• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS PENGARUH EKUITAS MEREK TERHADAP MINAT BELI LAPTOP AXIOO DI SURABAYA (STUDI KASUS PADA HI-TECH MALL).

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "ANALISIS PENGARUH EKUITAS MEREK TERHADAP MINAT BELI LAPTOP AXIOO DI SURABAYA (STUDI KASUS PADA HI-TECH MALL)."

Copied!
84
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISIS PENGARUH EKUITAS MEREK TERHADAP

MINAT BELI LAPTOP AXIOO DI SURABAYA

(STUDI KASUS PADA HI-TECH MALL)

SKRIPSI

Diajukan Oleh :

ACHMAD FAIZ 0912010175/FE/EM

FAKULTAS EKONOMI

UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN”

J AWA TIMUR

(2)

SKRIPSI

ANALISIS PENGARUH EKUITAS MEREK TERHADAP

MINAT BELI LAPTOP AXIOO DI SURABAYA

(STUDI KASUS PADA HI-TECH MALL)

Disusun Oleh :

ACHMAD FAIZ 0912010175 / FE / EM

Telah dipertahankan dihadapan dan diterima oleh tim Penguji Skripsi Progr am Studi Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pembangunan

Nasional “Veteran” J awa Timur Pada Tanggal : 19 Desember 2014

Pembimbing Utama, Tim Penguji :

Ketua,

Dra. Ec. Nuruni Ika KW, MM Dra. Ec.Kustini, M.SI

NIP. 19631009 199103 2001 NIP. 19630429 199103 2001

Sekr etaris,

Dra. Ec. Nuruni Ika KW, MM NIP. 19631009 199103 2001 Anggota,

Dr s. Ec. Pandji Soegiono, MM NIP. 19641023 199003 1002

Mengetahui,

Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Univer sitas Pembangunan Nasional “Veteran”

J awa Timur

(3)

USULAN PENELITIAN

ANALISIS PENGARUH EKUITAS MEREK TERHADAP

MINAT BELI LAPTOP AXIOO DI SURABAYA

(STUDI KASUS PADA HI-TECH MALL)

Yang diajukan

ACHMAD FAIZ 0912010175 / FE / EM

Telah disetujui untuk diseminarkan oleh :

Pembimbing Utama,

Dra. Ec. Nuruni Ika Kusuma W, MM Tanggal : 22-10-2014 NIP. 196310091991032001

Mengetahui, Ketua Jurusan Manajemen

(4)

USULAN PENELITIAN

ANALISIS PENGARUH EKUITAS MEREK TERHADAP

MINAT BELI LAPTOP AXIOO DI SURABAYA

(STUDI KASUS PADA HI-TECH MALL)

Yang diajukan

ACHMAD FAIZ 0912010175 / FE / EM

Telah diseminarkan dan disetujui untuk menyusun skripsi oleh :

Pembimbing Utama,

Dra. Ec. Nuruni Ika Kusuma W, MM Tanggal : 17-11-2014 NIP. 196310091991032001

Mengetahui, Ketua Jurusan Manajemen

(5)

SKRIPSI

ANALISIS PENGARUH EKUITAS MEREK TERHADAP

MINAT BELI LAPTOP AXIOO DI SURABAYA

(STUDI KASUS PADA HI-TECH MALL)

Yang diajukan

ACHMAD FAIZ 0912010175 / FE / EM

Disetujui untuk ujian skripsi oleh :

Pembimbing Utama,

Dra. Ec. Nuruni Ika Kusuma W, MM Tanggal : 10-12-2014 NIP. 196310091991032001

Mengetahui,

Wakil Dekan I Fakultas Ekonomi Universitas Pembangunan Nasional “Veteran”

Jawa Timur

(6)

KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas segala

rahmat dan hidayah-Nya serta sholawat dan salam kepada Nabi Muhammad

SAW sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “ ANALISIS

PENGARUH EKUITAS MEREK TERHADAP MINAT BELI LAPTOP AXIOO

DI SURABAYA ( STUDI KASUS PADA HI-TECH MALL ) ” dengan baik.

Penyusunan skripsi ini dibuat sebagai salah satu syarat untuk dapat

memperoleh gelar Sarjana Ekonomi Jurusan Manajemen di Universitas

Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini tidak akan berhasil tanpa adanya

dukungan dari berbagai pihak, oleh karena itu pada kesempatan ini dengan segala

ketulusan hati penulis ingin mengucapkan banyak terima kasih kepada:

1. Bapak Prof. Dr. Ir. Teguh Soedarto,MP, selaku Rektor Universitas

Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur.

2. Bapak Prof. Dr. Syamsul Huda SE,MT, selaku Dekan Fakultas Ekonomi

Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur.

3. Ibu Dra. Ec. Kustini,Msi, selaku Ketua Program Studi Jurusan Manajemen

Fakultas Ekonomi Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa

Timur.

4. Ibu Dra. Ec. Nuruni Ika Kusuma W,MM, selaku Dosen Pembimbing Utama

yang telah memberikan bimbingan dan dorongan kepada penulis dalam

(7)

5. Segenap Staff Dosen Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas

Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur yang telah memberikan

banyak pengetahuan kepada penulis selama masa perkuliahan.

6. Aba Achmad Fauzan, Umik Soefijah, Adek Sofyan, Adek Muhammad Lutfi,

Adek Aisyah Amini dan seluruh keluarga besar yang telah memberikan

motivasi, doa serta curahan kasih sayang yang tiada henti kepada penulis.

7. Para sahabatku Cendy, Rizky, Irvaq, Berlin, Revo, Drajat, Novi, Edo, yesQ,

Johni dan masih banyak lagi yang tidak bisa saya sebutkan satu-persatu yang

selalu memberi semangat saat saya merasa putus asa.

8. Seluruh teman-teman Jurusan Manajemen Angkatan 2009 atas

kebersamaannya selama kuliah.

9. Para Responden yang telah membantu penelitian ini dengan meluangkan

waktunya untuk mengisi kuesioner penelitian.

10.Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu-persatu, yang telah

dengan tulus ikhlas memberikan doa dan dukungan hingga dapat

terselesaikannya skripsi ini.

Penulis menyadari bahwa dalam penulisan skripsi ini masih jauh dari

sampurna, Oleh karena itu, segala kritik dan saran yang sifatnya membangun

akan menyempurnakan penulisan skripsi ini serta bermanfaat bagi penulis,

pembaca, dan bagi peneliti selanjutnya.

Salam hormat,

Surabaya, Desember 2014

(8)

DAFTAR ISI

Halaman

KATA PENGANTAR ... i

DAFTAR ISI ... iii

DAFTAR TABEL ... vi

DAFTAR GAMBAR ... vii

DAFTAR LAMPIRAN ... viii

ABSTRAKSI ... ix

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Perumusan Masalah ... 11

1.3 Tujuan Penelitian ... 11

1.4 Manfaat Penelitian ... 11

BAB II TINJ AUAN PUSTAKA 2.1 Penelitian Terdahulu ... 13

2.2 Landasan Teori ... 14

2.2.1 Pengertian Pemasaran ... 14

2.2.2 Pengertian Manajemen Pemasaran ... 15

2.2.3 Konsep Pemasaran ... 16

2.3 Pengertian Merek ... 16

2.3.1 Pengertian Ekuitas Merek ... 19

(9)

2.3.2.2 Asosiasi Merek ... 23

2.3.2.3 Persepsi Kualitas ... 25

2.4 Pengertian Minat Beli ... 29

2.5 Pengaruh Ekuitas Merek Terhadap Minat Beli ... 31

2.6 Kerangka Konseptual ... 32

2.7 Hipotesis ... 32

BAB III METODELOGI PENELITIAN 3.1 Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel ... 33

3.1.1 Definisi Operasional Variabel ... 33

3.1.2 Pengukuran Variabel ... 35

3.2 Teknik Pengambilan Sampel ... 36

3.2.1 Populasi ... 36

3.2.2 Sampel ... 37

3.3 Teknik Pengambilan Data ... 38

3.3.1 Jenis Data ... 38

3.3.2 Pengumpulan Data ... 38

3.4 Teknik Analisis dan Uji Hipotesis ... 38

3.4.1 Teknik Analisis ... 38

3.4.2 Pengujian Hipotesis ... 52

(10)

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Gambaran Umum Subyek Penelitian ... 55

4.1.1 Sejarah Perusahaan ... 55

4.2 Deskripsi Hasil Penelitian ... 57

4.2.1 Deskripsi Variabel Ekuitas Merek ... 57

4.2.1.1 Deskripsi Variabel Kesadaran Merek ... 57

4.2.1.2 Deskripsi Variabel Asosiasi Merek ... 58

4.2.1.3 Deskripsi Variabel Persepsi Kualitas ... 59

4.2.2 Deskripsi Variabel Minat Beli ... 60

4.3 Deskripsi Hasil Analisis dan Uji Hipotesis ... 61

4.3.1 Pengujian Model ( Outer Model ) ... 61

4.3.1.1 Outer Loading ( Model Pengukuran dan Validitas ) ... 62

4.3.2 Average Variance Extracted ( AVE ) ... 63

4.3.3 Reliabilitas ... 64

4.3.4 Results For Outer Weights ... 65

4.3.5 Inner Model ( Pengujian Model Struktural ) ... 66

4.3.6 Model Pengukuran PLS ( Partial Least Square ) ... 67

4.4 Pembahasan ... 69

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan ... 71

5.2 Saran ... 71

DAFTAR PUSTAKA

(11)

ANALISIS PENGARUH EKUITAS MEREK TERHADAP

MINAT BELI LAPTOP AXIOO DI SURABAYA

(STUDI KASUS PADA HI-TECH MALL)

Oleh :

Achmad Faiz

0912010175/EM

ABSTRAKSI

Axioo merupakan salah satu produsen laptop yang sudah cukup dikenal

oleh para pengguna komputer. Fenomena yang terjadi pada saat ini adalah

semakin menurunnya ekuitas merek laptop Axioo. Hal ini juga didukung dengan

data dari TBI bahwa selama tahun 2011-2013 terjadi penurunan Top Brand Index.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ekuitas merek pengaruhnya terhadap

minat beli laptop Axioo di Surabaya (Studi Pada Hi-Tech Mall).

Skala pengukuran untuk indikator – indikator dari setiap variabel yang

digunakan adalah skala interval yaitu skala jenjang sematik (sematic differential

scale) dengan skala interval 1 sampai 5. Pengambilan sampel didasari oleh PLS

bahwa besarnya sampel yaitu 5 – 10 parameter yang diestimasi. Pada penelitian

ini terdapat 12 indikator, sehingga jumlah sampel yang ditetapkan adalah 60

responden melalui penyebaran kuesioner kepada konsumen laptop Axioo di

Hi-Tech Mall Surabaya dan berumur 20 tahun ke atas. Dalam penelitian ini

menggunakan non probability sampling dengan teknik purposive sampling.

Artinya teknik penarikan sampel dengan menggunakan syarat tertentu.

Hasil pengujian menunjukkan bahwa ekuitas merek berpengaruh positif

terhadap minat beli laptop Axioo di Surabaya.

(12)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Perkembangan sektor Teknologi Informasi (TI) dan inovasinya yang

meningkat secara gradual beberapa tahun terakhir memberikan harapan baru bagi

pertumbuhan industri dan perekonomian, karena berdasarkan penelitian yang

dilakukan oleh IDC (International Data Corporation), pertumbuhan teknologi

dan telekomunikasi dapat membuka lapangan kerja baru sebanyak 5,8 juta pada

tahun 2013. Sejalan dengan perkembangan IT yang sangat pesat ini, industri –

industri berbasis IT seperti telekomunikasi dan gadget memasuki gelombang baru

(new wave), yang semula berbasis kabel (fixed wireline) menuju era

telekomunikasi nirkabel (fixed wireless), dengan berbagai macam layanan yang

membuat produk dan layanan telekomunikasi menjadi lebih personal.

Fakta tersebut memberikan dampak yang besar terhadap industri gadget

tanah air, terutama industri perangkat lunak (software) dan laptop. Perkembangan

teknologi laptop yang semakin memberikan keunggulan dan kemudahan seperti

layar sentuh (touchscreen), jaringan processor hemat energi, grafik multimedia

yang semakin baik, serta berbagai bentuk kategori laptop lain seperti light and

slim yang sedang menjadi trend membuat customer semakin menyukai produk –

produk ini. Hal ini bisa dilihat pada event – event seperti pameran IT dan laptop

yang semakin lama dikunjungi, hampir setiap tahun acara seperti indocomtech

selalu dikunjungi para pecinta IT yang mencari produk baru dengan berbagai

(13)

Peningkatan permintaan terhadap laptop selain karena kebutuhan dalam

menunjang kelancaran tugas, juga didorong oleh perubahan sosial ekonomi dan

perilaku masyarakat. Perubahan sosial ekonomi meliputi peningkatan pendapatan

dan tingkat pendidikan yang merupakan karakteristik pembeli. Pendidikan

mempengaruhi konsumen dalam membuat keputusan. Konsumen yang

pendidikannya tinggi mempunyai pandangan yang berbeda terhadap alternatif

merek dan harga dibandingkan dengan konsumen yang berpendidikan lebih

rendah.

Dewasa ini, jaman sekarang yang semakin modern yang membuat setiap

orang mempunyai kebutuhan untuk mengerjakan segala sesuatunya dengan cara

yang praktis dan cepat. Oleh karena kebutuhan tersebut, maka kebutuhan

teknologi yang maju juga semakin dibutuhkan dan salah satu contoh kemajuan

teknologi itu dapat dilihat dari adanya internet sebagai sarana telekomunikasi

yang tanpa batas seperti yang terjadi sekarang ini. Akan tetapi internet juga

memperlukan sarana – sarana untuk dapat mengaksesnya dan salah satu sarana

yang paling penting untuk dapat mengakses internet tersebut adalah komputer

atau laptop, dengan memiliki komputer yang canggih maka otomatis orang

tersebut dapat mempunyai kesempatan mengakses yang lebih cepat pula dari

orang yang memiliki komputer atau laptop yang kalah canggihnya “Juga harus

didukung dengan sarana – sarana lainnya yang memadai”.

Akan tetapi kegunaan dari komputer atau laptop bukan hanya sebagai

sarana untuk mengakses internet, akan tetapi fungsi utama dari komputer atau

laptop adalah sebagai sarana untuk mempermudah pekerjaan manusia, seperti

menyimpan data – data yang penting, mendesaign suatu produk, mengetik, dll.

(14)

3

meningkatkan permintaan akan laptop dan pc ini termasuk di kota surabaya.

Kondisi tersebut menciptakan peluang pasar bagi perusahaan – perusahaan

produsen komputer dan laptop untuk menawarkan produk dan upaya untuk

melayani kebutuhan dari konsumen, akan tetapi oleh karena adanya peluang pasar

tersebut maka banyak persaingan baik dari pemain lama maupun pendatang baru.

Contoh bermunculannya industri komputer adalah dengan banyaknya

bermunculan merek – merek komputer atau laptop yang baru, seperti merek

Axioo, Asus, Acer, Hp, Dell, dan lain-lain.

Fenomena dan dinamika persaingan yang ada dalam era informasi akan

semakin mengarahkan sistem perekonomian Indonesia ke mekanisme pasar yang

memposisikan perusahaan untuk selalu mengembangkan dan merebut pangsa

pasar (market share). Salah satu aset untuk mencapai keadaan tersebut adalah

merek (brand) produk yang dewasa ini berkembang menjadi sumber aset terbesar

bagi perusahaan.

Arti dan peran merek dalam suatu bisnis sangatlah penting menurut

American Marketing Association (AMA) dalam Keller (2003) mengatakan merek

adalah suatu nama, istilah, simbol atau desain atau kombinasi dari hal – hal

tersebut yang dimaksudkan untuk mengidentifikasikan produk atau jasa yang

dihasilkan oleh penjual atau kelompok penjual dan membedakannya dari para

pesaing. Sedangkan menurut Keller (2003) merek adalah suatu produk yang telah

ditambahkan dengan dimensi – dimensi lainnya yang membuat produk tersebut

menjadi berbeda dibandingkan dengan produk lainnya yang sama-sama didesain

untuk memenuhi kebutuhan yang sama. Perbedaan tersebut dapat berupa sesuatu

yang emosional dan tidak berwujud yang berhubungan dengan apa yang

(15)

menyampaikan serangkaian gambaran yang spesifik, keuntungan dan

pelayanan-pelayanan secara konsisten kepada pembeli.

Menurut Kotler (2002) Ekuitas Merek (Brand Equity) sangat berkaitan

dalam seberapa banyak konsumen berada dalam kondisi puas terhadap suatu

brand dan merasa rugi bila berganti brand, konsumen menghargai brand dan

menganggapnya sebagai teman, serta loyal terhadap brand tersebut. Ekuitas

merek juga berkaitan dengan tingkat pengakuan terhadap suatu brand, kualitas

brand yand diyakini, asosiasi mental dan emosional yang kuat, serta aktiva lain

seperti merek dagang, dan hubungan saluran distribusi. Ekuitas merek merupakan

seperangkat asset dan liabilitas yang terkait pada merek yang memberikan nilai

tambah (mengurangi nilai) pada sebuah produk atau jasa (Wijaya, 2005 :101).

Ekuitas merek merupakan sekelompok asset, karena itu pengelolanya mencakup

investasi untuk menciptakan dan memperkuat asset tersebut.

Penelitian ini dilakukan di Hi-Tech Mall Surabaya pusatnya perbelanjaan

komputer, meskipun beberapa gerai menjual kebutuhan sehari – hari pada

umumnya plaza atau toserba lainnya. Berbagai merek komputer atau laptop

berikut spare partnya tersedia diantaranya : Toshiba, HP, Axioo, Acer, Lenovo

dll. Bahkan software berbagai program juga dijual disini, umumnya toko (gerai)

dipusatkan di lantai II dan III. Hi-Tech Mall terletak di Jl. Kusuma Bangsa 116 –

118 Surabaya yang dikelola oleh PT. SASANA BOGA Surabaya bekerja sama

dengan Pemerintah Kota Surabaya.

Axioo merupakan salah satu produsen komputer yang sudah cukup dikenal

oleh para pengguna komputer. Merek ini dikenal memiliki produk yang cukup

kuat dan bandel. Sehingga produk Axioo cukup mampu diandalkan untuk

(16)

5

banyak digunakan oleh beberapa perusahaan karena jaminan kualitas dari produk

Axioo, baik itu jaminan dalam produk maupun jaminan pada layanan purna

jualnya.

Ketika era teknologi komputer berkembang, perangkat personal komputer

mulai digeser oleh kehadiran komputer jinjing atau laptop. Axioo pun tidak mau

ketinggalan untuk ikut meramaikan manisnya kue persaingan di pasar laptop.

Sebagaimana produk komputer dekstopnya, laptop dari Axioo pun

mengedepankan konsep sebagai laptop yang bandel dan tahan untuk bekerja

keras. Hal ini terlihat dari desain laptop Axioo yang selalu mengesankan

kegagahan daripada kesan feminim. Selain itu, Axioo tetap fokus untuk

menggarap segmen pasar laptop bagi konsumen yang membutuhkan laptop untuk

bekerja, bukan konsumen yang membeli laptop untuk sekedar penampilan

semata.

Persaingan pada dunia bisnis terjadi hampir pada seluruh jenis industri dan

jasa, begitu pula pada yang terjadi pada industri laptop. Laptop merupakan

kebutuhan akan informasi. Peluang bisnis ini sangat menjanjikan keuntungan bagi

produsen. Persaingan pada laptop sudah menjadi persaingan gaya hidup

masyarakat. Hal ini ditandai dengan banyaknya pilihan merek laptop yang ada

dipasar. Keadaan tersebut menuntut perusahaan untuk kreatif dan inovatif dalam

membuat pangsa pasar terhadap produknya. Perusahaan-perusahaan laptop saat

ini banyak yang menawarkan produknya ke pasar, sehingga menimbulkan tingkat

persaingan yang semakin ketat diantara perusahaan-perusahaan tersebut, misalnya

Axioo, Toshiba, Acer, Vaio dan HP.

Laptop Axioo mengeluarkan beberapa jenis laptop, antara lain : Axioo

(17)

Namun pada akhir – akhir ini laptop Axioo sendiri mengalami komplain

baik dari konsumen maupun pelanggannya. Pertama, Daya baterai mengalami

penurunan yang drastis. Kedua, desain laptop Axioo kurang menarik karena tidak

terlalu banyak varian. Ketiga, CD writer mudah rusak. Keempat, Charger

mengalami panas yang berlebihan saat digunakan ( www.ict.unm.ac.id ).

Komplain tersebut menunjukkan bahwa kualitas laptop Axioo menurun dan

menyebabkan ekuitas merek laptop Axioo lemah.

Banyaknya variasi laptop yang dikeluarkan oleh Axioo bertujuan untuk

mendongkrak penjualan serta untuk meningkatkan market sharenya sehingga

brand produknya semakin dikenal di benak konsumen. Tetapi dalam satu

penghargaan mengenai kekuatan suatu merek di Indonesia yaitu Top Brand Index

(TBI) ternyata laptop Axioo berdasarkan survey TBI tersebut mengalami

penurunan pada tahun 2013 dibandingkan dengan tahun 2011 dan 2012. Berikut

hasil pengukurannya dapat dilihat pada tabel dibawah ini :

Tabel 1.1 Top Brand Index Laptop 2011 – 2013

KATEGORI MEREK

TOP BRAND INDEX

2011 2012 2013

NOTEBOOK

/ LAPTOP

HP 12,7 % 13,8 % 9,9 %

APPLE 5 % 6,1 % 6,2 %

AXIOO 4,7 % 2,7 % 2,6 %

VAIO 4,6 % 3,5 % 2,5 %

(18)

7

Berdasarkan tabel diatas dapat diketahui bahwa produk laptop Axioo

mengalami penurunan TBI yang cukup besar dibandingkan dengan

kompetitornya yang cenderung mengalami peningkatan. Pada tahun 2011 angka

TBI laptop Axioo sebesar 4,7 % tetapi pada tahun 2012 angka TBI laptop Axioo

menurun menjadi sebesar 2,7 % dan pada tahun 2013 angka TBI laptop Axioo

menurun kembali menjadi sebesar 2,6 %.

Menurut Bob Suete Labesani, Head of business unit IT device, PT Tera

Data Indonusa selaku pemegang merek Axioo di Indonesia dalam seminar

“Bagaimana membangun brand lokal di pasar global” di ajang pameran CHIP

Fiesta di Universitas Budi Luhur, Jakarta. Tahun lalu Axioo (5 %) meraih posisi

kelima dalam pangsa pasar tanah air dibelakang ASUS (35%), Acer (21 %),

Lenovo (18 %) dan HP (16 %). Laptop Axioo menargetkan di tahun ini dapat

bertahan di posisi lima besar vendor laptop di pangsa pasar. “Tahun ini kami

ingin mengamankan posisi kami di lima besar di pasar dalam negeri, kami

mengincar pangsa pasar 7 hingga 9 %”. ( Dikutip dari www.kompas.com )

Dari gambaran data – data diatas dapat disimpulkan bahwa tingkat

penjualan laptop Axioo masih kalah dibandingkan dengan para kompetitornya

seperti ASUS, Acer, Lenovo dan HP. Tetapi karena produk laptop Axioo ini

merupakan produk jangka panjang, maka permasalahan dari fenomena tersebut

adalah bagaimana laptop Axioo dapat menjadi market leader melampaui para

kompetitornya tersebut.

Hal ini menunjukkan bahwa peminat dari pengguna laptop Axioo

cenderung masih kalah bersaing dengan kompetitornya, hal ini haruslah menjadi

(19)

dalam membangkitkan minat konsumen untuk membeli dan menggunakan

produk laptop Axioo.

Top Brand Index (TBI) merupakan suatu alat ukur kekuatan merek yang

diformulasikan berdasarkan atas tiga variabel, yaitu : Mind share, Market Share,

dan Commitment Share. Variabel pertama, Mind Share, mengindikasikan

kekuatan merek di dalam benak konsumen kategori produk yang bersangkutan.

Variabel kedua, Market Share, menunjukkan kekuatan merek dalam pasar

tertentu dalam hal perilaku pembelian aktual dari konsumen. Sedangkan variabel

ketiga, Commitment Share, mengindikasikan kekuatan merek dalam mendorong

konsumen untuk membeli merek terkait di masa yang akan datang. Oleh karena

itu perasaan konsumen tentang nilai akan selalu berubah. Penurunan TBI laptop

Axioo mengindikasikan adanya penurunan kekuatan merek yang ada di benak

konsumen terhadap produk yang bersangkutan. Apabila kekuatan merek yang ada

di benak konsumen turun maka minat beli konsumen terhadap merek tersebut

akan turun dan akan mempengaruhi pembelian. Bila kesetiaan merek rendah

konsumen akan cenderung berpindah ke merek lain, sebaliknya bila kesetiaan

konsumen terhadap merek tinggi maka konsumen akan melakukan pembelian

terhadap produk tersebut secara berulang – ulang ( www.swa.co.id ).

Konsumen akan cenderung berminat terhadap merek yang sudah dikenal

dengan baik dan memiliki keyakinan yang kuat akan merek tersebut sebagai

merek yang terpercaya. Keyakinan tersebut akan mengantarkan konsumen

melakukan pembelian. Jika konsumen memiliki keyakinan yang rendah pada

merek dan membeli merek namun tidak didasarkan pada karakteristik produk,

harga, kenyamanan dan dengan sedikit memperdulikan merek maka

(20)

9

cenderung membeli suatu merek walaupun dihadapkan pada para pesaing yang

menawarkan produk yang lebih unggul, misalkan dalam hal harga dan

kepraktisan, maka merek tersebut memiliki ekuitas merek yang tinggi.

Masalah dalam penelitian ini yaitu bagaimana cara meningkatkan minat beli

konsumen terhadap produk Laptop Axioo. Untuk memenangkan persaingan maka

harus mempunyai brand equity yang kokoh yang akan berdampak terhadap minat

beli calon pelanggan (Aaker David,1997) . Konsumen akan cenderung berminat

membeli merek yang sudah dikenal dengan baik dan memiliki keyakinan yang

kuat akan merek tersebut sebagai merek yang terpercaya. Keyakinan tersebut

akan mengantarkan konsumen melakukan pembelian. Jika konsumen memiliki

keyakinan yang rendah pada merek dan membeli merek tersebut namun tidak

didasarkan pada karakteristik produk, harga, kenyamanan dan dengan sedikit

memperdulikan merek, maka kemungkinan ekuitas merek produk tersebut

rendah. Sedangkan jika konsumen cenderung membeli suatu merek walaupun

dihadapkan pada persaingan harga yang menawarkan produk yang lebih unggul,

misalkan dalam hal harga dan kepraktisan, maka merek tersebut memiliki ekuitas

yang tinggi.

Mengacu konsep Aaker (1996) menyatakan bahwa ekuitas merek

menciptakan nilai, baik pada perusahaan maupun pada konsumen. Pernyataan ini

telah didukung oleh beberapa penelitian, diantaranya yang dilakukan oleh Smith

et al (2007) yang menyatakan bahwa ekuitas merek dapat menjadi pertimbangan

perusahaan dalam melakukan merger atau akuisisi. Penelitian lain menyebutkan

bahwa ekuitas merek mempengaruhi respon pada stock market (Lane et al, 1995).

(21)

Selain itu, ekuitas merek juga dapat mempengaruhi kelangsungan hidup sebuah

merek (Rangaswamy et al, 1993 dan Yoo et al, 2000).

Aset atau liabilitas yang mendasari ekuitas merek harus dihubungkan

dengan nama atau simbol dari merek. Jika nama merek atau simbol diubah,

beberapa atau keseluruhan dari aset atau liabilitas dapat dipengaruhi bahkan

hilang, walaupun beberapa mungkin diganti dengan nama atau simbol baru.

Ekuitas merek didefinisikan sebagai seberapa kuat sebuah merek berada di

benak konsumen. Untuk membangun merek yang kuat perusahaan perlu

melakukan usaha dalam rangka terus mengingatkan konsumen akan keberadaan

merek tersebut. Melalui promosi penjualan, perusahaan berusaha menarik

konsumen untuk mengingat suatu merek yang pada akhirnya melakukan

pembelian merek tersebut (Kotler et al, 1999). Sedangkan menurut Aaker (1991,

dalam Langner et al 2006) mengemukakan bahwa bagi perusahaan, ekuitas merek

tidak hanya memberi keuntungan langsung, tetapi juga keuntungan jangka

panjang dengan memelihara konsumen untuk tetap melakukan pembelian ulang

terhadap produk mereka.

Menurut Mc Carthy (2002 : 298) minat beli konsumen didefinisikan

sebagai berikut "Minat beli merupakan dorongan yang timbul dalam diri

seseorang untuk membeli barang dan jasa dalam rangka pemenuhan

kebutuhannnya", Assael (2001) mendefinisikan minat beli sebagai

kecenderungan konsumen untuk membeli suatu merek atau mengambil tindakan

yang berhubungan dengan pembelian yang diukur dengan tingkat kemungkinan

konsumen melakukan pembelian. Pengertian minat beli menurut Howard (1994)

(22)

11

berhubungan dengan rencana konsumen untuk membeli produk tertentu serta

berapa banyak unit produk yang dibutuhkan pada periode tertentu.

Atas dasar latar belakang tersebut, maka peneliti tertarik untuk melakukan

penelitian dengan judul “ Analisis Pengaruh Ekuitas Merek Terhadap Minat Beli

Laptop Axioo di Surabaya (Studi Kasus Pada Hi-Tech Mall).”

1.2 Perumusan Masalah

Berdasarkan ulasan latar belakang di atas, maka perumusan masalah dalam

penelitian ini adalah :

Apakah Ekuitas Merek berpengaruh terhadap Minat membeli produk

Laptop Axioo di Hi-Tech Mall Surabaya ?

1.3 Tujuan Penelitian

Berdasarkan Rumusan Masalah di atas, maka Tujuan pada penelitian ini adalah :

Untuk mengetahui pengaruh Ekuitas Merek terhadap Minat membeli

produk Laptop Axioo ?

1.4 Manfaat Penelitian

Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah :

1. Bagi Universitas

Hasil penelitian ini dapat digunakan untuk menambah kepustakaan, khususnya

bagi Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur Surabaya

sehingga terdapat tambahan referensi sebagai sarana pengembangan ilmu

(23)

2. Bagi Peneliti Lain

Memberikan informasi dan wacana sebagai referensi maupun informasi untuk

penelitian lebih lanjut bagi yang ingin melakukan pengembangan penelitian yang

(24)

BAB II

TINJ AUAN PUSTAKA

2.1 Penelitian Terdahulu

Penelitian sebelumnya yang relevan dengan penelitian ini :

1. “Analisa pengaruh dimensi ekuitas merek terhadap minat beli konsumen

Midtown Hotel Surabaya” oleh Devonalita Agusli dan Yohanes Sondang Kunto,

S.Si., M.Sc. (2013)... Persamaan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya

adalah membahas variabel-variabel penggerak ekuitas merek yaitu Kesadaran

Merek (Brand Awareness), Asosiasi Merek (Brand Association), Persepsi

Kualitas (Perceived Quality), dan Loyalitas Merek (Brand Loyalty). Jenis

penelitian yang digunakan dalam penelitian sebelumnya menggunakan Metode

Kausal. Kesimpulan dalam penelitian tersebut dapat diketahui bahwa variabel

Kesadaran Merek memiliki pengaruh yang signifikan terhadap minat beli

konsumen Midtown Hotel Surabaya. Kesimpulan mengenai variabel Asosiasi

Merek tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap minat beli konsumen

Midtown Hotel Surabaya. Kesimpulan mengenai variabel Persepsi Kualitas

memiliki pengaruh yang signifikan terhadap minat beli konsumen Midtown Hotel

Surabaya. Dan kesimpulan mengenai variabel Loyalitas Merek memiliki

pengaruh yang signifikan terhadap minat beli konsumen Midtown Hotel

Surabaya. Variabel yang memiliki pengaruh paling dominan terhadap minat beli

konsumen adalah Loyalitas Merek karena memiliki nilai signifikan 0,336.

2. “Analisis Pengaruh Ekuitas Merek Terhadap Minat Beli Telkomnet Instan pada

PT. TELKOM Cabang Pekanbaru” oleh Jushermi Tahun 2009. Kesamaan

(25)

dependent dan variabel independentnya yaitu pada variabel dependentnya

menggunakan minat beli konsumen sedangkan variabel independentnya

menggunakan ekuitas merek. Sedangkan perbedaan peneliti ini dengan peneliti

sebelumnya adalah peneliti ini responden (sampel) dilakukan di Surabaya

sedangkan di penelitian sebelumnya dilakukan di Makassar. Hasil dari penelitian

sebelumnya adalah Ekuitas Merek berpengaruh positif terhadap Minat Beli

Konsumen.

2.2 Landasan Teori

2.2.1 Pengertian Pemasaran

Setiap perusahaan yang menghasilkan barang ataupun jasa tidak akan

pernah lepas dari kegiatan pemasaran. Pemasaran merupakan salah satu dari

kegiatan pokok yang dilakukan oleh perusahaan dalam usaha mempertahankan

kelangsungan hidup perusahaan. Dalam hal ini yang terpenting adalah

memberikan kepuasan kepada konsumen.

Istilah pemasaran kadangkala dapat memberikan pengertian sebagai suatu

filosofi dari bisnis, yaitu sebagai suatu titik pandang yang berfokus pada

konsumen secara keseluruhan dan juga merupakan usaha perusahaan untuk

memahami dan memenuhi kebutuhan konsumen. Hal tersebut seperti yang

dikemukakan oleh (Kotler 1996 : 6), pemasaran adalah merupakan suatu proses

sosial dan proses manajerial yang mana individu-individu ataupun kelompok

memperoleh apa yang mereka inginkan dan butuhkan melalui penciptaan dan

penukaran produk dan nilai – nilai kepada pihak lain.

Stanton (1991 : 7) mendefinisikan pemasaran sebagai suatu sistem total dari

(26)

15

mendistribusikan barang-barang yang dapat memuaskan keinginan jasa baik

kepada konsumen saat ini maupun konsumen potensial.

Dari definisi tersebut dikatakan bahwa pemasaran merupakan hasil interaksi

banyak kegiatan dan kegiatan tersebut beroperasi dalam suatu lingkungan yang

dibatasi oleh perusahaan itu sendiri, peraturan-peraturan maupun konsekuensi

sosial bagi perusahaan. Jadi dalam pemasaran penyesuaian dan koordinasi antara

produk, harga, promosi dan saluran distribusi adalah untuk menciptakan

hubungan atau pertukaran yang menguntungkan bagi pihak yang melakukan.

2.2.2 Pengertian Manajemen Pemasaran

Rangkaian kegiatan pemasaran yang saling berhubungan sebagai usaha

untuk mencapai hasil pertukaran yang di inginkan dengan pasar sasarannya

(target market) sehingga dikenal istilah manajemen pemasaran. Menurut Kotler

(1997 : 13) manajemen pemasaran adalah proses perencanaan dan pelaksanaan,

pemikiran penetapan harga, promosi serta penyaluran gagasan, barang dan jasa

untuk menciptakan pertukaran yang memenuhi sasaran-sasaran individu dan

organisasi.

Hal di atas sangat tergantung pada penawaran organisasi dalam memenuhi

kebutuhan dan keinginan pelanggan yang bertujuan menghasilkan kepuasan –

kepuasan bagi pihak – pihak yang terlibat. Titik berat manajemen pemasaran

adalah memenuhi kebutuhan dan keinginan pasar tersebut serta menentukan

harga, mengadakan komunikasi, dan distribusi yang efektif untuk memberitahu,

mendorong serta melayani pasar. Definisi ini mengakui bahwa manajemen

pemasaran adalah proses yang melibatkan analisa, perencanaan, pelaksanaan, dan

(27)

pertukaran, dan dengan tujuan menghasilkan kepuasan bagi pihak – pihak yang

terlibat.

2.2.3 Konsep Pemasaran

Sofjan (2007 : 81) mengemukakan bahwa konsep pemasaran merupakan

orientasi perusahaan yang menekankan bahwa tugas pokok perusahaan adalah

menentukan kebutuhan dan keinginan pasar, dan selanjutnya memenuhi

kebutuhan dan keinginan tersebut sehingga dicapai tingkat kepuasan pelanggan

yang melebihi dari kepuasan yang diberikan oleh para pesaing.

Sedangkan menurut Kotler dan Amstrong (2008 : 12) konsep pemasaran

menyatakan bahwa pencapaian tujuan organisasi tergantung pada pengetahuan

akan kebutuhan dan keinginan target pasar dan memberikan kepuasan yang di

inginkan dengan lebih baik dari para pesaing.

Pada hakekatnya, konsep pemasaran menginginkan volume penjualan yang

menguntungkan, dan hal tersebut dapat diperoleh apabila perusahaan dapat

memberikan kepuasan terhadap konsumen yang lebih dari apa yang di berikan

oleh para pesaing.

2.3 Pengertian Merek

Merek (brand) merupakan kata dalam bahasa Inggris yang berasal dari kata

to burn atau membakar (Keller, 2003). To bum adalah suatu kegiatan pemberian

cap oleh peternak sapi Amerika pada waktu itu untuk membedakan sapinya

dengan sapi yang lain. Berthon, Hulbert dan Pitt (1999) kemudian menyimpulkan

bahwa fungsi identifikasi dari merek adalah untuk membedakan produk yang

(28)

17

(2003) juga mendukung kesimpulan ini dengan menyatakan bahwa inti dari

branding strategi adalah menciptakan perbedaan. Aaker (1997 : 7) mendefinisikan

merek adalah nama dan atau simbol yang bersifat membedakan (seperti sebuah

logo, cap, atau kemasan) dengan maksud mengidentifikasikan barang atau jasa

dari responden penjual atau sebuah kelompok penjual tertentu, dengan demikian

membedakan dari barang - barang dan jasa yang dihasilkan kompetitornya.

Pengertian brand lebih jauh menumt Durianto, dkk, (2004 : 1) merupakan nilai

tangible (berwujud) dan intangible (tidak berwujud) yang terwakili dalam merek

dagang yang mewujudkan nilai serta pengaruh tersendiri di pasaran. Pengertian

brand lainnya menurut Rangkuti (2002 : 2) adalah sebagai berikut :

1. Brand name mempakan bagian yang diutarakan melalui lisan, misalnya

Honda.

2. Brand mark merupakan bagian dari brand yang dapat diketahui atau dikenal

namun tidak dapat diutarakan secara lisan, misalnya logo LG dan logo

Adidas.

3. Trade mark mempakan bagian dari brand yang mendapatkan perlindungan

dari hukum karena kemampuannya menghasilkan suatu produk atau jasa.

Karena perlindungan hukum ini menyebabkan perusahaan lain tidak dapat

menggunakan brand yang sama.

Menurut Kotler et.al (1996) ada enam makna yang dapat disampaikan

melalui suatu merek, yaitu :

1. Attributes, ada suatu atribut yang melekat pada merek. Misalnya barang

mahal, mutu bagus, tahan lama, dan lain – lain.

2. Benefit, kata atribut diartikan sebagai funcional dan emotional benefit. Istilah

(29)

mahal, dapat diartikan sebagai emotional benefit yang penting barang

tersebut biar mahal tapi sangat menguntungkan.

3. Value, barang mahal memiliki nilai tinggi bagi pengguna, karena dapat

menaikkan gengsi / prestige kenyamanan dan keselamatan.

4. Culture, ini masalah budaya, yang terkesan, terkenal, selalu memberi barang

berkualitas tinggi.

5. Personality, memperlihatkan atau memberi kesan kepribadian tertentu. 6. User, memberi kesan bahwa mayoritas pemakai produk tersebut adalah orang

dari kelas sosial tertentu.

Agar suatu merek dapat mencerminkan makna – makna yang ingin

disampaikan maka ada beberapa persyaratan yang harus diperhatikan, yaitu :

1. Merek harus khas dan unik.

2. Merek harus menggambarkan sesuatu mengenai manfaat produk dan

pemakaiannya.

3. Merek harus menggambarkan kualitas produk.

4. Merek harus mudah diucapkan, dikenali, dan diingat.

5. Merek tidak boleh mengandung arti yang buruk dinegara dan dalam bahasa

lain.

6. Merek harus dapat menyesuaikan diri (adaptable) dengan produk – produk

baru yang mungkin ditambahkan kedalam lini produk.

Merek berkaitan dengan atribut atau manfaat dari produk itu sendiri, dalam

kasus tertentu merek berkaitan dengan citra tidak nyata (intangible image).

Kekuatan merek dapat dilihat dari kuat tidaknya ekuitas merek. Merek yang

(30)

19

diucapkan, dikenali dan diingat, tersendiri, dan tidak mengandung arti atau

konotasi negative dinegara atau bahasa lain.

2.3.1 Pengertian Ekuitas Merek

Mengacu konsep Aaker (1996) menyatakan bahwa ekuitas merek

menciptakan nilai, baik pada perusahaan maupun pada konsumen. Pernyataan ini

telah didukung oleh beberapa penelitian, diantaranya yang dilakukan oleh Smith

et al (2007) yang menyatakan bahwa ekuitas merek dapat menjadi pertimbangan

perusahaan dalam melakukan merger atau akuisisi. Penelitian lain menyebutkan

bahwa ekuitas merek mempengaruhi respon pada stock market (Lane et al, 1995).

Ekuitas merek dapat menjaga harga premium dari suatu produk (Keller, 2003).

Selain itu, ekuitas merek juga dapat mempengaruhi kelangsungan hidup sebuah

merek (Rangaswamy et al, 1993 dan Yoo et al, 2000).

Aset atau liabilitas yang mendasari ekuitas merek harus dihubungkan

dengan nama atau simbol dari merek. Jika nama merek atau simbol diubah,

beberapa atau keseluruhan dari aset atau liabilitas dapat dipengaruhi bahkan

hilang, walaupun beberapa mungkin diganti dengan nama atau simbol baru.

Ekuitas merek didefinisikan sebagai seberapa kuat sebuah merek berada di

benak konsumen. Untuk membangun merek yang kuat perusahaan perlu

melakukan usaha dalam rangka terus mengingatkan konsumen akan keberadaan

merek tersebut. Melalui promosi penjualan, perusahaan berusaha menarik

konsumen untuk mengingat suatu merek yang pada akhirnya melakukan

pembelian merek tersebut (Kotler et al, 1999). Sedangkan menurut Aaker (1991,

dalam Langner et al 2006) mengemukakan bahwa bagi perusahaan, ekuitas merek

(31)

panjang dengan memelihara konsumen untuk tetap melakukan pembelian ulang

terhadap produk mereka.

Pemasaran dewasa ini merupakan persepsi konsumen, tidak sekedar

pertemuan produk. Beberapa produk dengan kualitas, model, features

(karakteristik tambahan produk) yang relatif sama dapat memiliki kinerja yang

berbeda beda di pasar, hal ini dikarenakan perbedaan persepsi dari produk atau

jasa dibenak konsumen.

Membangun persepsi dapat dilakukan melalui jalur merek. Merek yang

prestisius dapat disebut memiliki ekuitas merek (brand equity) yang kuat. Suatu

produk dengan ekuitas merek yang kuat dapat membentuk landasan merek yang

kuat dan mampu mengembangkan keberadaan suatu merek dalam persaingan

apapun dalam waktu yang lama.

Tabel 2.1 Nilai Ekuitas Merek

Nilai yang diberikan pada konsumen Nilai yang diberikan pada perusahaan

- Interpretasi / proses informasi

- Rasa percaya diri dalam

keputusan pembelian

- Pencapaian kepuasan pelanggan

- Efisiensi dan efektifitas program

pemasaran

- Loyalitas merek

- Harga / laba

- Perluasan merek

- Peningkatan perdagangan

- Keuntungan kompetitif

(32)

21

Dalam menjalankan bisnisnya yang diharapkan untuk perusahaan adalah

agar usahanya dapat berjalan untuk jangka panjang, yang dapat dicapai apabila

terdapat penilaian yang baik untuk konsumen mengenai nilai yang terkandung

pada merek sesuai dengan nilai yang sebenarnya.

2.3.2 Dimensi Ekuitas Merek

Dalam Aaker (1996,p.9) aset dan liabilitas dapat dikelompokkan dalam

lima kategori, yaitu :

1. Kesadaran Merek (Brand Awareness)

2. Asosiasi Merek (Brand Association)

3. Persepsi Kualitas (Perceived Quality)

4. Loyalitas Merek (Brand Loyalty)

5. Aset – aset hak milik yang lain, mewakili aset seperti paten, dan saluran

distribusi.

2.3.2.1 Kesadar an Merek

Kesadaran merek merupakan langkah awal untuk membangun sebuah

merek produk, kesadaran merek meliputi suatu proses yang dimulai dari perasaan

tidak mengenal merek sampai yakin bahwa merek tersebut merupakan satu –

satunya dalam kelas produk tertentu, dalam hal ini jika suatu merek sudah dapat

merebut suatu tempat yang tetap dibenak konsumen, akan sulit merek tersebut di

geser oleh merek lain, sehingga meskipun setiap hari konsumen dipenuhi pesan –

pesan pemasaran yang berbeda – beda konsumen akan selalu mengingat merek

(33)

Brand awareness menurut Aaker (1996, p.10) dalam rangkuti (2004),

“Awareness refers to the strength of the brand’s presence in the consumer’s

mind” (p.40). Kesadaran tertuju pada kuatnya kehadiran merek di pikiran

konsumen. Meningkatkan kesadaran adalah salah satu cara dalam

mengembangkan pangsa pasar dari suatu merek.

Menurut Aaker (1996, p.90) dalam rangkuti (2004), brand awareness

artinya adalah kesanggupan calon pembeli untuk mengenali atau mengingat

kembali bahwa suatu merek merupakan bagaimana dari kategori merek tertentu

(p.40). Peran brand awareness dalam keseluruhan brand equity tergantung dari

sejauh mana tingkatan kesadaran yang dicapai oleh suatu merek.

Brand awareness berada pada antara perasaan yang tidak pasti terhadap

pengenalan suatu merek sampai dengan perasaan yakin bahwa produk tersebut

merupakan satu – satunya dalam kelas produk yang bersangkutan.

Indikator kesadaran merek diuraikan oleh Suprapti (2010) :

1. Kemampuan pelanggan mengenali logo produk.

Berkaitan dengan nama dan simbol produk atau seperti halnya iklan logo

juga dapat membentuk kepribadian suatu merek.

2. Kemampuan pelanggan mengingat model varian suatu produk.

Berkaitan dengan suatu produk dalam tipe – tipe produk yang ditawarkan.

3. Kemampuan pelanggan mengingat salah satu iklan laptop yang ditayangkan

di televisi.

(34)

23

Menurut (Humdiana 2005 : 46) kesadaran merek menciptakan nilai – nilai, yaitu :

• Jangkar tempat tautan berbagai asosiasi, suatu produk atau layanan baru

sudah pasti diarahkan untuk mendapatkan pengenalan.

• Keakraban, pengakuan merek memberikan suatu kesan akrab dan konsumen

menyukai sesuatu yang akrab.

• Tanda mengenai substansi atau komitmen, kesadaran merek bisa menjadi

suatu signal dari kehadiran komitmen dan substansi sebuah merek produk.

• Mempertimbangkan merek, dalam meraih kesadaran merek baik dalam

tingkat pengenalan maupun dalam pengingatan kembali melibatkan dua tugas

yaitu mendapatkan identitas merek dan mengaitkannya pada suatu kelas

produk tertentu. Mengingat kesadaran adalah suatu mekanisme untuk

menperluas pasar merek.

2.3.2.2 Asosiasi Merek

Nilai yang mendasari merek seringkali didasarkan pada asosiasi – asosiasi

spesifik yang berkaitan dengannya. Jika suatu merek diposisikan dalam atribut

kunci untuk kelas produk tertentu (seperti keunggulan teknologi atau dukungan

lainnya), maka para kompetitor akan kesulitan untuk menyerang, karena dalam

hal ini adalah bagaimana asosiasi tersebut dapat menampilkan keistimewaan

produk.

Brand association menurut Aaker (2001) adalah segala sesuatu yang

berkaitan secara langsung maupun tidak dengan ingatan konsumen terhadap suatu

merek. Brand association itu tidak hanya eksis, namun juga memiliki suatu

(35)

Ditambahkan oleh Susanto (2004), hal – hal lain yang penting dalam brand

association adalah asosiasi yang menunjukkan fakta bahwa produk dapat

digunakan untuk mengekspresikan asosiasi – asosiasi yang memerlukan aplikasi

produk tersebut, toko yang menjual produk atau wiraniaganya (p.133).

Keterkaitan pada suatu merek akan lebih kuat apabila dilandasi pada

banyak pengalaman atau penampakan untuk mengkomunikasikannya. Berbagai

asosiasi yang diingat konsumen dapat dirangkai sehingga membentuk citra

tentang merek atau brand image di dalam benak konsumen. Secara sederhana,

pengertian brand image adalah sekumpulan brand association yang terbentuk di

benak konsumen. Konsumen yang terbiasa menggunakan merek tertentu

cenderung memiliki konsistensi terhadap brand image atau hal ini disebut juga

dengan kepribadian merek (brand personalit).

Selanjutnya apabila para konsumen beranggapan bahwa merek tertentu

secara fisik berbeda dari merek pesaing, citra merek tersebut akan melekat secara

terus menerus sehingga dapat membentuk kesetiaan terhadap merek tertentu,

yang disebut dengan brand loyalty.

Asosiasi merek yang kuat merupakan suatu keuntungan bagi perusahaan,

terdapat kekuatan yang besar dalam memiliki asosiasi merek di benak konsumen,

indikator asosiasi merek menurut Aaker dalam Durianto dkk (2001) yaitu :

1. Laptop Axioo adalah laptop dengan inovasi desaign model dan teknologi.

2. Laptop Axioo adalah laptop yang mudah perawatannya.

3. Laptop Axioo adalah laptop yang terkenal mereknya.

Berbagai asosiasi merek yang diingat konsumen dapat menghasilkan suatu

bentuk citra merek (brand image) dibenak konsumen. Konsumen yang biasa

(36)

25

merek yang disebut juga dengan kepribadian merek (brand personality) yang

kemudian bisa membentuk kesetiaan konsumen terhadap merek tertentu (brand

loyalty).

Menurut Aaker (Fadli dan Qomariah 2008 : 51) terdapat lima keuntungan

dari asosiasi merek, yaitu :

1. Membantu proses penyusunan informasi yang dapat meringkas sekumpulan

fakta yang dapat dengan mudah dikenal konsumen.

2. Perbedaan, yang mempunyai peran penting dalam menilai keberadaan atau

fungsi dibandingkan lainnya.

3. Alasan untuk membeli, yang sangat membantu konsumen dalam mengambil

keputusan untuk membeli produk atau tidak.

4. Perasaan positif yang merangsang timbulnya perasaan positif terhadap

produk.

5. Menjadi landasan perluasan merek yang dinilai kuat.

2.3.2.3 Persepsi Kualitas

Dalam era globalisasi persaingan bisnis yang ketat, akan semakin sulit bagi

pemasar untuk bersaing dalam inovasi produk, dengan perkembangan teknologi

mengakibatkan hal yang baru denganmudah ditiru pesaing, merek memegang

peranan penting dalam pemasaran.

Persepsi kualitas tidak bisa ditetapkan secara objektif, karena kesan

kualitas ini merupakan persepsi dan juga karena melibatkan apa yang penting

buat pelanggan.

Perceived Quality atau kualitas yang dipersepsikan menurut Susanto (2004)

(37)

keunggulan suatu produk atau jasa berkenaan dengan maksud yang diharapkan

(p.129).

Menurut Aaker (1996), perceived quality adalah persepsi pelanggan terhadap

keseluruhan kualitas atau keunggulan suatu produk atau jasa layanan berkaitan

dengan maksud yang diharapkan (p.24).

Terdapat lima keuntungan perceived quality. Keuntungan pertama, alasan

untuk membeli. Perceived quality dari sebuah merek memberikan alasan yang

penting untuk membeli. Hal ini mempengaruhi merek – merek mana yang harus

dipertimbangkan, dan selanjutnya mempengaruhi merek apa yang akan dipilih.

Keuntungan kedua, diferensiasi. Artinya, suatu karakteristik penting dari merek

adalah posisinya dalam dimensi perceived quality. Keuntungan ketiga adalah

harga optimum. Keuntungan ketiga ini memberikan pilihan – pilihan di dalam

menetapkan harga optimum (premium price). Harga yang ditetapkan

merepresentasikan gap antara kualitas dan manfaat yang mereka dapatkan sesuai

dengan pengorbanan yang dilakukan (Monroe, 1996). Keuntungan keempat

adalah meningkatkan minat para distributor, pengecer serta berbagai saluran

distribusi lainnya, karena hal itu sangat membantu perluasan distribusi. Perceived

quality dengan cara mengenalkan berbagai perluasan merek tertentu akan masuk

ke dalam kategori produk baru.

Dimensi kualitas jasa menurut Zeithaml dan Bitner (2006, p.117), terbagi

menjadi 5 aspek, antara lain:

1. Reliability – kemampuan menampilkan pelayanan yang diandalkan dan

akurat.

(38)

27

3. Assurance – pengetahuan dan kemampuan karyawan untuk menumbuhkan

keyakinan konsumen terhadap pelayanan penyedia jasa.

4. Emphaty – menunjukkan perhatian perusahaan terhadap setiap konsumennya.

5. Tangibles – tampilan dari fasilitas fisik, peralatan, personil/karyawan.

Indikator persepsi kualitas menurut Astuti dan Cahyadi (2007) adalah sebagai

berikut:

1. Persepsi pelanggan terhadap kenyamanan penggunaan suatu produk.

Berkaitan dengan kenyamanan penggunaan suatu produk dalam melakukan

komputerisasi

2. Persepsi pelanggan terhadap kehandalan suatu produk.

Konsisten kinerja dari suatu pembelian hingga pembelian berikutnya, dan

presentase waktu yang dimiliki produk untuk berfungsi sebagaimana

mestinya.

3. Persepsi pelanggan terhadap ketahanan suatu produk.

Mencerminkan kehidupan ekonomis dari produk tertentu, atau refleksi umur

ekonomis berupa ukuran daya tahan atau masa pakai barang.

Persepsi kualitas merupakan salah satu alasan untuk membeli dan oleh

karena itu dapat membuat program pemasaran lebih efektif. Semakin tinggi

persepsi kualitas yang dimiliki pelanggan akan suatu merek, maka akan semakin

tinggi pula ekuitas dari merek sehingga periklanan dan promosi menjadi semakin

efektif (Aaker dalam Bambang 2005 : 526). Persepsi kualitas memiliki beberapa

(39)

Gambar 2.1

Nilai Per sepsi Kualitas

Sumber (Rangkuti dalam Bambang 2005 : 526)

Menurut Sadat (2009 : 168) ada beberapa keuntungan yang dapat

diperoleh merek yang memiliki persepsi kualitas yang tinggi, yaitu :

1. Alasan untuk membeli : persepsi kualitas yang terbangun dengan baik di

benak pelanggan akan membantu efektivitas program pemasaran. Harus

dipahami bahwa informasi yang begitu banyak membuat pelanggan malas

untuk merespons lebih jauh, sehingga persepsi kualitas yang tinggi akan

berperan menuntun pelanggan dalam proses pembelian.

2. Diferensiasi : sebuah merek yang dipersepsi memiliki kualitas tinggi tentu

saja menjadi berbeda dengan yang lainnya.

3. Harga premium : dalam beberapa kasus, persepsi kualitas yang tinggi

memungkinkan perusahaan dapat menetapkan harga yang lebih tinggi pada

produk – produknya.

Persepsi kualitas Harga optimum

Diferensiasi

Minat saluran Perluasan merek

(40)

29

4. Perluasan tertentu : distributor dan para peritel akan memberikan perhatian

tersendiri pada merek – merek berkualitas.

5. Perluasan merek : merek – merek dengan persepsi kualitas yang tinggi

memiliki peluang yang besar untuk mengembangkan produknya dalam

berbagai kategori, dengan cara menggunakan nama merek sebagai “payung”

bagi produk lainnya.

2.4 Pengertian Minat Beli

Menurut ensiklopedia Britania Ready Reference (2004), kata minat berasal

dari bahasa Inggris “interest” yang memiliki makna perasaan yang muncul

bersamaan atau menyebabkan suatu perhatian khusus pada suatu objek atau

kelompok objek. Dapat juga diartikan sebagai sesuatu yang memunculkan sebuah

perhatian (para.3).

Minat timbul karena pengalaman individu yang memuaskan dan bila minat

telah terbentuk pada diri individu makan akan cenderung untuk menetap

sepanjang obyek minat obyektif bagi individu (Mouly dalam Atkinson, 2007).

Selanjutnya, Jones menyatakan bahwa minat sebagai sesuatu perasaan suka pada

suatu benda atau situasi yang dapat diwujudkan dalam bentuk reaksi yang nyata

atau hanya berupa organ – organ saja (Atkinson, 2007), sedangkan Marx

berpendapat bahwa minat seseorang diikuti perasaan senang dan kecenderungan

mencari obyek yang disenangi itu (Atkinson, 2007).

Dari beberapa pengertian atau definisi di atas, minat merupakan suatu

kekuatan yang bersifat intirinsik yang mampu mendorong, mempengaruhi atau

menyebabkan seorang individu dapat tertarik perhatiannya pada sesuatu di luar

(41)

dan mempunyai arah pada suatu obyek atau situasi tertentu yang menimbulkan

rasa tertarik, dan individu lebih fokus perhatiannya pada obyek atau situasi

tersebut daripada lainnya. Disamping itu, minat juga akan melibatkan kesediaan

individu untuk berinteraksi dengan obyek atau situasi yang menimbulkan rasa

senang pada dirinya.

Buying intention juga dapat diartikan sebagai rasa tertarik yang

menimbulkan suatu dorongan untuk membeli produk tertentu. Seseorang

mempunyai keinginan untuk membeli akan menunjukkan perhatian dan rasa

tertarik terhadap produk tersebut. minat membeli ini akan diikuti dengan suatu

tindakan berupa perilaku membeli.

Jadi, disini minat membeli belumlah diikuti suatu tindakan untuk membeli,

namun hanyalah keinginan untuk membeli. Keputusan membeli sendiri dibentuk

oleh individu setelah melakukan proses kognitif yang melibatkan minat,

perhatiam, memori, persepsi, membuat alasan, penilaian, membayangkan dan

berpikir (Microsoft Encarta, 2004). Istilah penyelesaian masalah (problem

solving) merupakan suatu proses intelektual dasar yang telah dikembangkan dan

dibuat sesistematis mungkin untuk menyelesaikan permasalahan yang dihadapi

manusia (Microsoft Encarta, 2004).

Apabila konsumen mempunyai minat untuk membeli suatu barang, maka

konsumen tersebut akan menunjukkan sikap positif dan perasaan senang terhadap

barang tersebut, sehingga konsumen akan memanifestasikan minat tersebut

dengan perilaku membeli. Hal ini sejalan dengan yang dikatakan Engel,

Blackwell, dan Miniard (2006), bahwa minat konsumen untuk membeli barang

(42)

31

Minat membeli merupakan aktivitas praktis yang sesuai disertai dnegan

perasaan senang, dan minat ini akan diikuti kecenderungan untuk melakukan

aktivitas, dengan perilaku membeli. minat membeli ini akan timbul tergatung

pada jenis, kualitas, atau daya tarik lain yang ada pada produk.

2.5 Pengaruh Ekuitas Merek Terhadap Minat Beli

Mengingat pentingnya ekuitas merek bagi suatu perusahaan, perusahaan

dituntut untuk terus menjaga dan meningkatkan ekuitas mereknya. Minat

(intention) merupakan pernyataan sikap mengenai bagaimana seseorang akan

berperilaku di masa yang akan datang (Söderlund dan Öhman, 2003). Minat beli

ulang (repurchase intention) merupakan suatu komitmen konsumen yang

terbentuk setelah konsumen melakukan pembelian suatu produk atau jasa.

Komitmen ini timbul karena kesan positif konsumen terhadap suatu merek, dan

konsumen merasa puas terhadap pembelian tersebut (Hicks et al, 2005).

Butcher (2005) berpendapat bahwa minat konsumen untuk membeli ulang

adalah salah satu ukuran dari keberhasilan dari suatu perusahaan, terutama

perusahaan jasa. Menurut Hellier et al (2003) minat beli ulang merupakan

keputusan konsumen untuk melakukan pembelian kembali suatu produk atau jasa

berdasarkan apa yang telah diperoleh dari perusahaan yang sama, melakukan

pengeluaran untuk memperoleh barang dan jasa tersebut dan ada kecenderungan

dilakukan secara berkala. Akumulasi dari pengalaman dan pengetahuan

konsumen terhadap suatu merek merupakan faktor yang dapat mempengaruhi

konsumen untuk melakukan pembelian kembali merek yang sama. Konsumen

beranggapan bahwa hal ini lebih ekonomis dan efisien daripada konsumen harus

(43)

Aaker (1991, dalam Langner et al. 2006) mengemukakan bahwa bagi

perusahaan, ekuitas merek tidak hanya memberi keuntungan langsung, tetapi juga

keuntungan jangka panjang dengan memelihara konsumen untuk tetap melakukan

pembelian ulang terhadap produk mereka. Merek yang kuat akan menyebabkan

konsumen akan selalu ingat akan merek tersebut. Dengan pengalaman yang

konsumen peroleh dari suatu produk dengan merek tertentu akan menimbulkan

kesan positif terhadap produk tersebut dan konsumen akan melakukan pembelian

ulang (Hellier et al, 2003).

Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa dengan semakin

kuatnya ekuitas merek akan berpengaruh terhadap minat beli sebuah produk.

Semakin tinggi ekuitas merek suatu produk, pengaruh positif terhadap minat beli

produk semakin besar.

2.6 Kerangka Konseptual

2.7 Hipotesis

Hipotesis dalam penelitian ini adalah : “ Diduga terdapat pengaruh positif

antara Ekuitas Merek terhadap Minat Beli Laptop Axioo “ Ekuit as M erek

( X )

M inat Beli

(44)

BAB III

METODELOGI PENELITIAN

3.1 Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel

3.1.1 Definisi Operasional Variabel

Definisi Operasional variabel adalah untuk memberikan petunjuk tentang

bagaimana suatu variabel – variabel penelitian diukur. Untuk memberikan

gambaran yang jelas tentang arti dan makna sebenarnya variabel yang akan

digunakan dalam penelitian berikut ini akan dibuat suatu definisi operasional

masing - masing variabel antara lain sebagai berikut:

A. Variabel Ekuitas Merek ( X )

Ekuitas merek adalah seperangkat aset dan liabilitas merek yang berkaitan

dengan suatu merek, nama dan simbolnya, yang menambah atau mengurangi nilai

yang diberikan oleh suatu barang dan jasa kepada perusahaan atau pelanggan.

Menurut Aaker (2001 : 165), aset dan liabilitas dapat dikelompokkan dalam tiga

dimensi (Widjaja, 2007 : 90) :

1. Kesadar an Merek ( X1.1 )

Kesanggupan konsumen untuk mengenali atau mengingat kembali bahwa

suatu merek merupakan bagian dari kategori merek tertentu. Hasil pengukuran ini

dapat dibagi menjadi tiga indikator menurut Wahjuni (2007 : 151), yaitu :

X1.1.1 Kemampuan konsumen untuk mengenali logo laptop Axioo.

(45)

X1.1.3 Kemampuan konsumen mengingat salah satu iklan laptop Axioo yang

ditayangkan di televisi.

2. Asosiasi Merek ( X1.2 )

Asosiasi merek merupakan segala sesuatu yang berkaitan langsung maupun

tidak langsung dengan ingatan konsumen terhadap suatu merek, yakni pencitraan

suatu merek yang tercermin dari kesan tertentu sehubungan dengan kebiasaan,

gaya hidup, manfaat atribut produk, geografis, harga, pesaing, selebritis, dan lain

– lain. Indikator asosiasi merek menurut Wahjuni (2007 : 151), yaitu :

X1.2.1 Laptop Axioo adalah laptop dengan inovasi design model dan

teknologi.

X1.2.2 Laptop Axioo adalah laptop yang mudah perawatannya.

X1.2.3 Laptop Axioo adalah laptop yang terkenal mereknya.

3. Persepsi Kualitas ( X1.3 )

Mencerminkan persepsi konsumen terhadap keseluruhan kualitas /

keunggulan suatu produk atau jasa layanan yang berkenaan dengan maksud yang

diharapkan oleh pelanggan. Indikator dari persepsi kualitas menurut Wahjuni

(2007 : 151), yaitu :

X1.3.1 Persepsi konsumen terhadap kenyamanan memakai laptop Axioo.

X1.3.2 Persepsi konsumen terhadap tampilan laptop Axioo sebagai produk

yang berkualitas.

(46)

35

B. Variabel Minat Beli ( Y )

Merupakan kecenderungan konsumen untuk membeli suatu merek atau

mengambil tindakan yang berhubungan dengan pembelian yang di ukur dengan

tingkat kemungkinan konsumen melakukan pembelian. Indikator yang digunakan

untuk mengukur minat pembelian menurut Ferdinand (2002, p.129) yaitu :

Y1.1 Minat transaksional, yaitu kecenderungan seseorang untuk membeli

produk.

Y1.2 Minat refrensial, yaitu kecenderungan seseorang untuk mereferensikan

produk kepada orang lain.

Y1.3 Minat preferensial, yaitu minat yang menggambarkan perilaku

seseorang yang memiliki preferensi utama pada proyek tersebut.

Preferensi ini hanya dapat diganti jika terjadi sesuatu dengan produk

preferensinya.

3.1.2 Pengukuran Variabel

Skala pengukuran variabel menggunakan skala interval yaitu skala yang

mengurutkan obyek berdasarkan suatu atribut (Umar, 2000 : 134). Skala

pengukuran yang dipergunakan untuk 2 variabel tersebut adalah skala interval

dengan pengukuran sematic differentials atau skala perbedaan sematik berisikan

serangkaian karakteristik bipolar (dua kutub), seperti: panas – dingin, popular –

tidak popular, baik – tidak baik, dan sebagainya (Sugiyono, 2003 : 16), skala ini

disusun dalam suatu garis kontinu dengan jawaban sangat positifnya terletak

disebelah kanan, jawaban sangat negatifnya terletak disebelah kiri, atau

sebaliknya, skala data yang digunakan adalah skala interval 1 sampai 5,

(47)

1 5

Sangat tidak setuju Sangat setuju

Tanggapan atau pendapat tersebut dinyatakan dengan memberi skor yang

berbeda dalam rentang nilai 1 sampai dengan nilai 5 pada masing – masing skala,

dimana berdasarkan uraian diatas apabila responden memilih letak semakin ke

kiri maka responden tersebut menyatakan semakin tidak setuju. Apabila

responden memilih letak semakin ke kanan, maka responden menyatakan

semakin setuju, dengan keterangan sebagai berikut :

a. Nilai 1 = Sangat tidak setuju

b. Nilai 2 = Tidak setuju

c. Nilai 3 = Netral

d. Nilai 4 = Setuju

e. Nilai 5 = Sangat setuju

3.2 Teknik Pengambilan Sampel

3.2.1 Populasi

Populasi adalah sekumpulan orang atau obyek dan individu maupun

kelompok yang memiliki kesamaan dalam satu atau beberapa hal yang

membentuk dalam suatu riset khusus. Populasi ini adalah calon konsumen yang

(48)

37

3.2.2 Sampel

Sampel adalah subset dari populasi, terdiri dari beberapa anggota populasi,

subset ini diambil karena dalam banyak kasus tidak mungkin kita meneliti seluruh

anggota populasi, oleh karena itu kita membentuk sebuah perwakilan populasi

yang disebut Sampel (Ferdinand, 2006 : 223).

Penarikan sampel yang digunakan adalah teknik non probability sampling

dengan cara purposive sampling. Teknik non probability yaitu dimana semua

elemen populasi belum tentu memiliki peluang yang sama untuk dipilih menjadi

anggota sampel. Teknik purposive sampling yaitu pengambilan sampel

berdasarkan kriteria yang sudah ditetapkan oleh peneliti. Dengan kriteria antara

lain :

• Berusia minimal 20 tahun

• Berminat menggunakan laptop Axioo

• Belum mempunyai laptop Axioo sebelumnya

Pedoman pengukuran sampel menurut Ferdinand (2002 : 48) :

1. 100 – 200 sampel untuk teknik Maximum Likehood Estimation.

2. Tergantung pada jumlah parameter yang diestimati. Pedomannya adalah 5

– 10 jumlah parameter yang diestimasi.

3. Tergantung pada jumlah indikator yang digunakan dalam seluruh variabel

laten. Jumlah sampel adalah jumlah indikator dikali 5 sampai 10. Bila

terdapat indikator, besarnya sampel adalah 100 – 200.

Jumlah parameter yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah 6

parameter. Oleh sebab itu maka jumlah sampel yang dipergunakan 12 x 5 = 60

(49)

3.3 Teknik Pengambilan Data

3.3.1 J enis Data

a. Data Primer

Data yang digunakan adalah data primer yaitu data yang diperoleh langsung

dari jawaban responden melalui survey, dengan menggunakan wawancara secara

langsung melalui media kuesioner untuk memperoleh informasi yang sesuai

dengan tujuan penelitian dengan menggunakan skala semantic deferential.

3.3.2 Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah :

a. Metode Dokumentasi

Metode dokumentasi yaitu dilakukan dengan mengumpulkan data dan

mencari data atau arsip – arsip tentang produk.

b. Metode Kuesioner

Metode kuisioner yaitu teknik pengumpulan data dengan memberikan

daftar pertanyaan (Angket) kepada responden untuk memperoleh

informasi langsung.

3.4 Teknik Analisis Data dan Pengujian Hipotesis

3.4.1 Teknik Analisis

Partial Least Squar e

Partial Least Square (PLS) merupakan sebuah metode untuk

mengkonstruksi model-model yang dapat diramalkan ketika faktor-faktor terlalu

banyak. PLS dikembangkan pertama kali oleh Wold sebagai metode umum untuk

Gambar

Tabel 1.1 Top Brand Index Laptop 2011 – 2013
Tabel 2.1 Nilai Ekuitas Merek
Gambar 2.1 Nilai Persepsi Kualitas
Gambar 3.1.  Langkah - langkah Analisis PLS
+7

Referensi

Dokumen terkait

Persepsi kualitas, kesadaran merek, dan loyalitas merek merupakan bagian dari ekuitas merek yang bisa dijadikan variabel pengukur minat beli konsumen (Jalivand,

Kesimpulan dalam penelitian ini adalah Ekuitas merek berpengaruh signifikan terhadap minat beli, dimana semakin baik ekuitas sebuah merek maka akan semakin besar

Hal ini menunjukkan bahwa variabel independen (kesadaran merek, asosiasi merek, dan persepsi kualitas) mampu menjelaskan variasi yang terjadi pada minat beli ulang sebesar

Dalam menjaga dan meningkatkan asosiasi merek yang lebih dominan berpengaruh terhadap minat beli, ada baiknya pihak de Boliva dapat membangun asosiasi merek

Konsumen tidak memilih citra merek sebagai variabel yang mendukung minat beli karena konsumen lebih mempercayai konsumen lain tentang keunggulan dan kehandalan yang

Obyek penelitian ini dilakukan di Hi-Tech Mall pusatnya perbelanjaan komputer Surabaya khususnya mengenai bagaimana nilai konsumen terhadap minat mereferensikannya, sebab

Celebrity Endorser tidak berpengaruh signifikan terhadap terhadap Minat Beli dengan ekuitas merek sebagai variabel mediasi dengan nilai path analysis bahwa nilai pengaruh

Dilihat dari nilai Beta, variabel citra merek (X2) berpengaruh dominan terhadap variabel minat beli (Y) karena variabel tersebut memiliki nilai Beta terbesar yaitu, 0.576,