• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Model ini mempunyai asumsi bahwa komponen-komponen komunikasi

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Model ini mempunyai asumsi bahwa komponen-komponen komunikasi"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

16

Model ini mempunyai asumsi bahwa komponen-komponen komunikasi (komunikator, pesan, media) amat perkasa dalam mempengaruhi komunikasi.

Disebut jarum Hipodermik karena dalam model ini dikesankan seakan-akan komunikasi disuntikkan ke dalam jiwa komunikan, sebagaimana obat disimpan dan disebarkan dalam tubuh sehingga terjadi perubahan dalam system fisik begitupula pesan-pesan persuasive mengubah sistem psikologis.

Model jarum suntik pada dasarnya adalah aliran satu tahap (one step flow) yaitu media massa langsung kepada khalayak sebagai mass audiance. Model ini mengasumsikan media massa secara langsung, cepat dan mempunyai efek yang amat kuat atas mass audiance. Media massa ini sepadan dengan teori Stimulus- Response (S-R) yang mekanistis dan sering digunakan pada penelitian psikologi

antara tahun 1930 dan 1940. Teori S-R mengajarkan, setiap stimulus akan

menghasilkan respons secara spontan dan otomatis seperti gerak refleks. Seperti

bila tangan kita terkena percikan api (S) maka secara spontan, otomatis dan

reflektif kita akan menyentakkan tangan kita (R) sebagai tanggapan yang berupa

gerakkan menghindar. Tanggapan di dalam contoh tersebut sangat mekanistis dan

otomatis, tanpa menunggu perintah dari otak. Istilah model jarum hipodermik

dalam komunikasi massa diartikan sebagai media massa yang dapat menimbulkan

efek yang kuat, langsung, terarah dan segera. Efek yang segera dan langsung

(2)

itu sejalan dengan pengertian Stimulus-Respon yang mulai dikenal sejak penelitian dalam psikologi tahun 1930-an.

Teori peluru atau jarum hipodermik mengansumsikan bahwa media memiliki kekuatan yang sangat perkasa dan komunikan dianggap pasif atau tidak tahu apa- apa. Teori ini mengansumsikan bahwa seorang komunikator dapat menembakkan peluru komunikasi yang begitu ajaib kepada khalayak yang tidak berdaya (pasif).

Pada umumnya khalayak dianggap hanya sekumpulan orang yang homogen dan mudah dipengaruhi. Sehingga, pesan-pesan yang disampaikan pada mereka akan selalu diterima. Fenomena tersebut melahirkan teori ilmu komunikasi yang dikenal dengan teori jarum suntik (Hypodermic Needle Theory). Teori ini menganggap media massa memiliki kemampuan penuh dalam mempengaruhi seseorang. Media massa sangat perkasa dengan efek yang langsung pada masyarakat. Khalayak dianggap pasif terhadap pesan media yang disampaikan.

Teori ini dikenal juga dengan teori peluru, bila komunikator dalam hal ini media massa menembakan peluru yakni pesan kepada khalayak, dengan mudah khalayak menerima pesan yang disampaikan media. Teori ini makin powerfull ketika siaran radio Orson Welles (1938) menyiarkan tentang invansi makhluk dari planet mars menyebabkan ribuan orang di Amerika Serikat panik.

Teori ini berkembang di sekitar tahun 1930 hingga 1940an. Teori ini mengasumsikan bahwa komunikator yakni media massa digambarkan lebih pintar dan juga lebih segalanya dari audience. Teori ini memiliki banyak istilah lain.

Biasa kita sebut Hypodermic needle (teori jarum suntik), Bullet Theory (teori

peluru) transmition belt theory (teori sabuk transmisi). Dari beberapa istilah lain

(3)

dari teori ini dapat kita tarik satu makna, yakni penyampaian pesannya hanya satu arah dan juga mempunyai efek yang sangat kuat terhadap komunikan (Rakhmat, 2009 : 62).

Teori Peluru ini merupakan konsep awal efek komunikasi massa yang oleh para pakar komunikasi tahun 1970-an dinamakan pula Hypodermic Needle Theory (Teori Jarum Hipodermik). Teori ini ditampilkan tahun 1950-an setelah

peristiwa penyiaran kaleidoskop stasiun radio siaran CBS di Amerika berjudul The Invansion from Mars (Effendy, 1993 : 264-265).Istilah model hypodermic neadle timbul pada periode ketika komunikasi massa digunakan secara meluas, baik di Eropa maupun di Amerika Serikat, yaitu sekitar1930-an dan mencapai puncaknya menjelang Perang Dunia II. Pada periode ini kehadiran media massa baik media cetak maupun media elektronik mendatangkan perubahan-perubahan besar di berbagai masyarakat yang terjangkau oleh allpowerfull media massa. Penggunaan media massa secara luas untuk keperluan komunikasi melahirkan gejala-gejala mass society. Individu- individu tampak seperti distandarisasikan, diotomatisasikan dan kurang keterikatannya di dalam hubungannya antarpribadi (interpersonal relations). Terpaan media massa (mass media exposure) tampak di dalam

kecenderungan adanya homogenitas cara-cara berpakaian, pola-pola pembicaraan,

nilai-nilai baru yang timbul sebagai akibat terpaan media massa, serta timbulnya

produksi masa yang cenderung menunjukan suatu kebudayaan masa.Pengaruh

media sebagai hypodermic injection (jarum suntik) didukung oleh munculnya

kekuatan propaganda Perang Dunia I dan Perang Dunia II.

(4)

Media massa memanipulasi kekuatan besar. Bukti-bukti mengenai manipulasi kekuatan besar dari media massa ditunjukkan oleh peristiwa bersejarah sebagai berikut:

 Peranan surat-surat kabar Amerika yang berhasil menciptakan pendapat umum positif ketika perang dengan Spanyol pada 1898.

Surat-surat kabar itu mampu membuat penduduk Amerika membedakan siapa kawan dan siapa lawan.

 Berhasilnya propaganda Goebbels dalam periode Perang Dunia II.

 Pengaruh Madison Avenue atas perilaku konsumen dan dalam pemungutan suara.

Menurut Effendy ( 1993 : 289) mengatakan bahwa penelitiannya diarahkan kepada jawaban terhadap pertanyaan apa yang dilakukan media untuk khalayak (What do the media do to people ?). Kepada penelitian ini menunujkkan bahwa

komunikasi massa berpengaruh kecil terhadap khalayak yang dipersuasi oleh karena itu para peneliti berbelok ke variable-variable yang menimbulkan lebih banyak efek.

2.2 Iklan

Periklanan adalah komunikasi komersil dan nonpersonal tentang sebuah

organisasi dan produk-produknya yang ditransmisikan kepada khalayak target

melalui media bersifat massal seperti televisi, radio, koran, majalah, direct mail

(pengeposan langsung), reklame luar ruang atau kendaraan umum (Lee&Johnson,

2007 : 3).

(5)

Iklan merupakan media yang sangat tepat untuk memasarkan suatu produk, apalagi media untuk beriklan sangat banyak dan dapat dijumpai dimana-mana.

Dengan beragam kreativitas yang diciptakan oleh sebuah iklan, dapat mempengaruhi persepsi dan menjadi referensi konsumen dalamberbagai merek produk yang beredar di pasar.

Menurut Laksana (2008 : 4) “Pemasaran adalah segala kegiatan yang menawarkan suatu produk untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan konsumen.

Berdasarkan definisi-definisi yang dikemukakan oleh para ahli pemasaran diatas, maka penulis dapat berpendapat bahwa pemasaran adalah suatu proses atau aktivitas yang direncanakan terlebih dahulu kemudian dilaksanakan dengan melakukan pertukaran yang memberikan nilai terhadap barang atau jasa tersebut kepada pihak konsumen”.

Untuk mengiklankan sebuah produk baru ataupun produk lama tentunya harus memikirkan strategi yang inovatif dan kreatif, agar bisa dikenal dan diterima oleh konsumen. Menurut Soemanegara (2006 : 12) komunikasi pemasaran memegang peranan penting dalam proses memasarkan suatu produk, karena di dalam komunikasi pemasaran terdapat masalah yang berkaitan erat dengan strategi serta aplikasi yang akan dilakukan oleh biro iklan yang bertanggung jawab dalam mengkampanyekan suatu produk.

Iklan dapat didefinisikan segala bentuk penyajian dan promosi, ide, barang

atau jasa secara nonpersonal oleh suatu sponsor tertentu yang memerlukan

pembayaran. Tujuan periklanan: (Kotler, 1997 : 235)

(6)

1. Memberikan informasi

 Menginformasikan pasar.

 Mengemukakan kegunaan baru sebuah produk.

 Menginformasikan perubahan harga ke pasar.

 Menjelaskan cara kerja produk.

 Membangun citra perusahaan.

2. Membujuk

 Membangun preferensi merek.

 Mendorong agar beralih ke merek anda.

 Mengubah persepsi pembeli tentang atribut merek.

 Membujuk pembeli untuk membeli sekarang.

3. Mengingatkan

 Meningkatkan pelanggan bahwa produk bisa saja dibutuhkan dalam waktu dekat.

 Mengingatkan pelanggan dimana harus membeli produk.

 Agar produk tetap diingat pelanggan walaupun penjualan sedang sepi.

 Menjaga agar kesadaran akan produk tetap menjadi hal utama.

Iklan dapat disajikan melalui berbagai macam media seperti televisi, radio,

cetakan (majalah, surat kabar), papan billboard, papan tanda dan macam-macam

media lain. Walaupun umumnya konsumen diekspos pada ratusan iklan setiap

hari, sebagian besar dari pesan yang disampaikan hanya menerima perhatian dan

pemahaman dari konsumen dalam jumlah yang sangat sedikit. Oleh karena itu

(7)

adalah suatu tantangan yang besar bagi pemasar untuk mengembangkan pesan dalam iklan dan memilih media yang dapat mengekspos konsumen, menangkap perhatian mereka dan menciptakan pemahaman yang tepat.

Pada iklan ditujukan untuk mempengaruhi afeksi dan kognesi (evaluasi, perasaan, makna, kepercayaan, sikap dan citra) yang telah berkaitan dengan produk atau merek. Dalam prakteknya iklan telah dianggap sebagai manajemen citra, menciptakan dan memelihara citra dan makna dalam benak konsumen.

Walaupun pertama-tama iklan akan mempengaruhi perilaku pembelian konsumen.

Pada suatu sisi, periklanan dapat digunakan untuk membangun citra jangka panjang dalam sebuah produk dan pada sisi lain mengerahkan penjualan cepat.

Periklanan adala cara efisien untuk menjangkau banyak pembeli yang terbesar secara geografis pada biaya yang terendah. Periklanan akan memiliki pengaruh terhadap penjualan semata-mata melalui penayangannya atau kehadirannya.

Konsumen mempercayai bahwa merek yang diiklankan secara besar-besaran pasti menawarkan nilai yang baik, jika tidak mengapa pengiklanan mengeluarkan begitu banyak data untuk menggembor-gemborkan prodduk tersebut. Beberapa kriteria periklanan yaitu:

1. Harus menarik, mudah diingat dan mudah dimengerti.

2. Harus lebih disiarkan dan dimuat.

Fungsi iklan yaitu:

1. Membangun kesadaran

Prospek yang tidak mengetahui tentang perusahaan atau produk akan

menolak untuk menemui perwakilan penjualan. Selain itu perwakilan

(8)

penjualan mungkin akan menghabiskan banyak waktu untuk menjelaskan perusahaan produknya.

2. Membangun pemahaman

Apabila produk tersebut menambahkan keunggulan atau ciri baru, sebagian untuk menjelaskan keunggulan atau ciri tersebut dapat secara efektif dilaksanakan oleh periklanan.

a. Pengingat yang efisien, apabila prospek mengetahui tentang produk tersebut tetapi belum siap untuk membeli. Periklanan yang bersifat mengingatkan akan lebih murah daripada kunjungan periklanan.

b. Memberikan tuntutan, iklan yang menawarkan brosur dan menunjukan nomor telepon perusahaan adalah efektif untuk memberikan tuntutan bagi perwakilan penjualan.

c. Legitimasi, perwakilan dapat digunakan seberkas kertas dan dari iklan perusahaan dalam majalah terkemuka untuk melegitimasi perusahaan dan produk mereka.

d. Peyakinan ulang, periklanan dapat mengingatkan pelanggan bagaimana menggunakan produk dan meyakinkan ulang mereka tentang pembelian mereka.

Dengan demikian inti periklanan adalah menemukan ide yang relevan untuk

komunikan sehubungan dengan isi dan kegunaan pesan sehingga calon pemirsa

tergerak untuk bertindak. Ide yang ditonjolkan dalam iklan haruslah bersifat daya

tarik yang menguntungkan. Kegiatan periklanan pada umumnya media massa,

maka pada tahap perencanaan komunikasi perlu diadakan studi tentang:

(9)

a. Isi pesan

b. Media lain yang cocok untuk pesan yang bersangkutan dalam menentukan seleksi media atau pengadaan strategi media, beberapa faktor perlu diselidiki terlebih dahulu. Seleksi media didasarkan pada perhitungan yang paling menguntungkan antara faktor pesan dengan media serta kemampuannya.

Ada faktor-faktor yang terdapat dalam sebuah iklan, yaitu:

a. Bintang iklan, biasanya adalah selebritis hal ini dikarenakan daya tarik dan citra selebritis yang juga akan dijual bersama produk yang diiklankan.

b. Tema iklan adalah inti cerita yang digunakan untuk menarik konsumen.

c. Slogan iklan adalah ungkapan kata atau kalimat yang dirumuskan dalam bentuk ringkasan tetapi padat, tentang sesuatu produk agar mudah diingat dan mengingat emosi khalayak.

d. Illustrasi adalah sesuatu yang hendak disampaikan oleh periklanan melalui gambar atau foto. (Kasali, 1992 : 16)

Dengan iklan yang diharapkan mampu menaikkan penjualan dengan cara mengubah perilaku orang yang tadinya tidak menjadi pembeli menjadi pembeli, baik dengan cara menginformasikan kepada orang yang tidak tahu menjadi tahu dan seterusnya sehingga akhirnya membeli. Penampilan, kesadaran, sikap dan tindakan merupakan tujuan periklanan (Kasali, 1992 : 16). Perbedaan adalah sebagai berikut:

1. Penampilan upaya produsen menempatkan iklan di media massa.

(10)

2. Kesadaran saat dimana iklan yang ditampilkan tersebut dibaca atau dilihat oleh masyarakat.

3. Sikap saat dimana masyarakat yang membaca atau melihat iklan merespon iklan tersebut.

4. Tindakan saat dimana konsumen melakukan action membeli produk yang diiklankan.

Aspek-aspek terpaan Iklan dapat digolongkan menjadi tiga, yaitu: (Effendi, 1992 : 55)

a. Lamanya individu mendengarkan iklan adalah apakah individu tersebut melihat atau mendengarkan iklan dari awal hingga akhir. Setiap individu saat diterpa iklan memiliki respon yang berbeda, ada yang menyimak iklan dari awal hingga akhir, menghentikan terpaan ditengah-tengah iklan bahkan ada yang segera mengalihkan iklan begitu iklan menerpa.

b. Keseimbangan individu mendengarkan iklan adalah iklan yang sering ditayangkan cenderung akan membuat individu kenal dan memahami isi iklan.

c. Keseriusan individu saat melihat atau mendengarkan iklan adalah ada individu yang menyimak iklan dengan serius sehingga ia dapat memahami informasi yang ada dalam iklan, namun ada juga individu yang tidak serius.

Menurut Djayakusumah (dalam Pujianto, 2003 : 97) pada iklan televisi ini

digunakan strategi kreatif yang menggunakan AIDCA yaitu:

(11)

a. Attention b. Interest c. Desire d. Conviction e. Action

Dapat dikatakan pula iklan merupakan jenis komunikasi nonpersonal, senada dengan beberapa definisi iklan: “Iklan adalah komunikasi komersil nonpersonal tentang sebuah organisasi dan produk-produknya yang ditraminisikan ke suatu khalayak target melalui media yang bersifat massal seperti televisi, radio, koran, majalah, directmail, reklame luar ruangan atau kendaraan umum.” (Lee & Johson, 2007: 3). Iklan dapat disebut sebagai bagian ujung tombak pemasaran. Iklan merupakan media yang sangat tepat untuk memasarkan suatu produk, apalagi media untuk beriklan sangat banyak dan dat dijumpai dimana-mana. Dengan beragam kreativitas yang diciptakan oleh sebuah iklan dapat mempengaruhi persepsi dan menjadi referensi konsumen dalam berbagai merek produk yang beredar di pasar, salah satunya produk Wardah.

Melihat pra-survei dari 25 mahasiswi sebagai responden perusahaan kosmetik Wardah perlu melakukan inovasi atau variasi untuk mengembangkan iklan produknya menjadi lebih baik lagi, sehingga dapat melebar jangkauan pasar dan dapat meningkatkan penjualan produk kosmetik Wardah. Citra yang baik bukan hanya untuk menarik konsumen dalam memilih produk, melainkan juga dapat memperbaiki sikap dan keputusan pembelian konsumen terhadap produk tersebut.

Melihat bahwa banyak pesaing kosmetik lainnya yang memiliki produk yang

(12)

baik, maka ini akan menjadi perhatian khusus bagi perusahaan kosmetik Wardah untuk lebih memperlihatkan kredibilats suatu merek didepan persepsi masyarakat umum.

2.3 Keputusan Pembelian

Keputusan pembelian yaitu sebuah pendekatan penyelesaian masalah pada kegiatan manusia untuk membeli suatu barang atau jasa dalam memenuhi keinginan dan kebutuhannya yg terdiri dari pengenalan kebutuhan dan keinginan, pencarian informasi, evaluasi terhadap alternatif pembelian, keputusan pembelian dan tingkah laku setelah pembelian (Swastha, 2007:68).

Keputusan Pembelian dalam melakukan keputusan pembelian sangat bervariasi, ada yang tipe sederhana dan ada juga bertipe kompleks. Menurut Schifman dan Kanuk (2008 : 313) keputusan adalah seleksi terhadap dua pilihan atau lebih. Menurut Peter dan Olson (2010 : 417) berpendapat bahwa keputusan pembelian adalah proses pengintegrasian yang mengkombinasikan pengetahuan untuk mengevaluasi dua atau lebih perilaku alternatif dan memilih salah satu diantaranya.

Proses pembelian pada dasarnya dimulai dengan tahap pengenalan terhadap produk kebutuhan dan keinginan serta tidak berhenti setelah pembelian dilakukan.

Dalam melakukan sebuah proses pembelian konsumen biasanya melalui

tahap-tahap pembelian. Tetapi hal ini tidak terjadi pada semua kasus, terutama

pada pembelian dengan keterlibatan rendah. Namun demikian model pembelian

menggunakan tahap-tahap ini hanya berlaku pada pembelian dengan keterlibatan

tinggi.

(13)

Adapun tahap-tahap keputusan pembelian menurut Setiabudi (2003 : 16).Tahap-tahap yang ditempuh oleh pembeli un.tuk meraih hasil dan keputusan pembelian, konsumen melewati lima tahap yaitu pengenalan masalah, pencarian informasi, evaluasi alternatif, keputusan pembelian dan perilaku pembelian.

Gambar 2.1

Proses pengambilan keputusan model lima tahap (Setiabudi, 2003 : 16)

Kelima tahap yang dilalui konsumen dalam proses pengambilan keputusan pembeli dapat dirumuskan sebagai berikut:

1. Pengenalan Masalah

Proses pembelian dimulai bila mengenali suatu masalah atau kebutuhan yang belum terpenuhi. kebutuhan itu dapat berasal dari rangsangan internal seperti rasa haus, lapar dan sebagainya atau kebutuhan itu berasal dari rangsangan eksternal seperti rasa ingin yang timbul setelah melihat suatu iklan di media massa. Permasalahan juga dapat timbul apabila produk yang biasa dipakai sudah tidak memenuhi kebutuhan lagi.

2. Pencarian Informasi

Setelah konsumen mendapat rangsangan internal ataupun eksternal, maka tahapan selanjutnya adalah pencarian informasi tentang sumber-sumber pemenuhan kebutuhannya.

PENGENALAN MASALAH

PENCARIAN INFORMASI

EVALUASI ALTERNATIF

KEPUTUSAN PEMBELIAN PERILAKU

SESUDAH

PEMBELIAN

(14)

3. Evaluasi Alternatif

Tahapan ini merupakan tahapan dimana konsumen memproses informasi tentang pilihan merek untuk membuat keputusan berdasarkan tujuan pembelian.

4. Keputusan Pembelian

Pada tahap evaluasi konsumen membentuk preferensi terhadap merek-merek yang terdapat dalam perangkat piliham. Setelah mencari informasi dan melakukan evaluasi terhadap alternatif-alternatif yang ada, tahapan selanjutnya adalah konsumen akan memutuskan harus membeli atau tidak membeli produk tersebut.

5. Perilaku Sesudah Pembelian

Setelah pembelian terhadap suatu produk, konsumen akan mengalami beberapa tingkat kepuasan atau ketidakpuasan. Hal inilah yang akan mempengaruhi tindakan sesudah pembelian. Jika konsumen merasa puas, ia akan memperlihatkan kemungkinan untuk melakukan pembelian terhadap barang itu lagi. Tetapi apabila tidak puas, konsumen bisa saja menghentikan penggunaan barang tersebut. Kegiatan promosi tidak akan berakhir pada saat suatu produk dibeli, tetapi akan berlangsung hingga periode sesudah pembelian.

Setelah membeli produk, konsumen akan mengalami rasa puas atau

ketidakpuasan tertentu. Apabila konsumen mendapatkan kepuasan dari barang

yang telah dibeli, maka keinginan untuk membeli merek barang tersebut akan

semakin kuat. Sebaliknya apabila barang yang telah dibeli tidak memberikan

(15)

kepuasan, maka konsumen akan merubah sikapnya terhadap merek barang tersebut menjadi sikap negatif, bahkan kemungkinan akan menolak dari daftar pilihan. Pemasar akan berusaha untuk meminimumkan hal yang tidak memuaskan konsumen, dengan melakukan kontak purnabeli dengan konsumen menyediakan layanan yang lebih maksimal dengan cara memberikan garansi dan meningkatkan promosi produk perusahaan melalui iklan.

Indikator yang mencirikan keputusan pembelian yang digunakan penelitian ini yaitu:

a. Kebutuhan dan keinginan akan suatu produk b. Keterjangkauan harga

c. Kesesuaian harga dengan kualitas produk d. Daya saing harga

Faktor yang mempengaruhi keputusan pembelian konsumen menurut Phililip Kotler (2003 : 202) dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor salah satunya faktor Psikologis faktor utama diantaranya sebagai berikut:

a. Motivasi adalah seseorang memiliki banyak kebutuhan pada wkatu-waktu

tertentu. Beberapa dari kebutuhan tersebut ada yang muncul dari tekanan

biologis seperti lapar, hau dan rasa ketidaknyamanan. Sedangkan beberapa

kebutuhan yang lainnya dapat bersifat psikogeneris yaitu kebutuhan yang

berasal dari tekanan psikologis seperti kebutuhan akan pengakuan,

penghargaan atau rasa keanggotaan kelompok. Ketika seseorang

mengamati sebuah merek, ia akan bereaksi tidak hanya pada kemampuan

nyata yang terlihat pada merek tersebut, melainkan juga melihat petunjuk

(16)

lain yang samar seperti wujud, ukuran, berat, bahan, warna dan nama merek terebut yang memacu arah pemikiran dan emosi tertentu.

b. Persepsi adalah seseorang yang termotivasi siap untuk segera melakukan tindakan, bagaimana seseorang yang termotivasi akan dipengaruhi oleh persepsinya terhadap situasi tertentu. Persepsi dapat diartikan sebagai sebuah proses yang digunakan individu untuk memilih, mengorganisasi dan menginterprestasi masukan informasi guna menciptakan sebuah gambaran (Bernard Barelson dalam Kotler, 2003 : 217).

Hubungan yang mempengaruhi iklan televisi dengan keputusan pembelian konsumen, iklan yang menayangkan segala bentuk penyajian dan promosi ide, barang atau jasa secara nonpersonal oleh suatu sponsor tertentu menjadi salah satu daya tarik yang mengundang para audiens untuk membeli satu produk kosmetik Wardah maka adanya pengaruh tehadap keputusan pembelian.

2.4 Kerangka Berpikir

Kondisi pasar yang semakin variatif, konsumen menjadi selektif dalam melakukan pembelian dan semakin kritis dalam perilaku pembeliannya.

Keputusan untuk membeli suatu produk sangat dipengaruhi baik dari merek produk maupun dari kualitas pelayanan yang diberikan perusahaan. Semakin baiknya (brand image) yang diciptakan produk yang dijual dan kualitas pelayanan yang diberikan maka akan memberikan dampak yaitu keputusan pembelian konsumen.

Salah satu jenis produk yang diminati masyarakat adalah Wardah yang

menyajikan berbagai jenis alat-alat kosmetik untuk masyarakat dikalangan wanita.

(17)

Para pengusaha saling berlomba untuk memvariasikan produknya yang berbagai macam seperti maskara, blash-on, dll.

Menurut Kotler dan Keller (2007 : 332) konsumen modern bukan saja menganggap merek hanya sebagai sebuah nama produk, tetapi terkadang menjadi identitas yang akan membedakannya dengan produk lain yang dirancang untuk memenuhi kebutuhan yang sama dan hal ini akan mempermudah konsumen dalam melakukan keputusan pembelian.

Begitu pula faktor pribadi juga merupakan salah satu faktor keputusan untuk pembelian suatu produk. Keputusan konsumen dipengaruhi oleh karakteristik pribadi. Karekteristik tersebut meliputi usia dan tahap siklus hidup, pekerjaan, keadaan ekonomi, gaya hidup serta kepribadian dan konsep diri pembeli. Menurut Kotler (2005 : 201) berpendapat bahwa keputusan konsumen dipengaruhi oleh karakteristik pribadi. Berdasarkan uraian diatas, maka kerangka pikir pada penelitian ini digambarkan sebagai berikut:

2.5 Hipotesis

Hipotesis adalah dugaan yang mungkin benar atau juga mungkin salah, dia akan diterima apabila fakta-fakta membenarkan dan akan ditolak apabila salah (Hadi, 2004 : 74). Adapun hipotesis dalam penelitian ini sebagai berikut:

Ha = Adanya Pengaruh Terpaan Iklan Produk Wardah terhadap keputusan pembelian konsumen.

(X)

TERPAAN IKLAN PRODUK WARDAH

(Y)

KEPUTUSAN PEMBELIAN

KONSUMEN

Referensi

Dokumen terkait

Dengan demikian promosi penjualan dapat mempengaruhi perilaku konsumen dalam melakukan keputusan untuk membeli, karena hampir tidak ada konsumen yang mengabaikan

Nilai iklan termasuk faktor penting yang mempengaruhi keputusan konsumen untuk membeli atau menggunakan suatu produk (Yuwono dan Syahir, 2004:20). Para pengunjung situs

pengaruh elemen iklan televisi Kartu As Bebas Galau 30 Jam Versi.. Drama Lebay terhadap Keputusan

Keputusan pembelian adalah tahap penentuan ketika konsumen memutuskan untuk melakukan pembelian terhadap suatu barang atau jasa setelah melalui beberapa tahapan seperti

Adapun Wijanarko (2004), menganalisis karakteristik konsumen, mengkaji faktor yang mempengaruhi proses keputusan pembelian susu cair, menganalisis penilaian konsumen

Tujuan promosi adalah untuk memengaruhi suatu konsumen dalam mengambil keputusan untuk meningkatkan volume penjualan, di segi lain ada juga dari promosi yaitu menjual suatu barang

Dari proses pengambilan keputusan pembelian konsumen di atas, dapat disimpulkan bahwa pembelian diawali dengan suatu pengenalan konsumen akan suatu kebutuhan

Upaya promosi yang dilakukan harus memperhatikan aspek komunikasi yaitu mampu mempengaruhi konsumen untuk melakukan pembelian produk dengan menonjolkan aspek manfaat yang