• Tidak ada hasil yang ditemukan

IMPLEMENTASI NILAI-NILAI PANCASILA PADA KARAKTER MAHASISWA JURUSAN PPKN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "IMPLEMENTASI NILAI-NILAI PANCASILA PADA KARAKTER MAHASISWA JURUSAN PPKN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR"

Copied!
107
0
0

Teks penuh

(1)

1 IMPLEMENTASI NILAI-NILAI PANCASILA PADA KARAKTER MAHASISWA JURUSAN PPKN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH

MAKASSAR

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat guna Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan pada Jurusan Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Fakultas

Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar

Oleh

Wisdayanti Ainun 105431102917

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN 2021

(2)

2 HALAMAN PENGESAHAN

(3)

3 HALAMAN PERSETUJUAN

(4)

4

SURAT PERNYATAAN

Saya yang bertanda tangan di bawah ini:

Nama : Wisdayanti Ainun

Nim : 105431102917

Jurusan : Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan

Judul Skripsi : Implementasi Nilai-nilai Pancasila Pada Karakter Mahasiswa Jurusan PPKn Universitas Muhammadiyah Makassar

Dengan ini menyatakan bahwa skripsi yang saya ajukan di depan tim penguji adalah hasil karya saya sendiri dan bukan hasil ciptaan orang lain atau dibuatkan oleh siapapun.

Demikian pernyataan ini saya buat dan saya bersedia menerima sanksi apabila pernyataan ini tidak benar.

Makassar, Juli 2021 Yang Membuat Pernyataan

Wisdayanti Ainun

(5)

5 SURAT PERJANJIAN

Saya yang bertanda tangan di bawah ini:

Nama : Wisdayanti Ainun NIM : 105431102917

Jurusan : Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Fakultas : Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Dengan ini menyatakan perjanjian sebagai berikut:

1. Mulai dari penyususnan proposal sampai selesai penyususnan skripsi ini, saya akan menyususun sendiri skripsi saya (tidak dibuatkan oleh siapapun).

2. Dalam menyusun skripsi, saya akan selalu melakukan konsultasi dengan pembimbing yang telah ditetapkan oleh pemimpin fakultas.

3. Saya tidak akan melakukan penjiplakan (Plagiat) dalam penyusunan skripsi.

4. Apabila saya melanggar perjanjian seperti pada butir 1, 2, dan 3, saya bersedia menerima sanksi sesuai dengan aturan yang berlaku.

Demikian perjanjian ini saya buat dengan penuh kesadaran.

Makassar, Juli 2021 Yang Membuat Perjanjian

Wisdayanti Ainun

Mengetahui Ketua Jurusan

Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan

Dr. Muhajir, M.Pd.

NBM. 988 461

(6)

6 MOTTO

“Jangan terlalu ambil hati dengan ucapan seseorang, kadang manusia punya mulut tapi belum tentu punya fikiran”

PERSEMBAHAN

Dengan penuh rasa syukur kepada Allah SWT., yang telah memberikan kemudahan, kekuatan serta pertolongan-Nya kepada saya.

Kupersembahkan karya sederhana ini pada yang sebenar-benarnya alasanku untuk tetap hidup, kedua orang tuaku yang tercinta

Ayahanda H. Jabal Nur. AS. S. Sos, MH dan Ibunda Hj. Rosmiati Atas segala peluh yang jatuh, untaian doa dan dukungan, linangan air mata, serta jutaan pengorbanan tak ternilai dan tak dapat diungkap oleh kata-kata.

Untuk semua guru dan dosen saya yang telah ikhlas membagikan ilmunya, dan teman- teman seperjuangan Pendidikan Pancasila Dan Kewarganegaraan

angkatan 2017.

(7)

7 ABSTRAK

Wisdayanti Ainun. 2021 “Implementasi Nilai – Nilai Pancasila Terhadap Karakter Mahasiswa Jurusan Ppkn Universitas Muhammadiyah Makassar.

Skripsi. Program studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar.

Pembimbing I Andi Sugiati dan Pembimbing II Rismawati.

Masalah utama dalam penelitian ini yaitu Implementasi Nilai-nilai Pancasila Terhadap Karakter Mahasiswa Jurusan PPKn Universitas Muhammadiyah Makassar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakter mahasiswa dalam pengimplementasian Nilai-nilai Pancasila.

Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan dua sumber data, pertama data Primer dan data sekunder, dan 10 informan.

Berdasarkan hasil observasi dapat di simpulkan bahwa ketiga sila yaitu nilai ketuhanan, nilai kemanusiaan, dan nilai persatuan semuanya terimplementasikan sebebab menurut nilai ketuhanan yang ada pada karakter mahasiswa merupakan wujud terima kasih kepada tuhan sedangkan nilai kemanusiaan sangat terlihat dari segi kemahassiswaan yang dimana mahasiswa dalam mengerjakan sesuatu saling membahu bahu dan menghargai pendapat satu sama lain begitupun dengan nilai persatuannya dalam hal ini masyarakat atau mahasiswa saling Bersatu dan bekerja sama demi terciptanya karakter yang baik dan tidak bertentangan dengan nilai – nilai Pancasila,

Kata Kunci : Nilai – Nilai Pancasila karakter, mahasiswa

(8)

8 ABSTRACT: Wisdayanti Ainun “Implementation of Pancasila Values on the Characters of Students in the Department of Civics, University of Muhammadiyah Makassar. Thesis. Pancasila Education and Citizenship Study Program, Faculty of Teacher Training and Education, University of Muhammadiyah Makassar.

Supervisor I Andi Sugiati and Supervisor II Rismawati.

The main problem in this research is the implementation of Pancasila values on the character of students in the PPKn Department, Muhammadiyah University of Makassar. This study aims to determine the character of students in the implementation of Pancasila values.

This type of research is a qualitative research with two sources of data, first primary data and secondary data, and 10 informants.

Based on the results of observations, it can be concluded that the three precepts, namely divinity, human values, and the value of togetherness are all implemented because according to the divine values that exist in the student's character, it is a form of gratitude to God while the human value is very visible in terms of student affairs where students work hand in hand. shoulder and respect each other's opinions as well as the value of unity in this case the community or students work together to create good character and do not conflict with the values of Pancasila, Keywords: Values of Pancasila Character

(9)

9

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Implementasi Nilai-nilai Pancasila Terhadap Karakter Mahasiswa Jurusan PPKn Universitas Muhammadiyah Makassar”

Skripsi ini merupakan tugas akhir yang diajukan untuk memenuhi syarat dalam memperoleh gelar sarjana Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan pada Fakultas Keguruan dan ilmu pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar.

Pada lembaran ini penulis hendak menyampaikan terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada kedua orang tua saya, ibunda Hj. Rosmiati dan Ayahanda H. Jabal Nur As. S, SOS, MH atas segala kasih sayang, cinta, pengorbanan serta doa yang tulus dan ikhlas yang senantiasa beliau panjatkan kepada Allah SWT sehingga menjadi pelita terang dan semangat yang luar biasa bagi penulis dalam menggapai cita-cita, serta seluruh keluarga besar penulis yang selalu memberi semangat dan dukungan disertai dengan pengorbanan yang tulus dan ikhlas. Penulis menyadari bahwa penyusunan skripsi ini tidak akan terwujud tanpa adanya bantuan dan dorongan dari berbagai pihak. Oleh karena itu pada kesempatan ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada yang terhormat, Ibunda Dr. Andi Sugiati, M.Pd Selaku pembimbing I dan Ibunda Rismawati, S.Pd., M.Pd. Selaku pembimbing II yang telah meluangkan

(10)

10 waktu dan tenaganya dalam membimbing dan memberikan saran dan petunjuk yang begitu berharga dari awal persiapan penelitian hingga selesainya skripsi ini.

Untuk itu pada kesempatan ini dengan segala kerendahan hati, penulis menghaturkan ucapan terima kasih yang sedalam-dalamnya serta penghargaan yang tak ternilai kepada:

1. Prof. Dr. H. Abd. Rahman Rahim, SE., MM, selaku Rektor Universitas Muhammadiyah Makassar.

2. Erwin Akib.,M.Pd., Ph.D, selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar

3. Dr. Muhajir, M.Pd., selaku Ketua Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan.

4. Dr. Andi Sugiati, M.Pd Selaku Pembimbing I dan Rismawati, S.Pd., M.Pd.

Selaku Pembimbing II yang dengan tulus membimbing penulis, melakukan koreksi dan perbaikan-perbaikan yang amat berharga sejak dari awal sampai selesainya skripsi ini.

5. Rekan-rekan seperjuangan PPKn 017 yang sejak awal perkualiahan pada tahap penyelesaian akhir atas kesetiaan dan dukungan yang telah diberikan.

6. kepada seluruh sahabat dan teman-teman lainnya yaitu Reskiani Mansur, Ayu Fauziah Suriadi, Susi Susanti, Muhajira Nurul Lutfiya, dan Berlian yang telah banyak membantu dan memotivasi penulis hingga akhirnya dapat menyelesaikan skripsi ini. yang tidak dapat penulis sebutkan nama- nama teman satu persatu yang memberikan ilmu dan pengamalan yang

(11)

11 tidak ternilai. Terima kasih.

7. Kepada Dwiki Alamsah.,S.Pd selaku sepupu dan Muh Firzah Riswanto., S.IP selaku kakak, saya ucapkan terima kasih sudah mengasih saran dan kerjasamanya sudah membantu mulai dari proposal sampai dengan skripsi.

8. Untuk mereka yang bertanyak kapan sarjana saya persembahkan skripsi ini sebagai jawaban.

Akhir kata penulis mengharapkan skripsi ini dapat memberikan manfaat kepada para pembaca guna menambah khasanah ilmu pengetahuan terutama yang berkaitan dengan PPKn ataupun berkaitan dengan judul karya ini serta bermanfaat pula untuk Almamater Kampus Biru Universitas Muhammadiyah Makassar

Penulis

Wisdayanti Ainun

(12)

12

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL………

PERSETUJUAN PEMBIMBING………..

SURAT PERNYATAAN……….

SURAT PERJANJIAN………..

MOTTO DAN PERSEMBAHAN………

ABSTRAK………

KATA PENGANTAR ... 1

DAFTAR ISI ... 12

DAFTAR TABEL……….. DAFTAR LAMPIRAN……….. BAB IPENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 15

B. Rumusan Masalah ... 17

C. Tujuan Penelitian ... 17

D. Manfaat Penelitian ... 17

BAB IITINJAUAN PUSTAKA, KERANGKA FIKIR A. Landasan Teori ... 19

1. Pengertian Implementasi dan Nilai ... 19

2. Implementasi nilai-nilai pancasila ... 30

3.Tinjauan Tentang Karakter ... 32

B. Kerangka Berpikir ... 44

Skema Kerangka Pikir: ... 47 BAB IIIMETODE PENELITIAN

(13)

13 A. Jenis dan Tipe Penelitian ... Error! Bookmark not defined.

B. Waktu dan Lokasi Penelitian ... 48 C. Sumber Data ... Error! Bookmark not defined.

D. Informan Penelitian ... 48 E. Instrumen Penelitian... 49 F. Teknik Pengumpulan Data ... 50 G. Teknik Analisis Data ... Error! Bookmark not defined.

BAB IVHASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Deskripsi Lokasi Penelitian... Error! Bookmark not defined.

B. Deskripsi Informan Penelitian ... 55 C. Hasil Penelitian ... 56 D. Pembahasan Hasil Penelitian ...

BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan………

B. Saran ………

DAFTAR PUSTAKA ... 68

(14)

14

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran Halaman 1. Pedoman Wawancara……….

2. Pedoman Observasi………

3. Hasil Wawancara………...

4. Dokumentasi………..

(15)

15

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Mahasiswa adalah salah satu elemen generasi muda, meskipun untuk sekarang ini tidak lagi sebagai elit yang amat eksklusif dibanding pada masa kebangkitan nasional dahulu akan tetapi kelompok ini, masih tetap memiliki posisi strategis dan prospektif. Paling tidak ada dua faktor yang dimiliki mahasiswa untuk bisa memainkan peranan di dalam menyongsong masa depan.

Pertama, mahasiswa adalah aset masa depan bangsa, karena mahasiswalah yang di harapkan mempunyai peluang untuk menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi.

Hal ini disebabkan karena, kedua-duanya menjadi alat penyelesai utama bagi tantangan kehidupan berbangsa masa kini dan di masa yang akan datang.

Kedua, mahasiswa adalah kelompok strategis yang memiliki peluang untuk mengembangkan idealismenya.Hanya dengan idealisme yang berkembang pada diri mahasiswa, jiwa dan semangat nasionalisme itu bisa tumbuh dengan subur.

Penelitian Berdasarkan hasil survei tersebut menunjukkan kondisi riil di perguruan tinggi negeri maupun masyarakat pada umumnya (pemuda) di seluruh indonesia bahwa semakin rendahnya pemahaman Pancasila sebagai pandangan hidup dan dasar dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di kalangan generasi penerus banyak mahasiswa yang lupa dengan substansi harfiah Pancasila.

Penyebab lain dari kondisi di atas disebabkan oleh faktor perkembangan zaman melalui globalisasi yang ditandai dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan

(16)

16 teknologi, sehingga mengikis kesadaran pemuda dan pemudi Indonesia khususnya mahasiswa Universitas Muhammadiyah Makassar dalam memahami identitas kebangsaannya.

Di Kampus Universitas Muhammadiyah Makassar Jalan Sultan Alauddin Kecamatan Rappocini Kota Makassar telah banyak mengalami perubahan dalam gaya hidup keadaan tradisional ke modernitas ini pun terjadi secara revolusi atau perubahan secara cepat perubahan yang terjadi pun karna tidak adanya kontrol dari orang tua yang berada di desa Tinggal di kota membuat seorang mahasiswi akan cepat berubah karna semuanya dilakukan dengan kehendaknya sendiri dan didukung oleh lingkungan sekitarnya.

Karakter bagi mahasiswa dapat menjadi alat kontrol di dalam melakukan suatu tindakan terhadap karakter dapat menjadi gambaran bagi mahasiswa dalam mengambil suatu keputusan atau dalam melakukan sesuatu yang baik atau yang buruk. Oleh karena itu, makna dari karakter harus lebih dipahami kembali dan diaplikasikan di dalam lingkungan mahasiswa yang realitanya lebih banyak

`mahasiswa yang tidak mengetahui makna karakter itu sendiri.

Akibatnya bermunculah mahasiswa-mahasiswi yang tidak memiliki akhlaqul karimah, seperti mahasiswa yang tidak memiliki sopan dan santun, pergaulan bebas antara mahasiswa dengan mahasiswa, Serta tidak mengikuti peraturan dan kebiasaan yang tumbuh dalam masyarakat Oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Implementasi Nilai-nilai Pancasila terhadap karakter mahasiswa di Kampus Universitas Muhammadiyah Makassar harapan besar dari hasil penelitian ini yaitu dapat menjadi acuan dan pedoman

(17)

17 bagi mahasiswa, masyarakat, serta orang tua untuk meminimalisir degradasi moral yang sedang melanda di zaman sekarang ini.

Fenomena tersebut, hal ini disebabkan oleh perkembangan zaman yang ditandai dengan pesatnya ilmu teknologi di era globalisasi seperti sekarang ini.

Berdasarkan uraian diatas, maka peneliti tertarik untuk meneliti tentang

“Implementasi Nilai-nilai Pancasila terhadap karakter mahasiswa jurusan PPKn Universitas Muhammadiyah Makassar”

B. Rumusan Masalah

Bagaimana implementasi sila pertama, kedua dan ketiga nilai-nilai Pancasila dalam pembentukan karakter mahasiswa universitas

Muhammadiyah Makassar?

C. Tujuan Penelitian

Untuk mengetahui implementasi nilai-nilai Pancasila pada karakter mahasiswa jurusan PPKn Universitas Muhammadiyah Makassar

D. Manfaat Penelitian

Diharapkan Penelitian ini dapat memberikan manfaat baik secara teoritis maupun praktis, manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah:

1. Manfaat Teoritis

a. Untuk mengembangkan ilmu pengetahuan tentang Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Muhammadiyah Makassar.

(18)

18 b. Untuk menambah wawasan keilmuan dan pengetahuan tentang

implementasi nilai-nilai Pancasila dengan kepatuhan norma agama di Universitas Muhammadiyah Makassar.

2. Manfaat Praktis a. Untuk penulis

Sebagai media untuk mentransformasikan ilmu yang diperoleh dari bangku kuliah dengan di lapangan guna menambah wawasan ilmu pengetahuan dan pengalaman.

b. Untuk Mahasiswa

Memberikan masukan kepada mahasiswaakan manfaat dari implementasi nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.

c. Untuk Pembaca

Sebagai literatur dalam pembelajaran bagi mahasiswa yang akan menyusun proposal dan menambah pengetahuan tentang implementasi nilai-nilai Pancasila.

(19)

19

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA, KERANGKA FIKIR

A. Landasan Teori

1. Pengertian Implementasi dan Nilai a) Implementasi

Implementasi itu mencakup “Proses bergerak menuju tujuan kebijakan dengan cara langkah administratif dan politik” Keberhasilan atau kegagalan implementasi sebagai demikian dapat dievaluasi dari sudut kemampuannya secara nyata dalam meneruskan atau mengoperasionalkan program-program yang telah dirancang sebelumya. Wahab (2010;187)

Sedangkan menurut Mazmanian dan Sabatier definisi implementasi adalah pelaksanaan dari kebijakan dasar hukum yang juga berbentuk perintah, keputusan, atau putusan pengadilan proses pelaksanaan berlangsung setelah sejumlah tahapan seperti tahapan pengesahan undang-undang, dan kemudian output dalam bentuk pelaksanaan keputusan kebijakan, dan seterusnya sampai kebijakan korektif yang bersangkutan.

Dari pengertian implementasi di atas, maka yang dimaksud dengan implementasi adalah proses pelaksanaan keputusan kebijaksanaan dalam bentuk undang-undang, peraturan pemerintah yang dilakukan oleh individu/pejabat sesuai dengan apa yang menjadi tujuan dari keputusan kebijaksanaan tersebut.

Pelaksanaan tersebut dapat dilakukan secara langsung melalui program- program(Peraturan Pemerintah, Peraturan Presiden, Keputusan Kepala Desa) dan turunan dari kebijakan publik.

(20)

20 Implementasi kebijakan publik harus dilakukan dalam konteks organisasi yang menyeluruh dengan tujuan dan target yang jelas, prioritas yang jelas serta sumber daya yang jelas pula Implementasi kebijakan merupakan suatu proses yang dinamis, dimana pelaksana kebijakan melakukan aktivitas atau kegiatan, sehingga pada akhirnya akan mendapat suatu hasil yang sesuai dengan tujuan atau sasaran kebijakan itu sendiri

Implementasi Nilai-nilai Pancasila sebagai dasar negara dan landasan idiologi bangsa Indonesia.Namun sebaliknya sakralisasi dan penggunaan berlebihan dari ideologi Negara dalam format politik orde baru banyak menuai kritik dan protes terhadap pancasila.Sejarah implementasi pancasila memang tidak menunjukkan garis lurus bukan dalam pengertian keabsahan Seminar Nasional Hukum 432 substansialnya, tetapi dalam konteks implementasinya.

Tantangan terhadap pancasila sebagai kristalisasi pandangan politik berbangsa dan bernegara bukan hanya berasal dari faktor domestik, tetapi juga dunia internasional. Pada zaman reformasi saat ini pengimplementasian Pancasila sangat dibutuhkan oleh masyarakat, karena di dalam pancasila terkandung nilai- nilai luhur bangsa Indonesia yang sesuai dengan kepribadian bangsa.Selain itu, kini zaman globalisasi begitu cepat menyangkiti negara-negara di seluruh dunia termasuk Indonesia. Gelombang demokratisasi, hak asasi manusia, neo- liberalisme, serta neo-konservatisme dan globalisme bahkan telah memasuki cara pandang dan cara berfikir masyarakat Indonesia. Hal demikian bisa meminggirkan Pancasila dan dapat menghadirkan sistem nilai dan idealisme baru yang bertentangan dengan kepribadian bangsa.Implementasi pancasila dalam

(21)

21 kehidupan bermasyarakat pada hakikatnya merupakan suatu realisasi praksis untuk mencapai tujuan bangsa.

b) Nilai

Arti nilai adalah tentang kesadaran yang disertai dengan gagasan tentang tindakan yang telah dilakukan seseorang, nilai dalam pengertian ini bisa baik atau buruk.

Oleh karena itu, setiap masyarakat harus mampu memaknainya dalam kehidupan yang dijalaninya. Setelah diulas mengenai pengertian nilai, selanjutnya tentang berbagai macam nilai. Nilai jika dilihat dari bentuknya terbagi menjadi 5 macam, yaitu nilai sosial, nilai kebenaran, nilai keindahan, nilai moral, dan nilai agama.

Berikut penjelasan dari 5 macam nilai tersebut:

1. Nilai Sosial

Nilai sosial adalah sesuatu yang telah tertanam dalam masyarakat dan berkaitan dengan sikap dan tindakan manusia di dalamnya. Kesimpulannya, nilai ini berkaitan dengan sikap manusia yang tidak dapat hidup mandiri dan membutuhkan bantuan orang lain.

Contoh nilai sosial adalah dalam tindakan dan perilaku individu dalam masyarakat, sering mendapat perhatian atau berbagai penilaian, seperti mencuri itu buruk dan membantu itu baik.

2. Nilai Kebenaran

Yang kedua adalah nilai kebenaran. Nilai ini berasal dari unsur akal manusia (rasio, kreativitas, dan akal). Nilai ini merupakan nilai mutlak yang dibawa sejak lahir, oleh karena itu banyak yang mengatakan bahwa nilai ini merupakan

(22)

22 pandangan alamiah dari Tuhan yang telah memberikan nilai. kebenaran melalui akal dan pikiran manusia.

Contoh nilai kebenaran adalah ketika seorang hakim bertugas memberikan sanksi kepada orang yang bersalah. Dia akan memberikan sanksi sesuai dengan kebenaran yang dia pegang.

3. Nilai Keindahan

Nilai keindahan adalah nilai yang bersumber dari unsur rasa pada setiap manusia, dengan nama lain disebut sebagai nilai “estetika”. Keindahan ini bersifat universal. Setiap orang membutuhkan kecantikan. Namun, satu orang ke orang lain akan menilai kecantikan secara berbeda.

Contoh nilai keindahan, misalnya dalam sebuah karya tari adalah keindahan. Namun, tarian yang berasal dari satu daerah akan berbeda dengan daerah lain, tergantung dari perasaan orang yang melihatnya.

4. Nilai Moral

Nilai moral adalah sistem penilaian yang bersumber dari kehendak dan kehendak (niat, etika). Dengan akhlak, manusia dapat bergaul dengan baik dengan manusia lainnya. Oleh karena itu nama lain dari nilai moral sering disebut dengan nilai kebaikan.

Contoh kasus nilai moral, adalah ketika seseorang berbicara dengan orang yang lebih tua, tentu dia akan menggunakan bahasa tutur yang lembut, ini merupakan nilai etika yang tinggi. Adapun bila keadaan ini merupakan ciri dari tatanan nilai dan tata krama yang perlu dijalankan.

(23)

23 5. Nilai Agama

Memahami nilai-nilai agama merupakan nilai ketuhanan yang sangat tinggi dan mutlak karena tidak dapat diganggu gugat. Nilai ini bersumber dari hidayah Tuhan Yang Maha Esa. cara menjalani hidup.

Contoh dari nilai religius ini adalah ketika berhubungan dengan Tuhan, seorang yang beriman tentunya harus beribadah menurut agamanya masing-masing.

Semua agama menjunjung tinggi nilai-nilai agama. setiap agama memiliki keyakinan yang berbeda. Meski demikian, tali persaudaraan tetap harus dijaga.

Dari sederet penjelasan mengenai makna nilai menurut para ahli dan berbagai macam nilai tersebut sangat penting untuk dihadirkan dalam kehidupan sehari-hari khususnya dalam kegiatan sosial. Salah satunya karena nilai dapat membuat seseorang terjauhkan dari perilaku menyimpang.

Adapun nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila yaitu:

 Nilai- Nilai Sila Pertama: Ketuhanan Yang MahaEsa

Sila pertama dalam Pancasila yang berbunyi Ketuhanan Yang Maha Esa sangat terlihat memiliki makna kebebasan beragama bagi masyarakat Indonesia di dalamnya. Sila ini membuat setiap warga negara Indonesia bebas untuk menganut dan menjalankan ibadah menurut agama dan kepercayaannya masing-masing. nilai- nilai yang terkandung dalam sila pertama pancasila:

1) Percaya kepada Tuhan

Keyakinan bangsa ini akan adanya Tuhan Yang Maha Esa dan sifat-sifat ketuhanan yang menyertainya. Misalnya, Maha Kuasa, Maha Bijaksana, Maha Adil, Maha Penyayang, Maha Pengampun, Maha Penyayang, dan sifat-sifat suci

(24)

24 lainnya yang hanya dimiliki oleh Tuhan. Keyakinan ini penting karena jika kita melihat sejarah yang dimiliki Indonesia sejak zaman prasejarah, bangsa ini sudah sangat lama percaya adanya Tuhan. Dan menjadi sesuatu yang bertentangan dengan Pancasila jika ada warga negara yang tidak percaya akan adanya Tuhan.

2) Kepercayaan terhadap Tuhan

Setiap keyakinan harus berjalan seiring dengan ketakwaan. Takwa dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti kesadaran diri yang diikuti dengan kesediaan untuk menaati segala perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya. Dengan takwa, maka seseorang akan tenang dalam hidupnya. Kesalehan sejati akan membawa suasana keagamaan yang damai di Indonesia.

3) Toleransi Antar Umat Beragama

Saat ini, ada enam agama yang diakui oleh peraturan perundang-undangan di Indonesia, yaitu Islam, Kristen Katolik, Kristen Protestan, Hindu, Budha, dan Konghucu. Perbedaan agama dan kepercayaan dijembatani oleh nilai toleransi antar umat beragama yang dibawa oleh sila dari Tuhan Yang Maha Esa. Jika tidak ada toleransi, maka bukan tidak mungkin akan terjadi perpecahan di antara penduduk Indonesia. Toleransi mengajarkan kita untuk saling menghormati dan menghargai antar umat beragama yang nantinya akan menciptakan persatuan dan kesatuan di Indonesia.

4) Kebebasan memeluk dan mengamalkan agama

Sila Ketuhanan Yang Maha Esa memberikan kebebasan yang bertanggung jawab bagi setiap warga negara Indonesia untuk memeluk agama yang sesuai dengan dirinya masing-masing. Tidak boleh ada paksaan dalam beragama. Agama

(25)

25 merupakan salah satu hak asasi manusia yang keberadaannya dilindungi oleh peraturan perundang-undangan. Oleh karena itu, menjaga ketentraman dalam beragama dan beribadah merupakan salah satu kewajiban pemerintah dan seluruh rakyat Indonesia.

 Nilai Sila Kedua: Kemanusiaan yang Adil dan Beradab

Sila kedua dalam Pancasila mewakili nilai-nilai kemanusiaan. Kita menyadari bahwa seluruh rakyat Indonesia adalah manusia yang notabene memiliki sejarah kelam kejahatan terhadap kemanusiaan selama ratusan tahun sehingga prinsip kemanusiaan yang adil dan beradab merupakan salah satu prinsip dasar bernegara yang harus dipatuhi oleh setiap warga negara. Negara Indonesia. Berikut uraian nilai-nilai yang terkandung dalam sila kedua Pancasila:

1) Kesetaraan Di Antara Setiap Warga Negara

Dulu, bangsa ini pernah mengalami sejarah panjang yang cukup kelam untuk dikenang. Namun sejarah panjang itu juga membuat kita semua semakin bijak dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Tentu kita semua tidak melupakan penderitaan ketidakadilan dan kebiadaban penjajah yang menimpa nenek moyang kita di masa lalu. Dengan prinsip kemanusiaan yang adil dan beradab, maka persamaan derajat seluruh umat manusia di negeri ini dijamin. Keadilan seharusnya tidak mahal bagi kita. Sila ini memerintahkan semua bangsa, baik pemerintah maupun rakyat, untuk berlaku adil dalam segala hal.

2) Simbol Pengakuan Atas Kemanusiaan

Kata beradab yang tercantum dalam rumusan sila kedua ini membuktikan sekaligus memperingatkan manusia agar selalu beradab pada setiap kesempatan

(26)

26 dalam hidupnya. Adanya adab kemanusiaan ini akan menghasilkan pengaruh positif yaitu rasa saling mencintai di antara sesama manusia dan mengembangkan sikap tenggang rasa sehingga ketertiban dan keamanan di tengah masyarakat kita.

Tenggang rasa sangat penting dilaksanakan oleh semua rakyat karena dengannya terjadi rasa saling hormat menghormati atau sayang menyayangi.

3) Berani Membela Kebenaran

Kebenaran dan keadilan adalah dua kata yang saling melengkapi. Ketika kita memaknai sila kemanusiaan yang adil dan beradab, maka kita dituntut untuk selalu menjunjung tinggi kebenaran dan keadilan di setiap kesempatan. Oleh karena itu, kita tidak boleh sewenang-wenang atau tidak adil kepada orang lain.

Bahkan ketika orang lain jahat kepada kita, maka kita tidak boleh begitu saja menerimanya. Kita harus selalu membela diri. Dengan demikian, kita telah menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.

4) Rasa Bangga pada Bangsa

Menjunjung tinggi kemanusiaan sama dengan bangsa ini mengangkat harkat dan martabatnya sendiri. Bangsa kita sama dengan semua bangsa di dunia ini. Tidak ada alasan mengapa bangsa Indonesia harus dipermalukan dalam pergaulan internasional. Sila ini mengajarkan kita bahwa kita harus bangga dengan diri kita sendiri. Rasa bangga ini juga harus kita kembangkan menjadi sikap saling menghormati dan kesiapan bekerja sama dengan bangsa lain dalam rangka mencapai tujuan pembangunan nasional.

(27)

27

 Dengan mengetahui nilai-nilai kemanusiaan yang adil dan beradab, diharapkan kita selalu menjunjung tinggi nilai kemanusiaan dan berani membela kebenaran dan keadilan.

 Nilai Sila Ketiga: Persatuan Indonesia

Sila ini merupakan salah satu ikatan antar warga negara Indonesia. Sebagai negara yang memiliki begitu banyak keragaman baik suku, agama, ras, adat istiadat, daerah, dan sebagainya, sila-sila tersebut menjadi angin segar yang dengan indahnya menjadikan persatuan sebagai dasar negara Indonesia. Berikut uraian lebih lanjut mengenai nilai-nilai yang terkandung dalam sila ketiga Pancasila:

 Rasa Kesatuan dan Kesatuan

Ratusan juta rakyat Indonesia adalah angka yang sangat besar untuk dipersatukan. Seringkali ada egoisme yang sudah menjadi fitrah manusia yang menjadi penyebab perpecahan. Prinsip persatuan Indonesia mengajarkan kita untuk selalu menjadi individu yang bertentangan dengan sifat egois ini. Kita diminta (dan wajib) menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dan berani membela kebenaran dan keadilan. Selain itu, sopan santun kita dalam kehidupan sehari-hari juga harus sesuai dengan sila Pancasila.

a. Nilai Sila Ketiga: Persatuan Indonesia

Sila ini merupakan salah satu ikatan antar warga negara Indonesia. Sebagai negara yang memiliki begitu banyak keragaman baik suku, agama, ras, adat istiadat, daerah, dan sebagainya, sila-sila tersebut menjadi angin segar

(28)

28 yang dengan indahnya menjadikan persatuan sebagai dasar negara Indonesia. Berikut uraian lebih lanjut mengenai nilai-nilai yang terkandung dalam sila ketiga Pancasila:

b. Rasa Kesatuan dan Kesatuan

Ratusan juta rakyat Indonesia adalah angka yang sangat besar untuk dipersatukan. Seringkali ada egoisme yang sudah menjadi fitrah manusia yang menjadi penyebab perpecahan. Prinsip persatuan Indonesia mengajarkan kita untuk selalu menjadi individu yang bertentangan dengan sifat egois ini. Kita diminta (dan wajib) selalu menempatkan rasa persatuan dan kesatuan, kepentingan dan keselamatan bangsa di atas kepentingan diri sendiri dan kepentingan kelompok.

c. Rela Berkorban Demi Bangsa dan Negara

Adanya persatuan di antara bangsa Indonesia membuat kita semakin mampu memperjuangkan kepentingan negara ini. Dengan mendengar atau membaca sila ketiga ini, kita mungkin langsung teringat perjuangan pada masa penjajahan yang bermodalkan persatuan bangsa Indonesia.

Oleh karena itu, sila ketiga mengajarkan kita untuk rela berkorban demi bangsa dan negara Indonesia. Jangan tanya apa yang bisa negara berikan kepada kita, tapi tanyakan pada diri sendiri, apa yang bisa kamu berikan untuk negara?

d. cinta tanah air

Persatuan Indonesia menunjukkan bahwa persatuan adalah kunci kemajuan dan kemakmuran Indonesia. Hal ini tidak lepas dari kenyataan bahwa salah satu nilai dari sila ketiga ini adalah cinta tanah air kita, Indonesia. Indonesia. Cinta juga

(29)

29 mengajarkan kita untuk menjaga pertahanan dan keamanan negara agar kedaulatan negara tetap terjaga dari ancaman luar negeri maupun dari ancaman dalam negeri.

 Mempromosikan Asosiasi dengan Bhinneka Tunggal Ika

Dulu, ketika masih banyak kerajaan yang menjalankan pemerintahan di seluruh Indonesia, hubungan antar kerajaan ini masih terkotak-kotak. Kini, setelah Indonesia merdeka dan menjadi satu bangsa, pergaulan antar suku dan adat di Indonesia bisa lebih maju dengan tetap mengedepankan persatuan dan kesatuan yang bercirikan Bhinneka Tunggal Ika, berbeda tapi tetap satu.

 Nilai-nilai dalam Sila Keempat: Demokrasi yang Dipimpin oleh Hikmat dalam Musyawarah/Perwakilan

Sila keempat merupakan cerminan dari eksistensi demokrasi di negeri ini.

Trauma masa lalu kolonialisme membuat para founding fathers negara memilih bentuk pemerintahan yang dianggap paling sesuai dengan pola masyarakat di negara ini. Berikut penjabaran lebih lanjut dari nilai-nilai yang terkandung dalam sila keempat Pancasila:

 Kedaulatan ada di tangan rakyat

Kata kerakyatan dalam rumusan sila keempat menunjukkan bahwa yang berkuasa di Indonesia tidak lain adalah rakyat Indonesia. Oleh karena itu, setiap kepentingan rakyat yang ditujukan untuk memajukan kesejahteraan umum rakyat harus dilaksanakan sepenuhnya.

(30)

30

 Kedaulatan ada di tangan rakyat

Kata kerakyatan dalam rumusan sila keempat menunjukkan bahwa yang berkuasa di Indonesia tidak lain adalah rakyat Indonesia. Oleh karena itu, setiap kepentingan rakyat yang ditujukan untuk memajukan kesejahteraan umum rakyat harus dilaksanakan sepenuhnya.

 Mengutamakan Musyawarah dalam Pengambilan Keputusan

Sila ini secara tegas meminta kita untuk selalu mengutamakan musyawarah dan mufakat untuk pengambilan keputusan mengenai beberapa bentuk penjabaran lebih lanjut dari sila keempat yang terdapat pada sila kelima. Sila kelima juga didasarkan pada semangat pelaksanaan utama dari sila keempat. Demokrasi dan keadilan sosial adalah dua hal yang saling eksklusif, saling terkait dan tidak dapat dipisahkan.

 Nilai dalam Sila Kelima: Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia.

a. Sila kelima ini mengajarkan kepada kita bahwa keadilan sosial harus dimiliki oleh seluruh rakyat Indonesia. Tidak boleh ada diskriminasi di Indonesia. Berikut penjabaran lebih lanjut dari nilai-nilai yang terkandung dalam sila kelima Pancasila:

b. Mengembangkan Perbuatan Mulia

Sila kelima lebih menekankan pada praktik individu dalam bergaul dengan orang lain. Sila ini meminta kita untuk selalu mengembangkan perbuatan mulia yang mencerminkan sikap kekeluargaan dan gotong royong

(31)

31 c. Menjaga Keseimbangan Hak dan Tanggung Jawab

Musyawarah untuk mencapai mufakat ini harus diisi dengan semangat kekeluargaan dan akal sehat menurut hati nurani.

d. Termasuk Nilai dalam Sila Kelima

Sebagai individu yang ingin berdaya, sila ini mengajarkan kepada kita untuk selalu melaksanakan kegiatan yang dilakukan dalam rangka mewujudkan pemerataan kemajuan dan keadilan sosial. Oleh karena itu, sebagai warga negara yang baik, kita harus berusaha sebaik mungkin untuk mewujudkannya. Itulah nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila yang dapat penulis sampaikan pada kesempatan kali ini.

1. implementasi nilai-nilai Pancasila

Pelaksanaan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti pelaksanaan, pelaksanaan, pertemuan kedua ini dimaksudkan untuk menemukan bentuk-bentuk tentang hal-hal yang telah disepakati sebelumnya (2005:427).

Implementasi adalah proses penerapan ide, konsep, kebijakan, atau inovasi dalam tindakan praktis sehingga berdampak, baik berupa perubahan pengetahuan, keterampilan dan nilai, serta sikap. Dalam Oxford Advance Learner's Dictionary disebutkan bahwa implementasi adalah “Put something into effect”. , sesuatu yang memberi akibat atau dampak) (Mulyasa, 2010:93).

Dari uraian di atas, yang dimaksud dengan implementasi Pancasila adalah operasionalisasi nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila tentang bagaimana, termasuk apa dan oleh siapa penerapan nilai-nilai tersebut

(32)

32 diwujudkan. Implementasi nilai-nilai Pancasila adalah proses penerapan ide, konsep, kebijakan. , aturan-aturan yang sesuai dengan nilai-nilai yang terkandung dalam pancasila, sehingga terjadi perubahan pada sekelompok orang yang diharapkan adanya perubahan. Pancasila tidak hanya sebagai dasar negara tetapi juga sebagai nilai-nilai yang dapat dihayati oleh bangsa Indonesia. Setiap sila yang terkandung dalam pancasila masing-masing memiliki makna tersendiri dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari sesuai dengan apa yang terkandung dalam makna tersebut, berikut beberapa contoh sikap positif yang sesuai dengan nilai pancasila dalam kehidupan sehari-hari.

1. Sikap yang benar dalam sila pertama

Sila pertama Pancasila berbunyi: Ketuhanan Yang Maha Esa Sila ini berkaitan dengan perilaku kita sebagai umat beragama terhadap Tuhan, contoh sikap yang mencerminkan sila ini:

a. Percaya dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa sesuai dengan ajaran agamanya masing-masing.

b. Melaksanakan perintah agama sesuai dengan ajaran masing- masing.

c. Saling menghormati antar agama.

d. Tidak memaksakan suatu agama kepada orang lain

(33)

33 2. Tinjauan Karakter

a. Definisi Karakter

Karakter adalah upaya yang disengaja untuk mengembangkan karakter yang baik berdasarkan kebijakan inti yang objektif baik bagi individu maupun masyarakat. Kebijakan inti di sini mengacu pada kebijakan fundamental dan sepuluh kebijakan esensial. Karakter berasal dari bahasa Yunani yang berarti menandai dan menitikberatkan pada bagaimana menerapkan nilai-nilai kebaikan dalam bentuk tindakan atau perilaku, sehingga orang yang tidak jujur, kejam, serakah, dan berperilaku sesuai dengan kaidah moral disebut karakter mulia. Secara etimologis, kata karakter dapat berarti sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang.

Orang berkarakter adalah orang yang berwatak, berkepribadian, berwatak, atau bermoral. Kepribadian adalah ciri atau ciri atau ciri khas seseorang yang berasal dari proses alam sebagai akibat yang diterima dari lingkungan, seperti keluarga pada masa kecil dan juga bawaan sejak lahir.

Karakter diartikan sebagai cara berpikir dan perilaku yang khas pada setiap individu untuk hidup dan bekerja sama, baik dalam lingkungan keluarga, masyarakat, bangsa dan negara. Individu dengan karakter yang baik adalah individu yang dapat mengambil keputusan dan siap bertanggung jawab atas segala akibat dari keputusannya. Karakter dapat diartikan sebagai nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan dan kebangsaan yang diwujudkan dalam

(34)

34 pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan. berdasarkan norma agama, tata krama, budaya, adat istiadat, dan etika.

Karakter adalah perilaku yang tampak dalam kehidupan sehari-hari dalam bersikap dan bertindak (Samani, et al., 2011: 42).

Menurut American Dictionary of the English Language (2001:2192), karakter didefinisikan sebagai sifat tegas dan khusus yang dibangun dalam kehidupan seseorang, yang menentukan responnya tanpa pengaruh kondisi yang ada (Agus Wibowo, 2013:41). .

Scerenco (1997) dalam Muchlas Sampani mendefinisikan karakter sebagai atribut atau karakteristik yang membentuk dan membedakan karakteristik pribadi, karakteristik etis dan kompleksitas mental seseorang, kelompok atau bangsa. (Ismail Muhammad Ilyas, 2012:7).

Oleh karena itu sangat baik jika perguruan tinggi menjalankan karakter.

Padahal, perguruan tinggi perlu terus berupaya menjadikan dirinya sebagai wadah terbaik bagi generasi muda untuk berkarakter. Setidaknya ada empat alasan mendasar mengapa perguruan tinggi saat ini perlu serius menjadikan dirinya sebagai tempat terbaik untuk berkarakter. Empat alasan tersebut adalah:

a. Karena banyak keluarga (tradisional dan non-tradisional) tidak menjalankan karakter;

b. Universitas bertujuan tidak hanya untuk membentuk siswa yang cerdas, tetapi juga siswa yang baik;

c. Kecerdasan seorang siswa hanya bermakna bila hanya dilandasi oleh kebaikan;

d. Karena membentuk mahasiswa berkarakter kuat bukan hanya tugas tambahan bagi dosen, tetapi juga tanggung jawab yang melekat pada perannya sebagai dosen.

(35)

35 b. Tujuan Karakter

1. Bertujuan untuk mendasarkan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang kuat dan mandiri serta rasa percaya diri. tanggung jawab masyarakat dan negara. (pilar budi pekerti, Muhammad yaumi, 2012, Universitas Muhammadiyah Alauddin Makassar).

2. Dari pendapat para ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa karakter adalah sesuatu yang terdapat pada diri seorang individu yang merupakan ciri kepribadian individu yang berbeda dengan orang lain yang berupa sikap, pikiran, dan tindakan. Karakteristik setiap individu berguna untuk hidup dan bekerja sama, baik dalam lingkungan keluarga, masyarakat, bangsa dan negara.

3. Karakter bertujuan untuk meningkatkan kualitas proses dan hasil pendidikan yang mengarah pada pembentukan karakter dan akhlak mulia peserta didik secara utuh, terpadu, dan seimbang, sesuai dengan standar kompetensi lulusan pada masing-masing satuan pendidikan. Melalui karakter, siswa diharapkan mampu secara mandiri meningkatkan dan menggunakan ilmunya, mengkaji dan menginternalisasi serta mempersonalisasikan nilai-nilai karakter dan akhlak mulia sehingga terwujud dalam perilaku sehari-hari.

(36)

36 Karakter pada tingkat satuan pendidikan mengarah pada terbentuknya budaya perguruan tinggi, yaitu nilai-nilai yang melandasi perilaku, tradisi, kebiasaan sehari-hari, dan simbol-simbol yang dipraktikkan oleh seluruh warga negara dan masyarakat sekitar. Budaya perguruan tinggi adalah ciri, watak atau watak, (Mulyasa, 2012:9).

c. Prinsip Karakter

Menurut Saminanto (2012:6) pendidikan karakter harus didasarkan pada prinsip- prinsip berikut:

a) Mengutamakan nilai-nilai etika dasar sebagai dasar budi pekerti

b) Mengidentifikasi karakter secara menyeluruh meliputi pikiran, perasaan, dan perilaku

c) Menggunakan pendekatan yang tajam, proaktif dan efektif untuk membangun karakter.

d. Pentingnya Karakter

Kesejahteraan suatu bangsa dimulai dengan kuatnya karakter warganya. Kata-kata ini diungkapkan oleh Marcus Tulius Cicero (106-43 SM), seorang sarjana Republik Roma, untuk mengingatkan semua warga Kekaisaran Romawi tentang manfaat praktis dari kebaikan dalam kehidupan nyata. Sejarah peradaban di berbagai belahan dunia membuktikan kebenaran itu. (Saptono, 2011:15)

Karakter sangat penting. Karakter lebih berharga daripada kecerdasan. Kestabilan hidup kita tergantung pada karakter kita. Karena karakter mampu membuat orang bertahan, memiliki stamina untuk terus berjuang, dan mampu mengatasi kesulitan dengan cara yang berarti. berarti.

Kita harus berfungsi dengan baik, sebagai sarana terbaik untuk memicu kebangkitan dan menggerakkan waktu. Perguruan tinggi di seluruh tanah air harus menjadikan dirinya universitas karakter, tempat terbaik untuk menumbuhkan karakter. (Saptono, 2011:17) Pendidikan tidak hanya mendidik peserta didik menjadi manusia yang cerdas, tetapi juga membangun kepribadiannya agar berakhlak mulia.

(37)

37 Karakter Baik Karakter muncul dalam kebiasaan. Oleh karena itu, seseorang dikatakan memiliki akhlak yang baik apabila dalam kehidupan sehari- hari yang sebenarnya memiliki tiga kebiasaan, yaitu: memikirkan hal-hal yang baik, menginginkan hal-hal yang baik, dan melakukan hal-hal yang baik. Isi dari karakter yang baik adalah kebaikan. Kebajikan adalah kecenderungan untuk melakukan perbuatan baik dari sudut pandang moral universal.

Menurut Lickona, ada dua kebajikan mendasar yang diperlukan untuk membentuk karakter yang baik, yaitu rasa hormat dan tanggung jawab. Kedua kebajikan tersebut merupakan nilai moral mendasar yang harus diajarkan dalam pendidikan karakter. Menghormati berarti mengungkapkan penghargaan untuk seseorang atau sesuatu. Hal ini diwujudkan dalam tiga bentuk, yaitu: penghargaan terhadap diri sendiri, orang lain, dan segala bentuk kehidupan beserta lingkungan yang mendukung kelestariannya. Demi rasa hormat, maka kita tidak boleh menyakiti orang lain. Jadi, rasa hormat adalah panen kewajiban tentang apa yang tidak boleh dilakukan.

Sedangkan tanggung jawab adalah perpanjangan dari rasa hormat. Ini adalah tindakan aktif untuk menanggapi secara aktif kebutuhan orang lain. Sebab, tidak cukup bila orang saja, misalnya, tidak menyakiti orang lain.

Dengan demikian, selain dua kebijakan dasar dan sepuluh kebajikan esensial, perguruan tinggi dapat menambahkan kebajikan lain dalam pendidikan karakter.

Dalam hal ini, misalnya, kebaikan yang terkandung dalam Pancasila, seperti:

menghargai perbedaan, toleransi, potensi perdamaian, kesopanan atau moderasi, kemanusiaan, keberadaan, kesetaraan, gotong royong, musyawarah, kebijaksanaan, keadilan, kesetiakawanan sosial dan kesederhanaan.

(38)

38 Jadi sambil tetap memperhatikan kebijakan fundamental dan kebijakan esensial universitas, biasanya mereka menyusun sendiri daftar nilai yang ingin mereka kembangkan melalui pendidikan karakter.

Justru dengan demikian pendidikan karakter akan relevan dan bermanfaat karena benar-benar menjawab kebutuhan riil dan pemeluk agama serta masyarakat yang menjadi konteks di mana universitas itu berada, yaitu pendidikan kontekstual.

(Saptono, 2011:20-22).

e. Konsep Karakter

Istilah karakter, dalam kajian Pusat Bahasa Kementerian Pendidikan Nasional diartikan sebagai “bawaan, hati, jiwa, kepribadian, budi pekerti, tingkah laku, kepribadian, fitrah, budi pekerti, tempramen, budi pekerti”. (Syahroni, 2015: 1).

Menurut Tadkiroatun Musfiroh, sebagaimana dikutip Syahroni, karakter mengacu pada serangkaian sikap, perilaku, motivasi, dan keterampilan. Dalam bahasa Yunani, karakter berarti “menandai” atau menandai dan memusatkan perhatian pada bagaimana menerapkan nilai kebaikan dalam bentuk tindakan atau perilaku.

Menurut Thomas Lickona, sebagaimana dikutip oleh Masnur Muslich bahwa karakter adalah kodrat seseorang dalam menanggapi situasi secara moral, yang diwujudkan dalam tindakan nyata melalui perilaku yang baik, jujur, tanggung jawab, menghormati orang lain dan karakter mulia lainnya (Muslich, 2011: 36- 39). ). Terkait dengan tujuan karakter, ada enam pilar utama yang dijadikan acuan, yaitu:

1. Trustworthiness, bentuk karakter yang menjadikan seseorang memiliki integritas, kejujuran dan loyalitas;

2. Fairless, suatu bentuk karakter yang membuat seseorang berpikiran terbuka dan tidak suka mengambil keuntungan dari orang lain;

3. Peduli, bentuk karakter yang membuat seseorang memiliki sikap peduli dan peduli;

(39)

39 4. Respect, bentuk karakter yang membuat seseorang selalu menghargai dan menghormati orang lain;

5. Kewarganegaraan, bentuk budi pekerti yang membuat seseorang sadar akan peraturan perundang-undangan dan peduli terhadap lingkungan alam;

6. Tanggung jawab, bentuk karakter yang menjadikan seseorang bertanggung jawab, disiplin.

7. Pembentukan Karakter Siswa Disorientasi dan disharmonisasi nilai yang sering dijumpai pada tataran kehidupan masyarakat dan penyimpangan yang terjadi di ranah publik, berdampak negatif terhadap pembentukan atau perkembangan karakter.

F. Proses Karakter

a. Dalam kamus besar bahasa Indonesia, karakter diartikan sebagai sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dengan orang lain, watak, dan budi pekerti. Sedangkan menurut Thomas Lickona, pendidikan karakter adalah tentang menjadi universitas yang berkarakter, dimana universitas merupakan tempat terbaik untuk menanamkan karakter.

b. Proses karakter itu sendiri didasarkan pada totalitas psikologis yang mencakup seluruh potensi individu manusia (kognitif, afektif, dan psikomotorik) dan fungsi dari totalitas sosial budaya dalam konteks interaksi keluarga, pendidikan dan masyarakat. Berdasarkan totalitas karakter psikologis dan sosial budaya dapat dikelompokkan sebagai berikut:

c. Latih hati, fikir, rasa/niat dan olah raga

(40)

40 d. Setia dan taqwa, jujur, amanah, adil, bertanggung jawab, empati, berani

mengambil resiko, pantang menyerah, rela berkorban, dan jiwa patriotik.

e. Ramah, hormat, toleran, peduli, suka menolong, gotong royong, nasionalis, kosmopolitan, mengutamakan kepentingan umum, bangga

f. Bersih dan sehat, disiplin, sportif, tangguh, andal, ulet, bersahabat, kooperatif, determinatif, kompetitif, ceria, gigih, cerdas, kritis, kreatif, inovatif, ingin tahu, berpikiran terbuka, produktif, seni yang berorientasi sains dan teknologi) dan reflektif .

Menurut Mochtar Buchori dalam salah satu tulisannya, ada yang salah dengan pendidikan karakter di Indonesia. Salah satu kesalahan terbesar adalah ketika

“pendidikan karakter” dirumuskan menjadi pelajaran agama, pelajaran kewarganegaraan atau karakter, yang program utamanya adalah pengenalan nilai- nilai kognitif (pengetahuan). hanya. Yang paling berbahaya hanyalah menghargai nilai secara afektif. (Retno, 2012: 8-10)

g. Elemen Karakter

Secara psikologis dan sosiologis pada manusia terdapat hal-hal yang berkaitan dengan pembentukan karakter. Unsur-unsur tersebut menunjukkan bagaimana karakter seseorang. Elemen-elemen ini meliputi:

1. Sikap

Sikap seseorang merupakan bagian dari karakter, bahkan dianggap sebagai cerminan dari karakter orang tersebut. Dalam hal ini, sikap seseorang terhadap sesuatu yang ada di hadapannya biasanya menunjukkan bagaimana karakter orang tersebut. Jadi semakin baik sikap seseorang maka akan semakin banyak dikatakan

(41)

41 orang yang berkarakter baik. Dan sebaliknya, semakin kurang baik sikap seseorang maka akan semakin banyak dikatakan orang yang berkarakter buruk.

2. Emosi

Emosi merupakan gejala dinamis dalam situasi yang dirasakan manusia, yang disertai dengan efeknya pada kesadaran, perilaku dan juga merupakan proses fisiologis. Tanpa emosi, kehidupan manusia akan terasa hambar karena manusia selalu hidup dengan berfikir dan merasa dan emosi identik dengan perasaan yang kuat.

3. karat

Kepercayaan adalah komponen kognitif manusia dari faktor sosio-psikologis.

Keyakinan bahwa sesuatu itu benar atau salah berdasarkan bukti, saran otoritas, pengalaman dan intuisi sangat penting dalam membangun karakter dan karakter manusia. Jadi kepercayaan memperkuat eksistensi diri dan memperkuat hubungan dengan orang lain.

2. Kebiasaan dan Kemauan

Kebiasaan merupakan aspek perilaku manusia yang bertahan, berlangsung secara otomatis dalam waktu yang lama, tidak direncanakan dan diulang berkali-kali.

Sedangkan wasiat adalah suatu keadaan yang sangat mencerminkan watak seseorang karena wasiat erat kaitannya dengan tindakan yang mencerminkan perilaku orang tersebut.

(42)

42 h. Berbagai Karakter

1. Sanguinis

Sanguinis adalah tipe karakteristik orang yang paling umum. Orang Sanguin memiliki ciri-ciri kepribadian sebagai berikut:

 Suka bersenang-senang

 Mudah bergaul dengan orang lain

 Memiliki energi yang besar Cenderung ekstrovert

 Aktif

 Optimis

 Impulsif

 Memiliki selera humor yang baik

 Ekspresif

 Jangan ragu untuk menunjukkan kasih sayang kepada orang lain

 Perhatian mudah teralihkan jika Anda bisa

 Kurang terorganisir

 Kompetitif

Orang yang memiliki tipe kepribadian optimis biasanya mendominasi dalam olahraga, politik, dan bisnis. Beberapa orang dianggap sebagai super optimis.

Individu dengan kepribadian ini sangat cerewet dan aktif, sehingga terkadang membuat orang disekitarnya merasa terganggu.

(43)

43 2. Melankolis

Selama ini melankolis memiliki konotasi seperti mudah sedih dan dikaitkan dengan sesuatu yang berbau depresi. Namun dari segi tipe temperamen, orang melankolis dikenal sebagai pribadi yang sangat berhati-hati, orang yang memiliki kepribadian ini adalah pemikir dan visioner. Selain ciri-ciri tersebut, orang melankolis juga memiliki ciri-ciri lain, seperti:

f. Sangat rinci

g. Menjunjung tinggi kualitas h. Patuhi aturan

i. Kecemasan jika berada di lingkungan baru j. Cenderung introvert dan introvert

k. Sangat logis, faktual, dan analitis dalam berpikir

l. Selalu buat rencana yang detail sebelum melakukan sesuatu m. Rapi

n. Tepat waktu

o. Tidak mau bertanya dan mencari tahu lebih banyak sebelum memutuskan sesuatu

p. Mudah curiga q. Menyeluruh 3. Koleris

Koleris adalah tipe kepribadian yang memiliki keinginan besar dan sangat focus pada tujuannya. Sifat-sifatnya yang lain juga menggambarkan

(44)

44 hal serupa, seperti:

 Cerdas

 Analitis dan logis

 Lebih suka bekerja sendiri

 Tidak terlalu suka basa basi

 Menyukai percakapan mendalam

 Lebih suka berkumpul dengan orang-orang sifat yang sama

 Konsistem dengan tujuannya

 Percaya diri

 Ekstrovert

 Mandiri

 Cenderung keras kepala

 kreatif

 tidak mudah terbawa arus pergaulan

Tipe kepribadian ini lebih jarang daripada tiga tipe lainnya. Orang koleris jarang berempati dengan orang lain, tetapi pada saat yang sama tidak mudah marah. Hanya saja mereka menyukainya apa adanya, sehingga banyak orang menganggapnya sebagai kemarahan, padahal tidak. Ciri-ciri tersebut membuat orang koleris cenderung menekuni bidang teknologi, statistik, teknik dan pemrograman dalam bekerja.

(45)

45 B. Kerangka Berpikir

Nilai-nilai Pancasila ada 5 sila nilai ketuhanan, nilai Ketuhanan adalah nilai-nilai yang mencerminkan Indonesia sebagai dasar negara agama. Artinya, setiap warga negara Indonesia menganut agama yang dipercaya. Nilai kemanusiaan, nilai kemanusiaan adalah nilai yang mengajarkan bahwa setiap warga negara Indonesia harus adil dan manusiawi kepada semua orang tanpa memandang perbedaan.

Nilai Persatuan Nilai persatuan merupakan nilai yang artinya warga negara Indonesia harus bersatu padu dan tidak boleh terpecah belah karena perbedaan. Nilai-nilai Rakyat, nilai-nilai rakyat adalah nilai-nilai yang menunjukkan bahwa Negara harus mendahulukan rakyat. Nilai keadilan Nilai keadilan merupakan nilai yang mengajarkan bahwa setiap warga negara Indonesia harus berlaku adil kepada semua orang tanpa membeda-bedakan.

Menerapkan karakter bangsa pada diri siswa memerlukan strategi khusus. Selain sebagai pribadi akademis yang kritis, karakternya juga unik karena yang dibicarakan adalah manusia. Manusia adalah makhluk yang cerdas (mampu mengendalikan makhluk lain). Karena manusia dilengkapi dengan pikiran, maka manusia juga didefinisikan sebagai makhluk hidup yang dilengkapi dengan pikiran, yang dapat menggunakan dan memberdayakan pikirannya.

Karakter dapat diartikan sebagai nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan dan kebangsaan yang diwujudkan dalam pikiran, sikap, perasaan,

(46)

46 perkataan, dan tindakan. Berdasarkan norma agama, tata krama, budaya, adat istiadat.

(47)

47 Skema Kerangka Pikir:

Universitas Muhammadiyah Makassar

Implementasi Nilai-nilai Pancasila terhadap Karakter Mahasiswa

PPKn 2017 1. Nilai Ketuhanan 2. Nilai Kemanusiaan 3. Nilai Persatuan

Mahasiswa PPKn 2017

Mahasiswa Memiliki Karakter yang

Sesuai Dengan Nilai-nilai Pancasila

(48)

48

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Dalam penelitian ini penulis menggunakan penelitian kualitatif karena data yang dikumpulkan tidak berupa angka-angka tetapi data tersebut berasal dari wawancara, catatan lapangan, dokumen pribadi, catatan memo, dan dokumen resmi lainnya. secara empiris dibalik fenomena tersebut secara detail, mendalam, dan teliti tentang sumber data.

B. Waktu dan Lokasi Penelitian

Waktu penelitian yang dibutuhkan dalam penelitian ini adalah kurang lebih 2 bulan setelah dikeluarkannya izin penelitian.

Lokasi penelitian ini berada di Kampus Universitas Muhammadiyah Makassar.

C. Sumber Data

Sumber data dibedakan menjadi dua, yaitu data primer dan data sekunder. Data primer adalah data yang diperoleh peneliti secara langsung (dari tangan pertama), sedangkan data sekunder adalah data yang diperoleh peneliti dari sumber yang ada. Berdasarkan uraian tersebut, sumber data dibedakan menjadi dua, yaitu:

1. Data primer, yang diperoleh langsung dari informan yang bersangkutan dengan cara wawancara untuk mendapatkan jawaban terkait Penerapan

(49)

49 Nilai-Nilai Pancasila pada Karakter Mahasiswa di Jurusan PPKn Universitas Muhammadiyah Makassar.

2. Data sekunder, yaitu diperoleh dari literatur dan dokumen serta data yang diambil dari instansi yang bersangkutan, atau perorangan dari pihak-pihak yang telah mengumpulkan dan mentransfernya, seperti data hasil wawancara dengan masyarakat, foto-foto, buku-buku dan lain-lain yang relevan dengan riset. Hal ini diperoleh dengan cara mencari dengan mengumpulkan data dari informasi baik berupa tulisan maupun gambar dan tulisan yang berhubungan dengan penelitian. Dalam hal ini sumber data diperoleh dari Kampus Universitas Muhammadiyah Makassar.

D. Informan Penelitian

Informan penelitian adalah orang-orang yang dapat memberikn informasi.

Informan penelitian adalah sesuatu baik orang, benda ataupun lembaga (organisasi), yang sifat keadaanya diteliti,(Sukandarumi, 2002 : 65). Informan penelitian dalam penelitian ini adalah:

1. Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Jurusan PPKn Angkatan 2016 sebanyak 10 Orang

No Informan Umur Jenis Kelamin

1. AFS 24 Tahun Laki-laki

2. HR 23 Tahun Laki-laki

3. NR 23 Tahun Perempuan

4. NAA 22 Tahun Perempuan

5. AEK 24 Tahun Laki-laki

6. AR 23 Tahun Laki-laki

(50)

50

7. AK 23 Tahun Perempuan

8. MIR 23 Tahun Laki-laki

9. MI 24 Tahun Laki-laki

10. SAAJ 22 Tahun Laki-laki

E. Teknik pengumpulan data

Adapun teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Pengamatan

Teknik ini merupakan pengamatan yang dilakukan secara langsung terhadap objek yang akan diteliti guna memperoleh informasi berupa informasi, data dan fakta-fakta yang akurat terkait dengan objek penelitian. Teknik ini juga dapat digunakan untuk menentukan tingkat keseimbangan antara informasi informan atau responden dengan data pada kenyataan yang ada dengan melakukan pengamatan langsung terhadap objek dan memperhatikan validitasnya. Observasi diartikan sebagai pengamatan dan pencatatan secara sistematis terhadap gejala atau masalah yang muncul pada objek penelitian.

2. Wawancara

Wawancara digunakan dalam teknik pengumpulan data sebagai studi awal untuk menemukan berbagai permasalahan yang akan diteliti, dan apabila peneliti ingin mengetahui sesuatu dari responden secara lebih akurat dengan jumlah responden yang sedikit. Peneliti akan melakukan wawancara langsung secara mendalam dengan informan yang menjadi objek penelitian

(51)

51 2. Dokumentasi

Dokumentasi yang peneliti lakukan adalah segala bentuk dokumentasi tertulis yang dapat digunakan untuk melengkapi data lainnya. Dokumentasi dapat berupa foto, video, diary dan catatan lainnya.

F. Teknik analisis data

Teknik analisis data yang digunakan adalah metode deskriptif analitis, yaitu mendeskripsikan data yang dikumpulkan dalam bentuk kata-kata, gambar, dan bukan angka. realitas.

Analisis data dalam penelitian kualitatif dilakukan sejak memasuki lapangan, saat di lapangan dan setelah selesai di lapangan. Terkait hal tersebut, Nasution menyatakan: “Analisis sudah dimulai sejak merumuskan dan menjelaskan masalah, sebelum terjun ke lapangan dan berlanjut hingga penulisan hasil penelitian.

Namun dalam penelitian kualitatif, analisis data lebih difokuskan pada proses lapangan beserta pengumpulan datanya. Padahal, 12analisis data dalam penelitian kualitatif merupakan kegiatan lanjutan yang terjadi selama proses investigasi dan bukan setelah proses. Padahal, analisis data kualitatif Sudarto, metodologi penelitian Filsafat, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1997), hlm. 66,59 terjadi selama proses pengumpulan data daripada setelah selesainya pengumpulan data.”

Analisis data menjadi penelitian. Analisis data adalah dasar untuk penelitian lebih lanjut, jika mungkin, grounded theory

(52)

52 1. Reduksi data diartikan sebagai proses pemilihan, pemusatan, penyederhanaan, pengabstraksian, dan transformasi data “kasar” yang muncul dari catatan lapangan. Reduksi dilakukan sejak pengumpulan data dimulai dengan membuat rangkuman, pengkodean, penelusuran tema, penulisan memo, dan sebagainya, dengan maksud untuk menyisipkan data atau informasi yang tidak relevan, kemudian data tersebut diverifikasi.

2. Penyajian data adalah deskripsi dari sekumpulan informasi terstruktur yang memberikan kemungkinan untuk menarik kesimpulan dan mengambil tindakan. Penyajian data kualitatif disajikan dalam bentuk teks naratif dengan tujuan dirancang untuk memadukan informasi yang tersusun dalam bentuk yang runtut dan mudah dipahami.

3. Penarikan kesimpulan atau verifikasi merupakan kegiatan akhir dari penelitian kualitatif, peneliti harus sampai pada 18 Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan, Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, R&D, Bandung, Alfabeta, 2008), Cet. 6, hal. 335-336. 19 Husaini Usman dan Purnomo Setiadi Akbar, Metodologi Penelitian Sosial, (Jakarta; PT Bumi Aksara, 2009). 85-86, 60 kesimpulan dan verifikasi, baik dari segi makna maupun kebenaran kesimpulan yang disepakati oleh tempat penelitian dilakukan.

Makna yang dirumuskan oleh penelitian dari data tersebut harus diuji kebenarannya, kesesuaiannya, dan kekokohannya.

Peneliti harus menyadari bahwa dalam mencari makna harus menggunakan pendekatan emic, yaitu dari sudut pandang informasi kunci,

(53)

53 dan bukan interpretasi makna menurut sudut pandang peneliti (sudut pandang etis).

(54)

54

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Deskripsi Tempat Penelitian

Penelitian ini dilakukan di kampus Universitas Muhammadiyah Makassar yang terletak di kecamatan tersebut. Rappocini, Ex. Gunung Sari, Jalan Sultan Alauddin Makassar, Unismuh Makassar sendiri merupakan salah satu Perguruan Tinggi Muhammadiyah yang merupakan amal usaha Muhammadiyah dalam mengembangkan pendidikan khususnya pada jenjang pendidikan tinggi di Kota Makassar, dan Kota Makassar sendiri merupakan kota metropolitan terbesar di Indonesia Timur. Makassar. sendiri terletak di pesisir barat daya pulau sulawesi dan berbatasan dengan selat makassar di sebelah barat. Alasan pemilihan judul ini karena ingin mengetahui apakah mahasiswa memahami dengan benar dan telah menerapkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari, memilih mahasiswa Prodi PKn sebagai informan karena memudahkan dalam melakukan penelitian ini.

Berdasarkan pandangan hidup pancasila dan tujuan hidup dalam pancasila, maka diantara pandangan dan tujuan tersebut terdapat cara yang harus dilaksanakan untuk menyesuaikan pandangan hidup dengan tujuan hidup yang ingin dicapai dengan pancasila ini, yaitu cara hidup. melaksanakan pengamalan pancasila itu sendiri merupakan pandangan hidup bangsa indonesia dengan berpedoman pancasila berarti juga memelihara nilai-nilai luhur yang menjadi kepribadian bangsa indonesia yang diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari dan mewariskannya kepada generasi penerus dengan menyesuaikan perkembangan

(55)

55 masyarakat modern. Oleh karena itu, Pancasila dalam kehidupan sehari-hari harus dijelaskan dengan bahasa yang jelas dan mudah dipahami oleh seluruh warga bangsa dan rakyat Indonesia. Penerapan Pancasila dalam kehidupan bermasyarakat pada hakikatnya merupakan realisasi praktis untuk mencapai tujuan bangsa.

a) Visi dan Misi Universitas Muhammadiyah Makassar

Visi Unismuh adalah menjadi pusat perintisan pengembangan nilai-nilai moral luhur serta keunggulan akademik dan intelektual serta mengintegrasikan kapasitas, potensi, dan kepribadian manusia menuju pembangunan masyarakat yang lebih beradab. Secara Singkat Visi Universitas Muhammadiyah Makassar.

Misi Universitas Muhammadiyah Makassar :

1. Menyelenggarakan proses pendidikan untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan;

2. Menyelenggarakan dan mengembangkan proses pembelajaran yang kreatif, inovatif, efektif, dan menyenangkan;

3. Mengembangkan dan menyebarluaskan penelitian dan inovasi, keunggulan dan daya saing;

4. Mengembangkan kemitraan dan kewirausahaan berbasis ukhuwah;

1) Deskripsi Informan Penelitian

Informan (subjek) dari penelitian ini terdiri dari 10 yaitu mahasiswa prodi PPKn, berikut ini profil dari masing-masing informan

(56)

56 Tabel 4.1 Data-data Informan

No Informan Umur Jenis Kelamin

1. AFS 22 Tahun Laki-laki

2. HR 23 Tahun Laki-laki

3. NR 23 Tahun Perempuan

4. NAA 22 Tahun Perempuan

5. AEK 24 Tahun Laki-laki

6. SAAJ 22 Tahun Laki-laki

7. AR 23 Tahun Laki-laki

8. AK 23 Tahun Perempuan

9. MIR 24 Tahun Laki-laki

10. MI 24 Tahun Laki-laki

B. Hasil Penelitian

1. Penerapan sila pertama, kedua, dan ketiga Pancasila dalam pembentukan karakter mahasiswa Universitas Muhammadiyah Makassar.

Penelitian Penerapan Nilai-nilai Pancasila pada Karakter Mahasiswa Jurusan PKn Universitas Muhammadiyah Makassar. Berdasarkan penelitian yang dilakukan melalui wawancara dengan 10 informan, diketahui bahwa seluruh jawaban yang diberikan oleh informan sebagaimana terlampir pada lampiran sangat baik dan jelas penerapan nilai-nilai Pancasila dalam karakter pribadi sehari-hari. Seperti kita ketahui Universitas Muhammadiyah Makassar dalam mendidik mahasiswanya juga sangat menanamkan jiwa nasionalisme, dan juga

Referensi

Dokumen terkait

Perkembangan teknologi komunikasi dan internet yang sangat menjanjikan di satu pihak, dan jumlah pengguna media sosial, khususnya dari kalangan generasi muda yang semakin

Berdasarkan hasil penelitian menyatakan bahwa motivasi belajar mahasiswa program PJJ Telkom University tahun akademik 2013/2014 tergolong baik dengan persentase

Deskripsi hasil Penelitian Tindakan Kelas ,yang bezjudul “Peningkatan Aktivitas Siswa Dalam Pelajaran Ilmu Pengerahuan Sosial Dengan MenggunakanMedia Gambar Pada

Pada laporan akhir program kreativitas mahasiswa ini, dengan judul “Optimasi Penyandang Cacat Menuju Kemandirian Finansial” akan dipaparkan bagaimana penyandang

Dengan tidak terakomodirnya paradigma green growth economic melalui pemenuhan prinsip triple bottom line dalam praktik perkebunan maka selain sudah menyimpang dari

Para netizen tak sedikit yang mengunggah di akun masing-masing dengan pesan bahwa seorang youtuber harus menghargai setiap pekerjaan manusia dan bisa menggunakan

penilaian Bapak/Ibu. Untuk penilaian umum, dimohon Bapak/Ibu melingkari huruf yang sesuai dengan penilaian Bapak/Ibu. Untuk saran-saran revisi, Bapak/Ibu dapat langsung

Tanggal 20 febuari 2017 perawat menerapkan SP 1 yaitu membina hubungan saling percaya (BHSP), membantu klien mengenal penyebab perilaku kekerasan, membantu klien