• Tidak ada hasil yang ditemukan

ProdukHukum BankIndonesia

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "ProdukHukum BankIndonesia"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

LAPORAN PEREKONOMIAN INDONESIA 2009

Memperkuat Ketahanan, Mendorong Momentum

(2)

Laporan Perekonomian Indonesia 2009 i

LAPORAN

PEREKONOMIAN INDONESIA

2009

(3)

ii Laporan Perekonomian Indonesia 2009

Visi

Misi

Nilai-Nilai Strategis Organisasi Bank Indonesia

“Menjadi lembaga bank sentral yang dapat dipercaya (kredibel) secara

nasional maupun internasional melalui penguatan nilai-nilai strategis

yang dimiliki serta pencapaian inlasi yang rendah dan stabil”

“Mencapai dan memelihara kestabilan nilai rupiah melalui

pemeliharaan kestabilan moneter dan pengembangan stabilitas

sistem keuangan untuk pembangunan jangka panjang yang

berkesinambungan ”

“Nilai-nilai yang menjadi dasar Bank Indonesia, manajemen dan

pegawai untuk berindak dan atau berperilaku, yang terdiri atas

Kompetensi, Integritas, Transparansi, Akuntabilitas dan Kebersamaan”

“Melalui pergulatan yang idak ringan terutama sejak triwulan akhir tahun 2008

dan awal tahun 2009, kita dapat melalui tahun yang sulit tersebut dengan sejumlah

pencapaian yang patut dibanggakan. Ketahanan perekonomian kita dalam merespons

gejolak dan keidakpasian perekonomian global terlihat cukup baik. Dengan

pertumbuhan ekonomi yang mencapai 4,5% pada tahun 2009, Indonesia termasuk

dalam sedikit negara di dunia yang perekonomiannya masih bisa tumbuh. ”

(4)

iv Laporan Perekonomian Indonesia 2009 Laporan Perekonomian Indonesia 2009 v

BAB

Perekonomian Indonesia Tahun 2009

I

BAB

Pemulihan Ekonomi Global dan Tantangan ke Depan

II

BAB

Respons Kebijakan Moneter di Tengah Krisis Global

III

1.1 Perekonomian Global

5

1.2 Respons Kebijakan Bank Indonesia dan Pemerintah

10

1.3 Kinerja Perekonomian Domesik

17

Boks 1.1 Respons Kebijakan di Tengah Gejolak Pasar Keuangan Global

43

Boks 1.2 Akuntabilitas Pencapaian Sasaran Inlasi

46

Datar Isi

iv

Datar Tabel

vii

Datar Graik dan Diagram

x

Dewan Gubernur Bank Indonesia

xv

Kata Pengantar

xvi

Ringkasan Eksekuif

xviii

2.1 Kebijakan Moneter dan Fiskal dalam Menangani Krisis Global

52

2.2 Kerjasama Untuk Kestabilan Ekonomi dan Keuangan Global

55

2.3 Exit Strategy: Kebijakan Penanganan Krisis Global

61

2.4 Polarisasi Perdagangan Dunia

65

2.5 Menyeimbangkan Pertumbuhan Ekonomi di Tengah Keidakseimbangan Global

71

2.6 Penutup

75

Boks 2.1 Peran Bailout dalam Proses Pemulihan Ekonomi Global

77

Boks 2.2 Reformasi Kelembagaan dalam Penyelesaian Global: Breton Woods

Insituion

80

3.1 Respons Kebijakan Moneter Tahun 2009

84

3.2 Dinamika Aliran Modal Asing

88

3.3 Transmisi Kebijakan Moneter di tengah Tingginya Persepsi Risiko dan Ekses

Likuiditas Perbankan

92

3.4 Kondisi Sisi Penawaran dan Implikasinya pada Tekanan Inlasi

98

3.5 Penutup

103

Boks 3.1 Memasuki 5 Tahun Penerapan ITF di Indonesia: Keberhasilan dan Tantangan

105

Boks 3.2 Ekses Likuiditas dan Implikasinya terhadap Perekonomian

108

BAB

Peran Stabilitas Sistem Keuangan dalam Mendukung Kegiatan Ekonomi

IV

4.1 Stabilitas Sistem Keuangan dalam Lingkungan Ekonomi yang Dinamis

115

4.2 Pembiayaan Kegiatan Ekonomi: Fenomena Penggunaan Dana Sendiri

124

4.3 Stabilitas Sistem Keuangan dan Makroekonomi di tengah Derasnya Aliran

Modal Asing

128

4.4 Pendalaman Sektor Keuangan dan Pengembangan Instrumen

133

4.5 Penutup

137

Boks 4.1 Krisis Keuangan Global dan Struktur Pengawasan Sektor Keuangan

139

5.1 Ketahanan Konsumsi Rumah Tangga

146

5.2 Peran UMKM sebagai Peredam Dampak Krisis Ekonomi Global

150

BAB

Meningkatkan Ketahanan Sektor Riil dalam Mendukung Pemulihan Ekonomi

V

D

A

FT

A

R

IS

(5)

vi Laporan Perekonomian Indonesia 2009 Laporan Perekonomian Indonesia 2009 vii

BAB

Perekonomian Indonesia Tahun 2009

I

Tabel 1.1 Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Global

6

Tabel 1.2 Tambahan Simulus Fiskal

13

Tabel 1.3 APBN 2008 - 2009

14

Tabel 1.4 Neraca Pembayaran Indonesia

19

Tabel 1.5 Ekspor Nonmigas Menurut Sektor

20

Tabel 1.6 Impor Nonmigas Menurut Kelompok

Barang

21

Tabel 1.7 Posisi Utang Luar Negeri

22

Tabel 1.8 Pertumbuhan PDB Menurut Penggunanaan

29

Tabel 1.9 Perkembangan Kenaikan Gaji

31

Tabel 1.10 Pertumbuhan PDB Menurut Lapangan

Usaha (Sektoral)

32

Tabel 1.11 Pertumbuhan Kredit UMKM Berdasarkan

Sektor

33

Tabel 2.1 Kebijakan Nonkonvensional Bank Sentral

Negara Maju

54

Tabel 1.12 Perkembangan Komponen Inlasi IHK

36

Tabel 1.13 Inlasi Menurut Kelompok Barang

36

Tabel 1.14 Dampak Penurunan Harga BBM

Januari 2009

38

Tabel 1.15 Sumbangan Inlasi Beberapa Komoditas

Volaile Food

39

Tabel 1.16 Pertumbuhan PDRB Wilayah dan Zona

40

Tabel 1.17 Inlasi Berdasarkan Wilayah

40

Tabel 1.18 Angkatan Kerja Indonesia dan Tingkat

Pengangguran Terbuka (TPT)

41

Tabel 1.19 Garis Kemiskinan dan Jumlah Penduduk

Miskin Menurut Daerah

42

Tabel 2.2 Invesigasi Kebijakan Nontarif

67

Tabel 2.3 Rata-Rata Neraca Berjalan (% PDB)

72

BAB

Prospek Ekonomi dan Arah Kebijakan Bank Indonesia

VI

6.1 Prospek Perekonomian

177

6.2 Implikasi Kebijakan

192

Boks 6.1 Kemajuan Kesiapan Menghadapi MEA

197

5.3 Peran Industri Pengolahan sebagai Motor Pertumbuhan Ekonomi

156

5.4 Peningkatan Ketersediaan Infrastruktur yang Memadai

164

5.5 Penutup

169

Boks 5.1 Peran Pening Sektor Informal di Tengah Krisis Ekonomi Global

171

D

A

FT

A

R

TA

B

E

L

BAB

(6)

viii Laporan Perekonomian Indonesia 2009 Laporan Perekonomian Indonesia 2009 ix

BAB

Peran Stabilitas Sistem Keuangan dalam Mendukung Kegiatan Ekonomi

IV

BAB

Meningkatkan Ketahanan Sektor Riil dalam Mendukung Pemulihan Ekonomi

V

BAB

Prospek Ekonomi dan Arah Kebijakan Bank Indonesia

VI

BAB

Respons Kebijakan Moneter di Tengah Krisis Global

III

Tabel 3.1 Dekomposisi Varians: Pengaruh Variabel

selama 1 s.d 3 Bulan Ke Depan

94

Tabel 3.2 Suku Bunga dan Mekanisme Transmisi

Kebijakan Moneter

97

Tabel 4.1 Pertumbuhan Permodalan, Aset dan DPK

119

Tabel 4.2 Perkembangan Sumber Pembiayaan

Investasi di Indonesia

126

Tabel 5.1 Perkembangan Urbanisasi di Indonesia

dan Beberapa Negara Berkembang

148

Tabel 5.2 Peranan UMKM dalam Perekonomian

Domesik Tahun 2008

151

Tabel 5.3 Rata-Rata Sumbangan UMKM Terhadap

PDB (1999-2008)

153

Tabel 5.4 Perkembangan Kredit Modal Kerja dan

Investasi UMKM

154

Tabel 3.3 Konsentrasi Rasio Beberapa Industri

101

Tabel 4.3 Pertumbuhan Indeks Sektoral dan EBITDA

131

Tabel 5.5 Kinerja Industri Pengolahan Nonmigas

Tahun 2009

157

Tabel 5.6 Beberapa Karakterisik Utama Industri

Pengolahan Nonmigas

158

Tabel 5.7 Peringkat Daya Saing Indonesia

159

Tabel 5.8 Pembagian Komoditas berdasarkan

Skema Penurunan Harga dan Sektoral

160

Tabel 5.9 Elasisitas Pembangunan Infrastruktur

terhadap Pertumbuhan Ekonomi

(10% Pertumbuhan Stok)

165

Tabel 5.10 Keterkaitan Ke belakang dan Ke depan Sektor Listrik Terhadap Industri

Pengolahan

165

Tabel 6.1 APBN 2010

181

Tabel 6.2 Angka Prakiraan Indikator Utama

Perekonomian 2010

183

Tabel 6.3 Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi

Menurut Penggunaan

184

Tabel 6.4 Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi

Menurut Lapangan Usaha (Sektoral)

185

Tabel 5.11 Peringkat Infrastruktur dan Komponennya

167

Tabel 5.12 Perkembangan Realisasi Proyek

Infrastruktur (Mei 2009)

168

Tabel 6.5 Prakiraan Neraca Pembayaran

Indonesia tahun 2010

187

Tabel 6.6 Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi

(7)

x Laporan Perekonomian Indonesia 2009 Laporan Perekonomian Indonesia 2009 xi

D

A

FT

A

R

G

RA

FI

K

&

D

IA

G

RA

M

Graik 1.1 CDS Negara Kawasan 6

Graik 1.2 Spread LIBOR - OIS 3 Bulan 6

Graik 1.3 Indeks Saham di Negara Maju dan Negara

Berkembang 7

Graik 1.4 Pertumbuhan Volume Perdagangan Dunia 7

Graik 1.5 Indeks Harga Komoditas 7

Graik 1.6 Harga Minyak Internasional 7

Graik 1.7 Inlasi Negara Maju dan Negara Berkembang 8

Graik 1.8 Aliran Modal ke Pasar Saham Asia 8

Graik 1.9 Pertumbuhan Ekonomi Dunia 9

Graik 1.10 BI Rate dan Posisi Cadangan Devisa 12

Graik 1.11 Rasio Utang Pemerintah Terhadap PDB 15

Graik 1.12 Beberapa Indikator Persepsi Resiko 18

Graik 1.13 Indeks Harga Ekspor Indonesia 20

Graik 1.14 Ekspor dan Impor Nonmigas 21

Graik 1.15 Aliran Dana Asing ke Pasar Domesik 21

Graik 1.16 IHSG dan Net Beli Asing 23

Graik 1.17 Yield SUN & Net Beli/Jual Asing SUN 24

Graik 1.18 Perubahan Yield SUN (Tahunan) 24

Graik 1.19 Volume Perdagangan Pasar Valas 25 Graik 1.20 Nilai Tukar Rupiah: Level & Volailitas 25

Graik 1.21 Premi Risiko, UCIP, CDS, dan Nilai Tukar Rupiah 25

Graik 1.22 Rata-Rata Volume Transaksi PUAB 26

Graik 1.23 Volume dan Pelaku PUAB O/N 27

Graik 1.24 Spread antara JIBOR Berbagai Tenor dengan O/N 27

Graik 1.25 NPL Perbankan 28

Graik 1.26 BI Rate dan Suku Bunga Perbankan 28

Graik 1.27 Pertumbuhan Kredit Rupiah dan Valas 29

Graik 1.28 Indeks Tendensi Bisnis 30

Graik 1.29 Investasi Bangunan dan Nonbangunan 30

Graik 1.30 Survei Konsumen-Bank Indonesia 31

Graik 1.31 Pertumbuhan Konsumsi Rumah Tangga 31

Graik 1.32 Perkembangan Nilai Tukar Petani dan Upah Buruh Riil 32

Graik 1.33 NPLs Kredit MKM dan Non-MKM 34

Graik 1.34 Rasio Inventori terhadap Aset Perusahaan di BEI 34

Graik 1.35 Posisi Pegadaian 34

Graik 1.36 Inlasi IHK 35

Graik 1.37 Nilai Tukar, Inlasi Negara Mitra Dagang, Inlasi IHPB Impor 37

Graik 1.38 Kapasitas Produksi Terpakai Industri Pengolahan 37

Graik 1.39 Ekspektasi Inlasi 2009 37

Graik 1.40 Ekspektasi Harga Pedagang 37

Graik 1.41 Inlasi Administered Strategis dan Nonstrategis 38

BAB

Perekonomian Indonesia Tahun 2009

I

BAB

Pemulihan Ekonomi Global dan Tantangan ke Depan

II

BAB

Respons Kebijakan Moneter di Tengah Krisis Global

III

Graik 1.42 Produksi, Konsumsi Beras 38

Graik 1.43 Disparitas Pertumbuhan Ekonomi Regional 39

Graik 2.1 Kebijakan Moneter Negara Maju 53 Graik 2.2 Kebijakan Moneter Negara Berkembang 53 Graik 2.3 Banyaknya Invesigasi yang Diinisiasi Negara Berkembang versus Negara Maju 67 Graik 2.4 Perkembangan Regional Trade Agreements, 1948-2009 67 Graik 2.5 Perkembangan Ekspor dan Impor China dengan Asia 68 Graik 2.6 Ekspor China Berdasarkan Tujuan 68 Graik 2.7 Impor China Berdasarkan Asal 69 Graik 3.1 IHSG, SUN, dan BI Rate 86 Graik 3.2 Nilai Tukar dan Cadangan Devisa 86 Graik 3.3 Nilai Tukar dan Volailitas 86 Graik 3.4 Ekspektasi Inlasi 86 Graik 3.5 Komposisi Transaksi Modal Finansial 89 Graik 3.6 Neraca Transaksi Berjalan dan Modal Finansial 89 Graik 1.44 Jumlah Tenaga Kerja Formal dan Informal 41 Diagram 1.1 Inlasi 2009 dan Faktor

yang Memengaruhi 35

Graik 2.8 Ekspor dan Impor China ke Negara

Kawasan 69

Graik 2.9 Volume Perdagangan China - ASEAN 70

Graik 2.10 Pertumbuhan Perdagangan China - ASEAN 70

Graik 2.11 Keidakseimbangan Global 72

Graik 2.12 Harga Aset Nominal AS 74

Diagram 2.1 Risiko Penerapan Exit Strategy 62

Diagram 2.2 Mekanisme Transmisi Exit Policy 63

Diagram 2.3 Bentuk Proteksi Negara Maju dan

Berkembang 66

Graik 3.7 BI Rate dan IHSG 93

Graik 3.8 BI Rate dan Yield SUN 93

Graik 3.9 Pertumbuhan M1 dan M2 Nominal 94

Graik 3.10 Spread BI Rate-COF dan SBDK-BI Rate 95

Graik 3.11 Spread Suku Bunga Kredit, Deposito

dan SBDK 95

(8)

xii Laporan Perekonomian Indonesia 2009 Laporan Perekonomian Indonesia 2009 xiii Graik 3.13 Pertumbuhan Kredit dan Suku Bunga

Kredit Modal Kerja 96

Graik 3.14 Karakterisik Kurva Penawaran

(Kurva Phillpis) di Indonesia 99

Graik 3.15 Perkembangan Harga Komoditas Internasional dan Harga Komoditas

Domesik 102

Diagram 3.1 Mekanisme Transmisi Kebijakan

Moneter 93

Graik 4.1 Porsi Kredit dan SBI plus FASBI terhadap Akiva Produkif Bank 117

Graik 4.2 Rasio Aset Likuid terhadap DPK 118

Graik 4.3 Proil Maturitas Portofolio Rupiah 118

Graik 4.4 Proil Maturitas Valuta Asing 118

Graik 4.5 Perkembangan NPL dan PPAP 118

Graik 4.6 IHSG dan Rata-Rata Nilai Perdagangan

Saham 119

Graik 4.7 Kinerja Pasar Saham Global Tahun 2009 120

Graik 4.8 Kinerja Indeks Sektoral 120

Graik 4.9 Volailitas Beberapa Indeks Bursa Asia 120

Graik 4.10 Perkembangan Penerbitan Saham

IPO dan Right Issue 120

Graik 4.11 Perkembangan IHSG dan Volume

Penerbitan Saham 121

Graik 4.12 Investasi Investor Asing 121

Graik 4.13 Perkembangan Rata-rata Indeks

Harga SUN 121

Graik 4.14 Perkembangan Penerbitan Obligasi

Korporasi 122

Graik 4.15 Porsi Kumulaif Penerbitan Obligasi

Berdasarkan Sektor Usaha Emiten 122

Graik 4.16 Financial Stability Index (FSI) 123

Graik 4.17 Sumber Pembiayaan Investasi

Perusahaan 125

Graik 4.18 Perkembangan Porsi Investasi

Noninansial NAD tahun 2005-2007 127

Graik 4.19 Sumber Dana untuk Pembiayaan

Kegiatan Perusahaan dan Rumah Tangga

NAD tahun 2007 127

Graik 4.20 Rasio Persediaan terhadap Total Aset 127

Graik 4.21 Rasio Laba Ditahan terhadap Total Aset 127

Graik 4.22 Pergerakan Arus Modal Masuk dan IHSG 129

Graik 4.23 Pergerakan Arus Modal Masuk dan

IHSG Harian Tahun 2009 129

Graik 4.24 Perkembangan Indeks Harga

Saham Sektoral 130

BAB

Meningkatkan Ketahanan Sektor Riil dalam Mendukung Pemulihan Ekonomi

V

Graik 4.25 Pergerakan Pertumbuhan IHSG dan M1 130

Graik 4.26 Pergerakan Pertumbuhan IHSG

dan Uang Kartal 130

Graik 4.27 IHSG, IHSG Fundamental dan Spread 131

Graik 4.28 Rasio M2/PDB Indonesia 134

Graik 4.29 Rasio M2/PDB Negara Kawasan 134

Graik 4.30 Rasio Aset Sektor Keuangan

terhadap PDB 135

Graik 4.31 Rasio Kredit Bank terhadap PDB 135

Graik 5.1 Inlasi dan Pertumbuhan Konsumsi

Rumah Tangga 147

Graik 5.2 Survei Konsumen Bank Indonesia 147

Graik 5.3 Survei Konsumen – Danareksa 147

Graik 5.4 Rasio Usia Awal dan Puncak Karier

dalam Populasi Indonesia 148

Graik 5.5 Survei Adanya Krisis Ekonomi 152

Graik 5.6 Survei Dampak Adanya Krisis Ekonomi 152

Graik 5.7 Porsi Ekspor UMKM 152

Graik 5.8 Respons Pengusaha UMKM

(Hasil Quick Survey) 154

Graik 5.9 Distribusi Subsektor PDB Industri

Pengolahan 157

Graik 5.10 Kontribusi Subsektor PDB Industri

Pengolahan 158

Graik 4.32 Perkembangan Nilai Kapitalisasi

Pasar Saham dan IHSG 135

Graik 4.33 Rasio Outstanding Obligasi

terhadap PDB 135

Graik 4.34 Turn Over Raio Pasar Obligasi

di Kawasan Asia 136

Graik 4.35 Volume Perdagangan Pasar Obligasi

di Kawasan Asia 136

Graik 5.11 Sebaran Komoditas RCA VS

Pertumbuhan Ekspor 161

Graik 5.12 Pangsa terhadap Nilai Ekspor 161

Graik 5.13 Perkembangan Impor Makanan,

Kertas, Semen dan Barang Kayu

dari China 162

Graik 5.14 Perkembangan Impor Teksil, Logam,

Kimia, Alat Angkut dari China 162

Graik 5.15 Peringkat Kualitas Infrastruktur

Negara Regional 166

Graik 5.16 Kurva Beban Harian Daya Listrik

Jawa-Madura-Bali 166

Graik 5.17 Perkembangan Kapasitas Terpasang,

Daya Mampu dan Beban Puncak 166

Graik 5.18 Indeks Kinerja Logisik 167

BAB

(9)

xiv Laporan Perekonomian Indonesia 2009 Graik 6.1 Pertumbuhan Ekonomi dan

Volume Perdagangan Dunia 178

Graik 6.2 Prakiraan Harga Minyak Dunia 178

Graik 6.3 Wilayah-wilayah Paling Menarik

untuk Lokasi FDI tahun 2009 - 2011 180

Graik 6.4 Faktor-faktor yang Mendorong FDI

di Indonesia 180

Graik 6.5 Perkembangan dan Prakiraan Deisit Fiskal 182

BAB

Prospek Ekonomi dan Arah Kebijakan Bank Indonesia

VI

Keterangan Periode Laporan dan Sumber Data

Periode Laporan adalah 1 Januari 2009 sampai dengan 31 Desember 2009

(10)

Laporan Perekonomian Indonesia 2009 xv

DEWAN GUBERNUR

BANK INDONESIA

DARMIN NASUTION

Pjs Gubernur (Sejak Juli 2009)

S. BUDI ROCHADI

Depui Gubernur MULIAMAN D. HADAD Depui Gubernur

HARTADI A. SARWONO

Depui Gubernur SITI Ch. FADJRIJAHDepui Gubernur

BUDI MULYA

Depui Gubernur Depui Gubernur ARDHAYADI M.

BOEDIONO

Gubernur (s.d Mei 2009)

MIRANDA S. GOELTOM

Depui Gubernur Senior

(11)

xvi Laporan Perekonomian Indonesia 2009 Laporan Perekonomian Indonesia 2009 xvii

Kita baru saja melalui tahun 2009, tahun yang penuh tantangan bagi perekonomian Indonesia. Melalui

pergulatan yang idak ringan terutama sejak triwulan akhir tahun 2008 dan awal tahun 2009, kita dapat melalui tahun

yang sulit tersebut dengan sejumlah pencapaian yang patut dibanggakan. Ketahanan perekonomian kita dalam

merespons gejolak dan keidakpasian perekonomian

global terlihat cukup baik. Dengan pertumbuhan ekonomi yang mencapai 4,5% pada tahun 2009, Indonesia termasuk dalam sedikit negara di dunia yang perekonomiannya

masih bisa tumbuh. Di sisi harga, inlasi tahun 2009

tercatat hanya sebesar 2,78%, yang merupakan angka terendah selama satu dekade terakhir.

Kinerja posiif tersebut idak terlepas dari upaya kita

bersama dalam menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan, serta mencegah pelemahan

perekonomian domesik lebih lanjut. Di tengah tantangan yang cukup berat sepanjang 2009, walaupun perlambatan ekonomi turut menahan inlasi, upaya Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas nilai tukar idak dapat dipungkiri memiliki peran pening dalam menurunkan ekspektasi inlasi. Disamping itu, kebijakan Pemerintah untuk menurunkan harga BBM dan transportasi, serta langkah stabilitas harga pangan di tahun 2009 cukup signiikan dalam mendorong rendahnya inlasi.

Sementara itu, kebijakan simulus moneter dan iskal yang ditempuh oleh Bank Indonesia dan Pemerintah berhasil menjaga daya beli masyarakat dan memberikan insenif

bagi dunia usaha di tengah melemahnya permintaan

dunia. Berbagai kebijakan yang ditempuh pada tahun

2009 tersebut pada dasarnya masih merupakan lanjutan

dari serangkaian kebijakan yang telah ditempuh Bank

DARMIN NASUTION

Pjs Gubernur

KATA PENGANTAR

Indonesia dan Pemerintah pada triwulan akhir 2008. Dari sisi Bank Indonesia, kebijakan moneter yang cukup

longgar sepanjang tahun 2009 ikut mendukung kinerja

perekonomian domesik. Sepanjang 2009 BI Rate terus

diturunkan hingga Agustus 2009, masing-masing 50 bps per bulan selama Januari-Maret dan 25 bps per bulan sepanjang April-Agustus, untuk kemudian dipertahankan

tetap sejak September 2009. Episode penetapan BI Rate tersebut merupakan ini dari pelonggaran moneter

yang dilakukan secara sadar dan terukur. Kebijakan tersebut juga didukung oleh langkah-langkah di tataran

operasional seperi memperkuat operasi pasar terbuka

dan memperbaiki struktur suku bunga.

Di tengah capaian tersebut, sejumlah tantangan yang

idak ringan masih mengemuka. Tantangan utama ialah

bagaimana mendorong struktur pertumbuhan yang lebih seimbang melalui peningkatan investasi. Upaya tersebut

tentunya membutuhkan ketersediaan infastruktur yang

memadai dan perbaikan iklim investasi. Upaya tersebut

juga sangat relevan dalam rangka memanfaatkan

peluang dari pemulihan ekonomi global, termasuk dalam

mendorong penanaman modal asing. Tantangan lain

muncul dari masih adanya keterbatasan dalam transmisi

kebijakan moneter. Efekivitas transmisi kebijakan moneter

melalui perbankan, baik untuk penurunan suku bunga

maupun peningkatan kredit, masih perlu diingkatkan.

Penurunan suku bunga kredit masih dimungkinkan karena

masih ingginya spread suku bunga terhadap suku bunga deposito.

Ke depan, kebijakan moneter Bank Indonesia diarahkan untuk mencapai inlasi yang rendah dan stabil sesuai dengan sasaran inlasi di 2010 yang telah ditetapkan sebesar 5% ± 1%. Dalam jangka menengah, Bank Indonesia mengarahkan agar inlasi terus dalam tren yang menurun ke arah sasaran inlasi jangka menengah, yaitu 4 %±1 % di 2014. Dalam rangka mencapai target inlasi tersebut, Bank Indonesia berkomitmen untuk mengarahkan BI Rate dalam takaran yang tepat secara konsisten, sehingga inlasi dan ekspektasi inlasi tergiring ke target inlasi jangka menengah yang diinginkan tersebut sebagai jangkar. Penentuan BI Rate akan selalu memperimbangkan prospek perekonomian domesik

maupun global secara menyeluruh.

Berbagai dinamika perekonomian di atas telah secara

cermat dituliskan dalam buku Laporan Perekonomian Indonesia (LPI) 2009. LPI 2009 bukan hanya berperan sebagai peta yang menggambarkan apa yang terjadi pada berbagai dimensi perekonomian nasional sepanjang 2009, namun juga menjadi kompas yang dapat digunakan untuk mengarahkan ke mana perekonomian Indonesia

sebaiknya bergerak maju dengan kekuatan opimal.

Semoga di tahun 2010, kita semua akan mengalami

peningkatan dalam pencapaian di bidang masing-masing.

Saya opimis, Insya Allah, pengalaman berat di tahun lalu

akan semakin menguatkan langkah ke depan kita semua dalam menghadapi berbagai tantangan.

Jakarta, Maret 2010

Referensi

Dokumen terkait

perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user86.Sawi Monumen Sawi monumen tubuhnya amat tegak dan berdaun kompak. Penampilan sawi jenis ini sekilas mirip dengan petsai. Tangkai daun berwarna putih berukuran agak lebar dengan tulang daun yang juga berwarna putih. Daunnya sendiri berwarna hijau segar. Jenis sawi ini tegolong terbesar dan terberat di antara jenis sawi lainnya. D.Syarat Tumbuh Tanaman Sawi Syarat tumbuh tanaman sawi dalam budidaya tanaman sawi adalah sebagai berikut : 1.Iklim Tanaman sawi tidak cocok dengan hawa panas, yang dikehendaki ialah hawa yang dingin dengan suhu antara 150 C - 200 C. Pada suhu di bawah 150 C cepat berbunga, sedangkan pada suhu di atas 200 C tidak akan berbunga. 2.Ketinggian Tempat Di daerah pegunungan yang tingginya lebih dari 1000 m dpl tanaman sawi bisa bertelur, tetapi di daerah rendah tak bisa bertelur. 3.Tanah Tanaman sawi tumbuh dengan baik pada tanah lempung yang subur dan cukup menahan air. (AAK, 1992). Syarat-syarat penting untuk bertanam sawi ialah tanahnya gembur, banyak mengandung humus (subur), dan keadaan pembuangan airnya (drainase) baik. Derajat keasaman tanah (pH) antara 6–7 (Sunaryono dan Rismunandar, 1984). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user9E.Teknik Budidaya Tanaman Sawi 1.Pengadaan benih Benih merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan usaha tani. Kebutuhan benih sawi untuk setiap hektar lahan tanam sebesar 750 gram. Benih sawi berbentuk bulat, kecil-kecil. Permukaannya licin mengkilap dan agak keras. Warna kulit benih coklat kehitaman. Benih yang akan kita gunakan harus mempunyai kualitas yang baik, seandainya beli harus kita perhatikan lama penyimpanan, varietas, kadar air, suhu dan tempat menyimpannya. Selain itu juga harus memperhatikan kemasan benih harus utuh. kemasan yang baik adalah dengan alumunium foil. Apabila benih yang kita gunakan dari hasil pananaman kita harus memperhatikan kualitas benih itu, misalnya tanaman yang akan diambil sebagai benih harus berumur lebih dari 70 hari. Penanaman sawi memperhatikan proses yang akan dilakukan misalnya dengan dianginkan, disimpan di tempat penyimpanan dan diharapkan lama penyimpanan benih tidak lebih dari 3 tahun.( Eko Margiyanto, 2007) Pengadaan benih dapat dilakukan dengan cara membuat sendiri atau membeli benih yang telah siap tanam. Pengadaan benih dengan cara membeli akan lebih praktis, petani tinggal menggunakan tanpa jerih payah. Sedangkan pengadaan benih dengan cara membuat sendiri cukup rumit. Di samping itu, mutunya belum tentu terjamin baik (Cahyono, 2003). Sawi diperbanyak dengan benih. Benih yang akan diusahakan harus dipilih yang berdaya tumbuh baik. Benih sawi sudah banyak dijual di toko-toko pertanian. Sebelum ditanam di lapang, sebaiknya benih sawi disemaikan terlebih dahulu. Persemaian dapat dilakukan di bedengan atau di kotak persemaian (Anonim, 2007). 2.Pengolahan tanah Sebelum menanam sawi hendaknya tanah digarap lebih dahulu, supaya tanah-tanah yang padat bisa menjadi longgar, sehingga pertukaran perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user10udara di dalam tanah menjadi baik, gas-gas oksigen dapat masuk ke dalam tanah, gas-gas yang meracuni akar tanaman dapat teroksidasi, dan asam-asam dapat keluar dari tanah. Selain itu, dengan longgarnya tanah maka akar tanaman dapat bergerak dengan bebas meyerap zat-zat makanan di dalamnya (AAK, 1992). Untuk tanaman sayuran dibutuhkan tanah yang mempunyai syarat-syarat di bawah ini : a.Tanah harus gembur sampai cukup dalam. b.Di dalam tanah tidak boleh banyak batu. c.Air dalam tanah mudah meresap ke bawah. Ini berarti tanah tersebut tidak boleh mudah menjadi padat. d.Dalam musim hujan, air harus mudah meresap ke dalam tanah. Ini berarti pembuangan air harus cukup baik. Tujuan pembuatan bedengan dalam budidaya tanaman sayuran adalah : a.Memudahkan pembuangan air hujan, melalui selokan. b.Memudahkan meresapnya air hujan maupun air penyiraman ke dalam tanah. c.Memudahkan pemeliharaan, karena kita dapat berjalan antar bedengan dengan bedengan. d.Menghindarkan terinjak-injaknya tanah antara tanaman hingga menjadi padat. ( Rismunandar, 1983 ). 3.Penanaman Pada penanaman yang benihnya langsung disebarkan di tempat penanaman, yang perlu dijalankan adalah : a.Supaya keadaan tanah tetap lembab dan untuk mempercepat berkecambahnya benih, sehari sebelum tanam, tanah harus diairi terlebih dahulu. perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user11b.Tanah diaduk (dihaluskan), rumput-rumput dihilangkan, kemudian benih disebarkan menurut deretan secara merata. c.Setelah disebarkan, benih tersebut ditutup dengan tanah, pasir, atau pupuk kandang yang halus. d.Kemudian disiram sampai merata, dan waktu yang baik dalam meyebarkan benih adalah pagi atau sore hari. (AAK, 1992). Penanaman dapat dilakukan setelah tanaman sawi berumur 3 - 4 Minggu sejak benih disemaikan. Jarak tanam yang digunakan umumnya 20 x 20 cm. Kegiatan penanaman ini sebaiknya dilakukan pada sore hari agar air siraman tidak menguap dan tanah menjadi lembab (Anonim, 2007). Waktu bertanam yang baik adalah pada akhir musim hujan (Maret). Walaupun demikian dapat pula ditanam pada musim kemarau, asalkan diberi air secukupnya (Sunaryono dan Rismunandar, 1984). 4.Pemeliharaan tanaman Pemeliharaan dalam budidaya tanaman sawi meliputi tahapan penjarangan tanaman, penyiangan dan pembumbunan, serta pemupukan susulan. a.Penjarangan tanaman Penanaman sawi tanpa melalui tahap pembibitan biasanya tumbuh kurang teratur. Di sana-sini sering terlihat tanaman-tanaman yang terlalu pendek/dekat. Jika hal ini dibiarkan akan menyebabkan pertumbuhan tanaman tersebut kurang begitu baik. Jarak yang terlalu rapat menyebabkan adanya persaingan dalam menyerap unsur-unsur hara di dalam tanah. Dalam hal ini penjarangan dilakukan untuk mendapatkan kualitas hasil yang baik. Penjarangan umumnya dilakukan 2 minggu setelah penanaman. Caranya dengan mencabut tanaman yang tumbuh terlalu rapat. Sisakan tanaman yang tumbuh baik dengan jarak antar tanaman yang teratur (Haryanto et al., 1995). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user12b.Penyiangan dan pembumbunan Biasanya setelah turun hujan, tanah di sekitar tanaman menjadi padat sehingga perlu digemburkan. Sambil menggemburkan tanah, kita juga dapat melakukan pencabutan rumput-rumput liar yang tumbuh. Penggemburan tanah ini jangan sampai merusak perakaran tanaman. Kegiatan ini biasanya dilakukan 2 minggu sekali (Anonim, 2007). Untuk membersihkan tanaman liar berupa rerumputan seperti alang-alang hampir sama dengan tanaman perdu, mula-mula rumput dicabut kemudian tanah dikorek dengan gancu. Akar-akar yang terangkat diambil, dikumpulkan, lalu dikeringkan di bawah sinar matahari, setelah kering, rumput kemudian dibakar (Duljapar dan Khoirudin, 2000). Ketika tanaman berumur satu bulan perlu dilakukan penyiangan dan pembumbunan. Tujuannya agar tanaman tidak terganggu oleh gulma dan menjaga agar akar tanaman tidak terkena sinar matahari secara langsung (Tim Penulis PS, 1995 ). c.Pemupukan Setelah tanaman tumbuh baik, kira-kira 10 hari setelah tanam, pemupukan perlu dilakukan. Oleh karena yang akan dikonsumsi adalah daunnya yang tentunya diinginkan penampilan daun yang baik, maka pupuk yang diberikan sebaiknya mengandung Nitrogen (Anonim, 2007). Pemberian Urea sebagai pupuk tambahan bisa dilakukan dengan cara penaburan dalam larikan yang lantas ditutupi tanah kembali. Dapat juga dengan melarutkan dalam air, lalu disiramkan pada bedeng penanaman. Satu sendok urea, sekitar 25 g, dilarutkan dalam 25 l air dapat disiramkan untuk 5 m bedengan. Pada saat penyiraman, tanah dalam bedengan sebaiknya tidak dalam keadaan kering. Waktu penyiraman pupuk tambahan dapat dilakukan pagi atau sore hari (Haryanto et al., 1995). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user13Jenis-jenis unsur yag diperlukan tanaman sudah kita ketahui bersama. Kini kita beralih membicarakan pupuk atau rabuk, yang merupakan kunci dari kesuburan tanah kita. Karena pupuk tak lain dari zat yang berisisi satu unsur atau lebih yang dimaksudkan untuk menggantikan unsur yang habis diserap tanaman dari tanah. Jadi kalau kita memupuk berarti menambah unsur hara bagi tanah (pupuk akar) dan tanaman (pupuk daun). Sama dengan unsur hara tanah yang mengenal unsur hara makro dan mikro, pupuk juga demikian. Jadi meskipun jumlah pupuk belakangan cenderung makin beragam dengan merek yang bermacam-macam, kita tidak akan terkecoh. Sebab pupuk apapun namanya, entah itu buatan manca negara, dari segi unsur yang dikandungnya ia tak lain dari pupuk makro atau pupuk mikro. Jadi patokan kita dalam membeli pupuk adalah unsur yang dikandungnya (Lingga, 1997). Pemupukan membantu tanaman memperoleh hara yang dibutuhkanya. Unsur hara yang pokok dibutuhkan tanaman adalah unsur Nitrogen (N), Fosfor (P), dan Kalium (K). Itulah sebabnya ketiga unsur ini (NPK) merupakan pupuk utama yang dibutuhkan oleh tanaman. Pupuk organik juga dibutuhkan oleh tanaman, memang kandungan haranya jauh dibawah pupuk kimia, tetapi pupuk organik memiliki kelebihan membantu menggemburkan tanah dan menyatu secara alami menambah unsur hara dan memperbaiki struktur tanah (Nazarudin, 1998). 5.Pengendalian hama dan penyakit Hama yang sering menyerang tanaman sawi adalah ulat daun. Apabila tanaman telah diserangnya, maka tanaman perlu disemprot dengan insektisida. Yang perlu diperhatikan adalah waktu penyemprotannya. Untuk tanaman sayur-sayuran, penyemprotan dilakukan minimal 20 hari sebelum dipanen agar keracunan pada konsumen dapat terhindar (Anonim, 2007). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user14OPT yang menyerang pada tanaman sawi yaitu kumbang daun (Phyllotreta vitata), ulat daun (Plutella xylostella), ulat titik tumbuh (Crocidolomia binotalis), dan lalat pengerek daun (Lyriomiza sp.). Berdasarkan tingkat populasi dan kerusakan tanaman yang ditimbulkan, maka peringkat OPT yang menyerang tanaman sawi berturut-turut adalah P. vitata, Lyriomiza sp., P. xylostella, dan C. binotalis. Hama P. vitatamerupakan hama utama, dan hama P. xylostella serta Lyriomiza sp. merupakan hama potensial pada tanaman sawi, sedangkan hamaC. binotalis perlu diwaspadai keberadaanya (Mukasan et al., 2005). Beberapa jenis penyakit yang diketahui menyerang tanaman sawi antara lain: penyakit akar pekuk/akar gada, bercak daun altermaria, busuk basah, embun tepung, rebah semai, busuk daun, busuk Rhizoctonia, bercak daun, dan virus mosaik (Haryanto et al., 1995). 6.Pemanenan Tanaman sawi dapat dipetik hasilnya setelah berumur 2 bulan. Banyak cara yang dilakukan untuk memanen sawi, yaitu: ada yang mencabut seluruh tanaman, ada yang memotong bagian batangnya tepat di atas permukaan tanah, dan ada juga yang memetik daunnya satu per satu. Cara yang terakhir ini dimaksudkan agar tanaman bisa tahan lama (Edy margiyanto,

perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user86.Sawi Monumen Sawi monumen tubuhnya amat tegak dan berdaun kompak. Penampilan sawi jenis ini sekilas mirip dengan petsai. Tangkai daun berwarna putih berukuran agak lebar dengan tulang daun yang juga berwarna putih. Daunnya sendiri berwarna hijau segar. Jenis sawi ini tegolong terbesar dan terberat di antara jenis sawi lainnya. D.Syarat Tumbuh Tanaman Sawi Syarat tumbuh tanaman sawi dalam budidaya tanaman sawi adalah sebagai berikut : 1.Iklim Tanaman sawi tidak cocok dengan hawa panas, yang dikehendaki ialah hawa yang dingin dengan suhu antara 150 C - 200 C. Pada suhu di bawah 150 C cepat berbunga, sedangkan pada suhu di atas 200 C tidak akan berbunga. 2.Ketinggian Tempat Di daerah pegunungan yang tingginya lebih dari 1000 m dpl tanaman sawi bisa bertelur, tetapi di daerah rendah tak bisa bertelur. 3.Tanah Tanaman sawi tumbuh dengan baik pada tanah lempung yang subur dan cukup menahan air. (AAK, 1992). Syarat-syarat penting untuk bertanam sawi ialah tanahnya gembur, banyak mengandung humus (subur), dan keadaan pembuangan airnya (drainase) baik. Derajat keasaman tanah (pH) antara 6–7 (Sunaryono dan Rismunandar, 1984). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user9E.Teknik Budidaya Tanaman Sawi 1.Pengadaan benih Benih merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan usaha tani. Kebutuhan benih sawi untuk setiap hektar lahan tanam sebesar 750 gram. Benih sawi berbentuk bulat, kecil-kecil. Permukaannya licin mengkilap dan agak keras. Warna kulit benih coklat kehitaman. Benih yang akan kita gunakan harus mempunyai kualitas yang baik, seandainya beli harus kita perhatikan lama penyimpanan, varietas, kadar air, suhu dan tempat menyimpannya. Selain itu juga harus memperhatikan kemasan benih harus utuh. kemasan yang baik adalah dengan alumunium foil. Apabila benih yang kita gunakan dari hasil pananaman kita harus memperhatikan kualitas benih itu, misalnya tanaman yang akan diambil sebagai benih harus berumur lebih dari 70 hari. Penanaman sawi memperhatikan proses yang akan dilakukan misalnya dengan dianginkan, disimpan di tempat penyimpanan dan diharapkan lama penyimpanan benih tidak lebih dari 3 tahun.( Eko Margiyanto, 2007) Pengadaan benih dapat dilakukan dengan cara membuat sendiri atau membeli benih yang telah siap tanam. Pengadaan benih dengan cara membeli akan lebih praktis, petani tinggal menggunakan tanpa jerih payah. Sedangkan pengadaan benih dengan cara membuat sendiri cukup rumit. Di samping itu, mutunya belum tentu terjamin baik (Cahyono, 2003). Sawi diperbanyak dengan benih. Benih yang akan diusahakan harus dipilih yang berdaya tumbuh baik. Benih sawi sudah banyak dijual di toko-toko pertanian. Sebelum ditanam di lapang, sebaiknya benih sawi disemaikan terlebih dahulu. Persemaian dapat dilakukan di bedengan atau di kotak persemaian (Anonim, 2007). 2.Pengolahan tanah Sebelum menanam sawi hendaknya tanah digarap lebih dahulu, supaya tanah-tanah yang padat bisa menjadi longgar, sehingga pertukaran perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user10udara di dalam tanah menjadi baik, gas-gas oksigen dapat masuk ke dalam tanah, gas-gas yang meracuni akar tanaman dapat teroksidasi, dan asam-asam dapat keluar dari tanah. Selain itu, dengan longgarnya tanah maka akar tanaman dapat bergerak dengan bebas meyerap zat-zat makanan di dalamnya (AAK, 1992). Untuk tanaman sayuran dibutuhkan tanah yang mempunyai syarat-syarat di bawah ini : a.Tanah harus gembur sampai cukup dalam. b.Di dalam tanah tidak boleh banyak batu. c.Air dalam tanah mudah meresap ke bawah. Ini berarti tanah tersebut tidak boleh mudah menjadi padat. d.Dalam musim hujan, air harus mudah meresap ke dalam tanah. Ini berarti pembuangan air harus cukup baik. Tujuan pembuatan bedengan dalam budidaya tanaman sayuran adalah : a.Memudahkan pembuangan air hujan, melalui selokan. b.Memudahkan meresapnya air hujan maupun air penyiraman ke dalam tanah. c.Memudahkan pemeliharaan, karena kita dapat berjalan antar bedengan dengan bedengan. d.Menghindarkan terinjak-injaknya tanah antara tanaman hingga menjadi padat. ( Rismunandar, 1983 ). 3.Penanaman Pada penanaman yang benihnya langsung disebarkan di tempat penanaman, yang perlu dijalankan adalah : a.Supaya keadaan tanah tetap lembab dan untuk mempercepat berkecambahnya benih, sehari sebelum tanam, tanah harus diairi terlebih dahulu. perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user11b.Tanah diaduk (dihaluskan), rumput-rumput dihilangkan, kemudian benih disebarkan menurut deretan secara merata. c.Setelah disebarkan, benih tersebut ditutup dengan tanah, pasir, atau pupuk kandang yang halus. d.Kemudian disiram sampai merata, dan waktu yang baik dalam meyebarkan benih adalah pagi atau sore hari. (AAK, 1992). Penanaman dapat dilakukan setelah tanaman sawi berumur 3 - 4 Minggu sejak benih disemaikan. Jarak tanam yang digunakan umumnya 20 x 20 cm. Kegiatan penanaman ini sebaiknya dilakukan pada sore hari agar air siraman tidak menguap dan tanah menjadi lembab (Anonim, 2007). Waktu bertanam yang baik adalah pada akhir musim hujan (Maret). Walaupun demikian dapat pula ditanam pada musim kemarau, asalkan diberi air secukupnya (Sunaryono dan Rismunandar, 1984). 4.Pemeliharaan tanaman Pemeliharaan dalam budidaya tanaman sawi meliputi tahapan penjarangan tanaman, penyiangan dan pembumbunan, serta pemupukan susulan. a.Penjarangan tanaman Penanaman sawi tanpa melalui tahap pembibitan biasanya tumbuh kurang teratur. Di sana-sini sering terlihat tanaman-tanaman yang terlalu pendek/dekat. Jika hal ini dibiarkan akan menyebabkan pertumbuhan tanaman tersebut kurang begitu baik. Jarak yang terlalu rapat menyebabkan adanya persaingan dalam menyerap unsur-unsur hara di dalam tanah. Dalam hal ini penjarangan dilakukan untuk mendapatkan kualitas hasil yang baik. Penjarangan umumnya dilakukan 2 minggu setelah penanaman. Caranya dengan mencabut tanaman yang tumbuh terlalu rapat. Sisakan tanaman yang tumbuh baik dengan jarak antar tanaman yang teratur (Haryanto et al., 1995). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user12b.Penyiangan dan pembumbunan Biasanya setelah turun hujan, tanah di sekitar tanaman menjadi padat sehingga perlu digemburkan. Sambil menggemburkan tanah, kita juga dapat melakukan pencabutan rumput-rumput liar yang tumbuh. Penggemburan tanah ini jangan sampai merusak perakaran tanaman. Kegiatan ini biasanya dilakukan 2 minggu sekali (Anonim, 2007). Untuk membersihkan tanaman liar berupa rerumputan seperti alang-alang hampir sama dengan tanaman perdu, mula-mula rumput dicabut kemudian tanah dikorek dengan gancu. Akar-akar yang terangkat diambil, dikumpulkan, lalu dikeringkan di bawah sinar matahari, setelah kering, rumput kemudian dibakar (Duljapar dan Khoirudin, 2000). Ketika tanaman berumur satu bulan perlu dilakukan penyiangan dan pembumbunan. Tujuannya agar tanaman tidak terganggu oleh gulma dan menjaga agar akar tanaman tidak terkena sinar matahari secara langsung (Tim Penulis PS, 1995 ). c.Pemupukan Setelah tanaman tumbuh baik, kira-kira 10 hari setelah tanam, pemupukan perlu dilakukan. Oleh karena yang akan dikonsumsi adalah daunnya yang tentunya diinginkan penampilan daun yang baik, maka pupuk yang diberikan sebaiknya mengandung Nitrogen (Anonim, 2007). Pemberian Urea sebagai pupuk tambahan bisa dilakukan dengan cara penaburan dalam larikan yang lantas ditutupi tanah kembali. Dapat juga dengan melarutkan dalam air, lalu disiramkan pada bedeng penanaman. Satu sendok urea, sekitar 25 g, dilarutkan dalam 25 l air dapat disiramkan untuk 5 m bedengan. Pada saat penyiraman, tanah dalam bedengan sebaiknya tidak dalam keadaan kering. Waktu penyiraman pupuk tambahan dapat dilakukan pagi atau sore hari (Haryanto et al., 1995). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user13Jenis-jenis unsur yag diperlukan tanaman sudah kita ketahui bersama. Kini kita beralih membicarakan pupuk atau rabuk, yang merupakan kunci dari kesuburan tanah kita. Karena pupuk tak lain dari zat yang berisisi satu unsur atau lebih yang dimaksudkan untuk menggantikan unsur yang habis diserap tanaman dari tanah. Jadi kalau kita memupuk berarti menambah unsur hara bagi tanah (pupuk akar) dan tanaman (pupuk daun). Sama dengan unsur hara tanah yang mengenal unsur hara makro dan mikro, pupuk juga demikian. Jadi meskipun jumlah pupuk belakangan cenderung makin beragam dengan merek yang bermacam-macam, kita tidak akan terkecoh. Sebab pupuk apapun namanya, entah itu buatan manca negara, dari segi unsur yang dikandungnya ia tak lain dari pupuk makro atau pupuk mikro. Jadi patokan kita dalam membeli pupuk adalah unsur yang dikandungnya (Lingga, 1997). Pemupukan membantu tanaman memperoleh hara yang dibutuhkanya. Unsur hara yang pokok dibutuhkan tanaman adalah unsur Nitrogen (N), Fosfor (P), dan Kalium (K). Itulah sebabnya ketiga unsur ini (NPK) merupakan pupuk utama yang dibutuhkan oleh tanaman. Pupuk organik juga dibutuhkan oleh tanaman, memang kandungan haranya jauh dibawah pupuk kimia, tetapi pupuk organik memiliki kelebihan membantu menggemburkan tanah dan menyatu secara alami menambah unsur hara dan memperbaiki struktur tanah (Nazarudin, 1998). 5.Pengendalian hama dan penyakit Hama yang sering menyerang tanaman sawi adalah ulat daun. Apabila tanaman telah diserangnya, maka tanaman perlu disemprot dengan insektisida. Yang perlu diperhatikan adalah waktu penyemprotannya. Untuk tanaman sayur-sayuran, penyemprotan dilakukan minimal 20 hari sebelum dipanen agar keracunan pada konsumen dapat terhindar (Anonim, 2007). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user14OPT yang menyerang pada tanaman sawi yaitu kumbang daun (Phyllotreta vitata), ulat daun (Plutella xylostella), ulat titik tumbuh (Crocidolomia binotalis), dan lalat pengerek daun (Lyriomiza sp.). Berdasarkan tingkat populasi dan kerusakan tanaman yang ditimbulkan, maka peringkat OPT yang menyerang tanaman sawi berturut-turut adalah P. vitata, Lyriomiza sp., P. xylostella, dan C. binotalis. Hama P. vitatamerupakan hama utama, dan hama P. xylostella serta Lyriomiza sp. merupakan hama potensial pada tanaman sawi, sedangkan hamaC. binotalis perlu diwaspadai keberadaanya (Mukasan et al., 2005). Beberapa jenis penyakit yang diketahui menyerang tanaman sawi antara lain: penyakit akar pekuk/akar gada, bercak daun altermaria, busuk basah, embun tepung, rebah semai, busuk daun, busuk Rhizoctonia, bercak daun, dan virus mosaik (Haryanto et al., 1995). 6.Pemanenan Tanaman sawi dapat dipetik hasilnya setelah berumur 2 bulan. Banyak cara yang dilakukan untuk memanen sawi, yaitu: ada yang mencabut seluruh tanaman, ada yang memotong bagian batangnya tepat di atas permukaan tanah, dan ada juga yang memetik daunnya satu per satu. Cara yang terakhir ini dimaksudkan agar tanaman bisa tahan lama (Edy margiyanto,