.2.1.1. Mean Sikap Terhadap Hubungan Seksual, Masturbasi, Pornografi dan Homoseksual

Penghitungan mean perilaku hubungan seksual, masturbasi, pornografi dan homoseksual menggunakan statistik deskriptif dengan hasil sebagai berikut:

Tabel 4.7 Mean Sikap terhadap Hubungan Seksual, Masturbasi, Pornografi dan Homoseksual

Sikap terhadap Perilaku Mean

Hubungan Seksual 8.37

Masturbasi 14.33

Pornografi 23.52

Homoseksual 5.25

(9)

homoseksual. Berturut-turut setelah perilaku pornografi, ialah perilaku masturbasi dengan mean sebesar 14.33 dan perilaku hubungan seksual dengan mean sebesar 8.37.

[image:9.595.107.514.179.647.2]

4.2.1. Mean Dimensi-dimensi Religiusitas

Tabel 4.8 Mean Dimensi-dimensi Religiusitas

Dimensi-dimensi Mean

Keyakinan/Ideologis 33.85

Ritual/Peribadatan 23.47

Pengalaman 36.16

Pengatahuan/intelektual Konsekuensi

26.80 30.23

Dari tabel diatas dapat disimpulkan bahwa dimensi pengalaman memiliki mean tertinggi (M = 36.16) dan mean terendah (M = 23.47) terdapat pada dimensi

ritual. Hal ini berarti subjek pada penelitian ini memiliki tingkat religiusitas yang tinggi dalam hal penghayatan pengalaman religius, sedangkan memiliki tingkat religiusitas yang rendah pada pelaksanaan ritual peribadatan.

4.3. Analisis Data Tambahan

4.3.1. Analisis Sikap Terhadap Hubungan Seksual, Masturbasi, Pornografi,

dan Homoseksual berdasarkan Data Kontrol

4.3.1.1 Berdasarkan Jenis Kelamin

Perhitungan menggunakan metode independent samples t-test. Berikut ini hasilnya:

Tabel 4.9 Sikap Terhadap Hubungan Seksual, Masturbasi, Pornografi, dan Homoseksual berdasarkan Jenis Kelamin

Perilaku Jenis

Kelamin

Mean Nilai t L.o.s 0.005

Hubungan Seksual

Laki-laki Perempuan

8.94 7.80

1.687 .095 tidak signifikan Masturbasi Laki-laki

Perempuan

15.66 13.00

2.874 .005 signifikan Pornografi Laki-laki

Perempuan

25.98 21.06

3.976 .000 signifikan Homoseksual Laki-laki

Perempuan

5.32 5.18

[image:9.595.113.517.598.742.2]
(10)

Dari tabel pada halaman sebelumnya, dapat diketahui bahwa nilai t signifikan pada l.o.s 0.05 (p < 0.05) sehingga dapat dikatakan terdapat perbedaan pada laki-laki dan perempuan dalam menyikapi perilaku masturbasi dan pornografi. Oleh kaum laki-laki perilaku masturbasi (M = 15.66) ditanggapi dengan lebih terbuka bila dibandingkan dengan kaum perempuan (M = 13). Demikian halnya dengan perilaku pornografi, dimana kaum laki-laki lebih memiliki sikap yang lebih terbuka (M = 25.98) daripada kaum perempuan (M = 21.06) terhadap perilaku tersebut.

4.3.1.2 Berdasarkan Status Perkawinan

[image:10.595.109.519.283.576.2]

Perhitungan menggunakan metode independent samples t-test. Berikut ini hasilnya:

Tabel 4.10 Sikap Terhadap Hubungan Seksual, Masturbasi, Pornografi, dan Homoseksual berdasarkan Status Perkawinan

Perilaku Status Perkawinan*

Mean Nilai t L.o.s 0.05

Hubungan Seksual

A B

8.69 8.14

.798

.427 tidak signifikan

Masturbasi A

B

15.16

13.72

1.494

.138 tidak signifikan

Pornografi A

B

23.90

23.24

.492

.624 tidak signifikan

Homoseksual A

B

5.71

4.91

1.642

.104 tidak signifikan

* A: Belum Menikah B: Menikah

(11)

belum menikah lebih tinggi (M = 5.71) dibandingkan mean subjek yang telah menikah (M = 4.91).

4.3.2. Analisis Dimensi-dimensi Religiusitas berdasarkan Data Kontrol 4.3.2.1 Berdasarkan Jenis Kelamin

[image:11.595.108.515.236.532.2] [image:11.595.109.516.243.519.2]

Perhitungan menggunakan metode independent samples t-test. Berikut ini hasilnya:

Tabel 4.11 Dimensi-dimensi Religiusitas berdasarkan Jenis Kelamin

Dimensi Jenis Kelamin

N Mean Nilai t L.o.s 0.005

Keyakinan/ Ideologi Laki-laki Perempuan 50 50 34.08

33.62 .903

.369 tidak signifikan Ritual/ Peribadatan Laki-laki Perempuan 50 50 24.02 22.92 1.606 .111 tidak signifikan Pengalaman/ Eksperensial Laki-laki Perempuan 50 50 36.04 36.28 -.356 .723 tidak signifikan Pengetahuan/ Intelektual Laki-laki Perempuan 50 50 27.12 26.48 .692 .490 tidak signifikan Konsekuensi Laki-laki

Perempuan 50 50 30.64 29.82 1.209 .230 tidak signifikan

Dari tabel diatas dapat diketahui nilai t dimensi-dimensi religiusitas tidak signifikan pada l.o.s 0.05 (p > 0.05) sehingga berarti tidak ada perbedaan tingkat religiusitas dalam dimensi-dimensi yang ada berdasarkan jenis kelamin. Namun dapat diketahui perbandingan laki-laki dan perempuan dalam masing-masing dimensi dengan melihat besaran mean. Seperti misalnya pada dimensi ritual/peribadatan dimana laki-laki memiliki mean yang lebih tinggi (M = 24.02) dibandingkan dengan mean yang dimiliki oleh perempuan (M = 22.92).

4.3.2.2 Berdasarkan Status Perkawinan

(12)
[image:12.595.108.517.93.335.2]

Tabel 4.12 Dimensi-dimensi Religiusitas berdasarkan Status Perkawinan

Dimensi Status Perkawinan*

N Mean Nilai t L.o.s 0.005

A 42 33.28

Keyakinan/

Ideologi B 55 34.25 -1.913

.059 tidak signifikan

A 42 22.26

Ritual/

Peribadatan B 58 24.34 -3.107

.002 signifikan

A 42 35.19

Pengalaman/

Eksperensial B 58 36.86 -2.524

.013 signifikan

A 42 24.97

Pengetahuan/

Intelektual B 58 28.12 -3.559

.001 signifikan

A 42 29.28

Konsekuensi

B 58 30.91 -2.422

.017 signifikan * A = Belum Menikah

B = Menikah

Gambar

Tabel 4.1. Gambaran Umum Berdasarkan Jenis Kelamin Jenis Kelamin
Tabel 4.3. Gambaran Umum Berdasarkan Tingkat Pendidikan Pendidikan Akhir
Tabel 4.4 Penggolongan Skor dan Gambaran Umum Sikap terhadap Perilaku Hubungan Seksual, Masturbasi, Pornografi, dan Homoseksual
Tabel 4.5 Penggolongan Skor dan Gambaran Umum Religiusitas Rendah Sedang
+6

Referensi

Dokumen terkait

“Konsumen adalah pihak-pihak yang menempatkan dananya dan/atau memanfaatkan pelayanan yang tersedia di Lembaga Jasa Keuangan antara lain nasabah pada Perbankan, pemodal di

Pada Gambar 1 menunjukkan besarnya % inhibisi aktivitas peredaman radikal bebas terhadap DPPH dari ekstrak total, fraksi n -heksana dan fraksi etil asetat daun Terap

Perubahan Atas Peraturan Mahkamah Konstitusi Nomor 1 Tahun 2016 Tentang Pedoman Beracara Daiam Perkara Perselisihan Hasil Pemilihan Gubernur, Bupati, Dan Walikota, untuk

Kelompok Kerja Satker DKP Kota Baubau Unit Layanan Pengadaan Kota Baubau. B A U B

[r]

Dalam upaya memperoleh signifikansi hasil penelitian maka dilaksanakan analisis data terutama pada kegiatan penelitian tahun pertama dengan menjalankan analisa SWOT

Sedangkan pada penelitian Pratami (2013) dikatakan bahwa pembelajaran dengan model Student Teams Achievment Division (STAD) yang didampingi media diorama

Furthermore, this study built upon previous research (e.g., Igbaria and Iivari, 1995; enkatesh, 2000; Brown and Town, 2002; Igbaria and Iivari, 1995; Wang and Chen, 2006)