• Tidak ada hasil yang ditemukan

Mohammad Abdul Ghofir, Yoto, Solichin, Pengaruh Penguasaan Kompetensi Pengelasan 415

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Mohammad Abdul Ghofir, Yoto, Solichin, Pengaruh Penguasaan Kompetensi Pengelasan 415"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH PENGUASAAN KOMPETENSI PENGELASAN, PENGALAMAN PRAKTIK KERJA INDUSTRI, DAN PEMBELAJARAN

KEWIRAUSAHAAN TERHADAP KESIAPAN BERWIRAUSAHA PENGELASAN SISWA SMK PAKET KEAHLIAN PENGELASAN DI

KABUPATEN NGANJUK

Oleh:

Mohammad Abdul Ghofir, Yoto, Solichin

Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang Email: [email protected]

Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh: penguasaan kompetensi pengelasan, pengalaman praktik kerja industri, dan pembelajaran kewirausahaan terhadap kesiapan berwirausaha pengelasan pada siswa SMK Pengelasan di Kabupaten Nganjuk, baik secara individual maupun simultan. Rancangan penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan teknik analisis regresi. Subjek penelitian berjumlah 55 siswa, menggunakan teknik sampling jenuh. Data dikumpulkan menggunakan instrument angket dan dokumentasi nilai. Analisis data terdiri dari deskriptif, uji prasyarat, dan regresi. Hasil penelitian menunjukkan: (1) terdapat pengaruh yang signifikan antara penguasaan kompetensi pengelasan terhadap kesiapan berwirausaha pengelasan, sebesar 42,6%; (2) terdapat pengaruh yang signifikan antara pengalaman praktik kerja industri terhadap kesiapan berwirausaha pengelasan, sebesar 43,5%; (3) terdapat pengaruh yang signifikan antara pembelajaran kewirausahaan terhadap kesiapan berwirausaha pengelasan, sebesar 28,5%; dan (4) terdapat pengaruh yang signifikan antara penguasaan kompetensi pengelasan, pengalaman praktik kerja industri, dan pembelajaran kewirausahaan secara simultan terhadap kesiapan berwirausaha pengelasan, sebesar 60,2%;

Kata kunci: penguasaan kompetensi kejuruan, pengalaman praktik kerja industri, pembelajaran kewirausahaan, kesiapan berwirausaha pengelasan.

Pendidikan kejuruan khususnya SMK meru- pakan salah satu lembaga pendidikan yang memiliki peranan penting dalam menyedia- kan dan mengembangkan tenaga terampil tingkat menengah. Pendidikan yang ditem- puh selama tiga tahun tersebut, harapannya adalah dapat menghasilkan tenaga terampil, mandiri dan juga produktif yang dapat langsung memenuhi kebutuhan tenaga kerja secara profesional di berbagai bidang la- pangan pekerjaan.

Harapan di atas belum sesuai dengan kenyataan yang ada di lapangan. Hasil survei Badan Pusat Statistik pada tahun 2017 membuktikan bahwa tingkat pengangguran di Indonesia masih relastif tinggi mencapai 7

juta orang. Lebih parahnya jumlah pengang- guran terbanyak nomor dua adalah lulusan SMK.

Angka pengangguran yang tinggi dise- babkan karena persaingan ketat dalam mengisi jumlah lowongan pekerjaan yang ti- dak sebanding dengan peningkatan jumlah pencari kerja. Sehingga terjadi perlombaan yang ketat dalam merebutkan formasi pe- kerjaan yang ada. Menurut Kasmir (2007:4) pola pikir masyarakat Indonesia kebanyakan adalah menjadi karyawan perusahaan, pegawai BUMN, PNS, dll. Rachmadi (2015:

205) mengungkapkan bahwa paradigma lu- lusan SMK mayoritas masih cenderung menjadi pencari kerja (job seeker), daripada

(2)

sebagai pembuat lapangan pekerjaan (job creator). Menurut Mopangga (2014:89) dise- babkan karena lemahnya mental dan kepri- badian generasi muda untuk berprestasi, ke- beranian mengambil resiko, keuletan, daya juang, kepercayaan pada diri sendiri, kreativ- itas, inovasi dan lain sebagainya.

Salah satu daerah yang menyumbang angka pengangguran adalah Kabupaten Nganjuk. Berita yang disampaikan oleh Ada- kitanews (3 Februari 2105), data dari Dinsosnakertran tahun 2014, jumlah angkat- an kerja adalah 540.863, sebanyak 515.153 yang sudah bekerja dan sejumlah 25.710 masih belum bekerja atau menganggur.

Pencari kerja yang mendaftar kerja sejumlah 2.503 orang, namun baru 931 orang atau sekitar 36 % yang berhasil ditempatkan untuk bekerja. Jadi hingga akhir tahun 2014, masih menyisakan pengangguran atau belum bekerja sekitar 74 %. Salah satu solusi dari kondisi tersebut di atas, harus terbentuk suatu pemikiran yang kreatif dari lulusan SMK, yaitu dengan menciptakan lapangan peker- jaan sendiri atau berwirausaha sesuai dengan keterampilan yang diperoleh dan telah ditekuni dan dipelajari di bangku sekolah.

Salah satu paket keahlian di SMK adalah paket keahlian Pengelasan. Penge- lasan merupakan salah satu wirausaha dalam bentuk jasa. Pada prinsipnya adalah jasa menyambung besi dan logam supaya lekat, dengan proses pembakaran dan pemanasan.

Perkembangan bisnis dari usaha bengkel las semakin pesat, seiring dengan meningkatnya permintaan jasa las besi dan logam. Ba- nyaknya permintaan dari pasar akan mem- buat usaha semakin berkembang dan bahkan bisa menjadi salah satu bisnis yang men- janjikan. Banyak sekali pekerjaan yang membutuhkan jasa pengelasan, seperti pem- buatan rangka rumah, rangka atap, pagar,

teralis, kuda-kuda, dll. Selain itu jasa las juga bisa memperbaiki beberapa masalah seperti perbaikan rangka sepeda motor, industri kecil, dan masih banyak lagi produk lain yang memanfaatkan jasa las untuk proses pembuatan dan finishingnya.

Berdasarkan uraian di atas maka usaha bengkel las dapat menjadi salah satu pilihan bagi lulusan SMK. Menurut Suparyanto (2013:31) usaha kecil merupakan sektor usaha yang banyak mendapatkan perhatian dari berbagai kalangan dan peranannya sa- ngat dominan dalam pembangunan nasional Indonesia. Bekal keterampilan bidang usaha siswa dapat diperoleh dari matapelajaran produktif kelompok C3, meliputi (1) teknik pengelasan oksi-asetelin (OAW); (2) teknik pengelasan las busur manual (SMAW); dan (3) teknik pengelasan gas metal (MIG/

MAG). Pendapat Nasser yang telah dikutip oleh Ramadani (2015: 202) menyatakan bahwa jika siswa sudah memiliki kompetensi pada bidang tertentu, maka akan menim- bulkan kepercayaan diri bagi mereka untuk memasuki dunia kerja baik di industri maupun berwirausaha.

Hisrich (dalam Slamet, dkk, 2014:7) latar belakang yang turut mempengaruhi pembentukan jiwa wirausaha adalah penga- laman kerja. Sedangkan pengalaman kerja dari siswa SMK diperoleh melalui pengala- man praktik kerja industri. Selama praktik kerja industri, siswa terjun langsung ke la- pangan pekerjaan yang sesungguhnya, sesuai dengan bidang keahliannya. Penelitian Supraba dan Rahdiyanta (2013:356) adalah semakin tinggi pengalaman prakerin yang didapatkan siswa di DUDI, maka semakin tinggi pula kesiapan siswa untuk berwira- usaha. Bekal yang wajib dimiliki oleh siswa sebelum berwirausaha adalah pengetahuan siswa tentang kewirausahaan.

(3)

Menurut Rusdiana (2014:50) bekal pengetahuan yang harus dimiliki wirausaha meliputi: (1) bekal pengetahuan mengenai usaha yang akan memasuki/dirintis dan lingkungan usaha yang ada; (2) bekal pengetahuan tentang peran dan tanggung- jawab; dan (3) bekal pengetahuan tentang manajemen dan organisasi bisnis. Bekal tersebut didapatkan siswa melalui mata pelajaran wajib di sekolah, yaitu Prakarya dan Kewiraushaan.

Penguasaan kompetensi pengelasan, pengalaman praktik kerja industri, dan pembelajaran kewirausahaan, yang didapat- kan siswa selama menempuh pendidikan SMK dapat menggembangkan kesiapan ber- wirausahanya. Siswa akan terdorong minat- nya untuk menekuni materi mata pelajaran tersebut dan terbuka dirinya untuk memper- oleh rangsangan-rangsangan untuk mempu- nyai jiwa kewirausahaan. Sehingga setelah lulus dari SMK siswa memiliki kesiapan menjadi seorang wirausahawan dan dapat membuka lapangan pekerjaan sendiri, dan mengurangi tingkat pengangguran di Indo- nesia.

Tujuan dari penelitian ini adalah me- ngetahui pengaruh: penguasaan kompetensi pengelasan, pengalaman praktik kerja indus- tri, dan pembelajaran kewirausahaan terha- dap kesiapan berwirausaha pengelasan pada siswa SMK Pengelasan di Kabupaten Ngan- juk, baik secara individual maupun simultan.

METODE PENELITIAN

Rancangan dari penelitian ini meng- gunakan pendekatan kuantitatif dengan tek- nik analisis regresi. Analisis regresi adalah suatu analisis yang digunakan untuk meng- ukur pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat (Sarjono dan Julianita, 2013:

91). Penelitian ini ditujukan untuk menge- tahui pengaruh antara variabel bebas (X) dengan variabel terikat (Y), baik pengaruh secara individual ataupun pengaruh secara simultan atau bersama-sama.

Variabel yang digunakan dalam pene- litian ini adalah sebagai berikut: penguasaaan kompetensi pengelasan (X1), pengalaman praktek kerja industri (X2), pembelajaran kewirausahaan (X3), sebagai variabel bebas, dan kesiapan berwirausaha pengelasan (Y) ditetapkan sebagai variabel terikatnya. Ran- cangan hubungan antara variabel terdapat pada Gambar 1.

Keterangan:

: Pengaruh individual setiap variabel (X1, X2, X3

dengan Y)

: Pengaruh variabel secara simultan (X1 X2 X3) dengan Y

Gambar 1 Hubungan Setiap Variabel

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa SMK Paket Keahlian Pengelasan kelas XII Tahun Ajaran 2017/2018 di Kabupaten Nganjuk baik Ne- geri maupun Swasta dengan syarat telah melaksanakan praktek kerja industri. Pe- ngambilan sampel dilakukan dengan meng- gunakan teknik sampling jenuh, yaitu teknik penentuan sampel bila semua anggota popu- lasi digunakan sebagai sampel (Sugiyono, 2016:124). Teknik ini dipilih dikarenakan subyek penelitian tidak terlalu banyak.

Jumlah populasi 85 siswa dari SMKN 1

penguasaaan

kompetensi pengelasan (X1)

pengalaman praktek kerja industri (X2)

Kesiapan Berwirausaha Pengelasan (Y)

pembelajaran kewirausahaan (X3)

(4)

Tanjunganom dan SMKS PGRI 1 Nganjuk, diambil 30 siswa di SMK Negeri 1 Tan- junganom sebagai subyek uji coba instru- men. Sehingga jumlah subyek penelitian yang didapatkan sejumlah 55 siswa.

Instrumen penelitian yang digunakan adalah dokumentasi nilai (penguasaaan kom- petensi pengelasan) dan non-tes, yaitu angket (pengalaman praktik kerja industri, pem- belajaran kewirausahaan, kesiapan berwira- usaha pengelasan).

Penentuan skor dalam penelitian ini menggunakan skala likert. Dalam penelitian ini skala likert yang digunakan untuk meng- ukur variabel dipergunakan dalam pernya- taan dengan lima kategori jawaban yaitu (Ghozali, 2016:47): Sangat Setuju (5), Setuju (4), Ragu-ragu atau Netral (3), Tidak Setuju (2), Sangat Tidak Setuju (1).

Uji coba coba instrumen dilakukan di SMK Negeri 1 Tanjunganom kepada 30 sis- wa. Hasil uji coba yang dilaksanakan pada 2 Oktober 2017 di SMK Negeri 1 Tanjung- anom terhadap 30 siswa, didapatkan hasil validitas butir soal sebagai berikut: (1) pengalaman prakerin, 16 soal valid dan 1 soal tidak valid; (2) pembelajaran kewirausahaan, 14 soal valid dan 1 soal tidak valid; (3) ke- siapan berwirausaha pengelasan, 17 soal va- lid dan 3 soal tidak valid. Berdasarkan hasil uji reliabilitas masing-masing variabel, nilai Cronbach Alpha > 0,70. Sehingga dapat disimpulkan bahwa instrumen penelitian yang digunakan adalah reliabel.

Hasil uji validitas pada butir soal yang tidak valid dilakukan perbaikan ulang dengan mengkonsultasikannya kepada Dosen Pem- bimbing Skripsi. Butir soal yang tidak valid disebabkan menggunakan pertanyaan nega- tif. Sehingga kalimat diubah menjadi perta- nyaan positif, agar memudahkan responden dalam memahami kalimat tersebut. Jadi soal

yang tidak valid tetap digunakan kembali dalam penelitian, tetapi diperbaiki penyu- sunan kalimatnya.

Analisis data dilakukan untuk menguji hipotesis penelitian. Adapun tahap untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan adalah dengan melakukan deskripsi data, uji pra- syarat analisis yang terdiri dari uji normalitas, linieritas, autokorelasi, multi- korelasi, dan heterokedastisitas. Kemudian uji hipotesis menggunakan analisis regresi linier dan berganda.

HASIL DAN PEMBAHASAN Deskripsi Data

Hasil penelitian yang diuraikan terdiri dari empat variabel yaitu: (1) Penguasaan Kompetensi Pengelasan; (2) Pengalaman Praktek Kerja Industri; (3) Pembelajaran Kewirausahaan; dan (4) Kesiapan Berwira- usaha Pengelasan.

Variabel penguasaan kompetensi pe- ngelasan diperoleh dari nilai tiga matape- lajaran C3 yang kemudian dirata-rata, meli- puti: (1) teknik pengelasan oksi-asetelin (OAW); (2) teknik pengelasan las busur ma- nual (SMAW); dan (3) teknik pengelasan gas metal (MIG/MAG). Rata-rata nilai pengu- asaan kompetensi pengelasan adalah sebesar 81,13, nilai maksmimum sebesar 87, nilai minimum sebesar 76, nilai tengah sebesar 81, nilai yang sering muncul sebesar 83, standar deviasi sebesar 2,575, varians sebesar 6,6632, dan rentang nilainya sebesar 11.

Deskripsi frekuensi dari variabel penguasaan kompetensi pengelasan terdapat pada Tabel 1, sedangkan diagram persenta- senya terdapat pada Gambar 2. Diperoleh uraian sebagai berikut: (1) 16 siswa atau 29,09% berada pada kriteria tinggi; dan (2) 39 siswa atau 70,91% berada pada kriteria sangat tinggi. Akan tetapi tidak terdapat

(5)

siswa yang berada pada kriteria sangat ren- dah, rendah, dan cukup. Rata-rata nilai pe- nguasaan kompetensi pengelasan siswa se- besar 81,13 berada pada kriteria sangat tinggi.

Tabel 1 Diskripsi Frekuensi Variabel Penguasaan Kompetensi Pengelasan

Kriteria Rentang f Persentase (%)

Sangat Rendah 0-19 0 0 %

Rendah 20-39 0 0 %

Cukup 40-59 0 0 %

Tinggi 60-79 16 29,09 %

Sangat Tinggi 80-100 39 70,91 %

Jumlah 55 100 %

Gambar 2 Diagram Persentase Variabel Penguasaan Kompetensi Pengelasan

Variabel pengalaman praktek kerja industri diperoleh dari kuisioner berjumlah 17 butir soal. Rata-rata skor pengalaman praktek kerja industri adalah sebesar 67,65, nilai maksmimum sebesar 76, nilai minimum sebesar 52, nilai tengah sebesar 68, nilai yang sering muncul sebesar 74, standar deviasi sebesar 5,866, varians sebesar 34,415, dan rentang nilainya sebesar 24.

Deskripsi frekuensi dari variabel pe- ngalaman prakerin terdapat pada Tabel 2, sedangkan diagram persentasenya terdapat pada Gambar 3. Diperoleh uraian sebagai berikut: (1) 7 siswa atau 12,73% berapa pada kriteria cukup; (2) 34 siswa atau 61,82%

berada pada kriteria tinggi; dan (2) 14 siswa atau 25,45% berada pada kriteria sangat tinggi. Akan tetapi tidak terdapat siswa yang berada pada kriteria sangat rendah dan

rendah. Nilai rata-rata skor pengalaman praktek kerja industri siswa sebesar 67,65 berada pada kriteria tinggi.

Tabel 2 Diskripsi Frekuensi Variabel Pengalaman Praktik Kerja Industri

Kriteria Rentang Frek-

uensi Persentase (%) Sangat Ren-

dah 1

7 - 3

0 0 0 %

Rendah 3 1

- 4

4 0 0 %

Cukup 4 5 - 5

8 7 12,73 %

Tinggi 5 9 - 7

2 34 61,82 % Sangat

Tinggi 7

3 - 8

6 14 25,45 %

Jumlah 55 100 %

Gambar 3 Diagram Persentase Pengalaman Prakerin (X2)

Variabel pembelajaran kewirausahaan diperoleh dari kuisioner berjumlah 15 butir soal. Rata-rata skor pembelajaran kewirausahaan siswa adalah sebesar 56,51, nilai maksmimum sebesar 69, nilai minimum sebesar 46, nilai tengah sebesar 57, nilai yang sering muncul sebesar 55, standar deviasi sebesar 5,189, varians sebesar 26,921, dan rentang nilainya sebesar 23.

Deskripsi frekuensi dari variabel pembelajaran kewirausahaan terdapat pada Tabel 3, sedangkan diagram persentasenya terdapat pada Gambar 4. Diperoleh uraian sebagai berikut: (1) 8 siswa atau 14,55%

berada pada kriteria cukup; (2) 40 siswa atau 72,73% berada pada kriteria tinggi; dan (3) 7

0.00% 0.00% 0.00%

29.09%

70.91%

0.00%

20.00%

40.00%

60.00%

80.00%

Sangat Rendah

Rendah Cukup Tinggi Sangat Tinggi Diagram Persentase Penguasaan

Kompetensi Pengelasan (X1)

0.00% 0.00%

12.73%

61.82%

25.45%

0.00%

20.00%

40.00%

60.00%

80.00%

Sangat Rendah

Rendah Cukup Tinggi Sangat Tinggi Diagram Persentase Pengalaman Prakerin

(X2)

(6)

siswa atau 12,73% berada pada kriteria sangat tinggi. Akan tetapi tidak terdapat siswa yang berada pada kriteria sangat rendah, dan rendah. Nilai rata-rata skor pembelajaran kewirausahaan siswa sebesar 56,51 berada pada kriteria tinggi.

Tabel 3 Diskripsi Frekuensi Variabel Pembelajaran Kewirausahaan

Kriteria Rentang f Persentase (%) Sangat Rendah 15 - 26 0 0 %

Rendah 27 - 38 0 0 %

Cukup 39 - 50 8 14,55 %

Tinggi 51 - 62 40 72,73 % Sangat Tinggi 63 - 74 7 12,73 %

Jumlah 55 100 %

Gambar 4 Diagram Persentase Pembelajaran Kewirausahaan (X3)

Variabel kesiapan berwirausaha penge- lasan diperoleh dari kuisioner berjumlah 20 butir soal. Rata-rata skor kesiapan berwira- usaha pengelasan siswa adalah sebesar 75,22, nilai maksmimum sebesar 87, nilai minimum sebesar 64, nilai tengah sebesar 75, nilai yang sering muncul sebesar 75, standar deviasi sebesar 6,451, varians sebesar 41,618, dan rentang nilainya sebesar 23.

Deskripsi frekuensi dari variabel ke- siapan berwirausaha pengelasan terdapat pa- da Tabel 4, sedangkan diagram persen- tasenya pada Gambar 5. Diperoleh uraian sebagai berikut: (1) 11 siswa atau 20,00%

berada pada kriteria cukup; (2) 40 siswa atau 72,73% berada pada kriteria tinggi; dan (3) 4

siswa atau 7,27% berada pada kriteria sangat tinggi. Akan tetapi tidak terdapat siswa yang berada pada kriteria sangat rendah, dan rendah. Nilai rata-rata skor kesiapan berwir- ausaha pengelasan siswa sebesar 75,22 berada pada kriteria tinggi.

Tabel 4 Diskripsi Frekuensi Variabel Kesiapan Berwirausaha Pengelasan

Kriteria Rentang f Persentase (%) Sangat Rendah 20 - 35 0 0 %

Rendah 36 - 51 0 0 %

Cukup 52 - 67 11 20,00 % Tinggi 68 - 83 40 72,73 % Sangat Tinggi 84 - 99 4 7,27 %

Jumlah 55 100 %

Gambar 5 Kesiapan Berwirausaha Pengelasan (Y)

Uji Prasyarat Analisis

Sebelum data penelitian dilakukan uji hipotesis, data penelitian harus memenuhi uji prasyarat yang terdiri dari: (1) uji normalitas;

(2) uji linieritas; (3) uji autokorelasi; (4) uji heterokedastisitas; dan (5) uji multikorelasi.

Pengujian normalitas dilakukan de- ngan menggunakan bantuan program SPSS dengan uji Kolmogrof-Smirnov karena data yang diuji (responden) lebih dari 50. Kriteria pengujiannya adalah jika angka signifikansi uji KS > 0,05 maka data terdistribusi secara normal. Berikut ini merupakan nilai Signifi- kansi uji KS: (1) penguasaan kompetensi ke- juruan sebesar 0,183; (2) pengalaman praktik kerja industri sebesar 0,200; (3) pembela- jaran kewirausahaan sebesar 0,200; dan (4)

0.00% 0.00%

14.55%

72.73%

12.73%

0.00%

20.00%

40.00%

60.00%

80.00%

Sangat Rendah

Rendah Cukup Tinggi Sangat Tinggi Diagram Persentase Pembelajaran

Kewirausahaan (X3)

0.00% 0.00%

20.00%

72.73%

7.27%

0.00%

20.00%

40.00%

60.00%

80.00%

Sangat Rendah

Rendah Cukup Tinggi Sangat Tinggi

Diagram Persentase Kesiapan Berwirausaha Pengelasan (Y)

(7)

kesiapan berwirausaha pengelasan sebesar 0,200. Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa data masing-masing variabel berdis- tribusi secara normal.

Uji linieritas Menggunakan Test of Lin- earity dengan bantuan program SPSS, data variabel bebas X1, X2, X3 dengan variabel terikat Y. Syarat pengambilan keputusannya adalah jika signifikansi pada Deviation from Linearity > 0,05 maka hubungan antar varia- bel adalah linier. Berikut ini merupakan nilai dari Deviation from Linearity masing-masing variabel: (1) penguasaan kompetensi penge- lasan terhadap kesiapan berwirausaha penge- lasan, sebesar 0,393; (2) penalaman praktek kerja industri terhadap kesiapan berwirausa- ha pengelasan, sebesar 0,060; dan (3) pem- belajaran kewirausahaan terhadap kesiapan berwirausaha pengelasan, sebesar 0,806.

Hasil pararan data nilai Deviation from Line- arity masing-masing variabel bebas terhadap variabel terikat diperoleh nilai > 0,05. Se- hingga dapat disimpulkan bahwa hubungan penguasaan kompetensi pengelasan, penga- laman praktek kerja industri terhadap kesia- pan berwirausaha pengelasan adalah linier.

Keputusan ada tidaknya autokorelasi adalah bila nilai Durbin Watson berada di antara dU sampai dengan 4-dU. Menentukan nilai dL dan dU dengan melihat Tabel Durbin Watson pada α = 5%, dan k = 3 (jumlah variabel bebasnya), dan n = 55 (jumlah res- pondennya). Nilai yang didapatkan dari dL = 1,4523, sedangkan dU = 1,6815. Hasil pengujian didapatkan nilai Durbin Watson adalah sebesar 1,759. Dengan demikian, DW berada diantara dU dan 4 – dU, yaitu 1,6815

< 1,759 < 2,3185. Jadi dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi autokorelasi.

Deteksi heterokedastisitas dengan me- nggunakan metode scatter plot. Dari scatter plot pada Gambar 6, terlihat bahwa titik-titik

menyebar secara acak, baik di bagian atas angka nol atau di bagian bawah angka 0 dari sumbu vertikal atau sumbu Y. Dengan de- mikian dapat disimpulkan bahwa tidak ter- jadi heterokedastisitas dalam model regresi ini.

Gambar 6 Scatter Plot Hasil Uji Heterokedastis- itas

Pengujian multikorelasi dilakukan de- ngan bantuan aplikasi SPSS, dengan menggunakan Collinearity Diagnostics. Da- sar pengambilan dari uji multikorelasi jika nilai VIF < 10, maka tidak terjadi gejala mul- tikolinieritas diantara variabel bebas. Berikut merupakan nilai VIF masing-masing varia- bel: VIF X1 terhadap Y sebesar 1,703, VIF X2 terhadap Y sebesar 1,565, dan VIF X3 terhadap Y sebesar 1,234. Artinya, nilai VIF lebih kecil dari 10. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi gejala mul- tikorelasi diantara variabel bebas.

Uji Hipotesis

Uji hipotesis menggunakan analisis re- gresi, yang digunakan untuk mengukur pe- ngaruh variabel bebas terhadap variabel teri- kat. Hipotesis penelitian 1 sampai 3 dianalisis menggunakan analisis regresi linier seder- hana, sedangkan pengujian hipotesis 4 me- nggunakan analisis regresi berganda. Jika nilai Signifikansi (Sig ≤ 0,05), Ho ditolak (Ha diterima), artinya signifikan.

Hasil uji signifikansi hipotesis pertama pada Tabel Anova menunjukkan nilai Sig.

(8)

sebesar 0,000. Jika dibandingkan dengan α = 0,05, nilai Sig. lebih kecil daripada α (Sig. ≤ α), yaitu 0,000 ≤ 0,05. Artinya, Ho ditolak dan Ha diterima. Dengan demikian pengu- asaan kompetensi pengelasan (X1) berpe- ngaruh secara signifikan terhadap kesiapan berwirausaha pengelasan (Y) pada siswa paket keahlian Pengelasan di SMK Kabu- paten Nganjuk.

Besarnya pengaruh variabel X1 ter- hadap variabel Y dapat diketahui dengan melihat nilai R2 pada tabel Model Summary.

Intrepretasi yang didapatkan adalah nilai R Square (R2) = 0,426 = 42,6%. Nilai ini menunjukkan bahwa pengaruh penguasaan kompetensi pengelasan (X1) secara indivi- dual terhadap kesiapan berwirausaha penge- lasan (Y) adalah sebesar 42,6% dan besarnya pengaruh variabel lain adalah sebesar 57,4%

(didapatkan dari 100% - 42,6% = 57,4%).

Hasil uji signifikansi hipotesis kedua pada Tabel Anova menunjukkan nilai Sig.

sebesar 0,000. Jika dibandingkan dengan α = 0,05, nilai Sig. lebih kecil daripada α (Sig. ≤ α), yaitu 0,000 ≤ 0,05. Artinya, Ho ditolak dan Ha diterima. Dengan demikian hal ini menunjukkan bahwa pengalaman praktik kerja industri (X2) berpengaruh secara sig- nifikan terhadap kesiapan berwirausaha pe- ngelasan (Y) pada siswa paket keahlian Pengelasan di SMK Kabupaten Nganjuk.

Besarnya pengaruh variabel X2 ter- hadap variabel Y dapat diketahui dengan melihat nilai R2 pada Tabel Model Summary.

Intrepretasi yang didapatkan adalah nilai R Square (R2) = 0,435 = 43,5%. Nilai ini me- nunjukkan bahwa pengaruh pengalaman praktik kerja industri (X2) secara individual terhadap kesiapan berwirausaha pengelasan (Y) adalah sebesar 43,5% dan besarnya pengaruh variabel lain adalah sebesar 56,5%

(didapatkan dari 100% - 43,5% = 56,5%).

Hasil uji signifikansi hipotesis ketiga pada Tabel Anova menunjukkan nilai Sig.

sebesar 0,000. Jika dibandingkan dengan α = 0,05, nilai Sig. lebih kecil daripada α (Sig. ≤ α), yaitu 0,000 ≤ 0,05. Artinya, Ho ditolak dan Ha diterima. Dengan demikian hal ini menunjukkan bahwa pembelajaran kewira- usahaan (X3) berpengaruh secara signifikan terhadap kesiapan berwirausaha pengelasan (Y) pada siswa paket keahlian Pengelasan di SMK Kabupaten Nganjuk.

Besarnya pengaruh variabel X3 ter- hadap variabel Y dapat diketahui dengan melihat nilai R2 pada Tabel Model Summary.

Intrepretasi yang didapatkan adalah nilai R Square (R2) = 0,285 = 28,5%. Nilai ini menunjukkan bahwa pengaruh pembelajaran kewirausahaan (X3) secara individual terha- dap kesiapan berwirausaha pengelasan (Y) adalah sebesar 28,5% dan besarnya pengaruh variabel lain adalah sebesar 71,5% (dida- patkan dari 100% - 28,5% = 71,5%).

Hasil uji signifikansi hipotesis ke empat pada Tabel Anova menunjukkan nilai Sig. sebesar 0,000. Jika dibandingkan dengan α = 0,05, nilai Sig. lebih kecil daripada α (Sig. ≤ α), yaitu 0,000 ≤ 0,05. Artinya, Ho ditolak dan Ha diterima. Dengan demikian hal ini menunjukkan bahwa X (X1, X2, X3) berpengaruh secara simultan dan signifikan terhadap kesiapan berwirausaha pengelasan (Y) pada siswa paket keahlian Pengelasan di SMK Kabupaten Nganjuk.

Besarnya pengaruh variabel X (X1, X2, X3) secara simultan terhadap variabel Y dapat diketahui dengan melihat nilai R2 pada Tabel Model Summary. Intrepretasi yang didapatkan adalah nilai R Square (R2) = 0,602 = 60,2%. Nilai ini menunjukkan bahwa pengaruh penguasaan kompetensi pengelas- an (X1), pengalaman praktik kerja industri (X2), dan pembelajaran kewiraushaan (X3)

(9)

secara simultan terhadap kesiapan berwira- usaha pengelasan (Y) adalah sebesar 60,2%

dan besarnya pengaruh variabel lain yang tidak diteliti adalah sebesar 39,8% (didapat- kan dari 100% - 60,2% = 39,8%).

Pengaruh Penguasaan Kompetensi Penge- lasan terhadap Kesiapan Berwirausaha Pengelasan

Kompetensi yang diperoleh siswa di sekolah akan mempengaruhi kesiapan siswa dalam berwirausaha mandiri. Penguasaan kompetensi keahlian yang telah dipelajari sebelumnya akan menimbulkan rasa percaya diri bagi siswa dan pada akhirnya membuat siswa siap untuk berwirausaha sesuai bidang keahlian tersebut. Pendapat Nasser yang telah dikutip oleh Ramadani (2015: 202) menyatakan bahwa jika siswa sudah me- miliki kompetensi pada bidang tertentu, ma- ka akan menimbulkan kepercayaan diri bagi mereka untuk memasuki dunia kerja baik di industri maupun berwirausaha.

Perhitungan analisis data dari pene- litian Santi (2013:134) memperoleh hasil bahwa terdapat pengaruh signifikan antara kompetensi keahlian siswa dengan kesiapan berwirausaha siswa SMK Negeri 1 Purwo- sari. Implikasi hasil penelitian tersebut di tingkat pendidikan SMK, kompetensi keah- lian merupakan indikator penguasaan siswa terhadap materi yang diajarkan di sekolah.

Terampil atau tidaknya siswa dalam mengua- sai materi dapat dilihat dari kompetensi keahliannya. Kompetensi keahlian siswa yang tinggi menunjukkan bahwa siswa terse- but menguasai dengan baik materi pendi- dikan dan pelatihan yang diajarkan di se- kolah. Siswa yang menguasai pendidikan dan pelatihan di sekolahnya dengan baik membe- rikan siswa tersebut kesiapan yang baik memasuki dunia kerja ataupun berwirausaha.

Seseorang yang berniat memasuki dunia

usaha sebaiknya sejak awal telah memper- siapkan diri dengan berbagai bekal yang diperlukan dalam menjalankan kegiatan usaha (kesiapan berwirausaha), yaitu kesiap- an mental, kesiapan pengetahuan, dan keterampilan, kesiapan sumberdaya (Nitisu- sastro, 2009:82). Kompetensi keahlian ini merupakan salah satu bentuk kesiapan dalam hal pengetahuan dan keterampilan yang termasuk dalam kesiapan berwirausaha. Oleh karena itu dapat dipahami apabila kom- petensi keahlian memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kesiapan berwirausaha.

Hasil penemuan penelitian menunjuk- kan bahwa tingkat penguasaan kompetensi pengelasan siswa tergolong sangat tinggi.

Nilai penguasaan kompetensi pengelasan di- dapatkan dari rata-rata nilai matapelajaran (1) teknik pengelasan las busur manual (SMAW); (2) teknik pengelasan oksi- asetelin (OAW); dan (3) teknik pengelasan gas metal (MIG/MAG). Matapelajaran tek- nik pengelasan oksi-asetelin (OAW) menda- patkan nilai rata-rata tertinggi daripada matapelajaran lainnya. Hasil analisis data yang dilakukan pada bab sebelumnya, me- nunjukkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan antara penguasaan kompetensi pe- ngelasan terhadap kesiapan berwirausaha pengelasan siswa SMK paket keahlian Pe- ngelasan. Besarnya pengaruh penguasaan ko- mpetensi pengelasan terhadap kesiapan ber- wirausaha pengelasan secara individual ada- lah 42%. Semakin tinggi penguasaan kom- petensi pengelasan yang dimiliki oleh siswa, maka semakin tinggi pula kesiapan siswa da- lam berwirasuaha pengelasan secara mandiri.

Pengaruh Pengalaman Praktik Kerja In- dustri terhadap Kesiapan Berwirausaha Pengelasan

Susanto (2007) menjelaskan bahwa sebelum berwirausaha, seseorang harus

(10)

memiliki pengalaman kerja terlebih dahulu.

Pengalaman kerja siswa SMK di sebuah dunia usaha/industri, dapat diperoleh dari sekolah maupun dari luar sekolah, yaitu dengan pelaksanaan Praktek Kerja Industri (Prakerin). Penelitian Supraba dan Rah- diyanta (2013:356) adalah semakin tinggi pengalaman prakerin yang didapatkan siswa di DUDI, maka semakin tinggi pula kesiapan siswa untuk berwirausaha.

Penelitian Fadilah, dkk (2016:14) membuktikan bahwa faktor pengalaman ker- ja yang dalam hal ini adalah praktik kerja industri juga mempengaruhi minat berwira- usaha siswa. Pengalaman praktik kerja indus- tri merupakan pengetahuan atau keterampil- an yang diketahui dan dikuasai seseorang setelah seseorang tersebut melakukan praktik kerja di dunia industri. Siswa yang memiliki pengalaman tinggi setelah pelaksanaan prak- tik kerja industri adalah siswa yang melak- sanakan tugas saat praktik kerja industri dengan optimal, hal ini dikarenakan pelak- sanaan praktik kerja industri merupakan ke- sempatan bagi siswa untuk memantapkan pengetahuan dan keterampilan yang mereka dapat di sekolah ke dalam dunia kerja yang sesungguhnya. Siswa yang memiliki pe- ngalaman kerja yang tinggi akan cenderung memiliki minat untuk berwirausaha, sehing- ga kedepannya mampu membuat lapangan pekerjaan sendiri.

Supraba dan Rahdiyanta (2013:256) pada hasil penelitiannya menjelaskan bahwa pengalaman praktik kerja industri memiliki pengaruh yang searah dengan kesiapan ber- wirausaha. Penelitian ini menunjukkan bah- wa semakin banyak pengalaman yang di dapatkan siswa dalam prakerin, maka sema- kin tinggi pula kesiapan berwirausaha, demi- kian pula sebaliknya, semakin rendah penga- laman prakerin, maka semakin rendah pula

kesiapan berwirausaha. Selain mendapatkan manfaat dari prakerin siswa juga mendapat- kan ilmu tentang pengelolaan dari sebuah usaha, oleh karena itu, perlu ditingkatkan kerjasama dari pihak sekolah dan industri untuk mendidik siswa menjadi seorang wirausaha.

Didukung pula oleh hasil penelitian da- ri Santi (2013:133), bahwa pengalaman praktik kerja industri memiliki pengaruh ya- ng signifikan terhadap kompetensi keahlian pada siswa kelas XII SMK Negeri 1 Purwo- sari. Praktik kerja industri merupakan kesem- patan untuk menimba dan meningkatkan pe- ngetahuan serta keterampilan bagi siswa.

Sehingga pengalaman praktik kerja industri dapat menambah pengalaman bagi siswa me- lakukan proses faktualisasi karena dapat me- nguji dan membandingkan pengetahuan teoritisnya dengan situasi dan keadaan yang sebenarnya. Selain itu dapat membuka ke- sempatan untuk meraih pengetahuan dan teknologi yang baru sebanyak-banyaknya yang kemungkinan tidak terdapat di sekolah.

Adanya pengalaman praktik kerja industri yang mendukung maka akan mendukung siswa menghasilkan produk pekerjaan yang berkualitas. Pengalaman yang diperoleh pada saat melakukan praktik kerja industri secara tidak langsung akan mempercepat transisi siswa dari sekolah ke dunia industri, selain mempelajari cara mendapatkan pekerjaan juga belajar bagaimana memiliki pekerjaan yang relevan. Pengalaman dalam hal ini yaitu pengalaman yang didapat setelah melaksana- kan praktik kerja industri inilah yang dapat membantu siswa untuk berwirausaha karena di dalam industri siswa diajarkan untuk bekerja dengan kemampuan sendiri sehingga mereka akan mandiri.

Praktik Kerja Industri adalah ikut belajar bekerja dalam kegiatan usaha atau

(11)

bisnis wirausaha dengan perusahaan tertentu pada bidang tertentu pula. Dengan perkataan lain, praktik kerja industri adalah ikut bekerja usaha yang diakui berstandar kurikulum tertentu dalam suatu perusahaan yang telah ditentukan. Pemahaman ini menempatkan siswa memiliki pemahaman dasar dari bid- ang-bidang yang dipelajari dalam hal ini bidang pengelasan, dengan standar-standar kerja yang telah ditetapkan. Praktik kerja industri mampu melahirkan keberhasilan- keberhasilan mengembangkan ide dan men- ciptakan peluang. Secara umum dapat dikatakan, jika mereka menjadi wirausaha maka akan menjadi orang yang memiliki potensi untuk berprestasi.

Pelaksanaan praktik kerja industri secara tidak langsung akan memberikan pengetahuan, keterampilan dan pengalaman dalam bekerja. Pengalaman yang diperoleh pada saat melaksanakan praktik industri, selain mempelajari bagaimana cara menda- patkan pekerjaan, siswa juga belajar bagai- mana memilih pekerjaan yang relevan de- ngan kemampuan yang dimiliki oleh siswa tersebut. Pengalaman kerja inilah yang akan menentukan kesiapan siswa untuk bekerja karena di industri, siswa diajarkan untuk bekerja sesuai dengan kemampuannya serta aspek-aspek yang menyertainya.

Hasil analisis data yang dilakukan pada bab sebelumnya, menunjukkan bahwa ter- dapat pengaruh yang signifikan antara pe- ngalaman praktik kerja industri terhadap kesiapan berwirausaha pengelasan siswa SMK paket keahlian Pengelasan. Besarnya pengaruh pengalaman praktik kerja industri terhadap kesiapan berwirausaha pengelasan secara individual adalah 43,5%. Semakin tinggi pengalaman praktik kerja industri yang dimiliki oleh siswa, maka semakin tinggi

pula kesiapan siswa dalam berwirasuaha pe- ngelasan secara mandiri.

Pengaruh Pembelajaran Kewiraushaan terhadap Kesiapan Berwirausaha Penge- lasan

Penelitian yang dilakukan oleh Supra- ba dan Rahdiyanta (2016:355) menunjukkan hasil bahwa pengetahuan kewirausahaan memiliki pengaruh positif terhadap kesiapan berwirausaha siswa. Penelitian ini menunjuk- kan bahwa semakin banyak pengetahuan kewirausahaan yang dikuasai siswa, maka semakin siap pula siswa untuk berwirausaha.

Pada pembelajaran kewirausahaan di sekolah siswa akan memahami tentang sikap dan perilaku sebagai seorang wirausaha. Seorang wirausaha harus mempunyai sikap mental yang tinggi, kemauan yang keras serta pan- tang menyerah. Dari sikap ini maka akan memunculkan kepercayaan diri yang tinggi sehingga wirausahawan dapat menentukan visi usahanya. Dengan adanya visi dari usa- hanya tersebut maka wirausahawan akan berpikir secara kreatif dan inovatif untuk mencapai visinya tersebut.

Hasil penelitian Nurbaya (2012:102) menunjukkan bahwa pengetahuan kewira- usahaan berpengaruh positif terhadap kesi- apan berwirausaha, yaitu semakin tinggi pe- ngethuan kewirausahaan siswa, maka se- makin tinggi pula kesiapan berwirausaha siswa. Siswa yang telah memiliki pengeta- huan cenderung ingin mengaplikasikan apa yang telah ia ketahui. Pengetahuan tersebut adalah tentang kewirausahaan, sehingga ia ingin menerapkan pengetahuannya dengan terjun ke dunia usaha dan salah satunya dengan berwirausaha sendiri.

Hasil analisis data yang dilakukan pada bab sebelumnya, menunjukkan bahwa ter- dapat pengaruh yang signifikan antara

(12)

pembelajaran kewirausahaan terhadap kesi- apan berwirausaha pengelasan siswa SMK paket keahlian Pengelasan. Besarnya penga- ruh pembelajaran kewirausahaan terhadap kesiapan berwirausaha pengelasan secara individual adalah 43,5%. Semakin tinggi pembelajaran kewirausahaan yang dimiliki oleh siswa, maka semakin tinggi pula kesi- apan siswa dalam berwirasuaha pengelasan secara mandiri.

Pengaruh Penguasaan Kompetensi Penge- lasan, Pengalaman Praktik Kerja Indus- tri, dan Pembelajaran Kewiraushaan terhadap Kesiapan Berwirausaha Penge- lasan

Kesiapan berwirausaha merupakan tu- juan yang ingin dicapai oleh pendidikan pada sekolah menengah kejuruan, dimana kesi- apan berwirausaha dalam penelitian ini ditin- jau dari pengalaman praktik kerja industri, kompetensi keahlian dan intensitas pendi- dikan kewirausahaan dalam sekolah. Penga- laman praktik kerja kerja industri memiliki hubungan dengan kesiapan berwirausaha siswa dalam memberikan pengalaman baik secara teoritis, praktis maupun sosial bagi siswa. Hasil kegiatan pengalaman praktik kerja industri salah satunya berupa kom- petensi-kompetensi yang berkaitan dengan bidang keahlian yang dipelajari di bangku sekolah. Kompetensi keahlian siswa terkait dengan kesiapan berwirausaha karena kom- petensi keahlian merupakan modal dasar keahlian siswa dalam berwirausaha.

Berdasarkan hasil analisis yang dila- kukan pada bab sebelumnya, menunjukkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan antara penguasaan kompetensi pengelasan, pengalaman praktik kerja industri, pembe- lajaran kewirausahaan terhadap kesiapan berwirausaha pengelasan siswa SMK paket

keahlian Pengelasan, secara simultan. Be- sarnya pengaruh tersebut secara sumultan adalah 60,2%. Semakin tinggi pengalaman praktik kerja industri yang dimiliki oleh siswa, maka semakin tinggi pula kesiapan siswa dalam berwirasuaha pengelasan secara mandiri.

Berdasarkan hasil analisis pada bab sebelumnya, besarnya pengaruh dari terting- gi ke terendah masing-masing variabel secara individual adalah sebagai berikut: (1) pe- ngalaman praktik industri terhadap kesiapan berwirausaha pengelasan sebesar 43,5%; (2) penguasaan kompetensi pengelasan terhadap kesiapan berwirausaha pengelasan sebesar 42,6%; dan (3) pembelajaran kewirausahaan terhadap kesiapan berwirausaha pengelasan sebesar 28,5%. Praktik industri memiliki sumbangan terbesar dikarenakan selama praktik industri siswa terjun langsung ke dunia kerja yang sesungguhnya, banyak ber- komunikasi dengan dunia kerja, para karya- wan, alat kerja yang sesungguhnya, masyara- kat, dll. Praktik kerja industri memiliki peranan yang sangat penting dalam mem- persiapkan siswa untuk terjun ke dunia kerja, terutama wirausaha.

Penguasaan kompetensi pengelasan mendapatkan nilai urutan kedua dikarenakan bekal ilmu pengetahuan dan keterampilan siswa dalam pengelasan di dapatkan dari pembelajaran di sekolah. Tanpa adanya ma- teri dari sekolah siswa akan merasa kesulitan jika terjun langsung di dunia kerja. Siswa yang menguasai pendidikan dan pelatihan di sekolahnya dengan baik memberikan siswa tersebut kesiapan yang baik memasuki dunia kerja ataupun berwirausaha.

Sedangkan variabel penelitian yang memiliki sumbangan terkecil adalah pembe- lajaran kewiraushaaan. Hal ini dikarenakan pada pembelajaran kewirausahaan masih

(13)

mempelajari ilmu kewirausahaan secara umum, belum secara spesifik pada kewira- usahaan pengelasan. Kecilnya sumbangan efektif pengetahuan kewirausahaan terhadap kesiapan berwirausaha disebabkan oleh guru yang mengajarkan matapelajaran kewirausa- haan belum belum memiliki pengalaman da- lam dunia usaha, minimal pernah bergelut di dunia wirausaha. Guru pendidikan kejuruan akan efektif jika gurunya telah mempunyai pengalaman yang sukses dalam menerapkan pengetahuan dan keterampilan kerja, karena guru sebagai ujung tombak suksesnya proses belajar mengajar untuk menghasilkan lulusan yang memiliki sikap, pengetahuan, keteram- pilan untuk siap memasuki dunia kerja. Un- tuk mengatasi hal tersebut maka pihak seko- lah harus memberikan pembinaan terhadap guru dengan jalan melalui pelatihan-pelatih- an kewirausahaan, diklat, dan magang di dunia usaha dan dunia industri.

PENUTUP Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian, analisis data dan pembahasan pada bab sebelumnya, maka diperoleh kesimpulan: (1) Berdasarkan deskripsi data siswa SMK paket keahlian Pengelasan di Kabupaten Nganjuk pada ma- sing-masing variabel diperoleh hasil sebagai berikut: (a) tingkat penguasaan kompetensi pengelasan kriteria sangat tinggi; (b) tingkat pengalaman praktik kerja industri siswa ber- ada pada kriteria tinggi; (c) tingkat pembe- lajaran kewirausahaan siswa berada pada kriteria tinggi; dan (d) tingkat kesiapan berwirausaha pengelasan siswa berada pada kriteria tinggi; (2) Penguasaan kompetensi pengelasan siswa berpengaruh secara signifi- kan terhadap kesiapan berwirausaha penge- lasan. Besarnya pengaruh penguasaan kom-

petensi pengelasan terhadap kesiapan ber- wirausaha pengelasan siswa adalah sebesar 42,6%; (3) Pengalaman praktik kerja industri siswa berpengaruh secara signifikan terhadap kesiapan berwirausaha pengelasan. Besarnya pengaruh pengalaman praktik kerja industri terhadap kesiapan berwirausaha pengelasan siswa adalah sebesar 43,5%; dan (4) Pembe- lajaran kewirausahaan siswa berpengaruh secara signifikan terhadap kesiapan berwira- usaha pengelasan. Besarnya pengaruh pem- belajaran kewirausahaan siswa terhadap ke- siapan berwirausaha pengelasan siswa adalah sebesar 28,5%; dan (5) Penguasaan kompe- tensi pengelasan, pengalaman praktik kerja industri, dan pembelajaran kewirausahaan siswa secara simultan berpengaruh secara signifikan terhadap kesiapan berwirausaha pengelasan. Besarnya pengaruh penguasaan kompetensi pengelasan, pengalaman praktik kerja industri, dan pembelajaran kewira- usahaan terhadap kesiapan berwirausaha pengelasan siswa adalah sebesar 60,2%.

Saran

Melihat besarnya kontribusi pengalam- an prakerin terhadap terbentuknya kesiapan berwirausaha memiliki kontribusi yang pa- ling tinggi diantara variabel lainnya, maka disarankan bagi sekolah untuk lebih mening- katkan lagi pelaksanaan prakerin. Sekolah lebih memperhatikan kualitas tempat prakerin siswa, dan banyak menjalin kerja- sama di berbagai DUDI. Siswa harus benar- benar didimbing pada saat melaksanakan prakerin, mulai dari pembekalan, monitoring pelaksanaan, dan evaluasi. Selain itu terdapat pula pembelajaran kewirausahaan memiliki peran penting dalam memberikan bekal dasar pengetahuan dalam berwirausaha. Oleh ka- rena itu sekolah diharapkan dapat mening- katkan kualitas pembelajaran, dari segi guru,

(14)

materi, kurikulum, sarana pembelajaran.

Lebih baik guru lebih sering memberikan gambaran, motivasi, yang merangsang ter- bentuknya pemikiran pada siswa untuk terjun ke dunia wirausaha dan tidak hanya berfokus sebagai pencari kerja. Kemudian lebih baik jika pembelajaran lebih menekankan kegiat- an praktikum, agar siswa mendapatkan ba- nyak bekal ilmu ataupun keterampilan. Guru juga harus lebih sering lagi menantau kegiat- an prakerin siswa di DUDI. Pembelajaran

produktif di kelas lebih memperbanyak lagi keterampilan, sehingga pada saat siswa terjun ke dunia usaha sudah memiliki banyak keterampilan. Selain itu guru pelajaran pro- duktif maupun kewirausahaan seharusnya memiliki banyak pengetahuan dan penga- laman di bidang usaha, setidaknya pernah mengikuti diklat ataupun seminar kewira- usahaan.

DAFTAR RUJUKAN

Adakitanews. 3 Februari 2015. Tingginya Pengangguran di Nganjuk Belum Ter- pecahkan. (Online), (http://www.ada- kitanews.com/belum-teratasi-angka- pengangguran-di-nganjuk-tergolong- tinggi/), diakses 5 April 2017.

Badan Pusat Statistik. 2017. Pengangguran Terbuka Menurut Pendidikan Terting- gi yang Ditamatkan 1986 – 2017. (On- line), (https://www.bps.go.id/linkTa- belStatis/view/id/972), diakses 19 Sep- tember 2017.

Ghozali, Imam. 2016. Aplikasi Analisis Mul- tivariate Dengan Program IBM SPSS 23. Badan Penerbit Universitas Diponegoro: Semarang

Kasmir. 2007. Kewirausahaan. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Mopangga, Herwin. 2014. Faktor Determin- an Minat Wirausaha Mahasiswa Fakul- tas Ekonomi dan Bisnis Universitas Negeri Gorontalo. Trikonomika, (Onli- ne), 13 (1): 78-90, (http://reposito- ry.ung.ac.id/get/simlit/1/1017/1/Fak- tor-Determinan-Minat-Wirausaha-Ma- hasiswa-Fakultas-Ekonomi-dan-Bis- nis-Universitas-Negeri-Goronta- lo.pdf), diakses 10 Maret 2017.

Nitisusastro, M. 2012. Kewirausahaan dan Managemen Usaha Kecil. Bandung:

Alfabeta.

Nurbaya, Siti. 2012. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kesiapan Berwirausa- ha Siswa SMKN Barabai Kabupaten Hulu Sungai Tengah Kalimantan Selat- an. Jurnal Pendidikan Teknologi dan Kejuruan. (Online), (https://media.ne- liti.com/media/publications/163786- EN-none.pdf), diakses 25 Oktober 2017.

Rachmadi, Hari. 2015. Implementasi Model Pembelajaran Kewirausahaan Berbasis Kompetensi dan Pengalaman untuk Menciptakan Wirausaha Baru Pada Siswa SMK Yogyakarta. Jurnal Media Wisata, (Online), 13 (1): 204-2013, (http://amptajurnal.ac.id/in-

dex.php/MWS/article/down-

load/78/76), diakses 27 Februari 2016.

Ramadani, Ali Hasbi. 2015. Kontribusi Pe- ngetahuan Kewirausahaan, Prestasi Prakerin, Kompetensi Keahlian terha- dap Minat Berwirausaha dan Kesiapan Berwirausaha Siswa SMK Paket Ke- ahlian Teknik Pemesinan di Madura.

Jurnal Teknologi dan Kejuruan, (On- line), 38 (2): 119-120, (http://jour- nal.um.ac.id/index.php/teknologi- kejuruan/article/download-

/4959/1339), diakses 2 Maret 2017.

Rusdiana. 2014. Kewirausahaan Teori dan Praktik. Pustaka Setia: Bandung.

(15)

Santi, Maureen Evita. 2013. Pengaruh Pen- galaman Praktik Kerja Industri, Kom- petensi Keahlian, dan Intensitas Pen- didikan Kewirausahaan dalam Keluar- ga terhadap Kesiapan Berwirausaha.

Jurnal Pendidikan Humaniora, (On- line), 1 (2): 127-135, (http://journal.u- m.ac.id/index.php/jph/article/viewFi- le/4046/769), diakses 1 April 2017.

Sarjono, Haryadi, dan Julianita, Winda.

2013. SPSS vs LISREL, Sebuah Penga- ntar Aplikasi Untuk Riset. Salemba Empat: Jakarta.

Slamet, Franky, dkk. 2014. Dasar-Dasar Ke- wirausahaan: Teori dan Praktik. In- deks: Jakarta.

Sugiyono. 2016. Metode Penelitian Kuanti- tatif Kualitatif dan R&D. Bandung:

Alfabeta.

Suparyanto. 2013. Kewirausahaan Konsep dan Realita pada Usaha Kecil. Alfa- beta: Bandung.

Supraba, Sri dan Rahdiyanta, Dwi. 2013.

Kesiapan Berwirausaha Siswa SMK Kompetensi Teknik Komputer dan Jaringan di Gunungkidul. Jurnal Pen- didikan Vokasi, (Online), 3 (3): 347- 358, (http://download.portalgaruda.o- rg/article.php?article=162992&val=4- 38&title=KESIAPAN%20BERWIR- AUSAHA%20SISWA%20SMK%20 KOMPETENSI%20TEKNIK%20- KOMPUTER%20DAN%20JARIN- GAN%20DI%20GUNUNGKIDUL), diakses 9 Maret 2017.

Susanto. A.B. 2007. Leaderpreneurship Pen- dekatan Strategik Managemen dalam Kewirausahaan. Penerbit Erlangga: Ja- karta.

Referensi

Dokumen terkait

Setelah mengisi form tersebut maka karyawan tersebut akan mendapat training dari pelatih yang telah ditunjuk. Jika training selesai dilakukan maka pelatih akan memberikan

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh harapan terhadap munculnya gambaran implementasi kebijakan otonomi daerah bidang pendidikan khususnya dalam hal pelaksaanan atau implementasi

Saran Berdasarkan hasil implementasi Algoritma dan pengujian yang dilakukan pada sistem yang dibuat dalam penelitian ini ada beberapa saran yang dapat diajukan yaituL

Latar Belakang: Pertama kali dipublikasikan oleh Strubing pada tahun 1882 , Paroxysmal Nocturnal Hemoglobinuria (PNH) adalah suatu kelainan kronis didapat yang ditandai

Mulai edisi Mei 2014, jurnal ini akan dikelola oleh UMS-KAL (Universiti Malaysia Sabah – Kampus Labuan Antarabangsa) di Malaysia dan Laboratorium Sejarah dan Budaya, Fakultas

Dengan memanjatkan puji dan syukur kepada Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan Hidayah-Nya kepada Peneliti, sehingga penelitian yang berjudul: Problematika

penebangan IPK/ILS M PT Berau Coal telah memiliki Rencana Penebangan/ Bagan Kerja Izin Pemanfaatan Kayu Tahun 2017/2018 seluas ± 2.083 Ha pada Areal PKP2B PT Berau