DAMPAK PEMBELAJARAN EKSTRAKURIKULER PENJAS TERHADAP HASIL BELAJAR KOGNITIF, AFEKTIF, DAN PSIKOMOTOR SISWA DI SMAN 1 WANAYASA KAB. PURWAKARTA.

60  17  Download (0)

Teks penuh

(1)

DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1

BAB II TINJAUAN TEORITIS A. Hakikat Pembelajaran Pendidikan Jasmani ... 21

1. Pengertian Pembelajaran Penjas ... 21

2. Pengertian Pendidikan Jasmani ... 23

3. Tujuan Pendidikan Jasmani ... 26

4. Pembelajaran Ekstrakurikuler Penjas ... 42

B. Hasil Belajar ... 43

C. Dampak Pembelajaran Ekstrakurikuler Penjas dengan Hasil Belajar Kognitif, Afektif, dan Psikomotor Síwa ... 45

BAB III METODE PENELITIAN A. Metode Penelitian ... 48

E. Uji Validitas dan Reliabilitas Angket ... 60

F. Prosedur Pengolahan Data ... 72

BAB IV PENGOLAHAN DAN ANALISIS DATA A. Deskripsi Hasil Pengolahan ... 77

B. Pengujian Persyaratan Analisis ... 79

C. Pengujian hipotesis ... 83

(2)

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

A. Ksimpulan ... 92

B. Saran ... 93

DAFTAR PUSTAKA ... 94

LAMPIRAN-LAMPIRAN ... 97

(3)

DAFTAR TABEL

Halaman

3.1. Kriteria Pemberian Skor ... 56

3.2. Kisi-kisi Uji Coba Angket untuk Kognitif, Afektif, dan Psikomotor ... 58

3.3. Hasil Uji Validitas untuk Kognitif ... 63

3.4. Hasil Uji Validitas untuk Afektif ... 64

3.5. Hasil Uji Validitas untuk Psikomotor ... 65

3.6. Hasil Uji Reliabilitas Kognitif ... 68

3.7. Hasil Uji Reliabilitas Afektif ... 69

3.8. Hasil Uji Reliabilitas Psikomotor ... 71

4.1. Hasil Penghitungan Kognitif ... 77

4.2. Hasil Penghitungan Afektif ... 78

4.3. Hasil Penghitungan Psikomotor ... 79

4.4. Hasil Uji Normalitas Kognitif dengan Pendekatan Uji Lieliefors .... 80

4.5. Hasil Uji Normalitas Afektif dengan Pendekatan Uji Lieliefors ... 81

4.6. Hasil Uji Normalitas Psikomotor dengan Pendekatan Uji Lieliefor .. 81

4.7. Ringkasan Hasil Uji Homogenitas ... 82

4.8. Hasil Analisis Uji Kesamaan Dua Rata-rata (Uji Dua Pihak) Kognitif Siswa ... 84

(4)

4.10. Hasil Analisis Uji Kesamaan Dua Rata-rata (Uji Dua Pihak)

(5)

DAFTAR GAMBAR

Halaman

(6)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Proses pendidikan di Indonesia mengacu kepada tujuan Pendidikan Nasional yaitu untuk meningkatkan kualitas manusia diantaranya mempunyai kepribadian yang luhur, cerdas dan terampil, serta mempunyai tanggung jawab terhadap pembangunan bangsa. Hal ini sejalan dengan yang tertera dalam Garis-garis Besar Haluan Negara dalam Malik (2009:2) menjelaskan bahwa tujuan pendidikan di Indonesia adalah sebagai berikut:

Pendidikan nasional berdasarkan pancasila, bertujuan untuk meningkatkan kualitas manusia Indonesia yaitu manusia yang beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, berbudi pekerti luhur, berkepribadian, berdisiplin, cerdas dan terampil, bekerja keras, tangguh, bertanggung jawab, mandiri, serta sehat jasmani dan rohani. Pendidikan nasional juga harus mampu menumbuhkan dan memperdalam ras cinta pada Tanah Air, mempertebal semangat kebangsaan dan rasa kesetikawanan sosial. Sejalan dengan itu di kembangkan iklim belajar mengajar yang dapat menumbuhkan rasa percaya diri sendiri serta sikap dan prilaku yang inovatif dan kreatif. Dengan demikian pendidikan nasional akan mampu mewujudkan manusia-manusia pembangunan yang dapat membangun dirinya sendiri serta bersama-sama bertanggung jawab atas pembangunan bangsa.

(7)

hidup yang diinginkan. Perubahan sikap, pola pikir dan perilaku ini terjadi dalam proses belajar. Belajar merupakan suatu upaya yang dilakukan untuk merubah perilaku yang diperoleh melalui pengalaman.

Belajar merupakan suatu proses perubahan tingkah laku yang bersifat positif untuk mencapai suatu tujuan, manusia belajar sepanjang hayatnya melalui berbagai sumber dan caranya. Oleh karena belajar merupakan bagian yang penting dari hidup manusia yang berlaku untuk setiap orang dalam setiap kesempatan, maka konsep tentang belajar pun bermacam-macam. Sukmadinata dalam http://cafestudi061.wordpress.com/2008/09/11/pengertian-belajar-dan-perubahan-perilaku-dalam-belajar/, menyatakan bahwa “Belajar merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi dan berperan penting dalam pembentukan pribadi dan perilaku individu. Sebagian terbesar perkembangan individu berlangsung melalui kegiatan belajar”.

(8)

Berbicara tentang pendidikan tidak akan terlepas dari pendidikan jasmani. Pendidikan jasmani merupakan bagian integral dari pendidikan secara umum yang memiliki tanggung jawab untuk mendidik individu dan kelompok siswa melalui aktivitas fisik atau jasmani. Rusli Lutan (1997:36) menjelaskan pengertian penjaskes sebagai “Pendidikan yang menggunakan/via aktivitas fisik sebagai media untuk mengembangkan segala potensi yang ada pada individu (kognitif, afektif dan psikomotor), sehingga tumbuh dan berkembang secara

menyeluruh atau holistik.” Siswa bukan hanya diberikan pembelajaran

keterampilan fisik atau motorik saja, juga harus dikembangkan ranah kognitif serta afektifnya. Pembelajaran penjas dikatakan holistic atau menyeluruh apabila ketiga ranah dalam pembelajaran penjas disampaikan oleh guru.

(9)

dengan sikap, serta motorik yang mengintegrasikan secara harmonis sistem syaraf dan otot-otot. Komponen-komponen dalam aspek psikomotor ini yaitu peniruan, manipulasi, ketetapan, artikulasi, dan pengalamiahan. Dari komponen tersebut dapat dilihat bahwa domain psikomotorik dalam taksonomi instruksional pengajaran adalah lebih mengorientasikan pada proses tingkah laku atau pelaksanaan, di mana sebagai fungsinya adalah untuk meneruskan nilai yang terdapat lewat kognitif sehingga diaplikasikan dalam bentuk nyata oleh domain psikomotorik. Maka dari itu, aspek psikomotor ini berhubungan dengan aspek kognitif, karena sebelum siswa melakukan gerak terlebih dahulu harus memahami konsep geraknya. Aspek efektif merupakan sikap yang bersumber pada organisasi kognitif pada informasi dan pengatahuan yang kita miliki, dan sikap tersebut selalu diarahkan pada objek. Komponen-komponen afektif ini yaitu penerimaan, pemberian respon, penentuan sikap, organisasi yang mengacu pada penyatuan nilai, dan pembentukan pola hidup. Sedangkan Aspek kognitif ini meliputi fungsi intelektual, seperti pemahaman, pengetahuan, dan keterampilan berpikir, sehingga siswa mampu mengingat tentang apa yang dilihat dan didengar. Komponen-komponen yang terdapat dalam aspek kognitif ini yaitu pengetahuan, pemahaman, penerapan, analisis, sistesa, dan evaluasi.

(10)

pembelajaran, guru memberikan pengertian serta materi yang akan disampaikan sampai siswa paham untuk tugas gerak yang akan dilakukan, setelah itu siswa akan mudah mempelajari materi yang disampaikan dan guru tinggal mengoreksi dan mengevaluasi tugas gerak yang seharusnya dilakukan.

Tetapi pada kenyataannya kondisi di lapangan masih banyak terjadi salah aplikasi dari tujuan pendidikan jasmani. Guru penjas cenderung lebih banyak memberikan pembelajaran keterampilan motorik saja dan ranah kognitif serta afektif masih kurang diperhatikan. Guru lebih banyak menanamkan agar siswa mampu melakukan aktivitas fisik yang diajarkan, atau menguasai keterampilan fisik dan motorik, bukan menanamkan pemahaman mengenai pentingnya siswa melakukan aktivitas tersebut. Guru masih banyak yang bertindak sebagai pelatih cabang olahraga dibandingkan dengan menanamkan pengetahuan serta sikap dan perilaku hidup aktif keseharian pada siswanya. Faktor lainnya adalah kurikulum yang ada masih menekankan pada keterampilan motorik atau fisik semata, sehingga pada pelaksanaan pembelajaran di lapangan pun guru cenderung terpaku pada ranah motorik saja. Akibatnya motivasi siswa untuk melakukan aktivitas fisik menjadi menurun. Selain itu, kemungkinan terbatasnya sumber/buku yang digunakan untuk mendukung proses pengajaran pendidikan jasmani serta masih kurangnya penerapan model-model pembelajaran yang dilakukan. Hal ini menyebabkan proses pembelajaran tidak berkembang.

(11)

masih kurang. Contohnya buku-buku penunjang sarana belajar siswa masih tidak terbagi merata di antara masing siswa, sehingga kesempatan masing-masing siswa untuk mendapatkan tambahan pengetahuan dari buku-buku pun tidak merata dan pencapaian tujuan pembelajaran yang berupa prestasi belajar, merupakan hasil dari kegiatan belajar-mengajar semata. Dengan kata lain kualitas kegiatan belajar mengajar pada pembelajaran penjas salah satunya faktor penentu bagi keberhasilan belajar. Pembelajaran yang ada di dalam kelas bukanlah satu-satunya faktor yang menentukan prestasi belajar siswa, karena prestasi merupakan hasil kerja yang keadaannya sangat kompleks.

Pelaksanaan belajar mengajar diawali dengan rangsangan sensoris dari lingkungan sekolah itu sendiri. Bagaimana cara seorang guru menempatkan jam pembelajaran di sekolah, karena jam pembelajaran pendidikan jasmani sangat memepengaruhi rangsangan siswa untuk mengikuti pembelajaran. Pelaksanaan belajar mengajar pendidikan jasmani yang direncanakan harus terorganisir, terbina mulai dari fasilitas, metode pembelajaran dan jam waktu pembelajaran pada lembaga pendidikan dan di bimbing oleh tenaga khusus yang terlatih.

(12)

berasal dari pengalaman siswa sendiri yang sesuai dengan minat dan kebutuhannya.

Bagi kebanyakan siswa, prinsip pembinaan berdasarkan taraf perkembangan keterampilan gerak harus menjadi pegangan guru dalam penyelenggaraan pendidikan jasmani. Pengajaran seperti ini juga harus didukung oleh penerapan materi yang dapat memacu semangat siswa untuk mengikuti proses belajar mengajar pendidikan jasmani. Tugas seorang guru pendidikan jasmani adalah mengembangkan aneka keterampilan gerak. Ragam dan variasi dapat diperkenalkan sehingga bertambah kaya keterampilan gerak siswa, adapula kemungkinan pencapaian tahap matang ini dipengaruhi oleh kondisi, hasil dan lingkungan sekitar.

Pendidikan di lingkungan sekolah dan di luar lingkungan sekolah diharapkan mengacu pada tujuan pendidikan nasional seperti yang tersirat di Garis-garis Besar Haluan Negara dalam Permana (2005:3) menjelaskan sebagai berikut:

(13)

Dalam tujuan pendidikan yang telah dikemukakan di atas menunjukkan bahwa dengan pendidikan diharapkan pengetahuan, sikap dan keterampilan seseorang dapat di tumbuh kembangkan, sehingga menjadi manusia yang terdidik. Hal ini untuk mempersiapkan manusia Indonesia yang beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, berbudi pekerti luhur, berkepribadian, berdisiplin, cerdas dan terampil, bekerja keras, tangguh, bertanggung jawab, mandiri, serta sehat jasmani dan rohani.

Untuk mencapai tujuan tersebut, sekolah dalam menyelenggarakan proses pendidikan tidak terlepas dari kurikulum pendidikan. Setiap mata pelajaran tidak terlepas dari kurikulum antara lain kurikulum pendidikan jasmani.

Tujuan di atas dapat tercapai apabila kompetensi guru ditunjang oleh pemahaman dan kemampuan untuk mengembangkan peranan profesinya sebagai guru serta ditunjang dengan adanya sarana dan prasarana yang memadai pada saat proses pembelajaran pendidikan jasmani itu berlangsung.

(14)

Kurang memadainya fasilitas yang ada dapat mempengaruhi efektivitas pembelajaran pada minat siswa dalam mengikuti pelaksanaan pembelajaran penjas. Ukuran lapangan yang kecil dan keterbatasan fasilitas yang ada juga sangat mempengaruhi seorang guru untuk melakukan variasi permaianan dan pengembangan gerak dasar kepada siswa.

Aplikasi pembelajaran penjas seorang guru kepada peserta didiknya harus diberikan dengan baik karena aplikasi tersebut sangat mempengaruhi hasil belajar siswa terhadap proses pembelajaran penjas. Tidak sedikit pembelajaran penjas yang tidak tersampaikan dan terlaksanakan dengan baik, karena kurang efektifnya pelaksanaan pembelajaran penjas.

Selain keterbatasan kemampuan guru pendidikan jasmani, faktor sarana dan prasarana serta faktor kurikulum dirasakan juga masih sangat terbatas, alokasi waktunya juga sangat terbatas. Padahal faktor-faktor tersebut sangat mempengaruhi dalam kegiatan proses belajar mengajar pendidikan jasmani di sekolah. Bisa dibayangkan, amat terbatas sumbangan mata pelajaran pendidikan jasmani bagi perkembangan anak, bila hanya dilaksanakan satu kali dalam 1 minggu. Melalui curahan waktu yang relatif singkat itu, rangsangan yang diberikan kepada anak, kurang mencukupi kebutuhan untuk berkembang baik dari aspek kognitif, afektif, dan psikomotornya, begitupun dengan kebugaran jasmaninya.

(15)

sepakbola dan futsal, bulu tangkis, dan lain-lain. Dengan demikian pembelajaran penjas akan bisa tersampaikan kepada siswa.

Kondisi di lapangan yang terjadi pada sekolah menengah pertama (SMA) masih banyak terjadi salah aplikasi dari tujuan pendidikan jasmani. Guru penjas cenderung lebih banyak memberikan pembelajaran keterampilan motorik saja dan ranah kognitif serta afektif masih kurang diperhatikan. Guru lebih banyak menanamkan agar siswa mampu melakukan aktivitas fisik yang diajarkan, atau menguasai keterampilan fisik dan motorik, bukan menanamkan pemahaman mengenai pentingnya siswa melakukan aktivitas tersebut. Guru masih banyak yang bertindak sebagai pelatih cabang olahraga dibandingkan dengan menanamkan pengetahuan pada siswanya. Dengan demikian pemahaman tentang pengetahuan tidak tertanam pada diri siswa, sehingga banyak siswa yang kurang melakukan aktivitas gerak. Mengingat hal tersebut, kebanyakan siswa lebih senang bermain game dari pada melakukan aktivitas fisik. Kondisi ini apabila tidak ditangani dengan segera, maka akan menjadi permasalahan yang terus berkepanjangan. Sehingga akan lebih banyak lagi penyakit akibat kurang gerak dan tidak menutup kemungkinan bagi siswa usia sekolah.

(16)

Perlu adanya penanaman sikap sejak dini agar remaja generasi penerus bangsa tidak menjadi generasi yang malas untuk bergerak. Dengan penanaman sikap yang positif terhadap pentingnya aktivitas jasmani melalui pembelajaran penjas serta dibantu dengan kegiatan ekstrakurikuler penjas, diharapkan perilaku hidup aktif untuk menuju kehidupan yang sehat juga dapat terwujud.

Berdasarkan pemaparan yang telah dikemukakan di atas, timbulah keinginan penulis untuk meneliti mengenai “Dampak Pembelajaran Ekstrakulikuler Penjas Terhadap Hasil Belajar Kognitif, Afektif, dan Psikomotor

Siswa Di SMAN 1 Wanayasa Kab. Purwakarta”.

B. Rumusan masalah

Pembelajaran pendidikan jasmani di sekolah merupakan proses mendidik yang dilakukan melalui aktivitas fisik. Akan tetapi penjas bukan semata-mata hanya pendidikan terhadap aktivitas fisik semata, melainkan bagaimana pendidikan jasmani dapat menjadi sebuah solusi bagi permasalahan dalam kehidupan manusia. Hal ini sejalalan dengan yang dikemukakan oleh Sukintaka (2004:37) yang menyatakan bahwa, “Pendidikan jasmani bukanlah pendidikan

terhadap badan, atau bukan merupakan pendidikan tentang problem tubuh, akan tetapi merupakan pendidikan tentang problem manusia dan kehidupan.”

(17)

menanamkan agar siswa mampu melakukan aktivitas fisik yang diajarkan, atau menguasai keterampilan fisik dan motorik, bukan menanamkan pemahaman mengenai pentingnya siswa melakukan aktivitas tersebut. Guru masih banyak yang bertindak sebagai pelatih cabang olahraga dibandingkan dengan menanamkan pengetahuan pada siswanya.

Aspek psikomotor dalam proses pembelajarannya menyangkut tentang jasmani yang mengarah pada kemampuan gerak, serta menyangkut keterampilan motorik yang mengintegrasikan secara harmonis sistem syaraf dan otot-otot. Dengan demikian dapat dilihat bahwa domain psikomotorik dalam taksonomi instruksional pengajaran adalah lebih mengorientasikan pada proses tingkah laku atau pelaksanaan, di mana sebagai fungsinya adalah untuk meneruskan nilai yang terdapat lewat kognitif sehingga diaplikasikan dalam bentuk nyata oleh domain psikomotorik. Maka dari itu, aspek psikomotor ini berhubungan dengan aspek kognitif dan afeftif karena sebelum siswa melakukan gerak terlebih dahulu harus memahami konsep geraknya serta penentuan sikap untuk melakukan gẻak. Aspek kognitif ini meliputi fungsi intelektual, seperti pemahaman, pengetahuan, dan keterampilan berpikir, sehingga siswa mampu mengingat tentang apa yang dilihat dan didengar. Sedangkan aspek afektif meliputi penerimaan, pemberian respon, penentuan sikap, pengorganisasian, dan pembentukan pola hidup.

(18)

Dengan demikian pendidikan jasmani di sekolah tidak semata-mata bertujuan jangka pendek, tetapi memiliki tujuan jangka panjang yang lebih utama. Penjas diberikan di sekolah dengan tujuan agar siswa selama hidupnya dapat terus aktif dan terlibat dalam kegiatan fisik. Hal ini secara tidak langsung pembentukan terhadap sikap sosial juga akan terbentuk dengan sendirinya.

Kondisi di lapangan penekanan pembelajaran penjas di sekolah selama ini masih belum mengarah pada ranah kognitif dan afektif, hanya pada ranah psikomotor saja. Dengan kata lain guru masih cenderung hanya mengarah pada kemampuan psikomotor semata, sementara ranah kognitìf dan afektif masih belum tersentuh. Dengan pemaparan di atas, maka perlu adanya upaya nyata agar permasalahan tersebut tidak berlarut dan terus berkepanjangan. Perlu adanya penanaman sikap sejak dini agar remaja generasi penerus bangsa tidak menjadi generasi yang malas untuk bergerak. Dengan penanaman sikap yang positif terhadap pentingnya aktivitas jasmani, diharapkan perilaku hidup aktif untuk menuju kehidupan yang sehat juga dapat terwujud. Azwar (2009:14) menjelaskan bahwa:

Dalam keseharian, siswa berinteraksi dengan siswa lainnya di lingkungan sekolah dan tempat tinggal. Objek yang ditemui siswa baik itu orang, benda atau suatu situasi akan ditanggapi beragam tergantung pada individu siswa itu sendiri. Lingkungan sosial memberikan pengaruh yang cukup besar terhadap pembentukan sikap dan perilaku keseharian siswa.

Lebih lanjut Azwar (2009:30) mengemukakan bahwa:

(19)

dengan lingkungan fisik maupun lingkungan psikologis di sekelilingnya. Dalam interaksi sosialnya, individu bereaksi membentuk pola sikap tertentu terhadap objek psikologis yang dihadapinya.

Berdasarkan permasalahan yang dikemukakan di atas, maka penulis mengajukan rumusan masalah penelitian sebagai berikut:

1. Apakah terdapat dampak yang signifikan dari pembelajaran ektrakurikuler penjas terhadap hasil belajar kognitif siswa?

2. Apakah terdapat dampak yang signifikan dari pembelajaran ektrakurikuler penjas terhadap hasil belajar afektif siswa?

3. Apakah terdapat dampak yang signifikan dari pembelajaran ektrakurikuler penjas terhadap hasil belajar psikomotor siswa?

C. Tujuan Penelitian

Atas dasar permasalahan tersebut di atas, maka tujuan dari penelitian ini tidak lain adalah sebagai berikut:

1. Untuk mengetahui dampak dari pembelajaran ektrakurikuler penjas terhadap hasil belajar kognitif siswa.

2. Untuk mengetahui dampak dari pembelajaran ektrakurikuler penjas terhadap hasil belajar afektif siswa.

(20)

D. Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat yang berarti bagi semua pihak terutama kepada yang terlibat dalam dunia pendidikan, di antaranya: a) Bagi guru

Penelitian ini diharapkan menjadi bahan pertimbangan guru untuk memilih teknik pembelajaran yang sesuai dan menarik bagi siswa. Selain itu, hasil penilitian ini diharapkan menjadi umpan balik bagi guru dalam menyusun bahan pembelajaran yang lebih variatif.

b) Bagi siswa

Siswa diharapkan memperoleh pengalaman dan pengetahuan yang lebih baik sehingga mampu meningkatkan kecerdasan pada mata pelajaran penjas olahraga.

c) Bagi peneliti

Peneliti dapat mengaplikasikan teori yang dimiliki mengenai metode pembelajaran untuk dapat menarik suatu kesimpulan yang bisa digunakan dalam peningkatan minat belajar siswa.

E. Anggapan Dasar

(21)

kebenarannya diterima oleh penyelidik”. Hal ini berarti bahwa setiap penyelidik

dapat merumuskan postulat yang berbeda.

Adapun anggapan dasar yang dipakai sebagai titik tolak landasan berpikir dalam penelitian ini adalah bahwa pembelajaran penjas melalui aktivitas fisik yang di dalamnya menekankan ke arah kognitif, afektif dan psikomotor akan menghasilkan hasil belajar yang optimal. Karena siswa selain di tuntut untuk bergerak, sikapnya diarahkan dengan baik, serta kognitifnya juga secara tidak langsung akan dilatih, sehingga tujuan dari pembelajaran penjas akan tercapai.

Maka dari itu, proses pembelajaran akan sangat menentukan sekali bagi hasil belajar siswa baik itu kognitif, afektif, maupun psikomotornya. Apabila kognitif yang berupa pengetahuan diberikan dan afektif yang berupa penanaman sikap diberikan serta psikomotor yang berupa gerak diberikan, maka pembelajaran penjas akan berhasil dengan baik. Dengan demikian pembelajaran yang diberikan melalui aktivitas jasmani, akan memberikan dorongan bagi siswa yang secara langsung akan mengarah kepada pencapaian hasil belajar.

(22)

dapat memiliki respon baik itu positif maupun negatif terhadap terhadap suatu objek atau situasi. Respon tersebut adalah sikap individu yang timbul akibat dari proses belajar, dalam hal ini proses belajar pendidikan jasmani. Dalam proses belajar di sekolah tentunya ada keterlibatan guru sebagai pengajar yang juga dapat mempengaruhi individu siswa, dengan kata lain keberhasilan pembelajaran penjas ada di tangan guru. Guru yang memberikan materi pembelajaran berupa kognitif, afektif, dan psikomotor serta tersampaikan dengan baik kepada siswa maka tujuan pembelajaran dikatakan berhasil dengan baik.

F. Hipotesis

Suatu hipotesis memegang peranan penting dalam suatu penelitian untuk menjelaskan permasalahan yang harus dicapai pemecahannya. Arikunto (2002:62) mengemukakan bahwa “Hipotesis dapat diartikan sebagai suatu jawaban yang bersifat sementara terhadap permasalahan penelitian, sampai terbukti melalui data yang terkumpul”

Sesuai dengan permasalahan yang penulis teliti, maka penulis mengajukan hipotesis penelitian sebagai berikut:

1. Terdapat dampak yang signifikan dari pembelajaran ekstrakurikuler penjas terhadap hasil belajar kognitif siswa.

2. Terdapat dampak yang signifikan dari pembelajaran ekstrakurikuler penjas terhadap hasil belajar afektif siswa.

(23)

G. Batasan Penelitian

Dalam penelitian ini perlu adanya batasan agar dalam pelaksanaannya tetap terkendali dan tidak keluar dari jalur yang diteliti. Demi kelancaran dan terkendalinya pelaksanaan penelitian ini, maka penulis membatasi penelitian ini sebagai berikut:

1. Dalam hal ini penulis melakukan penelitian dengan variabel: a. variabel bebas : pembelajaran ekstrakulikuler penjas.

b. variabel terikat : hasil belajar kognitif, afektif dan psikomotor siswa. 2. Dalam penelitian ini penulis hanya akan membahas dampak pembelajaran

ekstrakurikuler penjas dengan hasil belajar kognitif, afektif, dan psikomotor pada siswa SMAN 1 Wanayasa Kab.Purwakarta.

3. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian exspost pacto yaitu penelitian yang treatmentnya atau perlakuannya telah dilakukan. 4. Populasi dalam penelitian ini yaitu siswa kelas 2 SMAN 1 Wanayasa

Kab.Purwakarta yang berjumlah 284 orang. Sedangkan sampelnya adalah 40 orang siswa yang di ambil dengan random.

5. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini yaitu dengan menggunakan angket.

H. Penjelasan Istilah

(24)

penulis jelaskan secara singkat pengertian-pengertian dari istilah-istilah yang digunakan dalam penelitian ini. Adapun istilah-istilah tersebut adalah sebagai berikut:

1. Belajar menurut Dahar (1996:21) didefinisikan sebagai perubahan perilaku yang diakibatkan oleh pengalaman. Sedangkan pembelajaran adalah berlangsungnya kegiatan sebuah belajar. Pembelajaran yang dimaksud dalam penelitian ini adalah kegiatan belajar penjas yang dilaksanakan di sekolah sebagai upaya untuk mencapai tujuan pendidikan.

2. Ekstrakurikuler yaitu kegiatan pembelajaran yang dilakukan diluar jam pelajaran sekolah.

3. Pendidikan jasmani menurut Lutan (1997:36) adalah Pendidikan yang menggunakan/via aktivitas fisik sebagai media untuk mengembangkan segala potensi yang ada pada individu (kognitif, afektif dan psikomotor), sehingga tumbuh dan berkembang secara menyeluruh atau holistik.

4. Hasil belajar menurut menurut Mohamad Surya dalam Permana (2005:20) adalah “seluruh kecakapan yang berhasil dicapai (achievement) yang

diperoleh melalui proses belajar di sekolah, yang dinyatakan dengan nilai-nilai”. Hasil belajar yang dimaksud dalam konteks penelitian ini adalah hasil belajar kognitif dan psikommotor siswa dalam pelajaran pendidikan jasmani. 5. Kognitif menurut Marthayunanda dalam www.wikipedia.com yaitu

(25)

siswa dalam memahami materi yang disampaikan oleh guru saat pembelajaran.

(26)

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Metode Penelitian

Metode merupakan cara yang digunakan atau ditempuh dalam suatu penelitian. Penggunaan metode dalam pelaksanaan penelitian merupakan hal yang sangat penting, karena dalam menggunakan metode penelitian yang tepat diharapkan dapat mencapai tujuan yang diinginkan. Jenis metode yang dipilih dan digunakan dalam pengumpulan data, tentu saja harus sesuai dengan sifat, karakteristik dan permasalahan penelitian yang dilakukan.

Sugiyono (2007:2) berpendapat, “Metode penelitian pada dasarnya merupakan cara ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu.” Suatu permasalahan penelitian, diselesaikan dengan cara atau jalan yang sesuai dengan prosedur ilmiah. Penggunaan metode didasarkan pada kebutuhan dan permasalahan penelitian yang hendak diselesaikan. Dengan kata lain bahwa, sebuah metode harus dapat efektif dan efisien dalam menyelesaikan permasalahan yang dihadapi. Jenis dari metode penelitian pada dasarnya bermacam-macam, seperti penelitian eksperimen, survey, deskriptif dan sebagainya. Mengenai bentuk dan jenis metode penelitian yang digunakan dalam sebuah penelitian biasanya disesuaikan dengan tujuan yang ingin dicapai dalam sebuah penelitian tersebut. Di samping itu, penggunaan metode tergantung kepada permasalahan yang akan dibahas, dengan kata lain penggunaan suatu metode harus dilihat dari

(27)

positif menuju tujuan yang diharapkan. Sedangkan suatu metode dapat dikatakan efisien apabila penggunaan waktu, fasilitas, biaya dan tenaga dapat dilaksanakan sehemat mungkin namun dapat mencapai hasil yang maksimal. Metode dikatakan

relevan apabila waktu penggunaan hasil pengolahan dengan tujuan yang hendak dicapai tidak terjadi penyimpangan.

Dalam penelitian ini penulis menggunakan metode penelitian ex post facto. Metode yang digunakan ini lebih mentitik beratkan pada penelitian komparatif. Mengenai hal ini, Nasir (1999:68) menyatakan “Penelitian komparatif adalah sejenis penelitian yang ingin mencari jawaban secara mendasar tentang sebab akibat, dengan menganalisa faktor-faktor penyebab terjadinya atau pun

munculnya suatu fenomena tertentu.” Tujuan penelitian ex post facto adalah melihat akibat dari suatu fenomena dan menguji hubungan sebab akibat dari data-data setelah semua kejadian yang dikumpulkan telah selesai berlangsung.

Sedangkan Suherman (2002:11) mengemukakan bahwa:

Penelitian kausal komparatif memungkinkan seseorang meneliti hubungan kausal di antara variabel-variabel yang tidak bisa dimanipulasi seperti dalam penelitian eksperimen. Dalam penelitian kausal komparatif, dua kelompok yang berbeda pada variabel terterntu dibandingkan dengan variabel lain.

Metode penelitian ex post facto dapat dikatakan juga dengan istilah metode penelitian Causal-Comparative, metode ini merupakan suatu penelitian yang mengamati dan melihat suatu masalah secara mendalam ke dalam situasi hidup, dengan cara membandingkan dua situasi kelompok yang berbeda.

Adapun Sukardi (2003:174) menjelaskan bahwa “penelitian ex-post facto

(28)

ketika peneliti mulai melakukan pengamatan terhadap variable terikat.” Ciri utama dalam penelitian ex post facto yaitu tidak ada kontrol terhadap variabel, dan peneliti tidak mengadakan pengaturan atau manipulasi terhadap variabel. Variabel

dilihat sebagaimana adanya.” Hal ini lebih lanjut diterangkan pula oleh Arikunto

(2002:237) yaitu, “Pada penelitian ini, peneliti tidak memulai prosesnya dari awal,

tetapi langsung mengambil hasil.” Dengan demikian penelitian ex post facto

merupakan suatu bentuk penelitian yang treatmentnya atau perlakuannya telah terjadi, sehingga langsung diambil tes akhirnya saja.

B. Populasi dan Sampel

Populasi merupakan objek atau subjek dari penelitian. Populasi penelitian memiliki karakteristik tertentu, sehingga peneliti dapat mempelajari karakteristik

tersebut. Sugiyono (2007:117) menjelaskan bahwa, “Populasi adalah wilayah

generalisasi yang terdiri atas: obyek/subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian

ditarik kesimpulannya.” Jadi populasi merupakan wilayah penelitian yang

dianggap general dalam penelitian. Dalam penelitian ini yang menjadi populasi adalah siswa kelas X dan XI Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 1 Wanayasa Kabupaten Purwakarta.

Sedangkan objek yang diambil untuk dijadikan bahan dalam penelitian disebut dengan sampel. Mengenai sampel penelitian, Sugiyono (2007:118)

mengemukakan bahwa, “Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang

(29)

diambil sesuai dengan kebutuhan penelitian, yang diambil dan dapat mewakili populasi yang ada.

Sampel ditentukan dengan cara purposive. Mengenai purposive sampling

Sugiyono (2007:300) mengemukakan bahwa, “purposive sampling adalah teknik

pengambilan sampel sumber data dengan pertimbangan tertentu.” Pertimbangan

tertentu di sini yaitu sampel yang diambil berdasarkan karakteristik tertentu atau ada kategorinya. Hal ini dilakukan supaya sampel yang diambil homogen atau sama. Mengenai pengkategorian sampel yang akan diteliti, rinciannya adalah sebagai berikut:

1. Untuk kelompok yang mengikuti kegiatan ekstrakurikuler olahraga: a. Siswa kelas X dan XI yang mengikuti kegiatan ekstrakurikuler olahraga b. Aktif dalam kegiatan ekstrakurikuler olahraga

c. Sudah 3 bulan atau lebih dalam mengikuti kegiatan ekstrakurikuler olahraga secara terus menerus

2. Untuk kelompok yang tidak mengikuti kegiatan ekstrakurikuler olahraga: a. Siswa kelas X dan XI yang aktif sekolah

b. Tidak pernah bolos sekolah

c. Sudah 3 bulan atau lebih dalam mengikuti pembelajaran penjas di sekolah Untuk sampel, penulis mengambil sebagian dari populasi yang dianggap mewakili. Arikunto (2002:112) menjelaskan mengenai ukuran sampel bahwa:

Jika jumlah subjeknya besar dapat diambil antara 10-15% atau 20-25% atau lebih, tergantung setidak-tidaknya dari:

a. Kemampuan peneliti dilihat dari waktu, tenaga dan dana.

(30)

c. Besar kecilnya resiko yang ditanggung oleh peneliti. Untuk penelitian yang resikonya besar, tentu saja jika sampel besar, hasilnya akan lebih baik.

Sampel yang digunakan adalah siswa kelas X dan XI yang berjumlah 40 orang yaitu yang mengikuti kegiatan ekstrakurikuler olahraga (bolavoli, sepakbola/futsal, dan bolabasket) yaitu sebanyak 20 orang siswa, dan sebagai pembandingnya (siswa yang tidak mengikuti kegiatan ekstrakurikuler olahraga) sebanyak 20 orang siswa. Pengambilan sampel tersebut sesuai dengan penjelasan yang dikemukakan di atas bahwa, sekurang-kurangnya sampel diambil antara 10-15% dari jumlah populasi yang ada. Dikarenakan jumlah populasi cukup besar, maka berdasarkan pendapat di atas, penulis mengambil sampel sebesar 10% yang disesuaikan dengan karakteristik sampel.

C. Desain dan Langkah Penelitian

1. Desain Penelitian

(31)

Adapun desain yang penulis pakai mengacu pada Fraenkel, dkk (1993:321), yaitu sebagai berikut:

Gambar 3.1

Desain Penelitian Causal-Comparative (Sumber: Fraenkel etc, 1993:321)

Desain ini pada dasarnya melibatkan pemilihan dua kelompok penelitian yang berbeda dan membandingkannya dalam satu variabel atau beberapa variabel yang akan diteliti.

2. Langkah Penelitian

Langkah-langkah penelitian yang akan dilakukan, dapat dilihat pada gambar di halaman berikutnya:

Independent Dependent Group variable variable

I C1 O (Group possesses (Measurement) characteristic)

II C2 O

(32)

Gambar 3.2 Langkah Penelitian

Ụi Coba Angket Kognitif, Afektif, dan

Psikomotor

Prosedur Pengolahan Data (Analsis Statistik)

Kesimpulan Populasi

Kelompok yang melakukan Ekstrakurikuler Olahraga

Sampel

Kelompok yang tidak melakukan Ekstrakurikuler Olahraga

(kontrol)

Pengambilan Data: Tes Angket Kognitif, Afektif,

(33)

D. Instrumen Penelitian

Instrument merupakan alat ukur yang digunakan dalam penelitian. Penggunaan instrument disesuaikan berdasarkan kebutuhan dan harus relevan dengan apa yang hendak diukur. Mengenai instrumen, Arikunto (2002:138) menerangkan sebagai berikut:

Berbicara tentang jenis-jenis metode dan instrumen pengumpulan data sebenarnya tidak ubahnya dengan berbicara masalah evaluasi. Mengevaluasi tidak lain adalah memperoleh data tentang status sesuatu dibandingkan dengan standar atau ukuran yang telah ditentukan, karena mengevaluasi juga adalah mengadakan pengukuran.

Adapun instrument penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah angket. Mengenai angket atau kuesioner ini Arikunto (2002:128) menjelaskan

sebagai berikut: “Kuesioner adalah sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh infirmasi dari responden dalam arti laporan tentang pribadinya, atau hal-hal yang ia ketahui”. Jenis angket yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah angket tertutup, yakni angket tersebut telah tersusun atas pernyataan yang tegas, teratur, kongkrit, lengkap dan responden menjawab hanya sesuai dengan alternatif jawaban yang telah tersedia.

(34)

Berdasarkan penjelasan tersebut di atas, maka tabel untuk skala likert adalah sebagai berikut:

Tabel 3.1

Kriteria Pemberian Skor

Alternatif Jawaban

Skor Alternatif Jawaban

Positif Negatif

Sangat setuju Setuju Ragu-ragu Tidak Setuju Sangat Tidak Setuju

5 4 3 2 1

1 2 3 4 5

Selanjutnya penulis melakukan langkah-langkah penyusunan angket sebagai berikut:

(35)

pola hidup. Psikomotor mengacu kepada Davc (1970) dalam www.marthayunanda.page.tl yang terdiri dari lima kategori yaitu peniruan, manipulasi, ketetapan, artikulasi, dan pengalamiahan. Mengenai aspek psikomotor yang berhubungan dengan gerak, penulis menggunakan angket yang mengacu pada pernyataan yang dikemukakan oleh Direktorat Pembinaan SMA (2010:67) bahwa:

1. Pedoman Penskoran berupa daftar periksa observasi atau skala penilaian yang harus mengacu pada soal. Daftar periksa observasi memuat aspek-aspek keterampilan pada setiap aspek-aspek keterampilan kunci dalam bentuk pertanyaan/pernyataan ke dalam tabel, sedangkan skala penilaian memuat banyaknya gradasi skor (Panduan Pengembangan Perangkat Penilaian Psikomotor);

2. Kriteria atau rubrik adalah pedoman penilaian kinerja atau hasil kerja peserta didik yang terdiri atas skor dan kriteria yang harus dipenuhi untuk mencapai skor tersebut. Gradasi skor (misal 5, 4, 3, 2, 1) tergantung pada jenis skala penilaian yang digunakan dan hakikat kinerja yang akan dinilai (Panduan Pengembangan Perangkat Penilaian Psikomotor);

Dengan demikian untuk pengambilan tes aspek psikomotor penulis rasa bisa dilakukan dengan menggunakan angket.

(36)

Tabel 3.2

Kisi-kisi Uji Coba Angket Untuk Kognitif, Afektif, dan Psikomotor

No Vảiabel Indikator Nomor Item Soal Jumlah

Positif Negatif

1. Kognitif

a. Pengetahuan 8,13,27 4,17,23 6

b. Pemahaman 1,18,22 5,28,36 6

c. Penerapan 14,26,34 2,9,31 6

d. Analisis 6,21,30 10,19,33 6

e. Sintesa 3,12,35 16,24,29 6

f. Evaluasi 7,15,25 11,20,32 6

Jumlah 18 18 36

2. Afektif

a. Penerimaan 6,15,18 2,10,25 6

b. Pemberian respon

atau partisipasi 4,21,30 9,14,23 6 c. Penilaian atau

penentuan sikap 11,19,26 3,17,29 6

d. Organisasi 1,16,22 7,13,24 6

e. Karakterisasi atau pembentukan pola hidup

8,12,27 5,20,28 6

Jumlah 15 15 30

3 Psikomotor

a. Peniruan 3,19,23 6,11,27 6

b. Manipulasi 10,17,26 1,15,24 6

c. Ketetapan 7,14,29 9,20,28 6

(37)

e. Pengalamiahan 2,13,25 8,12,21 6

Jumlah 15 15 30

Penyusunan angket. Dari kisi-kisi yang telah dibuat tersebut, selanjutnya dijadikan penyusunan butir-butir peryataan. Butir pernyataan dibuat dalam bentuk pernyataan-pernyataan dengan kemungkinan jawaban yang telah tersedia. Responden hanya dituntut untuk memilih salah satu dari lima alternatif jawaban yang sesuai dengan diri responden.

Selanjutnya langkah-langkah penyusunan angket dalam penalitian ini, penulis berpedoman pada pendapat Kartono yang dikutip oleh Uyun (2002:29) bahwa:

1. Membuat kata pengantar seperlunya sebagai pembuka yang sifatnya luas dan menarik, maka penulis menghindari kata-kata yang ergosentris dan kurang halus.

2. Memandang perlu membuat petunjuk ringkas, supaya responden dengan mudah menjawab pernyataan.

3. menyusun item dan kalimat yang sederhana, tetapi jelas dan tidak mengandung arti rangkap dan tidak samar-samar sifatnya.

4. Membuat pernyataan yang sesuai dengan keadaan kemampuan intelektual para responden (subjek riset).

5. Membuat item, yaitu singkat, sederhana, jelas sehingga tidak menuntut waktu, tenaga, pikiran para responden.

6. Menghindari kata-kata yang berlebihan, kata-kata yang sangat emosional dan kurang sopan yang mungkin bias menyimpang perasaan responden.

7. Memuat item yang tertutup, agar responden lebih tertarik.

8. Tidak membuat kuesioner yang terlampau panjang dan bertele-tele.

(38)

sama dengan sampel yang hendak diteliti. Data dari hasil uji coba tersebut lalu diolah dan dianalisis untuk mengetahui derajat validitas dan reliabilitasnya.

E. Uji Validitas dan Reliabilitas Angket

Setelah pelaksanaan uji coba angket, selanjutnya penulis menentukan tingkat validitas dan reliabilitas terhadap setiap butir pernyataan dari responden. Mengenai validitas ini Arikunto (2002:145) mengemukakan bahwa:

Sebuah instrumen dikatakan valid apabila mampu mengukur apa yang diinginkan. Sebuah instrumen dikatakan valid apabila dapat mengungkap data dari variable yang diteliti secara tepat. Tinggi rendahnya validitas instrumen menunjukkan sejauh mana data yang terkumpul tidak menyimpang dari gambaran tentang validitas yang dimaksud.

Dari pendapat di atas, suatu instrumen harus mengukur apa yang seharusnya diukur, atrinya sejauh mana ketepatan dan kecermatan suatu instrumen pengukuran dalam melakukan fungsi ukurnya, serta agar data yang diperoleh bisa relevan/sesuai dengan tujuan diadakannya pengukuran tersebut.

Adapun langkah-langkah yang ditempuh penulis dalam mencari validitas adalah sebagai berikut:

1. Memberikan skor pada masing-masing pernyataan.

2. Menjumlahkan skor pada seluruh jumlah butir pernyataan.

3. Merangking skor responden dari skor yang tertinggi sampai yang terendah. 4. Menetapkan 50% responden kelompok atas (kelompok yang memperoleh skor

(39)

5. Menetapkan 50% responden kelompok bawah (kelompok yang memperoleh skor rendah).

6. Mencari skor rata-rata dari setiap butir penyataan, baik untuk kelompok atas maupun kelompok bawah dengan menggunakan rumus sebagai berikut:

X = n

X

Keterangan: X = Nilai rata-rata untuk kelompok atas dan kelompok bawah

Σ X = Jumlah skor

n = Jumlah sampel

7. Mencari simpangan baku dari setiap butir pernyataan baik untuk kelompok atas maupun untuk kelompok bawah dengan menggunakan rumus sebagai berikut:

S =

1 ) ( 2

  

n X Xi

Keterangan: S = Simpangan baku X = Skor rata-rata n = Jumlah sampel

(40)

Sgab =

Keterangan: Sgab = Simpangan baku gabungan

n1 = Banyaknya responden kelompok atas n2 = Banyaknya responden kelompok bawah S1 = Simpangan baku kelompok atas

S2 = Simpangan baku kelompok bawah

9. Mencari nilai t-hitung untuk tiap butir pernyataan dengan menggunakan rumus:

(41)

Sebuah butir tes dikatakan valid apabila setelah dilakukan pendekatan signifikansi yaitu jika t-hitung lebih besar dari atau sama dengan t-tabel, maka butir pernyataan tersebut dapat digunakan sebagai tes dalam pengumpulan data. Tetapi jika sebaliknya t-hitung lebih kecil dari t-tabel, maka butir pernyataan tersebut tidak dapat digunakan kembali dalam pengambilan data karena tidak signifikansi pada tingkat kepercayaan tertentu.

Berikut ini hasil uji validitas yang telah penulis lakukan adalah sebagai berikut:

Tabel 3.3

Hasil Uji Validitas untuk Kognitif

No t-hitung t-tabel Keterangan

1 3,22 2,10 Valid

2 3,65 2,10 Valid

3 2,71 2,10 Valid

4 -1,26 2,10 Tidak Valid

5 2,28 2,10 Valid

6 3,44 2,10 Valid

7 3,17 2,10 Valid

8 3,61 2,10 Valid

9 3,02 2,10 Valid

10 3 2,10 Valid

11 -0,73 2,10 Tidak Valid

12 2,30 2,10 Valid

13 2,90 2,10 Valid

14 3,13 2,10 Valid

15 6,67 2,10 Valid

16 2,81 2,10 Valid

17 2,88 2,10 Valid

18 3,65 2,10 Valid

19 3,06 2,10 Valid

20 3,17 2,10 Valid

21 2,72 2,10 Valid

(42)

23 2,81 2,10 Valid

24 2,60 2,10 Valid

25 2,69 2,10 Valid

26 2,55 2,10 Valid

27 2,84 2,10 Valid

28 3,02 2,10 Valid

29 3,94 2,10 Valid

30 3,29 2,10 Valid

31 2,72 2,10 Valid

32 2,47 2,10 Valid

33 2,68 2,10 Valid

34 3,03 2,10 Valid

35 -2,06 2,10 Tidak Valid

36 2,50 2,10 Valid

Dari hasil ụji coba angket kognitif di atas, diperoleh hasil bahwa untuk soal yang diuji cobakan sebanyak 36 soal ternyata soal yang valid ada 33 soal. Jadi untuk pengambilan data kognitif angket yang diberikan jumlah soalnya sebanyak 33 soal.

Tabel 3.4

Hasil Uji Validitas untuk Afektif

No t-hitung t-tabel Keterangan

1 2,47 2,10 Valid

2 2,68 2,10 Valid

3 3,03 2,10 Valid

4 3,70 2,10 Valid

5 2,90 2,10 Valid

6 -0,29 2,10 Tidak Valid

7 3,83 2,10 Valid

8 3,61 2,10 Valid

9 3,17 2,10 Valid

10 2,88 2,10 Valid

(43)

12 3,83 2,10 Valid

13 2,60 2,10 Valid

14 2,69 2,10 Valid

15 2,55 2,10 Valid

16 3,29 2,10 Valid

17 2,81 2,10 Valid

18 2,42 2,10 Valid

19 2,72 2,10 Valid

20 3,29 2,10 Valid

21 2,50 2,10 Valid

22 2,95 2,10 Valid

23 2,94 2,10 Valid

24 2,35 2,10 Valid

25 3,54 2,10 Valid

26 -1,41 2,10 Tidak Valid

27 3,45 2,10 Valid

28 3,66 2,10 Valid

29 3,53 2,10 Valid

30 2,74 2,10 Valid

Dari hasil ụji coba angket afektif di atas, diperoleh hasil bahwa untuk soal yang diuji cobakan sebanyak 30 soal ternyata soal yang valid ada 28 soal. Jadi untuk pengambilan data afektif angket yang diberikan jumlah soalnya sebanyak 28 soal.

Tabel 3.5

Hasil Uji Validitas untuk Psikomotor

No t-hitung t-tabel Keterangan

1 3,44 2,10 Valid

2 3,17 2,10 Valid

3 2,55 2,10 Valid

4 3,02 2,10 Valid

5 3 2,10 Valid

6 3,29 2,10 Valid

(44)

8 2,90 2,10 Valid

9 3,13 2,10 Valid

10 6,67 2,10 Valid

11 2,81 2,10 Valid

12 -0,5 2,10 Tidak Valid

13 3,65 2,10 Valid

14 3,06 2,10 Valid

15 3,17 2,10 Valid

16 3,29 2,10 Valid

17 2,52 2,10 Valid

18 2,81 2,10 Valid

19 2,42 2,10 Valid

20 2,69 2,10 Valid

21 2,84 2,10 Valid

22 3,02 2,10 Valid

23 3,94 2,10 Valid

24 3,29 2,10 Valid

25 2,72 2,10 Valid

26 2,47 2,10 Valid

27 2,68 2,10 Valid

28 3,03 2,10 Valid

29 2,50 2,10 Valid

30 3,83 2,10 Valid

Dari hasil ụji coba angket psikomotor di atas, diperoleh hasil bahwa untuk soal yang diuji cobakan sebanyak 30 soal ternyata soal yang valid ada 29 soal. Jadi untuk pengambilan data psikomotor angket yang diberikan jumlah soalnya sebanyak 29 soal.

Setelah menghitung kadar validitas dari setiap butir pernyataan, maka selanjutnya menentukan reliabilitas, dengan langkah-langkah sebagai berikut: a. Membagi soal yang valid menjadi dua bagian yaitu soal yang bernomor ganjil

(45)

b. Skor dari butir-butir soal yang bernomor ganjil dikelompokan menjadi variable X dan skor dari butir-butir soal genap dijadikan variable Y.

c. Mengkorelasikan antara skor butir-butir soal yang bernomor ganjil dengan butir-butir soal yang bernomor genap, dengan menggunakan rumus teknik korelasi Pearson Product Moment.

rxy =

(46)

Untuk penghitungan reliabilitas, hasilnya adalah sebagai berikut:

Tabel 3.6

Hasil Uji Reliabilitas Kognitif

(47)

=

Dari hasil penghitungan diperoleh r-hitung = 0,92 sedangkan r-tabel Product Moment diketahui bahwa dengan dk = n – 2 yaitu 18 dan harga r 0,95 = 0,468. Dengan demikian maka r-hitung lebih besar dari r-tabel, hal ini menunjukan bahwa instrumen penelitian ini dapat dipercaya atau reliabel.

Tabel 3.7

Hasil Uji Reliabilitas Afektif

(48)
(49)

Dari hasil penghitungan diperoleh r-hitung = 0,95 sedangkan r-tabel Product Moment diketahui bahwa dengan dk = n – 2 yaitu 18 dan harga r 0,95 = 0,468. Dengan demikian maka r-hitung lebih besar dari r-tabel, hal ini menunjukan bahwa instrumen penelitian ini dapat dipercaya atau reliabel.

Tabel 3.8

Hasil Uji Reliabilitas Psikomotor

(50)

=

Dari hasil penghitungan diperoleh r-hitung = 0,97 sedangkan r-tabel Product Moment diketahui bahwa dengan dk = n – 2 yaitu 18 dan harga r 0,95 = 0,468. Dengan demikian maka r-hitung lebih besar dari r-tabel, hal ini menunjukan bahwa instrumen penelitian ini dapat dipercaya atau reliabel.

F. Prosedur Pengolahan Data

(51)

dan yang tidak validnya. Selanjutnya penulis melakukan uji reliabilitas terhadap butir soal yang valid yaitu untuk mengetahui angket tersebut reliabel atau tidak. Setelah diketahui angket tersebut sudah valid dan reliabel maka langkah berikutnya adalah melakukan pengolahan data. Dalam pengolahan data ini penulis menggunakan rumus-rumus statistik dari Nurhasan (2002), dengan menggunakan program Microsoft exel.

Sesuai dengan rumusan masalah, hipotesis dan jumlah variabel yang akan diteliti, maka teknik pengolahan data yang akan digunakan adalah teknik uji kesamaan dua rata-rata dengan dua pihak. Sebelum teknik pengolahan data dilakukan, terlebih dahulu dicari pengujian persyaratan analisis yaitu mencari normalitas dan homogenitas. Uji normalitas dilakukan dengan pendekatan uji Liliefors Nurhasan (2002:105-106) dengan langkah-langkah sebagai berikut: a. Menyusun data hasil pengamatan, yang dimulai dari nilai pengamatan yang

paling kecil sampai nilai pengamatan yang paling besar.

b. Untuk semua nlai pengamatan dijadikan angka baku Z dengan pendekatan Z-skor yaitu:

Z = S

X X

dengan S =

1 ) ( 2

  

n X X

Keterangan: Z = Nilai Z yang dicari

X = Skor yang diperoleh

X = Nilai rata-rata

(52)

Σ = Menerangkan jumlah

n = Jumlah sampel

c. Untuk tiap baku angka tersebut, dengan bantuan tabel distribusi normal baku (tabel distribusi Z). kemudian hitung peluang dari masing-masing nilai Z (Fzi) dengan ketentuan: jika nilai Z negatif, maka dalam menentukan Fzi-nya adalah 0,5 - luas daerah disribusi Z pada tabel. Dan apabila nilai Z positif, maka dalam menentukan Fzi-nya adalah 0,5 + luas daerah disribusi Z pada tabel.

d. Menentukan proporsi masing-masing nilai Z (Szi) dengan cara melihat kedudukan nilai Z pada nomor urut sampel yang kemudian dibagi dengan banyaknya sampel.

e. Menghitung selisih antara F(Zi) – S(Zi) dan tentukan harga mutlaknya.

f. Ambilah harga mutlak yang paling besar di antara harga mutlak dari seluruh sampel yang ada dan berilah simbol Lo.

g. Dengan bantuan tabel nilai kritis L untuk uji Liliefors, maka tentukanlah nilai L.

h. Membandingkan nilai L tersebut dengan nilai Lo untuk mengetahui diterima atau ditolak hipotesisnya, dengan kriteria:

- Terima Ho jika Lo < Lα = Normal

- Terima Hi jika Lo > Lα = Tidak Normal

(53)

a. Tulis pasangan hipotesisnya yaitu Ho :  = 

H1 :  

b. Tulis pendekatan statistik dengan menggunakan rumus:

Variansi Variansi F

kecil besar

c. Tentukan kriteria penerimaan dan penolakan hipotesisnya yaitu: Tolak hipotesis (Ho) jika Fhitung› Ftabel dalam hal lain Ho diterima.

d. Dengan bantuan tabel F untuk uji homogenitas, maka tentukanlah nilai F-nya, dengan = 0,05.

e. Buat kesimpulan.

Setelah dicari normalitas dan homogenitasnya, selanjutnya penulis melakukan uji kesamaan dua rata-rata dengan dua pihak. Adapun langkah-langkahnya adalah sebagai berikut:

(54)

Arti dari unsur-unsur tersebut adalah:

1

X = Nilai rata-rata variabel 1. (kelompok yang melakukan ekstrakurikuler olahraga).

2

X = Nilai rata-rata variabel 2 (kelompok yang tidak melakukan ekstrakurikuler olahraga).

S = Simpangan Baku Gabungan.

n1 = Jumlah Sampel variabel 1 (kelompok yang melakukan ekstrakurikuler olahraga).

n2 = Jumlah sample variabel 2 (kelompok yang tidak melakukan ekstrakurikuler olahraga).

S1 = Simpangan baku variabel 1. S2 = Simpangan baku variabel 2.

Langkah-langkah yang harus ditempuh a. Rumuskan hipotesisnya.

b. Hitung variansi gabungan dengan rumus c. Hitung simpangan baku gabungan. d. Hitung nilai t dengan rumus tersebut. e. Tentukan Dk-nya = (n1 + n2 -2).

f. Tentukan tingkat kepercayaan yang akan diambil (0,01 atau 0,05) yang dalam penelitian ini diambil taraf kepercayaan 0,05.

g. Bandingkan hasil t hitung dengan t tabel pada tingkat kepercayaan yang diajukan dengan peluang t (1 - 12 ).

(55)

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. KESIMPULAN

1. Berdasarkan hasil pengolahan data dan analisis skor antara hasil kognitif siswa yang mengikuti kegiatan ekstrakurikuler penjas dengan siswa yang tidak mengikuti kegiatan ekstrakurikuler penjas, diperoleh hasil bahwa tidak terdapat dampak yang signifikan dari pembelajaran ekstrakurikuler penjas terhadap hasil belajar kognitif siswa di SMAN 1 Wanayasa Kabupaten Purwakarta.

2. Berdasarkan hasil pengolahan data dan analisis skor antara hasil afektif siswa yang mengikuti kegiatan ekstrakurikuler penjas dengan siswa yang tidak mengikuti kegiatan ekstrakurikuler penjas, diperoleh hasil bahwa tidak terdapat dampak yang signifikan dari pembelajaran ekstrakurikuler penjas terhadap hasil belajar afektif siswa di SMAN 1 Wanayasa Kabupaten Purwakarta.

(56)

B. SARAN

Sehubungan dengan penelitian yang penulis lakukan, maka penulis ingin mengemukakan beberapa saran sebagai berikut:

1. Bagi siswa SMAN 1 Wanayasa Kabupaten Purwakarta agar lebih meningkatkan lagi semangat untuk giat belajar supaya pencapaian prestasi belajar kognitif, afektif, dan psikomotor ke arah yang lebih baik dapat terwujud.

2. Siswa diharapkan melakukan kegiatan olahraga di luar sekolah berupa ekstrakurikuler, karena pembelajaran di sekolah waktunya terbatas, hal ini bertitik tolak dari pentingnya penjas yang menunjang terhadap kegiatan belajar untuk mencapai tujuan belajar yaitu berupa hasil belajar kognitif, afektif, dan psikomotor..

3. Bagi guru apabila ingin anak didiknya mendapatkan hasil belajar yang baik, senantiasa di dalam memberikan materi pelajaran lebih ditingkatkan lagi dan memberi dorongan kepada siswa untuk belajar lebih giat lagi.

(57)

DAFTAR PUSTAKA

…….. 2010. Juknis Penyusunan Perangkat Penilaian Psikomotor Di SMA. Direktorat Pembinaan SMA.

... (2003). Undang-undang Republik Indonesia No.20 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

Agus. (2011). Perolehan Hasil Belajar Penjas Dampaknya terhadap self-esteem dan Gaya Hidup Aktif Siswa SMA. Tesis Program Pasca Sarjana UPI Bandung.

Arikunto, Suharsimi. (2002). Prosedur Penelitian, Suatu Pendekatan Praktek. Yogyakarta: Rineka Cipta.

Azwar, S. (2009). Sikap Manusia – Teori dan Pengukurannya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Dahar, R W. (1996). Teori-teori Belajar. Jakarta: Erlangga

Dimyati. (2006). Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta.

Fraenkel, JR,. Wallen, NE. (1993). How To Design and Evaluate Research in Education. USA: McGraw Hill, Inc.

Giriwijoyo, S. (2005). Kesehatan, Kebugaran Jasmani dan Olahraga. Sari Bahan Kuliahan di ITB. Manusia dan Olahraga.

Hamalik, Oemar. (1994). Pengembangan Kurikulum Dan Pembelajaran. Bandung: Trigenda Karya.

http://cafestudi061.wordpress.com/2008/09/11/pengertian-belajar-dan-perubahan-perilaku-dalam-belajar/

Ibrahim, R. (2001). Landasa Psikologis Pendidikan Jasmani di Sekolah Dasar.

Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional – Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah.

(58)

Malik, Apriadi, Malik. (2009). Penilaian Siswa SMA terhadap Keterampilan Mengajar Penjas Mahasiswa dalam Kegiatan PLP. Skripsi Sarjana Pada FPOK UPI Bandung: Tidak Diterbitkan.

Nasir, M. (1999). Metode Penelitian. Jakarta: Penerbit Galia Indonesia.

Nurhasan. (2002). Pengembangan Sistem Pembelajaran Modul Mata Kuliah Statistik. FPOK UPI Bandung.

Octaviani, Evi. (2002). Kontribusi kecerdasan emosional Terhadap Proses Belajar Mengajar. Skripsi Sarjana Pada FIP UPI Bandung: Tidak Ditrebitkan.

Permana, D, Setia. (2005). Propil Kebugaran Jasmani Siswa Sekolah Dasar Hubungannya Dengan Hasil Belajar. Skripsi Sarjana Pada FPOK UPI Bandung: Tidak Diterbitkan.

Rusyan, Tabrani. (1990). Penuntun Belajar Yang Sukses. Jakarta: Nine Karya Jaya.

Sadiman Arif, dkk. (2002). Media Pendidikan (Pengertian, Pengembangan dan Pemanfaatannya). Jakarta : Raja Grafindo Persada.

Sardiman, A, M. (2010). Interaksi & Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: PT. Rajagrafindo Perkasa.

Singer, Robert N. (1994). Motor Learning and Human Performance. New York: Macmillan Publishing Co. Inc.

Somantri, Sutjihati. (2007). Psikologi Anak Luar Biasa. Bandung: PT. Refika Aditama.

Sudjana dan Rivai (1982). Teknologi Pengajaran. Bandung. Penerbit Sinar Baru. Sugiyono. (2007). Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif

Kualitatif dan R & D. Bandung: CV. Alphabeta.

Suherman, Adang. (2009). Revitalisasi Keterlantaran Pengajaran Dalam Pendidikan Jasmani. Bandung: Ikip Bandung Press.

(59)

Sukardi. (2003). Metodologi Penelitian Pendidikan. Yogyakarta: Bumi Aksara. Sukintaka. (2004). Teori Pendidikan Jasmani. Bandung: Yayasan Nuansa

Cendikia.

Tedi. (1996). Bloom’s Taxonomy of Educational Objectives. Teaching and Educational Development Institute. The University of Quensland: Australia.

Tilaar, H.A.R. (1997). Paradigma Baru Pendidikan Nasional. Jakarta : Rineka Cipta.

Tomey, L.A. and Robert Morris. (2005). The Taxonomy for the Technology.

Domainand IDEA Publishing, Inc.

Universitas Pendidikan Indonesia (2011). Pedoman Penulisan Karya Ilmiah. UPI. Uyun, U, Saeful. (2002). Hubungan Perhatian Siswa Terhadap Proses

Pembelajaran Penjaskes Dengan Prestasi Akademik Mata Pelajaran Penjaskes. Skripsi Sarjana Pada FPOK UPI Bandung: Tidak Diterbitkan.

www.marthayunanda.page.tl

(60)

Figur

Gambar 3.1 Desain Penelitian

Gambar 3.1

Desain Penelitian p.31
Gambar 3.2  Langkah Penelitian

Gambar 3.2

Langkah Penelitian p.32
Tabel 3.1 Kriteria Pemberian Skor

Tabel 3.1

Kriteria Pemberian Skor p.34
Tabel 3.3 Hasil Uji Validitas untuk Kognitif

Tabel 3.3

Hasil Uji Validitas untuk Kognitif p.41
Tabel 3.4  Hasil Uji Validitas untuk Afektif

Tabel 3.4

Hasil Uji Validitas untuk Afektif p.42
Tabel 3.5 Hasil Uji Validitas untuk Psikomotor

Tabel 3.5

Hasil Uji Validitas untuk Psikomotor p.43
Tabel 3.6 Hasil Uji Reliabilitas Kognitif

Tabel 3.6

Hasil Uji Reliabilitas Kognitif p.46
Tabel 3.7  Hasil Uji Reliabilitas Afektif

Tabel 3.7

Hasil Uji Reliabilitas Afektif p.47
Tabel 3.8  Hasil Uji Reliabilitas Psikomotor

Tabel 3.8

Hasil Uji Reliabilitas Psikomotor p.49
d.tabel.  Menentukan proporsi masing-masing nilai Z (Szi) dengan cara melihat
d.tabel. Menentukan proporsi masing-masing nilai Z (Szi) dengan cara melihat p.52

Referensi

Memperbarui...