• Tidak ada hasil yang ditemukan

Persepsi Visual Generasi Digital Terhadap Warna Furnitur Pada Interior Kafe

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "Persepsi Visual Generasi Digital Terhadap Warna Furnitur Pada Interior Kafe"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

Persepsi Visual Generasi Digital terhadap Warna Furnitur pada Interior Kafe

Erni Pradila Putri1*, Armelia Dafrina2, Yenny Novianti3

123Program Studi Arsitektur, Jurusan Teknik Sipil, Universitas Malikussaleh, Lhokseumawe Indonesia

*Koresponden email: [email protected]

Diterima: 15 Februari 2023 Disetujui: 28 Februari 2023

Abstract

Nowadays, cafes have become a place to socialize for young people. This triggered the cafe owner to design it to be more attractive to visitors. Color support for interior design to produce an attractive design. The colors on the furniture affect the atmosphere created in the cafe interior and form a visual perception. The research aims to analyze the influence of furniture colors on the visual perception of digital generation visitors. The method of this research is descriptive quantitative with data analysis using the SPSS program to test the effect of variables. The variables are the color of the furniture in the cafe interior, the characteristics of visitors, and the visual perception of visitors. This research result is the color of the furniture in the cafe interior had the greatest effect on the visual perception of visitors with a significant level of 0,000 < 0,05 and the characteristics of visitors did not have an effect on the visual perception of visitors with a significant level of 0,422 > 0,05.

Keywords: cafe, color, furniture, interior design perception

Abstrak

Saat ini, kafe sudah menjadi tempat untuk bersosialisasi bagi kaum muda. Hal tersebut memicu pemilik kafe untuk mendesainnya menjadi lebih menarik minat pengunjung. Warna merupakan penunjang pada suatu desain interior untuk menghasilkan desain yang menarik. Warna furnitur memengaruhi suasana yang tercipta pada interior kafe dan membentuk suatu persepsi visual. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh warna furnitur terhadap persepsi visual pengunjung generasi digital. Metode yang digunakan metode kuantitatif deskriptif dengan analisa data menggunakan program SPSS untuk menguji pengaruh variabel.

Variabel pada penelitian ini yaitu warna furnitur pada interior kafe, karakteristik pengunjung, serta persepsi visual pengunjung. Hasil penelitian ini yaitu warna furnitur pada interior kafe memiliki pengaruh paling besar terhadap persepsi visual pengunjung dengan tingkat signifikan 0,000 < 0,05 dan karakteristik pengunjung tidak berpengaruh pada persespi visual pengunjung dengan tingkat signifikan sebesar 0,422 > 0,05.

Kata Kunci: desain interior, furniture, kafe, persepsi, warna

1. Pendahuluan

Manusia dapat terpengaruh seiring berubahnya jaman yang kemudian akan berdampak pada gaya hidup.

Seperti yang dikatakan sebelumnya, seiring berjalannya jaman yang dilalui generasi ke generasi, sikap ataupun perilaku masyarakat tentu mengalami perbedaan dengan generasi sebelumnya, begitu juga dengan kebutuhan tambahan ataupun gaya hidup yang berbeda dari generasi sebelumnya. Pada saat ini, generasi yang lebih cenderung menonjol yaitu generasi digital atau bisa juga disebut generasi Z. Nama generasi digital lahir disebabkan oleh akses terhadap teknologi informasi menjadi budaya mereka dan menjadi bagian dari hidup mereka yang memengaruhi pandangan dan tujuan hidup [1]. Generasi digital atau generasi Z dikategorikan lahir pada rentang tahun 1995 hingga tahun 2010 bahkan memungkinkan hingga tahun terakhir ini [2].

Masyarakat generasi digital cenderung memilih atau menyukai suatu hal yang lebih estetik daripada fungsional dalam artian kata lain yaitu lebih mengutamakan gaya hidup. Misalnya, mengunjungi ataupun memilih suatu tempat, mereka lebih memilih tempat yang memiliki keindahan bentuk, baik dari segi interior ataupun eksterior. Hal tersebut yang nantinya akan berfungsi sebagai pendukung untuk melakukan kegiatan fotografi yang akan diunggah di media sosial. Sesuai dengan sebutannya, generasi ini tidak bisa lepas dengan hal yang berhubungan dengan digital ataupun internet. Pada jaman sekarang, gaya hidup juga diutamakan seperti kebutuhan dasar. Hal ini disebabkan gaya hidup dianggap sebagai kebutuhan sekunder yang mendukung kebutuhan sebagai pelengkap. Gaya hidup sudah menjadi dasar perilaku setiap individu [3].

Hal tersebut menimbulkan banyak perubahan. Perubahan yang terlihat jelas yaitu persaingan bisnis semakin meningkat, salah satunya perkembangan bisnis di bidang kuliner yang digemari oleh masyarakat. Hal

(2)

estetik untuk menarik minat pengunjung. Kafe didesain sedemikian rupa agar pengunjung nyaman dan mendukung aktivitas bersantai maupun bekerja di dalamnya.

Suatu desain ruang dalam, ada beberapa hal penunjang untuk menghasilkan suatu desain yang menarik.

Salah satu penunjang unsur estetika pada suatu ruang adalah warna. Semua yang disekitar kita memiliki warna dan sangat berperan penting dalam arsitektur. Oleh karena itu, hal tersebut membuat warna akan menjadi suatu pertimbangan dalam merancang ruang dimana warna tersebut yang akan menyampaikan suatu pesan untuk para pengguna seperti halnya yang terjadi pada kafe. Warna yang diterapkan pada interior dapat berupa material termasuk furnitur. Warna tersebut menjadi representasi pemilik kafe yang nantinya akan memengaruhi estetika pada interior kafe tersebut. Kombinasi warna pada furnitur sangat memengaruhi suasana pada interior kafe yang akan menampilkan sebuah konsep tertentu pada kafe tersebut.

Para pengunjung kafe tentu memiliki persepsi yang berbeda setiap sudut pandang masing-masing dalam menikmati interior kafe terutama pada warna. Pengunjung memiliki kriteria tertentu terhadap warna yang akan membangun suasana tertentu pada interior kafe tergantung persepsi dari dirinya. Persepsi yang merupakan pengaruh dari luar diri manusia yang akan ditangkap oleh pancaindra, salah satunya yaitu indra penglihatan.

Melalui mata, manusia bisa mengartikan visual keadaan sekitarnya yang akan menciptakan suatu persepsi yang akan diwujudkan dalam bentuk perilaku. Manusia akan mempersepsikan suatu hal dengan berbeda-beda, tergantung dengan masing-masing persepsi visual manusia tersebut.

Persepsi Visual

Persepsi visual merupakan kemampuan masing-masing individu untuk memproses dan menangkap informasi melalui perantara indra penglihatan. Faktor psikologi juga mempengaruhi sebuah keputusan yang terjadi akibat stimulus [4]. Persepsi visual merupakan suatu respon untuk menafsirkan informasi yang diserap oleh penglihatan. Interior termasuk salah satu objek visual yang akan dipersepsikan oleh manusia secara visual.

Dr. Margaretha Margawati Van Eymeren mengatakan bahwa manusia mengalami dimensi lahir dan dimensi batin untuk dipersepsikan. Terkadang suatu hal yang dipersepsikan dapat tidak sesuai dengan ekspetasi dan realita yang terdapat pada objek. Hal itu terjadi karena persepsi juga dipengaruhi oleh harapan, tidak hanya mengenai gambaran yang ditangkap. Hal tersebut terjadi karena melewati masa-masa dimana pengalaman tersebut menjadi tujuannya [5]. Francis D. K. Ching mengungkapkan bahwa persepsi visual terbentuk oleh suatu proses yang terdiri dari beberapa faktor seperti bentuk, warna, rupa/wujud, serta tekstur [4].

Warna

Warna adalah salah satu unsur elemen interior yang sangat penting. Perencanaan suatu desain yang tepat berfungsi sebagai identitas serta dapat menciptakan suasana untuk menafsirkan gambaran yang diinginkan dan dapat menerima respon [6]. Suasana pada ruang dan perilaku dapat tercipta oleh peranan penting warna.

Masing-masing warna memiliki karakteristik yang berbeda. Warna dapat memengaruhi perilaku ataupun emosi yang dirasakan manusia dan dipelajari dengan sebutan psikologi warna. Psikologi warna juga mempelajari pembagian spektrum warna hangat dan warna dingin yang memiliki makna dengan kepribadian manusia [7].

Warna dingin dan terang dapat menjadi prinsip yang digunakan dalam desain kafe untuk memperluas rasa ruang. Sedangkan, warna hangat dan gelap dapat digunakan di ruangan besar untuk menanamkan rasa keintiman [8]. Warna dapat berfungsi untuk menekan suatu objek pada bagian tertentu seperti bentuk dan bahannya untuk menciptakan suasana yang hidup pada ruangan dan berdampak pada terbentuknya persepsi seseorang [9].

Desain Interior

Desain interior berhubungan dengan kesan yang terbentuk oleh seseorang dalam mempersentasikan suasana ruang yang bertujuan sebagai identitas pemilik desain interior tersebut. Hal tersebut menimbulkan sebuah persepsi dari individu yang melihatnya. Persepsi setiap individu-individu terhadap desain interior berbeda dikarenakan nilai budaya dan latar belakang yang berbeda [10]. Desain interior terdiri dari beberapa elemen didalamnya yang membentuk sebuah visual yang menjadi ruang lingkup interior. Elemen-elemen tersebut yaitu elemen pembentuk (lantai, dinding, partisi, dan plafon), elemen transisi (pintu dan jendela), serta elemen pengisi ruang (furnitur dan elemen estetis) [11].

Penampilan desain furnitur yang tepat pada bagian garis, warna, dan tekstur dapat mempersentasikan perasaan atau fungsi sebuah ruang dan menciptakan suatu keharmonisan dalam ruangan. Bentuk furnitur dapat ditentukan dengan memperhatikan beberapa unsur seperti ergonomic, fungsi, kenyamanan, keseimbangan, komposisi, dan lain sebagainya. Desain furniture juga dibutuhkan pertimbangan pada bentuk, ukuran, warna, dan tekstur [12].

(3)

Kafe

Kafe merupakan suatu tempat untuk makan dan minum yang menyajikan suasana yang santai dan tidak resmi dengan sajian cepat saji. Sekarang, kafe juga digunakan untuk tempat berkumpul dan bersosialisasi dengan rekan [13]. Citra pada restoran atau kafe dibutuhkan untuk membentuk identitas atau ciri khas pada restoran atau kafe [13].

a. Ekslusif/mewah b. Nyaman (cozy) c. Segar/ceria d. Bersih dan terang e. Elegan

f. Akrab g. Eksotis

Perbedaan Generasi

Penelitian Mannheim menunjukkan bahwa generasi adalah seperangkat struktur sosial dengan sekelompok individu dengan usia dan pengalaman yang sama. Anggota dari generasi yang sama memiliki tahun kelahiran dalam 20 tahun dan karakteristik sejarah yang sama [14]. Pengertian generasi telah berkembang sehingga menurut Kupperschmidt, generasi adalah sekelompok individu yang menandai kelompoknya dengan tahun lahir, umur, tempat, dan peristiwa kehidupan yang sama yang mempengaruhi pertumbuhannya [15].

Kualitas masyarakat setiap generasi mengalami perubahan dari waktu ke waktu, sedangkan kualitas baby boomers mulai menurun. Generasi X dan Y adalah yang paling produktif dari segi usia dan kualitas tenaga kerja. Kemudian muncul generasi yang memasuki masa kerja, yang disebut generasi Z. Kajian terhadap Bencsik, Csikos dan Juhezi menunjukkan bahwa terdapat 6 kelompok generasi menurut tahun kelahiran menurut Tabel 1 berikut.

Tabel 1. Perbedaan Generasi

Nama Generasi Tahun

Veteran Generation 1925 – 1946 Baby boom Generation 1946 – 1960 X Generation 1960 – 1980 Y Generation 1980 – 1995 Z Generation 1995 – 2010 Alfa Generation 2010 +

Sumber: [14]

Generasi digital atau Gen Z sangat berkembang di era digital tempat mereka dilahirkan. Mereka juga dicirikan sebagai penduduk asli digital. Aturan generasi Z berbeda dengan generasi sebelumnya. Mereka selalu aktif di hampir semua perangkat yang merupakan bentuk komunikasi bagi mereka. Mereka praktis, lebih pintar dan lebih berani serta suka memimpin. Mereka lebih pintar dari generasi sebelumnya dan terus mencari tantangan baru. Mereka juga tidak takut akan perubahan, karena mereka memiliki banyak pengetahuan tentang internet yang digunakan sebagai alat pemecahan masalah [16].

2. Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan analisis data menggunakan program SPSS. Penelitian ini berlokasi di kafe LKKR x Koala Dessert House di Kota Medan. Populasi pada penelitian ini yaitu pengunjung kafe LKKR x Koala Dessert House. Penelitian ini menggunakan sebagian dari populasi sebagai sampel. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah purposive sampling. Ini adalah teknik dimana sampel ditentukan berdasarkan pertimbangan tertentu [17]. Sampel yang digunakan adalah pengunjung/konsumen memiliki usia yang lahir pada tahun 1995-2010 (generasi digital). Jumlah sampel dalam penelitian ini akan mengambil hasil data generasi digital dari 100 responden. Jadi ada perbandingan tertentu jumlah pengunjung generasi digital dengan pengunjung yang lainnya dalam 100 orang. Penelitian ini memperoleh data dengan menggunakan metode-metode yaitu kuesioner, observasi, serta tinjauan pustaka.

Skala Likert menjadi teknik pengukuran yang digunakan dalam penelitian ini.

(4)

a. Variabel bebas warna furnitur pada interior kafe sebagai X1 dan karakteristik pengunjung sebagai X2. b. Variabel terikat yaitu persepsi visual pengunjung sebagai Y.

Uji Validitas

Uji validitas digunakan untuk menentukan validitas suatu survey yang terdapat pada kuesioner. Pada penelitian ini instrumen diuji dengan menghitung nilai total kesepakatan antar item kuesioner dengan menggunakan teknik product moment yang diuji dengan menggunakan aplikasi software SPSS.

Uji Reliabilitas

Tujuan dari pengujian ini adalah untuk melihat hasil pengukuran dari percobaan yang telah selesai, yang hasilnya tetap konsisten meskipun dilakukan berulang kali pada kondisi yang sama.

Analisis Regresi Linear Berganda

Tujuan dari analisis ini adalah untuk mengetahui pengaruh dua atau lebih variabel independen terhadap variabel dependen.

Uji T

Uji T memiliki kriteria yaitu jika nilai a > 0,05 maka variabel independen tidak berpengaruh terhadap variabel dependen atau tidak signifikan. Sebaliknya jika nilai a < 0,05 variabel independen memengaruhi variabel dependen atau signifikan.

Uji Normalitas

Pengujian ini menggunakan metode Kolmogorov-Smirnov. Jika nilai signifikansi Kolmogorov-Smirnov

> 0,05, maka berdistribusi normal.

Uji Heteroskedastisitas

Uji heteroskedastisitas menguji tingkat varian yang konstan dari satu observasi residual ke observasi residual lainnya. Jika variannya konstan disebut homoskedastisitas dan jika bervariasi disebut heteroskedastisitas. Kriteria model regresi yang baik adalah adanya homoskedastisitas atau varian konstan.

3. Hasil dan Pembahasan

Penelitian ini memiliki karakterisitk responden yaitu berdasarkan usia, jenis kelamin, dan info kafe dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2. Karakteristik responden berdasarkan usia Usia Jumlah (orang) Persentase (%)

12 - 19 tahun 13 13%

20 - 27 tahun 51 51%

28 - 42 tahun 26 26%

> 42 tahun 10 10%

Total 100 100%

Sumber: Analisa data (2022)

Tabel 2 menunjukkan bahwa terdapat 13 responden berusia 12 - 19 tahun (13%), 51 responden berusia 20 -27 tahun (51%), 26 responden berusia 28 - 42 tahun (26%), dan 10 responden berusia > 42 tahun (10%).

Sebagian besar pengunjung berusia 20 - 27 tahun, dari tabel tersebut juga dapat disimpulkan bahwa generasi digital (1995 -2010) termasuk sebanyak 64 orang berusia 12 – 27 tahun. Generasi milenial atau Y (1980 – 1994) pada saat yang sama terdiri dari 26 orang yang berusia 28 – 42 tahun. Generasi X (1960 – 1980) terdiri dari 10 orang yang berusia diatas 42 tahun dan paling sedikit diantara yang lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa kelompok generasi digital merupakan kelompok usia yang paling produktif berkunjung ke kafe.

Tabel 3. Karakteristik responden berdasarkan jenis kelamin Jenis Kelamin Jumlah (orang) Persentase (%)

Laki-laki 32 32%

Perempuan 68 68%

Total 100 100%

Sumber: Analisa data (2022)

Terlihat dari Tabel 3 bahwa responden laki-laki sebanyak 32 orang (32%), sedangkan perempuan terdiri dari 68 orang (68%). Hal tersebut menunjukkan bahwa responden perempuan lebih banyak daripada responden laki-laki.

(5)

Tabel 4. Karakteristik responden berdasarkan jenis info kafe Keterangan Jumlah (orang) Persentase (%)

Teman/keluarga 35 35%

Media Sosial 54 54%

Iklan/reklame 11 11%

Majalah/koran 0 0%

Total 100 100%

Sumber: Analisa data (2022)

Tabel 4 di atas menunjukkan bahwa dari 35 orang (35%) responden yang mengetahui info kafe dari teman/keluarga, 54 orang (54%) dari media sosial, 11 orang (11%) dari iklan/reklame, dan tidak ada yang berasal dari majalah/koran. Jadi sebagian besar responden mengetahui dari media sosial dan juga ajakan dari teman. Hal tersebut menunjukkan bahwa lebih besar dampak digital untuk promosi kafe.

Data karakteristik responden yang diperoleh berfungsi untuk pengambilan sampel yang digunakan dalam pengujian instrumen yang terdapat pada variabel yang digunakan yaitu warna furnitur pada interior kafe (X1) dan karakteristik pengunjung (X2) sebagai variabel bebas, serta persepsi visual pengunjung (Y) sebagai variabel terikat pada penelitian ini.

Tabel 5. Variabel dan Instrumen

Variabel Instrumen

X1. Warna furnitur pada interior kafe

X1.P1 Kombinasi warna pada interior LKKR x Koala Dessert House bebas, terang dan berani

X1.P2 Warna yang terang dan hangat dapat merangsang selera makan.

Penggunaan warna merah muda, kuning, magenta, oranye, cokelat, biru telur puyuh, hijau alpukat, dan hijau sage tepat untuk diterapkan pada interior kafe karena dipercaya dapat menambah selera makan dan menjadikan suasana ceria X1.P3 Warna dan bentuk beragam pada furnitur yang menarik,

sehingga menjadi salah satu faktor meningkatnya minat pengunjung datang

X1.P4 Desain interior LKKR x Koala Dessert House mengikuti trend dan instagramable

X1.P5 Spot-spot foto di LKKR x Koala Dessert House menjadi perhatian utama pengunjung

X1.P6 Warna dan susunan furnitur membuat kesan ruangan lebih luas X2. Karakteristik pengunjung X2.P1 LKKR x Koala Dessert House cocok menjadi tempat untuk

bersantai dengan teman dan kerabat

X2.P2 Sebagai alternatif untuk melakukan kegiatan seperti belajar kelompok ataupun meeting dengan rekan

X2.P3 Saya tertarik mengambil gambar ataupun video pada spot kafe untuk diunggah ke media sosial

X2.P4 Kafe ini hanya cocok untuk dinikmati oleh generasi digital saja X2.P5 Saya akan datang lagi kesempatan lain walaupun umur saya

tidak muda lagi

X2.P6 Saya akan mengajak ataupun merekomendasikan kepada teman dan kerabat untuk mengunjungi kafe

Y. Persepsi Visual Y.P1 Saya suka dengan kafe ini

Y.P2 Kafe memiliki kesan nyaman (cozy) dan akrab

Y.P3 Macam-macam warna dan furnitur pada LKKR x Koala Dessert House tidak membuat anda bosan

Y.P4 Warna dan bentuk furnitur yang membuat anda merasakan kesan retro pada interior kafe

Y.P5 Perpaduan warna pada interior kafe memiliki nilai keindahan (estetika)

Y.P6 Jenis tempat duduk dan variasi peletakannya membuat anda merasa nyaman

Y.P7 Pencahayaan pada kafe mendukung suasana cerah dan hangat Y.P8 Saya berkunjung karena tertarik dengan desain interior kafe

Sumber: Analisa data (2022)

(6)

Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas

Uji validitas digunakan untuk menentukan validitas suatu survei. Nilai r-hitung dibandingkan dengan r- tabel untuk menguji validitas.

Tabel 6. Hasil uji validitas

Variabel Butir Rhitung Rtabel Keterangan

Warna Furnitur Pada Interior Kafe

X1.P1 0,679 0,246 valid

X1.P2 0,676 0,246 valid

X1.P3 0,606 0,246 valid

X1.P4 0,612 0,246 valid

X1.P5 0,623 0,246 valid

X1.P6 0,517 0,246 valid

Karakterisitk Pengunjung X2.P7 0,852 0,246 valid

X2.P8 0,852 0,246 valid

X2.P9 0,621 0,246 valid

X2.P10 0,668 0,246 valid

X2.P11 0,792 0,246 valid

X2.P12 0,792 0,246 valid

Persepsi Visual Pengunjung Y.P13 0,599 0,246 valid

Y.P14 0,781 0,246 valid

Y.P15 0,827 0,246 valid

Y.P16 0,540 0,246 valid

Y.P17 0,726 0,246 valid

Y.P18 0,382 0,246 valid

Y.P19 0,444 0,246 valid

Y.P20 0,691 0,246 valid

Sumber: Analisa data (2022)

Berdasarkan r tabel yang telah ditetapkan untuk batasan dengan n = 64 dengan rumus n-2 dimana (n) menyatakan jumlah responden maka r tabel adalah 0,246.

Jika r hitung ≥ 0,246 valid Jika r hitung ≥ 0,246 tidak valid

Hasil analisis menunjukkan bahwa nilai r hitung dari seluruh pernyataan lebih besar dari nilai r tabel 0,246 maka setiap instrumen pada variabel dapat diakui valid.

Tabel 7. Hasil uji reliabilitas

Variabel Cronbach's Alpha Keterangan

Warna furnitur pada interior kafe 0,774 Realiabel

Karakteristik pengunjung 0,915 Realiabel

Persepsi visual pengunjung 0,862 Realiabel

Sumber: Analisa data (2022)

Tabel 7 menunjukkan bahwa nilai dari Cronbach’s Alpha lebih besar dari 0,6 yaitu variabel warna furnitur pada interior kafe sebesar 0,744, variabel karakteristik pengunjung sebesar 0,915, dan variabel persepsi visual pengunjung. Artinya nilai Cronbach’s Alpha pada pernyataan dinyatakan reliabel.

Hasil Uji Normalitas

Uji normalitas bertujuan untuk menguji nilai sisa yang dihasilkan terdistribusi normal pada data yang diperoleh.

(7)

Tabel 8. Hasil uji normalitas One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test Keterangan Unstandardized Residual

N 64

Asymp. Sig. (2-tailed) 0,297 Sumber: Analisa data (2022)

Berdasarkan Tabel 8 disimpulkan bahwa data terdistribusi normal dengan nilai signifikansi sebesar 0,297 untuk hasil pengukuran, yang bearti nilai signifikansi lebih dari 0,05.

Hasil Uji Heteroskedastisitas

Uji heteroskedastisitas dilakukan untuk menunjukkan tingkat persebaran (varians) yang konstan dari nilai residual.

Gambar 1. Hasil uji heteroskedastisitas untuk persepsi visual pengunjung Sumber: Analisa data (2022)

Dari scattersplot uji heteroskedastisitas terlihat bahwa pola titik pada regresi berada di antara nilai prediksi yang dibakukan dan residual yang dipelajarkan. Jika tidak ada pola yang jelas atau acak, maka tidak terjadi heteroskedastisitas. Jadi, berdasarkan gambar tersebut dapat disimpulkan bahwa titik-titik tersebar secara acak atau tidak membentuk pola yang jelas, sehingga bersifat homoskedastisitas atau varians yang konstan.

Hasil Analisis Regresi Berganda

Analisis regresi berganda membantu menemukan besarnya asosiasi dan pengaruh dua atau lebih variabel independen terhadap variabel dependen.

Tabel 9. Hasil analisis regresi berganda Variabel Independen Persepsi Visual

Pengunjung Sig.

1 (Constant) 4,501 ,062

Warna Furnitur Pada Interior Kafe (X1) 1,133 ,000

Karakteristik Pengunjung (X2) 0,009 ,422

Sumber: Analisa data (2022)

Tabel 9 di atas menunjukkan bahwa data diperoleh signifikansi warna furnitur pada interior kafe adalah 0,000 < 0,05 sehingga hipotesis diterima. Jadi, warna furnitur pada interior kafe berpengaruh positif pada persepsi visual pengunjung. Sedangkan diperoleh signifikansi karakteristik pengunjung sebesar 0,422 > 0,05 maka hipotesis ditolak. Jadi, karakteristik pengunjung tidak memengaruhi persespi visual pengunjung.

(8)

Gambar 2. Grafik hasil analisis regresi berganda Sumber: Analisa data (2022)

Gambar 2 menunjukkan bahwa semakin tinggi nilai koefisien persepsi visual pada variabel independen maka semakin besar pengaruh variabel independen tersebut terhadap persepsi visual. Jika sig. dibawah 0,05 maka persepsi visual doengaruhi oleh variabel bebas.

Berdasarkan hasil analisis regresi linier diperoleh nilai signifikansi t pada warna furnitur pada interior kafe yaitu 0,000 yang nilainya < 0,05 dengan nilai koefisien 1,133. Artinya warna furnitur pada interior kafe sangat berpengaruh dan signifikan terhadap persepsi visual pengunjung. Pengunjung ketika melihat interior kafe akan menilai dan merasakan atmosfer ketika berada di dalam kafe. Dengan desain yang menarik mampu meamberikan kesan terhadap pengunjung. Kesan pengunjung terhadap interior kafe tersebut menciptakan suatu respon baik itu respon positif atau negatif. Respon masing-masing pengunjung tersebut yang disebut persepsi visual terhadap interior kafe. Salah satu elemen yang mendukung desain interior menjadi menarik yaitu warna furnitur didalamnya.

Nilai signifikansi t karakteristik pengunjung yaitu 0,422 yang nilainya > 0,05 dengan nilai koefisien 0,009. Artinya karakteristik pengunjung tidak berpengaruh terhadap persespi visual pengunjung. Hal tersebut terjadi karena persepsi visual lebih dipengaruhi oleh elemen arsitekur pada interior kafe tersebut terutama pada warna. Persepsi visual pengunjung yang datang di kafe tersebut tidak bergantung pada umur generasi digital serta ativitas yang dilakukan didalamnya. Hal ini berarti umur dan aktivitas pada interior kafe dengan persepsi visual terhadap interior kafe merupakan permasalahan yang berbeda tidak ada hubungan.

Hasil Uji T

Data Tabel 10 diperoleh nilai rata-rata pengunjung generasi digital sebesar 142,65 dan persepsi visual pengunjung generasi lainnya sebesar 120,75. Terdapat perbedaan rata-rata persepsi visual pengunjung antara generasi digital dan generasi lainnya sebesar 120,75. Pada Tabel 10, nilai signifikannya adalah 0,000 lebih kecil dari taraf sig. 0,05 maka H0 ditolak. Maka dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan pengunjung dilihat dari pengunjung generasi digital dan generasi lainnya.

Tabel 10. Hasil beda pengunjung generasi digital dengan generasi lainnya Generasi Digital Generasi Lainnya Perbedaan Sig

263.40 142,65 120,75 0,000

Sumber: Analisa data (2022)

Pengunjung generasi digital dengan generasi lainnya memiliki perbedaan. Nilai rata-rata pengunjung generasi digital sebesar 142,65 dan pengunjung generasi lainnya sebesar 120,75. Terdapat perbedaan rata-rata pengunjung antara generasi digital dan generasi lainnya sebesar 120,75. data tersebut menunjukkan bahwa

0 0,2 0,4 0,6 0,8 1 1,2

Warna furnitur pada interior

kafe

Karakteristik pengunjung

Koefisien Persepsi visual pengunjung Sig.

(9)

terdapat perbedaan pengunjung dilihat dari pengunjung generasi digital dan generasi lainnya. Perbedaan tersebut disebabkan oleh jumlah pengunjung generasi digital lebih banyak dari yang generasi lainnya. Hal tersebut terjadi disebabkan oleh karakteristik generasi digital yang sangat erat dengan teknologi seperti melakukan kegiatan yang sering terhubung dengan internet, sangat aktif dalam media sosial, menciptakan konten-konten lalu membagikannya kepada orang lain dan lain sebagainya. Hal tersebut memicu generasi digital menjadi tertarik dengan desain kafe yang menarik ataupun instagramable untuk dibuat konten lalu diunggah melalui media sosial. Selain itu dengan karakteristik yang bebas dan ekspresif, generasi digital juga lebih suka melakukan kegiatan dengan suasana yang tidak membosankan dan ingin memiliki waktu bersantai dengan nyaman. Contohnya seperti berkumpul dengan teman, belajar kelompok ataupun pertemuan dengan rekan. Oleh karena itu, kafe menjadi alternatif bagi mereka untuk melakukan kegiatan yang santai atau pun formal dengan suasana yang nyaman dan tidak membosankan.

4. Kesimpulan

Warna furnitur pada interior kafe memiliki pengaruh yang paling besar terhadap persepsi visual pengunjung dengan tingkat signifikan 0,000 < 0,05 dengan nilai koefisien 1,133. Artinya semakin baik desain interior terutama pada warna furnitur dimata pengunjung akan memberi persepsi visual yang baik kepada pengunjung sehingga meningkatkan minat pengunjung. Karakteristik pengunjung tidak berpengaruh terhadap persespi visual pengunjung dengan tingkat signifikan 0,422 > 0,05 dengan nilai koefisien 0,009. Hal tersebut terjadi karena umur dan aktivitas tidak mempengaruhi persepsi visual seseorang karena tidak ada batasan umur untuk seseorang mempersepsikan suatu visual serta aktivitas apapun yang dilakukan tidak mengubah persepsi visual seseorang. Artinya, pengunjung yang datang dari generasi apapun tidak mengubah persepsi visual terhadap warna furnitur.

5. Ucapan Terima Kasih

Penulis mengucapkan terima kasih kepada dosen pembimbing Armelia Dafrina dan Yenny Novianti, yang telah membantu dalam pelaksanaan penelitian ini dan terima kasih kepada Universitas Malikussaleh yang telah memberikan dukungan.

7. Daftar Pustaka

[1] Y. S. Putra, ‘Teori Perbedaan Generasi’, Among Makarti, vol. 9, no. 18, pp. 123–134, 2016.

[2] A. Bencsik, T. Juhász, and G. Horváth-Csikós, ‘Y and Z Generations at Workplaces’, J. Compet., vol.

6, no. 3, pp. 90–106, Sep. 2016.

[3] M. N. F. Abdullah and I. S. Suja’i, ‘Pengaruh Gaya Hidup Dan Media Sosial Terhadap Perilaku Konsumtif’, J. Pendidik. DEWANTARA Media Komunikasi, Kreasi dan Inov. Ilm. Pendidik., vol. 8, no.

2, pp. 72–84, 2022, doi: 10.55933/jpd.v8i2.402.

[4] E. B. Prastyo and Indrawati, ‘Persepsi Visual Pengunjung Caffe Terhadap Elemen Interior Bergaya Klasik di Sukoharjo’, Siar II 2021 Semin. Ilm. Arsit., pp. 213–221, 2021.

[5] M. Margawati, ‘Memahami Persepsi Visual : Sumbangan Psikologi Kognitif Dalam Seni dan Desain’, Fak. Seni Rupa dan Desain, Univ. Multimed. Nusant. Tangerang., vol. 05, no. 01, pp. 47–63, 2014, [Online]. Available: https://ejournals.umn.ac.id/index.php/FSD/article/view/387.

[6] A. T. B. Alkathiri and Y. Sari, ‘Pengaruh Warna Terhadap Produktivitas Karyawan Kantor’, J. Arsit.

Purwarupa, vol. 3, no. 3, pp. 187–192, 2019.

[7] T. A. Fitria, ‘Pengaruh Seting Ruang Terhadap Perilaku Pengguna Dengan Pendekatan Behavioral Mapping’, J. Arsit. dan Perenc., vol. 1, no. 2, pp. 183–206, 2018.

[8] J. K. Dhillon, N. Nadhilah, N. Veronica, and A. I. Widyani, ‘Pengaruh Elemen Interior terhadap Kenyamanan Pengunjung Kaitannya dengan Gaya Hidup Modern di Ardent Cofee Pesanggrahan Jakarta Barat’, Mezanin J. Ilmniah Desain Inter., vol. 1, no. 1, pp. 60–70, 2018.

[9] B. G. G. dan C. Erwindi, ‘Persepsi Visual dalam Rancangan Pusat Belanja Daring dan Luring’, J. Sains dan Seni ITS, vol. 8, no. 2, pp. 2337–3520, 2019.

[10] R. C. Permatasari and N. E. Nugraha, ‘Peranan Elemen Desain Interior Dalam Membentuk Atmosfer Ruang Tunggu CIP Lounge Bandara’, Dewa Ruci J. Pengkaj. dan Pencipta. Seni, vol. 15, no. 2, pp.

59–70, 2020, doi: 10.33153/dewaruci.v15i2.3027.

[11] A. A. Fathoni, S. D. Anggriani, and L. Indrawati, ‘Elemen Visual dan Respon Pengunjung Terhadap Interior Noch Kafe di Kota Malang’, J. Kaji. Seni, vol. 8, no. 2, p. 193, 2022, doi:

10.22146/jksks.73636.

(10)

[12] K. Trumansyahjaya, ‘Pemilihan Model Perabot Pada Ruang Dalam Rumah Tinggal Sederhana’, J.

Perad. Sains, Rekayasa dan Teknol., vol. 3, no. 2, pp. 174–180, 2020.

[13] D. A. N. Annisa and K. K. Lestari, ‘Pengaruh Pemilihan Jenis dan Warna Pencahayaan Pada Suasana Ruang Serta Kesan Pengunjung Kafe’, Sinektika J. Arsit., vol. 18, no. 1, pp. 78–84, 2021.

[14] S. Adiawaty, ‘Tantangan Perusahaan Mengelola Perbedaan Generasi Karyawan’, J. Manaj. bisnis, vol.

22, no. 3, pp. 376–382, 2019.

[15] W. Ramadhanti, D. R. S. Firdaus, and I. Trikusumaningtias, ‘Analisis Pertentangan Pandangan Antara Generasi X dengan Generasi Milineal tentang Budaya Populer’, J. Penelit. Sos. Ilmu Komun., vol. 5, no. 2, pp. 118–126, 2021, doi: 10.33751/jpsik.v5i2.4435.

[16] D. Lase and D. O. Daeli, ‘Pembelajaran Antargenerasi Untuk Masyarakat Berkelanjutan: Sebuah Kajian Literatur Dan Implikasi’, J. Ilm. Ilmu Sos., vol. 6, no. 2, p. 89, 2020, doi:

10.23887/jiis.v6i2.28138.

[17] Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan: Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, R&D. Bandung: CV Alfabeta, 2015.

Referensi

Dokumen terkait

Hasil nilai korelasi Spearman untuk pengujian non parametric terhadap dua variabel yaitu variabel karakteristik responden dengan ketiga indikator yang digunakan yaitu

Dalam penelitian ini responden yang menjadi sampel adalah mahasiswa yang aktif sebanyak seratus orang, dengan menggunakan kuesioner sebagai instrumen penelitian dan

Dalam penelitian ini responden yang menjadi sampel adalah mahasiswa yang aktif sebanyak seratus orang, dengan menggunakan kuesioner sebagai instrumen penelitian dan

Karakteristik identitas responden adalah gambaran dari seluruh populasi yang digunakan sebagai sampel dalam penelitian ini, data atau pun informasi yang diperoleh terkait

Pengambilan data dilakukan dengan melalui pengisian angket secara terhadap 110 responden berusia 13 hingga 32 tahun yang berdomisili di wilayah Jakarta, Bogor,

Warna lantai, dinding, dan plafon yang digunakan di dalam boutique Banana Republic adalah percampuran warna lembut dan warna gelap. Chijiiwa [4] berpendapat bahwa warna

Agar instrumen pengujian usabilitas ini dapat didistribusikan pada responden yang tepat, maka sebelumnya peneliti perlu melakukan pengambilan sampel sampling dari sejumlah populasi

KESIMPULAN Berdasarkan hasil pengolahan data penelitian dan pengujian data secara statistik yang telah dibahas, diperoleh hasil dari 300 responden, memiliki uji variabel website