HUKUM INTERNASIONAL SEBAGAI INSTRUMEN HAK ASASI MANUSIA TERHADAP AKTIVIS KEMANUSIAAN
MAKALAH
Dalam matkul: Hukum dan HAM Dosen: Masidin Narsip, SH., MH.
ERIN SEPTIYANA NPM:213300416189
FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS NASIONAL
JAKARTA 2022
DAFTAR ISI
Lembar Judul ... i
Daftar Isi ... ii
Kata Pengantar ... iii
BAB I PENDAHULUAN ... 2
A. Latar Belakang ... 2
B. Rumusan Masalah ... 3
C. Tujuan dan Manfaat ... 3
D. Metode Penelitian ... 4
E. Sistematika Penulisan ... 4
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 5
A. Konsep Hukum internasional ... 5
BAB III PEMBAHASAN ... 7
A. Pemanfaatan Hukum internasional oleh Negara Maju terhadap Negara Berkembang ... 7
BAB IV PENUTUP ... 10
A. Kesimpulan ... 10
B. Saran ... 10
Daftar Pustaka ... 11
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami ucapkan kehadirat Allah SWT atas segala rahmat-Nya sehingga makalah ini dapat tersusun sampai dengan selesai. Tidak lupa kami mengucapkan terima kasih terhadap bantuan dari pihak yang telah berkontribusi dengan memberikan sumbangan baik pikiran maupun materinya.
Penulis sangat berharap semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan dan pengalaman bagi pembaca. Bahkan kami berharap lebih jauh lagi agar makalah ini bisa pembaca praktekkan dalam kehidupan sehari-hari.
Bagi penulis sebagai penyusun merasa bahwa masih banyak kekurangan dalam penyusunan makalah ini karena keterbatasan pengetahuan dan pengalaman. Untuk itu penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari pembaca demi kesempurnaan makalah ini.
Jakarta, 8 Mei 2022 Penyusun
ERIN SEPTIYANA
BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG
Suatu negara akan menggunakan berbagai instrumen politik, seperti ketergantungan ekonomi, ketergantungan dalam masalah pertahanan, dan hukum internasional untuk mengenyampingkan halangan kedaulatan negara lain dalam mencapai kepentingan nasionalnya. Fungsi hukum internasional dalam konteks ilmu hukum, sebagaimana diuraikan dalam berbagai buku teks, dipahami sebagai suatu aturan atau kaedah yang berlaku bagi subyeknya. Fungsi sebenarnya merupakan salah satu dari berbagai fungsi hukum internasional. Fungsi lain dari hukum internasional adalah sebagai instrumen yang digunakan oleh pemerintahan suatu negara untuk mencapai tujuan nasional alnya (international law as instrument of national policy). 1
Dalam tulisan ini fungsi demikian dari hukum internasional akan disebut sebagai hukum internasional sebagai instrumen politik. Disini hukum internasional berfungsi sebagai alat atau instrumen yang harus dibedakan dengan hukum internasional sebagai suatu kaedah. Eksistensi hukum internasional yang berfungsi sebagai instrumen politik didasarkan pada realitas hubungan antar negara. Hubungan antar negara tidak lepas dari kepentingan yang saling bersinggungan. Terlebih lagi di era global dimana batas fisik seolah tidak ada (borderless). Permasalahan yang dihadapi oleh satu negara akan bersinggungan dengan kedaulatan negara lain, seperti masalah perdagangan internasional, perang melawan terorisme, masalah lingkungan hidup dan masalah hak asasi manusia (HAM).
Makalah ini hendak menggambarkan bagaimana hukum internasional dimanfaatkan sebagai instrumen HAM oleh negara. Untuk mengkongkritkan permasalahan maka pengalaman Indonesia akan dijadikan sebagai studi kasus.
1 Clapham, Andrew. A Very Short Introduction. USA: Oxford University Press, 2007, hlm.112
Makalah Hak Asasi Manusia | 2 Disini akan diperlihatkan bagaimana negara asing atau organisasi internasional menggunakan hukum internasional terhadap Indonesia agar menuruti kehendaknya. Selanjutnya, juga akan diperlihatkan bagaimana Indonesia telah memanfaatkan hukum internasional untuk mencapai kepentingan nasionalnya.
Soal Penangkapan yang pertama kali terjadi, sebelumnya Rami pernah ditahan selama 12 hari karena menyelenggarakan kegiatan bersepada atau “Rides for Peace” dengan berkoordinasi bersama para pengendara Israel. Rami Aman ditangkap dengan tuduhan pengkhianatan berdasarkan Palestinian Liberation Organization (PLO) Penal Code tahun 1979 dimana berkomunikasi dengan pihak Israel dengan alasan apapun adalah sebuah kejahatan. Satu bulan setelah Rami ditangkap pada 6 Mei 2020 AI menyatakan Rami Aman sebagai prisoner of conscience.2 Selama ditahan Rami dan keluarganya tidak dihampiri oleh Amnesty Internasional. Pada 9 September 2020, UN Watch berkoalisi dengan 70 NGO dimana tidak terdapat Amnesty Internasional mengajukan pengaduan ke UN Working Group on Arbitrary Detention (Kelompok Kerja PBB tentang Penahanan Sewenang-wenang).
Dalam tulisan ini sebuah organisasi yang bernama Youth Committee pada tahun 2010 dan tidak bertalian dengan pihak manapun. Youth Committee yang didirikan oleh Rami Aman di dalamnya terdapat lebih dari 200 orang dengan jenjang usia 16-40 tahun dari Palestina, Timur Tengah dan Afrika Utara. Sejak awal berdirinya, organisasi ini mempunyai visi untuk dapat berkontribusi dalam membangun proses perdamaian disana dan mereka juga bertujuan untuk dapat mengembangkan potensi pemuda-pemudi yang ada disana.
B. RUMUSAN MASALAH
Atas latar belakang diatas maka penulis mengungkap permasalahan bagaimana pemanfaatan hukum initernasional terhadap HAM
C. TUJUAN DAN MANFAAT
2 Clark, Ann Marie. Diplomacy of Conscience: Amnesty Inteernational and Changing Human Rights Norms. New Jersey: Princeton University Press, 2001, hlm.45
Dalam penulisan makalah ini bertujuan mengidentifikasi atas pemanfaatan hukum internasional dari aspek constituendum Negara maju Indonesia.
Adapun manfaat agar memberikan pencerahan pengetahuan hukum internasional terkait HAM terutama bagi praktisi hukum dan peneliti hukum.
Terutama bagi praktisi hukum dapat memotivasi dalam inventarisir HAM agar menjadi konsentrasi yang hakiki dalam penegakan hukum.
Bagi Peneliti hukum agar dapat menciptakan karya hukum yang dapat menjadikan pandangan kedepan bagi HAM yang memperjuangkan konsittusi bagi keadilan.
D. METODE PENELITIAN
Makalah ini menggunakan jenis penelitian hukum normatif atau
“normative juristische recherche” sehingga dalam melakukan pengumpulan data menggunakan teknik library research atau studi pustaka mengenai norma-norma hukum yang ada deng menggunakan pendekatan masalah yang digunakan dalam penulisan ini, yaitu pendekatan undang-undang (statute approach), pendekatan konseptual (conceptual approach), dan pendekatan kasus (case approach).3 Dan sumber bahan hukum berasal dari bahan hukum primer, bahan hukum sekunder, dan bahan hukum tersier. Pengolahan dan Analisa bahan hukum dikumpulkan dan diolah dan dianalisis dan kemudian mendapatkan hasil yang deskriptif.4
E. SISTEMATIKA PENULISAN
BAB I Pendahuluan yang berisikan latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan dan manfaat, metode penelitian serta sistematika penulisan.
BAB II Tinjauan Pustaka berisikan teori-teori dan bahan pustaka BAB III Pembahasan yang membahas analisis dari rumusan masalah BAB IV Penutup berisikan kesimpulan dan Saran
3 Gordon, Paul. The Evolution of International Human Rights. Philadelphia: University of Pennsylvania Press, 2011.hlm.121
4 Soekanto, Soerjono, and Sri Mamudji. Penelitian Hukum Normatif, Suatu Tinjauan Singkat.
Jakarta : Raja Grafindo Persada. Jakarta: Rajawali Pers, 2015.hlm.143
Makalah Hak Asasi Manusia | 4 BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Konsep Hukum internasional
Dalam konteks masyarakat internasional, hukum internasional kerap dimanfaatkan oleh negara sebagai instrumen untuk mencapai suatu kepentingan, apakah secara langsung maupun tidak langsung melalui organisasi internasional.
Pemanfaatan hukum internasional sebagai instrumen politik paling tidak ada tiga yang beranjak pada tiga keadaan. 5
Seperti yang dikatakan oleh John Locke bahwa hak asasi manusia adalah hak kodrati, hak asasi manusia dimiliki manusia karena martabatnya sebagai manusia dan bersifat inalienable atau tidak dapat dicabut, selain itu hak asasi manusia juga bersifat universal dimana dimiliki oleh semua orang tanpa terkecuali. Selain teori hak kodrati seperti yang diyakini oleh John Locke adapula teori hukum kodrati (natural law theory) yang lahir melalui pemikiran Stoika di zaman kuno dan melalui tulisan-tulisan hukum Santo Thomas Aquinas di zaman modern yang kemudian dikembangkan oleh Hugo de Groot yang merupakan seorang ahli hukum Belanda yang kemudian dikenal sebagai bapak hukum internasional atau Grotius.6 Grotius mengembangkan pemikiran Aquinas dengan membuatnya menjadi produk pemikiran sekuler yang rasional. Karena pemikiran Grotius inilah kemudian lahirlah pemikiran John Locke mengenai teori kodrati.
Lewat teori hak-hak kodrati kemudian hak-hak individu yang pra-positif mendapat pengakuan di dalam lingkungan masyrakat.
5 Hoof, G. J. H. Van. Pemikiran Kembali Sumber-Sumber Hukum Internasional. Bandung:
Alumni, 2013.hlm.90
6 Gunakaya, A Widiada. Hukum Hak Asasi Manusia. Yogyakarta: Penerbit Andi, 2017.hlm.45
Sebagai Pengubah Konsep Hukum internasional sebagai instrumen politik memiliki manfaat untuk mengubah atau memperkenalkan suatu ketentuan, asas, kaedah ataupun konsep. Manfaat ini berangkat dari kenyataan bahwa hukum internasional dibentuk oleh negara. Oleh karenanya negara dapat memanfaatkan hukum internasional untuk mengubah atau memperkenalkan suatu konsep. Konsep ini bila diterima oleh mayoritas masyarakat internasional akan memiliki daya ikat. Salah satu cara yang paling efektif adalah dengan mengakomodasi suatu konsep baru ke dalam perjanjian internasional. Tentu ini tidak berarti bahwa satu negara dalam waktu singkat dapat melakukannya.
Pembentukan atau mengamandemen perjanjian internasional memerlukan proses dan waktu. Sebagai contoh, Australia, Jepang, Jerman dan beberapa negara lain menghendaki adanya perubahan pada keanggotaan Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK-PBB).
Perkembangan instrumen Internasional HAM, megalami kemajuan yang sangat pesat di bawah perjuangan PBB. Intsrumen ini meliputi perjanjian Internasional, baik berupa kovenan, konvensi dan statuta, serta standar Internasional lainnya. Selain itu, instrumen Internasional HAM ini juga tidak terbatas pada deklarasi, proklamasi, kode etik, aturan bertindak (code of conduct), prinsip-prinsip dasar, dan rekomendasi. Kemajuan yang mengesankan dalam tataran normatif, bisa dilihat dari bertambahnya negara yang menjadi negara pihak, yang mengikatkan diri, meratifikasi perjanjian Internasional, sehingga hukum Internasional mempunyai kekuatan hukum dalam sistem hukum nasional (domestik). Dengan demikian, negara yang bersangkutan telah menerima obligasi (kewajiban) masyarakat Internasional untuk mempromosikan, menghormati, melindungi dan memenuhi, memfasilitasi dan menyediakan hak asasi dan kebebasan-kebebasan manusia yang fundamental.
Adapun yang dimaksud dengan instrumen umum HAM terdiri dari DUHAM dan Kovenan Internasional tentang hak ekosob, serta Kovenan Internasional tentang hak sipol. Instrumen umum ini dikenal dengan the Bill of Human Rights International. Pengadopsian Konvensi anti Penyiksaan dan Perlakuan atau Penghukuman yang Kejam (Convention against Torture and Other
Makalah Hak Asasi Manusia | 6 Cruel Inhuman or Deagrading Treatment or Punishment) pada tahun 1984, berlaku efektif 26 juni 1987. Sebelum konvensi, tahun 1975 didahului dengan Deklarasi tentang Perlindungan Semua Orang dari Penyiksaan dan Perlakuan Hukuman yang Kejam. Dengan demikian butuh waktu 9 tahun bagi Majelis Umum PBB untuk dapat mengadopsi Konvensi setelah deklarasi. Ketika diberlakukan, 20 negara telah menyatakan mengikatkan diri pada perjanjian ini dan sekaligus meratifikasinya.
Larangan melakukan penyiksaan juga dinyatakan dalam Konvensi Jenewa yang diadopsi Majelis Umum PBB pada tahun 1949. Para tahanan perang tidak boleh diperlakukan dengan kejam, penyiksaan atau pemotongan bagian-bagian tubuhnya. Hal yang sama berlaku untuk korban konflik bersenjata Internasional dan konflik bersenjata dalam sebuah negara.
BAB III PEMBAHASAN
A. Pemanfaatan Hukum internasional oleh Negara Maju terhadap Negara Berkembang
Hukum internasional dimanfaatkan oleh negara maju terhadap negara berkembang untuk dua hal. Pertama adalah untuk turut terlibat dalam kebijakan dalam negeri negara berkembang. Kedua dalam rangka menekan negara berkembang untuk melakukan tindakan yang sesuai dengan kebijakan dari negara maju. Perjanjian internasional kerap digunakan oleh negara maju untuk melakukan intervensi terhadap masalah domestik negara berkembang. Intervensi yang dilakukan tidak terlepas dari kepentingan nasionalnya. Kebanyakan negara maju yang merupakan negara barat membungkus kepentingannya dengan hukum internasional.
Sebagaimana dikatakan oleh Cassese, “... law was moulded by Western countries in such a way as to suit their interests; it was therefore only natural for them to preach lawabid-ance and to attempt to live up to legal imperatives which had been forges precisely to reflect and protect their interests.”
Dalam masalah HAM, keterlibatan negara maju dalam urusan domestik negara berkembang disebabkan oleh tidak diperhatikannya masalah HAM oleh elit politik negara berkembang dalam menjalankan roda pemerintahan, bahkan cenderung kejam. Padahal pasca Perang Dunia (PD) II masalah kemanusian sudah menjadi perhatian internasional. Pelanggaran HAM di satu negara akan menjadi perhatian bagi negara lain, bahkan dewasa ini dikenal kejahatan internasional yang dianggap sebagai pelanggaran luar biasa terhadap kemanusiaan. Untuk mencegah berulangnya dan meluasnya pelanggaran HAM
Makalah Hak Asasi Manusia | 8 oleh pemerintahan negara berkembang, negara maju merasa perlu untuk turut memberi pengaruh.7
Salah satu upaya negara maju untuk turut campur dalam tiga isu diatas adalah dengan memanfaatkan perjanjian internasional. Perjanjian internasional akan dirancang oleh negara maju yang esensinya akan berpengaruh pada kebijakan dan hukum nasional dari negara berkembang. Untuk mencegah kebijakan menutup pasar oleh negara berkembang maka dibuat perjanjian internasional yang berimplikasi pada liberalisasi perdagangan internasional.
Untuk mencegah tindakan yang melanggar HAM oleh pemerintahan negara berkembang maka dibuat perjanjian internasional yang melarang tindakan- tindakan tertentu. Demikian pula untuk mencegah kebijakan yang merusak lingkungan hidup akan dirancang suatu perjanjian internasional yang memperhatikan masalah lingkungan hidup. Selanjutnya negara berkembang akan didorong oleh negara maju untuk mengikuti berbagai perjanjian internasional yang dirancang olehnya. Bila akhirnya negara berkembang menjadi peserta, ini membawa konsekuensi bagi negara berkem-bang untuk mentransformasikan ketentuan dalam perjanjian internasional ke dalam hukum nasionalnya. Dengan demikian hukum nasional negara berkembang akan mencerminkan nilai-nilai yang dipercaya oleh negara maju. Bila perjanjian internasional telah diikuti oleh negara berkembang, namun kebijakan yang diambil bertentangan dengan perjanjian yang telah diikuti maka negara maju tidak segan-segan akan menggunakan perjanjian internasional tersebut sebagai alat penekan. Bahkan bila perlu menggunakan ketentuan yang ada dalam perjanjian internasional untuk
‘menghukum’ negara berkembang. Dengan demikian perjanjian internasional yang diikuti oleh negara berkembang akan digunakan sebagai medium intervensi urusan domestik sekaligus alat penekan oleh negara maju.
7 Vasak, Karel. A 30-Year Struggle: The Sustained Efforts to Give Force of Law to the Universal Declaration of Human Rights. UNESCO courier, 1977. hlm.75
Adapun sumber materiil hukum dari hukum Internasional menurut JG Starke, didefinisikan sebagai bahan-bahan aktual yang digunakan para ahli hukum Internasional untuk menetapkan hukum yang berlaku bagi suatu peristiwa atau situasi tertentu. Bahan-bahan hukum tersebut dikategorikan ke dalam 5 bentuk, yaitu kebiasaan, traktat atau perjanjian, keputusan pengadilan atau badan arbitrase, karya atau ajaran hukum, serta keputusan atau ketetapan lembaga Internasional.
Pasal 38 (1) Statuta Mahkamah Internasional tidak memasukkan keputusan keputusan badan arbitrase Internasional karena dalam praktik penyelesaian sengketa melalui badan arbitrase hanya merupakan pilihan hukum dan kesepakatan para pihak pada perjanjian. Dalam perjanjian Internasional, sebagaimana yang tertuang dalam Pasal 38 (1) Statuta International Court of Justice (ICJ) dinyatakan: “konvensi (perjanjian) Internasional, yang bersifat umum dan khusus, yang menetapkan norma hukum yang diakui oleh negara pihak yang terlibat merupakan sumber utama dalam hukum Internasional hak asasi manusia” Pasal 38 (1) ICJ juga menguraikan kebiasaan Internasional sebagai praktik umum yang dilakukan, yang dapat diterima dan disebut sebagai hukum, dengan syarat paling tidak memenuhi 2 unsur, yakni unsur materiil berupa praktik pengulangan tindakan, sehingga bisa dikualifikasikan sebagai kebiasaan, serta unsur psikologis di mana tindakan itu memang sudah seharusnnya dilakukan untuk pemenuhan kewajiban yuridis yang tidak termuat dalam norma tertulis atau disebut opinio iuris sivenenecessitatis. Prinsip prinsip umum hukum yang diakui bangsa-bangsa beradab, juga dimuat dalam Pasal 38 (1) ICJ, sebagai sumber hukum internasion HAM.8
8 Boer Manna, Hukum Internasional-Peranan dan Fungsi Dalam Era Dinamika Global, Alumni, Bandung, 2001, hlm. 2
Makalah Hak Asasi Manusia | 10 BAB IV
PENUTUP A. KESIMPULAN
Hukum internasional dapat dibuktikan dengan adanya instrumen-instrumen HAM internasional yang mengatur mengenai HAM dan kebebasan fundamental, yaitu UDHR, ICCPR, dan Declaration of Human Rights Defender. Perlindungan aktivis kemanusiaan juga dapat ditegakan melalui tanggung jawab negara dan melalui PBB dan badan-badannya. Diperlukannya perhatian daripada PBB mengenai pelanggaran HAM yang terjadi kepada aktivis kemanusiaan di wilayah Palestina dan menjalankan tugas dan fungsi mereka berdasarkan asas impartiality. Selain perhatian daripada PBB, pemerintahan yang ada juga wajib untuk menghargai dan melindungi HAM dan kebebasan fundamental dari tiap-tiap individu dengan mengimplementasikan instrumen-instrumen HAM internasional ke dalam municipal law yang dimiliki oleh mereka. Hukum Internasional juga harus memastikan bahwa yang mereka pekerjakan netral dalam pandangan politik dan lainnya agar tidak terjadinya keberpihakan sehingga diabaikannya HAM.
B. SARAN
Salah satu upaya negara maju untuk turut campur dalam memanfaatkan perjanjian internasional. Perjanjian internasional akan dirancang oleh negara maju yang esensinya akan berpengaruh pada kebijakan dan hukum nasional dari negara berkembang. Untuk mencegah kebijakan menutup pasar oleh negara berkembang maka dibuat perjanjian internasional yang berimplikasi pada liberalisasi perdagangan internasional. Untuk mencegah tindakan yang melanggar HAM oleh pemerintahan negara berkembang
DAFTAR PUSTAKA Buku
Clapham, Andrew. A Very Short Introduction. USA: Oxford University Press, 2007.
Clark, Ann Marie. Diplomacy of Conscience: Amnesty Inteernational and Changing Human Rights Norms. New Jersey: Princeton University Press, 2001.
Gordon, Paul. The Evolution of International Human Rights. Philadelphia:
University of Pennsylvania Press, 2011.
Gunakaya, A Widiada. Hukum Hak Asasi Manusia. Yogyakarta: Penerbit Andi, 2017.
Hoof, G. J. H. Van. Pemikiran Kembali Sumber-Sumber Hukum Internasional.
Bandung: Alumni, 2013.
Permanasari, Arlina. Pengantar Hukum Humaniter. Jakarta: Jakarta International Committee of The Red Cross, 1999.
Riyadi, Eko. Hukum Hak Asasi Manusia Perspektif Internasional Regional Dan Nasional. Depok: Rajawali Press, 2018.
Boer Manna, Hukum Internasional-Peranan dan Fungsi Dalam Era Dinamika Global, Alumni, Bandung, 2001.
Smith, Rhona K M, Christian Ranheim, and Dkk. Hukum Hak Asasi Manusia.
Yogyakarta: Pusat Studi Hak Asasi Manusia Universitas Islam Indonesia, 2008.
Soekanto, Soerjono, and Sri Mamudji. Penelitian Hukum Normatif, Suatu Tinjauan Singkat. Jakarta : Raja Grafindo Persada. Jakarta: Rajawali Pers, 2015.
Vasak, Karel. A 30-Year Struggle: The Sustained Efforts to Give Force of Law to the Universal Declaration of Human Rights. UNESCO courier, 1977.
Wiseberg, Laurie S. “Protecting Human Rights Activists and NGOs: What More Can Be Done ?” Human Rights Quarterly 13 (1991).
Peraturan Perundang-undangan
Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia.
Makalah Hak Asasi Manusia | 12 Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2002 tentang Pengesahan Treaty on Principles Governing he Activities of States in the Exploration and Use of Outer Space, including the Moon and Other Celestial Bodies (1967).