OPTIMASI SINTESIS SENYAWA ANALOG KURKUMIN 1,3-BIS-(4-HIDROKSI-3,5-DIMETILBENZILIDIN)UREA PADA RENTANG pH 3-4.

Teks penuh

(1)

RENTANG pH 3-4

SKRIPSI

Oleh :

ARDIAN ADI SAPUTRO

K 100050304

FAKULTAS FARMASI

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA

SURAKARTA

(2)

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Selama dua dekade belakangan ini penelitian tentang kurkumin sebagai bahan aktif untuk beberapa penyakit telah banyak dilakukan. Diantara penelitian-penelitian tersebut antara lain melaporkan tentang efek kurkumin sebagai anti oksidan (Rao, 1997; Majeed et al., 1995), antiinflamasi (Van der Good, 1997; Sardjimana et al.,

1997), antiHuman Immuno deficiency Virus (HIV) (Mazunder et al., 1997; Barthelemy et al., 1998), antiangiogenesis (Robinson et al, 2003).

Kurkumin termasuk dalam golongan diarilheptanoid dan merupakan salah satu isolat tanaman Curcuma sp (Van der Good, 1997). Kurkumin merupakan pewarna utama dari rizoma tumbuhan Curcuma longa L (Zingiberaceae). Kurkumin dikenal sebagai (1,7-bis(4'-hidroksi-3'-metoksifenil)-1,6-heptadien-3,5-dion). Stabilitas kurkumin sangat dipengaruhi pH lingkungan dan cahaya. Dalam pH basa, kurkumin mengalami reaksi hidrolisis dan degradasi yang disebabkan oleh adanya gugus metilen aktif (-CH2-) diantara dua gugus keton pada senyawa tersebut (Tonnesen and

Karlsen, 1985). Hal ini kurang menguntungkan untuk pemanfaatan kurkumin sebagai senyawa obat.

Seiring dengan usaha pemanfaatan senyawa kurkumin agar dapat digunakan secara luas, dengan aktifitas yang spesifik dan untuk meningkatkan stabilitasnya

(3)

maka dilakukan sintesis dengan memodifikasi gugus-gugus pada rantai tengahnya ataupun pada rantai aromatiknya. Setelah dilakukan modifikasi, diharapkan terbentuk suatu analog kurkumin yang memiliki aktifitas lebih besar atau sebanding dengan kurkumin (Robinson et al, 2003). Berdasarkan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Sardjimanbet al., 1997; Adams et al., 2004; dan Sun et al., 2006 menunjukkan bahwa aktifitas senyawa analog kurkumin yang telah mengalami modifikasi pada farmakofor B (β diketon) dan subtitusi rantai samping pada cincin aromatis memiliki kestabilan dan aktifitas farmakologi yang lebih baik dibanding kurkumin.

Sintesis analog kurkumin dengan modifikasi gugus β diketon dengan suatu O-heterosiklik rantai enam yang dilakukan oleh Adam et al., (2004) menunjukkan aktivitas antileukimia, antikanker payudara, serta antikanker prostat yang lebih baik dibandingkan senyawa induknya. Penelitian lain menunjukkan pemasukan gugus N pada gugus heksanon untuk menggantikan gugus β diketon pada senyawa kurkumin dapat meningkatkan efek sitotoksik senyawa analog kurkumin tersebut (Sun et al.,

2006). Pengembangan potensi analog kurkumin tidak hanya memodifikasi gugus tengah tetapi juga memodifikasi rantai samping. Penelitian lain menunjukkan adanya subtitusi gugus 3,5-dimetil dan 4-hidroksi pada cincin aromatis yang dikenal sebagai PGV-1 memiliki aktivitas antikanker yang lebih baik dari kurkumin (Da’i, 2007).

(4)

asam tidak mampu memprotonasi atom nitrogen dari urea, akan tetapi dapat mengkatalisis reaksi hidrolisis untuk pembentukan imina (Fessenden dan Fessenden, 1986). Senyawa hasil sintesis merupakan gabungan modifikasi pada farmakofor B (gugus tengah) menjadi suatu N-alifatik dengan gugus imina (N-heteroalifatik rantai lurus monoketon) dan subtitusi pada rantai samping cincin aromatis dengan suatu gugus dimetil dan hidroksi. Sintesis senyawa 1,3-bis-(4-hidroksi-3,5-dimetil-benzilidin)urea dikembangkan berdasarkan reaksi adisi-eliminasi dengan starting

material 4-hidroksi-3,5-dimetil benzaldehida dan urea. Modifikasi tersebut

diharapkan meningkatkan stabilitas dan aktifitas biologis khususnya sebagai antikanker dibanding kurkumin sebagai senyawa penuntun (senyawa induk).

B. Perumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang tersebut dapat dikembangkan rumusan masalah sebagai berikut:

1. Apakah 1,3-bis-(4-hidroksi-3,5-dimetil-benzilidin)urea dapat disintesis dengan menggunakan starting material 4-hidroksi-3,5-dimetil benzaldehida dan urea dengan menggunakan katalis HCl ?

(5)

C. Tujuan Penelitian

Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk:

1. Mengkaji proses sintesis 1,3-bis-(4-hidroksi-3,5-dimetil-benzilidin)urea pada rentang pH 3-4 dengan katalis HCl 5% menggunakan starting material awal 4-hidroksi-3,5-dimetil bezaldehida dan urea.

2. Mendapatkan kondisi optimum dari sintesis senyawa 1,3-bis-(4-hidroksi-3,5-dimetil-benzilidin)urea.

D. Tinjauan Pustaka 1. Aspek Kimia Kurkumin

Kurkumin atau 1,7-bis(4’-hidroksi-3’-metoksipenil)-1,6-heptadin-3,5-dion merupakan senyawa α, β-diketon siklik diaril yang berwujud kristal kuning jingga dan terdapat dalam Curcuma longa, L. Senyawa kurkumin di alam selalu terdapat bersama dengan dua turunan senyawa lainnya yaitu dimetoksikurkumin dan bis-demetoksikurkumin, yang dikenal dengan nama kurkuminoid (Tonnesen dan Karlsen, 1985). Kurkumin praktis tidak larut dalam air, terapi larut dalam pelarut organik (Majeed et al., 1995). Kurkumin telah banyak diteliti dan dapat digunakan antara lain sebagai anti oksidan (Rao, 1997; Majeed et al., 1995), antiinflamasi (Van der Good, 1997; Sardjimana et al., 1997), antiHuman Immuno deficiency Virus (HIV) (Mazunder et al., 1997; Barthelemy et al., 1998), antiangiogenesis (Robinson et al,

(6)

Struktur kimia kurkumin berhasil dielusidasi oleh Lampe et al., pada tahun 1910, dan disintesis pertama kali oleh Lampe dan Milobedzka pada tahun 1913 (Roughly dan Whiting, 1973). Kurkumin tergolong senyawa diarilheptonoid turunan metana tersubstitusi dua asam farulat (diacu sebagai diferuloil metan) dengan rumus molekul C21O6H20 dan bobot molekul 368,126.

Kurkumin merupakan senyawa dengan struktur β diketon tersubtitusi simetris dan gugus karbonilnya terkonjugasi oleh cincin aromatis yang tersubtitusi para dengan gugus hidroksi. Dengan struktur kimia kurkumin tersebut mengakibatkan kurkumin tidak stabil terhadap pengaruh pH yang alkalis dan cahaya. Kurkumin dengan adanya pH lingkungan dalam lingkungan berair atau basa, akan terhidrolisis dan terdegradasi pada gugus metilen aktif pada senyawa tersebut (Tonnesen and Karksen, 1985). Instabilitas kurkumin juga dipengaruhi oleh adanya cahaya yang menyebabkan terjadinya degradasi fitokimia senyawa tersebut (Van der Good, 1997; Supardjan et al., 1997). Kurkumin dapat disintesis melalui reaksi kondensasi antara 2,4-pentadion (asetilaseton) dan vanilin dengan menggunakan reagen khusus anhidrida borat untuk menghindari terjadinya kondensasi Knoevenagel antara dua starting material tersebut (Fessenden dan Fessenden, 1986).

2. Kurkumin Sebagai Senyawa Penuntun (Senyawa Induk)

(7)

tersebut baik simetris maupun tidak simetris menentukan potensi ikatan antara senyawa obat dengan reseptor. Modifikasi struktur dapat dilakukan dengan mengubah gugus farmakofor B maupun modifikasi subtituen gugus aromatis pada farmakofor A dan C (Gambar 1b dan Gambar 1c). Gambar 1. a. Senyawa kurkumin, sebagai senyawa penuntun dibagi menjadi

(8)

Hubungan struktur dan aktivitas kurkumin terkait dengan gugus-gugus fungsional senyawa tersebut, yaitu sebagai berikut:

a. Aktivitas antioksidan ditentukan oleh gugus hidroksi pada inti aromatik, hal ini telah dibuktikan pula dalam penelitian sifat oksidasi kurkumin dan analognya dengan berbagi pendekatan yang telah membuktikan peran gugus hidroksi untuk sifat pereduksi (Da’i,1998).

b. Gugus β diketon yang telah diganti dengan analog siklopentanon (monoketon) tetap menunjukkan aktifitas biologi yang sama atau bahkan lebih baik dibanding kurkumin. Penelitian menunjukkan analog PGV-0 dan PGV-1 memiliki aktivitas antikanker yang lebih baik dari kurkumin (Da’i, 2003 dan 2007).

c. Dua cincin aromatis simetris maupun tidak simetris menentukan potensi ikatan antara senyawa obat dengan reseptor, sehingga salah satu upaya modifikasi dilakukan pada bagian kromofor B dari struktur kurkumin.

Beberapa peneliti mengembangkan analog kurkumin berupa senyawa N-heterosikilik monoketon dan modifikasi pada rantai samping berupa gugus hidroksi dan dimetil (Sardjimanb et al., 1997). Youssef et al., (2004) mengembangkan seri analog N-alkil heterosiklik monoketon yaitu seri dari senyawa 3,5-bis-(benzilidin tersubstitusi)-4-piperidin dengan variasi substituen pada atom N berupa gugus metil, etil dan propil. Adams et al., (2004) mengembangkan sintesis 3,5-bis -(2-fluorobenzilidin)-piperidin-4-on (Gambar 1c). Uji senyawa tersebut terhadap sel kanker payudara menunjukkan nilai IC50 sebesar 0,6 μM, lebih kecil dibanding

(9)

H O

3. Analisis Diskoneksi Senyawa Analog Kurkumin

Diskoneksi adalah reaksi kebalikan atau kerja kebalikan dari suatu reaksi. Diskoneksi dilakukan dengan pembayangan pecahnya suatu ikatan (memecah) suatu molekul menjadi starting material yang mungkin.

Senyawa 1,3-bis-(4-hidroksi-3,5-dimetil-benzilidin)urea dapat didiskoneksi langsung melalui pendekatan retro-iminasi. Berdasarkan diskoneksi ini dihasilkan

starting material 4-hidroksi-3,5-dimetilbenzaldehida dan urea (Gambar 2).

(10)

Imina tersubtitusi yang terbentuk dari amina primer lebih stabil dibanding imina tak tersubtitusi yang terbentuk dari ammonia. Aldehid aromatik (4-hidroksi-3,5-dimetil benzaldehida) dapat bereaksi dengan urea menghasilkan suatu senyawa imina. Reaksi berlangsung pada pH 3,0-4,0. Percobaan untuk sintesis senyawa 1d akan dilakukan menggunakan asam klorida (HCl) untuk mendapatkan variasi pH optimal untuk percobaan tersebut.

4. Analisis Reaksi Hasil Sintesis a. Kromatografi Lapis Tipis

Kromatografi lapis tipis dapat digunakan untuk keperluan yang luas dalam pemisahan-pemisahan. Disamping memberikan hasil pemisahan yang lebih baik, juga membutuhkan waktu yang lebih cepat. Kromatografi lapis tipis hanya membutuhkan cuplikan dalam jumlah sedikit dan noda-noda yang terpisahkan dilokalisir pada plat. Metode lapis tipis mempunyai keuntungan yang utama yaitu membutuhkan waktu yang lebih cepat dan diperoleh pemisahan yang lebih baik. Waktu rata-rata untuk kromatografi lapis tipis dengan panjang 10 cm pada silika gel adalah sekitar 20-30 menit (tergantung sifat fase gerak) (Sastrohamidjojo, 1991).

Penjerap yang paling umum adalah silika gel dan dipakai untuk pemisahan

campuran senyawa lipofil maupun campuran senyawa hidrofil (Hostettmann et al.,

1995). Silika gel yang digunakan kebanyakan diberi pengikat (binder) yang dimaksud

(11)

penyokong. Pengikat yang digunakan kebanyakan kalsium sulfat. Tetapi biasanya

dalam perdagangan silika gel telah diberi pengikat. Jadi tidak perlu mencampur

sendiri dan diberi nama dengan kode silika gel G (Sastrohamidjojo, 1991).

Silika gel merupakan penjerap yang paling banyak dipakai dalam KLT.

Senyawa netral yang mempunyai gugusan sampai tiga pasti dapat dipisahkan pada

lapisan yang diaktifkan melalui pelarut organik atau pelarut campuran yang normal

(Gritter et al., 1991). Sistem pelarut untuk KLT dapat dipilih dari pustaka, tetapi lebih

sering dengan mencoba-coba karena waktu yang diperlukan hanya sebentar. Sistem

yang paling sederhana adalah campuran pelarut organik yang dipakai untuk

memisahkan molekul yang mempunyai satu atau dua gugus fungsi dengan cara

kromatografi cair preparatif pada lapisan silika gel atau alumina aktif (Gritter et al.,

1991).

Jarak pengembangan senyawa pada kromatogram biasanya dinyatakan dengan

Rf atau hRf

Rf = jarak tertentu pusat bercak dari titik awal jarak garis depan dari titik awal

Harga Rf untuk senyawa murni dibandingkan dengan harga standart. Perlu

diperhatikan bahwa harga-harga Rf yang diperoleh hanya berlaku untuk campuran

tertentu dari pelarut dan penyerap yang digunakan, meskipun demikian daftar dari

(12)

b. Pemeriksaan Titik Lebur

Tes kemurnian pertama yang harus dilakukan adalah tes kemurnian dengan titik lebur. Alat yang digunakan untuk menguji titik lebur suatu senyawa adalah termopan. Untuk identifikasi kualitatif, titik lebur merupakan tetapan fisika yang penting terutama untuk senyawa hasil sintesis, isolasi, maupun rekristalisasi.

Rentang titik lebur senyawa merupakan petunjuk kemurnian dari suatu senyawa. Perbedaan jarak lebur kurang dari 2oC menunjukkan senyawa tersebut murni. Sebaliknya jika rentangan lebih besar dari harga tersebut, dapat dikatakan senyawa tersebut kurang murni dan dapat dilakukan tahap-tahap pemurnian lebih lanjut, misalnya rekristalisasi.

Titik lebur suatu kristal padat adalah suhu ketika padatan mulai berubah menjadi cair pada tekanan udara 1 atm. Jika suhu dinaikkan, molekul senyawa akan menyerap energi. Makin tinggi suhu makin banyak energi yang diserap maka akan menaikkan gerakan vibrasi dan rotasi molekul. Jika suhu terus dinaikkan mengakibatkan rusaknya molekul dan berubah dari padatan menjadi cairan. Pada keadaan cair molekul masih terikat satu dengan lainnya tetapi sudah tidak teratur lagi. Faktor-faktor yang mempengaruhi peleburan :

1) Ikatan antar molekul

(13)

2) Kesimetrisan.

Jika suatu molekul dalam keadaan simetris maka akan dapat menyerap energi yang lebih banyak tanpa merusak kisi-kisi kristal.

3) Ukuran Molekul.

Molekul yang berukuran lebih besar pada umumnya melebur pada suhu lebur lebih tinggi.

4) Polimofisme.

Senyawa kadang-kadang memiliki beberapa bentuk kristal, dan hal ini memberikan titik lebur yang berbeda-beda (Branstatter, 1971 cit Shinta, 2004). c. Spektrofotometri Ultraviolet-Visibel

Spektrofotometer merupakan salah satu metode analisis senyawa dengan menggunakan serapan cahaya oleh molekul dalam daerah spektrum ultraviolet dan terlihat rentang pada struktur elektronik dari molekul spektra ultraviolet dan terlihat dari senyawa organik berkaitan dengan transisi diantara tingkatan-tingkatan tenaga elektronik. Oleh karenanya maka serapan radiasi ultraviolet sering dikenal dengan spektroskopi elektronik (Sastrohamidjojo, 1991).

(14)

gelombang absorbs berbanding terbalik terhadap energi yang diperlukan. Transisi elektron yang penting adalah πÆ π# untuk sistem berkonjugasi dan n Æ π#. Pergeseran bathokromik terjadi karena pertambahan panjang dari sistem terkonjugasi atau dapat juga karena sistem terkonjugasi disubstitusi oleh berbagai gugus (Fessenden dan Fessenden, 2001).

Spektrum UV-Vis umumnya digunakan untuk mendeteksi ikatan rangkap terkonjugasi. Molekul tanpa ikatan rangkap atau dengan satu ikatan rangkap tidak menyerap pada panjang gelombang sinar tampak-ultraviolet (200 sampai 800). Namun demikian, sistem terkonjugasi memang menyerap dan semakin banyak konjugasi, semakin besar panjang gelombang dari serapan maksimumnya (Hart, 1987).

d. LC-MS (Liquid Chromatography- Mass Spectra)

Spektrum massa ialah alur kelimpahan (jumlah relatif fragmen bermuatan positif yang berlainan) versus nisbah massa/ muatan (m/z) dari fragmen-fragmen itu. Muatan ion dari kebanyakan partikel yang dideteksi dalam suatu spektrometer massa adalah + 1, m/z untuk suatu ion semacam itu sama dengan massanya.

Berdasarkan pola ionisasinya, ada beberapa metode spektroskopi massa yang sering digunakan dalam menganalisis sampel yaitu:

a. EI-MS (Electron Impact- Mass Spectrometer): ionisasi dilakukan dengan

elektron bombardement.

b. CI-MS (Chemical Ionisation- Mass Spectrometer): ionisasi dilakukan dengan

(15)

Ammonium (NH4), atau isobutana. Keuntungan CI-MS dibandingkan EI-MS

adalah energi yang dipakai tidak terlalu tinggi sehngga ion molekul pasti muncul.

c. FDI-MS (Field Desorption Ionisasi- Mass Spectrometer): suatu ionisasi berdasarkan desorpsi medan.

d. FAB-MS (Fast Atom Bombardement- Mass Spectrometer): Ionisasi dilakukan dengan bombardement atom cepat dengan prinsip bahwa sampel selalu dilindungi oleh suatu matrik.

e. MALDI-MS [Matix Assited LASER (Light Amplification by Stimulation of

Emission Radiation) Desorption Ionisation- Mass Spectrometer]: ionisasi

dilakukan dengan desorpsi oleh LASER pada sampel dalam matriks.

f. ESI-MS (Electro Spray Ionisation- Mass Spectrometer): ionisasi dengan semprotan elektris (Jenie, 2002).

Liquid Chromatrography-Mass Spectra (LC-MS) merupakan kombinasi

Figur

Gambar 1. a. Senyawa kurkumin, sebagai senyawa penuntun dibagi menjadi tiga gugus farmakofor A, B dan C (Robinson et al., 2003), modifikasi kurkumin menjadi gugus monoketon anatara lain: b

Gambar 1.

a. Senyawa kurkumin, sebagai senyawa penuntun dibagi menjadi tiga gugus farmakofor A, B dan C (Robinson et al., 2003), modifikasi kurkumin menjadi gugus monoketon anatara lain: b p.7
Gambar 2. Analisis diskoneksi senyawa 1,3-bis-(4-hidroksi-3,5-dimetil-benzilidin)urea, diawali dengan interkonversi gugus fungsional (retro-iminasi) menjadi senyawa  dengan gugus hidroksi, diikuti dengan diskoneksi lanjut menghasilkan material pemula turun

Gambar 2.

Analisis diskoneksi senyawa 1,3-bis-(4-hidroksi-3,5-dimetil-benzilidin)urea, diawali dengan interkonversi gugus fungsional (retro-iminasi) menjadi senyawa dengan gugus hidroksi, diikuti dengan diskoneksi lanjut menghasilkan material pemula turun p.9

Referensi

Memperbarui...