12 BAB II
TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Review Penelitian terdahulu
Dalam jurnal yang berjudul “Pelaksanaan Musyawarah perencanaan Pembangunan Desa di Desa Ujung Mattajang Kecamatan Mappedeceng Kabupaten Luwu Utara”, oleh Muh. Ryan Pratama dari Universitas Muhammadiyah Makassar, Jurnal Administrasi Publik, April 2018.
Dalam penelitiannya, penulis menggunakan metode penelitian kualitatif dengan teknik pengumpulan data yang di gunakan adalah observasi, wawancara, dokumentasi, dengan jumlah informan dalam penelitian ini sebanyak 11 orang. Dalam penelitian ini berisi mengenai pelaksanaan musyawarah perencanaan pembangunan desa di Desa Ujung Mattajang Kecamatan Mappedeceng Kabupaten Luwu Utara. Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui pelaksanaan musyawarah perencanaan pembangunan desa di Desa Ujung Mattajang Kecamatan Mappedeceng Kabupaten Luwu Utara, serta untuk mengetahui faktor yang menjadi penghambat dalam pelaksanaan musyawarah perencanaan pembangunan desa.
Hasil penelitian ini menunjukan bahwa dalam pelaksanaan musyawarah perencanaan pembangunan desa di Desa Ujung Mattajang Kecamatan Mappedeceng Kabupaten Luwu Utara untuk tahapan persiapan, dan tahapan pelaksanaan disimpulakan bahwa kedua indikator tersebut berjalan dengan baik (Pratama et al., 2018).
Jurnal yang berjudul “Perencanaan Pembangunan Partisipatif Dalam Penerapan E- Musrenbang”, oleh Agung Manghayu dari Institut Pemerintahan Dalam Negeri, Jurnal Manajemen Pembangunan Vol. 5, No. 2/ Desember 2018: 95 – 115. Dalam penelitiannya penulis menggunakan metode penelitian sekunder melalui studi pustaka, data sekunder dalam penelitian ini berbentuk literatur yang berasal dari hasil penelitian dan pendapat para ahli yang berkaitan dengan permasalahan yang diangkat dalam penelitian. Penelitian ini membahas mengenai keterlibatan masyarakat dalam perencanaan pembangunan, yang diharapkan nantinya perencanaan pembangunan akan menghasilkan keputusan pembangunan yang selaras dengan keinginan dari masyarakat. Namun pada penerapan saat ini keterlibatan masyarakat hanya menjadi formalitas saja dalam pelaksanaan Musrenbang. Penerapan E-Government ini menjadi perubahan dalam perencanaan pembangunan bahwa adanya peningkatan keterlibatan masyarakat dalam proses perencanaan pembangunan (Manghayu, 2018).
Dalam jurnal yang berjudul “Efektivitas E-Musrenbang di Kota Surabaya dalam Sistem Perencanaan Pembangunan Berparadigma Masyarakat”, oleh Novy Setia Yunas dari Universitas Darul Ulum Jombang, Jurnal Ilmu Pemerintahan, 7 (1), April 2017, 19-27. Dalam
13
penelitiannya penulis menggunakan metode penelitian yang bersifat deskriptif dengan studi kepustakaan dengan sumber informasi utama melalui analisis publikasi dari hasil penelitian sebelumnya dan dokumen lain yang terkait dengan tujuan kajian, dengan melakukan analisis data kualitatif. Penelitian ini membahas mengenai sistem E-Musrenbang yang berhasil diterapkan di Kota Surabaya, dalam pelaksanaan E-Musrenbang tersebut setidaknya menjadi inovasi dalam sistem perencanaan pembangunan dimana selama ini masyarakat menginginkan sebuah wadah untuk melakukan kontak sosial antara warga dengan pemerintah dalam perencanaan pembangunan daerah. Penerapan sistem E- Musrenbang di Kota Surabaya menjadi sebuah trobosan inovasi penting bagi perencanaan pembangunan berparadigma masyarakat, dimana masyarakat diletakkan sebagai subjek pembangunan (Yunas, 2017).
Jurnal yang berjudul “Efektifitas Musrenbang Kabupaten Cirebon di Masa COVID-19”
oleh Fatin Hamamah dari niversitas 17 Agustus (UNTAG) Cirebon, Jurnal Ilmiah Indonesia Vol. 5, No. 9, September 2020. Penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan metode penelitian deskriptif analistis dari hasil pendekatan yuridis normatif dan yuridis empiris.
Penelitian ini membahas mengenai konsistensi Musrenbang dalam penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) di kabupaten Cirebon serta untuk mengetahui efektifitas Musrenbang dalam penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Cirebon dimasa COVID-19. Pada penelitian ini ditemukan hasil bahwa penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Cirebon seringkali tidak sesuai dengan pembahasan yang dilakukan pada pelaksanaan Musrenbang, sehingga tidak adanya efektifitas dari pelaksanaan Musrenbang terhadap penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Cirebon.
Dalam jurnal yang berjudul “Evaluasi Pelaksanaan Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Kecamatan di Kecamatan Samarinda Seberang” oleh Yuliana Constansia Wulen, eJournal Administrasi Negara, Volume 7, Nomor 1, 2019. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif bersifat deskriptif. Penelitian ini membahas mengenai proses evaluasi terhadap pelaksanaan Musrenbang Kecamatan di Kecamatan Samarinda Seberang serta untuk mengetahui terkait faktor-faktor pendukung dan penghambat dalam proses evaluasi pelaksanaan Musrenbang Kecamatan di Kecamatan Samarinda Seberang. Penelitian ini memberikan hasil penelitian tentang proses evaluasi pelaksanaan Musrenbang Kecamatan di Kecamatan Samarinda Seberang, bahwa proses umum evaluasi pelaksanaan Musrenbang Kecamatan di Kecamatan Samarinda Seberang sudah terlaksana dengan sebagaimana mestinya. Factor pendukung utama terhadap evaluasi Musrenbang yakni adanya peluang yang besar terkait partisipasi masyarakat dalam proses perencanaan
14
pembangunan. Namun ada juga faktor yang menjadi penghambat terhadap proses evaluasi pelaksanaan Musrenbang Kecamatan yakni tidak terjaringnya seluruh usulan yang diajukan karena bertentangan dengan prioritas pembangunan dan terbatasnya anggaran sehingga tidak semua usulan dapat direalisasikan (Wulen, 2019).
Jurnal yang berjudul “Implementasi Musyawarah Perencanaan Pembangunan (MUSRENBANG) Kabupaten Sumenep” Oleh Moh. Farid, dari Program Studi Ilmu Administrasi Negara Universitas Tribhuwana Tunggadewi, jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Vol. 5, No. 2 (2016). Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif, dengan menggunakan analisi data dari hasil data primer dan data sekunder. Pada penelitian ini membahas mengenai impelemntasi terkait pelaksanaan Musrenbang di Kabupaten Sumenep.
Hasil dari penelitian ini memberikan penjelasan terkait pelaksanaan Musrenbang di Kabupaten sumenep berjalan dengan baik, baik secara proses pelaksanaan sampai dengan realisasi kebijakannya. Walaupun juga da progam yang tidak dapat terlaksana, karena keterbatasan anggaran yang dimiliki oleh Kabupaten Sumenep, dari tidak teraalisasi progam tersebut dapat dimaklumi karena memang anggaran tersebut tidak terlepas dari anggaran pendapatan belanja daerah yang sudah sesuai dengan rencana kerja pemerintah daerah (Farid & Fithriana, 2016).
Dalam jurnal yang berjudul “Partisipasi Masyarakat Dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan (MUSRENBANG) di Nagari Sungai Nanam Kabupaten Solok” dari Afda Liza Fitri, Jurusan Ilmu Administrasi Negara, Universitas Negeri Padang, jurnal Mahasiwa Ilmu Administrasi Publik Volume1 Nomor 3 Tahun 2019. Pada penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif Fokus dalam penelitian ini adalah terkait partisipasi masyarakat dalam Musrenbang serta faktor yang menghambat partisipasi masyarakat dalam Musrenbang di Nagari Sungai Nanam Kabupaten Solok. Dalam penelitian ini menghasilakan kesimpulan bahwa partisipasi masyarakat tergolong masih sedang, hal ini terbukti karena dalam pelaksanaan Musrenbang tidak ada inisiatif dari masyarakat itu sendiri untuk mengikuti kegiatan Musrenbang. Setidaknya ada 4 faktor yang menjadi penghambat partisipasi masyarakat, yaitu kurangnya informasi mengenai waktu pelaksanaan, kurangnya pengetahuan masyarakat mengenai pentingnya Musrenbang, factor pekerjaan dan juga factor mengenai jenis kelamin. Pada penelitian ini juga memberikan solusi terkait bagaiman meningkatkan partisipasi masyarakat, yakni degan menerima dan mewujudkan aspirasi dari masyarakat, sehingga masyarakat akan merasa lebih didengar dan diperhatikan, dan nantinya akan dapat menumbuhkan kesadaran dan inisatif masyarakat untuk dapat ikur serta dalam proses pelaksanaan Musrenbang (Urrahmi et al., 2020).
15 2.2 Landasan Teori
2.2.1 Evaluasi Kebijakan
Menurut William N. Dunn, evaluasi merupakan suatu hal yang penting karena tidak semua progam kebijakan public yang dilaksanakan akan dapat mencapai hasil yang sesuai dengan yang diharapkan (Affrian, 2012). Evaluasi sendiri menjadi perlu karena dengan melakukan evaluasi maka akan mengetahui hasil dari rencana kebijakan yang diambil tersebut. Adanya kebijakan publik yang berjalan ditengah-tengah masyarakat, baik berjalan dengan baik maupun tidak baik, atau kebijakan tersebut memberikan dampak positif maupun memberikan dampak negatif, hal itu dapat diketahui dengan cara melakukan evaluasi, maka dari itu menyebabkan perlunya evaluasi untuk mencapai tujuan atau sasaran progam yang telah ditentukan atau direncanakan. Secara garis besar tujuan dari evaluasi kebijakan yakni untuk memeriksa penyebab kegagalan dalam proses pelaksanaan suatu progam, atau untuk mengetahui kebijakan atau progam tersebut dapat mencapai hasil yang sesuai dengan rencana progam. Indicator evaluasi kebijakan yang dikembangkan oleh William N. Dunn yaitu, dimensi efesiensi, dimensi efektifitas, dimensi kecukupan, dimensi pemerataan, dimensi responsivitas, dan dimensi ketepatan (Affrian, 2012).
1) Dimensi Efisiensi
Efisiensi berkaitan dengan jumlah usaha yang diperlukan untuk mendapatkan tingkat efektifitas. Efisisnesi memiliki hubungan dengen efektivitas, dimana dengan mencapai tujuan yang diinginkan diukur dari perhitungan yang dibutuhkan.
2) Dimensi efektivitas
Efektivitas berhubungan dengan suatu alternatif kebijakan mencapai hasil yang diharapkan. Efektifitas ini dapat diilustrasikan sebagai unit layanan atau progam yang dihasilkan untuk mengatasi suatu permasalahan.
3) Dimensi Kecukupan
Kecukupan berkaitan degan seberapa jauh suatu tingkat efektivitas dapat memuaskan kebutuhan, nilai, atau kesempatan yang menumbuhkan adanya permasalahan, sehingga indicator kecukupan ini menekankan pada kuatnya hubungan antara kebijakan dengan hasil yang telah ditentukan.
4) Dimensi Pemerataan
Pemerataan berhubungan erat dengan rasionalitas legal dan social, jadi pemerataan ini menekankan bahwa suatu progam dapat dirasakan oleh seluruh masyarakat, tanpa adanya perbedaan-perbedaan golongan.
16 5) Dimensi Responsivitas
Responsivitas berhubungan dengan seberapa jauh kebijakan tersebut dapat memenuhi kebutuhan, jadi suatu progam atau kebijakan tersebut sangat mementukan penyelesaian permasalahan yang terjadi didalam masyarakat.
6) Dimensi Ketepatan
Ketepatan merujukpada nilai tujuan progam tersebut. Ketepatan ini bagaimana suatu progam dapat menjadi solusi terhadap permasalahan yang terjadi didalam masyarakat.
Menurut Abidin, 2006 evaluasi secara lengkap mengandung tiga pengertian yaitu pertama evaluasi awal, sejak dari proses perumusan kebijakan sampai saat sebelum dilaksanakan, kedua evaluasi dalam proses pelaksanaan atau monitoring, dan yang ketiga evaluasi akhir, yang dilakukan setelah selesai proses pelaksanaan kebijakan (Rusmini, 2007). Dengan demikian, evaluasi implementasi kebijakan dibagi tiga menurut timing evaluasi, yaitu evaluasi sebelum pelaksanaan, evaluasi pada waktu pelaksanaan (evaluasi proses), dan evaluasi setelah kebijakan, karena pada dasarnya pelaksanaan evaluasi dilakukan karena tidak semua program kebijakan publik mencapai hasil sesuai dengan apa yang sudah direncanakan (Rusmini, 2007). Kebijakan publik seringkali terjadi kegagalan dalam meraih maksud dan tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya. Abidin lebih lanjut mengemukakan bahwa informasi yang dihasilkan dari evaluasi merupakan nilai (values) yang antara lain berkenaan dengan:
1. Efisiensi (efficiency), yakni perbandingan antara hasil dengan biaya, atau (hasil/biaya).
2. Keuntungan (profitability), yaitu selisih antara hasil dengan biaya atau (hasil/biaya).
3. Efektif (effectiveness), yakni penilaian pada hasil, tanpa memperhitungkan biaya.
4. Keadilan (equity), yakni keseimbangan (proporsional) dalam pembagian hasil (manfaat) dan/atau biaya (pengorbanan).
5. Detriments, yakni indikator negatif dalam bidang sosial seperti kriminal dan sebagainya.
6. Manfaat tambahan (marginal rate of return), yaitu tambahan hasil banding biaya atau pengorbanan.
Dalam pendapat Abidin tersebut terdapat tiga indikator mengenai evaluasi kebijakan yang menguatkan pendapat dari William N. Dunn, ketiga indikator tersebut yakni efisiensi, efektif, dan keadilan. Ketiga indikator mengenai evaluasi kebijakan yang
17
sama tersebut memberikan dukungan terhadap indikator evaluasi kebijakan yang disampaikan oleh William N. Dunn.
2.2.2 Musyawarah perencanaan pembangunan (Musrenbang)
Pelaksanaan Musrenbang pada dasarnya yakni mendata aspirasi dan kebutuhan masyarakat yang dirumuskan melalui pembahasan ditingkat desa/kelurahan, dilanjutkan ditingkat kecamatan, setelah itu dikumpulkan berdasarkan urusan wajib dan pilihan pemerintahan daerah, dan selanjutnya diolah dan dilakukan prioritisasi program atau kegiatan ditingkat kabupaten/kota oleh Badan Perencanaan Daerah tersebut bersama para pemangku kepentingan yang disesuaikan dengan kemampuan pendanaan dan kewenangan daerah, yang biasanya akan berbentuk Rencana Kerja Satuan Kerja Perangkat Daerah.
Pelaksanaan Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) dirasa sangat perlu dikarenakan Musrenbang sebagai saluran resmi yang menjadi wadah untuk menjaring masukan-masukan dari masyarakat mengenai pembangunan daerah. Masukan-masukan masyarakat menjadi dasar bagi pemerintah untuk melaksanakan proses pembangunan daerah yang sejalan dengan kebutuhan masyarakat. Partisipasi masyarakat menjadi modal utama dan sebagai tolak ukur berjalan baiknya pelaksanaan Musrenbang. Pelaksanaan Musrenbang memiliki manfaat dan tujuan yakni terwujudnya pencapain visi dan misi daerah yang keterkaitan dan konsistensi antara perencanaan, penganggaran, pelaksanaan, pengendalian dan pengawasan. Serta musrenbang sebagai pemanfaatan sumberdaya secara efisien, efektif, berkeadilan dan berkelanjutan dengan andil partisipasi masyarakat dalam proses perencanaan pembangunan.
Musrenbang kecamatan merupakan forum musyawarah tahunan yang dilakukan oleh pemangku kepentingan pada tingkatan kecamatan untuk mendapatkan masukan mengenai kegiatan pembangunan prioritas pada wilayah kecamatan tersebut yang didasarkan juga pada masukan desa/kelurahan yang dihasilakan dari pelaksanaan Musrengbang desa/kelurahan, serta menyepakati rencana kegiatan desa/kelurahan di kecamatan tersebut. Masukan mengenai kegiatan pembangunan prioritas tersebut sekaligus menjadi dasar penyusunan rencana pembangunan kecamatan yang nantinya akan diajukan kepada Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) yang berwenang sebagai dasar penyusunan Rencana Kerja Satuan Kerja Perangkat Daerah kabupaten pada tahun berikutnya. Pelaksanaan Musrengbang kecamatan dilaksanakan satu tahun sekali pada bulan Januari sampai Februari dengan hasil luaran berupa Dokumen Pembangunan
18
Kecamatan, serta sebagai masukan untuk Rencana Kerja Satuan Kerja Perangkat Daerah (RENJA SKPD) Kecamatan.
Dalam pelaksanaan Musrengbang kecamatan tentunya juga tidak terlapas dengan adanya landasan hukum sebagai jaminnya aturan hukum dalam pelaksanaan Musrengbang kecamatan. Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah merupakan karangka dasar otonomi daerah yang salah satunya tertuang menjelaskan mengenai pelaksanaan perancanaan pembangunan dari bawah secara partisipatif.
Pelaksanaan otonomi mengenai perencanaan pembangunan kecamatan merupakan satu kesatuan kedalam sistem perencanaan pembangunan daerah kabupaten, dan merupakan bagian system perencanaan pembangunan nasional. Landasan hukum dalam pelaksanaan Musrengbang ini diatur didalam Undang-undang Nomor 25 tahun 2004 tentang Sistem perencanaan Pembangunan Nasional. Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008 tentang Tahapan, Tata Cara Penyusunan, Pegendalian, dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan daerah, Musrenbang kecamatan merupakan bagian dari serangkaian kegiatan Musrengbang Rencana Kerja Pembangunan Daerah (RKPD).
Untuk menyelenggarakan Musrengbang kecamatan, mulai dari tahap pra pelaksanaan sampai pasca, camat membentuk panitia yang disebut Tim Penyelenggara Musrengbang (TPM). Ketua Tim Penyelenggara Musrengbang biasanya adalah sekretaris kecamatan. Peran dan tugas Tim Penyelenggara Musrengbang Kecamatan sebagai berikut:
1. Camat Pakis membentuk Tim Penyelenggara Musrengbang (TPM) yang beranggotakan dari aparatur Kecamatan Pakis dan warga Kecamatan Pakis
2. Camat merupakan Pembina dan pengendali dari kegiatan pelaksanaan Musrengbang Kecamatan.
3. Kasi Pembangunan atau Sekretaris kecamatan menjadi Ketua Tim Penyelenggara Musrengbang kecamatan.
Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (BAPPEDA) Kabupaten Malang juga memiliki tanggung jawab untuk membentuk Tim Pemandu yang bertugas memfasilitasi kegiatan selama pelaksanaan Musrengbang berlangsung. Salah satu kunci sukses dalam penyelengaraan Musrengbang Kecamatan ialah adanya pemandu. Rekruitmen pemandu sendiri berasal dari warga biasa dijaring melalui mekanisme yang transparan ataupun melalui penunjukan berdasarkan rekomendasi dari berbagai pihak, tentunya juga
19
mempertimbangkan kapasitas dan pengalaman sebagai pemandu sangat diperlukan untuk memberikan jaminan kepastian bahwa pemandu bisa melaksanakan tugasnya degan baik.
Berikut pokok-pokok yang harus dipenuhi dalam pembentukan pemandu, antara lain:
1. Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (BAPPEDA) Kabupaten Malang sebagai penyelenggara Musrengbang Kecamatan Pakis berkewajiban untuk membentuk Tim Pemandu Musrengbang Kecamatan Pakis. Peran utama dari Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (BAPPEDA) Kabupaten Malang tersebut untuk menetukan tata cara dan kriteria pemilih Tim Pemandu dalam rangka memandu rangkaian kegiatan Musrengbang.
2. Pemandu tersebut berasal dari aparat Kecamatan Pakis dan juga berasal dari masyarakat Kecamatan Pakis yang dinilai kompeten. Namun Tim Pemandu ini lebih baik diisi oleh orang-orang yang berasal dari luar kecamatan tersebut, hal ini akan membuat pelaksanaan Musrengbang akan lebih independent.
3. Pemandu beranggotakan 2-3 orang sesuai dengan fungsi yang diemban sebagai pemandu saat pelaksanaan Musrengbang tersebut. Pada pelaksanaan Musrenbang anggota Tim Pemandu berasal dari BAPPEDA Kabupaten Malang, yakni Kepala Bidang Perencanaan Pengendalian, dan Evaluasi Pembangunan Daerah, Staf Bidang Perencanaan Pengendalian, dan Evaluasi Pembangunan Daerah. Tim Pemandu ini harus mengetahui permasalahan yang terjadi pada daerah tersebut, sehingga penguasaan permasalahan tersebut akan dapat cepat mendapatkan solusi penyelesaian dalam pelaksanaan Musrengbang tersebut.
4. Pemandu dan Tim penyelenggara Musrengbang nantinya akan melaksakan tugas bersama-sama terkait perumusan desain pelaksanaan Musrengbang, serta menyiapakan bahan-bahan yang diperlukan dalam pelaksanaan Musrengbang.
Pelaksanaan Musrengbang Kecamatan Pakis memerlukan persiapan teknis yang dilakukan oleh Tim Penyelenggara Musrengbang Kecamatan Pakis sebagai berikut:
1) Penentuan Tempat Pertemuan
Pada pelaksanaan Musrengbang di Kecamatan Pakis Tahun 2020 dilaksanakan di Pendopo Kecamatan Pakis. Pelaksanaan Musrenbang sebelum adanya pandemic COVID-19 dilakukan dengan tatap muka, hal ini memerlukan tempat pertemuan untuk melaksanakan Musrengbang dengan kapasitas peserta Musrengbang kecamatan sebanyak 50-100 orang. Namun selama pandemi COVID-19 ini kegiatan Musrengbang
20
dilaksanakan secara virtual atau online. Penentuan tempat pertemuan ini harus memberikan kenyaman kepada peserta Musrengbang, terlebih untuk melaksanakan diskusi kelompok.
2) Pengaturan Ruang Pertemuan
Ruangan pertemuan perlu dipersiapakan dengan cermat sebelum pelaksanaan Musrengbang kecamatan, pengaturan ruangan atau tata letak untuk peserta musyawarah yang berjumlah cukup besar harus dilakukan dengan mempertimbangkan suasana yang nyaman dan memungkinkan pastisipasi masyarakat yang seluas-luasya. Alat penunjang seperti LCD Projector, kertas-kertas harus dipersiapkan untuk menunjang keberlangsungan pelaksanaan Musrengbang Kecamatan Pakis.
3) Penyebaran undangan kepada peserta Musrengbang Kecamatan Pakis disebar paling lambat 7 hari sebelum pelaksanaan Musrengbang Kecamatan Pakis, yakni pada tanggal 5-11 Februari 2020.
Tahapan-tahapan dalam pelaksanaan Musrenbang Kecamatan Pakis ini yakni, Dalam pelaksanaan Musrengbang Kecamatan Pakis ada Proses Umum yang mengatur mengenai proses-proses dalam setiap tahapan pelaksanaan Musrengbang sesuai dengan aturan Permendagri Nomor 54 Tahun 2010. Adapun tahapan sebagai berikut:
1) Pengantar
a. Pemandu menyampaikan salam dan mempersilahkan para narasumber untuk duduk didepan.
b. Pemandu menjelaskan tujuan, waktu yang dibutuhkan, tahap-tahap, dan aturan main diskusi panel.
c. Pemandu mengingtakan Kembali peserta untuk tidak berbicara terlalu banyak dan langsung kepada inti permasalahan.
2) Pemaparan Narasumber
a. Pemandu mempersilahkan narasumber untuk memaparkan materinya secara bergilir, secara ringkas.
b. Camat Pakis memaparkan evaluasi kegiatan-kegiatan pembangunan hasil Musrengbang tahun sebelumnya, serta gambaran umum usulan dari Musrengbang desa untuk tahun yang akan dating.
c. Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (BAPPEDA) Kabupaten Malang memaparkan tujuan dan tahapan-tahapan Musrengbang, mengenai penjelasan arah
21
dan prioritas pembangunan pada tahun mendatang, dan terkait anggaran atau pagu indikatif.
d. Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Malang memberikan penjelasan tentang proses perencanaan dan penganggaran, serta terkait pokok-pokok pikiran dari Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) terkait rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) mendatang.
e. Pemandu juga bertugas untuk mencatat catatan penting yang disampaikan oleh setiap narasumber.
3) Dialog Panelis dan Peserta
a. Pemandu memberikan kesempatan peserta untuk memberikan tanggapan, masukan, dan saran terkait isu-isu progam atau kegiatan pembangunan diwilayah Kecamatan Pakis dengan merujuk pada informasi yang diberikan oleh narasumber. Isu isu yang dibahas yakni berkaitan terkait usulan yang disepakati mengenai usulan Musrenbang Desa yang ada pada wilayah Kecamatan Pakis.
b. Pemandu mengatur berjalannya dialog sehingga isi dalam dialog tersebut sesuai dengan agenda yang dilaksanakan.
c. Pemandu menutup sesi ini dan menyampaikan sesi berikutnya.
Hasil mengenai Musrengbang kecamatan adalah Rencana Pembangunan Kecamatan, mengenai hasil Musrengbang ini dapat dilihat pada Pasal 18 ayat (4) yang menyebutkan Musrengbang Rencana Kerja Pemerintah Daerah kabupaten/kota dilaksanakan untuk keterpaduan rancangan rencana kerja (RENJA) antar Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) dan antar Rencana Pembangunan Kecamatan. Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2008 tentang kecamatan, menjelaskan mengenai penyelenggaraan pemerintahan di kecamatan bahwa perencanaan pembangunan sebagai kelanjutan dari hasil Musyawarah perencanaan pembangunan (musrengbang) desa/kelurahan. Dalam menentukan progam pembangunan prioritas ini harus berdasar pada pemenuhan hak-hak masyarakat, dan pencapaian keadilan yang berkesinambungan dan berkelanjutan, jadi perlu dipastikan bahwa progam dan kegiatan pembangunan prioritas harus berorientasi pada kelompok-kelompok miskin sesuai dengan amanat UUD 1945.
Partisipasi masyarakat dalam Musrengbang kecamatan menjadi hal yang sangat penting, karena dari pasrtisipasi masyarakat tersebut akan mendapatkan usulan-ususlan mengenai pembangunan dari masyarakat. Musrengbang sebagai salah satu wadah untuk masyarakat berpartisipasi, namun masih banyak kelompok masyarakat tertentu yang tidak
22
dapat berpartisipasi aktif dalam kegiatan Musrengbang. Perlu adanya peningkatan terkait partisipasi masyarakat dalam pelaksanaan Musrengbang, dengan demikian progam dan kegiatan pembangunan yang dibahas pada tingkatan kecamatan dapat lebih menghasilkan keberpihakan terhadap kelompok masyarakat yang membutuhkan. Pemberdayaan masyarakat merupakan suatu hal yang harus dilakukan sebagai bentuk perhatian negara terhadap warga negaranya. Partisipasi masyarakat dalam perencanaan pembangunan dapat dijadikan sebagai wadah sarana pemberdayaan masyarakat, karena sesuai dengan atauaran perundang-undangan bahwa masyarakat dijamin mengemukakan pendapat atau usulannya dan memliki kesempatan untuk berperan dalam proses pengambilan keputusan.
2.2.3 Pelaksanaaan Musrenbang berbasis E-Musrenbang
Perkembangan zaman yang semakin canggih, salah satunya perkembangan teknologi informasi dan komunikasi tentunya membawa perubahan terhadap tatanan kehidupan. Salah satunya juga berdampak pada tata Kelola birokrasi didalam proses pelaksanaan pemerintahan. Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi ini menuntut pemerintah untuk bergerak modern dalam melaksanakan tugas dan fungsi pemerintahan. Hal ini juga direspon oleh Badan Perencanaan Pembangunan (BAPPEDA) Kabupaten Malang dengan berinisiatif Menyusun suatu informasi yang dirancang khusus untuk mengakomodir usulan yang ada didalam Musrenbang yang dimulai dari tingkatan desa/kelurahan, setelah itu ketingkatan kecamatan sampai pada tingkatan kabupaten.
Sistem ini akan diberi nama Sistem Informasi Musrenbang, yang berbentuk portal yang dikembangkan untuk memfasilitasi proses Musrenbang, dengan difasilitasi Musrenbang tersebut maka nantinya diharapkan proses Musrenbang akan berjalan dengan efektif, efisien, dan transparan, serta adanya sinergitas antara setiap tingkatan pemerintahan.
Langkah yang diambil oleh BAPPEDA Kabupaten Malang dalam mendigitalisasi Musrenbang ini sudah sesuai dengan pasal 27 ayat (2) UU Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional, mengamanatkan suatu proses pelaksanaan Musrenbang kepada pemerintah daerah. Bahwa proses Musrenbang haruslah bersifat partisipatif, akuntabel, transparan dengan menekankan pentingnya keterlibatan seluruh elemen bangsa termasuk masyarakat.
Pelaksanaan Musrenbang dengan berbasis E-Musrenbang ini berjalan sesuai dengan penerapan Musrenbang pada umumnya, hanya saja hasil yang diperoleh dari
23
pelaksanaan Musrenbang pada setiap desa/kelurahan tersebut dimasukkan kedalam aplikasi E-Musrenbang oleh admin E-Musrenbang pada setiap desa/kelurahan. Jadi, usulan Musrenbang digali dari setiap desa/kelurahan lalu diinput kedalam aplikasi E- Musrenbang. Setelah itu hasil Musrenbang desa/kelurahan masuk kedalam forum Musrenbang Kecamatan, dalam penelitian ini forum Musrenbang Kecamatan Pakis, dilakukan pembahasan mengenai progam prioritas yang dapat dijadikan hasil pada Musrenbang Kecamatan, setelah itu hasil Musrenbang tersebut diinput kedalam aplikasi E-Musrenbang oleh Admin E-Musrenbang Kecamatan Pakis. Setelah disetujui pada forum Musrenbang Kecamatan Pakis, hasil tersebut masuk kedalam Rencana Kerja Satuan Kerja Perangkat Daerah, yang nantinya akan dilaksanakan realisasi progam oleh dinas-dinas terkait dilingkungan Pemerintahan Kabupaten Malang. Dalam hal ini pihak BAPPEDA Kabupaten Malang menekankan proses penyelenggaraan Musrenbang bersifat pastisipatif, akuntabel, dan transparan. Partisipatif dalam Musrenbang yakni akan banyak usulan yang dapat digali dari masyarakat terkait penyelenggaraan Musrenbang dari desa/kelurahan hingga disetujui menjadi progam prioritas pembangunan daerah. Akuntabel dalam penyelenggaraan Musrenbang yakni pihak-pihak yang terlibat didalam pelaksanaan Musrenbang dapat bertanggungjawab penuh sesuai dengan usulan yang menjadi hasil dalam proses keterlibatan pembangunan daerah. Transparan dalam pelaksanaan Musrenbang yakni penyelenggara Musrenbang dapat memberikan informasi yang rinci mengenai usulan progam pembangunan daerah.
Tahapan Musrenbang dalam bagan :
Gambar 2.1 Tahap Pra Pelaksanaan Musrenbang Kecamatan Sumber: Data dioalah peneliti, 2022.
24
Gambar 2.2 Tahap Acara Pelaksanaan Musrenbang Sumber: Data diolah peneliti, 2022.
Gambar 2.3 Pelaksanaan E-Musrenbang Sumber: Data diolah peneliti, 2022.
Pelaksanaan Musrenbang sebelum menggunakan E-Musrenbang maupun pelaksanaan setelah menggunakan E-Musrenbang tidak ada perbendaan yang banyak terjadi pada setiap tahapan pelaksanaan Musrenbang. Hanya saja pada pelaksanaan Musrenbang berbasis E-Musrenbang, ketika sampai pada tahapan keputusan hasil Musrenbang selanjutnya hasil Musrenbang tersebut dimasukkan kedalam aplikasi E- Musrenbang (Gb.2.3). Pelaksanaan Musrenbang berbasis E-Musrenbang dapat diakses oleh pihak terkait untuk dapat melihat perkembangan usulan dalam Musrenbang akan terealisasi menjadi progam pembangunan daerah yang akan dilaksanakan oleh dinas terkait.