• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS KEPUASAN PELANGGAN TERHADAP LAYANAN DISTRIBUSI PRODUK KONSTRUKSI DENGAN PENDEKATAN PHYSICAL DISTRIBUTION SERVICE QUALITY (PDSQ) (STUDI KASUS DI CV. TUNGGAL TEKNIK Surabaya).

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "ANALISIS KEPUASAN PELANGGAN TERHADAP LAYANAN DISTRIBUSI PRODUK KONSTRUKSI DENGAN PENDEKATAN PHYSICAL DISTRIBUTION SERVICE QUALITY (PDSQ) (STUDI KASUS DI CV. TUNGGAL TEKNIK Surabaya)."

Copied!
97
0
0

Teks penuh

(1)

QUALITY (PDSQ)

(STUDI KASUS DI CV. TUNGGAL TEKNIK Sur abaya)

SKRIPSI

Oleh :

ACHMAD LUTFIANTO

0932010056

J URUSAN TEKNIK INDUSTRI

FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI

UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN”

J AWA TIMUR

(2)

PHYSICAL DISTRIBUTION SERVICE QUALITY (PDSQ) DI CV. TUNGGAL TEKNIK SURABAYA

Disusun Oleh :

ACHMAD LUTFIANTO 0932010056

Telah dipertahankan dihadapan dan diterima oleh Tim Penguji Skr ipsi J ur usan Teknik Industri Fakultas Teknologi Industr i

Univer sitas Pembangunan Nasional “Veteran” J awa Timur Pada Tanggal : Desember 2013

Dosen Penguji : Dosen Pembimbing :

1. 1.

Ir. Endang P.W, MMT Ir. Rusindiyanto, MT

NIP. 19591228 198803 2 001 NIP. 19650225 199203 1 001

2. 2.

Ir. Nisa Masrur oh, MT Ir. Hari Purwoadi, MM

NIP. 19630125 198803 1 001 NIP. 19480828 198403 1 001

3.

Ir. Rusindiyanto, MT

NIP. 19650225 199203 1 001

Mengetahui,

Dekan Fakultas Teknologi Industri

Univer sitas Pembangunan Nasional “Veteran” J awa Timur

(3)

rahmat, taufik dan hidayahNya sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan

Tugas Akhir (Skripsi) ini dengan judul ANALISIS KEPUASAN PELANGGAN

TERHADAP LAYANAN DISTRIBUSI PRODUK KONSTRUKSI DENGAN

PENDEKATAN PHYSICAL DISTRIBUTION SERVICE QUALITY (PDSQ)

(STUDI KASUS DI CV. TUNGGAL TEKNIK Surabaya).

Skripsi ini disusun untuk memenuhi sebagian persyaratan dalam

memperoleh gelar Sarjana Teknik Jurusan Teknik Industri Fakultas Teknologi

Industri Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur.

Dalam menyusun skripsi ini, mulai dari persiapan sampai dengan selesai.

Penulis tidak lepas dari banyak pihak, yang secara langsung maupun secara tidak

langsung telah turut membimbing dan mendukung penulisan skripsi ini yang

semuanya sangat besar artinya bagi penulis. Oleh karena itu, tidak lupa penulis

mengucapkan banyak terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu

sehingga terselesaikannya laporan Skripsi ini. Pada kesempatan ini penulis ingin

menyampaikan ungkapan terima kasih sebesar – besarnya kepada :

1. Prof. DR. Ir. Teguh Soedarto, MP., selaku Rektor Universitas Pembangunan

Nasional “Veteran” Jawa Timur.

2. Ir. Sutiyono, MT., selaku Dekan Fakultas Teknologi Industri Universitas

(4)

membekali penulis dengan ilmu pengetahuan yang berguna dan bermanfaat

bagi penulis selama mengikuti kegiatan perkuliahan.

5. Ir. Rus Indiyanto, MT., selaku Dosen Pembimbing I yang dengan kesabaran

dan kerelaannya telah membimbing dan memberi petunjuk - petunjuk yang

sangat barguna sehingga dapat terselesainya Tugas Akhir ini.

6. Ir. Hari Purwoadi, MM., selaku Dosen Pembimbing II yang dengan kesabaran

dan kerelaannya telah membimbing dan memberi petunjuk - petunjuk yang

sangat barguna sehingga dapat terselesainya Tugas Akhir ini.

7. Drs. Pailan, Mpd. selaku Dosen penguji I seminar I.

8. Ir. Nisa Masruroh, MT. Selaku Dosen penguji II seminar I.

9. Ir. Yustina Ngatilah, MT. selaku Dosen penguji I seminar II.

10. Ir. Handoyo, MT. Selaku Dosen penguji II seminar II.

11. Ir. Endang Pudji. W., MMT. selaku Dosen penguji I ujian lesan / ujian

negara.

12. Ir. Nisa Masruroh, MT. Selaku Dosen penguji II ujian lesan / ujian negara.

13. Ir. Sumiati, MT selaku dosen wali.

14. Bapak Subandi selaku pembimbing lapangan yang telah sabar dan merelakan

waktunya membimbing dan memberi petunjuk - petunjuk yang sangat

(5)

16. Sahabat – sahabatku dan yang terspesial, Mas Yanto, Haris, Sadam, Wawan,

Yadi, Dika, Yaskur, Ashe, Tinuk dll, atas semua dorongan dan semangatnya.

17. Semua teman – teman mahasiswa UPN TI Pagi dan TI Sore satu angkatan,

angkatan atas dan angkatan bawah, yang telah mengenal saya, atas bantuan

dan dukungannya saya ucapkan banyak terimakasih.

18. Pihak-pihak lain yang membantu penulis dalam penyusunan Tugas Akhir ini

Semoga Allah SWT memberikan balasan atas semua keikhlasan dan

bantunanya yang diberikan kepada penulis.

Seluruh kemampuan dan pengetahuan telah tercurahkan demi kesempurnaan

skripsi ini, namun keterbatasan dan kekurangan tetaplah ada. Oleh karena itu,

Penulis menyadari sepenuhnya bahwa di dalam penyusunan laporan ini masih

jauh dari sempurna, hal ini disebabkan karena keterbatasan yang kami miliki.

Untuk itu penulis dengan senang hati menerima segala kritik dan saran yang

bersifat membangun guna kesempurnaan Tugas Akhir (Skripsi) ini.

Akhir kata penulis berharap semoga Tugas Akhir ini dapat bermanfaat bagi

semua pihak dan terutama bagi penulis sendiri.

Gresik, November 2013

Penulis

(6)

DAFTAR ISI

Abstraksi ... i

Kata Pengantar ... ii

Daftar Isi ... v

Daftar Gambar ... viii

Daftar Tabel... ix

Daftar Lampiran ... x

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Perumusan Masalah ... 2

1.3 Batasan Masalah ... 3

1.4 Asumsi ... 3

1.5 Tujuan Penelitian ... 4

1.6 Manfaat Peneltian ... 4

1.7 Sistematika Penulisan ... 5

BAB II TINJ AUAN PUSTAKA ... 7

2.1 Distribusi ... 7

2.1.1 Pengertian Distribusi ... 7

2.1.2 Sistem Distribusi ... 7

2.1.3 Fungsi Saluran Distribusi ... 9

2.1.4 Manajemen Distribusi ... 10

(7)

2.2.1 Dimensi Kualitas Layanan ... 12

2.2.2 Dimensi Pokok Jasa ... 13

2.3 Pengertian Distribusi Fisik ... 15

2.3.1 Tujuan Distribusi Fisik... 20

2.3.2 Manfaat Sistem Distribusi Fisik ... 21

2.4 Ilmu Statistik ... 22

2.4.1 Pengertian Data... 22

2.4.2 Pengumpulan Data ... 23

2.4.3 Uji Data ... 25

2.5 Physical Distribution Service Quality (PDSQ) ... 28

2.5.1 Uji Hipotesis ... 30

2.5.2 Uji Sign (Uji Tanda) ... 31

2.5.3 Pengukuran Kepusan Pelanggan... 36

2.5.4 Skala Likers ... 36

2.5.5 Penentuan Grade Nilai ... 37

2.6 Penelitian Terdahulu ... 39

BAB III METODE PENELITIAN ... 43

3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian ... 43

3.2 Identifikasi dan Definisi Operasional Variabel ... 43

3.3 Metode Pengumpulan Data ... 45

3.3.1 Pengumpulan Data Kualitatif ... 45

3.3.2 Pengumpulan Data Kuantitatif ... 45

(8)

3.4.1 Skala Pengukuran ... 46

3.4.2 Uji Validitas ... 46

3.4.3 Reabiltas Kuisioner ... 47

3.4.4 Pengujian Hipotesis ... 48

3.4.5 Pengukuran Kepuasan Pelanggan ... 50

3.5 Langkah-langkah Pemecahan Masalah... 51

BAB IV ANALISA HASIL DAN PEMBAHASAN ... 56

4.1 Pembuatan Kuisioner ... 56

4.2 Penyebaran Kuisioner ... 56

4.3 Pengolahan Data Hasil Kuisioner... 56

4.4 Uji Validitas Kuisioner ... 58

4.4.1 Uji Validitas (Persepsi) ... 58

4.4.2 Uji Validitas (Harapan) ... 61

4.5 Uji Reabilitas ... 63

4.6 Pengujian Hipotesis ... 65

4.7 Perhitungan Indeks Kepuasan Pelanggan ... 72

4.8 Peringkat Besarnya Indeks Kepuasan Pelanggan ... 73

4.9 Pembahasan Analisis Physical Distribution Service Quality... 76

4.10 Usulan Perbaikan ... 79

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 81

5.1 Kesimpulan ... 81

5.2 Saran ... 82

(9)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Sistem Distribusi ... 8

Gambar 2.2 Skema Sistem Distribusi Langsung ... 8

Gambar 2.3 Skema Sistem Distribusi Tidak Langsung ... 8

(10)

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Nilai Kritis h Untuk Uji Tanda ... 33

Tabel 2.2 Tabel Contoh Soal Uji Tanda ... 34

Tabel 4.1 Pengumpulan Data Kuisioner ... 57

Tabel 4.2 Angka Korelasi Variabel (Persepsi) ... 59

Tabel 4.3 Uji Validitas Awal (Persepsi) ... 60

Tabel 4.4 Angka Korelasi Variabel (Harapan) ... 62

Tabel 4.5 Uji Validitas Awal (Harapan) ... 62

Tabel 4.6 Perhitungan Besarnya IKP Masing-Masing Atribut ... 72

Tabel 4.7 Peringkat Besarnya Indeks Kepuasan Pelanggan ... 74

(11)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran I A : Kuisioner Bagian 1 (Responden)

Lampiran I B : Bentuk Kuisioner Tingkat Persepsi

Lampiran I C : Bentuk Kuisioner Tingkat Harapan

Lampiran II A : Output Kuisioner Data Responden

Lampiran II B : Output Perhitungan Untuk Mencari Nilai rhitung (Persepsi)

Lampiran II C : Output Perhitungan Untuk Mencari Nilai rhitung (Harapan)

Lampiran II D : Output Uji Reabilitas Persepsi dan Harapan

Lampiran III A : Daftar Tabel r Untuk rtabel

Lampiran III B : Daftar Nilai Kritis h Untuk Uji Tanda

Lampiran IV A : Perhitungan Indeks Kepuasan Pelanggan (IKP)

Masing-Masing Atribut dan Perhitungan Indeks Kepuasan Pelanggan

(IKP) Secara Keseluruhan

Lampiran V A : Output Software Uji Sign Masing-Masing Dimensi

(12)

should be able to as well as fast and responsive in making dicisions for the company which was estabilished to develop properly. As for one sales technique in question is related to how and how high the quality of services provided to consumers. This is so that they feel the satisfaction of customers as expected.

CV. Tunggal Teknik is one of the national private company engaged in general trading and manufacturing of construction materials. Products with the most demand is minimalist iron fence. Where yak competitor tires that must be faced, then improved quality of service is one of the most important ways to do the company in the face of the many competitors, in order to maintain customer loyalty and continue the company's long-term. With these problems, the method

of Physical Distribution Service Quality (PDSQ) is an appropriate method for measuring the quality of a distribution service.

To purpose of this study was to determine how well the quality of distribution services that have been provided to the customer and can be proposed improvements to the distribution service the company if there is an indication of lack of quality service company.

Based on the results of data processing for each dimension of Physical Distribution Service Quality (PDSQ), then earned customer satisfaction index (CSI) from the largest to the smallest is as follows, the timeliness dimension of 92,5%, condition dimension of 88,5%, and availability of 82,7%. While the calculation of overall customer satisfaction index as much as 87,9% earned, amounting to 87.9% means that the level of overall satisfaction experienced by customers on the quality of physical distribution services received from the company. Thus the service provided by the company has been very good.

(13)

keadaan yang demikian pengusaha harus mampu serta cepat dan tanggap dalam mengambil keputusan agar perusahaan yang didirikan dapat berkembang dengan baik. Adapun salah satu teknik penjualan yang dimaksud adalah terkait dengan bagaimana dan seberapa tinggi kualitas pelayanan yang diberikan terhadap konsumen. Ini dimaksudkan agar para konsumen mereka merasakan kepuasan sebagai mana yang diharapkan.

CV. Tunggal Teknik Surabaya merupakan salah satu perusahaan swasta nasional yang bergerak dibidang perdagangan umum dan pembuatan produk-produk konstruksi. Dengan Produk yang paling banyak permintaan adalah Pagar besi minimalis. Dimana banyak pesaing yang harus dihadapi, maka peningkatan kualitas pelayanan merupakan salah satu cara yang sangat penting yang dapat dilakukan pihak perusahaan dalam menghadapi banyaknya pesaing tersebut, agar dapat menjaga loyalitas konsumen perusahaan secara continue dan jangka panjang. Dengan permasalahan tersebut, metode Physical Distribution Service Quality (PDSQ) merupakan metode yang tepat untuk mengukur kualitas layanan suatu distribusi.

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui seberapa baik kualitas layanan distribusi yang telah diberikan kepada para konsumen dan dapat menjadi usulan perbaikan terhadap layanan distribusi diperusahaan bila terdapat indikasi kurangnya kualitas layanan diperusahaan.

Beradasarkan hasil pengolahan data terhadap masing-masing dimensi PDSQ, maka diperoleh indeks kepuasan pelanggan (IKP) dari yang terbesar sampai yang terkecil adalah sebagai berikut, pada dimensi timeliness sebesar 92,5%, untuk dimensi contition sebesar 88,5%, dan availability sebesar 82,7%. Sedangkan hasil perhitungan nilai indeks kepuasan pelanggan secara keseluruhan didapat sebesar 87,9%, artinya sebesar 87,9 % itulah tingkat kepuasan yang dirasakan oleh pelanggan atas kualitas layanan distribusi fisik yang diterima dari perusahaan. Dengan demikian maka pelayanan yang diberikan oleh perusahaan sudah sangat baik.

(14)

1.1 Latar Belakang

Semakin tingginya tingkat persaingan dalam dunia industri, menuntut

perusahaan untuk dapat menghadapi persaingan secara baik dan siap dengan

segala resiko yang akan dihadapi. Maka untuk menghadapi situasi dan keadaan

yang demikian pengusaha harus mampu serta cepat dan tanggap dalam

mengambil keputusan agar perusahaan yang didirikan dapat berkembang dengan

baik. Pada prinsipnya setiap perusahaan tatkala menjual produk-produknya akan

dihadapkan dengan strategi maupun teknik penjualan yang bagus, sehingga

komoditas yang ditawarkannya dapat terjual dengan baik. Adapun salah satu

teknik penjualan yang dimaksud adalah terkait dengan bagaimana dan seberapa

tinggi kualitas pelayanan yang diberikan terhadap konsumen. Kualitas pelayanan

yang diberikan merupakan kinerja terpenting oleh perusahaan bagi kepuasan

konsumen. Perusahaan harus memperhatikan hal-hal penting bagi konsumen,

supaya mereka merasakan kepuasan sebagaimana yang diharapkan.

CV. TUNGGAL TEKNIK merupakan salah satu perusahaan swasta

nasional yang bergerak dibidang perdagangan umum dan pembuatan

produk-produk konstruksi. Dengan Produk yang paling banyak permintaan adalah Pagar

besi minimalis. Dimana banyak pesaing yang harus dihadapi, maka peningkatan

kualitas pelayanan sistem distribusi merupakan salah satu cara yang sangat

(15)

konsumennya, dan atribut-atribut apakah yang masih mungkin untuk ditingkatkan

lagi pelayanannya agar kualitas pelayanan diperusahaan bisa lebih optimal pada

periode-periode yang akan datang.

Dengan permasalahan tersebut, metode Physical Distribution Service

Quality (PDSQ) merupakan metode yang tepat untuk mengukur kualitas layanan

suatu distribusi. PDSQ terkait dengan ketepatan waktu dan flow of goods yang

mampu dipertanggung jawabkan mulai dari penerimaan hingga barang – barang

tersebut sampai ke tangan konsumen. Metode PDSQ diklasifikasikan menjadi 3

dimensi, yakni Timeliness, Availability, dan Quality. Quality dalam hal ini

mengacu pada bentuk dan komposisi delivered order, yakni kondisi dari produk

yang dikirimkan.

Dengan demikian diharapkan pendekatan menggunakan metode PDSQ ini

mampu mengetahui seberapa baik kualitas layanan distribusi yang telah diberikan

dan dapat menjadi usulan perbaikan terhadap layanan distribusi diperusahaan bila

terdapat indikasi kurangnya kualitas layanan diperusahaan.

1.2 Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas, permasalahan yang diangkat dalam

(16)

1.3 Batasan Masalah

Adapun batasan masalah yang diberikan pada penelitian ini adalah sebagai

berikut :

1. Penelitian ini menganalisa tingkat kepuasan konsumen terhadap kualitas

pelayanan distribusi di CV. TUNGGAL TEKNIK Surabaya.

2. Pengisian kuesioner dalam hal ini dilakukan oleh pelanggan, pihak yang

ditunjuk atau keluarga yang bersangkutan.

3. Tidak membahas masalah biaya.

1.4 Asumsi

Adapun asumsi-asumsi dari penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Responden mengetahui ukuran dan kualitas produk.

2. Data kuisioner diisi responden dan dianggap memahami maksud pertanyaan.

3. Responden mampu berpikir secara logis atau rasional dalam menjawab

pertanyaan kuisioner.

4. Selama penelitian berlangsung fasilitas pelayanan yang ada di perusahaan

(17)

2. Usulan perbaikan terhadap layanan distribusi perusahaan.

1.6 Manfaat Penelitian

Adapun manfaat yang diperoleh dari penelitian tugas akhir ini adalah :

1. Manfaat Bagi Perusahaan :

- Dengan adanya penelitian ini, pihak perusahaan dapat memperbaiki

kualitas layanan distribusinya.

- Dapat mengetahui prioritas tindakan perbaikan dan melakukan perbaikan

yang terbaik secara kontinyu.

2. Bagi Peneliti :

- Dapat memenuhi persyaratan kelulusan program pendidikan S1 di UPN

‘Veteran’ Jatim.

- Dapat mengetahui proses produksi sampai pengiriman produk di

perusahaan.

- Menambah pengetahuan mengenai analisis kualitas layanan distribusi.

3. Manfaat bagi Universitas :

− Menambah referensi perpustakaan.

− Diharapkan dapat bermanfaat bagi mahasiswa yang mengadakan

penelitian dengan permasalahan yang serupa dan untuk penelitian lebih

(18)

BAB I PENDAHULUAN

Pada bab ini berisi tentang latar belakang masalah, perumusan

masalah, batasan masalah, asumsi, tujuan penelitian, manfaat,

asumsi, dan sistematika penulisan.

BAB II TINJ AUAN PUSTAKA

Pada bab ini berisi tentang landasan teori-teori yang digunakan

dalam pelaksanaan penelitian sebagai penunjang untuk mengolah

dan menganalisa data-data yang diperoleh secara langsung maupun

tidak langsung yaitu teori tentang layanan distribusi.

BAB III METODE PENELITIAN

Pada bab ini berisi tentang langkah-langkah dalam melakukan

penelitian, mulai dari lokasi pencarian data, metode pengambilan

data, identifikasi variabel, dan metode pengolahan data, yang

dilakukan untuk mencapai tujuan dari penelitian selama

pelaksanaan penelitian.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

Pada bab ini berisi tentang data-data yang telah terkumpul,

kemudian diolah dengan menggunakan metode yang digunakan

(19)

memberikan suatu rekomendasi sebagai masukan ataupun

perbaikan bagi pihak perusahaan.

DAFTAR PUSTAKA

(20)

BAB II

TINJ AUAN PUSTAKA

2.1 Distribusi

2.1.1 Pengertian Distribusi

Distribusi mempunyai pengaruh besar terhadap perorangan, masyarakat

pembangunan ekonomi, dan sosial politik suatu negara. Distribusi merupakan

salah satu faktor penting dalam keputusan pemasaran. Setelah produk dihasilkan

perusahaan harus dapat mendistribusikannya kepada konsumen.

Biasanya sistem tersebut memerlukan waktu bertahun-tahun untuk

membangunnya, dan tidak mudah mengubahnya. Distribusi tersebut sama

pentingnya dengan sumber daya internal yang utama seperti produksi, riset,

rekayasa dan tenaga dan fasilitas penjualan lapangan. Sistem tersebut

melambangkan komiten korporat yang penting bagi sejumlah besar perusahaan

independen yang bisnisnya adalah distribusi dan bagi pasar-pasar tertentu yang

dilayaninya. Sistem itu juga melambangkan komitmen terhadap kebijakan dan

praktik yang merupakan jaringan dasar yang diatasnya dirangkai sekelompok

besar hubungan jangka panjang. (Gartustiadi, Teddy. 2011)

2.1.2 Sistem Distribusi

Secara umum, sistem distribusi dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu :

1. Sistem distribusi langsung

(21)

Gambar 2.1 : Sistem ditribusi.

Sistem distribusi langsung mendistribusikan barang secara langsung dari produsen

ke konsumen. Sedang sistem distribusi tidak langsung menggunakan perantara

(midleman) sehingga tidak langsung bertemu konsumen.

SISTEM LANGSUNG

Gambar 2.2 : Skema sistem distribusi langsung.

Tipe saluran distribusi langsung tidak menggunakan perantara yang

independen. Produsen (dapat menggunakan agen penjual) langsung kepada

konsumen. Sistem distribusi langsung umumnya digunakan pada sistem Direct

Order (pelanggan dapat memesan langsung kepada penjual melalui surat, telepon,

atau bentuk komunikasi lain), Direct Selling (penjual didatangi atau mendatangi

pembeli) maupun Direct Relationship Marketing (bentuk pemasaran yang

mendasarkan pada respon individual pelanggan). (elearning.gunadarma.ac.id).

TIDAK LANGSUNG

Gambar 2.3 : Skema sistem distribusi tidak langsung.

Tipe saluran distribusi tidak langsung menggunakan satu atau berbagai

perantara untuk sampai ke konsumen. Dapat berbentuk : sistem pendistribusian

SISTEM DISTRIBUSI

SISTEM LANGSUNG SISTEM TIDAK LANGSUNG

PRODUSEN KONSUMEN

PRODUSEN PERANTAR

A

(22)

konvensional (tradisional), maupun sistem pemasaran vertikal (vertical marketing

system). Sistem pendistribusian konvensional menggunakan perantara yang

independen dari pengendalian produsen. Sistem ini dapat menciptakan konflik

apabila ada perbedaan pendapat atau perbedaan kepentingan. Untuk mengatasi hal

itu, produsen berupaya dengan mengintegrasikan kegiatan maupun organisasi

lembaga perantara ke dalam organisasi produsen agar dicapai hasil kerjasama

yang optimal. Sistem pemasaran vertikal dapat dilakukan melalui cara :

administrasi, kontraktual, maupun korporasi.

2.1.3 Fungsi Saluran Distribusi

Saluran distribusi melaksanakan tugas memindahkan barang dari produsen

ke konsumen. Hal itu mengatasi kesenjangan waktu, tempat, dan kepemilikan

yang memisahkan barang dan Jasa dari orang-orang yang membutuhkan atau

menginginkannya. Anggota-anggota saluran distribusi melaksanakan sejumlah

fungsi utama. Jadi saluran distribusi adalah serangkaian organisasi yang saling

tergantung dalam proses untuk membuat produk tersedia di pasar dan

menciptakan kegunaan bagi konsumen sasaran.

Menurut (Kotler, Philip. 2006) fungsi utama tersebut adalah :

a. Mereka mengumpulkan informasi mengenai calon pelanggan dan pelanggan

sekarang, pesaing, pelaku dan kekuatan lainnya dalam lingkungan pemasaran

tersebut.

b. Mereka mengembangkan dan menyebarkan komunikasi persuasif untuk

(23)

c. Mereka mencapai kesepakatan mengenai harga ketentuan-ketentuan lain

sehingga peralihan kepemilikan dapat terlaksanakan.

d. Mereka melakukan pemesanan kepada produsen.

e. Mereka memperoleh dana untuk membiayai persediaan pada tingkat yang

berbeda pada saluran pemasaran.

f. Mereka menanggung resiko yang berhubungan dengan pelaksanaan fungsi

saluran.

g. Mereka mengatur kesinambungan penyimpangan dan perpindahan

produk-produk fisik.

h. Mereka mengatur pelunasan tagihan mereka kepada pembeli melalui bank

dan lembaga yang lainnya.

i. Mereka mengawasi peralihan kepemilikan aktual dari suatu organisasi atau

orang kepada organisasi atau orang lainnya. Beberapa fungsi (fisik,

kepemilikan, promosi) merupakan aliran maju aktifitas dari perusahaan

tersebut ke pelanggan, fungsi lainnya (pemesanan dan pembayaran)

merupakan aliran mundur dari pelanggan ke perusahaan tersebut. Sebagai

lainnya lagi (informasi, negoisasi, pembiayaan, dan pengambilan resiko)

terjadi dalam dua arah. (Gartustiadi, Teddy. 2011).

2.1.4 Manajemen Distr ibusi

Distribusi berkenaan dengan penentuan dan pengelolaan saluran distribusi

yang digunakan oleh produsen atau distributor untuk memasarkan barang dan

jasanya sehingga produk tersebut dapat sampai di tangan konsumen sasaran dalam

(24)

dengan yang dijanjikan. Pada prinsipnya kebijakan manajemen distribusi dapat

dikelompokan menjadi 7 kategori, yaitu struktur saluran distribusi, cakupan

distribusi, saluran distribusi ganda, modifikasi saluran distribusi, strategi

distribusi, pengendalian saluran distribusi dan manajemen konflik dalam saluran

distribusi (Kodrat dan David Sukardi. 2009).

2.2 Kualitas pelayanan

Menurut Edwardsson kualitas adalah bagaimana mencari tahu apa yang

menciptakan nilai bagi konsumen dan perusahaan harus menberikan nilai itu.

Untuk itu, perusahaan harus dapat mengerti konsumennya dan bagaimana

mendefinisikan keinginan konsumen tersebut dengan benar. Sedangkan layanan

adalah berbagai tindakan dan kinerja yang di tawarkan suatu produk kepada orang

lain yang pada dasarnya tidak dapat di lihat dan tidak menghasilkan hak milik

terhadap sesuatu (Griselda dan Panjaitan. 2007).

Menurut Parasuraman faktor utama yang mempengaruhi pelayanan atau

jasa adalah jasa yang di harapkan dan jasa yang di terima. Apabila jasa yang

diterima konsumen sama dengan yang di harapkan atau bahkan lebih baik, maka

di persepsikan bahwa kualitas jasa tersebut baik atau positif dan demikian pula

sebaliknya. Oleh karena itu, baik tidaknya kualitas jasa atau pelayanan sangat di

pengaruhi oleh kemampuan dari penyedia jasa dalam memenuhi harapan

konsumen secara konsisten (Griselda dan Panjaitan. 2007).

Berdasarkan penjelasan di atas, Griselda dan Panjaitan (2007)

(25)

di berikan mampu sesuai dengan ekspektasi pelanggan. Berdasarkan definisi ini,

kualitas pelayanan bisa di wujudkan malalui pemenuhan kebutuhan dan

keinginan pelanggan serta ketepatan penyampaiannya untuk mengimbangi

harapan pelanggan.

Menurut Gronroos (Tjiptono dan Chandra. 2005) pelanggan bukan hanya

semata-mata membeli barang atau jasa, namun mereka membeli manfaat yang di

berikan oleh barang dan jasa yang bersangkutan. Mereka membeli penawaran

yang terdiri atas barang, layanan, informasi, perhatian personal, dan komponen

lainnya. Penawaran semacam ini mencerminkan layanan bagi pelanggan dan

customer-perceived service tersebut memberikan nilai tambah bagi setiap

pelanggan. Dengan demikian, setiap perusahaan selalu menawarkan pelayanan

terbaik bagi pelanggan mereka, dan tidak terlepas dari hal apa pun bentuk produk

yang di berikan.

2.2.1 Dimensi Kualitas Layanan

Menurut Gorvin (Tjiptono dan Chandra, 2005) mengemukakan delapan

dimensi kualitas yang bisa digunakan sebagai kerangka perencanaan dan analisis

strategik. Berikut ini adalah deskripsi dimensi tersebut.

a. Kinerja (performance), karakteristik operasi pokok dan produk inti yang

dibeli, misalkan kecepatan, konsumsi bahan bakar, kemudahan dan

kenyamanan, dan sebagainya.

b. Fitur atau ciri-ciri tambahan (features) yaitu karakteristik sekunder atau

pelengkap. Misalkan kelengkapan interior dan eksterior seperti AC, soud

(26)

c. Reliabilitas (reliability) yaitu kemungkinan hasil akan mengalami kerusakan

atau gagal di pakai misalnya mobil tidak sering mogok.

d. Kesesuaian dengan spesifikasi (conformance to specifications) yaitu sejauh

mana karakteristik desain dan operasi memenuhi standar keamanan dan emisi

terpenuhi.

e. Daya tarik (durability) berkaitan dengan berapa lama produk tersebut dapat

terus di gunakan. Umumnya daya tahan mobil buatas AS lebih baik di

bandingkan Korea selatan.

f. Service (ability), meliputi kecepatan, kompetensi, kenyamanan, kemudahan,

direparasi serta penanganan keluhan secara memuaskan.

g. Estetika, yaitu daya tarik produk terhadap pancaindra, misalkan bentuk fisik

mobil yang menarik, model yang artistik, warna, dan sebagainya.

h. Kualitas yang di persepsikan (perceived quality), yaitu citra dan reputasi

produk serta tanggung jawab perusahaan terhadapnya. Umumnya orang akan

mempersepsikan merek Mercedes, rool Royce, porche dan BMW sebagai

jaminan mutu.

2.2.2 Dimensi Pokok J asa

Sementara itu, Parasuraman, Zeithaml, dan Berry (Tjiptono dan Chandra.

2005) ada lima dimensi pokok jasa :

1. Reliabilitas (reliability), berkaitan dengan kemampuan perusahaan untuk

memberikan layanan yang akurat sejak pertama kali tanpa membuat

kesalahan apapun dan menyampaikan jasanya sesuai dengan waktu yang di

(27)

2. Daya tanggap (responsiveness), berkaitan dengan kesediaan dan kemampuan

para karyawan untuk membantu para pelanggan dan merespon permintaan

mereka, serta menginformasikan kapan jasa akan di berikan dan kemudian

memberikan jasa secara cepat.

3. Jaminan (assurance), yakni perilaku karyawan mampu menumbuhkan

kepercayaan pelanggan terhadap perusahaan dan perusahaan dapat

menciptakan rasa aman bagi para pelanggannya.

4. Empati (emphaty), berarti perusahaan memahami masalah para pelangganya

dan bertindak demi kepentingan pelangga, serta memberikan perhatian

personal kepada para pelanggan dan memiliki jam operasi yang nyaman.

5. Bukti fisik (tangible), berkenaan dengan daya tarik fasilitas fisik,

perlangkapan, dan materi yang di gunakan perusahaan serta penampilan

karyawan.

Sementara itu, Gummeson (Tjiptono dan Chandra, 2005) mengidentifikasi

empat sumber kualitas yang menentukan penilaian kualitas jasa, diantaranya

adalah :

1. Design quality, yang menjelaskan bahwa kualitas jasa di tentukan sejak

pertama kali jasa di rancang untuk memenuhi kebutuhan pelanggan.

2. Production quality, yang menjelaskan bahwa kualitas jasa di tentukan oleh

kerja sama antara departemen produksi dengan departemen pemasaran.

3. Delivery quality, yang menjelaskan bahwa kualitas jasa di tentukan pula oleh

(28)

Dari penjelasan para ahli tentang dimensi kualitas pelayanan, maka dapat

di simpulkan beberapa dimensi yang sesuai agar pelayanan dapat memberikan

kepuasan kepada para pelanggan. Adapun dimensi tersebut diantaranya bukti fisik

(tangible), keandalan (reliability), ketanggapan (responsiveness), jaminan

(assurance) serta empati (emphaty).

2.3 Pengertian Distribusi Fisik

Secara tradisional distribusi fisik sama dengan proses meyampaikan

barang kepada konsumen namun sekarang ini distribusi fisik telah berkembang

menjadi konsep yang lebih luas lagi. Sehingga perusahaan mencari cara

bagaimana mendistribusikan barang-barang tersebut kepada konsumen secara

cepat dan tepat, dan hal ini sangat dipengaruhi oleh sistem distribusi fisik yang

dimiliki oleh perusahaan. Penentuan lokasi gudang, jenis pengangkutan, volume

sarana pengangkutan dan sarana gudang mempengaruhi tingkat pemberian jumlah

pesanan pelanggan bisnis. Sudah selayaknya perusahaan memulai memikirkan

pelanggannya, lokasi langganan, kebutuhan dan ketersediaan barang. Perencanaan

suatu distribusi fisik sebenarnya bertitik tolak dari apa yang diinginkan pelanggan

dan apa yang ditawarkan pesaing. Jika kegiatan distribusi fisik dijalankan secara

efektif dengan memberikan pelayanan penuh bagi pelanggan maka dapat

memungkinkan perusahaan untuk memperkuat posisinya sehingga diharapkan

mampu bersaing dengan perusahaan lain yang sejenis dan mampu merebut pangsa

pasar yang luas sehingga perusahaan tersebut mampu mengembangkan

(29)

rantai pemasaran yang lebih luas. Manajemen rantai penawaran dimulai sebelum

distribusi. Manajemen tersebut meliputi pembelian masukan yang tepat (bahan

mentah, komponen, dan peralatan modal), mengubahnya dengan efisien menjadi

produk jadi dan mengirimkannya ke tujuan terakhir. Sudut pandang yang lebih

luas lagi memerlukan studi tentang bagaimana pemasok perusahaan itu

memperoleh masukannya. Perspektif rantai penawaran dapat membantu

perusahaan mengidentifikasi pemasok dan distributor yang lebih unggul dan

membantu keduanya meningkatkan produktifitas, yang akhirnya menurunkan

biaya perusahaan tersebut (Kotler dan Keller. 2006). Adapun pengertian distribusi

fisik menurut beberapa ahli adalah sebagai berikut :

Menurut (Kotler dan Keller. 2006) menjelaskan : Distribusi Fisik

Melibatkan perencanaan, penerapan, dan pengendalian arus fisik bahan dan

produk akhir dari titik asal ke titik penggunaan untuk memenuhi kebutuhan

pelanggan pada titik yang menguntungkan.

• Artinya : Pelaksanaan distribusi fisik yang dilaksanakan melibatkan

perencanaan arus fisik, penerapan arus fisik, pengendalian arus fisik, dan

perpindahan barang dari suatu tempat ke tempat lain, sehingga konsumen

terpenuhi kebutuhannya.

Menurut (Assegaff, Mohammad. 2009) menjelaskan : Distribusi fisik

adalah proses pengolahan yang strategis terhadap pemindahan dan penyimpanan

barang, suku cadang dan barang jadi dari para suplier, diantara fasilitas

(30)

• Artinya : Pelaksanaan distribusi fisik yang dilaksanakan melibatkan

pengolahan arus fisik yang strategis terhadap pemindahan dan penyimpanan

barang, suku cadang dan barang jadi dari para supplier, sehingga konsumen

terpenuhi kebutuhannya.

Menurut (Fandy Tjiptono. 2008) menjelaskan : Segala kegiatan untuk

memindahkan barang dalam kuantitas tertentu, ke suatu tempat tertentu, dan

dalam jangka waktu tertentu, perpindahan fisik ini dapat berupa perpindahan

barang jadi dari jalur produksi ke konsumen akhir dan perpindahan mentah dari

sumber ke jalur produksi.

• Artinya : Pelaksanaan distribusi fisik yang dilaksanakan melibatkan,

perpindahan barang dari suatu tempat ke tempat lain, dalam jangka waktu

tertentu, ini adalah suatu perpindahan fisik dari jalur produksi suatu

perusahaan ke konsumen, sehingga konsumen akan terpenuhi kebutuhannya.

Menurut Frank Woodward dalam bukunya managing the transport service

function (M. Nasuttion. 2008) menjelaskan :

In industry distribution has been accepted as the performance of all business

activities involved in moving the goods from the point of processing of

manufacture to the custumer and would include, warehousing, inventory, contol

of finished goods, materials handling and packaging, documentation and

dispatch, traffic and transportation, and after sales services to custumers.

• Artinya : Dalam distribusi industri telah diterima sebagai kinerja dari semua

kegiatan usaha yang terlibat dalam pemindahan barang dari titik pengolahan

(31)

persediaan, control barang jadi, penanganan bahan dan kemasan, dokumentasi

dan pengiriman, lalu lintas dan transportasi, dan pelayanan purna jual untuk

custumers.

Menurut (Gundlach, Bolumole, Eltantawy and Frankel. 2006) dalam

jurnalnya menjelaskan :

” Logistics refers the inbound and outbound flow and storage of goods, services,

and information within and between organizations. “

• Logistik mengacu aliran inbound dan outbound dan penyimpanan barang,

jasa, dan informasi dalam dan di antara organisasi.

Distribusi fisik melibatkan perencanaan, penerapan, dan pengendalian arus

fisik bahan dan produk akhir dari titik asal ke titik penggunaan untuk memenuhi

kebutuhan pelanggan pada titik yang menguntungkan (Kotler dan Keller. 2006).

Distribusi fisik adalah proses pengolahan yang strategis terhadap

pemindahan dan penyimpanan barang, suku cadang dan barang jadi dari para

suplier, diantara fasilitas perusahaan dan kepada para pelanggan (Bowersox.

2006)

Segala kegiatan untuk memindahkan barang dalam kuantitas tertentu,

kesuatu tempat tertentu, dan dalam jangka waktu tertentu, perpindahan fisik ini

dapat berupa perpindahan barang jadi dari jalur produksi ke konsumen akhir dan

(32)

Frank Woodward (M. Nasuttion. 2008) Dalam distribusi industri telah

diterima sebagai kinerja dari semua kegiatan usaha yang terlibat dalam

pemindahan barang dari titik pengolahan manufaktur ke sala menunjuk ke

custumers dan akan termasuk, pergudangan, persediaan, control barang jadi,

penanganan bahan dan kemasan,dokumentasi dan pengiriman, lalu lintas dan

transportasi, dan pelayanan purna jual untuk custumers.

Gundlach, Bolumole, Eltantawy and Frankel Logistik mengacu aliran inbound

dan outbound dan penyimpanan barang, jasa, dan informasi dalam dan diantara

organisasi

Dari berbagai definisi–definisi distribusi fisik dan tabel indikator distribusi

fisik, dapat diambil kesimpulan bahwa distribusi fisik adalah segala upaya untuk

menggerakkan arus bahan dan produk juga dengan suatu perencanaan arus fisik,

pengendalian arus fisik, penerapan arus fisik, dan perpindahan barang dari satu

tempat ke tempat lainnya, dan pengendalian dalam jumlah, waktu, dan pemikiran

dengan cara-cara yang efisien. Untuk memenuhi kebutuhan pelanggan/distributor,

sehinggan memperoleh suatu keuntungan bagi suatu perusahaan.

Distribusi fisik meningkatkan nilai form utility dengan menjamin nilai

produk yang dikirimkan berada dalam kuantitas yang tepat serta utuh

(undamaged) serta memainkan instrument role, baik time utility maupun place

utility, dengan cara menjamin produk datang, sesuai dengan waktu dan tempat

yang diminta (Bowersox. 1992). Bienstock et.al. (1997) berpendapat bahwa

memahami persepsi layanan distribusi fisik dari sudut pandang pelanggan

(33)

Adapun persepsi pelanggan tersebut dapat diklasifikasikan sesuai dengan dimensi

PDSQ, yakni timeliness, availability, dan quality. Quality dalam hal ini mengacu

pada bentuk dan komposisi delivered order, yakni kondisi dari produk yang

dikirimkan (Gartustiadi, Teddy. 2011).

2.3.1 Tujuan Distribusi Fisik

Perusahaan pada akhirnya harus menetapkan tujuan distribusi fisik untuk

membimbing perencanaan perusahaan. Dengan adanya tujuan distribusi fisik.

Perusahaan dapat merancang sistem distribusi yang dapat meningkatkan jumlah

pesanan distributor. Menurut (Kotler dan Keller. 2006) tujuan distribusi fisik

adalah :

1. Untuk mengelola jaringan pasokan, yaitu arus nilai tombak dari pemasok ke

pengguna akhir.

2. Banyak perusahaan menyatakan tujuan distribusi fisik adalah menyampaikan

barang yang tepat ke konsumen yang tepat, pada waktu yang tepat dengan

biaya terendah.

Menurut (Bowersox. 2006) tujuan distribusi fisik adalah :

“Menyampaikan barang-barang jadi dan bermacam-macam material dalam

jumlah yang tepat pada waktu dibutuhkan, dalam keadaan yang dapat dipakai, ke

lokasi dimana ia butuhkan, dan dengan biaya total yang terendah.”

Tidak ada sistem distribusi yang bisa secara serentak dari tiap bagian untu

meningkatkan pelayanan dan mengurangi biaya seminimal mungkin. Dalam

merancang seperangkat tujuan dari distribusi fisik, perusahaan siap membangun

(34)

kepuasan kepada pelanggan sebagai pedoman dalam perencanaan pmasaran

produknya (Gartustiadi, Teddy. 2011).

2.3.2 Manfaat Sistem Distribusi Fisik

Sistem distribusi fisik menawarkan lebih banyak manfaat daripada

menurunkan biaya. Sistem distribusi yang efektif dapat menghasilkan inventory

optimal dan pada operasi multipabrik, kapasitas produk yang optimal. Keduanya

dapat memaksimalkan penggunaan model pada keputusan menentukan lokasi

pabrik. Perusahaan yang mempunyai sistem distribusi fisik yang baik dapat

mengevaluasi biaya operasional berbagai lokasi untuk melayani berbagai pasar.

Sistem distribusi fisik dapat menghasilkan jasa pengiriman yang lebih

baik, jika produksi terjadi di berbagai lokasi berbeda, perusahaan dapat

menentukan dengan cepat sumber ekonomi untuk konsumen tertentu. Seiring

perusahaan mengembangkan usahanya ke pasar multinasional dan menyuplai

pasar tersebut dari fasilitas produksi multinasional, mereka akan semakin sering

berhadapan dengan berbagai biaya variabel. Hal tersebut mendorong

digunakannya pendekatan sistem menyeluruh untuk mengelola proses distribusi

dalam rangka mencapai operasi yang efisien. Akhirnya, sistem distribusi fisik

dapat mengatasi hambatan alam yang diciptakan oleh faktor geografi untuk

mengurangi kritik ekonomi untuk pemasar internasional. Mengantarkan produk ke

pasar dapat berarti menggunakan berbagai alat transportasi seperti produk kanal di

Cina, sepeda di Vietnam dan menggunakan kereta seperti di Jepang atau Eropa

(35)

2.4. Ilmu Statistik

Statistik adalah kumpulan data dalam bentuk angka maupun bukan angka

yang disusun dalam bentuk tabel (daftar) dan atau diagram yang menggambarkan

atau berkaitan dengan suatu masalah tertentu (Ghozali, Imam. 2006).

Contoh :

Statistik penduduk adalah kumpulan angka-angka yang berkaitan dengan

masalah penduduk.

Statistik ekonomi adalah kumpulan angka-angka yang berkaitan dengan

masalah ekonomi.

Statistika adalah pengetahuan yang berkaitan dengan metode, teknik atau

cara mengumpulkan, mengolah, menganalisis dan menginterprestasikan data

untuk disajikan secara lengkap dalam bentuk yang mudah dipahami penggunanya.

2.4.1 Pengertian Data

Dalam statistika dikenal beberapa jenis data. Data dapat berupa angka

dapat pula bukan berupa angka. Data berupa angka disebut data kuantitatif dan

data yang bukan angka disebut data kualitatif.

Berdasarkan nilainya dikenal dua jenis data kuantitatif yaitu data diskrit

yang diperoleh dari hasil perhitungan dan data continue yang diperoleh dari hasil

pengukuran.

Menurut sumbernya data dibedakan menjadi dua jenis yaitu data interen

adalah data yang bersumber dari dalam suatu instansi atau lembaga pemilik data

(36)

Data eksteren dibagi menjadi dua jenis yaitu data primer dan data sekunder. Data

primer adalah data yang langsung dikumpulkan oleh orang yang berkepentingan

dengan data tersebut dan data sekunder adalah data yang tidak secara langsung

dikumpulkan oleh orang yang berkepentingan dengan data tersebut tertentu

(Ghozali, Imam., 2006).

2.4.2 Pengumpulan Data

Untuk memperoleh data yang benar dan dapat dipertanggung jawabkan

keabsahannya, data harus dikumpulkan dengan cara dan proses yang benar.

Terdapat beberapa cara atau teknik untuk mengumpulkan data yaitu :

1. Wawancara (interview) yaitu cara untuk mengumpulkan data dengan

mengadakan tatap muka secara langsung. Wawancara harus dilakukan dengan

memakai suatu pedoman wawancara yang berisi daftar pertanyaan sesuai

tujuan yang ingin dicapai.

Ada dua jenis wawancara yaitu wawancara berstruktur (structured

interview) dan wawancara tak berstruktur (unstructured interview).

Wawancara berstruktur adalah wawancara yang jenis dan urutan dari

sejumlah pertanyaannya sudah disusun sebelumnya, sedangkan wawancara

tak berstruktur adalah wawancara yang tidak secara ketat ditentukan

sebelumnya. Wawancara tak berstruktur lebih fleksibel karena pertanyaannya

dapat dikembangkan meskipun harus tetap pada pencapaian sasaran yang

telah ditentukan.

Ciri-ciri pertanyaan yang baik adalah :

(37)

b. Jelas dan tidak meragukan.

c. Tidak menggiring pada jawaban tertentu.

d. Sesuai dengan pengetahuan dan pengalaman orang yang diwawancarai.

e. Pertanyaan tidak boleh yang bersifat pribadi.

• Kelebihan dari wawancara adalah data yang diperlukan langsung diperoleh

sehingga lebih akurat dan dapat dipertanggung jawabkan.

• Kekurangannya adalah tidak dapat dilakukan dalam skala besar dan sulit

memperoleh keterangan yang sifatnya pribadi.

2. Kuesioner (angket) adalah cara mengumpulkan data dengan mengirim atau

menggunakan kuesioner yang berisi sejumlah pertanyaan. Kelebihannya

adalah dapat dilakukan dalam skala besar, biayanya lebih murah dan dapat

memperoleh jawaban yang sifatnya pribadi. Kelemahannya adalah jawaban

bisa tidak akurat, bisa jadi tidak semua pertanyaan terjawab bahkan tidak

semua lembar jawaban dikembalikan.

3. Observasi (pengamatan) adalah cara mengumpulkan data dengan mengamati

obyek penelitian atau kejadian baik berupa manusia, benda mati maupun

gejala alam. Data yang diperoleh adalah untuk mengetahui sikap dan perilaku

manusia, benda mati atau gejala alam.

• Kebaikan dari observasi adalah data yang dieroleh lebih dapat dipercaya.

• Kelemahannya adalah bisa terjadi kesalahan interpretasi terhadap kejadian

yang diamati.

4. Tes dan Skala Obyektif adalah cara mengumpulkan data dengan memberikan

(38)

untuk mengukur karakteristik kepribadian seseorang. Beberapa contoh tes

skala obyektif yaitu :

a. Tes kecerdasan dan bakat.

b. Tes kepribadian.

c. Tes sikap.

d. Tes tentang nilai.

e. Tes prestasi belajar, dsb.

5. Metode proyektif adalah cara mengumpulkan data dengan mengamati atau

menganalisis suatu obyek melalui ekspresi luar dari obyek tersebut dalam

bentuk karya lukisan atau tulisan. Metode ini dipakai dalam psikologi untuk

mengetahui sikap, emosi dan kepribadian seseorang. Kelemahan dari metode

ini adalah obyek yang sama dapat disimpulkan berbeda oleh pengamat yang

berbeda (Riduwan dan Sunarto. 2007).

2.4.3 Uji Data

Dalam pengolahan data terlebih dahulu dilakukan pengujian data agar

mengetahui apakah data sudah cukup valid. Pengujian data yang dilakukan adalah

sebagai berikut :

1. Uji validitas

Validitas berasal dari kata validity yang mempunyai arti sejauh mana

ketepatan dan kecermatan suatu alat ukur dalam melakukan fungsi ukurnya.

Suatu tes instrument pengukur dapat dikatakan mempunyai validitas yang

tinggi apabila alat tersebut menjalankan fungsi ukurnya, atau memberikan

(39)

Untuk menghitung validitas, maka harus menghitung korelasi antara

masing-masing pernyataan dengan skor total dengan menggunakan rumus korelasi

product moment sebagai berikut :

r =

(

)

(

)

[

2 2

]

[

(

2

)

( )

2

]

) )( ( ) )( (

∑ ∑

Y Y N X X N Y X Y X N dimana :

r = Koefisien korelasi yang dicari

N = Jumlah responden

X = Skor tiap-tiap variabel

Y = Skor total tiap responden

Secara statistik, angka korelasi yang diperoleh harus dibandingkan dengan

angka kritik tabel korelasi nilai r. (Sudjana. 2005)

2. Uji Reliabilitas

Suatu instrumen penelitian disebut reliabel apabila instrumen tersebut

konsisten dalam memberikan penilaian atas dasar apa yang di ukur. Jika hasil

penilaian yang diberikan instrumen tersebut konsisten memberikan jaminan

bahwa instrumen tersebut dapat dipercaya. Reliabilitas dapat dilihat dari nilai

Cronsbach’s alpha (α) yaitu teknik pengujian reliabilitas suatu kuisioner

yang jawabannya atau tanggapannya berupa pilihan. Cronbach’s alpha

diperoleh melalui rumus sebagai berikut:

(40)

Keterangan :

r = reliabilitas instrumen

k = banyaknya butir pertanyaan

∑α2j = jumlah variasi butir

∑α2k = variasi total

Besarnya reliabilitas yang paling baik adalah 1 dan yang paling jelek adalah

0. Semakin besar nilai yang diperoleh, maka semakin besar reliable atribut

tersebut. Apabila perhitungan tidak reliable, maka perlu ditinjau pada

penyusunan kuesionernya.

Instrumen variabel ditanyakan reliabel apabila memiliki Cronbach alpha

lebih besar dari 0,60. (Ronny, K. 2003)

3. Rumus Slovin

Rumus slovin digunakan untuk menentukan jumlah sampel dalam suatu

populasi. Untuk menggunakan rumus ini, pertama ditentukan berapa batas

toleransi kesalahan. Batas toleransi kesalahan ini dinyatakan dengan

persentase. Semakin kecil toleransi kesalahan, semakin akurat sampel

menggambarkan populasi. Misalnya, penelitian dengan batas kesalahan 5%

berarti memiliki tingkat akurasi 95%. Penelitian dengan batas kesalahan 2%

memiliki tingkat akurasi 98%. Dengan jumlah populasi yang sama, semakin

kecil toleransi kesalahan, semakin besar jumlah sampel yang dibutuhkan

(Sumber : Steph Ellen, eHow Blog, 2010; dengan rujukan Principles and

(41)

Keterangan :

N = Jumlah populasi

n = Jumlah sampel

e = Batas toleransi kesalahan (error tolerance)

2.5 Physical Distribution Service Quality (PDSQ)

Salah satu area kritis yang berpengaruh terhadap perusahaan-perusahaan

guna meningkatkan keunggulan kompetitif adalah PDSQ (Physical Distribution

Service Quality). Walaupun secara fisik memerlukan pengiriman, penyimpanan,

dan mempresentasikan barang-barang merupakan basis perdagangan, pentingnya

distribusi dan jenis jasa-jasa yang diharapkan oleh pembeli yang terlibat dalam

lingkungan bisnis tersebut juga tidak terelakkan. Seperti yang dikutip oleh

Kennedy dan Ceung, menegaskan bahwa efektifitas management layanan logistik

yaitu menurunkan biaya dan meningkatkan service value yang secara positif

berdampak pada kepuasan pelanggan. PDSQ merupakan bagian dari logistic yang

lebih luas yang mencakup marketing, layanan kostumer, hingga pengiriman

produk ke tangan konsumen.

PDSQ terkait dengan ketepatan waktu dan flow of goods yang mampu

dipertanggungjawabkan mulai dari penerimaan order hingga barang-barang

(42)

Tujuan yang melingkupi fungsi dari PDSQ adalah untuk mengirim produk

secara efisien dan efektif ke tangan para konsumen dengan mengeliminasi waktu,

usaha, dan limbah inventaris didalam sistem manufactur-distribusi. (Friday Derek,

Benjamin R Tukamuhabwa and Sarah Eyaa. 2011).

Penekanan pada PDSQ berasal dari fakta bahwa produksi sampai saat ini

telah melampaui sebagian besar permintaan konsumen didalam market dan oleh

karena itu harus meningkatkan kinerja distribusi guna meningkatkan layanan

konsumen.

Sistem saluran distribusi secara umum melibatkan pabrikan, distributor,

dan konsumen distributor. Pabrikan menjual produk pada distributor, terkadang

disebut wholesaller (waralaba), yang menjual produk pada konsumen bisnis, atau

riteler.

Kualitas layanan dalam logistik distribusi menarik banyak peneliti dan

telah melahirkan banyak artikel dalam literatur yang memberikan alat berbeda

untuk mengukur kualitas layanan disribusi kepada para pelanggan. Kesenjangan

yang muncul dapat diidentifikasikan dan diatasi melalui pelaksanaan pengukuran

kepuasan pelanggan, yang didesain sesuai dengan karakter bisnis jasa industri

(industrial service characteristic) itu sendiri dan ketepatan dalam pemilihan

dimensi – dimensi yang memberikan kontribusi terhadap kepuasan pelanggan

industri. Hasil Pengukuran kepuasan pelanggan bisa ditunjukkan oleh nilai Indeks

Kepuasan Pelanggan (IKP) yang diperoleh dengan membandingkan nilai persepsi

(43)

PDSQ adalah usaha untuk mengembangkan skala pengukuran kualitas

layanan khusus pada layanan distribusi fisik. Keseluruhan kemampuan saluran

seperti keterbukaan dapat diukur didasarkan pada persepsi, dan menggunakan

performansi yang memungkinkan pengukuran lintas industri dan pembandingan

pada literatur kualitas layanan konsumen. (Derek Friday, Joseph M.Ntayi, Moses

Muhwezi, Sarah Eyaa and Benjamin Tukamuhabwa. 2012).

Menurut (Iriani, Yani. 2010) bahwa memahami persepsi layanan distribusi

fisik dari sudut pandang pelanggan merupakan masukan yang penting untuk

keputusan manajemen pemasaran. Persepsi dan ekspektasi pelanggan tersebut

diklasifikasikan sesuai dengan dimensi PDSQ.

Adapun dimensi-dimensi tersebut antara lain :

a. Timeliness : yang berkaitan dengan aspek – aspek ketepatan waktu, yang

dimulai dari prosedur pemesanan sampai dengan penempatan barang pesanan.

b. Availability : yang berkaitan dengan aspek – aspek ketersediaan, mulai dari

adanya informasi yang diperlukan oleh pelanggan sebelum menggunakan jasa

sampai dengan penyampaian dokumen penagihan.

c. Condition : yang berkaitan dengan aspek – aspek kondisi barang secara

keseluruhan, termasuk apabila terdapat layanan yang mengikutinya.

2.5.1 Uji Hipotesis

Hipotesis statistik adalah suatu pernyataan yang mungkin benar atau tidak

tentang satu populasi atau lebih. Suatu hipotesis statistik dapat diketahui secara

pasti apakah benar ataukah tidak benar jika dan hanya jika peneliti melakukan

(44)

dengan cara mengambil sampel untuk mencari kenyataan guna mendukung

hipotesis tersebut. Hasil analisis dari data sampel yang selaras dengan hipotesis

yang telah diformulasikan akan membawa pada suatu keputusan untuk menerima

pernyataan tersebut dan demikian sebaliknya.

Formulasi suatu hipotesis statistik, biasanya dipengaruhi oleh bentuk

kesimpulan yang terbalik. Artinya jika seorang peneliti ingin mencari dukungan

yang kuat terhadap suatu dugaan dari suatu keadaan, maka peneliti tersebut

menempatkan dugaannya dalam bentuk penolakan hipotesis.

Dalam struktur pengujian hipotesis, terdapat dua hipotesis :

a. Hipotesis nol yakni hipotesis sederhana yang umumnya berlawanan dengan

suatu teori yang ingin dibuktikan kebenarannya.

b. Hipotesis alternatif yakni hipotesis yang sejalan dengan suatu teori yang ingin

dibuktikan kebenarannya. Hipotesis alternatif merupakan hipotesis tandingan

dari hipotesis nol, sehingga keputusan menolak hipotesis nol menjadikan

keputusan untuk menerima hipotesis alternatif.

2.5.2. Uji Sign (Uji Tanda)

Dalam banyak eksperimen, kita sering ingin membandingkan pengaruh

hasil dua perlakuan. Untuk data yang berpasangan, satu sebagai hasil perlakuan A

dan satu lagi hasil perlakuan B, ternyata untuk membandingkan kedua hasil

perlakuan (ditinjau dari rata – rata) itu dapat digunakan uji tanda. Uji tanda sangat

baik apabila syarat – syarat berikut dipenuhi:

(45)

b. Masing – masing pengamatan dalam tiap pasang terjadi karena pengaruh

kondisi yang serupa.

c. Pasangan yang berlainan terjadi karena kondisi yang berbeda.

Sebagaimana namanya menyatakan uji tanda ini akan dilakukan

berdasarkan tanda, yakni + dan – yang dapat dilihat dari selisih nilai pengamatan.

Misalkan hasil pengamatan Xi dan Yi masing – masing terjadi karena perlakuan A

dan B. Sampel berukuran N dapat ditulis sebagai (X1, Y1), (X2,

Y2),...(XN,YN). Selanjutnya bentuk selisih – selisih (X1-Y1),

(X2-Y2),...(XN-YN). Jika Xi > Yi kita beri tanda + (positif), dan jika Xi < Yi, kita

beri tanda – (negatif), sedangkan untuk Xi = Yi kita abaikan pasangan tersebut.

Misalkan n menyatakan banyak pasangan yang menghasilkan tanda – tanda positif

dan negatif setelah dihilangkan pasangan Xi = Yi. Selanjutnya misalkan h

menyatakan banyak tanda + atau – yang paling sedikit. Bilangan h ini dapat

dipakai untuk menguji hipotesis :

Ho : Tidak ada perbedaan pengaruh kedua perlakuan.

H1 : Terdapat perbedaan pengaruh kedua perlakuan.

Dalam hal ini, pengaruh diukur rata – rata, sehingga sebenarnya uji tanda

ini dapat digunakan untuk menguji kesamaan dua rata – rata populasi.

Untuk menolak atau menerima hipotesis Ho dalam taraf nyata 0,01 atau

0,05 sebuah daftar telah disediakan ialah tabel 2.1 nilai kritis h untuk uji tanda

Daftar tersebut berisikan harga – harga h sebagai batas kriteria pengujian untuk

(46)

Tolak Ho jika harga h dari perhitungan lebih kecil atau sama dengan harga

h yang didapat dari daftar untuk tarif nyata yang dipilih. Dalam hal lainnya, Ho

diterima. Dari tabel 2.1 nampak bahwa agar supaya pengujian dapat ditentukan

hasilnya, diperlukan paling sedikit n = 6 (Sudjana. 2005).

Tabel 2.1. : NILAI KRITIS h UNTUK UJI TANDA

N Α N Α N Α

0,01 0,05 0,01 0,05 0,01 0,05

6 - 0 36 9 11 66 22 24

7 - 0 37 10 12 67 22 25

8 0 0 38 10 12 68 22 25

9 0 1 39 11 12 69 23 25

10 0 1 40 11 13 70 23 26

11 0 1 41 11 13 71 24 26

12 1 2 42 12 14 72 24 27

13 1 2 43 12 14 73 25 27

14 1 2 44 13 15 74 25 28

15 2 3 45 13 15 75 25 28

16 2 3 46 13 15 76 26 28

17 2 4 47 14 16 77 26 29

18 3 4 48 14 16 78 27 29

19 3 4 49 15 17 79 27 30

20 3 5 50 15 17 80 28 30

21 4 5 51 15 18 81 28 31

22 4 5 52 16 18 82 28 31

(47)

N A N A N A

0,01 0,05 0,01 0,05 0,01 0,05

24 5 6 54 17 19 84 29 32

25 5 7 55 17 19 85 30 32

26 6 7 56 17 20 86 30 33

27 6 7 57 18 20 87 31 33

28 6 8 58 18 21 88 31 34

29 7 8 59 19 21 89 31 34

30 7 9 60 19 21 90 32 35

31 7 9 61 20 22 91 32 35

32 8 9 62 20 22 92 33 36

33 8 10 63 20 23 93 33 36

34 9 10 64 21 23 94 34 37

35 9 11 65 21 24 95 34 37

(Sumber :Sudjana,Metode Statistika 2005.)

Contoh : Data berikut, kolom (2) dan kolom (3), adalah mengenai hasil dua

macam contoh data, untuk tiap rumpun dari berbagai lokasi.

Tabel 2.2. : Tabel contoh soal uji tanda

Lokasi (1) Macam X (2) Macam Y (3) Tanda (Xi-Yi)

1 3,4 3,0 +

2 3,7 3,9 -

3 2,8 3,2 -

4 4,2 4,6 -

5 4,6 4,3 +

(48)

Lokasi (1) Macam X (2) Macam Y (3) Tanda (Xi-Yi)

7 3,6 3,5 +

8 2,9 3,0 -

9 3,0 2,9 +

10 3,8 3,7 +

11 4,0 3,7 +

12 3,9 4,0 -

13 3,8 3,5 +

14 4,2 4,5 -

15 4,7 3,9 +

16 4,0 3,7 +

17 3,6 3,2 +

18 3,2 2,9 +

19 3,4 3,0 +

20 2,9 3,6 -

(Sumber :Sudjana,Metode Statistika 2005)

Karena hasil akhir berisikan tanda (Xi-Yi) yang memberikan h = 7 untuk tanda

yang terjadi paling sedikit, ialah tanda negatif. Dengan n = 20 dan α = 0,05 dari

tabel 2.1 nilai kritis h untuk uji tanda, didapat h = 5. Dari pengamatan diperoleh h

= 7 dan ini lebih besar dari 5. Jadi hipotesis bahwa hasil kedua macam kacang

tanah sama tidak dapat ditolak pada taraf nyata 0,05.

Apabila n lebih besar dari 95, maka harga h dapat dihitung dengan jalan

mengambil bilangan bulat terdekat yang lebih kecil dari :

½ ( n – 1) – k n + 1

(49)

Contoh : Misalkan hasil penelitian n = 150 dan h = 60, Untuk α = 0,05 maka

½ ( n – 1) – k n + 1 = ½ (150-1) – (0,98) 150 + 1

= 62, 4578

Dari sini didapat h = 62 sehingga h dari penelitian yang sama dengan 60 lebih

kecil dari 62. Jadi kita tolak hipotesis tidakada perbedaan antara pengaruh kedua

perlakuan.

2.5.3 Pengukuran Kepuasan Pelanggan

Kesenjangan yang muncul dapat diidentifikasikan dan diatasi melalui

pelaksanaan pengukuran kepuasan pelanggan, yang didesain sesuai dengan

karakter bisnis jasa industri (industrial service characteristic) itu sendiri dan

ketepatan dalam pemilihan dimensi – dimensi yang memberikan kontribusi

terhadap kepuasan pelanggan industri. Hasil Pengukuran kepuasan pelanggan bisa

ditunjukkan oleh nilai Indeks Kepuasan Pelanggan (IKP) yang diperoleh dengan

membandingkan nilai persepsi pelanggan terhadap ekspektasinya. (Sumber :

Sudjana, Metode Statistika 2005)

Indeks Kepuasan Pelanggan =

Ekspektasi kinerja Persepsi

2.5.4 Skala Liker s

Skala Likert adalah suatu skala psikometrik yang umum digunakan dalam

kuesioner, dan merupakan skala yang paling banyak digunakan dalam riset berupa

survei. Nama skala ini diambil dari nama Rensis Likert, yang menerbitkan suatu

laporan yang menjelaskan penggunaannya. Sewaktu menanggapi pertanyaan

(50)

suatu pernyataan dengan memilih salah satu dari pilihan yang tersedia. Biasanya

disediakan lima pilihan skala dengan format seperti :

1. Sangat tidak setuju

2. Tidak setuju

3. Netral

4. Setuju

5. Sangat setuju

Selain pilihan dengan lima skala seperti contoh di atas, kadang digunakan

juga skala dengan tujuh atau sembilan tingkat. Suatu studi empiris menemukan

bahwa beberapa karakteristik statistik hasil kuesioner dengan berbagai jumlah

pilihan tersebut ternyata sangat mirip.

Skala Likert merupakan metode skala bipolar yang mengukur baik

tanggapan positif ataupun negatif terhadap suatu pernyataan. Empat skala pilihan

juga kadang digunakan untuk kuesioner skala Likert yang memaksa orang

memilih salah satu kutub karena pilihan "netral" tak tersedia. (Wikipedia bahasa

Indonesia, ensiklopedia bebas http://id.wikipedia.org/wiki/Skala_Likert ).

2.5.5 Penentuan Grade Nilai

Secara definitive, grade is major division of instructional program on

scholls representing the working of one scholl year. Yang diartikan derajat atau

angka yang merupakan bagian program instruksional disekolah, dan

menggambarkan kinerja siswa dalam periode satu tahun. (Good. 2013)

Pengertian tentang grade juga dinyatakan oleh Johnson, grade sebagai

(51)

pertimbangan nilai relatif pencapaian hasil belajar selama waktu tertentu (1 tahun,

1 semester atau 1 kuartal, tergantung sistem yang berlaku disuatu lembaga

tertentu).

Grade nilai atau skor diberikan sebagai simbol yang memprentasikan hasil

yang didapat dari suatu kegiatan. Grade juga merupakan simbol yang

merefleksikan komunikasi evaluasi sumatif yang diberikan sebagai media laporan

kepada seseorang, lembaga atau instansi tertentu. Grade mempunyai arti yang

bervariasi sesuai dengan fungsi dan perannya terhadap para pelaku yang

berkepentingan.

Grade penilaian yang didasarkan atas tingkah laku dan penampilan yang

terarah dalam test yang terorganisasi dengan baik, memiliki derajat yang lebih

tinggi dibanding dengan grade yang hanya didasarkan atas tes kertas dan pena

saja. Pada penuangan nilai sistem grade ini dapat dituangkan dalam bentuk angka,

seperti 10, 9, 8, 7, 6, 5, 4, 3, 2, 1 untuk rentang 1 sampai 10 atau rentang 10

sampai 100. Grade penilaian juga dapat digunakan acuan huruf yaitu A, B, C, dan

D, yakni :

A ≥ 80 Yang berarti sangat puas

B ≥ 65 < 80 Yang berarti puas

C = 56 sampai 65 Yang berarti cukup puas

(52)

2.6 Penelitian Terdahulu

Untuk mengetahui perkembangan penelitian dengan tema PDSQ, peneliti

akan memberikan review dari beberapa penelitian terdahulu sehingga dapat

diketahui posisi dan perbedaan penelitian yang dilakukan saat ini dengan

penelitian lainnya, antara lain:

o Penelitian oleh Yani Iriani (2010) melakukan identifikasi terhadap kepuasan

pelanggan di PT. X . dimana perusahaan ini merupakan salah satu perusahaan

yang bergerak di bidang distribusi BBM yang mulai beroperasi dan

mendistribusikan produknya di Indonesia. Dalam proses penelitiannya,

mengidentifikasi faktor Timelines, Availability, dan Quality dengan

pendekatan hipotesis dan Indeks Kepuasan Pelangan. Dari hasil penelitian

didapatkan bahwa pelangan merasakan kepuasan sebesar 78,84% terhadap

kualitas pelayan distribusi di PT X.

o Penelitian oleh Hendang Setyo Rukmi, Yuniar, M. Ikhsan Muslim (2010)

melakukan identifikasi perbaikan kualitas layanan distribusi fisik produk air

mineral di PT. X Bandung.. Dalam proses penelitiannya, mengidentifikasi

faktor Timelines, Availability, dan Quality dengan perhitungan korelasi dan

uji reliabilitas. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa dimensi

timeliness merupakan dimensi yang memiliki bobot tertinggi dibandingkan

dimensi availability dan condition. Artinya dimensi timeliness memiliki

pengaruh yang cukup tinggi terhadap kualitas layanan distribusi fisik PT. X.

Dalam hal ini, dimensi timeliness merupakan dimensi terburuk karena semua

(53)

harapan konsumen. Tiga indikator empiris kualitas layanan distribusi fisik

yang paling buruk adalah a) ketepatan waktu pengiriman produk, b)

kecepatan waktu pelayanan pemesanan, dan c) kecepatan waktu penanganan

komplain. Ketiganya memiliki nilai gap 5 paling negatif.

Upaya yang bisa dilakukan untuk memperbaiki ketepatan waktu pengiriman

produk adalah pengaturan rute yang lebih baik yang memperhatikan

kemacetan, pencatatan dan pengarsipan waktu keberangkatan dan waktu

kedatangan dari satu lokasi ke lokasi lain agar dapat memberikan informasi

lamanya pengiriman produk ke konsumen dengan lebih akurat, serta

meningkatkan kemampuan mekanik supir dan kenek. Upaya yang bisa

dilakukan untuk memperbaiki kecepatan waktu pelayanan pemesanan dan

kecepatan waktu penanganan komplain adalah pembagian deskripsi kerja

customer service yang menangani komplain dan customer service yang

menangani pemesanan, serta peningkatan kemampuan customer service

dalam mengelola pemesanan dan komplain.

o Penelitian oleh Teddy Gunarso Saputra (2012) melakukan identifikasi

terhadap kepuasan pelanggan di Distributor PT. Rofaca Karalmasih Abadi

cabang Surabaya. Dalam proses penelitiannya, mengidentifikasi faktor

Timelines, Availability, dan Quality dengan pendekatan hipotesis dan Indeks

Kepuasan Pelangan. Beradasarkan hasil analisis perhitungan kepuasan

pelanggan dengan Indeks Kepuasan Pelanggan (IKP) terhadap kualitas

layanan sistem distribusi didapat nilai sebesar 60,4 %, artinya sebesar 60,4 %

(54)

distribusi fisik yang diterima dari Distributor PT. Rofaca Karalmasih Abadi

cabang Surabaya. Hal ini menunjukkan bahwa pelanggan Distributor PT.

Rofaca karalmasih Abadi cabang Surabaya menilai tingkat kepuasan yang

mereka terima lebih rendah dari tingkat ekspektasi mereka atau masih kurang

sebesar 39,6%.

Usulan perbaikan terhadap layanan makanan hewan (kucing) secara

keseluruhan kesenjangan terbesar terletak pada dimensi waktu

Gambar

Gambar 2.1 : Sistem ditribusi.
Tabel 2.1. : NILAI KRITIS h UNTUK UJI TANDA
Tabel  2.2. : Tabel contoh soal uji tanda
tabel 2.1 nilai kritis h untuk uji tanda, didapat h = 5. Dari pengamatan diperoleh h
+7

Referensi

Dokumen terkait

Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan kepuasan pelanggan dengan melakukan pengukuran tingkat kepuasan pelanggan terhadap kualitas pelayanan serta menentukan

Perbedaan Tingkat Penilaian Perseptif Konsumen Atas Dimensi- dimensi Marketing Stimuli, Dimensi-dimensi Service Quality, Kepuasan Pelanggan dan Word of Mouth Ditinjau

Beberapa penelitian yang meneliti pengaruh kualitas layanan dengan kepuasan pelanggan menggunakan dimensi SERVQUAL, diantaranya adalah: Fornell (1992) menggunakan dimensi

Kualitas layanan ditinjau dari dimensi problem solving berpengaruh positif terhadap kepuasan pelanggan, yang berarti semakin baik kualitas layanan yang diberikan pihak toko

1) Untuk mengetahui tingkat kepuasan pelanggan terhadap layanan jasa yang diberikan ditinjau dari Service Quality dan analisis GAP. 2) Untuk mengukur dimensi mana yang

Hasilnya adalah R sebesar 0,639 menunjukan bahwa 63.9% variabel kepuasan pelanggan dapat dijelaskan oleb variabel dari dimensi service quality yaitu responsiveness,

Dari hasil pengolahan data, diperoleh 40 kriteria pengukuran kepuasan pelanggan dan terdapat 5 kriteria pengukuran kepuasan pelanggan yang harus diprioritaskan dalam

Tujuan dari penelitian ini adalah mengukur kepuasan konsumen terhadap terhadap kualitas layanan sistem distribusi dan usulan perbaikan terhadap layanan distribusi makanan hewan