(Studi Analisis Semiotika Representasi Tokoh “DEWI AYU” dalam Novel
“Cantik Itu Luka” karya Eka Kurniawan)
SKRIPSI
Nuraini 140904017
Public Relation
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
DEPARTEMEN ILMU KOMUNIKASI MEDAN
2018
Skripsi ini adalah hasil karya saya sendiri, semua sumber baik yang dikutip maupun yang dirujuk telah saya cantumkan sumbernya dengan benar. Jika di kemudian hari saya terbukti melakukan pelanggaran (plagiat) maka saya bersedia diproses sesuai dengan hukum yang berlaku.
Nama
: Nuraini
NIM
: 140904017
Departemen
: Ilmu Komunikasi
Tanda Tangan
:
Tanggal :
Sebagai civitas akademika Universitas Sumatera Utara, saya yang bertanda tangan di bawah ini:
Nama : Nuraini
NIM : 140904017
Departemen : Ilmu Komunikasi
Fakultas : Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas : Sumatera Utara
Jenis Karya : Skripsi
Demi pengembangan ilmu pengetahuan, menyetujui untuk memberikan kepada Universitas Sumatera Utara Hak Bebas Royalti Non Eksklusif (Nonexclusive Royalti-Free Right) atas karya ilmiah saya yang berjudul: Representasi Perempuan dalam Novel “ Cantik Itu Luka”
(
Studi Analisis Semiotika Representasi Tokoh “DEWI AYU” dalam Novel “Cantik Itu Luka” Eka Kurniawan). Dengan Hak Bebas Royalti Non Ekslusif ini Universitas Sumatera Utara berhak menyimpan, mengalih mediakan, mengelola dalam bentukpangkalan data (database), merawat dan mempublikasikan tugas akhir saya tanpa meminta izin dari saya selama mencantumkan nama saya sebagai penulis,
pencipta dan sebagai pemilik hak cipta.
Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya.
Dibuat di : Medan
Pada Tanggal :
Yang menyatakan,
(Nuraini)
Puji dan syukur peneliti panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, Allah SWT yang senantiasa memberikan rahmat dan karunia-Nya sehingga saya dapat menyelesaikan skripsi ini. Penulisan skripsi yang berjudul Representasi Perempuan dalam novel “Anak Semua Bangsa” (Studi Analisis Semiotika Representasi tokoh “Dewi Ayu” dalam Novel “Cantik Itu Luka” Karya Eka Kurniawan) ini dilakukan dalam rangka memenuhi salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik dengan almamater Universitas Sumatera Utara.
Peneliti menyadari bahwa selama mengerjakan penelitian ini banyak dukungan yang datang kepada peneliti guna menyemangati dan memotivasi peneliti dalam mengerjakan skripsi ini, berkat dukungan dan doa mereka peneliti dapat menyelesaikan penelitian ini dengan lancar. Maka dari itu peneliti ingin mengucapkan terimakasih yang tak terhingga kepada orang- orang yang menjadi motivasi peneliti dalam mengerjakan penelitian ini yaitu Malaikat tanpa sayap yang dikrimkan Allah, Ibu Murniati dan Bapak Suardi selaku orang tua peneliti yang tidak henti-hentinya memberi kasih sayang, semangat, nasihat, dukungan moral dan materi, doa kepada peneliti dalam menyelesaikan skripsi ini, serta atas dedikasi mimpi indah mereka peneliti sampai di titik ini. Tidak lupa juga peneliti ucapkan terimakasih kepada dua saudara peneliti Wilya Karunia dan Muhammad Aulia Taqwa yang selalu memberi dukungan dan telah menjadi contoh yang baik dalam dunia pendidikan sehingga membuat peneliti terpacu untuk melakukan hal terbaik di masa perkuliahan. Rasa terimakasih juga peneliti ucapkan kepada pihak-pihak lain yang ikut serta dalam mendukung peneliti dalam mengerjakan skripsi ini. Maka, dalam kesempatan ini, peneliti ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:
1. Bapak Dr. Muryanto Amin, S.Sos, M.Si selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
3. Dosen pembimbing peneliti, Bapak Drs. Hendra Harahap, M.Si selaku dosen pembimbing yang telah meluangkan waktu untuk membimbing dan membantu peneliti dalam menyelesaikan skripsi ini
4. Seluruh Dosen dan Pengajar di Departemen Ilmu Komunikasi FISIP USU
5. Staf Departemen Kak Maya dan Kak Yanti yang selalu sabar dan baik hati dalam membantu peneliti selama menjadi mahasiswa.
6. Sahabat peneliti sejak SMA, Heppina, Risa, Mafdaul, Suita, Eggy, dan Dwi yang selalu menjadi tempat ternyaman peneliti saat ingin berbagi keluh kesah dan kebahagiaan.
7. Teman-teman seperjuangan peneliti di Ilmu Komunikasi sedari awal masuk dunia perkuliahan 16 Junior, Cahya, Habib, Rini, Ibay, Ade, Lihul, Arief, Hafidh, Reza, Ari, Mukti, Rozi, Nindi, Kansyah, Lubna yang mewarnai hidup peneliti selama masa perkuliahan. Terimakasih telah membuat masa perkuliahan peneliti begitu indah dan penuh dengan kelucuan dan kekonyolan kalian, dan menjadi teman seperjuangan peneliti sejak mengawali masa perkuliahan.
8. Teman-teman peneliti di Temu Ramah HMI FISIP USU, Eza, Tiya, Fatma, Arian, Adrian Pasaribu, Bosti, Anhar, yang selalu menghibur peneliti dengan tingkah-tingkah lucu dan memberi pengalaman berpetualang kepada peneliti.
9. Teman – Teman seperjuangan dalam Kepengurusan HMI Komisariat FISIP USU, Delila, Arian, Ezy, Fikri, Guntur, Harry, Anhar. Dan terkhusus kepada Bay Hikmah Saragih, yang selalu setia di garis perjuangan.
dan adik – adik lainnya yang tidak bisa saya tulisakan satu persatu.
11. Adik-adik dan teman-teman lainnya di Ilmu Komunikasi USU yang telah menghibur peneliti, yang tidak dapat peneliti sebutkan namanya satu per satu.
12. Terkhusus peneliti ucapkan terimakasi kepada pelipur lara, Fandy Achmad Harahap yang selalu menjadi penerang di saat gelap, penghangat di saat turun hujan, dan yang selalu setia hadir di momen terbaik hingga momen terburuk.
Demikianlah skripsi ini peneliti sadari masih memiliki banyak kekurangan di dalamnya. Oleh karena itu, peneliti sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun untuk perbaikan dan penyempurnaan skripsi ini. Akhir kata, peneliti mohon maaf atas segala kesalahan yang terdapat pada skripsi ini dan terima kasih.
Medan, Agustus 2018
Nuraini
Luka” (Studi Analisis Semiotika Representasi tokoh “Dewi Ayu” dalam Novel “Cantik Itu Luka” Karya Eka Kurniawan). Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui representasi perempuan pada tokoh Dewi Ayu dengan menggunakan analisis semiologi Roland Barthes agar diketahui makna denotasi dan konotasi di dalamnya. Selanjutnya dari novel tersebut dipilih 26 kutipan yang peneliti anggap lebih kuat menggambarkan sosok Dewi Ayu. Metode penelitian yang dilakukan adalah metode kualitatif dengan paradigma kontruktivisme dan analisis semiologi Roland Barthes dengan signifikasi dua tahap, yaitu secara tataran denotatif, kemudian secara tataran konotatif. Melalui analisis tersebut dapat diketahui gambaran perempuan awal abad ke-20 yang terkandung dalam tokoh Dewi Ayu adalah cerdas, keibuan dan femme fatale. Tokoh Dewi Ayu digambarkan sebagai pelacur yang berkelas dan ia juga merupakan ibu yang baik. Terlihat pengaburkan batasan antara protagonis dan antagonis, seorang pendosa sekaligus teladan.
Kata kunci: Semiotika, Representasi, Perempuam,
This research is titled Representation of Women in the novel "Cantik Itu Luka" (Representative Study of Semiotics Analysis Representation "Dewi Ayu" in the novel "Cantik Itu Luka" by Eka Kurniawan). The purpose of this study was to find out the representation of women in the Dewi Ayu character by using Roland Barthes' semiological analysis to find out the meaning of denotation and connotation in it. Furthermore, from the novel 26 quotes were chosen which the researchers thought were stronger in describing the figure of Dewi Ayu. The research method is qualitative method with the constructivism paradigm and Roland Barthes semiology analysis with two-stage significance, namely denotative level, then connotative level. Through this analysis it can be seen that the early 20th century female description contained in the Dewi Ayu figure is intelligent, motherly and femme fatale. Dewi Ayu figure is described as a classy prostitute and she is also a good mother. Looks like a boundary between the protagonist and the antagonist, a sinner and an example.
Keywords: Semiotics, Representation, Women,
HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS ... i
LEMBAR PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH ... ii
KATA PENGANTAR ... iii
ABSTRAK ... vi
ABSTRACT ... vii
DAFTAR ISI ... ix
DAFTAR TABEL ... x
BAB I PENDAHULUAN ... 1
1.1. Konteks Masalah ... 1
1.2. Fokus Masalah... 7
1.3. Tujuan Penelitian ... 7
1.4. Manfaat Penelitian ... 7
BAB II KAJIAN PUSTAKA ... 8
2.1. Paradigma Kajian ... 8
2.1.1. Paradigma Kritis... 9
2.2. Uraian Teoritis ... 11
2.2.1. Teori Komunikasi ... 11
2.2.2. Semiotika ... 12
2.2.3. Semiologi Roland Barthes ... 15
2.2.4. Denotatif dan Konotatif ... 18
2.2.5. Representasi ... 20
2.2.6. Gender ... 21
2.2.7. Feminis ... 25
2.2.8. Sensualitas Perempuan ... 32
2.2.9. Novel ... 34
2.3. Uraian Teoritis ... 36
3.2. Objek Penelitian ... 37
3.3. Subjek Penelitian ... 41
3.4. Kerangka Analisis ... 42
3.5. Teknik Pengumpulan Data ... 42
3.6. Teknik Analisis Data ... 42
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ... 44
4.1. Hasil ... 44.1.1. Cerdas ... 52
4.1.2 Keibuan ... 61
4.1.3 Femme Fatale ... 69
4.2. Pembahasan ... 79
BAB V SIMPULAN DAN SARAN ... 84
5.1. Simpulan ... 84
5.2. Saran ... 85 DAFTAR REFERENSI
LAMPIRAN
II.3 Peta Tanda Roland Barthes ... 16
II.4 Tabel Tanda Denotatif dan Konotatif ... 20
IV.1 Daftar Kutipan ... 45
IV.2 Makna Denotasi dan Konotasi Cerdas ... 52
IV.3 Makna Denotasi dan Konotasi Keibuan ... 61
IV.4 Makna Denotasi dan Konotasi Femme Fatale ... 69
1.1 Konteks Masalah
Mengkaji sastra adalah suatu hal yang menarik dan tidak pernah terhenti selagi karya sastra itu masih diciptakan. Hal ini disebabkan sastra memiliki hubungan yang cukup erat dengan kehidupan khususnya pengarang dan pembacanya. Karya sastra merupakan karya kreatif yang diciptakan oleh manusia, dimana didalam karya sastra, bahasa digunakan sebagai mediumnya. Karya sastra juga digunakan sebagai sarana hiburan bagi pembaca. Dengan membaca karya sastra, pembaca juga memperoleh kepuasan tersendiri.
Terdapat unsur sistem tanda dan sistem simbol dalam kata-kata yang membentuk sebuah karya sastra. Karya sastra merupakan salah satu media dalam penyampaian pesan dalam proses komunikasi seperti lirik lagu, puisi, novel, dongeng dan lain-lain. Dalam ilmu komunikasi terdapat bidang studi mengenai tanda dan simbol, yaitu semiotika. Semiotika adalah suatu ilmu atau metode analisis untuk mengkaji tanda. Apa tanda yang ditunjukkan atau disembunyikan serta apakah sebenarnya arti dari tanda tersebut. Tanda-tanda tersebut akan digunakan oleh manusia untuk berinteraksi sebagai alat untuk berbagai tujuan.
Salah satu tujuan tersebut adalah untuk berkomunikasi dengan orang lain dimana ketika kita berkomunikasi setidaknya orang lain tersebut memahami maksud pesan yang kita sampaikan kurang lebih secara tepat.
Dalam komunikasi banyak sekali tanda-tanda yang harus dan bisa kita terjemahkan. Banyak bahasa nonverbal atau memang sengaja makna dari sebuah ungkapan itu disembunyikan oleh si pemberi tanda. Dalam media contohnya, banyak sekali tanda-tanda yang disadari atau tidak disadari tergambar dalam tayangan di televisi, majalah, koran,dan lain-lain. Sama halnya dengan sastra seperti puisi, pantun, novel, lirik lagu dan lain-lain juga memiliki tanda-tanda dalam penyampaiannya. Bagaimana sang penulis menyampaikan pikirannya dengan tanda-tanda yang ada di dalam tulisannya.
“Novel adalah genre sastra yang paling tepat untuk mempresentasikan kehidupan manusia”. Melalui tokoh, kejadiannya, dan berbagai unsur lain
kehidupan dapat dinilai secara berbeda sehingga memberikan hasil yang berbeda.
(Ratna 2010: 457).
Novel sebagai karya imajinatif yang mempergunakan bahasa, memiliki perbedaan dengan karya-karya kebahasaan lainnya yang lebih mementingkan fungsi referensi bahasa berupa penyampaian pesan. Sebaliknya, karya sastra berupa novel mementingkan fungsi estetik bahasa sebagai sarana ekspresinya.
Pengarang berusaha mendapatkan efek dari penggunaan bahasanya itu, berupa kesan dan keterpesonaan pembaca, disamping diterimanya nilai-nilai tertentu yang biasanya bernilai pendidikan oleh pembaca tanpa disadari. Karya sastra berupa novel selalu mendapat tanggapan dan pemaknaan yang beraneka ragam dari pembacanya dan tidak selalu tepat dengan pemaknaan yang dimaksud penulis novel itu sendiri. Hal tersebut dikarenakan perbedaan zaman, pengalaman, kemampuan, pemahaman, dan situasi pembacanya. Perbedaan pemaknaan tersebut terjadi karena horizon harapan pembaca yang berbeda, sehingga timbul bermacam-macam penafsiran terhadap teks sastra tersebut.
Ketika melakukan komunikasi dengan karya sastra, sebenarnya pembaca dituntut untuk menemukan makna secara kreatif dan dinamis, karena pembaca merupakan satu-satunya pelaku yang menciptakan pertalian antara teks, penafsir, interteks dan dalam batinnya juga berlangsung transfer semiotik dari tanda yang satu ke tanda yang lain secara terus menerus. “Studi sastra bersifat semiotik adalah usaha untuk menganalisis sastra sebagai suatu sistem tanda-tanda dan menentukan konvensi-konvensi apa yang memungkinkan karya sastra mempunyai arti” (Djoko Pradopo, 1995: 142).
Dalam sebuah media seperti tayangan di televisi, majalah, koran,dan lainnya sering sekali membahas atau menguak sisi keperempuanan. Sama halnya dengan sastra seperti puisi, pantun, novel, lirik lagu dan lainnya yang menganut topik mengenai perempuan dan kedudukannya merupakan topik yang tidak pernah kekeringan bahan untuk dibahas berulang kali. Tidak sedikit jumlah buku- buku yang membahas mengenai perempuan. Umumnya membahas ketimpangan sosial yang ada dan perempuan sebagai korbannya. Hal sederhana yang menjadi bukti perempuan korban salah satunya adalah penggunaan kata wanita dan perempuan. Penganut feminis, bahkan mereka yang sekedar menghargai
kedudukan perempuan tidak lebih rendah dari laki-laki akan memilih menggunakan kata perempuan untuk menghormatinya, kaum perempuan.
Berdasarkan asal katanya, dari bahasa Jawa, yaitu wani ditata atau wani ditoto yang berarti „berani diatur‟. Tentunya yang mengatur adalah laki-laki yang sudah tertanam dalam masyarakat memiliki sifat superior dan otoriter.
Dalam tatanan masyarakat Jawa, hal ini diperkuat dengan ajaran moral yang menempatkan perempuan sebagai manusia yang harus tunduk pada banyak hal, khususnya laki-laki dan Gusti atau Tuhan. Serat merupakan salah satu bentuk karya sastra budaya Jawa. Keberadaan serat-serat yang menjadi acuan hidup masyarakat Jawa menjadi bukti dan alat untuk melihat bagaimana kedudukan perempuan pada masa raja-raja Jawa. Serat-serat atau kitab yang menjadi pedoman hidup kebanyak ditulis oleh laki-laki, baik sastrawan maupun bangsawan. Beberapa di antaranya mencoba tidak merendahkan kedudukan perempuan dalam tatanan kehidupan bermasyarakat.
Tata pergaulan antar individu dalam suatu masyarakat didasarkan pada perbedaan-perbedaan kedudukan dan derajat. Dalam arti, masyarakat orang Jawa dalam kenyataan hidup terbagi dalam lapisan-lapisan wong tani, pegawai, tukang, buruh dan lapisan priyayi (menurut ukuran masyarakat setempat).
Perbedaanperbedaan tempat ini lazim disebut pelapisan sosial. Pembedaan kedudukan dan derajat antara masyarakat satu dengan yang lain tidaklah sama, tergantung dari kompleksitas masyarakat bersangkutan dan pandangan-pandangan masyarakat terhadap suatu kedudukan yang dianggap tinggi atau rendah (Salamun : 2002).
Pada masa kolonial kedudukan sosial masyarakat feodal, kedudukan perempuan berada di bawah kaum laki-laki. Rendahnya status sosial perempuan tersebut diperburuk oleh adat, khususnya yang menyangkut sosial kaum perempuan Indonesia ternyata sangat memprihatinkan. Mereka dianggap sebagi kaum yang lemah. Tidak mengherankan jika dalam status budaya pingitan yang menutup ruang gerak mereka. Perlakuan lainnya adalah poligami yang dapat menyudutkan kedudukan kaum perempuan. Apalagi kalau poligami itu dipaksakan (kawin paksa) untuk dijadikan selir dan perkawinan muda. Poligami pada waktu itu tidak hanya dijadikan istri ke-2,3, atau 4, melainkan lebih dari itu.
Ketika Indonesia memasuki masa penjajahan, kedudukan perempuan Indonesia sampai akhir abad ke-19 belum membawa perubahan berarti. Bahkan, kebijakan kolonial juga seolah membedakan antara kedudukan perempuan dan laki – laki
dalam strata kehidupan sosial.
Dalam kebijakan yang dibuat oleh Belanda, pendidikan hanya diperuntukan bagi kalangan elit dan di utamakan untuk kaum laki-laki saja. Bahkah saat Indonesia di jajah Jepang perempuan yang berasal dari kalangan elit juga tidak memilki kekuatan apa – apa, sebagiian besar dari mereka tidak mendapatkan hak sebagaimana mestinya
Menurut sumber (wikipedia) yang telah penulis rangkum, Novel Cantik Itu Luka adalah novel pertama karya Eka Kurniawan yang berhasil long list Khatulistiwa Literary Award pada tahun 2003. Novel yang di terbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama ini juga telah berhasil di terbitkan dalam 24 bahasa asing. Kejadian sejarah dalam novel ini dikemas menjadi roman dengan baik oleh Eka Kurniawan, sehingga membuat pembaca seolah hidup di era tersebut. Fakta- fakta sosial di masa lalu menjadi kajian yang sangat menarik untuk dibahas, termasuk sejarah yang menunjukan bagaimana kehidupan perempuan di masa akhir Kolonial. Dalam novel ini dengan jelas Eka Kurniawan ingin menjawab dan memberikan sudut pandang yang berbeda dari Tetralogi yang di tuliskan oleh Pramoedya Ananta Toer. Eka menuliskan sisi sejarah dari sudut pandang nya, menuliskan keadaan perempuan di masa itu. Novel Eka ini bercerita tentang kehidupan seorang pelacur bernama Dewi Ayu, perempuan keturunan Indo belanda yang masa remaja nya bertepatan dengan masa penjajahan Jepang. Eka Kurniawan menyajikan sosok Dewi Ayu yang menjalankan kehidupan dimana kapasitasnya sebagai perempuan berpendidikan berbanding terbalik dengan taktir yang telah di gariskankan Tuhan
Berdasarkan sumber dari novel Cantik Itu Luka yang telah penulis rangkum, dalam novel ini Eka Kurniawan sebagai penulis menceritakan sejarah hiruk pikuk kehidupan perempuan di masa akhir kolonial. Novel dengan alur maju mundur ini berkisah tentang seorang perempuan bernama Dewi Ayu yang dipaksa menjadi pelacur. Dewi ayu adalah seorang anak dari sepasang saudara beda ibu, Henri dan Aneu Stamler. Kedua orang tuanya menitip Dewi Ayu dalam
sebuah keranjang yang diletakkan di depan rumah kakek neneknya. Dan kemudian pergi ke Eropa.
Ketika Belanda kalah dari peperangan banyak orang belanda yang memilih untuk pergi dari Indonesia menghindari bangsa Jepang tak terkecuali keluarga Dewi Ayu, mereka memilih pergi dengan kapal terakhir namun sayang kapal yang mereka tumpangi berpapasan dengan kapal milik jepang, mereka pun ditenggelamkan tanpa perlawanan. Namun, tentu saja Dewi Ayu tidak berada dalam kapal tersebut, meski telah dipaksa pergi meninggalkan Halimunda oleh keluarganya, Dewi Ayu tetap ngotot untuk berada disana “bagaimanapun seorang stamler harus berada disini” ucanya keras kepala.
Pada zaman penjajahan jepang, satu persatu orang belanda ditangkap dan dikirim ke Bloedenkamp sebuah penjara yang sangat menjijikan dan penuh sesak dengan tahanan, terutama Dewi ayu. Mereka mengalami kelaparan dan banyak yang terserang penyakit. Setelah penderitaan itu, Dewi Ayu beserta 19 gadis cantik dibawa paksa oleh jepang kesebuah rumah rumah pelacuran Mama Kalong.
Sikapnya yang tenang membuatnya cepat akrab dengan Mama Kalong. Ia menjadi primadona di tempat pelacuran itu karena kecantikannya, banyak lelaki yang rela antri demi tidur dengan Dewi Ayu. Akibatnya ia melahirkan 4 orang putri. Ketiga putrinya diberkahi paras yang sangat cantik. Mereka tak lain adalah Alamanda, Adinda, Maya Dewi, dan Cantik. Alamanda menikah dengan Shodanco, ia tidak mencintai lelaki itu, lelaki yang telah memperkosanya. Hingga memiliki seorang putri cantik bernama Nurul Aini. Anak keduanya bernama Adinda, ia menikah dengan Kamerad Kliwon, pria yang dicintai dan mencintai kakaknya Alamanda, mereka memiliki seorang putri yang sangat cantik bernama Rengganis. Anak ketiga Dewi Ayu adalah Maya Dewi yang dinikahkan oleh ibunya sendiri saat masih berumur dua belas tahun dengan lelaki yang bernama Maman Gendeng, mereka hidup dengan ditemani oleh seorang putra mereka yang bernama Krisan.
Namun kejadian-kejadian buruk selalu menimpa mereka, kecantikan mereka memang telah dikutuk oleh roh jahat Ma Gedik lelaki tua yang dinikahi oleh Dewi Ayu. Lelaki tua itu adalah Mantan pacar Ma Iyang yang merupakan nenek kandung dari Dewi Ayu, yang telah direbut paksa oleh kakek Dewi Ayu untuk dijadikan gundik. Pernikahan Ma Gedik dengan Dewi Ayu membuat Ma Gedik
semakin tidak beres hingga akhirnya memutuskan untuk bunuh diri dengan menerjunkan dirinya ke sebuah bukit, persis yang dilakukan Ma Iyang beberapa tahun lalu.
Kecantikan putri dari Alamanda dan Maya Dewi membuat banyak lelaki menginginkannya. Tak terkecuali Krisan sepupu mereka sendiri, yang menginginkan tubuh Rengganis, tetapi mencintai Nurul Aini. Karena tidak tahan akan godaan, iya akhirnya menghamili Rengganis. Rengganis yang hanya menyebutkan kata anjing ketika ditanya oleh orang-orang perihal siapa yang menghamilinya, akhirnya dipaksa menikah dengan orang yang tidak ia sukai membuatnya lari kehutan sehari sebelum ia melahirkan. Membuat Nurul Aini sakit dan akhirnya meninggal karena mencemaskannya. Hal itulah yang membuat Krisan akhirnya membunuh Rengganis yang diam-diam datang kekamarnya setelah beberapa hari menghilang dan melemparkan mayatnya kelaut. Setelah membunuh Rengganis iya akhirnya kembali, kemudian turun dari perahunya. Ia bertemu dengan seorang nelayan yang bertanya perihal apa yang ia lakukan dengan perahu tanpa seekor ikanpun. Ia dengan santai menjawab “membuang mayat”. Membuat sang nelayan tertawa dan menganggap bahwa Krisan telah patah hati karena kekasih yang cantik sehingga menyarankannya mencari wanita yang jelek. Ia akhirnya menemukan wanita buruk rupa namanya Cantik tak lain adalah bibinya sendiri putri keempat dari neneknya Dewi Ayu. Cantik merupakan anak bungsu dewi Atu dengan paras yang berbanding terbalik dari namanya.
Wajah yang tak berbentuk dengan bentuk hidung eperti colokan listrik. Gadis buruk rupa malang yang memilki nama “Cantik”.dalam hati Krisan berkata “Apa yang salah dengan perempuan buruk rupa? Toh mereka bisa dientot layaknya perempuan cantik”. Hingga suatu ketika Cantik terus mendesaknya dengan pertanyaan yang sama, “kenapa kau menginginkan aku?”. Merasa terdesak akhirnya krisan menjawab, “sebab cantik itu luka”.
Menjadi seorang pelacur dengan empat orang anak yang tidak diketahui siapa ayahnya, dengan kecamuk kehidupan yang tiada hentinya, tidak membuat Dewi Ayu berhenti untuk mencoba memperbaiki kehidupan nya melalui putri – putri nya. Namun, hal yang sama bahkan lebih menjijikan dari kehidupan nya.
Dalam Novel Cantik Itu luka ini Eka seolah ingin menceritakan bahwa perang
dapat merendahkan derajad perempuan. Apakah ini benar terjadi pada masa lalu atau sebagai bentuk protes akan budaya, tulisan dan keadaan yang tidak jauh berbeda dengan keadaan masa kolonial? Karena alasan inilah peneliti ingin melakukan penelitian terhadap representasi perempuan pada tokoh Dewi Ayu dalam Novel Canti Itu Luka.
1.2 Fokus Masalah
Berdasarkan konteks masalah yang diuraikan di atas, penelitian ini menarik fokus masalah yang dapat dirumuskan dalam pertanyaan pokok berikut:
“Bagaimana representasi perempuan di akhir masa kolonial pada tokoh Dewi Ayu dalam novel Cantik Itu Luka?”
1.3 Tujuan Penelitian
Adapun yang menjadi tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui representasi perempuan pada masa akhir kolonial.
2. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui makna denotasi dan konotasi lewat tokoh Dewi Ayu yang terkandung dalam novel Cantik Itu Luka.
1.4 Manfaat Penelitian
Adapun yang menjadi manfaat penelitian ini adalah:
1. Secara teoritis, penelitian ini diharapkan berguna untuk menambah pengetahuan dan dapat memperluas wawasan peneliti mengenai ilmu komunikasi khususnya mengenai analisis semiotika di dalam novel.
2. Secara praktis, hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi sumbangan pikiran bagi mahasiswa Ilmu Komunikasi FISIP USU dan pihak-pihak yang tertarik dalam penelitian bidang semiotika novel.
3. Secara akademis, penelitian ini merupakan sumbangsih bagi almamater dalam memperkaya khasanah penelitian di bidang komunikasi terutama dalam kajian analisis semiotika.
2.1. Paragdima Kajian
Paradigma dalam bahasa Inggris disebut paradigm dan bahasa Perancis paradigme, ia berasal dari bahasa Latin ”para” dan “deigma”. Para berarti di sisi, di samping dan deigma berarti contoh, pola, model. Sedangkan deigma dalam bentuk kata kerja deiknynai berarti menunjukkan atau mempertunjukkan sesuatu.
Dengan begitu, secara epistimologis, paradigma berarti disisi model, disamping pola atau disisi contoh. Paradigma berarti pula sesuatu yang menampakkan pola, model atau contoh. Paradigma juga sinonim dengan guiding principle, basic point of view atau dasar perspektif ilmu, gugusan pikir, model, pola, kadang ada pula yang menyebutnya konteks. Secara terminologi, paradigma berarti jalinan ide dasar beserta asumsi dengan variabel-variabel idenya (Zumri, 2009:12).
Paradigma merupakan suatu model dari teori ilmu pengetahuan dan kerangka berfikir. Menurut Guba dalam Wibowo (2011), paradigma adalah seperangkat kepercayaan dasar yang menjadi prinsip utama dalam menentukan pandangan tentang dunia dan menjelaskan pada penganutnya tentang alam dunia.
Artinya, paradigma bisa dikatakan sebagai suatu kepercayaan, cara pandang, atau prinsip dasar yang ada dalam diri seseorang tentang pandangan dunia dan membentuk cara pandangnya terhadap dunia (Wibowo, 2011:27). Paradigma juga diperlukan dalam penelitian karena akan menpengaruhi teori bahkan cara seseorang menganalisis dan menggambil tindakan terhadap sesuatu hal. Sudut pandang ataupun cara pandang tidak pernah bersifat netral dan objektif, tergantung pada paradigma yang digunakan. Oleh karena itu menurut Kuhn (1970), paradigma menentukan apa yang hanya ingin kita ketahui, hanya ingin kita inginkan, hanya ingin kita lihat dan kita ketahui.
Paradigma sangat berperan untuk mempengaruhi pola pandang seseorang dalam mengambil suatu tindakan atau hal apapun. Misalnya saja dua orang yang sama dihadapkan dengan suatu fenomena yang sama, atau suatu peristiwa yang sama, kemungkinan kedua orang tersebut akan memberi respon yang berbeda terhadap fenomena atau peristiwa tersebut. Kedua orang tersebut juga akan
menghasilkan penilaian, sikap, tindakan, bahkan pandangan yang berbeda juga.
Perbedaan ini terjadi karena kedua orang tersebut memilki paradigma yang berbeda, yang secara otomatis mempengaruhi persepsi dan tindakan komunikasinya. Paradigma Ilmu komunikasi berdasarkan metodologi penelitiannya, menurut Dedy N. Hidayat (1999) yang mengacu pada pemikiran Guba dan Lincoln (1994) ada tiga paradigma : (1) paradigma klasik yang mencakup positivisme dan postpositivisme, (2) paradigma kritis dan (3) paradigma konstruktivisme (Bungin, 2008: 237).
2.1.1 Paradigma Konstruktivisme
Teori konstruktivisme adalah pendekatan secara teoritis untuk komunikasi yang dikembangkan tahun 1970-an oleh Jesse Deli dan rekan-rekan sejawatnya.
Teori konstruktivisme menyatakan bahwa individu melakukan interpretasi dan bertindak menurut berbagai kategori konseptual yang ada dalam pikirannya.
Menurut teori ini, realitas tidak menunjukkan dirinya dalam bentuknya yang kasar, tetapi harus disaring terlebih dahulu melalui bagaimana cara seseorang melihat sesuatu (Morissan, 2009:107).
Konstruktivisme menolak pandangan positivisme yang memisahkan subjek dan objek komunikasi. Dalam pandangan konstruktivisme, bahasa tidak lagi hanya dilihat sebagai alat untuk memahami realitas objektif belaka dan dipisahkan dari subjek sebagai penyampai pesan. Konstruktivisme justru menganggap subjek sebagai faktor sentral dalam kegiatan komunikasi serta hubungan-hubungan sosialnya. Subjek memiliki kemampuan melakukan kontrol terhadap maksud- maksud tertentu dalam setiap wacana.
Teori konstruktivisme menyatakan bahwa individu menginterpretasikan dan beraksi menurut kategori konseptual dari pikiran. Realitas tidak menggambarkan diri individu namun harus disaring melalui cara pandang orang terhadap realitas tersebut. Teori konstruktivisme dibangun berdasarkan teori yang ada sebelumnya, yaitu konstruksi pribadi atau konstruksi personal (personal construct) oleh George Kelly. Ia menyatakan bahwa orang memahami pengalamannya dengan cara mengelompokkan berbagai peristiwa menurut kesamaannya dan membedakan berbagai hal melalui perbedaannya.
Paradigma konstruktivisme ialah paradigma dimana kebenaran suatu realitas sosial dilihat sebagai hasil konstruksi sosial, dan kebenaran suatu realitas sosial bersifat relatif. Paradigma konstruktivisme ini berada dalam perspektif interpretivisme (penafsiran) yang terbagi dalam tiga jenis, yaitu interaksi simbolik, fenomenologis dan hermeneutik. Paradigma konstruktivisme dalam ilmu sosial merupakan kritik terhadap paradigma positivis. Menurut paradigma konstruktivisme realitas sosial yang diamati oleh seseorang tidak dapat digeneralisasikan pada semua orang, seperti yang biasa dilakukan oleh kaum positivis. Konsep mengenai konstruksionis diperkenalkan oleh sosiolog interpretative, Peter L.Berger bersama Thomas Luckman. Dalam konsep kajian komunikasi, teori konstruksi sosial bisa disebut berada diantara teori fakta sosial dan defenisi sosial (Eriyanto 2004:13).
Paradigma konstruktivisme yang ditelusuri dari pemikiran Weber, menilai perilaku manusia secara fundamental berbeda dengan perilaku alam, karena manusia bertindak sebagai agen yang mengkonstruksi dalam realitas sosial mereka, baik itu melalui pemberian makna maupun pemahaman perilaku menurut Weber, menerangkan bahwa substansi bentuk kehidupan di masyarakat tidak hanya dilihat dari penilaian objektif saja, melainkan dilihat dari tindakan perorang yang timbul dari alasan-alasan subjektif. Weber juga melihat bahwa tiap individu akan memberikan pengaruh dalam masyarakatnya.
Paradigma konstruktivis dipengaruhi oleh perspektif interaksi simbolis dan perspektif strukturan fungsional. Perspektif interaksi simbolis ini mengatakan bahwa manusia secara aktif dan kreatif mengembangkan respons terhadap stimulus dalam dunia kognitifnya. Dalam proses sosial, individu manusia dipandang sebagai pencipta realitas sosial yang relatif bebas di dalam dunia sosialnya. Realitas sosial itu memiliki makna manakala realitas sosial tersebut dikonstruksikan dan dimaknakan secara subjektif oleh individu lain, sehingga memantapkan realitas itu secara objektif.
2.2 Uraian Teoritis
2.2.1 Teori Komunikasi
Kata komunikasi atau communication dalam bahasa Inggris berasal dari kata Latin communis yang berarti “sama” , communico, communicatio, atau, communicare yang berarti “membuat sama”(to make common). Istilah pertama (communis) paling sering disebut sebagai asal kata komunikasi, yang merupakan akar dari kata-kata Latin lainnya yang mirip. Komunikasi menyarankan bahwa suatu pikiran, suatu makna, atau suatu pesan dianut secara sama (Mulyana, 2010:
46).
Secara etimologis istilah komunikasi berasal dari bahasa Latin
“communicatio“. Istilah ini bersumber dari perkataan “communis” yang berarti sama. Sama yang dimaksud berarti sama makna dan arti. Jadi komunikasi terjadi apabila terdapat kesamaan makna mengenai suatu pesan yang disampaikan komunikator dan diterima oleh komunikan (Effendy, 2004: 30)
Onong Uchyana (dalam Bungin, 2006: 31) mengatakan komunikasi sebagai proses komunikasi pada hakikatnya adalah proses penyampaian pikiran, atau perasaan oleh seseorang (komunikator) kepada orang lain (komunikan).
Pikiran bisa merupakan gagasan, informasi, opini, dan lain-lain yang muncul dari benaknya. Perasaan bisa berupa keyakinan, kepastian, keraguan, kekhawatiran, kemarahan, keberanian, kegairahan, dan sebagainya yang timbul dari lubuk hati.
Kesimpulan dari pernyataan tersebut menurut Bungin (2006:31) adalah lingkup komunikasi menyangkut persoalan-persoalan yang ada kaitannya dengan substansi interaksi sosial orang-orang dalam masyarakat termasuk konten interaksi (komunikasi) yang dilakukan secara langsung maupun dengan menggunakan media komunikasi.
Thomas M. Scheidel mengemukakan bahwa kita berkomunikasi terutama untuk menyatakan dan mendukung identitas diri, untuk membangun kontak sosial dengan orang di sekitar kita, dan untuk mempengaruhi orang lain untuk merasa, berpikir, atau berperilaku seperti yang kita inginkan. Namun menurut Scheidel tujuan dasar kita berkomunikasi adalah untuk mengendalikan lingkungan fisik dan psikologi kita. Sedangkan Rudolph F. Verderber mengemukakan bahwa komunikasi mempunyai dua fungsi. Pertama, fungsi sosial yakni untuk tujuan
kesenangan, untuk menunjukkan ikatan dengan orang lain, membangun dan memelihara hubungan. kedua, fungsi pengambilan keputusan, yakni memutuskan untuk melakukan atau tidka melakukan sesuatu pada saat tertentu (Mulyana, 2010: 4-5).
Menurut Harold Lasswell (dalam Mulyana, 2010 :69) cara yang terbaik untuk menggambarkan komunikasi adalah dengan menjawab pertanyaan- pertanyaan berikut: Who Says What In Wich Channel To Whom With What Effect?
(Siapa Mengatakan Apa Dengan Saluran Apa Kepada Siapa Dengan Efek Apa?).
Jawaban bagi pertanyaan paradigmatik Lasswell merupakan unsur-unsur proses komunikasi yang meliputi komunikator, pesan, media, komunikan, efek.
Menurut Mulyana (2010: 77) komunikasi tidak berlangsung dalam ruang hampa-sosial, melainkan dalam konteks atau situasi tertentu. Secara luas konteks di sini berarti semua faktor di luar orang-orang yang berkomunikasi, yang terdiri dari: pertama, aspek bersifat fisik seperti iklim, cuaca, alat yang tersedia untuk menyampaikan pesan, warna dinding. Kedua, aspek psikologis seperti sikap, prasangka dan emosi. Ketiga, aspek sosial seperti norma kelompok, nilai sosial dan karakteristik budaya. Keempat, aspek waktu yakni kapan dilakukannya komunikasi (hari apa, jam berapa, pagi, siang, sore, malam).
2.2.2. Semiotika
Alex Sobur dalam bukunya, „‟Semiotika Komunikasi‟‟ menggambarkan semiotika sebagai suatu bidang studi yang „‟hangat‟‟ dan memikat. Semiotika telah menjadi kegemaran di kalangan progresif. Ia membetot perhatian sejumlah besar sarjana. Dari pengamatan sepintas terhadap pokok bahasan ini pada katalog perpustakaan, akan cukup membuktikan popularitasnya. Hal ini diperkuat dengan berdirinya pusat-pusat studi semiotika/semiologi yang menjamur di pelbagai belahan bumi (Sobur, 2004 : 5).
Secara etimologis, semiotika berasal dari kata yunani, „‟semeion‟‟ yang berarti tanda dan secara terminologis, semiotika adalah cabang ilmu yang berurusan dengan dengan pengkajian tanda dan segala sesuatu yang berhubungan dengan tanda, seperti sistem tanda dan proses yang berlaku bagi tanda. Eco (dalam Sobur, 2004) mendefenisikan tanda sebagai sesuatu yang terbangun atas
dasar konvensi sosial, dapat dianggap mewakili sesuatu yang lain (Sobur, 2004:95). Alex Sobur mengemukakan pendapatnya mengenai semiotika yang dalam pandangannya adalah suatu ilmu atau metode analisis untuk mengkaji tanda (Sobur, 2004: 15).
Seorang ahli yang merupakan pendiri linguistik modern dan terkenal dengan teori „tanda‟ adalah Ferdinand de Saussure. Menurutnya, tanda tidak bisa terlepas dari bahasa, karena bahasa itu merupakan suatu sistem tanda yang dikonstruksikan melalui sistem sosial. Saussure berpersepsi dan berpandangan, bahwa kita memiliki pandangan tentang realitas yang dikonstruksikan oleh kata- kata serta tanda-tanda yang lain, yang digunakan dalam konteks sosial (Wibowo, 2011:7). Dalam konteks komunikasi manusia, Saussure meletakkan tanda dengan melakukan pemilahan antara signifier (penanda) dan signified (Petanda). Signifier (penanda) adalah bunyi yang bermakna atau coretan yang bermakna (aspek material), yakni apa yang dikatakan dan apa yang ditulis dan dibaca. Signified (petanda) adalah gambaran mental, pikiran, atau konsep sesuatu dari signifier.
Hubungan keduanya disebut Signification, yang berarti suatu upaya dalam memberi makna terhadap dunia (Fiske, 1990:44).
Hubungan tersebut diperoleh dari produk kultural dan hanya bersifat kesepakatan, konveksi, atau peraturan dari cultural pemakai bahasa tersebut.
Hubungan antara signifier dan signified dapat dibagi dalam tiga bagian, yaitu :
• Ikon adalah tanda yang memunculkan kembali benda atau realitas yang ditandainya, misalnya foto atau peta
• Indeks adalah tanda yang kehadirannya menunjukkan adanya hubungan dengan yang ditandai, misalnya asap adalah indeks dari api
• Simbol adalah sebuah tanda dimana hubungan antara Signifier dan Signified semata-mata adalah masalah konveksi, kesepakatan atau peraturan (Sobur, 2004:126).
Dengan kehadiran penanda dan petanda ini akan memunculkan suatu makna, oleh karena itu kedua hal ini tidak dapat dipisahkan dan berdiri sendiri- sendiri, bahkan kesatuan dari dua hal ini diibaratkan oleh Saussure seperti dua sisi
dari sehelai kertas (Sobur, 2004:46). Charles Saunders Pierce, seorang filsuf aliran pragmatik Amerika yang dianggap sebagai pendiri semiotika modern, mendefenisikan semiotika sebagai hubungan antara tanda (simbol), objek, dan makna (Morissan, 2009:38). Pierce melihat yang menjadi dasar dari semiotika adalah konsep tentang tanda, dimana tanda ini sendiri tidak hanya bahasa dan sistem komunikasi yang tersusun oleh tanda-tanda, melainkan dunia itu sendiripun, sejauh terkait dengan pikiran manusia seluruhnya terdiri atas tanda- tanda. Jika hal ini tidak terjadi demikian, manusia tidak akan bisa menjalin hubungannya dengan realitas, karena tanda tersebut adalah sesuatu yang hidup dan dihidupi, serta hadir dalam proses interpretasi yang mengalir (Sobur, 2004:17).
Dengan demikian semiotika mempelajari hakikat tentang keberadaan suatu tanda. Analisis semiotika ini merupakan sebuah ikhtiar untuk merasakan sesuatu yang aneh, yang perlu dipertanyakan lebih lanjut ketika kita membaca suatu wacana maupun secara visual ketika menonton televisi. Analisis ini berupaya untuk menguak dan menemukan makna dari hal yang tersembunyi sekalipun.
Suatu tanda menandakan sesuatu selain dirinya sendiri, dan makna (meaning) ialah hubungan antara suatu objek atau idea suatu tanda (LittleJohn, 1996:64).
Menelaah dengan menggunakan pendekatan semiotika ini tidak terlepas dari peranan pembaca sendiri. Jika hendak ingin menerapkan tanda-tanda bahasa, maka huruf, kata, bahkan kalimat, tidak memiliki arti pada dirinya sendiri. Tanda- tanda itu hanya mengemban arti dalam kaitannya dengan pembaca. Pembaca itu sendirilah yang menghubungkan tanda dengan apa yang ditandakan sesuai dengan konvensi dalam sistem bahasa yang bersangkutan. Hal ini bisa terlihat dalam proses komunikasi melalui karya sastra. Misalnya dalam karya sastra kerap diperhatikan hubungan sintaksis antara tanda-tanda (strukturalisme) dan hubungan antara tanda serta apa yang ditandakan (semantik). Hal ini juga berlaku bagi proses komunikasi melalui media manapun, karena keseluruhan faktor dalam proses komunikasi dan pemahamannya mempengaruhi dan ikut menentukan sikap pembaca (Sobur, 2004: 17).
Bisa dilihat dari media yang sedang digunakan saat ini. Media massa khususnya, menawarkan beragam isi didalamnya. Isi media tersebut pada hakikatnya adalah suatu konstruksi realitas dengan menggunakan bahasa sebagai perangkat dasarnya. Bahasa tersebut tidak hanya sebagai alat merepresentasikan realitas, tetapi juga menentukan relief seperti apa yang akan diciptakan oleh bahasa tentang realitas yang dikonstruksikan. Dengan kata lain, setiap upaya
“menceritakan” sebuah peristiwa, keadaan, benda, atau apapun, pada hakikatnya adalah usaha mengkonstruksikan realitas (Sobur, 2004:88). Hal tersebut dapat kita lihat dalam iklan, cerpen, poster, komik, film, kartun, juga novel. Semua hal tersebut memungkinkan terjadinya “tanda”, yang dapat membentuk suatu proses signifikasi yang menggunakan tanda serta menghubungkan objek dan interpretasi.
2.2.3 Semiotika Roland Barthes
Kancah penelitian semiotika tak bisa begitu saja melepaskan nama Roland Barthes (1915-1980). Barthes merupakan ahli semiotika yang mengembangkan kajian yang sebelumnya punya warna kental strukturalisme kepada semiotika teks (Indiawan, 2011: 16). Barthes menjelaskan dua tingkat dalam pertandaan, yaitu denotasi (denotation) dan konotasi (connotation). Denotasi (Sobur, 2003: viii) adalah tingkat pertandaan yang menjelaskan hubungan antara penanda dan petanda, atau antara tanda dan rujukannya pada realitas yang menghasilkan makna yang eksplisit, langsung dan pasti. Sementara konotasi adalah tingkat pertandaan yang menjelaskan hubungan antara penanda dan pertanda, yang di dalamnya beroperasi makna yang tidak eksplisit, tidak langsung dan tidak pasti (artinya terbuka terhadap berbagai kemungkinan tafsiran). Selain itu, Barthes juga melihat makna yang lebih dalam tingkatannya, akan tetapi lebih bersifat konvensional, yaitu makna-makna yang berkaitan dengan mitos. Mitos dalam pemahaman semiotika Barthes adalah pengkodean makna dan nilai-nilai sosial (yang sebetulnya arbiter atau konotatif) sebagai sesuatu yang dianggap alamiah.
Salah satu area penting yang dirambah Barthes dalam studinya tentang tanda adalah peran pembaca. Konotasi, walaupun merupakan sifat asli tanda, membutuhkan keaktifan pembaca agar dapat berfungsi. Barthes secara panjang lebar mengulas apa yang sering disebut sebagai sistem pemaknaan tataran kedua, yang dibangun di atas sistem lain yang telah ada sebelumnya. Sastra merupakan
contoh paling jelas sistem pemaknaan tataran kedua yang dibangun di atas bahasa sebagai sistem yang pertama. Sistem kedua ini oleh Barthes disebut dengan konotatif, yang di dalam Mythologies- nya secara tegas ia bedakan dari denotatif atau sistem pemaknaan tataran pertama (Sobur, 2003: 68-69).
Melanjutkan studi Hjemslev, Barthes menciptakan peta tentang bagaimana tanda bekerja (Cobley & Jansz dalam Barthes, 2004: 69):
1.Signifier (penanda)
2. Signified (petanda)
3. Denotative Sign (Tanda Denotatif) 4. Connotative Signifier
(Penanda Konotatif)
5. Connotative Signified (Petanda Konotatif) 6. Connotative Sign (Tanda Konotatif)
Sumber : Paul Cobley & Litza Jansz. 1999. Introducing Semiotics, NY : TotemBooks, hlm. 51 dalam Sobur, 2004 : 69.
Dari peta Barthes di atas, terlihat bahwa tanda denotatif (3) terdiri atas penanda (1) dan petanda (2). Akan tetapi pada saat bersamaan, tanda denotatif adalah juga penanda konotatif (4). Dengan kata lain, hal tersebut merupakan unsur material: hanya jika kita mengenal kata “singa”, barulah konotasi seperti harga diri, kegarangan, dan keberanian menjadi mungkin (Cobley dan Jansz dalam Sobur, 2003: 69).
Jadi, dalam konsep Barthes, tanda konotatif tidak sekedar memiliki makna tambahan, namun juga mengandung kedua bagian tanda denotatif yang melandasi keberadaannya. Sesungguhnya, inilah sumbangan Barthes yang sangat berarti bagi penyempurnaan semiologi Saussure, yang berhenti pada penandaan dalam tataran denotatif.
Secara lebih rinci, linguistik pada dasarnya membedakan tingkat ekspresi (E) dan tingkat isi (C) yang keduanya dihubungkan oleh sebuah relasi (R). Kesatuan dari tingkat-tingkat dan relasinya ini membentuk sebuah sistem (ERC). Sistem demikian ini dapat, di dalamnya sendiri, menjadi unsur sederhana dari sebuah sistem kedua yang akibatnya memperluasnya. Mengacu pada
Hjemslev, Barthes sependapat bahwa bahasa dapat dipilih menjadi dua sudut artikulasi demikian (Kurniawan dalam Sobur, 2004: 70):
Mengacu pada Hjemslev, Barthes sependapat bahwa bahasa dapat dipilih menjadi dua sudut artikulasi demikian (Kurniawan dalam Sobur, 2004: 70):
1.Konotasi 2.Denotasi
Gambar Dua Sudut Artikulasi Barthes (Sumber: Kurniawan dalam Sobur, 2003:70)
Pada artikulasi pertama (sebelah kiri), sistem primer (ERC) mengkonstitusi tingkat ekspresi untuk sistem kedua: (ERC)RC. Di sini sistem 1 berkorespondensi dengan tingkat denotasi dan sistem 2 dengan tingkat konotasi.
Pada artikulasi kedua (sebelah kanan), sistem primer (ERC) mengkonstitusi tingkat isi untuk sistem kedua: ER(ERC). Di sini sistem 1 berkorespondensi dengan objek bahasa dan sistem 2 dengan metabahasa (Kurniawan dalam Sobur, 2003: 70).
Pada dasarnya ada perbedaan antara denotasi dan konotasi dalam pengertian secara umum serta denotasi dan konotasi yang dimengerti oleh Barthes. Dalam pengertian umum, denotasi biasanya dimengerti sebagai makna harfiah, makna yang sesungguhnya, bahkan kadangkala juga dirancukan dengan referensi atau acuan. Proses signifikasi yang secara tradisional disebut sebagai denotasi ini biasanya mengacu kepada penggunaan bahasa dengan arti yang sesuai dengan apa yang terucap. Akan tetapi, di dalam semiologi Roland Barthes dan para pengikutnya, denotasi merupakan sistem signifikasi tingkat pertama, sementara konotasi merupakan tingkat kedua. Dalam hal ini denotasi justru lebih diasosiasikan dengan ketertutupam makna dan sensor. Sebagian reaksi yang paling ekstrem melawan keharfiahan denotasi yang bersifat opresif ini, Barthes mencoba menyingkirkan dan menolaknya. Baginya, yang ada hanyalah konotasi semata-mata. Penolakan ini mungkin terasa berlebihan, namun ia tetap berguna
E C
E C
E C
E C
sebagai sebuah koreksi atas kepercayaan bahwa makna “harfiah” merupakan sesuatu yang bersifat alamiah (Budiman dalam Sobur, 2004:70-71)
Dalam kerangka Barthes, konotasi identik dengan operasi ideologi, yang disebutnya sebagai „mitos‟, dan berfungsi untuk mengungkapkan dan memberikan pembenaran bagi nilai-nilai dominan yang berlaku dalam suatu periode tertentu (Budiman dalam Sobur, 2003: 71). Di dalam mitos juga terdapat pola tiga dimensi penanda, petanda dan tanda, namun sebagai suatu sistem yang unik, mitos dibangun oleh suatu rantai pemaknaan yang telah ada sebelumnya atau dengan kata lain, mitos juga suatu sistem pemaknaan tataran kedua. Di dalam mitos pula sebuah petanda dapat memiliki beberapa penanda (Sobur, 2003: 71).
Barthes menempatkan ideologi dengan mitos karena, baik di dalam mitos maupun ideologi, hubungan antara penanda konotatif dan petanda konotatif terjadi secara termotivasi (Budiman dalam Sobur, 2003: 71). Ideologi ada selama kebudayaan ada, dan itulah sebabnya di dalam S/Z Barthes berbicara tentang konotasi sebagai suatu ekspresi budaya. Kebudayaan mewujudkan dirinya di dalam teks-teks dan, dengan demikian, ideologi pun mewujudkan dirinya melalui berbagai kode yang merembes masuk ke dalam teks dalam bentuk penanda- penanda penting, seperti tokoh, latar, sudut pandang, dan lain-lain.
Jadi, teori analisis semiotika Roland Barthes ini yang nantinya akan digunakan oleh peneliti untuk menganalisis isi dari kalimat serta kata- kata yang ada dalam novel Cantik Itu Luka Karya Eka Kurniawan. Isi novel nantinya akan dianalisis dengan menggunakan metode kualitatif deskriptif interpretatif dengan menggunakan analisis semiologi dengan pendekatan semiotik berdasarkan konsep signifikasi dua tahap Roland Barthes. Sesuai penjelasan di atas, yaitu secara denotatif dan konotatif yang di dalamnya juga terdapat tataran mitos.
2.2.4. Denotatif dan Konotatif
Salah satu cara yang digunakan para ahli untuk membahas lingkup makna yang lebih besar adalah dengan membedakan antara makna denotatif dengan makna konotatif. Makna denotatif pada dasarnya meliputi hal-hal yang ditunjuk oleh kata-kata (yang disebut sebagai makna referensial). Makna denotatif suatu kata ialah makna yang biasa kita temukan dalam kamus. Sebagai contoh, di dalam
kamus, kata mawar berarti sejenis bunga. Makna konotatif ialah makna yang ditimbulkan kata mawar itu (Sobur, 2004 : 263).
Dalam konsep Barthes, tanda konotatif tidak sekedar memiliki makna tambahan namun juga mengandung kedua bagian tanda denotatif yang melandasi keberadaannya. Sesungguhnya inilah sumbangan Barthes yang sangat berarti bagi penyempurnaan semiologi Saussure, yang berhenti pada penandaan dalam tataran denotatif. Pada dasarnya, ada perbedaan antara denotasi dan konotasi dalam pengertian secara umum serta denotasi dan konotasi yang dimengerti oleh Barthes. Dalam pengertian umum, denotasi biasanya dimengerti sebagai makna harfiah, makna yang „sesungguhnya‟ bahkan kadang kala juga dirancukan dengan referensi atau acuan. Proses signifikasi yang secara tradisional disebut sebagai denotasi ini biasanya mengacu kepada penggunaan bahasa dengan arti yang sesuai dengan apa yang terucap. Akan tetapi, di dalam semiologi Roland Barthes dan para pengikutnya, denotasi merupakan sistem signifikasi tingkat pertama. Dalam hal ini denotasi justru lebih diasosiasikan dengan ketertutupan makna, dengan demikian, sensor atau represi politis. Sebagai reaksi yang paling ekstrem melawan keharfiahan denotasi yang bersifat opresif ini, Barthes mencoba menyingkirkan dan menolaknya. Baginya, yang ada hanyalah konotasi semata-mata. Penolakan ini mungkin terasa berlebihan, namun ia tetap berguna sebagai sebuah koreksi atas kepercayaan bahwa makna „harfiah‟ merupakan sesuatu yang bersifat alamiah (Budiman (1999) dalam Sobur, 2004 : 70-71).
Secara teknis, Barthes menyebutkan bahwa mitos merupakan urutan kedua dari sistem semiologi, sementara tanda-tanda berada pada urutan pertama pada sistem itu (yaitu kombinasi antara petanda dan penanda) dan menjadi penanda dalam sistem kedua. Dengan kata lain, tanda-tanda pada sistem linguistik menjadi penanda dalam sistem itu disebut „penandaan‟. Barthes menggunakan istilah khusus untuk membedakan sistem mitos dari hakikat bahasanya. Dia juga menggambarkan penanda dalam mitos sebagai bentuk dan petanda sebagai konsep. Kombinasi dari kedua istilah tersebut merupakan penandaan. Untuk lebih jelasnya, lihat bagan berikut (Berger, 2010 : 66-67)
Tabel II.1
Bahasa Mitos
Penanda (signifier) Bentuk (form) Petanda (signified) Konsep ( concept )
Tanda (sign) Penandaan (signification)
Sumber : Artur Asa Berger, Pengantar Semiotika, Yogyakarta, Tiara Wacana, 2010, hlm 67.
2.2.5. Representasi
Representasi menurut David Croteau dan William Hoynes merupakan hasil dari suatu proses penyeleksian yang menggarisbawahi hal-hal tertentu dan hal lain diabaikan. Melalui pengertian ini kita dapat memahami bahwa dalam proses representasi, tanda yang akan digunakan telah mengalami seleksi sebelumnya. Dalam artian ada tanda yang dipakai dan yang lain diabaikan. Tanda yang dipakai merupakan sesuatu yang mendukung kepentingan dari orang yang merepresentasikan. Danesi mendefenisikan representasi ini sebagai suatu proses perekaman gagasan, pengetahuan, atau pesan secara fisik. Lebih tepatnya diartikan sebagai penggunaan tanda-tanda (misalnya gambar, suara, tulisan dan sebagainya) untuk menampilkan ulang sesuatu yang diserap, diindra, dibayangkan atau dirasakan dalam bentuk fisik (Danesi, 2010:3).
Representasi sendiri menunjuk pada bagaimana seseorang, sekelompok orang, gagasan ataupun pendapat tertentu ditampilkan dalam teks. Ada dua hal yang perlu ditandai dalam representasi. Pertama, apakah seseorang, sekelompok orang, gagasan ataupun pendapat tersebut telah ditampilkan sebagai mana mestinya. Apakah ditampilkan sesuai adanya atau malah diburukkan. Kedua, bagaimana representasi itu ditampilkan. Hal ini menyangkut akan dikemas seperti apakah suatu representasi. Kemasan disini adalah bisa diartikan sebagai unsur- unsur seperti apakah yang dipilih untuk menampilkan representasi, misal kalimat, gambar, foto seperti apa yang dipilih dalam menampilkan suatu representasi (Mondong, 2011:115-116).
John Fiske menjelaskan bahwa untuk menampilkan objek, peristiwa, gagasan, kelompok atau seseorang paling tidak ada tiga proses yang meliputinya.
Level pertama, peristiwa yang ditandakan yaitu saat kita menganggap dan mengkonstruksi peristiwa tersebut sebagai sebuah realitas. Level kedua, saat kita memandang sesuatu sebagai realitas, pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana realitas itu digambarkan. Dalam level ini digunakan alat teknis berupa kata, kalimat atau proposisi, grafik dan sebagainya. Pemakaian kata, kalimat atau proposisi tertentu akan membawa makna tertentu pula ketika diterima khalayak.
Level ketiga, bagaimana kode-kode representasi dihubungkan dan diorganisasikan ke dalam koherensi sosial seperti kelas sosial, kepercayaan dominan dan sebagainya yang ada dalam masyarakat (Eriyanto, 2001:14).
2.2.6. Gender
Konsep penting yang perlu dipahami dalam rangka membahas kaum perempuan adalah membedakan antara konsep seks (jenis kelamin) dan konsep gender. Pemahaman dan pembedaan antara konsep seks dan gender sangatlah diperlukan dalam melakukan analisis untuk memahami persoalan-persoalan ketidakadilan sosial yang menimpa kaum perempuan (Fakih, 2013 : 3).
Untuk memahami konsep gender harus dibedakan ka jenis kelamin tertentu. Laki-laki adalah manusia yang memiliki penis, memiliki jakala dan memproduksi sperma. Sedangkan perempuan memiliki alat reproduksi seperti rahim dan saluran untuk melahirkan, memroduksi telur, memiliki vagina dan mempunyai alat menyusui. Secara biologi alat-alat tersebut tidak bisa dipertukarkan. Secara permanen tidak berubah dan merupakan biologis atau sering dikatakan sebagai ketentuan Tuhan (Fakih, 2013 : 8). Meski perkembangan teknologi meruntuhkan pengertian di atas, kita harus mengabaikannya sejenak.
Sedangkan konsep lainnya adalah konsep gender, yakni suatu sifat yang melekat pada kaum laki-laki dan perempuan yang dikonstruksi secara sosial maupun kultural (Fakih, 2013 : 8). Konsep gender juga dikaitkan dengan konsep sebelumnya, jenis kelamin. Dikenal bahwa manusia dengan jenis kelamin perempuan umumnya memiliki sifat yang lemah lembut, emosional atau keibuan.
Sementara laki-laki umumnya memiliki sifat kuat, rasional, jantan, perkasa.
Tidak seperti jenis kelamin, sifat-sifat yang menandai perbedaan gender dapat ditukarkan. Misalnya, ada laki-laki yang memiliki sifat lemah lembut,
emosional atau keibuan seperti yang umumnya dimiliki perempuan. Begitu pula sebaliknya, ada perempuan yang memiliki sifat-sifat umum laki-laki. Sejarah perbedaan gender (gender differences) antara manusia jenis laki-laki dan perempuan terjadi melalui proses yang panjang. Terbentuknya perbedaan- perbedaan gender dikarenakan oleh banyak hal, di antaranya dibentuk, disosialisasikan, diperkuat, bahkan dikonstruksi secara sosial atau kultural, melalui ajaran keagamaan maupun negara. Melalui proses panjang, sosialisasi gender tersebut akhirnya dianggap menjadi ketentuan Tuhan – seolah-olah bersifat biologis yang tidak bisa diubah lagi (Fakih, 2013 : 9).
Melalui dialektika, konstruksi sosial gender yang tersosialisasikan secara evolusional dan perlahan-lahan mempengaruhi biologis masing-masing jenis kelamin. Misalnya, karena konstruksi sosial gender, kaum laki-laki terlatih dan tersosialisasi serta termotivasi untuk menjadi atau menuju ke sifat gender yang ditentukan oleh suatu masyarakat, yakni secara fisik lebih kuat dan lebih besar.
Sebaliknya, karena kaum perempuan harus lemah lembut, maka sejak bayi proses sosialisasi tersebut tidak saja berpengaruh kepada perkembangan emosi dan visi serta ideologi kaum perempuan, tetapi juga mempengaruhi perkembangan fisik dan biologis selanjutnya. Karena proses sosialisasi dan rekonstruksi berlangsung secara mapan dan lama, akhirnya menjadi sulit dibedakan apakah sifat-sifat gender itu dikonstruksi atau dibentuk oleh masyarakat atau kodrat biologis yang ditetapkan oleh Tuhan (Fakih, 2013 : 9-10).
Dalam menjernihkan perbedaan antara seks dan gender ini yang menjadi masalah adalah terjadi kerancuan dan pemutarbalikan makna tentang apa yang disebut seks dan gender. Dewasaini terjadi peneguhan pemahaman yang tidak pada tempatnya di masyarakat, di mana apa yang sesungguhnya gender justru dianggap sebagai kodrat yang berarti ketentuan biologis atau ketetntuan Tuhan.
Caplan menguraikan bahwa perbedaan perilaku antara laki-laki dan perempuan tidaklah sekedar biologi, namun melalui proses sosial dan kultural. Oleh karena itu gender berubah dari waktu ke waktu, dari tempat ke tempat bahkan dari kelas ke kelas, sedangkan jenis kelamin biologis (sex) akan tetap tidak berubah (Fakih, 2013 : 11).
Perbedaan gender (gender differences) pada proses berikutnya melahirkan peran gender (gender role) dan dianggap tidak menimbulak masalah, maka tak pernah digugat. Jadi kalau secara biologi kaum perempuan dengn organ reproduksinya bisa hamil, melahirkan dan menyusui dan kemudian mempunyai peran gender sebagai perawat, pengasuh dan pendidik anak, sesungguhnya tidak ada masalah dan tidak perlu digugat. Akan tetapi yang menjadi masalah dan perlu digugat oleh mereka yang menggunakan analisis gender adalah struktur ketidakadilan yang ditimbulkan oleh peran gender dan perbedaan gender tersebut.
Dari studi yang dilakukan dengan menggunakan analisis gender ini ternyata banyak ditemukan sebagai manifestasi ketidakadilan seperti berikut (Fakih, 2013 : 72-75):
1. Terjadinya marginalisasi (pemiskinan ekonomi) terhadap kaum perempuan. Meskipun tidak setiap marginalisasi perempuan disebabkan oleh ketidakadilan gender, namun yang dipersoalkan dalam analisis gender adalah marginalisasi yang disebabkan oleh perbedaan gender. Misalnya dalam hal pekerjaan. Banyak sekali pekerjaan yang dianggap pekerjaan serta ideologi kaum perempuan, tetapi juga mempengaruhi perkembangan fisik dan biologis selanjutnya. Karena proses sosialisasi dan rekonstruksi berlangsung secara mapan dan lama, akhirnya menjadi sulit dibedakan apakah sifat-sifat gender itu dikonstruksi atau dibentuk oleh masyarakat atau kodrat biologis yang ditetapkan oleh Tuhan (Fakih, 2013 : 9-10).
Dalam menjernihkan perbedaan antara seks dan gender ini yang menjadi masalah adalah terjadi kerancuan dan pemutarbalikan makna tentang apa yang disebut seks dan gender. Dewasaini terjadi peneguhan pemahaman yang tidak pada tempatnya di masyarakat, di mana apa yang sesungguhnya gender justru dianggap sebagai kodrat yang berarti ketentuan biologis atau ketetntuan Tuhan.
Caplan menguraikan bahwa perbedaan perilaku antara laki-laki dan perempuan tidaklah sekedar biologi, namun melalui proses sosial dan kultural. Oleh karena itu gender berubah dari waktu ke waktu, dari tempat ke tempat bahkan dari kelas ke kelas, sedangkan jenis kelamin biologis (sex) akan tetap tidak berubah (Fakih, 2013 : 11).
Perbedaan gender (gender differences) pada proses berikutnya melahirkan peran gender (gender role) dan dianggap tidak menimbulak masalah, maka tak pernah digugat. Jadi kalau secara biologi kaum perempuan dengn organ reproduksinya bisa hamil, melahirkan dan menyusui dan kemudian mempunyai peran gender sebagai perawat, pengasuh dan pendidik anak, sesungguhnya tidak ada masalah dan tidak perlu digugat. Akan tetapi yang menjadi masalah dan perlu digugat oleh mereka yang menggunakan analisis gender adalah struktur ketidakadilan yang ditimbulkan oleh peran gender dan perbedaan gender tersebut.
Dari studi yang dilakukan dengan menggunakan analisis gender ini ternyata banyak ditemukan pelbagai manifestasi ketidakadilan seperti berikut (Fakih, 2013 : 72-75):
1. Terjadinya marginalisasi (pemiskinan ekonomi) terhadap kaum perempuan. Meskipun tidak setiap marginalisasi perempuan disebabkan oleh ketidakadilan gender, namun yang dipersoalkan dalam analisis gender adalah marginalisasi yang disebabkan oleh perbedaan gender. Misalnya dalam hal pekerjaan. Banyak sekali pekerjaan yang dianggap pekerjaan 5. Karena peran gender perempuan adalah mengelola rumah tangga, maka banyak perempuan menanggung beban kerja domestik lebih banyak dan lebih lama (burden). Dengan kata lain, peran gender perempuan mengelola, menjaga dan memelihara kerapian tersebut, telah mengakibatkan tumbuhnya tradisi dan keyakinan masyarakat bahwa mereka harus bertanggung jawab atas terlaksananya keseluruhan pekerjaan domestik. Sosialisasi peran gender tersebut menimbulkan rasa bersalah dalam diri perempuan jika tidak menjalankan tugas-tugas domestik tersebut. Sedangkan kaum laki-laki, tidak saja merasa bukan tanggung jawabnya, bahkan di banyak tradisi secara adat laki-laki dilarang terlibat dalam pekerjaan domestik.
Semua manifestasi ketidakadilan gender tersebut saling berkaitan dan secara dialektika saling mempengaruhi. Manifestasi ketidakadilan itu
„tersosialisasi‟ kepada kaum laki-laki dan perempuan secara mantap, yang lambat laun akhirnya baik laki-laki maupun perempuan menjadi terbiasa dan akhirnya dipercaya bahwa peran gender itu seolah-olah merupakan kodrat. Lambat laun terciptalah suatu struktur dan sistem ketidakadilan gender yang ‟diterima‟ dan sudah tidak lagi dapat dirasakan ada sesuatu yang salah (Fakih, 2013 : 76).
2.2.7. Feminisme
Menurut etimologinya, Feminisme berasal dari kata latin yaitu femina yang diterjemahkan dalam bahasa inggris sebagai femine berarti memiliki sifat sifat sebagai perempuan yang kemudian ditambah kata “isme” yang dapat diartikan sebagai paham. Oleh sebab itu menurut Mustaqim, gerakan feminisme dapat diartikan sebagai kesadaran terhadap adanya diskriminasi, ketidakadilan dan subordinasi perempuan, dilanjutkan dengan upaya untuk mengubah keadaan tersebut menuju ke sebuah sistem masyarakat yang lebih adil (Karolus, 2013:4).
Feminisme menurut Goefe (Sugihastuti & Saptiawan, 2007:93) ialah teori tentang persamaan antara laki-laki dan perempuan di bidang politik, ekonomi dan sosial;
atau kegiatan terorganisasi yang memperjuangkan hak-hak serta kepentingan perempuan. Penindasan terhadap perempuan berkembang sejalan dengan perkembangan peradaban manusia. Feminisme merupakan sebuah gerakan sudah tua tetapi pada tahun 60-an dianggap sebagai lahirnya gerakan itu sehingga gerakan ini merupakan titik ukur dimana perempuan terang-terangan resisten terhadap penindasan dari segala aspek sosial, ekonomi dan politik. Feminisme muncul sebagai gerakan pada mulanya berangkat dari asumsi bahwa kaum perempuan pada dasarnya ditindas dan dieksploitasi, serta usaha untuk mengakhiri penindasan dan eksploitasi tersebut. Meskipun terjadi perbedaan antarfeminis mengenai apa, mengapa dan bagaimana penindasan dan eksploitasi itu terjadi, namun mereka sepaham bahwa hakikat perjuangan feminis adalah demi kesamaan martabat dan kebebasan mengontrol raga dan kehidupan baik didalam maupun di luar.
Menurut Gross (Ollenburger & Moore, 2002:20), dalam tahun 1960-an, para feminis berfokus pada penentuan wanita agar sederajat dengan laki-laki.
Setelah berabd-abad diabaikan, disingkirkan bahkan diremehkan oleh disiplindisplin patriarkis, wanita berusaha masuk dan menjadi objek penyelidikan.
Teoriteori tradisional dimodifikasi oleh kaum feminis untuk menerangkan penindasan wanita.
Bagi para feminis, konsep yang paling tepat untuk menjelaskan penindasan terhadap perempuan adalah konsep patriarki yaitu suatu sistem dominasi laki-laki. Meskipun banyak feminis yang tidak setuju dengan asal usul
dan karakteristik patriarki tetapi banyak juga yang menyatakan bahwa penyebab utama semua penindasan terhadap perempuan adalah sistem patriarki.
Teori-teori feminis sama tuanya dengan tradisi barat tentang dunia sosial.
menurut Evans, pada abad ke-14, para penulis perempuan mempertanyakan tentang tempat mereka di dunia sosial dan menentang ide-ide yang berlaku dan dominan saat itu tentang peran dan sifat perempuan yang berhubungan dengan feminitas. Kebangkitan feminisme juga muncul lewat tulisan karya Wollstonecraft yang berjudul A Vindication of the Rights of Woman yang diterbitkan tahun 1792 dimana inti dari pemikiran Wollstonecraft hampir sama dengan Marx bahwa posisi perempuan dalam masyarakat harus dipikirkan dalam pengertian masyarakat itu sebagai satu keseluruhan yang utuh (Karolus, 2013:30-31).
Dalam gerakan feminisme ini, banyak para ahli yang menjadi pelopor lahirnya pemikiran maupun pendekatan tentang feminsime tersebut sehingga terbentuknya aliran-aliran feminisme yang telah sampai sekarang masih digunakan , yaitu :
1. Feminisme Liberal
Dalam aliran feminisme liberal ini, penyebab daripada penindasan wanita adalah dikenal sebagai kurangnya kesempatan yang ada untuk mendapatkan pendidikan secara individual maupun kelompok. Aliran ini berusaha memperjuangkan agar perempuan mencapai persamaan hak-hak legal secara sosial maupun politik. Artinya bahwa aliran ini menolak segala bentuk diskriminasi terhadap perempuan dan diharapkan mampu membawa kesetaraan bagi perempuan.
Asumsi dasar dari aliran feminisme liberal ini berakar pada pandangan bahwa kebebasan (freedom) dan kesamaan (equality).Kerangka kerja feminis liberal dalam memperjuangkan persoalan masyarakat tertuju pada “kesempatan yang sama dan hak yang sama“ bagi setiap individu termasuk di dalamnya kesempatan dan hak kaum perempuan.
Feminisme liberal dimulai sejak tahun 1792, sejak Mery Wollstonecraft menerbitkan A Vindication of The Right of Women tahun 1799. Masa itu merupakan periode dari pemikir-pemikir liberal besar dan perkembangan teoriteori kontrak sosial. Filosof-filosof seperti Rosseau saat itu menegaskan suatu