• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH PERMAINAN OUTDOOR EDUCATION TERHADAP KETERAMPILAN MOTORIK KASAR ANAK TAMAN KANAK-KANAK.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "PENGARUH PERMAINAN OUTDOOR EDUCATION TERHADAP KETERAMPILAN MOTORIK KASAR ANAK TAMAN KANAK-KANAK."

Copied!
49
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH PERMAINAN OUTDOOR EDUCATION TERHADAP KETERAMPILAN MOTORIK KASAR ANAK TAMAN KANAK-KANAK

(Penelitian Pre Eksperimen Terhadap Anak Kelompok A TK Tunas Harapan Bandung

Tahun Ajaran 2013-2014)

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Sebagian dari Syarat untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini

oleh:

Mutiarani Nurhasanah 0801498

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU PENDIDIKAN ANAK USIA DINI

JURUSAN PEDAGOGIK

FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA

2013

(2)

PENGARUH PERMAINAN OUTDOOR EDUCATION TERHADAP KETERAMPILAN MOTORIK KASAR ANAK TAMAN KANAK-KANAK

Oleh

Mutiarani Nurhasanah

Sebuah skripsi yang diajukan untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana pada Fakultas Ilmu Pendidikan

© Mutiarani Nurhasanah 2013 Universitas Pendidikan Indonesia

Oktober 2013

Hak Cipta dilindungi undang-undang,

(3)
(4)
(5)

PENGARUH PERMAINAN OUTDOOR EDUCATION EDUCATION TERHADAP KETERAMPILAN MOTORIK KASAR ANAK TAMAN

KANAK-KANAK

(Penelitian Pre Eksperimen Terhadap Anak Kelompok A TK Tunas Harapan Bandung Tahun Ajaran 2013-2014)

Mutiarani Nurhasanah 0801498

ABSTRAK

Penelitian ini dilatar belakangi bahwa perkembangan motorik kasar pada setiap anak berbeda-beda. Faktor lingkungan serta kepribadian anak juga dapat mempengaruhi keterlambatan dalam perkembangan motorik kasar anak. Salah satu bentuk permainan untuk mengembangkan keterampilan motorik kasar adalah dengan permainan Outdoor Education. Berdasarkan hal tersebut penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Pengaruh permainan Outdoor Education terhadap keterampilan motorik kasar anak Taman Kanak-kanak. Dengan dirumuskan dalam pernyataan-pernyataan sebagai berikut: (1) Bagaimana kemampuan motorik kasar anak kelompok A TK Tunas Harapan Bandung sebelum diterapkan kegiatan permainan Outdoor Education? (2) Bagaimana kemampuan motorik kasar anak kelompok A TK Tunas Harapan Bandung setelah diterapkan kegiatan permainan Outdoor Education? (3) Seberapa besar pengaruh permainan Outdoor Education terhadap motorik kasar anak kelompok A TK Tunas Harapan Bandung setelah diterapkan kegiatan permainan Outdoor Education?

Metode yang digunakan dalam penelitian adalah pre eksperimen. Variabel bebas pada penelitian ini adalah permainan Outdoor Education, dan variabel terikat pada penelitian ini adalah keterampilan motorik kasar. Subjek penelitiannya, yaitu anak kelompok A di TK Tunas Harapan Bandung sebanyak 21 orang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata pre test di TK Tunas Harapan Bandung adalah 88,1429 dan post test nya adalah 123, 0952. Hal tersebut menyatakan bahwa rata-rata data pre test dan data post test adalah berbeda secara signifikan. Kesimpulannya Pengaruh Permainan Outdoor Education terhadap keterampilan motorik kasar anak Taman Kanak-kanak menunjukkan perbedaan yang signifikan meskipun peningkatannya tidak terlalu besar, tetapi tetap menunjukkan adanya pengaruh.

Berdasarkan hasil penelitian tersebut, disarankan para guru hendaknya memahami karakteristik anak, sehingga pembelajaran bisa dilaksanakan sesuai dengan kebutuhan anak dengan baik. Dan menyesuaikan metode pembelajaran yang cocok bagi anak terutama dalam pengembangan keterampilan motorik kasar, seperti metode demonstrasi dan lain sebagainya.

(6)

DAFTAR ISI

Halaman

ABSTRAK ... i

KATA PENGANTAR ... ii

UCAPAN TERIMAKASIH ... iii

DAFTAR ISI ... v

DAFTAR TABEL ... ix

DAFTAR GRAFIK ... x

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian ... 1

B. Rumusan Masalah ... 5

C. Tujuan Penelitian ... 5

D. Manfaat Penelitian ... 6

E. Metode Penelitian ... 6

F. Struktur Penelitian ... 7

BAB II KAJIAN TEORI TENTANG PERMAINAN OUTDOOR EDUCATION DAN KETERAMPILAN MOTORIK KASAR ANAK USIA DINI A. Permainan Outdoor Education ... 8

1. Konsep Bermain ... 8

2. Konsep Dasar Permainan ... 10

3. Tahap Perkembangan Permainan ... 11

4. Permainan Outdoor Education ... 13

B. Keterampilan Motorik Kasar ... 16

1. Konsep Dasar Keterampilan Motorik Kasar ... 16

a. Definisi Perkembangan Motorik ... 16

b. Jenis-jenis Motorik ... 17

2. Definisi Keterampilan Motorik Kasar ... 18

(7)

b. Kemampuan Non-lokomotor ………. 20

c. Kemampuan Manipulatif ………... 21

3. Faktor yang Mempengaruhi Keterampilan Motorik ... 22

4. Hal Penting dalam Mempelajari Keterampilan Motorik ... 23

5. Tahap Perkembangan Motorik Kasar ... 24

a. Perkembangan Motorik 0-2 Tahun ……….. ... 24

b. Perkembangan Motorik 3-5 Tahun ……… ... 25

6. Tujuan Pengembangan Motorik Kasar Anak ... 26

7. Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Motorik Kasar ... 27

C. Metode Pengembangan Peningkatan Kemampuan Motorik Kasar .... 28

D. Keterkaitan Outdoor Education dengan Peningkatan Kemampuan Motorik Kasar ... 29

E. Hasil Penelitian yang Relevan ... 30

BAB III METODE PENELITIAN A. Metode Penelitian ... 32

B. Variabel Penelitian ... 32

1. Variabel Bebas ………… ... 33

2. Variabel Terikat .. ... 33

C. Lokasi, Populasi, dan Sampel Penelitian ... 33

1. Lokasi .. ... 33

2. Populasi .. ... 33

3. Sampel .. ... 33

D. Definisi Operasional Variabel ... 34

1. Motorik Kasar .. ... 34

2. Permainan Outdoor Education .. ... 34

E. Instrument Penelitian ... 34

1. Instrument Penelitian .. ... 34

2. Kisi-kisi Instrumen .. ... 35

3. Analisis Instrumen .. ... 39

(8)

b. Validitas .. ... 39

c. Reliabilitas .. ... 42

F. Teknik Pengumpulan data ... 43

1. Observasi .. ... 43

2. Studi Dokumentasi .. ... 44

G. Teknik Analisis Data ... 44

1. Kemampuan Motorik Kasar Anak Sebelum dan Sesudah diterapkan kegiatan Permainan Outdoor Education ... 44

2. Pengujian Hipotesis ... 46

H. Teknik Penilaian ... 48

I. Prosedur Penelitian ... 56

1. Persiapan Penelitian ... 56

2. Pelaksanaan Penelitian ... 56

3. Menyusun Laporan Hasil Penelitian ... 57

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian ... 58

1. Kemampuan Motorik Kasar Anak Kelompok A TK Tunas Harapan Bandung Sebelum Penerapan Kegiatan Permainan Outdoor Education ... 58

2. Kemampuan Motorik Kasar Anak Kelompok A TK Tunas Harapan Bandung Setelah Penerapan Kegiatan Permainan Outdoor Education ... 61

3. Pengaruh Permainan Outdoor Education Terhadap Kemampuan Motorik Kasar Anak Setelah Diterapkan Kegiatan Permainan Outdoor Education ... 64

B. Pembahasan ... 67

(9)

2. Tingkat Kemampuan Motorik Kasar Anak Kelompok A TK Tunas Harapan Bandung Setelah Penerapan Kegiatan Permainan

Outdoor Education ... 70

3. Pengaruh Permainan Outdoor Education Terhadap Kemampuan Motorik Kasar Anak Setelah Diterapkan Kegiatan Permainan Outdoor Education ... 72

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan ... 74

B. Saran ... 75

DAFTAR PUSTAKA ... 77

(10)

DAFTAR TABEL

Tabel 3.1 Desain Pola Eksperimen Desain Penelitian ………. 32 Tabel 3.2 Kisi-Kisi Instrumen Sebelum Validasi….……… 35 Tabel 3.3 Kisi-Kisi Instrumen Setelah Validasi ……….. 36 Tabel 3.4 Pedoman Observasi Keterampilan Motorik………..………... 37 Tabel 3.5 Hasil Perhitungan Pengujian Validasi Item………. 41 Tabel 3.6 Pedoman untuk Memberikan Interpretasi Koefisen

Korelasi……….………...……… 43 Tabel 3.7 Kriteria Kemampuan Motorik Kasar Anak………... 46 Tabel 3.8 Keterangan Penilaian Kemampuan Motorik Kasar Anak….. 48 Tabel 4.1 Kemampuan Motorik Kasar Anak TK Tunas Harapan

Bandung Sebelum Penerapan Kegiatan Permainan

Outdoor Education... 59

Tabel 4.2 Aspek Kemampuan Motorik Kasar Anak TK Tunas

Harapan Bandung Sebelum Penerapan Kegiatan Permainan

Outdoor Education.………... 60 Tabel 4.3 Kemampuan Motorik Kasar Anak TK Tunas Harapan Bandung

Setelah Penerapan Kegiatan Permainan Outdoor

Education... 61 Tabel 4.4 Aspek Kemampuan Motorik Kasar Anak TK Tunas

Harapan Bandung Setelah Penerapan Kegiatan Permainan Outdoor Education...………... 63 Tabel 4.5 Uji Normalitas Data Kemampuan Motorik Kasar Anak……... 64 Tabel 4.6 Hasil Uji t Berpasangan Pre-Post Test Data Kemampuan Motorik

(11)

DAFTAR GRAFIK

Grafik 4.1 Kemampuan Motorik Kasar Anak TK Tunas Harapan Bandung Sebelum Penerapan Kegiatan Permainan Outdoor

Education……….………. 59

Grafik 4.2 Aspek Kemampuan Motorik Kasar Anak TK Tunas Harapan Bandung Sebelum Penerapan Kegiatan Permainan

Outdoor Education ………. 61 Grafik 4.3 Kemampuan Motorik Kasar Anak TK Tunas Harapan Bandung

Setelah Penerapan Kegiatan Permainan Outdoor

Education... 62 Grafik 4.4 Aspek Kemampuan Motorik Kasar Anak TK Tunas Harapan

Bandung Setelah Penerapan Kegiatan Permainan

Outdoor Education………. 64 Grafik 4.5 Rata-Rata Kemampuan Motorik Kasar Anak TK Tunas Harapan

Bandung Sebelum dan Setelah Penerapan Kegiatan Permainan Outdoor Education ………. 66 Grafik 4.6 Rata-Rata Aspek Kemampuan Motorik Kasar Anak TK Tunas

(12)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Penelitian

Undang-undang tentang sistem pendidikan nasional menyatakan bahwa pendidikan anak usia dini adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut (UU Nomor 20 Tahun 2003 Bab I Pasal 1 Ayat 14).

Anak usia dini adalah anak yang baru dilahirkan sampai usia 6 tahun. Usia ini merupakan usia yang sangat menentukan dalam pembentukan karakter dan kepribadian anak (Yuliani Nurani Sujiono, 2009: 7). Usia dini merupakan usia di mana anak mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang pesat. Usia dini disebut sebagai usia emas (golden age). Makanan yang bergizi yang seimbang serta stimulasi yang intensif sangat dibutuhkan untuk pertumbuhan dan perkembangan tersebut.

Pendidikan anak usia dini (PAUD) juga diartikan sebagai jenjang pendidikan sebelum jenjang pendidikan dasar yang merupakan suatu upaya pembinaan yang ditujukan bagi anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut, yang diselenggarakan pada jalur formal, nonformal, dan informal.

(13)

Dalam pasal 28 ayat 3 Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional dinyatakan bahwa pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan formal berbentuk Taman Kanak-kanak (TK), Raudathul Athfal, atau bentuk lain yang sederajat.

Taman kanak-kanak atau disingkat TK adalah jenjang pendidikan anak usia dini (yakni usia 6 tahun atau di bawahnya) dalam bentuk pendidikan formal.

Kurikulum TK ditekankan pada pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.

(14)

untuk melakukan kegiatan berbahaya bertambah. Anak pada masa ini menyenangi kegiatan lomba, seperti balapan sepeda, balapan lari atau kegiatan lainnya yang mengandung bahaya.

Dalam perkembangan anak, Keterampilan Motorik Kasar biasanya lebih dahulu berkembang dibandingkan dengan motorik halus. Hal ini dapat terlihat saat anak sudah mulai dapat berjalan dengan menggunakan otot-otot kakinya, kemudian anak baru mampu mengontrol tangan dan jari-jarinya untuk menggambar dan menggunting. Keterampilan motorik halus pada umumnya membutuhkan waktu yang relatif lama dalam penyesuaiannya. Hal ini merupakan suatu proses bagi anak untuk mencapainya.

Pada hakikatnya, semua anak memiliki Keterampilan Motorik Kasar, namun dalam tingkatan yang bervariasi. Sebagian anak memiliki Keterampilan Motorik Kasar yang baik, namun terdapat juga anak yang mengalami hambatan dalam perkembanagn motorik kasar sehingga lebih lambat dibandingkan dengan anak yang lainnya. Perkembangan motorik yang lambat dapat disebabkan oleh beberapa hal. Salah satu penyebab gangguan perkembangan motorik adalah kelainan tonus otot atau penyakit neuromuskular. Anak dengan serebral palsi dapat mengalami keterbatasan perkembangan motorik sebagai akibat spastisitas, athetosis, ataksia, atau hipotonia. Kelainan sumsum tulang belakang seperti spina bifida juga dapat menyebabkan keterlambatan perkembangan motorik. Penyakit neuromuscular sepeti muscular distrofi memperlihatkan keterlambatan dalam kemampuan berjalan. Namun, tidak selamanya gangguan perkembangan motorik selalu didasari adanya penyakit tersebut. Faktor lingkungan serta kepribadian anak juga dapat mempengaruhi keterlambatan dalam perkembangan motorik. Anak yang tidak mempunyai kesempatan untuk belajar seperti sering digendong atau diletakkan di baby walker dapat mengalami keterlambatan dalam mencapai kemampuan motorik.

(15)

Banyak pendekatan yang dapat mendukung pengembangan aspek motorik kasar anak di sekolah, salah satunya dengan bermain. Bermain dapat digunakan sebagai media untuk meningkatkan keterampilan dan kemampuan tertentu pada anak. Istilah bermain diartikan sebagai suatu kegiatan yang dilakukan dengan mempergunakan atau tanpa mempergunakan alat yang menghasilkan pengertian, memberikan informasi, memberikan kesenangan, dan dapat mengembangkan imajinasi anak.

Bermain menurut Mulyadi, (Mariani, 2008) secara umum sering dikaitkan dengan kegiatan anak-anak yang dilakukan secara spontan. Dengan bermain anak memiliki kemampuan untuk memahami konsep secara ilmiah, tanpa paksaan. Banyak konsep dasar yang dapat dipelajari anak memalui aktivitas bemain. Pada usia prasekolah, anak perlu menguasai berbagai konsep dasar tentang warna, ukuran, bentuk, arah, besaran, dan sebagainya. Konsep dasar ini akan lebih mudah diperoleh anak melalui kegiatan bermain.

Berdasarkan sumber kegembiraannya bermain di bagi menjadi dua, yaitu bermain aktif dan bermain pasif. Sedangkan jika ditinjau dari aktivitasnya, bermain dapat dibagi menjadi empat, yaitu bermain fisik, bermain kreatif, bermain imajinatif, dan bermain manipulatif. Jenis bermain tersebut juga merupakan ciri bermain pada anak usia pra sekolah dengan menekankan permainan dengan alat (balok, bola, dan sebagainya) dan drama.

(16)

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, maka peneliti memfokuskan kajian dengan judul “Pengaruh Permainan Outdoor Education Terhadap Keterampilan Motorik Kasar Anak Taman Kanak-kanak”.

B. Rumusan Masalah

Rumusan masalah dalam penelitian ini dituangkan ke dalam pertanyaan penelitian sebagai berikut:

1. Bagaimana kemampuan motorik kasar anak kelompok A TK Tunas Harapan Bandung sebelum diterapkan kegiatan permainan outdoor education?

2. Bagaimana kemampuan motorik kasar anak kelompok A TK Tunas Harapan Bandung setelah diterapkan kegiatan permainan outdoor education?

3. Seberapa besar pengaruh permainan outdoor education terhadap motorik kasar anak kelompok A TK Tunas Harapan Bandung setelah diterapkan kegiatan permainan outdoor education?

C. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Mengetahui kemampuan motorik kasar anak kelompok A TK Tunas Harapan Bandung sebelum diterapkan kegiatan permainan outdoor education.

2. Mengetahui kemampuan motorik kasar anak kelompok A TK Tunas Harapan Bandung setelah diterapkan kegiatan permainan outdoor education.

(17)

D. Manfaat Penelitian

Manfaat penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Untuk anak

a. Membantu anak untuk mengembangkan motorik kasarnya agar dapat berkembang dengan baik.

b. Membantu anak untuk memudahkan ketika diminta untuk berlari, melompat, menendang, dll.

c. Membantu anak agar dapat bersosialisasi dengan teman sebayanya ketika bermain.

2. Untuk guru

a Membantu guru untuk meningkatkan kemampuan motorik anak dengan kegiatan yang menarik bagi anak.

b Membantu guru untuk lebih kreatif dalam merancang kegiatan untuk meningkatkan kemampuan motorik anak kelompok A. c Membantu guru untuk memodifikasi permainan yang sering

dimainkan dan digemari anak sesuai dengan perkembangan anak.

3. Untuk sekolah

a Membantu pihak sekolah sebagai rekomendasi kegiatan belajar mengajar dalam suatu tema untuk meningkatkan motorik kasar anak.

b. Membantu pihak sekolah agar dapat meningkatkan kualitas para pendidik dari kreativitasnya.

E. Metode Penelitian

(18)

F. Struktur Penulisan

Adapun sistemtika dalam penulisan skripsi ini dibagi dalam lima BAB yang rangkuman pembahasannya sebagai berikut :

BAB I PENDAHULUAN

Bab ini berisikan pendahuluan dengan sub judul; latar belakang penulisan penelitian yg berjudulkan “Pengaruh Permainan Outdoor education terhadap Keterampilan Motorik Kasar Anak Taman

Kanak-kanak”, rumusan masalah, tujuan penelitian, metode penelitian, manfaat penelitian, dan struktur penulisan penelitian.

BAB II KAJIAN TEORI

Bab ini membahas kajian pustaka antara lain argumen dan opini peneliti mengenai outdoor education dan motorik kasar yang didukung oleh teori dasar dari para ahli. Subjudul pada bab ini yaitu; Konsep bermain dan permainan outdoor education, keterampilan motorik kasar, metode pengembangan peningkatan kemampuan motorik kasar, keterkaitan outdoor education dengan peningkatan kemampuan motorik kasar, hasil penelitian yang relevan.

BAB III METODE PENELITIAN

Bab ini membahas tentang metode penelitian yang digunakan untuk melalukan penelitian, yakni metode penelitian Pre-Eksperimen.

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Bab ini berisi tentang hasil penelitian dan pembahasan.

BAB V PENUTUP

(19)

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Desain Penelitian

Desain penelitian pada dasarnya merupakan cara ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu. Metode yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah pre-ekperimen yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat. Desain penelitian pre-eksperimen ini dilakukan dua kali observasi sebelum dan sesudah eksperimen. Observasi yang dilakukan sebelum eksperimen disebut pre-test (O1), sedangkan observasi sesudah eksperimen disebut post-test (O2). Perbedaan antara O1 dan O2, yakni O1–O2 diasumsikan merupakan efek treatment atau eksperimen.

Adapun pola penelitian ini adalah sebagai berikut : Tabel 3.1

Desain Pola Eksperimen Desain Penelitian

Pre-Test Treatment Post-Test

O1 X O2

(Arikunto, 2006:85) Keterangan :

O1 : Pre-test sebelum diberikan perlakuan

X : Perlakuan, dalam hal ini penerapan permainan outdoor education O2 : Post-test sesudah diberikan perlakuan

B. Variabel Penelitian

(20)

Dalam penelitian ini ditetapkan dua variabel yaitu: 1. Variabel Bebas

Variabel bebas (independen) adalah variabel yang mempengaruhi atau yang menjadi sebab perubahannya atau timbulnya variabel dependen (terikat) (Sugiyono, 2008). Variabel bebasnya adalah permainan outdoor education yang disebut sebagai suatu perlakuan atau treatment.

2. Variabel Terikat

Variabel terikat (dependen) adalah variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat karena adanya variabel bebas (Sugiyono, 2008). Variabel terikat dalam penelitian ini adalah keterampilan motorik kasar anak usia dini

C. Lokasi, Populasi, dan Sampel Penelitian

Lokasi, populasi, dan sampel dalam penelitian ini yaitu sebagai berikut : 1. Lokasi

Penelitian ini dilaksanakan di TK Tunas Harapan beralamat jalan Sukagalih Gg. H.Gojali Rt 02/07, kelurahan Cipedes, kecamatan Sukajadi, kota Bandung, provinsi Jawa Barat.

2. Populasi

Populasi adalah keseluruhan objek yang menjadi pusat perhatian penelitian dan tempat untuk mengeneralisasi temuan penelitian (Sandjaja, 2006:180). Sejalan dengan pernyataan tersebut, Sujiono (2005) menambahkan. ‘Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas objek/subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk mempelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya.’

Berdasarkan uraian teori di atas, maka populasi dalam penelitian ini adalah seluruh kelas A di TK Tunas Harapan.

3. Sampel

(21)

tidak memberikan peluang pada setiap anggota populasi untuk dijadikan anggota sampel (Sugiyono, 2008). Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah sampling jenuh, hal tersebut dikarenakan semua anggota populasi digunakkan sebagai sampel karena jumlah populasi yang terbatas. Karena jumlah anak kelompok A di TK Tunas Harapan hanya ada satu kelas, maka sampel dalam penelitian ini adalah kelompok A yang berjumlah 21 orang anak.

D. Definisi Operasional Variabel 1. Motorik Kasar

Motorik kasar adalah gerakan tubuh yang menggunakan otot-otot besar atau sebagian besar atau seluruh anggota tubuh yang dipengaruhi oleh kematangan anak itu sendiri. Motorik kasar yang dimaksud dalam penelitian ini meliputi kemampuan lokomotor (berjalan, berlari, meloncat, merayap, merangkak), nonlokomotor (membungkuk, merentang, memutar, mengayun), manipulatif (melempar, menangkap, menendang). (Kostelnik, 1993)

2. Permainan Outdoor Education

Outdoor education adalah outdoor education activities adalah kegiatan di

alam bebas atau kegiatan di luar kelas dan mempunyai sifat menyenangkan, karena bisa melihat, menikmati, mengagumi dan belajar mengenai ciptaan Tuhan Yang Maha Kuasa yang terbentang di alam, yang dapat disajikan dalam bentuk permainan, observasi atau pengamatan, simulasi, diskusi, dan petualangan sebagai media penyampaian materi (Indramunawar, 2009:12). Permainan Outdoor education dalam penelitian ini adalah permainan yang memanfaatkan media yang

sudah ada di lingkungan sekolah, antara lain: permainan jembatan melengkung, papan titian, jalan kepiting, estafet bendera, mencari kotak, bola tangan, dan sepakbola.

E. Instrumen Penelitian 1. Instrumen Penelitian

(22)

sistematis dan dipermudah olehnya (Arikunto, 2007:101). Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah pedoman observasi berbentuk skala likert dan dokumentasi.

2. Kisi-kisi Instrumen

Kisi-kisi adalah sebuah tabel menunjukkan hubungan antara hal-hal yang disebutkan dalam baris dengan hal-hal yang disebutkan dalam kolom. Sesuai dengan permasalahan yang akan diteliti kisi-kisi ini dibuat untuk memberikan gambaran mengenai pengaruh permainan outdoor education terhadap motorik kasar anak taman kanak-kanak. (Arikunto, 2002:138), adapun kisi-kisi instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

Table 3.2

Kisi-Kisi Instrumen Sebelum Validasi

Variabel Sub Variabel Indikator Butir

Item

(23)

Variabel Sub Variabel Indikator Butir

3. Manipulatif a. Melempar 28, 29, 30 Observasi, Studi

Kisi-Kisi Instrumen Setelah Validasi

Variabel Sub Variabel Indikator Butir

Item

(24)

Variabel Sub Variabel Indikator Butir

3. Manipulatif a. Melempar 25, 26, 27 Observasi, Studi

Dokumentasi

Anak

b. Menangkap 28 Observasi, Studi

Pedoman Observasi Keterampilan Motorik

Butir Item Skala

1 2 3 4 5

1) Anak dapat berjalan maju 2) Anak dapat berjalan mundur 3) Anak dapat berjinjit ke depan 4) Anak dapat berjinjit ke belakang 5) Anak dapat berjalan jigjag

6) Anak dapat berjalan ke samping kanan 7) Anak dapat berjalan ke samping kiri 8) Anak dapat berjalan di tempat 9) Anak dapat berlari di tempat 10)Anak dapat berlari ke depan

(25)

Butir Item Skala

1 2 3 4 5

13)Anak dapat meloncat dengan dua kaki dan mendarat dengan dua kaki

14)Anak dapat meloncat dengan dua kaki dan mendarat dengan satu kaki

15)Anak dapat merayap ke depan 16)Anak dapat merangkak ke depan 17)Anak dapat membungkukkan badan 90˚ 18)Anak dapat merentangkan kedua tangan

19)Anak dapat memutarkan badan 20)Anak dapat memutarkan tangan

21)Anak dapat memutarkan pergelangan kaki 22)Anak dapat mengayunkan kedua tangan 23)Anak dapat mengayunkan tangan kanan 24)Anak dapat mengayunkan tangan kiri

25)Anak dapat melempar benda dengan tangan kanan 26)Anak dapat melempar dengan tangan kiri

27)Anak dapat melempar dengan ke dua tangan 28)Anak dapat menangkap objek ringan bola dengan

kedua tangan

29)Anak dapat menendang bola ke arah depan 30)Anak dapat menendang bola ke samping kanan 31)Anak dapat menendang bola ke samping kiri

Sumber: Beaty. J (1994); Kostelnik. M.K(1991) Keterangan:

1 Sangat Kurang 2 Kurang

(26)

3. Analisis Instrumen

Analisis instrumen dalam penelitian ini dilakukan melalui beberapa tahapan antara lain sebagai berikut:

a. Uji coba

Sebelum menggunakan instrumen penelitian, instrumen tersebut diuji coba terlebih dahulu. Uji coba ini dilakukan di Taman Kanak-kanak yang mempunyai karakteristik, kurikulum yang sama.

Instrumen yang diuji cobakan berjumlah dua puluh satu item. Setelah dilakukan uji coba, kemudian dilakukan penyeleksian item dengan cara melihat nilai validitas hasil instrumen. Instrumen yang baik haruslah memenuhi dua persyaratan penting yaitu validitas dan reliabilitas (Arikunto, 2006).

b. Validitas

Validitas adalah keadaan yang menggambarkan tingkat instrumen yang bersangkutan mampu mengukur apa yang akan diukur (Arikunto, 2006). Penilaian validitas dilakukan dengan membandingkan atau mengkorelasikan antara hal yang dinilai dengan kriterianya.

Pada pengujian alat ukur penggunaan penelitian dapat menunjukkan seberapa besar alat untuk penelitian mampu mengukur variabel yang terdapat dalam suatu penelitian. Dengan kata lain, validitas merupakan suatu ukuran yang dapat menunjukkan tingkatan akurasi suatu alat ukur. Suatu alat akur yang salah memiliki validitas rendah, begitupun sebaliknya.

Terdapat dua cara dalam pengujian validitas (Sugiyono, 2008) yaitu: 1) Validitas Isi (Content Validity)

Untuk menguji validitas isi, digunakan pendapat dari ahli (judgement expert). Yaitu berdasarkan aspek-aspek yang akan diukur berlandaskan

(27)

2) Validitas Item (Item Validity)

Setelah dilakukan judgement oleh para ahli, maka instrument tersebut divalidasi item dengan cara diujicobakan. Dalam menguji validitas item, maka dapat dilakukan dengan membandingkan antara isi instrumen dengan materi yang telah diajarkan. Pada setiap instrument baik tes maupun non tes terdapat butir-butir (item) pertanyaan atau pernyataan.

Uji validitas dimaksudkan untuk mengetahui tingkat kevalidan atau kebenaran ítem-item soal dalam suatu instrumen sehingga layak digunakan untuk mengukur apa yang diinginkan serta dapat mengungkapkan data dari variabel yang diteliti secara tepat.

Menurut Aderson (Arikunto, 2006) menyatakan bahwa suatu tes dikatakan valid apabila tes tersebut mengukur apa yang hendak diukur. Pada penelitian ini, uji validitas dilakukan dengan tahapan sebagai berikut :

a) Menghitung koefisien korelasi product moment/ r hitung (r xy), dengan menggunakan rumus sebagai berikut :

(Arikunto, 2006:110)

Keterangan:

rxy = Koefisien korelasi antara variabel X dan variabel Y X = Item soal yang dicari validitasnya

Y = Skor total yang diperoleh sampel N = Jumlah sampel

b) Proses Pengambilan keputusan

Pengambilan keputusan didasarkan pada uji hipotesa dengan kriteria sebagai berikut:

 Jika r hitung positif dan r hitung ≥ 0,3 maka butir soal valid

(28)

Menurut Masrun dalam (Sugiyono 2008) menyatakan bahwa item yang dipilih (valid) adalah yang memiliki tingkat korelasi ≥ 0,3, jadi semakin tinggi validitas suatu alat ukur, maka alat ukur tersebut semakin mengenai sasarannya atau semakin menunjukkan apa yang seharusnya diukur.

Untuk lebih jelas tentang uji validitas item data, berikut disajikan hasil rekapituasi uji validitas kemampuan motorik kasar anak dengan menggunakan program Ms. Excel 2007 sebagai berikut:

Tabel 3.5

Hasil Perhitungan Pengujian Validasi Item

No r

Hitung r Tabel Kriteria No r

Hitung r Tabel Kriteria

1 0.49 0.30 Valid 19 0.43 0.30 Valid

2 0.55 0.30 Valid 20 0.34 0.30 Valid

3 0.49 0.30 Valid 21 0.34 0.30 Valid

4 0.34 0.30 Valid 22 0.42 0.30 Valid

5 0.34 0.30 Valid 23 0.34 0.30 Valid

6 0.42 0.30 Valid 24 0.70 0.30 Valid

7 0.43 0.30 Valid 25 0.55 0.30 Valid

8 0.34 0.30 Valid 26 0.34 0.30 Valid

9 0.46 0.30 Valid 27 0.64 0.30 Valid

10 0.34 0.30 Valid 28 0.34 0.30 Valid 11 0.49 0.30 Valid 29 0.61 0.30 Valid 12 0.37 0.30 Valid 30 0.49 0.30 Valid 13 0.23 0.30 Tidak Valid 31 0.55 0.30 Valid 14 0.25 0.30 Tidak Valid 32 0.27 0.30 Tidak Valid 15 0.46 0.30 Valid 33 0.23 0.30 Tidak Valid 16 0.55 0.30 Valid 34 0.43 0.30 Valid 17 0.21 0.30 Tidak Valid 35 0.43 0.30 Valid 18 0.47 0.30 Valid 36 0.47 0.30 Valid

(29)

c. Reliabilitas

Reliabilitas menunjuk pada suatu pengertian bahwa suatu instrumen cukup dapat dipercaya untuk digunakan sebagai alat pengumpul data karena instrumen tersebut sudah baik. Artinya kapanpun alat pengumpul data tersebut digunakan akan memberikan hasil ukur yang sama (Arikunto, 2006).

Uji reliabilitas bertujuan untuk mengetahui tingkat efektifitas suatu instrumen penelitian. Suatu instrumen dikatakan reliabel jika cukup dapat dipercaya untuk digunakan sebagai alat pengumpul data karena instrumen tersebut sudah baik, tidak bersifat tendesius, datanya memang benar sesuai dengan kenyataannya hingga berapa kali pun diambil, hasilnya akan tetap sama. Rumus yang digunakan untuk uji reliabilitas adalah rumus alpha dari Cronbach sebagai berikut:

Pertama, menghitung nilai reliabilitas atau r hitung (r11) dengan menggunakan rumus berikut.

11= �−1 1− ��

2

��2 Keterangan :

�11 = Reabilitas tes yang dicari

��2 = jumlah varians skor tiap-tiap item

2 = varians total

n = banyaknya soal

Kedua, mencari varians semua item menggunakan rumus berikut.

�2 = �

2 � 2

(Arikunto, 2002 : 109) Keterangan :

∑x = Jumlah skor ∑x2

(30)

Setelah uji validasi butir soal/item dari variabel kemampuan motorik kasar anak, maka langkah selanjutnya adalah menguji apakah butir soal tersebut reliabel, untuk mengetahuinya peneliti menggunakan bantuan perhitungan program Ms Excel 2007 dan diperoleh sebagai berikut:

Jumlah varian (δi) = 3,27 Varian Total (δt) = 20,98

Reliabilitas = 0,87 (Sangat Tinggi)

Titik tolak ukur koefisien reliabilitas digunakan pedoman koefisien korelasi dari Sugiyono (2008:184) yang disajikan pada tabel berikut.

Tabel 3.6

Pedoman untuk Memberikan Interpretasi Koefisen Korelasi

Interval Koefisien Tingkat Hubungan 0,00 – 0,199

0,20 – 0,399 0,40 – 0,599 0,60 - 0,799 0,80 – 1,000

Sangat rendah Rendah Sedang Tinggi Sangat Tinggi

Merujuk pada tabel interpretasi nilai koefisien korelasi, maka reliabilitas instrument ini dinyatakan sangat tinggi, karena 0,87 berada diantara 0,80-1,00. dengan kata lain, instrumen ini dapat digunakan untuk penelitian.

F. Teknik Pengumpulan data

Adapun teknik pengumpulan data yang akan digunakan pada penelitian ini antara lain:

1. Observasi

Teknik observasi yang digunakan dalam penelitian ini mengunakan teknik observasi terstuktur. Sugiyono (2008:146) mengemukakan bahwa observasi terstuktur adalah observasi yang telah dirancang secara sistematis, tentang apa yang akan diamati, kapan dan dimana tempatnya. Dengan format penilaian mengunakan alat obsevasi berbentuk skala likert.

(31)

education guna melihat apakah ada pengaruh terhadap keterampilan motorik kasar

anak di TK Tunas Harapan. 2. Studi dokumentasi

Studi dokumentasi merupakan suatu teknik pengumpulan data dengan menghimpun dan menganalisis dokumen-dokumen, baik dokumen tertulis, gambar maupun elektronik.

Studi dokumentasi digunakan karena dapat memberikan gambaran yang jelas mengenai pokok penelitian berupa proses dan hasil yang dicapai dari penerapan permainan outdoor education yang berpengaruh terhadap keterampilan motorik kasar anak TK Tunas Harapan. Studi dokumentasi digunakan untuk mempertegas bagaimana proses pelaksanaan permaian outdoor education pada saat kegiatan berlangsung.

G. Teknik Analisis Data

1. Kemampuan motorik kasar anak sebelum dan sesudah diterapkan kegiatan permainan outdoor education.

Langkah-langkah dalam membuat kemampuan motorik kasar anak sebelum dan setelah penerapan kegiatan permainan outdoor education adalah sebagai berikut:

a. Menentukan skor maksimal ideal yang diperoleh sampel: Skor maksimal ideal = jumlah soal x skor tertinggi

Aspek Skor Maksimal Ideal

Keseluruhan = 31 x 5 = 155

Aspek 1 = 16 x 5 = 80

Aspek 2 = 8 x 5 = 40

(32)

b. Menentukan skor minimal ideal yang diperoleh sampel: Skor minimal ideal = jumlah skor x skor terendah

Aspek Skor Minimal Ideal

Keseluruhan = 31 x 1 = 31 Aspek 1 = 16 x 1 = 16 Aspek 2 = 8 x 1 = 8 Aspek 3 = 7 x 1 = 7

c. Mencari rentang skor ideal yang diperoleh sampel: Rentang skor = skor maksimal ideal – skor minimal ideal

Aspek Rentang Skor

Keseluruhan = 155 - 31 = 124 Aspek 1 = 80 - 16 = 64 Aspek 2 = 40 - 8 = 32 Aspek 3 = 35 - 7 = 28

d. Mencari interval skor:

Interval skor = rentang skor / 5

Aspek Interval Skor

(33)

Berdasarkan langkah-langkah di atas, kemudian didapat kriteria sebagai berikut:

Tabel 3.7

Kriteria Kemampuan Motorik Kasar Anak

Aspek Kriteria Interval

Keseluruhan

Sangat Tinggi 130.3 - 155.0 Tinggi 105.5 - 130.2 Sedang 80.7 - 105.4 Rendah 55.9 - 80.6 Sangat Rendah 31.0 - 55.8

Aspek 1

Sangat Tinggi 67.3 - 80.0 Tinggi 54.5 - 67.2 Sedang 41.7 - 54.4 Rendah 28.9 - 41.6 Sangat Rendah 16.0 - 28.8

Aspek 2

Sangat Tinggi 33.7 - 40.0 Tinggi 27.3 - 33.6 Sedang 20.9 - 27.2 Rendah 14.5 - 20.8 Sangat Rendah 8.0 - 14.4

Aspek 3

Sangat Tinggi 29.5 - 35.0 Tinggi 23.9 - 29.4 Sedang 18.3 - 23.8 Rendah 12.7 - 18.2 Sangat Rendah 7.0 - 12.6

2. Pengujian Hipotesis

Sebelum pengujian hipotesis dilakukan, dilakukan uji normalitas dengan menggunakan statistik uji Z Kolmogrov-Smirnov (p > 0,05) dengan menggunakan bantuan SPSS 18.0. Pengujian pengaruh permainan outdoor education terhadap kemampuan motorik kasar anak dilakukan dengan uji t berpasangan (paired sample t test) dengan tahapan sebagai berikut:

a. Hipotesis Ho : µ1 = µ2

(34)

Ho : µ1≠µ2

Terdapat perbedaan kemampuan motorik kasar anak sebelum dan setelah penerapan permainan outdoor education.

b. Dasar pengambilan keputusan

Pengambilan keputusan dilakukan dengan dua cara, yaitu membandingkan nilai t hitung dengan t tabel atau dengan membandingkan nilai probabilitas yang diperoleh dengan α = 0,05.

Jika pengambilan keputusannya berdasarkan nilai t hitung maka kriterianya adalah Ho diterima jika – t 1–½ α < t hitung < t 1–½ α, dimana t 1–½ α

didapat dari daftar tabel t dengan dk = (n1 + n2 – 1) dan peluang 1- ½ α. Untuk harga-harga t lainnya Ho ditolak.

Jika pengambilan keputusannya berdasarkan angka probabilitas (nilai p), maka kriterianya adalah:

1) Jika nilai p < 0,05, maka Ho ditolak 2) Jika nilai p > 0,05, maka Ho diterima c. Mencari t hitung

Tahapan mencari t hitung adalah sebagai berikut: 1) Menghitung selisih (d), yaitu data pretest – data posttest. 2) Menghitung total d, lalu mencari mean d.

3) Menghitung d – (d rata-rata), kemudian mengkuadratkan selisih tersebut, dan menghitung total kuadrat selisih tersebut.

4) Mencari Sd2, dengan rumus:

Sd2 = 1

�−1 x [total (d – d rata-rata)

2 ]

5) Mencari t hitung dengan rumus:

t hitung = � �� � Keterangan:

� : rata-rata d Sd : Standar deviasi

(35)

H. Teknik Penilaian

Teknik penilaian yang digunakan untuk mengolah hasil tes adalah dengan cara memberikan skor dengan skala likert. Arikunto (2006:101) mengemukakan bahwa rating atau skala bertingkat adalah suatu ukuran subjektif yang dibuat berskala. Skala likert disini merupakan data mentah yang diperoleh berupa angka kemudian ditafsirkan dalam pengertian kualitatif. Skala yang digunakan adalah skala nilai dengan menggunakan kategori nilai 1, 2, 3, 4, dan 5. Adapun rincian penilaian adalah sebagai berikut :

Tabel 3.8

Keterangan Penilaian Kemampuan Motorik Kasar Anak

Indikator Definisi Kategori Deskripsi

a. Berjalan Berjalan

2 Berjalan dengan sikap yang belum benar diantaranya mengayunkan tungkai kaki dan lengan secara bersamaan, pundak membungkuk, sedangkan pinggul di dorong kedepan (tidak tegak, dan gagal untuk menekuk pergelangan kaki, lutut, atau pinggul, sehingga gerakan terlihat kaku).

3 Berjalan dengan sikap yang cukup benar namun terkadang masih melakukan suatu kesalahan seperti mengayunkan lengan dengan tungkai kaki yang seisi secara bersamaan

4 Berjalan dengan sikap yang benar, namun melakukan sedikit kesalahan gerak

5 Terlihat mudah melakukan gerakan berjalan, langkah sudah berirama dan pemindahan berat badan sudah lancar dan halus b. Berlari Berlari merupakan

(36)

Indikator Definisi Kategori Deskripsi landasannya (fase

melayang) dari salah satu kaki.

menyentuhkan tumit terlebih dahulu, berlari dengan ujung kaki mengarah keluar, ayunan tangan belum mengarah ke depan, dan kepala ditarik ke belakang terlalu jauh

3 Berlari dengan sikap yang cukup benar namun terkadang melakukan suatu kesalahan seperti tidak mencondongkan badan ketika berlari

4 Berlari dengan sikap yang benar, namun melakukan sedikit kesalahan gerak

5 Berlari dengan posisi badan lurus dan kepala tegak dengan sedikit condong ke depan, ujung jari kaki lurus ke depan, ayunan kaki seirama, badan terlihat relaks, bengkokkan lutut sudah tepat dan membengkokkan pinggul, lutut, dan pergelangan kaki saat gerakkan menolak, tidak mengayunkan kedua lengan ke depan atau ke atas secara bersamaan dengan saat menolak, tidak meluruskan kaki saat meloncat, badan bagian atas condong, sikap badan terlalu ditegakkan, mendarat dengan seluruh telapak kaki, kedua kaki terlalu rapat, lutut kaku, dan kepala menunduk saat mendarat 3 Meloncat dengan sikap yang

(37)

Indikator Definisi Kategori Deskripsi

benar, namun melakukan sedikit kesalahan gerak

5 Meloncat dengan sikap sempurna seperti membengkokkan pinggul, lutut, dan pergelangan kaki saat gerakkan menolak, mengayunkan kedua lengan ke depan atau ke atas secara bersamaan dengan saat menolak, meluruskan kaki saat meloncat, badan bagian atas condong, sikap badan flexibel, mendarat dengan seluruh telapak kaki, kedua kaki tidak terlalu rapat, lutut lentur dan tidak kaku, dan kepala diangkat saat mendarat

d. Merayap Merayap benar, namun melakukan sedikit kesalahan gerak

5 Merayap dengan sikap yang sempurna

e. Merangkak Merangkak ialah suatu gerakan benar, namun melakukan sedikit kesalahan gerak

5 Merangkak dengan sikap yang sempurna

(38)

Indikator Definisi Kategori Deskripsi fleksibilitas atau

keleluasaan gerak pada sendi.

(menekankan pada gerakan yang cenderung terputus-putus, kasar dan mengehentak), belum mampu membungkuk badan sesuai dengan keleluasan sendi, dan kehilangan keseimbangan saat membungkuk

3 Membungkuk dengan sikap cukup benar namun masih melakukan suatu kesalahan seperti belum mampu membungkuk badan sesuai dengan keleluasan sendi 4 Membungkuk dengan sikap yang

benar, namun melakukan sedikit kesalahan gerak

5 Membungkuk dengan sikap sempurna diantaranya

membungkuk dengan

menekankan gerakan yang lembut dan tidak terputus-putus, mampu membungkuk badan sesuai dengan keleluasan sendi dan terlihat rileks, dan dapat melakukan kegiatan membungkuk dengan keseimbangan

g. Merentang Merentangkan tangan biasanya belum benar merentang dengan sikap badan menekankan pada gerakan yang cenderung terputus-putus, kasar dan mengehentak, belum mampu merentangkan badan sesuai dengan keleluasan sendi, dan kehilangan keseimbangan saat merentang 3 Merentangkan badan dengan

sikap cukup benar namun masih melakukan suatu kesalahan seperti belum mampu menjaga keseimbangan badan ketika melakukan gerakan merentang 4 Merentang dengan sikap yang

(39)

Indikator Definisi Kategori Deskripsi

5 Merentang dengan sikap sempurna diantaranya merentang dengan menekankan gerakan yang lembut dan tidak terputus-putus, mampu merentangkan badan sesuai dengan keleluasan sendi dan terlihat rileks, dan dapat menjaga keseimbangan badan saat melakukan gerakan merentang belum benar seperti memutar dengan menekankan pada gerakan yang cenderung terputus-putus, kasar dan mengehentak atau memutar sekaligus, mendarat dengan kaku setelah memutar badan, dan, dan kehilangan keseimbangan saat memutar badan

3 Memutar dengan sikap cukup benar namun masih melakukan suatu kesalahan seperti belum berputar dengan menjaga keseimbangan badan

4 Memutar dengan sikap yang benar, namun melakukan sedikit kesalahan gerak

5 Memutar dengan sikap yang sempurna seperti memutar dengan menekankan pada gerakan yang halus, perlahan dan beraturan, mendarat dengan sempurna setelah melakukan gerakan memutar, dan tetap dapat menjaga keseimbangan saat memutar badan

(40)

Indikator Definisi Kategori Deskripsi

takut melakukan gerakan mengayun pada tempat yang tinggi

3 Mengayun dengan sikap yang cukup benar namun masih melakukan beberapa kesalahan seperti melakukan gerakan mengayun dengan kaku

4 Mengayun dengan sikap yang benar, namun melakukan sedikit kesalahan gerak

5 Mengayun dengan sikap yang sempurna seperti dapat melakukan kontrol tubuh yang baik ketika mengayun, gerakan lentur dan tidak kaku, mampu melakukan ayunan dengan keleluasan sendi dan mampu mendarat dengan sempurna setelah melakukan gerakan mengayun

j. Melempar Melempar merupakan melakukan kesalahan seperti gerakan ke arah depan dari posisi kaki sama arahnya, ragu-ragu untuk melakukan ayunan dari belakang, kelalaian untuk memutar pingggul, sehingga lemparan tangan diayun dari belakang, kelalaian melangkahkan kaki berlawanan dengan lemparan tangan., lemah dalam koordinasi ritmik gerakan tangan dengan gerakan kaki, tidak bisa melepaskan bola pada lintasan yang dinginkan, kehilangan keseimbangan ketika gerakan melempar dilakukan dan rotasi cenderung dilakukan di atas tangan.

(41)

Indikator Definisi Kategori Deskripsi

kehilangan keseimbangan ketika gerakan melempar dilakukan dan rotasi cenderung dilakukan di atas tangan.

4 Melempar dengan sikap yang benar, namun melakukan sedikit kesalahan gerak

5 Melempar dengan sikap yang sempurna atau matang antara lain kedua kaki sedikit terbuka dengan kaki kiri dilangkahkan di depan (bila tangan kanan yang melempar, atau sebaliknya), badan memutar ke sisi lempar dan berat badan dipindahkan ke kaki belakang, putaran badan lebih nyata melalui pinggul, punggung dan bahu, perpindahan berat badan dengan melangkahkan kaki ke depan sebelum bola dilemperkan dan ada pelurusan siku sebelum bola dilepaskan dan gerakan badan terus berlanjut k. Menangkap Menangkap

merupakan kontrol terhadap objek., kelalaian untuk memberikan operan, kurang menjaga kekuatan jari dan kekuatan dalam pengaturan objek, kelalaian untuk pengaturan posisi tangan dengan tinggi dan lintasan dari objek, ketidakmampuan untuk merubah pola penangkapan untuk objek yang berbeda lebar dan kuatnya melepaskan pandangan dari objek, menutup mata ketika objek datang., ketidakmampuan memfokuskan atau mengarahkan objek.

(42)

Indikator Definisi Kategori Deskripsi

cepat objek, menutup tangan terlalu awal atau sebaliknya terlalu akhir (terlambat) dan kelalaian menjaga badan saat berbatasan dengan bola

3 Menangkap bola dengan sikap yang cukup benar namun masih melakukan suatu kesalahan tertentu seperti menutup mata ketika objek datang dan lain sebagainya.

4 Menangkap dengan sikap yang benar, namun melakukan sedikit kesalahan gerak

5 Menangkap dengan sikap sempurna atau dalam tingkat matang, anatara lain badan segaris dengan datangnya objek, kedua lengan rileks di samping badan, siku bengkok, kedua tangan dan lengannya relaks dan sedikit menutup pada saat menyongsong bola, pandangan mata mengikuti datangnya objek, lengan meredam gaya objek yang datang dan jari merapat melingkari objek, berat badan dipindahkan dari depan ke belakang

(43)

Indikator Definisi Kategori Deskripsi kaki.

3 Menendang dengan sikap yang cukup benar dan seringkali melakukan kesalahan seperti kehilangan keseimbangan ketika gerakan menendang dilakukan dan ketidakmampuan untuk mendapatkan jarak yang cukup 4 Menendang dengan sikap yang

benar, namun melakukan sedikit kesalahan gerak

5 Menendang dengan sikap yang sempurna tanpa melakukan kesalahan gerak satupun

I. Prosedur Penelitian

Prosedur yang ditempuh dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. Persiapan penelitian

a. Melakukan studi pendahuluan, observasi ke TK Tunas Harapan Bandung mengenai masalah penelitian

b. Menetapkan materi yang akan dipergunakan dalam penelitian

c. Menetapkan metode demonstrasi yang akan dipergunakan dalam penelitian

d. Menyusun instrumen penelitian

e. Melakukan uji coba instrumen penelitian diluar kelompok sampel untuk menguji validitas dan reliabilitas

f. Mengadakan revisi terhadap item instrumen yang tidak valid dan tidak reliabel.

2. Pelaksanaan penelitian

a. Menetapkan kelas yang akan digunakan untuk eksperimen

b. Melakukan pre test pada sampel untuk mengetahui data awal penelitian

(44)

d. Setelah diberikan perlakuan pada sampel, maka selanjutnya diberi post test.

e. Mengolah data hasil penelitian 3. Menyusun laporan hasil penelitian

(45)

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh dari berbagai temuan di TK Tunas Harapan Bandung dapat dijadikan dasar untuk menarik kesimpulan, maka dari itu akhirnya penulis dapat mengambil beberapa kesimpulan penelitian yaitu sebagai berikut :

1. Kemampuan motorik kasar anak di TK Tunas Harapan Bandung berada pada kategori cukup. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebelum penerapan permainan outdoor education diperoleh data bahwa 85,71% berada pada kategori sedang dan 14,29% berada pada kategori rendah. Dengan rata-rata kemampuan motorik kasar anak sebelum penerapan kegiatan permainan outbound dalam kegiatan pembelajaran adalah sebesar 88,1429.

2. Kemampuan motorik kasar anak di TK Tunas Harapan Bandung setelah diberikan permainan outdoor education berada pada kategori tinggi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa setelah penerapan permainan outdoor education diperoleh data bahwa 23,81% yang berada pada kategori sangat

tinggi, 76,19% berada pada kategori tinggi. Dengan rata-rata kemampuan motorik kasar anak sebelum penerapan kegiatan permainan outdoor education dalam kegiatan pembelajaran adalah sebesar 123,0952.

(46)

B. Saran

Mengacu pada hasil temuan penelitian, peneliti akan mengemukakan beberapa rekomendasi yang diharapkan dapat dijadikan masukan bagi pihak-pihak yang terkait dengan pendidikan anak usia dini khususnya di TK Tunas Harapan Bandung. Adapun rekomendasi tersebut antara lain ditujukan : 1. Bagi Guru

Penulis mengharapkan agar:

a. Menjadikan kegiatan permainan outdoor education sebagai salah satu alternatif untuk meningkatkan keterampilan motorik kasar anak.

b. Guru hendaknya memahami karakteristik anak, sehingga pembelajaran bisa dilaksanakan sesuai dengan kebutuhan anak dengan baik.

c. Sebagai fasilitator anak selama kegiatan permainan outdoor education, hendaknya guru lebih kreatif dan selalu berusaha untuk terus membuat kegiatan permainan outdoor education yang bervariasi.

2. Bagi Sekolah

a. Penyediaan alat dan sumber belajar yang lebih ditingkatkan lagi, agar kegiatan belajar anak lebih terfasilitasi dengan baik dan anak semakin antusias dalam melakukan kegiatan belajar mengajar.

b. Hendaknya sekolah memberikan kesempatan pada guru untuk mengikuti pelatihan atau seminar yang berkaitan dengan meningkatkan kemampuan motorik kasar yang menarik untuk anak.

(47)

3. Bagi Peneliti Selanjutnya

Berdasarkan temuan atau hasil penelitian yang membuktikan bahwa kegiatan pembelajaran dengan permainan outdoor education, motorik kasar anak TK Tunas

Harapan Bandung dapat meningkat. Diharapkan bagi peneliti selanjutnya berusaha untuk mencari alternatif dalam mengatasi permasalahan yang ada dengan pendekatan, metode, teknik, media atau strategi yang lain agar dapat memberikan

(48)

1

DAFTAR PUSTAKA

Agustina, Ana. (2012). Pengaruh Aktivitas Ritmik Terhadap Kemampuan Motorik Kasar Anak Taman Kanak-kanak. Skripsi Sarjana pada FIP UPI Bandung:

tidak diterbitkan.

Arikunto, Suharsini. (2006). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek Edisi Revisi V. Jakarta : PT Rineka Cipta.

Ariyati. (2012). Meningkatkan Character Strenght Anak Daycare Taman Isola Melalui Kegiatan Low Impact Outbound. Skripsi Sarjana pada FIP UPI

Bandung: tidak diterbitkan.

Beaty, J. J. (1994). Observing Development of The Young Children. New Jersey. Pretince Hall. Inc.

Danuminarto dan Santosa. (2007). Pengertian Experiental Learning. [Online]. Tersedia pada: http/www T_POR_0808086.html [Agustus 2013]

Hurlock, E. (1978). Perkembangan Anak. Alih Bahasa Meitasari Tjandrasa, Muslichah Zarkasih. Jakarta: Erlangga.

Kostelnik, M.K, Sodarman A.K, dan Whiren, A.P. (1993). Developmentally Apropriate Curriculum: Best in Early Childhood Education. New Jarsey.

Pretince Hall.

Maarif (2012). Penerapan Strategi Pembelajaran Yang Berpusat Pada Anak. [online]. Tersedia: ramaarifnukalisabuk.blogspot.com/.../penerapan-strategi. Html [Agustus 2013]

Mariani, Ari D. (2008). Bermain dan Kreativitas pada Anak Usia Dini. [online]. Tersedia: http//deviarimariani.wordpress.com. [Diakses pada 20 Juli 2013] Mariyana, Rita. (2009). Pengelolaan Lingkungan Belajar. Bandung: Universitas

Pendidikan Indonesia

Ma’mun, A. dan Saputra, Y. (2000). Perkembangan Gerak dan Belajar Gerak. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan

(49)

2

Santoso, Soegeng. (2006). Jurnal Pendidikan Penabur – No.07/Th.V/Desember 2006 Optimalisasi Tumbuh Kembang Anak Usia Dini. [Online]. Tersedia:

http://www.bpkpenabur.or.id/files/Hal.9399%20Optimalisasi%20Tumbuh

%20Kembang.pdf. [25 Juli 2013]

Solehuddin, M. (1997). Konsep Dasar Pendidikan Prasekolah. Bandung: Fakultas Ilmu Pendidikan IKIP Bandung.

Subroto, Carsiwan, dkk. (2008). Modul Teori Bermain. Bandung: Pendidikan Jasmani Kesehatan dan Rekreasi

Sujiono, dkk. (2005). Metode Pengembangan Fisik. Jakarta: Universitas Terbuka Depdiknas

Sujiono, Yuliani Nurani. (2009). Konsep Dasar Pendidikan Anak Usia dini. Indeks: Jakarta

Suryabrata, Sumadi. (1983). Metodologi Penelitian. Jakarta: PT.RajaGrafindo Persada.

Sugiyono. (2008). Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta.

Sudjana. (1996). Metode Statistik. Bandung: Tarsindo

Undang Undang Nomer 20 tahun 2003 Mengenai Pendidikan

Wahyudin dan Agustin, M. (2010). Penilaian Perkembangan Anak Usia Dini. Bandung: Falah Production

Yudha dan Rudiyanto. (2004). Pembelajaran Kooperatif Untuk Meningkatkan Keterampilan Anak Taman Kanak-kanak. Bandung: Depdiknas Dirjen

Pendidikan Tinggi bagian Proyek Peningkatan Tenaga Kependidikan Yusuf, S. (2002). Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Bandung: PT

Remaja Rosdakarya

http://repository.library.uksw.edu/bitstream/handle/123456789/980/T1_29200827

0_BAB%20II.pdf?sequence=3. [diakses pada hari Rabu, 30 Oktober 2013]

http://repository.library.uksw.edu/bitstream/handle/123456789/981/T1_29200827

Gambar

Grafik 4.1 Kemampuan Motorik Kasar Anak TK Tunas Harapan Bandung
Tabel 3.1 Desain Pola Eksperimen Desain Penelitian
gambaran mengenai pengaruh permainan outdoor education terhadap motorik
Table 3.3 Kisi-Kisi Instrumen Setelah Validasi
+7

Referensi

Dokumen terkait

Petunjuk Teknis Kompetisi Sains Madrasah (KSM) Tahun 2017 Page 16 marking scheme adalah setelah siswa melakukan experimen/eksplorasi. Moderasi adalah pertemuan antara juri dan

Adapun program utama dari simulasi layanan SMS ini terdiri dari 9 menu utama, yaitu login yang berisi login pada aplikasi yang berisi pilihan username dan password, Inbox

Kepada para peserta Pelelangan diucapkan Terimakasih telah ikut berpartisipasi dalam pelaksanaan kegiatan pelelangan ini dan Selanjutnya Dapat Mengambil jaminan

(1999) menyatakan bahwa akar permasalahan dalam kesulitan penerapan sistem ERP berasal dari dua masalah : perusahaan tidak membuat strategi yang tepat untuk

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya, sehingga penyusunan Karya Tulis Ilmiah dengan judul “Perilaku Ibu Dalam Mencegah

Berdasarkan hasil yang diperoleh, dapat disimpulkan bahwa penyusunan jadwal petugas sekuriti dengan program gol lebih baik dibandingkan dengan manual karena memenuhi semua kendala

LAMPIRAN PROGRAM DAN HASIL PEMGOLAHAN DATA ENVELOPMENT ANALYSIS.

Kedua, fase penetapan dalam tataran pemahaman tentang syariah; pada tataran ini ia menegaskan bahwa untuk mewujudkan tujuan syariah tersebut harus ada pemahaman