EVOLUSI PARIWISATA DI INDONESIA Turismemorfosis di Kabupaten Badung, Kabupaten Banyuwangi, dan Kabupaten Luwu Timur

84  Download (0)

Teks penuh

(1)
(2)
(3)

Kabupaten Banyuwangi, dan Kabupaten Luwu Timur

Penulis

I Gusti Agung Oka Mahagangga Ida Bagus Suryawan

I Putu Anom I Made Kusumanegara

Pracetak Slamat Trisila

Penerbit

Cakra Media Utama Jalan Diponegoro No. 256

Denpasar, Bali Ponsel: 081239937772

Posel: cakra.mediatama@gmail.com Bekerja sama dengan

Fakultas Pariwisata Universitas Udayana

Cetakan Pertama 2018

(4)

Mantan Rektor Universitas Udayana

Prof. Dr. dr. I Made Bakta, Sp. PD (KHOM)

Om Swastyastu,

Ilmu pariwisata adalah ilmu yang masih relatif muda dengan kelahirannya pada tahun 2008. Ditandai dengan di-launching-nya Fakultas Pariwisata, Universitas Udayana oleh Presiden RI Soesilo Bambang Yudhoyono pada tahun 2008 di kampus Universitas Udayana Bukit Jimbaran. Kehadiran ilmu pariwisata secara formal sudah memasuki babak baru dalam dunia akademis di tingkat lokal dan tingkat nasional. Kehadiran Fakultas Pariwisata yang memiliki 3 program studi yaitu Program Studi Diploma 4 Pariwisata, Program Studi Sarjana Destinasi Pariwisata (S1) dan Program Studi Sarjana Industri Perjalanan Wisata (S1) merupakan hal membanggakan bagi Universitas Udayana dan masyarakat Bali. Pulau Bali yang sejak dahulu dikenal sebagai destinasi pariwisata pada akhirnya memiliki lembaga pendidikan formal mulai dari Diploma 4, Strata 1 (Sarjana S1), Strata 2 (Magister) dan Strata 3 (Doktoral) selain lembaga-lembaga vokasi (skill) yang sudah eksis sebelumnya. Prestasi ini membutuhkan proses, waktu, tenaga, materi dan melibatkan banyak tokoh dan dalam kurun waktu yang cukup panjang untuk diakuinya pariwisata sebagai ilmu pengetahuan di Indonesia.

Wacana tentang keilmuan pariwisata di Indonesia dilontarkan pertama kali pada awal 1980-an. Terkait rencana pendirian Program Studi Ilmu Kepariwisataan (PSIK) di Universitas Udayana pada tahun 1985. Diadakan seminar tentang keilmuan pariwisata di tingkat universitas dengan menghadirkan ilmuwan Indonesia dari berbagai disiplin ilmu. Para pakar yang berbicara antara lain Prof. Jujun Suryakusumantri, Prof. Dr. Selo Sumardjan, Prof. Ketut Rindjin dan Prof. Dr. I Gusti Ngurah Bagus ketika itu bersepakat bahwa pariwisata adalah suatu disiplin ilmu.

Perintis Program Studi Ilmu Kepariwisataan (PSIK) di Universitas Udayana mulai tahun 1985 adalah Almarhum Profesor Ida Bagus Adnyana Manuaba seorang guru besar dibidang Ergonomi Fakultas Kedokteran Universitas Udayana yang terkenal dengan ide,

(5)

termasuk pariwisata. Almarhum Prof. Ida Bagus Adnyana Manuaba sangat cermat menangkap dan menyikapi fenomena pentingnya SDM pengembangan kepariwisataan berdasarkan pengalamannya dalam pada pertemuan-pertemuan ilmiah dan konferensi, di tingkat nasional maupun internasional. Hasil kajiannya mengungkapkan bahwa keberlanjutan pembangunan kepariwisataan membutuhkan SDM yang memiliki keterampilan teknis (vocational ; D1, D2, D3 dan D4 / S 0), yang pada waktu itu banyak di-didik di Balai Pendidikan Latihan Pariwisata (BPLP) oleh para instruktur yang sekarang menjadi STP (Sekolah Tinggi Pariwisata) Nusa Dua Bali. Sekolah Tinggi Pariwisata ini merupakan unit Departemen Pariwisata (kini Kementerian Pariwisata) yang banyak mendidik peserta kursus / Diklat (mahasiswa) untuk terampil bekerja di perhotelan-restoran, usaha perjalanan, dan lain-lain.

Fakultas Sastra Universitas Udayana juga mendidik mahasiswa jenjang Diploma I Pariwisata Budaya untuk keterampilan pemandu wisata (tour guide), dan Politeknik Negeri Bali yang salah satu jurusannya juga mendidik tenaga terampil di bidang pariwisata. Termasuk yang dilaksanakan oleh BLK (Balai Latihan Kerja) di bawah naungan Departemen Tenaga Kerja. Kemudian kajiannya juga mempertanyakan “Bagaimana halnya dengan tenaga akademisi sebagai peneliti, pemikir, perencana, dan pengambil kebijakan di bidang pariwisata?”. Diharapkan secara matang akan mampu mengkaji, merencanakan, mengembangkan dan mengelola kepariwisataan dengan berbagai aktivitasnya.

Ketika Menteri Pariwisata RI Joop Ave berkunjung ke Universitas Udayana memberikan ceramah umum pariwisata. Saat itu oleh Menteri Pariwisata RI disarankan agar Unud membuka Program Studi Magister (S2) Pariwisata walaupun belum memiliki Program Studi S1 Pariwisata dengan argumentasi bahwa mendidik dan mencetak gurunya dahulu atau dosennya agar bergelar Magister Parwisata. Ide tersebut disambut baik oleh pengelola Program Studi Diploma IV Pariwisata Unud dan dengan arahan (Alm.) Prof. Manuaba ditugaskan (Alm.) Drs. I Made Sukarsa, M.S. dan Drs. I Putu Anom, dkk. Menyusun Proposal Pembukaan Program Studi Magister (S2) Pariwisata. Akhirnya bertepatan dengan hari raya

(6)

keluarlah Izin Pembukaan Program Studi Magister (S2) Kajian Pariwisata Universitas Udayana dengan Surat Dirjen Dikti Nomor 1917 /D/T/ 2001.

Uniknya belum memiliki S1 pariwisata yang artinya ilmu pariwisata tetap belum diakui namun untuk jenjang Magister (S2) diberikan izin oleh Dikti meskipun terjadi perubahan sedikit dari proposal yang mengajukan Program Studi Magister (S2) Pariwisata menjadi Program Studi Magister (S2) Kajian Pariwisata. Kemungkinan hal ini terjadi karena memang belum ada S1 Pariwisata di Indonesia, sehingga digunakan istilah akademis “kajian”. Kecenderungan di dunia akademis internasional ilmu pariwisata saat itu sudah diakui sebagai ilmu yang bersifat science tetapi memang tidak memiliki fakultas atau program studi tersendiri (informasi terakhir disebutkan Fakultas Pariwisata sebelumnya telah berdiri di Mesir). Misalnya ekonomi pariwisata di bawah naungan fakultas bisnis atau fakultas ekonomi, sosiologi pariwisata di bawah naungan Fakultas Ilmu Sosial dan Politik yaitu Program Studi Sosiologi atau perencanaan pariwisata di bawah naungan Fakultas Teknik, jurusan Planologi.

Mulai pertengahan tahun 2006 Menteri Kebudayaan dan Kepariwisataan RI menugaskan Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Pariwisata (Drs. I Gusti Bagus Laksaguna, M.M.) dan Kepala Puslitbudpar yang juga guru besar Unud (Prof. Dr. Ir. I Gde Pitana, M. Sc) berkoordinasi dengan Himpunan Lembaga Pendidikan Tinggi Pariwisata Indonesia (Hildiktipari) untuk mengkaji kembali dari segi akademik dalam usaha mewujudkan “Pariwisata sebagai Disiplin Ilmu (Science)”. Ketua Program Studi Pariwisata (Diploma IV) Univeristas Udayana saat itu Drs. I Putu Anom, M. Par. turut serta aktif dalam lokakarya pembahasan pariwisata sebagai disiplin ilmu dengan ikut menyusun makalah sebagai sumbangan pemikiran serta ikut dalam penyusunan kurikulum pendidikan pariwisata jenjang akademik (S1). Akhirnya, upaya dari tahun 1985 membuahkan hasil dengan diakuinya “Pariwisata sebagai Disiplin Ilmu” oleh Dikti dan diminta lembaga-lembaga Pendidikan Tinggi Pariwisata menyusun Proposal Pembukaan Program Studi Strata 1 (S1) Pariwisata.

Perjuangan Universitas Udayana atas prakarsa pimpinan program studi Diploma IV Pariwisata I Putu Anom, M. Par dan

(7)

Udayana, beserta jajaran pimpinan termasuk Senat Universitas Udayana berupaya keras untuk terwujudnya program sarjana ilmu pariwisata tersebut. Pada tahun 2008, keluar izin Surat Dirjen Dikti Depdiknas No. 2425/D/T/2008, tertanggal 29 Juli 2008 tentang izin Pembukaan Program Studi Strata 1 (S1) Destinasi Pariwisata dan Program Studi Strata 1 (S1) Industri Perjalanan Wisata, Universitas Udayana. Kemudian Senat Universitas Udayana menyetujui Pembukaan Fakultas Pariwisata dengan SK. Rektor Unud No. 347A/H14/HK/2008 tertanggal 27 September 2008, di mana Fakultas Pariwisata Universitas Udayana memiliki 3 Program Studi ; Program Studi Strata S0 Diploma IV Pariwisata, Program Studi Sarjana (S1) Destinasi Pariwisata dan Program Studi Sarjana (S1) Industri Perjalanan Wisata.

Saat ini tentu sudah terdapat alumni-alumni dari angkatan pertama sarjana pariwisata Fakultas Parwisata, Universitas Udayana. Dan tentu sudah banyak lembaga-lembaga pendidikan tinggi yang memiliki Fakultas Pariwisata (Universitas Pancasila) dan program studi sarjana pariwisata (STP Bandung, STP Nusa Dua Bali, STPBI, dan banyak lembaga pendidikan tinggi lainnya). Tetapi yang harus diperhatikan adalah selain berbangga diri hendaknya para akademisi semakin terpacu membuktikan esensi dari ilmu pariwisata tersebut. Tidak berpangku tangan dan menatap dari menara gading melainkan terus bekerja keras dalam pengamalan Tri Dharma Perguruan Tinggi yaitu melaksanakan pendidikan / pengajaran berdasarkan hasil riset dan kajian, dan tentunya mengamalkan hasil-hasil tersebut secara kongkret dalam bentuk pengabdian kepada masyarakat. Dengan kata lain, para akademisi pariwisata harus menghasilkan banyak temuan, novelty dan mampu memberikan manfaat praktis bagai sektor pariwisata yang telah berkembang pesat sebelum ilmu pariwisata lahir di Indonesia.

Bukan pekerjaan mudah tetapi itulah tujuan ilmu pengetahuan ilmiah yang memiliki tanggungjawab moral, beretika dan dinamis. Untuk itu kehadiran buku Evolusi Pariwisata di Indonesia, Turismemorfosis di Kabupaten Badung, Kabupaten Banyuwangi dan Kabupaten Luwu Timur, kami sambut baik sebagai salah satu upaya memperkuat ilmu pariwisata di Indonesia. Esensi ilmu pariwisata akan semakin mengakar dan memiliki arti ketika hasil-hasil

(8)

maupun praktis. Semakin banyak para akademisi pariwisata berkarya, menghasilkan temuan-temuan baru sesuai dengan dinamika sektor pariwisata yang begitu cepat dengan berbagai ikutannya seperti westernisasi, modernisasi, globalisasi, revolusi komunikasi hingga disruption maka kami yakin ilmu pariwisata dalam waktu dekat akan memperoleh pengakuan bukan hanya dari pemerintah, tetapi dari para praktisi, segenap komponen dan masyarakat. Ketika saat itu tiba, harus benar-benar dipersiapkan segala daya upaya mempertahankan eksitensi ilmu pariwisata.

Kami berharap besar apa yang terdapat di dalam buku ini dapat berguna untuk segenap komponen pariwisata dan yang tidak kalah pentingnya adalah memotivasi ilmuwan-ilmuwan muda pariwisata untuk aktif berkarya dan tidak pernah puas. Fenomena pariwisata di dunia tampak sulit berakhir karena tidak ada manusia di dunia ini yang tidak membutuhkan berwisata. Sehingga ilmu pariwisata akan tetap memiliki peran secara akademis maupun praktis semasih terdapat kebutuhan manusia-manusia di dunia meluangkan waktu untuk berwisata. Perkembangan pariwisata seperti yang disampaikan dalam buku ini menjadi hal penting untuk dapat mengungkap fakta, peristiwa, periode dan hal-hal yang selama ini dianggap tidak mempengaruhi pembangunan sektor pariwisata tetapi ternyata berperan besar dalam pembentukannya. Sistem pariwisata dengan demikian selalu akan berkembang sejalan dengan perubahan-perubahan konteks budaya, sosial, politik, ekonomi dan yang paling mengejutkan adalah konteks informasi dan teknologi seperti revolusi industri 4.0.

Semoga sinar suci datang dari berbagai arah dan Ida Sanghyang Widhi Wasa memberikan anugrah bagi kita semua. Tidak ada kesempurnaan dalam “ada” di dunia ini. Semoga buku ini dengan segala kekurangannya menghadirkan makna bagi kita semua dan mengarahkan kepada perbaikan-perbaikan positif pembangunan sektor pariwisata yang semakin membahana di dunia ini.

Om Shanti, Shanti, Shanti, Om

Denpasar, 23 November 2018 Prof. Dr. dr. I Made Bakta, Sp.PD (KHOM)

(9)

Om Swastystu,

Buku Evolusi Pariwisata di Indonesia Turismemorfosis di

Kabupaten Badung, Provinsi Bali, di Kabupaten Banyuwangi, Provinsi Jawa Timur dan Kabupaten Luwu Timur, Provinsi Sulawesi Selatan adalah merupakan hasil penelitian di tahun 2018. Buku ini

bertujuan untuk mem-publish temuan-temuan penelitian dengan menekankan kepada evolusi pariwisata. Buku ini tidak bermaksud untuk melahirkan perdebatan teoretis maupun metodologi tetapi lebih kepada penyajian hasil bahwa fenomena pariwisata eksisting memiliki keterkaitan erat dengan perkembangannya di masa lalu.

Selama ini yang menjadi concern dalam riset-riset pariwisata terkait dengan perubahan-perubahan sosial sering gamang antara perkembangan dan pengembangan pariwisata. Padahal secara esensi terdapat perbedaan mendasar antara perkembangan pariwisata dan pengembangan pariwisata. Banyak kasus terjadi seperti seorang peneliti ingin fokus terhadap perkembangan pariwisata tetapi karena belum diperoleh pendekatan konseptual teoritis memadai “dipaksakan” menggunakan konsep atau teori pengembangan. Tanpa bertujuan untuk melahirkan perdebatan akademis, tim penulis hanya ingin menekankan bahwa perkembangan terkait erat dengan sejarah, genetika sosial, asal-usul, periodisasi, trajektori dan akhirnya genealogi. Melalui perkembangan dapat diprediksi arah perubahan yang dituju sebagai upaya akademis.

Untuk pengembangan sebenarnya lebih terfokus kepada unsur-unsur perencanaan dan upaya untuk membuat-berinovasi terhadap suatu atraksi wisata, produk wisata, daya tarik wisata serta kawasan wisata yang berbeda dari sebelumnya. Pada suatu titik tertentu memang akan saling bersentuhan antara perkembangan dan pengembangan dalam ilmu pariwisata. Sehingga jika diperhatikan pendekatan-pendekatan dalam ilmu pariwisata untuk mengkaji perubahan-perubahan “tidak dipusingkan” dengan konsep atau teori evolusi, difusi, perkembangan, pengembangan, perubahan sosial tetapi tampak disepakati sebagai “evolusi” yang menjelaskan

(10)

Tetapi disisi lain buku ini tidak bermaksud sebagai murni pendekatan ilmu sejarah atau antropologi diakronik. Tidak sebagai studi komparatif atau studi perbandingan dalam ilmu-ilmu sosial-humaniora. Melainkan mengarah kepada perkembangan-perkembangan kepariwisataan yaitu di Badung yang sudah maju pesat, Banyuwangi sedang berkembang dan Luwu Timur yang baru akan membangun sektor pariwisata. Sejalan dengan perkembangan ilmu pariwisata di Indonesia yang berawal dari pendekatan interdisipliner, kemudian multidisipliner dan mengarah kepada transdisipliner buku ini menginginkan terjadi “penguatan-penguatan” keilmuan yang menghasilkan manfaat akademis maupun manfaat praktis sebagai bagian dari ilmu pariwisata yang masih berusia relatif muda. Secara akademis buku ini diharapkan memperkaya khazanah konseptual-teoritis dalam ilmu pariwisata. Secara praktis diharapkan memberikan sumbangan pemikiran bagi para stakehoders, pemegang kebijakan, praktisi pariwisata, dan masyarakat lokal dalam menyusun strategi pembangunan sektor pariwisata maupun strategi pengembangan destinasi / daya tarik / kawasan pariwisata kedepannya.

Untuk memperkualt posisi ilmu pariwisata sebagai ilmu yang pengetahuan di Indonesia, sangat dibutuhkan peran aktif insan-insan pariwisata terutama para akademisi. Melalui riset-riset yang menghasilkan temuan-temuan baru sebagai konsep, model, pra teori maupun teori yang akan semakin memperkokoh ilmu pariwisata. Dinamika pariwisata sebagai sektor pembangunan sangat pesat dan harus diakui memberikan pengaruh besar dalam segala aspek kehidupan masyarakat (terutama daerah-daerah yang sudah maju destinasi wisatanya). Hal ini dapat dipandang sebagai tantangan dan anugrah bagi akademisi pariwisata untuk berkarya. Banyak fenomena-fenomena baru, problematika-problematika dan

trend-trend dari pembangunan sektor pariwisata yang terbuka dan

“menanti” untuk “dibedah” dalam rangka penguatan konseptual teoritis ilmu pariwisata dan sebagai solve problem bagi segenap komponen pariwisata.

Tim penulis mengakui dengan segala keterbatasan yang dimiliki dan disekat oleh kerangka metodologi yang digunakan sudah pasti isi buku ini bukan merupakan kebenaran tunggal. Terdapat

(11)

peristiwa mengingat kompleksitas data-data yang dianalisis. Justru itu, menurut pemikiran tim penulis akan melahirkan banyak kritik dan upaya-upaya akademis untuk penyempurnaan kedepan melalui riset-riset dan publikasi ilmiah. Diharapkan para insan pariwisata akan terpacu untuk membuat buku sejenis (evolusi pariwisata) sebagai dinamika ilmu pengetahuan yang diharapkan tidak pernah statis.

Akhir kata izinkan kami mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada Kementerian Riset dan Teknologi RI, Rektor Universitas Udayana, Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Udayana dan Dekan Fakultas Pariwisata Universitas Udayana, atas kesempatan yang diberikan melalui skim Penelitian Dasar Unggulan Perguruan Tinggi (PDUPT) sehingga dapat dipublikasikan dalam buku ini. Terima kasih sedalam-dalamnya kepada para informan yang tidak dapat kami sebutkan secara perseorangan di Kabupaten Badung, Kabupaten Banyuwangi, dan Kabupaten Luwu Timur. Terima kasih pula kami sampaikan kepada Pemerintah Kabupaten Badung, Provinsi Bali, Pemerintah Kabupaten Banyuwangi, Provinsi Jawa Timur, dan Pemerintah Kabupaten Luwu Timur, Provinsi Sulawesi Selatan atas segala kemudahan dan akses yang telah diberikan sehingga selama penelitian tidak mengalami kendala berarti. Tak lupa juga terima kasih dan salam hormat kepada para peneliti, para pakar, seniman, tokoh masyarakat yang sudah berkenan mem-publish temuan-temuannya yang sangat membantu sebagai rujukan dalam buku ini.

Om Shanti, Shanti, Shanti, Om

Denpasar, 15 November 2018

(12)

SAMBUTAN ~ iii

KATA PENGANTAR ~ viii DAFTAR ISI ~ xi

DAFTAR GAMBAR DAN GRAFIK ~ xiii DAFTAR MATRIKS DAN PETA ~ xiv DAFTAR TABEL ~ xv

DAFTAR PETA ~ xvi BAB 1 PENDAHULUAN ~ 1

Mengapa Perkembangan Pariwisata (Transdisipliner ilmu pariwisata) ~ 1

Turismemorfosis sebagai Tahapan-Tahapan Perkem bangan Pariwisata ~ 27

Aplikasi Model Turismemorfosis ~ 42

BAB 2 PERKEMBANGAN PARIWISATA DI KABUPATEN BADUNG ~ 47

Sekilas Sejarah Badung ~ 49

Tahap Perkenalan Pariwisata Badung (1912-1919) ~ 55 Tahap Reaksi Pariwisata Badung (1920-1938) ~ 66

Tahap Pelembagaan I Pariwisata Badung (1950-1968) ~ 74

Tahap Pelembagaan II Pariwisata Badung (1969-1990) ~ 89

Tahap Pelembagaan III Pariwisata Badung (1991-2011) ~ 103

Tahap Kompromi Pariwisata Badung (2012-Sekarang) ~ 131

BAB 3 PERKEMBANGAN PARIWISATA DI KABUPATEN BANYUWANGI ~ 187

Sejarah dan Tahap Perkenalan I Pariwisata Banyuwangi (1805-1930) ~ 189

(13)

Tahap Reaksi Pariwisata Banyuwangi (2001-2009) ~ 233 Tahap Pelembagaan Pariwisata Banyuwangi (2010-Sekarang) ~ 252

BAB 4 UPAYA PEMBANGUNAN SEKTOR PARIWISATA DI KABUPATEN LUWU TIMUR ~ 335

Sejarah, Budaya, Sosial dan Prospek Pariwisata di Luwu Timur ~ 336

Bahasa ~ 383

Sistem Pengetahuan ~ 385 Organisasi Sosial ~ 389

Sistem Peralatan dan Teknologi ~ 391 Sistem Mata Pencaharian Hidup ~ 394 Sistem Religi ~ 395

Kesenian ~ 398 Potensi Alam ~ 421 Potensi Budaya ~ 425

Tahap Perkenalan Pariwisata Luwu Timur (1969-Sekarang) ~ 431

BAB 5 MAKNA EVOLUSI PARIWISATA ~ 443 DAFTAR PUSTAKA ~ 453

INDEKS ~ 479

(14)

Gambar 1.1 Model Perkembangan Pariwisata (Turismemorfosis) ~ 34

Gambar 4.1 Persebaran Homo Sapiens di Dunia ~ 345

Gambar 4.2 Penyebaran Bahasa Austronesia di Dunia ~ 348 Gambar 4.3 Peta Suku Bangsa di Luwu Timur ~ 353

Gambar 5.1 Turismemorfosis di Badung, Banyuwangi dan Luwu Timur ~ 444

(15)

Matriks 2.1 Turismemorfosis Kabupaten Badung ~ 180 Matriks 3.1 Turismemorfosis Kabupaten Banyuwangi ~ 325 Matriks 4.1 Turismemorfosis Kabupaten Luwu Timur ~ 441

Peta 2.1 DPN Bali ~ 123

(16)

Tabel 2.1 Jumlah Touris dari Luar Negeri Yang Datang Ke Indonesia Periode 1957-1959 ~ 87

Tabel 2.2 Pertumbuhan Kunjungan Asing di Indonesia & Bali ~ 97 Tabel 2.3 Evolusi Pendapatan Pariwisata dan Evolusi Ekspor

Lainnya ~ 107

Tabel 2.4 Jumlah Kunjungan Wisatawan ke Bali 2008-2016 ~ 118 Tabel 2.5 Perkembangan Hotel di Bali Tahun 2009-2013 ~ 144 Tabel 2.6 Data Hotel Bintang di Bali Menurut Lokasi dan Kelas

Hotel Tahun 2013 ~ 145

Tabel 2.7 10 Besar Kunjungan ke Daya Tarik Wisata Bali Tahun 2014 Dan 2015 ~ 152

Tabel 2.8 PDRB Kabupaten Badung Atas Dasar Harga Berlaku Menurut Lapangan Usaha, 2012-2016 ~ 154

Tabel 2.9 Realisasi Pendapatan Daerah Kabupaten Badung Tahun 2011 – 2015 ~ 157

Tabel 2.10Daftar Daya Tarik Wisata (DTW) di Kabupaten Badung Tabel 3.1 Jadwal Banyuwangi Festival Tahun 2013 ~ 165

Tabel 3.2 Angka Kunjungan Wisatawan Ke Banyuwangi ~ 274 Tabel 3.3 PDRB Kabupaten Banyuwangi Atas Dasar Harga Berlaku

Menurut Lapangan Usaha, 2012─2016 ~ 284

Tabel 3.4 Realisasi Penerimaan Daerah Kabupaten Banyuwangi Menurut Jenis Penerimaan 2011-2015 ~ 286

Tabel3.5 Daya Tarik Wisata Andalan Kabupaten Banyuwangi 2016 -2018 ~ 291

Tabel 4.1 Perbandingan Kosakata Bilangan dalam Rumpun

Hesperonia ~ 309

Tabel 4.2 Contoh Kosa Kata “Mati” dalam Rumpun Bahasa Austronesia ~ 349

Tabel 4.3 Luas dan Persentase Tipe Tutupan/Penggunaan Lahan Kabupaten Luwu Timur Tahun 2002 Dan 2013 ~ 411 Tabel 4.4 Luas dan Persentase Tipe Tutupan / Penggunaan Lahan

Kabupaten Luwu Timur Tahun 2013 dan 2024 ~ 413 Tabel 4.5 Sektor-Sektor Unggulan dan Bukan Unggulan Dalam

(17)

Peta Administrasi Kabupaten Badung Provinsi Bali ~ 186 Peta Kabupaten Banyuwangi ~ 334

(18)

PENDAHULUAN

Mengapa Perkembangan Pariwisata? (Transdisipliner Ilmu Pariwisata)

P

ariwisata terbiasa dipersepsikan sebagai mesin penghasil devisa bagi pembangunan ekonomi di suatu negara termasuk di Indonesia. Namun demikian pada prinsipnya pariwisata memiliki spketrum fundamental pembangunan yang lebih luas bagi suatu negara. Paradigma baru pembangunan kepariwisataan Indonesia mengungkapkan bahwa pembangunan kepariwisataan pada dasarnya ditujukan untuk persatuan dan kesatuan bangsa, penghapusan kemiskinan, pembangunan berkelanjutan, pelestarian budaya, pemenuhan kebutuhan hidup dan HAM, peningkatan ekonomi dan industri, dan pengembangan teknologi (Nirwanda. 2007).

Dalam pembangunan internasional, nasional maupun di daerah, keterkaitan antara pariwisata dan ekonomi tidak dapat dipisahkan. Pertumbuhan ekonomi menjadi fokus pembangunan untuk meningkatkan pendapatan sebagai indikator keberhasilan dan tercapainya target-target yang telah ditetapkan sebelumnya. Dampak pembangunan dalam kaitannya antarsektor diupayakan mampu secara positif dirasakan oleh pemerintah sebagai devisa / pendapatan daerah, investasi oleh para praktisi pariwisata, lapangan pekerjaan dan kesejahterahaan bagi masyarakat, dan yang lainnya. Namun harus diakui bahwa pariwisata memiliki dampak negatif secara ekonomi seperti kebocoran, risiko penguasaan sumber daya oleh kapitalis yang memiliki jaringan lokal, nasional dan global, inklusifitas jasa pelayanan yang mengesampingkan peran warga lokal dan yang lainnya.

Secara makro, sulit dibantah bahwa keterkaitan antara pariwisata dan ekonomi dalam memberikan manfaat material merupakan hal utama. Keterkaitan ini dapat dilihat dari fokus dampak makro dari pariwisata dalam pembangunan. Pertama, pariwisata memiliki dampak langsung terhadap perekonomian, antara lain terhadap penciptaan lapangan kerja, reditribusi

(19)

pendapatan, dan penguatan neraca pembayaran. Belanja turis, sebagai bentuk alternatif dari ekspor memberikan kontribusi berupa penerimaan devisa (neraca pembayaran) dan pendapatan yang diperoleh dari ekspansi pariwisata. Penerimaan devisa dari pariwisata juga bisa digunakan untuk mengimpor barang-barang modal untuk menghasilkan barang-barang dan jasa yang pada gilirannya menyebabkan pertumbuhan ekonomi. Kedua, efek stimulasi (induced effects) terhadap pasar produk tertentu, sektor pemerintah, pajak dan juga efek imitasi (imitation effects) terhadap komunitas. Salah satu manfaat utama bagi komunitas lokal yang diharapkan dari pariwisata adalah kontribusinya yang signifikan terhadap perekonomian daerah, terutama peningkatan pendapatan dan pekerjaan baru di daerah. Pelaku bisnis di daerah memperoleh manfaat langsung dari belanja turis. Pelaku bisnis membayar pekerja dan karena pelaku bisnis dan pekerja membelanjakan kekayaan terus meningkat, maka secara keseluruhan komunitas di daerah juga memperoleh manfaat. Sehingga uang yang dibelanjakan oleh turis adalah uang baru dalam perekonomian daerah, bukan kekayaan sebelumnya yang digunakan kembali (recycling) (Nizar, 2011).

Hubungan pariwisata dan pertumbuhan ekonomi dapat dikonfrontasi melalui dua pendekatan. Pertama, pendekatan Keynesian tentang pangganda (multiplier), yang memperlakukan pariwisata internasional sebagai komponen eksogen dari permintaan agregat yang mempunyai pengaruh positif terhadap pendapatan, dan karena itu terhadap lapangan kerja melalui proses multiplier. Namun pendekatan ini banyak menerima kritik karena agak statis dan tidak memungkinkan untuk menyimpulkan dampak pariwisata dalam jangka panjang. Kedua, pendekatan model pertumbuhan endogen dua sektor Lucas yang penggunaannya untuk sektor pariwisata dipelopori oleh Lanza dan Pigliaru (1995 dalam Nizar, 2011). Dalam model ini pariwisata dikaitkan dengan kondisi maksimisasi laju pertumbuhan. Apabila produktivitas menjadi elemen utama dari pertumbuhan, dengan asumsi kemajuan teknologi di sektor manufaktur lebih tinggi dibandingkan sektor pariwisata, maka spesialisasi pariwisata akan mendorong pertumbuhan. Hal ini bisa terjadi hanya apabila perubahan nilai tukar perdagangan (terms

(20)

dari sekadar menyeimbangkan kesenjangan teknologi (technology

gap) sektor pariwisata. Kondisi tersebut berlaku apabila elastisitas

substitusi antara pariwisata dan barang manufaktur lebih kecil dari satu (inelastis) (Nizar, 2011).

Pariwisata dapat dikatakan sebagai industri pariwisata, jika di dalam industri tertentu ada suatu produk tertentu, di dalam industri pariwisata yang disebut produk tertentu tersebut adalah kepariwisataan itu sendiri. Seperti halnya di suatu industri ada konsumen mempunyai tugas untuk menghasilkan suatu produk agar dapat memenuhi permintaan. Pada industri pariwisata konsumen yang dimaksud adalah wisatawan. Wisatawan mempunyai kebutuhan dan permintaan-permintaan yang harus dipenuhi dan pemenuhan kebutuhan tersebut dengan sarana uang (Partadiredja, 1985 dalam Suryadana, 2017). Pariwisata merupakan alat untuk mencapai tujuan dalam ekonomi. Secara mikro dijelaskan perkembangan pariwisata meningkatkan pendapatan daerah setempat. Munculnya komunitas pedagang di sekitar lokasi untuk menambah pendapatan dan meningkatkan jumlah pengunjung, karena merupakan salah satu fasilitas yang tersedia dan mudah dijangkau (Suryadana, 2017).

Perspektif sejarah ekonomi menunjukkan bahwa pariwisata sangat andal dalam membangun perekonomian negara dan meningkatkan kesejahterahaan penduduk. Disebutkan pariwisata sebagai suatu sistem yang multikompleks dengan berbagai aspek yang saling terkait dan saling mempengaruhi. Pariwisata menjadi penggerak utama dinamika masyarakat. Pariwisata menjadi prime

mover perubahan sosial budaya masyarakat. Sejarah akan mencatat

peran utama pariwisata yang penting tersebut dalam menstimulasi dan mendorong terjadinya perubahan-perubahan sosial budaya dalam masyarakat (Simanjuntak, Dkk., 2017).

Keterkaitan antara pariwisata dan ekonomi di Indonesia sudah disadari sejak era Orde Lama (pertama kali dicetuskan pariwisata sebagai industri) dan diteruskan di era Orde Baru. Walaupun waktu itu masih menerapkan pola sentralistik dalam pembangunan tetapi masyarakat di daerah yang mengandalkan pembangunan pariwisata seperti Bali dan Yogyakarta telah merasakan manfaat ekonomi dari pariwisata. Memasuki era Reformasi semakin disadari bahwa daerah-daerah di Indonesia memiliki banyak potensi pembangunan termasuk pembangunan sektor pariwisata. Pembangunan ekonomi

(21)

daerah oleh pemerintah daerah memiliki peran penting selain peran pemerintah pusat dalam memberikan regulasi, arahan dan perintah (dalam beberapa kasus). Di era otonomi daerah, sejak tahun tahun 2001, paradigma ”membangun daerah” seharusnya lebih difokuskan (Kuncoro, 2004). Artinya, daerahlah yang harus mempunyai inisiatif, prakarsa dan kemandirian dalam menyusun, merencanakan, serta melaksanakan pembangunan daerah. Asumsinya, daerah lebih mengetahui tentang masalah dan potensi yang ada di daerahnya masing-masing (Kuncoro, 2012).

Pemerintah secara langsung dan tidak langsung terlibat dalam pariwisata karena dalam pengembangannya terdapat kemungkinan menciptakan lapangan pekerjaan dan menghasilkan pendapatan. Pariwisata berpotensi memberikan kontribusi dan meningkatkan perekonomian nasional dan daerah (Hall, 2000). Intervensi pemerintah terhadap pengembangan pariwisata perlu dilakukan dengan menerapkan beberapa instrumen kebijakan yang dapat digunakan untuk mengontrol dan memberikan insentif dalam mengembangkan pariwisata yang berkelanjutan seperti, lingkungan, tata ruang, ruang hijau, taman kota keselamatan wisatawan, melindungi budaya lokal, insentif untuk pembangunan infrastruktur seperti sistem transportasi, investasi, ekonomi kerakyatan dan yang lainnya. Penetapan instrumen kebijakan tidak dapat dilakukan secara parsial melainkan harus holistik berdasarkan moral dan kemauan politik yang baik. Isu-isu yang berkembang saat ini mengenai perencanaan pariwisata hanya lebih menekankan aspek teknis saja padahal sebenarnya merupakan masalah politik yang menyangkut regulasi terhadap semua komponen pariwisata yang ada dalam rangka menuju pariwisata berkelanjutan (Patterson dan Theobald, 2005).

Pada era 1980-an terjadi perubahan paradigma dari pariwisata massal (mass tourism) ke pariwisata alternatif (alternative

tourism). Sementara globlisasi, supersegmentasi, teknologi baru

dan meningkatnya kepedulian dan tanggungjawab terhadap sosial dan ekologi. Persaingan menjadi fungsi utama industri pariwisata sebagai mass tourism. Kualitas dan efesiensi menjadi kunci utama alternative tourism sebagai salah satu model pariwisata berkelanjutan, dibanding kuantitas yang menjadi “modus operandi” pada mass tourism (Fayos-Sola, 1996 dalam Pitana dan Diarta, 2009).

(22)

Salah satu ciri khas dari konsep pariwisata berkelanjutan adalah

equity (pemerataan). Equity dirasakan semakin dibutuhkan karena

desakan kemiskinan mendorong eksploitasi lingkungan alam secara berlebihan. Sangat urgent pengaturan pemerataan memperoleh akses (acces), dan pemerataan sumber daya alam untuk memenuhi kebutuhan pokok (basic needs) seperti sumber air, tanah dan lain-lain (Hardjasoemantri, 2009). Memasuki tahun 1990-an mulai tampak aspek-aspek pariwisata berkelanjutan yaitu aspek ekonomi, aspek lingkungan dan aspek sosial budaya menjadi formulasi aktif untuk memberikan “obat” bagi situasi dan kondisi dunia yang semakin mengkhawatirkan (terutama perspektif lingkungan). Pembangunan berkelanjutan menjadi isu dan program-program pemerintah di seluruh dunia. Termasuk dalam sektor pariwisata, isu pembangunan berkelanjutan “disulap” menjadi pariwisata berkelanjutan dan begitu pula tampak di sektor-sektor lainnya. Lahir konsep-konsep pariwisata berkelanjutan, ecotourism, community

based development-community based tourism, alternative tourism, adaptive paradigm, green tourism, dan termasuk juga kritik-kritik

yang mencurigai pariwisata berkelanjutan (Eadington dan Smith, 1992; Nelson, Butler dan Wall, 1993; Hunter, 1997; Cohen, 2002).

Harus disimak secara teliti bahwa konsep pariwisata berkelanjutan yang mulai diwacanakan di dunia sejak tahun 1970an (di Indonesia memasuki tahun 2000an) dalam implementasinya berisiko bermuatan politis. Konsep pariwisata berkelanjutan,

community based development-community based tourism, alternative tourism, green tourism, dapat dimanfaatkan sepihak

untuk kepentingan-kepentingan kapitalis (pemilik modal). Uniknya, pemerintah-birokrat di dunia sering tidak sadar terlibat dalam praktek politis pola pembangunan berkelanjutan (penyimpangan dari konsep pariwisata berkelanjutan). Aspek ekonomi, aspek lingkungan dan aspek sosial-budaya sebagai konsep pariwisata berkelanjutan “dijadikan alat” untuk mencapai tujuan. Meraih keuntungan dalam dunia bisnis sebagai bagian dari aspek ekonomi menjadi tujuan utama pembangunan termasuk sektor pariwisata.

Banyak kasus terjadi, atas nama pembangunan pariwisata berkelanjutan mengorbankan warga masyarakat lokal, menciptakan

social-cultural lag, terjadi degradasi budaya dan justru kerusakan

(23)

lainnya). Keuntungan pariwisata justru diperoleh oleh pihak luar seperti investor dan negara tidak dapat berbuat banyak untuk menyikapinya (biasanya telah memperoleh manfaat untuk pertumbuhan ekonomi sehingga permasalahan ini diabaikan). Terjadi perubahan-perubahan sosial dan rentan terjadi konflik antara masyarakat lokal dengan penyelenggara kegiatan wisata. Untuk beberapa kasus konflik dapat diantisipasi dengan melibatkan warga lokal dalam kegiatan pariwisata. Tetapi biasanya itu hanya bersifat sementara karena pada akhirnya warga lokal menyadari posisinya yang tidak menguntungkan dikemudian hari.

Secara mikro, ekonomi menjadi “kambing hitam” dalam hal ini padahal sebenarnya ekonomi hanya “tool” yang dapat dimainkan oleh oknum-oknum investor bersama oknum-oknum birokrat dan oknum-oknum tokoh masyarakat. Dalam prakteknya tidak jarang oknum-oknum akademisi juga turut terlibat. Lewat jargon-jargon yang intinya untuk kesejahterahaan dan meminimalkan kerusakan-kerusakan lingkungan-artefak budaya sebagai warisan yang dimiliki warga lokal. Warisan budaya, warisan lingkungan dan warisan unik lainnya sudah terlebih dahulu dimengerti oleh para investor sebagai sumber daya pariwisata yang berpotensi untuk pengembangan sektor pariwisata dan menghasilkan keuntungan secara finansial jika mampu di-create bagi kepentingan wisatawan (termasuk warga lokal yang jeli melihatnya sebagai peluang menjanjikan). Sehingga

The otherness dan authenticity menjadi senjata andalan citra

pariwisata sampai saat ini.

Beberapa publikasi ilmiah oleh para pakar ilmu pariwisata menunjukkan mulai tahun 1960an secara empiris pariwisata menunjukkan “daya tarik keilmuan” karena mulai dirasakan dampak positif maupun dampak negatif pariwisata. Mulai dari perspektif (memasuki tahun 1990-an lebih sering disebut dimensi-dimensi pariwisata) budaya, sosial, geografi, ekonomi, politik, hukum dan perspektif lainnya. The otherness dan authenticity (disamping

leisure dan recreation juga sebagai kebutuhan alamiah manusia /

wisatawan) ternyata mampu memberikan perubahan-perubahan yang nyata karena pembangunan pariwisata. Para wisatawan mengadakan perjalanan untuk memuaskan hasrat ingin mengetahui, mengurangi ketegangan pikiran, berisitirahat dan mengembalikan kesegaran pikiran dan jasmani pada alam lingkungan berbeda

(24)

(Spilane, 1993). Kedatangannya ke daya tarik wisata memiliki tipologi atas dasar daerah yang akan dikunjungi dan tingkat pelembagaan / pengorganisasian perjalanan wisatanya (Cohen, 1972). Interaksi host dan guest sebagai dualisme ekonomi yang masing-masing pihak mulai menyadari seperti guest memerlukan kepuasan dan host memerlukan uang (McKean, 1974), tipologi psikografi wisatawan sebagai acuan pemasaran pariwisata (Plog, 1975 dalam Butler, 1980), evolusi sikap masyarakat lokal terhadap wisatawan secara linear sebagai index of tourist irritation (irridex) (Doxey, 1975 dalam Butler, 1980), dan evolusi hubungan antara

host dan guest dalam pariwisata yang berakhir pada komoditas

(Greenwood, 1972).

Termasuk dampak-dampak pariwisata sudah sejak tahun 1960-1970 menjadi perhatian para pakar ilmu pariwisata. Mengetahui dampak sejak dini (terutama dampak negatif) akan berguna untuk penyusunan perencanaan pengembangan destinasi wisata. Akan lebih sulit menanggulangi dampak negatif yang sudah terjadi. Terlebih terkait dengan nilai budaya yang sangat abstrak, konflik-konflik sosial kerusakan lingkungan dan yang lainnya. Secara akademis kajian terhadap dampak pariwisata dikalangan para pakar selalu berada dalam dikotomi. Yaitu yang mendukung pariwisata dengan asumsi bahwa pariwisata memberikan banyak manfaat dan yang menentang pariwisata berasumsi bahwa pariwisata akan merusak budaya, lingkungan dan alam. Terdapat pula yang berupaya tetap netral tidak diantara kedua kubu yang bertentangan tersebut (Pitana dan Gayatri, 2006).

Secara antropologis otentisitas merupakan fenomena yang memiliki sisi ambigu. Di satu sisi memberikan ciri identitas budaya yang membedakan budaya satu dengan budaya lainnya. Di sisi lain menjadi keraguan dan kekhawatiran ketika otentisitas “dijual” sebagai komoditi pariwisata. Otentisitas menjadi bahan menarik studi, kajian maupun penelitian praktis dalam pariwisata mulai awal tahun 1970-an (MacCannell, 1973 dalam Knudsen dan Waade, 2010). Otentisitas menjadi aspek signifikan dalam pariwisata budaya, tetapi otentisitas tidak baku-dapat berubah, karena kebudayaan tradisional itu sendiri selalu mengalami redefinisi dan rekonstruksi. Sejumlah unsur otentisitas mungkin sudah hilang ketika pariwisata mengintroduksirnya untuk konsumsi wisatawan. Otentisitas dan

(25)

lawannya inotentisitas dipahami secara luas-tidaklah inheren di dalam diri pengalaman turistik itu sendiri, melainkan merupakan sebuah variabel bergantung pada harapan-harapan dan tujuan-tujuan wisatawan (Redfoot dalam Wood, 1993). Selanjutnya Wood (1993) mengatakan hal sama berlaku bagi tuan rumah wisatawan. Otentisitas bagi mereka pastilah dinilai melalui kacamata mereka dan bukti-bukti menunjukkan bahwa tradisi yang inverted atau dibentuk kembali dapat memiliki otentisitas yang sangat kental. Oleh karena itu lebih baik mengangap otentisitas sebagai sebuah konsep yang “dibangun” oleh masyarakat, yang kriterianya berbeda-beda tergantung pada perspektif wisatawan atau bahkan tuan rumah (Maunati, 2004).

Perspektif cultural studies menegaskan bahwa otentisitas adalah fantasi dunia barat terhadap otherness. Tidak ada yang luput dari dampak kuat globalisasi. Dunia yang murni, tertutup dan tak terusik oleh modernitas adalah fantasi kolonial tentang dunia pinggiran yang dipelihara oleh barat, yang merawat penduduk aslinya yang murni dan tempat-tempat tak terjamah (Hall dan Du Gay, 1996). Cara yang digunakan barat untuk memasarkan etnisitas mencerminkan “betapa laparnya” Barat akan konsumsi otherness, tetapi juga ada keinginan dari pemerintah negara-negara tujuan wisata (Hall, 1992 dalam Maunati, 2004).

Sosiolog Cohen (2002) menyerahkan sepenuhnya otentisitas kepada pilihan-pilihan subyektif masing-masing wisatawan. Ter-gantung pula dari cara pengelolaan situs dan daya tarik wisata apakah mampu meyakinkan “keotentisitasan-nya”. Masyarakat saat ini senang dengan sesuatu yang mampu membuat orang kagum dan heran. Tidak peduli otentik atau tidak, terpenting wisatawan berada di daya tarik wisata yang sudah terkenal-diakui. Atau justru daya tarik wisata yang asing tetapi berbeda dengan yang lainnya, menikmati, merasa otentik, didukung oleh orang-orang disekitarnya dan mendapatkan pengakuan. Berarti otentisitas dapat dirasakan oleh wisatawan ketika berada di pantai Kuta, Badung, pantai Pulau Merah, Banyuwangi, pantai Lemo, Luwu Timur atau Disneyland asalkan wisatawan tidak dipaksa, tetapi para wisatawan secara sadar telah menjatuhkan pilihan bahwa keberadaannya di suatu daya tarik wisata memiliki otentisitas. Sehingga otentisitas seperti disampaikan di atas terkait dengan pilihan-pilihan para wisatawan

(26)

sebagai pemahaman liminal (Selwyn, 1996), yang berproses menjadi tak terduga (Brown, 1996), melahirkan otentisitas dalam pariwisata sebagai “otentisitas eksistensial” (Wang, 1999).

Kenyataannya sering sesuatu yang dianggap otentik oleh wisatawan justru tidak otentik. Tetapi yang terpenting adalah pengalaman otentisitas. Dalam perkembangannya otentisitas dipahami bukan kualitas tetapi bagaimana dia dibangun secara sosial atau justru keaslian adalah kualitas yang muncul dan berproses sehingga diperoleh pengakuan sosial sebagai yang asli. Hal itu berupaya disampaikan kepada masyarakat postmodern saat ini. Akhirnya yang dicari adalah pengalaman untuk menunjukkan bahwa wisatawan berada-melakukan kegiatan berwisata dalam pengalaman otentisitasnya. Fakta ini berkaitan dengan arah orientasi masyarakat saat ini yang mengejar prestise sebagai gaya hidup hedonis.

Fenomena otentisitas dalam pariwisata tetap menjadi isu menarik sampai sekarang. Otentisitas membuat atraksi atau produk wisata menjadi bernilai dengan kemampuan pengelolaan, promosi dan pemasaran yang membentuk pencitraan. Di era postmodern ini, otentisitas menjadi sangat absurd. Kewenangan yang menyebutkan sesuatu itu “otentik” dan yang lain tidak otentik atau “palsu” semakin terasa bahwa setiap individu memiliki kewenangan untuk menilainya. Tetapi terdapat kekuasaan yang mampu menggiring opini publik (wisatawan), membentuk pencitraan dan akhirnya menerima bahwa sesuatu itu ternyata otentik (padahal belum tentu demikian). Kekuasaan ini berkaitan dengan kekuatan ekonomi untuk mempengaruhi pasar sehinggga produk wisata dapat dikenali, diakui dan disepakati bersama sebagai yang otentik-menjadi ciri khas dan memiliki nilai jual tinggi.

Di sisi lain otentisitas banyak dikesampingkan banyak orang karena sebenarnya praktisi pariwisata atau tuan rumah sudah mampu mengakomodir bahwa apa yang disuguhkan kepada wisatawan adalah otentik (sering secara tidak disadari). Banyak komponen pariwisata mengabaikan pentingnya otentisitas padahal ramainya wisatawan yang datang sebenarnya mencari otentisitas. Hal ini dikarenakan pembentuk otentisitas adalah generasi-generasi sebelum praktisi pariwisata itu dilahirkan yang telah berproses sedemikian rupa. Sehingga generasi penerus tinggal

(27)

melanjutkan atau jika ingin lebih diminati oleh wisatawan harus berinovasi. Wisatawan sangat ingin dan mau mencari otentisitas sehingga berdatangan ke destinasi-destinasi wisata. Secara akademis otentisitas sukar diterima pengertiannya dan akan tetap menjadi perdebatan. Tetapi secara praktis khususnya dalam dunia pariwisata otentisitas sudah dilaksanakan secara massal dan sering tidak disadari. Otentisitas adalah konsep yang sukar dipahami orang, tetapi justru ini yang membuat ketertarikan bagi wisatawan untuk datang berkunjung (Ricky, 2018).

Untuk kasus Bali terkait dengan otentisitas memiliki keistimewaan karena Bali memiliki potensi budaya yang sampai sekarang nilai budaya, sistem sosial dan artefak yang dimiliki masih difungsikan sebagai tradisi yang hidup (living culture). Selain itu Bali dikenal oleh dunia luar karena the otherness dan

authenticity dengan keunikan budayanya. Namun tidak banyak

diketahui orang bahwa terdapat aktor-aktor yang “mencitrakan” keunikan Bali tersebut. Beberapa jenis kesenian yang disuguhkan kepada wisatawan bukan taken for granted. Melainkan tidak dapat dilepaskan dari peran pemerintah kolonial Belanda, para wisatawan di masa kolonial, dan seorang Spies yang berupaya melakukan komodifikasi budaya bahkan memasarkannya sejak tahun 1930-an (Rahardjo dan Munandar; 1998; Picard 2006; Anom, dkk., 2017). Pariwisata budaya yang telah dirancang sejak awal tahun 1970an sebagai identitas pariwisata Bali, saling mengisi antara budaya lokal dan pembangunan pariwisata. Sangat berbeda dengan pariwisata budaya di Eropa misalnya yang lebih mengarah kepada monumen / tinggalan-tinggalan budaya sebagai museum yang mulai disadari memiliki potensi ekonomi mulai tahun 1970-1980 (Richards, 1996).

Pada sisi ini jelas sosiopolitik memiliki peran besar me-nentukan arah perkembangan sektor pariwisata pada suatu daerah. Aktor-aktor mulai dari tingkat atas sampai di tingkat warga lokal (termasuk investor) berada pada domain yang sama yaitu pariwisata untuk mendapatkan keuntungan, selain atas nama pelestarian dan pengembangan. Meskipun terdapat sebagian kecil aktor-aktor yang benar-benar murni melakukan pengembangan pariwisata atas asas pariwisata berkelanjutan. Atau karena majunya sektor pariwisata mampu melestarikan budaya lokal dan kelestarian

(28)

lingkungan alamnya. Tetapi harus diakui, banyak terjadi pariwisata berkelanjutan digunakan sebagai kedok untuk mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya dari potensi lokal yang menjanjikan. Hal ini melahirkan intrik-intrik politik dalam pembangunan sektor pariwisata pada suatu daerah. Di sisi ini harus disadari bahwa pariwisata sarat dengan muatan politis ketika diyakini pariwisata mampu memberikan manfaat ekonomi. Banyak kepentingan sebagai representasi paradigma / pemikiran, ketokohan, wacana dan lembaga formal / non formal yang saling bersaing secara internal maupun eksternal yang mengindikasikan terjadi kompetisi dalam perebutan sumber daya.

Kritik terhadap paradigma pariwisata berkelanjutan di negara-negara berkembang pernah dilakukan Cohen (2002). Para ahli pariwisata dianggap mengabaikan sosiopolitik dalam implementasi pariwisata berkelanjutan. Padahal melalui sosiopolitik akan tergambarkan faktor-faktor kunci terjadinya penyimpangan konsep pariwisata berkelanjutan di lapangan. Jelas terjadi dominasi dari para

stakeholders terhadap masyarakat lokal. Dominasi mengacu kepada

Marx (Barker, 2003) adalah kekuasaan yang memaksa terhadap kepentingan mayoritas (yang berkuasa) terhadap masyarakat sub

ordinat secara sadar. Artinya masyarakat lokal yang didominasi

tidak dapat berbuat banyak karena berbagai keterbatasan dalam perebutan sumber daya-sumber daya (politik, ekonomi, alam, dan yang lainnya).

Politik wacana menjadi esensial bagi pemegang kekuasaan untuk mendramatisir keadaan (masyarakat lokal merusak ling-kungan), sehingga diperlukan solusi untuk mengatasinya. Solusi-solusi yang ditawarkan di-publish melalui media massa (cetak dan elektronik), disampaikan dalam berbagai event, dan diumumkan secara massal sebagai sesuatu yang urgent. Dalam teori kritis, politik wacana adalah peran yang dimainkan oleh pemegang kekuasaan. Diimplementasikan melalui metafora-metafora yang dikontruksi berdasarkan asas kepentingan (Barker, 2003). Ideologi dalam politik wacana terkomodifikasi sebagai niat baik pelestarian lingkungan, revitalisasi budaya, konservasi-preservasi tinggalan budaya sebagai pariwisata berkelanjutan. Peran pemerintah, investor, pengusaha lokal sebenarnya dalam upaya “menundukkan” masyarakat lokal demi kepentingan-kepentingan ekonomi. Secara terselubung

(29)

digunakan isu atau program “penyelamat alam” sebagai wacana. Jargonnya adalah ideologi pembangunan dan konservasi sebagai pariwisata berkelanjutan. Politik menjadi alat pembenaran melalui strategi pariwisata berkelanjutan untuk legitimasi penguasaan sumber daya-sumber daya bagi kepentingan-kepentingan kelompok kapitalis (Cohen, 2002).

Sampai tahun 2000an dengan keterbukaan informasi dan kecanggihan teknologi, peningkatan SDM dan iklim demokrasi, masyarakat lokal sudah semakin memahami dinamika dunia yang bergerak cepat. Materi tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup melainkan juga diupayakan untuk memenuhi banyak keinginan sesuai dengan perkembangan zaman. Pada beberapa tempat atau desa keadaan ini “agak menyulitkan” oknum investor. Untuk secara total mendominasi sumber daya-sumber daya karena warga lokal semakin cerdas, kritis dan menginginkan hal sama dengan yang ada di pikiran oknum investor, yaitu keuntungan ekonomi. Aset-aset lokal sebagai sumber daya pariwisata disadari sebagai warisan. Oleh karena itu warga lokal merasa berhak untuk mengatur dan melestarikannya karena berada dalam teritorial / wilayahnya. Peran orang luar sedapat mungkin diperkecil atau diatur menurut cara / versi warga lokal yang sudah mampu mengimplementasikan pola-pola manajemen modern (pada beberapa desa banyak terjadi kemandirian warga lokal karena memiliki pengalaman langsung terhadap pariwisata tidak mau diatur oleh pemerintah termasuk investor).

Sebenarnya warga lokal dalam hal ini banyak belajar dari para investor terdahulu yang berhasil melakukan pengembangan pariwisata, kasus-kasus di tempat lain dan upaya adopsi untuk diterapkan dalam pengelolaan pariwisata di wilayah mereka. Hal ini melahirkan kembali pola-pola mass tourism karena untuk mendapatkan keuntungan ekonomi secara cepat. Terjadi proses pembangunan yang semula dilakukan oleh oknum investor bersama pemerintah / birokrasi menjadi oknum-oknum inisiator warga lokal bersama oknum-oknum pemerintahan lokal seperti pemerintahan desa / adat. Kemungkinan investor besar dari luar masuk tetap ada (asalkan potensi wisata yang dimiliki menjanjikan secara ekonomi) tetapi akan dibuatkan regulasi, perjanjian dan pola bagi hasil untuk mencegah terjadi kecurangan yang dapat merugikan salah satu pihak

(30)

di masa depan. Pertumbuhan ekonomi tetap menjadi hal utama dengan diikuti oleh upaya-upaya pariwisata secara berkelanjutan (kenyataannya sulit untuk secara murni melakukan model-model

alternative tourism).

Pertumbuhan ekonomi sebagai warisan tradisi ekonomi klasik dan Keynesian tetap menjadi fokus utama negara-negara di dunia sebagai ciri negara modern. Berbagai langkah dan strategi direncanakan, disusun dan diimplementasikan untuk mencapai pertumbuhan ekonomi setinggi-tingginya dengan perolehan pendapatan sebagai pemasukan bagi negara untuk mewujudkan keberhasilan pembangunan. Pada titik ini sebenarnya konsep pariwisata berkelanjutan (pemerataan) sudah bertentangan dengan konsep pertumbuhan ekonomi yang dianut hampir oleh seluruh negara di dunia. Dalam pariwisata mass tourism menjadi sulit dihindari karena dirasakan paling cepat memberikan hasil secara ekonomi. Walaupun banyak risiko yang ditimbulkan dan banyak komponen mengetahuinya tetapi cenderung sulit “melakukan sesuatu” karena terdapat “grand scenario” atau “kepentingan yang lebih besar” (akurasi, akselerasi, kecepatan, ketepatan, atas nama kepentingan umum, kesejahterahaan masyarakat, keberhasilan pembangunan dan yang lainnya).

Keadaan ini mendorong negara-negara di dunia yang fokus terhadap pembangunan pariwisata menyusun regulasi dan kebijakan pariwisata. Tujuannya adalah untuk memaksimalkan pendapatan / devisa dengan meminimalkan risiko-risiko yang dapat ditimbulkan sehingga keharmonisan sosial dapat diupayakan. Peraturan dan kebijakan dalam pembangunan sektor pariwisata pada suatu negara harus menjamin terselenggaranya kegiatan pariwisata yang memberikan manfaat bagi negara dan masyarakatnya. Fayos-Sola (1996, dalam Pitana dan Diarta, 2009) menyatakan perkembangan kebijakan pariwisata dunia telah mengalami tiga tahapan generasi berbeda yaitu sebagai berikut :

Paradigma kebijakan

1. pariwisata massal dimana generasi ini didasarkan pada target pencapaian jumlah wisatawan sebe-sar-besarnya, pencapaian pendapatan sebesebe-sar-besarnya, dan penciptaan lapangan kerja di sektor pariwisata.

Paradigma kebijakan pariwisata untuk kesejahterahaan 2.

(31)

ekonomi melanda dunia, termasuk pertumbuhan ekonomi yang berfluktuasi serta masa resesi yang panjang. Dalam periode ini dampak sosial, ekonomi, dan ekologi akibat keberadaan pariwisata sudah mulai disadari. Sementara fokus pada pertumbuhan ekonomi melalui pengembangan pariwisata mulai diredefinisi. Peran pariwisata mulai digeser ke pencapaian kesejahterahaan sosial bukan lagi pada pertumbuhan ekonomi semata.

Paradigma kebijakan

3. pariwisata terpadu (holistik), adalah periode yang menyadari persaingan memegang peran menentukan dalam industri pariwisata. Kemitraan antara pemerintah, swasta dan LSM diberi penekanan lebih sehingga mendorong hubungan simbiotik antar sektor. Diskusi kebijakan pembangunan pariwisata bergeser dari sisi konvensional seperti pemasaran, promosi, pajak, insentif, akomodasi dan transportasi menuju isu yang lebih holistik berkaitan dengan lingkungan, dampak sosial, pemerataan (siapa mendapat apa, kapan, dan bagaimana), serta regulasi pariwisata internasional yang menyangkut keamanan dan kesehatan.

Perspektif sosiologi menunjukkan, jika berbicara pembangu-nan dan kepariwisataan maka akan identik dengan perkembangan kepariwisataan. Diidentikkan dengan istilah pembangunan yaitu sebagai urutan dari berbagai perubahan yang sistematis. Istilah perkembangan mencakup pertumbuhan tertentu dalam gambaran pembaharuan. Perkembangan seringkali membawa pe rubahan, demikian pula perubahan yang mengakibatkan per-kembangan. Kadangkala yang terjadi adalah berkembang dan berubah (Kartasapoetra, 1978 ; Hoogvelt, 1983 ; Sastroupano dan Siswopangripto ; 1984 dalam Suryadana, 2017).

Kecenderungan negara-negara di dunia saat ini adalah regulasi dan kebijakan sektor pariwisata tidak dapat dipisahkan dari tujuan pertumbuhan ekonomi sebagai landasan pemikiran. Kajian-kajian akademis, AMDAL, masterplan, action plan maupun business plan suatu destinasi wisata atau daya tarik wisata bertujuan ekonomi selain penataan dan pengelolaan (termasuk pemasaran) suatu destinasi wisata. Akan melahirkan visi-misi, strategi dan

(32)

program-program kerja berbasis potensi-potensi wisata yang dimiliki dengan harapan mampu mendatangkan wisatawan serta memperoleh pendapatan bagi pengelola, masyarakat dan pemerintah daerah. Artinya pembangunan sektor pariwisata di dunia memasuki tahap serius sehingga dalam prosesnya diperlukan perencanaan-perencanaan yang realistis. Perencanaan pariwisata merupakan proses pengambilan keputusan yang diinginkan di masa depan. Penyediaan informasi atau data dari berbagai dimensi sangat diperlukan untuk landasan pengambilan keputusan (Beeho dan Prentice, 1996). Keberhasilan pengembangan pariwisata di suatu daerah sangat tergantung dari kemampuan perencana dalam mengintegrasikan demand side dan supply side (Gunn, 1988).

Sebelum sebuah destinasi wisata diperkenalkan dan dijual akan sangat tepat jika dipersiapkan 4 komponen utama destinasi wisata, yaitu attraction, accessibility, amenity, dan ancilliary (Cooper, dkk., 1999). Suatu atraksi wisata atau daya tarik wisata (objek wisata) harus memenuhi 3 kriteria agar diminati wisatawan (Yoeti, 1985). Kemampuan membentuk something to see, something

to do dan something to buy untuk wisatawan merupakan tugas dari

para penyelenggara jasa pariwisata yang menuntut kreatifitas dan inovasi. Pemerintah pusat, pemerintah daerah, praktisi pariwisata dan masyarakat terkait pariwisata tidak dapat mengesampingkan komponen 4 A dan 3 S di atas. Keindahan sumber daya dan potensi yang dimiliki suatu daerah yang direncanakan untuk pembangunan sektor pariwisata akan sulit diwujudkan keberhasilannya jika terjadi ketimpangan antar komponen tersebut.

Pada tataran mikro yaitu di tingkat desa tipologi partisipasi masyarakat dapat dilihat dalam tujuh tingkatan (level) berbeda mulai dari partisipasi pasif, partisipasi informatif, partisipasi melalui konsultasi, partisipasi inenstif material, partisipasi fungsional, partisipasi interaktif dan mobilisasi diri (Prety, 1995). Terdapat pula 3 klasifikasi utama partisipasi masyarakat dalam pariwisata mulai dari spontaneous participation, coersive participation dan induced

participation (Tosun, 1995).

Penjabaran fenomena pariwisata di atas secara konseptual teoritis mengantarkan kepada pariwisata bersifat kompleks dan akan sulit jika hanya diperhatikan dari satu aspek, satu perspektif atau satu dimensi. Secara komprehensif dalam memahami pariwisata harus

(33)

memahaminya sebagai suatu sistem. Inti sistem pariwisata global terletak pada daerah asal wisatawan yang secara geografis menyebar ke daerah tujuan wisata (Williams dan Zelinsky, 1970 ; Brodsky dan Porges, 1981 ; dalam Cohen, 1984). Dilihat dari penganut paham teori ketergantungan, secara sosioekonomi sistem pariwisata tergantung pada kelompok dan aktor perusahaan nasional-perusahaan jejaring transnasional (internasional), antar pemerintah-pemerintah lokal dan lembaga-lembaga lain seperti maskapai penerbangan, travel

agent-tour operator, jejaring hotel, organisasi perjalanan pariwisata

internasional. Industri jasa pariwisata menjadi terlembagakan secara internasional yang mengartikan bahwa struktur dan fungsi di tingkat global mempengaruhi pada tingkat nasional dan tingkat lokal di negara-negara tujuan wisata (Mattews, 1978; Young, 1973; Cleverdon, 1979; Dunning dan McQueen, 1982; Lanfant, 1980 dalam Cohen 1984).

Sementara sosiolog dan antropolog terfokus kepada dinamika sistem pariwisata terutama pada tingkat regional dan lokal (skala lebih kecil). Forster (Cohen, 1984) memperkenalkan pendekatan genetik yang memberikan perhatian kepada proses perkembangan alamiah pariwisata yang menciptakan “a type of cumulative causation” dan melahirkan pijakan ekonomi baru pada suatu daerah yang mengembangkan pariwisata (Forster, 1964 dalam Cohen, 1984). Genetik menjadi pendekatan diminati tahun 1950-1960 dalam ilmu sastra sebagai pendekatan neo atau post struktural. Pendekatan ini berbeda dengan teori-teori formal dalam sastra dan berupaya mencari asal-usul karya sastra mulai dari pengarang, situasi sosial saat karya sastra itu dibuat dan yang lainnya (Pendekatan genetik dalam ilmu sastra menerapkan ilmu-ilmu sosial-humaniora serumpun di luar ilmu sastra seperti sosiologi linguistik, antropologi linguistik, sejarah, politik dan yang lainnya).

Sistem pariwisata menurut Leiper (1990) adalah elemen-elemen dari sebuah sistem pariwisata yang sederhana menyangkut sebuah daerah / negara asal wisatawan, sebuah daerah/negara tujuan wisata dan sebuah tempat transit serta sebuah generator yang membalikkan proses tersebut. Secara lebih eksplisit terdapat 5 elemen pokok yaitu traveler-generating region, dearting traveler,

transit route region, tourist-destination region dan returning traveler.

(34)

elemen wisatawan, tiga elemen geografis (gabungan dari travel

generator, transit route dan tourist destination) dan elemen industri

pariwisata. Masing-masing elemen dari model sistem pariwisata saling berinteraksi dalam hal produk wisata, transaksi, dampak dan beragam konteks dan konsekuensi lokasi penyelenggaraan pariwisata tersebut (Leiper, 1990 dalam Pitana dan Diarta, 2009).

Perkembangan pariwisata menjadi isu menarik memperhati-kan pokok-pokok pikiran pada bahasan di atas. Pariwisata telah tumbuh berkembang di dunia dan di Indonesia khususnya daerah-daerah yang bertumpu kepada pembangunan sektor jasa ini. Tetapi di Indonesia tampak perhatian secara akademis terhadap perkembangan pariwisata di Indonesia masih minim. Termasuk secara praktis untuk kepentingan perencanaan-pembangunan pariwisata, jarang ditemukan berbasis pada perkembangan. Lebih banyak yang dilakukan adalah riset, kajian, publikasi dan perencanaan yang serupa dengan perkembangan tetapi sebenarnya esensinya berbeda yaitu “pengembangan pariwisata”. Sangat banyak para ahli dan mahasiswa (S1, S2, dan S3) yang menggunakan konsep pengembangan pariwisata padahal yang dimaksudkan adalah perkembangan pariwisata. Penggunaan konsep pengembangan pariwisata “bercampur aduk” dengan perkembangan pariwisata yang sebenarnya membingungkan secara metodologi (konsep, teori dan metode).

Hal wajar sebagai ilmu yang baru diakui oleh pemerintah Indonesia sejak tahun 2008 yaitu ilmu pariwisata adalah ilmu yang masih muda belia. Tetapi secara praktis pariwisata sebagai sebuah industri jasa telah mengalami perkembangan pesat. Pada tahun 1970 berdiri United Nations World Tourism Organization (UNWTO) yang telah dirintis sejak tahun 1925. UNWTO telah membantu para anggotanya dalam industri pariwisata dunia yang diyakini merupakan faktor penting dalam merangsang pertumbuhan ekonomi dan menciptakan lapangan kerja dan yang lainnya. Program-program pengembangan kepariwisataan oleh UNWTO berkontribusi langsung bagi pencapaian tujuan pembangunan milenium (MDGs) terutama MDG 1 (pemberantasan kemiskinan dan kelaparan), MDG 3 (kesetaraan gender), MDG 7 (kelestarian Lingkungan) dan MDG 8 (kemitraan global untuk pembangunan) (https://www.kemlu.go.id/id/kebijakan/kerjasama-multilateral/

(35)

PERKEMBANGAN PARIWISATA

DI KABUPATEN BADUNG

B

ali sebagai destinasi wisata utama di Indonesia telah memiliki peraturan perundang-undangan dan kebijakan pariwisata sejak tahun 1970an. Hal ini disebabkan Bali sejak awal masuknya modernisasi sudah terlibat dengan sektor pariwisata. Sehingga sebelum Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) memiliki payung hukum pariwisata, propinsi Bali sudah memilikinya. Terbukti jauh sebelum Undang-Undang RI Nomor 9 tentang Pariwisata Tahun 1990 ditetapkan, Pemerintah Provinsi Bali Tingkat I sudah menetapkan Peraturan Daerah atau Perda Nomor 3 tahun 1974 tentang Pariwisata Budaya. Dalam Perda Provinsi Tingkat I Bali Nomor 3 Tahun 1974 tentang Pariwisata Budaya, Pasal 1 nomor urut 1 disebutkan, pariwisata budaya ialah kepariwisataan yang kegiataannya untuk memelihara kesenangan wisatawan, menyajikan unsur-unsur yang bernilai dari kebudayaan dan keindahan alam.

Ditetapkannya Undang-Undang RI Nomor 9 tentang Pari-wisata Tahun 1990, mewajibkan revisi Peraturan Daerah (Perda) Nomor 3 tahun 1974 tentang Pariwisata Budaya menjadi Perda Provinsi Daerah Tingkat I Bali Nomor 3 Tahun 1991 tentang Pariwisata Budaya. Dalam revisi Perda Pariwisata Bali tersebut tercantum dalam pasal 1 nomor j yang menegaskan pariwisata budaya adalah jenis kepariwisataan yang dalam perkembangannya dan pembangunannya menggunakan kebudayaan daerah Bali yang dijiwai oleh agama Hindu yang merupakan bagian dari kebudayaan nasional sebagai potensi dasar yang dominan yang didalamnya tersirat satu cita-cita akan adanya hubungan timbal balik antara pariwisata dan kebudayaan sehingga keduanya meningkat secara serasi, selaras dan seimbang.

Begitu pula dengan ditetapkannya Undang-Undang RI Nomor 10 tentang Kepariwisataan Tahun 2009 maka Perda Provinsi Daerah Tingkat I Bali Nomor 3 Tahun 1991 diganti menjadi Perda Provinsi

(36)

Pada Pasal 1 nomor urut 14 disebutkan Kepariwisataan Budaya Bali adalah kepariwisataan Bali yang berlandaskan kepada kebudayaan Bali yang dijiwai oleh ajaran agama Hindu dan falsafah Tri Hita Karana sebagai potensi utama dengan menggunakan kepariwisataan sebagai wahana aktualisasinya, sehingga terwujud hubungan timbal-balik yang dinamis antara kepariwisataan dan kebudayaan yang membuat keduanya berkembang secara sinergis, harmonis, dan berkelanjutan untuk dapat memberikan kesejahterahaan kepada masyarakat, kelestarian budaya dan lingkungan.

Pada saat bersamaan Kabupaten Badung mengesahkan Peraturan Daerah Pariwisata yaitu Peraturan Daerah Kabupaten Badung Nomor 2 Tahun 2012 tentang Kepariwisataan. Kata kebudayaan atau budaya tidak tercantum secara eksplisit namun dalam pengejawantahannya esensi kebudayaan tetap ada. Kemungkinan hal ini mencirikan bahwa Badung fokus terhadap pertumbuhan ekonomi. Padahal masih diperlukan pemerataan pembangunan pariwisata antara Badung utara dan Badung selatan, desa adat atau desa pekraman yang masih kuat menjalankan fungsi-nya, hadirnya destinasi yang jauh dari filosofi budaya Bali, semangat masyarakat desa (khususnya di Badung Utara untuk mensinergikan sektor pariwisata dengan sektor pertanian) membentuk desa wisata karena mulai merasakan dampak ekonomi dari pariwisata, sudah mencirikan betapa pembangunan kepariwisataan Badung mulai meninggalkan budaya sebagai leader-nya. Kemungkinan pengesampingan aspek budaya dalam Perda Kabupaten Badung Nomor 2 Tahun 2012 tentang Kepariwisataan karena dianggap aspek budaya seperti desa pekraman dan pariwisata berbasis masyarakat sudah tercakup pada payung hukum di atasnya yaitu Perda Provinsi Bali Nomor 2 Tahun 2012 tentang Kepariwisataan Budaya Bali. Tetapi hal ini jika dilihat secara seksama sangat tidak elegan karena dengan mengesampingkan aspek budaya, artinya pembangunan pariwisata di Kabupaten Badung dapat dengan mudah melakukan apa yang menjadi trend serta mampu menjalin keharmonisan? (Bab III, pasal 5 dalam Perda Kabupaten Badung Nomor 2 Tahun 2012 tentang Kepariwisataan mengatur Tri Hita Karana).

Di sisi lain dari Perda Kabupaten Badung Nomor 2 Tahun 2012 tentang Kepariwisataan menyiratkan bahwa Kabupaten Badung sudah secara jujur dan berani menyampaikan bahwa

(37)

pembangunan pariwisata di wilayah Kabupaten Badung tidak terlalu fokus terhadap kebudayaan. Melainkan kepada pengembangan infrastruktur, membuka peluang investasi seluas-luasnya dan untuk mendapatkan pendapatan setinggi-tingginya dari sektor pariwisata. Kemungkinan hal ini disebabkan oleh fakta-fakta di lapangan bahwa sektor pariwisata berkembang pesat di Badung dengan banyaknya investor menanamkan modalnya (Badung Selatan dan ada indikasi akan bergeser ke Badung Utara).

Definisi hukum tentang pariwisata budaya dengan demikian berdinamika sesuai dengan perubahan-perubahan yang terjadi pada sekup global, nasional dan lokal di Badung. Pada era 1974-1990 pariwisata Badung berkembang dengan pesatnya sehingga lebih melahirkan kebijakan-kebijakan daripada ketentuan hukum yang dimiliki. Begitu pula dari era 1991-2012 telah terjadi banyak perubahan mendasar dalam tatanan kebudayaan dan sektor pariwisata yang ternyata menjadi lokomotif tunggal perekonomian masyarakat Badung. Artinya, kehadiran pariwisata sudah hampir tidak dapat dipisahkan dari pemerintah daerah dan masyarakat Badung. Sejak 30 tahun lalu sudah terjadi kekhawatiran bahwa pariwisata jika tidak diwaspadai akan menimbulkan goncangan budaya dan keterpurukan sosial sebagai imbas dari banyak dampak negatif yang kurang diantisipasi. Paling tidak jika terjadi permasalahan dan ternyata belum di atur atau belum memiliki Peraturan Daerah / Perda, maka akan dibuatkan kebijakan-kebijakan yang bersifat menyesuaikan dengan situasi kondisi. Itu pun apabila memang dipandang sangat urgent. Atau, justru berdasarkan Perda yang dimiliki melahirkan kebijakan-kebijakan baru untuk mendukung penegakan Perda tersebut.

Sekilas Sejarah Badung

Sejarah Kabupaten Badung memiliki kompleksitas yang menantang bagi para sejarawan maupun para pemerhati budaya. Selama ini sejarah Kabupaten Badung sebagian besar menyampaikan deskripsi, temuan dan interpretasi dari era kerajaan Denpasar dan Kesiman sebagai penguasa Badung sampai ke perang Puputan Badung tahun 1906 (fakta sejarah menunjukkan memang dua kerajaan tersebut berjaya dan telah menunjukkan eksistensinya). Padahal sebelum kerajaan Badung tersebut, wilayah Badung Utara

(38)
(39)

PERKEMBANGAN PARIWISATA

DI KABUPATEN BANYUWANGI

K

abupaten Banyuwangi Provinsi Jawa Timur mampu memberikan kejutan bagi Indonesia karena langkah strategisnya dalam pembangunan daerah. Kabupaten yang sebelumnya dikenal pembangunannya “biasa-biasa saja” (dibanding kabupaten-kabupaten lain di Provinsi Jawa Timur) tiba-tiba pertumbuhan ekonominya meningkat signifikan. Dahulu Banyuwangi hanya sebagai daerah transit wisatawan, berbeda dengan saat ini Banyuwangi telah menjadi destinasi wisata. Alih-alih melalui pembangunan sektor pariwisata ternyata telah memberikan bukti bahwa sektor pariwisata berkembang pesat.

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas optimis berkat pariwisata ekonomi Kabupaten Banyuwangi mengalami kemajuan pesat seperti kunjungan wisatawan domestik meningkat dari 497 ribu orang pada tahun 2010 menjadi 4,01 juta pada tahun 2016. Untuk wisatawan mancanegara dari 5205 pada tahun 2010 menjadi 74.800 turis asing pada tahun 2016. Semua itu mendorong peningkatan pendapatan per kapita warga melonjak dua kali lipat dari Rp. 20,8 juta pada tahun 2010 menjadi Rp. 41,5 juta per orang tahun 2016. Kemiskinan turun cukup pesat di level 8 persen jauh lebih rendah dibanding rata-rata Provinsi Jawa Timur yang masih tembus11persen(https://www.republika.co.id/berita/nasional/ daerah/18/02/08/p3t8o4280-bupati-banyuwangi-berbagi-langkah-pengembangan-pariwisata Dikutip dari Antara).

Kebijakan pariwisata merupakan sebuah produk dari proses yang sangat kompleks dan terkait dengan berbagai aspek. Kompleksitas pariwisata disebabkan oleh berbagai perubahan besar pada level lokal, nasional dan internasional. Dalam konteks perubahan besar tersebut lingkungan kebijakan pariwisata menjadi media strategis bagi pemerintah untuk memasarkan potensi wisatanya. Pada kondisi inilah kebijakan pariwisata menjadi strategis dan penting dalam pengembangan pariwisata. Pariwisata adalah

Figur

Gambar 5.1 Turismemorfosis di Badung, Banyuwangi dan  Luwu Timur

Gambar 5.1

Turismemorfosis di Badung, Banyuwangi dan Luwu Timur p.51

Referensi

Related subjects :

Pindai kode QR dengan aplikasi 1PDF
untuk diunduh sekarang

Instal aplikasi 1PDF di