67
PEMANFAATAN LIMBAH KULIT PISANG SEBAGAI SABUN HERBAL
Praptanti Sinung Adi Nugroho
Program Studi Farmasi Politeknik Indonusa Surakarta Jl. KH. Samanhudi 31, Mangkuyudan, Surakarta
Abstrak
Sabun merupakan garam alkali karboksilat (RCOONa). Gugus R bersifat hidrofobik karena bersifat nonpolar dan COONa bersifat hidrofilik (polar). Penggunaan bahan sintetik sabun dapat berbahaya bagi kulit manusia karena dapat menyebabkan iritasi pada konsumen yang memiliki kulit sensitif, sehingga diperlukan sebuah inovasi baru produk sabun herbal yang menggunakan bahan aktif alami sebagai komponen penyusunnya. Kulit pisang diketahui memiliki aktivitas antioksidan yang lebih tinggi dibandingkan dengan daging buahnya. Pada penelitian dilakukan pembuatan sabun herbal menggunakan kulit pisang dan ekstrak kulit pisang dengan variasi konsentrasi NaOH 7,2%, 10,4%, dan 13,4%. Syarat mutu sabun mandi didasarkan pada Standar Nasional Indonesia (SNI), mencakup sifat kimiawi dari sabun mandi, yaitu pH, kadar air, asam lemak bebas, alkali bebas, dan minyak mineral (negatif). Semakin meningkat jumlah NaOH maka kekerasan produk sabun akan semakin meningkat. Pada pengamatan sifat fisik dan pengujian kualitas sabun yang telah dilakukan, didapatkan data jika produk sabun yang memenuhi standar adalah sabun kulit pisang dan sabun ekstrak kulit pisang dengan variasi NaOH 13,42%.
Kata kunci: limbah, kulit pisang, sabun herbal
68 I. PENDAHULUAN
Sabun sudah menjadi kebutuhan primer untuk semua manusia. Sabun merupakan salah satu sarana untuk membersihkan diri dari kotoran, bakteri, dan kuman. Dewasa ini, sabun tidak hanya sekedar berfungsi agar tubuh menjadi bersih, tetapi ada beberapa sabun yang sekaligus berfungsi untuk menjaga elastisitas kulit, melembabkan kulit, dan memutihkan kulit.
II. TINJAUAN PUSTAKA
Secara kimia, sabun merupakan garam alkali karboksilat (RCOONa). Gugus R bersifat hidrofobik karena bersifat nonpolar dan COONa bersifat hidrofilik (polar). Proses yang terjadi dalam pembuatan sabun disebut sebagai saponifikasi (Girgis, 2003). Alkali yang digunakan yaitu NaOH, bahan lain yang digunakan pada pembuatan sabun mandi yaitu tigliserida berupa minyak atau lemak, misalnya digunakan minyak kelapa sawit, minyak biji katun dan minyak kacang (Oluwatoyin, 2011). Pabrik yang merupakan produsen terbesar sabun lebih mengutamakan menggunakan bahan sintetik (non herbal) sebagai salah satu komponen penyusunnya, padahal bahan sintetik mempunyai dampak negatif bagi kulit konsumen yang mempunyai kulit sensitif. Penggunaan bahan sintetik yang berlebihan dapat menyebabkan iritasi atau peradangan pada kulit.
Pemanfaatan buah kulit pisang menyisakan bahan buangan (limbah) kulit pisang. Kulit pisang umumnya hanya digunakan sebagai pakan ternak atau limbah organik yang merupakan sumber pencemaran lingkungan. Diketahui jika senyawa antioksidan yang terdapat pada kulit pisang yaitu katekin, gallokatekin dan epikatekin yang merupakan golongan senyawa flavonoid (Someya et al., 2002). Selain itu, menurut Zuhrina (2011) dalam Supriyanti, dkk. (2015), kandungan unsur gizi yang terdapat pada kulit pisang cukup lengkap, seperti karbohidrat, lemak, protein, kalsium, fosfor, zat besi, vitamin B, vitamin C dan air. Sehingga kulit pisang memiliki potensi yang cukup baik untuk dimanfaatkan sebagai sumber antioksidan.
Dari penjabaran di atas, penelitian dengan memanfaatkan limbah kulit pisang sebagai bahan pembuatan sabun herbal perlu dilakukan, dengan mempertimbangkan keamanan sabun sesuai Standar Nasional
Indonesia (SNI) 06-4085-1996 mengenai uji kualitas sabun.
III. METODE PENELITIAN Alat Dan Bahan
Alat yang digunakan dalam penelitian ini antara lain: alat-alat gelas (Merk), kertas saring, buret, hotplate stirrer, shoxlet, waterbath, oven, blender, dan cetakan.
Bahan yang digunakan antara lain: kulit pisang, NaOH, KOH, HCl, minyak VCO, minyak kelapa, minyak zaitun, alkohol 70%, eter, KOH-etanol, fragrance, indikator universal, indikator PP, dan akuades.
Pembuatan Ekstrak Kulit Pisang
Pembuatan ekstrak kulit pisang dilakukan dengan metode soxhletasi.
Sebanyak 10 gram kulit pisang diiris-iris kemudian dikeringkan dengan oven. Setelah kering, kulit pisang disoxhlet dengan pelarut etanol 70% sebanyak 1 L pada suhu 70 ⁰C.
Soxhletasi dilakukan selama 6-7 siklus. Hasil soxhletasi diuapkan di waterbath hingga pelarut menguap dan hanya tersisa ekstrak kulit pisang.
Pembuatan Sabun Kulit Pisang dengan Variasi NaOH
Pada tahap ini dilakukan pembuatan sabun dengan cara melarutkan NaOH dalam berbagai macam variasi konsentrasi NaOH.
Masing-masing NaOH yang digunakan adalah 7,2%; 10,4%; dan 13,4%. NaOH dilarutkan dalam akuades. Selanjutnya proses memanaskan VCO (Virgin Coconut Oil), minyak kelapa, dan minyak zaitun hingga suhunya sama dengan suhu larutan NaOH.
Minyak yang sudah panas dan larutan NaOH diaduk menggunakan blender sampai akhir proses saponifikasi (trace). Menambahkan bubur kulit pisang sebanyak 5 gram ke dalam blender, lalu mengaduk dengan blender hingga kulit pisang dan trace tercampur rata. Parfum ditambahkan sebanyak 0,5 gram. Sabun yang masih dalam bentuk trace dituang ke dalam cetakan dan disimpan selama 2 minggu.
Pembuatan Sabun Ekstrak Kulit Pisang dengan Variasi NaOH
Pembuatan sabun ekstrak kulit pisang dilakukan dengan cara melarutkan NaOH dalam berbagai macam variasi konsentrasi NaOH. Masing-masing NaOH yang digunakan adalah 7,2%; 10,4%; dan 13,4%. NaOH
69 dilarutkan dalam akuades. Selanjutnya proses memanaskan VCO (Virgin Coconut Oil), minyak kelapa, dan minyak zaitun hingga suhunya sama dengan suhu larutan NaOH.
Minyak VCO yang sudah panas dan larutan NaOH diaduk menggunakan hotplate stirrer sampai akhir proses saponifikasi (trace).
Menambahkan ekstrak kulit pisang sebanyak 2 gram, lalu diaduk hingga kulit pisang dan trace tercampur rata. Pada tahap akhir, ditambahkan 0,5 gram parfum. Sabun yang masih dalam bentuk trace dituang ke dalam cetakan dan disimpan selama 2 minggu.
Uji Kualitas Sabun
Uji kualitas sabun herbal kulit pisang dan ekstrak kulit pisang ditentukan menggunakan SNI 06-3532-1994 berupa uji pH, kadar air, kadar alkali bebas, analisis asam lemak bebas, dan uji minyak mineral.
Tabel. Pengujian kualitas sabun berdasarkan SNI 06-3532-1994
No. Pengujian Syarat mutu
1 pH 8-10
2 Kadar air Maksimal 15%
3 Alkali bebas Maksimal 0,1%
4 Asam lemak bebas Maksimal 2,5%
5 Minyak mineral Negatif
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
Sabun adalah garam alkali asam lemak yang dihasilkan melalui reaksi asam basa.
Proses pembuatan sabun disebut saponifikasi.
Saponifikasi adalah reaksi hidrolisis asam lemak dan basa alkali seperti yang terlihat pada reaksi berikut (Hicks, 1989).
Reaksi antara lemak dan alkali menghasilkan produk sabun dan gliserol.
Gliserin atau gliserol [C3H5(OH)3] merupakan hasil samping reaksi saponifikasi yaitu reaksi pembentukan sabun. Gliserol adalah senyawa gliserida yang paling sederhana, dengan hidroksil yang bersifat hidrofilik dan higroskopik (Sunsmart, 1998). Fungsi dari gliserol pada sabun adalah untuk melembabkan kulit, selain itu berfungsi untuk
mengikat minyak (kotoran) karena struktur gliserol menyerupai struktur molekul minyak.
Pembuatan sabun kulit pisang dan sabun ektrak kulit pisang dengan variasi konsentrasi NaOH
Komposisi komponen bahan untuk membuat sabun akan berpengaruh pada produk sabun yang dihasilkan. Variasi penambahan NaOH menyebabkan perbedaan hasil dari ketiga sampel sabun kulit pisang dan sabun ekstrak kulit pisang. Perbedaan dapat dilihat pada warna dan kekerasan dari masing- masing sabun yang dihasilkan. Adapun perbedaan fisik dari tiga formulasi pembuatan sabun kulit pisang ditampilkan dalam Tabel 1.
Tabel 1. Hasil sifat fisik sabun kulit pisang (KP) dan sabun ekstrak kulit pisang (EP)
Formula Warna Kekerasan Homogeni tas KP 1 Cokelat
tua
Lembek Tidak homogen KP 2 Cokelat
tua
Agak keras
Tidak homogen KP 3 Cokelat
muda
Keras Homogen EP 1 Cokelat
muda
Agak keras
Homogen EP 2 Cokelat
muda
Agak keras
Homogen EP 3 Putih Keras Homogen
KP 1 KP 2
KP 3
Gambar 1. Sabun kulit pisang (KP) dengan variasi konsentrasi NaOH
CH2
asam lemak
3 NaOH + O
C O
O
C O
O C
O
CH
CH2
CH
O
OCH2
H H H
+
R'
R'' R
3 RC O O Na
alkali gliserol sabun
O
CH2
70
EP 1 EP 2
EP 3
Gambar 2. Sabun ekstrak kulit pisang (EP) dengan variasi NaOH
Dari ciri-ciri yang dimiliki setiap formulasi, semakin banyak NaOH yang ditambahkan semakin keras sabun yang terbentuk. Penambahan NaOH menyebabkan semakin banyak alkali yang bereaksi dengan minyak, sehingga menambah tingkat kekerasan produk sabun. Produk sabun kulit pisang dan sabun ekstrak kulit pisang disajikan pada Gambar 1 dan Gambar 2. Dari pembuatan sabun kulit pisang dan ekstrak kulit pisang, dapat dijelaskan jika fungsi NaOH adalah meningkatkan kekerasan fisik dari produk sabun dan menyebabkan warna sabun semakin terang.
Uji kualitas sabun kulit pisang dan sabun ekstrak kulit pisang
Variasi konsentrasi pada produk sabun dapat mempengaruhi pH, kadar air, kadar alkali, kandungan asam lemak bebas, dan minyak mineral. Banyaknya NaOH yang ditambahkan mempengaruhi proses saponifikasi, sehingga dapat mempengaruhi kualitas sabun. Uji kualitas sabun kulit pisang dan sabun ekstrak kulit pisang dapat disajikan pada Tabel 2.
Tabel 2. Hasil uji kualitas formulasi variasi NaOH pada sabun kulit pisang dan sabun ekstrak kulit pisang
Formula pH Air (%)
Alkali bebas (%)
Asam lemak bebas (%)
Minyak mineral
KP 1 8 18 0,056 4 Negatif
KP 2 8 13,5 0,070 9 Negatif
KP 3 9 12 0,089 2 Negatif
EP 1 8 12 0,067 4,5 Negatif
EP 2 8 10,5 0,089 3 Negatif
EP 3 9,5 9,5 0,010 2 Negatif
Derajat keasaman (pH) merupakan salah satu parameter kualitas sabun. Produk sabun dengan pH sangat rendah atau sangat tinggi akan menambah daya absorbansi kulit sehingga menyebabkan kulit dapat mengalami iritasi. Berdasarkan uji yang dilakukan, semua sabun mempunyai kualitas sesuai SNI, yaitu di bawah pH 10.
Kadar air merupakan banyaknya air yang terkandung dalam sabun. Semakin banyak air yang terkandung dalam sabun maka akan semakin meningkatkan daya tengik sabun. Sabun yang baik menurut SNI adalah sabun yang mempunyai kadar kurang dari 15%. Pada pengujian dapat diketahui jika semakin banyak NaOH yang ditambahkan, maka kandungan air pada produk sabun semakin berkurang. Dari data dapat dilihat bahwa hanya formula1 (dengan NaOH 7,2%) dari sabun kulit pisang yang mempunyai kadar air yang tidak sesuai dengan standar SNI, yaitu sebesar 18%.
Kadar alkali bebas menunjukkan bahwa alkali dalam sabun tidak terikat sebagai senyawa. Pada pengujian yang telah dilakukan, terdapat data bahwa semua produk sabun mempunyai kadar alkali bebas yang masih diperbolehkan SNI, yaitu 0,1%.
Asam lemak bebas merupakan bilangan yang menunjukkan banyaknya NaOH yang dibutuhkan untuk menetralkan asam lemak bebas dalam sabun. Berdasarkan analisis data yang telah diperoleh, didapatkan bahwa sabun kulit pisang formula 1 dan 2 mempunyai hasil yang melebihi ambang batas SNI, yaitu 4%
dan 9%. Pada pembuatan sabun ekstrak kulit pisang, formula 1 dan 2 juga tidak memenuhi standar SNI, karena mempunyai kadar 4,5%
dan 3%. Sehingga, dapat dikatakan jika yang memenuhi standar pengujian hanya produk sabun kulit pisang dan sabun ekstrak kulit pisang formulasi 3 (NaOH 13,4%).
71 Minyak mineral adalah minyak-minyak yang tidak dapat disabunkan. Pengujian kualitatif minyak mineral positif pada sabun akan ditandai dengan kekeruhan saat larutan disemprot dengan air. Pada pengujian ini semua produk sabun tidak menunjukkan adanya kekeruhan, sehingga dapat dikatakan jika produk sabun tidak mengandung minyak mineral.
V. PENUTUP
Kesimpulan dan Saran
Dari penelitian yang sudah dilakukan, dapat diambil kesimpulan jika penambahan NaOH meningkatkan kekerasan produk sabun.
Pada pengamatan sifat fisik dan pengujian kualitas sabun yang telah dilakukan, produk sabun yang memenuhi standar adalah sabun kulit pisang dan sabun ekstrak kulit pisang dengan variasi NaOH 13,4%.
Saran untuk kemajuan penelitian ini adalah diperlukan penelitian lanjutan terhadap pengaruh variasi kulit pisang dan ekstrak kulit pisang yang digunakan pada pembuatan sabun, diperlukan pengujian daya antioksidan produk sabun menggunakan DPPH, dan penambahan pengawet agar dapat menambah daya tahan sabun.
DAFTAR PUSTAKA
Girgis, A. Y., 2003, Production of High Quality Castile Soap from High Rancid Olive Oil, Gracas y Aceites, 54(3) : 226- 233.
Hicks, J., 1981, Comprehensive Chemistry SI Edition, London: The Macmillan Press Ltd.
Oluwatoyin SM., 2011, Quality Soaps Using Different Oil Blends, Journal of Microbiology and Biotechnology Research, 1(1), 29-34.
Someya, S., Y. Yoshiki and K. Okubo, 2002, Food Chemistry, 79(3) : 351354.
Sunsmart, 1998, Anatomy of The Skin, J.
Cosmetics and Toiletries, SunSmart Inc., New York,.
Supriyanti, F.M.T., Suanda, H. dan Rosdiana, R., 2015, Pemanfaatan Ekstrak Kulit Pisang Kepok (Musa Bluggoe) sebagai Sumber Antioksidan pada Produksi Tahu.
Seminar Nasional Kimia dan Pendidikan Kimia VII. Universitas Sebelas Maret.
Zuhrina, 2011, “Pengaruh Penambahan Tepung Kulit Pisang (Musa paradisiciaca) Terhadap Daya Terima Kue Donat”, Skripsi, Program Sarjana, Universitas Sumatera Utara : Tidak Diterbitkan.
72