• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengelolaan Dilema Etik Klinis dalam Asuhan Pasien

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Pengelolaan Dilema Etik Klinis dalam Asuhan Pasien"

Copied!
56
0
0

Teks penuh

(1)

Pengelolaan Dilema Etik Klinis dalam

Asuhan Pasien

dr. Pukovisa Prawiroharjo, Sp.S(K), PhD

Majelis Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK) Pusat PB Ikatan Dokter Indonesia

(2)

Prinsip awal Etika Kedokteran

“I will use treatment to help the sick according to my ability and judgement but never with a view to injury and wrongdoing; (Hippocratic oath)  bring benefit and do no harm (hippocratic imperative)

“Cure sometimes, support frequently, comfort always”.

Clinical medicine is a science of uncertainty and an art of probability (William Osler).

Every human being of adult years and of sound mind has a right to determine what shall be done with his body (Schloendorff v Society NY 1914: dasar Anglo-American

(3)

Rentang Layanan RS

Rentang layanan RS sangat luas:

Nakes RS ke Orang sehat dan masyarakat umum;

Pasien/Orang sakit.  pembahasan etika khusus, terikat KODEKI & UU/produk

hukum yang mengatur. Pembahasan dari ranah hukumnya pun khusus (lex specialis).

Sesama sejawat dokter (esprite d’corpse) baik sesama disiplin/antar disiplin  terutama diikat dengan KODEKI (hukum tidak terlampau jauh mengatur).

Dg pimpinan fasyankes (RS/klinik)  diikat KODEKI, Kode etik RS, UU perumahsakitan

Dg nakes lain  KODEKI, Kode etik RS, UU perumahsakitan, UU Pradok, UU nakes.

(4)

Pelembagaan Etika, Disiplin, dan Hukum kedokteran di Indonesia

Etika

MKEK IDI: pusat, wilayah, dan beberapa cabang, DE PDSp. kemahkamahan, pengawasan, pembinaan, pembuatan fatwa etika kedokteran (di tingkat pusat).

Majelis Kehormatan Etika Rumah Sakit Indonesia (MAKERSI). Terutama mengatur etika RS dan pimpinannya serta relasi antar nakes dalam RS.

Komite Etika dan hukum serta sub komite etik komite medik di RS.

Disiplin:

MKDKI di bawah KKI. Kewenangan: kemahkamahan, pembinaan.

Hukum

Legislasi hukum: DPR dan pemerintah (UU). Pemerintah (hukum di bawah UU).

Proses penegakkan hukum: Kepolisian RI, Jaksa, Pengadilan; dan aparat hukum

(5)

KERJASAMA SUB KOMITE ETIK RS - MKEK

Pengawasan melalui sistem manajerial yang baik dari RS  temuan masalah etis.

Pertanyaan tentang cara bersikap pada konteks kasus tertentu: dilema etis  jika dibutuhkan fatwa khusus, dapat berkomunikasi dengan MKEK PB IDI dan MAKERSI yg memiliki jurisdiksi/otoritas.

Temuan etis yang memerlukan penetapan dan diberikan sanksi etis  kerjasama dengan MKEK Wilayah/Cabang, Majelis etik profesi lainnya.

Sanksi etik MKEK: berubah dari lebih banyak pemecatan/peringatan menjadi lebih variatif dengan banyak varian untuk pembinaan perilaku. Hanya pelanggaran berat

(6)
(7)

DILEMA ETIK

Persimpangan untuk memilih (mengutamakan) salah satu prinsip (bio)etik dan mengorbankan (menomorsekiankan) prinsip lainnya dalam membuat suatu keputusan.

BENEFICENCE NON

MALEFICENCE AUTONOMY JUSTICE HONESTY

(8)

Dilema Etik dalam SNARS:

Elemen Penilaian HPK 3

1. Ada regulasi yang mendukung kondistensi pelayanan dalam menghadapi keluhan, konflik, atau beda pendapat

2. Pasien diberitahu tentang proses menyampaikan keluhan, konflik, atau perbedaan pendapat

3. Keluhan, konflik, dan perbedaan pendapat ditelaah serta ditindaklanjuti oleh rumah sakit serta didokumentasikan

4. Pasien dan/atau keluarga pasien ikut serta dalam proses penyelesaian

(9)

DILEMA ETIK DALAM SNARS:

TKRS 12.2

(10)
(11)

Penerapan Etika Kedokteran di lingkungan RS: SNARS

HPK 3: otonomi  kerangka komunikasi dengan pasien di RS.

TKRS 12.2: tanggungjawab budaya kerja di RS yang etis termasuk membahas dilema etis di RS. Elemen penilaian TKRS 12.2:

RS memiliki sistem pelaporan bila terjadi dilema etis dan pelaporan yang dimaksud terjadi.

Regulasi tentang manajemen etis yang mendukung pada pelayanan kepada pasien baik klinis maupun non klinis.

(12)

DILEMA ETIK DALAM SNARS: TKRS 12.2

(13)

PASAL PASAL

DALAM

KODEKI 2012

(14)

KODEKI 2012: KEWAJIBAN UMUM, PASAL 1-2

• Pasal 1: Setiap dokter wajib menjunjung tinggi, menghayati dan mengamalkan sumpah dan atau janji dokter.

• Pasal 2: Seorang dokter wajib selalu melakukan pengambilan keputusan profesional secara independen, dan mempertahankan perilaku profesional dalam ukuran yang tertinggi.

• Keputusan: kombinasi selaras, serasi dan seimbang antara keputusan medis teknis dengan keputusan etis (KDB: Beneficence, non

Maleficence, Otonomi, Justice) yang berasal dari totalitas pelayanan.

• Jika terjadi dilema etis, dokter membuat keputusan dg mengutamakan nilai profesionalisme (prima facie KDB).

(15)

KODEKI 2012: KEWAJIBAN UMUM, PASAL 3

• Pasal 3: Dalam melakukan pekerjaan kedokterannya, seorang dokter tidak boleh dipengaruhi oleh sesuatu yang mengakibatkan hilangnya kebebasan dan kemandirian profesi.

Keputusan tak boleh dipengaruhi tekanan politik, bisnis RS, kedekatan farmasi, tekanan senior yang di luar kewajaran profesionalisme, motivasi bisnis MLM, dan sebagainya.

• Dilarang mempraktikkan obat/tindakan yang tidak ada bukti ilmiahnya.

Dokter-Farmasi P2KB: boleh diundang, boleh difasilitasi sewajarnya (registrasi, tiket pp, akomodasi, makan sewajarnya, honorarium lain dilarang kecuali bertindak sebagai narasumber dan moderator, serta MoU panitia.

(16)

KODEKI 2012: KEWAJIBAN UMUM, PASAL 4-5

• Pasal 4: Seorang dokter wajib menghindarkan diri dari perbuatan yang bersifat memuji diri.

• Hati-hati iklan RS yang melibatkan Dokter..

• Profiling Dokter dalam media internal RS diperbolehkan dg sewajarnya.

Hindari berlebihan menuliskan keunggulan diri terutama pada pasien/awam.

• Pasal 5: Tiap perbuatan atau nasihat dokter yang mungkin melemahkan daya tahan psikis maupun fisik, wajib memperoleh persetujuan pasien/

keluarganya dan hanya diberikan untuk kepentingan dan kebaikan pasien tersebut.

(17)

KODEKI 2012: KEWAJIBAN UMUM, PASAL 6-8

• Pasal 6: Setiap dokter wajib senantiasa berhati-hati dalam mengumumkan atau menerapkan setiap penemuan teknik atau pengobatan baru yang belum diuji kebenarannya dan terhadap hal-hal yang dapat menimbulkan keresahan masyarakat.

Pasal 7: Seorang dokter wajib hanya memberi surat keterangan dan pendapat yang telah diperiksa sendiri kebenarannya.

• Pasal 8: Seorang dokter wajib, dalam setiap praktik medisnya, memberikan pelayanan secara kompeten dengan kebebasan teknis dan moral

sepenuhnya, disertai rasa kasih sayang (compassion) dan penghormatan atas martabat manusia.

(18)

KODEKI 2012: KEWAJIBAN UMUM, PASAL 9-10

Pasal 9: Seorang dokter wajib bersikap jujur dalam berhubungan dengan pasien dan sejawatnya, dan berupaya untuk mengingatkan sejawatnya pada saat menangani pasien dia ketahui memiliki

kekurangan dalam karakter atau kompetensi, atau yang melakukan penipuan atau penggelapan.

Pasal 10: Seorang dokter wajib menghormati hak-hak- pasien, teman sejawatnya, dan tenaga kesehatan lainnya, serta wajib menjaga kepercayaan pasien.

Seorang dokter harus memberikan akses kepada pasien dan mengobati tanpa prasangka SARA, kedudukan sosial, kondisi kecacatan tubuh & status kemampuan membayarnya.

Pasien berhak memperoleh informasi dari dokternya dan mendiskusikan tentang manfaat, risiko, dan pengobatan yang tepat untuk dirinya, serta wajib mendapatkan tuntunan dan arahan profesional dari dokter dalam membuat keputusan.

Menghormati hak pasien untuk mendapatkan pendapat dokter lain (second opinion), bahkan dari RS lain  profesi menolong lebih utama daripada bisnis, kecuali RS telah menyediakan.

Tidak menyembunyikan informasi yang dibutuhkan oleh pasien, kecuali dokter berpendapat hal tersebut untuk kepentingan pasien.

(19)

KODEKI 2012: KEWAJIBAN UMUM, PASAL 11-13

• Pasal 11: Setiap dokter wajib senantiasa mengingat kewajiban dirinya melindungi hidup makhluk insani.

• Pasal 12: Dalam melakukan pekerjaannya seorang dokter wajib memperhatikan keseluruhan aspek pelayanan kesehatan (promotif,

preventif, kuratif, dan rehabilitatif, paliatif), baik fisik maupun psiko-sosial- kultural pasiennya serta berusaha menjadi pendidik dan pengabdi sejati masyarakat.

• Pasal 13: Setiap dokter dalam bekerjasama dengan para pejabat lintas

sektoral di bidang kesehatan, bidang lainnya dan masyarakat, wajib saling menghormati.

(20)

KODEKI 2012: KEWAJIBAN DOKTER TERHADAP PASIEN, PASAL 14-17

• Pasal 14: Seorang dokter wajib bersikap tulus ikhlas dan mempergunakan seluruh keilmuan dan ketrampilannya untuk kepentingan pasien, yang ketika ia tidak mampu melakukan suatu pemeriksaan atau pengobatan, atas persetujuan pasien/

keluarganya, ia wajib merujuk pasien kepada dokter yang mempunyai keahlian untuk itu.

• Pasal 15: Setiap dokter wajib memberikan kesempatan pasiennya agar senantiasa dapat berinteraksi dengan keluarga dan penasihatnya, termasuk dalam beribadat dan atau penyelesaian masalah pribadi lainnya.

• Pasal 16: Setiap dokter wajib merahasiakan segala sesuatu yang diketahuinya tentang seorang pasien, bahkan juga setelah pasien itu meninggal dunia.

• Pasal 17: Setiap dokter wajib melakukan pertolongan darurat sebagai suatu wujud

(21)

KODEKI 2012: KEWAJIBAN DOKTER TERHADAP TEMAN SEJAWAT,

PASAL 18-19

• Pasal 18: Setiap dokter memperlakukan teman sejawatnya sebagaimana ia sendiri ingin diperlakukan.

• Pasal 19: Setiap dokter tidak boleh mengambil alih pasien dari teman

sejawat, kecuali dengan persetujuan keduanya atau berdasarkan prosedur yang etis.

(22)

KODEKI 2012: KEWAJIBAN DOKTER

TERHADAP DIRI SENDIRI, PASAL 20-21

• Pasal 20: Setiap dokter wajib selalu memelihara kesehatannya, supaya dapat bekerja dengan baik.

• Pemasangan APD.

• Dokter usia > 60 tahun atau pasca sakit berat perlu dilakukan reasesmen.

• Perlu pembatasan jumlah pasien.

• Pasal 21: Setiap dokter wajib senantiasa mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi kedokteran/ kesehatan.

(23)

Link download Kode Etik

Kedokteran Indonesia (pdf)

Website: www.mkekidi.id ada link unduhannya.

(24)

Manajemen dan Dilema Etis:

Asuhan Pasien pada

Layanan Gadar RS

(25)

KONTEKS LAYANAN GADAR (1)

• Pasien datang ke IGD RS dengan curiga gagal napas. Langkah pertolongan yg dibutuhkan bersifat invasif (mis. Intubasi).

• Orang tak dikenal, tanpa identitas, yg sedang ada di lingkungan RS tiba2 sesak napas. Segera dilakukan BLS, namun diputuskan dibutuhkan pertolongan lanjutan bersifat invasif.

• Pasien ranap tiba2 curiga gagal napas.

Keluarga penunggu kebetulan sedang keluar makan siang.

Tolong dulu?

(non-maleficence)

Administrasi dulu?

(beneficence, justice)

Izin keluarga dulu?

(autonomy)

(26)

KONTEKS LAYANAN GADAR (2)

• Pasien sedang ditangani situasi gadar (mis.

Status epileptikus) di IGD, lalu keluarga pasien berembuk dan menyampaikan keputusan tidak melanjutkan perawatan, dan pasien mau

dibawa pulang.

• Pasien sedang ditangani situasi gadar akibat keracunan di IGD, lalu tiba2 salah satu kerabat pasien memutuskan tidak melanjutkan

perawatan, dan pasien mau dibawa pulang.

Lanjutkan rawat?

(non-maleficence)

Administrasi beres?

(beneficence, justice)

Ikuti keluarga?

(autonomy)

(27)
(28)

• Kewenangan klinis dibagi 3: delegasi tanpa supervisi (dapat khusus di luar hari dan jam kerja), delegasi dg supervisi (didefinisikan supervisi adekuat sejauh apa supaya tidak melanggar etik)), dan tidak didelegasikan sama sekali (Tidak ada pilihan, DSp wajib hadir).

• Sejauh prosedur medis yang direkomendasikan per telepon masuk dalam kewenangan klinis penuh (tanpa supervisi) dokter jaga, maka tidak melanggar etik. Jika merupakan kewenangan klinis tak penuh (dalam supervisi), selama diterapkan supervisi yg

memadai maka dapat tidak melanggar etik.

• Boleh dibuat klausul kewenangan klinis ini tertentu saja saat jaga malam. Dan saat pelayanan rawat jalan/jam kerja, yang melakukan kewenangan tsb kembali ke DSp.

• Berikan kewenangan klinis seluas mungkin untuk dokter jaga.

• Tekan serendah-rendahnya area abu2: kewenangan klinis yg dilakukan dokter jaga dalam supervisi DSp.

• Berikan jasa medik yg adil termasuk jasa tindakan yg diberikan kewenangan klinis

(29)

Konteks layanan RS: Emergensi (1)

Nilai2 keutamaan (etika) layanan emergensi:

Menyelamatkan nyawa (mencegah kematian).

Mencegah kecacatan dan penyulit medis di kemudian hari.

Penanganan secepat/sesegera mungkin, minimal sesuai standar.

Prima facie Kaidah Dasar Bioetika (KDB): Umumnya non-maleficence.

Pasal 17 KODEKI: Setiap dokter wajib melakukan pertolongan darurat sebagai suatu wujud perikemanusiaan, kec yakin ada orang lain bersedia & mampu.

BHD wajib, di manapun, kapan pun. Tak terikat STR, SIP, dan hukum administratif lainnya. GD tanpa perlu BHD, sesuai kewenangan klinis menangani/segera merujuk.

Setiap dokter melakukan pertolongan darurat, maka kewajiban etis ini mengalahkan pertimbangan2 etika lainnya. Dalam menjalankan kewajiban etis ini, dokter harus dilindungi dan dibela oleh TS, RS, organisasi profesi, pemerintah, masyarakat.

(30)

Konteks layanan RS: Emergensi (2)

Jika terdapat kasus yg butuh Gadar, maka dr dapat menghentikan layanannya pada pasien lain yang non-GD atau GD dg prioritas secara medik lebih rendah.

Jika terdapat perbedaan penafsiran GD dg pasien/keluarga, dr berupaya menjelaskan kepada ps/keluarganya untuk menyamakan penafsiran tsb

Kewajiban hanya dapat gugur dalam syarat/kondisi ttu:

Dalam saat yg sama, dokter dalam kondisi terancam jiwanya

Dr memiliki kecacatan yg tidak memungkinkan melakukan pertolongan GD

Ada dr/tenaga medis yang lebih kompeten

Kejadian GD di satu RS yg SDM nya tersedia

Pada pasien DNR (paliatif)

Kondisi2 yg menurut prosedur BHD, pertolongan dapat diakhiri

(31)

Konteks layanan RS: Emergensi (3)

• Kendala mewujudkan nilai keutamaan layanan emergensi di lapangan:

• Penjaminan biaya.

• Sikap/keputusan keluarga yang tidak mendukung (lamban, menolak prosedur tertentu, kepercayaan2 tertentu, dsb).

• Birokrasi layanan, baik untuk asuransi maupun internal fasyankes.

• Ketersediaan layanan (obat, peralatan, tenaga ahli, dsb).

• Keputusan etis kontekstual layanan emergensi: dinamika niat besar

mewujudkan nilai2 keutamaan layanan emergensi sesuai Kodeki vs kendala lapangan.

(32)

Manajemen dan Dilema Etis:

Asuhan Pasien Terminal

dan Layanan Paliatif

(33)

• Ny. B didiagnosis mengalami kanker payudara metastasis dan saat ini ada di ranap RS. Ny. B juga mengalami metabolik tak stabil yg sukar dikoreksi karena dinamika penyakit dan terapi yang dijalankan (kemoradiasi). Mis anemia, gangguan elektrolit dsb.

Keluarga ingin Ny. B dirawat sampai akhir di RS, supaya mereka terhindar dari rasa berdosa. Ny. B yg sudah tahu penyakitnya terminal, ingin habiskan waktu di rumah saja sehingga bisa bersilaturahmi dengan bebas dan wafat di tengah keluarga.

Penuhi seluruh target perawatan?

(beneficence, non maleficence)

Hitung cost-benefit?

(Justice) Ikut pendapat

keluarga?

(autonomy) Ikut pendapat

pasien?

(34)

Konteks layanan RS: Paliatif (1)

Nilai2 keutamaan (etika) layanan paliatif:

Mengutamakan kenyamanan/kualitas hidup pasien sampai akhir hidupnya, bukan agresif mengupayakan kesembuhan.

Prima facie Kaidah Dasar Bioetika (KDB): Umumnya otonomi pasien dg orientasi kenyamanan).

Kendala mewujudkan nilai keutamaan layanan paliatif di lapangan:

Perbedaan sikap sesama TS, terutama yg menganut paham heroik-positivistik.

Sikap/keputusan pasien/keluarga yang menolak keadaan terminal dan menganut paham heroik-positivistik.

Sikap/keputusan pasien/keluarga yang tidak mendukung (lamban, menolak prosedur tertentu, berubah2, kepercayaan2 tertentu, dsb).

Birokrasi layanan, baik untuk asuransi maupun internal fasyankes.

Ketersediaan layanan homecare (obat, peralatan, tenaga ahli, dsb).

Keputusan etis kontekstual layanan paliatif: dinamika niat besar mewujudkan nilai2 keutamaan layanan paliatif sesuai Kodeki vs kendala lapangan.

(35)

Manajemen & Dilema Etis :

Asuhan Pasien di Ranap

(36)

Perbedaan Prioritas Layanan

• Pasien A sakit jantung dan biasa berobat ke dr. B, SpJP. Suatu saat masuk ke RS karena stroke dan dirawat bersama dg dr. C, SpS. Keluarga ps ingin DPJPnya dr. B, SpJP. Selama

perawatan, terdapat pula pneumonia dan kemudian dirawat pula dr. D, SpP. Ketiga Sp ini seringkali berbeda pendapat dalam pemberian obat dan prioritas layanan. Akibatnya dokter umum jaga bangsal selalu kena marah setiap mendampingi mereka visite.

(37)

Konteks layanan RS: Perbedaan

Prioritas Layanan antar Spesialis (1)

• Nilai2 keutamaan (etika) yang perlu diperhatikan:

• Kepemimpinan yang jelas (DPJP): kriteria medis, otonomi pasien.

• Mengutamakan kepentingan pasien.

• Menghormati keputusan pasien/keluarganya (otonomi).

• Etika kesejawatan: Musyawarah antar sejawat untuk mendefinisikan prioritas kepentingan pasien yg lentur dan sesuai dinamika; dan melibatkan ps/keluarga.

• Memperhatikan dinamika klinis dan sosial pasien: dapat merubah skala prioritas, dapat merubah keputusan2 bersama.

• Prima facie Kaidah Dasar Bioetika (KDB): Beneficence (dalam menyepakati

prioritas kepentingan pasien secara medis) dan kemudian otonomi pasien. Non

(38)

Konteks layanan RS: Perbedaan

Prioritas layanan antar Spesialis (2)

Pasal Kodeki kunci:

Pasal 18: Setiap dokter memperlakukan teman sejawatnya sebagaimana ia sendiri ingin diperlakukan.

Jangan mengorbankan dan kambinghitamkan dokter umum jaga karena perbedaan opini antar spesialis!

Sedapat mungkin DSp non-DPJP mengontak langsung DPJP (difasilitasi RS).

Pasal 19: Setiap dokter tidak boleh mengambil alih pasien dari teman

sejawat, kecuali dengan persetujuan keduanya atau berdasarkan prosedur yang etis.

sebaliknya, dokter jangan mempertahankan pasiennya dg cara tak etis.

Pada penjelasan dua pasal itu disebutkan menghargai mekanisme DPJP dan mengutamakan musyawarah untuk mengambil keputusan terutama pada perbedaan pendapat antar TS.

(39)

Konteks layanan RS: Perbedaan

Prioritas Layanan antar Spesialis (3)

• Kendala mewujudkan nilai keutamaan:

• Kendala bermusyawarah antar sejawat multi disiplin internal (segala penghambat komunikasi, termasuk arogansi, kesibukan tanpa mekanisme pengambilalihan tanggungjawab, dsb).

• Kendala tidak update dinamika klinis.

• Sikap/keputusan pasien/keluarga yang tidak mendukung (lamban, menolak prosedur tertentu, berubah-ubah, kepercayaan2 tertentu, dsb).

• Birokrasi layanan, baik untuk asuransi maupun internal fasyankes.

• Ketersediaan layanan (obat, peralatan, tenaga ahli, dsb).

(40)

Keputusan Memulangkan Pasien Ranap

Pasien pasca stroke iskemik telah dirawat 7 hari.

Menurut DPJP utama fase akut sudah selesai. Namun DPJP konsul mengingatkan masih ada hipokalemia ringan dan dispepsia yang idealnya perlu rawat

tambahan. RS belum dibayar BPJS 10 miliar, dan biaya sudah melewati plafon. Ada pasien seruangan yg diduga kena pneumoni nosokomial. Keluarga meski sudah

dilatih sejak hari 1,inginnya tetap diranap karena belum siap merawat di rumah, ingin pasien bisa duduk dan makan sendiri dulu.

Penuhi seluruh target perawatan?

(beneficence)

Hitung cost-benefit?

(Justice) Ikut pendapat

keluarga?

Penuhi sebagian yg bahaya & hindari Infeksi nosokomial?

(non-maleficence)

(41)

Dilema Etis pada

Manajemen Antrean

(42)

ANTREAN MASUK ICU, OK, dsb

• Satu bed ICU “diperebutkan” 2 kandidat pasien, 1 kerabat pejabat dengan jaminan tunai besar dan asuransi bonafid Ny. A

dengan gagal nafas akibat kanker metastasis ke paru vs 1 pasien Tn. C kurang mampu dg asuransi sosial yang hendak dioperasi dugaan prognosis dapat baik pasca operasi. Keluarga Ny. A berkehendak kuat merawat Ny. A

sampai akhir, sementara keluarga Tn. C sudah pasrah, ikhlas.

Dahulukan ps dg jaminan lbh baik?

(justice)

Ikuti keluarga yg berkehendak >>?

Dahulukan yg prognosis lbh baik?

(beneficence, non-

maleficence)

(43)

Mengahkiri Perawatan

Pasien Mati Batang Otak

(44)

• Tn. B dengan stroke perdarahan dalam perkembangan rawat di ICU tampak reflex batang otak menghilang dan menurut

kesepakatan dokter SpS dan SpAn dinyatakan

“Mati Batang Otak” hari Senin. Keluarga Tn. B sangat kaya dan ingin Tn. B dirawat terus. Jika diakhiri rawat, mengancam secara hukum.

Tokoh masyarakat yg dituakan mencoba

mediasi, andai dicabut, inginnya di hari Jumat yang hitungan mereka sebagai hari baik untuk meninggal.

Hentikan bertahap obat suportif  mati klinis?

(beneficence) Ikuti keluarga?

Akhiri rawat sbg adab kpd jenazah?

(non-maleficence) Jujur apa adanya?

(honesty)

(45)

Penyikapan Nakes Pasca

Rehabilitasi Sanksi Etik /

Disiplin

(46)

• Dr. A, diputuskan menjalani sanksi berupa

pemberhentian praktek di RS sementara 3 bulan.

Masalahnya, sanksi diberikan karena Dr. A melakukan bullying kepada sesama staf di RS. Setelah menjalani 3 bulan, dan menjalani sanksi lain yg dimintakan yaitu minta maaf dan memperbaiki kepercayaan telah

dilakukan, Dr. A akan kembali berpraktek seperti biasa.

Sejauh ini kasus berhasil ditutup rapat menjadi

informasi internal RS dan untuk kepentingan sidang

MKEK saja.

(47)

Manajemen Komplain

(48)

Nakes on Duty dikomplain

Dokter A yang sedang tugas jaga di IGD dikomplain keluarga pasien karena

merasa pasien lambat ditangani. Keluarga pasien sampai marah dan mengancam dokter A tersebut. Dokter A karena masih banyak pasien yang membutuhkan

tindakan darurat dan pengawasan intensif menjawab diplomatis dengan “ya..ya..ya”,

“segera ditangani”, dan “maaf ya..”.

Keluarga pasien makin marah dan mengancam akan menuntut ke jalur hukum karena ia pengacara.

Bertahan dg prinsip Darurat medis?

(non-maleficence) Dahulukan ps u/ hindari

tuntutan?

(beneficence, justice) Ikuti keluarga?

(autonomy) Jujur apa adanya?

(honesty)

(49)

Nakes on Duty dikomplain

• Nakes saat dikomplain “on duty”, terlebih jika tugas2 lain masih banyak

yang lebih prioritas dibandingkan mengelola komplain, akan cenderung naif dan pragmatis, tidak memberi informasi sebenarnya, agar masalah ini

segera berlalu. Dari pengalaman, cara paling cepat keluar dari masalah ini ialah minta maaf dan menanggapi komplain sebisa mungkin  pasien komplain yg cerdik akan tahu ini bukan pengelolaan komplain yang sejati, namun karena ia juga sedang marah karena panik dsb  tuntutan.

• Bagaimana manajemen RS mampu menjaga baik2 masa dinas jaga staf medisnya? Manajemen komplain perlu ambil alih, hingga nakes yg on duty selesai berdinas dan cukup bugar mengelola komplain bersama manajemen menghadapi pasien.

(50)

Kepentingan Pasien

vs Kepentingan Keluarga

(51)

Kepentingan pasien vs keluarga

Tn. B sering batuk. Dalam penelusuran ternyata mengalami pneumonia terkait HIV/AIDS. Tn. B jujur mengatakan ke dr, tetapi tidak mau bahkan mengancam dr untuk tak memberitahu ke siapapun terutama istrinya.

Tn. C didiagnosis kanker metastasis.

Keluarga tn. C tahu lebih dulu. Keluarga melarang dr memberitahu diagnosis sebenarnya ke pasien. Dr khawatir jika

pasien tak tahu, kepatuhan berobat buruk.

Menangkan dari Kepentingan medis

Menangkan dari cost-benefit?

(Justice)

Ikut keluarga?

(autonomy)

Ikut pasien?

(autonomy)

Jujur apa adanya?

(honesty)

(52)

Kebaikan Hati

vs Kebijakan Asuransi

(53)

Kebaikan hati vs Kebijakan Asuransi

• Ny. A didiagnosis sebagai meningitis TB.

Ternyata saat dilakukan penelusuran, terbukti juga mengidap HIV/AIDS. Saat dianamnesis, Ny. A ialah suster RS lain yg pernah tak sengaja tertusuk jarum suntik saat melayani pasien yang baru

diketahui kemudian mengidap HIV/AIDS tapi tak pernah cek. Masalahnya,

asuransi yg dipakai Ny. A ini memiliki kebijakan kalau penyakit terkait

HIV/AIDS tidak akan ditanggung. Ny. A

Akali asuransi demi Menolong Ny. A?

(beneficence, non- maleficence) Jujur apa adanya?

(honesty) Ikuti pasien?

(autonomy)

(54)

Kebaikan Hati

Vs Aturan Profesi

(55)

Kebaikan hati vs aturan profesi

• Teman baik kita, Tn. D minta tolong dibuatkan surat sakit tetapi mohon maaf tak sempat datang ke tempat

praktek.

• Dr. G sakit dan kita rawat. Teman-teman seangkatan dan sealmamaternya sangat peduli dengan dr. G dan

menanyakan penyakit dr. G kepada kita dan bersedia

iuran membayari ongkos perawatannya.

(56)

TERIMA KASIH

Any questions?

[email protected]

Referensi

Dokumen terkait