• Tidak ada hasil yang ditemukan

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Pertanian Organik

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Pertanian Organik"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

9 II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Pertanian Organik

Pertanian yang mirip dengan kelangsungan kehidupan hutan disebut dengan pertanian organik, karena kesuburan tanaman berasal dari bahan organik secara alamiah. Pengertian lain tentang pertanian organik adalah sistem (dalam hal bercocok tanam) yang tidak mempergunakan bahan anorganik, tetapi menggunakan bahan organik (Pracaya 2003). Jadi pertanian organik merupakan keseimbangan ekosistem alam dengan meminimalkan penggunaan bahan-bahan anorganik dan merupakan praktek bertani alternatif secara alami yang dapat memberikan hasil yang optimal.

Sistem pertanian organik adalah suatu sistem produksi pertanian dimana bahan organik, baik makhluk hidup maupun yang sudah mati, merupakan faktor penting dalam proses produksi. Penggunaan pupuk organik (alami dan buatan) dan pupuk hayati serta pemberantasan hama, penyakit dan gulma secara biologis merupakan contoh penerapan sistem pertanian organik. Arti yanhg lebih luas, sistem pertanian organik mencakup bidang peternakan dan perikanan yang terintegrasi dengan bidang pertanian, baik tanaman pangan, hortikultura dan tanaman perkebunan (Sugito 1995).

Menurut Pracaya (2003), prinsip pertanian organik yaitu berteman akrab dengan lingkungan, tidak mencemarkan dan merusak lingkungan hidup. Sistem pertanian organik mempunyai kelebihan dan kekurangan dalam pelaksanaannya.

Kelebihan dari sistem pertanian organik, yaitu:

1) Tidak menggunakan pupuk atau pestisida anorganik sehingga tidak menimbulkan pencemaran lingkungan, baik pencemaran tanah, air, maupun udara, serta produksinya tidak mengandung racun

2) Tanaman organik mempunyai rasa yang lebih manis dibandingkan dengan tanaman non-organik

3) Produk tanaman organik lebih mahal

Sedangkan kekurangan sistem pertanian organik, adalah sebagai berikut:

1) Membutuhkan tenaga kerja yang lebih banyak, terutama untuk pengendalian hama dan penyakit

2) Membutuhkan biaya yang tidak sedikit pada awal pengolahan

(2)

10 3) Penampilan fisik tanaman organik tidak semenarik tanaman non-organik 4) Membutuhkan waktu yang cukup lama untuk mendapatkan hasil

2.2. Pupuk Organik

Dalam Permentan No.2/Pert/Hk.060/2/2006, tentang pupuk organik dan pembenah tanah, dikemukakan bahwa pupuk organik adalah pupuk yang sebagian besar atau seluruhnya terdiri atas bahan organik yang berasal dari tanaman dan atau hewan yang telah melalui proses rekayasa, dapat berbentuk padat atau cair yang digunakan mensuplai bahan organik untuk memperbaiki sifat fisik, anorganik, dan biologi.

Menurut Hoesein (2009), tanah yang terlalu sering diberi pupuk anorganik, lama kelamaan akan menjadi keras. Keadaan ini akan menyebabkan beberapa kesulitan, diantaranya tanah menjadi sulit diolah dan pertumbuhan tanaman menjadi terganggu. Pemakaian kompos sangat dianjurkan karena dapat memperbaiki produktivitas tanah, baik secara fisik, anorganik, maupun biologi tanah. Perbandingan secara lengkap keunggulan antara pupuk organik dan pupuk anorganik terdapat pada Tabel 4.

Tabel 4. Perbandingan Keunggulan Pupuk Organik Dengan Pupuk Anorganik

No Pupuk Organik Pupuk Anorganik

1. Mengandung unsur hara makro dan mikro lengkap, tetapi jumlahnya sedikit.

Hanya mengandung satu atau beberapa unsur hara, tetapi dalam jumlah banyak.

2. Memiliki daya simpan air (water holding capacity) yang tinggi.

Tidak dapat memperbaiki struktur tanah, justru penggunaannya dalam jangka waktu panjang menyebabkan tanah menjadi keras.

3. Beberapa tanaman yang di pupuk dengan pupuk organik lebih tahan terhadap penyakit/hama.

Sering membuat tanaman rentan terhadap penyakit/hama.

4. Memiliki residual effect yang positif.

Artinya pengaruh positif dari pupuk organik terhadap tanaman yang ditanam pada musim berikutnya masih ada sehingga pertumbuhan dan produktivitasnya masih bagus.

Pupuk anorganik mudah menguap dan tercuci. Karena itu, pengaplikasian yang tidak tepat akan sia-sia karena unsur hara yang ada hilang akibat menguap atau tercuci oleh air.

5. Meningkatkan aktivitas mikroorganisme tanah yang menguntungkan.

Sumber : Hoesein (2009)

(3)

11 2.3. Bokashi

Menurut Pracaya (2003), bokashi adalah pupuk kompos yang dihasilkan dari proses fermentasi atau peragian bahan organik dengan teknologi EM4 (Effective Microorganisms 4). Keunggulan penggunaan teknologi EM4 adalah pupuk organik (kompos) dapat dihasilkan dalam waktu yang relatif singkat dibandingkan dengan cara konvensional.

Cairan EM4 mengandung Azotobacter sp., Lactobacillus sp., ragi, bakteri fotosintetik dan jamur pengurai selulosa. Bahan untuk pembuatan bokashi dapat diperoleh dengan mudah di sekitar lahan pertanian, seperti jerami, rumput, tanaman kacangan, sekam, pupuk kandang atau serbuk gergajian. Namun bahan yang paling baik digunakan sebagai bahan pembuatan bokashi adalah dedak karena mengandung zat gizi yang sangat baik untuk mikroorganisme.

Pada prinsipnya, peranan bokashi hampir sama dengan pupuk kompos lainnya, namun bokashi EM4 pengaruhnya dipercepatkan dengan adanya penambahan Effective Microorganisms 4 (EM4). Bokashi dapat digunakan 3-14 hari setelah perlakuan (fermentasi). Kuntungan penggunaan bokashi adalah meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan tanaman meskipun bahan organiknya belum terurai seperti pada kompos. Bila bokashi dimasukan ke dalam tanah, bahan organiknya dapat digunakan sebagai substrat oleh mikroorganisme efektif untuk berkembangbiak dalam tanah, sekaligus sebagai tambahan persediaan unsur bagi tanaman.

2.4. Penelitian Terdahulu

2.4.1. Kajian Empiris Tentang Pupuk Organik

Retno Wilis (2008) mengkaji Analisis Finansial Usaha Kompos Sampah Perumahan di CV Agri Medika Raharja Bogor. Hasil analisis menunjukkan bahwa pengusahaan pupuk organik memiliki potensi yang cukup baik, terutama dalam aspek finansial. Dengan pemanfaatan limbah yang dipandang tidak memiliki nilai ekonomis, bahkan merugikan, dapat menghasilkan profit yang cukup besar. Selain itu, dampak positif yang dirasakan adalah semakin membaiknya kondisi lingkungan karena masalah sampah teratasi lahan memperoleh unsur hara organik. Penanganan pupuk organik dapat dilakukan

(4)

12 dengan mudah, baik menggunakan teknologi sederhana maupun dengan teknologi modern. Oleh karena itu, usaha ini juga sangat prospektif bagi pengusaha dengan modal yang kecil hingga besar.

Pengertian kompos dalam penelitian tersebut adalah sampah organik yang telah mengalami proses pelapukan atau dekomposisi akibat adanya interaksi mikroorganisme yang bekerja di dalamnya. Bahan-bahan organik yang biasa dipakai bisa berupa dedaunan, rumput, jerami, sisa ranting atau dahan pohon, kotoran hewan, kembang yang telah gugur, air kencing hewan, kotoran hewan, dan sampah daur ulang. Dalam penelitian tersebut juga dipaparkan tata cara pembuatan pupuk organik (bokhasi) secara umum, yaitu seperti gambar 1.

Gambar 1. Skema Pembuatan Pupuk Bokhasi

Sumber : CV Agri Medika Raharja Bogor

2.4.2. Kajian Empiris Tentang Strategi Pengembangan Usaha

Penelitian mengenai strategi pengembangan usaha sudah cukup banyak dilakukan. Akan tetapi sampai saat ini belum terdapat penelitian yang mengkaji tentang strategi pengembangan usaha pupuk organik. Penelitian mengenai pupuk

Pupuk kandang Bahan

organik

Dedak/

Bekatul Fermentator Molase/

gula

Bahan Baku Larutan Fermentator

Adonan dengan kadar air 30 – 40 %

Proses Fermentasi Suhu 40-45˚C

Packaging

Air

Bokhasi

(5)

13 organik yang ada saat ini masih mengedepankan aspek teknis atau budidaya dan tidak mengedepankan dalam mengkaji aspek bisnis dan manajemen usaha.

Linda Rosalina (2009) melakukan penelitian mengenai strategi pengembangan usaha sayuran organik pada Kelompok Tani Sugih Tani pada kawasan agropolitan di Desa Karehkel, Kecamatan Leuwiliang, Kabupaten Bogor.

Berdasarkan hasil analisis matriks IFE dan EFE, Sugih Tani berada pada posisi pertahankan dan pelihara. Strategi yang cocok diterapkan oleh perusahaan adalah strategi penetrasi pasar dan pengembangan produk. Alternatif strategi yang dapat diterapkan oleh Sugih Tani berdasarkan analisis SWOT adalah mempertahankan harga jual produk yang bersaing dan mempertahankan kualitas produk serta pelayanan yang baik kepada konsumen, menjalin kerjasama dengan perbankan, meningkatkan upaya pemasaran produk, dan melakukan upaya pencegahan penyakit. Strategi terbaik yang harus dilakukan Sugih Tani adalah mempertahankan harga jual produk dan mempertahankan kualitas produk serta pelayanan yang baik kepada konsumen.

Nurhadi (2008) melakukan penelitian mengenai strategi pengembangan usaha tanaman hias pada PT Kusuma Floracipta, Taman Anggrek Ragunan, Jakarta. Hasilnya menunjukkan bahwa PT Kusuma Floracipta berada pada posisi pertahankan dan pelihara (Hold and Maintain). Strategi yang cocok diterapkan oleh perusahaan adalah strategi penetrasi pasar dan pengembangan produk.

Analisis SWOT menghasilkan tujuh alternatif strategi yang dapat dijalankan oleh PT Kusuma Floracipta, yaitu: mempertahankan kualitas dan variasi produk tanaman hias, meningkatkan upaya kegiatan promosi untuk usaha jasa, mengembangkan litbang serta memanfaatkan kemajuan teknologi, mencari alternatif perolehan sumber modal untuk pengembangan usaha, meningkatkan kerjasama dan hubungan baik dengan pelanggan, melakukan riset pasar untuk memantau perkembangan produk dan tingkat persaingan, dan memperbesar kapasitas produksi. Dari beberapa alternatif strategi tersebut, strategi terbaik yang harus dilakukan oleh PT Kusuma Floracipta adalah meningkatkan kerjasama dan hubungan baik dengan pelanggan.

Penelitian yang dilakukan oleh Elmi Rohmiatin (2006) mengenai Analisis Strategi Pengembangan Usaha Beras Organik Lembaga Pertanian Sehat di Desa

(6)

14 Pasir Buncit Kecamatan Caringin Kabupaten Bogor. Berdasarkan hasil penelitian yang didasarkan pada EFE dan IFE menempatkan LPS pada matriks V. Posisi ini menggambarkan posisi LPS pada respon unit-unit usaha yang ada terhadap faktor- faktor eksternal yang dihadapinya tergolong sedang. Hasil dari analisis matriks SWOT diperoleh alternatif SO yaitu membantu proses sertifikasi kegiatan produk organik bagi petani binaan dan menjadi pengawas kegiatan pertanian organik petani dhuafa. Strategi ST yaitu meningkatkan mutu dan kemasan produk agar sulit dipalsukan. Strategi WO yaitu menjalin kerjasama dengan kelompok tani sehat dan Dinas Pertanian daerah dalam sosialisasi dan promosi produk. Strategi WT yaitu meningkatkan kualitas produk organik dengan penambahan sarana dan prasarana yang mendukung. Berdasarkan hasil matriks QSP diperoleh bahwa strategi menjalin kerjasama dengan kelompok tani sehat dan Dinas Pertanian daerah dalam sosialisasi dan promosi produk merupakan strategi prioritas.

Perbedaan penelitian ini dengan penelitian terdahulu yang terkait dengan topik strategi pengembangan usaha adalah terletak pada objek kajian, tempat penelitian, dan hasil dalam penelitian. Penelitian yang dilakukan Retno Wilis (2009) adalah tentang studi kelayakan bisnis dari pupuk organik, sedangkan dalam penelitian ini adalah untuk merumuskan strategi pengembangan usaha pupuk organik. Penelitian strategi pengembangan usaha terdahulu juga belum ada yang mengambil objek usaha pupuk organik. Adapun persamaan dengan penelitian strategi pengembangan usaha terdahulu yakni persamaan pada tujuan penelitian dalam menganalisis lingkungan internal dan eksternal perusahan serta merumuskan alternatif strategi bagi perusahaan berdasarkan hasil lingkungan internal dan eksternal tersebut.

Berdasarkan penelitian terdahulu, tahap formulasi strategi dilakukan dengan tiga tahap, yaitu tahap input dengan menganalisis faktor lingkungan internal dan eksternal perusahaan menggunakan alat analisis matriks IFE dan EFE, tahap pencocokan dengan menggunakan matriks IE untuk mengetahui posisi perusahaan dan matriks SWOT untuk memperoleh alternatif strategi, tahap keputusan dengan menggunakan QSPM.

Gambar

Gambar 1.  Skema Pembuatan Pupuk Bokhasi

Referensi

Dokumen terkait

2/Pert/Hk.060/2/2006, tentang pupuk organik dikemukakan bahwa pupuk organik adalah pupuk yang berasal dari tanaman dan atau hewan terdiri atas bahan organik yang telah

Definisi pupuk organik menurut Peraturan Menteri Pertanian No.28/Permentan/SR.130/5/2009 tentang pupuk organik adalah pupuk yang berasal dari sisa tanaman dan/atau

Pupuk organik adalah pupuk yang sebagian besar atau seluruhnya terdiri atas bahan organik yang berasal dari tanaman dan atau hewan yang telah melalui proses,

Pupuk Organik adalah pupuk yang sebagian besar atau seluruhnya terdiri dari bahan organic Pupuk Organik adalah pupuk yang sebagian besar atau seluruhnya terdiri dari bahan organic

060/2/2006, bahwa pupuk organik adalah pupuk yang sebagian besar atau seluruhnya terdiri atas bahan organik yang berasal dari tanaman dan atau hewan yang telah melalui proses

Pupuk organik adalah pupuk yang sebagian besar atau seluruhnya terdiri atas bahan organik yang berasal dari tanaman dan atau hewan yang telah melalui proses rekayasa, dapat

Berdasarkan Peraturan menteri pertanian Nomor : 02/pert/hk.060/2/2006, pupuk organik adalah pupuk yang sebagian besar atau seluruhnya terdiri dari bahan organik

Menurut Permentan No.2/Pert/Hk.060/2/2006, tentang pupuk organik dan pembenah tanah, dikemukakan bahwa pupuk organik adalah pupuk yang sebagian besar atau seluruhnya terdiri atas bahan