TANTANGAN DAN INOVASI PEMBELAJARAN PROGRAM PENDIDIKAN KEAKSARAAN DASAR
DI MASA PANDEMI
Oleh : Ni Kadek Ayu Rinawati
ARTIKEL
PKBM Dharma Sedana Santhi – Kabupaten Karangasem – Provinsi Bali email: [email protected]
Abstrak: Penyelenggaraan program keaksaraan dasar di masa pandemi Covid-19 tentu memberikan tantangan tersendiri bagi tutor yang berkecimpung langsung di lapangan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan proses pembelajaran keaksaraan dasar di masa pandemi, tantangan yang dihadapi, dan inovasi- inovasi yang dilakukan sebagai solusi dari tantangan yang dihadapi. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif dengan melibatkan 6 tutor dari 6 PKBM yang berbeda di Kabupaten Karangasem, Provinsi Bali sebagai subjek penelitian. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa proses pembelajaran keaksaraan dasar sebelum dan di masa Covid-19 tidak jauh berbeda yaitu pembelajaran keaksaraan dasar di situasi saat ini lebih kepada penekanan penggunaan protokol kesehatan disaat kegiatan berlangsung.
Adapun tantangan yang dihadapi oleh tutor di dalam proses pembelajaran yakni rasa takut yang dirasakan oleh tutor dalam menyelenggarakan kegiatan di situasi ini, menghadirkan warga belajar, mengajar warga belajar dengan beragam usia, kemampuan intelektual, dan motivasi sehingga daya serap warga belajar tidak sama, serta edukasi tentang pentingnya protokol kesehatan di masa pandemi. Kemudian inovasi yang tutor lakukan dalam penyelenggaan program ini dilapangan yakni dengan cara menggunakan media pembelajaran, proses pembelajaran disesuaikan dengan kebutuhan dan karakteristik warga belajar, jadwal dan tempat belajar disepakati bersama, dan pembelajaran lebih mengarah pada pembelajaran tutorial dan mandiri. Kedepannya, perlu pembaharuan dalam hal strategi pembelajaran sehingga perbedaan karakteristik dan gaya belajar warga belajar keaksaraan dasar dapat difasilitasi dengan baik oleh penyelenggara program.
Kata-kata kunci: keaksaraan dasar, pandemi covid-19, proses pembelajaran, tantangan, inovasi
LEARNING CHALLENGES AND INNOVATION IN BASIC LITERACY PROGRAM DURING THE PANDEMIC OF COVID-19
Abstract: The implementation of basic literacy programs during the Covid-19 pandemic certainly presents its own challenges for tutors who were directly involved in the teaching and learning process in the fi eld. This study aimed at determining the differences between the basic literacy learning process during the pandemic and before the pandemic, the challenges faced, and the innovations made as solutions to the challenges. This research was a descriptive qualitative research which was involved 6 tutors from 6 different PKBM in Karangasem Regency, the Province of Bali, as the subject of the study. The results of this study indicated that the basic literacy learning process before and during the Covid-19 period was not much different, however, the basic literacy learning in this current situation is more emphasized on the use of health protocols during the teaching and learning activities.
The challenges faced by tutors in the learning process were the fear felt by tutors in carrying out activities in
the situation of covid-19, the group learning’s attendance, teaching the learning participant with various ages, intellectual abilities, and motivation so that the learning participant’s ability in accepting and understanding the learning material was not the same, as well as taugh them about the importance of health protocols during the pandemic. Moreover, there were several innovations that tutors constructed in the implementation of this program. Those were using learning media, the learning process was adjusted to the needs and the characteristics of the learning participant as well as learning schedules and places agreement made by tutor and the learning participant. Then, the learning process was more directed towards tutorial and self-directed learning for the learning participant in this program. In the future, it is necessary to create other innovative learning strategies so that the learning participant diversity and learning their styles could be properly facilitated by program organizers.
Keywords: basic literacy, Covid-19 pandemic, learning process, challenges, innovation
PENDAHULUAN
Negara Indonesia terdiri dari berbagai kelas masyarakat jika dilihat dari segi ekonominya yang berdampak pada perolehan pendidikannya. Ada masyarakat yang mampu mengenyam pendidikan formal di sekolah formal dan ada yang tidak bisa mengenyam pendidikan. Adapun faktor yang mempengaruhi perolehan pendidikan yakni faktor ekonomi keluarga, fasilitas pendidikan yang kurang, minat belajar rendah, perhatian orang tua, partisipasi masyarakat yang menurun, hingga akses pendidikan yang masih sulit didapat oleh sebagian masyarakat (Pratiwi & Wibhawa, 2015).
Sementara, fungsi pendidikan nasional adalah memfasilitasi pendidikan bagi seluruh warga negaranya melalui jalur pendidikan yang sesuai sebagai upaya pemerintah mendukung pendidikan sepanjang hayat (life long education) (Oktapiani, 2020; Rinawati, 2020). Hal tersebut dikarenakan pembelajaran berlaku seumur hidup manusia dalam berbagai cara dan berbagai konteks berbeda (Abiddin et al., 2015). Semua warga negara memiliki hak untuk dapat mengembangkan setiap kemampuan dan potensinya terlepas dari hambatan yang dihadapi seperti batas usia dan ekonomi (Pratiwi & Wibhawa, 2015).
Pendidikan formal dianggap belum cukup memainkan perannya dalam mengatasi setiap permasalahan tersebut (Pratiwi & Wibhawa, 2015).
Sehingga pendidikan non-formal merupakan kata kunci yang tepat dalam mengurai benang
kusut yang terjadi dalam masyarakat terkait hal ini (Megawati, 2012). Kemudian, dalam hal ini pemerintah menyelenggarakan berbagai program pendidikan non-formal dan salah satunya yakni pendidikan keaksaraan dasar, sebagai bentuk perwujudan dari suatu kebijakan sosial dalam bidang pendidikan (Apriani & Prakoso, 2019).
Program ini diperuntukkan bagi seluruh warga negara Indonesia yang belum mampu mengenyam pendidikan formal sebagai program pemberantasan buta aksara oleh pemerintah.
Program keaksaraan dasar merupakan program pendidikan non-formal yang diselenggarakan oleh pemerintah melalui Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM). Program ini diperuntukkan bagi masyarakat usia produktif (15-59 tahun) yang belum memiliki kecapakan literasi dasar (Rinawati, 2020). Tujuan mendasar program keaksaraan dasar adalah mengajarkan keterampilan ekonomi, baca dan tulis serta menghitung secara bersamaan dari awal. Ini merupakan keterampilan dasar dari fungsional aksara sebagai fondasi dari keterampilan lain yang akan diasah sehingga warga belajar mampu mengintegrasikannya dengan keterampilan lainnya serta mampu memanfaatkan kemampuannya dalam kehidupan sehari-hari (Apriani & Prakoso, 2019; Noviawati & Masjidah, 2020; Pratiwi & Wibhawa, 2015; Syah et al., 2021;
Wulandari, 2018). Program ini juga bertujuan untuk membantu warga belajarnya untuk meningkatkan produktivitas, dengan harapan mereka mampu memanfaatkan potensi sumber
daya yang ada di lingkungan sekitarnya, untuk peningkatan mutu dan taraf/kualitas hidupnya (Ginanjar et al., 2014; Pratiwi & Wibhawa, 2015;
Rinawati, 2020; Syukri, 2008).
Penyebaran virus corona (covid-19) mulai menyebar pada Maret 2020 hingga saat ini mengakibatkan berbagai perubahan pola hidup masyarakat termasuk bidang pendidikan. Terlepas dari pro dan kontra terkait keberadaan pandemi ini, hal ini sangat berpengaruh pada sistem pendidikan nasional yang mengubah tatanan pembelajaran tatap muka menjadi daring. Hal ini juga berpengaruh pada penyelenggaraan program keaksaraan dasar yang merupakan salah satu bagian dari pendidikan non-formal.
Pada penyelenggaraan program keaksaraan dasar di masa pandemi, proses pembelajarannya pun tentu berbeda dari sistem pembelajaran tatap muka yang biasanya dilakukan sebelum pandemi.
Tentu ada tantangan yang tutor serta warga belajar hadapi dalam proses pembelajaran di masa pandemi ini. Jika diselisik tantangan penyelenggaraan program ini di masa sebelum pandemi dibagi ke dalam 2 jenis yakni faktor internal dan faktor eksternal (Rochman et al., 2017).
Faktor internal yang pertama yakni keberagaman usia warga belajar pada program keaksaraan dasar yang usianya 15-59 tahun dan dominan dewasa (Noviawati & Masjidah, 2020; Rinawati, 2020;
Rochman et al., 2017; Wulandari, 2018). Dengan usia warga belajar yang dominan dewasa, tentu mereka akan kesulitan dalam menerima materi pembelajaran dengan baik sehingga dibutuhkan strategi pembelajaran serta media pembelajaran yang sesuai sehingga mampu menunjang proses pembelajaran warga belajar (Noviawati &
Masjidah, 2020). Sehingga perlunya ketelatenan tutor dalam menyesuaikan strategi pembelajaran dengan keseragaman usia warga belajar (Noviawati
& Masjidah, 2020; Rinawati, 2020).
Selain itu faktor waktu juga menjadi salah satu tantangan dalam penyelenggaraan program ini.
Kegiatan atau kepentingan pribadi dari masing- masing warga belajar berbeda- beda sehingga saat proses pembelajaran berlangsung ada beberapa
anggota yang tidak bisa hadir. Hal ini terbukti pada saat proses pembelajaran berlangsung seluruh anggota tidak bisa hadir secara lengkap, beberapa di antara mereka tidak hadir karena ada kepentingan pribadi. Sehingga anggota yang tidak hadir dapat ketinggalan materi yang telah diajarkan (Wulandari, 2018). Kemudian kesulitan memilih waktu belajar juga dikarenakan berbenturan dengan waktu kerja warga belajar (Putri, 2016).
Tantangan yang menjadi faktor eksternal pembelajaran keaksaraan dasar meliputi jarak rumah warga belajar dengan tempat pembelajaran dan metode pembelajaran yang digunakan selama proses pembelajaran. Semakin jauh tempat pembelajaran maka akan semakin rendah partisipasi warga belajar (Rochman et al., 2017).
Selain itu, kurang beragamnya metode pembelajaran yang digunakan oleh tutor dapat memicu rendahnya partisipasi warga belajar (Rochman et al., 2017). Tutor hendaknya menggunakan strategi pembelajaran kontekstual dengan menyesuaikan pada karakteristik warga belajar, pengetahuan tutor serta faktor yang mempengaruhi kegiatan pembelajaran warga belajar pada program keaksaraan dasar (Rinawati, 2020; Sadid, 2019).
Pada program keaksaraan dasar, pendekatan pembelajaran dilakukan melalui pendekatan pembelajaran orang dewasa yang biasa disebut dengan pembelajaran andragogi. Hal ini dikarenakan oleh karakteristik warga belajar yang dominan dewasa sebagai orang yang telah memiliki pengetahuan, pengalaman, kematangan, tanggung jawab serta dapat mengatur dirinya sendiri (Abiddin et al., 2015; Budiwan, 2018; Sumiyarno, 2007; Waspodo, 2009; Yusri, 2013). Pembelajaran andragogi memerlukan pendekatan dan strategi pembelajaran yang berpegangan pada teori yang didasarkan pada pemahaman orang dewasa sebagai peserta didik (Yusri, 2013). Warga belajar orang dewasa cenderung menyukai pembelajaran yang mandiri sehingga mereka memiliki kontrol penuh atas waktu dan target capaian (Nugraha, 2016)
Begitupun tutor sebagai fasilitator dalam proses pembelajaran, tentu memerlukan ekstra perhatian
dalam setiap proses pembelajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran, khususnya pada masa pandemi ini. Inovasi pembelajaran hendaknya dikembangkan dan disesuaikan dengan kebutuhan warga belajar serta kontekstual pembelajaran.
Dengan adanya peran tutor sebagai motivator, pembimbing, dan fasilitator hendaknya dapat menumbuhkan keinginan belajar warga belajar.
Bagi orang dewasa belajar berhubungan dengan bagaimana mengarahkan diri sendiri untuk bertanya dan mencari jawabannya (Kisworo, 2017).
Kemudian, belum adanya penelitian terkait pembelajaran di masa pandemi, khususnya pada program keaksaraan dasar menjadi salah satu latar belakang peneliti melakukan penelitian ini.
Penelitian ini juga bertujuan untuk mengetahui tantangan yang dihadapi oleh tutor keaksaraan dasar dalam proses pembelajaran di masa pandemi dan untuk memperdalam inovasi-inovasi pembelajaran yang digali oleh tutor dalam memfasilitasi proses pembelajaran keaksaraan di masa pandemi ini. Hal ini akan memberikan implikasi pada pembaharuan strategi pembelajaran yang akan memperkaya strategi-strategi pembelajaran pada program ini secara kontekstual.
METODE PENELITIAN
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif deskriptif.
(Creswell & Poth, 2018) menyatakan metode kualitatif bertujuan untuk memecahkan suatu masalah, menganalisis, mendeskripsikan, menginterpretasikan dan mengembangkan pemahaman yang mendalam terkait masalah yang ingin diteliti dalam bentuk kata-kata.
Adapun subjek penelitian ini adalah 6 tutor, perwakilan dari 6 PKBM di Kabupaten Karangasem, Provinsi Bali. Dari 6 PKBM tersebut, lokasinya tersebar di 3 Kecamatan, diantaranya 1 PKBM berlokasi di Kecamatan Manggis, 1 PKBM di Kecamatan Kubu, dan 4 PKBM di Kecamatan Rendang. Keenam PKBM tersebut sedang menyelenggarakan program keaksaraan di masa pandemi ini yang dimulai dari pertengahan bulan Juli lalu. Dalam menentukan tempat penelitian, peneliti menggunakan metode purposive sampling artinya
tempat penelitian sudah ditentukan dengan sengaja dengan maksud lokasi tersebut relevan dengan tujuan penelitian. Subjek penelitian dipilih sebagai informan yang tepat dan terpercaya, yang dianggap mengetahui dan memahami objek penelitian.
Sehingga, dapat diperoleh informasi-informasi yang dibutuhkan sesuai dengan tujuan penelitian.
Pengumpulan data yang dilakukan pada penelitian ini menggunakan wawancara yang diberikan melalui google form sebagai media dalam memberikan angket terbuka dan dengan studi pustaka. Wawancara adalah suatu percakapan yang bertujuan untuk menggali informasi. Sementara studi pustaka digunakan sebagai referensi atau sumber informasi pada cakupan topik terkait penyelenggaraan program keaksaraan dasar.
Metode pengumpulan data yang digunakan yakni wawancara yang diberikan kepada enam subjek penelitian melalui google form. Ada tiga fokus pertanyaan pada wawancara tersebut untuk mendapatkan informasi sesuai dengan tujuan penelitian ini.
Tabel 1. Daftar Wawancara 1. Bagaimana proses pembelajaran keaksaraan
dasar selama pandemi ini? Apakah ada perbedaan pembelajaran keaksaraan dasar sebelum
dan semasa pandemi? Silakan dijabarkan perbedaannya jika ada.
2. Apa saja tantangan yang Bapak/Ibu temui selama pembelajaran keaksaraan dasar, khususnya di masa pandemi ini?
3. Apa inovasi pembelajaran yang Bapak/Ibu lakukan untuk mengatasi tantangan pembelajaran sehingga tujuan pembelajaran keaksaraan dasar tercapai?
Data dalam penelitian ini dianalisis secara kualitatif melalui tahapan-tahapan yang sesuai dengan prosedur yang telah ditentukan berdasarkan teori Miles & Huberman (1994). Tahapannya yaitu pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Agar data yang dianalisis menjadi valid, perlu dilakukan triangulasi data. Triangulasi dilakukan untuk menetapkan fakta-fakta yang dibutuhkan yang disampaikan oleh lebih dari satu sumber informasi (Rugg, 2010). Triangulasi data dilakukan dengan menghubungkan hasil penelitian saat ini dengan
penelitian-penelitian sebelumnya yang berkaitan dengan penelitian ini melalui studi pustaka yang relevan dengan tujuan penelitian.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Teknik pengumpulan data pada pendekatan kualitatif ini, yakni dengan melakukan wawancara melalui google form kepada subjek penelitian.
Adapun hasilnya dibagi kedalam tiga sub-topik dan dideskripsikan sebagai berikut.
Proses pembelajaran keaksaraan dasar di masa pandemi
Proses pembelajaran merupakan inti dari proses belajar peserta didik agar tujuan pembelajaran dapat tercapai dengan baik.
Pada program keaksaraan dasar merupakan program pemberantasan buta aksara yang diselenggarakan oleh pemerintah melalui PKBM tentu memiliki karakteristiknya sendiri di tengah pandemi ini. Hasil dari wawancara dengan 6 tutor dari 6 PKBM yang berbeda di Kabupaten Karangasem memberikan jawaban tentang adanya perbedaan proses pembelajaran di masa pandemi jika dibandingkan penyelenggaran program keaksaraan dasar sebelum pandemi Covid-19.
Jawaban S1:
“Tentu ada perbedaan proses pembelajaran keaksaraan dasar sebelum dan di saat pandemi. Bila sebelum adanya pandemi kita dengan leluasa mengumpulkan warga belajar keaksaraan dasar dalam satu tempat, namun saat pandemi seperti sekarang ini kegiatan dengan pengumpulan banyak orang dikurangi untuk mencegah penularan virus covid-19. Sistem belajar di masa ini yakni tutor mengajar di rumah warga yang berdekatan. Selain itu, pembelajaran dilaksanakan dengan mematuhi protokol kesehatan yang ketat dengan metode pembelajaran lebih mengarah ke metode tutorial.”
Jawaban S2:
“Proses pembelajaran keaksaraan dasar di masa pandemi dan sebelum pandemi masih sama hanya tetap memperhatikan protokol kesehatan.”
Jawaban S3:
“Proses pembelajaran keaksaraan dasar di masa pandemi ini dilakukan dengan membuat kelompok kecil saat belajar, menjaga jarak, dan menaati protokol kesehatan”.
Jawaban S4:
“Tentu ada perbedaan pembelajaran di masa ini. Hal ini dikarenakan oleh kegiatan berkerumun yang banyak dibatasi sehingga semua warga belajar tidak bisa tatap muka dalam satu tempat belajar”.
Jawaban S5:
“Proses pembelajaran di masa ini berbeda dengan pembelajaran keaksaraan dasar sebelum pandemi. Perbedaan yang paling terlihat tentunya harus menggunakan protokol kesehatan yang ketat dan menjaga jarak ketika proses pembelajaran dilakukan”.
Jawaban S6:
“Perbedaan proses pembelajaran sekarang terdapat pada sistem belajarnya. Dalam 1 kelompok belajar yang terdiri dari 10 orang warga belajar sistem pembelajaran diadakan dengan jaga jarak dan penggunaan masker. Selain itu, bagi warga belajar yang tidak bisa hadir maka pihak PKBM yang akan hadir ke rumah warga belajar untuk melakukan pembelajaran tutorial.”
Dari hasil wawancara melalui google form tersebut, dapat disimpulkan bahwa proses pembelajaran keaksaraan dasar di lapangan pada masa pandemi ini tidak jauh berbeda dengan proses pembelajaran sebelum pandemi.
Semua subjek penelitian menyampaikan hal yang paling terlihat berbeda pada proses belajar
sebelum dan di masa pandemi yaitu penekanan pada protokol kesehatan sesuai dengan anjuran dinas kesehatan dan pemerintah. Protokol kesehatan yang mencakup rajin mencuci tangan atau menggunakan hand sanitizer, menggunakan masker, dan menjaga jarak tersebut selalu ditekankan pada setiap proses pembelajaran tatap muka pada setiap kelompok belajar. Satu kelompok belajar terdiri dari 10 warga belajar dan 1 orang tutor utama.
Kemudian, jika sebelum pandemi ada keleluasaan dalam mengumpulkan warga belajar keaksaraan dasar dalam satu tempat, tetapi ada perbedaan di masa pandemi Covid-19. Sebelum proses pembelajaran, warga belajar dan tutor melakukan kesepakatan untuk melakukan pembelajaran di satu tempat yang luas dan cukup untuk sepuluh warga belajar serta kadang tutor juga mengajar di rumah warga yang berdekatan.
Jadwal pembelajaran juga disesuaikan dan disepakati bersama. Pada proses pembelajaran, warga belajar membuat kelompok kecil saat belajar dan tetap menjaga jarak.
Selain itu, kegiatan belajar tentu lebih dikurangi sehingga warga belajar lebih dimotivasi untuk belajar mandiri di rumah masing-masing selain proses tatap muka sendiri. Kemudian, tutor juga memberikan edukasi kesehatan tentang pentingnya protokol kesehatan dan memberikan pemahaman tentang Covid-19 pada warga belajar.
Proses penyelenggaraan program keaksaraan dasar di situasi Covid-19 saat ini tentu menjadi salah satu hal yang harus diperhatikan alurnya oleh penyelenggara program mengingat adanya larangan dari pemerintah untuk mengurangi kegiatan yang melibatkan banyak orang. Sehingga koordinasi yang baik harus selalu dipupuk antara penyelenggara program yaitu PKBM, pihak-pihak terkait di wilayah di mana program ini diselenggarakan, dan juga dinas-dinas terkait. Hal ini bertujuan
untuk menyatukan persepsi agar kegiatan bisa berjalan sesuai dengan tujuan program yang diharapkan namun tetap menyesuaikan dengan situasi Covid-19 yang terjadi di wilayah masing-masing.
Tantangan pembelajaran keaksaraan dasar di masa pandemi
Adapun tantangan pembelajaran keaksaraan dasar berdasarkan hasil wawancara enam subjek penelitian ini, adalah sebagai berikut.
Jawaban S1:
“Tantangan yang kita temui di lapangan yakni: (1) Membiasakan warga belajar tentang pentingnya protokol kesehatan dan menjaga warga belajar agar selalu mematuhi prokes tersebut. (2) Ada kendala dalam menghadirkan warga belajar peserta keaksaraan dasar, terkadang tidak semua lengkap, ada saja beberapa orang yang tidak bisa hadir ketika proses pembelajaran. (3) Mengajar warga belajar yang mayoritas sudah berumur diatas 40-an.”
Jawaban S2:
“Tantangan dalam pembelajaran keaksaraan dasar di masa ini yakni kesulitan dalam menghubungi dan mendatangkan warga belajar ke tempat belajar”.
Jawaban S3:
“Tantangannya adalah jumlah warga belajar yang datang ke tempat belajar terbatas sehingga pembelajaran dilakukan secara bergantian”.
Jawaban S4:
“Tantangannya adalah menekankan protokol kesehatan ketika pembelajaran dilakukan dan membiasakannya pada warga belajar, karena banyak warga belajar yang sudah berumur/tua yang ikut belajar sehingga rentan akan penyakit”.
Jawaban S5:
“Tantangan yang ditemui yaitu, tetap melaksanakan program ditengah situasi yang harus terbatas dan menerapkan prokes”.
Jawaban S6:
“Tantangannya terkadang takut untuk mengadakan pertemuan karena masih situasi covid ini”.
Dari ilustrasi jawaban tutor terkait tantangan pembelajaran keaksaraan dasar melalui wawancara dapat dideskripsikan sebagai berikut.
Tingginya kasus angka Covid-19 menyebabkan Provinsi Bali pada khususnya melakukan PPKM darurat, dimana penerapannya sangat ketat sehingga kegiatan yang melibatkan orang banyak dibatasi dan wajib ada izin dari pihak- pihak terkait. Dalam penyelenggaraan program keaksaraan dasar ini pun sama. Koordinasi dilakukan terlebih dahulu agar proses pembelajaran bisa dilakukan, namun tetap menyesuaikan pada situasi. Sehingga, dalam penyelenggaraan program ini di lapangan tutor juga menghadapi banyak tantangan.
Pertama, situasi saat ini kadang membuat tutor merasa takut untuk menyelenggarakan kegiatan belajar mengajar. Program tetap dilaksanakan namun dengan terbatas dan menerapkan protokol kesehatan.
Tantangan yang kedua yaitu dalam menghadirkan warga belajar. Dalam proses pembelajaran dengan warga belajar, terkadang beberapa orang tidak bisa hadir sehingga tidak lengkap. Tutor juga mengalami kesulitan dalam menghubungi dan mendatangkan warga belajar ke tempat belajar. Hasil penelitian ini berkaitan dengan penelitian yang dilakukan oleh (Putri, 2016; Wulandari, 2018). Kedua, penelitian tersebut menyampaikan bahwa waktu menjadi salah satu tantangan didalam penyelenggaraan program keaksaraan dasar.
Sehingga pembelajaran dilakukan secara bergantian dan tutor juga harus mencari solusi kreatif agar semua warga belajar dapat belajar topik yang didiskusikan pada saat pembelajaran tatap muka. Selain itu, waktu pembelajaran juga disepakati bersama antara tutor dan warga belajar.
Ketiga, mengajar warga belajar dengan beragam usia. Hal ini memicu rendahnya daya serap warga belajar dalam menerima transfer ilmu dari tutor yang disebabkan oleh faktor usia itu sendiri, kemampuan intelektualnya, dan motivasi belajar yang berbeda-beda. Hal ini berkaitan dengan salah satu faktor internal yang menjadi tantangan dalam proses pembelajaran keaksaraan dasar yakni usia, seperti hasil penelitian yang dilakukan (Noviawati &
Masjidah, 2020; Rinawati, 2020; Rochman et al., 2017; Wulandari, 2018).
Hal ini membuat tutor selaku fasilitator ilmu pada kelompok belajarnya harus memahami semua karakteristik warga belajarnya dengan melakukan pendekatan andragogi untuk menemukan strategi pembelajaran yang beragam dan fungsional. Dengan usia warga belajar yang beragam dan dominan dewasa, tentu dibutuhkan kreativitas tutor dalam meramu proses pembelajaran inovatif sehingga semua warga belajar dalam kelompok belajarnya terakomodir dengan baik, seperti yang disampaikan pada penelitian (Noviawati
& Masjidah, 2020; Rinawati, 2020; Rochman et al., 2017).
Keempat yakni, edukasi tentang Covid-19 dan protokol kesehatan. Membiasakan warga belajar tentang pentingnya protokol kesehatan dan menjaga warga belajar agar selalu mematuhi prokes tentu menjadi salah satu tantangan tutor di lapangan. Dimana setiap individu apalagi dominan dewasa ini sudah memiliki pengetahuan dan cara pandang tersendiri tentang suatu hal. Sehingga edukasi
diberikan secara perlahan agar semua warga belajar bisa menerima kebiasaan baru yang harus mereka ikuti demi kesehatan diri mereka masing-masing.
Inovasi pembelajaran keaksaraan dasar di masa pandemi
Inovasi pembelajaran keaksaraan dasar yang dilakukan oleh tutor di masa pandemi yakni sebagai berikut.
Jawaban S1:
“Ada beberapa inovasi pembelajaran yang kami lakukan pada program keaksaraan dasar ini. (1) Selalu mengedukasi warga belajar untuk tetap menerapkan prokes. (2) Dalam menghadirkan warga belajar kita lebih menyesuaikan waktu yang dimiliki oleh warga belajar. (3) Menggunakan media gambar dan benda dalam pengenalan angka maupun huruf dan tetap mengulang materi sebelumnya saat setiap pertemuan untuk menjaga daya ingat warga belajar. (4) Ada model pembelajaran untuk mandiri untuk warga belajar di rumah.”
Jawaban S2:
“Strategi yang dilakukan dalam pembelajaran keaksaraan dasar ini yakni dengan melakukan jemput bola (menjemput warga belajar ke tempat belajar) dan menyepakati waktu pertemuan dengan warga belajar”.
Jawaban S3:
“Proses pembelajaran disesuaikan dengan kebutuhan dan karakteristik warga belajar serta jadwal disesuaikan dengan kesiapan warga belajar.”
Jawaban S4:
“Proses belajarnya, tutor lebih menekankan warga belajar untuk belajar mandiri di rumah dengan memberikan modul untuk dipelajari dan kemudian dilakukan pendekatan tutorial setelahnya”.
Jawaban S5:
“Inovasi pembelajaran yang tutor lakukan di masa ini yakni dengan memberikan materi pembelajaran dalam bentuk video”.
Jawaban S6:
“Solusinya dengan memberikan masker dan menjaga jarak ketika proses pembelajaran dilakukan”.
Dimasa pandemi Covid-19 ini tentu saja membuat para penyelenggara satuan pendidikan baik formal maupun non-formal harus mencari solusi untuk berjalannya kegiatan di satuan pendidikan mereka masing-masing.
Sama halnya dengan program keaksaraan dasar di pendidikan non-formal. Penyelenggara kegiatan di lapangan yang dalam hal ini adalah tutor, perlu menciptakan inovasi-inovasi pembelajaran yang kontekstual menyesuaikan dengan karakteristik warga belajar, lingkungan belajar, dan situasi belajar. Hal ini bertujuan untuk mencapai tujuan program secara umum di masa pandemi yang selalu menimbulkan tantangan-tantangan dalam proses kegiatan berlangsung.
Dalam penelitian ini, tutor tidak menjelaskan secara rinci tentang inovasi-inovasi pembelajaran yang mereka gunakan dalam proses pembelajaran keaksaraan dasar di masa pandemi ini. Ada beberapa hal yang berkaitan dengan inovasi pembelajaran yang disampaikan dalam wawancara melalui google form yang disebarkan kepada enam tutor.
Pertama, pengunaan media pembelajaran pada proses belajar mengajar. Media pembelajaran yang digunakan berupa media gambar dan benda dalam pengenalan angka maupun huruf. Selain itu, materi pembelajaran yang sesuai diberikan dalam bentuk video. Selain itu, tutor juga melakukan pengulangan materi sebelumnya di awal sesi pembelajaran untuk menjaga daya ingat warga belajar
Kedua, proses pembelajaran pada program ini disesuaikan dengan kebutuhan dan karakteristik warga belajar serta jadwal disesuaikan dengan kesiapan warga belajar. Ini bertujuan agar warga belajar merasa ambil andil dalam menentukan jadwal belajar dan kesiapan belajar mereka sehingga ada hubungan yang baik terjalin diantara tutor dan kelompok belajarnya.
Dengan adanya hubungan yang baik ini, tentu akan berpengaruh pada keterbukaan warga belajar dalam menyampaikan maksud mereka masing-masing di dalam proses pembelajaran.
Ketiga, pembelajaran mandiri dan metode tutorial. Pada proses belajarnya, tutor lebih menekankan warga belajar untuk belajar mandiri dengan memberikan modul pada masing-masing warga belajar untuk dipelajari di rumah dan kemudian dilakukan pendekatan tutorial setelahnya. Hal ini dilakukan untuk mengurangi kegiatan tatap muka antara tutor dan warga belajar.
Inovasi pembelajaran merupakan salah satu hal terpenting di dalam proses pembelajaran.
Tutor dalam hal ini perlu mengasah kreativitasnya dalam mencari pembaharuan dalam proses belajar-mengajar sehingga semua warga belajar terlibat langsung sebagai pusat dari program ini. Pendekatan andragogi bisa dipoles dengan strategi-strategi pembelajaran yang menyesuaikan dengan karakteristik orang dewasa itu sendiri. Karena kurang variatifnya strategi pembelajaran yang digunakan oleh tutor dapat memicu rendahnya partisipasi warga belajar (Rochman et al., 2017). Selain itu, keterlibatan langsung warga belajar di dalam proses belajarnya, tentu akan lebih membuat mereka mengalami sendiri proses belajarnya sehingga topik-topik bahasan yang didiskusikan akan lebih melekat sebagai pengalaman belajarnya.
PENUTUP
Simpulan dan Saran
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dibahas, dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut.
Penyelenggaraan program keaksaraan dasar di tengah pandemi tentu menyisakan tantangan dan solusi yang hendaknya dicari sebagai cara alternatif yang bisa ditempuh guna mencapai tujuan program itu sendiri. Proses pembelajaran keaksaraan dasar sebelum dan di masa Covid-19 tidak jauh berbeda. Perbedaan terlihat hanya pada penekanan penggunaan protokol kesehatan disaat kegiatan berlangsung.
Adapun tantangan yang dihadapi oleh tutor di dalam proses pembelajaran yakni rasa takut yang dirasakan oleh tutor dalam menyelenggarakan kegiatan di situasi covid-19, menghadirkan warga belajar, mengajar warga belajar dengan beragam usia, kemampuan intelektual, dan motivasi sehingga daya serap warga belajar tidak sama, serta edukasi tentang pentingnya protokol kesehatan di masa pandemi.
Kemudian inovasi yang tutor lakukan dalam penyelenggaraan program ini dilapangan yakni dengan cara menggunakan media pembelajaran berupa video, proses pembelajaran disesuaikan dengan kebutuhan dan karakteristik warga belajar, jadwal dan tempat belajar disepakati bersama, serta pembelajaran lebih mengarah pada pembelajaran tutorial dan mandiri.
Tutor harus siap dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran program keaksaraan dasar dalam keadaan apapun asalkan sudah sesuai dengan aturan yang ada. Selain itu, perlu adanya inovasi model pembelajaran baru di masa pandemi Covid-19 dengan tujuan memudahkan warga belajar untuk
belajar mandiri sehingga mengurangi kontak langsung antara tutor dengan warga belajar. Model pembelajaran baru disesuaikan dengan materi pembelajaran namun ada disekitar tempat tinggal warga belajar sehingga warga belajar lebih cepat memahami maksud yang disampaikan oleh tutor dan bisa belajar secara mandiri. Dalam proses belajar-mengajar tutor disarankan mengajak warga belajar untuk belajar sambil melakukan kegiatan fi sik namun menyesuaikan dengan kemampuan warga belajar sehingga menciptakan suasana senang dengan tujuan meningkatkan imun tubuh. Kemudian, selain belajar membaca, menulis dan berhitung kiranya perlu diselipkan pentingnya berolahraga, serta perilaku hidup bersih pada warga belajar.
Penelitian selanjutnya disarankan agar lebih memperdalam strategi pembelajaran orang dewasa. Dengan harapan program pendidikan keaksaraan dasar dapat tepat sasaran dan tujuan program dapat tercapai meski dalam situasi apapun.
DAFTAR PUSTAKA
Abiddin, N. ., Ismail, A., & Suwirta, A. (2015). Faktor-Faktor yang Membantu dan Menghalangi Pembelajaran Orang Dewasa : Implikasi kepada Pembangunan Sumber Manusia. Atikan: Jurnal Kajian Pendidikan, 5(1), 23–32.
Apriani, F., & Prakoso, C. T. (2019). Implementasi Program Keaksaraan. 7, 8499–8511.
Budiwan, J. (2018). Pendidikan Orang Dewasa (Andragogy).
Jurnal Qalamuna, 10(2), 107–135. ejournal.
insuriponorogo.ac.id › article › download%0A Creswell, J. W., & Poth, C. N. (2018). Qualitative Inguiry
Research Design: Choosing among Five Approaches.
In Sage Publication.
Ginanjar, A., Wahyudin, U., & Saepudin, A. (2014).
Pengelolaan Program Keaksaraan Usaha. Pedagogia:
Jurnal Ilmu Pendidikan, 490–499.
Kisworo, B. (2017). Implementasi Media Pembelajaran Berbasis Prinsip-Prinsip Pendidikan Orang Dewasa PKBM Indonesia Pusaka Ngaliyan Kota Semarang.
Journal of Nonformal Education, 3(1), 80–86. https://
doi.org/10.15294/jne.v3i1.8987
Megawati, A. (2012). Penerapan Prinsip Pembelajaran Orang Dewasa (Andragogy) pada Program Life Skill di SKB
Kabupaten Pati. Journal of Non Formal Education and Community Empowerment, 1(1), 55–60.
Miles, M. B., and M. Huberman. 1994. Qualitative Data Analysis: A Sourcebook of New Methods. 2d Edition.
Beverly Hills, CA: Sage Publications.
Noviawati, M., & Masjidah, D. (2020). Peran Tutor dalam Meningkatkan Motivasi Warga Belajar Keaksaraan Fungsional di PKBM Jayagiri Lembang. Jurnal Comm- Edu, 3(2), 199–209.
Nugraha, F. (2016). Learning is Fun dalam Perspektif Pembelajaran Orang Dewasa. Jurnal Balai Diklat Keagamaan Bandung, IX(2003), 98–108.
Oktapiani, M. (2020). Evaluasi Proses Program Pendidikan Keaksaraan Dasar Perspektif Discrepancy Evaluation Model. Journal of Administration and Educational Management, 53(9), 1689–1699.
Pratiwi, E. P., & Wibhawa, B. (2015). Pengembangan Pendidikan Non-Formal Melalui Program Keaksaraan Fungsional Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat.
Prosiding Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat, 2(2), 169–174. https://doi.org/10.24198/
jppm.v2i2.13274
Putri, R. E. A. (2016). Dampak Program Keaksaraan Dasar Terhadap Penciptaan Masyarakat Belajar di Kelompok Binaan SKB Kabupaten Malang. J+Plus Unesa, 5(1), 1–6.
Rinawati, N. K. A. (2020). Meningkatkan Motivasi Belajar dengan Bermain Kartu pada Program Keaksaraan Dasar. Jurnal Akrab, 11(2), 52–61. https://doi.
org/10.51495/jurnalakrab.v11i02.352
Rochman, M., Marjiono, & Imsiyah, N. (2017). Faktor-Faktor Penyebab Rendahnya Pasrtisipasi Warga Belajar dalam Program Keaksaraan Fungsional di Kelurahan Antirogo Kecamatan Sumbersari Kabupaten Jember.
Jurnal Pendidikan Luar Sekolah, 1(1), 21–24.
Rugg, D. (2010). An Introduction to Triangulation. UNAIDS Monitoring and Evaluation Fundamentals, 09–71.
Sumiyarno, S. (2007). Pembelajaran Orang Dewasa Berbasis Andragogi: Tinjauan Teori. Jurnal Ilmiah VISI PTK-PNF, 2(1), 49–55. https://doi.org/10.21009/jiv.0201.7 Syah, R., Ikhsanudin, & Darmawan, D. (2021). Peran Program
Keaksaraan Dasar dalam Perspektif Perempuan di PKBM Lombok Tengah. Jurnal Akrab, XII, 2–9.
Syukri, M. (2008). Pendidikan Keaksaraan Fungsional:
Konsep dan Strategi Pengembangan Program.
Journal Cakrawala Kependidikan, 112–121.
Waspodo, M. (2009). Peran Tutor dalam Pembelajaran dengan Pendekatan Andragogi. Jurnal Ilmiah VISI PTK-PNF, 4(1), 63–70.
Wulandari, R. (2018). Pemberdayaan Aksara Masyarakat Pedesaan : Evaluasi Program Keaksaraan Fungsional pada Kelompok “Ngudi Kawruh” Di Kelurahan Pasar Kliwon Kota Surakarta. CENDEKIA : Jurnal Studi Keislaman, 3(1), 1–10. https://doi.org/10.37348/
cendekia.v3i1.34
Yusri, Y. (2013). Strategi Pembelajaran Andragogi. Al- Fikra : Jurnal Ilmiah Keislaman, 12(1), 25. https://doi.
org/10.24014/af.v12i1.3861