PROPOSAL PROYEK GALIFU SEMESTER GENAP 2017-2018
APLIKASI SIG DALAM PENILAIAN STATUS KERUSAKAN TANAH UNTUK PRODUKSI BIOMASSA DI SUB DAS KALI MANTUNG KECAMATAN PUJON,
KABUPATEN MALANG
OLEH KELOMPOK 21
UNIVERSITAS BRAWIJAYA FAKULTAS PERTANIAN
MALANG 2018
ii PROPOSAL PROYEK GALIFU
SEMESTER GENAP 2017-2018
APLIKASI SIG DALAM PENILAIAN STATUS KERUSAKAN TANAH UNTUK PRODUKSI BIOMASSA DI SUB DAS KALI MANTUNG KECAMATAN PUJON,
KABUPATEN MALANG
PROPOSAL PROJECT GALIFU
ANGGOTA KELOMPOK 21
FAHRUL HUKAMA 155040201111267 NUR RESYA APRILIANI 155040200111037 SYARIFATUL IZZAH 155040200111194 SITI KHOIRUM ANISA 155040201111006 DYAH ARUM PURWANINGTYAS 155040201111168 PUTRI RACHMANIAH 155040201111280
UNIVERSITAS BRAWIJAYA FAKULTAS PERTANIAN
JURUSAN TANAH MALANG
2018
iii LEMBAR PENGESAHAN
PROPOSAL PROYEK GALIFU
Judul : Aplikasi SIG Dalam Penilaian Status Kerusakan Tanah Untuk Produksi Biomassa Di Sub DAS Kali Mantung Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang
Kelompok : 21
Jurusan : Tanah
Program Studi : Agroekoteknologi
Disetujui,
Asisten ANLAND Asisten SISL Asisten MGKT
Nurlaili Desy Ratna Norma Yunita Sari Luqman Sholahudin Ridwan
145040200111045 145040201111178 145040201111013
iv DAFTAR ISI
COVER DEPAN ... i
COVER DALAM ... ii
LEMBAR PENGESAHAN ... iii
DAFTAR ISI ...iv
DAFTAR GAMBAR ... v
DAFTAR TABEL ...vi
1. PENDAHULUAN ... 1
1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Tujuan ... 2
1.3 Alur Pikir ... 3
2. TINJAUAN PUSTAKA ... 4
2.1 Lahan ... 4
2.2 Penggunaan lahan ... 4
2.3 Degradasi Tanah ... 4
2.4 Kriteria Baku Kerusakan Tanah ... 5
3. METODE ... 13
3.1 Tempat dan Waktu ... 13
3.1.1 Tempat ... 13
3.1.2 Waktu Pelaksanaan ... 13
3.2 Alat dan Bahan ... 14
3.2.1 Alat ... 14
3.2.2 Bahan ... 15
3.3 Tahapan Pelaksanaan Proyek ... 15
DAFTAR PUSTAKA ... 21
v DAFTAR GAMBAR
Gambar 1. Skema Penilaian Potensi Kerusakan Tanah ... 20
vi DAFTAR TABEL
Table 1. evaluasi kerusakan tanah di lahan kering akibat erosi air ... 10
Table 2. evaluasi kerusakan tanah di lahan kering ... 11
Table 3. Evaluasi kerusakan tanah di lahan basah ... 12
Table 4. Indikator sifat dasar tanah dan ambang kritis kerusakan tanah ... 17
Table 5. Kriteria pembagian kelas potensi kerusakan tanah berdasarkan nilai skor ... 20
1 1. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Lahan adalah suatu wilayah daratan yang ciri-cirinya merangkum semua tanda pengenal biosfer, atmosfer, tanah, geologi, topografi, hidrologi, populasi tumbuhan, dan hewan serta hasil kegiatan manusia masa lalu dan masa kini yang bersifat mantap. Menurut Rusdi, dkk. (2013) lahan memiliki potensi besar dalam menunjang aktivitas hidup manusia, yang bisa dijadikan sebagai areal pertanian maupun pemukiman penduduk. Lahan yang tidak mampu secara efektif digunakan untuk lahan pertanian, dan tidak sesuai kemampuan tanah dalam penggunaannya dapat menimbulkan kerusakan fisik, kimia, dan biologi pada tanah disebut dengan lahan kritis. Penduduk di Kabupaten Malang sebagian besar mengandalkan hidupnya dari sektor pertanian, oleh sebab itu pemanfaatannya harus ada upaya terhadap pengendalian kerusakan tanah untuk menjaga kelestarian dan keberlanjutan produksi biomassa.
Daerah Aliran Sungai (DAS) Kali Mantung merupakan salah satu sub sub DAS dari sub DAS Kali Konto. DAS Kali mantung ini berada pada ketinggian 2000 mdpl dengan panjang daerah aliran sungai 568 km2 terhitung dari hulu Sungai Brantas. DAS Kali Konto memiliki landform berbukit 11,554 ha, gunung 4631ha, dataran 6227ha, dan sisanya 955ha berupa lembah alluvial dan atau lahar. Bentuk lereng pada daerah tersebut umumnya cembung dibagian atas dan rata sampai cekung diposisi lereng bagian tengah sampai ke bawah. Jenis tanah dilereng atas kebanyakan terdapat jenis tanah Andisols sedangkan dibagian bawah termasuk Alfisols atau Inceptisols. Pada landform dataran bawah memiliki kemiringan agak landai (3-8%). Secara geologi bahan induk membentuk penyusun di DAS Konto adalah batuan gunung api Anjasmoro tua (QpAT) dan endapan gunung api Butak (QpKB). Pada batuan gunung api Anjasmoro tua tersusun atas bahan breksi gunung berapi, Tuf breksi, Tuf dan lava. Sedangkan batuan gunung api Butak (QpKB) tersusun atas bahan breksi gunung api, tuf lava, aglomerat, dan lahar.
Selain pada kedua bahan induk tersebut terdapat juga batuan gunung api Anjasmoro muda (QpVA) dimana batuan penyusunnya adalah bahan breksi gunung api, tuf breksi, lava, tuf dan aglomerat. Proses endogen yang terjadi di daerah DAS tersebut antara lain proses kegunung apian, proses pembentukan perbukitan dan pegunungan. Aktivitas tersebut menghasilkan struktur geologi maupun geomorfologi permukaan bumi. Berdasarkan penelitian Paimin dkk (2012) bahwa pada daerah DAS Kali Konto dan sekitarnya tidak terdapat patahan atau
2 sesar atau gawir pada landform tektonik, sedangkan pada landform vulkanik terjadi proses endogen. Akibat proses endogen tersebut dapat terbentuk gunung api,perbukitan dan dataran. Akibat bekerjanya proses endogen maka terjadilah proses agradasi dan proses degradasi
DAS Kali Mantung berpotensi mengalami kerusakan tanah apabila tidak segera dilakukan konservasi dan penanganan yang baik. Kerusakan tanah akan berakibat rusaknya sifat-sifat dasar tanah baik sifat fisik, kimia, dan biologi tanahnya, sehingga dapat mengganggu terhadap proses produksi biomassa.
Pemantauan kerusakan tanah untuk produksi biomassa penting dilakukan untuk menjaga kelestarian fungsi lingkungan dan ekonomi dari suatu lahan. Upaya- upaya perbaikan terhadap kerusakan tanah dapat dilakukan dengan teknik konservasi baik secara fisik, kimia, maupun biologi.
Kegiatan yang dilakukan dengan metode survei yaitu dengan melakukan pengamatan biofisik lahan dan pengambilan sampel tanah secara langsung di lapangan, yang didukung dengan studi literatur. Penentuan satuan unit lahan dimulai dengan membuat peta kerja untuk panduan pengambilan sampel tanah yang dilakukan secara spasial dengan menggunakan program ArcGIS 10.2.
Setelah didapatkan satuan unit lahan, kemudian ditentukan titik sampel pada unit lahan tersebut. Selanjutnya dilakukan pengamatan bentuk morfologi dengan bantuan buku panduan praktikum.
1.2 Tujuan
Mengetahui nilai status kerusakan tanah untuk produksi biomassa pada daerah DAS Kali Mantung.
3 1.3 Alur Pikir
Lahan Kritis
Konservasi fisika, bilogi,
dan kimia Produksi
Biomassa
Pengamatan Biofisik Lahan
Pengambilan sampel tanah Peta Kerja
ArcGIS Hasil evaluasi lahan Kerusakan
tanah
Proses Alam
Iklim
Minimnya Pengetahuan
4 2. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Lahan
Tanah sebagai benda yang dinamik, selalu mengalami perubahan- perubahan baik yang disebabkan oleh material yang dimiliki tanah itu sendiri atau material yang berasal dari luar tubuh tanah. Perubahan-perubahan yang terjadi akan menyebabkan penurunan produktivitas tanah (menurunnya fungsi tanah).
Penurunan produktivitas tanah atau fungsi tanah, maka kerusakan tanah telah terjadi (Suripin, 2002).
Menurut Rustiadi et al. (2010), Lahan merupakan lingkungan fisik yang meliputi tanah, iklim, relief, hidrologi, dan vegetasi, dimana faktor-faktor tersebut berpengaruh pada penggunaannya. Lahan dalam pengertian yang lebih luas termasuk yang telah dipengaruhi oleh beberapa faktor. Faktor-faktor tersebut diantarannya adalah aktivitas flora, fauna, dan manusia baik di masa lampau maupun saat sekarang.
2.2 Penggunaan lahan
Menurut Arsyad (2006), Penggunaan lahan merupakan setiap bentuk intervensi (campur tangan) manusia terhadap lahan dalam rangka memenuhi kebutuhan hidupnya baik materiil maupun spiritual. Terdapat dua golongan besar penggunaan lahan yaitu penggunaan lahan pertanian dan penggunaan lahan non pertanian. Penggunaan lahan yang optimal memerlukan keterkaitan dengan karakteristik dan kualitas lahannya. Hal tersebut disebabkan adanya keterbatasan dalam penggunaan lahan yang sesuai dengan karakteristik dan kualitas lahannya bila dihubungkan dengan pemanfaatan lahan secara berkesinambungan.
2.3 Degradasi Tanah
Degradasi tanah atau degradasi lahan didefinisikan sebagai lahan yang memiliki tingkat produktivitas yang rendah atau tidak produktif sama sekali bagi kegiatan pertanian. Produktivitas lahan yang rendah atau bahkan tidak produktif untuk aktivitas pertanian, bisa disebabkan oleh cara pengolahan tanah yang tidak benar dan penggunaan lahan yang dapat memicu timbulnya erosi secara berlebihan (Suwardjo, dkk., 1991 dalam Banuwa, 2013).
Menurut Arsyad (2010) kerusakan tanah atau degradasi tanah dapat disebabkan oleh :
a) Hilangnya unsur hara dan bahan organik dari daerah perakaran.
Hilangnya unsur hara dan bahan organik tersebut dapat disebabkan oleh beberapa faktor seperti akibat perombakan cepat dari bahan
5 organik, pelapukan mineral, pencucian unsur hara yang cepat di daerah tropika basah, terangkut saat panen, atau akibat pembakaran tanaman. Dalam jangka panjang hal ini akan menyebabkan produktivitas tanah menjadi menurun.
b) Terkumpulnya garam atau senyawa racun bagi tanaman di daerah perakaran. Pada daerah yang beriklim kering, musim kemarau akan menyebabkan garam-garam natrium akan terakumulasi di bagian atas tanah. Pada daerah pasang surut, tanah umumnya banyak mengandung liat asam, yang jika teroksidasi akan mengakibatkan pH tanah menjadi sangat asam. Pada lahan yang banyak menggunakan herbisida, logam berat seperti Fe, Al, dan Zn akan banyak terakumulasi di daerah perakaran tanaman dan dapat membunuh organisme tanah di sekitarnya.
c) Penjenuhan tanah oleh air (water logging). Penjenuhan tanah oleh air bisa disebabkan karena proses alami dan bisa juga disebabkan akibat aktivitas manusia.
d) Erosi didefinisikan sebagai berpindahnya tanah atau bagian permukaan tanah ke tempat lain yang disebabkan oleh air atau angin.
Dari semua penyebab degradasi lahan diatas, erosi merupakan penyebab utama yang paling berperan dalam degradasi lahan. Erosi menyebabkan hilangnya lapisan atas tanah yang subur dan baik bagi pertumbuhan tanaman, serta menyebabkan berkurangnya kemampuan tanah untuk menahan dan menyerap air.
Dalam upaya mencegah dan mengendalikan kerusakan tanah, pemerintah Indonesia mengeluarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 150 tahun 2000 tentang Pengendalian Kerusakan Tanah untuk Produksi Biomassa.
Peraturan tersebut digunakan sebagai pedoman dalam menyusun peta status kerusakan tanah, yang merupakan acuan dalam kegiatan pencegahan serta pengendalian pada tanah yang belum maupun yang sudah mengalami kerusakan.
Peraturan ini ditujukan untuk tanah yang digunakan sebagai lahan pertanian, misal sawah, perkebunan, tegalan, ladang dan hutan tanaman. Di dalam PP tersebut terdapat kriteria bku kerusakan tanah di lahan basah dan di lahan kering.
2.4 Kriteria Baku Kerusakan Tanah
Tata cara pengukuran kriteria baku kerusakan tanah untuk produksi biomassa disusun agar terdapat kesesuaian pemahaman mengenai metodologi
6 dan aspek-aspek yang harus ditinjau dalam menetapkan kondisi dan status kerusakan tanah untuk produksi biomassa. Kerusakan tanah untuk produksi biomassa dapat disebabkan oleh sifat alami tanah, dapat pula disebabkan oleh kegiatan manusia yang menyebabkan tanah tersebut terganggu/rusak hingga tidak mampu lagi berfungsi sebagai media untuk produksi biomassa secara normal.
Kriteria baku yang digunakan untuk menentukan status kerusakan tanah untuk produksi biomassa didasarkan pada parameter kunci sifat dasar tanah, yang mencakup sifat fisik, sifat kimiawi dan sifat biologi tanah. Sifat dasar tanah ini menentukan kemampuan tanah dalam menyediakan air dan unsur hara yang cukup bagi kehidupan (pertumbuhan dan perkembangan) tumbuhan. Dengan mengetahui sifat dasar suatu tanah maka dapat ditentukan status kerusakan tanah untuk produksi biomassa.
A. Analisis Sifat Dasar Tanah
a) Pengamatan dan Pengambilan Contoh Tanah 1) Pengamatan
Pengamatan di lapangan dilakukan untuk parameter erosi air, ketebalan solum, kebatuan permukaan, derajat pelulusan air, nilai redoks, subsidensi gambut, kedalaman lapisan berpirit, dan kedalaman air tanah dangkal.
2) Pengambilan contoh tanah
Metode pengambilan contoh tanah dilakukan dengan 2 cara yaitu:
(i) terusik, menggunakan bor tanah atau membuat profil tanah.
Tiap lapisan tanah (hingga lapisan pembatas) diambil satu contoh untuk kepentingan analisis pH, Daya Hantar Listrik (DHL), porositas total, komposisi fraksi, dan penghitungan jumlah mikroba tanah;
(ii) tidak terusik, menggunakan ring sampler atau bongkah tanah.
Digunakan untuk analisis Berat Isi (BI).
B. Analisis Contoh Tanah
a) Parameter untuk Tanah di Lahan Kering
Tanah di lahan kering adalah tanah yang berada di lingkungan tidak tergenang yang pada umumnya merupakan tanah mineral (bukan tanah organik). Tanah-tanah ini berada di wilayah beriklim
7 basah maupun beriklim kering. Bentuk lahannya dapat beragam dari datar sampai bergunung, sehingga proses erosi perlu mendapat perhatian, terutama pada lahan yang miring.
(i) Erosi
Erosi adalah perpindahan material tanah dari tempat semula ke tempat lain terutama disebabkan oleh air sebagai agensia pengangkut.
(ii) Ketebalan Solum
Ketebalan solum adalah jarak vertikal dari permukaan tanah sampai ke lapisan yang membatasi keleluasaan perkembangan system perakaran. Lapisan pembatas tersebut meliputi: lapisan padas/batu, lapisan beracun (garam, logam berat, alumunium, besi), muka air tanah, dan lapisan kontras.
(iii) Kebatuan Permukaan
Kebatuan permukaan adalah persentase tutupan batu di permukaan tanah. Batu adalah semua material kasar yang berukuran diameter > 2 mm.
(iv) Komposisi Fraksi
Komposisi fraksi tanah adalah perbandingan berat dari pasir kuarsitik (50 – 2.000 μm) dengan debu dan lempung (< 50 μm). Tanah tidak dapat menyimpan hara dan air bilamana kandungan pasir kuarsanya > 80 %. Pasir yang mudah lapuk (vulkanik) yang berwarna gelap tidak termasuk dalam definisi ini.
Pengamatan ini khusus diberlakukan untuk tanah pasiran berwarna keputih-putihan yang jika diraba dengan ibu jari dan telunjuk pada kondisi basah terasa kasar dan relatif tidak liat atau lekat (untuk memperkirakan kadar pasir kuarsitik > 80%). Untuk tanah di luar ketentuan di atas tidak diperlukan pengamatan lebih lanjut, cukup dengan perabaan (liat, lekat, tidak terasa kasar akibat dominasi pasir).
(v) Berat Isi
Berat isi/berat volume (BI) atau kerapatan bongkah tanah (bulk density) adalah perbandingan antara berat bongkah tanah dengan isi/volume total tanah, diukur dengan metode lilin (bongkah tanah dilapisi lilin). Tanah dikatakan bermasalah bila
8 BI tanah tersebut > 1,4 g/cm³ dimana akar sulit menembus tanah tersebut.
(vi) Porositas Total
Porositas total tanah adalah persentase ruang pori yang ada dalam tanah terhadap volume tanah.
(vii) Derajat Pelulusan Air
Derajat pelulusan air atau permeabilitas tanah adalah kecepatan air melewati tubuh tanah secara vertikal dengan satuan cm/jam.
b) Parameter untuk Tanah di Lahan Basah
Tanah di lahan basah (rawa) adalah tanah yang berada dalam lingkungan yang selalu tergenang air, sehingga lingkungan tersebut senantiasa bersifat reduktif. Oleh karena karakteristik lingkungan yang demikian maka pada lahan basah dapat dijumpai tanah gambut.
Tanah gambut adalah tanah yang berkembang dari hasil penumpukan bahan organik yang diluruhkan oleh produksi biomassa hutan hujan tropika. Disamping tanah gambut, di rawa juga dijumpai tanah aluvial (mineral), bila lingkungan pengendapan bersuasana marine tanah mineral tersebut dapat mengandung bahan sulfidik, seperti mineral pirit (FeS2). Pembukaan rawa pada umumnya dilakukan dengan membuat saluran drainase untuk menurunkan permukaan air dan memperbaiki aerasi tanah. Akibatnya jika tanah tersebut merupakan tanah gambut maka akan terjadi subsidensi yaitu penurunan permukaan gambut. Jika tanah tersebut merupakan tanah mineral yang berpirit, maka akan terjadi oksidasi pirit yang menyebabkan keasaman ekstrim (pH < 3,5)
(i) Subsidensi Gambut
Subsidensi gambut adalah laju penurunan permukaan tanah gambut akibat adanya saluran drainase pada pembukaan lahan, dihitung dengan satuan tebal (cm) untuk tiap satuan waktu (tahun). Tanah gambut yang dibuka menyebabkan terhentinya proses penumpukan gambut. Tanah gambut dikatakan rusak bila kumulatif penurunan muka gambut > 35 cm/5 tahun.
9 (ii) Kedalaman Lapisan Berpirit
Kedalaman lapisan berpirit adalah posisi mulai ditemukan lapisan berpirit atau material sulfidik dari permukaan tanah.
Material sulfidik adalah senyawa ferosulfida (FeS2) yang stabil dalam kondisi reduktif dan dapat terurai pada kondisi oksidatif.
Bila lapisan ini dijumpai pada kedalaman < 25 cm dari permukaan tanah, berpotensi - 15 - membahayakan pertumbuhan tanaman karena tanah tersebut akan teroksidasi.
(iii) Kedalaman Air Tanah Dangkal
Kedalaman air tanah dangkal adalah tinggi permukaan air di dalam tanah, yang diukur dari permukaan tanah. Jika air tanah
> 25 cm pada musim hujan dapat dipakai sebagai tanda bahwa rawa mengalami oksidasi sehingga akan menyebabkan terjadinya penurunan muka gambut dan atau keasaman tanah (pH < 3,5).
c) Parameter untuk Tanah di Lahan Kering dan Tanah di Lahan Basah (i) pH Tanah
pH adalah tingkat keasaman tanah yang dicerminkan oleh konsentrasi H+ dalam tanah. Nilai pH menjadi bermasalah jika pH < 4,5 atau > 8,5 untuk tanah di lahan kering dan pH < 4,0 atau
> 7,0 untuk tanah di lahan basah.
(ii) Daya Hantar Listrik (DHL)
Nilai DHL adalah pendekatan kualitatif dari kadar ion yang ada di dalam larutan tanah, di luar kompleks serapan tanah.
Semakin besar kadar ionik larutan akan semakin besar DHL-nya.
DHL dinilai dengan satuan mS/cm atau μS/cm, pada suhu 25º C.
Nilai DHL > 4 mS mengkibatkan akar membusuk karena terjadi plasmolisis.
(iii) Nilai Redoks (Eh)
Nilai redoks adalah suasana oksidasi-reduksi tanah yang berkaitan dengan ketersediaan atau ketidaktersediaan oksigen di dalam tanah. Jika nilai Eh < 200 mV berarti suasana tanah reduktif (tanah di lahan kering), bila nilai Eh > - 100 mV pirit dapat teroksidasi (tanah berpirit di lahan basah), dan bila nilai Eh > 200 mV gambut dapat teroksidasi/ terdegradasi. Pengukuran nilai
10 redoks menggunakan pH meter yang mempunyai teraan redoks dan elektroda platina. Pengukuran hanya dilakukan pada tanah tergenang lama/alamiah (stagnasi), pada tanah di lahan basah maupun di tanah di lahan kering.
(iv) Jumlah Mikroba Tanah
Jumlah mikroba tanah adalah total populasi mikroba di dalam tanah yang diukur dengan colony counter. Pada umumnya jumlah mikroba normal adalah 107 cfu/g tanah. Tanah dikatakan rusak bila jumlah tersebut < 102 cfu/g tanah baik untuk di lahan kering maupun di lahan basah. Pengukuran ini sulit untuk dilaksanakan di lapangan, untuk itu pengukuran parameter ini hanya dilakukan pada kondisi spesifik, misalnya tanah tercemar limbah B3.
C. Evaluasi Untuk Penetapan Status Kerusakan Tanah
Setelah dilakukan identifikasi kondisi awal tanah, analisis sifat dasar tanah, selanjutnya dilakukan evaluasi. Evaluasi ini bertujuan untuk menentukan rusak tidaknya suatu lokasi tanah berdasarkan kriteria baku kerusakan tanah. Evaluasi dilakukan dengan membandingkan hasil analisis sifat dasar tanah sebagaimana yang tercantum dalam tabel evaluasi kerusakan tanah di bawah ini.
Table 1. evaluasi kerusakan tanah di lahan kering akibat erosi air
11 Table 2. evaluasi kerusakan tanah di lahan kering
12 Table 3. Evaluasi kerusakan tanah di lahan basah
Apabila salah satu ambang parameter terlampaui, maka tanah dikatakan rusak.
Selanjutnya hasil evaluasi ini digunakan untuk menetapkan status kerusakan tanah. (Permentan no 7 tahun 2006).
13 3. METODE
3.1 Tempat dan Waktu 3.1.1 Tempat
Lokasi kegiatan proyek matakuliah Analisis Lansekap Terpadu, Sistem Informasi Sumberdaya Lahan, Morfologi, Genesis dan Klasifikasi Tanah adalah wilayah DAS kali Mantung Pujon Malang Provinsi Jawa Timur.
DAS kali Mantung merupakan salah satu anak kali konto yang cukup besar.
Kali Konto merupakan bagian dari sistem DAS Brantas yang memiliki luas 568 km2 dengan total panjang keseluruhan jaringan sungai sub-DAS Konto yaitu 168,34 Km. DAS Kali Konto memiliki landform berbukit 11,54 ha, gunung 4631ha, dataran 6227 ha, dan sisanya 955 ha berupa lembah alluvial dan atau lahar. Bentuk lereng pada daerah tersebut umumnya cembung dibagian atas dan rata sampai cekung diposisi lereng bagian tengah sampai kebawah. Jenis tanah dilereng atas kebanyakan terdapat jenis tanah Andisols sedangkan dibagian bawah termasuk Alfisols atau Inceptisosls. Pada landform dataran bawah memiliki kemiringan agak landai (3-8%).
3.1.2 Waktu Pelaksanaan
Pelaksanaan kegiatan berlangsung dari bulan Februari - April 2018 di wilayah sub sub DAS Kali Mantung Sub DAS Kali Konto Pujon Malang Jawa Timur.
14 3.2 Alat dan Bahan
3.2.1 Alat
1. Meteran Mengukur ketebalan solum secara langsung 2. Tabung ukur Mengukur volume cairan
3. Ring sample Mengambil sampel tanah utuh 4. Double ring
permeameter
Mengambil sampel tanah
5. Timbangan analitik
Menimbang ring sampel dengan ketelitian 0,01 gr
6. Piknometer Mengukur nilai massa jenis atau densitas dari fluida 7. pH meter Mengukur pH H2O
8. EC meter Mengukur daya hantar listrik 9. pH stick skala 0,5
satuan
Mengukur potensiometrik
10. Elektroda platina Mengukur tegangan listrik 11. Cawan petri Tempat mikroba tanah 12. Coloni counter Menghitung koloni bakteri 13. Bor tanah Menggali tanah untuk sampel
14. Spidol OHP Memberikan tanda pada kertas label 15. Sekop (lempak) Menggali tanah
16. Pisau lapang Menempatkan mikroba 17. Kertas label Memberikan label atau tanda 18. ArcGIS 10.2 Membuat peta kerja
15 3.2.2 Bahan
1. Peta
Administrasi
Menginformasikan mengenai batas-batas administatif terkecil suatu wilayah sampai terbesar 2. Peta landuse Menginformasikan mengenai penggunaan lahan
pada wilayah pengamatan
3. Peta lereng Mengetahui perbandingan antara beda tinggi suatu lahan dengan jarak mendatarnya
4. Peta ketinggian tempat
Mengetahui kondisi ketinggian suatu wilayah
5. Peta bentuk lahan
Mengetahui bagian dari lahan yang mempunyai karakteristik yang spesifik
6. Peta Curah hujan Menjelaskan banyaknya curah hujan yang sama di suatu tempat
7. Peta jenis tanah Menggambarkan variasi dan persebaran berbagai jenis tanah atau sifat-sifat tanah (seperti pH, tekstur, kadar organik, kedalaman, dan sebagainya) di suatu area
8. Peta dasar Menggambarkan keadaan bentuk muka bumi (bentang alam) dan dasar pembuatan peta
3.3 Tahapan Pelaksanaan Proyek
Tahapan pelaksanaan proyek pertama yaitu dilakukan penentuan topik proyek dan topik yang kita pilih adalah tentang kerusakan tanah. Setelah penetuan topik, hal yang dilakukan selanjutnya yaitu konsultasi dengan asisten pembimbing.
Setelah berkonsultasi dengan asisten pembimbing lalu dilakukan pembagian jobdesk untuk pengerjaan proyek galifu dan penyusunan timeline mengenai jadwal pengerjaan proyek galifu. Setelah penyusunan proposal, hal yang dilakukan selanjutnya yaitu dilakukan persiapan dan pengerjaan peta menggunakan aplikasi ArcGIS 10.2.
a) Pembuatan Peta Dasar
Peta yang pertama dibuat yaitu peta dasar yang terdiri dari:
1) Peta DAS-SubDAS : Untuk mengetahui batas DAS dan subDAS di wilayah proyek.
2) Peta administrasi : Untuk mengetahui batas-batas administrasi suatu wilayah.
16 3) peta penggunaan lahan : untuk mengetahui jenis penggunaan
lahan pada lokasi proyek.
4) peta geologi : untuk mengetahui keadaan geologi wilayah proyek.
5) peta lereng : untuk mengetahui keadaan lereng wilayah proyek.
6) peta landform : untuk mengetahui macam-macam bentuklahan di wilayah proyek.
b) Interpretasi Foto Udara
Setelah pembuatan peta dasar lalu dilakukan interpretasi foto udara yang diperoleh dari laboratorium PPJP Jurusan Tanah FP UB. Foto udara tersebut disusun menjadi tiga dimensi kemudian dilakukan delineasi untuk mengetahui landform, aliran drainase dan batas DAS yang mana ketiga data ini dipisahkan ke dalam masing-masing plastik mika.
c) Analisis Data Sesuai Tanah
Analisis kondisi tanah dilakukan dengan menggunakan data parameter atau indikator kerusakan tanah yang dianalisis menggunakan metode pendekatan, adapun indikatornya terdiri dari:
1) Ketebalan solum 2) Kebatuan permukaan
3) Komposisi fraksi (tekstur tanah) 4) Berat volume
5) Porositas 6) Permeabilitas 7) pH
8) Daya hantar listrik
9) Reaksi oksidasi dan reduksi 10) Jumlah mikroba
17
No Indikator Ambang kritis
1 Ketebalan solum < 20 cm
2 Kebatuan permukaan < 40%
3 Komposisi fraksi < 18% koloid; >80% pasir kuarsitik
4 Berat volume > 1,4 g/cm3
5 Porositas < 30%; > 70%
6 Permeabilitas < 0,7 cm/jam; > 8 cm/jam
7 pH < 4,5; >8,5
8 Daya hantar listrik > 4,0 mS/cm
9 Reaksi redoks < 200 mV
10 Jumlah mikroba < 102 cfu/g tanah
Table 4. Indikator sifat dasar tanah dan ambang kritis kerusakan tanah (Sumber: Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 150 Tahun 2000) d) Survei Lapang
Pada survei lapang dilakukan deskripsi tanah dengan pengamatan morfologi dan fisiografis tanah kemudian diidentifikasi untuk mengetahui jenis tanah. Jenis tanah teridentifikasi digunakan untuk menggambarkan kondisi umum tanah.
e) Pembuatan Peta Proyek
Alur pembuatan peta kerusakan tanah yaitu:
1) Penentuan areal kerja efektif
Penentuan areal efektif dilakukan melalui overlay peta dasar yang telah dibuat dari beberapa data yang ada dengan Peta Rencana Tata Ruang Wilayah daerah kajian. Daerah yang menjadi areal kerja efektif adalah kawasan budidaya yang dapat dijadikan sebagai pengem-bangan/produski biomassa, yaitu daerah pertani-an, perkebunan, hutan produksi. Sedangkan daerah yang tidak termasuk dalam daerah efektif adalah pada kawasan lindung dan kawasan budidaya seperti permukiman dan perikanan. (Prasetyo et al, 2013)
18 2) Pembuatan Peta Tematik
Berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 150 tahun 2000 tentang Pengendalian Kerusakan Tanah, pembuatan peta kerusakan tanah menggunakan peta tematik yang terdiri dari:
3) Peta Curah Hujan
Curah hujan merupakan unsur yang paling penting dari iklim dan menjadi agen utama kerusakan tanah melalui proses erosi. Untuk itu ketersediaan data ini diperlukan dalam penentuan potensi kerusakan tanah. Sumber untuk peta curah hujan ini merupakan data curah hujan dari stasiun klimatologi terdekat.
4) Peta Kelerengan
Peta lereng merupakan hasil olahan dari peta topografi.
Kemiringan lahan berkaitan erat dengan potensi erosi sebagai faktor utama penyebab kerusakan tanah sehingga dijadikan bahan penilaian potensi kerusakan tanah. Peta lereng Dibuat dengan menggunakan DEM (digital elevation model) yaitu melakukan interpolasi peta kontur digital.
5) Peta Penggunaan Lahan
Kerusakan tanah di Indonesia terjadi sebagai pengaruh aktivitas manusia (penggunaan lahan) baik pertanian, kehutanan, pertambangan, industri maupun yang lain. Peta penggunaan lahan (land use) sangat penting sebagai salah satu bahan penilaian potensi kerusakan tanah. Peta penggunaan lahan dibuat menggunakan peta RBI dengan metode rektifikasi dan digitasi masing-masing penggunaan lahan yang berbeda.
6) Peta Jenis Tanah
Peta tanah diperlukan sebagai bahan untuk penilaian potensi kerusakan tanah. Informasi utama yang diambil dari peta ini adalah jenis tanah. Jenis (klasifikasi) tanah yang digunakan dapat beragam, klasifikasi menggunakan sistem klasifikasi Soil Taxonomy (Soil Survey Staff, USDA).
7) Skoring potensi kerusakan tanah
19 Nilai skoring atau skor pembobotan potensi kerusakan tanah didapat dari hasil perkalian antara nilai rating yaitu nilai potensi masing-masing unsur peta tematik terhadap terjadinya kerusakan tanah dengan nilai bobot masing-masing peta tematik yaitu peta curah hujan, peta kelerengan, peta penggunaan lahan, dan peta jenis tanah. Nilai rating ditetapkan berkisar dari 1 sampai 5. Sementara nilai bobot didasarkan kepada akurasi dari masing-masing informasi peta tematik dalam penilaian potensi kerusakan tanah. Peta penggunaan lahan dan peta tanah diberi nilai bobot dua (2) dan peta kelerengan dan curah hujan diberi bobot tiga (3). Semakin tinggi nilai skoring pembobotan yang didapat, semakin tinggi pula potensi wilayah tersebut mengalami kerusakan tanah.
8) Overlay peta tematik
Setelah areal kerja efektif dan nilai skor dari masing- masing peta tematik diperoleh, maka pada areal tersebut dilakukan overlay peta-peta tematik sebagaimana telah disebutkan. Proses overlay tersebut akan menghasilkan poligon- poligon baru dengan atribut kondisi lahan sesuai dengan peta- peta tematik penyusunnya. Pada poligon baru ini akan dinilai potensi kerusakan lahannya dengan mempertimbangkan skor pembobotan potensi kerusakan tanah dari peta-peta penyusunnya.
9) Penentuan potensi kerusakan tanah
Penentuan potensi kerusakan tanah diperoleh dengan melakukan pengelompokan terhadap akumulasi hasil kali nilai skor dengan bobot masing-masing peta tematik. Nilai skor potensi kerusakan tanah didapat dari hasil perkalian nilai rating dengan nilai bobot. Penilaian potensi ini dilaku-kan terhadap polygon yang dihasilkan melalui proses overlay. Nilai akumulasi skor tersebut berkisar dari 10 sampai 50. Berdasarkan akumulasi skor tersebut, tanah yang dinilai dikelompokan menjadi 5 kelas potensi kerusakan tanah, yaitu tanah yang berpotensi sangat rendah, rendah, sedang, tinggi, dan sangat tinggi yang akan
20 ditampilkan pada tabel di bawah ini menurut (Prasetyo et al, 2013):
Simbol Potensi kerusakan tanah
Skor pembobotan
PR. I Sangat ringan <15
PR. II Ringan 15-24
PR. III Sedang 25-34
PR. IV Tinggi 35-44
PR. V Sangat tinggi 45-50
Table 5. Kriteria pembagian kelas potensi kerusakan tanah berdasarkan nilai skor
Gambar 1. Skema Penilaian Potensi Kerusakan Tanah Peta Tematik
Curah Hujan Kelerengan
Curah Hujan
Penggunaan lahan
Rating Bobot Rating x
Dibandingkan dengan kriteria
Potensi kerusakan
21 DAFTAR PUSTAKA
Arsyad, Sitanala. 2006. Konservasi Tanah dan Air. Bandung: Penerbit IPB (IPB Press)
Arsyad, Sitanala. 2010. Konservasi Tanah dan Air. Edisi Kedua, IPB Press. Bogor Paimin (et.al). 2012. Sistem Perencanaan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai.
Pusat Penelitian dan Pengembangan Konservasi dan Rehabilitasi, Bogor.
Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup No 7 Tahun 2006. Tata Cara Pengukuran Kriteria Baku Untuk Produksi Biomassa.
Peraturan Pemerintah Nomor 150 tahun 2000 : Pengendalian Kerusakan Tanah untuk Produksi Biomassa.
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia. 2000. Kriteria Baku Kerusakan Tanah untuk Produksi Biomassa. Kepala Biro Peraturan Perundang Undangan.
Jakarta.
Prasetyo, H., Mochamad, T. 2013. Aplikasi SIG dalam Penilaian Status Kerusakan Tanah untuk Produksi Biomassa di Kabupaten Tuban, Jawa Timur. J-PAL, Vol. 4 (1): 63-68.
Rusdi, dkk. 2013. “Evaluasi Degradasi Lahan Diakibatkan Erosi pada Areal Pertanian di Kecamatan Lembah Seulawah Kabupaten Aceh Besar”. Jurnal Konservasi Sumber Daya Lahan, 1 (1), Hlm. 3, 11.
Rustiadi, Ernan, Saefulhakim, Sunsun dan Dyah R. Panuju, 2010. Perencanaan dan Pengembangan Wilayah. Crestpent Pres dan Yayasan Pustaka Obor Indonesia, Jakarta.
Suripin. 2002. Pelestarian Sumber Daya Tanah dan Air. Andi. Yogyakarta.