• Tidak ada hasil yang ditemukan

21 CINEMA CENTRE BANYUWANGI.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "21 CINEMA CENTRE BANYUWANGI."

Copied!
112
0
0

Teks penuh

(1)

TUGAS AKHIR

21 CINEMA CENTRE

BANYUWANGI

Dipersiapkan dan disusun oleh :

ACHMAD RUSTAM FAUZI

NPM : 0651010061

Telah dipertahankan didepan tim penguji

Pada tanggal : 15 Oktober 2010

Pembimbing Utama

Ir. Syaifuddin Zuhri, MT

NPTY. 19621019 199403 1 00 1

Pembimbing Pendamping

Heru Subiyantoro, ST., MT

NPTY. 3 7102 96 0061 1

Penguji

Ir. Muchlisiniyati Safeyah, MT

NPTY. 3 6706 94 0034 1

Ir. Eva Elviana, MT

NPTY. 3 6604 94 0032 1

Ir. Lily Syahrial, MT

NIP. 19550908 199103 1 00 1

Tugas Akhir ini telah diterima sebagai salah satu persyaratan

untuk memperoleh gelar Sarjana (S-1)

Tanggal :

(2)

21 CINEMA CENTRE

ACHMAD RUSTAM FAUZI / 0651010061

ABSTRAKSI

Pada dekade terakhir ini, peningkatan jumlah penonton bioskop

mengalami kenaikan dengan angka 20% tiap tahunnya. Faktor menguatnya daya

beli masyarakat, meningkatkan jumlah produksi film nasional maupun

internasional ( khususnya Hollywood ) ikut mempengaruhi animo masyarakat

untuk datang ke bioskop. Dalam hal itu, praktek menonton film memiliki

hubungan erat dengan komoditas, aktivitas, dan struktur kebudayaan modern yang

lain (Barnston, 2005:154). Kondisi tempat pemutaran film yang berbeda - beda

ikut mengubah film di hadapan penonton. Citra – citra yang ditampilkan lewat

film tidak lagi dalam kontrol si produsen film, akan tetapi oleh kondisi fisik

bioskop serta sumber daya dan komitmen si pemutar film.

Karena hal tersebut maka timbul gagasan bahwa 21 Cinema center adalah

suatu alternatif dari bangunan bioskop yang ada pada saat ini atau dapat menjadi

bangunan bioskop modern yang ada di kota Banyuwangi satu-satunya. 21 cinema

centre adalah suatu tempat pertunjukan film yang ada di kota Banyuwangi dengan

didukung oleh brand cineplex 21. Dengan demikian, setelah mengusung brand 21

ke dalam obyek perancangan nantinya akan tercipta sebuah tempat pertunjukan

film dengan standarisasi dan didukung dengan fasilitas penunjang lainnya. Dan

menjadi sebuah bioskop kebanggaan yang dimiliki oleh masyarakat kota

Banyuwangi.

Dalam perancangan ini, 21 Cinema Centre yang direncankan berlokasi di

Jl. Dr. Wahidin Sudirohusodo, Banyuwangi. Dengan konsep Hybird style yang

nantinya akan diusung dalam perancangan 21 cinema centre ini untuk

mewujudkan bangunan bioskop berkarakter baru dan kontekstual terhadap

lingkungan sekitar dengan aplikasi dari nilai – nilai arsitektur tradisional Using

yang berupa rumah tinggal. Konsep ini juga diperuntukkan mengenalkan citra

kota Banyuwangi kepada masyarakat luas melalui sebuah bentuk arsitektur lokal

kedalam bentuk modern

.

(3)

KATA PENGANTAR

Segala puji syukur ditujukan kehadirat Allah SWT, yang mana atas

rahmat dan ridho-Nya, sehingga penyusunan Proposal Tugas Akhir ini dapat

terselesaikan dengan baik. Untuk memenuhi sebagian persyaratan dalam

memperoleh Gelar Sarjana Teknik ( S-1 ) Jurusan Teknik Arsitektur, Fakultas

Teknik Sipil dan Perencanaan, Universitas Pembangunan Nasional “Veteran“

Jawa Timur di Surabaya. Setiap mahasiswa diwajibkan memenuhi persyaratan

kurikulum , dimana salah satunya adalah Tugas Akhir. Mahasiswa yang akan

mengambil Tugas Akhir diwajibkan untuk melakukan kegiatan - kegiatan

penyusunan usulan judul sebelum menyusun proposal, konsep dan

perancangannya sendiri .

Proposal Tugas Akhir ini dimaksudkan untuk memberi gambaran secara

garis besar mengenai lingkup proyek yang akan dikerjakan baik keluasan maupun

kedalamanya. Adapun judul yang dapat diusulkan oleh penyusun adalah : “21

CINEMA CENTRE” yang kelak akan dipergunakan dalam proses perancangan

tugas akhir. Pemilihan judul ini didasarkan pada kenyataan bahwa sebuah tempat

pemutaran film yang ada dikota Banyuwangi saat ini, yaitu Irama theater

mengalami sepi penonton karena sistem pemutaran film yang tidak update dan

juga kondisi fisik bangunan yang kuno. Sehingga mengurangi minat masyarakat

banyuwangi menonton film di bioskop. Maka timbullah ide / gagasan untuk

merancang sebuah gedung bioskop yang modern dengan sistem pemutaran film

yang selalu update mengikuti perkembangan produksi film saat ini. Sehingga

mengembalikan minat masyarakat Banyuwangi untuk menonton film digedung

bioskop.

(4)

HALAMAN PERSEMBAHAN

Syukur alhamdulilah atas semua Rahmat dan Hidayah yang diberikan Allah SWT kepada umat-NYA yang tiada henti

 Keluargaku ; Bapak, Ibu dan adik – adik yang aku cintai, terima kasih atas kasih sayang, didikan, support, doa dan materi yang telah diberikan dari memulai proses pendidikan hingga saat ini. Serta keluarga pak lek Slamet yang berada di Sidoarjo, yang juga memberikan support, materi dan do’a serta kesabarannya dalam mendidik sebagai ayah kedua.

 Pembimbing, bapak Ir. Syaifuddin Zuhri, MT., terima kasih atas dukungan serta saran yang telah diberikan selama menempuh pendidikan sampai pada tugas akhir ini, dan kesabaran bapak dalam membimbing selama proses penyelesaian tugas akhir ini...Juga bapak Heru Subiyantoro, ST., MT, yang memberikan bimbingan terhadap konsep yang saya pilih, serta saran – saran yang diberikan selama bimbingan, sehingga proses penyelesaian tugas akhir ini bisa terwujud dengan baik...terima kasih atas bimbingan bapak mulai dari Seminar hingga selesai...

Seluruh Dosen dan staff teknik Arsitektur UPN, terima kasih atas didikan dan saran – saran yang telah diberikan kepada kami sebagai mahasiswa.

Teman - teman seperguruan! Angkatan 2006 Arsitektur UPN dan para senior! Selalu semangat teman dalam menjalani hidup ini.

 Suwek sekeluarga, yang memberikan bantuan do’a dan materi dalam proses penyelesaian tugas akhir ini. Terima kasih bapak dan ibu.

(5)

DAFTAR ISI

Halaman Judul ... i

Lembar Pengesahan ... ii

Abstraksi ... iii

Kata Pengantar ... iv

Daftar isi ... v

Daftar tabel ... xiii

Daftar Gambar ... xiii

Bab I. Pendahuluan ... 1

1. 1. Latar Belakang ... 1

1. 2. Maksud dan Tujuan Perancangan ... 6

1. 3. Lingkup Perancangan ... 6

1. 4. Batasan dan Asumsi ... 7

1. 5. Metode Perancangan ... 8

Bab II. Tinjauan Obyek Perancangan ... 11

2. 1. Tinjauan Umum Perancangan ... 11

2. 1. 1. Pengertian Judul ... 11

2. 1. 2. Studi Proyek Sejenis ... 11

2.1.2.1. Studi Literatur ... 11

2.1.2.2. Studi Kasus Obyek Sejenis ... 27

2. 1. 3. Analisa Hasil Studi ... 40

2. 1. 4. Persyaratan Pokok Proyek ... 41

2. 2. Tinjauan Khusus Perancangan ... 44

(6)

2. 2. 4. Program Ruang ... 54

Bab III. Tinjauan Lokasi Perancangan... 55

3. 1. Latar Belakang Pemilihan Lokasi ... 55

3. 2. Penetapan Lokasi ... 59

3. 3. Kondisi Fisik Lokasi ... 61

3. 3. 1. Eksisting Site ... 61

3. 3. 2. Aksesibilitas ... 64

3. 3. 3. Potensi Lingkungan ... 65

3. 3. 4. Infrastruktur Kota ... 67

3. 3. 5. Peraturan Bangunan Setempat ... 69

Bab IV. Analisa Perancangan ... 71

4. 1. Analisa Ruang ... 71

4. 1. 1. Organisasi Ruang ... 71

4. 1. 2. Hubungan Ruang dan Sirkulasi ... 75

4. 1. 3. Diagram Abstrak ... 78

4. 2. Analisa site ... 78

4. 2. 1. Analisa Pencapaian ... 78

4. 2. 2. Analisa iklim ... 80

4. 2. 3. Analisa Lingkungan Sekitar... 81

4. 2. 4. Analisa Zoning ... 81

Bab V. Konsep Perancangan ... 83

5. 1. Konsep Dasar Perancangan ... 83

5. 2. Konsep Bentuk ... 86

5. 3. Konsep Tampilan ... 88

5. 4. Konsep Sirkulasi ... 89

5. 5. Konsep Tatanan Massa ... 89

(7)

5. 7. Konsep Ruang Dalam ... 91

5. 8. Konsep Struktur ... 91

5. 9. Konsep Mekanikal Elektrikal ... 92

Bab VI. Aplikasi Konsep Perancangan ... 95

6. 1. Aplikasi Tatanan massa dan Orientasi Bangunan ... 95

6. 2. Aplikasi Bentuk dan Tampilan ... 96

6. 3. Aplikasi Sirkulasi ... 97

6. 4. Aplikasi Ruang Luar ... 98

6. 5. Aplikasi Ruang Dalam Bangunan ( Interior ) ... 99

Penutup ... 100

Daftar Pustaka ... 101

(8)

DAFTAR TABEL

Tabel 1.1 Perkembangan Jumlah Penonton Bioskop...2

Tabel 1.2 Jumlah Produksi Film Nasional dan Internasional ...3

Tabel 2.1 Analisa Hasil Studi ...40

Tabel 2.2 Aktifitas Kebutuhan Ruang...44

Tabel 2.3 Perhitungan Luas Ruang ...47

(9)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1. Bentuk studio untuk pemutaran film 35mm dan 70mm...20

Gambar 2.2. Jarak antar tempat duduk...21

Gambar 2.3. Susunan baris tempat duduk...22

Gambar 2.4. Grafik ketinggian baris tempat duduk...23

Gambar 2.5. Bentuk Layar pada Ketinggian yang Sama ...25

Gambar 2.6. Jarak Pandang Maksimum – Minimum ...25

Gambar 2.7. Jarak Pandang Maksimum Baris Terdepan...25

Gambar 2.8. Pandangan penonton secara horizontal ...26

Gambar 2.9. Struktur Lantai...26

Gambar 2.10. Struktur Lantai Akustik...26

Gambar 2.11. Tampak Bangunan Teater Keong Mas...27

Gambar 2.12. Film 70 mm ...28

Gambar 2.13. Jumlah kursi dan lebar layar...29

Gambar 2.14. Ide bentuk...29

Gambar 2.15. Struktur shell pada kubahan masa bangunan ...30

Gambar 2.16 Material kaca pada kanopi...30

Gambar 2.17 Pemasangan poster film ...31

Gambar 2.18 Lobby MPX Grande ...32

Gambar 2.19. Loket penjualan tiket...33

Gambar 2.20. Koridor menuju studio ...35

Gambar 2.21. Lobi Tunjungan 21 ...35

Gambar 2.22. Movie Selection...35

(10)

Gambar 2.26. Susunan Tempat Duduk Tunjungan Cineplex 21 ...39

Gambar 2.27. Acoustic control seating ...42

Gambar 2.28. Pencahayaan buatan ...42

Gambar 2.29. Sistem ducting AC central pada ruang bioskop ...43

Gambar 3.1 Peta batas – batas Kota Banyuwangi...55

Gambar 3.2 Peta lokasi ( BWK Pusat Kota ) ...61

Gambar 3.3 Foto existing site ( dari Jl. Dr. Wahidin Sudirohusodo )...62

Gambar 3.4 Site...62

Gambar 3.5 Batas utara ...63

Gambar 3.6 Batas selatan...63

Gambar 3.7 Batas barat ...64

Gambar 3.8 Batas timur ...64

Gambar 3.9 Gambar jalan kolektor sekunder ...65

Gambar 3.10Taman Blambangan...65

Gambar 3.11 Pendopo...66

Gambar 3.12 Komplek pertokoan ...66

Gambar 3.13 Tampak depan Bank Mandiri...67

Gambar 3.14 Jaringan listrik ...68

Gambar 3.15 Hasil luas perhitungan KDB terhadap luas site...70

Gambar 4.8 Perletakan Main entrance, site entrance dan service entrance ...79

Gambar 4.9 Pengaruh orientasi matahari terhadap bangunan...80

Gambar 4.10 Pengaruh orientasi matahari terhadap bangunan...80

Gambar 4.11 Pengelompokan ruang Lt. 1 dan Lt. 2 ...82

Gambar 5.1. Tampilan bangunan bioskop yang berkesan berani ...83

Gambar 5.2. Zoning ruang dalam rumah arsitektur ...85

Gambar 5.3. Sketsa bentuk atap rumah adat Using ...85

(11)

Gambar 5.5. Kontur bising...87

Gambar 5.6. Zoning ruang terhadap akustik lingkungan...87

Gambar 5. 7. Sketsa rumah dengan 1, 2 dan 3 atap ...88

Gambar 5. 8. Struktur dan tampilan rumah tradisional Using ...88

Gambar 5. 9. Sirkulasi dalam site ...89

Gambar 5. 10. Tata ruang pada rumah tradisional Using ...90

Gambar 5. 9. Vegetasi pengarah sirkulasi...91

Gambar 5.10. Struktur...91

Gambar 5. 11. Sistem Ac Sentral All Water System ...93

Gambar 6. 1. Tata ruang pada rumah tradisional Using ...95

Gambar 6. 2. Tipologi bentuk struktur rumah tinggal ...96

Gambar 6. 3. Perspektif 21 Cinema Centre...96

Gambar 6. 4. Sirkulasi dalam site ...97

Gambar 6. 5. Vegetasi...98

Gambar 6. 6. Vegetasi...98

Gambar 6. 7. Detail arsitektur ...98

Gambar 6. 8. Bentuk bioskop kipas ...99

(12)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Ada dua aspek penting dari awal sejarah film untuk melihat bagaimana

status dan peranan film ditumbuhkan; dimana film dilahirkan sebagai tontonan

umum ( awal 1900-an ), karena semata – mata menjadi alternatif bisnis besar jasa

hiburan di masa depan dan film dikatakan sebagai ‘ hiburan rendahan ‘ orang

kota. Namun sejarah membuktikan film mampu melakukan kelahiran kembali

untuk kemudian menembus seluruh lapisan masyarakat, juga lapisan menengah

dan atas, termasuk lapisan intelektual dan budayawan. Bahkan kemudian seiring

dengan kuatnya dominasi sistem Industri Hollywood, lahir film – film perlawanan

yang ingin lepas dari wajah seragam Hollywood yang kemudian melahirkan film

– film amatir. Yakni film – film personal sutradara yang sering disebut sebagai

film seni. Dalam pertumbuhannya, baik film hiburan yang mengacu pada

Hollywood ataupun film-film seni kadang tumbuh berdampingan, saling memberi

namun juga bersitegang. Masing-masing memiliki karakter diversifikasi pasar,

festival dan pola pengembangannya sendiri.

Sementara pada proses pertumbuhan film Indonesia tidak

mengalami proses kelahiran kembali, yang awalnya dicap rendahan menjadi

sesuai dengan nilai-nilai seluruh lapisan masyarakat, termasuk kelas menengah ke

atas, juga intelektual dan budayawan. (sumber : Sudwikatmono: Gramedia 1992)

Di Indonesia awal order baru dianggap masa yang menawarkan kemajuan

perbioskopan, baik dalam jumlah produksi film nasional maupun bentuk dan

sarana tempat pertunjukan. Fasilitas perbioskopan itu sendiri bervariasi yang

dapat dibedakan oleh beberapa faktor, antara lain ; bioskop indoor dan outdoor

atau bioskop dengan fasilitas 3D atau bioskop dengan teknologi 4D yang saat ini

mengalami kenaikan pengunjung. Kemajuan ini memuncak pada tahun 1990-an.

(13)

bioskop dengan konsep sinepleks-gedung bioskop dengan lebih dari satu

layar-semakin marak. (Kompas, 21/6/1998).

Cinepleks tidak hanya menjamur di kota besar, tetapi juga menorobos kota

kecamatan sebagai akibat dari kebijakan pemerintah yang memberikan masa

bebas pajak dengan cara mengembalikan pajak tontonan kepada ”bioskop depan”.

Akibatnya, pada tahun 1990 bioskop di Indonesia mencapai puncak kejayaan :

3.048 layar. Sebelumnya, pada tahun 1987, di seluruh Indonesia terdapat 2.306

layar.

Dalam hal itu, praktek menonton film memiliki hubungan erat dengan

komoditas, aktivitas, dan struktur kebudayaan modern yang lain (Barnston,

2005:154). Kondisi tempat pemutaran film yang berbeda - beda ikut mengubah

film di hadapan penonton. Citra – citra yang ditampilkan lewat film tidak lagi

dalam kontrol si produsen film, akan tetapi oleh kondisi fisik bioskop serta

sumber daya dan komitmen si pemutar film.

Pada dekade terakhir ini, peningkatan jumlah penonton bioskop itu sendiri

mengalami kenaikan dengan angka 20% tiap tahunnya ( perhitungan prosentase

kenaikan jumlah penonton pada tiap tahunnya didapatkan dari data pada tabel

dibawah ini, hal tersebut dikarenakan adanya jumlah peningkatan produksi dari

perfilman pada akhir-akhir ini.

Tabel 1.1 Perkembangan jumlah penonton bioskop di Indonesia JUMLAH PENONTON

NO TAHUN

NASIONAL INTERNASIONAL

1 2003 252.064 2.898.736

2 2004 425.025 3.825.225

3 2005 840.038 4.760.212

4 2006 1.331.690 5.326.760

5 2007 1.718.310 6.092.190

6 2008 2.280.088 6.840.262

(14)

Faktor menguatnya daya beli masyarakat, meningkatkan jumlah produksi

film nasional maupun internasional ( khususnya Hollywood ) ikut mempengaruhi

animo masyarakat untuk datang ke bioskop.

Adanya peningkatan jumlah minat para penonton bioskop ini pada tiap

tahunnya, maka produser film yang ada juga bersemangat dalam meningkatkan

kuantitas filmnya dengan tidak kalah penting juga disertai kualitas film yang

berbeda pula. Dapat dilihat pada tabel 1.2 yang menunjukkan kenaikan jumlah

produksi film nasional maupun internasional seiring dengan kenaikan jumlah

penonton.

Tabel 1.2 Jumlah produksi film nasional dan internasional yang beredar di Indonesia

JUMLAH PRODUKSI NO TAHUN

NASIONAL INTERNASIONAL

1 2003 10 120

2 2004 19 154

3 2005 28 168

4 2006 38 183

5 2007 57 204

6 2008 76 234

Sumber : www.perfilmanindonesia.com & www.perfilmaninternasional.com

Karena hal tersebut maka timbul gagasan bahwa 21 Cinema center adalah

suatu alternatif dari bangunan bioskop yang ada pada saat ini atau dapat menjadi

bangunan bioskop modern yang ada di kota Banyuwangi satu-satunya. Dengan

mengambil kata ” 21 ” sebagai sebuah nama yang akan disandang pada bioskop

ini. ” 21 ” itu sendiri adalah jaringan bioskop terbesar di Indonesia, dan

merupakan pelopor jaringan cineplex di Indonesia. Jaringan bioskop ini tersebar

di beberapa kota besar di seluruh Nusantara dan sebagian besar di antaranya

terletak di dalam pusat perbelanjaan, dengan film-film Hollywood dan Indonesia

sebagai menu utama, dan didukung oleh teknologi tata suara Dolby Digital dan

THX. Seiring dengan tuntutan perkembangan zaman, Cineplex 21 Group telah

(15)

membentuk jaringan bioskopnya menjadi 3 merek terpisah, yakni Cinema 21,

Cinema XXI, dan The Premiere untuk target pasar berbeda.

Dengan perkembangan pertunjukan film ini, dimaksudkan untuk

mengenalkan juga menghadirkan fasilitas bioskop yang telah berkembang

teknologinya kepada masyarakat Banyuwangi pada umumnya dengan tidak

melupakan standarisasi bangunan pertunjukan film. Sehingga 21 cinema center ini

nantinya akan menjadi bioskop favorit masyarakat Banyuwangi khususnya dan

dapat dikenal oleh masyarakat lainnya, serta menjadi pusat bioskop yang ada di

kota Banyuwangi. Dengan adanya 21 Cinema Center ini nantinya akan

melengkapi fasilitas hiburan yang ada di kota Banyuwangi yang merupakan salah

satu kota pariwisata yang ada di propinsi Jawa Timur.

Kota Banyuwangi merupakan salah satu kota pariwisata yang ada di

propinsi Jawa Timur. Pariwisata yang ada di kota Banyuwangi adalah wisata alam

dan budaya. Sehingga tidak sedikit turis yang datang baik mancanegara maupun

domestik yang mampir di kota ini untuk menikmati keindahan alamnya maupun

kesenian dan kebudayaan. Namun untuk potensi alam yang ada pada saat ini

belum sepenuhnya diolah sebagai fasilitas hiburan.

Di kota Banyuwangi masih belum banyak adanya gedung bioskop

layaknya di kota-kota besar, adapun gedung bioskop yang terdapat di kota

banyuwangi ini hanya terdapat 1 buah gedung bioskop yang terletak di pusat kota.

Namun fasilitas yang ada dalam bioskop ini masih kurang mencukupi dalam

standarisasi sebuah gedung bioskop. Dan juga fasad bangunan yang terlihat kuno

dengan tidak adanya pemugaran terhadap fisik bangunan tersebut. Sehingga dapat

mengurangi penonton yang datang untuk menikmati sajian film yang ada baik

film nasional maupun internasional. Sebagai acuan dalam standarisasi sebuah

bangunan pertunjukan film dapat di ambil sebuah studi kasus yang berada di kota

Surabaya yaitu bioskop 21.

Oleh sebab itu, dibutuhkan suatu wadah dimana orang dapat memilih 21

cinema center sebagai pusat gedung bioskop di kota banyuwangi. Dimana di

(16)

kepada penonton. Hal tersebut bisa di wujudkan bersama keluarga, teman-teman,

orang terdekat maupun sendirian.

1.2. Maksud dan Tujuan Perancangan

Untuk merealisasikan semua permasalahan tersebut dibutuhkan maksud

dan tujuan guna menuntun perancangan ini menuju keberhasilan sesuai dengan

keinginan. Dan maksud dari perancangan 21 cinema center yaitu :

Untuk menciptakan sebuah bangunan gedung bioskop baru yang

memenuhi standarisasi.

Menggantikan gedung bioskop yang ada pada saat ini ( yang telah

ada/kuno ).

Dapat dijadikan tempat hiburan dalam bidang film dengan berbagai genre

( produk nasional maupun internasional )

Dapat dijadikan sebuah tempat hiburan alternatif yang ada di kota

Banyuwangi

Menggairahkan kembali bisnis perfilman nasional yang ada, karena

produksi film nasional meningkat setiap tahunnya

Adapun tujuan yang akan dicapai pada perancangan 21 cinema center di

Banyuwangi tersebut, yaitu:

Memberikan sebuah bangunan pertunjukan film yang mempunyai sensasi

yang dapat disesuaikan dengan genre film.

Memberikan sebuah bangunan pertunjukan film dengan teknologi yang

bervariasi (3D & 4D).

Menunjukkan suatu bangunan bioskop yang mempunyai nilai lebih dari

bangunan bioskop yang ada di Banyuwangi (kuno dan belum tersentuh

oleh pemugaran bangunan).

Menghadirkan suatu bangunan bioskop yang mempunyai nilai – nilai

arsitektural, tanpa melupakan dari segi fungsi bangunan bioskop itu

sendiri.

Terpenuhi keinginan masyarakat akan sebuah gedung pertunjukan film

(17)

1.3. Lingkup Perancangan

Dalam mendirikan sebuah bangunan arsitektur dibutuhkan beberapa aspek

standarisasi sebuah bangunan pertunjukan film. Agar dapat terpenuhi fungsi

dengan maksimal dan memberikan suatu kenyamanan bagi user dalam bangunan

tersebut. Dimana terdapat beberapa lingkup perancangan dalam mendirikan

bangunan pertunjukan film, antara lain:

Segmen akustik ruang yang ditujukan untuk ruang-ruang pertunjukan

film.

Penekanan aspek – aspek dalam lingkup disiplin ilmu arsitektur,

sedangkan aspek lain diluar ilmu arsitektur akan dibahas sejauh yang

diperlukan dengan asumsi, hipotesa logika sederhana tanpa preincian

bukti yang mendalam, berdasarkan pada penalaran yang logis. Apabila

dikaji lebih lanjut, 21 cinema center mempunyai latar belakang arsitektur

modern dan penggunaan teknologi.

1.4. Batasan Dan Asumsi

Pembahasan hanya dibatasi dari segi teknis, perencanaan dan perancangan

arsitektur yang disesuaikan dengan judul. Analisa – analisa yang ada lebih banyak

didasarkan pada sisi arsitektur, sedangkan masalah non teknis lainnya yang tidak

berkaitan dengan bidang arsitektur adalah sebagai penunjang dan pelengkap

dalam proses perencanaan dan perancangan.

Batasan obyek perancangan adalah sebagai berikut :

• 21 Cinema Centre merupakan pusat bioskop yang ada di kota Banyuwangi

dengan memberikan fasilitas tambahan yang menunjang dalam dunia

pertunjukan film.

• Aktifitas yang terjadi pada 21 Cinema Centre ini tidak hanya pada ruang

ticketing, snack corner dan waiting room. Tetapi juga terdapat fasilitas

penunjang dan pelengkap, seperti ; Galeri Perfilman, Game dan Biliard, Store,

(18)

Film Reguler, Film yang dimainkan seperti pada bioskop umumnya, baik film produksi nasional maupun internasional ( khususnya Hollywood ), film

ini menggunakan ukuran film 35 mm.

Film 3D ( 3 Dimensi ), Film yang dimainkan dengan menggunakan teknologi Dolby Digital Cinema 3D. Untuk menonton film dengan teknologi

3D ini, kita harus menggunakan kacamata khusus untuk kualitas gambar

lebih terasa.

Mini Home Theater, Film yang disajikan dalam mini home theater ini menggunakan teknologi dari LCD dengan ukuran layar yang lebih kecil dari

ukuran layar film reguler. Fasilitas ini digunakan untuk kapasitas 20 orang

saja.

Asumsi obyek perancangan pada 21 Cinema Centre ini adalah sebagai

berikut :

Sistem pengelolaan 21 Cinema Center ini dibawahi oleh pihak swasta yaitu

21. Dalam hal ini pihak pengelola dengan pembagian tugas dan spesialisasi

tersendiri.

Dianggap bahwa dana yang dipersiapkan untuk membangun proyek 21

Cinema Center yang direncanakan adalah milik swasta baik perorangan

maupun kelompok yang bekerja sama dengan pihak swasta lain yang

berkepentingan.

1.5. Metode Perancangan

Untuk menghasilkan suatu hasil karya arsitektur yang mendekati kata

sempurna maka sangat diperlukan data – data pendukung dan permasalahan

beserta pemecahannya secara akurat. Ini dapat dilakukan dengan banyak cara

dengan sistematis. Dalam mengumpulkan data – data tersebut dan masukkan yang

berguna bagi proses perencanaan dan perancangan proyek ini, maka cara – cara

yang digunakan adalah sebagai berikut :

Studi Literatur

Studi tentang pengenalan masalah yang berhubungan dengan proyek yang

(19)

perancangan. Literatur yang membahas tentang standarisasi ruang dan bentuk

gedung bioskop diambil dari :

1. Akustik lingkungan ( Leslie L. Dolle : Erlangga )

2. Faktor Akustik dalam perancangan disain interior ( J. Pamudji Suptandar :

PT. Penerbit Jambatan ).

3. Ernest Neuferts Standar. Jilid 1 dan 2, versi Bahasa Indonesia.

Sedangkan literatur yang diambil sebagai dasar – dasar dalam perancangan

arsitektur yaitu :

1. Arsitektur Bentuk Ruang dan Susunannya ( Francis F. K. Ching penerbit :

Erlangga )

Studi Banding

Studi yang dilakukan dengan cara mempelajari dan mengenal lebih dalam

pada bangunan sejenis untuk mendapatkan gambaran – gambaran tentang

arsitektural dimana hal tersebut dijadikan pertimbangan menuju arah

perencanaan yang berhubungan dengan proyek yang direncanakan.

Wawancara

Proses Tanya jawab terhadap instansi terkait guna memperoleh data yang

berkaitan dengan system kerja dan lainnya yang juga dijadikan pertimbangan

sebagai perencanaan.

Survey Lapangan

Dengan melakukan studi lapangan pada sute yang telah dipilih guna

mengenali karakter site yang menyangkut batasan, kendala dan potensi yang

ada.

Pengolahan Dan Penyusunan Data

Data – data yang sudah terkumpul untuk kemudian diolah dan diproses

guna untuk mendapatkan pedoman dalam perencanaan dan perancangan 21

(20)

Asas Dan Metode Perancangan

Dari hasil data – data yang telah terkumpul dan disusun, maka sebagai

langkah awal dalam proses perancangan adalah memilih refrensi asas dan

metode perancangan arsitektur yang tepat dari tokoh – tokoh arsitektur

terkemuka. Sebagai pedoman dalam kegiatan mendesain obyek perancangan

tugas akhir.

Penyusunan Tema Dan Konsep Perancangan

Setelah asas dan metode perancangan diperoleh maka kegiatan selanjutnya

adalah menyusun tema dan konsep perancangan yang akan diaplikasikan

kedalam proses desain obyek perancangan arsitektur.

Gagasan Ide

Dari hasil penyusunan tema dan konsep nantinya, maka akan muncul

sebuah ide atau gagasan yang diaplikasikan kedalam proses perancangan.

Sehingga tercipta bangunan berarsitektur yang diharapkan dengan karakter

yang berbeda dari lainnya.

Pengembangan Perancangan

Proses akhir dari metode perancangan ini adalah pengembangan

perancangan. Yaitu proses desain dengan menggunakan data – data yang ada

dan asas metode perancangan yang telah dipilih sebagai pedoman dalam

proses mendesain arsitektur.

1.6. Sistematika Laporan

Dari data – data yang diperoleh di atas maka tahapan berikutnya yaitu

Metodologi Perancangan di mana di dalamnya terdapat rumusan – rumusan dari

(21)

BAB I :

Pendahuluan, yang menjabarkan mengenai latar belakang pemilihan judul

proyek tugas akhir, maksud dan tujuan, ruang lingkup perancangan, batasan dan

asumsi, metode perancangan dan sistematika perancangan.

BAB II :

Tinjauan proyek, menjabarkan tentang pengertian judul, studi proyek

sejenis, studi literatur, studi kasus, dan studi standarisasi yang berkaitan dengan

proyek dimana menyangkut tentang aspek kualitas dan kuantitas serta persyaratan

pokok proyek. Tinjauan khusus obyek rancangan membahas : lingkup pelayanan,

aktifitas dan kebutuhan ruang, perhitungan luas ruang, serta pengelompokan

ruang.

BAB III :

Tinjauan lokasi perancangan yang menjabarkan tentang : latar belakang

pemilihan lokasi, penetapan lokasi, keadaan fisik lokasi, aksesibilitas, potensi

bangunan sekitar, infrastruktur kota.

BAB IV :

Analisa perancangan, menjabarkan analisa perancangan dimana

didalamnya terdapat tema yang akan diterapkan dalam rancangan.

BAB V :

Konsep perancangan, merupakan analisa dan pembuatan konsep yang

didasari atas hasil analisa yang di dalamnya terdapat penyelesaian – penyelesaian

terhadap permasalahan yang ada tersebut. Dalam bab ini akan dijelaskan

mengenai analisa dan konsep rancangan yang diinginkan untuk direalisasikan

pada obyek perancangan.

BAB VI :

Aplikasi perancangan, menjabarkan tentang aplikasi persyaratan –

persyaratan yang ada pada bab sebelumnya untuk kemudian diterapkan pada

penyelesaian gambar perancangan tugas akhir yang akan diuji dengan kaidah –

kaidah dan azas – azas perancangan sehingga dapat diperoleh hasil desain

(22)

BAB II

TINJAUAN OBYEK PERANCANGAN

2.1. Tinjauan Umum

2.1.1. Pengertian Judul Proyek Tugas Akhir

21 Cinema Center adalah suatu tempat pertunjukan film di kota

Banyuwangi dengan didukung oleh brand Cineplex 21. 21 Cinema Center

merupakan pusat bioskop yang ada di kota Banyuwangi dengan memberikan

fasilitas tambahan yang menunjang dalam dunia pertunjukan film. Sedikit tentang

21 Cinema adalah Bioskop 21 (Cineplex 21 Group) dengan jaringan bioskop

terbesar di Indonesia, dan merupakan pelopor jaringan cineplex di Indonesia.

Jaringan bioskop ini tersebar di beberapa kota besar di seluruh Nusantara dan

sebagian besar di antaranya terletak di dalam pusat perbelanjaan, dengan film-film

Hollywood dan Indonesia sebagai menu utama, dan didukung oleh teknologi tata

suara Dolby Digital dan THX.

Seiring dengan tuntutan perkembangan zaman, Cineplex 21 Group telah

melakukan sejumlah pembenahan dan pembaharuan, di antaranya adalah dengan

membentuk jaringan bioskopnya menjadi 3 merek terpisah, yakni Cinema 21,

Cinema XXI, dan The Premiere untuk target pasar berbeda.

Dengan demikian, setelah mengusung brand 21 ke dalam obyek rancangan

ini nantinya akan tercipta sebuah tempat pertunjukan film dengan standarisasi dan

didukung dengan fasilitas penunjang lainnya. Dan menjadi sebuah bioskop

kebanggaan yang dimiliki oleh masyarakat kota Banyuwangi.

2.1.2. Studi Proyek Sejenis

2.1.2.1.Studi Literatur

A. Pengertian Bioskop

(23)

menggunakan layar lebar. Gambar film diproyeksikan ke layar

menggunakan proyektor.

Wadah bagi masyarakat untuk menikmati pertunjukan film, dimana

mereka mencurahkan segenap perhatiannya dan seluruh perasaannya

kepada gambar hidup yang disaksikan, seolah-olah mereka

menyaksikan sesuatu cerita yang benar – benar terjadi di hadapannya.

Bioskop di Indonesia

Bioskop pertama di Indonesia berdiri pada Desember 1900, di Jl Tanah

Abang 1, Jakarta Pusat, karcis kelas I harganya dua gulden (perak) dan harga

karcis kelas dua setengah perak

Bioskop jaman dulu bermula di sekitar Lapangan Gambir (kini Monas).

Bangunan bioskop masa itu menyerupai bangsal dengan dinding dari gedek dan

beratapkan kaleng / seng. Setelah selesai pemutaran film, bioskop itu kemudian

dibawa keliling ke kota yang lain. Bioskop ini di kenal dengan nama Talbot (nama

dari pengusaha bioskop tsb). Bioskop lain diusahakan oleh seorang yang bernama

Schwarz. Tempatnya terletak kira-kria di Kebon Jahe, Tanah Abang. Sebelum

akhirnya hancur terbakar, bioskop ini menempati sebuah gedung di Pasar Baru.

Ada lagi bioskop yang bernama De Callone ( nama pengusahanya ) yang terdapat

di Desa Park De CaJlone ini mula-mula adalah bioskop terbuka di lapangan, yang

dijaman sekarang disebut "misbar", gerimis bubar. De Callone adalah cikal bakal

dari bioskop Capitol yang terdapat di Pintu Air.

Bioskop-bioskop lain seperti, Elite di Pintu Air, Rex di Kramat Bunder,

Cinema di Krekot, Astoria di Pintu Air, Centraal di Jatinegara, Rialto di Senen

dan Tanah Abang, Surya di Tanah Abang, Thalia di Hayam Wuruk, Olimo, Orion

di Glodok, Al Hambra di Sawah Besar, Oost Java di Jl. Veteran, Rembrant di

Pintu Air, Widjaja di Jalan Tongkol/Pasar Ikan, Rivoli di Kramat, dan lain-lain

merupakan bioskop yang muncul dan ramai dikunjungi setelah periode 1940-an.

Film-film yang diputar di dalam bioskop tempo dulu adalah film gagu alias bisu

(24)

masyarakat adalah Fantomas, Zigomar, Tom Mix, Edi Polo, Charlie Caplin, Max

Linder, Arsene Lupin, dll.

Di Jakarta pada tahun 1951 diresmikan bioskop Metropole yang

berkapasitas 1.700 tempat duduk, berteknologi ventilasi peniup dan penyedot,

bertingkat tiga dengan ruang dansa dan kolam renang di lantai paling atas. Pada

tahun 1955 bioskop Indra di Yogyakarta mulai mengembangkan kompleks

bioskopnya dengan toko dan restoran.

Di Indonesia awal Orde Baru dianggap sebagai masa yang menawarkan

kemajuan perbioskopan, baik dalam jumlah produksi film nasional maupun

bentuk dan sarana tempat pertunjukan. Kemajuan ini memuncak pada tahun

1990-an. Pada dasawarsa itu produksi film nasional 112 judul. Sementara sejak tahun

1987 bioskop dengan konsep sinepleks ( gedung bioskop dengan lebih dari satu

layar ) semakin marak. Sinepleks-sinepleks ini biasanya berada di kompleks

pertokoan, pusat perbelanjaan, atau mal yang selalu jadi tempat nongkrong

anak-anak muda dan kiblat konsumsi terkini masyarakat perkotaan. Di sekitar sinepleks

itu tersedia pasar swalayan, restoran cepat saji, pusat mainan, dan macam-macam.

Sinepleks tidak hanya menjamur di kota besar, (tetapi juga menerobos kota

kecamatan sebagai akibat dari kebijakan pemerintah yang memberikan masa

bebas pajak dengan cara mengembalikan pajak tontonan kepada "bioskop depan".

Akibatnya, pada tahun 1990 bioskop di Indonesia mencapai puncak kejayaan:

3.048 layar. Sebelumnya, pada tahun 1987 di seluruh Indonesia terdapat 2.306

layar.

B. Penggolongan Gedung Bioskop

Gedung – gedung bioskop di jawa timur dibagi menjadi beberapa

golongan yang ditetapkan oleh PEMDA II bersama GPBSI ( golongan pengusaha

bioskop seluruh indonesia ). Penerapannya dilihat dari beberapa segi, yaitu :

Keadaan gedung

Letak gedung

(25)

Penggolongan bioskop ini dibagi menjadi :

Golongan A A:

a. Keadaan gedung dan halamannya :

* Bentuk gedung megah dan modem

* Mempunyai ruangan untuk tunggu berkapasitas 10% penonton

* Tersedia catetaria yang cukup memadai

* Tersedia tempat parkir mobil 25% dari kapasitas jumlah penonton

* Tersedia tempat parkir sepeda-sepeda dan sepeda motor

* Full AC

b. Letak gedung:

Di tengah-tengah kota propinsi atau di tengah-tengah kota karisidenan.

c. Keadaan kamar kecil:

* Tersedia untuk pria dan wanita dengan terpisah tempatnya

* Dinding dibuat dari porselen termasuk bak air

* Tersedia wastafel lengkap

d. Peralatan dan sarana atau keadaan lantai:

* Kursi penonton dilapisi spon

* Lantai tiap deretan kursi bertahap

* Jalur lintas penonton memakai karpet

* Keadaan proyektor tahun 1971 keatas (sepasang) kool spit 75 Am

* Sound sistem memadai

Golongan A:

a. Keadaan gedung dan halamannya:

* Keadaan gedung cukup megah

* Tersedianya ryang tunggu cukup memadai

* Tersedia cafetaria

* Tersedia tempat parkir 10% dari kapasitas jumlah penonton

* Tersedia tempat parkir sepeda atau sepeda motor

b. Letak gedung:

(26)

c. Keadaan kamar kecil:

* Tersedianya untuk pria dan wanita yang terpisah ruangnya meskipun satu

tempat

* Dinding seluruhnya alau separuhnya terbuat dari tegel atau teraso

d. Peralatan dan sarana atau keadaan lantai:

* Kursi penonton bahan rotan, plastik, atau spon

* Lantai tempat kursi bertahap atau lantai (belakang makin meninggi)

* Keadaan proyektor, tahun 1970 keatas, sepasang kool spit 6(1 Am. suara

jelas.

Golongan B:

a. Keadaan gedung dan halamannya:

* Gedung megah (cukup baik)

* Tidak mutlak tersedia ruang tunggu

* Tersedia tempat parkii sepeda atau sepeda motor

* Letak gedung.

Di tengah-tengah propinsi, di tengah-tengah atau dekat pinggir-pinggiran

kota Karesidenan, bisa di tengah-tengah Kabupaten

b. Keadaan kamar kecil:

* Tersedianya untuk pria dan wanita yang terpisah tetapi pada satu tempat

dengan pintu tersendiri

* Dinding tembok dan serbal plesteran.

c. Peralatan dan sarana atau keadaan lantai:

* Kursi terbuat dari rotan atau plastik

* Lantai landai

* Keadaan proyektor sekitar tahun 1960 sepasang, kool spit 50 Am, suara

jelas.

Golongan C:

1) Keadaan gedung dan halamannya:

Tersedianya tempat penitipan sepeda atau sepeda motor 25% dan kapasitas

(27)

2) Letak gedung:

Di pinggir kota propinsi, di tengah-tengah kota atau di pinggiran kota

karesidenan, juga bisa berada di tengahtengah kota kabupaten dan di tengah

-tengah kota kecamatan. Di pusat atau di -tengah - -tengah antara pedesaan.

3) Keadaan kamar kecil:

Tersedianya untuk pria dan wanita yang terpisah tetapi berada pada suatu

tempat dengan pintu tersendiri.

4) Peralatan dan sarana atau keadaan lantai:

* Kursi penonton bahan plastik dan ada yang seng atau plat dapat dilipat.

* Lantai landai

* Keadaan proyektor sekitar tahun 1950, tunggal kool spit 50 Am, suara

jelas.

C. Sejarah Perkembangan Pertunjukan Film

Sejak Kinetoscope yang diciptakan oleh Thomas A. Edison hingga kini,

Sejarah perkembangan tersebut adalah sebagai berikut (berdasarkan Kronologi

Teknologi Film):

Tahun 1901 :Di Perancis, Ferdinand Fecca membuat film dengan judul " The

Story of Crime " yang merupakan film bisu.

Tahun 1902 :Di Perancis, Edwin S. Foster membuat filmdengan judul " The

Life of American Man " merupakan film bisu.

Tahun 1903 :Di Amerika, " The Great Train Robberry " juga merupakan film

bisu dan dianggap sebagai film cerita pertama.

Tahun 1927 :Di Broadway Amerika Serikat, muncul film bicara pertama

tetapi dalam keadaan yang belum sempurna.

Tahun 1950 :Setelah Perang Dunia II, muncul felevisi yang merupakan

ancaman bagi pertunjukan film. Para pengusaha film berusaha

membuat film yang kolosal dengan layar besar dan menampilkan

pemandangan yang kompleks. Pada tahun ini diperkenalkan "

(28)

Tahun 1952 : Fred Walker memperkenalkan system Cinerama dengan layar

enam kali lebih besar dari layar film biasa pada waktu itu. Tetapi

system ini tidak berkembang karena biaya yang lerlalu mahal dan

banyak kesulitan teknis lainnya.

Tahun 1953 : System 3 dimensi ditemukan suatu system gambar dapat

menimbulkan kesan kedalamnya, karena apa yang dilihat

penonton tidak rata seperti biasanya, melainkan ada yang

seolah-olah menonjol keluar dan ada yang di dalam. System ini pun

belum dapat berkembang, karena banyaknya kesulitan teknis.

Pada tahun ini juga perusahaan 20th Century Fox

memperkenalkan " Cinemascope " dengan layar yang lebih besar

meskipun tidak selebar Cinerama. System ini dapat berkembang

dan sekarang banyak dipakai. Selain Cinemascope adapula

system Vista Vision yang layarnya lebih kecil dari Cinemascope

tetapi lebih tajam gambarnya.

Pada tahun berikutnya muncul system khusus yang menciptakan gambar

360 derajat di sekeliling penonton. Terdiri dari Circarama (oleh Walt Disney),

Kinopanorama (oleh Rusia) dan Circlorama (oleh Inggris). Ketiganya

menggunakan 11 proyektor yang diarahkan ke layar film yang berbentuk

lingkaran, dengan penonton didalamnya.

Pada tahun 1970, muncul system Imaz yang dipamerkan pada Expo

Osaka. Sistem ini memakai kamera serta proyektor khusus, layarnya berbentuk

mirip kubah. Salah satunya ada di Taman Mini Indonesia Indah yaitu Teater Imax

Keong Mas.

D. Definisi dan klasifikasi film

Film adalah suatu material tipis, flexibel. transparan dan dilapisi oleh

lapisan emulsi foto yang sensitif. Dimana sanggup merekam gambar-gambar

dengan menggunakan proyektor, film ini diproyeksikan ke sebuah layar dengan

menggabungkan alur bunyi dengan tllm lersebut maka terjadi kesatuan efek-efek

(29)

a. Menurut ukuran Celloid, film dibagi alas :

8 mm

16 mm

35 mm

70mm

b. Menurut ukuran gambar film (proyeksi pada layar):

Non anamorphic :

o 35 mm wide screen

o 35 mm vista vision Anamorphic :

o 16 mm dan 35 mm cinemascope

o 6 mm dan 35 mm icnerama

o 70 mm

o 70 mm Todd Ac

Perbandingan dari gambar-gambar proyeksi pada layar tersebut

c. Menurut proses pengambilan gambar film : positif (+) dan negatif (-)

d. Menurut proses warna film dibagi menjadi: Film hitam putih

Film warna

e. Menurut cerita film :

Film berita

Film dokumenter

Film cerita : komersial dan non komersial (mengandung nilai seni dan

pendidikan)

f. Menurut asal negara produksi;

Film Amerika Eropa

Film Mandarin

Film Asia Non Mandarin

(30)

a. Film sebagai media komunikasi massa. Sebab film merupakan rekaman

tata laku kehidupan manusia, ruang dan waktu dapat dinikmati oleh

urang banyak.

b. Film berfungsi sebagai alat penerangan

c. Film dapat berperan sebagai alat pendidikan

d. Film sebagai bahan hiburan, dengan memasukkan unsur-unsur cerita

yang menarik.

E. Teknik dan peraturan

Prinsip-prinsipnya hampir sama dengan gedung pertunjukan. Persyaratan

lama (di Inggris) untuk ruang terbuka di sekeliling gedung masih berlaku,

karenanya setiap arsitek harus membahas persyaratan ini sejak awal

perencanaannya. Penggunaan taman atau teras terbuka menjadi lebih umum

dipakai dalam skema yang terpadu, karena selain taman terbuka ruang yang

dilindungi dari bahan kebakaran tidak dapat dianggap sebagai jalan untuk keluar.

Pintu dan koridor

Lebarnya harus memenuhi persyaratan untuk pintu darurat. Pintu-pintu

membuka keluar ke arah aliran ke luar pada koridor dan harus bebas halangan,

kecuali untuk pencegah panik. Tinggi pegangan sampai 75 masih

diperkenankan pada tempat yang menuju keluar tetapi pintu-pinlu tersebut

harus memenuhi ukuran ruang bebas yang terhitung dari muka pintu ke

kerangkanya ketika dalam keadaan terbuka. Pintu-pintu tersebut umumnya

harus bebas serta dapat menutup sendiri.

Tangga

Harus sesuai dengan persyaratan yang berlaku, lebar bebas hambatan diukur

dari dinding ke dinding yang berhadapan atau dinding dengan pagar tangga.

Jumlah anak tangga yang diperkenankan tidak kurang dari 3 dan tidak lebih

dari 16 anak tangga pada tangga langsung. Maksimum 2 jalur tangga tanpa

belokan diperkenankan tetapi jumlah anak tangga dikurangi menjadi 12.

Bordes di bagian atas, bawah dan di aniara 2 jalur tangga harus memiliki lebar

(31)

sedangkan lebar anak tangga sekurang-kurangnya 280, peraturan AS

bervariasi.

Auditorium

Jalan masuk ke auditorium pada tempat duduk berjenjang dapat dari bawah

melalui gang ke atas dari belakang, masing-masing akan melalui persilangan

gang-gang. Gang samping atau belakang perlu diperlebar untuk memudahkan

jalan keluar dan untuk mengawasi penonton.

Kapasitas tempat duduk berkisar antara 100-600 kursi, pada umumnya dipakai

sebagai ukuran auditorium minimum dan maximum (di Inggris).

Bentuk Studio / Theatre

Bentuk yang paling cocok yaitu bentuk kipas dengan adanya kemiringan

lantai. Ukuran besar kecilnya ruang teater selain tergantung dari kapasitas

penonton, juga tergantung pada ukuran layar.

Gambar 2.1. Bentuk studio untuk pemutaran film 35mm dan 70mm

( Patricia Tutt, 1976 )

F. Tempatduduk

Tempat duduk harus mempunyai jarak antara kursi depan, minimal

(32)

Gambar 2.2. Jarak antar tempat duduk ( Ernest Neuferts, 2003 )

Dalam menonton film di gedung cineplex ini, orang cenderung untuk

duduk santai dengan kaki membentuk sudut sekifar 30° terhadap arah vertikal.

Oleh karena itu, jarak antara barisan yang baik adalah jarak yang cukup untuk

menampung posisi duduk yang seperti ini. Jarak ini didekati dengan tinggi lutut

(DIM 13) sin 30°, yaitu sebesar 5428 sin 30° sama dengan 27.14. Jarak ini masih

harus ditambah dengan allowance mengingat susunan tempat duduk yang berupa

barisan ini memungkinkan orang lain untuk keluar masuk.

Kebanyakan dari gedung bioskop modern didesign agak sempit, maka pola

tempat duduk pada posisi yang memberikan ketidaknyamanan adalah pada sisi

dekat dinding.

Susunan tempat duduk dalam gedung-gedung cineplex seharusnya lebih

memperhatikan kenyamanan penonton, khususnya bagi penonton yang duduk

pada posisi paling pinggir dekat dinding gedung, baik pada bagian kiri dan kanan

layar. Penonton pada baris ini cenderung untuk memiringkan tubuhnya untuk

mencapai posisi yang nyaman jika susunan tempat duduk yang digunakan adalah

bentuk persegi, Thompson (47) dalam New Horizon for Human factors in design

merekomendasikan sebuah garis penglihatan pada sebuah permukaan disuplay

dari 60° sampai 90° dan tidak pernah kurang dari 45°.

Bentuk baji memepat (truncated wedge) atau bentuk kipas (fanshaped)

menghasilkan sebuah sudut penglihatan yang bertemu pada kriteria 60°. Bentuk

ini dibuat untuk memberikan kenyamanan bagi penonton yang duduk pada baris

(33)

Gambar 2.3. Susunan baris tempat duduk

( Patricia Tutt, 1976 )

Sudut penglihatan vertikal (atas dan bawah) seharusnya tidak melampaui

10° selain itu penonton tidak dikehendaki untuk miring ke belakang atau untuk

mencapai sebuah garis penglihatan (LOS) yang normal (90°).

Ada beberapa macam teknik design yang dapat digunakan untuk mencapai sudut yang dimaksudkan. Teknik pertama, adalah meninggikan layar (tinggi yang

sebenarnya bervariasi, dengan kedalaman dari sebuah gedung cineplex yang

mempunyai sebuah lantai miring). Sebuah layar yang ditinggikan adalah baik

untuk baris-baris belakang, tetapi tidak dapat diakomodasi oleh penonton pada

baris depan, penonton pada garis depan pasti mundur sekurang-kurangnya selebar

dan lebar layar. Solusi yang lain adalah dengan cara memiringkan layar sedikit ke

depan. Sebuah sudut bicesting pada pusat layar hampir lebih dan 10° terhadap

vertikal dan LOS pada penonton-penonton baris depan dan sudut ini masih dapat

diterima dari balkon jika dalam gedung tersebut terdapat balkon.

Solusi yang lain untuk baris depan adalah dengan membalik lingkaran atau

kenaikan kemiringan dari lantai dibuat perlahan pada 10 sampai 11 baris pertama.

Hal ini tidak hanya mengurangi atau memperkecil sudut penglihatan, tetapi juga

mengurangi tolal pengangkatan dari tempat - tempat duduk dari sebuah

kedalaman gedung cineplex. Tinggi dari langit-langit yang dikehendaki dapat

dikurangi, juga tinggi sebuah balkon dapat lebih rendah, selain itu pengembangan

sudut penglihatan vertikal untuk penonton ini lebih baik,

Masalah lain yang sering dialami adalah harus melihat secara langsung di

atas kepala penonton yang lain terutama jika ketinggian antara suatu baris tempat

(34)

Salah satu solusinya adalah membuat ketinggian antara sebuah baris

tempat duduk dengan baris tempat duduk didepannya tidak terlalu rendah.

Ketinggian ini dapat didekati dengan jarak antara dagu dan puncak kepala

(JDPK.) yaitu sebesar 21,51 cm. Solusi lain adalah menggeser barisan tempat

duduk yang ada dibelakangnya, sehingga seorang penonton di barisan kedua dapat

melihat langsung di atas tempat sandaran tangan dari kedua tempat duduk pada

baris depannya. Sebuah kemiringan perlahan-lahan dari 4° sampai 8° akan

mengijinkan seorang penonton yang pendek dapat melihat bahu seseorang

penonton yang tinggi dengan sebuah rintangan yang minimum pada layar.

Gambar 2.4. Grafik ketinggian baris tempat duduk

( Patricia Tutt, 1976 )

G. Ruang proyektor

Biasanya dipisahkan menjadi kamar untuk menggulung dan

memproyeksikan film yang dilengkapi ruang pengatur cahaya, ruang baterai,

ruang tempat distribusi. listrik, ruang pegawai, bengkel dan gudang,

masing-masing cukup mempuuyai luas 6-10 m2.

Sistem peralatan otomatis modern dapat menggunakan ruang yang sama

dan perlu dilengkapi dengan meja untuk menggulung film sehingga memudahkan

(35)

Jenis peralatan yang digunakan harus ditetapkan sejak semula agar

dimensi detailnya dapat diselesaikan.

Cermin untuk proyektor dan pengamatan dapat digunakan bila ruang

terbatas dan belum menggunakan peralatan otomatis. Dengan menggunakan

beberapa cermin maka satu ruang proyeksi dapat melayani bioskop berganda yang

letaknya vertikal. Tetapi menurut kebiasaan, lebih baik tidak menggunakan

cermin proyeksi tersebut. (Sumber: Ciunarsa, Singgih D. : 2004)

H. Besar gambar

Ukuran gambar pada layar bervariasi sesuai dengan sistem film yang

dipakai, karenanya operator harus dapat menentukan ukuran yang diperlukan.

Kemajuan teknologi mengakibatkan munculnya berbagai ukuran tinggi maupun

lebar gambar, dimana ukuran lampu yang digunakan ditentukan oleh efek

maksimum luas gambar yang diperoleh dengan menggunakan rasio luas setara

yang berbeda. Bila menggunakan film 70 mm mungkin membutuhkan rasio luas

setara yang berbeda. Lebar layar maksimum yang biasa dipakai adalah 20 m untuk

film 70,13 m untuk film 35. Untuk menghitung lebar gambar yang diperoleh dari

lensa tertentu dapat menggunakan rumus :

Rumus diatas dikalikan 2

Disarankan pengguuaan panjang lensa standart dari menghindari gambar

yang terlalu kecil. Gambar yang lebih besar akan memerlukan lensa yang lebih

khusus.

I. Ukuran Layar

Ukuran layar harus sebesar mungkin sesuai ukuran maksimumnya atau

hingga mencapai lebar tempat duduk:

(36)

Gambar 2.5. Bentuk Layar pada Ketinggian yang Sama

( Ernest Neuferts, 2003 )

J. Jarak pandang

Rasio lebar terhadap jarak pandang maksimal sebaiknya dari 1:2 hingga

1:3

Gambar 2.6. Jarak Pandang Maksimum – Minimum

[image:36.612.233.412.77.233.2]

( Ernest Neuferts, 2003 )

Gambar 2.7. Jarak Pandang Maksimum Baris Terdepan

(37)
[image:37.612.338.488.439.563.2]

Gambar 2.8. Pandangan penonton secara horizontal

( Ernest Neuferts, 2003 )

K. Teori tentang Lantai

Bahan yang dipakai biasanya mempunyai tingkat soundproofing tinggi

seperti misalnya parket, solid rubber interlocking tiles dengan ketebalan 1,2cm

dan sebagainya. Untuk mengoptimalkan akustik ruang bioskop maka lantai salah

satunya harus direncanakan dengan seksama mi sal dengan memperhatikan

struktur lantai. Diatas struktur beton lantai sebaiknya diberi lapisan waterproof

membrane dan diatasnya diberi polymeric flooring untuk meredam ^uara barn

untuk finishing akhir bam dipakai bahan yang elastisitasnya tinggi. ( Ching, 31 ).

[image:37.612.153.292.443.572.2]
(38)

2.1.2.2. Studi Kasus Obyek Sejenis

A. Teater Imax Keong Mas

Profil Bangunan

Letak : Kawasan Kompleks Taman Mini Indonesia Indah

Jl. Raya Pondok Gede, Jakarta Timur

Tahun Pengerjaan : 20 April 1982

Tahun Peresmian : 20 April 1984

Luas Lahan : 30.000 m²

Luas Bangunan : 4000 m²

Tinjauan Lokasi

Salah satu teater imax yang ada di Indonesia terletak di TMII Jakarta.

Alasan lokasi ditempatkannya teater ini adalah sebagai penunjang fasilitas hiburan

yang ada pada Taman Mini Indonesia Indah, sekaligus sebagai wahana pendidikan

melalui pertunjukan film 3D. Teater ini menyuguhkan sebuah pertunjukan film

dengan teknologi tinggi, dengan efek visual yang lain dari pada pemutaran film

secara regular ( dengan ukuran film 35mm ). Sehingga tinjauan bangunan

terhadap lokasi bangunan tetaer imax ini hanya bersifat edukasi bukan bisnis.

(39)

Fungsi

Bangunan tersebut merupakan gedung bioskop yang menggunakan sistem

IMAX. Sistem IMAX yaitu sistem perfilman yang menerapkan teknologi tinggi,

berusaha membuat menarik penonton dan memberikan impresi yang tak

terlupakan. Inti dari keberhasilan sistem IMAX itu sendiri yaitu semakin besar

bingkai film yang digunakan semakin sempurna kualitas gambar yang dihasilkan.

Ukuran film yang dipergunakan pada IMAX yaitu 70mm, sedangkan film biasa

atau bioskop pada umumnya menggunakan 35mm. Dimana kita bisa merasakan

film yang mempunyai ” emosi ” gambar sedikit lebih hidup dari bioskop biasa.

Gambar 2.12. Film 70 mm

Ukuran layer Teater Imax Keong Mas tersebut mempunyai ukuran 21.5 x

29.3 m, termasuk layar terbesar di dunia. Sehingga dengan layar ukuran yang

besar tersebut, Teater Imax Keong Mas mempunyai kapasitas penonton 800

(40)

Fasilitas

Fasilitas utama pada Teater Keong Mas tersebut yaitu ruang bioskop itu

sendiri. Dengan kapasitas sebanyak 800 tempat duduk. Dimana terdapat 2 kelas,

yaitu :

Kelas VIP

Kelas Regular

Ruang tunggu VIP

Ruang tunggu regular

Tampilan bangunan

Secara bentukan, Teater Imax Keong Mas memakai bentuk yang terinspirasi

dari bentuk keong. Hal tersebut mengalami proses transformasi dari bentuk awal

cangkang keong. Gambar dibawah ini dapat menjelaskan bahwa terjadi beberapa

perubahan bentuk yang diambil dari bentuk keong sawah.

Gambar 2.14. Ide bentuk

Kemudian bentuk tersebut diolah berdasarkan fungsinya, yang kemudian

dari fungsinya tersebut dipelajari lagi untuk lebih dapat memenuhi secara fungsi.

Dan proses akhirnya lebih direalisasikan untuk menjadikan menjadi sebuah

bangunan.

Untuk memperjelas dari karakter Keong Mas, maka pada permukaan

dindingnya menggunakan keramik yang berwarna kuning keemasan. Hal ini dapat

mempertegas dari fasad bangunan, bahwa bangunan tersebut terinspirasi dari

(41)

Sistem Struktur

Pada bangunan tersebut terdapat kubah pada belakang bangunan. Kubah

tersebut menggunakan sistem struktur shell yang merupakan kubah beton terbesar

di Indonesia yaitu dengan diameter 46m dengan ketebalan 20cm untuk bagian

bawah serta 15cm untuk bagian atasnya.

Gambar 2.15. Struktur shell pada kubahan masa bangunan

Sedangkan pada sistem kanopi menggunakan konstruksi beton tekan 3

dimensi dengan rib baja tarik serta pengisi bidang kaca khusus.

Penampilan Ruang Dalam

Pada area hall dan ruang tunggu regular mempunyai orientasi keluar. Hal

tersebut dikarenakan bukaan pada entrance bangunan mempunyai bukaan yang

cukup luas. Hal tersebut bertujuan untuk memasuki unsur ruang luar ke dalam.

Selain itu, untuk mengatasi jumlah penonton dengan kapasits yang banyak yang

(42)

Pada kanopi entrance bangunan menggunakan material kaca. Hal tersebut

bertujuan untuk memasukkan pencahayaan alami. Dan juga tidak merasa

kepanasan akan cahaya yang masuk, karena penggunaan material kaca film. Pada

area tunggu tersebut disajikan beberapa poster film yang sedang dimainkan dalam

Teater Imax.

Gambar 2.17 Pemasangan poster film

Hal tersebut juga dapat memberi kesan pada ruang dalam yang sangat

kental akan dunia film.sedangkan pada area tunggu VIP sedikit berbeda secara

penyelesaian arsitekturalnya. Karena berdasarkan fungsi dari ruangan tersebut,

yaitu untuk tamu VIP. Tampilan pada ruang tersebut lebih berkesan elegan. Hal

tersebut terlihat dari pemakaian lampu hias yang terbuat dari kristal. Dan

pemakain material-material lainnya juga mencerminkan suasana elegan ingin

diciptakan.

Bentukan Ruang Teater

Pada Teater Imax Keong Mas, mempunyai bentukan denah ruang dan

bentukan denah pola lantai atau susunan kursi bioskop mempunyai bentukan pola

kipas. Dimana bentukan dari denah ruang bioskop menyesuiakan dari bentukan

lantai ruang bioskop.

Bangunan Teater Imax Keong Mas termasuk bentukan organik, karena

memakai bentukan dari keong. Karena perwujudan tersebut, Keong Mas telah

mendapat penghargaan dari Guiness Book Record karena telah mewujudkan

(43)

arsitektural pad bangunan tersebut. Salah satunya yaitu tanpa adanya pemakaian

kolom pada entrance bangunan. Karena pada kanopi entrance bangunan

menggunakan sistem rib baja tarik.

Hal tersebut terjadinya juga pada ruang studio bioskop, dimana yang

mempunyahi dimensi luas, dimana pada ruang tersebut mempunyai bentukan

kubah yang menggunakan struktur shell.

Sirkulasi

Pengunjung datang dari teras kenudian membeli karcis di aula luar,

kenudian menunggu di aula. Setelah pintu di buka, penonton masuk ke dalam

ruang bioskop. Keluar seusai pertunjukan kembali ke teras.

B. MPX Grande

Gambar 2.18 Lobby MPX Grande

Tinjauan Lokasi

Terletak di Pasaraya Grande lantai 10, MPX berada. Dimana letak dari

bangunan ini sangat strategis, dengan berada pada zoning one stop entertainment

yaitu zona denfan fasilitas perbelanjaan, zona permainan, dan food court.

Sehingga dapat disimpulkan bahwa sangatlah tepat kehadiran MPX Grande ini

melengkapi fasilitas yang ada pada zona one stop entertainment yang ada di lantai

(44)

Fungsi

Citra MPX sebagai entertainment ikon sudah terbentuk sejak di lobi.

Berbeda dengan sinema dalam jaringan 21 umumnya yang sumpek, lobi MPX

justru menyisakan ruang nafas yang lapang (langit-langit setinggi 10 meter). Di

sini terdapat kafetaria, petugas customer relations, puluhan boks lampu neon

berisikan poster film, serta loket yang masing-masing ditata apik. Minus sofa,

tidak sebagaimana bioskop umumnya. Di atas pintu masuk sinema, dipasang dua

buah layar teve (big screen) berukuran 48 inci yang memutar trailer film-film

mendatang. Namun, situasinya jangan dibayangkan hiruk-pikuk. Di sini,

kenyamanan panca indera Anda tetap terjaga.

[image:44.612.233.407.310.441.2]

Fasilitas

Gambar 2.19. Loket penjualan tiket

Fasilitas loket didesain sistematis demi kenyamanan pengunjung. Dari

lima loket yang ada, layanan dibagi berdasarkan kepentingan, yaitu dua loket

melayani pengunjung yang membayar dengan kartu kredit, sisanya

masing-masing melayani “MPX card” (anggota pelanggan), penonton kelas diamond, dan

pembelian tiket secara tunai. Setiap loket dilengkapi komputer dengan software

khusus yang memudahkan accounting system pengelola dan kenyamanan

penonton memilih tempat duduk lewat monitor.

Khusus penonton diamond class, disediakan diamond lounge yang

terhubung dengan sinema. Di ruang tunggu tersebut terdapat beberapa sofa, toilet

dan minibar yang menyediakan makanan / minuman ringan, layaknya sebuah

ruang keluarga. Sambil menunggu jam tayang, penonton bisa menghabiskan

(45)

Tak heran, dengan standar kenyamanan di atas, MPX Grande mengklaim

dirinya sebagai boutique cinema. Artinya, ia tidak saja menjual kualitas gambar

dan suara, melainkan juga interior (suasana).

MPX Grande memiliki enam sinema. Tiga sinema berkapasitas 53 tempat

duduk, dua sinema berkapasitas 236 tempat duduk, dan satu sinema (diamond

class) berkapasitas 24 tempat duduk. Sinema diamond class, boleh dibilang model

home entertainment sesungguhnya. Tata suara dan kualitas gambar di layar perak

jangan ditanya. Yang membedakan diamond class dengan sinema MPX lain (gold

class) sebetulnya pada tata letak tempat duduk; diletakkan per dua buah

(sepasang). Setiap pasang tempat duduk dilengkapi meja kecil. Selain itu,

masing-masing tempat duduk dapat disetel secara elektrik, baik sandaran punggung

maupun sandaran kaki. Apalagi masih ditambah selimut dan bantal kecil yang

mengingatkan pada kursi penumpang KA Argo.

Penampilan Ruang Dalam

Pendar lampu berkedip mengelilingi beberapa poster di sisi kanan, tepat

dekat bagian informasi. Aroma Las Vegas, pusat judi Amerika Serikat sangat

kental terlihat. Sedangkan tempat pembelian tiket terlihat lengkungan-lengkungan

yang menyekat tiap loketnya. Lengkung berwarna kuning yang semakin melebar

ke atasnya. Masih di ruang lobi, disini tersedia kafe dan tempat membeli cemilan.

Di masing-masing dinding terpasang poster beberapa lukisan kenamaan, salah

satunya karya Vincent van Gogh Beach at Saint Marie. Sedangkan di bagian atas

sisi pintu masuk, terpajang dua layar televisi besar yang menyuguhkan video

musik.. Menurut R. Trianggono, General Manager PT Multiplex Grande, desain

sepenuhnya dikerjakan arsitek Filipina. Dasar pengambilan desain sendiri dipilih

berdasar keunikannya. Ia mengambil contoh pengambilan warna-warna kursi di

bioskopnya. Dari ruang sinema yang ada, masing-masing memiliki warna kursi

yang berbeda yakni merah, maroon, biru, hitam, dan ungu.

Bioskop ini memang menyajikan desain yang unik, dan mungkin tak

(46)

pesawat ruang angkasa yang banyak ditemui di film-film Hollywood. Di tiap

dindingnya yang berwarna kuning itu, dipajang poster-poster film klasik.

Sedangkan di sudut antara lantai dan dinding, keluar cahaya lembut yang memberi

nuansa futuristik. Jalur masuk terdiri dari dua akses, yakni untuk penonton

pemegang tiket Gold dan Diamond. Jalur ini digunakan untuk penonton jenis

Gold.

Gambar 2.20. Koridor menuju studio

C. Tunjungan Cineplex 21, Surabaya

• Alamat: Jl. Basuki Rachmat 8-21, Plasa Tunjungan III Lt. 5 Surabaya

• Berdiri tanggal 16 Oktober 1996

• Waktu Operasional:

o Minggu – Jumat :12.00 - 20.30

o Sabtu :12.00-23.00 • Security dari jam 21.00- 12.00

• Loket menggunakan computer (otomatis).

(47)

• Ruang-ruang yang tersedia:

4 bh gedung theater

Loket 2 lajur

Kantin

Gambar 2.23. Kantin Tunjungan Cineplex 21

Ruang Proyektor

Gambar 2.24. Ruang Proyektor Tunjungan Cineplex 21

Ruang Teknisi

Kantor Pengurus

Toilet Wanita dan Pria

• Kapasitas Tempat Duduk:

Tunjungan 1 : 248 tempat duduk

Tunjungan 2 : 224 tempat duduk

(48)

Gambar 2.25. Tempat Duduk Tunjungan Cineplex 21

• Ukuran pita film yang digunakan 35 mm. setiap filmnya menggunakan

kurang lebih 6 roll yang digulung menjadi 1 roll besar kemudian

ditayangkan oleh proyektor. Proses penggulungan 6 roll menjadi 1 roll

besar memerlukan waktukurang lebih ½ Jam.

• Tunjungan 21 dalam memutar film tidak bergantian dengan Cineplex yang

lain sehingga tidak pernah lerjadi di tengah-tengah film karena pita film

terlambat dikirim dari Cineplex yang lain.

• Ukuran layar 6 m X 12m

• Jarak layar dari lantai 2 m

• Jarak layar dengan kursi barisan pertama 5 m

• Lapisan plafon : Karpet

• Lapisan dinding:

• Triplek

• Partikel Board

• Karpet Lapisan Lantai

• Karpet dan Vinyl (Studio Theamer)

• Granit (Lobby)

• Keramik(K.antor, lokel)

• Menggunakan Sprinkler pada setiap ruang untuk mengatasi kebakaran

• AC menggunakan AC Central milik Tunjungan Plasa

(49)

• Tata suara:

• Tunjungan 1 : SDDS (Sony Dinamie Digital Sound) - K channel

• Tunjungan 2 : Dolby Digital - 6 channel

• Tunjungan 3 : Dolby Digital - 6 channel

• Tunjungan 4 : DTS (Digital Theater System) - 6 channel

• Cross Offer Aktif:

Proyektor jenis Victoria 5 Cineme C Canica Milano Italy

SDDS (Sony Dinamic Digital Sound) DFP - D 2000 No. 12766

CP 500 Digital Cinema Processor No. 250

THX Monitor Model D. 1138 Serial No. C 0514

Digital Sound Head 700 No. 503913

Digital Film Sound Reader DFP - R 2000 No, 12627

Amplifier:

Crown Marco-Tech 1200 No. A 303749

Crown Marco-Tech 1200 No. A 3 04097

Crown Marco - Tech 1200 No. A 304085

Crown Marco-Tech 1200 No. A 304101

Crown Marco-Tech 1200 No. A 304086

Crown Marco - Tech 2400 No. A 244964

Crown Marco - Tech 2400 No. A 245007

(50)

• Susunan Tempat Duduk

(51)

2.1.3. Analisa Hasil Studi

Kesimpulan dari ketiga contoh studi kasus diatas adalah : Tabel 2.1 Analisa hasil studi

2.1.4. Persyaratan Pokok Proyek

Dalam gedung bioskop harus diperhatikan cahaya dan penghawaannya,

dimana memiliki perbedaan antara ruang yang satu dengan yang lainnya sesuai

dengan aktivitas yang terjadi di ruangan itu. Selain kebutuhan ruang untuk

pementasan di mana akustik ruang harus tersedia. Berikut ini adalah persyaratan

IMAX KEONG MAS MPX GRANDE TUNJUNGAN 21

CINEPLEX

- Bentukan yang diambil dari

keong, dimana bentukan

diapikasikan kedalam bentukan

bangunan. Sehingga muncul fasad

bangunan yang unik.

- Pengolahan ruang dalam

benar-benar diperhatikan menurut

fungsinya. Salah satunya ,

contohnya yaitu yang terdapat

pada ruang tunggu VIP, dimana

pada ruang tersebut arsitekturnya

memakai gaya yang elegan.

- Bentukan denah dan lantai

Teater Imax Keong Mas

mempunyai bentuk yang sama

yaitu bentuk kipas. Demi

tercapainya kenyamanan seluruh

Gambar

Gambar 2.7. Jarak Pandang Maksimum Baris Terdepan
Gambar 2.10. Struktur Lantai Akustik
Gambar 2.19.  Loket penjualan tiket
Gambar 2.28. Pencahayaan buatan
+7

Referensi

Dokumen terkait