Evaluasi Pelaksanaan Keselamatan dan Kesehatan Kerja Pada Tambang Bawah Tanah di CV. Bara Mitra Kencana Tanah
Kuning, Desa Batu Tanjung, Kecamatan Talawi, Kota Sawahlunto Provinsi Sumatera Barat
Oleh:
ELI GUSTINA 1310024427031
JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN YAYASAN MUHAMMAD YAMIN
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI INDUSTRI (STTIND) PADANG
2018
Evaluasi Pelaksanaan Keselamatan dan Kesehatan Kerja Pada Tambang Bawah Tanah di CV. Bara Mitra Kencana Tanah
Kuning, Desa Batu Tanjung, Kecamatan Talawi, Kota Sawahlunto Provinsi Sumatera Barat
Tugas Akhir
Untuk memenuhi sebagian persyaratan memperoleh gelar sarjana teknik pertambangan
Oleh:
ELI GUSTINA 1310024427031
JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN YAYASAN MUHAMMAD YAMIN
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI INDUSTRI (STTIND) PADANG
2018
HALAMAN PERSETUJUAN TUGAS AKHIR
EVALUASI PELAKSANAAN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA PADA TAMBANG BAWAH TANAH DI CV. BARA MITRA
KENCANA TANAH KUNING, DESA BATU TANJUNG, KECAMATAN TALAWI, KOTA SAWAHLUNTO
PROVINSI SUMATERA BARAT
Nama : Eli Gustina NPM : 1310024427031 Program Studi : Teknik Pertambangan
Padang, Februari 2018 Menyetujui :
Pembimbing I Pembimbing II
Ketua Program Studi Ketua STTIND Padang Dian Hadiansyah, MT.
NIDK. 881940017
Riam Marlina A.,ST.,MT.
NUP. 9910676467
Dr. Murad, MS.,MT.
NIDN. 007116308
Riko Ervil, MT.
NIDN. 1014057501
EVALUASI PELAKSANAAN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA PADA TAMBANG BAWAH TANAH DI CV. BARA MITRA
KENCANA TANAH KUNING DESA BATU TANJUNG, KECAMATAN TALAWI, KOTA SAWAHLUNTO
PROVINSI SUMATERA BARAT
Nama : Eli Gustina
NPM : 1310024427031
Pembimbing I : Dian Hadiansyah, MT Pembimbing II : Riam Marlina, MT
RINGKASAN
Berdasarkan pengamatan dan data dari tahun 2015-2017 di CV. Bara Mitra Kencana telah terjadi kecelakaan yang mengakibatkan cedera berat, kecelakaan ringan dan meninggal sebanyak 16 kasus. Di CV. Bara Mitra Kencana masih terdapat tindakan tidak aman dan kondisi tidak aman untuk itu perlu dilakukan penilaian dan evaluasi tentang pelaksanaan keselamatan dan kesehatan kerja untuk menciptakan kondisi aman, menghindari tindakan tidak aman dan pengawasan pada setiap kegiatan. Dalam melaksanakan kegiatan penambangan, sering terjadi kecelakaan. Untuk itu dilakukan analisis frequency rate dan severity rate pada CV. Bara Mitra Kencana tahun 2015-2017 dan analisis penyebab kecelakaan kerja di CV. Bara Mitra Kencana tahun 2015-2017. Pengumpulan data dengan melakukan wawancara terhadap karyawan maupun staf perusahaan dan diolah menggunakan metode statistik kecelakaan dan grafik. Statistik kecelakaan tambang berdasarkan Keputusan Menteri Pertambangan dan Energi No.
555.K/26/M.PE/1995 nilai frequency rate (FR) pada tahun 2015-2017 adalah 7,73; 5,51 dan 4,41 dan sedangkan nilai severity rate (SR) pada tahun 2015-2017 adalah 18,77; 9,93 dan 13.251,5. Persentase faktor penyebab kecelakaan yang ada di CV. Bara Mitra Kencana pada tahun 2015-2017 adalah tindakan tidak aman (unsafe action) sebesar 65% dan kondisi tidak aman (unsafe condition) sebesar 35%.
Kata kunci : Kecelakaan tambang, frequency rate, severity rate, unsafe action dan unsafe condition.
EVALUATION OF OCCUPATIONAL HEALTH AND SAFETY IN UNDERGROUND MINE IN CV. BARA MITRA KENCANA
TANAH KUNING BATU TANJUNG VILLAGE, TALAWI DISTRICT, SAWAHLUNTO CITY
WEST SUMATERA PROVINCE
Name : Eli Gustina
NPM : 1310024427031
Advisor I : Dian Hardiansyah, MT Advisor II : Riam Marlina, MT
ABSTRACT
Based on observations and data from the years 2015-2017 CV. Bara Mitra Kencana had been an accident that resulted in severe injuries, minor accident and died as many as 16 cases. In CV. Bara Mitra Kencana, there are still unsafe action and unsafe conditions necessary for the assessment and evaluation of the implementation of occupational safety and health to create secure conditions, to avoid unsafe actions and supervision of the operations. In carrying out mining activities, frequent accidents happened. Because of that was doing analysis of frequency rate and severity rate in the CV. Bara Mitra Kencana years 2015-2017 and the analysis of causes of accidents in the CV. Bara Mitra Kencana 2015-2017.
The collection of data through interviews with employees and staff of the company and processed using the method of accident happened statistics and graphs. Mine accident statistics based on the Ministry of Mines and Energy No.
555.K/26/M.PE/1995 value of frequency rate (FR) in 2015-2017 was 7.73, 5.51 and 4.41 and while the value of severity rate (SR) in 2015-2017 was 18.77, 9.93 and 13.251,5. The percentage of the causes of accidents in the CV. Bara Mitra Kencana in 2015-2017 was unsafe actions (unsafeaction) by 65% and unsafe conditions (unsafecondition) by 35%.
Keywords: mine accident, frequency rate, severity rate,, unsafe action and unsafe condition.
KATA PENGANTAR
Puji syukur Alhamdulillah penulis ucapkan kepada Allah SWT atas segala rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan tugas akhir yang berjudul “Evaluasi Pelaksanaan Keselamatan dan Kesehatan Kerja Pada Tambang Bawah Tanah di CV. Bara Mitra Kencana Tanah Kuning Desa Batu Tanjung, Kecamatan Talawi, Kota Sawahlunto Provinsi Sumatera Barat”. Skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk kelulusan dalam menyelesaikan jenjang perkuliahan Strata I Teknik Pertambangan Sekolah Tinggi Teknologi Industri (STTIND) Padang.
Rasa cinta dan bangga penulis persembahkan kepada Ayahanda, Ibunda, serta adik-adik tercinta atas do’a dan semangat yang diberikan sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.
Ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya juga penulis sampaikan kepada :
1. Orang tua dari penulis yang telah memberikan bantuan yang tidak dapat penulis katakan, baik dari segi moril ataupun materil dalam mendukung penyelesaian skripsi ini.
2. Bapak H. Riko Ervil, MT selaku Ketua Sekolah Tinggi Teknologi (STTIND) Padang.
3. Bapak Dian Hadiansyah, MT. selaku Dosen Pembimbing 1 dalam penulisan skripsi ini.
4. Ibu Riam Marlina, MT. selaku Dosen Pembimbing 2 dalam penulisan skripsi ini.
5. Staff dan karyawan CV. Bara Mitra Kencana yang telah membantu dalam melakukan penelitian ini.
6. Teman-teman mahasiswa Teknik Pertambangan Sekolah Tinggi Teknologi Industri (STTIND) Padang yang telah banyak membantu dalam penyelesaian skripsi ini.
Semoga Allah SWT memberikan balasan atas segala kebaikan dengan pahala yang berlipat ganda. Penulis sadar bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna. Untuk itu penulis mengharapkan kritik dan saran demi peningkatan di masa depan. Semoga skripsi ini dapat memberikan manfaat bagi kemajuan ilmu pengetahuan dan masyarakat luas pada umumnya.
Padang, Januari 2018
Penulis
DAFTAR ISI
Halaman
KATA PENGANTAR... ... i
DAFTAR ISI... iii
DAFTAR TABEL... iv
DAFTAR GAMBAR... v
DAFTAR LAMPIRAN... x
BAB I. PENDAHULUAN... ... 1
1.1 Latar Belakang... 1
1.2 Identifikasi Masalah... 2
1.3 Batasan Masalah... 3
1.4 Rumusan Masalah... 3
1.5 Tujuan Penelitian... 3
1.6 Manfaat Penelitian... 4
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA... 5
2.1 Tinjauan Umum Tempat Penelitian... 5
2.1.1 Perizinan... 6
2.1.2 Struktur Organisasi... 8
2.1.3 Data Karyawan... 8
2.1.4 Lokasi dan Kesampaian Daerah... 8
2.1.5 Curah Hujan... 9
2.1.6 Geologi Daerah Penellitian... 10
2.1.7 Aktifitas Dasar Penambangan... 15
2.2 Landasan Teori... 15
2.2.1 Kecelakaan Kerja... 15
2.2.2 Faktor Utama Penyebab Terjadinya Kecelakaan... 17
2.2.3 Statistik Kecelakaan Tambang Berdasarkan Keputusan Menteri Pertambangan dan Energi... 21
2.2.4 Metoda Penngambilan Sampel... 24
2.2.5 Keselamatan dan Kesehatan Kerja... 27
2.3 Kerangka Konseptual... 40
BAB III. METODOLOGI PENELITIAN... 42
3.1 Jenis Penelitian... 42
3.2 Tempat dan Waktu Penelitian... 42
3.2.1 Tempat Penelitian... 42
3.2.2 WaktuPenelitian... 42
3.2 Populasi dan Sampel... 43
3.3.1 Populasi... 43
3.3.2 Sampel... 43
3.3 Jenis dan Sumber Data... 43
3.4.1 Jenis Data... 43
3.4.2 Sumber Data... 44
3.5 Teknik Pengumpulan Data... 44
3.6 Teknik Pengolahan Data dan Analisis Data... 45
3.6.1 Teknik Pengolahan Data... 45
3.6.2 Analisis Data... 45
3.7 Kerangka Metodologi... 46
BAB IV. PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA... 48
4.1 Pengumpulan Data... 48
4.1.1 Data Primer... 48
4.1.2 Data Sekunder... 48
4.2 Pengolahan Data... 50
4.2.1 Frequency Rate dan Severity Rate... 50
4.2.2 Faktor-faktor Penyebab Kecelakaan... 54
BAB V. ANALISIS HASIL PENGOLAHAN DATA... 64
5.1 Analisis Data Wawancara... 64
5.2 Penyebab Kecelakaan... 64
5.3 Analisis Nilai Frequency Rate (FR) dan Severity Rate (SR)... 65
5.3.1 Nilai Frequency Rate (FR) ... 65
5.3.2 Nilai Severity Rate (SR)... 65
5.4 Analisis Faktor Penyebab Kecelakaan... 65
BAB VI. PENUTUP... 72
6.1 Kesimpulan... 72
6.2 Saran... 72 DAFTAR KEPUSTAKAAN
LEMBAR KONSULTASI
DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel 1.1 Jumlah kecelakaan dari tahun 2015-2017 ... 1
Tabel 2.1 Jumlah Karyawan di CV. Bara Mitra Kencana ... 8
Tabel 2.2 Data Curah Hujan Tahun 2016 CV. Bara Mitra Kencana ... 10
Tabel 2.3 Pengelompokan Geologi Talawi Berdasarkan Kompleksitas Geologi (CV.Bara Mitra Kencana) ... 12
Tabel 4.1 Jumlah Hari Hilang ... 49
Tabel 4.2 Perbandingan Frequency Rate dan Severity Rate Tahun 2015 – 2017 52 Tabel 4.3 Berdasarkan Tingkat Pendidikan ... 54
Tabel 4.4 Berdasarkan Usia ... 55
Tabel 4.5 Berdasarkan Jabatan...56
Tabel 4.6 Berdasarkan Jenis Kelamin ... 56
Tabel 4.7 Tingkat Kecelakaan Kerja responden 1 ... 57
Tabel 4.8 Tingkat Kecelakaan Kerja responden 2 ... 57
Tabel 4.9 Tingkat Kecelakaan Kerja responden 3 ... 58
Tabel 4.10 Tingkat Kecelakaan Kerja responden 4 ... 59
Tabel 4.11 Tingkat Kecelakaan Kerja responden 5 ... 59
Tabel 4.12 Tingkat Kecelakaan Kerja responden 6 ... 60
Tabel 4.13 Tingkat Kecelakaan Kerja responden 7 ... 61
Tabel 4.14 Tingkat Kecelakaan Kerja responden 8 ... 61
Tabel 4.15 Tingkat Kecelakaan Kerja responden 9 ... 62
Tabel 4.16 Tingkat Kecelakaan Kerja responden 10 ... ..63
Tabel 4.17 Tingkat Kecelakaan Kerja responden keseluruhan ... ..63
Tabel 5.1 Perbandingan Penyebab Kecelakaan Kerja Tahun 2015 - 2017 ... ..58 vi
DAFTAR GAMBAR
Halaman
Gambar 2.1 Peta Permohonan Perpanjangan CV.Bara Mitra Kencana.. ... 6
Gambar 2.2 Peta Kesampaian Daerah ... 8
Gambar 2.3 Formasi Batuan Pada Cekungan Ombilin ... 13
Gambar 2.4 Helm Pengaman (safety helmet) ... 31
Gambar 2.5 Rompi Reflektor (Safety vest)... 32
Gambar 2.6 Sepatu Pengaman (Safety shoes) ... 32
Gambar 2.7 Kacamata Pengaman (Safety goggles / glasses) ... 33
Gambar 2.8 Masker Respirator (Safety masker)... 34
Gambar 2.9 Sarung Tangan Pengaman (Safety gloves) ... 34
Gambar 2.10 Pengaman Telinga (Ear plugs) ... 35
Gambar 2.11 Lampu Kepala ... 36
Gambar 2.12 Self Rescue ... 36
Gambar 2.13 Sepatu Boot (Safety boot) ... 37
Gambar 2.14 Tali Pengaman (Safety harness) ... 37
Gambar 2.15 Sabuk Pengaman (Safety bel) ... 38
Gambar 2.16 Jas Hujan (Raincoat) ... 38
Gambar 2.17 Pelindung Wajah (Face shield) ... 39
Gambar 2.18 Pelampung (Lifevest) ... 39
Gambar 2.19 Kerangka konseptual ... 40
Gambar 3.1 Kerangka metodologi ... 48
viii
Gambar 4.1 Grafik Perbandingan Frequency Rate dan Severity Rate Tahun
2015 – 2017 ... 52
Gambar 4.2 Diagram Persentase Sampel Berdasarkan Tingkat Pendidikan.. 54
Gambar 4.3 Diagram Persentase Sampel Berdasarkan Usia... 55
Gambar 4.4 Diagram Persentase Sampel Berdasarkan Jabatan/ Profesi ... 56
Gambar 4.5 Grafik Presentasi Tingkat Kecelakaan Kerja Responden 1... 57
Gambar 4.6 Grafik Presentasi Tingkat Kecelakaan Kerja Responden 2... 57
Gambar 4.7 Grafik Presentasi Tingkat Kecelakaan Kerja Responden 3... 58
Gambar 4.8 Grafik Presentasi Tingkat Kecelakaan Kerja Responden 4... 58
Gambar 4.9 Grafik Presentasi Tingkat Kecelakaan Kerja Responden 5... 59
Gambar 4.10 Grafik Presentasi Tingkat Kecelakaan Kerja Responden 6... 59
Gambar 4.11 Grafik Presentasi Tingkat Kecelakaan Kerja Responden 7... 60
Gambar 4.12 Grafik Presentasi Tingkat Kecelakaan Kerja Responden 8... 60
Gambar 4.13 Grafik Presentasi Tingkat Kecelakaan Kerja Responden 9... 61
Gambar 4.14 Grafik Presentasi Tingkat Kecelakaan Kerja Responden 10... 61
Gambar 4.15 Grafik Presentasi Tingkat Kecelakaan Kerja Responden Keseluruhan... 62
Gambar 5.1 Diagram Perbandingan Penyebab Kecelakaan Kerja Tahun 2015- 2017... 65
Gambar 5.2 Grafik Persentase Tindakan Tidak Aman (Unsafe Action) yang Terjadi Tahun 2015-2017... 65
Gambar 5.3 Grafik Persentase Kondisi Tidak Aman (Unsafe Condition) yang Terjadi Tahun 2015-2017... 66
Gambar 5.3 Grafik Persentase Tindakan Tidak Aman (Unsafe Action) dan Kondisi Tidak Aman (Unsafe Condition) Tahun 2015-
2017... 66
DAFTAR LAMPIRAN
Halaman
Lampiran 1. Peraturan Menteri ... 91
Lampiran 2. Gambar dan Peta ... 107
Lampiran 3. Struktur Organnisasi ... 114
Lampiran 4. Foto Penelitian ... 115
Lampiran 5. Lembar Wawancara ... 118
Lampiran 6.Data Kecelakaan Tahun 2015-2017 ... 124
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
CV. Bara Mitra Kencana merupakan salah satu perusahaan yang melakukan kegiatan penambangan batubara bawah tanah. Metode tambang bawah tanah sangat rentan terhadap resiko kecelakaan. Kurang memadainya alat pelindung diri yang disediakan oleh perusahaan menjadi salah satu penyebab terjadinya kecelakaan kerja. Selain itu kurangnya kesadaran para pekerja untuk menggunakan alat pelindung diri pada saat bekerja juga mengakibatkan kecelakaan.
Berdasarkan pengamatan dan data dari tahun 2015 sampai dengan tahun 2017 telah terjadi kecelakaan yang mengakibatkan cidera berat sebanyak 16 kasus, yang terdiri dari 11 kasus kecelakaan ringan, 3 kasus kecelakaan sedang dan 2 kecelakaan berat berakibat meninggal. Berikut data jumlah kecelakaan di CV. Bara Mitra Kencana terihat pada tabel 1.1 berikut:
Tabel 1.1
Data Jumlah Kecelakaan di CV. Bara Mitra Kencana tahun 2015-2017
Jenis Kecelakaan 2015 2016 2017
Ringan 6 kasus 3 kasus 2 kasus
Sedang 1 kasus 2 kasus -
Berat - - 2 kasus
Jumlah 7 kasus 5 kasus 4 kasus
Kecelakaan kerja disebabkan oleh dua faktor yaitu faktor manusia dan faktor lingkungan. Faktor manusia disebabkan oleh tindakan tidak aman seperti sengaja melanggar peraturan K3 yang diwajibkan, kurang terampilnya pekerja itu
sendiri dan kelelahan. Sedangkan faktor lingkungan disebabkan oleh kondisi tidak aman di lingkungan kerja seperti patahnya penyanggaan, ambrukan pada roof pada tambang bawah tanah, dan konsentrasi gas metan yang tinggi pada tambang bawah tanah.
Berdasarkan hasil pengamatan di lapangan dan data kecelakaan di atas, diketahui bahwa dalam pelaksanan kegiatan di CV. Bara Mitra Kencana masih terdapat tindakan tidak aman dan kondisi tidak aman untuk itu perlu dilakukan penilaian dan evaluasi tentang pelaksanaan keselamatan dan kesehatan kerja untuk menciptakan kondisi aman, menghindari tindakan tidak aman dan pengawasan pada setiap kegiatan dengan demikian resiko terhadap setiap unsur yang terlihat dalam kegiatan pertambangan bawah tanah di CV. Bara Mitra Kencana dapat diminimalkan.
Untuk itu Penulis tertarik membahas studi kasus dengan judul “Evaluasi Pelaksanaan Keselamatan dan Kesehatan Kerja Pada Tambang Bawah Tanah di CV. Bara Mitra Kencana Tanah Kuning Desa Batu Tanjung, Kecamatan Talawi, Kota Sawahlunto Provinsi Sumatera Barat”
1.2 Identifikasi Masalah
Identifikasi masalah pada penelitian ini antara lain:
1. Metoda tambang bawah tanah rentan terhadap resiko kecelakaan
2. Terdapat 16 kasus kecelakaan di CV. Bara Mitra Kencana pada tahun 2015- 2017
3. Kecelakaan disebabkan oleh tindakan tidak aman (unsafe action) dan kondisi tidak aman (unsafe condition).
1.3 Batasan Masalah
Batasan masalah pada penelitian ini adalah:
1. Pelaksanaan K3 di tambang bawah tanah CV. Bara Mitra Kencana.
2. Data penelitian diambil dalam rentang waktu 2015-2017.
1.4 Rumusan Masalah
Rumusan masalah pada penelitian ini adalah:
1. Berapakah persentase frequency rate dan severity rate pada CV. Bara Mitra Kencana tahun 2015-2017?
2. Apakah faktor yang menyebabkan terjadinya kecelakaan kerja di CV. Bara Mitra Kencana tahun 2015-2017?
1.5 Tujuan Penelitian
Tujuan pada penelitian ini adalah:
1 Melakukan analisis frequency rate dan severity rate pada CV. Bara Mitra Kencana tahun 2015-2017.
2 Melakukan analisis penyebab kecelakaan kerja di CV. Bara Mitra Kencana tahun 2015-2017.
1.6 Manfaat Penelitian
Setelah kegiatan penelitian ini dilakukan diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut:
1. Bagi Perusahaan
Sebagai informasi mengenai bagaimana keselamatan dan kesehatan kerja yang baik dan sesuai agar tidak membahayakan para pekerja tambang bawah tanah.
2. Bagi Penulis
Penulis dapat menerapkan ilmu yang didapatkan dibangku perkuliahan sehingga dapat diaplikasikan dalam bentuk nyata.
3. Bagi STTIND
Dengan dilakukannya penelitian ini diharapkan apa yang penulis tulis dapat bermanfaat dan menjadi panduan bagi mahasiswa jurusan teknik pertambangan STTIND selanjutnya.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Tinjauan Umum Tempat Penelitian
CV. Bara Mitra Kencana berdiri pada hari Selasa tanggal 19 Januari 2007.
Status lahan yang dimanfaatkan bagi rencana kegiatan penambangan batubara di Tanah Kuning Desa Batu Tanjung Kecamatan Talawi Kota Sawahlunto Provinsi Sumatera Barat, merupakan bekas tambang PT.BA-UPO yang telah diserahkan pengelolanya kepada pemerintahan daerah kota Sawahlunto.
Di atas lahan 49,61 Ha tersebut juga dibangun berbagai fasilitas penunjang kelancaran operasional kegiatan, baik berupa areal tertutup seperti basecamp, kantor, workshop (bengkel), maupun areal terbuka, jalan masuk tambang, overburden, dan kolam pengendap. Dari eksplorasi diketahui jumlah cadangan sumber daya batubara tereka pada lahan seluas 49,61 Ha mencapai 1.194.168 Ton.
Tenaga kerja yang dibutuhkan pelaksana kegiatan penambangan, selain memiliki kualifikasi yang memadai direkrut dari daerah lain juga dari masyarakat setempat. Sebagai konsekuensi dari sistem penambangan konvensional atau manual, maka dibutuhkan tenaga kerja penambangan total dalam jumlah 337 orang pekerja dan 60 orang staff. Pemanfaatan tenaga kerja sebanyak 337 orang berdasarkan target produksi 35.000 ton/tahun, dengan asumsi setiap 1 orang tenaga kerja akan dapat menghasilkan 1 ton batubara.
CV. Bara Mitra Kencana memiliki 15 lubang tambang. Penyediaan tenaga kerja tersebut sepenuhnya dikelola oleh CV. Bara Mitra Kencana, dengan mempriotaskan masyarakat sekitar. Sementara itu juga dibutuhkan 1 orang KTT,1 orang Wakil KTT, 5 orang operator, 17 orang driver itu direkrut dari daerah setempat. Namun jika tidak ada yang memenuhi persyaratan akan direkrut dari daerah lain.
Pada prinsipnya perekrutan masyarakat sebagai tenaga kerja tidak akan melakukan pendidikan khusus, karena pelaksanaan penambangan lebih bersifat konvensional dan tidak menggunakan teknologi modern. Untuk pelaksanaan penambangan yang sudah berjalan menggunakan berbagai peralatan dan kendaraan angkut diantaraya 4 unit Excavator, 6 unit Mobil Operasional,14 Dump Truck dan 1 unit Buldozer.
Untuk tahapan awal cara penambangan dilakukan perbandingan dengan kegiatan sejenis serta pengarahan, safety talk dari tenaga ahli ke tenaga rutin. CV.
Bara Mitra Kencana memiliki 9 tambang dalam. Pada areal terbuka bekas penggalian akan dilakukan kegiatan reklamasi yang telah direalisasi pada tahap eksploitasi ini meliputi penghijauan dengan menanam berbagai jenis-jenis tumbuhan yang bernilai ekonomis seperti mahoni, jati dan akasia. Aktifitas ini telah terlaksana seluas 4.1 Ha dari pelaksana penambangan.
2.1.1 Perizinan
Perizinan yang diperlukan oleh CV. Bara Mitra Kencana untuk melakukan kegiatan penambangan batubara adalah sebagai berikut:
1. Surat keputusan Gubernur Sumatera Barat nomor: 544-81-2017 tentang persetujuan perpanjangan kedua dan penciutan wilayah izin usaha pertambangan operasi produksi batubara kepada CV. Bara Mitra Kencana di Kota Sawahlunto Provinsi Sumatera Barat tanggal 20 Januari 2017.
2. Pemerintah Daerah Kota Sawahlunto dan Pemerintah Kecamatan Talawi.
Izin untuk pembuatan dan penggunaan jalan tambang selama aktivitas penambangan berlangsung.
3. Kepala Desa dan Kepala Adat
Izin dari Kepala Desa dan Kepala Adat yang diketahui dan disetujui oleh Camat setempat untuk penggunaan dan perawatan jalan desa yang akan dijadikan jalan tambang.
Sumber:Dokumentasi CV.BMK 2017
Gambar 2.1. Peta Permohonan Perpanjangan CV.Bara Mitra Kencana
2.1.2 Struktur Organisasi
CV. Bara Mitra Kencana dalam menjalankan dan mencapai tujuannya dipimpin oleh seorang Direktur Utama dan dibantu oleh Wakil Direktur.
Pembagian Struktur Organisasi perusahaan dibentuk berdasarkan pada fungsi- fungsi yang diperlukan pada suatu organisasi perusahaan tambang pada umumnya. Dimana tiap-tiap fungsi adalah satu kesatuan yang terkoordinasi dalam usaha mencapai tujuan perusahaan. Masing-masing divisi didukung oleh setiap departemen yang membawahi beberapa bagian dapat dilihat pada lampiran.
2.1.3 Data Karyawan
Karyawan yang bekerja di CV. Bara Mitra Kencana yang berjumlah 337 orang terdiri dari anggota stockpile, orang staff, karyawan kantor, karyawan K3, operator, driver, KTT, karyawan bagian listrik dan karyawan bagian mekanik terlihat pada tabel 2.1:
Tabel 2.1
Jumlah Karyawan CV. Bara Mitra Kencana
No Jabatan/ Profesi Jumlah
1. Staff 60 orang
2. Operator 5 orang
3. Driver 17 orang
4. KTT 1 orang
5. Karyawan bawah tanah & stockpile 229 orang
6. Karyawan kantor 20 orang
7. Karyawan K3 5 orang
Jumlah 337 orang
Sumber: CV. Bara Mitra Kencana 2.1.4 Lokasi dan Kesampaian Daerah
Wilayah IUP. OP CV. Bara Mitra Kencana seluas 49,61 hektar dan secara geografis daerah penambangan tersebut terletak pada koordinat 100º47’18,39”–
100º46’48,10” Bujur Timur (BT) dan 00o36’58,22”–00o36’58,36” Lintang Selatan
(LS). Secara administratif tersebut terletak di Tanah Kuning Desa Batu Tanjung KecamatanTalawi Kota Sawahlunto Provinsi Sumatera Barat.
Lokasi tambang tersebut dapat dicapai dengan menggunakan kendaraan roda empat dari Padang jarak tempuh + 117 Km ke Kota Sawahlunto serta menuju ke lokasi tambang dengan jarak tempuh +6 Km selebihnya +3 Km merupakan jalan tambang yang akan digunakan untuk menunjang kelancaran kegiatan operasional penambangan.
Sumber:Dokumentasi CV.BMK
Gambar 2.2. Peta Kesampaian Daerah 2.1.5 Curah Hujan
Pada dasarnya, iklim bukan komponen lingkungan yang terkena dampak, tetapi faktor yang memperbesar intensitas dampak seperti erosi lahan dan
kestabilan lahan atau kekeruhan badan air. Diantara faktor iklim yang perlu dikemukakan adalah curah hujan. Sebagaimana wilayah kota sawahlunto pada umumnya, curah hujan tahunan wilayah studi selama 2014 mencapai 2017,5 mm dan dengan jumlah hari hujan 157 hari. Kompilasi dari hasil penakaran curah hujan selama 2014 yang dimaksud, dapat dilihat pada Tabel di bawah ini.
Tabel 2.2
Data Curah Hujan Tahun 2016 CV. Bara Mitra Kencana NO Bulan Penakaran Curah Hujan
(mm) Hari hujan Temperatur rata-rata
1. Januari 48,50 12 27,23 ° c
2. Februari 89,00 10 28,88 ° c
3. Maret 129,00 13 29,71 ° c
4. April 247,00 15 29,46 ° c
5. Mei 68,50 6 30,57 ° c
6. Juni 129,50 9 30,17 ° c
7. Juli 51,00 7 28,52 ° c
8. Agustus 147,50 15 28,20 ° c
9. September 170,50 12 30,12 ° c
10. Oktober 308,50 18 30,07 ° c
11. November 266,00 16 29,42 ° c
12 Desember 363,50 24 28,04 ° c
Total 2017,5 157
Sumber:BMKG
Sesuai dengan posisi geografis pada bagian timur pantai barat propinsi Sumatera Barat, maka wilayah kegiatan tambang batubara memiliki iklim tropis sangat basah dengan curah hujan cukup tinggi sepanjang tahun.
2.1.6 Geologi Daerah Penelitian
Pengelompokan geologi suatu daerah ada beberapa hal yang harus diperhatikan yaitu aspek tektonik atau gaya-gaya lateral yang berkembang, aspek sedimentasi karena Batubara merupakan endapan sedimenter, dan variasi kualitas Batubara menyangkut keekonomisan bahan galian tersebut.
Dari ketiga aspek ini aspek-aspek mana yang berpengaruh paling dominan pada daerah telitian, dasar inilah yang digunakan untuk mengelompokkan kondisi geologis suatu daerah berdasarkan kompleksitas geologisnya. Untuk daerah Talawi disajikan dalam tabel dibawah ini.
Tabel 2.3
Pengelompokan Geologi Talawi Berdasarkan Kompleksitas Geologi (CV.Bara Mitra Kencana)
No Parameter Kondisi Geologi
Sederhana Moderat Komplek
1. Sesar Hampir tidak ada Jarang Rapat
2. Lipatan Hampir tidak terlipat
Terlipat sedang Terlipat kuat 3. Intrusi Tidak berpengaruh Berpengaruh Sangat
berpengaruh
4. Kemiringan Landai Sedang Terjal
II Aspek Sedimentasi 1. Variasi
Ketebalan
X < 10 % 10 % < x < 50
%
X > 50 % 2. Kesinambungan Ribuan meter Ratusan meter Puluhan meter 3. Percabangan Hampir tidak ada Beberapa Banyak III Variasi
Kualitas
Sedikit bervariasi Bervariasi Sangat bervariasi Sumber : CV. Bara Mitra Kencana
Menurut tabel diatas kompleksitas geologi daerah Talawi pada lapisan sedimen pembawa batubara termasuk dalam kriteria geologi sederhana, sehingga perhitungan sumberdaya batubara terukur dari titik informasi (singkapan dan lubang tambang yang sudah ada ditahun sebelumnya).
2.1.6.1 Morfologi
Daerah telitian topografinya bergelombang-bergelombang kuat dengan pola aliran dendritik berstadia muda menuju dewasa. Bentuk morfologi ini selain dikontrol oleh struktur geologi juga dikontrol oleh jenis batuan yang menyangkut sifat kekerasan.
2.1.6.2 Stratigrafi
Secara Regional stratigrafi daerah Sawahlunto menurut PH Silitonga dan Kostowo (1995) dapat dibagi menjadi bagian utama, yaitu komplek batuan Pra- Tertier dan komplek batuan Tertier.
a. Komplek batuan Pra-Tertier terdiri dari:
1) Formasi Silungkang
Secara statigrafi formasi ini masih dapat dibedakan menjadi empat batuan yaitu: batuan Lava Andesit, batuan Lava Basalt, batuan Tufa Andesit dan batuan Tufa Basalt. Umur dari formasi ini diperkirakan Perm sampai Trias.
2) Formasi Tuhur
Formasi ini dicirikan oleh Lempung abu–abu kehitaman, berlapis baik, dengan sisipan–sisipan batupasir dan batugamping. Diperkirakan formasi ini berumur Trias.
b. Komplek batuan Tertier terdiri dari:
1) Formasi Sangkarewang
Nama formasi ini pertama kali diusulkan oleh Kostowo dan Silitonga pada 1975. Formasi ini terutama terdiri dari serpih gampingan sampai napal bewarna coklat kehitaman,berlapis halus dan mengandung fosil ikan serta tumbuhan.
Formasi ini diperkirakan berumur Eosen-Oligosen.
2) Formasi Sawahlunto
Formasi ini merupakan formasi yang paling penting karena mengandung lapisan batubara. Formasi ini dicirikan oleh batu lanau, batu lempung dan
batubara yang berselingan satu sama lain. Di perkirakan formasi ini berumur Oligosen.
3) Fomasi Sawah Tambang
Bagian bawah dari formasi ini dicirikan dari beberapa siklus endapan yang terdiri dari beberapa siklus endapan yang terdiri dari batu pasir konglomerat, batu lanau, dan batu lempung. Bagian atas pada umumnya didominasi oleh batu pasir konglomeratan tanpa adanya sisipan lempung atau batu lanau. Umur dari formasi ini diperkirakan lebih tua dari Miosen bawah.
4) Formasi Ombilin
Formasi ini terdiri dari lempung gampingan yang bewarna abu-abu kehitaman. Berlapis tipis dan mengandung fosil. Umur dari formasi ini diperkirakan Miosen bawah. Lokasi CV. Bara Mitra Kencana itu berada pada formasi ombilin.
5) Formasi Ranau
Satuan ini terdiri dari Tufa batu apung bewarna abu-abu kehitaman. Umur dari formasi ini diperkirakan Pleitosen.
2.1.6.3 Geologi Struktur
Daerah telitian secara regional menurut P.H. Silitonga dan Kastowo (1995) merupakan sayap lipatan berarah Barat Daya-Timur Laut dengan kemiringan 80–130, kedudukan lapisan Batubara relatif Timur-Barat.
Sumber : CV. Bara Mitra Kencana
Gambar 2.3 Formasi Batuan pada Cekungan Ombilin
2.1.7 Aktifitas Dasar Penambangan
Sistem penambangan pada CV. Bara Mitra Kencana adalah tambang bawah tanah dengan metode Room and Pillar. Metode penambangan room and pillar merupakan suatu sistem penambangan bawah tanah untuk endapan batubara, dengan bentuk blok-blok persegi.
Batubara diperoleh pada face dengan bantuan alat jack hammer/breaker.
Alat ini merupakan alat semi mekanis untuk memecahkan batubara dengan menggunakan tenaga listrik. Setelah batubara dipecahkan kemudian batubara dimuat kedalam lori yang ditarik dengan sistem hoist dengan kapasitas lori 1,2 Ton. Batubara yang dimuat dengan lori kemudian ditumpahkan kedalam Colt Diesel Tipe Canter 120 dengan kapasitas 8 Ton dan dibawa menuju stockpile.
Pasokan udara segar menuju kedalam tambang dibantu dengan blower Tipe E.X dengan kecepatan 2.800 R/menit.
Penyangga yang digunakan oleh CV.Bara Mitra Kencana menggunakan penyangga kayu dan penyangga beton dibagian mine entry. Untuk penyangga kayu menerapkan sistem Three Piece Sets yang dilengkapi dengan stupling dibagian atas.
2.2 Landasan Teori 2.2.1 Kecelakaan Tambang
Menurut KEPMEN 555.k/26/M.PE/1995 pasal 39 tentang kecelakaan tambang dan kejadian berbahaya adalah:
a. Benar-benar terjadi.
b. Mengakibatkan cedera pekerja tambang atau orang yang diberi izin oleh kepala teknik tambang.
c. Akibat kegiatan usaha pertambangan.
d. Terjadi pada jam kerja tambang.
e. Terjadi didalam wilayah kegiatan usaha pertambangan.
Sedangkan penggolongan cedera akibat kerja tambang sebagai berikut:
Menurut KEPMEN 555.k/26/M.PE/1995 Pasal 40 penggolongan cedera akibat kecelakaan tambang:
a. Cedera ringan
Menyebabkan pekerja tambang tidak mampu melakukan tugas semula lebih dari 1 hari dan kurang dari 3 minggu.
b. Cedera berat
1) Cedera akibat kecelakaan tambang yang menyebabkan pekerja tambang tidak mampu melakukan tugas semula selama lebih dari 3 minggu.
2) Cedera akibat kecelakaan tambang yang menyebabkan pekerja tambang cacat tetap (invalid) yang tidak mampu menjalankan tugas semula.
3) Cedera akibat kecelakaan tambang, tidak tergantung dari lamanya pekerja tambang tidak mampu melakukan tugas semula tetapi mengalami cedera seperti keretakan tengkorak, pendarahan didalam, pingsan akibat kekurangan oksigen.
c. Mati
Kecelakaan tambang yang mengakibatkan pekerja tambang mati dalam waktu 24 jam terhitung dari waktu terjadi kecelakaan.
2.2.2 Faktor Utama Penyebab Terjadinya Kecelakaan 1. Tindakan Tidak Aman (Unsafe Action)
Tindakan tidak aman adalah tindakan yang melanggar/tidak sesuai dengan prosedur/tatacara kerja yang aman dan berpeluang mengakibatkan terjadinya kecelakaan. Perbuatan tidak aman (unsafe actions) yaitu perbuatan berbahaya dan manusia yang dalam beberapa hal dapat dilatarbelakangi antara lain oleh faktor- faktor sebagai berikut:
2. Keterampilan (kurangnya pengetahuan/ lack of knowledge and skill) 3. Cacat tubuh tidak kentara (bodily defect)
4. Keletihan dan kelesuan (fatigue and boredom) 5. Sikap dan tingkah laku yang tidak aman Penyebab Unsafe Action adalah:
a. Terburu-buru atau tergesa-gesa dalam melakukan pekerjaan
Tindakan terburu-buru dalam melakukan pekerjaan akan menyebabkan pekerja tidak refleksi terhadap situasi yang datangnya tiba-tiba.
b. Tidak menggunakan pelindung diri yang disediakan
Pekerja tertentu, mengharuskan pekerja menggunakan peralatan keselamatan kerja. Perakatan keselamatan kerja dirancang untuk melindungi pekerja dari bahaya yang diakibatkan dari pekerjaan yang baru dilaksanakan.
c. Sengaja melanggar peraturan keselamatan yang diwajibkan
Karena tidak mau repot dalam belerja, orang kadang melakukan hal-hal yang tidak mencerminkan tindakan yang selamat. Sebagai contoh, pekerja malas mengambil topeng las di rak keselamatan kerja, langsung mengelas tanpa pelindung mata. Tanpa diduga, ada percikan api las yang mengenai mata. Setelah dilakukan pengobatan, ternyara besarnya biaya pengobatan tidak sebanding dengan beberapa detik mengambil peralatan keselamatan kerja.
d. Berkelakar/bergurau dalam bekerja dan sebagainya
Karakter sesorang yang suka bermain-main dalam bekerja, bisa menjadi salah satu penyebab terjadinya angka kecelakaan kerja. Demikian juga dalam bekerja sering tergesa-gesa dan sembrono juga bisa menyebabkan kecelakaan kerja. Oleh karena itu, dalam setiap melakukan pekerjaan sebaiknya dilaksanakan dengan cermat, teliti, dan hati-hati agar keselamatan kerja selalu bisa terwujud. Terlebih lagi untuk pekerjaan yang menuntut adanya ketelitian, kesabaran dan kecermatan, tidak bisa dilaksanakan dengan bekerja sambil bermain.
e. Ketidaktahuan
Dalam menjalankan mesin-mesin dan peralatan otomotif diperlukan pengetahuan yang cukup oleh teknisi. Apabila tidak maka dapat menjadi penyebab kecelkaan kerja. Pengetahuan dari operator dalam menjalankan peralatan kerja, memahami karakter dari masing-masing mesin dan
sebagainya, menjadi hal yang sangat penting, mengingat apabila hal tersebut asal-asalan, maka akan membahayakan peralatan dan manusia itu sendiri.
f. Kemampuan yang kurang
Tingkat pendidikan teknisi otomatik sangat dibutuhkan untuk proses produksi dan proses maintenance atau peralatan. Orang yang memiliki kemampuan tinggi biasanya akan bekerja dengan lebih baik serta memperhatikan faktor keselamatan kerja pada pekerjaannya. Oleh sebab itu, utnuk selalu mengasah kemampuan akan menjadi lebih baik (Wulandari, 2004).
2. Kondisi Tidak Aman (Unsafe Condition)
Unsafe condition berkaitan erat dengan kondisi lingkungan kerja yang dapat menyebabkan terjadinya kecelakaan. Banyak ditemukan bahwa penyebab terciptanya kondisi tidak aman ini karena kurang ergonomis.
Penyebab Kondisi Tidak Aman (Unsafe Condition):
a. Tempat kerja yang tidak layak
1. Mesin-mesin yang rusak tidak diberi pengamanan, konstruksi kurang aman, bising dan alat-alat kerja yang kurang baik dan rusak.
2. Lingkungan kerja yang tidak aman bagi manusia (becek atau licin, ventilasi atau pertukaran udara, bising atau suara-suara keras, suhu tempat kerja, tata ruang kerja/kebersihan dan lain-lain).
3. Jika tempat kerja tidak memenuhi persyaratan yang telah ditentukan, maka kecelakaan kerja sangat mungkin terjadi.
b. Kondisi peralatan yang berbahaya
Mesin-mesin dan peralatan kerja pada dasarnya mengandung bahaya dan menjadi sumber terjadinya kecelakaan kerja. Misalnya karena mesin atau peralatan yang berputar, bergerak, bergesekan, bergerak bolak-balik, belt atau sabuk yang berjalan, roda gigi yang bergerak, transmisi serta peralatan lainnya.
Oleh karena itu, mesin dan peralatan yang potensial menyebabkan kecelakaan kerja harus diberi pelindung agar tidak membahayakan operator atau manusia.
Pada umumnya, sesuai dengan kesepakatan arah ahli keselamatan kerja, dikenal empat hal pokok dalam anatomi kecelakaan kerja yakni penyebab langsung, penyebab penunjang, kecelakaan dan akibat kecelakaan (Wulandari, 2004).
Faktor lain penyebab kecelakaan tambang adalah sebagai berikut:
a. Faktor lingkungan
Faktor ini berkaitan dengan kondisi di tempat kerja, yang meliputi:
1) Keadaan lingkungan kerja 2) Kondisi proses produksi b. Faktor alat kerja
Di mana bahaya yang ada dapat bersumber dari peralatan dan bangunan tempat kerja yang salah dirancang atau salah pada saat pembuatan serta terjadinya kerusakan-kerusakan yang diakibatkan oleh seorang perancang. Selain itu, kecelakaan juga bisa disebabkan oleh bahan baku produksi yang tidak sesuai dengan spesifikasi yang ditetapkan, kesalahan dalam penyimpanan, pengangkutan dan penggunaan.
c. Faktor manusia
Faktor ini berkaitan dengan perilaku tindakan manusia di dalam melakukan pekerjaan, meliputi:
1) Kurang pengetahuan dan keterampilan dalam bidang pekerjaannya maupun dalam bidang keselamatan kerja.
2) Kurang mampu secara fisik dan mental.
3) Kurang motivasi kerja dan kurang kesadaran akan keselamatan kerja.
4) Tidak memahami dan menaati prosedur kerja secara aman.
Bahaya yang ada bersumber dari faktor manusianya sendiri dan sebagian besar disebabkan tidak menaati prosedur kerja.
2.2.3 Statistik Kecelakaan Tambang Berdasarkan Keputusan Menteri Pertambangan dan Energi No. 555.K/26/M.PE/1995
Statistik kecelakaan akibat kerja meliputi kecelakaan yang dikarenakan oleh atau diderita pada waktu menjalankan pekerjaan, yang berakibat kematian, atau kelainan-kelainan, dan meliputi penyakit-penyakit akibat kerja. Selain itu, statistik kecelakaan industri dapat pula mencakup kecelakaan yang dialami tenaga kerja selama dalam perjalanan ke atau dari perusahaan.
Berdasarkan SNI 13-6618-2001, tingkat kekerapan (Frequency Rate-FR) dan tingkat keparahan (Severity Rate-SR) dari cedera aakibat kecelakaan tambang diperlukan sebagai salah satu alat untuk menilai kinerja pengolahan K3 di suatu usaha pertambaangan umum. Penghitungan tingkat kekerapan dan tingkat kepaaraahan saampai saat ini belum seragam oleh karena itu metode penghitungan
tingkat kekerapaan dan tingkat keparahan akibat kerja di pertambangan umum perlu distandarkan.
1. Pengertian Frequency Rate (FR) dan Severity Rate (SR)
Frequency Rate (Maradona, 2011) merupakan perhitungan yang bermanfaat pada setiap organisasi karena mengukur jumlah injury yang terjadi akibat kecelakaan di tempat kerja dibandingkan dengan total kerja. Nilai sangat fleksibel dan dapat digunakan untuk mengukur berbagai tipe kecelakaan pada populasi besar. Severity Rate merupakan perhitungan untuk mengetahui tingkat keparahan dari suatu kecelakaan yang terjadi. Severity Rate mengukur banyaknya hari yang hilang akibat injury. Namun, perhitungan ini tidak dapat mengungkapkan tingkat keparahan injury yang bersifat kronis, seperti hearing loss. Hal ini disebabkan karena keduanya tidak akan menyebabkan ketidakhadiran pekerja yang signifikan karena gejalanya baru timbul dalam waktu lama. Satuan perhitungan untuk statistik adalah peristiwa kecelakaan, sehingga untuk seorang tenaga kerja yang menderita dua atau lebih kecelakaan dihitung banyaknya peristiwa kecelakaan tersebut. Statistik-statistik khusus mungkin pula dikumpulkan mengenai jenis- jenis kecelakaan tertentu. Statistik mengenai hal-hal yang sama untuk tahun-tahun yang berlainan sangat berguna untuk menilai apakah kecelakaan-kecelakaan tersebut bertambah dan berkurang dan betapa efektif atau tidaknya usaha pencegahan. Statistik kecelakaan harus disusun atas dasar definisi yang seragam mengenai kecelakaan-kecelakaan dalam industri, dalam rangka tujuan pencegahan pada umumnya dan sebagai ukuran resiko-resiko kecelakaan pada khususnya.
Semua kecelakaan-kecelakaan yang didefinisikan demikian harus dilaporkan dan ditabulasikan secara seragam, yaitu:
1. Angka-angka frekuensi dan beratnya kecelakaan harus dikumpulkan atas dasar cara-cara seragam. Harus ada pembatasan-pembatasan seragam tentang kecelakaan, cara-cara seragam untuk mengukur waktu menghadapi resiko, dan cara-cara untuk menyatakan besarnya resiko.
2. Klasifikasi industri dan pekerjaan untuk keperluan statistik kecelakaan harus selalu seragam.
3. Klasifikasi kecelakaan menurut keadaan-keadaan terjadinya dan menurut sifat dan letak luka atau kelainan harus seragam, dan dasar-dasar yang dipakai untuk menetapkan kriteria pemikiran harus selalu sama.
2. Perhitungan Frequency Rate dan Severity Rate
Berdasarkan Pasal 47 statistik kecelakaan tambang sebagai berikut (Maradona, 2011):
1. Statistik kecelakaan tambang ditetapkan setiap tahun berdasarkan kekerapan dan keparahan kecelakaan yang terjadi pada pekerja tambang yang dihitung dari:
a. FR adalah Jumlah korban kecelakaan dibagi dengan jumlah jam kerja orang x 1.000.000
b. SR adalah Jumlah hari yang hilang dibagi dengan jumlah jam kerja orang x 1.000.000
2. Statistik kecelakaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), harus dikirimkan oleh Kepala Teknik Tambang kepada Kepala Pelaksana
Inspeksi Tambang selambat-lambatnya 1 (satu) bulan setelah setiap akhir tahun kalender.
Statistik kecelakaan tidak hanya semata-mata disusun untuk penelitian ke arah pencegahan kecelakaan. Sekalipun penelitian dimaksud adalah tujuan utamanya, tetapi statistik tersebut penting untuk memberi penjelasan kepada semua pihak yang bersangkutan tentang keadaaan keselamatan, agar memberikan peringatan tentang bahaya-bahaya yang dihadapi, membuat mereka agar waspada, dan memberikan perhatian yang cukup kepada tingkat kecelakaan dan kadang- kadang dirasa perlu untuk menyajikan data statistik tidak saja dalam bentuk angka-angka tetapi juga berupa gambar.
2.2.4 Metoda Pengambilan Sampel 2.2.4.1 Probability Sampling
Probability sampling adalah Metode pengambilan sampel secara random atau acak. Dengan cara pengambilan sampel ini. Seluruh anggota populasi diasumsikan memiliki kesempatan yang sama untuk terpilih menjadi sampel penelitian. Metode ini terbagi menjadi beberapa jenis yang lebih spesifik, antara lain:
1. Pengambilan Sampel Acak Sederhana (Simple Random Sampling) Metoda pengambilan sampel yang dilakukan adalah metoda simple random sampling. Simple random sampling adalah suatu tipe sampling probabilitas, di mana peneliti dalam memilih sampel dengan memberikan kesempatan yang sama kepada semua anggota populasi untuk ditetapkan sebagai anggota sampel. Dengan teknik semacam itu maka terpilihnya individu menjadi anggota sampel benar-
benar atas dasar faktor kesempatan (chance), dalam arti memiliki kesempatan yang sama, bukan karena adanya pertimbangan subjektif dari peneliti. Teknik ini merupakan teknik yang paling objektif, dibandingkan dengan teknik-teknik sampling yang lain.
2. Pengambilan Sampel Acak Sistematis (Systematic Random Sampling) Metode pengambilan sampel acak sistematis menggunakan interval dalam memilih sampel penelitian. Misalnya sebuah penelitian membutuhkan 10 sampel dari 100 orang, maka jumlah kelompok intervalnya 100/10=10. Selanjutnya responden dibagi ke dalam masing-masing kelompok lalu diambil secara acak tiap kelompok.
3. Pengambilan Sampel Acak Berstrata (Stratified Random Sampling) Metode Pengambilan sampel acak berstrata mengambil sampel berdasar tingkatan tertentu. Misalnya penelitian mengenai motivasi kerja pada manajer tingkat atas, manajer tingkat menengah dan manajer tingkat bawah. Proses pengacakan diambil dari masing-masing kelompok tersebut.
4. Pengambilan Sampel Acak Berdasar Area (Cluster Random Sampling) Cluster Sampling adalah teknik sampling secara berkelompok. Pengambilan sampel jenis ini dilakukan berdasar kelompok / area tertentu. Tujuan metode Cluster Random Sampling antara lain untuk meneliti tentang suatu hal pada bagian-bagian yang berbeda di dalam suatu instansi.
5. Teknik Pengambilan Sampel Acak Bertingkat (Multi Stage Sampling) Proses pengambilan sampel jenis ini dilakukan secara bertingkat. Baik itu bertingkat dua, tiga atau lebih.
2.2.4.2 Non- Probability Sampling / Non Random Sample 1. Purposive Sampling
Purposive Sampling adalah teknik sampling yang cukup sering digunakan.
Metode ini menggunakan kriteria yang telah dipilih oleh peneliti dalam memilih sampel. Kriteria pemilihan sampel terbagi menjadi kriteria inklusi dan eksklusi.
Kriteria inklusi merupakan kriteria sampel yang diinginkan peneliti berdasarkan tujuan penelitian. Sedangkan kriteria eksklusi merupakan kriteria khusus yang menyebabkan calon responden yang memenuhi kriteria inklusi harus dikeluarkan dari kelompok penelitian.
2. Snowball Sampling
Snowball Sampling adalah teknik pengambilan sampel berdasarkan wawancara atau korespondensi. Metode ini meminta informasi dari sampel pertama untuk mendapatkan sampel berikutnya, demikian secara terus menerus hingga seluruh kebutuhan sampel penelitian dapat terpenuhi. Metode pengambilan sampel Snowball atau bola salju ini sangat cocok untuk penelitian mengenai hal- hal yang sensitif dan membutuhkan privasi tingkat tinggi.
3. Accidental Sampling
Pada metode penentuan sampel tanpa sengaja (accidental) ini, peneliti mengambil sampel yang kebetulan ditemuinya pada saat itu. Penelitian ini cocok untuk meneliti jenis kasus penyakit langka yang sampelnya sulit didapatkan.
4. Quota Sampling
Metode pengambilan sampel ini disebut juga Quota Sampling. Teknik sampling ini mengambil jumlah sampel sebanyak jumlah yang telah ditentukan
oleh peneliti. Kelebihan metode ini yaitu praktis karena sampel penelitian sudah diketahui sebelumnya, sedangkan kekurangannya yaitu bias penelitian cukup tinggi jika menggunakan metode ini. Teknik pengambilan sampel dengan cara ini biasanya digunakan pada penelitian yang memiliki jumlah sampel terbatas.
5. Teknik Sampel Jenuh
Teknik Sampling Jenuh adalah teknik penentuan sampel yang menjadikan semua anggota populasi sebagai sampel. dengan syarat populasi yang ada kurang dari 30 orang.
2.2.5 Keselamatan dan Kesehatan Kerja
2.2.5.1 Tujuan Keselamatan dan Kesehatan Kerja
Tujuan keselamatan kerja diatur dalam Peraturan Menteri Ketenagakerjaan RI Nomor 12 Tahun 2015 tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja Listrik di Tempat Kerja adalah:
1. Melindungi tenaga kerja atas hak dan keselamatan kerjanya dalam melakukan pekerjaan.
2. Menjamin keselamatan setiap orang lain yang berada ditempat kerja.
3. Menjaga sumber produksi terpelihara dan dipergunakan secara Sebagaimana yang dinyatakan dalam pengertian K3 secara filosofi bahwa K3 ditujukan untuk menjamin kesempurnaan jasmani dan rohani tenaga kerja, serta hasil kerja budayanya. Oleh karena itu keselamatan dan kesehatan kerja bertujuan untuk mencegah dan mengurangi terjadinya kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja, dan menjamin:
a. Bahwa setiap tenaga kerja dan orang lain ditempat kerja dalam keadaan selamat dan sehat.
b. Bahwa setiap sumber produksi dipergunakan secara aman dan efisien.
c. Bahwa proses produksi dapat berjalan lancar. Kondisi tersebut diatas dapat tercapai antara lain bila kecelakaan termasuk kebakaran, peledakan dan penyakit akibat kerja dapat dicegah dan ditanggulangi. Oleh karena itu setiap usaha keselamatan dan kesehatan kerja tidak lain adalah usaha pencegahan dan penanggulangan kecelakaan ditempat kerja. Pencegahan dan penanggulangan kecelakaan kerja haruslah ditujukan untuk mengenang dan menemukan sebab-sebabnya bukan gejala-gejalanya untuk kemudian sedapat mungkin menghilangkan dan mengeliminasinya.
Secara simultan dapat dijelaskan bahwa tujuan keselamatan dan kesehatan kerja adalah untuk:
1. Melindungi tenaga kerja di tempat kerja agar selalu terjamin keselamatan dan kesehatannya sehingga dapat terwujud peningkatan produksi dan produktivitas kerja.
2. Melindungi setiap orang lain yang berada di tempat kerja agar selalu dalam keadaan selamat dan sehat.
3. Melindungi bahan dan peralatan produksi agar aman dan efesien.
Syarat penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) pada pekerja tambang bawah tanah adalah:
1) Nyaman pada saat digunakan.
2) Wajib digunakan.
3) Sesuai penggunaannya.
2.2.5.2 Aturan K3 Pertambangan
1. PP Nomor 50 Tahun 2012 Tentang Sistem Manajemen K3 (SMK3) Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) adalah bagian dari sistem manajemen perusahaan secara keseluruhan dalam rangka pengendalian risiko yang berkaitan dengan kegiatan kerja guna terciptanya tempat kerja yang aman, efisien dan produktif. Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) adalah segala kegiatan untuk menjamin dan melindungi keselamatan dan kesehatan tenaga kerja melalui upaya pencegahan kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja. Audit SMK3 adalah pemeriksaan secara sistematis dan independen terhadap pemenuhan kriteria yang telah ditetapkan untuk mengukur suatu hasil kegiatan yang telah direncanakan dan dilaksanakan dalam penerapan SMK3 di perusahaan.
Tujuan penerapan SMK3 adalah untuk meningkatkan efektifitas perlindungan keselamatan dan kesehatan kerja yang terencana, terukur, terstruktur, dan terintegrasi; mencegah dan mengurangi kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja dengan melibatkan unsur manajemen, pekerja/buruh, dan/atau serikat pekerja/serikat buruh; serta menciptakan tempat kerja yang aman, nyaman, dan efisien untuk mendorong produktivitas.
Penerapan SMK3 dilakukan berdasarkan kebijakan nasional tentang SMK3.
Kebijakan nasional tentang SMK3 sebagai pedoman perusahaan dalam menerapkan SMK3. Instansi pembina sektor usaha dapat mengembangkan
pedoman penerapan SMK3 sesuai dengan kebutuhan berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan.
2. Permen ESDM Nomor 38 Tahun 2014
Sistem Manajemen Keselamatan Pertambangan Mineral dan Batubara, yang selanjutnya disebut SMKP Minerba, adalah bagian dari sistem manajemen perusahaan secara keseluruhan dalam rangka pengendalian risiko keselamatan pertambangan yang terdiri atas keselamatan dan kesehatan kerja pertambangan, dan keselamatan operasi pertambangan. Keselamatan Pertambangan adalah segala kegiatan yang meliputi pengelolaan keselamatan dan kesehatan kerja pertambangan dan keselamatan operasional pertambangan. Keselamatan dan Kesehatan Kerja Pertambangan (K3 Pertambangan) adalah segala kegiatan untuk menjamin dan melindungi pekerja tambang agar selamat dan sehat melalui upaya pengelolaan keselamatan kerja, kesehatan kerja, lingkungan kerja, dan sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja. Keselamatan Operasi Pertambangan (KO Pertambangan) adalah segala kegiatan untuk menjamin dan melindungi operasional tambang yang aman, efisien, dan produktif melalui upaya, antara lain pengelolaan sistem dan pelaksanaan pemeliharaan/perawatan sarana, prasarana, pertambangan; pengaman instalasi; kelayakan sarana prasarana, instalasi dan peralatan pertambangan, kompetensi tenaga teknik, dan evaluasi laporan hasil kajian teknis.
3. Kepmen ESDM 555K/26/M.PE Tahun 1995
Salah satu aspek yang penting untuk diperhatikan pada bisnis pertambangan adalah keselamatan dan kesehatan kerja. Faktor manusia menjadi krusial karena
hal tersebut dapat berdampak kepada biaya maupun reputasi perusahaan pada akhirnya. Pemerintah melalui Kementerian Pertambangan dan Energi (saat ini ESDM) menetapkan peraturan terkait keselamatan dan kesehatan kerja, yaitu Keputusan Menteri Pertambangan dan Energi No: 555.K/26/M.Pe/1995 tentang Keselamatan Dan Kesehatan Kerja Pada Pertambangan Umum. Ruang lingkup peraturan tersebut adalah seluruh wilayah kuasa pertambangan. Peraturan tersebut mewajibkan setiap pengusaha tambang untuk membentuk unit khusus keselamatan dan kesehatan kerja di bawah pengawasan Kepala Teknik Tambang.
Tugas dari unit tersebut adalah mulai dari mengidentifikasi potensi bahaya sampai dengan melakukan tindakan pencegahan atas potensi bahaya tersebut.
2.2.4.3 Peralatan Pelindung Diri
Berikut adalah alat keselamatan yang melekat pada seorang pekerja tambang bawah tanah:
1) Helm pengaman (Safety helmet)
Gambar 2.4 Helm pengaman (Safety helmet)
Fungsi helm pengaman yang paling utama adalah untuk melindungi kepala dari jatuhan batu dan benturan benda secara langsung. Helm yang digunakan di terowongan agak berbeda dengan yang dipermukaan.
Helm pekerja tambang bawah tanah memiliki tepi yang lebih melebar dengan adanya pengait di bagian depan untuk mengaitkan lampu kepala. Helm pengaman sangat menolong kerja karena sifatnya yang melindungi kepala dari bahaya terbentur benda keras dan batu yang jatuh selama para pekerja berada di area kerja.
2) Rompi reflektor (Safety vest)
Gambar 2.5 Rompi reflektor (Safety vest)
Safety vest adalah nama lain untuk rompi keselamatan. Rompi ini diengkapi dengan iluminator, bahan yang dapat berpendar atau memantulkan cahaya jika terkena cahaya. Bahan berpendar ini akan memudahkan dalam mengenali posisi pekerja ketika berada di kegelapan terowongan. Hal ini biasa disebabkan penerangan di area tambang tidak begitu baik, sehingga sering kali pekerja yang berada didalam area tambang tidak terlihat. Rompi reflektor ini menjadi penting untuk menghindari tertabrak ketika mereka mesti bekerja dengan alat-alat berat.
3) Sepatu pengaman (Safety shoes)
Gambar 2.6 Sepatu pengaman (Safety shoes)
Safety shoes bentuknya seperti sepatu biasa, tetapi terbuat dari bahan kulit yang dilapisi metal dengan sol dari karet tebal dan kuat. Safety shoes berfungsi untuk mencegah kecelakaan fatal yang menimpa kaki seperti tertimpa benda tajam atau benda berat, benda panas, cairan kimia, dan sebagainya.
4) Kacamata pengaman (Safety goggle/glasses)
Gambar 2.7 Kacamata pengaman (Safety goggles/glasses)
Kacamata pengaman ini berbeda dari kacamata pada umumnya.
Perbedaannya terletak pada lensa/kaca yang menutupi mata secara menyeluruh, termasuk bagian samping yang tidak terlindungi oleh kacamata biasa. Dengan menggunakan safety goggles/glasses ini, pekerja terhindar dari terpaan debu di area pertambangan ataupun cipratan dari minyak saat proses drilling.
Kacamata ini memiliki berbagai macam jenis tergantung keperluan dan jenis pekerjaannya. Tidak hanya pekerja tambang bawah tanah, yang bekerja di permukaan pun sebenarnya wajib mengenakan alat pelindung ini. Untuk orang berkacamata minus atau plus, disediakan lensa khusus sesuai dengan kebutuhan yang bersangkutan. Lensa ini tidak boleh terbuat dari kaca, karena jika terjadi benturan dan lensa pecah, serpihan kaca malah akan membahayakan penggunanya.
5) Masker respirator (Safety masker)
Gambar 2.8 Masker respirator (Safety masker)
Safety masker berfungsi sebagai penyaring udara yang dihirup saat bekerja di tempat dengan kualitas udara buruk (misal berdebu, beracun, dsb). Di berbagai area pertambangan banyak bertaburan debu, yang dapat mengakibatkan gangguan kesehatan pada pernafasan dalam jangka waktu yang panjang. Ada berbagai jenis masker yang tersedia, mulai dari masker debu hingga masker khusus dalam menghadapi bahan kimia yang mudah menguap.
6) Sarung tangan pengaman (Safety gloves)
Gambar 2.9 Sarung tangan pengaman (Safety gloves)
Safety gloves berfungsi sebagai alat pelindung tangan pada saat bekerja di tempat atau situasi yang dapat mengakibatkan cedera tangan. Penggunaan safety gloves menjadi hal yang wajib digunakan di dunia pertambangan. Hal ini dikarenakan para pekerja banyak berinteraksi (menyentuh) benda-benda yang panas, tajam, ataupun yang beresiko terluka, tergores saat melakukan pekerjaannya.
Penggunaan safety gloves pun beragam sesuai dengan jenis pekerjaannya.
Ada safety gloves khusus pekerjaan seperti mekanik / montir, ada yang khusus untuk pekerjaan yang berhubungan dengan bahan kimia, ataupun pekerjaan seperti pengelasan.
7) Pengaman telinga (Ear plugs)
Gambar 2.10 Pengaman telinga (Ear plugs)
Ear plugs berfungsi sebagai alat pelindung yang dilekatkan di telinga pada saat bekerja di tempat yang bising. Ear plugs merupakan alat pelindung pendengaran dari kebisingan. Penggunaan ear plugs ini mencegah pekerja mengalami gangguan pendengaran, seperti penurunan pendengaran akibat terpapar kebisingan sewaktu bekerja di area kerja yang memiliki tingkat kebisingan yang tinggi atau bekerja dengan peralatan yang mengeluarkan kebisingan tinggi.
Umumnya alat pendengaran kita hanya mampu menahan besaran kebisingan sampai dengan 80-85 dB. Ear plugs pun memiliki berbagai ragam bentuk dan jenis sesuai dengan peruntukannya dalam pekerjaan.
8) Lampu kepala
Gambar 2.11 Lampu kepala
Alat keselamatan ini biasanya khusus digunakan pada penambangan bawah tanah (underground). Malam dan siang hari di terowongan tak ada bedanya, yaitu sama-sama gelap. Itulah sebabnya, lampu kepala wajib dikenakan oleh para pekerja tambang bawah tanah.
Lampu ini bisa bertenaga aki (elemen basah) atau baterai (elemen kering) yang digantung di pinggang. Dibandingkan dengan baterai, aki memiliki beberapa
kelemahan. Selain ukuran dan bobot aki yang lebih berat, cairan asam sulfat yang bocor dapat merusak pakaian.
9) Self rescuer
Gambar 2.12 Self rescuer
Dalam kondisi darurat akibat kebakaran atau ditemukannya gas beracun, alat inilah yang dapat menjadi penyelamat bagi para pekerja. Alat ini dirancang dapat memasok oksigen secara mandiri kepada pekerja. Tidak lama memang, tapi ini diharapkan memberikan cukup waktu bagi pekerja untuk mencari jalan keluar atau mencapai tempat pengungsian yang lebih aman.
10) Sepatu boot (Safety boot)
Gambar 2.13 Sepatu boot (Safety boot)
Dengan kondisi terowongan yang umumnya licin dan berlumpur, sepatu boot menjadi kebutuhan pokok. Sepatu pendek hanya akan menyebabkan kaki
terbenam dalam lumpur. Sepatu boot ini juga mesti dilengkapi dengan sol berlapis logam dan lapisan logam untuk melindungi jari kaki.
11) Tali pengaman (Safety harness)
Gambar 2.14 Tali pengaman (Safety harness)
Alat ini berfungsi sebagai pengaman saat bekerja di ketinggian. Alat ini wajib digunakan apabila bekerja pada ketinggian lebih dari 1,8 meter.
12) Sabuk pengaman (Safety belt)
Gambar 2.15 Sabuk pengaman (Safety belt)
Safety beltini berfungsi sebagai alat pengaman ketika menggunakan alat transportasi ataupun peralatan lainnya yang serupa (mobil, alat berat, pesawat, helikopter, dan sebagainya).
13) Jas hujan (Raincoat)
Gambar 2.16 Jas hujan (Raincoat)
Jas hujan berfungsi untuk melindungi pekerja dari percikan air saat bekerja (misal bekerja pada waktu hujan atau sedang mencuci alat). Terpapar air secara langsung dan terus-menerus dapat mengakibatkan timbulnya penyakit seperti influenza dan demam, yang pada akhirnya akan menganggu optimalisasi pekerjaan dari pekerja tersebut.
14) Pelindung wajah (Face shield)
Gambar 2.17 Pelindung wajah (Face shield)
Alat ini berfungsi sebagai pelindung wajah dari percikan benda asing saat bekerja (misal pekerjaan menggurinda dan las). Di dunia tambang, alat ini biasanya banyak digunakan oleh para mekanik dan welder.
15) Pelampung (Lifevest)
Gambar 2.18 Pelampung (Lifevest)
Alat ini wajib digunakan saat kita beraktivitas di wilayah perairan / diatas air. Alat ini harus selalu dikenakan untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan selama perjalanan (alat transportasi karam/terbalik). Lifevest harus selalu rutin di periksa untuk memeriksa daya ambang atau daya apungnya.
2.3 Kerangka Konseptual
Adapun kerangka konseptual pada penelitian ini terlihat pada gambar 2.19 di bawah ini:
Gambar 2.19 Kerangka Konseptual
Adapun kerangka konseptual di atas terdiri dari hal-hal sebagai berikut:
1. Input
Merupakan dasar permasalahan yang di butuhkan untuk dilakukan tindak lanjutnya.
2. Proses
Merupakan langkah yang akan dilakukan sehingga menghasilkan output dari penelitian ini.
3. Output
Yakni hasil dari proses yang telah dilakukan.
1. Observasi lapangan 2. Data primer
- Wawancara penelitian 3. Data sekunder
a. Jumlah kecelakaan di CV. Bara Mitra Kencana 2015- 2017
b. Jumlah karyawan CV. Bara Mitra Kencana
c. Jumlah jam kerja d. Jumlah hari
hilang
1. Menentukan frequency rate dan severity rate
FR=Jumlah korban kecelakaan dibagi dengan jumlah jam kerja orang x 1.000.000
SR=Jumlah hari yang hilang dibagi dengan jumlah jam kerja orang x 1.000.000
2. Menganalisis tingkat kecelakaan - Melakukan wawancara terhadap
karyawan maupun staf perusahaan
- Menggunakan metode grafik.
- Penyebab kecelakaan:
- Unsafe Action - Unsafe Condition
1. Persentase frequency rate dan severity rate pada CV. Bara Mitra Kencana tahun 2015-2017.
2. Penyebab
kecelakaan kerja di CV. Bara Mitra Kencana tahun 2015-2017.
INPUT PROSES OUTPUT
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif adalah metode penelitian survey, menurut Sugiyono (2009:12) Penggunaan metode survey akan memudahkan peneliti untuk memperoleh data untuk diolah dengan tujuan memecahkan masalah yang menjadi tujuan akhir suatu penelitian.
3.2 Tempat Dan Waktu Penelitian 3.2.1 Tempat Penelitian
Penelitian ini dilakukan pada Lubang BMK 23 di CV. Bara Mitra Kencana di Tanah Kuning Desa Batu Tanjung Kecamatan Talawi Kota Sawahlunto Provinsi Sumatera Barat. Lokasi penambangan batu bara terletak pada koordinat 100º47’18,39”–100º46’48,10” Bujur Timur (BT) dan 00o36’58,22”-00o36’58,36” Lintang Selatan (LS).
3.2.2 Waktu Penelitian
Penelitian dilaksanakan dari tanggal Oktober 2017 sampai dengan November 2017.
3.3 Populasi dan Sampel 3.3.1 Populasi
Populasi adalah jumlah dari keseluruhan objek kajian penelitian yang memiliki karakteristik tertentu. Yang menjadi populasi pada penelitian ini adalah seluruh lapisan karyawan yang bekerja di CV. Bara Mitra Kencana yang berjumlah 337 orang terdiri dari anggota stockpile, orang staff, karyawan kantor, karyawan K3, operator, driver, KTT, karyawan bagian listrik dan karyawan bagian mekanik.
3.3.2 Sampel
Sampel merupakan bagian dari populasi data yang dianggap mewakili populasi keseluruhan. Teknik penarikan sampel pada penelitian ini dengan menggunakan cara sampel acak sederhana (simple random sampling). Sampel pada penelitian ini sebanyak 10 orang yang terdiri dari KTT, pekerja operator, pekerja teknisi, dan kepala K3.
3.4 Jenis Dan Sumber Data 3.4.1 Jenis Data
Jenis data yang dipakai dalam penelitian ini adalah:
1. Data primer
Data primer merupakan data yang diperoleh secara langsung dari obyek penelitian. Data tersebut berupa hasil wawancara dari kuisoner yang diajukan kepada karyawan tambang CV. Bara Mitra Kencana selaku sampel penelitian.
2. Data sekunder