• Tidak ada hasil yang ditemukan

Jemaat Di Efesus Sebagai Peringatan Kepada Gereja Di Era 4.0

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Jemaat Di Efesus Sebagai Peringatan Kepada Gereja Di Era 4.0"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

Copyright© 2020 – KERUGMA | 50

Jemaat Di Efesus Sebagai Peringatan Kepada Gereja Di Era 4.0

Lenny Susi Rumona Panggabean

Prodi Teologi, STT Injili Indonesia Medan Email: [email protected]

Abstract:

Abstract: since the birth of the church at Pentecost, the church has been through world history for 2000 years, but it still has to learn from all that experience. The purpose of this writing was emphasized to a reflection or reflection of what had been at the church in Ephesus in the book (Revelation 2:1-7), where the Lord Jesus himself denounced the Ephesians for having abandoned the original love (Revelation 2:4).

History experiences brought the church to a closer look at what was happening and what was happening and what would happen to the church in the future. When the apostle Paul began his ministry in Ephesus, it expanded rapidly but after several generations the church of Ephesus had suffered setbacks, and it was not even there anymore. As for the research method used is the use of a literary approach, which leads to a conclusion in which the church in the 4.0 need to anticipate what will happen in the future, by learning from what happened to the Ephesian church, so strong as to guard doctrine and be hard on false doctrine and yet forget the spirit of Gospel preaching as had been done by their predecessors, Paul, Timothy and John. The church should not be caught with the establishment, there are still many souls to be saved, for this is the great commandment of the Lord Jesus (Matthew 18:19-20). The church must give priority to preaching the Gospel as an assignment. Especially, The main one, because without the gospel world would perished.

Keyword: Church; Ephesus; 4.0 era; Gospel

Abstrak:

Sejak lahirnya gereja pada hari Pentakosta, gereja telah melewati sejarah dunia selama 2000 tahun, namun gereja masih harus belajar dari semua pengalaman yang dialaminya. Tujuan penulisan ini lebih ditekankan kepada sebuah refleksi atau perenungan dari apa yang telah terjadi pada gereja di Efesus dalam kitab Wahyu 2:1-7), dimana Tuhan Yesus sendiri mencela jemaat di Efesus karena mereka telah meninggalkan kasih semula (Wahyu 2:4). Pengalaman sejarah membawa gereja untuk melihat lebih jelas apa yang sudah terjadi dan yang sedang terjadi dan akan terjadi pada gereja di masa depan. Ketika rasul Paulus memulai pelayanan di Efesus, gereja itu berkembang pesat namun setelah beberapa generasi berikutnya gereja Efesus mengalami kemunduran, bahkan gereja itu tidak ada lagi. Adapun metode penelitian yang digunakan adalah menggunakan pendekatan literatur, sehingga menghasilkan sebuah kesimpulan dimana gereja di era 4.0 perlu mengantisipasi apa yang akan terjadi di kemudian hari, dengan belajar dari apa yang sudah terjadi dengan gereja Efesus, yang begitu kuat menjaga doktrin dan keras terhadap ajaran palsu namun lupa kepada semangat pemberitaan Injil seperti yang sudah dilakukan oleh para pendahulu mereka, yaitu Paulus, Timotius dan Yohanes. Gereja jangan terjebak dengan kemapanan, masih banyak jiwa yang harus diselamatkan, karena inilah perintah agung Tuhan Yesus (Matius 18:19- 20). Gereja harus memprioritaskan pemberitaan Injil sebagai tugas yang utama, karena tanpa Injil dunia akan binasa.

Kata Kunci : Gereja; Efesus; Era 4.0, Injil

(2)

Lenny Susi Rumona Panggabean: Jemaat Di Efesus Sebagai Peringatan Kepada Gereja Di Era 4.0

Copyright© 2020 – KERUGMA | 51

I. PENDAHULUAN

Pada masa kini kita dapat menyaksikan perubahan-perubahan yang begitu radikal secara global, diantaranya revolusi digital yaitu perubahan dari teknologi mekanik dan elektronik analog ke teknologi digital yang telah terjadi sejak tahun 1980 dan berlanjut sampai hari ini. Perubahan-perubahan ini membawa dampak terhadap gereja, dimana gereja akan bergumul untuk kemajuan Injil. Abad ini disebut abad informasi, teknologi komputerisasi, bangkitnya sekularisasi, terjadinya ledakan penduduk dunia, kesenjangan antara kaya dan miskin, amoralisme bangkit, diantaranya pornografi, narkoba, dan seks bebas.

Kalau kita melihat di zaman gereja mula-mula, sebenarnya juga terdapat banyak persoalan untuk kemajuan Injil, dengan munculnya kelompok-kelompok dalam masyarakat seperti: kelompok ahli Taurat, orang Farisi, kelompok Epikurean, kelompok orang merdeka, kelompok budak, kelompok politik dan kalangan militer, kaum Zelotis, tetapi rasul Paulus justru menjadikan gereja tempat untuk semua kelompok di dalam masyarakat, sehingga gereja mula-mula mempersilahkan orang-orang miskin, para janda, orang-orang Yunani dan Yahudi, untuk bersekutu dan saling tolong menolong, bahkan menggunakan kesempatan yang sempit dan kristis untuk memberitakan Injil kepada penguasa (Kis. 4, 5, 7; 21:27-40; 22:23-29).

Gereja harus melihat dunia sebagai sasaran Injil, gereja harus mampu menggunakan kemajuan dan perubahan zaman untuk memajukan Injil. Gereja harus sepakat pemberitaan Injil masih relevan dalam sepanjang sejarah kehidupan gereja, dengan segala bentuk tantangannya. Dasar pemberitaan Injil adalah perintah Tuhan Yesus langsung kepada para rasul dan para murid-murid-Nya, dan Tuhan Yesus sendiri berjanji bahwa Dia akan menyertai gereja-Nya di dalam Matius 28:19-20 : “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman”.

Bagaimana jika gereja tidak lagi memberitakan Injil, bagaimana jika gereja sudah merasa puas dengan banyaknya jumlah orang kristen saat ini, bagaimana jika gereja lebih fokus kepada menjaga tata aturan gereja saja, bagaimana jika gereja lebih tertarik membahas doktrin dan bukan Injil? Jika ini yang terjadi maka masa depan gereja dapat

(3)

Copyright© 2020 – KERUGMA | 52

diprediksi sama dengan gereja yang ada di Efesus, dimana sejak awal gereja itu didirikan bertumbuh sangat pesat, namun akhirnya gereja itu hilang, tidak ada lagi.

Saatnya belajar dari apa yang sudah terjadi pada gereja Efesus, sehingga sejarah buruk gereja tidak terulang kembali.

II. METODE PENELITIAN

Penelitian ini menggunakan pendekatan literatur, dengan melihat pandangan- pandangan para teolog dan penafsiran-penafsiran khususnya pada frasa “Telah meninggalkan kasihmu yang semula” dan “Aku akan mengambil kaki dianmu jika engkau tidak bertobat” dalam Wahyu 2:4-5.

III. PEMBAHASAN DAN HASIL Arti Kata Gereja

Kata gereja (kirche dalam bahasa Jerman, kerk Belanda, church Inggris) berasal dari istilah Yunani kyriake yang berarti “Milik Allah”. Bahasa Romawi memakai turunan kata Yunani ekklesia yang berarti “Umat Allah yang dipanggil keluar dari dunia (eglise dalam Bahasa Prancis, iglesia Spanyol, igreja Portugis, dan chiesa Itali). Mereka yang membentuk Tubuh Kristus yang hidup ini adalah jemaat (gereja) karena milik Allah.

Tubuh Kristus adalah jemaat, bukan masyarakat; suatu organisme, bukan organisasi; suatu yang hidup, bukan entitas formal. Seperti keanggotaan suatu masyarakat atau organisasi bisa dibatalkan jika gagal membayar iuran atau memenuhi tugas.

Anggota Kristus bukan lagi jemaat jika mereka berhenti menyebarkan terang Injil.

Karena begitu urgensinya pemberitaan Injil sampai ke ujung bumi, maka Jemaat mula- mula di Yerusalem di ijinkan Tuhan mengalami penganiayaan, supaya mereka bergerak keluar, tidak nyaman hanya dengan Yerusalem, namun mereka harus tersebar ke Yudea, ke Samaria dan sampai ke ujung bumi. Jika gereja tidak bergerak keluar, maka Tuhan sendiri yang akan bertindak sampai gereja keluar.

Lalu bagaimana dengan gereja Efesus? Mengapa Tuhan sampai meninggalkan

(4)

Lenny Susi Rumona Panggabean: Jemaat Di Efesus Sebagai Peringatan Kepada Gereja Di Era 4.0

Copyright© 2020 – KERUGMA | 53

gereja itu, sampai akhirnya gereja itu tidak ada lagi. Mengapa Tuhan begitu serius dengan semangat pemberitaan Injil ini? Dia menegur jemaat Efesus supaya mereka bertobat dan kembali kepada semangat pekabaran Injil seperti rasul Paulus, Rasul Yohanes dan Timotius pendahulu mereka. Apakah Tuhan juga akan melakukan hal yang sama kepada gereja masa di Era 4.0 jika gereja lalai memajukan pekabaran Injil?

Tidak cukupkah Tuhan hanya mengijinkan penganiayaan kepada gereja sama seperti yang dilakukan Tuhan kepada jemaat mula-mula di Yerusalem? Tentu ini masih rahasia, namun kita perlu belajar sejarah gereja di Efesus sampai akhirnya gereja itu hilang, dengan tujuan menjadi peringatan berharga bagi gereja masa kini.

Latar Belakang Berdirinya Jemaat di Efesus

Jemaat di Efesus telah diberkati dengan gembala yang sangat baik, yaitu Paulus, Yohanes dan Timotius. Paulus berada di Efesus selama tiga tahun (52-55 M) dan Timotius melayani selama tahun enam puluhan. Kemungkinan Yohanes meninggalkan Yerusalem pada akhir tahun enam puluhan dan tinggal di Efesus selama sisa hidupnya, kecuali untuk waktu yang singkat ia tinggal di Patmos. Patmos adalah pulau kecil, miskin, tidak memiliki sebuah kotapun.1

Meski secara rohani jemaat Efesus dibangun oleh ketiga orang ini, namun jemaat Efesus mulai kehilangan kasih mereka kepada Kristus. Tuhan Yesus sebagai Gembala Agung dan penjaga kawanan (1Petrus 2:25; 5:4) yang berjalan di tengah-tengah jemaat- Nya (Wahyu 2:1).

Jemaat Efesus bisa disebut “Gereja Induk” di Provinsi Asia. Barangkali orang- orang Yahudi yang takut akan Tuhan dari provinsi ini, yang pulang dari kunjungan ke Yerusalem pada hari Pentakosta (Kis. 2:9), telah menjadi orang Kristen mula-mula di Efesus (Kis. 19:1). Paulus dan para rekannya datang kesana untuk berkhotbah dan mengajarkan doktrin-doktrin Kristus. Dari ruang Tiranus yang Paulus sewa selama dua tahun (Kis. 19:9), orang percaya yang telah belajar Firman Tuhan itu pergi ke kota-kota sekitar untuk menyebarkan Injil. Di antara jemaat mula-mula, jemaat Efesus dianggap sebagai pemimpin di Provinsi Asia dan karena itu, menjadi jemaat pertama yang dituju.

Pujian Tuhan Yesus Kepada Jemaat di Efesus

Yesus memberi pujian dan teguran kepada jemaat Efesus. Kristus memuji tiga hal,

1 Dianne Bergant, CSA, and Robert J Karris, OMF (Yogyakarta: Kanisius, 2005). 485.

(5)

Copyright© 2020 – KERUGMA | 54

yang pertama bahwa jemaat Efesus telah menunjukkan jerih-payah dan ketekunan dalam kehidupan Kristen. Yang kedua, bahwa ia tidak dapat sabar terhadap orang-orang jahat, yaitu yang menjalankan siasat gerejawi terhadap anggota-anggota jemaat yang sesat. Yang ketiga, bahwa ia telah menolak pengajar-pengajar palsu.

Gembala jemaat di Efesus bertanggung jawab bagi kondisi kesehatan rohani jemaat, mereka tekun dan tabah menghadapi orang-orang jahat, nabi-nabi palsu, dan pengikut Nikolaus, jelas sangat melelahkan jemaat Efesus. Mereka bertekun menantikan kedatangan Tuhan Yesus dengan bersaksi bahkan sampai mati dalam penganiayaan.

Mereka sungguh-sungguh melayani Tuhan dan tidak memberi tempat bagi kejahatan dan mereka yang sengaja berbuat jahat. Mereka telah mencobai orang yang menyebut dirinya rasul, tetapi yang sebenarnya adalah rasul palsu, tidak seperti rasul Paulus yang telah memiliki tanda-tanda seorang rasul; ia memberitakan Tuhan Yesus dan Injil-Nya, melakukan berbagai tanda, keajaiban, dan mujizat; semuanya dengan ketekunan (2Kor. 11:4; 12:12).

Jemaat Efesus menguji doktrin dan perbuatan para rasul palsu ini dan mendapati mereka adalah penipu yang licik. Ada dugaan bahwa para pengikut Nikolaus lah rasul- rasul palsu yang dimaksud. Siapakah pengikut Nikolaus ini? Ada tiga pendapat yang berupa dugaan, (1) Bapa Gereja Irenaeus menyamakan Nikolaus ini dengan penganut Yudaisme yang ditunjuk menjadi diaken (Kis. 6:5). (2) mereka berasal dari sekte Gnostik yang berusaha menyusup ke dalam jemaat. (3) berdasarkan eksegese, pengikut Nikolaus ini mengikuti ajaran rasul palsu dan Bileam.2

Ada juga yang berpendapat bahwa sebenarnya Nikolaus (Bahasa Yunani) dan Bileam (Bahasa Ibrani) mempunyai arti yang sama: memenangkan masyarakat.

Pengaruh Bileam dalam Perjanjian Lama sama seperti Wahyu 2:14; lihat Bilangan 31:16 dan 25:1-3.3

Ireneus dan Hippolytus mengatakan bahwa pelayan meja yang disebut di Kisah Para Rasul 6:5 yang bernama Nikolaus murtad dan mendirikan sebuah bidat. Clemens dari Alexandria berpendapat bahwa bukan Nikolaus, melainkan pengikut-pengikutnya

2Simon J Kistemaker, Tafsiran Kitab Wahyu (Surabaya: Momentum, 2011). 125-126.

3 D Scheunmann, Berita Kitab Wahyu (Malang: Gandum Mas, 1997). 63.

(6)

Lenny Susi Rumona Panggabean: Jemaat Di Efesus Sebagai Peringatan Kepada Gereja Di Era 4.0

Copyright© 2020 – KERUGMA | 55

membawa pengajaran yang sesat dengan memutar balikkan pengajaran Nikolaus. Ahli Perjanjian Baru, William Ramsay, menyimpulkan: “Pengajaran Nikolaus adalah satu usaha untuk mengadakan satu kompromi yang masuk akal dengan kebudayaan Romawi dan Yunani, dan kemudian mempertahankan kompromi itu dalam cara kehidupan Kristen.”4 Sekte ini mengajarkan bahwa orang Kristen bebas untuk melampiaskan keinginan daging5

Sebenarnya identitas mereka tidak jelas, yang jelas bahwa mereka adalah pengajar ajaran sesat, dan perbuatan mereka dibenci oleh Tuhan, juga dibenci oleh jemaat di Efesus. Sikap itu layak diteladani, tetapi sikap itu jangan berlebihan hingga meninggalkan kasih yang semula. Dalam pesan Tuhan Yesus kepada jemaat di Efesus, jika mereka tidak bertobat maka Dia akan melangkah sehingga tidak ada jemaat disitu lagi, sehingga susah payah mereka sia-sia.

Teguran Tuhan Yesus Kepada Jemaat di Efesus

Ada yang salah dalam jemaat di Efesus, mereka tidak lagi menyatakan kasih Kristus sebagaimana di tahun-tahun awal mereka, ketika Paulus berkhotbah dan mengajar dari rumah ke rumah selama tiga tahun (Kis. 20:20-21, 31). Kira-kira satu dekade lalu, Paulus menulis surat kepada Timotius yang menjadi gembala di Efesus dan memberi tahu bahwa kasih yang timbul dari hati yang suci, hati Nurani yang murni, dan iman yang tulus ikhlas adalah tujuan karya Allah diantara mereka. Ia mencatat beberapa guru palsu di antara jemaat begitu sibuk dengan dongeng dan silsilah yang tiada akhir, dan bukannya tuntutan kasih (1Tim. 1:4-6).

Ketika Tuhan berkata kepada jemaat Efesus telah kehilangan kasih yang semula, tidak berarti mereka sepenuhnya hidup dan bekerja tanpa kasih kepada Allah dan sesama. Yang ditekankan adalah sifat mula-mula. Jemaat yang Kristus surati ini tidak lagi terdiri dari orang percaya generasi pertama tetapi kedua dan ketiga. Mereka kehilangan antusias ayah dan kakek mereka. Mereka bukan lagi penyebar, melainkan pengurus dan penjaga iman. Ada kemunduran yang nyata dalam pelayanan penginjilan akibat cara berpikir yang mempertahankan status quo. Mereka mengasihi Tuhan tetapi tidak lagi dengan segenap hati, jiwa dan akal budi6

4 Ibid.

5 Stanley M Horton, Eksposisi Kitab Wahyu (Malang: Gandum Mas, 2016). 32.

6 Kistemaker, Tafsiran Kitab Wahyu., 123.

(7)

Copyright© 2020 – KERUGMA | 56

Jemaat generasi pertama mengerahkan segenap tenaga sehingga di Efesus “makin tersiarlah firman Tuhan dan makin berkuasa” (Kis. 19:20). Anak dan cucu-cucu mereka menghadapi bidat, bertekun dalam memenuhi kebutuhan jemaat, tetapi gagal memiliki antusiasme yang sejati bagi Tuhan. Walaupun pekerjaan mereka bagi Tuhan luar biasa, mereka tidak lagi mempunyai persekutuan yang mesra dengan Dia7

Injil ini meliputi kabar baik mengenai keselamatan dari dosa. Dan melalui keselamatan dari dosa, Injil juga memberitakan Kabar Baik mengenai kemampuan dan kesediaan Allah untuk melepaskan orang-orang dari masalah-masalah yang sekarang (bdg. Mat. 9:2, 6; Mrk. 2:5; 10, 11, Luk. 5:20; 24; Yak. 5:15, 16).8

Panggilan Pertobatan Dari Tuhan Yesus

Perintah untuk bertobat adalah perintah kembali melakukan apa yang semula telah dilakukan oleh generasi pertama. Mereka harus terus mengingat posisi mereka dengan mengulas sejarah gereja mereka dan kembali melakukan apa yang telah dilakukan oleh pendahulu mereka empat puluh tahun yang lalu. Jika mereka gagal menanggapi panggilan untuk bertobat ini, maka sebelum kedatangan-Nya yang kedua, jemaat Efesus tidak lagi menjadi sebuah jemaat. Tuhan akan mengambil kaki dian mereka yang berarti sebagai jemaat, mereka akan mengalami kegelapan rohani total. Gereja berhenti menjadi gereja, ketika gereja tidak lagi melayani Tuannya dengan kasih dan bakti yang sejati. Jemaat mungkin masih berkumpul bersama-sama, tetapi untuk melakukan kegiatan sosial, bukan untuk perkara-perkara rohani, khususnya pemberitaan Injil.

Menurut Wahyu 1:20 kaki dian melambangkan jemaat. Kaki dian itu merupakan tempat bagi sumber terang, dan kita tahu bahwa Tuhan adalah Terang. Kalau kaki dian itu diambil, maka di dalam gereja itu akan menjadi gelap. Jadi kalau kaki dian itu diambil mungkin masih ada orang yang hadir dalam dalam setiap kebaktian hari Minggu, tetapi tidak ada gereja lagi, yang ada hanya sebuah organisasi sosial.9

Sebenarnya, banyak klaim yang mengatakan bahwa Surat Efesus, di samping 1 Korintus 13, memiliki lebih banyak rujukan per halaman untuk kasih, atau rujukan

7 Horton, Eksposisi Kitab Wahyu. 31.

8 J.I Packer, Kebutuhan Gereja Saat Ini (Malang: Gandum Mas, 2001). 425.

9 Dave Hagelberg, Tafsiran Kitab Wahyu (Yogyakarta: ANDI, 1997). 70.

(8)

Lenny Susi Rumona Panggabean: Jemaat Di Efesus Sebagai Peringatan Kepada Gereja Di Era 4.0

Copyright© 2020 – KERUGMA | 57

mengenai orang percaya untuk hidup di dalam kasih daripada di tempat lain di dalam surat-surat Paulus.10

Jemaat Efesus sudah puas dengan memiliki doktrin yang benar dan memenuhi apa yang mereka anggap sebagai kewajiban mereka terhadap Tuhan. Namun pekerjaan mereka bagi-Nya tidak lagi memancarkan belas kasih Kristus. Kehidupan mereka sangat sibuk tetapi luar biasa tandus. Mereka perlu mengembalikan kasih agung dan kudus yang hilang, yang dulu mereka miliki ketika mereka pertama kali datang kepada Tuhan. Dengan mengingat bagaimana besar kasih mereka mengalir pada tahun-tahun pertama keberadaan jemaat itu sehingga jemaat-jemaat lain didirikan juga di kota-kota sekitar.

Penerapan Pada Gereja Era 4.0

Tuhan Yesus memberikan Roh Kudus kepada semua orang Kristen (Kis. 1:8;

1Kor. 12:13) dan bersama Roh itu Ia memberikan kuasa dan otoritas untuk mengalahkan roh jahat dan sakit penyakit. Lagi pula, Tuhan Yesus berjanji bahwa kita akan melakukan segala hal yang Ia sudah lakukan dan bahkan lebih besar dari pada itu (Yoh. 14:12). Maka tidak ada alasan bagi gereja untuk tidak melakukan pemberitaan Injil kepada siapapun dan pada periode zaman apapun. Roh yang sama akan menyertai gereja ketika Injil diberitakan sampai ke ujung bumi. Gereja hanya perlu memikirkan metode pemberitaan Injil yang relevan dalam setiap zamannya.

Halangan pertobatan bukanlah karena unsur-unsur teologis tetapi sosial. Injil yang diberitakan dalam konteks kebudayaan suatu masyarakat sudah banyak dipenuhi oleh bentuk-bentuk kebudayaan yang tak relevan yang dimiliki oleh misionaris atau penginjil atau gereja. Sebab itu Injil harus diberitakan dengan menggunakan istilah-istilah pendengar, dalam kebudayaan penerima berita Injil. Contoh: Hippies movement tahun 1960-an, di Amerika, bukan hanya mereka tidak menyukai gereja, tetapi gerejapun tidak menyukai mereka. Tetapi Chuck Smith Calvary Chapel membuat tenda, beribadah duduk di lantai, pakai sandal, dan orang Hippies di Lautan Pasifik. Inilah Gerakan yang menyapu orang-orang Hippies, dan Jhon Wimber’s dengan gaya lagu-lagu Himne yang baru membawa Baby Boomers kembali kepada Tuhan. 11

10 Peter T O’Brien, Surat Efesus (Surabaya: Momentum, 2013). 3.

11Makmur Halim, Gereja Di Tengah-Tengah Perubahan Dunia (Malang: Gandum Mas, 2011). 62.

(9)

Copyright© 2020 – KERUGMA | 58

Semangat awal dari kemajuan teknologi adalah untuk mempermudah kehidupan manusia. Sejak penemuan mesin dan dimulainya era otomatisasi telah membuat produksi semakin berlipat dan memangkas waktu serta biaya yang dikeluarkan. Namun demikian, pada akhirnya segala kemudahan ini berdampak besar bagi manusia, karena membuat penggunaan tenaga manusia berkurang secara signifikan. Akibatnya, terjadi peningkatan jumlah pengangguran. Tepat pada titik inilah, gereja hadir untuk membawa kabar baik yaitu Injil Tuhan Yesus kepada orang-orang yang pengangguran dan putus asa.

Teknologi berkembang sendiri dan makin terpisah, serta jauh meninggalkan agama dan etika, hukum, ilmu pengetahuan sosial dan humaniora. Tantangan ini tidak boleh membuat gereja berhenti memberitakan Injil, harus ada upaya untuk selalu memajukan pekabaran Injil apakah di dalam keluarga, di lingkungan masyarakat, di sekolah, bahkan di gereja, jika tidak gereja akan hilang dengan sendirinya. Jika gereja hilang apakah yang akan terjadi? Maka dunia juga akan hilang, karena tanpa Kristus maka dunia ini akan binasa seperti yang tertulis dalam Yohanes 3:16.

Era 4.0 adalah era dimana Injil paling cepat tersebar karena dunia saling terhubung satu dengan yang lain. Media sosial efektif digunakan sebagai media pekabaran Injil. Jadi gereja harus mampu menguasai zaman ini dengan melibatkan generasi muda atau millennial untuk terlibat dalam pengoperasiannya atau mereka juga dilibatkan dalam mengabarkannya. Era 4.0 adalah percepatan kemajuan Injil. Injil bisa sampai dimana saja dan kepada siapapun tanpa batas. Tidak secara kebetulan Tuhan membawa kita kepada zaman yang canggih ini. Tuhan punya maksud dengan semuanya ini. Gereja harus bergerak keluar, ke dunia media sosial sebagai wadah efektif untuk memberitakan Injil.

Bagaimana jika gereja tidak melakukannya? Mungkinkah nasib gereja masa kini sama dengan gereja di Efesus? Akankah Tuhan akan meninggalkan gereja? Atau Tuhan punya cara yang lain untuk menegur gereja. Ini rahasia Tuhan, satu hal yang pasti bahwa gereja harus memberitakan Injil, sebagai bukti bahwa gereja adalah milik Allah dan mengasihi Allah.

(10)

Lenny Susi Rumona Panggabean: Jemaat Di Efesus Sebagai Peringatan Kepada Gereja Di Era 4.0

Copyright© 2020 – KERUGMA | 59

IV. KESIMPULAN/PENUTUP

Gereja harus memajukan pekabaran Injil, jika gereja tidak bertanggung jawab terhadap kemajuan Injil maka gereja akan hilang sama seperti gereja di Efesus. Tugas gereja bukan hanya menjaga doktrin, mengkritik ajaran sesat, namun memberitakan Injil adalah misi utama gereja sesuai dengan amanat agung Tuhan Yesus kepada para rasul dan semua murid. Dalam setiap zaman, gereja akan menghadapi persoalan sebagai tantangan dalam memajukan pekabaran Injil, khususnya pada masa kini di Era 4.0 era digitalisasi, gereja harus mampu menggunakan media, jaringan, data sebagai jembatan untuk pekabaran Injil. Gereja harus melihat sejarah buruk akhir gereja di Efesus, dimana Tuhan Yesus meninggalkan gereja itu karena telah kehilangan kasih semula yaitu semangat penginjilan para pendahulu mereka yaitu rasul Paulus, Timotius dan Rasul Yohanes.

Selanjutnya saran penulis, sebaiknya diadakan sebuah penelitian lapangan kepada gereja-gereja masa kini yang telah meninggalkan semangat pekabaran Injil, apakah mengalami nasib yang sama dengan gereja di Efesus untuk menemukan korelasi yang kuat antara pekabaran Injil dengan kemajuan gereja, dan sebaliknya kemunduran gereja karena kehilangan semangat pekabaran Injil.

DAFTAR PUSTAKA

Bergant, Dianne, CSA, and Robert J Karris. OMF. Yogyakarta: Kanisius, 2005.

Hagelberg, Dave. Tafsiran Kitab Wahyu. Yogyakarta: ANDI, 1997.

Halim, Makmur. Gereja Di Tengah-Tengah Perubahan Dunia. Malang: Gandum Mas, 2011.

Horton, Stanley M. Eksposisi Kitab Wahyu. Malang: Gandum Mas, 2016.

Kistemaker, Simon J. Tafsiran Kitab Wahyu. Surabaya: Momentum, 2011.

O’Brien, Peter T. Surat Efesus. Surabaya: Momentum, 2013.

Packer, J.I. Kebutuhan Gereja Saat Ini. Malang: Gandum Mas, 2001.

Scheunmann, D. Berita Kitab Wahyu. Malang: Gandum Mas, 1997.

Referensi

Dokumen terkait

XYZ Palembang memiliki empat buah external entity yaitu direktur, admin, agen dan non agen dengan 11 buah proses yang terdiri dari kelola pengguna untuk

Permasalahan keperawatan yang lahan keperawatan yang timbul akibat timbul akibat adanya Tuberku adanya Tuberkulosis losis adalah Gangguan pemenuhan kebutuhan oksigen

[r]

menunjukkan bahwa karaginan yang di- hasilkan dari rumput laut yang dipanen pada usia panen 45 hari memiliki rendemen, kadar sulfat dan unit 3,6-anhidro- D-galaktosa yang

BIDANG TATAKELOLA PEMERINTAHAN FIELD OF GOVERNANCE... BIDANG KEAGAMAAN

Dalam Rangka Proses Pengadaan Barang/Jasa yang dilaksanakan Pokja Jasa Konsultansi Unit Layanan Pengadaan (ULP) Barang dan Jasa dilingkungan Pemerintah Kabupaten Simalungun

Skenario kedua merupakan skenario jangka menen� gah yang dapat dilakukan terintegrasi oleh pemerintah dan ITPT dari hulu sampai ke hilir dengan peningkatan kapasitas

”PengertianPendaftaran Tanah dalam Pasal 1 Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 yaitu: “Pendaftaran tanah adalah rangkaian kegiatan yang dilakukan oleh Pemerintah secara