• Tidak ada hasil yang ditemukan

GAYA KOMUNIKASI PENYIAR RADIO SONGGOLANGIT FM UNTUK MENARIK MINAT PENDENGAR LIVE STREAMING PADA PROGRAM SENDU (SENANDUNG RINDU)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "GAYA KOMUNIKASI PENYIAR RADIO SONGGOLANGIT FM UNTUK MENARIK MINAT PENDENGAR LIVE STREAMING PADA PROGRAM SENDU (SENANDUNG RINDU)"

Copied!
92
0
0

Teks penuh

(1)

GAYA KOMUNIKASI PENYIAR RADIO SONGGOLANGIT FM UNTUK MENARIK MINAT PENDENGAR LIVE STREAMING

PADA PROGRAM SENDU (SENANDUNG RINDU)

S K R I P S I

Oleh : Tita Kurniawati NIM. 302190119

Pembimbing:

Dr. Muh. Tasrif, M.Ag NIP. 197401081999031001

JURUSAN KOMUNIKASI DAN PENYIARAN ISLAM FAKULTAS USHULUDDIN, ADAB, DAN DAKWAH INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) PONOROGO

2023

(2)

ii ABSTRAK

Kurniawati, Tita. 2023. Gaya Komunikasi Penyiar Radio Songgolangit FM untuk Menarik Minat Pendengar Live Streaming Pada Program Sendu (Senandung Rindu). Skripsi. Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Dakwah Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ponorogo.

Pembimbing Dr. Muh. Tasrif, M.Ag.

Kata Kunci: Gaya Komunikasi, Penyiar, Pendengar, Radio Songgolangit Tantangan radio di era digital saat ini ditandai dengan banyaknya gempuran konten-konten di media sosial, serta semakin menjamurnya podcast dan live streaming di Youtube dan media sosial lainnya. Dalam hal ini penyiar harus membawakan program acara dengan baik, mengingat di Radio Songgolangit harus mempertahankan eksistensi dan minat pendengar setia serta dalam program penyiaran tentu memiliki tantangan tersendiri. Berdasarkan uraian di atas peneliti ini akan membahas gaya komunikasi penyiar pada Program Senandung Rindu dan hambatan komunikasi yang dihadapi penyiar dalam Program Senandung Rindu di Radio Songgolangit.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana gaya komunikasi penyiar dan hambatan apa saja pada Program Sendu (Senandung Rindu) untuk menarik minat pendengar secara live streaming di Radio Songgolangit FM.

Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian deskriptif kualitatif dengan prosedur pengumpulan data berupa wawancara dan dokumentasi. Informan dalam penelitian meliputi bagian Penyiar Radio pada Program Sendu, Wakil Direktur, dan Program Manager. Hasil perolehan data dianalisis melalui tahapan reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan.

Hasil penelitian menerangkan gaya komunikasi yang digunakan oleh penyiar Radio Songgolangit pada program acara Sendu (Senandung Rindu) meliputi tiga gaya komunikasi, yaitu the controlling style, the equalitarian style, dan the relinquishing style. Hambatan yang dihadapi oleh penyiar Radio Songgolangit FM berupa teknis dan non teknis. Hambatan teknis meliputi hambatan semantik, mekanis, ekologis, dan prasangka, serta hambatan non teknis meliputi rasa kantuk penyiar. Dengan demikian hambatan teknis lebih besar daripada hambatan non teknis yang mana hambatan-hambatan ini berdampak pada proses siaran dan kenyamanan pendengar.

(3)

iii

(4)

iv

(5)

v

(6)

vi

(7)

vii

(8)

1 BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Di era yang semakin maju ini, komunikasi menjadi sesuatu yang sangat penting dalam perjalanan peradaban manusia, baik itu secara internal maupun secara eksternal, bayangkan saja tanpa adanya komunikasi, tentu saja manusia tidak akan pernah menemukan tujuan yang akan dicapai. Seiring dengan berkembangnya zaman, komunikasi pun tidak hanya sekedar menyampaikan pesan dari lisan ke lisan, sekarang komunikasi lebih pesat berkembang menjadi beberapa bagian diantaranya komunikasi massa.

Komunikasi massa adalah proses komunikasi yang dilakukan melalui media dengan berbagai tujuan komunikasi dan untuk menyampaikan informasi kepada khalayak luas.1 Perkembangan teknologi yang pesat menjadi dampak perkembangan media komunikasi massa. Dengan teknologi yang semakin berkembang, maka semakin pesat juga kemajuan media massa, hal itulah yang menjadi akibat dari hubungan timbal balik yang rumit. Perkembangan dan kemajuan media massa dari tahun ke tahun semakin meningkat seiring dengan kemajuan teknologi komunikasi.2

Komunikasi menurut Louis Forsdale adalah proses memberikan signal menurut aturan tertentu sehingga suatu sistem dapat didirikan, dipelihara dan

1 Josept A. Devinto, Komunikasi Antar Manusia Alih Bahasa Agus Maulaa MSM (Bandung: Mandar Maju,1990), 22-25.

2 Muhammad Faisal Bahri, “Gaya Komunikasi Penyiar di Motion Radio 97,5 FM (Studi Komperatif Program Motion Breakfast Dengan 3 Hourse Commercial Free),” (Skripsi, UIN Syarif Hidayatullah, 2020), 23-24.

(9)

diubah. Dari pengertian ini, komunikasi juga dipandang sebagai proses.

Komunikasi adalah hubungan kontak langsung maupun tidak langsung antar manusia, baik individu maupun kelompok. Dalam kehidupan sehari-hari disadari atau tidak, komunikasi adalah bagian dari kehidupan itu sendiri, karena manusia melakukan komunikas dalam pergaulan dan kehidupannya.3

Komunikasi bisa dilakukan dengan berbagai cara ataupun lewat berbagai media. Berdasarkan cara penyampaiannya komunikasi dibagi menjadi dua yaitu komunikasi verbal (lisan) komunikasi yang dilakukan secara langsung tanpa adanya jarak seperti meeting, wawancara, atau dua orang yang saling berbincang. Yang kedua adalah komunikasi tertulis yaitu bentuk komunikasi yang dilakukan melalui aplikasi atau media teknologi seperti email, whatssapp, dan aplikasi pengirim pesan lainya. Komunikasi juga bisa disebarkan secara luas melalui media massa seperti koran, televisi maupun radio.4

Gaya komunikasi merupakan seperangkat perilaku antarpribadi yang terspesialisasi digunakan dalam suatu situasi tertentu. Gaya komunikasi merupakan cara penyampaian dan gaya bahasa yang baik. Gaya yang dimaksud sendiri dapat bertipe verbal yang berupa kata-kata atau nonverbal berupa vokalik, bahasa badan, penggunaan waktu, dan penggunaan jarak.5 Gaya komunikasi terdiri dari seprangkat perilaku komunikasi yang dipakai untuk mendapatkan respon atau tanggapan tertentu dalam situasi yang

3 Widjaya, Ilmu Komunikasi Pengantar Studi (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2000), 26.

4 Bahri, Gaya Komunikasi Penyiar di Motion Radio 97,5 FM (Studi Komperatif Program Motion Breakfast dengan 3 Hourse Commercial Free), 25.

5 Widjaja, Ilmu Komunikasi Pengantar Studi, 57.

(10)

tertentu pula. Kesesuaian dari satu gaya komunikasi yang digunakan, bergantung pada maksud dari pengirim (sender) dan harapan dari penerima (receiver).6 Jadi, dapat disimpulkan gaya komunikasi adalah ciri khas seseorang dalam menyampaikan informasi baik verbal maupun nonverbal.

Di era digital radio seolah tenggelam, banyak gempuran-gempuran konten-konten di media sosial. Semakin menjamurnya podcast dan live streaming di Youtube dan banyak media onlie lainnya yang mengalahkan eksistensi radio berita. Hal ini menjadi tantangan tersendiri saat era digital seperti sekarang ini, bahwa peran radio dalam memberikan informasi mulai tergeser oleh adanya internet, media sosial, dan lainnya yang sudah menjadi sumber informasi yang lebih digemari oleh masyarakat era industri 4.0.Hal tersebut tentunya menjadi ancaman bagi keberadaan radio yang kebnaykan masih mengudara dengan kemampuan manual, mengandalkan signal frekuensi.

Radio tidak mengurangi fungsi dan perannya dalam memberikan informasi kepada khalayak. Di tengah menjamurnya media online dan televisi, radio masih saja terus eksis. Namun, memang kita sadari bahwa di era digital saat ini radio kehilangan sedikit tren, karena orang lebih memilih media online dan televisi sebagai sarana untuk memperoleh informasi. Di sisi lain, radio masih menjadi media yang popular bagi sebagian masyarakat yang tinggal di perkampungan dan daerah perbatasan yang notabe mereka belum memiliki sarana teknologi yang memadai, sehingga mereka hanya bisa

6 Dasrun, Hidayat, Komunikasi Antarpribadi dan Medianya: Fakta Penelitian Fenomenologi Orang Tua Karier dan Anak Remaja (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2012), 7.

(11)

mendengar radio, entah sebagai sarana hiburan ataupun informasi. Walaupun tantangannya berat bagi radio untuk bertahan, tetapi ada celah untuk bertahan dan berinovasi. Celah-celah ini harus dimanfaatkan oleh pengelola radio untuk terus bisa bertahan dengan cara berfikir kreatif dan inovatif untuk mempertahankan eksistensi radio.7

Media massa secara sederhana terdiri dari media cetak (surat kabar, majalah, buku dan lain-lain), media elektronik (televisi dan radio) dan media online. Media-media tesebut telah menjadi sumber utama bagi masyarakat untuk berbagi informasi. Media pada dasarnya adalah segala sesuatu yang merupakan saluran dimana seseorang dapat menyatakan gagasan, isi jiwa atau kesadarannya atau dengan kata lain media adalah alat untuk menyampaikan gagasan.8 Dalam hal ini radio sebagai saluran komunikasi yang merupakan salah satu contoh dari media massa yang menjangkau publik berjumlah besar.

Radio telah menjawab kebutuhan sebagai media komunikasi yang dapat menjangkau berbagai kalangan dan wilayah Indonesia.9

Radio merupakan media yang memiliki sifat auditif, yang berarti hanya untuk didengarkan. Berbeda dengan televisi yang bersifat audiovisual, yakni dapat dilihat dan didengarkan. Radio sebagai salah satu media komunikasi massa mempunyai peran penting sebagai media bagi masyarakat yang membutuhkan berita ataupun informasi. Selain itu radio juga menyajikan hiburan melalui program musik. Dalam hal ini pendengar bisa

7 Galio Kalalo, “Eksistensi Radio Trivana FM dalam Memberikan Informasi Pada Masyarakat Langowan Kabupaten Minahasa,” (Oktober, 2021), 2-3.

8 Anwar Arifin. Opini Publik (Jakarta: Gramata Publising, 2010), 116.

9 Triartanto, Broadcasting Radio: Panduan Teori dan Praktek (Jakarta: Pustaka Book Publisher, 2010), 27.

(12)

mendapatkan hiburan dari musik yang diputarkan sekaligus dapat berinteraksi secara langsung dengan penyiar radio yang didengarkan.10

Pendengar merupakan orang-orang yang sangat loyal dan sangat bersahabat di banyak kasus, pendengar mempunyai rasa kekeluargaan yang kuat pada stasiun radio yang di dengarkan. Tetapi jika sebuah stasiun radio tidak membuat puas pendengar, maka para pendengar akan mematikan gelombang radio tersebut. Pendengar pun segera pindah gelombang ke stasiun radio lain.11

Program acara adalah segala hal yang ditampilkan stasiun penyiaran untuk memenuhi kebutuhan audienya. Program atau acara yang disajikan adalah faktor yang membuat audien tertarik untuk mengikuti siaran yang dipancarkan stasiun penyiaran radio.12 Program di Radio Songgolangit tentunya dapat menjadi perhatian dan perhitungan bagi masyarakat, karena dalam penyampaian informasi maupun berita Radio Songgolangit mempunyai cara yang unik atau mempunyai cara berbeda dengan program lainnya. Salah satu program acara yang ada di Radio Songgolangit FM yaitu program acara Sendu yang merupakan program yang menyajikan lagu-lagu lama era 70, 80, dan 90-an yang dapat membawa kesan nostalgia bagi para pendengar. Di samping itu program ini juga menyajikan informasi-informasi seputar peristiwa penting di wilayah tertentu yang dikemas secara ringan dan menarik.

10 Onong Uchjana Effendy, Dinamika Komunikasi (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2004), 107.

11 Harley Prayudha, Radio: Suatu Pengantar Untuk Wacana dan Praktik Penyiaran (Malang: Bayumedia Publishing, 2005), 119.

12 Ibid.,27

(13)

Penyiar adalah seorang komunikator yang memiliki tugas untuk menyampaikan pesan kepada komunikannya atau pendengar. Selain berbicara, penyiar harus memiliki jiwa mengakrabkan diri dengan pendengarnya sehingga timbul kedekatan antara penyiar dan pendengar.

Meskipun pendengar lebih senang mendengarkan lagu yang diputarkan, namun jika penyiarnya menarik maka pendengar akan lebih tertarik lagi untuk mendengarkan acara pada radio tersebut. Ada tiga hal penting yang harus dimiliki penyiar, yaitu ketrampilan menuturkan segala sesuatu menyangkut musik, kata, atau lirik lagu yang disajikan, ketrampilan mengoprasikan segala peralatan siaran, dan ketrampilan merangkai musik dalam tatanan yang menyentuh emosi pendengar. Dari ketiganya tersebut butuh latihan terus menerus untuk mencapai hasil yang maksimal.13

Radio Songgolangit FM merupakan salah satu radio swasta di Kabupaten Ponorogo yang telah berdiri sejak 2006. Radio Songgolangit saat ini berada di Jalan Halim Perdana Kusuma Nomor 12 Ponorogo. Radio ini sangat memperhatikan tentang peristiwa maupun kejadian di wilayah Ponorogo dan sekitarnya. Terbukti eksistensi radio kini masih bersinar di hati masyarakat walaupun banyak radio-radio yang juga memberikan informasi tentang peristiwa maupun kejadian dalam wilayah sekitar Ponorogo. Disaat banyaknya pesaing radio yang ada di Ponorogo, maka perlu adanya inovasi- inovasi dalam menjalankan suatu program yang telah ada.

13 Masduki, Menjadi Broadcaster Profesional (Yogyakarta: Pustaka Populer, 2005), 119.

(14)

Program Sendu (Senandung Rindu) merupakan program hiburan di Radio Songgolangit FM yang dapat menjadikan perhatian bagi masyarakat.

Karena dalam acara tersebut penyiar Radio Songgolangit mempunyai cara yang unik dan mempunyai cara penyampaian yang berbeda dengan program yang ada lainnya. Dalam program Sendu (Senandung Rindu) penyiar saat membawakan program acara tersebut lebih santai, gembira dan disisipi juga dengan lelucon ringan. Pada program ini pendengar juga bisa menyampaikan salam-salam kepada teman, saudara, sahabat, dan lainnya. Selain itu juga bisa request lagu nostalgia dengan mengirimkan pesan lewat whatsapp atau menuliskan di kolom komentar saat live streaming di Facebook.

Keberhasilan suatu radio adalah dilihat dari para penyiar, penyiar akan selalu berusaha dengan segala kekreatifannya untuk menghidupkan radio diantara pendengarnya. Sosok penyiar akan menjadi patokan rating sebuah stasiun radio dan akan menjadi brand image, kemampuan untuk menciptakan keberhasilan atau kegagalannya dapat mempengaruhi citra khalayak terhadap stasiun radio dimana seorang penyiar bertugas. Penyiar harus mampu menyampaikan suatu pesan informasi hanya bermodalkan audio saja sedangkan pesan yang disampaikan harus diterima baik oleh pendengar.

Gaya komunikasi merupakan ciri khas yang dimiliki oleh seseorang, setiap orang memiliki gaya komunikasi yang berbeda-beda, baik gaya bahasa, gaya nada bicara, maupun mimik muka, begitupula gaya komunikasi seorang penyiar radio. Gaya penyiar radio harus mampu menghidupkan pembicaraan dengan para pendengar, selain itu seorang penyiar harus mampu menguasi

(15)

program acaranya karena hal tersebut dapat menarik dan mempengaruhi para pendengar sehingga pesan dapat tersampaikan dengan baik pada pendengar dan komunikasi berjalan dengan lancar.

Namun, saat ini ternyata terjadi sebuah fenomena atau kasus yaitu banyaknya persaingan stasiun radio yang ada di Ponorogo menyebabkan Radio Songgolangit harus memiliki sebuah inovasi agar mampu bersaing dengan stasiun lainnya. Beberapa stasiun radio di Ponorogo diantaranya radio Duta Nusantara, Radio Yasmaga FM, Radio Al-Manar, Radio Gema Surya, Radio Sakuntala, Radio Madu, Radio Yasmaga, Radio Aris FM, Radio Al- Mawaddah, Radio Aswaja, Radio Suara Bumimas, Radio Purbaya, Radio Matrix, dan Radio Bagaskara Mandala.14

Dengan banyaknya persaingan di stasiun radio ini, Radio Songgolangit harus mampu terus mempunyai pendengar. Dalam upaya untuk mempertahankan eksistensi, radio harus melakukan inovasi baru dengan cara mengikuti trend dan mengetahui apa saja yang disukai oleh masyarakat atau pendengar. Penyiar juga harus memiliki kemampuan yang baik sehingga pendengar akan terus tertarik untuk mendengarkan Radio Songgolangit FM.

Selain itu, penentu segmentasi, format radio, dan gaya siaran merupakan hal yang penting untuk mendukung keberadaan dan kemajuan radio agar tetap terus bertahan di antara banyaknya stasiun radio yang ada.15

14 Wikipedia: “https://id.m.wikipedia.org/wiki/Daftar_stasiun_radio_di_Jawa_Timur”

(Diakses pada 24 November 2022, pukul 18.20).

15 Ryan Hardeanto, Gaya Komunikasi Penyiar Acara Musik Di Radio Ramaloka FM (Serang: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, 2017), 8.

(16)

Peneliti merasa tertarik untuk melakukan penelitian ini karena Radio Songgolangit FM masih terus bertahan hingga saat ini ditengah semakin banyaknya pilihan radio di masyarakat. Adanya kondisi tersebut membuat persaingan untuk mendapatkan pendengar semakin ketat, namun Radio Songgolangit tetap konsisten dengan target pendengar. Hal ini tidak terlepas dari gaya siaran penyiar di Radio Songgolangit dalam membawakan suatu program acara, khususnya penyiar pada program Senandung Rindu. Dari hal tersebut membuat peneliti tertarik dan memutuskan untuk meneliti lebih lanjut mengenai salah satu program acara di Radio Songgolangit FM Ponorogo tentang siaran program “Senandung Rindu”, yang menghadirkan hiburan serta mengemas informasi ringan secara menarik. Oleh sebab itu peneliti ingin meneliti mengenai “Gaya Komunikasi Penyiar Radio Songgolangit FM untuk Menarik Minat Pendengar Live Streaming Pada Program Sendu (Senandung Rindu)”.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang sudah dijelaskan diatas, peneliti mencoba merumuskan permasalahan-permasalahan yang digunkana sebagai pijakan penyusunan skripsi ini. Adapun rumusan masalah tersebut adalah sebagai berikut :

1. Bagaimana gaya komunikasi penyiar pada Program Sendu (Senandung Rindu) untuk menarik minat pendengar secara live streaming di Radio Songgolangit FM ?

(17)

2. Bagaimana hambatan komunikasi penyiar pada Program Sendu (Senandung Rindu) untuk menarik minat pendengar secara live streaming di Radio Songgolangit FM ?

C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah yang sudah disebutkan diatas, maka penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sebagai berikut :

1. Untuk mengetahui jenis gaya komunikasi penyiar pada Program Sendu (Senandung Rindu) untuk menarik minat pendengar secara live streaming di Radio Songgolangit FM.

2. Untuk mengetahui hambatan komunikasi penyiar pada Program Sendu (Senandung Rindu) untuk menarik minat pendengar secara live streaming di Radio Songgolangit FM.

D. Manfaat Penelitian

Penelitian ini dibuat dengan harapan agar dapat memberikan sumbangsih bagi pengembangan suatu ilmu. Manfaat penelitian dari adanya penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Manfaat Teoritis

Manfaat teoritis dalam penelitian ini yaitu :

a. Menambah variasi bahan kajian tentang bagaimana analisis komunikasi penyiar digunakan dalam penelitian.

(18)

b. Memberikan sumbangish dalam memperkaya ilmu pengetahuan mengenai komunikasi penyiar.

c. Memberikan kontribusi bagi peneliti lain yang nantinya akan meneliti objek serupa.

2. Manfaat Praktis

Manfaat praktis dalam penelitian ini yaitu :

a. Menjadi acuan orang lain mengenai bagaimana komunikasi penyiar yang nantinya dapat mengetahui prosesnya untuk mencapai tujuan yang diharapakan.

b. Menambah wawasan tentang bagaimana komunikasi yang dilakukan penyiar sehingga mampu menarik minat pendengar dalam suatu program radio yang ada.

E. Telaah Pustaka

Berdasarkan penelusuran dan pengamatan peneliti terhadap bebrapa penelitian yang dilakukan sebelumnya, maka peneliti menjadikannya sebagai acuan dan bahan pembelajaran, diantaranya adalah sebagai berikut:

1. Gaya Komunikasi Penyiar di Motion Radio 97,5 FM (Studi Komperatif Program Motion Breakfast Dengan 3 Hourse Commercial Free) Skripsi Muhammad Faisal Bahri mahasiswa Progam Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Tujuan penelitan ini adalah mengetahui bagaimana gaya komunikasi penyiar pada program

(19)

Motion Breakfast dan 3 Hourse Commercial Free serta bagaimana cara penyiar menyusun pesan dalam siaran pada program Motion Breakfast dan 3 Hourse Commercial Free. Hasil perbandingan antara kedua gaya komunikasi penyiar program acara Motion Breakfast dan 3 Hours Commercial Free, yaitu adanya sejumlah perbedaan dan persamaan yang menjadikan kedua program acara tersebut memiliki ciri tersendiri.

Program acara Motion Breakfast dengan menggunakan gaya komunikasi equalitarian style, controlling style, logika retorika, logika ekspresif, serta logika konversional. Sedangkan program 3 Hours Commercial Free menggunakan gaya komunikasi controling style dan logika ekspresif dalam melakukan siarannya.16

Persamaan penelitian yang dilakukan peneliti adalah terletak pada keinginan untuk mengetahui komunikasi yang dilakukan penyiar.

Perbedaanya terletak pada studi pendekatan, jika Muhammad Faisah menggunakan Studi Komperatif atau membandingkan Program satu dengan Program lainnya, sedangkan peneliti menggunakan Pendekatan Kualitatif Deskriptif.

2. “Gaya Komunikasi Penyiar Acara Musik Ngopi Asyik Di Radio Toss FM” Skripsi Rahma Yanti mahasiswa Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri ArRaniry Banda Aceh. Tujuan penelitian ini adalah untuk

16 Muhammad Faisal Bahri, “Gaya Komunikasi Penyiar di Motion Radio 97,5 FM (Studi Komperatif Program Motion Breakfast Dengan 3 Hourse Commercial Free),” (Skripsi, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2020), i-ii.

(20)

mengetahui gaya komunikasi penyiar acara musik di Toss FM dan untuk mengetahui pemilihan kata penyiar Toss FM. Hasil penelitian ini yaitu gaya komunikasi di Radio Toss FM mayoritas menyesuaikan dengan pendengar yang dihadapinya. Selain itu, Radio Toss juga mengutamakan interaksi langsung kepada penyiar dengan cara membawakan sesi telepon, sehingga meimbulkan kedekatan dan keakraban penyiar dengan pendengar secara nyaman. Meskipun hal ini lebih efektif pada program dangdut. Pembawaan penyiar dalam bersiaran cukup bagus dan profesional, dengan teknik santai dan menghibur yang sangat bagus sehingga pendengar dapat dipersuasif. Serta dengan gaya penyiar memiliki suara khas dan berbeda. Ini yang membuat pendengar tertarik kepada penyiar.17

Persamaan penelitian yang dilakukan peneliti terletak pada tujuan yang ingin dicapai peneliti. Perbedaan terletak pada lokasi yang penelitiannya, jika Rahma Yanti di Radio Toss FM, sedangkan peneliti di Radio Songgolangit FM.

3. “Gaya Komunikasi Penyiar Acara Musik Di Radio Ramaloka FM”

Skripsi Ryan Hardeanto mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sultan Ageng Tirtayasa. Tujuan penelitian ini adalah Untuk mengetahui gaya komunikasi penyiar acara musik di radio Ramaloka FM. Untuk

17 Rahma Yanti, "Gaya Komunikasi Penyiar Acara Musik Ngopi Asyik Di Radio Toss FM," (Skripsi, UIN Ar-Raniry, 2020), viii.

(21)

mengetahui cara penyiar merancang pesan siaran di radio Ramaloka FM. Untuk mengetahui karakteristik penyiar dalam menyampaikan pesan siaran di radio Ramaloka FM. Hasil penelitian tersebut adalah Gaya Komunikasi di radio Ramaloka FM mayoritas menyesuaikan dengan pendengar yang dihadapinya. Selain itu, radio Ramaloka FM juga lebih mengutamakan pada interaksi antara penyiar dengan pendengar, sehingga pada radio ini lebih mengutamakan pada pendengar aktif. Meskipun hal ini lebih efektif pada program acara dangdut. Pembawaan penyiar pada saat membawakan suatu acara dilakukan dengan santai dan menghibur. Serta gaya percakapan setiap penyiar yang memiliki karakter berbeda. Untuk lebih mengakrabkan dengan pendengar, seringkali diadakan program off air yang melibatkan penyiar dan pendengar.18

Persamaan penelitian pada peneliti ini terletak pada tujuan untuk mengetahui karakteristik penyiar dalam menyampaikan pesan.

Perbedaan terletak pada lokasi penelitian, jika Ryan penelitian di Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, jika peneliti di IAIN Ponorogo.

4. “Gaya Komunikasi Penyiar Radio As Syafa’iyah Pada Program Pesona Irama Melayu” Skripsi Viana Fatma Anasari mahasiswa Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gaya komunikasi yang diimplementasikan

18 Ryan Hardeanto, “Gaya Komunikasi Penyiar Acara Musik Di Radio Ramaloka FM,”

(Skripsi, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, 2017), v.

(22)

penyiar Radio As Syafi’iyah pada program Pesona Irama Melayu dan untuk mengetahui cara penyiar menyusun pesan. Hasil penelitian ini adalah penelitian ini menemukan bahwa penyiar program Pesona Irama Melayu menggunakan gaya komunikasi equalitarian style, controlling style, logika ekspresif, logika konvensional, serta logika retorika.19 Persamaan penelitian yang dilakukan peneliti terletak pada tujuan untuk mengetahui gaya komunikasi penyiar dalam suatu program radio.

Perbedaan jika Viana Fatma melakukan penelitian di Jakarta, sedangkan peneliti melakukan penelitian di Ponorogo.

5. “Strategi Komunikasi Radio Songgolangit FM Ponorogo (Telaah Program Berita Songgolangit Hari Ini)” Skripsi Irvan Azizi mahasiswa Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Dakwah IAIN Ponorogo. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui format siar dan strategi komunikasi dalam program berita songgolangit hari ini Radio Songgolangit FM. Hasil penelitian ini adalah format siaran program berita Songgolangit Hari Ini termasuk kedalam jenis format siaran All News/All Talk yang merupakan format program yang berisi paket berita dan informasi penting didalamnya.

Selanjutnya strategi komunikasi Radio Songgolangit dalam menyampaikan berita SHI meliputi beberapa tahapan yaitu: menetapkan khalayak, penyususnan pesan, metepakan metode, penetapan media, dan

19 Viana Fatma Anasari, “Gaya Komunikasi Penyiar Radio As Syafa’iyah Pada Program Pesona Irama Melayu,” (Skripsi, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2022), iv.

(23)

peranan komunikator yang mana penyiar harus mahir dalam berkomunikasi, mempunyai banyak ide kreatif serta kredibel.20

Persamaan penelitian yang dilakukan peneliti terletak pada lokasi penelitian yaitu di Radio Songgolangit FM. Perbedaan jika penelitian tersebut meneliti tentang strategi komunikasi, sedangkan peneliti meneliti tentang gaya komunikasi penyiar.

6. “Strategi Komunikasi Pemasaran Terpadu dalam Mempertahankan Eksistensi Media Melalui Periklanan di Radio Songgolangit FM Ponorogo” Skripsi Yuvelia Cahya Indrawan mahasiswa Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Dakwah IAIN Ponorogo. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana strategi komunikasi pemasaran terpadu yang dilakukan Radio Songgolangit FM. Hasil penelitian ini menjelaskan strategi komunikasi pemasaran terpadu yang dilakukan Radio Songgolangit FM meliputi tahap perencanaan, implementasi, dan evaluasi.21

Persamaan penelitian yang dilakukan peneliti terletak pada tempat penelitian di Radio Songgolangit FM. Perbedaan jika penelitian tersebut meneliti strategi komunikasi pemasaran, sedangkan peneliti meneliti gaya komuniksi penyiar pada Program Senandung Rindu.

7. “Implementasi Strategi Humas Radio Songgolangit FM Ponorogo pada Program Graha Warta” Skripsi Bagus Dwi Putra mahasiswa Program

20 Irvan Azizi, “Strategi Komunikasi Radio Songgolangit FM Ponorogo (Telaah Program Berita Songgolangit Hari Ini),” (Skripsi, IAIN Ponorogo, 2020), i.

21 Yuvelia Cahya Indrawan, “Strategi Komunikasi Pemasaran Terpadu dalam Mempertahankan Eksistensi Media Melalui Periklanan di Radio Songgolangit FM Ponorogo,”

(Skripsi, IAIN Ponorogo, 2022), ii.

(24)

Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Ponorogo. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana implementai strategi humas dalam Program Graha Warta di Radio Songgolangit FM Ponoorgo. Hasil dari penelitian ini adalah implementasi strategi humas pada Program Graha Warta meliputi lima segi, yaitu ekonomi, sosial, teknologi, budaya, dan global.22

Persamaan penelitian ini terletak pada lokasi penelitian sama-sama di Radio Songgolangit FM. Perbedaan jika penelitian tersebut diteliti oleh mahasiswa Universitas Muhammadiyah Ponorogo, sedangkan penelitian ini mahasiswa IAIN Ponorogo.

F. Metode Penelitian

1. Pendekatan dan Jenis Penelitian

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, dengan metode deskriptif. Penelitian ini merupakan tipe penelitian yang menggambarkan atau menjabarkan mengenai suatu objek penelitian berdasarkan karakteristik yang dimiliki. Penelitian deskriptif kualitatif mempunyai tujuan untuk menjabarkan fenomena sedalam-dalamnya melalui pengumpulan data.23

22 Bagus Dwi Putra, “Implemetasi Strategi Humas Radio Songgolangit FM Ponorogo pada Program Graha Warta,” (Skripsi, Universitas Muhammadiyah Ponorogo, 2021), xi.

23 Rahmat Kriyanto, “Pengantar” dalam Burhan Bungin, Teknik Praktis Riset Komunikasi, (Edisi Pertama Cet. V;Jakarta: Kencan, 2009), 59.

(25)

Penelitian deskriptif kualitatif berusaha menuturkan pemecahan masalah mengenai komunikasi penyiar yang berdasarkan data-data dan hasil observasi, maka peneliti juga menyajikan data dan menganalisis data dengan peneliti bertindak sebagai pengamat.

2. Subjek dan Objek Penelitian

Dalam penelitian ini yang menjadi subjek penelitian yaitu dua penyiar radio dalam Program Senandung Rindu dari Radio Songgolangit FM sebagai sumber utama penelitian yaitu Heru Sukoco dan Zaki Saputra, sedangkan objek penelitian ini yaitu gaya komunikasi penyiar mengenai cara untuk menarik minat pendengar dalam Program Sendu (Senandung Rindu).

3. Jenis Data dan Sumber Data a. Jenis Data

Pada penelitian ini, peneliti menggunakan jenis data kualitatif.

Dimana data-data yang ada berupa kata, kalimat, paragraph yang memiliki makna dan juga berkaitan dengan penelitian.24 Data yang disajikan dalam bentuk kata verbal bukan dalam bentuk angka.25

1) Jenis Data Primer

Data primer berupa rekaman siaran pada Program Sendu (Senandung Rindu) sekitar dua minggu pada bulan November

24 Salmaa Awwaabiin, Data Penelitian: Pengertian, Klasifikasi, dan Contoh Lengkapnya, Data Penelitian: Pengertian, Klasifikasi, dan Contoh Lengkapnya (penerbitdeepublish.com), (Diakses pada 02 November 2022, pukul 05.21).

25 Noeng Muhadjir, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Yogyakarta: Rekesarasin, 1996), 2.

(26)

2022, selain itu berupa hasil wawancara dengan penyiar Program Sendu,Wakil Direktur, dan Program Manager.

2) Jenis Data Sekunder

Data sekunder peneliti dapat berupa sejarah, visi misi, profil Radio Songgolangit FM, dan foto dokumentasi pada program Senandung Rindu Radio Songgolangit FM.

b. Sumber Data

1) Sumber Data Primer

Data primer merupakan data yang diambil langsung dari sumber asli berupa opini subjek terkait atau seseorang secara individu maupun kelompok dengan tidak melalui bantuan media.26 Dalam penelitian ini peneliti memperoleh sumber data primer dari wawancara secara langsung kepada, penyiar Program Sendu (Senandung Rindu), Wakil Direktur dan Program Manager di Radio Songgolangit FM.

2) Sumber Data Sekunder

Data sekunder merupakan data yang diperoleh dari dokumen dan juga kepustakaan. Peneliti memilih referensi dari beberapa buku, website, e-journal yang digunakan sebagai penguat data.

Melalui penelitian kepustakaan ini dilakukan dengan mengumpulkan berbagai tulisan dan bacaan yang relevan yang

26 Burhan Bungin, Penelitian Kualitatif (Jakarta: PT Media Group, 2007), 6.

(27)

bisa mendukung penelitian ini. Sumber data sekunder merupakan suatau data yang diperoleh secara tidak langsung.27

4. Teknik Pengumpulan Data

Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan teknik pengumpulan data sebagai berikut :

a. Observasi

Metode observasi merupakan langkah dalam mengumpulkan informasi dengan pengamatan terhadap orang atau lokasi tempat riset, observasi dilakukan dengan cara mengumpulkan data-data langsung dari objek penelitian.28 Dalam observasi juga membutuhkan instrumen pendukung sebagai pengumpulan data dengan melakukan pengamatan atau mengindrakan secara langsung terhadap suatu benda, kondisi, situasi, proses, dan perilaku.29 Observasi yang dilakukan peneliti dari tanggal 11 November sampai dengan 30 November 2022 dengan mendengarkan siaran Program Sendu dan melihat situasi dan kondisi di Radio Songgolangit FM melalui live streaming.

b. Wawancara

Metode wawancara adalah cara pengumpulan dengan memberikan pertanyaan langsung kepada informan yang berkaitan dengan masalah yang ada yang berkaitan dengan informasi yang

27 Sangadji, E M., Sopiah, Metodologi Penelitian Pendekatan Praktis dalam Penelitian, (Yogyakarta: Andi, 2010), 172.

28 Ahsannudin Mudi, Profesional Sosiologi (Jakarta: Mediatama, 2004), 44.

29 Sunapiah Faisal, Format-format Penelitian Sosial (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2003), 52.

(28)

dibutuhkan. Metode yang dilakukan peneliti yaitu dengan bertanya langsung kepada Heru Sukoco dan Zaki Saputra sebagai penyiar pada Program Sendu, Setyo Budiono sebagai Wakil Direktur, dan Anita Rahma sebagai Program Manager di Radio Songgolangit FM.

c. Dokumentasi

Dokumentasi merupakan alat pengumpulan data yang sering digunakan daam berbagai metode pengumpulan data. Pada penelitian ini dokumentasi yang digunakan dengan pengumpulan dokumen berupa foto maupun catatan dari Radio Songgolangit FM.

5. Teknik Analisis Data

Dalam penelitian ini setelah memperoleh dan mengumpulkan data peneliti selanjutnya melakukan pengolahan data. Data yang terkumpul diolah dan dianalisis dengan metode kualitatif Miles dan Huberman yaitu:

a. Reduksi data merupakan bagian dari kegiatan yang dianalisis untuk memperkuat, memfokuskan, dan menghilangkan yang yang dianggap tidak penting dan mengolahnya sehingga nantinya dapat menjadi kesimpulan.

b. Penyajian data merupakan serangkaian informasi yang terdapat peluang untuk menarik kesimpulan, sehingga dapat mengerti dan memahami dengan apa yang sedang terjadi.

(29)

c. Penarikan kesimpulan merupakan suatu kesimpulan yang dibuktikan dengan mengamati dan memastikan kembali dengan dokumen lapangan sehingga menghasilkan pemahaman yang lebih cepat.30 6. Uji Keabsahan Data

Uji keabsahan data pada penelitian ini dilakukan dengan Triagulasi Sumber, yaitu keabsahan data diuji dengan cara mengecek data yang telah diperoleh melalui beberapa sumber.

G. Sistematika Pembahasan

Pada penelitian ini, peneliti membagi sistematika pembahsan menjadi lima bab. Semua bab tersebut saling berhubungan dan mendukung antara satu dengan yang lainnya. Gambaran atas masing-masing bab tersebut sebagi berikut :

BAB I Merupakan pendahuluan. Pada bab ini memaparkan mengenai latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, dan telaah pustaka.

BAB II Merupakan landasan teori tentang komunikasi meliputi gaya komunikasi, hambatan komunikasi, kajian tentang radio, pengertian penyiar, pengertian pendengar, dan program siaran.

BAB III Berisi gambaran Radio Songgolangit FM, meliputi profil, sejarah berdirinya, visi misi, struktur organisasi, dan program acara yang ada di Radio Songgolangit FM.

30 Sugeng Puji Laksono, Metode Penelitian Komunikasi Kualitatif (Malang: Kelompok Intrans Publishing, 2016), 152

(30)

BAB IV Merupakan temuan dan hasil penelitian yang berisi poin-poin penting dari data mengenai komunikasi penyiar untuk menarik pendengar pada program Sendu di Radio Songgolangit.

BAB V Berisi penutup yang meliputi kesimpulan dan saran dari penelitian yang dilakukan oleh peneliti.

(31)

24 BAB II

LANDASAN TEORI

A. Gaya Komunikasi

1. Pengertian Gaya Komunikasi

Gaya adalah segala hal yang terkait dengan bagaimana cara menyampaikan atau presentasi simbol, mulai dari pemilihan sistem simbol hingga makna yang kita berikan terhadap simbol termasuk perilaku simbolis mulai dari kata dan tindakan, pakaian yang dikenakan hingga perabotan yang digunakan. Penyampaian merupakan perwujudan simbol ke dalam bentuk fisik yang mencangkup berbagai pilihan mulai dari nonverbal, bicara, tulisan hingga pesan yang diperantarai (mediated message).31

Komunikasi menurut Louis Forsdale adalah proses memberikan signal menurut aturan tertentu sehingga suatu sistem dapat didirikan, dipelihara dan diubah. Dari pengertian ini, komunikasi juga dipandang sebagai proses, proses komunikasi dapat diartikan sebagai transfer informasi atau pesan (message) dari pengirim pesan sebagai komunikator dan kepada penerima sebagai komunikan. Komunikasi adalah hubungan kontak langsung maupun tidak langsung antar manusia, baik individu maupun kelompok. Dalam kehidupan sehari-hari disadari atau tidak, komunikasi adalah bagian dari kehidupan itu sendiri, karena manusia melakukan

31 Morissan, Teori Komunikasi Individu Hingga Massa (Jakarta: Kencana, 2013), 63.

(32)

komunikas dalam pergaulan dan kehidupannya.32 Dalam proses komunikasi tersebut bertujuan untuk mencapai saling pengertian (mutual understanding) antara kedua pihak yang terlibat dalam proses komunikasi.33

Gaya komunikasi diartikan sebagai seperangkat perilaku antarpribadi yang dikhususkan dalam suatu situasi terentu. Gaya komunikasi merupakan cara penyampaian dan gaya bahasa yang baik. Gaya tersebut dapat berupa kata-kata verbal atau nonverbal berupa vokalik, bahasa badan, penggunaan waktu, dan penggunaan jarak. Gaya komunikasi terdiri dari seprangkat perilaku komunikasi yang dipakai untuk mendapatkan respon atau tanggapan tertentu dalam situasi yang tertentu pula. Kesesuaian dari satu gaya komunikasi yang digunakan, bergantung pada maksud dari pengirim (sender) dan harapan dat penerima (receiver).34

Menurut Raynes gaya komunikasi diartikan sebagai campuran unsur- unsur komunikasi lisan dan ilustraktif. Pesan-pesan verbal individu yang digunakan untuk berkomunikasi diungkapkan dalam kata-kata tertentu yang mencirirkan gaya komunikasi. Ini termaksud nada, volume atas semua pesan yang diucapkan.

Gaya komunikasi dipengaruhi situasi, bukan kepada tipe seseorang, gaya komunikasi bukan tergantung pada tipe seseorang melainkan

32 Widjaya, Ilmu Komunikasi Pengantar Studi (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2000), 26.

33 Tommy Suprapto, Pengantar Ilmu Komunikasi dan Peran Manajemen dalam Komunikasi (Yogyakarta: Caps, 2011), 5.

34 Dasrun Hidayat, Komunikasi Antarpribadi dan Medianya: Fakta Penelitian Fenomenologi Orang Tua Karier dan Anak Remaja (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2012), 10.

(33)

kepada sitauasi yang dihadapi. Setiap orang akan menggunakan gaya komunikasi yang berbeda-beda ketika mereka sedang gembira, sedih, marah, tertari, atau bosan. Begitu juga dengan seseorang yang berbicara dengan sahabat baiknya, orang yang baru dikenal dan dengan anak-anak akan berbicara dengan gaya yang berbeda. Selain itu gaya yang digunakan dipengaruhi oleh banyak faktor, gaya komunikasi adalah sesuatu yang dinamis dan sangat sulit untuk ditebak. Sebagaimana budaya, gaya komunikasi adalah sesuatu yang relative.35

Para ahli komunikasi telah mengelompokkan beberapa tipe dan kategori gaya komunikasi ke dalam sepuluh jenis, sebagai berikut :

a. Gaya dominan (dominant style), gaya seseorang individu untuk mengontrol situasi sosial.

b. Gaya dramatis (dramatic style), gaya seseorang individu yang selalu

“hidup” ketika dia bercakap-cakap.

c. Gaya kontroversial (controversial style), gaya seseorang yang selalu berkomunikasi secara argument atau cepat untuk menantang orang lain.

d. Gaya animasi (animated style), gaya seseorang yang berkomunikasi secara aktif dengan memakai bahasa nonverbal.

e. Gaya berkesan (impression style), gaya berkomunikasi yang merangsang orang lain sehingga mudah diingat, gaya yang sangat mengesankan.

35 Hariyana, Komunikasi Dalam Organisasi (Jakarta: Universitas Indonesia, 2009), 14–

18.

(34)

f. Gaya santai (relaxed style), gaya seseorang yang berkomunikasi secara tenang dan senagn, penuh senyuman dan tawa.

g. Gaya atentif (attentive style), gaya seseorang yang berkomunikasi dengan memberkan perhatian penuh kepada orang lain, bersikap simpati dan empati, mendengarkan orang lain dengan sungguh- sungguh.

h. Gaya terbuka (open style), gaya seseorang yang berkomunikasi yang ditmapilkan seseorang secara terbuka yang ditunjukkan dalam tampilan jujur dan mungkin saja blakblakan.

i. Gaya bersahabat (friendly style), gaya komunikasi yang sitampilkan seseorang secara ramah, measa dekat, selalu memberikan respons positif, dan mendukung.

j. Gaya yang tepat (precise style), gaya yang tepat dimana komunikator meminta untuk membicarakan suatu konten yang tepat dan akurat dalam komunikasi lisan.36

Manusia untuk mengungkapkan pikiran dan perasaan yang memotivasi dan menyampaikan pesan agar cepat tersampaikan dapat dengan mengucapkan atau menulis kata-kata. Keterampilan berkomunikasi melalui “gaya komunikasi”, mengisyaratkan kesadaran diri pada level yang tinggi. Setiap orang mempunyai gaya komunikasi yang bersifat personal, itu gaya khas seseorang waktu berkomunikasi.

36 Alo Liliweri, Komunikasi: Serba Ada Serba Makna (Jakarta: Kencana, 2011), 309.

(35)

2. Jenis Gaya Komunikasi

Berikut ini gaya komunikasi yang akan dijadikan acuan dalam penelitian ini37:

a. The controlling style, yaitu gaya komunikasi bersifat mengendalikan, ditandai dengan adanya suatu maksud untuk membatasi, memaksa, dan mengatur perilaku, pikiran, dan tanggapan orang lain. Gaya komunikasi ini lebih memusatkan perhatian kepada pengirim pesan dibandingkan upaya untuk berharap pesan. Mereka tidak mempunyai rasa ketertarikan dan perhatian untuk berbagi pesan, pemberian umpan balik, kecuali umpan balik itu digunakan untuk kepentingan mereka. Para komunikator tidak khawatir dengan pandangan negatif orang lain, tetapi justru menggunakan kewenangan dan kekuasaan untuk memaksa orang lain mematuhi pandangan-pandangnnya.

b. The equalitarian style, yaitu gaya komunikasi beraspek kesamaan, hal ini ditandai dengan berlakunya arus penyebaran pesan-pesan verbal secara lisan maupun tertulis yang bersifat dua arah. Dalam gaya komunikasi ini, komunikasi dilakukan secara terbuka, setiap anggota organisasi dapat mengungkapkan ide atau gagasan secara santai, rileks, dan informal. Orang-orang yang menggunakan gaya komunikasi ini merupakan orang yang mempunyai tingkat kepedulian tinggi serta memiliki

37 Dasrun Hidayat, Komunikasi Antarpribadi dan Medianya: Fakta Penelitian Fenomenologi Orang Tua Karier dan Anak Remaja (Yogyakara: Graha Ilmu, 2012), 7.

(36)

kemampuan dalam membina hubungan yang baik dengan orang lain, baik secara pribadi maupun dalam lingkungan pekerjaan.

Ketika menggunakan gaya komunikasi ini akan mempermudah dalam komunikasi organisasi khusunya dalam memelihara empati dan kerja sama. Gaya komunikasi ini juga menjamin berlangsungnya tindak berbagi informasi dengan orang lain.

c. The structuring style, yaitu gaya komunikasi yang memanfaatkan pesan-pesan verbal secara tertulis maupun lisan guna memantapkan perintah yang harus dilaksanakan, penjadwalan tugas, dan pekerjaan serta struktur organisasi.

Seorang pengirim pesan lebih memberi perhatian kepada keinginan untuk mempengaruhi orang lain dengan jalan berbagi informasi tentang tujuan organisasi, jadwal kerja, aturan, dan prosedur yang berlaku dalam organisasi tersebut.

d. The dynamic style, yaitu gaya komunikasi yang dinamis dan memiliki kecenderungan agresif karena pesan memahami bahwa lingkungan pekerjaannya berorientasi pada tindakan. Gaya komunikasi ini sering dipakai oleh para juru kampanye atau supervisor yang membawa para salesmen. Tujuan dari gaya komunikasi ini adalah untuk menstimulasi karyawan agar lebih cepat dan lebih baik dalam bekerja. Gaya komunikasi dinamis digunakan dalam mengatasi persoalan-persoalan yang bersifat kritis.

(37)

e. The relinquishing style, yaitu gaya komunikasi yang mecerminkan kesediaannya untuk menerima saran, pendapat, dan ide yang diberikan oleh orang lain daripada keinginan untuk memberi perintah meskipun pengirim pesan mempunyai hak untuk memberi perintah. Pesan-pesan dalam gaya komunikasi ini akan lebih efektif ketika pengirim pesan sedang bekerja sama dengan orang-orang yang berpengetahuan luas, berpengalaman, teliti, serta bersedia untuk bertanggungjawab atas tugas atau pekerjaan yang diberikan.

f. The withdrawl style, yaitu gaya komunikasi tertutup yang mengakibatkan melemahnya tindak komunikasi, banyak orang yang yang merasa kesulitan dan timbul beberapa persoalan antarpribadi saat menggunakan gaya komunikasi tersebut.

Dalam hal ini gaya komunikasi tersebut tidak layak untuk dipakai untuk berkomunikasi dengan orang lain.

B. Hambatan Komunikasi

Dalam melakukan komunikasi secara efektif tidaklah mudah. Ada beberapa hal yang menjadi salah satu gangguan dalam menyampaikan komunikasi. Hal ini dapat terjadi jika terdapat campur tangan yang menganggu salah satu komponen komunikasi, sehingga proses komunikasi tidak dapat berlangsung secara efektif. Dalam proses komunikasi gangguan

(38)

dapat mengurangi lancarnya proses komunikasi.38 Hambatan dalam komunikasi yang perlu diperhatikan oleh komunikator agar dapat berkomunikasi secara efektif sebagai berikut :

1) Hambatan Semantis

Adalah gangguan komunikasi yang disebabkan karena kesalahan pada bahasa yang digunakan.39 Demi kelancaran komunikasinya seorang komunikator harus benar-benar memperhatikan gangguan simantis, sebab salah bahasa atau pengcapan mengakibatkan salah pengertian atau salah maksud yang dapat menimbulkan salah komunikasi.40

Penyiar di Radio Songgolangit FM saat melakukan siaran menggunakan bahasa Indonesia, hal ini bertujuan agar pendengar mengerti apa yang disampaikan oleh penyiar. Namun, terkadang bahasa daerah turut digunakan oleh penyiar pada program acara tertentu yang memang menargetkan pendengar tertentu yang masih menggunakan bahasa daerah sebagai bahasa sehari-hari.

2) Hambatan Mekanis

Hambatan yang dijumpai pada media yang digunakan untuk melancarkan komunikasi. Sebagai contoh yang dialami dalam kehidupan sehari hari, seperti suara telepon tidak jelas dan suara yang hilang- muncul pada pesawat radio.41

38 Umar Farouk Zuhdi, Komunikasi Bisnis Pemahaman Secara Mudah (Yogyakarta:

Wahana Totalita, 2011), 30.

39 Hafied Cangara, Pengantar Ilmu Komunikasi (Jakarta: Rajawali Pers, 2011), 157.

40 Onong Uchjana Effendy, Dinamika Komunikasi (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2004), 14.

41 Ibid.,15.

(39)

Hambatan seperti ini biasa terjadi pada media mana pun, tidak terkecuali di Radio Songgolangit FM. Hambatan yang terjadi seperti suara pemancar yang kurang baik sehingga menghasilkan suara penyiar yang tidak terdengar dengan jelas. Hal ini dapat mempengaruhi pemahaman pendengar terhadap isi pesan yang disampaikan oleh penyiar.

3) Hambatan Ekologis

Hambatan ini disebabkan oleh gangguan lingkungan terhadap proses berlangsungnya komunikasi yang datangnya dari lingkungan.

Seperti suara riuh orang-orang atau kebisingan lalu lintas, suara hujan atau petir, dan lainnya.42 Hal ini dapat terjadi pada pendengar Radio Songgolangit FM ketika berada di lokasi yang bising sehingga tidak dapat mendengar suara radio dengan jelas.

4) Hambatan Psikologis

Merupakan gangguan yang terjadi karena adanya persoalan yang timbul dalam diri individu. Misalnya perasaan curiga penerima kepada sumber, situasi berduka atau karena gangguan kejiwaan sehingga dalam pengiriman dan penerimaan informasi tidak sempurna.43

42 Ibid.,13.

43 Ibid.,38.

(40)

C. Radio

1. Pengertian Radio

Radio adalah suatu media yang berfungsi sebagai boardcester atau penyiaran berita iklan dan informasi lainya, seperti yang di katakan Denim, radio adalah siaran (pengiriman) suara atau bunyi melalui udara, pemacar media untuk menyiarkan pesan suara. Secara fisik, radio adalah seperangkat alat elektronik yang muncul dari hasil technology komunikasi, melalui alat ini orang dapat mendengarkan siaran dari berbagai penjuru. Radio merupakan salah satu dari sistem telekomunikasi, yang dapat di artikan sebagai salah satu metode penyampaian informasi melaluimedia udara.44

Menurut Undang-Undang Penyiaran Nomor 32 Tahun 2002 Tentang Penyiaran (UU Nomor 32 Tahun 2002) terdapat empat jenis penyiaran yang menggunakan radio sebagai jasa penyiaran, yaitu: Radio Publik, Radio Swasta, Radio Berlangganan, dan Radio Komunitas.

Radio publik merupakan radio yang didirikan oleh Negara, bersifat independen, netral, tidak komersial, dan berfungsi memberikan layanan untuk kepentingan masyarakat.45 Radio swasta adalah radio yang bersifat komersial berbentuk badan hukum Indonesia, artinya didirikan dengan tujuan mengejar keuntungan yang sebagian besar berasal dari

44 Ibid.,125.

45 Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2002 Tentang Penyiaran, Pasal 14.

(41)

penayangan iklan dan juga usaha lainnya yang terkait dengan penyelenggaraan penyiaran. 46

Radio berlangganan merupakan lembaga penyiaran berbentuk badan hukum, yang bidang usahanya hanya menyelenggarakan jasa penyiaran berlangganan dan wajib terlebih dahulu memperoleh izin penyelenggaraan penyiaran berlangganan.47 Radio komunitas merupakan lembaga penyiaran yang berbentuk badan hukum Indonesia, didirikan oleh komunitas tertentu, bersifat independen, dan tidak komersial, dengan daya pancar rendah, luas jangkauan wilayah terbatas, serta untuk melayani kepentingan komunitasnya.48

2. Fungsi Radio

Komunikasi melalui media radio merupakan komunikasi massa yang menggunakan media audio. Perbedaan media audio dengan media visual terletak pada bentuknya. Media audio hanya bisa didengar oleh indera pendengaran. Radio memiliki beberapa fungsi seperti:

a) Media Informasi: media mengandung makna semua organisasi, baik swasta atau pemerintah, yang bertugas untuk memberi komunikasi terhadap publik, mereka menggunkan alat seperti adalah, koran, majalah televisi, juga radiountuk menyampaikan pesan mereka.

46 Ibid., Pasal 16.

47 Ibid., Pasal 25.

48 Ibid., Pasal 21.

(42)

b) Media pendidikanMerupakan seperangkat alat bantu, atau pelengkap yang digunakan oleh guru dalam rangka berkomunikasi dengan siswa atau peserta didik.

c) Media hiburan sangat banyak model acara hiburan di radio, musik menarik pendengar lebih bayank di bandingkan obrolan, anak muda lebih suka musik dan orang tua lainya lebih suka musik tentu saja dari jenis yang berbeda.49

3. Karakteristik Radio

Berikut adalah karakteristik radio yang membedakan dengan media massa lainnya :50

a) Radio adalah suara yang diperdengarkan dan tidak dapat diputar kembali.

b) Proses informasi yang disampaikan melalui pemancar sinyal.

c) Terdapat gangguan teknis seperti tenggelamnya gelombang sinyal.

d) Radio membuat gambar dalam imajinasi pendengar melalui suara dan kata yang disampaikan penyiar.

e) Radio merupakan sarana hiburan yang mudah dan cepat serta menjadi media utama dalam mendengarkan musik.

4. Kelebihan Radio

Adapun kelebihan radio adalah sebagai berikut:

a) Program secara langsung.

b) Cepat, hangat, dan dekat.

49 Onong Uchjana Effendy, Dinamika Komunikasi (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2004), 126.

50 Asep Syamsul, Kamus Jurnalistik (Bandung: Simbiosa Rekatama Media, 2008), 36.

(43)

c) Mengadirkan gambar dalam ruang imajinasi pendengarnya.

d) Tanpa batas dan dapat diakses disemua kalangan.

e) Memberikan manfaat bagi individu dan masyarakat.

5. Kelemahan Radio

Adapun kelemahan radio sebagai berikut:

a) Siaran radio cepat hilang dan gampang dilupakan. Pendengar tidak dapat mengulang informasi yang telah disiarkan.

b) Sajian informasi bersifat global dan tidak detail.

c) Waktu siaran radio terbatas, dimulai pukul 05.00 dan berakhir pada pukul 24.00.

d) Program acara disajikan dan dinikmati pendengar berdasarkan urutan yang suda ada.

e) Adanya gangguan yeng bersifat teknis, seprti hilangnya sinyal atau suara.

f) Nonvisual, artinya hanya dapat menampilkan suara saja tidak bisa memperlihatkan kondisi langsung.

D. Penyiar I

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), penyiar adalah orang yang menyiarkan atau menyeru pada radio. Pada umumnya penyiar adalah juru bicara stasiun radio siaran. Bahkan, penyiar adalah “ujung tombak’’

stasiun radio, sukses tidaknya sebuah acara ditentukan oleh penyiar nya, penyiar adalah seorang penampil. Yang melakukan pekerjaan penyiaran,

(44)

menyajikan produk komersial, menyiarkan berita atau informasi, akting sebagai pembawa acara atau pelawak, menangani olahraga, pewawancara, diskusi, kuis dan narasi. Dalam menyampaikan siaranya, penyiar harus menggunakan bahasa yang mudah dipahami dan familiar. Selain itu, penyiar juga diharapkan memiliki kesederhanaan menyangkut hal yang bersifat fisik, tetap jaga dalam hal penggunaan bahasa sebagai alat untuk menyalurkan pikiran dan perasaan dan dalam upaya mengkomunikasikannya.

Kesederhanaan seringkali menunjukan keaslian dan kemurnian sikap.51 1. Karakteristik Penyiar

Karakteristik penyiar semua orang pada dasarnya bisa menjadi penyiar, tetapi untuk menjadi penyiar yang profesional, seseorang harus mempunyai kecakapan diantaranya:

a) Berbicara: pekerjaan penyiar adalah berbicara, mengeluarkan suara atau melakukan komunikasi secara lisan. Karenanya ia harus lancar berbicara dengan kualitas vokal yang baik seperti pengaturan suara, pengendalian irama, tempo, artikulasi dan sebagainya.

b) Membaca: dalam hal ini kemampuan spoken reading yakni membaca naskah siaran namun terdengar seperti bertutur atau tidak membaca naskah.

51 Irwanti Said, Fungsi Sosial Siaran Radio (Cet. Pertama, Alaudin University Press, 2012), 144-155.

(45)

c) Menulis: yaitu menulis naskah siaran. Seringkali penyiar harus menyiapkan naskah siarannya sendiri. Karenanya, ia harus memliki kemampuan menulis naskah.52

Menurut Ben G Henneka dalam bukunya the radio announcer’s handbook, kecakapan yang harus dimiliki penyiar meliputi:

1) Komunikasi gagasan (communication of ideas) seorang penyiar harus mampu menyampaikan gagasan, pemikiran, atau informasi dengan baik dan mudah dipahami pendengar.

2) Komunikasi kepribadian (communication personality), penyiar harus memproyeksikan dirinya sebagai pribadi yang memiliki hal-hal sebagai berikut:

a) Keaslian (naturalness) yakni keaslian suara atau tidak dibuat- buat.

b) Kelincahan (vitality) dalam berbicara sehingga dinamis dan penuh semangat.

c) Keramahtamahan (friendliness) sehingga hangat dan akrab di telinga pendengar.

d) Kesanggupan menyesuaikan diri (adaptability) yakni bisa bekerja dalam tim, siap menghadapi resiko pekerjaan sebagai penyiar dan mampu melayani atau mengimbangi ragam karakter pendengarnya.

52 Asep Syamsul M Romli, Broadcast Journalism (Bandung: Rosdakarya, 2009), 33.

(46)

e) Pengucapan (pronounciation) yang jelas dan benar atas setiap kata atau istilah yang dikemukakan.

f) Kontrol suara (voice control) meliputi pola titinada (pitch), kerasnya suara (loudness), tempo (time) dan kadar suara (quality).

E. Pendengar

Pendengar adalah sasaran komunikasi massa melalui media radio siaran.53 Dalam penyiaran radio, batasan pendengar berdasarkan suka atau tidak suka pada program siaran yang ditawarkan oleh stasiun penyiaran radio.

Dengan demikian, setiap penyiaran radio mempunyai segmen-segmen pendengar yang bisa diidentifikasi dengan mudah. Pendengar merupakan ujung tombak sebuah radio. Selanjutnya, McQuail berpendapat bahwa pendengar atau audience adalah pertemuan publik, berlangsung dalam rentang waktu tertentu, dan terhimpun bersama oleh tindakan individual untuk memilih secara sukarela sesuai dengan harapan tertentu bagi masalah menikmati, mengagumi, mempelajari, merasa gembira, tegang, kasihan atau lega.54

1. Karakteristik Pendengar

Karakteristik atau sifat-sifat pendengar radio siaran menurut Onong U. Effendy yaitu:

53 Ibid., 34.

54 Denis, McQuail, Mass Communication Theory (Teori Komunikasi Massa) (Jakarta:

Erlangga, 2000), 54.

(47)

a) Heterogen, pendengar adalah massa, sejumlah orang yang sangat banyak yang sifatnya heterogen, terpencar-pencar di berbagai tempat: di kota dan di desa, di rumah, pos tentara, asrama, warung kopi dan sebagainya.

b) Pribadi, isi pesan akan diterima dan dimengerti kalau sifatnya pribadi (person) sesuai dengan situasi dan di mana pendengar itu berada.

c) Aktif, apabila pendengar menjumpai sesuatu yang menarik dari sebuah stasiun radio, mereka aktif berpikir, dan aktif melakukan interpretasi.

d) Selektif, pendengar akan memilih program yang disukainya55.

F. Program Siaran

1. Pengertian Program Siaran

Kata program berasal dari bahasa Inggris programme yang berarti acara atau rencana. Undang-Undang Penyiaran Indonesia tidak menggunakan kata program untuk acara tetapi menggunakan istilah siaran yang didefinisikan sebagai pesan atau rangkaian pesan yang disajikan dalam berbagai bentuk. Namun, kata program lebih sering digunakan dalam dunia penyiaran di Indonesia daripada kata siaran untuk mengacu kepada pengertian acara. Program adalah segala hal yang

55 Onong Uchjana Effendy, Ilmu Komunikasi, Teori dan Praktek (Bandung: Remaja Karya, 2001), 45.

(48)

ditampilkan stasiun penyiaran untuk memenuhi kebutuhan audiennya.

Dengan demikian, program memiliki pengertian yang sangat luas.56 Jadi, dapat disimpulkan bahwa program siaran adalah perencanaan oleh lembaga penyiar dalam menyiarkan sebuah program yang berisi pesan atau serangkaian informasi baik dalam bentuk suara, gambar ataupun yang lainya dengan mempertimbangkan kebutuhan pendengar atau audien.

2. Program Acara Musik

Program radio sangat beragam, masing – masing lengkap dengan visi, misi, target pendengar, format isi siaran, gaya siaran, bahasa siaran, serta durasinya. Menurut Romli program radio terdiri dari acara pemutaran lagu (music program) obrolan bincang- bincang (talkshow) dan program berita (news program). Menurut Hillari ada lima tujuan dasar menggunakan musik yaitu:

a) Sebagai isi untuk program musik, diputar secara utuh.

b) Sebagai tema untuk banyak program, diputar sebagai identitas sebuah program acara.

c) Untuk menyembatani perpindahan segmen dalam sebuah acara atau sebagai selingan.

d) Sebagai efek suara, pemberi suguhan yang menggugah imajinasi terhadap suatu peristiwa atau lokasi tertentu.

56 Morissan, Manajemen Media Penyiaran (Jakarta: Prenada Media Grub, 2008), 200.

(49)

e) Sebagai latar belakang pemanis dengar saat penyiar dan reporter membacakan naskah. Umumnya program musik ini divariasikan menjadi acara pemutaran lagu – lagu pilihan pendengar, paduan lagu dan info ringan dan tangga lagu.57

57 Asep Romli, Jurnalistik Praktis (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2009), 48.

(50)

43 BAB III

GAMBARAN RADIO SONGGOLANGIT FM

A. Radio Songgolangit FM

1. Sejarah Berdirinya Radio Songgolangit FM

PT. Radio Swara Ponorogo merupakan nama perusahaan dari nama Radio Songgolangit FM. Yang sekarang dalam siarannya menyebut dengan nama Radio Songgolangit Informasi dan Solusi Kebanggaan Ponorogo. Radio sebagai media penyiaran yang memiliki format siaran pada informasi dan berita serta memberikan solusi kepada para pendengar di frekuensi 99,2 Mhz. Radio Songgolangit berlokasi di Jalan Halim Perdanakusuma nomor 12, Kelurahan Tonatan, Kecamatan Ponorogo, Kabupaten Ponorogo. Pendirisan perusahaan pertama kali pada 24 Desember 2004 dengan daya pancar 3000 Watt (RVR VJ 3000 TR). Dengan jangkauan Ponorogo dan sebagian dari wilayah Madiun, Wonogiri, Pacitan, Trenggalek, dan Magetan. Serta menyasar pada target pendengar (Segmentasi Audien) semua kalangan (Multi Sex) dengan klasifikasi berdasarkan kelompok usia, jenis kelamin, status ekonomi sosial, pendidikan, dan jenis pekerjaan.58

Pada tanggal 02 Agustus 2004 terdapat perjanjian bersama antara Pemerintah Kabupaten Ponorogo dengan CV. Orbit Organizer and Advertising. Diwakili oleh Dr. H.M. Markum Singodimedjo selaku bupati Ponorogo pada saat itu, dan pihak II CV. Orbit Organizer and

58 Dokumen Akta Pendirian Radio Songgolangit FM, 99,2 Mhz, Ponorogo: 2009.

(51)

Advertising diwakili oleh Bapak Soewarto sebagai Direktur. Kerjasama tersebut dimaksudkan untuk pengelolaan Radio Khusus Pemerintah Daerah (RKPD) Swara Ponorogo. Demi mengokohkan kerjasama antara pihak Pemerintah Kabupaten Ponorogo dengan CV. Orbit Organizer and Advertising maka didirikan PT. Radio Swara Ponorogo, pada tanggal 24 Desember 2004 dihadapan notaris – PPAT Ibu Hartati Hadi Wijaya, SH notaris di Ponorogo.

Dalam Akta pendirian tersebut komposisi saham pihak Pemerintah Kabupaten Ponorogo 40% dan pihak CV. Orbit Organizer and Advertising 60%. Pada tanggal 14 Desember 2005 CV. Orbit Organizer and Advertising mengajukan permohonan izin menyelenggarakan penyiaran kepada Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Jawa Timur. Dalam rentang waktu awal 2006 sampai dengan 2007 dipergunakan untuk pembangunan tower dan pengadaan alat teknis pendukung.

PT. Radio Swara Ponorogo atau Radio Songgolangit memulai siaran percobaan pada tanggal 14 Desember 2007 dan taraf rekruitmen tenaga penyiar dan administrasi. Setelah itu pada awal Januari 2008 radio mulai aktif melakukan siaran secara resmi. Dalam akte pendiriannya dicantumkan bahwa tujuan didirikannya radio siaran ini adalah untuk memberikan informasi, berita, hiburan, edukasi, dan solusi kepada masyarakat Ponorogo dan sekitarnya. Radio Songgolangit sendiri telah mendapatkan pengesahan dari Departemen Hukum dan Hak Asasi

Referensi

Dokumen terkait