RESPON HASIL TANAMAN BAWANG MERAH (Allium ascolanicum L.) TERHADAP SISTEM JARAK TANAM DAN BERBAGAI PEMBERIAN
MULSA
RESPONSE OF RESULTS OF RED ONION PLANT (Allium ascolanicum L.) TOWARDS PLANTING AND VARIOUS SYSTEM OF MULSA
Muhammad Safrizal Anwar, Yekti Maryani*, Djoko Heru Pamungkas Fakultas Pertanian, Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa Yogyakarta.
*Email korespondensi: [email protected]
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui respon pertumbuhan dan hasil tanaman bawang merah (Allium ascolanicum L.) terhadap sistem jarak tanam dan pemberian mulsa. Penelitian dilaksanakan di Desa Kepuhan, Kelurahan Argorejo, Kecamatan Sedayu, Bantul, Yogyakarta, dengan ketinggian tempat ± 273 mdpl, suhu minimum 22ºC dan Suhu maksimum 30ºC, dengan jenis tanah adalah Regosol. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan februari sampai dengan bulan april 2020. Penelitian ini dilaksanakan menggunakan Rancangan acak kelompok lengkap dengan menggunakan dua faktor. faktor pertama yaitu jarak tanam bawang merah yaitu B1: 20 x 20 cm, B2 : 20 x 25 cm dan B3 : 20 x 30 cm. faktor kedua yaitu pemberian mulsa yaitu M1 kontrol, M2 mulsa plastik, dan M3 mulsa jerami. Variabel yang diamati yaitu tinggi tanaman (cm), Jumlah daun perumpun, jumlah anakan per rumpunan, bobot segar tanaman (g), bobot segar umbi per rumpun (g), bobot tanaman kering (g), bobot umbi kering per rumpun (g) dan hasil per hektar. Analisis data pengamatan dilakukan dengan menggunakan sidik ragam pada jenjang nyata 5%, sedangkan perbedaan antar perlakuan diuji dengan uji jarak berganda DMRT (Duncan Multiple Range Test) pada jenjang 5%. Dari penelitian yang saya lakukan diperoleh hasil terbaik pada jarak tanam 20 x 20 dengan pemberian mulsa plastik. Berdasarkan penelitian dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi interaksi sistem jarak tanam dan pemberian berbagai mulsa terhadap hasil tanamanan bawang merah. Perlakuan jarak tanam tidak berpengaruh nyata terhadap hasil tanaman bawang merah. Hasil tertingi adalah pada perlakuan jarak tanam 20 x 20 cm dan pemberian mulsa plastik memberikan hasil yang tertinggi.
Katakunci : sistem jarak tanam, pemberian berbagai mulsa, bawang merah
ABSTRACT
The purpose of this research is to determine growth response and the presence of shallots (Allium ascolanicum L.) on plant distance system and mulch application.
This research have been carried out at Kepuhan Village, Argorejo, Sedayu, Bantul, Yogyakarta, with a height of ± 273 meters above sea level, a minimum temperature of 22ºC and a maximum temperature of 30ºC with the type of soil is Regosol . The study was carried out using in February to April 2020. The study was carried out using a complete group of random design using two factor. the first factor is onion- growing distances B1: 20 x 20 cm, B2: 20 x 25 cm and B3: 20 x 30 cm. the second factor is mulching, with M1 is control, M2 is a plastic mulch, and M3 is a mulch of straw. The observed variables are plant height (cm), the number of plant leaves, the number of plant parts, the amount of plant anuses (g), the weight of fresh plant (g), the weight of dry plant (g),the weight of dry tubers per clump (g ) and yields per hectare. In the observation of yields per hectare, the results are calculated: Yield per hectare = (10,000 m2) / (plot size of sample children) x sample tuber weights.
Analysis of observational data was carried by fingerprints on real 5% cranes, while differences between treatment are tested with DMRT (Duncan Multiple Range Test) on 5% level. My research was obtained with the best possible results at 20 x 20 growing distances via plastic mulch. Studies have concluded that there is no interaction of interplanetary gardening and multicultural systems toward onion gardening. Comparisons plants have no real effect on the production of Onions. The highest yield was at 20 x 20 cm of growing distance treatment and at given plastic mulch.
Keywords: spacing system, provision of various mulch, onion
PENDAHULUAN
Bawang merah termasuk salah satu komoditas sayuran unggulan yang sejak lama telah diusahakan oleh petani secara intensif. Akan tetapi hasil produksi di Indonesia masih kurang dibandingkan dengan besarnya permintaan pasar domestik maupun ekspor. Dengan demikian untuk meningkatkan produktifitas dan mendukung pengembangan budidaya bawang merah diperlukan teknik budidaya yang tepat dan inovatif. Budidaya yang tepat dan inovatif yang akan diterapkan dalam penelitian ini adalah penggunaan mulsa dan pengaturan jarak tanam..
Penggunaan mulsa bertujuan untuk menekan pertumbuhan gulma, mencegah kehilangan air dari tanah sehingga kehilangan air dapat dikurangi sehingga temperatur dan kelembaban tanah relatif stabil. Penggunaan mulsa merupakan salah satu upaya memodifikasi kondisi lingkungan agar sesuai bagi tanaman, sehingga tanaman dapat tumbuh dan berkembang dengan baik (Sembiring, 2013).
Bawang merah merupakan salah satu komoditi holtikultura yang permintaannya cukup tinggi di Indonesia. Konsumsi bawang merah penduduk Indonesia sejak tahun 1993-2012 menunjukkan perkembangan yang fluktuatif namun relatif meningkat. Konsumsi rata-rata bawang merah untuk tahun 1993 adalah 1,33 kg/kapita/tahun dan pada tahun 2012 konsumsi bawang merah telah mencapai 2,764 kg/kapita/tahun (Dirjen Holtikultura, 2013). Tingkat konsumsi bawang merah tertinggi terjadi pada 2007 yang mencapai 3,014 kg/kapita/tahun dengan volume total permintaan bawang merah mencapai 901.102 ton (Badan Pusat Statistik, 2013).
Peningkatan permintaan bawang merah tersebut tidak diikuti dengan peningkatan produksi bawang merah nasional. Produksi bawang merah menunjukkan perkembangan negatif terhadap permintaan bawang merah.
Penurunan tingkat produksi bawang merah pada titik terendah terjadi pada tahun 1998 dimana Indonesia sedang mengalami krisis. Penurunan produksi bawang merah pada tahun 1998 mencapai 599.203 ton (Deptan Holtikultura, 2013).
Kekurangan produksi bawang merah yang sangat mengkhawatirkan terjadi pada tahun 2008 dimana produksi bawang merah adalah 853.615 ton sedangkan
permintaan bawang merah adalah 969.316 ton sehingga Indonesia mengalami kekurangan stok bawang merah tertinggi pada periode 2002-2012 yang mencapai 115.701 ton (Badan Pusat Statistik, 2013). Sebagai dampak kelanjutan kebijakan atas permasalahan tersebut, Indonesia menjadi salah satu negara net importir bawang merah.
Fluktuasi impor bawang merah menunjukkan peningkatan jumlah impor bawang merah dimana tahun 2002 sebesar 32.930 ton dan pada tahun 2008 mencapai 128.015 ton. Namu pada tahun 2009 terjadi penurunan jumlah impor bawang merah yang tajam yaitu menjadi 67.330 ton dan kembali mengalami peningkatan pada tahun 2011 menjadi 156.381 ton (Kementerian Pertanian, 2011 dan Badan Pusat Statistis, 2010). Penurunan impor tersebut diperkirakan karena terjadinya krisis ekonomi dunia di Eropa sehingga berpengaruh terhadap perdagangan Indonesia termasuk impor bawang merah. Dilakukannya impor bawang merah pada waktu yang tidak tepat jumlah dan waktunya memberikan dampak pada tingginya tingkat penawaran dan akan berdampak lanjut pada penurunan harga bawang merah itu sendiri.
Dengan terjadinya kelebihan pasokan impor bawang merah tersebut, pemerintah menerapkan kembali kebijakan harmonisasi tarief bea masuk pada tanggal 1 Januari 2005. Peraturan tersebut menjelaskan bahwa bawang merah yang masuk dikenakan tarif sebesar 25% pada tahun 2005-2010 dan turun menjadi 20%
pada tahun 2011 (Kementerian Keuangan, 2012). Kebijakan tarif impor Indonesia selalu mengalami perubahan sesuai dengan kondisi perekonomian nasional dan perdagangan internasional.
Produksi bawang merah domestik yang sulit berkembang salah satunya disebabkan oleh tingginya tingkat biaya produksi sehingga membuat harga bawang merah dalam negeri sangat mahal dan sulit untuk bersaing dengan harga bawang merah domestik tidak dapat bersaing dengan bawang merah impor. Impor bawang merah diduga akan menurunkan harga bawang merah domestik yang menjadi dampak lanjut dari tingginya volume impor bawang merah di Indonesia sehingga perlu dikaji bagaimana kondisi permintaan bawang merah domestik Indonesia serta
faktor-faktor yang turut mempengaruhi permintaan impor bawang merah di tengah minimnya produksi bawang merah domestik dan menyebabkan kelebihan pasokan bawang merah impor di dalam negeri.
Upaya peningkatan hasil selain dengan penggunaan mulsa yaitu dengan cara meningkatkan efisiensi penggunaan lahan. Efisiensi penggunaan lahan akan terwujud dengan pengaturan jarak tanam. Jarak tanam merupakan komponen bercocok tanam yang menentukan pertumbuhan tanaman. Pengaturan jarak tanam bisa meningkatkan efisiensi penggunaan lahan. Luas jarak tanam ditentukan oleh jenis tanaman tertentu (Safira, 2011).
Prospek pengembangan bawang merah sangat menjanjikan. Berdasarkan data Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian-Kementrian Pertanian (2017) menunjukkan bahwa konsumsi bawang merah per kapita pada tahun 2016 mengalami kenaikan dari tahun 2015 yaitu 2,713 kg/kapita/tahun menjadi 2,826 kg/kapita/tahun. Di sisi lain, permintaan bawang merah juga meningkat seiring dengan meningkatnya pertumbuhan jumlah penduduk. Kondisi tersebut perlu diimbangi dengan upaya untuk meningkatkan produksi bawang merah dalam memenuhi kebutuhan nasional (Rasoki et al., 2016).
Berdasarkan uraian tersebut di atas, maka dilakukan penelitian bawang merah dengan perlakuan berbagai pemberian mulsa dan jarak tanam, diharapkan akan mampu meningkatkan hasil bawang merah. Pengaturan jarak tanam akan mengetahui batas optimum pada hasil yang dicapai pada suatu lahan sehingga hasil umbi bawang merah dapat jauh lebih baik.
Penggunaan mulsa bertujuan untuk mencegah kehilangan air dari tanah sehingga kehilangan air dapat dikurangi dengan memelihara temperatur dan kelembaban tanah. Aplikasi mulsa merupakan salah satu upaya menekan pertumbuhan gulma, memodifikasi keseimbangan air, suhu dan kelembaban tanah serta menciptakan kondisi yang sesuai bagi tanaman, sehingga tanaman dapat tumbuh dan berkembang dengan baik (Mulyatri, 2003).
Disamping faktor penggunaan mulsa, faktor lain yang mempengaruhi
produktivitas bawang merah adalah jarak tanam. Pengaturan jarak tanam mempengaruhi populasi tanaman dalam kompetisi penggunaan cahaya, air dan unsur hara, yang berpengaruh pada pertumbuhan dan produksi. Jarak tanam yang rapat mengakibatkan jumlah populasi tanaman per satuan luas tinggi, sedangkan jarak tanam yang terlalu jarang akan mengakibatkan populasi tanaman per satuan luas menjadi rendah, sehingga produksi menjadi rendah. (Limbongan dan Maskar, 2003). Berdasarkan uraian di atas penulis tertarik melakukan penelitian mengenai pengaturan jarak tanam yang dikombinasikan dengan pengaplikasian mulsa dalam budidaya bawang merah.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini telah dilaksanakan di Desa Kepuhan, Kelurahan Argorejo, Kecamatan Sedayu, Bantul, Yogyakarta, dengan ketinggian tempat ± 273 mdpl, suhu minimum 22ºC dan Suhu maksimum 30ºC. Jenis tanah Regosol. Penelitian ini telah dilaksanakan pada bulan februari sampai dengan bulan april.
Alat yang digunakan dalam penelitian adalah meteran, cangkul, parang, kamera, alat tulis, timbangan, dan oven. Bahan yang digunakan dalam penelitian adalah benih tanaman bawang merah varietas Thailand, dan berbagai mulsa.
Penelitian ini dilaksanakan menggunakan munggunakan Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) faktorial dengan tiga ulangan. faktor pertama yaitu jarak tanam bawang merah yaitu B1: 20 x 20 cm, B2 : 20 x 25 cm dan B3 : 20 x 30 cm. faktor kedua yaitu pemberian mulsa yaitu M1 kontrol, M2 mulsa plastik, dan M3 mulsa jerami.
Variabel pengamatan saat telah panen atau tanaman di bongkar meliputi tinggi tanaman, jumlah daun, jumlah anakan per rumpun, bobot segar tanaman, bobot segar umbi per rumpun, bobot tanaman kering, bobot umbi kering per rumpun, dan hasil per hektar. Adapun, hasil pengamatan dianalisis dengan menggunakan sidik ragam pada jenjang nyata 5%, di lanjutkan dengan DMRT ( Duncan’s Multiple Range Test) pada jenjang 5%.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil pengamatan terdiri dari beberapa variabel, diantaranya tinggi tanaman, jumlah daun, jumlah anankan per rumpun, bobot segar tanaman, bobot segar umbi per rumpun, bobot tanaman kering, bobot umbi kering per rumpun, dan hasil per hektar. Data yang di peroleh disajikan dalam bentuk tabel sebagai berikut :
Tabel 1. Rerata tinggi tanaman, jumlah daun,bobot segar tanaman, bobot kering tanaman.
Perlakuan Parameter Tinggi tanaman
Jumlah daun
Bobot segar tanaman
Bobot kering tanaman Pemberian mulsa
kontrol 29,33 a 17,62 a 17,08 a 13,80 a
Plastik 28,60 a 15,64 a 17,53 a 14,11 a
Jerami 28,76 a 15,60 a 18,40 a 14,19 a
Jarak tanam
20 x 20 28,62 p 16,53 p 18,62 p 14,86 p
20 x 25 28,84 p 15,22 p 16,84 p 13,60 p
20 x 30 29,24 p 17,11 p 17,55 p 14,35 p
Keterangan : Angka yang dikuti dengan huruf yang sama menunjukan tidak ada beda nyata.
Pada tabel 1. Komponen pertumban yaitu tinggi tanaman, jumlah daun, bobot segar tanaman, dan bobot kering tanaman, menunjukan tidak ada interaksi antar perlakuan pemberian mulsa dan jarak tanam. Pada pengamatan tinggi tanaman tidak ada benda nyata pada berbagai taraf pemberian mulsa dan jarak tanam. Hal ini diduga perlakuan yang diberikan tidak memberikan dampak terhadap pertumbuhan vegetatif tanaman.
Salah satu bentuk interaksi antara satu populasi dengan populasi lain atau antara satu individu dengan individu lain adalah bersifat persaingan. Persaingan terjadi bila kedua individu mempunyai kebutuhan sarana pertumbuhan yang sama, sedangkan lingkungan tidak menyediakan kebutuhan tersebut dalam jumlah yang cukup. Persaingan ini akan berakibat negatif atau menghambat pertumbuhan individu-individu yang terlibat (Campbell et al. 2002).
Pada pengamatan komponen hasil yaitu umur panen, jumlah buah, bobot segar buah, dan diameter buah tidak menunjukkan adanya interaksi pada kombinasi perlakuan yang diberikan, berikut dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2. Rerata jumlah anakan, bobot segar umbi, bobot kering umbi, hasil per hektar.
Perlakuan Parameter
Jumlah anakan
Bobot segar umbi
Bobot kering umbi
Hasil per hektar Pemberian mulsa
kontrol 6,11 a 18,80 a 14,73 a 3,07 a
Plastik 5,73 a 20,62 a 15,97 a 3,30 a
Jerami 5,67 a 19,06 a 15,28 a 3,16 a
Jarak tanam
20 x 20 5,47 q 22,22 p 16,51 p 4,12 p
20 x 25 5,89 pq 18,53 p 14,97 p 2,99 q
20 x 30 6,16 p 17,73 p 14,57 p 2,41 q
Keterangan : Angka yang dikuti dengan huruf yang sama menunjukan tidak ada beda nyata.
Pada pengamatan bobot segar umbi dan bobot kering umbi menunjukkan tidak ada interaksi pada kombinasi perlakuan pemberian mulsa dan jarak tanam.Namun, pada masing- masing perlakuan yaitu pada perlakuan jumlah anakan dan hasil per hektar menunjukkan berbeda nyata. Hal tersebut menunjukkan bahwa adanya respon dari perlakuan yang diberikan terhadap perolehan jumlah anakan bawang merah. Pada pemberian mulsa kontrol dan jarak tanam 20 x 30 menunjukan hasil tertinggi untuk jumlah anakan bawang merah, hal tersebut diduga karena tanpa mulsa dan jarak tanam yang lebih lebar menyebabkan jumlah anakan pada umbi bawang merah mudah berkembang dan tinggat persaingan antar tanaman lebih
sedikit serta pemberian cahaya matari lebih optimal dari pada jarak tanam yang lebih rapat.
Sumarni et al. (2005) menambahkan bahwa jarak tanam yang lebih jarang memberikan kesempatan kepada tanaman untuk menyerap air lebih banyak sehingga dapat meningkatkan bobot basah baik per umbi maupun per tanaman.
Kerapatan tanaman mempengaruhi hasil umbi bawang merah, baik jumlah ataupun ukuran umbi yang dihasilkan (Stallen dan Hilman 2015). Pengaturan jarak tanam atau populasi tanaman berhubungan erat dengan tingkat kompetisi antar tanaman terhadap faktor pertumbuhan. Jarak tanam yang rapat mengakibatkan tingkat kompetisi lebih tinggi sehingga akan terdapat tanaman yang pertumbuhannya terhambat, baik karena ternaungi oleh tanaman sekitarnya atau karena kompetisi tanaman dalam mendapatkan air, unsur hara, dan oksigen (Firmansyah et al. 2009).
Pada pengamatan hasil per hektar menunjukkan tidak ada interaksi pada kombinasi perlakuan antara pemberian mulsa dan jarak tanam. Akan tetapi, pada masing-masing perlakuan yaitu pada perlakuan pemberian mulsa dan jarak tanam menunjukkan berbeda nyata. Hal ini menunjukkan bahwa adanya respon dari perlakuan yang diberikan terhadap hasil per hektar bawang merah, diduga pemberian mulsa atau pemasangan sungkup pada bawang merah mampu meningkatkan produktifitas umbi yang dihasilkan terutama karena keefisiensian penggunaan cahaya. Jumlah tanaman yang lebih banyak akan menurunkan pertumbuhan tanaman dikarenakan persaingan antar tanaman (Haryadi, 2015).
KESIMPULAN
Berdasarkan penelitian yang telah dilaksanakan dapat diambil kesimpulan bahwa tidak terjadi interaksi sistem jarak tanam dan pemberian berbagai mulsa terhadap hasil tanaman bawang merah. Perlakuan jarak tanam tidak berpengaruh nyata terhadap hasil tanaman bawang merah. Perlakuan pemberian mulsa tidak berpengaruh nyata terhadap hasil tanaman bawang merah. Perlakuan jarak tanam 20 x 20 cm dan pemberian mulsa plastik memberikan hasil yang tertinggi.
DAFTAR PUSTAKA
Agoes, D.N. 2015. Aneka Jenis Media Tanam dan Penggunaannya. Penebar Swadaya. Jakarta.
78 h. Campbell, NA. 2002. Biologi. Jilid II. Erlangga. Haryadi, S. S. 1996.
Pengantar Agronomi. Cetakan IV. Gramedia. Jakarta. 197 h.
Gustanti, Y., Chairul, Z. Syam. 2014. Pemberian mulsa jerami padi (Oryza sativa) terhadap gulma dan produksi tanaman kacang kedelai (Glycine max (L.) Merr). J. Bio. UA. 3(1): 73-79.
Limbongan J. dan Maskar, 2003. Potensi Pengembangan dan Ketersediaan Teknologi Bawang Merah Palu di Sulawesi Tengah. Jurnal Litbang Pertanian, 22(3):103-109.
Limbongan J. dan Maskar, 2003.. Potensi Pengembangan dan Ketersediaan Teknologi Bawang Merah Palu Di Sulawesi Tengah. Balai Pengkajian Teknologi Papua. J. Litbang Pertanian, 22 (3) : 54
Mahmood, M., K. Farroq, A. Hussain, and R. Sher. 2002. Effect of Mulching on Growth and Yield of Potato Crop. Asian Jurnal. Of Plant Sci. I (2); 122-133.
Mahmudi, S., H. Rianto, Historiawati. 2017. Pengaruh mulsa plastik hitam perak dan jarak tanam pada hasil bawang merah (Allium cepa var ascalonicum L.) varietas Biru Lancor. J. Ilmu Pert. Trop. Subtrop.2:60-62.
Mulyatri. 2003. Peranan pengolahan tanah dan bahan organik terhadap konservasi tanah dan air. Pros. Sem. Nas. Hasil-hasil Penelitian dan Pengkajian Teknologi Spesifik Lokasi
Noorhadi dan Sudadi., 2003. Kajian Pemberian Air dan Mulsa terhadap Iklim Mikro pada Tanaman Cabai di Tanah Entisol. Jurnal. Ilmu Tanah dan Lingkungan, 4 (1), pp 41- 49.
Salisbury, F.B. and C.W. Ross. 2017. Plant Physiology. Wadsworth Publ. Co.
Belmont California.
Sembiring, A. P. 2013. Pemanfaatan Mulsa Plastik Hitam Perak (MPHP) dalam Budidaya Cabai (Capsicum annuL). http://www.scribd.com/
doc/82000378/Pemanfaatan- Mulsa-PlastikHitam-Perak-MPHP-Dalam- Budidaya-CabaiCapsicum-annum-L. Diakses pada tanggal 14 juli 2014.
Sulistyaningsih E, B. Kurniasih dan E, Kurniasih. 2005. Pertumbuhan dan Hasil caisin pada Berbagai Warna Sungkup Plastik. Jurnal Ilmu Pertanian 12(1):65-76.
Sumarni N, Rosliani R, Suwandi. 2012. Optimasi jarak tanaman dan dosis pupuk NPK untuk produksi bawang merah dari benih umbi mini di dataran tinggi. J Hort 22 (2): 148-156