• Tidak ada hasil yang ditemukan

TIDAK DIPERJUALBELIKAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "TIDAK DIPERJUALBELIKAN"

Copied!
106
0
0

Teks penuh

(1)

TIDAK DIPERJUALBELIKAN

(2)

Sanksi Pelanggaran Pasal 113 Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta, sebagaimana yang telah diatur dan diubah dari Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2002, bahwa:

Kutipan Pasal 113

(1) Setiap Orang yang dengan tanpa hak melakukan pelanggaran hak ekonomi seba gai mana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1) huruf i untuk Penggunaan Secara Komersial dipidana dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp100.000.000,- (seratus juta rupiah).

(2) Setiap Orang yang dengan tanpa hak dan/atau tanpa izin Pencipta atau pemegang Hak Cipta melakukan pelanggaran hak ekonomi Pencipta sebagaimana dimaksud da lam Pasal 9 ayat (1) huruf c, huruf d, huruf f, dan/atau huruf h untuk Penggunaan Secara Komersial dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp500.000.000,- (lima ratus juta rupiah).

(3) Setiap Orang yang dengan tanpa hak dan/atau tanpa izin Pencipta atau pemegang Hak Cipta melakukan pelanggaran hak ekonomi Pencipta sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1) huruf a, huruf b, huruf e, dan/atau huruf g untuk Penggunaan Secara Komersial dipidana dengan pidana penjara paling lama 4 (empat) tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp1.000.000.000,- (satu miliar rupiah).

(4) Setiap Orang yang memenuhi unsur sebagaimana dimaksud pada ayat (3) yang dila ku kan dalam bentuk pembajakan, dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp4.000.000.000,- (empat miliar rupiah).

(3)
(4)

EVALUASI PEMBAGIAN JENIS SUBSTANSI HUKUM ATAS IMPLEMENTASI TUGAS DAN FUNGSI MAHKAMAH AGUNG

Edisi Pertama Copyright © 2019

ISBN 978-623-218-383-4

14 x 20.5 cm xiv, 92 hlm. Cetakan ke-1, Oktober 2019

Kencana. 2019.1196

Penulis Dr. Moch. Ridwan, S.H., M.Si.

Tim Peneliti Dr. Ismail Rumadhan, M.H. Tumbur Palti D. Hutapea, S.H., M.H.

Desain Sampul Irfan Fahmi

Tata Letak Lintang Novita & Iam

Penerbit PRENADAMEDIA GROUP

(Divisi Kencana)

Jl. Tambra Raya No. 23 Rawamangun - Jakarta 13220 Telp: (021) 478-64657 Faks: (021) 475-4134

e-mail: [email protected] www.prenadamedia.com

INDONESIA

Dilarang mengutip sebagian atau seluruh isi buku ini dengan cara apa pun, termasuk dengan cara penggunaan mesin fotokopi, tanpa izin sah dari penerbit.

(5)

KATA PENGANTAR

Kepala Badan Litbang Diklat Hukum dan Peradilan

B

adan Litbang Diklat Hukum dan Peradilan Mahkamah

Agung RI merupakan satuan kerja yang lahir setelah diterapkannya peradilan satu atap di Indonesia. Salah satu tugas dan tanggung jawab Balitbang Diklat Kumdil MA RI adalah meningkatkan kualitas sumber daya manusia bagi seluruh aparat peradilan, baik bagi tenaga teknis maupun tenaga nonteknis.

Dalam melaksanakan tugasnya, Badan Litbang Diklat Hukum dan Peradilan didukung oleh empat unit kerja, yaitu: 1) Sekretariat Badan; 2) Pusat Penelitian dan Pengembangan Hukum dan Peradilan; 3) Pusat Pendidikan dan Pelatihan Teknis Peradilan; dan 4) Pusat Pendidikan dan Pelatihan Manajemen dan Kepemimpinan.

Pada tahun 2019 Pusat Penelitian dan Pengembangan Hukum dan Peradilan (Puslitbang) telah melaksanakan berbagai macam kegiatan yang menjadi tugas pokok dan fungsinya. Salah satunya adalah penelitian tentang “Evaluasi Pembagian Jenis Substansi Hukum Terhadap/Atas Implementasi Tugas dan Fungsi Mahkamah Agung.” Penelitian tersebut dilaksanakan di wilayah Jabodetabek dan hasilnya telah disusun dan dibuat dalam bentuk Buku Penelitian.

(6)

vi

EVALUASI PEMBAGIAN JENIS SUBSTANSI HUKUM ...

Untuk itu, kami sampaikan ucapan terima kasih atas partisipasi dan bantuan semua pihak mulai dari pengumpulan bahan-bahan sampai dengan selesainya penelitian dan telah menjadi sebuah buku dengan judul Evaluasi Pembagian Jenis Substansi Hukum Terhadap/Atas Implementasi Tugas dan Fungsi Mahkamah Agung: Penyelesaian Perkara Kosasi.

Semoga, jerih payah kita semua menjadi amal ibadah serta jariah di hadapan Tuhan Yang Mahakuasa, Amin.

Kepala Badan Litbang Diklat Hukum dan Peradilan Dr. Zarof Ricar, S.H., S.Sos., M.Hum.

(7)

KATA PENGANTAR

Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Hukum dan Peradilan Badan Litbang Diklat Kumdil MA-RI

P

uji dan syukur kami panjatkan ke hadirat Allah Swt., atas segala limpahan nikmat dan karunia-Nya, sehingga Pusat Penelitian dan Pengembangan Hukum dan Peradilan melalui DIPA Badan Litbang Diklat Hukum dan Peradilan Mahkamah Agung RI Tahun Anggaran 2019 telah berhasil merealisasikan salah satu tugas pokok dan fungsinya yakni menyelenggarakan kegiatan penelitian dan pengkajian. Pada tahun 2019, Puslitbang menyelenggarakan kegiatan penelitian dan pengkajian sebanyak 13 judul. Salah satu di antaranya, penelitian lapangan berjudul “Evaluasi Pembagian Jenis Substansi Hukum Terhadap/Atas Implementasi Tugas dan Fungsi Mahkamah Agung RI: Penyelesaian Perkara Kosasi”, sebagaimana saat ini hasilnya telah berada di tangan pembaca.

Rangkaian kegiatan penelitian dan pengkajian diawali dengan penyelenggaraan Focus Group Discussion (FGD) untuk mendiskusikan proposal yang disusun oleh peneliti, dengan tujuan mendapatkan masukan dan kritik dari peserta FGD, untuk menyempurnakan judul, metode, pendekatan, tujuan, manfaat, serta pilihan bahan hukum maupun referensi yang akan digunakan dalam penelitian. FGD Proposal berlangsung di Puslitbang Mahkamah Agung RI di Jakarta. FGD dihadiri oleh beberapa hakim tinggi, hakim tinggi yang diperbantukan pada Balitbang Diklat, hakim yustisial, hakim tingkat pertama, fungsional peneliti puslitbang Mahkamah Agung, maupun para peneliti yang berasal dari instansi atau lembaga lain, dan akademisi, serta pihak lain yang terkait.

(8)

viii

EVALUASI PEMBAGIAN JENIS SUBSTANSI HUKUM ...

Setelah dilakukan penyempurnaan terhadap proposal penelitian, selanjutnya koordinator peneliti beserta pembantu peneliti serta staf memulai pelaksanaan kegiatan penelitian. Dimulai dengan melakukan kompilasi-seleksi terhadap bahan-bahan hukum yang dinilai relevan meliputi asas-asas, teori, norma maupun putusan-putusan pengadilan yang selanjutnya dilakukan analisis untuk mengetahui ada-tidaknya korelasi serta relevansi antara satu dengan yang lain. Apakah terdapat kesesuaian ataukah pertentangan antara “das Sollen” dengan “das Sein”, antara “law in abstracto” dengan “law in concreto”-nya. Apakah ratio legis dalam kaidah dan ratio decidendi yang digunakan dalam putusan. Untuk melengkapi analisis, peneliti juga melakukan serangkaian wawancara dengan beberapa narasumber yang dinilai kompeten di bidangnya. Terhadap draf hasil penelitian yang disusun oleh peneliti, dilakukan finalisasi koreksi terhadap draf Hasil Penelitian. Tahap selanjutnya adalah proses pencetakan Buku Hasil Penelitian, pengunggahan (uploading) ke website Badan Litbang Diklat Hukum dan Peradilan Mahkamah Agung RI, serta pengiriman ke Pimpinan Mahkamah Agung, hakim agung, pejabat struktural eselon 1 dan 2, kementerian/lembaga, perguruan tinggi, serta berbagai pihak yang terkait. Mengingat keterbatasan anggaran, tidak semua pihak mendapatkan kiriman Buku Hasil Penelitian. Namun demikian, softcopy Buku Hasil Penelitian dapat diunduh (download) melalui www.bldk.mahkamahagung.go.id c.g Puslitbang Hukum dan Peradilan.

Buku Hasil Penelitian ini disajikan sebagai bentuk pertanggungjawaban Kapuslitbang kepada Pimpinan Mahkamah Agung RI, serta sebagai dokumentasi telah selesainya pelaksanaan kegiatan tersebut. Semoga kiranya dapat memberikan manfaat sebagaimana mestinya.

Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Hukum dan Peradilan Badan Litbang Diklat Kumdil MA-RI

(9)

PRAKATA

ميِحَّرلا ِنَْحَّرلا ِهَّللا ِمْسِب

A

lhamdulillah, segala puji bagi Allah Swt., atas segala

anugrah yang diberikan kepada penulis, sehingga dapat merampungkan hasil penelitian dan menyajikannya dalam bentuk karya tulis ilmiah. Selawat dan salam semoga tetap terlimpahkan kepada Nabi Muhammad saw., Sahabat dan keluarganya yang telah menjadi pilar dalam membangun fondasi tauhid-akhlak dalam segala lini kehidupan, pemikiran, dan peradaban manusia.

Dalam penyelesaian karya tulis ini banyak pihak yang telah membantu, baik langsung maupun tidak langsung, memotivasi dan memperteguh harapan penulis. Oleh karena itu, dalam kesempatan ini penulis mengucapkan banyak terima kasih, terutama kepada:

Kepala Badan Penelitian, Pengembangan, Pendidikan dan Pelatihan Hukum dan Peradilan, Mahkamah Agung RI, Bapak Dr. H. Zarof Ricar, S.H., M.Hum., yang telah memberikan kesempatan untuk melaksanakan penelitian Hukum berjudul Evaluasi Pembagian Jenis Substansi Hukum Terhadap/Atas Implementasi Tugas dan Fungsi Mahkamah Agung (Penyelesaian Perkara Kasasi);

Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Hukum dan Peradilan, Bapak Dr. Hasbi Hasan, M.H., yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk melaksanakan penelitian di Jakarta, Bogor, Depok, Cibinong, Bekasi, dan Karawang;

(10)

x

EVALUASI PEMBAGIAN JENIS SUBSTANSI HUKUM ...

Para narasumber yang hadir dan memberikan pemaparan yang komprehensif sesuai permasalahan penelitian, yakni; Bapak Prof. Dr. Takdir Rahmadi, S.H., L.L.M., Ketua Kamar Pembinaan, Mahkamah Agung dan Bapak Rivai Kusumanegara, wakil Sesjen DPN Peradi Jakarta;

Anggota Tim Penelitian dan Sahabat Peneliti serta Pejabat Struk tural Puslitbang Kumdil MA, yang telah memberikan motivasi, bantuan, dukungan maksimal dalam mencapai target kerja tim;

Keluarga besar Balitbangdiklatkumdil Cq. Pusat Penelitian dan Pengembangan, Badan Penelitian, Pengembangan, Pendidikan dan Pelatihan Hukum dan Peradilan, Mahkamah Agung RI dan semua pihak yang tidak mungkin disebutkan satu persatu, yang telah memberi motivasi moril, materil langsung ataupun tidak langsung kepada penulis. Semoga Allah Swt. memberi balasan yang berlipat-lipat.

Karya tulis sebagai pelaporan hasil kegiatan penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi kalangan Akademisi, Peneliti Hukum, Pegawai Mahkamah Agung dan masyarakat umumnya dan khususnya bagi pimpinan Mahkamah Agung RI sebagai pengambil kebijakan dalam menentukan strategi organisasi yang lebih maju dan modern, sehingga menguatkan dan menjadi bagian dari wacana perubahan organisasi, perubahan pelayanan publik yang lebih credible serta pelaksanaan good governance yang lebih terarah dalam era reformasi birokrasi saat ini.

Penulis menyadari, bahwa karya tulis dari hasil penelitian ini masih perlu tambahan data informasi, serta masukan-masukan berupa gagasan serta penelitian lanjutan dalam pengembangan tugas dan fungsi organisasi yang sangat diperlukan dalam penguatan sumber daya manusia di Mahkamah Agung. Untuk itu, kritik, saran dan komentar sangat kami harapkan. Wallahu’alam bisawab.

Koordinator Tim Penelitian 2019, Moch. Ridwan

(11)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR

Kepala Badan Litbang Diklat Hukum dan

Peradilan v

Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Hukum dan Peradilan Badan Litbang Diklat Kumdil MA-RI vii

PRAKATA ix

DAFTAR ISI xi

DAFTAR GAMBAR & TABEL xiii

BAB 1 PENDAHULUAN 1

A. Mahkamah Agung: Suatu Pengantar 1

B. Deskripsi Riset dalam Perolehan Data 8

BAB 2 TINJAUAN YURIDIS PERKARA KASASI 13

A. Perkara Kasasi 13

B. Penyelesaian Perkara Kasasi dari Segi

Prosedur, Waktu, dan Biaya 17

1. Prosedur Pengajuan Kasasi 17

2. Waktu 25

3. Biaya 32

(12)

xii

EVALUASI PEMBAGIAN JENIS SUBSTANSI HUKUM ...

1. Upaya Pimpinan MA dalam Permasalahan

Penyelesaian Perkara 34

2. Penyelesaian Perkara dalam Publikasi

Media Massa 38

3. Hasil Focus Group Discussion (FGD) 54

BAB 3 KELEMBAGAAN DAN PENDEKATAN SISTEM 57

A. Kelembagaan 57

B. Pengembangan Susunan Struktur Pengadilan

Pusat dan Daerah/Provinsi 60

C. Evaluasi Tugas dan Fungsi dalam Organisasi 67

D. Sistem Hukum 73

E. Elemen Pembentuk Sistem dalam Perkara

Kasasi 75

BAB 4 IKHTISAR ATAS IMPLEMENTASI TUGAS DAN FUNGSI MA DALAM PENYELESAIAN PERKARA

KASASI 77

DAFTAR PUSTAKA 81

INDEKS 87

(13)

DAFTAR GAMBAR & TABEL

GAMBAR

Gambar 1. Arah Modernisasi Manajemen Perkara 7

Gambar 2. Tampilan Direktori Putusan Situs MA 2 Juta Dokumen Putusan se-Indonesia:

putusan.mahkamahagung.go.id 40

Gambar 3. Tiga Persoalan Pengadilan 42

Gambar 4. Tampilan Informasi Perkara Situs MA 52

Gambar 5. Tampilan Pencarian Perkara Situs MA 53

Gambar 6. Tampilan Sistem Informasi Penelusuran

Perkara Situs MA 53

Gambar 7. Tampilan Sistem Informasi Penelusuran

Perkara Pengadilan Tingkat Banding Situs MA 54 Gambar 8. Alur Pengajuan Upaya Hukum di Mahkamah

Agung 63

Gambar 9. Unsur-unsur dalam Suatu Sistem 65

(14)

xiv

EVALUASI PEMBAGIAN JENIS SUBSTANSI HUKUM ...

TABEL

Tabel 1. Daftar Perkara Kasasi, Peninjauan Kembali,

Grasi, Hak Uji Materil di MA 4

Tabel 2. Jadwal Kegiatan Tim Penelitian 9

Tabel 3. Instrumen Penelitian 10

Tabel 4. Jangka Waktu Penanganan Perkara

pada Mahkamah Agung RI 25

Tabel 5. Jangka Waktu Penyelesaian Kasasi 31

(15)

1

PENDAHULUAN

A. MAHKAMAH AGUNG: SUATU PENGANTAR

Setelah Republik Indonesia diproklamasikan oleh Bung Karno dan Bung Hatta, kemudian lahirlah Undang-Undang Dasar 1945 (tanggal 18 Agustus 1945). Setelah kemerdekaan tersebut sampai saat ini telah lahir pula tiga buah undang-undang (UU) yang mengatur kekuasaan kehakiman, yaitu UU Nomor 19 Tahun 1948, UU Nomor 19 Tahun 1964, dan UU Nomor 14 Tahun 1970 sebagaimana diubah dengan UU No.35 Tahun 1999 dan UU Kekuasaan Kehakiman Nomor 48 Tahun 2009. Semua UU perubahan tersebut dirancang untuk memenuhi perintah Pasal 24 dan 25 UUD 1945.

Sebelum berlakunya UU Nomor 19 Tahun 1948, peraturan-peraturan, dan badan-badan atau institusi yang berkaitan dengan kekuasaan kehakiman berlaku peraturan-peraturan dan badan-badan sebelum kemerdekaan (masa Jepang dan Belanda). Hal tersebut didasarkan pada ketentuan Pasal II Aturan Peralihan UUD 1945 yang pada intinya mengatakan bahwa segala badan negara dan peraturan yang ada masih terus berlaku selama belum diadakan yang baru menurut Undang-Undang Dasar.

Mahkamah Agung merupakan pelaksana kekuasaan kehakiman di Indonesia sebagaimana dimaksud dalam UUD 1945 Pasal 24

(16)

2

EVALUASI PEMBAGIAN JENIS SUBSTANSI HUKUM ...

ayat (2) dan Pasal 24A ayat (1) dan Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman serta Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1985 tentang Mahkamah Agung sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2004 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1985 tentang Mahkamah Agung dan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2009 tentang Perubahan Kedua atas UU Nomor 14 Tahun 1985 tentang Mahkamah Agung (UU MA).

Pasal 24A (1) Mahkamah Agung berwenang mengadili pada tingkat kasasi, menguji peraturan perundangan di bawah undang-undang terhadap undang-undang-undang-undang, dan mempunyai wewenang lainnya yang diberikan oleh undang-undang.1

Pasal 20 (1) Mahkamah Agung merupakan pengadilan negara tertinggi dari badan peradilan yang berada di dalam keempat lingkungan peradilan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18. (2) Mahkamah Agung berwenang: a. mengadili pada tingkat kasasi terhadap putusan yang diberikan pada tingkat terakhir oleh pengadilan di semua lingkungan peradilan yang berada di bawah Mahkamah Agung, kecuali undang-undang menentukan lain; b. menguji peraturan perundang-undangan di bawah undang-undang terhadap undang-undang; dan c. kewenangan lainnya yang diberikan undang-undang.2

Terdapat pengecualian dalam pengajuan permohonan kasasi, ada perkara-perkara tertentu yang tidak dapat diajukan permohonan kasasi, perkara tersebut adalah putusan praperadilan; perkara pidana yang diancam dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun dan/atau diancam pidana denda perkara tata usaha negara yang objek gugatannya berupa keputusan pejabat daerah yang jangkauan keputusannya berlaku di wilayah daerah yang bersangkutan. Mahkamah Agung berwenang juga melakukan pengawasan tertinggi terhadap penyelenggaraan peradilan di semua lingkungan peradilan yang berada di bawahnya dalam

1 Perubahan Ketiga Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. 2 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 48 Tahun 2009 Tentang Kekuasaan

Kehakiman, tanggal 29 Oktober 2009, Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 157.

(17)

3

BAB 1 PENDAHULUAN

menjalankan kekuasaan kehakiman; melakukan pengawasan organisasi, administrasi badan peradilan yang ada di bawahnya; meminta keterangan tentang hal-hal yang berkaitan dengan teknis peradilan dari semua badan yang berada di bawahnya; memberi petunjuk, teguran, atau peringatan kepada pengadilan di semua badan yang berada di bawahnya; memberikan pertimbangan hukum kepada presiden dalam permohonan grasi dan rehabilitasi; dapat memberi keterangan, pertimbangan, dan nasihat masalah hukum kepada lembaga negara dan lembaga pemerintahan.

Berdasarkan Undang-Undang Kekuasaan Kehakiman Nomor 48 Tahun 2009 dalam melaksanakan kekuasaan kehakiman, Mahkamah Agung merupakan pengadilan tertinggi dari semua lingkungan pengadilan. Segala urusan organisasi, administrasi, dan finansial Mahkamah Agung dan badan peradilan yang berada di bawahnya berada di bawah kekuasaan Mahkamah Agung. Kewenangan dan kemandirian finansial tersebut sudah seharusnya memperoleh perhatian dengan prioritas utama, mengingat MA berperan sebagai lembaga yudikatif yang maju dan modern senantiasa diharapkan oleh warga negara dan masyarakat umumnya, karena secara langsung atau tidak akan berpengaruh besar pada pertumbuhan ekonomi dan peradaban masyarakat di tengah-tengah kehidupan globalisasi seperti saat ini.

Undang-Undang Kekuasaan Kehakiman mengamanahkan juga bahwa peradilan dilaksanakan dengan sederhana, cepat, dan biaya ringan sehingga merupakan asas mendasar dalam pelaksanaan dan pelayanan administrasi peradilan yang mengarah pada prinsip kerja yang efektif dan efisien. Maka program pembaruan pengadilan pada sektor manajemen dan administrasi harus mendukung percepatan penyelesaian perkara dan pengurangan tunggakan perkara guna mencapai asas sederhana, cepat, dan biaya ringan.

Peran sebagai pengadilan tertinggi dari semua pengadilan yang ada tersebut, maka pimpinan Mahkamah Agung membuat suatu kebijakan mengenai penerapan sistem kamar di Mahkamah Agung yang dilaksanakan sejak 19 September 2011, berdasarkan Surat Keputusan Ketua Mahkamah Agung Nomor: 142/KMA/SK/

(18)

4

EVALUASI PEMBAGIAN JENIS SUBSTANSI HUKUM ...

IX/2011 tentang Pedoman Penerapan Sistem Kamar di Mahkamah Agung yang sudah harus berjalan penuh dan efektif pada April 2014. Penerapan pembagian substansi hukum tersebut telah beberapa kali dilakukan perubahan dengan banyak pertimbangan, sehubungan dengan banyak permasalahan yang harus diselesaikan menyangkut pemberlakuan kebijakan tersebut.

Kebijakan penerapan sistem kamar di Mahkamah Agung bertujuan untuk: menjaga kesatuan penerapan hukum dan konsistensi putusan MA; meningkatkan profesionalitas Hakim Agung; mempercepat proses penyelesaian perkara.

Searah dengan waktu setelah penerapan kebijakan tersebut, maka data yang diperoleh telah terjadi perubahan yang menggembirakan atau sesuai dengan tujuan percepatan proses penyelesaian perkara, seperti yang terlihat dalam Tabel 1, berisi daftar perkara kasasi, peninjauan kembali, grasi, dan hak uji materil di MA sejak tahun 2004 sampai 2017 yang cenderung terus meningkat dalam penyelesaian perkaranya dengan semakin turunnya sisa perkara yang belum selesai ditangani setiap tahunnya. Hal ini tidak bisa dikesampingkan begitu saja karena cepatnya perkara diselesaikan merupakan prestasi tersendiri bagi MA dalam memanajemen perkaranya yang sangat tinggi setiap tahunnya. Adapun data tahun 2018, belum diperoleh jumlahnya.

TABEL 1. DAFTAR PERKARA KASASI, PENINJAUAN KEMBALI, GRASI,

HAK UJI MATERIL DI MA3

Tahun Sisa Tahun

Sebelumnya Perkara Masuk PerkaraBeban Perkara Putus PerkaraSisa

2004[2] 20.825 5.730 26.555 6.241 20.314

2005[2] 20.314 7.468 27.782 11.807 15.975

2006[2] 15.975 7.825 23.800 11.775 12.025

2007[2] 12.025 9.516 21.541 10.714 10.827

2008[2] 10.827 11.338 22.165 13.885 8.280

3 “Ensiklopedia bebas”, ‘Wikipedia’, 2019, https://id.wikipedia.org/wiki/diakses Senin,

(19)

5

BAB 1 PENDAHULUAN

Tahun Sisa Tahun

Sebelumnya Perkara Masuk PerkaraBeban Perkara Putus PerkaraSisa

2009[2] 8.280 12.540 20.820 11.985 8.835 2010[2] 8.835 13.480 22.315 13.891 8.424 2011[2] 8.424 12.990 21.414 13.719 7.695 2012[2] 7.695 13.412 21.107 10.995 10.112 2013[2] 10.112 12.337 22.449 16.034 6.415 2014[2] 6.415 12.511 18.926 14.501 4.425 2015[2] 4.425 13.977 18.402 14.452 3.950 2016[9] 3.950 14.630 18.580 16.223 2.357 2017[10] 2.357 15.505 17.862 16.474 1.388

Namun pada dua tujuan lainnya sebagai konsekuensi penerapan sistem kamar tentunya masih menyisakan banyak pertanyaan dan permasalahan yang harus terus-menerus dicarikan jalan keluarnya.

Penyelesaian perkara yang harus ditangani Mahkamah Agung sesuai Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2009 tentang Perubahan Kedua atas UU Nomor 14 Tahun 1985 tentang Mahkamah Agung (UU MA) seperti yang telah diuraikan di atas, termasuk perkara kasasi merupakan hal penting untuk dilakukan evaluasi dalam pelaksanaannya sebagai bagian dari penerapan sistem kamar yang diberlakukan selama ini.

Seirama dengan arus perkembangan zaman dengan dicanangkannya reformasi birokrasi dalam dasawarsa terakhir, pihak institusi telah menyusun cetak biru pembaruan peradilan dengan membenahi, merancang, dan menyusun suatu agenda penyempurnaan dalam mengolah perkara hukum yang harus ditangani setiap harinya dan membuat laporan rutin setiap triwulan, semester, dan tahunan.

Pada dokumen Cetak Biru Pembaruan Peradilan 2010-2035, Mahkamah Agung, diuraikan mengenai agenda penyempurnaan manajemen perkara yang dibagi menjadi tiga bagian besar, yakni: modernisasi manajemen perkara; Penataan ulang organisasi manajemen perkara; dan penataan ulang proses manajemen perkara.

(20)

6

EVALUASI PEMBAGIAN JENIS SUBSTANSI HUKUM ...

Pada tahap kedua, modernisasi manajemen peradilan diarahkan pada pembenahan manajemen peradilan untuk keperluan internal dengan menyempurnakan Buku II dan Buku III Pengadilan sehingga berorientasi pada pelayanan dan memanfaatkan teknologi dan informasi. Hasil akhir yang diharapkan dari proses tersebut ditujukan agar dapat menciptakan efisiensi proses, misalnya, mengurangi beban proses minutasi, berita acara persidangan, supervisi, serta peluang untuk menyatukan proses yang tersebar pada lebih dari satu orang ke satu orang, dan lain sebagainya.4

Sesuai dengan fokus yang dikaji dalam buku ini, maka tahap dua tersebut menjadi hal yang menarik untuk dibahas karena apabila menyangkut kepentingan internal yang dikupas akan menjadi pro dan kontra pendapat. Pro pendapat apabila sudah memahami, menyadari kekurangan organisasi dan berharap supaya lebih kuat dan maju ke depan, serta mampu beradaptasi dengan zaman karena organisasi bukanlah milik pribadi atau golongan, sedangkan yang kontra pendapat adalah berpikir sebaliknya.

Penyempurnaan organisasi kepaniteraan perlu dilakukan dengan pendekatan structure follow function. Proses ini harus mampu menyelesaikan masalah yang timbul dari pemisahan unit pengelolaan perkara dari kepaniteraan, sehingga alur penanganan perkara hanya ditangani oleh satu satuan kerja Desain Kepaniteraan pada Pengadilan Tingkat Pertama dan Banding perlu dikaji kembali untuk menentukan desain organisasi yang paling efektif dan efisien dengan mempertimbangkan aspek efektivitas dan implementasi teknologi dan informasi.5

Dengan demikian, bagan struktur pengadilan saat ini dibatasi dengan struktur kepaniteraan dan kesekretariatan padahal dalam organisasi pengadilan tersebut terdapat unsur kehakiman dan kejurusitaan yang harus tersurat dalam suatu susunan strukturnya. Dalam cetak biru pembaruan di MA sudah diarahkan pada adanya keharusan mengubah susunan organisasi dan tata kerja pengadilan pada semua tingkatan pengadilan yang berada di lingkungan MA,

4 Cetak Biru Pembaruan Peradilan 2010-2035, Mahkamah Agung RI 2010, diterbitkan

oleh Mahkaman Agung RI, hlm. 36.

(21)

7

BAB 1 PENDAHULUAN

yakni Pengadilan Negeri, Pengadilan Agama, Pengadilan Militer dan Pengadilan Tata Usaha Negara, Pengadilan Tinggi Negeri, Pengadilan Tinggi Agama, Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara, dan Pengadilan Tinggi Militer, serta Pengadilan Terakhir (Tingkat MA) menyesuaikan kebutuhannya dengan structure follow function yang akan dijelaskan pada Bab III buku ini. Perubahan tersebut tentunya akan mempunyai pengaruh pada pengadilan pajak, arbitrase, dan pengadilan lain yang tugas fungsinya memeriksa, mengadili, memutus, dan mengeksekusi perkara hukum.

Gambar 1. Arah Modernisasi Manajemen Perkara6

Penguatan organisasi pada fungsi kepaniteraan di berbagai tingkatan pengadilan pada tingkat wilayah/daerah dan pusat merupakan hal mutlak yang harus disempurnakan karena pengelolaan administrasi perkara memerlukan suatu keahlian dan keterampilan khusus yang harus dikuasai oleh Panitera. Kuat dan lemahnya fungsi kepaniteraan ini akan berdampak sangat besar

(22)

8

EVALUASI PEMBAGIAN JENIS SUBSTANSI HUKUM ...

pada peran dan fungsi kehakiman yang dipegang oleh hakim yang senantiasa terus-menerus dituntut profesional dalam menjalankan tugas dan fungsi kehakiman.

Berdasarkan uraian di atas, buku ini lebih berfokus pada sudut pandang proses penyelesaian perkara secara struktural di Mahkamah Agung dan pelaksanaan pembagian kamar sesuai dengan substansi hukum serta peran struktur organisasi yang mempunyai pengaruh besar dalam pencapaian tugas, fungsi organisasi serta visi, misi Mahkamah Agung sebagai lembaga penyelenggara negara (lembaga pemerintah non-kementerian) yang berperan sebagai lembaga yudikatif.

Dengan demikian, penyempurnaan dan penguatan fungsi kepaniteraan dalam mengelola administrasi perkara pada tingkat kasasi merupakan upaya yang harus selalu dijalankan dengan mencari formulasi yang tepat, sehingga organisasi menjadi lebih fleksibel dalam menentukan arah kebijakannya, menuju peradilan yang maju dan modern. Agar materinya menjadi lebih fokus dan spesifik, pembahasan dibatasi dengan persoalan tentang bagaimana penyelesaian perkara kasasi di Mahkamah Agung RI.

Melalui kajian ini diharapkan dapat mewujudkan tujuan yang hendak dicapai, yakni untuk mengetahui dan menganalisis penyelesaian perkara kasasi di Mahkamah Agung RI. Selain itu, kajian ini juga diharapkan bermanfaat sebagai bahan masukan dalam proses penyelesaian dan pengelolaan perkara kasasi lebih sesuai dengan prinsip: sederhana, cepat, dan biaya ringan. Sementara di ranah akademis, kajian ini diharapkan dapat meningkatkan dan mengembangkan pengetahuan ilmu hukum serta sebagai referensi bahan penelitian/pengkajian hukum.

B. DESKRIPSI RISET DALAM PEROLEHAN DATA

Pada bagian awal buku ini memuat: kata pengantar Kepala Puslitbang, Kepala Balitbangdiklat, prakata penulis, daftar isi, daftar gambar, daftar tabel, sementara bagian akhir terdiri atas daftar pustaka, daftar lampiran. Keseluruhan isi buku ini terdiri

(23)

9

BAB 1 PENDAHULUAN

atas 4 bab.

Bab I Pendahuluan, berisi latar belakang penelitian, permasalahan atau perumusan masalah, tujuan, manfaat, sistematika penulisan, lokasi pengambilan data dan informasi, jadwal, penganggaran dan metode penelitian.

Bab II Memaparkan mengenai tinjauan yuridis perkara kasasi, terdiri atas pengertian perkara kasasi dan penyelesaian perkara kasasi dari segi prosedur, waktu, dan biaya dan perkembangan penyelesaian perkara kasasi ditinjau dari kebijakan pimpinan MA, publikasi oleh media massa dan hasil Focus Group Discussion (FGD).

Bab III Pembahasan mengenai kelembagaan dan pendekatan sistem, yang menguraikan mengenai kelembagaan, pengembangan susunan struktur pengadilan pusat dan daerah/provinsi, sistem hukum dan elemen pembentuk sistem dalam perkara kasasi.

Bab IV Berisi kesimpulan dan saran/rekomendasi dalam menerapkan dan mengembangkan kewenangan dalam manajemen perkara dan restrukturisasi perubahan pembagian substansi hukum dalam suatu organisasi lembaga yudikatif.

Sementara proses pengambilan data dan informasi dilaksanakan di lingkungan Mahkamah Agung, yakni Pengadilan Tinggi, Pengadilan Tinggi Agama, Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara, Pengadilan Tinggi Militer, Pengadilan Negeri, Pengadilan Agama, Pengadilan Militer yang berada di Provinsi DKI Jakarta dan Jawa Barat (Bogor, Depok, Cibinong, Bekasi, Karawang). Pelaksanaan kegiatan penelitian dilakukan sebagaimana yang tertera pada tabel berikut.

TABEL 2. JADWAL KEGIATAN TIM PENELITIAN

No. Jenis Kegiatan

1. Tahap Pertama: Persiapan a. Pembahasan/diskusi proposal b. Pengumpulan bahan kepustakaan 2. Tahap Kedua: Pelaksanaan

a. Pengumpulan/pemilahan data dan informasi b. Diskusi/rapat tim penelitian

(24)

10

EVALUASI PEMBAGIAN JENIS SUBSTANSI HUKUM ...

No. Jenis Kegiatan

c. Pengolahan data dan Penyusunan laporan 3. Tahap Ketiga: Pelaporan

a. Diskusi/rapat tim penelitian b. Penyempurnaan hasil penelitian c. Pencetakan/Penyampaian hasil penelitian

Adapun biaya penelitian ini dibebankan pada Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) tahun 2019, anggaran Badan Penelitian, Pengembangan, Pendidikan, Pelatihan Hukum dan Peradilan, Mahkamah Agung.

Penelitian yang dilaksanakan di lingkungan Mahkamah Agung pada unit Eselon I dan Pengadilan di DKI Jakarta dan Jawa Barat ini berlangsung pada bulan Agustus 2019. Peneliti mengangkat permasalahan proses penyelesaian perkara kasasi yang ditangani dan dikelola oleh Mahkamah Agung, dengan judul penelitian; “Evaluasi Pembagian Substansi Hukum Terhadap Implementasi Tugas dan Fungsi Mahkamah Agung RI”, dengan memfokuskan pada penyelesaian Perkara Kasasi.

TABEL 3. INSTRUMEN PENELITIAN

Variabel Indikator Teori

Perkara Kasasi 1. Kelembagaan (Struktur, fungsi) organisasi 2. Mekanisme (SOP: Biaya, waktu

penyelesaian, alur jalannya permohonan)

Untuk memperoleh data yang tepat, peneliti terlebih dahulu melaksanakan penelusuran dokumentasi yang berkaitan dengan perkara kasasi pada situs internet dan perpustakaan, penelusuran ini menempati posisi yang sangat penting dalam penelitian. Setelah tahapan tersebut dilaksanakan, selanjutnya melakukan riset lapangan dengan mengunjungi beberapa institusi yang berhubungan langsung dengan penyelesaian perkara kasasi, yakni Biro Umum Sekretariat MA, Kepaniteraan MA dan Pengadilan

(25)

11

BAB 1 PENDAHULUAN

Tingkat pertama sebagai instansi pengaju dan Pengadilan Tingkat Banding di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Bekasi, Cibinong, dan Karawang.

Metode penelitian yang digunakan berupa metode kualitatif yang tidak membutuhkan populasi dan sampel,7 dengan kombinasi

pendekatan antara tipe yuridis normatif dan tipe yuridis empiris. Penelitian ini bersifat preskriptif analitis, mengungkapkan peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan pandangan teoretis yang menjadi objek penelitian. Penelitian ini merupakan penelitian evaluatif,8 yang berhubungan dengan keputusan administratif

terhadap aplikasi hasil penelitian.

Sumber data primer penelitian ini berupa pengumpulan data dengan observasi, wawancara dengan Ketua Pengadilan, Panitera dan Hakim Pengawas, serta melaksanakan Focus Group Discussion, yang berkaitan dengan permasalahan penelitian ini. Observasi juga dilaksanakan pada beberapa perpustakaan dan beberapa situs internet internal MA dan eksternal yang berhubungan dengan permasalahan penelitian.

Sumber data sekunder penelitian ini diperoleh dari dokumen resmi, laporan tahunan institusi, kertas kerja institusi, laporan hasil penelitian yang berkaitan dengan perkara kasasi serta buku-buku yang membahas manajemen, organisasi, hukum, dan teori kebijakan publik.

7 Zainuddin Ali, Metode Penelitian Hukum, Ed. 1, Cet. ke-4, Jakarta, Sinar Grafika,

2013, hlm. 105-106.

8 Moh. Nazir, Metode Penelitian, Ghalia Indonesia, Cet. Ketujuh, Oktober 2011, Warung

(26)
(27)

2

TINJAUAN YURIDIS PERKARA KASASI

A. PERKARA KASASI

Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman menyebutkan peradilan dilaksanakan dengan sederhana, cepat dan biaya ringan (Pasal 2 ayat 4). Hal tersebut merupakan asas mendasar dalam pelaksanaan dan pelayanan administrasi peradilan yang mengarah pada prinsip kerja yang efektif dan efisien. Asas tersebut harus diterapkan melalui program pembaruan peradilan, terutama sektor manajemen dan administrasi peradilan. Memperbarui, memotong jalur prosedur pada instansi pengaju di daerah dan instansi penerima di pusat, merupakan penerapan asas sederhana dan percepatan penyelesaian perkara dari batas waktu maksimal yang ditentukan dan pengurangan tunggakan perkara merupakan penerapan asas cepat, memperpendek rantai birokrasi dan penggunaan teknologi informasi dalam proses pengajuan perkara merupakan penerapan asas biaya ringan.

Kasasi merupakan bagian dari suatu upaya hukum biasa oleh para pencari keadilan. Upaya hukum ini dapat diminta dan ditempuh oleh satu atau dua pihak yang beperkara, atas terjadinya suatu putusan pengadilan tinggi. Perkara tersebut dapat berjenis pidana, perdata, tata usaha negara, agama, dan militer. Para pihak dapat mengajukan kasasi bila merasa tidak puas dengan isi putusan pengadilan tinggi kepada Mahkamah Agung.

(28)

14

EVALUASI PEMBAGIAN JENIS SUBSTANSI HUKUM ...

Membatalkan putusan pengadilan dari tingkat pengadilan terakhir––dalam hal ini Pengadilan Tinggi––ketika satu pihak merasa ada putusan Hakim yang bertentangan dengan hukum, maka upaya tersebut harus ditempuh dengan upaya kasasi kecuali putusan dalam perkara pidana yang mengandung pembebasan terdakwa dari segala tuduhan.

Kasasi dalam perkara pidana diajukan oleh jaksa penuntut umum (JPU) dan pihak terdakwa. Bagi penuntut umum upaya hukum kasasi tidak hanya sekadar permasalahan penerapan hukum saja yang menjadi dasar pertimbangan pengajuannya, tetapi terdapat masalah penilaian kinerja seorang JPU yang tidak baik apabila sebuah perkara tidak diajukan hingga ke kasasi. Alasan tersebut mengakibatkan banyaknya pengajuan kasasi yang dilakukan oleh JPU ke Mahkamah Agung, meskipun sebagian besar ditolak. Bagi JPU, pengajuan upaya hukum kasasi merupakan pelaksanaan dari kebijakan penuntutan yang telah ditentukan oleh pimpinan Kejaksaan. Undang-undang secara tegas melarang kasasi atas putusan bebas, tetapi dalam praktik sering kali diajukan oleh JPU. Pada saat ini, mengajukan kasasi terhadap putusan bebas telah disahkan oleh Mahkamah Konstitusi, sehingga pembatasan terhadap putusan bebas menjadi tidak berlaku. Kasasi umumnya diajukan oleh JPU yang menangani perkara sejak tingkat pertama, kecuali terdapat penunjukan baru dari pimpinan Kejaksaan.

Kasasi perkara pidana maupun perdata yang diajukan oleh para pihak yang diwakili oleh advokat umumnya memiliki permasalahan yang sama dengan JPU. JPU yang tidak mengajukan kasasi umumnya akan mendapatkan penilaian kinerja yang tidak baik karena dinilai tidak maksimal dalam menjalankan tugas penuntutannya. Kondisi ini tidak berbeda jauh dengan advokat. Mahkamah Agung tidak memberikan kualifikasi khusus bagi advokat yang akan beperkara pada tingkat kasasi. Hal ini berimbas pada jumlah pengajuan perkara kasasi yang banyak setiap tahun. Keti adaan kualifikasi khusus bagi advokat mengakibatkan banyaknya permohonan kasasi yang cenderung dianggap sebagai peradilan tingkat ketiga, yang artinya kasasi dipahami sebagai pengadilan fakta (judex factie).9

Pihak yang bersangkutan dapat mengajukan kasasi bila merasa tidak puas dengan isi putusan pengadilan tinggi kepada

9 Kertas Kebijakan Pengurangan Arus Perkara ke Mahkamah Agung Tim Penulis; Arsil,

(29)

15

BAB 2 TINJAUAN YURIDIS PERKARA KASASI

Mahkamah Agung. Sama seperti banding, kasasi juga memilki tenggang waktu 14 hari sejak tanggal putusan itu dikeluarkan dan diajukan kepada Mahkamah Agung melalui pengadilan tingkat pertama yang memutuskan perkara tersebut.

kasasi/ka·sa·si/ n Huk pembatalan atau pernyataan tidak sah oleh Mahkamah Agung terhadap putusan hakim karena putusan itu menyalahi atau tidak sesuai dengan undang-undang: kekuasaan hak––hanyalah hak kekuasaan Mahkamah Agung.10

Kasasi merupakan pembatalan suatu putusan oleh hakim agung pada pengadilan yang dilakukan di tingkat pengadilan terakhir dalam hal ini disebut dengan Mahkamah Agung, dan menetapkan suatu perbuatan pengadilan lain dan para hakim yang bertentangan dengan hukum, kecuali putusan pengadilan dalam perkara pidana yang memutuskan pembebasan terdakwa dari segala tuduhan.

Hal ini sebagaimana ditentukan dalam Pasal 16 UU No. 1 Tahun 1950 jp. Pasal 244 UU No. 8 Tahun 1981 dan UU No. 14 Tahun 1985 Jo. UU No. 55 Tahun 2004 mengenai Perubahan atas Undang-Undang No. 14 Tahun 1985 tentang Mahkamah Agung. Pemahaman kasasi ada yang menyebutnya sebagai naik banding ketimbang banding, ketika tidak puas dengan vonis pengadilan tingkat pertama, sehingga dapat mengajukan upaya banding ke pengadilan tinggi. Ketidakpuasan dengan vonis dari pengadilan tinggi dapat mengajukan upaya hukum kasasi ke Mahkamah Agung. Mahkamah Agung yang saat ini merupakan institusi terakhir untuk memperoleh keadilan juga sebagai institusi induk dari semua pengadilan di Indonesia.

Tirta Amidjaja menyatakan bahwa kasasi diadakan dengan maksud memajukan hukum, penafsiran hukum hakim yang berbeda-beda tidak akan bermanfaat untuk kesatuan hukum. Kasasi tidak diadakan untuk pihak yang beperkara, tetapi untuk kepentingan kesatuan hukum, oleh karena itu kasasi hanya memeriksa apakah hakim tingkat bawah telah menerapkan hukum dengan tepat dalam perkara tersebut, sedangkan

(30)

16

EVALUASI PEMBAGIAN JENIS SUBSTANSI HUKUM ...

mengenai fakta hakim kasasi harus menerima bahwa hal itu benar terjadi seperti fakta yang dikemukakan di pengadilan tingkat bawah.11

Fungsi Pengadilan Kasasi yang dilakukan oleh Mahkamah Agung diatur dalam Pasal 20 Undang-Undang Pokok Kekuasaan Kehakiman No. 48 Tahun 2009, yaitu “Terhadap putusan-putusan yang diberikan tingkat terakhir oleh pengadilan-pengadilan lain dari Mahkamah Agung, kasasi dapat diminta kepada Mahkamah Agung.

Adapun fungsi-fungsi kasasi adalah sebagai berikut: a. Mengoreksi Kesalahan Peradilan Bawahan. Fungsi utama dalam peradilan kasasi, mengoreksi ataupun memperbaiki kesalahan yang terdapat dalam peradilan bawahan; b. Berfungsi dalam Menghindari Kesewenangan. Fungsi kasasi yang lain, yakni menghindari dalam terjadinya kesewenangan (arbitary) terhadap anggota masyarakat yang timbul terhadap suatu putusan pengadilan bawahan; c. Menyelesaikan Kontroversi ke Arah Standar Prinsip Keadilan Umum (General Justice Principle) yang Objektif dan juga Uniformitas. Suatu putusan pengadilan tidak hanya semata-mata memiliki sifat imparsial yang terbebas dari cacat sebelah.12 Mengukur sejauh mana sistem kamar sudah berjalan, membandingkan dan melihat apakah Hakim Agung dalam putusannya konsisten dalam penerapan kaidah hukum (contohnya: untuk masalah yang sama, meskipun para pihaknya yang berbeda. Jangan sampai untuk perkara yang jenisnya sama, masing-masing majelis Hakim berbeda-beda dalam penerapan kaidah hukum. Hal ini dimaksudkan agar menjamin kepastian dan konsistensi hukum untuk pencari keadilan. Dapat juga dilihat berdasarkan klasifikasi perkara.13

Konsistensi putusan banyak dipengaruhi oleh berbagai faktor, di antaranya mengenai kaidah hukum yang diterapkan menyangkut dasar-dasar filosofis, sosiologis, dan yuridisnya ataupun klasifikasi perkara dengan berbagai pertimbangan identifikasinya. Hal lain

11 Mr. M.H. Tirta Amidjaja, Kedudukan Hakim dan Djaksa dan Atjara Pemeriksaan

Perkara-Perkara Pidana dan Perdata, (Djakarta: Fasco, 1953), hlm. 108-109.

12 “Pengertian kasasi, alasan, proses dan fungsi”, ártikelsiana’, 2017, http://artikelsiana.

com/diakses 1 Maret 2019.

13 Hasil diskusi Tim Analisis Kebutuhan Penelitian Puslitbang Kumdil MA dengan Ketua

(31)

17

BAB 2 TINJAUAN YURIDIS PERKARA KASASI

yang mempunyai peran penting dalam penyelesaian perkara adalah struktur organisasi yang harus cenderung mampu mengantisipasi kuantitas dan kualitas perkara yang harus diselesaikan, di antaranya pelimpahan dan pembentukan kewenangan yang dapat mewakili manajemen perkara pada tingkat provinsi/regional untuk perkara-perkara yang dapat diselesaikan pada tingkat daerah, sehingga tidak menumpuk ke pusat (MA di Jakarta). Hal ini perlu pembahasan yang lebih mendalam dan komprehensif menyangkut regulasi dan pelaksanaannya karena berhubungan dengan peraturan perundangan yang memberi kewenangan kepada hakim agung untuk penyelesaian perkara kasasi ini. Namun, pertimbangan yang perlu diperhatikan juga adalah peraturan internal berupa Peraturan MA yang dicari dan digali untuk mengatasi solusi kewenangan dan kemampuan organisasi dalam menghadapi masa yang akan datang dengan penguatan dan pengembangan kewenangan upaya hukum masyarakat yang lebih sederhana, cepat, dan biaya ringan dapat dilaksanakan maksimal.

B. PENYELESAIAN PERKARA KASASI DARI SEGI

PROSEDUR, WAKTU, DAN BIAYA

1. Prosedur Pengajuan Kasasi

Untuk mengajukan upaya hukum kasasi telah ditentukan secara umum ketentuannya, alasan pengajuan kasasi, prosedur pengajuan permohonan kasasi, pencabutan permohonan kasasi, sistem pemeriksaan kasasi, seperti yang dipaparkan di bawah ini, menurut Pasal 43–Pasal 55 Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1985 tentang Mahkamah Agung RI, antara lain:

a. Umum:

Permohonan kasasi dapat diajukan hanya jika

pemohon terhadap perkaranya telah menggunakan upaya hukum banding, kecuali ditentukan lain oleh undang-undang; Permohonan kasasi dapat diajukan hanya 1 (satu) kali; Permohonan kasasi dapat diajukan oleh: pihak yang beperkara atau wakilnya yang secara khusus dikuasakan untuk itu dalam perkara perdata

(32)

18

EVALUASI PEMBAGIAN JENIS SUBSTANSI HUKUM ...

atau perkara tata usaha negara yang diperiksa dan diputus oleh Pengadilan Tingkat Banding atau Tingkat Terakhir di Lingkungan Peradilan Umum, Lingkungan Peradilan Agama, dan Lingkungan Peradilan Tata Usaha Negara; Terdakwa atau wakilnya yang secara khusus dikuasakan untuk itu atau Penuntut Umum atau Oditur dalam perkara pidana yang diperiksa dan diputus oleh Pengadilan Tingkat Banding atau Tingkat Terakhir di Lingkungan Peradilan Umum dan Lingkungan Peradilan Militer. Permohonan kasasi demi kepentingan hukum dapat diajukan oleh Jaksa Agung karena jabatannya dalam perkara perdata atau tata usaha negara yang diperiksa dan diputus oleh Pengadilan Tingkat Pertama atau Pengadilan Tingkat Banding di Lingkungan Peradilan Umum, Peradilan Agama dan Peradilan Tata Usaha Negara; Putusan kasasi demi kepentingan hukum tidak boleh merugikan pihak yang beperkara.

b. Alasan Kasasi:

Mahkamah Agung dalam tingkat kasasi

membatalkan putusan atau penetapan pengadilan-pengadilan dari semua Lingkungan Peradilan karena: tidak berwenang atau melampaui batas wewenang; salah menerapkan atau melanggar hukum yang berlaku; lalai memenuhi syarat-syarat yang diwajibkan oleh peraturan perundang-undangan yang mengancam kelalaian itu dengan batalnya putusan yang bersangkutan.

c. Prosedur Pengajuan Permohonan Kasasi:

Permohonan

kasasi dalam perkara perdata disampaikan secara tertulis atau lisan melalui Panitera Pengadilan Tingkat Pertama yang telah memutus perkaranya, dalam tenggang waktu 14 (empat belas) hari sesudah putusan atau penetapan Pengadilan yang dimaksudkan diberitahukan kepada pemohon; Apabila tenggang waktu 14 (empat belas) hari tersebut telah lewat tanpa ada permohonan kasasi yang diajukan oleh pihak beperkara, maka pihak yang beperkara dianggap telah menerima putusan; Setelah pemohon membayar biaya perkara, Panitera mencatat permohonan kasasi dalam buku daftar dan pada hari itu juga membuat akta permohonan kasasi yang dilampirkan pada berkas perkara; Selambat-lambatnya dalam

(33)

19

BAB 2 TINJAUAN YURIDIS PERKARA KASASI

waktu 7 (tujuh) hari setelah permohonan kasasi terdaftar, Panitera Pengadilan dalam Tingkat Pertama yang memutus perkara tersebut memberitahukan secara tertulis mengenai permohonan itu kepada pihak lawan. Dalam pengajuan permohonan kasasi pemohon wajib menyampaikan pula memori kasasi yang memuat alasan-alasannya, dalam tenggang waktu 14 (empat belas) hari setelah permohonan yang dimaksud dicatat dalam buku daftar; Panitera Pengadilan yang memutus perkara dalam tingkat pertama memberikan tanda terima atas penerimaan memori kasasi dan menyampaikan salinan memori kasasi tersebut kepada pihak lawan dalam perkara yang dimaksud dalam waktu selambat-lambatnya 30 (tiga puluh) hari. Pihak lawan berhak mengajukan surat jawaban terhadap memori kasasi kepada Panitera dalam tenggang waktu 14 (empat belas) hari sejak tanggal diterimanya salinan memori kasasi. Setelah menerima memori kasasi dan jawaban terhadap memori kasasi, Panitera Pengadilan yang memutus perkara dalam tingkat pertama, mengirimkan permohonan kasasi, memori kasasi, jawaban atas memori kasasi, beserta berkas perkaranya kepada Mahkamah Agung dalam waktu selambat-lambatnya 30 (tiga puluh) hari. Panitera Mahkamah Agung mencatat permohonan kasasi tersebut dalam buku daftar dengan membubuhkan nomor urut menurut tanggal penerimaannya, membuat catatan singkat tentang isinya, dan melaporkan semua itu kepada Ketua Mahkamah Agung.

d. Pencabutan Permohonan Kasasi:

Sebelum permohonan

kasasi diputus oleh Mahkamah Agung, maka permohonan tersebut dapat dicabut kembali oleh pemohon. Apabila telah dicabut, pemohon tidak dapat lagi mengajukan permohonan kasasi dalam perkara itu meskipun tenggang waktu kasasi belum lampau; apabila pencabutan kembali sebagaimana dimaksudkan ayat (1) dilakukan sebelum berkas perkaranya dikirimkan kepada Mahkamah Agung, maka berkas perkara itu tidak diteruskan kepada Mahkamah Agung.

e. Sistem Pemeriksaan Kasasi:

Pemeriksaan kasasi dilakukan oleh Mahkamah Agung berdasarkan surat-surat dan hanya jika

(34)

20

EVALUASI PEMBAGIAN JENIS SUBSTANSI HUKUM ...

dipandang perlu Mahkamah Agung mendengar sendiri para pihak atau para saksi, atau memerintahkan Pengadilan Tingkat Pertama atau Pengadilan Tingkat Banding yang memutus perkara tersebut mendengar para pihak atau para saksi; Apabila Mahkamah Agung membatalkan putusan Pengadilan dan mengadili sendiri perkara tersebut, maka dipakai hukum pembuktian yang berlaku bagi Pengadilan Tingkat Pertama. Dalam hal Mahkamah Agung mengabulkan permohonan kasasi berdasarkan Pasal 30 huruf a, maka Mahkamah Agung menyerahkan perkara tersebut kepada pengadilan lain yang berwenang memeriksa dan memutusnya; Dalam hal Mahkamah Agung mengabulkan permohonan kasasi berdasarkan Pasal 30 huruf b dan huruf c (salah menerapkan atau melanggar hukum yang berlaku dan/atau lalai memenuhi syarat-syarat yang diwajibkan oleh peraturan perundang-undangan yang mengancam kelalaian itu dengan batalnya putusan yang bersangkutan), maka Mahkamah Agung memutus sendiri perkara yang dimohonkan kasasi itu. Dalam mengambil putusan, Mahkamah Agung tidak terikat pada alasan-alasan yang diajukan oleh pemohon kasasi dan dapat memakai alasan-alasan hukum lain. Salinan putusan dikirimkan kepada Ketua Pengadilan Tingkat Pertama yang memutus perkara tersebut. Putusan Mahkamah Agung oleh Pengadilan Tingkat Pertama diberitahukan kepada kedua belah pihak selambat-lambatnya 30 (tiga puluh) hari setelah putusan dan berkas perkara diterima oleh Pengadilan Tingkat Pertama tersebut.14

Prosedur permohonan kasasi pada pengadilan negeri terdiri dari beberapa tahapan, antara lain:

1. Permohonan kasasi disampaikan oleh pihak yang berhak, baik secara tertulis atau lisan, kepada Panitera Pengadilan Negeri yang memutus perkara tersebut dengan melunasi biaya kasasi. 2. Pengadilan Negeri akan mencatat permohonan kasasi dalam

buku daftar dan hari itu juga membuat akta permohonan

14 “Prosedur beperkara/prosedur kasasi”, ‘kepaniteraan Mahkamah Agung’, 2019,

(35)

21

BAB 2 TINJAUAN YURIDIS PERKARA KASASI

kasasi yang dilampirkan pada berkas (Pasal 46 ayat (3) UU No. 14/1985).

3. Paling lambat 7 hari setelah permohonan kasasi didaftarkan panitera Pengadilan Negeri memberitahukan secara tertulis kepada pihak lawan (Pasal 46 ayat (4) UU No. 14/1985). 4. Dalam tenggang waktu 14 hari setelah permohonan kasasi

dicatat dalam buku daftar pemohon kasasi wajib membuat memori kasasi yang berisi alasan-alasan permohonan kasasi (Pasal 47 ayat (1) UU No. 14/1985).

5. Panitera Pengadilan Negeri menyampaikan salinan memori kasasi pada lawan paling lambat 30 hari (Pasal 47 ayat (2) UU No. 14/1985).

6. Pihak lawan berhak mengajukan kontra memori kasasi dalam tenggang waktu 14 hari sejak tanggal diterimanya salinan memori kasasi (Pasal 47 ayat (3) UU No. 14/1985).

7. Setelah menerima memori dan kontra memori kasasi dalam jangka waktu 30 hari Panitera Pengadilan Negeri harus mengirimkan semua berkas kepada Mahkamah Agung (Pasal 48 ayat (1) UU No. 14/1985).

Pada tahun 2014, dikeluarkan kebijakan yang berhubungan dengan penyempurnaan sistem kamar oleh Ketua Mahkamah Agung RI dengan menerbitkan Keputusan Nomor: 213/KMA/SK/XII/2014 tanggal 30 Desember 2014 tentang Pedoman Penerapan Sistem Kamar pada Mahkamah Agung RI. Keputusan ini mencabut dan menyatakan tidak berlaku pedoman penerapan sistem kamar yang diatur dalam beberapa keputusan yaitu: SK KMA Nomor: 142/ KMA/SK/IX/2011tanggal 19 September 2011, SK KMA Nomor: 017/KMA/SK/II/2012 tanggal 3 Februari 2012 dan SK KMA Nomor: 112/KMA/SK/VII/2013 tanggal 10 Juli 2013.

Pedoman penerapan sistem kamar yang diatur dalam SK KMA Nomor: 213/KMA/SK/XII/2014 tanggal 30 Desember 2014 lebih komprehensif pengaturannya dibandingkan tiga peraturan sebelumnya. Lahirnya SK tersebut juga mengakhiri perbedaan penafsiran terhadap beberapa aturan sistem kamar.

(36)

22

EVALUASI PEMBAGIAN JENIS SUBSTANSI HUKUM ...

Hal baru yang diatur dalam SK KMA Nomor: 213/KMA/SK/ XII/2014 tanggal 30 Desember 2014 adalah sebagai berikut: a. Ketentuan penanganan perkara kasasi dan peninjauan kembali

dari mulai proses penerimaan berkas di Mahkamah Agung RI sampai dengan dikirimnya berkas ke pengadilan pengaju; b. Ketentuan penanganan perkara uji materiil, sengketa

kewenangan mengadili, permohonan fatwa, dan permohonan grasi;

c. Monitoring kepatuhan dan pelaporan;

d. Pemanfaatan teknologi dan sistem informasi.

Dari sisi substansi tata laksana sistem kamar, SK tersebut juga memuat beberapa penyempurnaan, antara lain:

a. Salah satu kriteria perkara yang dibahas dalam rapat pleno kamar adalah perkara permohonan peninjauan kembali (PK) yang akan membatalkan putusan tingkat kasasi dan/ atau putusan yang telah berkekuatan hukum tetap, di mana terdapat perbedaan pendapat di antara anggota majelis hakim yang memeriksa perkara tersebut.

b. Kesepakatan Rapat Pleno Kamar yang membahas substansi suatu perkara tidak mengikat majelis hakim dalam memutus perkara. Apabila tetap terdapat perbedaan pendapat setelah Rapat Pleno Kamar, maka perkara diputus dengan mencantumkan dissenting opinion.

c. Rumusan hukum hasil Rapat Pleno Kamar yang telah disahkan oleh Ketua Mahkamah Agung RI sedapat-dapatnya ditaati Majelis Hakim.15

Upaya hukum kasasi perkara tata usaha negara, permohonannya terdiri atas beberapa langkah, antara lain:

a. Mengajukan permohonan kasasi secara tertulis atau lisan melalui Pengadilan Tata Usaha Negara yang memutus perkara dalam tenggang waktu 14 (empat belas) hari sesudah

15 “Peraturan”, ‘Kepaniteraan Mahkamah Agung’, 2019, https://kepaniteraan.

(37)

23

BAB 2 TINJAUAN YURIDIS PERKARA KASASI

penetapan/putusan Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara diberitahukan kepada Pemohon (Pasal 46 ayat (1) UU No. 14 Tahun 1985 yang telah diubah dengan UU No. 5 Tahun 2004).

b. Membayar biaya perkara kasasi (Pasal 46 ayat (3) UU No. 14 Tahun 1985 yang telah diubah dengan UU No. 5 Tahun 2004).

c. Panitera pengadilan tingkat pertama atau panitera pengadilan tingkat banding memberitahukan secara tertulis kepada pihak lawan, selambat-lambatnya 7 (tujuh) hari setelah permohonan kasasi terdaftar.

d. Pemohon kasasi wajib menyampaikan memori kasasi dalam tenggang waktu 14 (empat belas) hari setelah permohonannya didaftar (Pasal 47 ayat (1) UU No. 14 Tahun 1985 yang telah diubah dengan UU No. 5 Tahun 2004).

e. Panitera pengadilan tingkat pertama memberitahukan dan menyampaikan salinan memori kasasi kepada pihak lawan dalam waktu selambat-lambatnya 30 (tiga puluh) hari sejak diterimanya memori kasasi (Pasal 47 ayat (2) UU No. 14 Tahun 1985 yang telah diubah dengan UU No. 5 Tahun 2004). f. Pihak lawan dapat mengajukan surat jawaban terhadap

memori kasasi kepada Mahkamah Agung selambat-lambatnya dalam tenggang waktu 14 (empat belas) hari sejak tanggal diterimanya salinan memori kasasi (Pasal 47 ayat (3) UU No. 14 Tahun 1985 yang telah diubah dengan UU No. 5 Tahun 2004).

g. Panitera pengadilan tingkat pertama mengirimkan berkas kasasi kepada Mahkamah Agung selambat-lambatnya dalam tenggang waktu 30 (tiga puluh) hari sejak diterimanya memori kasasi dan jawaban memori kasasi (Psl. 48 UU No. 14 Tahun 1985 yang telah diubah dengan UU No. 5 Thn 2004).16

(38)

24

EVALUASI PEMBAGIAN JENIS SUBSTANSI HUKUM ...

Adapun prosedur kasasi yang berhubungan dengan perkara agama, tahapan permohonannya terdiri atas:

a. Mengajukan permohonan kasasi secara tertulis atau lisan melalui Pengadilan Agama/Mahkamah Syari’ah yang memutus perkara dalam tenggang waktu 14 (empat belas) hari sesudah penetapan/putusan Pengadilan Tinggi Agama/Mahkamah Syari’ah Provinsi diberitahukan kepada Pemohon (Pasal 46 ayat (1) Undang-Undang No. 14 Tahun 1985 yang telah diubah dengan Undang-Undang No. 5 Tahun 2004).

b. Membayar biaya kasasi (Pasal 46 ayat (3) Undang-Undang No. 14 Tahun 1985 yang telah diubah dengan Undang-Undang No. 5 Tahun 2004).

c. Panitera pengadilan tingkat pertama memberitahukan secara tertulis kepada pihak lawan, selambat-lambatnya 7 hari setelah permohonan kasasi terdaftar.

d. Pemohon kasasi wajib menyampaikan memori kasasi dalam tenggang waktu 14 (empat belas) hari setelah permohonannya didaftar (Pasal 47 ayat (1) Undang-Undang No. 14 Tahun 1985 yang telah diubah dengan Undang-Undang No. 5 Tahun 2004).

e. Panitera pengadilan tingkat pertama memberitahukan dan menyampaikan salinan memori kasasi kepada pihak lawan dalam waktu selambat-lambatnya 30 (tiga puluh) hari sejak diterimanya memori kasasi (Pasal 47 ayat (2) Undang-Undang No. 14 Tahun 1985 yang telah diubah dengan Undang-Undang No. 5 Tahun 2004).

f. Pihak lawan dapat mengajukan surat jawaban terhadap memori kasasi kepada Mahkamah Agung selambat-lambatnya dalam tenggang waktu 14 (empat belas) hari sejak tanggal diterimanya salinan memori kasasi (Pasal 47 ayat (3) Undang-Undang No. 14 Tahun 1985 yang telah diubah dengan Undang-Undang No. 5 Tahun 2004).

(39)

25

BAB 2 TINJAUAN YURIDIS PERKARA KASASI

g. Panitera pengadilan tingkat pertama mengirimkan berkas kasasi kepada Mahkamah Agung selambat-lambatnya dalam tenggang waktu 30 (tiga puluh) hari sejak diterimanya memori kasasi (Pasal 48 Undang-Undang No. 14 Tahun 1985 yang telah diubah dengan Undang-Undang No. 5 Tahun 2004). h. Panitera Mahkamah Agung mengirimkan salinan putusan

kepada Pengadilan Agama/Mahkamah Syari’ah untuk selanjutnya disampaikan kepada para pihak.

Setelah putusan disampaikan kepada para pihak maka panitera: Untuk perkara cerai talak: 1) Memberitahukan tentang penetapan hari sidang penyaksian ikrar talak dengan memanggil kedua belah pihak. 2) Memberikan Akta Cerai sebagai surat bukti cerai selambat-lambatnya dalam waktu 7 (tujuh) hari; Untuk perkara cerai gugat: Memberikan Akta Cerai sebagai surat bukti cerai selambat-lambatnya dalam waktu 7 (tujuh) hari.

2. Waktu

TABEL 4. JANGKA WAKTU PENANGANAN PERKARA

PADA MAHKAMAH AGUNG RI17

No. Tahapan Proses Penanggung Jawab/Unit

Kerja Pelaksana Jangka Waktu (Maksimal) Kegiatan Operasional

1. Penerimaan Berkas Perkara. 1.1. Menerima, mengagendakan dan memilah berkas perkara yang masuk. Unit kerja penerima surat/berkas perkara (Biro Umum).

5 hari (untuk perkara umum).

1 hari (untuk perkara yang secara khusus diatur dalam UU, misalnya: perkara perdata khusus, perdata agama, tata usaha negara/ pajak). 1.2. Input data pada sistem

informasi.

1.3. Distribusi berkas perkara kepada Unit Kerja Penelaah Berkas.

2. Penelaahan Berkas Perkara.

17 Keputusan Ketua Mahkamah Agung RI tentang Jangka Waktu Penanganan Perkara

(40)

26

EVALUASI PEMBAGIAN JENIS SUBSTANSI HUKUM ...

No. Tahapan Proses Penanggung Jawab/Unit

Kerja Pelaksana Jangka Waktu (Maksimal) Kegiatan Operasional

2.1. Meneliti kelengkapan dan kesesuaian berkas perkara (termasuk dokumen elektroniknya).

14 hari (untuk perkara umum).

1 hari (untuk perkara khusus yang ditentukan UU).

3 hari (untuk perkara pidana umum, pidana khusus, pidana militer yang terdakwa ditahan). 2.2. Menelaah syarat formal

perkara dan membuat catatan penelaahan. 2.3. Input data pada sistem

informasi. Distribusi berkas perkara kepada Kepaniteraan Muda perkara.

2.4. Meminta kelengkapan berkas perkara kepada Pengadilan pengaju terhadap berkas perkara yang dinyatakan tidak lengkap.

1 hari

(sejak diketahui berkas tidak lengkap).

3. Registrasi Berkas Perkara. 3.1. Memberi nomor register

perkara. Kepaniteraan Muda perkara. 13 hari (untuk perkara umum). 1 hari (untuk perkara khusus yang ditentukan UU atau perkara menarik perhatian publik). 3.2. Input data pada sistem

informasi.

3.3. Input data pada buku register.

3.4. Menyiapkan lembar pendapat.

3.5. Memorandum kepada Ketua MA untuk penentuan distribusi perkara.

4. Penetapan Kamar, Penetapan Majelis Hakim dan Distribusi Berkas Perkara. 4.1. Menetapkan Kamar yang

mengadili perkara, dan Disposisi kepada Ketua Kamar.

Ketua Mahkamah Agung.

2 hari.

4.2. Menetapkan Majelis Hakim

yang mengadili perkara. Ketua Kamar. 2 hari (untuk perkara umum). 1 hari (untuk perkara khusus yang ditentukan UU atau perkara menarik perhatian publik).

(41)

27

BAB 2 TINJAUAN YURIDIS PERKARA KASASI

No. Tahapan Proses Penanggung Jawab/Unit

Kerja Pelaksana Jangka Waktu (Maksimal) Kegiatan Operasional

4.3. Penyampaian Surat Penetapan Majelis, dokumen elektronik Bundel B serta lembar pendapat (adviesblad) kepada Majelis. Berkas perkara Bundel A dan B disampaikan kepada Ketua Majelis untuk disimpan.

Kepaniteraan Muda.

3 hari (untuk perkara umum).

1 hari (untuk perkara khusus yang ditentukan UU atau perkara menarik perhatian publik). 4.4. Input data dan informasi

perkara pada sistem informasi.

4.5. Perubahan penetapan Majelis

Hakim (jika ada). Ketua Kamar. 1 hari. 5. Penetapan Hari Musyawarah

5.1. Menetapkan hari musyawarah dan ucapan (maksimal 90 hari sejak Ketua Majelis menerima penetapan, kecuali ditentukan lain).

Ketua Majelis. 3 hari (untuk perkara umum).

5.2. Input data informasi jadwal

sidang pada sistem informasi. Asisten Ketua Majelis. 3 hari (perkara umum, perkara khusus yang ditentukan UU atau perkara menarik perhatian publik). 1 hari (untuk perkara khusus yang ditentukan UU atau perkara menarik perhatian publik). 5.3. Distribusi Surat Penetapan

Hari Musyawarah kepada anggota Majelis Hakim dan Panitera Pengganti.

Asisten Ketua Majelis.

6. Pembacaan Berkas Perkara. 6.1. Penyusunan konsep putusan;

Input data pada template putusan berdasarkan dokumen elektronik yang tersedia.

Dapat dimulai sejak dokumen elektronik diterima, khususnya bagi perkara khusus, sehingga konsep putusan sudah tersedia ketika hari musyawarah ucapan.

Hakim Agung P1 dibantu Panitera Pengganti dan operator.

Selama masa pembacaan berkas.

(42)

28

EVALUASI PEMBAGIAN JENIS SUBSTANSI HUKUM ...

No. Tahapan Proses Penanggung Jawab/Unit

Kerja Pelaksana Jangka Waktu (Maksimal) Kegiatan Operasional

6.2. Mengidentifikasi berkas perkara untuk melihat kemungkinan konflik kepentingan sesuai diatur dalam UU, dan Menyatakan menolak untuk memeriksa berkas perkara dan mengembalikan berkas ke Ketua Kamar (melalui Ketua Majelis).

Majelis Hakim dan Panitera Pengganti.

7 hari (untuk perkara umum).

1 hari (untuk perkara khusus yang ditentukan UU atau perkara menarik perhatian publik).

6.3. Membaca dan memeriksa berkas perkara.

Memberikan pendapat dalam lembar pendapat (adviesblad).

Majelis Hakim. 90 hari (untuk perkara umum) 9 hari (untuk perkara khusus yang ditentukan UU) 60 hari (untuk perkara menarik perhatian publik) Sesuai sisa masa tahanan untuk perkara pidana yang terdakwa ditahan. 7. Musyawarah dan Ucapan.

7.1. Menyampaikan rol sidang dari Asisten Ketua Majelis kepada anggota Majelis Hakim dan PP.

Asisten Ketua

Majelis. H-7 sebelum hari sidang musyawarah dan ucapan.

7.2. Persidangan musyawarah dan ucapan. Anggota Majelis Hakim membawa lembar pendapat (adviesblad).

Majelis Hakim dan PP. 1 hari.

7.3. Penandatanganan rol hasil

sidang. Asisten Ketua Majelis. 1 hari (maksimal 24 jam setelah hari muscap). 7.4. Penyampaian rol sidang

kepada Asisten Ketua Kamar. Asisten Ketua Majelis. 7.5. Publikasi informasi perkara

(one day publish). Panitera Muda Kamar. 7.6. Penyampaian rol hasil sidang

ke Panitera Muda dengan tembusan ke Kepaniteraan MA.

Panitera Muda

Kamar. 3 hari (untuk perkara umum). 1 hari (untuk perkara khusus yang ditentukan UU).

(43)

29

BAB 2 TINJAUAN YURIDIS PERKARA KASASI

No. Tahapan Proses Penanggung Jawab/Unit

Kerja Pelaksana Jangka Waktu (Maksimal) Kegiatan Operasional

8.1. Melengkapi konsep putusan berdasarkan hasil musyawarah ucapan dengan menambahkan pertimbangan hukum dan amar.

Panitera Pengganti dibantu operator.

9 hari (untuk perkara umum).

1 hari (untuk perkara khusus yang ditentukan UU atau perkara menarik perhatian publik). 8.2. Koreksi oleh Panitera

Pengganti

- Memastikan kesesuaian format putusan dengan templat putusan. - Memastikan kesesuaian

data dalam konsep putusan dengan data pada berkas perkara (misal: nomor putusan, identitas, dll).

- Memastikan tidak ada kesalahan pengetikan (typo / text fault).

Panitera

Pengganti. 30 hari (untuk perkara umum). 3 hari (untuk perkara khusus yang ditentukan UU atau perkara menarik perhatian publik).

8.3. Koreksi oleh Hakim Agung P1 - Memastikan kebenaran

data yang dapat mengakibatkan batalnya putusan.

- Memastikan kelengkapan pertimbangan hukum dan amar putusan.

Hakim Agung P1.

20 hari (untuk perkara umum).

2 hari (untuk perkara khusus yang ditentukan UU atau perkara menarik perhatian publik). 8.4. Koreksi oleh Ketua Majelis

Memastikan kelengkapan pertimbangan hukum dan amar putusan.

Ketua Majelis. 20 hari (untuk perkara umum).

2 hari (untuk perkara khusus yang ditentukan UU atau perkara menarik perhatian publik). 8.5. Penandatanganan dokumen

putusan. Majelis Hakim dan Panitera Pengganti.

7 hari (untuk perkara umum).

1 hari (untuk perkara khusus yang ditentukan UU atau perkara menarik perhatian publik). 8.6. Pembuatan salinan putusan.

(44)

30

EVALUASI PEMBAGIAN JENIS SUBSTANSI HUKUM ...

No. Tahapan Proses Penanggung Jawab/Unit

Kerja Pelaksana Jangka Waktu (Maksimal) Kegiatan Operasional

8.7. Pemeriksaan final atas kesesuaian dokumen putusan dengan salinan putusan dan dokumen elektronik putusan.

Panitera

Pengganti. 9 hari (untuk perkara umum). 1 hari (untuk perkara khusus yang ditentukan UU atau perkara menarik perhatian publik). 8.8. Ekspedisi putusan dan salinan

putusan kepada Asisten Ketua Kamar.

8.9. Unggah dokumen elektronik putusan pada Direktori

Putusan. Panitera Muda Kamar. 3 hari (untuk perkara umum). 1 hari (untuk perkara khusus yang ditentukan UU atau perkara menarik perhatian publik). 8.10. Ekspedisi berkas perkara,

putusan dan salinan putusan kepada Panitera Muda perkara.

9. Pengiriman Berkas dan Salinan Putusan. 9.1. Pemeriksaan akhir dan

otentifikasi salinan putusan. Kepaniteraan

Muda. 14 hari (untuk perkara umum). 1 hari (untuk perkara khusus yang ditentukan UU, atau perkara menarik perhatian publik).

9.2. Pengiriman salinan putusan dan berkas Bundel A ke Pengadilan Pengaju.

9.3. Pengiriman dokumen putusan asli dan berkas Bundel B ke unit kerja pengarsipan.

Dari jumlah hitungan hari kerja yang harus diselesaikan dalam proses kasasi menurut Keputusan Ketua MA tersebut, secara garis besar terbagi dalam dua kategori, yakni perkara umum dan perkara khusus. Untuk perkara umum ditentukan bahwa proses yang harus ditempuh dalam penyelesaian tersebut adalah 244 hari kerja, sedangkan perkara khusus adalah 33 hari kerja. Masih memerlukan suatu pertimbangan yang cermat dalam penghitungan penyelesaian perkara tersebut untuk disesuaikan dengan peraturan perundangan, implementasi pelaksanaan maupun prinsip-prinsip pelayanan publik, serta prinsip peradilan yang sederhana, cepat, dan biaya ringan.

(45)

31

BAB 2 TINJAUAN YURIDIS PERKARA KASASI

TABEL 5. JANGKA WAKTU PENYELESAIAN KASASI

Undang-Undang Mahkamah Agung RI Nomor 14 Tahun 1985

Keputusan Ketua Mahkamah Agung RI, Jangka Waktu Penanganan Perkara di Mahkamah Agung, Nomor: 214/KMA/SK/XII/2014, tanggal 31 Desember 2014

95 hari, batas waktu maksimal pada instansi pengaju.

244 hari (perkara umum), 33 hari (perkara khusus) batas waktu maksimal di MA; 78 hari (perdata) batas waktu maksimal di instansi pengaju; 87 hari (pidana) batas waktu maksimal di instansi pengaju.

Penyelesaian perkara kasasi apabila berpatokan pada peraturan yang mengaturnya harus selesai dalam jangka waktu setahun, dengan menggunakan ukuran hari dan jam kerja. Hal tersebut dengan sendirinya akan selesai lebih dari setahun kalender karena di samping hal-hal teknis substansi juga hal yang menyangkut administrasi kekurangan kelengkapan dan jangka waktu pemberitahuan dan melengkapi berkas yang menyita waktu dan biaya juga. Dengan demikian, di samping masalah proses, mekanisme yang sudah dilaksanakan secara terus-menerus selama ini perlu dipertimbangkan solusi masalah kelembagaannya yang mempunyai pengaruh besar dalam menangani perkara kasasi tersebut.

Sebagai bahan perbandingan dari segi pengaturannya dalam penyelesaian perkara kasasi khususnya masalah kepailitan, yakni dalam sidang pemeriksaan atas permohonan kasasi dilakukan paling lambat 20 hari setelah tanggal permohonan kasasi diterima Mahkamah Agung dan putusan atas permohonan kasasi tersebut harus diucapkan paling lambat 60 hari setelah permohonan kasasi diterima oleh Mahkamah Agung (Pasal 12, 13 ayat 1, 2, 3 UU Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang, No. 37 Tahun 2004). Penyelesaian perkara kasasi dalam kepailitan tersebut, tim penelitian tidak menelusurinya berhubungan keterbatasan waktu yang memerlukan suatu kecermatan dalam mencari informasi terkait masalah tersebut.

(46)

32

EVALUASI PEMBAGIAN JENIS SUBSTANSI HUKUM ...

3. Biaya

Peraturan Mahkamah Agung RI tentang Biaya Proses Penyelesaian Perkara dan Pengelolaannya pada Mahkamah Agung dan Badan Peradilan yang berada di bawahnya, Nomor 03 Tahun 2012, tanggal 10 April 2012, menyatakan bahwa Biaya Proses Penyelesaikan Perkara selanjutnya disebut biaya proses adalah biaya yang digunakan untuk proses penyelesaian perkara perdata, perkara tata usaha negara dan hak uji materil pada Mahkamah Agung dan Badan Peradilan yang berada di bawahnya yang dibebankan kepada pihak atau para pihak yang beperkara.

Menurut Perma tersebut ditentukan bahwa biaya proses pada Mahkamah Agung ditetapkan sebagai berikut: Kasasi perkara Perdata, Perdata Agama, dan Tata Usaha Negara sebesar Rp500.000,- (lima ratus ribu rupiah); Kasasi perkara perdata niaga Rp5.000.000,- (lima juta rupiah); Kasasi perkara Perselisihan Hubungan Industrial yang nilai gugatan Rp150.000.000,- (seratus lima puluh juta rupiah) ke atas sebesar Rp2.500.000,- (dua juta lima ratus ribu rupiah). Untuk permohonan kasasi pada perkara kemiliteran dan ketatausahanegaraan tidak diatur dalam Perma ini, baik dengan suatu ketentuan tidak dibebankan biaya atau dibebankan biayanya.

Perkembangan terakhir dalam penyetoran biaya perkara, kepaniteraan Mahkamah Agung telah melakukan perubahan dengan suatu cara yang lebih progresif dibanding sebelumnya, seperti yang dimuat dalam media informasi institusi.

JAKARTA | (15/09/2017) - Panitera Mahkamah Agung telah membuat kebijakan inovatif terkait metode penyetoran biaya perkara kasasi/ peninjauan kembali/hak uji materiil. Jika sebelumnya penyetoran biaya perkara dikirim ke nomor rekening penampung (pooling account), maka kini penyetoran tersebut dilakukan dengan rekening virtual yang terhubung ke rekening penampung. Seperti halnya di dunia e-commerce, penggunaan rekening virtual dalam pembayaran biaya perkara, memungkinkan Mahkamah Agung mengetahui secara akurat semua informasi yang terkait dengan pemohon kasasi selaku pengirim uang, seperti: nama pemohon kasasi, nomor perkara, asal

Referensi

Dokumen terkait

Likuditas (liquidity) yaitu: bank juga berperan sebagai penjaga likuiditas masyarakat, dengan membantu aliran likuiditas/dana dari unit surplus kepada unit defisit yang

Sejajar dengan keperluan amalan berwakaf, Universiti Sains Islam Malaysia (USIM) berpandukan visinya telah mengambil inisiatif untuk mengetengahkan kaedah wakaf dalam aspek

Lewat bukunya, al-Islam wa Ushul al-Hukmi, ia mengemukakan ide-ide dan alasan persetujuannya itu, antara lain : Pertama, Al- 4XU¶DQ GDQ KDGLWV WLGDN PHQJDWXU WHQWDQJ

Bersama-sama dengan sumber buruh tempatan, sumber migran daripada luar negara menjadi pilihan majikan yang kebanyakan mereka tergolong kepada pekerja tidak mahir yang dibawa

2002 Jo Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 Tentang Perlindungan Anak dan untuk mengetahui sistem pemidanaan yang digunakan dalam tindak pidana bully terhadap

Proses pembelajaran akan berlangsung baik apabila terdapat interaksi edukatif antara guru dan siswa. Guru sebagai unsur utama proses pembelajaran

Segala puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Illahi Rabbi yang telah memberikan rahmat, taufik dan hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan