• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERKEMBANGAN PENDIDIKAN MENURUT SISTEM BARAT DI JAWA DAN MADURA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PERKEMBANGAN PENDIDIKAN MENURUT SISTEM BARAT DI JAWA DAN MADURA"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

PERKEMBANGAN PENDIDIKAN MENURUT SISTEM BARAT DI JAWA DAN MADURA

Mariam Febrianty, Budi Purnomo, Anny Wahyuni Universitas Jambi, Indonesia

Email: [email protected], [email protected], [email protected]

INFO ARTIKEL ABSTRAK Diterima

20 April 2022

Penelitian ini bertujuan untuk membahas tentang.

Perkembangan pendidikan menurut sistem barat di Jawa dan Madura. Dalam penulisan perkembangan pendidikan ini data yang didapatkan bersumber dari dokumen, buku dan jurnal. Mengenai perkembanagan pendidikan menurut sistem barat di Jawa dan Madura.

Penelitian ini menghasilkan kesimpulan bahwa perkembangan pendidikan menurut sistem barat di Jawa dan Madura bersifat netral yang artinya tidak didasarkan atas aliran agama tertentu. Dalam pengajaran menurut sistem barat mempunyai dua bagian. Bagian pertama memberi pengajaran umum, sedangkan bagian kedua mencakup masa belajar selama dua tahun, memberi pelajaran pengetahuan yang diperlukan calon pengareh, paraja, seperti hukum, administrasi, hukum negara dan sebagainya.

Kata kunci:

perkembangan;

pendidikan; sistem barat

Pendahuluan

Dalam bidang pendidikan, tujuan pendidikan nasional didalam Undang-Undang No 20 Tahun 2003 Tentang Pendidikan pada Pasal 3 dijelaskan mengenai tujuan pendidikan, yakni mengembangkan potensi yang dimiliki peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha esa, sehat, berlimu, cakap, berakhlak mulia, kreatif, mandiri serta menjadi warga negara demokratis dan bertanggung jawab (Pendidikan Nasional, 2010).

Oleh sebab itu, pendidikan menjadi salah satu yang menjadi keprihatinan dan bahan diskusi semua puhak dimanapun berada. Di dalam setiap periode, apabila diamati tidak pernah puas terhadap mutu pendidikan. Seringnya negara kita berkiblat kepada negara-negara maju dalam hal pendidikan. Tanpa adanya uji coba terlebih dahulu.

Beberapa contoh yang telah dijelaskan oleh scripto bahwa pendidikan tidak semuanya sistem pendidikannya dapat memuaskan masyarakatnya.

Pendidikan adalah sebuah aktivitas yang memiliki maksud tertentu, yang diarahkan untuk mengembangkan individu sepenuhnya (Husain et al., 1994).

Pembangunan di Indonesia pada akhir-akhir ini telah terjadi peningkatan kebutuhan dan banyaknya tuntutan terhadap sistem pendidikan dalam masyarakat (Irianto, 2017). Hal

(2)

tersebut terjadi disebabkan oleh pembangunan yang menghendaki tenaga kerja yang berpendidikan dan yang menjadi salah satu faktor yang mendukung keberhasilan setiap usaha pembangunan sistem pendidikan ialah tata cara pengelolaan pendidikan pada berbagai jenis tingkatan sekolah baik oleh kepala sekolah guru dan sarana dan prasarana yang tersedia dilingkungan sekolah tersebut.

Dengan demikian akan dapat menunjang perkembangan pendidikan, Yang mana salah satunya akan terjadi peningkatan jumlah peserta didik dari tahun ketahun yang diikuti pula dengan penurunan jumlah penduduk yang tidak pernah sekolah. Namun, berbeda dengan tujuan pendidikan oleh colonial barat mengangap. Pendidikan dilaksanakan oleh pemerintahan barat dengan tujuan untuk menjadikan warga negara yang mengabdi pada kepentingan penjajah. Dengan kata lain, pendidikan dimaksudkan untuk mencetak tenaga-tenaga yang dapat digunakan sebagai alat untuk memperkuat kedudukan penjajah di Indonesia, mengabadi kepada kepentingan belanda. Karena hal tersebutlah tujuan didirikannya pendidikan untuk kepentingan colonial. Sehingga isi pendidikan itu pun hanya sekedar pengetahuan dan kecakapaan yang dapat membantu mempertahankan kekuasaan politik dan ekonomi penjajah di Indonesia.

Di pulau jawa dan Madura yang berabad-abad sudah merupakan pusat geo politik nusantara, posisi tersebut diteruskan oleh pemerintahan barat. Pendidikan menengah dan tinggi dipusatkan di daerah ini. Murid-murid hamper dari seluruh kota yang ada di Indonesia belajar dikota-kota tersebut, dan kemudian saling beradaptasi menggunakan bahasa Indonesia.

Metode Penelitian

Penelitian ini tergolong kedalam pendekatan kualitatif. Pendekatan kualitatif dilakukan berkaitan dengan pengumpulan data pada suatu latar alamiah, menggunakan metode alamiah yang dilakukan peneliti. Defenisi ini memberikan deskripsi mengenai penelitian kualitatif menggunakan latar alamiah, metode alamiah dan dilakukan orang yang punya perhatian alamiah (Moleong, 2008).

Metode yang digunakan dalam penelitian digolongkan ke dalam kategori metode penelitian kualitatif. Penelitian kualitatif terkait dengan kajian kultural dan pendidikan.

Materi-materi yang digunakan dalam penelitian ini sangat beragam, termasuk didalamnya teks yang memuat permasalahan seputar pendidikan pada pemerintahan barat (Reinharz, 2005).

Data yang diperlukan dalam penelitian ini dikumpulkan dengan teknik mempelajari literature, melalui media cetak dan elekronika. Hal ini dilakukan secara manual atau online. Secara manual peneliti juga mengunjungi perpustakaan, dan tempat-tempat informasi, serta melakukan pencarian melalui media internet.

Pencarian melalui media internet dilakukan dengan menggunakan website yang berfungsi sebagai search engine, misalnya www.google.com dan memasukan kata kunci kedalam kolom pencarian sesuai dengan topic penelitian yang akan dilakukan. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan beberapa alamat web site yang mempunyai mesin pencari informasi, yakni http://www.google scholar.com.

Hasil dan Pembahasan

Kalau di Indonesia bagian timur dan di Betawi telah lama ada sekolah gubermen bagi pribumi, di Jawa dimulai dalam 1840-an. Menurut rencana disetiap keresidenan akan didirikan sekolah pribumi bagi anak-anak pegawi serta orang-orang terkemuka.

Residen dengan bantuan asisten residen, kontrolir atau bupati bertanggung jawab atas

(3)

segala urusan sekolah itu, termasuk anggaran belanjanya. Gubermen menyediakan subsidi sebesar f25.000 pada 1848.

Untuk menyiapkan tenaga pengajarnya, di Solo dibuka sekolah guru pada 1852.

Dinyatakan bahwa siswa yang diterima ialah berasal dari keluarga baik-baik yang mempunyai status social menegah. Maksudnya ialah agar kemudian mereka sebagai orang terpelajar dalam menjalankan peranan yang menghubungkan golongan atas dan lapisan bawah. Dengan memgang standar tinggi dalam pendidikan mereka akan mendapatkan posisi social yang cukup tinggi. Pendidikan mereka sebagai elite intelektual dapat mempunyai pengaruh yang baik kepada masyarakat luas dari luar sekolah. Sehubuungan dengan tujuan pendidikan guru itu, dipilihnya Solo sebagai tempat dimana sekolah tersbut didirikan. Solo dipandang oleh umum sebagai pusat kebudayaan atau peradaban Jawa (kejawen), bahasa yang dipakai adalah bahasa jawa standar, keduanya alasan untuk memilih kota itu dan bukan Magelang atau Semarang.

Ada ang mengkhawatirkan bahwa para siswa akan mendapat pengaruh dari lingkungan kraton yang mungkin menghasut untuk menentang Belanda.. perlu ditambahkan bahwa di Solo masih ada semacam pusat studi bahasa jawa dimana sarjana-sarjana melakukan studinya, seperti Wilkens, Winter, Mounier, Gericke, dan Cohen Stuart. Tenaga mereka dapat dipekerjakan untuk menyusun buku-buku sekolah. Suatu hambatan dalam sistem pengajaran di Solo ialah bahwa kesemuanya dilakukan dalam bahasa Jawa. Masalah ini baru dapat diatasi pada 1866 watu di Bandung dan Probolingga dibuka sekolah guru, yang pertama memakai bahasa Sunda yang kedua memakai bahasa Madura. Sebagai kepala sekolah diangkatnya Palmer Van den Broek, tamatan Deflt. Dia beserta pembantunya tiba di Solo pada 1852.

Sejak 1851 buku-buku pelajaran dalam bahasa Jawa, Sunda, Melayu diterbitkan yaitu karangan Winter,Wilkens, Holle, Goedkoop, dan lain-lain. Buku-buku ini bersifat praktis, yaitu memuat bahasa pribumi yang merupakan alat yang baik untuk menyampaikan pengetahuan. Disamping itu juga mulai diterbitkan buku-buku, antara lain karangan Holle, yang memuat pengetahuan tentang pertanian, peternakan, kesehatan, bangunan dan sebaginya. Pada 1863 buku-buku itu juga mulai dibagikan kepada khalayak ramai. Pendidikan guru itu memakai sistem asrama sehingga para siswa agak terasing dari masyarakat ramai serta disiplin dapat ditanam secara sungguh- sungguh, lagi pula pola hidup sederhana dapat dicamkan. Sistem ini ada kalanya menimbulkan perasaan tidak puas.

Pada pembukaan sekolh itu diterima 15 orang siswa, pada 1853 tambahan murid berbahasa Madura, sedang 1856 ada dua orang siswa yang berbahasa Sunda. Dengan tambahan-tambahan jumlah siswa 1860 menjadi 32 dan tiga tahun kemudian menjadi 36. Disamping itu ada “pendengar” dari sekolah Keraton, Bali, Banjarmasin, dan Bandung. Pada akhir 1871, telah didirikan 77 buah sekolah. Jadi, rata-rata tiga sekolah setiap tahun.

Sekolah guru Solo dan Bandung telah menghasilkan 89 orang guru atau 5 orang per tahun. Apabila angka-angka itu dibandingkan jumlah penduduk Jawa pada waktu itu, akan sangat menonjol betapa kurangnya kesempatan pendidikan bagi pribumi.

Kalau semula kebijaksanaan penerimaan akan diberikan prioritas kepada anak-anak dengan ketururnan kebangsawanan, dalam praktik hal itu tidak berjalan dengan baik.

Salah satu sebeb ialah bahwa dari pihak bangsawan ada keenganan untuk masuk sekolah guru karena disiplinnya keras. Yang dianggap menguntungkan ialah asal-usul mereka membawa otoritas kepada masyarakat sebagai pembawaan dari keturunannya.

Setelah berjalan sepuluh tahun lebih terasa ada kebutuhan untuk menggunakan tenaga

(4)

pribumi dalam pengerjaan bahasa Belanda. Sudah barang tentu hal ini menuntut kapasitas luar biasa dari pengajarnya dalam bahasa Belanda. Akhirnya yang diangkat ialah R.M,Soerono, seorang siswa yang sangat menyolok kepandaiannya serta kemahirannya dalam berbahasa Belanda.

Sekolah guru di Bandung dibuka pada 23 mei 1866 oleh F.K Holle, Seseorang yang telah mempelajari dan mengenal baik masyarakat dan kebudayaan Sunda.

Meskipun banyak permasalahan dapat diatasi berkat pengalaman di Solo, kesulitan mengenai penggunaan bahasa Sunda masih tetap dihadapi, antara lain mengenai penerjemahan berbagai pengertian. Pada 1856 dibukalah juga di Bukittinggi (Fort de Kock) untuk memenuhi kebutuhan di Sumatera barat. Organisasinya dibuat seperti Solo hanya bahasanya adalah bahasa Melayu. Yang ditujukan sebagai pemimpin ialah assisten-residen setempat dengan alasan bahwa dia telah memiliki pengetahuan bahasa dan kesusastraan daerah.

Menyusul kemudian pembukaan sekolah guru di Tanah batu pada 1862 dibawah pimpinan Madailing, ialah Willem Iskandar. Dia telah tamat belajar sekolah guru di Negeri Belanda sehingga sepenuhnya dapat diserahi tugas itu. Menrut laporan inspektur pengajaran Van Der Chijsk dia sangat giat dalam pelajarannya memakai metode sendiri yang sangat menjelaskan. Dia juga memberi kursus bahasa Belanda yang banyak pengikutnya. Disamping itu masih pula diterjemahkannya kedalam buku-buku dalam bahasa Belanda ke bahasa Melayu dan Mandailing. Pada 1871 jumlah muridnya lebih banyak dari sekolah guru di Fort de Kock.

Menurut rencana sekolah guru akan menghasilkan guru-guru yang hendak ditugaskan mengajar disekolah di ibu kota keresidenan. Kenyatannya ialah bahwa ada telah ada sekolah guru memberi siswa tamatanya. Residen Jepara telah membuka sekolah di Pati yang dipimpin oleh seorang kepala klerk (juru tulis) keresidenan. Tenaga pengajar sekolah tersebut tidak berijazah guru, baru kemudian beberapa tahun setelah sekolah guru, baru kemudian beberapa tahun setelah sekolah berdiri diadakan peraturan yang menentukan bahwa hanya sekolah yang mempunyai gurur berijazah guru yang diizinkan berdiri.Perkembangan pengajaran menghadapi hambatan. Pada umumnya para priyayi segan mengirim anaknya ke ibu kota keresidenan untuk menuntut pelajaran, karena ada kesulitan mencari pondokan, tambahan lagi biaya pondokan akan menambah pengeluaran. Pada 1852 dua orang bupati, yaitu dari priangan dan Begelan mengambil prakarsa mendirikan sekolah kabupaten.

Perluasan pengajaran terhambat dari segi, keuangan, subsidi sekolah hanya f 520 dan setelah ada tambahan alokasi untuk setiap keresidenan dan kabupaten lebih longgar dan lancer. Pada 1857 dikeresidenan Pasuruan telah berdiri sekolah distrik yang pertama membuka kesempatan bagi orang tua yang tidak mampu mengirim anaknya ke ibu kota kabupaten untuk menyekolahkan mereka ditempatnya sendiri. Pertumbuhan pengajaran dalam dekade-dekade berikutnya semakin lancar. Dalam tabel ditunjukkan angka-angka mengenai kemajuan pengajaran antara tahun 1873-1883.

Tabel 1.

Perkembangan Pengajaran 1873-1883

Jumlah Sekolah Jumlah Guru Jumlah Murid 1-1-1873 1-1-1883 1-1-1873 1883 1-1-1873 1883 Jawa dan Madura

Daerah Lain

82 117

193 284

223 188

582 659

5512 11276

16214 18694

Jumlah : 229 477 411 1241 16788 34908

(5)

Sumber: W.Kroeskamp, Early Schollmasters in a Developing Country : A History of Experiments in School Education in 19 Century Indonesia (Assen,1974), hlm.391

Kesimpulan

Perkembangan pendidikan dan pengajaran sampai akhir abad ke-19 menunjukan kecenderungan-kecenderungan yang ditentukan oleh politik pendidikan khususnya dan politik kebudayaan umumnya. Pertama, Aliran liberalisme sangat kuat pengaruhnya di Nederland pengajaran yang diselenggarakan oleh gubermen harus bersifat netral, artinya tidak didasarkan atas aliran agama tertentu maka dari itu pengajaran agama tidak diberikan. Kedua, Politik bahasa yang ditempuh juga lebih memperhatikan prinsip kebudayaan dan kesukarelaan, yaitu dalam penyelenggaran pelajaran bahasa belanda dalam menanggapi- minat besar dikalangan pribumi, terutama lingkungan aristokrasi, lebih tampak keenganaan memasukan mata pelajaran bahasa Belanda dalam kurikulum sekolah. Ketiga, Sejak semula pembukaan sekolah-sekolah lebih banyak didorong oleh kebutuhan praktis yang berhubungan dengan pekerjaan diberbagai bidang atau dalam berbagai kejuruan. Keempat, Ada gagasan kuat agar sekolah pribumi lebih berakarh pada lingkungan kebudayaan sendiri, maka bahasa pengantar yang digunakan adalah bahasa daerah masing-masing (landstaal).

Masalah penyelenggaran pelajaran bahasa Belanda telah ramai dibicarakan pada 1860-an. Kalau sebelum itu ada yang menentang keras karena dipandang berbahaya bila pribumi mengerti bahasa Belanda, pada waktu itu disadari manfaatnya antara lain untuk menyampaikan berbagai kecakapan yang bermanfaat. Sementara ada yang mengetengahkan bahwa bahasa Belanda akan memudahkan penyampaian ajaran agama Kristen. Ada pula pendapat yang mengatakan bahwa kaum militer pribumi, yaitu Ambon dan Manado, perlu diberi pelajaran bahasa itu sebagai hak istimewa bagi mereka. Pada hakikatnya hasrat dikalangan priyayilah yang mendiring gubermen mencari cara penyelenggarannya dan dalam model sekolah yang mana. Suatu prototype sekolah khusus (Istimewa) (special school) yang diselenggarakan sejak 1869, yaitu sekolah di Ambon seperti yang diusulkan pleh residen Maluku. Dalam sekolah itu warga masyarakat Ambon (Ambonsheburgers) mendapat pelajaran bahasa Belanda disamping pelajaran-pelajaran lain dibawah pimpinan seorang guru Belanda dibantu oleh pembantu-pembantu Ambon.

Di Indonesia Timur sudah dikenal sistem pengajaran sejak zaman VOC.

Pengajaran sebagai segi penting dari pendidikan pada masa itu tidak terpisah dari pendidikan agama. Para misionaris dalam kunjungan ke Pulau Bacan , Macan, Mialaud, Ternate dan Minahasa rupanya yang menyelenggarakan pengajaran. Di kupang sudah terdapat sekolah pada 1701, kemudian dibuka juga oleh VOC sekolah pada 1701, kemudian dibuka juga oleh VOC sekolah diRoti dan Sawu terutama untuk menyelenggarakan pendidikan agama. Pada awal abad ke-18 tampak ada kegiatan seperti di Wettar, Kisar, Damer, dan Letti. Kesemuannya bersama dengan proses penyebaran agama Kristen. Pada akhir abad ke-18 jumlah murid mencapai kurang lebih 6700 orang. Tipe sekolah yang terdapat didaerah luar Jawa ini terdapat juga di Jawa, tetapi terbatas di Batavia dan sekitarnya, seperti Tugu dan Depok. Ada pula usaha mendirikan sekolah anak-anak yatim piatu di Semarang dan sebuah lagi di Surabaya.

Tipe sekolah yang terdapat didaerah luar Jawa ini terdapat juga di Jawa, tetapi terbatas di Batavia dan sekitarnya, seperti Tugu dan Depok. Ada pula usaha mendirikan sekolah anak-anak yatim piatu di Semarang dan sebuah lagi di Surabaya.

(6)

BIBLIOGRAFI

Husain, S. S., Ashraf, S. A., & Astuti, R. (1994). Menyongsong Keruntuhan Pendidikan Islam. Gema Risalah Press.

Irianto, H. A. (2017). Pendidikan sebagai investasi dalam pembangunan suatu bangsa.

Kencana.

Moleong, L. J. (2008). Metodologi Penelitian Kualitatif eds. Revisi. Bandung: PT Remaja Rosdakarya Offset.

Pendidikan Nasional, M. (2010). Undang Undang No 20 tahun 2003 tentang system pendidikan Nasional.

Reinharz, S. (2005). Metode-metode feminis dalam Penelitian Sosial. Diterjemahkan Dalam Bahasa Indonesia oleh Lisabona Rahman Dan J. Bambang Agung.

Jakarta: Women Research Institute.

Referensi

Dokumen terkait

[r]

Na'tsal adalah julukan yang diberikan oleh para pemberontak kepada Utsman , karena beliau mirip dengan. seorang dari Mesir yang bernama Na'tsal, dan dia

Tujuan dalam penelitian ini adalah membuat aplikasi pembelajaran yang dapat dimanfaatkan sebagai media informasi dan pengetahuan bagi penderita penyakit jantung dan

Implementasi dari kegiatan ini adalah pembelajaran Baca Tulis Al-Qur’an kepada anak-anak usia dini, dari mengajari mereka mengaji, membaca surah-surah pendek,

Inti dari penandatanganan yang dilakukan pada 11 Oktober 2019 itu adalah terkait perjanjian pendahuluan untuk mengambil alih 20% saham divestasi Vale Indonesia

Uraian di atas memperlihatkan bahwa basis hukum berada dalam masyarakat itu sendiri, sehingga untuk memaharni hukum dalam masyarakat secara utuh maka hukum harus

Suatu sistem adalah seperangkat komponen, elemen, unsure atau sub sistem dengan segala atributnya yang satu sama lain saling berkaitan, pengaruh mempengaruhi dan saling

Undang-undang berlaku bagi orang yang ada, baik di dalam suatu wilayah negara maupun di luar negaranya (asas personalitas, misalnya dalam Pasal 5 KUHP apabila di negara