Pengelolaan Sumber Daya Alam Kita 1
Berry Nahdian Forqan
2Abstracts
The long history of natural resources management in Indonesia is nothing more than documentation over division of history into periods of natural resources loot under similar mode, although in various ways. Industrialization practices supported by large scale infrastructure become the foundation or foothold of development model that led to an unbalanced power system, spatial land usage, production order and consumption order and only benefit a sum of political elites and capital power as reflected in governance practices thus far. Since the colonial era up to the current reform reign indeed there is nothing changed; natural resources are only placed as a mere commodity that served the market interests, thus neglecting the rights of citizens in gaining a fair access and control upon live sources. Management of agriculture resources and natural resources so far are not only inflicting gap and conflict, but further caused live quality degradation. Crisis over crisis at citizen level have persisted and expanded into a multidimensional crisis which further aggravated this nation, leading to a weakening capability of citizens to perpetuate their social, economic and political joints. It takes a breakthrough to carry out Indonesia recovery by optimally place management of agriculture resources and natural resources for both present and future generation, for the sake of incarnating a fair, prosper and sovereign society according to this state’s constitution and the universal value of human rights.
1. Tulisan ini disampaikan sebagai kontribusi dalam penulisan Jurnal HAM yang diterbitkan oleh Komnas HAM.
2. Saat ini menjabat sebagai Direktur Eksekutif Nasional Wahana Lingkungan Hidup Indonesia.
merupakan rekaman atas periodisasi penjarahan kekayaan alam kita dengan modus yang sama walau dengan cara yang berbeda. Praktek industrialisasi yang disokong infrastruktur skala raksasa menjadi landasan atau pijakan model pembangunan yang berujung pada tatakuasa, tata penggunaan lahan, tata produksi dan tata konsumsi yang timpang dan hanya menguntungkan segelintir elit politik dan kuasa modal yang tercermin dalam praktek bernegara selama ini. Sejak jaman kolonial sampai pemerintahan era reformasi ini memang tidak ada yang berubah, sumberdaya alam hanya ditempatkan sebagai komoditi semata yangmengabdi kepada kepentingan pasar sehingga abai terhadap hak-hak warga negara untuk mendapatkan akses dan kontrol yang adil terhadap sumber-sumber kehidupan. Pengelolaan sumberdaya alam selama ini tidak saja menimbulkan ketimpangan dan konflik namun lebih jauh menimbulkan penurunan kualitas lingkungan hidup. Krisis demi krisis di tingkat warga terus terjadi dan meluas menjadi krisis multi dimensi yang semakin memper- buruk situasi bangsa ini yang berujung pada melemahnya kemampuan warga untuk melanggengkan sendi-sendi kehidupan sosial, ekonomi dan politiknya. Dibutuhkan sebuah terobosan untuk melakukan pemulihan Indonesia dengan menempatkan pengelolaan sumberdaya agraria dan sumberdaya alam secara optimal bagi generasi sekarang maupun generasi yang akan datang demi mewujudkan masyarakat adil dan makmur yang berdaulat sesuai dengan amanat konstitusi negara ini dan nilai-nilai universal Hak Asasi Manusia.
Pengelolaan Sumber Daya Alam Kita
Pendahuluan
P
asal 33 yang meliputi: “Bumi, dan air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya di- kuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat“ dan “Perekonomian nasional di- selenggarakan berdasar atas demokrasi ekonomi dengan prinsip kebersamaan, efisiensi-berkeadilan, berkelanjutan, ber- wawasan lingkungan, kemandirian serta dengan menjaga keseimbangan ke- majuan dan kesatuan nasional”. Secara jelas, amanah Konstitusi menyebutkanbagaimana negara memiliki kewajiban untuk mengelola kekayaan alamnya bagi kemakmuran dan kesejahteraan rakyat.
Sayangnya, amanah dan cita- cita Konstitusi diingkari oleh pengurus ne gara, bukannya untuk kesejahteraan dan kemakmuran rakyat, sumber daya alam justru dikeruk habis sebagai modal untuk melanggengkan kekuasaannya baik secara politik maupun ekonomi. Ironis- nya, apa yang terjadi dari pengelolaan sumber daya alam ini juga bukan me- rupakan cerita baru. Jika merunut pada sejarah berdiri nya bangsa ini, dari sejak
jaman kerajaan, kolonialisasi yang ter- lama di masa penjajahan Belanda hingga saat ini pasca reformasi, kita dapat meli- hat bagaimana periodesasi pengelolaan sumber daya alam, lebih tepat disebut dengan periodesasi perampokan sumber daya alam, yang berujung pada penghan- curan terhadap lingkungan hidup dan sumber-sumber kehidupan rakyat. Tidak meng herankan jika kemudian model pe- ngelolaan SDA yang diturunkan melalui berbagai kebijakannya seolah tidak ber- hubungan dengan kebutuhan dan ke- pentingan rakyat.
Namun anehnya, kekayaan sum- berdaya alam tersebut sepertinya tidak dikelola dan diperuntukkan sepenuhnya untuk kemakmuran rakyat. Tetapi lebih dieksploitasi untuk kepentingan negara industri dan kuasa modal. Seakan men- jadi kutukan bagi rakyatnya sendiri, lebih dari 30 juta jiwa rakyat negara ini yang terperosok kedalam lubang kemiskinan yang paling dalam. Jutaan keluarga tidak mendapatkan akses air bersih, jutaan anak yang tidak mendapatkan pendidikan, serta tidak tersedianya layanan kesehat an
yang mumpuni dan layak bagi publik.
Keterbatasan energipun masih berkutat di Negara lumbung energi ini, yang mem- punyai miliaran ton batu-bara, memiliki cadangan gas alam yang melimpah, dan selalu mendapat gapaian sinar matahari hampir disepanjang tahun.
Krisis ekologi terjadi karena nega- ra, pemodal, dan sistem pe ngetahuan ‘modern’ telah mereduksi alam menjadi onggokan komoditi yang bisa direkaya- sa dan dieksploitasi untuk memperoleh ke untungan ekonomi jangka pendek.
Ekspansi sistem monokultur, eksploitasi hutan, industri keruk kekayaan tambang telah mengganggu dan menghancurkan fungsi-fungsi ekologi dan keseimbang- an alam. Privatisasi kekayaan alam ha nya diperuntukkan semata-mata tujuan komer- sial, bahkan dengan alasan konservasi seka- lipun telah menjauhkan akses dan kontrol rakyat pada sumber-sumber kehidupan.
Berbagai kebijakan yang dike- luarkan oleh pengurus negara dalam pengelola an sumber daya alam ti- dak lebih sebagai sarana untuk
mengkavling-kavling ke kayaan alam untuk kepentingan bisnis yang difasili- tasi oleh pengurus negara di berbagai instansi sektoral yang mengurus sumber daya alam. Tidak heran, jika kemudian sumber daya alam dikelola sektoral, ijin- ijin dikeluarkan oleh ber bagai institusi tanpa mempertimbangkan daya dukung alam yang terbatas, bahkan tanpa mem- perdulikan antar satu kebijakan dengan kebijakan lainnya saling tumpang tindih.
Krisis ini tentu saja tidak dapat terus dibiarkan, berbagai organisasi lingkungan termasuk WALHI mendorong adanya upa- ya pemulihan secara serius terhadap krisis yang melanda bangsa ini. Ini bisa dimulai dari perombakan secara fundamental ter- hadap pilihan ekonomi dan politik bang- sa, meletakkan tanggungjawab negara se- bagai pemegang mandat Konstitusi yang berdasarkan pada prinsip hak asasi manu- sia dan memenuhi komitmen politiknya untuk segera mengeluarkan kebijakan payung dalam mengelola sumber daya alam dan agraria, demi tercapainya cita- cita berbangsa.
Periodesasi Penjarahan SDA
Kekayaan alam Indonesia, telah dikenal sejak lama di dunia. Karena- nya tidak mengherankan jika Indonesia menjadi incaran banyak negara untuk hanya sekedar menjalankan misi eko- nominya atau bahkan menguasai eko- nomi dan politik dunia.Di Jawa misalnya, digambarkan oleh Winchester (2003) be- tapa rempah-rempah dari negeri- negeri Timur termasuk Jawa menjadi bagian dari kemewahan kuliner dunia yang me- miliki harga tinggi, selain Maluku yang juga dikenal memiliki kekayaan rempah yang melimpah.3 Jawa dipilih oleh ko- lonial Belanda untuk menancapkan ke- kuasaan ekonomi dan politiknya, karena pulau Jawa dinilai sangat strategis, kaya dengan sumber daya alamnya dan memiliki banyak sumber daya manusia yang sangat murah, yang dapat dipekerjakan secara paksa, antara lain di perkebunan teh dan kopi yang dikuasai
3. Winchester dalam bukunya hal 26 yang dikutip dari buku Java Collapse, dari Kerja Paksa Hingga Lumpur Lapindo, WALHI-Insist Press 2010
oleh Perusahaan Belanda. Yang lainnya adalah karena pemimpin politik di Jawa dapat dijadikan sebagai penghubung atau mitra Belanda untuk melanggeng- kan kekuasaannya. Kenyataan inilah yang selanjutnya menjadi alur kolonialisasi se- cara ekonomi, sejalan beriringan dengan kolonialisasi secara politik.
Bukan hanya kekayaan rempah, kekayaan dalam perut bumi Indonesia juga menjadi sasaran lirikan negara- negara penjajah. Revolusi industri yang terjadi di Eropa pada abad ke-18 telah membawa perubahan besar, bukan cuma di Eropa tapi juga berpengaruh pada bagian lainnya termasuk Indo- nesia yang menjadi daerah jajahan Be- landa. Di Kali mantan Selatan, Belanda getol memonopoli perdagangan lada dan mengangkutnya dengan menggu- nakan kapal-kapal uap yang membu- tuhkan stok batubara yang banyak. Per- mintaan pasar eropa terhadap batubara membuat Belanda ingin melakukan penambangan batubara bukan cuma untuk memenuhi kebutuhan mereka tetapi juga untuk dijual.Mulailah Belanda
menyusun strategi dan mencari sumber- sumber tambang batubara.4
Di pulau Jawa, pendirian VOC dan raja Mataram yang berkuasa pada abad ke-19, oleh karenanya raja Mataram telah menyerahkan kekuasaannya atas sebagian wilayah pulau Jawa kepada VOC, maka hutan-hutan di pulau Jawa menjadi hak milik VOC atau raja Mata- ram. Hal ini antara lain dapat disimpul- kan berdasarkan plakat 8 September 1803 yang pada pokoknya menyatakan bahwa semua hutan kayu di Jawa harus dibawah pe ngawasan kompeni sebagai domein (hak milik ne gara) dan regalia (hak istimewa raja dan para penguasa).
Tidak seorangpun boleh menebang atau memangkas apalagi menjalankan suatu tindakan kekuasaan. Kalau larangan ini dilanggar, maka pelanggarnya akan di- jatuhi hukum an badan.5
4. Sejarah Ekploitasi Sumber Daya Alam di Kalsel, http://id- id.facebook.com/note.php?note_id=152315374813042 oleh DPD PAN Tanah Bumbu pada 03 November 2010 5. Analisa Hukum Kolonial di Tanah Merdeka, Hedar
Laudjeng, http://www.huma.or.id/
Pada tahun 1927, pemerintah kolonial Belanda menetapkan ordonansi hutan untuk pulau Jawa dan Madura. Pada prinsipnya ordonansi tersebut me nganut asas domein sebagaimana di maksud dalam Agrarische Besluit 1870.Pada masa tersebut ada upaya untuk menyusun se- buah ordonansi hutan(menganut asas domein) yang akan diberlakukan untuk seluruh daerah luarPulau Jawa- Madura.
Akan tetapi upaya tersebut ditentang oleh banyak pihakyang berpendapat, bahwa asas domein tidak pantas dipakai dalam pengaturanhutan di daerah- daerah di luar Pulau Jawa - Madura. Dengan ada- nya tantangan dari banyak pihak yang mempersoalkan asas domein tersebut, maka pada tahun1928 pemerintah Hin- dia Belanda (Nederlan Indie) memben- tuk sebuah komisiyang ditugaskan untuk memberikan advis kepada pemerintah tentangpenggunaan asas domein dalam perundang-undangan agraria.6
UUPA 1960 mencabut Agrarische Wet 1870 beserta segala aturan pelaksa- naannya, akan tetapi tidak secara tegas
mencabut Bosch Ordonantie 1927dan peraturan-peraturan kehutanan yang lainnya. Dengan demikian, maka ter- jadilah kontradiksi hukum agraria yang sangat mendasar. Di satu pihak tanah- tanah yang terletak diluar kawasan hutan diatur menurut UUPA 1960 yangberdasar pada hukum adat serta anti asas domein, sementara di pihak lain tanah-tanah yang terletak di dalam kawasan hutan (Jawa- Madura) masih tetap diaturmenurut Bosch Ordonantie 1927 yang anti hukum adat dan menganut asas domein.
Undang-undang Pokok Agraria (UUPA) 1960adalah suatu produk perundang-undangan yang dibuat untuk mengubah karakternegarakolonial menu- ju negara nasional yang merdeka, serta untuk menghapuskan segala bentuk sisa- sisa feodalis me yang menghambat ke- majuan rakyat. Para pembuat UUPA ber- maksud untuk membawa rakyat ke arah keadilan sosial, kemakmuran dan kema- juan melalui penataan ulang pe nguasaan dan pemanfaatan sumber-sumberagraria.
Sayangnya, Dalam praktek semasa Orde Baru, kedudukan Negara yang dominan
6. ibid.
dalam perundang-undangan, terbuk- ti telah dimanfaatkan untuk mengejar per tumbuhan ekonomi dalam bentuk usaha-usaha peningkatan produktivitas tanpa memberi rakyat peran untuk berpar- tisipasi dalam pemilikan dan pemanfaat an sumber-sumber agraria itu serta untuk menikmati hasilnya.7
Dalam pasal 4 UU No. 41 tahun 1999 tentang Kehutanan disebutkan bahwa (1) Semua hutan di dalam wilayah Republik Indonesia termasuk kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh Negara untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat; (2) Penguasaan hutan oleh Negara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) memberi wewenang kepada pemerintah untuk: a. mengatur dan mengurus segala sesuatu yang berkaitan dengan hutan, kawasan hutan, dan hasil hutan; b. mene- tapkan status wilayah tertentu sebagai ka- wasan hutan atau kawasan hutan sebagai bukan kawasan hutan; dan c. mengatur dan menetapkan hubungan-hubungan
hukum antara orang dengan hutan, serta mengatur perbuatan-perbuatan hukum mengenai kehutanan, dan; (3) Penguasa an hutan oleh Negara tetap memper hatikan hak masyarakat hukum adat, sepan- jang kenyataannya masih ada dan diakui keberadaannya, serta tidak bertentangan dengan kepentingan nasional.
Dalam penelusuran sejarah yang lain, ditemukan rekaman upaya untuk mengelola sumber daya hutan pada masa pemerintahan kolonial Belanda dimulai dari pengelolaan hutan jati (Tectona grandis) di Jawa dan Madura pada pertengah an abad ke-19, setelah lebih dari 200 tahun lamanya hutan alam jati di eksploitasi secara besar- besaran oleh pemerintah Hindia Belanda untuk memasok bahan baku industri- industri kapal kayu milik pengusaha Cina dan Belanda, yang tersebar di sepanjang pantai Utara Jawa mulai dari Tegal, Jepara, Juwana, Rembang, Tuban, Gresik, sampai Pasuruan (Peluso, 1990, 1992; Simon, 1993, 1999).8
7. Noer Fauzi, Petani dan Penguasa, Dinamika Perjalanan Politik Agraria Orde Baru, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, bekerjasama dengan Insist Press dan Konsorsium Pembaruan Agraria, 1999.
8. Dr. I Nyoman Nurjaya, SH, M.Hum, Sejarah Hukum Pengelolaan Hutan di Indonesia, Fakultas Hukum dan Program Studi Ilmu Hukum, Program Pascasarjana Universitas Brawijaya, Malang
Sampai akhir abad ke-18 kondisi hutan jati di Jawa mengalami degra- dasi yang sa ngat serius, sehingga mu- lai me ngancam kelangsungan hidup perusahaan-perusaha an kapal kayu yang mengandalkan pasokan kayu jati dari kawasan hutan. Karena itu, ketika peme rintah kolonial Belanda kemudian me ngangkat Herman Willem Daendels se bagai Gubernur Jenderal di Hindia Be- landa pada awal abad ke-19, tepatnya pada tanggal 14 Januari 1808, salah satu tugas yang dibebankan kepada Daendels adalah merehabilitasi kawasaan hutan melalui kegiatan reforestasi.
Kebijakan yang dilakukan Daendels pada masa pemerintahannya di Hin- dia Belanda dengan melakukan re- forestasi dan menetapkan peraturan hukum yang membatasi eksploitasi sumberdaya hutan jati di Jawa, dipan- dang sebagai awal dari kegiatan pe- ngelolaan hutan yang mengguna kan teknik ilmu kehutanan dan institusi modern di Indonesia, terutama setelah Daendels membentuk Dienst van het Boschwezen (Jawatan Kehutanan) yang
diberikan wewenang mengelola hutan di Jawa (Supardi, 1974).
Kawasan hutan juga banyak di- buka untuk ladang-ladang palawija, tanaman jarak, kebun kopi, dan gua-gua perlindung an maupun untuk membang- un gudang-gudang penyimpanan logistik dan amunisi mesin perang Jepang. Karena itu, sampai menjelang jatuhnya kekuasaan Jepang, urusan kehutanan yang men- jadi salah satu sumber keuangan untuk membiayai pe rang tentara Jepang di Asia di masukkan ke dalam urusan Gonzyusei- zanbu (Departemen Produksi Kebutuhan Perang).
Untuk mendukung peningkatan penanaman modal asing maupun mo- dal dalam negeri di bidang pengusahaan sumber daya hutan, maka pemerintah membangun instrumen hukum yang dimulai dengan pembentukan UU No. 5 Tahun 1967 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Kehutanan (LN. Tahun 1967 No. 8 dan Tambahan LN. No. 2823). Kemudian, untuk melaksanakan ketentuan mengenai pe ngusahaan hutan yang mendasari
kebijakan pemberian konsesi eksploi- tasi sumber daya hutan, maka dikeluar- kan PP No. 21 Tahun 1970 yunto PP No.
18 Tahun 1975 tentang Hak Pengusa- haan Hutan dan Hak Pemungutan Hasil Hutan (HPH dan HPHH). Segera setelah Peraturan Pemerintah ini dikeluarkan, mulailah ke giatan eksploitasi sumber daya hutan secara besar besaran dilaku- kan peme rintah, terutama di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Irian Jaya (Papua), melalui pemberian kon- sesi HPH dan HPH kepada pemilik mo- dal asing maupun modal dalam negeri dalam bentuk Badan Usaha Milik Swasta (BUMS) maupun kepada Badan Usaha Milik Negara (BUMN).9
Di Indonesia, pertambangan telah dimulai berabad-abad lalu. Namun pertambangan komersial baru dimulai pada zaman penjajahan Belanda, diawali dengan pertambangan batubara di Pengaron-Kalimantan Selatan (1849) dan pertambangan timah di Pulau Bilitun (1850). Sementara pertambangan emas
modern dimulai pada tahun 1899 di Bengkulu–Sumatera. Pada awal abad ke-20, pertambangan-pertambangan emas mulai dilakukan di lokasi-lokasi lainnya di Pulau Sumatera. Pada tahun 1928, Belanda mulai melakukan penambangan Bauk- sit di Pulau Bintan dan tahun 1935 mulai menambang nikel di Pomalaa-Sulawesi.
Setelah masa Perang Dunia II (1950-1966), produksi pertambangan Indonesia me- ngalami penurunan. Baru menjelang tahun 1967, pemerintah Indonesia me- rumuskan kontrak karya (KK). KK pertama diberikan kepada PT. Freeport Sulphure (sekarang PT. Freeport Indonesia).10
Dalam sejarah pertambangan minyak di Indonesia menjelang abad 19, indus- tri minyak bahkan menjadi kunci dalam dinamika proses diplomasi di awal ke- merdekaan. Dengan komitmen penyerah- an beberapa blok yang dapat dikuasai oleh asing, maka tidak ada sedikitpun keuntung an politik sosial yang didapat oleh rakyat setelah melaluinya secara
9. ibid
10. www.bappenas.go.id/get-file-server/node/2502, Mengatasi Tumpang Tindih antara Lahan Pertambangan dengan Kehutanan, Direktorat Sumber Daya Mineral dan Pertambangan.
berdarah-darah dalam perjuangan selama 350 tahun. Strategisnya industri ini mem- buat elit kuasa sebagai alat kuasa modal perlu melibatkan militer untuk menga- mankan berbagai instalasi pertambangan di Indonesia hingga hari ini.
Bila skandal kuli di Sumatera Timur telah berperan membidani legislasi so- sial pemerintahan kolonial Belanda de- ngan terbentuknya Inspeksi Perburuhan, maka skandal Billiton juga memiliki pe- ranan penting dalam melahirkan un- dang-undang pertambangan pertama di Hindia-Belanda. Skandal itu bermula dengan pendirian sebuah perusahaan Billiton (Billiton Maatschappij) pada awal tahun 1852 di pulau Belitung. Pangeran Hendrik, saudara muda Raja William III, keluarga kerajaan Belanda, memainkan peranan penting dalam memuluskan ja- lan memperoleh izin konsesi selama 40 tahun untuk mengeksploitasi timah di Belitung. Padahal, pemerintah kolonial Belanda telah mengeluarkan peraturan sebelumnya yang menutup eksploitasi penambangan di daerah-daerah luar Jawa untuk perusaha an swasta.
Meskipun dalam masa penjajahan, akan tetapi nampak ada sikap yang frag- mentaris dari aktor-aktor negara terhadap isi undang-undang pertambangan baru itu, pro-kontra terhadap pengakuan hak-hak pemilikan tanah dan kekayaan mi neral di dalamnya. Undang-undang pertambangan tersebut lebih berorientasi pada kepenting- an kapitalis, setidaknya untuk para investor Belanda. Perubahan undang-undang per- tambangan tahun 1899 juga diawali de- ngan skandal, bukan dalam usaha untuk memikirkan sistem pengelolaan sumber daya tambang secara konsisten.11
Pada masa paska kemerdekaan, kuasa korporasi dan berbagai lembaga ke uangan internasional yang sangat be- sar di Indonesia di awali oleh peraturan perundangan yang di keluarkan peme- rintah sejak ujung kekuasaan Soekarno, di perbesar oleh rezim Soeharto dan berlangsung hingga saat ini. Di awali UU No 1/1967 tentang Penanaman Modal Asing, UU No 5/67 Tentang Kehutanan,
11. Erwiza Erman, Kekuasaan Melawan Keadilan: Melacak Sejarah Undang-Undang Pertambangan, http://www.
jatam.org/content/view/107/12/
UU No 11/67 tentang Pertambangan, Kontrak Karya Pertambang an Generasi I dan II, menghantar Indonesia memasuki fase: Jual Murah; Jual Cepat; dan Jual Habis Kekayaan Alam demi kejayaan korporasi.
Yang tidak bisa dilepaskan juga bagaimana agenda liberalisasi atas sum- ber alam terus didorong oleh lembaga keuangan internasional dan korporasi untuk terus menguasai sumber daya alam di Indonesia. Liberalisasi migas adalah salah satu paket yang tercan- tum dalam nota kesepaham an antara Indonesia dan IMF pada 1998. Secara berturut-turut, beberapa perundangan yang menyokong kuasa korporasi antara lain: UU Minyak dan Gas, UU 41/1999 tentang Kehutanan, Perpu No 1/2004 yang telah jadi UU N0 19/2004 tentang Per tambangan di Kawasan Lindung, UU No 7/2004 tentang Sumber Daya Air, regulasi yang saat pembuatannya di- dukung oleh Bank Dunia yang berke- hendak menjadikan air sebagai komoditi pasar dengan skema privatisasi. UU No.
18 tahun 2004 tentang perkebun an,
UU 25/2007 tentang Penanaman Modal yang memberikan berbagai keleluasaan dan keistimewaan kepada pemodal (private sector) untuk memperoleh man- faat dari bumi Indonesia; diantaranya Hak Guna Usaha (HGU) yang mencapai 95 tahun, ke ringanan berbagai bentuk pajak, hingga terbebas dari ancaman nasionalisasi. Seolah dayung-bersam- but, lahirnya UU No.26 Tahun 2007 ten- tang Penataan Ruang (UUPR) melengka- pi kepentingan investasi atas akumulasi profit, dengan dalih pembangunan.
Masyarakat Indonesia kembali dike- jutkan dengan lahirnya Undang-undang No. 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil (UUPWP-PPK), yang disahkan pada tang- gal 26 Juni 2007 lalu. Tidak jauh berbeda dengan UUPM, UUPWP-PPK-pun men- jadi landas kebijakan untuk mempriva- tisasi wilayah perairan, pesisir (termasuk kolam air) dan pulau-pulau kecil, melalui Hak Pengusahaan Perairan Pesisir (HP-3).
Dalam catatan panjang sejarah Indone- sia, ini merupakan kali pertama nega- ra mem beri kan landasan hukum atas
pe ngusahaan wilayah perairan, pesisir dan pulau-pulau kecil, dengan masa penguasa an selama 20 tahun dan dapat diperpanjang untuk 20 tahun berikutnya.
Bukan hanya dalam kebijakan pe- ngelolaan sumber daya alam, bahkan kebijakan penyelamatan kawasan (kon- servasi) juga tidak bisa dilepaskan dari kepentingan kekuasaan. Konservasi yang sudah mulai hadir sejak masa Hindia Belanda dengan adanya inisiatif pengu- kuhan kawasan hutan seluas 6 hektar di Depok sebagai cagar alam (Natuur Reser- vaat) pada tahun 1714 dengan nama Cagar Alam Pancoran Mas. Selanjutnya di- keluarkan Ordonnantie tot Bescherming van sommige in het levende Zoogdieren en Vogels (Undang-undang Perlindungan bagi Mamalia Liar dan Burung Liar). Pada 1912 juga didirikan Nederlands Indische Vereniging tot Natuur Bescherming (Per- himpunan Perlindungan Alam Hindia Be- landa) oleh Dr. S. H. Koorders, dkk, yang kemudian menunjuk dua belas lokasi ka- wasan yang perlu dilindungi di Pulau jawa dan ditetapkan sebagai monumen alam (Natuur Monumenten) yang tidak boleh
diusik. Hal ini dilanjutkan dengan terbitnya Saatsblad No. 278 pada Maret 1916 yang kemudian menunjuk 55 kawasan sebagai Cagar Alam.
Pada tataran konsepsi, berbagai ke bijakan konservasi sumber daya alam juga masih berlandaskan pada pandang- an yang bersifat preservatif, yang secara kaku memandang sumber daya alam sebagai sesuatu yang statis, dan karena perlu diawetkan dalam sebuah museum alam yang bahkan diistilahkan sebagai
“terlarang untuk disentuh”. Cara pandang ini anti pembaruan dan menafikan ke- mampuan dinamis alam.
Dari cara pandang yang berbeda ter- hadap konservasi inilah yang kemudian melahirkan konflik berkelanjutan pada ka- wasan konservasi. WALHI mencatat bahwa hingga tahun 2010 telah terjadi beberapa pengusiran rakyat dari kawasan konser- vasi di Indonesia, diantaranya di TN Lore Lindu, TN Kutai, TN Meru Betiri, TN Ko- modo, TN Rawa Aopa Watumoi, TN Taka Bonerate, TN Kerinci Seblat dan beberapa kawasan lainnya. Bahkan di TN Komodo,
masyarakat nelayan hingga saat ini dila- rang melakukan aktivitas penangkapan ikan di kawasan tangkap tradisional mer- eka yang diklaim sepihak sebagai zona inti taman nasional. Beberapa kasus yang terjadi di kawasan konservasi antara lain adalah pembangun an jalan di Kawasan Ekosistem Leuser dan Taman Nasional Gunung Leuser, pengusiran dan penem- bakan nelayan di Taman Nasional Komo- do, Operasi Napoleon di Taman Nasional Wakatobi, pe ngusiran masyarakat Dongi- dongi di Taman Nasional Lore Lindu dan pengusiran rakyat Moronene di Taman Na- sional Rawa Aopa Watomohai.
Di sisi yang lain, konservasi justru menjadi mainan bagi bisnis konservasi de- ngan berbagai aktor dan praktek- praktek yang dijalankan. Mulai dari bisnis satwa, memprivatisasi beberapa kawasan taman nasional, di antaranya Taman Nasional Bromo Tengger-Semeru kepada perusaha- an Sumitomo-Jepang, Taman Nasional Gunung Halimun-Salak kepada Bakri- eland seluas 1.000 hektare, Taman Nasi- onal Bukit Barisan Selatan kepada PT Adi Niaga Kreanusa. Yang teranyar, konservasi
menjadi mainan baru bagi bisnis karbon melalui mekanisme REDD plus yang sema- kin menjauhkan akses dan kontrol rakyat terhadap sumber-sumber kehidupannya.
Jika melihat dari perjalanan pan- jang sejarah pengelolaan sumber daya alam di Indonesia, kita dapat menangkap bagaimana sejarah pengelolaan sumber daya alam tidak lebih merupakan rekaman atas periodisasi penjarahan sumber daya alam dengan modus yang mirip. Praktek industrialisasi yang disokong infrastruktur skala raksasa.Ini menjadi landasan atau pijakan model pembangunan yang ber- ujung pada tata kuasa, tata penggunaan lahan, tata produksi dan tata konsumsi yang menguntungkan segelintir kuasa politik dan kuasa modal.
Mengemukanya kepentingan pe- rusahaan dan lemahnya kekuasaan para pejabat pemerintahan telah berlanjut sampai Indonesia merdeka bahkan sam- pai masa Orde Baru. Rezim pemerintahan Orde Baru telah mengkopi pemerintahan kolonial Belanda dalam sistem peme- rintahan yang sentralistis. Dalam sistem
pemerintahan yang sentralistis, para Kepala daerah begitu lemah dan men- jadi perpanjangan tangan pusat, dan bahkan sistem peme rintahan tersendiri seperti kasus pulau Belitung bisa dicip- takan berbeda dari yang lain dalam rangka memuluskan usaha pertambangan timah swasta.
Kebijakan pemerintahan pasca ke- merdekaan sampai reformasi memang ti- dak ada yang berubah dalam pengelolaan sumber daya alam memang mewariskan watak kolonialisme.Kolonialisme dalam hal ini digambarkan sebagai penemuan tanah baru dimana dari tanah tersebut dapat dengan mudah mendapatkan bahan- bahan mentah (sumber daya alam) yang dapat dieksploitasi dengan mengguna- kan buruh murah dari penduduk pribumi.
Sumber daya alam (SDA), sesungguhnya selalu menjadi alasan utama bagi kolo- nial dimanapun untuk mendominasi dan menanamkan kekuasannya. Dari sini saja jelas digambarkan, bahwa penguasaan Negara (kolonialisasi) terkait erat dengan
sumber daya alam sebuah Negara. (Cecil Rhodes (1852-1902).
Dari cerita perjalanan sejarah pe- nge lolaan sumber daya alam di Indone- sia ini dapat dibaca, bagaimana mental inlandeer begitu merasuk hingga bawah- sadar. Mental di mana kekuasaan menjadi alat untuk menindas rakyat jelata melalui berbagai perangkat kebijakan dan regula- si. Sedangkan antar mitra bisnisnya adalah saling menjaga untuk mendapat kekuatan yang lebih besar dengan menjilat bahkan cenderung didikte, atas nama kekuasaan ekonomi.
Hampir semua kebijakan yang di- keluarkan, tidak lebih berisi tentang pe- nguasaan tanah dan sumber daya alam ditangan orang perorang dengan sistem monopoli, oligopoli, maupun praktek kar- tel dalam bidang pengelolaan sumber daya alam. Jika dulu aktornya dominasi satu bangsa atas bangsa yang lain, kini aktornya bisa berwajah banyak dan lintas negara dan pemodal.
Kebijakan SDA, Untuk Siapa?
Hakikatnya tujuan perjuangan kemerdekaan Indonesia tidak lain adalah menuju Negara Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur12. Merdeka dan berdaulat secara politik untuk menentukan arah Negara Bangsa. Merdeka secara ekonomi yang berpihak pada ke- pentingan rakyat banyak. Merdeka secara sosial dan budaya agar memiliki identitas dan jati diri dan mampu memberikan ruang sebesar-besarnya untuk mencerdaskan ke- hidupan berbangsa. Agar ini ter capai maka dibutuhkan itikad politik yang meniadakan monopoli dan pe nguasaan besar- besaran sumber daya alam oleh swasta dan asing13, sehingga kesejahteraan benar-benar untuk rakyat.
Faktanya, dari waktu ke waktu, se- jak zaman kolonialisasi, orde lama, orde baru, hingga masa reformasi, rakyat selalu ditempatkan sebagai objek semata. Jika melihat krisis yang dialami rakyat dari
tahun ke tahun, sesungguhnya kita sedang melihat siklus yang sama. Derajat korban dari waktu ke waktu pun mengalami hal yang sama. Tak bernama, tak berwajah.
Mari kita lihat fakta-fakta ketimpangan dan krisis yang terjadi sejak jaman kolonial hing- ga berlanjut pada masa reformasi saat ini.
Kemiskinan menjadi sebuah fakta riil dari masa ke masa. Dialami oleh rak- yat yang tidak memiliki “kemampuan”
me respon krisis yang diciptakan akumu- lasi kekuatan modal dan kuasa. Bahkan, krisis ini terus menerus lahir de ngan durasi lebih panjang dan meluas. Badan Pusat Statistik menyampaikan data kemiskin- an pada 2006 yang meningkat, mencapai 3,90 persen dari tahun sebelum nya, men- jadi 35,10 juta orang. Angka itu se bagian besar ada di pedesaan. Penyebabnya adalah semakin hilangnya sumber- sumber produksi karena di kuasai para elit kuasa modal. Jangankan kesejahteraan atau ke makmuran, keselamatan rakyat saja tak pernah di hitung sebagai sebuah ongkos (cost), yang ha rusnya menjadi dasar pe- ngambilan kebijakan pembangunan.
12. Pembukaan UUD Negara Republik Indonesia 13. Pasal 13 UU No.5 tahun 1960, tentang Peraturan
Dasar Pokok Pokok Agraria
Hingga kini kemiskinan di pedesaan dan pertanian juga tidak pernah menjadi perhatian pemerintah sekarang. Jumlah penduduk yang bekerja di sektor perta- nian adalah 44,3 persen. Namun, mereka hanya menyumbang 15.9 dari PDB Na- sional 2008 yang berarti sebagian besar petani hidup dalam kemiskinan. Rata- rata kepemilikan lahan yang dipunyai oleh petani hanya 0.17 hektar lahan/
perkapita. Sebagian besar di dalamnya adalah buruh tani yang tidak mempu- nyai lahan sama sekali (landless). Semen- tara itu, terdapat 12.418.056 (dua belas juta empat ratus delapan belas ribu lima puluh enam) hektar tanah terlantar
(Deptan, 2007) tidak pernah diberikan kepada rakyat.
Selain miskin, rakyat setiap hari juga harus berhadapan dengan perampasan tanah. Hingga tahun 2008, tercatat 10,8 juta hektar tanah petani dan masyarakat adat telah dirampas oleh perusahaan yang difasilitasi negara. Ada lebih dari 1,1 juta KK yang menjadi korban. Ma- yoritas konflik tersebut menempatkan perempuan dan anak-anak sebagai pihak yang paling menderita, akibat kerentan- an dan kondisi ketidak adilan gender yang selama ini sangat menyolok dalam pengurus an kekayaan alam Indonesia.
Kepemilikan tanah sebagai pilar ter- penting kegiatan produksi semakin lama kian tidak ramah dengan kebutuhan sek- tor pertanian. Rata-rata lahan kepemilikan rumah tangga petani semakin menciut, bahkan kini di Jawa rata-rata kepemilikan lahan itu hanya 0,25 hektare. Penciutan kepemilikan lahan itu bisa bersumber dari pola warisan yang membuat lahan terfrag- mentasi, infiltrasi sektor industri atau jasa yang lapar lahan, dan kebijakan pemerin- tah yang meninggalkan sektor pertanian.
Di sektor kehutanan, setidaknya sampai tahun 1999, pemberian hak pengusaha an hutan (HPH) oleh Menteri Kehutanan pada 579 konsesi HPH di In- donesia, didominasi hanya oleh 25 orang pengusaha kelas atas. Masyarakat lokal yang tinggal di dalam dan sekitar hutan yang menggantungkan hidupnya dari sumber daya hutan, harus diputuskan dari ekonomi kayu yang dilegitimasi oleh perangkat perundang-undangan. Ha- sil penelitian WALHI tentang rente eko- nomi penguasa an hutan di Indonesia menunjukkan bahwa pendapatan dari hasil eksploitasi hutan sebesar 2,5 Milyar
US$ pertahunnya, hanya 17 persen yang masuk ke kas negara, selebihnya masuk ke kantong-kantong pengusaha. Bank Dunia (World Bank, 1993) malah menghi- tung hanya 12 persen yang masuk ke kas negara.14 Padahal sekitar 80 juta jiwa pen- duduk Indonesia masih bergantung lang- sung terhadap keberadaan hutan (LATIN, 2000), dan 48,8 juta di antaranya adalah penduduk miskin (Brown, 2004).15
Bagaimana dengan nasib kelestari an hutannya sendiri? Dapat ditebak, para- digma yang salah dalam mengelola hutan sejak jaman kolonial hingga rejim SBY ini menunjukkan angka merah di sektor ini.
Dalam kurun waktu kurang dari 25 tahun, sejak tahun 1898-1922 hutan yang hi- lang mencapai 22.000 km2 (atau 220,000 hektar) (Whitten: 1996). Sebagian besar digunakan untuk pembangunan jalan ke- reta api mengikuti jalan raya pos. Semen- tara itu sejak tahun 1830-an hingga 1900 hutan yang hilang sudah mencapai 5 juta
14. Emmy Hafild-Arimbi HP, Membumikan Mandat Pasal 33 UUD 1945, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia 1999
15. Sistem Hutan Kerakyatan, http://kpshk.org/index.php/
artikel/read/2009/02/24/105/sistem-hutan- kerakyatan.
kpshk
hektar. Hingga tahun 1973 saja, hutan alam di Jawa hanya tinggal 11% (Donner:
1987).16
Krisis yang lain dari jaman ke jaman, problem dasar sektor kehutanan hampir sama, tumpang tindih perijinan di kawasan hutan yang menimbulkan konflik baik itu konflik vertikal maupun konflik horizon- tal. Konflik tersebut semakin meruncing, dimana tidak ada hak untuk masyarakat dalam pengelolaan hutan, sampai de ngan tahun 2010 ini terdapat 19.420 desa di ka- wasanan hutan di 32 provinsi; Di dalam Kawasan Hutan Lindung 6.243 desa; Di dalam Kawasan Konservasi 2.270 desa.
Di dalam Kawasan Hutan Produksi 7.467 desa; Di dalam Kawasan Hutan Produksi Terbatas 4.744 desa; Di dalam Kawasan Hutan Produksi Konversi 3.848 desa. Sam- pai dengan tahun 2010, ada 22,5-24,4 jt Ha konflik (klaim) desa/kampung atas ka- wasan hutan. Disisi lain, izin pinjam pakai kawasan hutan yg terdaftar di Kemen- hut sampai dengan bulan Mei 2010 ter-
catat telah diberikan izin untuk 184 unit kegiatan usaha.
Data Departemen Kehutanan me- nyebutkan bahwa saat ini luas tutupan hutan yang tersisa tinggal 45.145,4 juta hektar. Pemerintah masih melihat hutan sebagai sebuah pundi keuangan yang tidak berhenti dijarah. Sementara berda- sarkan data yang dihimpun WALHI dari berbagai sumber, kondisi penutupan lahan berhutan saat ini sebagai berikut : Hutan Primer : 39.003,6; Hutan Sekunder : 36.883,0; Hutan Tanaman : 3.245,3; HPK : 11.003,5 Total : 90.135,5 ha dari luas dara- tan Indonesia 1.922.570 km².
Di sektor tambang, sumber-sumber tambang seperti minyak, gas bumi dan ba- tubara yang dieksploitasi, bukan bertujuan untuk pemenuhan dalam negeri dan tidak diperuntukkan bagi kesejah teraan dan keselamatan rakyat yang hidup di lingkar tambang. Padahal dalam kurun waktu 1960-2001, total pendapatan negara dari penjualan minyak dan gas bumi (migas) saja mencapai 241 Milyar US$. Keberhasilan yang dicatat oleh pemerintah di sektor ini
16. Tim Riset Java Collapse, Java Collapse, Dari Kerja Paksa Hingga Lumpur Lapindo, WALHI-Insist Press 2010
sepanjang empat dekade terakhir dilihat pada berapa banyak jumlah ijin tambang baru, dimana angkanya mencapai 2559 perijinan tambang dan batubara, belum termasuk iin-ijin yang dikeluarkan di masa otonomi daerah.17
Di perkebunan besar kelapa sawit, pemerintah memfasilitasi ekspansi in- dustri ini melalui kebijakan penyedia- an la han untuk perkebunan besar ke- lapa sawit. Kebijakan yang dibuat untuk mendukung industri ini antara lain me- lalui peraturan pemerintah no. 10 tahun 2010 tentang tata cara perubahan per- untukan dan fungsi kawasan hutan, se- lain itu pemerintah juga mengeluarkan PP No. 18 tahun 2010 mengenai Usaha Budi Daya Tanaman yang disahkan pada bulan Januari 2010. PP ini berniat untuk
menjabarkan lebih baik UU No. 12 tahun 1992 tentang Budidaya Tanaman, justru berakibat pada semakin kecilnya peluang bagi petani untuk berusaha dinegeri ini.
Semangat perlindungan ter hadap petani digugurkan oleh PP tersebut, dominasi swasta besar dan peran budidaya skala besar terfasilitasi oleh ini.
Dampaknya, luas Perkebunan Sawit di Indonesia terus meluas. Bahkan in- dustri sawit merencanakan perluasan ekspansinya hingga 26,710,800 hek- tar dan telah menghabisi kurang lebih 3.020.689,40 hektar kawasan hutan dan 3.145.182,20 hektar lahan gambut. Ke- giatan usaha perkebunan kelapa sawit ini juga bertolak belakang dengan niat pemerintah untuk melakukan konser- vasi kawasan gambut.
17. Jaringan Advokasi Tambang, Menguatkan Veto Rakyat Menurunkan Daya Rusak Tambang, Perjalanan Mandat Jatam 2007-2010, Februari 2010.
Tahun Luas (hektar)
Eksisting Rencana Ekspansi
2006 6,495,187 19,840,000
2007 7,417,379 22,123,600
2008 7,825,253 24,427,200
2009 9,091,227 26,710,800
Sumber: sawit watch (Feb, 2010)
Krisis kedaulatan yang terjadi bang- sa ini semakin dilengkapi dengan situasi dan kondisi dimana tidak lagi memiliki kedaulat an atas pangan yang dibutuh- kan oleh rakyat. Pengurus negara meng- gunakan pilihan politiknya untuk terus-
menerus menciptakan krisis di negeri ini, yang produksi pangannya bergantung pada industri pertanian trans-nasional dan multi-nasional, dan menempatkan pangan sebagai komoditas untuk meng- umpulkan akumulasi modal.
Kebijakan revitalisasi pertanian dan food estate justru makin menghancurkan kedaulatan pangan Indonesia. Proyek Me- rauke Integrate Food and Energi Estate (MIFEE) akan mengambil lahan yang seba- gian besar merupakan kawasan hutan dan lahan masyarakat adat seluas 1,6 juta Ha yang kesemuanya telah dibagi-bagi untuk 32 perusahan, termasuk perusahaan- perusahaan besar yang selama ini me- miliki track-record yang buruk baik terkait dengan lingkungan maupun rakyat.
Menurut data Badan Koordinasi Pe nanaman Modal Daerah dan Perizin- an (BKPMDP) Pemerintah Kabupaten Me rauke, 32 perusahaan yang telah mendapat izin prinsip tersebut berge- rak pada beberapa sektor. sektor kelapa sawit (316.347 Ha), perkebunan tebu (156.812), perkebunan jagung (97.000 Ha), areal HTI (973.057,56 Ha), areal tana- man pangan (69.000 Ha), pengolahan kayu serpih (2.818 Ha) dan areal pem- bangunan dermaga (1.200 Ha). Total
kesuluruh an izin yang sudah dikeluarkan sebesar 1.616.234,56 Ha.
Tidak kurang dari 85% produksi mi- gas dikendalikan oleh perusahaan swasta asing, PT. ANTAM sahamnya hampir 50%
dikuasai oleh asing. Lebih dari 50% dari total area perkebunan kelapa sawit sekitar 7,8 juta hektare di Indonesia milik asing. Di antaranya pengusaha asal Malaysia, Singa- pura, AS, Inggris, dan Belgia. Selama tidak terjadi perubahan struktur ekonomi, maka isu nasionalisme dalam industri perke- bunan gagal mendapatkan argumentasi yang jelas.18
Tingginya laju eksploitasi sumber daya alam, yang disertai dengan tingkat kerusakan lingkungan dan konflik sosial tidak sebanding dengan keuntungan finansial yang diterima oleh negara. Pe- nerimaan Sumber Daya Alam (SDA) yang terdiri dari penerimaan Minyak bumi dan gas bumi (migas) dan Non Migas se- perti pertambangan umum, kehutanan, pe r ikanan, dan pertambangan panas bumi. Penerimaan SDA pada tahun 2009 sebesar Rp139,0 triliun misalnya, hanya memberikan kontribusi sekitar 16% dari total penerimaan negara sebesar Rp871 triliun.
2005 2006 2007 2008 2009 2010 APBN-P Penerimaan SDA Migas
- Minyak bumi - Gas Bumi
Penerima SDA Nonmigas - Pertambangan umum - Kehutanan
- Perikanan - Panas Bumi
103,8 72,8 30,9 6,7 3,2 3,2 0,3 -
158,1 125,1 32,9 9,4 6,8 2,4 0,2 -
124,8 93,6 31,2 8,1 5,9 2,1 0,1 -
211,6 169,0 42,6 12,8 9,5 2,3 0,1 0,9
125,8 90,1 35,7 13,2 10,4 2,3 0,1 0,4
151,7 112,5 39,2 13,0 9,7 2,9 0,2 0,2 Penerimaan SDA 110,5 167,5 132,9 224,5 139,0 164,7
18. WALHI, Evaluasi 1 tahun pemerintahan SBY-Boediono, Oktober 2010
Sementara disisi yang lain, penguasa- an sumber daya alam yang berada di tangan segelintir kelompok ini telah menghasilkan orang-orang kaya di sektor sumber daya alam. Dari daftar nama-nama orang terkaya di Indonesia versi majalah Forbes pada tahun 2010 ini, sebagian besar merupakan pemilik industri ekstrak- tif yakni sektor tambang dan perkebunan besar kelapa sawit.
Akumulasi pembayaran cicilan bu- nga dan pokok utang dalam APBN yang mencapai Rp702,209 triliun pada periode tahun 2005 – 200919 tersebut melebihi total belanja subsidi energi 2005 – 2009 sebesar Rp641,4 triliun, serta total alo- kasi belanja subsidi non energi sebesar Rp172,2 triliun. Kebijakan ekonomi yang kecanduan utang tersebut menyebabkan peningkatan kepemilikan asing dalam Surat Utang Negara hingga mencapai Rp. 148 triliun. Kondisi ini menjelaskan bahwa pemerintah, khususnya mente- ri keuangan telah melakukan kejahatan dengan membenarkan terjadinya transfer
kekayaan yang dikumpulkan dari pajak dan sumber daya alam dari Indonesia ke negara maju dalam bentuk pembayar an utang dengan jumlah yang sangat besar.20 Jebakan utang inilah yang menyebabkan semakin terkikis nya kedaulatan bangsa ini.
Yang juga patut dicermati adalah masih kuatnya pendekatan kekerasan, dan kriminalisasi oleh negara dalam pe- ngelolaan sumberdaya alam. WALHI men- catat hingga tahun 2008 terdapat 317 kasus sengketa agraria dan sumberdaya alam yang turut serta ditangani WALHI dimana kasus tersebut melibatkan rakyat berhadap-hadapan dengan kekuatan aparatur negara dan modal. Keseluruhan kasus tersebut, rata-rata mengandung unsur kekerasan dan pelanggaran hak asasi manusia (HAM). Merujuk data Komi- si Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM), terdapat 4000 kasus konflik yang timbul atas perebutan kawasan kelola atas sumberdaya alam (2008).
19. Diolah dari data DIREKTORAT JENDERAL PENGELOLAAN
UTANG 20. Koalisi Anti Utang, Desember 2009)
Komisi Nasional Anti Kekerasan ter- hadap Perempuan (Komnas Perempuan) mencatat, pada tahun 2007 paling tidak ada 52 kasus kekerasan yang dialami oleh perempuan terkait dengan isu pengelo- laan lingkungan hidup dan sumber daya alam. Angka ini menjadi petunjuk bahwa kekerasan yang dialami oleh perempuan mulai dari rumah hingga pekarangan dan negaranya, tidak lepas dari apa per- tarungan perebutan pengelolaan ke- kayaan alam. Sebuah potret kekerasan dalam pengelolaan sumber daya alam ter- hadap perempuan berbasis jender dalam sebuah relasi personal, dalam komunitas dan dalam lingkup negara yang terkait dengan agresi pasar dan alir kapital yang berdasarkan pada produksi kotor, keta- makan dan mengabaikan keberlanjutan lingkungan hidup.
Konsorsium Pembaruan Agraria, men- catat bahwa hingga tahun 2007 terdapat 1.537 konflik agraria di Indonesia dengan melibatkan 10 juta hektar tanah dan 10
juta penduduk. Sedangkan Sawit Watch, salah satu organisasi yang konsen pada isu perkebunan sawit dan HAM mencatat sampai untuk tahun 2007 terdapat 514 ka- sus yang terjadi di 14 propinsi, melibatkan rakyat, serta 141 perusahaan sawit, dari 23 grup usaha dan pemerintah.
Dalam catatan konflik yang dilapor- kan ke WALHI dalam satu tahun ini, prak- tek-praktek kekerasan dan kriminalisasi terus terjadi terhadap rakyat yang mem- perjuangkan sumber-sumber kehidupan- nya. Karenanya tidak mengherankan jika konflik agraria dan sumber daya alam antara korporasi yang ditopang oleh in- stitusi negara dengan rakyat terus me- ningkat dari hari ke hari, dan bahkan di beberapa wilayah stabilitas keamanan bagi investasi menjadi legitimasi bagi aparat keamanan untuk melakukan ke- kerasan dan kriminilasasi terhadap pe- tani, nelayan dan kelompok rakyat yang selama ini memperjuangkan hak-hak atas sumber kehidupannya.
Kasus-kasus kekerasan yang ditangani WALHI sepanjang tahun 2010
No Kasus Daerah Waktu
1 Penangkapan terhadap Kuntoro, warga dusun Besuk Kediri dengan tuduhan pemalsuan benih
Kediri Jawa Timur
15 Januari 2010
2 Penangkapan 2 orang aktifis FORI saat aksi 100 hari pemerintahan
SBY-Boediono
Jakarta 28 Januari 2010
3 Intimidasi dan penangkapan 8 mahasiswa UNP Sumbar saat aksi ter- kait bantuan gempa 2007
Padang 10 Februari 2010
4 Penghadangan dan penggagalan kegiatan sedekah bumi di desa Sido Mulyo Banyuasin oleh 1500 Orang tadi, telah membangun Posko Posko penjagaan di Lahan Kelapa Sawit Milik Warga yang selama ini di klaim oleh PT. PN VII.
Banyuasin 3 Februari 2010
5 Sejumlah 103 orang suku Bajau Pela’u digiring melalui jalan darat ke Tanjung Redeb, ibu kota Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, dan berakhir di penampungan Aula Dinas Sosial Kabupaten Berau. Kapolres Kabupaten Berau mendapati mereka tidak memiliki identitas dan sedang ditampung untuk proses deportasi ke Malaysia atau Filipina.
Kaltim 12 Maret 2010
6 Penangkapan 15 aktivis dalam penolakan Tambang di Talaga Perlawanan rakyat talaga raya atas pertambangan nikel PT. Arga Morini Indah di Kabupaten Buton, Sulawesi Tenggara.
Buton 17 Mei 2010
7 Konflik masyarakat Pering Baru Seluma Bengkulu vs PTPN VII. terjadi kekerasan terhadap masyarakat Pering baru Kec.
Semidang Alas Maras, Kabupaten
Bengkulu 23 July 2010
Seluma, Bengkulu. dalam peristiwa tersebut 22 orang di tangkap, 20 diantaranya menjadi tersangka dan 6 perempuan mengalami pelecehan seksual.
8 Penangkapan Faizin dan Fathul Rohman petani kayu desa kepil Wonosobo Pada hari senin, tanggal 26 juli 2010 Jam 11.00, seorang petani bernama Faizin di desa kepil kec.kepil kabupaten wonosobo sedang
memanen sebagian kayunya untuk dijual dengan tujuan memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari keluarganya.
Jawa Tengah 26 Juli 2010
9 Kekerasan terhadap petani di Senyerang Jambi Konflik antara ma- syarakat Senyerangan dengan PT WKS (Sinar Mas Group). Pada 3 Agustus 2010, polisi melakukan pembubaran terhadap aksi massa petani hal ini menyebabkan 3 orang petani terluka, 2 orang petani (Iman dan Yusuf )
tertembak dan mengalami luka-luka diwajahnya
Jambi 3 Agustus 2010
10 Kriminalisasi pengurus P3UW pasca perusakan fasilitas PT AWS 2010 pasca pengerusakan fasilitas PT AWS, lima orang pengurus inti Perhimpunan petambak Plasma udang Windung (P3UW), dijadikan tersangka oleh kepolisian Tulang Bawang.
Lampung 2 September 2010
11 Insiden Pemukulan Anwar Sadat dkk oleh Rombongan Gubernur Sumatera Selatan saat Aksi hari tani nasional.
Sumsel 24 September 2010
12 Penembakan terhadap petani di Kuansing Riau terkait sengketa antara warga petani dan perkebunan kelapa sawit PT Tri Bakti Sarimas,
Riau 7 Juni 2010
Melihat dari fakta-fakta krisis diatas, dapat dipastikan bahwa berbagai ke- bijakan yang dikeluarkan oleh negara dalam pe ngelolaan sumber daya alam dan lingkung an hidup, seakan tidak ber- hubungan de ngan krisis yang dialami oleh rakyat. Karena semua kebijakan tersebut di dedikasikan bukan untuk keselamatan, produktifitas dan kesejahteraan rakyat, melainkan untuk kepentingan pasar dan kekuasaan. Konsep penguasaan negara dipelintir untuk kepentingan pengurus negara, demokrasi dibajak. Meskipun Mahkamah Konstitusi dalam pertimbang- an hukum Putusan Perkara UU Migas, UU Ketenaga listrikan, dan UU Sumber Daya Air (UU SDA) menafsirkan menge- nai “hak me nguasai negara (HMN)” bu- kan dalam makna negara memiliki, tetapi dalam pengertian bahwa negara hanya merumus kan kebijakan (beleid), melaku-
kan pengaturan (regelendaad), melaku- kan pe ngurusan (bestuursdaad), melaku- kan pengelolaan (beheersdaad), dan melakukan pengawasan (toezichthoun- dendaad).21
Desentralisasi yang diharapkan se- makin bisa mendekatkan akses dan kontrol rakyat, justru dijadikan ladang oleh pemerintah daerah untuk berlomba- lomba mengobral sumber daya alamnya.
Reformasi politik juga ditelikung, pemi- lu yang diharapkan menjadi ruang de- mokrasi dan pesta rakyat, berubah men- jadi ritual politik transaksional. Ini menjadi wajar, karena dalam politik transaksional, kemudah an mendapatkan cash money bersumber dari sumber daya alam dengan mengeluar kan ijin.
yang mengakibatkan seorang pet- ani perempuan tewas dan 1 orang mengalami luka serius.
13 Penangkapan terhadap 1 orang perempuan pencari brondol sawit di wilayah PTPN XIII-Sanggau
Kalimantan Barat Juni 2010
(sumber: data base kasus WALHI)
21. http://panmohamadfaiz.com/2006/10/08/penafsiran- konsep-penguasaan-negara/
Menemukan kebijakan yang ber- pihak kepada rakyat, tak ubahnya se- perti punguk yang merindukan bulan.
Boro-boro membuat rakyat sejahtera, keselamatan rakyat saja tidak pernah dihitung dalam setiap cerita yang ber- nama pembangunan. Setiap saat, rakyat terus dihantui dengan ancaman bencana ekologis. Dalam catatan WALHI, pada tahun 2009, sebanyak 1.713 total ben- cana telah terjadi di Indonesia. Diantara aset yang hilang yakni korban mening- gal kurang lebih 1.940 orang, kerusakan rumah sekitar 10.576 (WALHI, diolah dari berbagai sumber). Situasi terakhir di tahun 2010 tidak bertambah baik, menjelang satu tahun pemerintahan SBY-Boediono, bangsa ini kembali diwarnai oleh berbagai peristiwa bencana secara berturut-turut.
Sedikitnya 71 Kabupaten/Kota di Indone- sia dilanda banjir dengan intensitas yang terus ber ulang. Bahkan di Ibukota negara, dari Januari-September 2010, telah terjadi 23 kali peristiwa banjir.
Pasca reformasi, harus diakui terjadi berbagai perubahan yang positif terkait dengan hak-hak sipil dan politik seperti
kebebasan pers, reformasi sistem pemilu dan lain-lain.Namun pergeseran inipun ti- dak merubah secara fundamental politik kepentingan dan sirkulasi di tingkat elit kekuasaan, bahkan kemudian daerah mereplikasinya dalam sistem ekonomi dan politiknya.Secara substansi, reformasi gagal mewujudkan janjinya untuk memperbaiki pemenuhan keadilan dan hak-hak dasar rakyat, khususnya yang terkait dengan hak ekonomi, sosial dan budaya.
Momen reformasi dan transisi de- mokrasi telah dibajak oleh kepentingan elit politik yang tidak kalah korupnya dengan rejim orde baru, yang menghamba pada kepentingan pemilik modal. Elit-elit politik yang berganti baju dan elit politik reformis gadungan, justru semakin rakus mengaku- mulasi pengerukan kekayaan alam, peng- hancuran lingkungan hidup, penghisapan tenaga-tenaga rakyat dengan upah buruh yang murah dan menyuburkan kekerasan meskipun praktek kekerasannya berbeda di masa orba. Proses-proses penghan- curan sumber-sumber kehidupan rakyat inilah yang kemudian telah berakibat pada terjadinya krisis yang tidak terpulihkan.
Nilai-nilai kebangsaan yang diyakini, telah digerus oleh sistem kapitalisme yang menempatkan mekanisme pasar sebagai pilar utama dari kehidupan berbangsa.
Negeri ini sedang melihat proses kegenting- an ekologi yang tak terbendung, bencana ekologis mengancam dimana jutaan rakyat terus bertaruh atas keselamatan diri dan keluarga mereka akibat lemahnya peran negara didalam melindungi keselamatan warga negaranya sebagaimana yang di- amanatkan dalam Konstitusi negara.
Dalam buku Ecocide yang dituliskan oleh M. Ridha Saleh menyatakan bah- wa eksploitasi lingkungan hidup telah me ngarah pada pemusnahan sumber- sumber kehidupan manusia. Pemusnah- an tersebut terkait erat dengan praktek- praktek penghilangan hak-hak asasi manusia termasuk hak untuk hidup dan kelayakan ekosistem baik pada saat ini maupun di masa yang akan datang.
Sesat Pikir Pengelolaan SDA
Kritik mendasar dari pengelolaan sumber daya alam adalah ketika sumber
daya alam dilihat sebagai komoditas dan pundi-pundi ekonomi semata, tanpa memperhitungkan daya dukungnya di masa mendatang. Sehingga seluruh pengelolaannya kemudian diorientasikan bukan untuk kepentingan rakyat banyak, melainkan untuk kepentingan segelin- tir orang. Karena itulah pendekatannya kemudian dalam pengelolaannya yang di turunkan melalui berbagai kebijak- an yang bersifat sektoral dan sentralistik dengan tujuan untuk melanggengkan kekuasaan ekonomi dan politik bagi siapa saja yang saat itu berkuasa.
Tidak mengherankan jika yang terjadi sumber daya alam di kavling- kavling oleh institusi negara sesuai dengan kepentingan kelompoknya, tan- pa pernah melihat keterbatasan daya dukungnya. Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) dan Jaringan Advo-WALHI) dan Jaringan Advo- kasi Tambang(Jatam) mencatat, sekitar 35 persen daratan Indonesia dikuasai 1.194 pemegang kuasa pertambangan, 341 kontrak karya pertambangan, dan 257 kontrak pertambangan batu bara.
Konflik antarsektor tak terhindari karena
tiap departemen terkesan berlomba menerbitkan perijinan.
Di Kalimantan timur, terdapat 1180 Kuasa Pertambangan dan 33 Kontrak karya, yang luasnya mencapai 4,4 juta ha.
Ada 4,1 juta ha kebun skala besar Sawit dan sekitar 8,7 juta ha usaha pegelolaan hutan dan 4,6 juta ha kawasan lindung.
Jika ditumpang tindihkan seluruhnya, luas- nya mencapai 21,7 juta ha, lebih dari luas propinsi yang mencapai 19,6 juta ha.22
Banyak peraturan perundang- undangan yang masih bertabrakan isi maupun kewenangannya. Dalam pengkajian yang telah dilakukan oleh ornop yang concern dengan isu lingkung- an hidup dan sumber daya alam, telah ditemukan sejumlah undang-undang yang saling bertentangan satu sama lain, bahkan ada undang-undang yang sama sekali tidak mengacu pada TAP MPR PA PSDA, bahkan bertentangan dengan UU dasar 1945 yang merupakan Konstitusi negara. UU perkebunan, UU sumber
daya air, secara prinsip telah mengang- kangi TAP MPR PA PSDA. Karena pros- esnya tidak diawali dengan melakukan kajian peratur an sebelumnya, serta masih juga me ngabaikan konflik-konflik yang berkembang di masyarakat.
Kementerian Negara Lingkungan Hidup dalam kajiannya menyebutkan bahwa setidaknya ada 12 Undang- Undang yang terkait dengan sumber daya alam yang inkonsisten dan tum- pang tindih dengan segala dampaknya baik dari segi normative maupun empiris.
12 Undang-Undang tersebut antara lain UU No.5/1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria, UU No.11/1967 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Pertambang an, UU No.5/1990 tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya, UU No.23/1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup, UU No. 41/1999 tentang Kehutanan, UU No.
22/2001 tentang Minyak dan Gas Bumi, UU No. 27/2003 tentang Panas Bumi, UU No.7/2004 tentang Sumberdaya Air, UU No. 31/2004 tentang Perikanan, UU No. 26/2007 tentang Penataan Ruang,
22. JATAM Kaltim, Laporan Jatam Kalimantan Timur 2010.
UU No. 27/2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil dan UU No.18/2008 tentang Pengelolaan Sampah.23
Ada beberapa contoh UU yang ber- potensi menyimpang dari memakmur- kan rakyat, berpotensi meminggirkan hak masyarakat adat, membatasi akses pu blik, propemodal, dan tidak sepenuhnya men- junjung HAM.Undang-undang itu di anta- ranya UU Nomor 11 Tahun 1967 tentang Ketentuan Pokok Pertambangan, UU No 41/1999 tentang Kehutanan, UU No 22/2001 tentang Minyak dan Gas Bumi, serta UU No 31/2004 tentang Perikanan.24
Dari segi kelembagaan, tidak ada satu departemen yang mengkoordina- sikan kebijakan pengelolaan SDA dan implementasinya. Ego Departemen sek-Ego Departemen sek- toral mendominasi lahirnya berbagai kebijak an sektoral yang dikeluarkan oleh masing-masing institusi Negara ini. Banyak
pihak dari Departemen yang mengurus masalah sumber daya alam beranggapan bahwa institusinya telah melakukan kajian ulang peraturan perundang-undangan di internal lembaganya masing-masing.
Namun hasilnya tetap saja berbeda karena kaji ulang yang dihasilkan lebih bersifat in- ternal. Padahal amanat TAP MPR ini bersi- fat terbuka dan akan menciptakan sebuah sinkronisasi untuk seluruh kebijakan dan aturan tentang pembaruan agraria dan pengelolaan sumber daya alam di semua sektor.25
Contoh tumpang tindih perundang- undangan dapat kita lihat misalnya dari UU No. 41 Tahun 1999, hutan lindung mempunyai fungsi pokok sebagai perlin- dungan sistem penyangga kehidupan, untuk mengatur tata air, mencegah banjir, mengendalikan erosi, mencegah intrusi air laut dan memelihara kesuburan tanah.
Fungsi inilah yang harus dijaga, sehingga Departemen Kehutanan mengeluarkan P.14/
Menhut-II/2006 yang telah diubah dengan Permenhut No. P 64/ Menhut-II/2006,
23. 12 UU Terkait SDA Tumpang Tindih dan Tidak Konsisten, Ani Purwanti 27 Maret 2009, http://www.
beritabumi.or.id/?g=beritadtl&newsID=B0136&ik ey=1
24. Kompas, UU Soal SDA Tidak Konsisten, 24 Maret 2009.
25. M. Ridha Saleh Ecocide Politik Kejahatan Lingkungan dan Pelanggaran Hak Asasi Manusia, WALHI 2005.
untuk memaksa 13 perusahaan yang telah mendapat ijin tambang di kawasan lin- dung, mencari lahan pengganti. Artinya, sampai disini, Departemen Kehutanan masih memiliki komitmen untuk menjaga fungsi dan luasan kawasan hutan lindung.
Ironisnya, kehadiran PP ini justru mem- beri pembenaran hukum bagi penghan- curan kawasan hutan lindung dan sekali- gus menunjukan inkonsistensi Dephut dalam menjaga kelestarian fungsi hutan lindung.26
Bahkan, Direktorat Sumber Daya Alam dan Mineral sendiri dalam kajian- nya me ngakui bahwa pada bulan Juli 2003, ada sekitar 150 perusahaan tam- bang terhambat setelah diberlakukan- nya UU No. 41/1999 tentang Kehutanan.
Dari jumlah tersebut, 124 perusahaan masih ber tahan, terdiri dari 42 KK, 26 perjanjian Karya Pengusahaan Penam- bangan Batubara (PKP2B) dan 56 Kuasa Pertambangan (KP). ada sekitar 22 peru- sahaan pertambangan berada di kawasan
konservasi dan hutan lindung. Industri ini mengklaim diri sebagai industri yang mampu menyumbangkan pendapatan negara yang besar. Pe nyelesaian terhadap 13 perusahaan tersebut sangat mendesak, mengingat potensi pajak dan non pajak per tahun yang dapat mereka setor, juga penyerap an tenaga kerja langsung, baik lokal maupun non lokal. Penyerapan tena- ga kerja lokal rata-rata 58%.27 Padahal kita tahu, bahwa belakang an diketahui, sektor tambang merupakan salah satu penyum- bang pengemplang pajak dan royalti yang cukup besar kepada ne gara.
Adanya tumpang tindih peraturan yang tidak sinkron dan konsisten di- laksanakan disatu sisi. Lalu munculnya aturan sektoral yang tidak mengacu pada aturan diatasnya sebagaimana mesti- nya hirarki perundang-undangan. Baik aturan dari kesepakatan global maupun di dalam konteks nasional. Disinilah letak perkara pokoknya, yakni: disatu pihak pemerintahan yang baik senantiasa
26. Ivan Valentina Ageung dan B Steni, Legal opini PP 2/2008: Tinjauan atas hak masyarakat dan keberlanjutan lingkungan hidup,
27. Direktorat Sumber Daya Mineral dan Pertambangan, Mengatasi Tumpang Tindih antara Lahan Per- tambang an dan Kehutanan, www.bappenas.go.id
bekerja dalam koridor hukum yang ada.
Dipihak lain, hukum yang ada merupakan sumber ketidakadilan.28
Kelola SDA Berbasis Konstitusi dan HAM
Gambaran diatas menunjuk- kan, begitu carut marut dan buramnya potret pengelolaan sumber daya alam di Indonesia.Dan hingga hari ini, peme- rintah tidak pernah mau belajar secara serius menjalankan amanah Konstitusi untuk mengelola sumber daya alam bagi kepenting an perlindungan, pemenuhan dan hak dasar rakyat.
Karena itulah, WALHI memandang penting untuk segera memulihkan bang- sa ini dari segala bentuk krisis yang selalu mengorbankan rakyat. Yang di bututhkan mendesak untuk me mulihkan Indone- sia bukan hanya sekedar sinkronisasi dan harmonisasi kebijakan. Sejak lama WALHI telah mendesak agar Pemerintah merubah
pilihan ekonomi politiknya yang selama ini menghamba kepada kepentingan pemo- dal dan lembaga keuangan internasional, me rombak tatanan kuasa atas tanah dan sumber daya alam yang telah berabad- abad dikuasai oleh segelintir elit untuk ke- pentingan kelompoknya.
Dalam kertas posisi yang dikeluar- kan oleh WALHI terkait dengan reformasi pengelolaan sumber daya alam, WALHI menilai bahwa sejatinya Konstitusi harus diletakkan sebagai dasar pembangunan bangsa, karena Konstitusi merupakan kon- trak sosial dan kontrak politik yang men- jadi pengikat bagi seluruh elemen bangsa, sebuah nilai-nilai prikehidupan berbangsa yang diimplementasikan untuk mewu- judkan cita-cita kemerdekaan. Mengem- balikan Mandat Negara Sebagai Benteng Hak Asasi Manusia dengan Peran-peran Proteksi, Prevensi, dan Promosi hak-hak dasar rakyat.
Dengan menempatkan negara se bagai benteng Hak Asasi Manusia, maka dalam penataan ulang relasi negara, modal, dan rakyat, terutama
28. Noer Fauzi, “sesat pikir” Politik Hukum Agraria, Membongkar Alas Penguasaan Negara atas hak-hak Adat (Yogyakarta 2000), dikutip dari konsep Pulihkan Indonesia, WALHI 2010.
dalam la pangan perekonomian, rakyat harus di tempatkan sebagai kepenting- an yang utama. Sedang kan, negara sepenuhnya berperan sebagai instru- men kepengurus an dan penyeleng- gara kebijakan yang ditujukan untuk melindungi dan memajukan hak asasi manusia.
Pengertian tentang hak me- nguasai negara atas cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan menguasai hajat hidup orang banyak serta atas bumi, air dan kekayaan alam untuk sepenuh-penuhnya kemakmur- an rakyat, memiliki legitimasi apabila didudukkan kepada kepentingan hak asasi warga negaranya. Sehingga ke- pentingan rakyat atau hak asasi rakyat, terutama dalam hal akses dan kontrol terhadap bumi, air dan kekayaan alam didalamnya harus dijadikan sebagai sa- rana utama dan tujuan akhir dari hak menguasai negara.Dengan demikian, peran modal bersifat sekunder dan komplementer, bukan substitusi pe- ngelolaan oleh rakyat.
Dengan semangat itulah, gerakan
masyarakat sipil khususnya yang selama ini bekerja melakukan pembelaan terhadap isu sumber daya alam dan agraria terus mendorong agar pemerintah secara seri- us menjalankan amanat TAP MPR No. IX/
MPR-RI/2001 tentang Pembaruan Agraria dan Pengelolaan Sumber Daya Alam. Se- sungguhnya disinilah adanya titik harapan dari proses reformasi pengelolaan sumber daya alam dan agrarian yang selama ini sesat pikir, bersifat sektoral dan sentralistik dan menjauhkan akses dan kontrol rakyat dari sumber daya alamnya.
Secara substansial, keluarnya ketetap- an ini dilandasi kesadaran pemikiran ten- tang kegagalan kebijakan pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan hidup sebelumnya. Dalam konsideran TAP MPR tersebut dijelaskan beberapa peta perma- salahan yang membuat keputusan politik ini lahir, diantaranya (a) sumber daya agraria dan sumber daya alam harus dikelola dan dimanfaatkan secara optimal bagi ge- nerasi sekarang dan generasi mendatang dalam rangka mewujudkan masyarakat adil dan makmur; (b) adanya persoalan kemiskinan, ketimpangan dan ketidakadi-
lan sosial ekonomi rakyat serta kerusakan sumber daya alam; (c) pengelolaan sum- ber daya agaria dan sumber daya alam selama ini telah menimbulkan penurunan kualitas lingkungan, ketimpangan struktur penguasaan, pemilikan, penggunaan dan pemanfaatannya serta me nimbulkan ber- bagai konflik; (d) peraturan perundang- undangan yang berkaitan dengan pe- ngelolaan sumber daya agraria dan sumber daya alam saling tumpang tindih dan ber- tentangan; serta (e) pe ngelolaan sumber daya agraria dan sumber daya alam yang adil, berkelanjutan, dan ramah lingkungan harus dilakukan dengan cara terkoordi- nasi, terpadu dan menampung dinamika, aspirasi dan peran serta masyarakat, serta menyelesaikan konflik;29
Sayangnya, reformasi kebijakan dan kelembagaan yang bisa dijalankan dalam amanat TAP MPR ini, sampai saat ini belum ditindaklanjuti dengan membahas dan mensahkan RUU sumber daya alam dan agrarian. Dalam pandangan Pokja PA
PSDA dimana WALHI menjadi bagian dari kelompok kerja ini memandang bahwa RUU PA PSDA ini diharapkan dapat me- ngupayakan tercapaianya integrasi dan sinkronisasi kebijakan antar sektor, pena- taan struktur penguasaan sumber daya agraria dan sumber daya alam, pemulihan ekosistem yang telah rusak, pembaruan peraturan perundang-undangan dengan meninjau ulang peraturan perundang-un- dangan sektoral dan daerah yang berkai- tan dengan sumber daya agraria/sumber daya alam, membangun kembali payung perundangan sebagai pegangan semua peraturan sektoral dan daerah, dan meng- ingat begitu tingginya konflik sumber daya alam, diharapkan dengan adanya UU PA PSDA ini dapat menyelesaikan kon flik yang terjadi.
Dengan dasar pikiran bahwa persoalan pengelolaan sumberdaya dan lingkungan adalah persoalan politik, maka WALHI memandang reformasi politik merupakan dasar reformasi dalam bidang pengelo- laan sumberdaya alam dan lingkungan hidup. Kita tentu tidak berkehendak, ga- gasan mulia yang bernama desentralisasi
29. A. Hakim Basyar, S.Sos, M.Si, TAP MPR RI No. IXMPR-RI/
2001: Upaya Meletakkan Reformasi Kebijakan Pengelolaan Sumber Daya Alam Secara Komprehensif, www.bappenas.go.id
dikebiri dan dikembalikan lagi kepada ke- bijakan pengelolaan kekayaan alam yang sentralistik yang melahirkan kesenjangan dan konflik sosial seperti yang terjadi di Aceh dan Papua.Karena itulah desentra- lisasi harus dikembalikan kepada makna utamanya, dengan tetap berkitabkan ke- pada Konstitusi Negara dengan tujuan un- tuk kesejahteraan rakyat, produktifitas dan keberlanjutan pelayanan alam.
Gerakan lingkungan hidup yang me- ngusung keadilan ekologi juga mendo- rong terwujudnya hak atas lingkungan.
Lebih jauh dari hak lingkungan, hak atas lingkungan ingin mengatakan bahwa lingkungan hidup yang baik dan sehat merupakan esensi dari kehidupan ma- nusia, manusia yang berdaulat, memiliki hak. Esensi kehidupan manusia akan sem- purna jika kualitas lingkungan hidupnya juga baik, sebagaimana yang termaktub dalam pasal 9 yang mengatur hak untuk hidup dalam ayat 1, 2 dan 3 Undang- Undang nomor 39 tahun 1999 tentang hak asasi manusia. Hak atas lingkungan hidup yang baik dan sehat secara tegas juga termaktub dalam Undang-Undang
Perlindungan dan Pemulihan Lingkungan Hidup No. 32/2009.
Penutup
Berbagai fakta krisis dan kerusakan lingkungan hidup di Indonesia yang ter- jadi hingga hari ini, kebijakan ekonomi politik yang eksploitatif di mana telah terjadi ketimpangan penguasaan agraria yang sangat mencolok ini, telah menye- babkan kehancuran ekologis di hampir setiap jengkal tanah di Indonesia. Kehan- curan ekologis semakin besar terjadi kare- na bersekutunya elit kuasa negeri dengan para kuasa modal.Sementara risiko keru- sakan lingkungan dan hilangnya aset- aset untuk keberlangsungan hidup harus ditanggung oleh rakyat.Tidak ada jalan lain yang harus dilakukan menghadapi ancaman collapsenya Indonesia, selain menyatukan kekuatan rakyat dan seluruh gerakan sosial untuk melakukan pemulih- an Indonesia dengan berasaskan kepada Konstitusi dan Hak Asasi Manusia untuk mencapai kemerdekaan dan kedaulatan bangsa.
DAFTAR PUSTAKA
Tim Riset Java Collapse, Java Collapse dari Kerja Paksa Hingga Lumpur Lapindo, WALHI-INSIST Press 2010
Noer Fauzi, Petani dan Penguasa, Dinamika Perjalanan Politik Agraria Orde Baru, Yogyakarta: PustakaPelajar, bekerjasama dengan Insist Press dan Konsorsium Pembaruan Agraria, 1999.
Undang-Undang Dasar 1945
Undang-Undang Pokok Agraria
M. Ridha Saleh, Ecocide Politik Kejahatan Lingkungan dan Pelanggaran Hak Asasi Manusia, WALHI 2005.
Noer Fauzi, “sesat pikir” Politik Hukum Agraria, Membongkar Alas Penguasaan Negara atas hak-hak Adat (Yogyakarta 2000), dikutip dari konsep Pulihkan Indonesia, WALHI 2010.
WALHI, Evaluasi 1 tahun pemerintahan
SBY-Boediono, Oktober 2010
Emmy Hafild-Arimbi HP, Membumikan Mandat Pasal 33 UUD 1945, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia 1999 Membumikan
KpSHK, http://kpshk.org/index.php/artikel/
read/2009/02/24/105/sistem-hutan- kerakyatan.kpshk
Direktorat Sumber Daya Mineral dan Per- tambangan, www.bappenas.go.id/get- file-server/node/2502, Mengatasi Tum- pang Tindih antara Lahan Pertambang- an dengan Kehutanan,
Erwiza Erman, Kekuasaan Melawan Keadilan:
Melacak Sejarah Undang-Undang Pertambangan, http://www.jatam.
org/content/view/107/12/
Database DIREKTORAT JENDERAL PENGE- LOLA AN UTANG Koalisi Anti Utang, www.kau.or.id http://panmohama- dfaiz.com/2006/10/08/penafsiran- konsep-penguasaan-negara/
JATAM Kaltim, Laporan Jaringan Advokasi Tambang Kalimantan Timur, 2010
12 UU Terkait SDA Tumpang Tindih dan Tidak Konsisten, Ani Purwanti 27 Ma- ret 2009,http://www.beritabumi.or.
id/?g=beritadtl&newsID=B0136&ik ey=1
Kompas, UU Soal SDA Tidak Konsisten, 24 Maret 2009
Ivan Valentina Ageung dan B Steni, Legal opini PP 2/2008: Tinjauan atas hak
masyarakat dan keberlanjutan lingkungan hidup
Direktorat Sumber Daya Mineral dan Per- tambangan, Mengatasi Tumpang Tindih antara Lahan Pertambangan dan Kehutanan, www.bappenas.
go.id
A. Hakim Basyar, S.Sos, M.Si, TAP MPR RI No.
IX/MPR-RI/2001: Upaya Meletakkan Reformasi Kebijakan Pengelolaan Sumber Daya Alam Secara Kompre- hensif, www.bappenas.go.id