• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERSEPSI BADAN USAHA SWASTA DI KOTA DENPASAR TERHADAP JAMINAN KESEHATAN NASIONAL TAHUN 2016.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "PERSEPSI BADAN USAHA SWASTA DI KOTA DENPASAR TERHADAP JAMINAN KESEHATAN NASIONAL TAHUN 2016."

Copied!
46
0
0

Teks penuh

(1)

UNIVERSITAS UDAYANA

PERSEPSI BADAN USAHA SWASTA DI KOTA DENPASAR TERHADAP

JAMINAN KESEHATAN NASIONAL TAHUN 2016

GEDE WIRABUANA PUTRA

PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KEDOKTERAN

(2)

ii

UNIVERSITAS UDAYANA

PERSEPSI BADAN USAHA SWASTA DI KOTA DENPASAR TERHADAP

JAMINAN KESEHATAN NASIONAL TAHUN 2016

GEDE WIRABUANA PUTRA (1220025095)

PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KEDOKTERAN

(3)

UNIVERSITAS UDAYANA

PERSEPSI BADAN USAHA SWASTA DI KOTA DENPASAR TERHADAP

JAMINAN KESEHATAN NASIONAL TAHUN 2016

Skripsi ini diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar SARJANA KESEHATAN MASYARAKAT

GEDE WIRABUANA PUTRA (1220025095)

PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KEDOKTERAN

(4)

iv

PERNYATAAN PERSETUJUAN

Skripsi ini telah disetujui dan diperiksa dihadapan Tim Penguji Skripsi

Program Studi Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Udayana

Denpasar, 31 mei 2016

Pembimbing

(5)

PERNYATAAN PERSETUJUAN

Skripsi ini telah dipresentasikan dan diujikan dihadapan Tim Penguji Skripsi

Program Studi Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Udayana

Denpasar, 31 mei 2016

Tim Penguji Skripsi

Ketua (Penguji I)

dr. I Ketut Suarjana, MPH NIP.197911182006041002

Anggota (Penguji II)

(6)

vi

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadapan Tuhan Yang Maha Esa karena berkat rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan Skrispi yang berjudul “Persepsi Badan Usaha Swasta di Kota Denpasar Terhadap Jaminan Kesehatan Nasional

Tahun 2016” ini tepat pada waktunya

Tidak lupa juga penulis mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah banyak membantu dalam memberikan informasi, masukan dan saran dalam laporan ini. Rasa terima kasih penulis ucapkan kepada :

1. Bapak dr. I Made Ady Wirawan, MPH, Ph.D Selaku ketua Program Studi Kesehatan Masyarakat Fakutas Kedokteran Universitas Udayana.

2. Ibu Putu Ayu Indrayathi, S.E,MPH selaku Ketua Bagian Administrasi dan Kebijakan Kesehatan Program Studi Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Udayana sekaligus dosen pembimbing yang telah meluangkan waktu dalam memberikan masukan dan bimbingan dalam penyusunan proposal.

3. dr. I Wayan Artawan Eka Putra, M.Epid selaku dosen pembimbing akademis Program Studi Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Udayan

4. Bapak/ibu dosen dan staff PSKM Fakultas Kedoteran Universitas Udayana

(7)

6. Staff Badan Pelayanan Perijinan Terpadu Satu Pintu & Penanaman Modal (BPPTSP&PM) Kota Denpasar atas dukunganya dalam membantu kelengkapan data-data untuk proposal penelitian ini

7. Keluarga dan orang tua saya atas atas dukunganya dalam memotivasi dalam pembuatan skripsi.

8. I Gusti Ayu Intan Paramitha atas dukunganya dalam membantu pengumpulan data dan memotivasi dalam pembuatan skripsi.

9. Sahabat, dan teman – teman penulis di PSKM FK UNUD yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu atas bantuan dan dukungannya dalam membuat dan menyelesaikan proposal penelitian ini.

Penulis menyadari bahwa proposal penelitian ini jauh dari sempurna dan terdapat banyak kekurangan. Untuk itu penulis mengharapkan kritik dan saran dari berbagai pihak untuk penyempurnaan proposal penelitian ini. Akhir kata penulis mengucapkan sekian dan terima kasih,

Denpasar, 10 mei 2016

(8)

viii

PERSEPSI BADAN USAHA SWASTA DI KOTA DENPASAR TERHADAP JAMINAN KESEHATAN NASIONAL TAHUN 2016

ABSTRAK

JKN merupakan program pemerintah yang diselenggarakan oleh BPJS Kesehatan untuk mewujudkan pelayanan kesehatan yang adil dan bermutu. Kepesertaan JKN bagi badan usaha swasta merupakan suatu hal yang penting untuk mencapai Universal Health Coverage. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persepsi badan usaha swasta di Kota Denpasar terhadap Jaminan Kesehatan Nasional.

Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Penelitian dilakukan di 8 badan usaha swasta di Kota Denpasar. Pengumpulan data dilakukan dengan metode wawancara mendalam kepada 16 responden dipilih dengan teknik purposive. Responden penelitian terdiri dari 1 orang manajemen dan 1 orang pekerja di setiap badan usaha swasta Analisis data menggunakan metode analisis data tematik dan penyajian data secara kuotasi interpretasi.

Hasil penelitian menunjukan bahwa responden mengetahui program JKN. Pelayanan program JKN belum begitu bagus tetapi program JKN merupakan program yang penting bagi responden. Badan usaha swasta yang berdiri lebih dari 5 tahun memiliki kecenderungan untuk ikut program JKN, sedangkan yang berdiri kurang dari 5 tahun memiliki kecenderungan untuk tidak ikut program JKN. Iuran JKN bagi badan usaha swasta dirasakan memberatkan dan kurang setuju dengan sanksi keterlambatan pembayaran iuran.

Kesiapan badan usaha swasta menjadi faktor penting untuk ikut sebagai peserta JKN. Perlu adanya sosialisasi secara lisan maupun media dengan mendatangi badan usaha swasta. Perbaikan kualitas layanan akan meningkatkan kepercayaan badan usaha swasta terhadap program JKN.

(9)

COMMUNITY HEALTH STUDIES PROGRAM

PERCEPTION OF PRIVATE BUSINESSES IN THE CITY OF DENPASAR TOWARDS NATIONAL HEALTH COVERAGE 2016

ABSTRACT

JKN is a government program organized by the BPJS Kesehatan to realize a fair and health care quality. JKN membership for private business entities is an important thing to achieve Universal Health Coverage. This research aims to know the perception of private businesses in the city of Denpasar towards health coverage nationwide.

This research is descriptive research with qualitative approach. The research was done in a private business entity 8 in the city of Denpasar. Data collection is program for the respondent. Private business entities that stand more than 5 years of age have a tendency to sit, while the JKN program which stands less than 5 years have a tendency not to join the program of JKN. JKN dues for private businesses perceived aggravating and less agree with sanctions late payment of dues.

The readiness of private business entities become important factors to join as participants JKN. Need for socialization of oral or go to the media with a private business entity. Improvements to the quality of service will improve the confidence of private business entities to JKN.

(10)

x

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN JUDUL DENGAN SPESIFIKASI ... iii

HALAMAN PERSETUJUAN ... iv

1.3 Pertanyaan Penelitian ... 6

1.4 Tujuan Penelitian ... 7

1.6 Ruang Lingkup Penelitian ... 8

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 9

2.1 Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) ... 9

(11)

2.1.2 Tujuan JKN ... 11

2.1.3 Prinsp JKN ... 12

2.1.4 Manfaat Pelayanan JKN ... 17

2.1.5 Kepesertaan JKN ... 17

2.1.6 Iuran JKN ... 20

2.2 Badan Usaha Swasta ... 22

2.2.1 Definisi Badan Usaha Swasta ... 22

2.2.2 Bentuk Badan Usaha Swasta ... 22

2.2.3 Badan Usaha Berdasarkan Skala Produksi dan Pekerja ... 25

2.3 Persepsi ... 26

BAB III KERANGKA KONSEP DAN DEFINISI OPERASIONAL ... 31

3.1 Kerangka Konsep ... 31

3.2 Variabel dan Definisi Operasional ... 32

3.2.1 Variabel Penelitian ... 32

3.2.2 Definisi Operasional Variabel ... 32

BAB IV METODE PENELITIAN... 34

4.1 Karakteristik Penelitian ... 34

4.1.1 Rancangan Penelitian ... 34

4.1.2 Teknik Pengambilan Responden ... 34

4.1.3 Tempat dan Waktu Penelitian... 34

4.2 Peran Peneliti ... 36

4.3 Strategi Pengumpulan Data ... 36

4.4 Analisis Data ... 37

4.5 Strategi Validitas Data ... 38

BAB V HASIL PENELITIAN ... 39

(12)

xii

5.2 Gambaran Umum ... 41

5.3 Karakteristik Informan ... 42

5.4 Persepsi Mengenai Program JKN ... 46

5.5 Persepsi Mengenai Manfaat Pelayanan JKN ... 49

5.6 Persepsi Mengenai Kepesertaan dan Iuran JKN... 52

BAB VI PEMBAHASAN ... 60

6.1 Persepsi Mengenai Program JKN ... 61

6.2 Persepsi Mengenai Manfaat Pelayanan JKN ... 65

6.3 Persepsi Mengenai Kepesertaan dan Iuran JKN... 69

6.4 Kelemahan Penelitian ... 74

BAB VII SIMPULAN DAN SARAN ... 75

7.1 Simpulan ... 75

7.2 Saran ... 76

7.2.1 Bagi Pembuat Kebijakan/ BPJS Kesehatan ... 76

7.2.2 Bagi Penelitian Selanjutnya ... 77

(13)

DAFTAR TABEL

Tabel 1.1 Rekrutmen Badan Usaha Swasta BPJS Kesehatan Cabang

Denpasar...4

Tabel 2.1 Jumlah Pembuatan SIUP Badan Usaha Swasta di Kota Denpasar...24

Tabel 3.1 Definisi Operasional Variabel...33

Tabel 5.1 Karakteristik Informan Manajemen Badan Usaha Swasta di Kota Denpasar...44

Tabel 5.2 Karakteristik Informan Pekerja Badan Usaha Swasta di Kota Denpasar...45

Tabel 5.3 Koding Persepsi Program JKN...46

Tabel 5.4 Koding Manfaat Pelayanan Program JKN...49

(14)

xiv

DAFTAR GAMBAR

(15)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran.1 Jadwal Rencana Penelitian

Lampiran.2 Lembar Informasi Wawancara Mendalam Persepsi Badan Usaha Swasta di Kota Denpasar Terhadap Jaminan Kesehatan Nasional Tahun 2016

Lampiran.3 Lembar Permohonan Menjadi Responden

Lampiran.4 Pedoman Wawancara Bagi Manajemen Pada Badan Usaha Swasta Di Kota Denpasar Terhadap Jaminan Kesehatan Nasional Tahun 2016

Lampiran.5 Pedoman Wawancara Bagi Pekerja Pada Badan Usaha Swasta Di Kota Denpasar Terhadap Jaminan Kesehatan Nasional Tahun 2016

Lampiran 6 Keterangan Kelaikan Etik

(16)

xvi

DAFTAR SINGKATAN

BPJS : Badan Penyelenggara Jaminan Sosial BPS : Badan Pusat Statistik

BUMN : Badan Usaha Milik Negara BUMS : Badan Usaha Milik Swasta IPM : Indeks Pembangunan Manusia JKN : Jaminan Kesehatan Nasional New e-DABU : New entry Data Badan Usaha

NPWP : Nomor Pokok Wajib Pajak PBI : Penerima Bantuan Iuran PBPU : Pekerja Bukan Penerima Upah PIC : Person in Charge

PPU : Pekerja Penerima Upah SIUP : Surat Izin Usaha Perdagangan SJSN : Sistem Jaminan Sosial Nasional UU : Undang Undang

(17)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Indonesia merupakan salah satu negara berkembang yang memiliki sumber daya yang mendukung untuk kualitas hidup masyarakatnya. Dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakatnya, Indonesia harus memperhatikan beberapa komponen untuk mencapai Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang baik. IPM memiliki tiga dimensi dasar yaitu umur panjang dan sehat, pengetahuan, serta kehidupan yang layak. Pencapaian IPM di Indonesia berdasarkan data Badan Pusat Statistik tahun 2014 mencapai 73,81 %. Berdasarkan perhitungan IPM adapun juga hasil perhitungan angka harapan hidup masyarakat Indonesia yaitu 70,1 % yang terbilang cukup rendah dibandingkan negara lainnya (BPS, 2014).

(18)

2

Penerapan SJSN di Indonesia memiliki hubungan dengan pelaksanaan dari program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Jaminan Kesehatan Nasional merupakan program yang bertujuan agar seluruh penduduk Indonesia terlindungi oleh sistem asuransi sehingga mereka dapat memenuhi kebutuhan dasar kesehatan. Menurut UUD 1945 Pasal 28 ayat 1 menyatakan bahwa setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal, dan mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat serta berhak memperoleh pelayanan kesehatan. Pernyataan tersebut menegaskan bahwa jaminan kesehatan merupakan program yang wajib didapatkan seluruh masyarakat Indonesia. Indonesia sampai saat ini masih belum bisa keluar dari permasalahan tersebut hal ini dibuktikan dengan jumlah penduduk Indonesia yang memiliki jaminan kesehatan baru berjumlah 60,24% atau 142.179.507 jiwa, sedangkan 39,76% atau 95.376.856 jiwa belum memilikinya (Purwandari, 2015). Implementasi program JKN pada awalnya mengalami beberapa kendala seperti : belum semua penduduk tercakup menjadi peserta, distribusi pelayanan kesehatan yang belum merata, kualitas pelayanan kesehatan yang bervariasi, sistem rujukan serta pembayaran yang belum optimal (Maman. dkk, 2015). Perbaikan pada program JKN dilakukan secara intensif melalui pembentukan kebijakan dan sistem asuransi kesehatan. Program JKN di Indonesia memiliki tujuan untuk mencapai cakupan Semesta 2019 atau yang sering dikenal dengan Universal health Coverage. (Kemenkes RI, 2014) Salah satu upaya pemerintah dalam melaksankan cakupan semesta 2019 yaitu dibentuknya Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan (BPJS Kesehatan).

(19)

3

kelompok Peserta Bukan Penerima Bantuan Iuran (Non PBI) merupakan peserta belum terdaftar dengan jumlah yang cukup banyak di bandingkan dengan Peserta Penerima Bantuan Iuran (PBI) (BPJS Kesehatan, 2014). Banyaknya peserta yang belum terdaftar pada kelompok Non PBI menyebabkan BPJS Kesehatan menyusun strategi untuk menjaring peserta pada kelompok ini yaitu salah satunya pada badan usaha swasta. Badan usaha swasta merupakan sebuah lapangan pekerjaan yang memiliki kesatuan hukum, teknis, dan ekonomis yang pemilik sepenuhnya berada ditangan individu atau swasta yang bertujuan mencari laba atau keuntungan.

Kota Denpasar merupakan ibu kota Provinsi Bali dengan kepadatan penduduk dan tingkat mobilitas yang cukup tinggi. Sebagai pusat pemerintahan, Kota Denpasar memiliki banyak perusahaan dan badan usaha sebagai salah satu aset pembangunan infrastruktur di Bali. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik tahun 2014 dapat dilihat jumlah penduduk Kota Denpasar yang berusia 15 tahun ke atas yang bekerja menurut jenis lapangan usaha pada tahun 2014, didapatkan bahwa dari 461.135 pekerja, pekerja lebih banyak pada jenis lapangan usaha perdagangan, rumah makan dan hotel dengan jumlah pekerja sebanyak 195.205 pekerja kemudian jenis lapangan usaha jasa kemasyarakatan, sosial, dan perorangan dengan jumlah 104.961 pekerja dan lapangan usaha jenis industri pengolahan berjumlah 58.378 pekerja (BPS, 2014). Produktivitas Kota Denpasar yang sebagian besar berasal dari sektor badan usaha maka perlu untuk memberikan jaminan kesehatan bagi pekerja agar pekerja dapat menikmati pelayanan kesehatan dan dapat meningkatkan produktivitas badan usaha.

(20)

4

ini yaitu badan usaha swasta yang ada di Kota Denpasar untuk rekrutmen kepesertaannya belum mencapai target untuk tahun 2015.

Tabel 1.1 Rekrutmen Badan Usaha Swasta BPJS Kesehatan Cabang Denpasar

No Kabupaten/Kota Sumber : Aplikasi Unit Pemasaran BPJS Kesehatan Cabang Denpasar tentang capaian rekrutmen badan usaha swasta hingga 30 Desember 2105

(21)

5

program JKN dapat dibuktikan dengan persepsi masyarakat tentang program JKN. Maka dari itu untuk mengetahui faktor penghambat dan pendorong badan usaha swasta mendaftar sebagai peserta JKN dilakukan dengan menggambarkan persepsi badan usaha swasta terhadap program JKN.

Kewajiban melakukan pendaftaran kepesertaan jaminan kesehatan bagi badan usaha swasta diatur dalam Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor. 111 Tahun 2013, sebagaimana dimaksud pada ayat 2 yaitu pemberi kerja pada badan usaha milik negara, badan usaha besar, badan usaha menengah, badan usaha kecil maupun badan usaha mikro diwajibkan paling lambat mendaftarkan badan usahanya sebagai peserta BPJS Kesehatan paling lambat pada tanggal 1 Januari 2015 (Kemenhumkam, 2013b). Aturan tersebut tentunya akan mengikat bagi kelompok peserta PPU dalam hal ini badan usaha swasta untuk menjadi peserta JKN. Keadaan sistem JKN yang mewajibkan ini sangat berbeda dengan PP No. 14 tahun 1993 tentang Jamsostek yang membolehkan terjadinya opt out (tidak ikut Jamsostek). Hal ini menyebabkan badan usaha lebih memilih untuk ikut asuransi kesehatan swasta dibandingkan Jamsostek (Thabrany, 2015). Selain dari kepesertaan yang bersifat wajib, dilihat dari pembayaran iuran berdasarkan pernyataan dari Direktur Keuangan dan Investasi BPJS Kesehatan, Riduan, mengatakan bahwa tingkat kolektabilitas PPU sangat baik karena mereka tergolong lancar membayar iuran (BPJS Kesehatan, 2015).

(22)

6

1.2 Rumusan Masalah

JKN merupakan program yang mulai beroperasi pada 1 Januari 2014 yang dilaksanakan melalui BPJS Kesehatan. Program yang masih terbilang baru ini membuat masih banyak masyarakat yang belum paham tentang program JKN. Hal ini dibuktikan dari pencapaian rekrutmen peserta JKN yaitu khususnya pada badan usaha swasta yang ada di Kota Denpasar ternyata tidak memenuhi target pada tahun 2015. Pencapaian rekrutmen badan usaha swasta di Kota Denpasar berdasarkan jumlah jiwa masih terbilang rendah karena hanya mencapai 42,52 %. Sedangkan dalam Perpres 111 Tahun 2013 dinyatakan bahwa badan usaha wajib mendaftarkan pekerjanya menjadi peserta JKN. Oleh karena itu perlu dilihat bagaimana persepsi badan usaha swasta di Kota Denpasar terhadap JKN pada tahun 2016. Dengan mengetahui hal tersebut diharapkan BPJS Kesehatan dapat memperoleh masukan sehingga dapat menyusun strategi rekrutmen badan usaha swasta yang ada di Kota Denpasar.

1.3 Pertanyaan Penelitian

1. Bagaimanakah persepsi badan usaha swasta di Kota Denpasar terhadap program Jaminan Kesehatan Nasional ?

2. Bagaimanakah persepsi badan usaha swasta di Kota Denpasar terhadap manfaat pelayanan Jaminan Kesehatan Nasional ?

(23)

7

1.4 Tujuan Penelitian

1.4.1 Tujuan Umum

Untuk menggambarkan persepsi badan usaha swasta di Kota Denpasar terhadap Jaminan Kesehatan Nasional tahun 2016.

1.4.2 Tujuan Khusus

1. Untuk mengetahui persepsi badan usaha swasta di Kota Denpasar terhadap program Jaminan Kesehatan Nasional.

2. Untuk mengetahui persepsi badan usaha swasta di Kota Denpasar terhadap manfaat pelayanan Jaminan Kesehatan Nasional.

3. Untuk mengetahui persepsi badan usaha swasta di Kota Denpasar terhadap kepesertaan dan iuran Jaminan Kesehatan Nasional.

1.5 Manfaat Penelitian

1.5.1 Manfaat Praktis

Memberikan masukan mengenai gambaran persepsi badan usaha swasta di Kota Denpasar kepada BPJS Kesehatan cabang Denpasar. Sehingga BPJS Kesehatan mampu mengetahui faktor pendorong dan penghambat badan usaha swasta di Kota Denpasar dalam memanfaatkan Jaminan Kesehatan Nasional.

(24)

8

1.5.2 Manfaat Teoritis

Hasil penelitian ini dapat memperkaya khasanah ilmu pengetahuan serta menjadi salah satu referensi bagi penelitian selanjutnya.

Bagi peneliti dapat menambah pengetahuan mengenai persepsi badan usaha swasta di Kota Denpasar terhadap Jaminan Kesehatan Nasional.

1.6 Ruang Lingkup Penelitian

(25)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Jaminan Kesehatan Nasional (JKN)

2.1.1 Definisi JKN

JKN adalah program jaminan kesehatan yang berupa perlindungan kesehatan agar peserta memperoleh manfaat pemeliharaan kesehatan dan perlindungan dalam memenuhi kebutuhan dasar kesehatan yang diberikan kepada setiap orang yang telah membayar iuran atau iurannya dibayar oleh pemerintah (Kemenhumkam, 2013a). Program JKN merupakan bentuk reformasi dibidang kesehatan yang bertujuan untuk mengatasi permasalahan fragmentasi dan pembagian jaminan kesehatan yang diterapkan melalui mekanisme asuransi kesehatan (Khariza, 2015). Berdasarkan hasil penelitian (Rumengan dkk, 2015) dijelaskan bahwa pelaksanaan program layanan kesehatan yang dilakukan BPJS telah banyak membantu kelompok masyarakat dengan pendapatan ekonomi yang kurang untuk mendapatkan layanan kesehatan yang sesuai namun masih banyak responden tidak memanfaatkan puskesmas.

(26)

10

menggunakan dana yang dikumpulkan untuk membayar kerugian yang diderita. Dengan adanya asuransi diharapkan risiko masyarakat harus membayar biaya kesehatan sendiri dapat diminimalisasi dan dapat mengatasi permasalahan mengenai asuransi kesehatan dengan sistem managed care.

Managed Care adalah suatu system pembiayaan pelayanan kesehatan yang disusun berdasarkan jumlah anggota yang terdaftar dengan kontrol mulai dari perencanaan pelayanan serta meliputi kontrak dengan penyelenggara pelayanan kesehatan untuk pelayanan yang komprehensif, penekanan agar peserta tetap sehat sehingga utilisasi berkurang, unit layanan harus memenuhi standar yang telah ditetapkan dan terdapat program peningkatan mutu pelayanan. Pendekatan ini dapat mengurangi bahaya moral (moral hazard) terhadap pelayanan kesehatan yang tidak dibutuhkan oleh pasien sehingga mengakibatkan kerugian kesejahteraan masyarakat (Suhanda, 2015)

(27)

11

1. Regulator

Regulator adalah berbagai kementerian atau lembaga terkait seperti Kementerian Koordinator Kesejahteraan Rakyat, Kementerian Kesehatan, Kementerian Keuangan, Kementerian Sosial, Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Kementerian Dalam Negeri, dan Dewan Jaminan Sosial Nasional (DJSN).

2. Peserta Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN)

Peserta dari program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) adalah seluruh penduduk Indonesia, termasuk orang asing yang bekerja paling singkat enam bulan di Indonesia, yang telah membayar iuran.

3. Pemberi Pelayanan Kesehatan

Pemberi pelayanan kesehatan adalah seluruh fasilitas kesehatan tingkat pertama dan fasilitas kesehatan rujukan tingkat lanjut.

4. Badan Penyelenggara

Badan Penyelenggara merupakan badan hukum publik yang menyelenggarakan program jaminan kesehatan sebagaimana yang telah ditetapkan oleh Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2011 tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS).

2.1.2 Tujuan JKN

(28)

12

selenggarakan melalui Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan (BPJS Kesehatan) yaitu cakupan semesta pada tahun 2019. Cakupan semesta sering kali dikenal dengan istilah Universal Health Coverage.

Universal Health Coverage merupakan sistem kesehatan di mana setiap

warga di dalam populasi memiliki akses yang adil terhadap pelayanan kesehatan promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif, yang bermutu dan dibutuhkan oleh masyarakat, dengan biaya yang terjangkau. Cakupan universal mengandung dua elemen inti yaitu pelayanan kesehatan yang adil dan bermutu bagi setiap warga dan perlindungan risiko finansial ketika warga menggunakan pelayanan kesehatan (WHO, 2005).

2.1.3 Prinsip JKN

Pelaksanaan dari program JKN dijalankan berdasarkan prinsip yang telah di tetapkan berdasarkan Undang-Undang Nomor. 24 tahun 2011 tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial. Dalam buku pegangan sosialisasi JKN dalam SJSN juga menjelaskan tentang prinsip yang diterapkan BPJS Kesehatan selaku penyelenggara program JKN yaitu :

1. Prinsip kegotongroyongan

(29)

13

responden yang berpendapatan kecil merasa terbantu, dan bagi yang sakit sudah tidak memikirkan biaya yang akan dikeluarkan.

2. Prinsip nirlaba

Nirlaba merupakan bentuk pengelolaan dana yang bersifat bukan untuk mencari laba. Sebaliknya memiliki tujuan untuk memenuhi sebesar-besarnya kepentingan peserta.

3. Prinsip keterbukaan, kehati-hatian, akuntabilitas, efisiensi, dan efektivitas. Prinsip ini merupakan hal yang mendasari seluruh kegiatan pengelolaan dana yang berasal dari iuran peserta dan hasil pengembangannya.

4. Prinsip portabilitas

Prinsip portabilitas dimaksudkan untuk memberikan jaminan yang berkelanjutan kepada peserta sekalipun mereka berpindah pekerjaan atau tempat tinggal dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)

5. Prinsip kepesertaan bersifat wajib

(30)

14

6. Prinsip dana amanat

Dana yang terkumpul dari iuran peserta merupakan dana yang dititipkan kepada badan penyelenggara untuk dikelola sebaik-baiknya dalam rangka mengoptimalkan dana tersebut untuk kesejahteraan peserta. 7. Prinsip hasil pengelolaan dana Jaminan Sosial

Prinsip ini berarti pengelolaan dana dipergunakan seluruhnya untuk pengembangan program dan untuk sebesar-besarnya kepentingan peserta.

2.1.4 Manfaat Pelayanan JKN

Setelah peserta terdaftar sebagai kepesertaan BPJS Kesehatan maka adapun hak dan kewajiban peserta serta manfaat pelayanan yang akan diterima peserta. Adapun hak peserta yang telah terdaftar di BPJS Kesehatan yaitu mendapatkan identitas peserta, serta manfaat pelayanan kesehatan di fasilitas kesehatan yang bekerja sama dengan BPJS Kesehatan. Selain hak yang diterima sebagai peserta, peserta yang terdaftar perlu memenuhi kewajibannya sebagai peserta berupa membayar iuran dan melaporkan kepesertaannya kepada BPJS Kesehatan dengan menunjukkan identitas peserta pada saat pindah domisili maupun pindah kerja (BPJS Kesehatan, 2014b). Berdasarkan penelitian (Wulansih, 2003) dalam (Hidayah, 2013) Tentang Pelaksanaan jaminan sosial tenaga kerja di PT Madu Baru Yogyakarta yang mennyimpulkan bahwa keikutsertaan karyawan dalam program jaminan sosial tenaga kerja bermanfaat bagi pihak perusahaan maupun karyawan beserta keluarganya. Dengan memenuhi hak dan kewajiban sebagai peserta JKN maka peserta akan mendapatkan manfaat pelayanan kesehatan berupa :

(31)

15

a. Administrasi pelayanan

b. Pelayanan promotif dan preventif

c. Pemeriksaan, pengobatan, dan konsultasi medis.

d. Tindakan medis non spesialistik, baik operatif maupun non operatif. e. Pelayanan obat dan bahan medis habis pakai.

f. Transfusi darah sesuai dengan kebutuhan medis

g. Pemeriksaan penunjang diagnostik laboratorium tingkat pertama h. Rawat inap tingkat pertama sesuai dengan indikasi medis.

2. Pelayanan kesehatan rujukan tingkat lanjutan. Meliputi pelayanan kesehatan yang mencakup :

a. Administrasi pelayanan

b. Pemeriksaan, pengobatan dan komunikasi spesialistik oleh dokter spesialis dan subspesialis.

c. Tindakan medis spesialistik, baik bedah maupun non bedah sesuai dengan indikasi medis.

d. Pelayanan obat dan bahan medis habis pakai.

e. Pelayanan penunjang diagnostik lanjutan sesuai dengan indikasi medis.

f. Rehabilitasi medis. g. Pelayanan darah.

h. Pelayanan kedokteran forensik klinik.

i. Pelayanan jenazah pada pasien yang meninggal di fasilitas kesehatan.

(32)

16

Manfaat pelayanan JKN terdiri dari dua jenis, yaitu manfaat medis dan manfaat non-medis. Manfaat medis berupa pelayanan kesehatan yang komprehensif yaitu pelayanan promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif sesuai dengan indikasi medis yang tidak terikat dengan besaran iuran yang dibayarkan. Manfaat non-medis meliputi akomodasi dan ambulan. Manfaat akomodasi untuk layanan rawat inap sesuai hak kelas perawatan peserta. (Kemenkes RI, 2014). Adapun Pelayanan promotif dan preventif yang diberikan meliputi :

1. Penyuluhan kesehatan perorangan.

Penyuluhan kesehatan meliputi penyuluhan mengenai pengelolaan faktor risiko penyakit dan perilaku hidup bersih dan sehat.

2. Imunisasi dasar

Pemberian imunisasi dasar meliputi : Imunisasi Baccile Calmett Guerin (BCG), Difteri Pertusis Tetanus dan Hepatitis B (DPTHB), Polio, dan Campak.

3. Keluarga Berencana

Manfaat pelayanan keluarga berencana meliputi : Konseling, kontrasepsi dasar, vasektomi, dan tubektomi serta melakukan kerjasama dengan lembaga yang membidangi keluarga berencana.

4. Skrining kesehatan

Manfaat skrining diberikan secara selektif bertujuan untuk mendeteksi risiko penyakit dan mencegah dampak lanjutan dari risiko penyakit tertentu.

(33)

17

1. Ruang perawatan kelas I

Peserta Pekerja Penerima Upah dengan gaji atau upah di atas Rp 4.000.000,00 sampai dengan Rp 8.000.000,00 (Kemenhumkam, 2016). 2. Ruang perawatan kelas II

Peserta Pekerja Penerima Upah dengan gaji atau upah sampai dengan Rp 4.000.000,00 (Kemenhumkam, 2016).

Dalam menerapkan pelayanan yang berkualitas dan sesuai dengan aturan, tentunya program JKN seringkali mengalami permasalahan dan kecurangan yang terjadi (fraud). Kecurangan (fraud) dalam Pelaksanaan Program Jaminan Kesehatan pada Sistem Jaminan Sosial Nasional yang selanjutnya disebut kecurangan JKN adalah tindakan yang dilakukan dengan sengaja oleh peserta, petugas BPJS Kesehatan, pemberi pelayanan kesehatan, serta penyedia obat dan alat kesehatan untuk mendapatkan keuntungan finansial dari program jaminan kesehatan dalam Sistem Jaminan Sosial Nasional melalui perbuatan curang yang tidak sesuai dengan ketentuan (Kemenkes RI, 2015).

2.1.5 Kepesertaan JKN

(34)

18

Kepesertaan yang bersifat wajib pada program JKN tentunya berbeda dengan sistem asuransi komersial yang dikenal dengan seleksi bias (adverse selection). Seleksi bias (adverse selection) merupakan keadaan dimana orang orang yang berisiko tinggi atau di bawah standar yang cendrung menjadi atau terus melanjutkan kepesertaan (Thabrany, 2015). Keuntungan tidak adanya seleksi bias (adverse selection) akan memmpengaruhi terhadap pengumpulan dana untuk penanggulangan

risiko (risk pool). risk pool adalah suatu upaya menggabungkan risiko perorangan atau kumpulan kecil menjadi risiko bersama dalam sebuah kumpulan yang besar. Semua anggota kelompok (peserta) tanpa kecuali harus ikut dalam asuransi sosial yang mengakibatkan kumpulan anggota menjadi besar atau sangat besar (Thabrany,2015). Berdasarkan penelitian (Purwandari, 2015) yang menyatakan bahwa hasil penelitian tentang kepesertaan dalam JKN yang bersifat wajib bagi pekerja informal terdapat 53,4% responden yang setuju, sedangkan 28,8% responden tidak setuju.

Kepesertaan JKN dibagi menjadi dua kelompok yaitu Peserta Penerima Bantuan Iuran (PBI) Jaminan Kesehatan dan Peserta Bukan Penerima Iuran (Non PBI) Jaminan Kesehatan (BPJS Kesehatan, 2014b). Adapun penjelasan mengenai kedua kelompok kepesertaan JKN yaitu :

a. Peserta Penerima Bantuan Iuran (PBI) merupakan peserta yang iurannya dibayarkan atau ditanggung oleh pemerintah. Peserta PBI biasanya orang yang memiliki perekonomian tidak mampu atau fakir miskin.

(35)

19

1) Pekerja Penerima Upah (PPU) dan anggota keluarganya, meliputi : Pegawai Negeri Sipil (PNS), Anggota TNI, Anggota Polri, Pejabat Negara, Pegawai pemerintah non pegawai negeri, Pegawai swasta, dan pekerja selain yang disebutkan yang tentunya menerima upah.

Anggota keluarga bagi pekerja penerima upah meliputi : istri/suami yang sah, anak kandung, anak tiri dari perkawinan yang sah, dan anak angkat yang sah, sebanyak-banyaknya 5 (lima) orang (Kemenhumkam, 2016). Adapun beberapa kriteria sebagai peserta pada anak kandung, anak tiri dari perkawinan yang sah, dan anak angkat

a) Pekerja di luar hubungan kerja atau pekerja mandiri

b) Pekerja yang tidak termasuk pekerja mandiri yang bukan penerima upah.

c) Pekerja sebagaimana dimaksud pada poin a dan poin b yang termasuk warga negara asing yang bekerja di Indonesia paling singkat enam bulan.

(36)

20

Berdasarkan kelompok jenis kepesertaanya menurut buku pedoman sosialisasi JKN dalam Sistem Jaminan Sosial Nasional. Dapat dilihat bahwa Badan Usaha Swasta masuk pada kelompok peserta PPU. Untuk menjadi peserta JKN maka peserta PPU dalam hal ini badan usaha swasta harus mengetahui dan mengikuti alur proses pendaftaran badan usaha swasta sebagai peserta JKN. Adapun alur maupun proses pendaftaran badan usaha swasta sebagai peserta JKN (BPJS Kesehatan, 2014a):

1. Badan usaha melakukan registrasi di kantor BPJS Kesehatan. membawa kelengkapan berupa :

a. Form Registrasi (terlampir SIUP dan NPWP)

b. Menyerahkan surat komitmen implementasi aplikasi New e-DABU c. Menyerahkan surat PIC Cetak Kartu e-ID

2. Badan usaha mendapatkan ( Virtual account, username +password aplikasi new e-DABU dan e-ID

3. Badan usaha melakukan entry data peserta beserta tanggungannya dan melakukan approval tiket melalui aplikasi new e-DABU

4. Badan Usaha melakukan pembayaran iuran sesuai tagihan iuran yang akan muncul di awal bulan berikutnya pada aplikasi new e-DABU.

5. Badan Usaha melakukan cetak kartu e-ID melalui website

6. Peserta mendapatkan pelayanan pada fasilitas kesehatan tingkat pertama yang bekerja sama dengan BPJS Kesehatan.

2.1.6 Iuran JKN

(37)

21

berupa jumlah nominal tertentu untuk peserta bukan penerima upah dan PBI. Iuran jaminan kesehatan merupakan sejumlah uang yang dibayarkan secara rutin oleh peserta, pemberi kerja, dan atau pemerintah. Berdasarakan hasil penelitian (Handayani dkk, 2013) didapatkan bahwa nilai kemauan membayar (WTP) dan kemampuan membayar (ATP) menjadi faktor penting bagi peserta melihat sejauh mana peserta memiliki kemampuan dan kemauan untuk membayar iuran secara rutin.

Setiap pemberi kerja wajib memungut iuran dari pekerjanya, menambahkan iuran peserta yang menjadi tanggung jawabnya, dan membayarkan iuran tersebut setiap bulan kepada BPJS Kesehatan secara berkala yaitu paling lambat tanggal 10 setiap bulannya. Apabila tanggal 10 jatuh pada hari libur, maka iuran dibayarkan pada hari kerja berikutnya. Apabila peserta JKN mengalami keterlambatan pembayaran iuran maka peserta akan dikenakan denda administratif sebesar 2% perbulan dari total iuran yang tertunggak dan dibayar oleh pemberi kerja. Keterlambatan pembayaran hanya boleh dilakukan maksimal selama 3 bulan, dan apabila melebihi maka hak atas pelayanan JKN akan dicabut (Kemenkes RI, 2014). Apabila terjadi kelebihan ataupun kekurangan iuran JKN yang dibayarkan oleh peserta maka BPJS Kesehatan akan memberitahukan secara tertulis kepada pemberi kerja dan/atau peserta paling lambat 14 hari kerja sejak diterimanya iuran. Kelebihan atau kekurangan pembayaran iuran diperhitungkan dengan pembayaran iuran bulan berikutnya.

(38)

22

dibayarkan yaitu sebesar 5% dari gaji yaitu dengan pembagian 4% dibayar oleh pemberi kerja sedangkan 1% dibayar oleh peserta (Kemenhumkam, 2013a).

2.2 Badan Usaha Swasta

2.2.1 Definisi Badan Usaha Swasta

Badan usaha adalah kesatuan hukum, teknis, dan ekonomis yang bertujuan mencari laba atau keuntungan. Sementara perusahaan adalah tempat dimana badan usaha mengolah faktor - faktor produksi. Berdasarkan Undang Undang Dasar 1945 pasal 33 bentuk badan usaha dibedakan menjadi tiga yaitu : Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Badan Usaha Milik Swasta (BUMS), dan Koperasi (Sagoro, 2013). Badan Usaha Milik Swasta (BUMS) adalah badan usaha yang pemilik sepenuhnya berada ditangan individu atau swasta dan bertujuan untuk mencari keuntungan. Namun ada beberapa badan usaha ini tidak bertujuan untuk keuntungan dan lebih mengarah ke motif sosial seperti : rumah sakit, sekolah, akademi, universitas, dan panti asuhan (Sagoro, 2013).

Menurut jenisnya badan usaha milik swasta dibagi menjadi 4 jenis yaitu : Perseroan dengan tanggung jawab terbatas (PT), Persekutuan Komanditer (CV), Firma, dan perusahaan perorangan.

2.2.2 Bentuk Badan Usaha Swasta

1. Perseroan Terbatas (PT)

(39)

23

Terbatas dijelaskan bahwa Perseroan Terbatas yang selanjutnya disebut Perseroan adalah badan hukum yang merupakan persekutuan modal, didirikan berdasarkan perjanjian, melakukan kegiatan usaha dengan modal dasar yang seluruhnya terbagi dalam saham dan memenuhi persyaratan yang ditetapkan.

Kekayaan perusahaan terpisah dari kekayaan pribadi pemilik perusahaan sehingga memiliki harta kekayaan sendiri. Pemilik saham akan memperoleh bagian keuntungan yang disebut dividen. Selain berasal dari saham, modal PT dapat pula berasal dari obligasi. Keuntungan yang diperoleh para pemilik obligasi adalah mereka mendapatkan bunga tetap tanpa menghiraukan untung atau ruginya perseroan terbatas tersebut (Sagoro, 2013).

2. Persekutuan Komanditer (CV)

Persekutuan Komanditer (CV) adalah perusahaan yang memiliki dua pemodal atau lebih. Pembentukan pesekutuan bisa berdasarkan kontrak tertulis atau kesepakatan yang legal. Bentuk ini biasanya merupakan kombinasi antara firma dan PT. (Sagoro, 2013).

3. Firma

Firma adalah bentuk usaha yang pengumpulan modalnya diperoleh dari beberapa orang dalam bentuk tunai, bukan saham, Jumlah penyetor modal tidaklah sebanyak PT melainkan beberapa orang saja (Rosydi, 2014).

4. Perusahaan Perseorangan

(40)

24

Berdasarkan data yang didapat dari Badan Pelayanan Perijinan Terpadu Satu Pintu & Penanaman Modal (BPPTSP&PM) Kota Denpasar didapatkan jumlah badan usaha yang mengurus Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP) berdasarkan bentuk usaha swasta dari tahun 2010 hingga 2015 sebagai berikut :

Tabel 2.1 Jumlah Pembuatan SIUP Badan Usaha Swasta di Kota Denpasar

No Bentuk Badan Usaha Izin

Sumber : Aplikasi Badan Pelayanan Perijinan Terpadu Satu Pintu & Penanaman Modal (BPPTSP&PM) Kota Denpasar tentang Jumlah Pembuatan SIUP Badan Usaha Swasta di Kota Denpasar pada tahun 2010 hingga 2015

(41)

25

2.2.3 Badan Usaha Berdasarkan Skala Produksi dan Pekerja

1. Badan Usaha Kecil

Badan usaha kecil merupakan usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang dilakukan oleh perseorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak perusahaan atau bukan cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai maupun menjadi bagian baik langsung maupun tidak langsung dari usaha menengah atau badan usaha besar. Adapun kriteria sebagai badan usaha kecil sebagaimana telah diatur dalam Undang-Undang Nomor. 20 Tahun 2008 yang menyebutkan bahwa kriteria dari badan usaha kecil yaitu : Kekayaan bersih lebih dari Rp.50.000.000,00 sampai dengan Rp.500.000.000,00 tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha, kemudian hasil penjualan tahunan mencapai lebih dari Rp.300.000.000,00 sampai dengan Rp.2.500.000.000,00 (Maylia, 2015). Berdasarkan jumlah tenaga kerja yang dimiliki, badan usaha kecil biasanya memiliki pekerja dengan jumlah antara 5 – 19 orang (BPS, 2015).

2. Badan Usaha Menengah

(42)

26

dengan Rp.10.000.000.000,00 tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha. Kemudian untuk hasil usaha penjualan tahunan lebih dari Rp.2.500.000.000,00 sampai dengan Rp.50.000.000.000,00 (Maylia, 2015). Berdasarkan jumlah tenaga kerja yang dimiliki, badan usaha menengah biasanya memiliki pekerja dengan jumlah antara 20 – 99 orang (BPS, 2015).

3. Badan Usaha Besar

Badan usaha besar merupakan usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri yang dilakukan oleh badan usaha dengan jumlah kekayaan bersih atau hasil penjualan tahunan lebih besar dari usaha menengah, yang meliputi usaha nasional milik negara atau swasta, usaha patungan, dan usaha asing yang melakukan kegiatan ekonomi di Indonesia dengan kekayaan perusahaan dan hasil penjualan yang melebihi nominal usaha menengah maupun usaha kecil (Maylia, 2015). Berdasarkan jumlah tenaga kerja yang dimiliki, badan usaha besar biasanya memiliki pekerja lebih dari 100 orang (BPS, 2015).

2.3 Persepsi

(43)

27

lampau, dan perbedaan personal lainnya. Akibatnya akan mempengaruhi informasi yang diterima dan tindakan yang akan dilakukan (Buchbinder, 2014). Berdasarkan jenisnya persepsi dibedakan menjadi dua, yaitu perepsi lingkungan fisik dan persepsi sosial atau persepsi terhadap manusia. Perbedaan dari kedua jenis tersebut yaitu :

1. Persepsi Lingkungan Fisik

Persepsi lingkungan fisik merupakan suatu kegiatan dalam menafsirkan stimulus berupa lambang lambang yang bersifat fisik baik terhadap suatu objek. Persepsi terhadap objek terjadi dengan menanggapi sifat luar objek. Objek bersifat statis, sehingga ketika seseorang mempersepsikan suatu objek, objek tersebut tidak memberikan tanggapan. Berdasarkan pengertiannya maka salah satu contoh dari persepsi lingkungan fisik yaitu persepsi seseorang terhadap program JKN. Persepsi program JKN dapat dikatakan suatu obyek (Riswandi, 2009).

2. Persepsi Sosial

(44)

28

Dalam menentukan sebuah persepsi seseorang ada beberapa faktor yang akan mempengaruhi persepsi tersebut. Menurut Riswandi (2009), faktor yang mempengaruhi persepsi seseorang terhadap suatu objek yaitu:

1. Latar Belakang Pengalaman

Pengalaman merupakan suatu peristiwa yang pernah dialami oleh seseorang. Selain mempengaruhi pegetahuan, pengalaman juga dapat mempengaruhi persepsi seseorang terhadap suatu obyek atau stimulus yang diterimanya.

2. Latar Belakang Budaya

Budaya yang melekat pada diri seseorang seringkali mempengaruhi pola pikir serta cara pandang seseorang terhadap sesuatu. Umumnya, seseorang menganggap budaya yang selama ini diketahui dan dijalani sebagai pedoman dalam memandang hal baru yang ditemui.

3. Latar Belakang Psikologis

Kondisi psikologis merupakan faktor internal dari diri individu yang mempengaruhi persepsi. Persepsi dari individu yang sama dapat berbeda dalam kondisi psikologis yang berbeda.

4. Latar Belakang Nilai, Keyakinan, dan Harapan

Adalah hal yang mendasari seseorang dalam menafsirkan atau memandang sesuatu. Ketiga hal tersebut dapat menyebabkan seseorang memiliki persepsi yang positif dan dapat juga negatif.

5. Kondisi faktual alat-alat panca indera

(45)

29

Persepsi merupakan suatu penilaian yang akan digunakan dalam penelitian ini untuk menggabarkan suatu situasi yang ada pada badan usaha swasta. Berdasarkan hasil penelitian dari (Sutanta, 2016) dikatakan bahwa pengetahuan masyarakat tentang program JKN didapatkan data dari pemahaman program JKN yang dibuktikan dengan persepsi masyarakat tentang program JKN. Sama halnya dengan penelitian yang dilakukan oleh (Suryapranata dan sutarsa, 2014) yang menggunakan persepsi untuk melihat kesiapan Puskesmas Rendang dalam mengimplementasikan program JKN.

Persepsi yang buruk terhadap risiko adalah perilaku seseorang yang tidak peduli terhadap risiko, bahkan cenderung ugal-ugalan atau urakan. Menurut (Nyman 2004) dalam (Widiyanto, 2014) menyebutkan bahwa persepsi yang buruk terhadap risiko ini sebagai „MoralHazard‟ yang secara sederhana dideskripsikan kecerobohan atau ketidakpedulian terhadap kerugian. Moral hazard merupakan dampak dari asimetris informasi, hal ini selalu ada bila sekelompok orang dengan informasi yang menggiurkan merubah perilaku masyarakat agar memilih cara yang menguntungkannya ketika biaya naik dengan imformasi yang kurang lengkap. Kebanyakan bila pihak asuransi berencana mengurangi pengeluaran biaya berobat, perilaku individu diefektifkan dengan mengurangi harga perubahan ini di dalam perilaku disebut Moral hazard (Widiyanto, 2014).

(46)

30

Gambar

Tabel 1.1 Rekrutmen Badan Usaha Swasta BPJS Kesehatan Cabang Denpasar
Tabel 2.1 Jumlah Pembuatan SIUP Badan Usaha Swasta di Kota Denpasar

Referensi

Dokumen terkait

(1) Perusahaan-perusahaan penerbangan yang ditunjuk harus memberitahu- kan kepada pejabat-pejabat penerbangan dari kedua Pihak Berjanji tidak lebih dari tiga puluh hari

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Heads Together (NHT) disertai dengan media

Pada pelaksanaan Siklus I, siswa telah melaksanakan tugas-tugas yang diberikan oleh guru. Namun masih ditemukan siswa yang acuh terhadap tugas yang diberikan, ada yang

Prinsip- prinsip etika lingkungan merupakan sikap- sikap yang harus dijaga dan juga dilakukan oleh manusia dalam kaitannya berperilaku terhadap alam.. Prinsip-

Hal ini sesuai dengan hal-hal yang tercakup didalamnya yakni penyebabnya adalah iritan lemah, onset berminggu-minggu/bulan/tahun, kulit tampak kering, eritema, skuama,

patofisiologi antara lain: 1) Penurunan aliran darah serebral akut, seperti pada sinkop vasovagal, gangguan jantung, penyumbatan pembuluh darah paru dan obstruksi

ketangkasan atau keteram-pilan dalam sesuatu, misalnya dalam lari cepat, atletik, berenang atau berkebun ter- masuk bidang seni budaya. Sebab itu di dalam proses

Tinjauan Sosiologi Sastra dan Nilai Pendidikan.Tesis. Retno Winarni, M.Pd. Program Studi Magister Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Keguruan dan IImu Pendidikan,