• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB II LANDASAN TEORI"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

2.1. Teori

2.1.1. Capital Structure

Capital structure menurut Gitman (2003, p.508) adalah “the mix of long term debt and equity maintained by the firm that can significantly affect its value by affecting return and risk”. Artinya, capital structure merupakan kombinasi dari hutang jangka panjang dan modal yang dipertahankan oleh perusahaan di mana struktur modal tersebut secara signifikan dapat mempengaruhi nilai perusahaan melalui tingkat pengembalian dan risiko yang dimilikinya.

Menurut Weston dan Brigham (1993, p.622) menyebutkan bahwa “capital structure adalah komposisi dari campuran dana dari keuangan yang akan diinvestasikan dalam kegiatan usaha, komposisi ini sebagian besar dibiayai dari hutang dan modal usaha”.

Menurut Vale (1988, p.199) menyebutkan bahwa “struktur modal sebagai campuran pembiayaan jangka panjang yang dipergunakan untuk memperoleh asset sesuatu bisnis. Jangka panjang yang dimaksud adalah jangka waktu lebih dari 12 bulan. Oleh karena itu, dalam pembahasan struktur modal maka hutang jangka pendek akan dikecualikan”.

Dari definisi di atas dapat dikatakan bahwa struktur modal merupakan kombinasi dari hutang dan ekuitas yang dimiliki oleh perusahaan untuk digunakan dalam operasional badan usaha, di mana hutang yang dimaksud adalah hutang jangka panjang.

“Struktur modal juga dapat dikatakan sebagai cara perusahaan membiayai aktivanya yang dapat dilihat dari seluruh sisi kanan neraca” (Andjarwati dan Chandrarin, 2006). Semua item yang terdapat pada sisi kanan neraca perusahaan, kecuali current liabilities (hutang jangka pendek) merupakan sumber modal.

Dengan demikian, jenis modal atau capital dapat diklasifikasikan menjadi dua yaitu debt capital dan equity capital (Gitman, 2003). Equity capital itu sendiri terdiri atas beberapa unsur seperti: saham preferen, saham biasa, dan laba ditahan.

Di samping itu, juga terdapat obligasi dan surat-surat berharga lainnya.

(2)

Dengan demikian, pengukuran struktur modal dapat dilakukan melalui perhitungan tingkat leverage perusahaan. Dalam penelitian ini, leverage yang digunakan adalah yang menggunakan hutang jangka panjang dengan berdasarkan pada pendapat yang disampaikan Vale (1988) dan Gitman (2003) bahwa di dalam pembahasan struktur modal maka hutang jangka pendek akan dikecualikan.

Pengertian leverage sendiri adalah: “results from the use of fixed-cost assets or funds to magnify returns to the firm’s owners” (Gitman, 2003. p.508).

Artinya, leverage adalah hasil dari penggunaan biaya tetap aktiva atau dana untuk memperbesar tingkat pengembalian kepada pemilik perusahaan.

2.1.2. Firm Size

“Ukuran perusahaan (firm size) adalah besarnya ukuran perusahaan yang dilihat dari kemampuan perusahaan dalam menghasilkan pendapatan perusahaan yang berasal dari nilai penjualan” (Taswan, 2003).

Menurut Ferry dan Jones (1979) yang dikutip oleh Andjarwati dan Chandrarin (2006), ukuran perusahaan merupakan variabel yang menggambarkan besar kecilnya suatu perusahaan yang ditunjukkan dari besar kecilnya aktiva, jumlah penjualan, rata-rata tingkat penjualan, dan rata-rata total aktiva.

Dari definisi tersebut maka dapat dikatakan bahwa firm size merupakan ukuran besar kecilnya perusahaan yang dapat dilihat dari kemampuan perusahaan dalam menghasilkan pendapatan perusahaan, sehingga dapat dilihat dari besarnya jumlah penjualan perusahaan.

2.1.3. Profitabilitas

Variabel ini menggambarkan pendapatan untuk membiayai investasi.

”Profitabilitas menunjukkan kemampuan dari modal yang diinvestasikan dalam keseluruhan aktiva untuk menghasilkan keuntungan bagi investor” (Taswan, 2003).

Saidi (2004) menjelaskan bahwa “profitabilitas merupakan kemampuan perusahaan dalam memperoleh laba”.

Dari definisi tersebut maka dapat dijelaskan bahwa kemampulabaan

(profitability), adalah tingkat keuntungan bersih yang mampu diraih oleh

(3)

perusahaan pada saat menjalankan operasinya. Keuntungan yang layak dibagikan kepada pemegang saham adalah keuntungan setelah bunga dan pajak. Semakin besar keuntungan yang diperoleh semakin besar kemampuan perusahaan untuk membayarkan dividennya. Para manajer tidak hanya mendapatkan dividen tapi juga akan memperoleh power yang lebih besar dalam menentukan kebijakan perusahaan.

2.1.4. Pertumbuhan Penjualan

Pertumbuhan penjualan menurut Andjarwati dan Chandrarin (2006) mengutip Husnan (1998, p.376) adalah variabel yang pada dasarnya mengukur stabilitas keuntungan yang diperoleh perusahaan.

Menurut Brigham dan Houston (2001, p.39) yang dikutip oleh Saidi (2004), perusahaan dengan penjualan yang relatif stabil dapat lebih aman memperoleh lebih banyak pinjaman dan menanggung beban tetap yang lebih tinggi dibandingkan dengan perusahaan yang penjualannya tidak stabil.

Dari definisi di atas dapat dijelaskan bahwa pertumbuhan penjualan merupakan tingkat stabilitas pertumbuhan penjualan yang dilakukan oleh perusahaan untuk setiap periode tahun buku.

2.1.5. Earning Volatility

Mahadwarta (2002) menyatakan bahwa ”earning volatility merupakan tingkat volatilitas (perubahan yang cepat) dari earnings”, di mana menurut Crutchley dan Hansen yang dikutip oleh Mahadwarta (2002), volatilitas earnings berkaitan dengan ekspektasi biaya kebangkrutan yang berpengaruh pada agency cost of debt. Lebijh lanjut Petrovic at.al. (2006) menyatakan bahwa pihak investor atau pihak eksternal cenderung memperhatikan kondisi ini karena pada dasarnya respon pihak eksternal terhadap kenaikan earnings yang tidak terduga akan sama dengan respon pihak eksternal terhadap penurunan earnings yang tidak terduga.

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa earning volatility merupakan

kondisi yang menunjukkan ketidakstabilan atau ketidakpastian earnings

perusahaan (kenaikan atau penurunan earnings yang sangat cepat).

(4)

Menurut Bathala et al (1994) yang dikutip oleh Taswan (2003), earning volatility merupakan proxy dari risiko bisnis (business risk). Business risk merupakan risiko yang dihadapi oleh perusahaan. Husnan (1989) menyatakan bahwa:

Dalam praktiknya suatu perusahaan dihadapkan pada tingkat bunga yang meningkat semakin cepat setelah melewati suatu tingkat leverage tertentu, karena kreditor mulai khawatir tentang kebangkrutan perusahaan. Jadi tingkat bunga pinjam akan berbeda dengan jumlah yang cukup besar dengan adanya risiko kebangkrutan ini. Dengan demikian, perusahaan mungkin akan memutuskan untuk tidak melanggar batas tersebut (p.263).

Business risk menurut Gitman (2003, p.525) adalah “risiko yang dihadapi oleh perusahaan di mana perusahaan tidak mampu menutup biaya operasional”.

Secara umum, semakin tinggi leverage operasional perusahaan, yang artinya penggunaan biaya operasional tetap juga semakin besar, maka semakin tinggi risiko bisnis yang dihadapi.

Menurut Saidi (2004), “risiko bisnis merupakan ketidakpastian yang dihadapi oleh perusahaan dalam menjalankan kegiatan bisnisnya”.

Dari definisi di atas maka dapat dijelaskan bahwa risiko bisnis merupakan ketidakpastian yang dihadapi oleh perusahaan di dalam melakukan aktivitas usahanya di mana ketidakpastian ini berkaitan dengan kemampuan perusahaan dalam menutup biaya operasionalnya.

Terdapat dua faktor yang mempengaruhi risiko bisnis yaitu stabilitas

pendapatan dan stabilitas biaya (Gitman, 2003). Stabilitas pendapatan (revenue

stability) merupakan variabilitas atau perubahan relatif atas pendapatan penjualan

perusahaan. Pengertian ini dapat dijelaskan bahwa, perusahaan dengan volume

permintaan yang stabil dan dengan harga produk yang stabil akan memiliki

pendapatan yang stabil. Dengan demikian, risiko bisnis juga akan dapat

diminimalkan. Demikian pula sebaliknya. Sementara itu, stabilitas biaya (cost

stability) merupakan prediksi relatif dari biaya input seperti biaya tenaga kerja dan

biaya bahan baku. Semakin tinggi tingkat stabilitas dan tingkat prediksi atas biaya

input maka semakin rendah risiko bisnis yang dihadapi, dan semakin rendah

resiko bisnis yang dihadapi, dan semakin rendah tingkat stabilitas dan tingkat

(5)

prediksi biaya input maka risiko bisnis yang dihadapi oleh perusahaan juga semakin tinggi.

2.1.6. Assets Tangibility

Salah satu syarat yang harus dipenuhi untuk mendapatkan sumber dana eksternal (pinjaman) adalah adanya asset yang berwujud dalam jumlah yang memadai sebagai jaminan atas pinjaman yang disampaikan. Knill (2004) menyatakan bahwa “asset tangibility is defined as fixed assets divided by total assets”. Artinya bahwa assets tangibility didefinisikan sebagai perbandingan antara fixed assets dan total assets. Sementara itu, Karyono (2006) menyatakan bahwa “assets tangibility adalah jaminan bagi debtholder untuk tertagihnya hutang debitur”. Titman dan Wessel (dalam Karyono, 2006) berpendapat bahwa assets tangibility dapat diukur dengan menggunakan hasil bagi antara aktiva tetap bersih dengan total aktiva. Yang dimaksud aktiva tetap bersih adalah aktiva tetap yang telah didepresiasikan. PSAK per 1 April 2001 paragraph 9, dikutip oleh Andjarwati dan Chandarin (2006) menyatakan bahwa:

Assets tangibility merupakan sumber daya yang dikuasai oleh perusahaan sebagai akibat dari peristiwa masa lalu dan dari mana manfaat ekonomi di masa depan dapat diharapkan akan diperoleh perusahaan, yang terdiri atas aktiva lancar, investasi jangka panjang, aktiva tetap, aktiva tidak berwujud, dan aktiva lain-lain.

Berdasarkan definisi di atas maka assets tangibility dapat dijelaskan sebagai sumber daya yang dimiliki oleh perusahaan yang memberikan manfaat ekonomi kepada perusahaan dan dapat dijadikan sebagai jaminan bagi perusahaan di mana dapat dilihat dari hasil bagi antara aktiva tetap yang telah didepresiasi dengan total asset.

2.1.7 Growth

”Growth direpresentatifkan sebagai pertumbuhan total asset di mana pertumbuhan asset masa lalu akan merefleksikan profitabilitas yang akan datang dan pertumbuhan yang akan datang” (Taswan, 2003).

Menurut Taswan (2003), ”firm growth merupakan variabel yang

dipertimbangkan dalam keputusan hutang. Pertumbuhan perusahaan dapat dilihat

(6)

dari laporan keuangannya”. Hal ini sebagaimana dikatakan oleh Gitman (2003, p.567) bahwa di dalam laporan keuangan perusahaan dapat digunakan untuk melihat seberapa tinggi perusahaan dapat tumbuh dan asset apa yang harus diperoleh.

Saidi (2004) menjelaskan bahwa “growth adalah perubahan (penurunan atau peningkatan) total aktiva yang dimiliki oleh perusahaan. Pertumbuhan asset dihitung sebagai persentase perubahan asset pada saat tertentu terhadap tahun sebelumnya”.

Dari definisi di atas dapat dijelaskan bahwa growth merupakan perubahan total asset baik berupa peningkatan maupun penurunan yang dialami oleh perusahaan selama satu periode (satu tahun) dan dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan bagi manajer dalam mengambil keputusan hutang.

2.1.8 Flexibility

Siehler et. al. (2004, p.78) menjelaskan bahwa “flexibility is its ability quickly to raise new funds to meet a major fund need created by a crisis”.

Artinya, flexibility merupakan kemampuan perusahaan untuk meningkatkan dana baru dengan cepat agar dapat memenuhi dana utama yang harus dikembangkan pada saat krisis. Sebagaimana disebutkan oleh Weston dan Brigham (1993, p.151) bahwa “fleksibilitas keuangan merupakan kemampuan untuk menambah modal dengan persyaratan yang masuk akal dalam keadaan yang kurang menguntungkan”. Gamba dan Triantis (2005) menyebutkan bahwa:

Financial flexibility represents the ability of a firm to access and restructure its financing with low transaction costs. Financially flexible firms are able to avoid financial distress in the face of negative shocks, and to fund investment at low cost when profitable opportunities arise.

Artinya, fleksibilitas keuangan merupakan kemampuan perusahaan untuk mengakses dan merestrukturisasi keuangannya dengan biaya yang rendah.

Perusahaan yang fleksibel secara finansial akan menghindari financial distress

dalam menghadapi keadaan yang buruk yang datang dengan tiba-tiba, dan untuk

mendanai investasinya dengan biaya rendah ketika peluang yang menguntungkan

mengalami kenaikan.

(7)

The Financial Accounting Standards Board’s (FASB) dalam Byoun (2007) mendefinisikan “financial flexibility sebagai the ability of an entity to take effective actions to alter amounts and timing of cash flows so it can respond to unexpected needs and opportunities”. Artinya, fleksibilitas keuangan merupakan kemampuan perusahaan di dalam mengambil tindakan yang efektif untuk mengubah kuantitas dan waktu aliran kas sehingga aliran kas tersebut dapat merespon kebutuhan dan peluang yang tidak diharapkan.

Berdasarkan definisi di atas maka dapat dikatakan bahwa fleksibilitas keuangan merupakan kemampuan perusahaan dalam mengakses pihak eksternal secara efektif agar dapat mengubah posisi aliran kasnya sehingga perusahaan memenuhi kebutuhan pendanaan perusahaan pada saat perusahaan mengalami kesulitan. Untuk mengetahui tingkat fleksibilitas keuangan maka Lie (2005) menyatakan bahwa:

Financial flexibility of the firms measured as cash and cash equivalents scaled by the book value of total assets and long-term debt plus debt in current liabilities scaled by the book value of total assets at the end of the fiscal year prior to the event year, respectively.

Artinya, fleksibilitas keuangan perusahaan diukur sebagai cash dan cash equivalens yang dibagi dengan total assets dan juga dapat diukur dengan menggunakan hasil penjumlahan dari hutang jangka panjang dan hutang lancar kemudian dibagi dengan total assets. Demikian juga dengan Byoun (2007) yang menggunakan rasio cash dan marketable securities yang diperbandingkan dengan total assets.

2.2 Hubungan Antar Konsep

Struktur modal merupakan kombinasi dari hutang dan modal di mana

struktur modal tersebut secara signifikan dapat mempengaruhi nilai perusahaan

melalui tingkat pengembalian dan risiko yang dimilikinya. Oleh karena itu,

seorang manajer sebuah perusahaan harus mempertimbangkan sumber

pembiayaan perusahaan tersebut dengan hati-hati. Untuk itu, diperlukan

pengetahuan mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan struktur

modal.

(8)

1. Hubungan masing-masing variabel terhadap struktur modal

Dalam penelitiannya Christianti (2006) menyatakan bahwa ada beberapa faktor yang mempengaruhi capital structure yaitu assets tangibility, firm size, growth, profitability, earning volatility, flexibility, dan lain-lain. Penelitian yang dilakukan oleh Soliha dan Taswan (2002) menunjukkan bahwa kebijakan hutang tergantung dari ukuran perusahaan. Artinya bahwa semakin besar ukuran perusahaan maka perusahaan tersebut akan lebih mudah mengakses pihak eksternal untuk mendapatkan pinjaman sehingga berpengaruh pada struktur modal. Profitabilitas juga mempengaruhi struktur modal secara langsung.

Perusahaan dengan tingkat pengembalian yang tinggi atas investasi menggunakan hutang yang relatif kecil. Tingkat pengembalian yang tinggi memungkinkan untuk membiayai sebagian besar kebutuhan pendanaan dengan dana yang dihasilkan secara internal. Di lain sisi, perusahaan dengan tingkat profitabilitas tinggi mengindikasikan bahwa perusahaan itu berkinerja baik dan berpengaruh positif pada growth sehingga akan berpengaruh pada kemudahan memperoleh dana dari pihak eksternal. Pertumbuhan penjualan mempengaruhi struktur modal secara langsung. Perusahaan dengan pertumbuhan penjualan yang stabil akan memberikan kepercayaan lebih bagi pihak eksternal karena kinerja perusahaan yang stabil, sehingga mempengaruhi dalam kemudahan memperoleh dana eksternal. Earning volatility berpengaruh terhadap struktur modal, karena earning volatility menunjukkan ketidakstabilan atau ketidakpastian earning perusahaan.

Perusahaan dengan earning volatility tinggi dianggap memiliki risiko yang tinggi sehingga berpengaruh terhadap kemudahan memperoleh pinjaman. Assets tangibility dapat menjadi jaminan atas pinjaman berpengaruh pada struktur modal.

Perusahaan dengan assets tangibility tinggi akan lebih mudah dalam mendapatkan

pinjaman dan jumlah pinjaman lebih banyak. Growth dianggap sebagai faktor

yang mempengaruhi struktur modal. Weston dan Brigham (1993; 475)

mengatakan perusahaan dengan tingkat pertumbuhan yang cepat harus lebih

banyak mengandalkan pada modal eksternal. Dengan demikian perusahaan

dengan tingkat pertumbuhan yang tinggi cenderung lebih banyak menggunakan

hutang (obligasi) dibanding perusahaan yang lambat pertumbuhannya. Dengan

demikian pertumbuhan perusahaan berpengaruh terhadap struktur modal.

(9)

Kemudahan untuk mengakses ke pasar modal berarti perusahaan memiliki fleksibilitas dan kemampuan untuk mendapatkan dana (Taswan, 2003), sehingga dengan fleksibilitas yang baik akan berpengaruh pada kemudahan mendapatkan dana eksternal yang kemudian berpengaruh pada struktur modal.

2. Hubungan tiap variabel dengan variabel-variabel lain

Firm size berpengaruh pada pertumbuhan penjualan, profitabilitas dan earning volatility karena perusahaan dengan ukuran besar memiliki kemudahan dalam mengakses pasar sehingga lebih mudah untuk mencapai pertumbuhan penjualan. Peningkatan penjualan yang dicapai akan meningkatkan profitabilitas perusahaan dan meminimalkan earning volatility. Selain berpengaruh pada profitabilitas perusahaan, pertumbuhan penjualan dan earning volatility, firm size juga mempengaruhi assets tangibility karena pengaruh firm size dalam memperoleh pendapatan akan mempengaruhi perusahaan dalam memperoleh asset kemudian berpengaruh pada jumlah asset yang dimiliki perusahaan. Pengaruh firm size pada pendapatan dan assets tangibility secara tak langsung mempengaruhi growth karena berkaitan dengan total aktiva-aktiva yang dimiliki perusahaan. Perusahaan yang berukuran besar mudah mengakses pihak eksternal untuk mendapatkan pinjaman sehingga berpengaruh terhadap fleksibilitas.

Profitabilitas perusahaan, pertumbuhan penjualan begitu juga earning volatility pada akhirnya juga akan mempengaruhi ukuran perusahaan melalui perolehan laba dan pendapatan yang dihasilkan dari penjualan. Assets tangibility bersama growth berpengaruh pada firm size melalui jumlah aktiva-aktiva yang dimiliki perusahaan. Fleksibilitas berpengaruh pada firm size karena kemudahan memperoleh dana eksternal akan mempengaruhi kinerja dan pendapatan perusahaan yang kemudian mempengaruhi firm size.

Profitabilitas dan pertumbuhan penjualan saling mempengaruhi karena

semakin tinggi pertumbuhan penjualan maka profitabilitasnya juga akan semakin

tinggi. Begitu juga semakin tinggi profitabilitas yang diperoleh akan memacu

perusahaan untuk meningkatkan pertumbuhan penjualan. Profitabilitas saling

mempengaruhi dengan earning volatility karena profitabilitas yang tidak menentu

akan mempengaruhi besarnya earning volatility. Sebaliknya, semakin besar

(10)

earning volatility akan berpengaruh terhadap perubahan profitabilitas yang semakin besar juga. Profitabilitas mempengaruhi assets tangibility karena semakin besar profitabilitas yang diperoleh perusahaan maka akan mempengaruhi kemampuan perusahaan dalam memperoleh asset. Profitabilitas mempengaruhi growth karena besarnya tingkat profitabilitas yang diperoleh perusahaan berpengaruh pada perubahan dan pertumbuhan aktiva-aktiva yang dimiliki perusahaan. Assets tangibility bersama growth mempengaruhi profitabilitas, melalui asset yang dimiliki sehingga berpengaruh pada produktivitas dan efisiensi perusahaan yang pada akhirnya berpengaruh pada profitabilitas. Profitabilitas mempengaruhi fleksibilitas karena besarnya profitabilitas berpengaruh pada besarnya pendapatan kas perusahaan sehingga berpengaruh pada fleksibilitas.

Fleksibilitas mempengaruhi profitabilitas melalui kemampuan mendapatkan dana eksternal guna mendukung produktivitas perusahaan sehingga berpengaruh pada jumlah penjualan dan profitabilitas.

Pertumbuhan penjualan mempengaruhi earning volatility karena semakin stabil tingkat pertumbuhan perusahaan maka earning volatility semakin kecil.

Demikian juga sebaliknya, earning volatility mempengaruhi pertumbuhan penjualan karena semakin besar earning volatility menunjukkan bahwa pertumbuhan penjualan yang naik turun. Pertumbuhan penjualan mempengaruhi assets tangibility karena semakin meningkatnya pertumbuhan penjualan akan meningkatkan pendapatan sehingga mempengaruhi kemampuan perusahaan untuk memperoleh aktiva. Selain itu, pertumbuhan penjualan juga mempengaruhi growth karena berpengaruh terhadap perubahan aktiva yang dimiliki perusahaan.

Sebaliknya assets tangibility bersama growth mempengaruhi pertumbuhan penjualan, melalui asset yang dimiliki yang akan berpengaruh pada produktivitas perusahaan sehingga perusahaan akan memacu penjualan. Pertumbuhan penjualan mempengaruhi fleksibilitas karena pertumbuhan penjualan mempengaruhi besarnya pendapatan kas perusahaan sehingga berpengaruh pada fleksibilitas.

Fleksibilitas mempengaruhi pertumbuhan penjualan melalui kemampuan

mendapatkan dana eksternal guna mendukung produktivitas perusahaan sehingga

berpengaruh pada jumlah penjualan.

(11)

Earning volatility mempengaruhi assets tangibility dan growth karena earning volatility yang besar mengakibatkan tidak menentunya pendapatan perusahaan sehingga mempengaruhi kemampuan perusahaan untuk memperoleh aktiva dan perubahan total aktiva perusahaan. Assets tangibility dan growth dapat mempengaruhi earning volatility melalui kemampuan produktivitas dan pendapatan yang stabil. Earning volatility mempengaruhi fleksibilitas karena earning volatility berhubungan dengan pendapatan kas perusahaan sehingga berpengaruh pada fleksibilitas. Fleksibilitas mempengaruhi earning volatility karena fleksibilitas mempermudah akses dana eksternal yang mendukung produktivitas dan penjualan untuk meningkatkan kestabilan pendapatan.

Assets tangibility saling mempengaruhi dengan growth karena berhubungan dengan jumlah aktiva yang dimiliki perusahaan termasuk juga perubahan aktiva perusahaan. Assets tangibility mempengaruhi fleksibilitas karena asset tangibility berkaitan dengan produktivitas dan penjualan yang kemudian mempengaruhi pendapatan kas yang diperoleh perusahaan. Fleksibilitas mempengaruhi assets tangibility dan growth karena fleksibilitas berhubungan dengan akses dana eksternal untuk mendukung produktivitas dan pendapatan sehingga berpengaruh pada kemampuan perusahaan untuk memperoleh aktiva dan posisi aktiva yang dimiliki perusahaan.

Growth mempengaruhi fleksibilitas karena growth berkaitan dengan

perubahan asset yang dimiliki perusahaan, termasuk kas dan marketable securities

perusahaan sehingga perubahan growth akan berpengaruh pada kas dan

marketable securities yang kemudian berpengaruh pada fleksibilitas.

(12)

GAMBAR 2.1 Kerangka Pemikiran

Capital structure (CAPS) Profitabilitas

(PROF) Firm size

(FIRM)

Fleksibilitas (FLEX) Pertumbuhan penjualan

(PENJ)

Earning Volatility (EARN)

Asset Tangibility (ASS)

Growth (GROW)

γ

1

γ

2

γ

3

γ

4

γ

5

γ

6

γ

7

Keterangan: Tanda → menunjukkan posisi setiap variabel di mana variabel yang dituju adalah variabel yang dipengaruhi (variabel dependent)

Unive rsit as Kriste n P e tr a 15

(13)

2.4. Hipotesis

Hipotesis yang dikembangkan dalam penelitian ini adalah:

H1a: Firm size, profitability, growth, pertumbuhan penjualan, assets tangibility, flexibility, dan earning volatility secara simultan mempengaruhi struktur modal pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta tahun 2002 – 2005.

H1b: Firm size, profitability, growth, pertumbuhan penjualan, assets tangibility, flexibility, dan earning volatility secara parsial mempengaruhi struktur modal pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta tahun 2002 – 2005.

H2: Terdapat hubungan saling mempengaruhi di antara faktor-faktor ukuran

firm size, profitability, growth, pertumbuhan penjualan, assets tangibility,

flexibility, dan earning volatility.

Referensi

Dokumen terkait

Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah nelayan pada usaha perikanan tangkap multigear di Desa Margorejo Kecamatan Cepiring Kabupaten Kendal dengan

Bakım Verici Rolünde Zorlanma Bakım Verici Rolünde Zorlanma Riski Aile İçi Süreçlerde Güçlenmeye Hazır Oluş Aile İçi Süreçlerin Devamlılığında Bozulma Disfonksiyonel

Puji syukur kehadirat Allah SWT atas terbitnya Jurnal Statistika Program Studi Statistika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas

[r]

Salah satu model yang dapat digunakan untuk mengestimasi nilai return yang diharapkan atau ekspektasi return beserta risiko dari suatu investasi adalah Capital Asset Pricing

SIG dalam penelitian ini akan memvisualisasikan hasil analisis cluster penyebaran penyakit DBD di Kota Surabaya menggunakan K-Means dengan variabel jumlah

Nama mahasiswa pengusul yang telah didaftarkan oleh operator sebagai pengelola PKM di Perguruan Tinggi telah berhasil masuk siap untuk melengkapi identitas dan mengunggah

Jumlah Anggaran Pendapatan Daerah yang ditargetkan pada Tahun 2020 sebesar Rp. 302.500.000,00 sebagaimana tertuang dalam Peraturan Daerah Kabupaten Lombok Utara Nomor