• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV ANALISA DAN PEMBAHASAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB IV ANALISA DAN PEMBAHASAN"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

BAB IV

ANALISA DAN PEMBAHASAN

4.1 Analisa dan Pembahasan Deskriptif

Survei menggunakan sampel sebanyak 100 responden yang terdiri dari wirausaha yang berada di kawasan Surabaya Pusat. Data responden ditunjukkan dalam tabel sebagai berikut:

Tabel 4.1. Umur Umur

27-30 31-34 35-38 39-42 43-46 47-50 50-54 55-58 Total

Jumlah 4 7 18 12 17 11 16 15 100 S umber: Olahan Data Penulis

Berdasarkan tabel 4.1 ini, dapat dilihat bahwa kebanyakan dari 100 responden berumur diatas 30 tahun, sedangkan yang berumur dibawah 31 tahun atau diantara 27-30 tahun hanya ada 4 orang. Dan dari 4 orang tersebut ada yang memiliki lama usaha selama 30 tahun dan mereka ini merupakan generasi kedua, yaitu mereka meneruskan usaha orang tuanya. Serta pada responden yang berumur antara 43-46, ada satu orang yang pernah mengalami PHK pada tahun

1998 dan ada 3 orang yang dulunya pernah merasa bosan atau tidak cocok dengan gaji yang mereka dapatkan dari bekerja dengan orang lain atau perusahaan tempat mereka bekerja. Sekarang mereka sudah lebih memiliki kestabilan pendapatan yang cukup dan merasa lebih nyaman, karena dapat mengontrol sendiri keuntungan yang akan mereka capai.

32

(2)

33

Tabel 4.2. Lama Usaha

Lama Usaha (Tahun)

4-7 8-11 12-15 16-19 20-23 24-27 28-31 Total

Jumlah 5 11 15 25 19 17 8 100 Sumber: Olahan Data Penulis

Dari data Lama Usaha yang diperoleh, dapat dilihat bahwa kebanyakan dari 100 responden, sudah menjadi wirausaha selama 7 tahun keatas, dengan melihat lama usaha antara 4-7 tahun hanya 5 orang dan sisanya 95 orang diatas 7 tahun.

Serta pada penjelasan tabel 4.2, diketahui bahwa ada wirausaha yang memiliki umur 27-30 tahun tetapi perusahaannya sudah berdiri selama 30 tahun. Hal berarti bisnis yang mereka jalani sangat menguntirngkan bagi diri mereka sendiri, dan hal ini juga dikarenakan mereka memiliki karakteristik yang handal dan kreatif, sehingga mereka mampu bertahan hingga saat ini.

Tabel 4.3. Tipe Wirausaha Tipe Pekerjaan

Solois Key-partner Penemu-Peneliti Workforce builder

Profesional Total

Jumlah 77 13 7 2 1 100

Jumlah (%) 77 13 7 2 1 100

Sumber: Olahan Data Penulis

(3)

34

Berdasarkan tabel 4.3 dapat dilihat bahwa dari 100 responden, kebanyakan jenis wirausaha yang berada di kawasan Surabaya Pusat adalah yang berjenis

Solois dan Key Partner. Solois terdiri dari toko elektronik, toko emas, toko kain, toko alat-alat olah raga, toko bangunan, toko meracangan, dan sebagainya.

Sedangkan Key Partner terdiri dari toko spare part mobil dan sepeda motor, toko oli, toko aki, toko pompa air, toko reparasi jam dan barang-barang elektronik, dan sebagainya. Sisanya, yaitu 10 % yang terdiri dari Profesional(hanya satu orang), Penemu-Penehti, dan Work Force Builderihsnya dua orang). Profesional yaitu seorang dokter, Penemu-Peneliti terdiri dari rumah makan dan toko roti, dan Work Force Builder yaitu salon kecantikan dan potong rambut. Agar lebih jelasnya dapat dilihat pada halaman lampiran 3 pada Data Resoponden.

4.2 Analisa Faktor

Analisa faktor pada prinsipnya digunakan untuk mereduksi data, yaitu proses untuk meringkas sejumlah variabel menjadi lebih sedikit dan menamakannya sebagai faktor ( Santoso, 2001:148)

Dari 24 variabel yang merupakan penjabaran dari 12 variabel yang ada, setelah diolah dengan analisa faktor didapatkan 22 variabel saja. Terdapat 2 variabel ( cepat memikirkan alternatif dan tidak khawatir perubahan ) yang tidak dapat diikutkan dalam proses pengolahan lebih lanjut, karena nilai Measure of Sampling Adequacy (MSA) pada anti image matrixnya kurang dari 0.50, yaitu 0.468 untuk variabel cepat memikirkan alternatif dan 0.469 untuk variabel tidak khawatir perubahan.

Variabel-variabel yang dapat diolah dengan analisa faktor adalah variabel-variabel yang memiliki nilai MSA diatas 0.5. Untuk menghilangkan variabel melalui MSA ini harus dilakukan satu-satu, tidak sekaligus dihilangkan. Jadi harus dibandingkan yang mana yang paling terkecil baru dikeluarkan, kemudian diolah lagi sampai tidak ada lagi nilai MSA dibawah 0.5.

(4)

35

Melalui analisa faktor ini kita akan mengetahui faktor karakteristik yang paling mempengaruhi dalam kesuksesan wirausahawan. Dengan cara mereduksi variabel-variabel yang ada menjadi beberapa variabel. Dimana variabel-variabel yang tersisa dapat dikelompok yang kemudian dinamakan dengan faktor.

Tabel 4.4 Communalities Communalities

Extraction Method: Principal Component Analysis.

Sumber: Olahan Data Penulis

(5)

36

Pada tabel communalities ada tiga kolom, yaitu kolom variabel, kolom inisial dan kolom extraction. Pada kolom inisial, masing-masing variabel diberi angka satu artinya setiap variabel mempunyai varians satu, sehingga total variannya adalah 22, karena ada 22 yang akan dimasukkan dalam analisa faktor.

Sedangkan pada kolom extraction menunjukkan angka communalitiesnya.

Maka dari itu variabel percaya akan kemampuan, pada kolom extraction menunjukkan angka 0.613. Hal ini berarti sekitar 61.3 % varian dari variabel percaya akan kemampuan, dapat dijelaskan oleh faktor yang nantinya akan terbentuk. Dan demikian seterusnya unmk variabel lainnya. Dengan ketentuan bahwa semakin kecil communalitiesnya sebuah variabel, berarti semakin lemah hubungan dengan faktor yang terbentuk.

Seperti pada variabel tenang dalam menghadapi masalah dengan bawahannya, memiliki angka communalities yang paling lemah, dan variabel ini tidak mungkin akan terbentuk dalam faktor yang akan terjadi. Karena dari hasil survei dilapangan, para wirausaha sering kewalahan atau bingung menghadapi keinginan para bawahannya, apalagi sejak adanya krisis moneter di negara kita, yaitu pada tahun 1998, mereka berkata bahwa para pekerjanya cenderung selalu menuntut haknya daripada kewajibannya, sehingga pekerjaan yang dihasilkan tidak efektif dan produktif Dan akhirnya para wirausaha merasa bimbang atau tidak tenang dalam menghadapi masalah dengan bawahannya, khususnya dalam mengambil keputusan terhadap bawaliannya.

Oleh karena itu variabel tenang dalam menghadapi masalah dengan bawahanya, tidak kuat hubungannya dengan faktor yang akan terbentuk.

(6)

Tabel 4.5 Total Variance Explained

Total Variance Explained

Component 1

2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22

Total 4.175 2.348 2.069 1.753 1.387 1.275 1.122 .990 .977 .928 .879 .607 .533 .527 .442 .370 .355 .336 .267 .258 .233 .170

Initial Eigenvalues

% of Variance 18.977 10.674 9.406 7.966 6.303 5.797 5.098 4.500 4.440 4.217 3.995 2.761 2.422 2.393 2.010 1.681 1.613 1.528 1.212 1.173 1.061 .773

Cumulative % 18.977 29.650 39.057 47.023 53.326 59.123 64.221 68.721 73.162 77.378 81.373 84.134 86.556 88.950 90.959 92.641 94.254 95.782 96.993 98.166 99.227 100.000

Extraction Sums of Squared Loadings Total

4.175 2.348 2.069

% of Variance 18.977 10.674 9.406

Cumulative % 18.977 29.650 39.057

Rotation Sums of Squared Loadings Total

3.549 2.801 2.242

% of Variance 16.133 12.732 10.191

Cumulative % 16.133 28.865 39.057

Extraction Method: Principal Component Analysis.

Sumber: Olahan Data Penulis

(7)

38

Berdasarkan tabel 4.5, pada kolom component tersebut menunjukkan jumlah faktor yang terbentuk; tetapi bukan berarti ada 22 faktor yang terbentuk, melainkan harus memperhatikan nilai eigen-nya. atau eigenvalue pada kolom initial eigenvalue, yaitu tidak boleh kurang dari satu.Apabila kurang dari satu, maka tidak terbentuk dalam faktor yangterjadi. Karena eigenvalue menunjukkan kepentingan relatif masing-masing faktor dalam menghitung varians ke 22 variabel yang dianalisis. ( Santoso, 2001, 262)

Dan apabila angka eigenvalue untuk ke 22 variabel tersebut dijumlah, maka sama dengan total varians ke 22 . Karena, seperti yang sudah dijelaskan pada tabel 4.5 (communalities), yaitu terdapat 22 variabel yang dianalisis, masing-masing mempunyai varians satu; maka total varians-nya adalah 22, ini juga termasuk total eigenvelue.Jika ke, 22 variabel tersebut 'diringkas' menjadi 1 faktor, maka varians yang dapat dijelaskan oleh satu faktor tersebut adalali (lihat: component

=1):

4.175/ 22* 100%= 18.977%

Jika 22 variabel diekstrak atau diringkas menjadi 3 faktor maka:

1. Varians faktor pertama adalah 18.977 %

2. Varians faktor kedua adalah 2.348/22 *100%=10.674 % 3. Varians faktor ketiga adalah 2.069/22*100=9.406%

Total dari ketiga faktor akan dapat menjelaskanl8.977%+10.670%+9.406%

atau 39.053% dari variabilitas ke dua puluh dua variabel ash tersebut.

(8)

39

Jika pada analisa yang kedua menjelaskan dasar jumlah faktor yang didapat dengan perhitungan angka, maka tabel Scree Plot menampakkan dasar jumlah faktor yang didapat dengan melihat slope atau tingkat kemiringan pada grafik.

Dimana sumbu X menunjukkan Component Number dan sumbu Y menunjukkan eigenvalus-nya. Pada Component Number , terlihat bahwa dari angka 1 ke 2, arah garis menurun dengan cukup tajam , kemudian dari angka 2 ke 3 , arah garis masih menurun; namun dengan slope atu tingkat kemiringannya yang lebih kecil, dengan tidak melewati batas eiginvalue-nyai yaitu nilai eigen-nya masih diatas satu.

Dan pada saat perpindahan dari angka 7 ke 9, faktor 8 sudah berada di bawah angka satu , akan tetapi kita hanya memilih tiga faktor saja untuk 'meringkas' ke duapuluhdua variabel tersebut karena penurunan garisnya tajam.

(9)

Tabel 4.7 Rotated Component Matrix

(10)

41

Setelah diketahui, bahwa ada tiga faktor yang menunjukkan jumlah faktor yang paling optimal, maka pada rotated component matrix memberikan hasil yang lebih nyata dan jelas, jika dibandingkan tidak melakukan rotasi. Pada rotated component matrix, ke 22 variabel tersebut didistribusikan kedalam tiga faktor yang ada. Sedangkan angka yang ada pada tabel tersebut adalah factor loading, yaitu menunjukkan besar korelasi antara satu variabel dengan faktor 1,2, atau 3.

Dan untuk dapat didistribusikan ke masing-masing faktor; factor loading-nya harus melewati angka pembatas atau disebut cut of point, yaitu lebih besar dari 0.55. Jika ada variabel yang tidak melewati angka pembatas, maka variabel tersebut tidak termasuk kedalam tiga faktor yang terjadi.

Seperti pada variabel rasa tanggung jawab dari karakteristik tanggung jawab, variabel mernperhitungkan resiko dan suka resiko yang diperhitungkan dari

karakteristik lebih menyukai resiko menengah, variabel ingin taliu sebaik apa mereka bekerja dari karakteristik hasrat untuk mendapat umpan balik langsung, variabel bekerja lama dari karakteristik tingkat energi yang tinggi, Variabel rencana memdatang dari karakteristik orientasi ke depan, variabel tahu memihh orang yang tepat dan tenang dalam menghadapai masalah dengan bawahan dari karakteristik keterampilan mengorganisasi, serta variabel komitmen tinggi dan tetap bertahan dari karakteristik komitmen yang tinggi. Sepuluh variabel tersebut (dari 22 variabel) tidak dimasukkan dalam faktor 1, 2, ataupun 3, karena variabel- variabel tersebut tidak melewati angka pembatas atau cut of point lebih kecil sama dengan 0.55. Hal mi menunjukkan bahwa tidak ada korelasi antara variabel- variabel tersebut dengan factor 1, 2 atau 3, sehingga 10 variabel tersebut tidak dipersoalkan dalam menjalankan usahanya.

Misalnya yang pertama tentang tanggung jawab, dari hasil survei, para wirausaha kebanyakan tidak mau diklaim bahwa mereka adalah orang yang bertanggung jawab, tetapi mereka sebenarnya dalam hal bekerja sangat bertanggungjawab. Hal ini dibuktikan pada variabel suka menyelesaikan pekerjaan yang menjadi faktor pertama atau utama dalam menjalankan usahanya,

(11)

42

karena mereka merasa tidak nyaman apabila pekerjaannya tidak terselesaikan hari itu juga, dan biasanya mereka menambah waktu untuk dapat menyelesaikan pekerjaan tersebut.(seperti terdapat pada faktor pertama yaitu tingkat energi yang tinggi)

Sedangkan yang kedua yaitu variabel memperhitungkan resiko dan variabel suka resiko yang diperhitungkan, dari hasil survei menunjukkan baliwa kebanyakan para wirausaha tidak terlalu memperhitungkan resiko, karena mereka berpendapat bahwa jika resiko selalu diperhitungkan, maka pasti akan kehilangan kesempatan dan akhirnya usahanya tidak maju-maju atau tidak akan berkembang.

Dan dalam mengambil keputusan atau bertindak biasanya mereka sering menggunakan feelling dan pengalaman mereka.

Yang ketiga variabel sebaik apa mereka bekerja, dari hasil wawancara, para wirausaha tidak terlalu mempersoalkan sebaik apa mereka bekerja, tetapi mereka lebih mementingkan pendapatan yang akan mereka peroleh. Tetapi mereka juga tahu bahwa pendapatan akan bertambah besar jika terdapat kepercayaan pelanggan. (Seperti terdapat dalam faktor utama yaitu karakteristik hasrat untuk mendapat umpan balik langsung). Sehingga untuk mendapat hasil yang maksimal, mereka mau menerima masukan-masukan dari orang lain. Akan tetapi mereka sangat berpendirian teguh, yaitu dengan menerima kritika-kritikan atau saran- saran yang dianggap bermanfaat bagi perjalanan usahanya. Jadi mereka sangat mengetahui mana yang benar dan diperlukan dalam kelangsungan atau perkembangan usahanya. (Seperti yang termasuk dalam faktor 1 yaitu variabel suka meminta dan menerima masukkan dari orang lain).

Yang keempat adalah variabel dapat bekerja lama dengan mengabaikan rasa lelah. Para wirausaha mengatakan bahwa memang sebenarnya suka bekerja keras hingga tidak mengenal atau lupa waktu, tetapi mereka tetap membutuhkan istirahat atau bahkan refreshing.

Yang kelima adalah variabel rencana mendatang, dari hasil survei menunjukkan bahwa para wirausaha tidak memiliki rencana secara terinci hingga sampai 10 tahun mendatang tatapi mereka memiliki suatu tujuan yang jelas yaitu mereka harus mampu membiayai kebutuhan keluarganya. Seperti yang

(12)

43

diungkapkan oleh Zimmerer dan Scarbourough yang sudah dijelaskan dalain bab dua, pada tabel 2.1 perbedaan antara manajer dengan seorang wirausaha, bahwa wirausahawan memiliki konsep masa depan berdasarkan pada angan- angannya saja, sehingga mereka memiliki batas frustasi rendah, berbeda dengan seorang manajer.

Yang keenam adalah variabel tahu cara memilih orang yang tepat dan variabel tenang dalam menghadapi masalah dengan bawahannya. Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, bahwa sejak adanya krisis moneter tahun 1998, kebanyakan para wirausahawan kewalahan atau tidah tenang apabila menghadapi masalah dengan bawahannya. Karena para pekerjanya selalu mengutamakan haknya daripada kewajibannya, sehingga hasil dari pekerjaannya tidak produktif dan efisien. Hal ini yang menjadikan para wirausahawan tidak mampu dalam memilih orang atau pekerja yang tepat, diraenakan sifat dan kualitas para pekerja di negara kita.

Yang terakhir adalah variabel komitmen yang tinggi dan variabel tetap dan mampu bertahan. Dari hasil survei, seperti dalam pembahasan mengenai masalah menghahadapi bawahan, yaitu sejak adanya krisis ekonomi pada tahun 1998, para wirausaha kebanyakan tidak memiliki komitmen terhadap tindakannya. Karena mereka selalu was-was atau kawatir terhadap keadaan ekonomi negara kita yang tidak menentu atau tidak stabil, seperti salah satunya adalah terjadinya fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing terutama terhanap US dollar.

Dan akhirnya, dari 22 variabel tersebut hanya 12 variabel yang masuk ke dalam tiga factor. Karena seperti yang sudah dibahas sebelumya, factor loading dari 12 variabel tersebut telah melewati batas atau cut of points sebesar 0.55. Dari tiga factor yang paling dominan yang dibutuhkan untuk menjadi seorang wirausaha adalah faktor pertama, sedangkan faktor kedua dan ketiga merupakan faktor pendukung faktor pertama. Karena factor kedua dan ketiga memiliki nilai eigen atau eigenvalue dari factor dua dan tiga lebih rendah dari faktor satu.

Ketiga faktor yang memuat 12 variabel tersebut, antara lain :

(13)

44

1. Faktor 1 terdiri atas variabel menyelesaikan pekerjaan dari karakteristik tanggung jawab, variabel suka meminta dan menerima masukkan dari karakteristik hasrat untuk mendapat umpan balik langsung, variabel kerja keras adalah hal biasa dari karakteristik tingkat energi yang tinggi, dan variabel mempersoalkan besok dari karakteristik orientasi ke depan.

Dari hasil survei, seperti yang sudah dibahas sebelumnya, para wirausaha selalu mementingkan tanggung jawab, yaitu selalu menuntaskan pekerjaannya , mereka merasa tidak nyaman dan tidak tenang apabila pekerjaan mereka belum terselesaikan. Supaya pekerjaanya dapat terselesaikan biasanya mereka menambah waktu. Oleh karena itu kerja keras merupakan hal biasa bagi seorang wirausaha. Dan mereka banyakan tidak suka mempersoalkan apa yang terjadi kemarin, tetapi mereka lebih senang memikirkan rencana yang akan dilakukan atau dikerjakan besok (tetapi bukan merencanakan long time yaitu 10 tahun mendatang, tetapi yang short time, yaitu besok. Seperti yang sudah dibahas di atas), dan mereka berpendapat bahwa apa yang terjadi kemarin merupakan guru atau pelajaran / pengalaman yang paling berharga bagi dirinya. Dan semuanya itu untuk mendapat hasil yang optimal, mereka tidak enggan menerima masukan serta saran-saran yang bermanfaat bagi kemajuaan usahanya.

Keempat karakteristik tersebut sangat penting atau sangat berpengaruh dalam menjalankan usaha mereka.

Contohnya pada wirausaha toko spare part, alat olah raga, toko roti;

mereka mengatakan bahwa tanggung jawab itu sangat penting sekali, supaya dapat memperoleh kepercayaan dari para klien-nya atau customer.

Misalnya bila mereka telah menjanjikan sesuatu pekerjaan yang akan selesai pada tanggal tertentu, maka mereka wajib menyelesaikan pekerjaan tersebut tepat pada waktunya.

Begitu juga pada kerja keras, orientasi ke depan, dan hasrat untuk mendapat umpan balik sangat penting pengaruhnya dalam menjalankan usaha mereka. Bagi kebanyakan wirausaha (seperti toko spare part, toko

(14)

45

kin, toko roti, toko sepatu, olah raga, dan masih banyak yang lain). Kerja keras itu penting sekali, karena dengan kerja keras dapat merealisasikan tanggung jawab mereka kepada klien-nya; misalnya kalau mereka kerja santai-santai saja, bagaimana pekerjaan tersebut dapat terselesaikan.

Sedangkan orientasi ke depan, kebanyakan para wirausaha mengatakan,

"apalagi orientasi ke depan amat penting sekali!!", karena dapat memajukan usalianya, selalu ketingkat yang lebih baik, dan hal ini harus didukung oleh skill dan teknologi. Misalnya " kalau dulu mereka biasa dapat menggunakan kalkulator atau bahkan sinpoa, sekarang mereka harus menggunakan teknologi yang lebih canggih lagi yaitu komputer, karena tuntutan jaman dan pekerjaan yang mengharuskan mereka untuk menggunakannya. Dan orientasitasi ke depan penting, terutama dalam hal memikirkan trik-trik khusus untuk selalu memenuhi keingginan (selera) klien-ny&. Misalkan seperti pada toko kain, alat olah raga, toko mas, toko roti , toko computer, toko bangunan, toko elektronik; mereka selalu memesan jenis produk sesuai dengan keinginan pasar; dan untuk produk lama, mereka melakukan obral harga atau potongan harga agar produknya tetap laku dipasaran.

Serta hasrat untuk mendapat umpan balik; karakteristik ini juga sangat penting, karena bagi wirausaha, kritikan dan saran juga dapat memajukan usaha mereka, dan hal ini juga dapat mengataui keinginan klien-nya atau selera market.

Oleh karena itu, berdasarkan buku "Small Business Management"

oleh William L. Megginson, Merry Jane Byrd and Leon C.

Megginson, faktor 1 ini diberi nama Have A Strong Sense of Initiative, kerena memiliki ciri-ciri yang hampir sama; yaitu wirausahawan itu memiliki inisiatif yang kuat yang akan memberikan ide, kemampuan dan aspirasi unUik mencapai kemungkinan terbaik, dan juga memiliki rencana yang akan membawa kepada pencapaian tujuan. Serta kepekaan kuat terhadap inisiatif ini, membuat mereka dapat bekerja keras dalam waktu yang lama dan berambisius untuk mencapai tujuannya.

(15)

46

2. Faktor 2 terdiri atas variabel yakin berhasil dan percaya akan kemampuan dari karakteristik keyakinan atas kemampuan untuk berhasil; variabel sudah biasa dapat berubah dan variabel mampu menyesuaikan diri dari karakteristik fleksibilitas.

Faktor kedua ini merupakan faktor pendukung bagi faktor pertama untuk menjadi seorang wirausaha.

Berdasarkan hasil survei, kebanyakan dari wirausahawan selain bekerja keras, mereka hanis mempunyai keyakinan atas kemampuan untuk berhasil. Akan tetapi menurut mereka, yakin saja tanpa ada atau didasari dengan keria keras, hal tersebut tidak akan berhasil; dan juga apabila yakin akan kemampuan saja tetapi tidak merencanakan strategi atau trik-trik khusus untuk hari esok , seperti selalu melakukan perubahan produknya dengan memperhatikan selera para konsumennya. Misalnya dengan cara melakukan discount atau obral harga, supaya produk yang lama cepat habis dan diganti dengan produk yang baru dengan memiliki teknologi yang lebih canggih. Oleh karena itu, wirausaha merupakan orang yang flesibel. Dan fleksibel ini merupakan hal yang mudah untuk dilakukan karena tergantung situasi dan kondisi.

Maka dari itu, berdasarkan buku "How to be an Entrepreneur" , oleh Ian Phillipson, faktor ini lebih cocok diberi nama Positive Attitude To Live, karena salah satu dari karakteristik yang ada apa faktor 2 ini, memiliki kesamaan dengan karakteristik positive attitude to live, yaitu wirausahawan harus berjiwa optimis, yang artinya harus yakin pada apa yang akan ia kerjakan.

3. Faktor 3 terdiri atas variabel uang hanyalah cara untuk menghitung seberapa jauh pencapaian sasaran dan variabel uang hanya simbol

"prestasi" dari karakteristik menilai prestasi lebih tinggi daripada uang:

variabel tidak sukses coba lagi dan variabel kegagalan hanya hambatan sementara untuk pencapaian dari karakteristik keuletan.

Berdasarkan hasil survei kebanyakan wirausaha bekerja untuk mencapai laba bersih atau net income yang lebih besar dari hari kemarin.

(16)

47

Hal ini juga dinyatakan oleh Evan Douglas dalam buku yang berjudul

"Introduction to Entrepreneurship" yang telah dijelaskan dalam bab 2, yaitu pada sub judul "Faktor penyebab Seseorang Menjadi Wirausaha", yang menyatakan bahwa prospek kekayaan yang besar yang mendorong seseorang untuk menjadi wirausaha. Oleh karena itu, untuk mendapatkan penghasilan yang lebih baik dari hari kemarin, mereka berupaya untuk mendapatkan umpan balik berupa kepercayaan dari para pelanggannya.

Kepercayaan ini merupakan simbol prestasi mereka. Dan motivasi utama seorang wirausaha adalah uang.

Selain itu, para wirausaha memiliki keuletan dalam bekerja, tetapi tidak terlalu dominan karena hanya mendukung sebagian kecil saja. Karena kebanyakan wirausaha yang kami tehti, adalah solois. Kebanyakan mereka bekerja hanya memasarkan barangnya saja supaya laku di pasaran, berbeda dengan karyawan atau manajer yang selalu menghadapi tantangan dari pekerjaan yang diberikan atasannya

Maka dari itu, berdasarkan buku "Entrepreneurship" oleh Peggy Lambing and Charles R. Kuehl, faktor ini diberi nama A Passion For The Business, karena karakteristik yang ada pada faktor 3 ini, secara garis besar memiliki kesamaan dengan karakteristik a passion for the business, yaitu seorang wirausaha harus mempunyai semangat dalam bekerja.

Dari akhirnya, hasil analisa faktor di atas, dapat disimpulkan bahwa faktor karakteristik yang paling mempengaruhi wirausaha di kawasan Surabaya Pusat adalah FAKTOR HAVE A STRONG SENSE of INITIATIVE karena memiliki eigenvalue yang paling besar dan keempat variabel dalam faktor satu ini, memiliki korelasi terbesar.

Gambar

Tabel 4.1. Umur  Umur  27-30  31-34  35-38  39-42  43-46  47-50  50-54  55-58  Total  Jumlah 4 7 18 12 17 11 16 15 100  S umber: Olahan Data Penulis
Tabel 4.3. Tipe Wirausaha  Tipe Pekerjaan  Solois  Key-partner  Penemu-Peneliti  Workforce builder  Profesional  Total  Jumlah 77 13 7 2 1 100  Jumlah (%) 77 13 7 2 1 100
Tabel 4.4 Communalities  Communalities
Tabel 4.5 Total Variance Explained
+2

Referensi

Dokumen terkait

Uji analisis yang digunakan adalah uji dengan metode Chi-Square (χ 2 ). Dari hasil penelitian diperoleh bahwa : 1) Komunikasi interpersonal yang digunakan tenaga pendamping

Disahkan dalam rapat Pleno PPS tanggal 26 Februari 2013 PANITIA PEMUNGUTAN SUARA. Nama

Secara rata rata pencapaian sasaran dengan tujuan Peningkatan pelayanan prima hasil kegiatan statistik dengan sasaran strategis meningkatnya kualitas hubungan dengan

prefer the unfolding of a single matter of the truths of belief to thousand of illuminations, ecstasies, and instances of wonder- working”; “The final point of Sufi ways is

yang direkomendasikan Jika produk ini mengandung komponen dengan batas pemaparan, atmosfir tempat kerja pribadi atau pemantauan biologis mungkin akan diperlukan untuk

yang berisi gas) (dapat juga 3 jenis benda berbeda yang dimiliki oleh masing-masing kelompok yang merupakan benda dalam kategori zat pada, zat cair dan zat gas)..

Penerapan Teknik Behavior Contract untuk Meningkatkan Tanggung Jawab Pribadi Siswa Kelas XI-IPS 3 dalam Mengikuti Layanan Bimbingan dan Konseling di SMA Negeri 2

Rancangan model budidaya laut berbasis daya dukung lingkungan merupakan pengembangan model pengelolaan yang bertujuan memanfaatkan kawasan perairan untuk kegiatan