• Tidak ada hasil yang ditemukan

1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

1- 01

1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kapal ikan adalah kapal yang digunakan dalam usaha perikanan yang mencakup penggunaan atau aktifitas menangkap atau mengumpulkan sumberdaya perairan, pengelolaan usaha budidaya perairan dan penggunaan lainnya seperti riset, training dan inspeksi sumberdaya perairan (Nomura dan Yamazaki, 1977).

Bentuk dan jenis kapal ikan berbeda-beda bergantung dari tujuan usaha penangkapan. Setiap jenis alat penangkapan ikan memiliki metode tersendiri dalam pengoperasiannya, sehingga desain dan konstruksi kapalnya cukup bervariasi. Salah satu jenis kapal ikan yang tergolong kedalam kelompok static gear adalah kapal pole and line. Kapal pole and line (Gambar 1.1) memiliki ciri khusus dengan adanya flying deck dan platform sebagai tempat pemancingan, bak umpan hidup dan water sprayer (Kaneda, 1995).

Flying deck dan platform merupakan tempat duduk bagi pemancing dalam melakukan operasi penangkapan. Flying deck adalah dek yang dilebihkan ke luar pada bagian haluan kapal sedangkan platform adalah penonjolan dari bagian dek ke sisi-sisi kapal.

Water sprayer adalah alat penyembur air yang dimaksudkan untuk melindungi pemancing dari penglihatan ikan dan sekaligus mengaburkan penglihatan ikan terhadap mata pancing. Alat ini terletak di bagian haluan kapal.

Bak umpan hidup terletak pada ruang di bawah deck dan dibangun di atas

lunas kapal. Pada dasarnya terdapat beberapa lubang yang dilengkapi saringan

yang terbuat dari jaring agar ikan tidak dapat meloloskan diri. Untuk menjaga

sirkulasi massa air di dalam bak, dipasang belahan bambu secara melintang dari

atas ke dasar bak. Pada kapal pole and line di Sulawesi Selatan, bak umpan hidup

disekat menjadi dua bagian untuk menghindari kerusakan dan mortalitas yang

tinggi dari umpan hidup tersebut.

(2)

1- 02

Gambar 1.1 Profil kapal pole and line

Pada dasarnya ada dua tipe kapal pada perikanan pole and line, yaitu tipe Jepang dan Amerika (Fyson, 1985). Pole and line tipe Jepang biasanya digunakan di Asia dan Pasifik Timur. Karakteristik dari pole and line tipe Jepang berupa tempat pemancingan yang menonjol (platform) mulai dari buritan ke sepanjang sisi kapal sampai bagian haluan. Deck house terletak setelah midship dan bak umpan hidup terletak di bawah deck. General arrangement kapal pole and line tipe Jepang disajikan pada Gambar 1.2.

Kapal pole and line tipe Amerika memiliki ciri berupa superstructure yang terletak di bagian depan dengan tempat pemancingan yang berada di sekitar buritan. General arrangement kapal pole and line tipe Amerika disajikan pada Gambar 1.3.

Keterangan

1. Tempat pemancingan 2. Palkah Ikan

3. Bak umpan hidup

1

2 3

(3)

1- 03

Gambar 1.2 Kapal pole and line tipe Jepang

Gambar 1.3 Kapal pole and line tipe Amerika

Alat tangkap yang digunakan pada pengoperasian kapal pole and line terdiri dari joran, tali pancing dan mata pancing. Joran terbuat dari bambu yang memiliki kelenturan tinggi. Tali pancing terbuat dari bahan kuralon untuk tali kepala, polyethylene untuk tali utama dan monofilament untuk tali pengikat. Jenis mata pancing yang digunakan tidak mempunyai kait balik, untuk memudahkan melepaskan ikan hasil tangkapan ketika pancing disentakkan (Kaneda, 1995).

Sumberdaya yang menjadi tujuan utama usaha penangkapan pole and line adalah ikan cakalang, Katsuwonus pelamis. Penyebaran ikan cakalang dominan terdapat di kawasan timur dibandingkan pada kawasan barat Indonesia, sehingga

Sumber: Fyson (1985)

Sumber: Fyson (1985)

(4)

1- 04

pole and line lebih banyak beroperasi di perairan timur Indonesia seperti Sorong, Bacan, Gorontalo dan Sulawesi Selatan (Monintja, et.al., 2001).

Teknologi penangkapan ikan dengan pole and line di perairan Sulawesi Selatan telah dilakukan sejak dahulu oleh nelayan tradisional. Perikanan pole and line Sulawesi Selatan menyumbangkan lebih dari 50% / tahun (12.869,6 ton) dari total (23.166.3 ton) produksi hasil tangkapan ikan cakalang (Dinas Perikanan dan Kelautan Sulawesi Selatan, 2004).

Keberhasilan usaha penangkapan pole and line sangat ditentukan oleh kelayakan kapal yang digunakan sebagai salah satu faktor terpenting dari komponen unit penangkapan ikan, karena itu perencanaan kapal yang tepat merupakan langkah yang paling penting dalam usaha penangkapan pole and line.

Pembangunan kapal pole and line di Sulawesi Selatan umumnya dilakukan pada galangan kapal rakyat. Proses pembangunan kapal tersebut dilakukan dengan mengandalkan keterampilan pengrajin kapal tanpa kelengkapan dari segi perencanaan, desain dan konstruksi. Produk yang dihasilkan dengan proses pembangunan kapal seperti ini tidak berarti buruk, tetapi memungkinkan terjadinya kekurangcermatan dalam pembangunan kapal karena kesesuaian antara desain kapal dengan peruntukannya dan kondisi perairan tempat kapal beroperasi serta kualitas stabilitas belum diketahui. Hal ini dapat mengakibatkan kurangnya jaminan kenyamanan kerja, keselamatan pengoperasian kapal di laut dan keberhasilan usaha penangkapan.

Pengoperasian kapal di laut hendaknya memperhatikan kriteria keselamatan dan kelaiklautan, mengingat kapal ikan memiliki lingkup area pelayaran yang luas dengan kondisi lingkungan laut yang tidak tetap. Kriteria kelaiklautan dapat dilihat dari kelayakan penggunaan kapal dalam operasi penangkapan ikan yang dapat dipenuhi dengan melakukan proses pembangunan kapal secara sempurna.

Kesempurnaan pembangunan kapal dapat ditunjukkan dengan melihat

tingkah laku kapal pada saat dioperasikan, yaitu harus sanggup mengapung di

permukaan air dengan kestabilan yang baik, dapat bergerak dengan kecepatan

yang bervariasi, olah gerak yang baik serta cukup kuat untuk bertahan terhadap

pengaruh gelombang pada cuaca yang buruk.

(5)

1- 05

Mengingat pentingnya kesempurnaan perencanaan pembangunan kapal ikan dalam menjamin kenyamanan dan keselamatan kerja di atas kapal, maka penelitian ini dilakukan untuk mengkaji stabilitas kapal pole and line di Sulawesi Selatan berdasarkan karakteristik perairan tempat kapal dioperasikan.

1.2 Tujuan dan Kegunaan Penelitian

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui kelayakan desain dan stabilitas kapal pole and line dan kesesuaian desain dan stabilitas kapal berdasarkan karakteristik perairan tempat kapal dioperasikan.

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi mengenai keragaan teknis kapal pole and line di Sulawesi Selatan dan kriteria kelayakan daerah pengoperasian bagi kapal pole and line.

1.3 Tempat dan Waktu Penelitian

Pengamatan tahapan pembangunan dan pengukuran kapal pole and line dilakukan pada 3 (tiga) galangan kapal rakyat di Sulawesi Selatan, yaitu Kabupaten Sinjai, Kotamadya Pare-Pare, dan Kabupaten Luwu. Peta lokasi penelitian disajikan pada Gambar 1.4.

Data yang diperoleh dianalisis pada Laboratorium Kapal Perikanan dan Sistem Navigasi–FPIK Institut Pertanian Bogor. Pengumpulan data dilaksanakan pada Mei - Agustus 2002 dan Januari - April 2003.

1.4 Kerangka Pikir Penelitian

Hasil penelitian Iskandar dan Pujiati (1995) menunjukkan bahwa, pembangunan kapal ikan di galangan kapal rakyat belum melihat kepada fungsi sehubungan dengan alat angkap dan metode operasi penangkapan ikan yang digunakan. Hal ini menyebabkan kekurangefektivan kualitas unjuk kerja kapal di laut.

Seperti umumnya pembangunan kapal ikan di Indonesia, kapal pole and

line di Sulawesi Selatan dibangun di galangan kapal rakyat. Pembangunan kapal

(6)

1- 06

tersebut dilakukan dengan menggunakan cara-cara yang diwariskan dari generasi ke generasi tanpa kelengkapan perencanaan. Hal ini tidak berarti bahwa produk yang dihasilkan buruk tetapi kesesuaian peruntukan dan kelaiklautan belum diketahui. Fyson (1970) menyatakan bahwa kelengkapan dari perencanaan, desain dan konstruksi dalam pembangunan kapal yaitu dengan adanya gambar- gambar rencana garis (lines plan), tabel offset, gambar rencana pengaturan ruang kapal serta instalasinya (general arrangement) dan gambar rencana konstruksi beserta spesifikasinya (construction profile and plan). Untuk memenuhi efektivitas pengoperasian sebaiknya pembangunan kapal memenuhi kelengkapan perencanaan tersebut.

Efektivitas pengoperasian suatu sistem terapung di laut, baik kapal atau bangunan apung lainnya pada dasarnya sangat dipengaruhi oleh kelaiklautan (seaworthiness) dari sistem tersebut yang merupakan indikasi keselamatan di laut dan seakindliness yang mengindikasikan karakteristik respon sistem terapung terhadap kondisi lingkungan laut yang dapat dipertimbangkan dengan kualitas unjuk kerja sistem (seakeeping) (Djatmiko dan Murdiyanto, 1993).

Untuk melihat efektivitas pengoperasian kapal pole and line di Sulawesi Selatan, pada penelitian ini dilakukan pengamatan terhadap karakteristik teknis kapal pole and line yang meliputi ukuran, desain dan teknologi pembangunan kapal pada tiga daerah yaitu, Kotamadya Pare Pare, Kabupaten Sinjai dan Kabupaten Luwu.

Analisis parameter hidrostatik kapal dilakukan untuk memperoleh

gambaran desain kapal pada tiga daerah pembangunan kapal. Pada Bagian 3 dari

tulisan ini, parameter hidrostatik, lines plan dan general arrangement kapal

dipelajari untuk mengetahui desain dan karakteristik teknis kapal pole and line

yang ada di Sulawesi Selatan. Dari karakteristik teknis yang diperoleh dilakukan

analisis pengelompokan (Clifford and Stepenshon, 1975; Ludwig and Reynolds,

1988; Beaux et al., 1992) sehingga diketahui bentuk-bentuk kapal pole and line di

Sulawesi Selatan. Hasil dari analisis pengelompokan ini dikaji lebih lanjut untuk

mengetahui kualitas unjuk kerja kapal di laut.

(7)

1- 07

Gambar 1.4 Peta lokasi penelitian

(8)

1- 08

Kualitas unjuk kerja kapal pole and line di Sulawesi Selatan yang umumnya beroperasi di perairan lepas pantai sangat dipengaruhi oleh faktor dari dalam kapal berupa perubahan distribusi muatan dan faktor dari luar yaitu kondisi lingkungan perairan.

Beban lingkungan laut seperti gelombang banyak mempengaruhi kualitas seakeeping kapal, maka karakteristik perairan khususnya tinggi (Hs) dan periode (T) gelombang pada daerah pengoperasian kapal pole and line dipelajari dan dibahas pada Bagian 3 tulisan ini sebagai salah satu variabel yang diperlukan untuk menganalisis stabilitas kapal.

Kajian selanjutnya dilakukan terhadap kelompok kapal sampel yang terbentuk pada analisis pengelompokan. Pada Bagian 4 tulisan ini, stabilitas statis kapal pole and line dianalisis dengan melihat nilai dan kurva GZ kapal pada empat kondisi pemuatan yaitu kondisi kapal kosong, berangkat ke daerah penangkapan, melakukan operasi penangkapan dan kembali ke fishing base.

Stabilitas dinamis kapal dianalisis untuk mengetahui unjuk kerja kapal pada kondisi perairan tempat kapal dioperasikan. Pada Bagian 5 dari tulisan ini, perhitungan seakeeping kapal dilakukan untuk mengetahui amplitudo dan frekuensi rolling kapal pada gelombang reguler beam seas dengan menggunakan metode dari International Maritime Organization (IMO) (1995) dan Bhattacharya (1978) berdasarkan Teori Strip (Lloyd, 1989).

Dari kajian tersebut dapat diperoleh informasi mengenai kelayakan teknis,

kelaiklautan kapal pole and line di Sulawesi Selatan dan rekomendasi

penyempurnaan desain kapal yang dijelaskan pada Bagian 6 tulisan ini, sehingga

technical performance dan kriteria daerah pengoperasian yang layak bagi kapal

pole and line dapat diketahui melalui kajian ini. Technical performance ini dapat

menjadi dasar dan acuan bagi terciptanya nilai standar teknis bagi pembangunan

kapal pole and line Sulawesi Selatan. Nilai standar teknis bagi pembangunan

kapal pole and line selanjutnya yang diperoleh dari simulasi pada penelitian ini

dapat disempurnakan dan dijustifikasi dengan melakukan pengujian model pada

agenda riset selanjutnya. Pada Bagian 7 akan dipaparkan kesimpulan serta

beberapa pertanyaan riset berdasarkan hasil yang diperoleh dari penelitian ini.

(9)

1- 09

Hubungan antar bagian pada tulisan ini disajikan pada Gambar 1.5 dan diagram alir kerangka pikir penelitian pada Gambar 1.6.

Gambar 1.5 Hubungan antar bagian tulisan dalam disertasi

1.5 Kontribusi Penelitian

Stabilitas kapal adalah kemampuan sebuah kapal untuk kembali ke posisi semula setelah mengalami keolengan, bergantung pada beberapa faktor antara lain dimensi kapal, bentuk badan kapal yang berada di dalam air, distribusi benda- benda di atas kapal dan sudut kemiringan kapal terhadap bidang horizontal.

Disertasi ini telah menghasilkan suatu kajian yang komprehensif tentang stabilitas kapal pole and line di Sulawesi Selatan.

Dalam disertasi ini kajian stabilitas statis dilakukan terhadap empat bentuk badan kapal (hull form), yaitu round sharp bottom, round flat bottom, U-V bottom dan round bottom pada empat kondisi pendistribusian muatan yaitu, kondisi kapal kosong, kapal berangkat, kapal beroperasi dan kapal pulang. Stabilitas statis (initial stability) adalah stabilitas kapal yang diukur pada kondisi air tenang dengan beberapa sudut keolengan pada nilai ton displacement yang berbeda.

Berdasarkan kajian tersebut diketahui bahwa kapal pole and line Sulawesi Selatan memiliki kualitas stabilitas yang baik karena lengan penegak (righting arm) yang terbentuk dapat mengembalikan kapal ke posisi semula setelah terjadi keolengan dan kapal dengan bentuk round sharp memiliki kriteria stabilitas yang lebih tinggi dibandingkan bentuk yang lain.

Kapal Pole and Line Sampel Pendahuluan (1)

Desain (2,3)

Teknologi (2,3)

Technical performance KELAIKLAUTAN kapal pole and line Persepsi (7) Kriteria kelayakan daerah

Rekomendasi (7) pengoperasiam kapal

Kesimpulan (8) Stabilitas Statis (5)

Stabilitas Dinamis (6)

Kondisi Perairan (4)

(10)

1- 010

Gambar 1.6 Diagram alir kerangka pikir penelitian

Karakteristik Fisik Perairan

Karakteristik Kapal : -Ukuran kapal -Desain kapal -Teknologi pembangunan kapal

Panjang Gelombang

Tinggi Gelombang

-Tabel Offset:

-Parameter hidrostatik -Kurva hidrostatik

-Gambar rancangan umum

-Gambar rencana garis

-Spesifikasi kapal -Bentuk kapal

Periode Oleng

Pengelompo kan kapal

Stabilitas Dinamis

-Spesifikasi teknis -Desain kapal

KELAIKLAUTAN

KARAKTERISTIK KAPAL UNTUK SETIAP DAERAH PEMBUAT KAPAL

Stabilitas

Statis

TECHNICAL PERFORMANCE REKONDISI DAN KRITERIA KELAYAKAN

DAERAH PENGOPERASIAN KAPAL POLE AND LINE

STANDARD TEKNIS KAPAL POLE AND LINE

SULAWESI SELATAN

- Kualitas stabilitas kapal belum diketahui - Keselamatan dan

kenyamanan pengoperasian kapal kurang terjamin

U J I M O D E L

(11)

1-8 Kajian stabilitas dinamis kapal dilakukan melalui analisis kurva GZ dan periode oleng kapal. Stabilitas dinamis adalah stabilitas kapal yang diukur dengan jalan memberikan suatu ”usaha” pada kapal sehingga membentuk sudut keolengan tertentu. Dari kajian ini diketahui stabilitas dinamis kapal yang menggambarkan bahwa kapal pole and line di Sulawesi Selatan memiliki stabilitas dinamis yang baik, yang ditunjukkan dengan nilai standar minimum yang disyaratkan oleh International Maritime Organization (IMO) telah tepenuhi, sedangkan nilai periode oleng kapal berada pada kisaran 4.5 – 7.0 dt.

Dinamika kapal di laut secara umum dapat dilihat dari kualitas seakeeping kapal tersebut di atas gelombang laut. Seakeeping merupakan suatu istilah yang mencakup studi tentang keragaan dan reaksi kapal di laut atau suatu istilah yang menyatakan kemampuan kapal untuk tetap menjalankan fungsinya secara normal di laut. Dalam kajian ini dilakukan analisis terhadap kelayakan teknis kapal pada tiga perairan tempat pengoperasian kapal pole and line yaitu, Selat Makassar, Teluk Bone dan Laut Flores dengan membandingkan nilai periode oleng kapal dan periode oleng gelombang sehingga diperoleh kriteria kelayakan daerah pengoperasian bagi kapal pole and line Sulawesi Selatan. Daerah pengoperasian dianggap aman jika periode oleng kapal lebih cepat dibandingkan periode gelombang, dan dianggap berbahaya jika periode oleng kapal lebih lambat dibandingkan periode gelombang. Daerah berbahaya pada perairan Selat Makassar berada pada area dengan ketinggian gelombang >2.0m dan periode

<4.5dt; Teluk Bone pada area dengan tinggi gelombang ≥2.0m dengan periode

<4.5.0dt; sedangkan Laut Flores pada area dengan tinggi gelombang ≥2.0m dengan periode <4.7dt.

Pengembangan terhadap kapal pole and line Sulawesi Selatan dilakukan dengan rekondisi desain. Rekondisi kapal dalam kajian ini dilakukan dengan mengganti fungsi salah satu ruang bak umpan hidup pada kapal menjadi palkah ikan, perbaikan distribusi muatan dengan memindahkan muatan di atas dek ke bagian bawah dek dan menambah sekat pada bak umpan hidup dan palkah ikan.

Dari rekondisi ini diperoleh kualitas stabilitas kapal yang lebih baik, yang

ditunjukkan dengan nilai area di bawah kurva stabilitas yang lebih tinggi dan

periode oleng kapal yang lebih baik

(12)

1-9 REFERENSI

Beaux, M.F., Gouet, H., Gouet, J.P., Morleghem, P., Phillipeau, G., Tranchefort, J and Verneau, M. 1992. STAT-ITCF. Users Manual. Evenue du President Wilson. Paris.

Bhattacharyya, R. 1978. Dynamics of Marine Vehicles. John Wyley & Sons.

New York. Chichester. Brisbane. Toronto.

Clifford, H.T and Stepenshon, W. 1975. An Introduction to Numerical Classification. Academic Press. New York-San Fransisco-London.

Dinas Perikanan dan Kelautan Sulawesi Selatan. 2004. Laporan Statistik Perikanan Sulawesi Selatan. Dinas Perikanan dan Kelautan Sulawesi Selatan. Makassar.

Djatmiko, E.B. dan Murdijanto., 1993. Perilaku Bangunan Apung di Atas Gelombang. Materi Kuliah pada Kursus Singkat Seakeeping dan Hidromekanika 15-16 Juli 1993. F.T Kelautan ITS. Surabaya.

Fyson, J. 1985. Design of Small Fishing Vessels. Fishing News (Books) Ltd.

England.

Hind, J.A. 1982. Stability and Trim of Fishing Vessels and Other Small Ships. Second Edition. Fishing News Books Ltd. Farnham, Surrey, England.

International Maritime Organization. 1995. Code on Intact Stability for All Types of Ships Covered by IMO Instruments ; Resolution A.749(18).

IMO. London.

Iskandar, B.H dan Pujiyati, S. 1995. Keragaan Teknis Kapal Perikanan di Beberapa Wilayah Indonesia. Laporan Proyek Operasi dan Perawatan Fasilitas (OPF)-IPB 1994/1995. Jurusan PSP IPB. Bogor.

Kaneda, Y. 1995. Fisheries and Fishing Methods of Japan. Sezando-Shoten Publishing Co., Ltd. Tokyo.

Lloyd, A.R.J.M. 1989. Seakeeping: Ship Behaviour in Rough Weather. Ellis Horwood Ltd. New York.

Ludwig, J.A and Reynolds, J.F. 1988. Statistical Ecology:A Primer on Methods and Computing. John Wiley & Sons. New York.

Monintja, D.R., Simbolon,D. dan Purwanto, B. 2001. Industri Review

Penangkapan Ikan Cakalang. PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero)

dan Lembaga Manajemen Agribisnis Agroindustri IPB, Bogor.

(13)

1-10 Nomura, M. and Yamazaki, T. 1977. Fishing Techniques 1. Japan International

Cooperation Agency. Tokyo.

Referensi

Dokumen terkait

lapisan permukaan, densitas massa air lebih tinggi dijumpai pada perairan bagian selatan Selat Flores, Selat Lamakera, Selat Alor dan Laut Sawu jika dibandingkan

Perbandingan kandungan bakteri heterotrofik pada kedalaman laut permukaan dan kedalaman 100 meter di perairan Laut Flores, Selat Kabaena, Selat Muna, Selat Buton

58 Untuk ikan baronang lingkis betina di perairan Selat Makassar dan ikan di perairan Laut Flores terdapat 18 karakter yang berbeda yaitu Panjang Dasar Sirip

Jatisworo dan Murdimanto (2013) melakukan penelitian mengenai perbandingan sebaran front Suhu di Selat Makassar dan Laut Banda hanya berdasarkan data SPL dan

Selat Malaka bagian Utara, Perairan Lhokseumawe, Laut Jawa bagian Timur, Perairan Masalembu, Selat Makassar bagian Selatan, Perairan Pulau Rote, Laut Sawu, Perairan KupangLaut

Natuna, Laut Natuna, Teluk Thailand, Laut Andaman, Perairan Aceh, Selat Malaka, Perairan Bengkulu dan pulau Enggano, Perairan Barat Lampung, Selat Sunda bagian Selatan,

Kawasan Reklamasi mencakup kawasan perairan laut Teluk Jakarta yang diukur dari garis Pantai Utara Jakarta secara tegak lurus ke arah laut sampai garis yang menghubungkan

Natuna, Laut Natuna, Teluk Thailand, Laut Andaman, Perairan Aceh, Selat Malaka, Perairan Bengkulu dan pulau Enggano, Perairan Barat Lampung, Selat Sunda bagian Selatan, Perairan