PEMBATASAN JUMLAH CALON KEPALA DESA PADA PEMILIHAN KEPALA DESA SERENTAK DITINJAU DARI ASPEK HAK ASASI MANUSIA.

Teks penuh

(1)

PEMBATASAN JUMLAH CALON KEPALA DESA PADA PEMILIHAN KEPALA DESA SERENTAK DITINJAU DARI ASPEK HAK ASASI MANUSIA.

TESIS

Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Mencapai Derajat Magister Program Studi Ilmu Hukum

Minat Utama : Hukum dan Kebijakan Publik

OLEH : WIDADA NIM. S 310409028

PROGRAM PASCASARJANA UNIVERSITAS SEBELAS MARET

(2)
(3)
(4)

PERNYATAAN

Nama : WIDADA

NIM : S. 310409028

Menyatakan dengan sesungguhnya bahwa tesis yang berjudul : “ Pembatasan Jumlah Calon Kepala Desa Pada Pemilihan Kepala Desa Serentak

Ditinjau Dari Aspek Hak Asasi Manusia “, adalah benar-benar karya saya sendiri. Hal yang bukan karya saya, dalam tesis tersebut diberi tanda citasi dan ditunjukkan

dalam daftar pustaka.

Apabila di kemudian hari terbukti pernyataan saya tersebut di atas

tidak benar, maka saya bersedia menerima sanksi akademik, yang berupa pencabutan

tesis dan gelar yang saya peroleh dari tesis tersebut.

Surakarta, Oktober 2016

Yang membuat pernyataan,

(5)

iv

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Alloh SWT yang telah mengangkat

derajat orang-orang yang mempunyai rasa syukur kepada-Nya, hanya dengan rahmat

dan hidayah-Nya tesis yang berjudul PEMBATASAN JUMLAH CALON

KEPALA DESA PADA PEMILIHAN KEPALA DESA SERENTAK DITINJAU

DARI ASPEK HAK ASASI MANUSIA.ini dapat diselesaikan dengan baik.

Dalam penulisan tesis ini, penulis banyak memperoleh bantuan, dorongan

motivasi, informasi dan bimbingan dari berbagai pihak, sehingga pada kesempatan ini

penulis menyampaikan terima kasih yang tulus dan mendalam dan penghargaan

kepada :

1. Bapak Prof. Dr. Ravik Karsidi, M.S. selaku Rektor Universitas Sebelas Maret

Surakarta.

2. Bapak Prof. Dr. Mohammad Furqon Hidayatullah, MS., selaku Direktur Program

Pascasarjana Universitas Sebelas Maret Surakarta.

3. Bapak Prof. Dr. Supanto, S.H., M.Hum., selaku Dekan Fakultas Hukum

Universitas Sebelas Maret Surakarta.

4. Bapak Dr. Hari Purwadi,SH,M.Hum., selaku Ketua Program Studi Ilmu Hukum

Program Pascasarjana Universitas Sebelas Maret Surakarta sekaligus selaku

Pembimbing I, yang telah banyak membantu dan memberikan masukan dan

mengarahkan penulis dalam penulisan tesis sehingga penulis dapat menyelesaikan

studi dengan lancar.

5. Bapak Dr. M. Hudi Asrori, S.H., M.Hum, selaku pembimbing II yang banyak

memberikan bantuan dan arahan dalam menyelesaikan penulisan tesis.

6. Bapak/Ibu Dosen selaku pengampu mata kuliah pada Program Studi Ilmu Hukum

Program Pascasarjana Universitas Sebelas Maret Surakarta.

7. Seluruh Staf Program Studi Ilmu Hukum Pascasarjana Universitas Sebelas Maret

yang telah memberikan bantuan serta pelayanan selama penulis menempuh kuliah

di Pascasarjana.

8. Siti Sholikah istriku tercinta dan kedua putriku tersayang Herziening Via

Yustikarini dan Mega Kurnia Laily Rahmadhani yang selalu mendukungku dalam

(6)

v

9. Untuk rekan-rekanku angkatan 2009 Konsentrasi Hukum dan Kebijakan Publik

(khususnya seperjuangan dari Kabupaten Madiun : Pak Sugiarto, Pak Sugito, Pak

Zahrowi, Pak Arik Krisdiananto, Pak Joko Lelono, Pak Eryk Sanjaya, Pak Tarji,

Mas Alviantoro. Dari Solo : Aulia Eva Sari, Pak Jatmiko, Pak Suharto Sragen,

Pak Tris, Pak Agus Purworejo selaku sesepuh kelas, Bu Eni Sukasih, Teti, Sovie,

Achmad, Tutik, Sigit, Bu Susi dan Bu Yuli). Kebersamaan dalam suka dan duka

yang kita alami saat menuntut ilmu tidak akan pernah terlupakan dan tetap

menjadi kenangan manis.

10.Semua pihak yang telah berperan dalam penyelesaian studi dan tesis ini dan tidak

dapat disebutkan satu persatu.

Penulis menyadari bahwa dalam penulisan tesis ini masih jauh dari sempurna,

untuk itu penulis dengan besar hati menerima kritik dan saran yang membangun

sehingga dapat memperkaya isi penulisan tesis ini. Demikian penulisan hukum ini

penulis buat semoga dapat memberikan manfaat bagi kita semua. Akhirnya, semoga

Tuhan senantiasa memberikan petunjuk dan bimbingan kepada kita semua.

Surakarta, Oktober 2016

(7)

vi

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PENGESAHAN PEMBIMBING ... ii

HALAMAN PENGESAHAN TIM PENGUJI ... iii

PERNYATAAN ... iv

1. Pengertian Kebijakan Publik ... 10

2. Hubungan Hukum dan Kebijakan Publik ... 14

3. Pengertian Implementasi Kebijakan ... 18

4. Teori Rasionalitas Max Weber ... 24

5. Teori Bekerjanya Hukum ... 27

6. Teori Perundang – Undangan ... 33

7. Konsep Pemilihan Kepala Desa Serentak ... 36

8. Konsep Hak Memilih dan Dipilih sebagai Hak Asasi Manusia ... 37

B. Kerangka Berpikir ... 41

BAB III METODE PENELITIAN... 43

(8)

vii

1) Sumber Data Primer ... 45

2) Sumber Data Sekunder ... 46

D. Teknik Pengumpulan Data... 46

E. Teknik Analisis Data... 47

F. Penelitian Yang Relevan ... 48

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 50

A. HASIL PENELITIAN ... 50

1. Deskripsi Lokasi Penelitian ... 50

2. Konsep Pencalonan Kepala Desa pada Pemilihan Kepala Desa ( Pilkades ) Serentak ... 56

B.PEMBAHASAN ... 60

1. Pembatasan Jumlah Calon Kepala Desa pada Pemilihan Kepala Desa Serentak ... 60

2. Pembatasan Jumlah Calon Kepala Desa pada Pemilihan Kepala Desa Serentak Ditinjau Dari Aspek Hak Asasi Manusia ... 67

BAB V PENUTUP ... 75

A. Kesimpulan ... 75

B. Implikasi ... 78

C. Saran ... 78

(9)

ix

ABSTRAK

WIDADA, S 310409028. 2016. Pembatasan Jumlah Calon Kepala Desa Pada Pemilihan Kepala Desa Serentak Ditinjau Dari Aspek Hak Asasi Manusia

Tesis : Program Pascasarjana Universitas Sebelas Maret Surakarta.

Negara Kesatuan Republik Indonesia terbagi atas daerah propinsi dimana daerah propinsi dibagi atas kabupaten dan kota, sedangkan kabupaten kota terbagi lagi atas desa dan kelurahan. Terbitnya Undang – Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa semakin memperkokoh posisi desa di Indonesia. Peraturan Pemerintah Nomor 47 Tahun 2015 tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah

Nomor 43 Tahun 2014 tentang Peraturan Pelaksanaan Undang – Undang Nomor 6

Tahun 2014 tentang Desa pada salah satu pasalnya mengamanatkan bahwa penetapan calon kepala Desa sebagaimana dimaksud pada huruf b paling sedikit 2 (dua) orang dan paling banyak 5 (lima) orang calon. Pada pelaksanaan pilkades serentak yang telah terlaksana di Kabupaten Madiun masih banyak mengalami permasalahan yang dikeluhkan oleh warga masyarakat di desa maupun oleh para calon kepala desa. Berkaitan dengan hak memilih dan dipilih dalam Hak Asasi Manusia jika dikaitkan dengan pemilihan kepala desa maka ketentuan yang ada pada pasal 41 ayat ( 3 ) huruf c pada Peraturan Pemerintah Nomor 47 Tahun 2015 seharusnya penetapannya tidak dibatasi hanya pada maksimal 5 ( lima ) calon.

Penelitian ini termasuk penelitian hukum doktrinal. Bentuk penelitian yang digunakan adalah eksploratif. Analisis datanya menggunakan analisis kualitatif dengan pendekatan undang – undang dan kasus.

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dengan menggunakan teori dari Weber, maka dapat diketahui bahwa alasan pembatasan calon kepala desa pada pemilihan kepala desa serentak secara rasionalitas formal dimana kepentingan pemerintah menjadi sentral dan sarana yang digunakan untuk mencapai tujuan dipertimbangkan secara sistematis dan tindakan yang dilakukan pemerintah seefisien mungkin.

Hak politik, memilih dan dipilih merupakan hak asasi yang dimiliki oleh setiap manusia. Pelaksanaan hak asasi manusia bukanlah sesuatu yang bersifat absolut dan mutlak, sangat dimungkinkan adanya ruang pembatasan untuk menjamin hak dan kebebasan orang lain serta memenuhi tuntutan yang adil sesuai dengan pertimbangan moral, nilai-nilai agama, keamanan, dan ketertiban umum dalam suatu masyarakat demokratis. Hal ini ditegaskan dalam ketentuan Pasal 28

J ayat (2) UUD 1945. Akan tetapi pada Undang – Undang Nomor 6 Tahun 2014

tentang Desa tidak disebutkan pembatasan mengenai calon kepala desa dalam proses pemilihan kepala desa serentak. Oleh karena itu hendaknya pemerintah tetap memperbolehkan siapapun menjadi calon kepala desa selama dikehendaki masyarakat dan memenuhi syarat maupun kriteria yang telah ditentukan.

Dalam pembuatan peraturan perundang – undangan hendaknya

pemerintah pusat selalu mengadakan koordinasi dan sinkronisasi terkait pengaturan mengenai desa dengan pemerintah daerah baik propinsi maupun kabupaten dengan metode sampling wilayah.

(10)

x

ABSTRACT

Widada, S 310409028. 2016. Restrictions on Head Village Candidate In The Head Village Election Simultaneously In Terms of The Aspects of Human Rights Thesis: Master Program Of Sebelas Maret University Surakarta

Unitary Republic of Indonesia is divided into provinces where the provinces are divided into districts and cities, while the municipal district is divided again over the village and the village. The issuance of law No. 6 of 2014 about the village further strengthen the position of village in Indonesia. Government Regulation No. 47 Year 2015 regarding Amendment to Government Regulation No. 43 of 2014 on the Rules Implementation of law No. 6 of 2014 on the village on one of the article mandates that determine prospective head of the village as referred to in paragraph b of at least 2 (two) people and at most 5 (five) candidates. On the implementation of the elections and simultaneously that has been accomplished in Madiun County are still many experienced problems complained of by the residents in the village and by the village head candidate. In connection with the right to elect and be elected in the Human Rights if it is associated with village elections, the provisions contained in Article 41 paragraph (3) letter c on Government Regulation No. 47 Year 2015 stipulation should not be restricted to a maximum of 5 (five) candidates.

This research was doctrinal law. Form of the study is exploratory. Analysis of data using qualitative analysis approach to law and case.

Based on the results of research and discussion by using the theory of Weber, it can be seen that the reason for the restriction of candidates for village heads on village elections simultaneously in formal rationality in which the government benefit is the central and the means used to achieve the objectives considered in a systematic and actions taken by the government as the most efficiently.

Political rights, pick and choose the rights possessed by every human being. Implementation of human rights is not something that is absolute and unconditional, it is possible existence of a restriction to ensure the rights and freedoms of others and meeting the demands of a fair in accordance with considerations of morality, religious values, security and public order in a democratic society. This is confirmed in Article 28 A (2) of the 1945 Constitution, however the law No. 6 of 2014 on the village was not mentioned restrictions regarding candidates for village heads in the process of selection of village heads in simultaneously. Therefore, the government should still allow anyone to become a candidate for the head of the village by desire of village residents and fulfill all the criteria given.

In the making of laws the central government should always conduct related coordination and synchronization of the village with the government regulation on the provincial and district with area sampling method.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...