SAROLANGUN DITINJAU DARI PENGARUH BUDAYA ISLAM
SKRIPSI
Diajukan untuk melengkapi syarat-syarat Guna memperoleh gelar sarjana strata satu (S.1)
Sejarah Kebudayaan Islam
Oleh:
SONY TRIATMAJA AS 111010
JURUSAN SEJARAH KEBUDAYAAN ISLAM FAKULTAS ADAB DAN HUMANIORA
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SULTHAN THAHA SAIFUDDIN
JAMBI 2018/2019
NIM : AS. 111 010
Pembimbing I : Drs.Sayuti S, M.Pd.I Pembimbing II : Aliyas, M.Fil.I Fakultas : Adab dan Humaniora Jurusan : Sejarah Kebudayaan Islam
Judul Skripsi : Eksistensi Kesenian Tradisional Biduk Sayak di Desa Lubuk Sepuh Kecamatan Pelawan Kabupaten
Sarolangun Ditinjau dari Pengaruh Kebudayaan Islam Menyatakan bahwa karya ilmiah/skripsi ini adalah asli bukan plagiasi serta telah diselesaikan dengan ketentuan ilmiah menurut peraturan yang berlaku.
Demikianlah surat ini saya buat dengan sesungguhnya dan apabila dikemudian hari ditemukan sebuah pelanggaran plagiasi dalam karya ilmiah/skripsi ini, maka saya akan siap diproses berdasarkan peraturan dan perundang-undangan yang berlaku.
Jambi, Juni 2018
Sony Triatmaja NIM. AS. 111 010
Alamat : Fakultas Adab dan Humaniora
Kepada Yth,
Dekan Fakultas Adab dan Humaniora UIN Sultan Thaha Saifuddin Jambi di-
Jambi
NOTA DINAS
Assalaamu’alaikum Wr. Wb
Setelah membaca dan mengadakan perbaikan seperlunya, maka kami berpendapat bahwa skripsi Sony Triatmaja yang berjudul : Eksistensi Kesenian Tradisional Biduk Sayak di Desa Lubuk Sepuh Kecamatan Pelawan Kabupaten Sarolangun Ditinjau dari Pengaruh Kebudayaan Islam, telah dapat diajukan untuk dimunaqasahkan guna melengkapi tugas-tugas dan memenuhi syarat-syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Strata Satu (S.1) pada Fakultas Adab dan Humaniora UIN Sultan Thaha Saifuddin Jambi. Maka dengan ini kami ajukan skripsi tersebut agar dapat diterima dengan baik.
Demikianlah, kami ucapkan terima kasih semoga bermanfaat bagi kepentingan Agama, Nusa dan Bangsa.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb
Pembimbing I Pembimbing II
Drs. Sayuti S, M.Pd.I Aliyas, M.Fil.I
NIP. 19590902 190032 001 NIP. 19780212 007101 001
PENGESAHAN
Skripsi ini telah dimunaqasyahkan oleh sidang Fakultas Adab dan Humaniora UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi pada hari Kamis, 05 Juli 2018 dan telah diterima sebagai bagian dari persyaratan yang harus dipenuhi untuk memperoleh gelar sarjana Strata Satu (S.1) dalam ilmu Humaniora.
Jambi, September 2018 Dekan Fakultas Adab dan Humaniora
Prof. Dr. Maisah, M. Pd. I NIP. 19700711119940112001
Sekretaris Sidang Ketua Sidang
Bawaihi, S. Ag Samsul Huda, M.Ag
NIP. 196312311994021022 NIP. 197007032002121002
Penguji I Pembimbing I
Jago Ritonga, M. Fil. I Drs.Sayuti S, M.Pd.I
NIP. 196004151991031003 NIP. 19590902190032001
Penguji I Pembimbing II
Aminuddin, M. Fil. I Aliyas, M. Fil. I
NIP. 197104251993031001 NIP. 19780212007101001
Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al Quran itu bukanlah cerita yang dibuat- buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman. (Q.S Yusuf : 111)1
1 Departemen Agama RI, Al- Quran Tajwid dan Terjemahan, hal. 173.
membuahkan pahala ketika terbelit dari lisan seorang hamba ucapan
“Alhamdulillah” sebagai wujud syukur kehadirat Allah Azzawajalla. tiada alunan suara, dendangan para pujangga yang paling mendalam dan menjadi idaman setiap insan selain alunan sholawat dan salam kepada Rasul panutan alam Islam,
Muhammad SAW.
Kepada kedua o rang tua, ayah dan bunda tercinta terima kasih karena berkat kasih dan sayang serta pengorbananmulah ananda bisa menempuh dan
menyelesaikan pendidikan ini
Semoga Allah membalas kebaikan semuanya dengan sebaik-baik kebaikan.
telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik, serta teriring shalawat dan salam kepada junjungan Nabi Muhammad SAW. Adapun judul skripsi ini adalah “Eksistensi Kesenian Tradisional Biduk Sayak di Desa Lubuk Sepuh Kecamatan Pelawan Kabupaten Sarolangun Ditinjau dari Pengaruh Kebudayaan Islam”.
Penulisan skripsi ini bertujuan untuk memenuhi salah satu syarat mendapatkan gelar Sarjana Humaniora pada Fakultas Adab dan Humaniora Universitas Islam Negeri Sultan Thaha Saifuddin Jambi. Skripsi ini dapat terselesaikan atas bantuan semua pihak dengan segala keikhlasannya telah turut berpartisipasi dalam penyusunan dan penulisan skripsi ini. Untuk itu, penulis mengucapkan terima kasih banyak kepada:
1. Bapak Drs. Sayuti S, M.Pd.I sebagai pembimbing I dan bapak Aliyas, M.Fil.I sebagai Pembimbing II, yang telah banyak meluangkan waktu dan tenaga dalam memberikan petunjuk dan pengarahan serta ilmu yang sangat berharga sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.
2. Ibu Dr. Raudoh, S.Ag., SS., M.Pd.I, selaku Pembimbing Akademik yang telah membimbing selama masa perkuliahan dan dorongan moral kepada penulis.
3. Prof. Dr. Maisah, M. Pd. I selaku Dekan Fakultas Adab dan Humaniora UIN Sultan Thaha Saifuddin Jambi yang telah memberikan bimbingan dan pengarahan selama masa perkuliahan penulis di Fakultas Adab dan Humaniora UIN Sultan Thaha Saifuddin Jambi.
4. Bapak/Ibu Wakil Dekan I, Wakil Dekan II dan Wakil Dekan III Fakultas Adab dan Humaniora UIN Sultan Thaha Saifuddin Jambi yang telah memberikan bimbingan dan pengarahan selama masa perkuliahan di Fakultas Adab UIN Sultan Thaha Saifuddin Jambi.
memberikan bimbingan dan arahan kepada penulis selama masa perkuliahan dan penulisan skripsi.
6. Seluruh dosen dan staf pengajar Fakultas Adab dan Humaniora UIN Sultan Thaha Saifuddin Jambi yang telah memberikan bimbingan serta ilmu selama masa perkuliahan.
7. Seluruh Staf Akademik Fakultas Adab dan Humaniora UIN Sultan Thaha Saifuddin Jambi yang telah memberikan kelancaran kepada penulis atas urusan administrasi selama masa perkuliahan.
8. Bapak H.Ichsan ilyas dan Bapak Abu bakar selaku Kepala desa dan informan inti dalam penelitian skripsi ini.
9. Para seniman Biduk Sayak di Sanggar Lubuk Olang Menari dan masyarakat Lubuk Sepuh yang telah membantu dalam melaksanakan penelitian skripsi ini.
10. Serta teman-teman SKI angkatan 2011 dan sahabat yang memberikan motivasi dan semangat dalam penyelesaian skripsi ini.
Semoga bantuan dan dorongan yang telah diberikan kepada penulis secara langsung maupun tidak langsung menjadi amal ibadah dan diterima oleh Allah SWT. Akhirnya penulis berharap semoga skripsi ini bermanfaat bagi penulis khususnya dan pembaca pada umumnya. Amin.
Wassalamualaikum Warahmatullahiwabarakatuh.
Jambi, Juni 2018 Penulis
Sony Triatmaja AS. 111 010
Dari Pengaruh Kebudayaan Islam. Skripsi, Jurusan Sejarah
Kebudayaan Islam Fakultas Adab dan Humaniora UIN Sulthan
Thaha Saifuddin Jambi. Pembimbing (I)Drs. Sayuti S, M.Pd.I
(II)Bapak Muhammad Aliyas, M.Fil.I
Kesenian menggambarkan kebudayaan yang beranekaragam dari setiap wilayah di Indonesia. Kesenian memberikan warna pada suatu wilayah masyarakat dan memberikan gambaran umum tentang wujud suatu bangsa. Pada setiap kelompok muncul berbagai kesenian yang bersifat khas yang menjadi identitas masyarakat setempat. Salah satu daerah yang memiliki kesenian tradisional yang masih dipertahankan masyarakat adalah kesenian tradisional Biduk Sayak yang berasal dari desa Lubuk Sepuh Kecamatan Pelawan Kabupaten Sarolangun. Biduk Sayak biasanya dipertunjukkan sebagai hiburan masyarakat pada saat acara pernikahan warga desa. Kesenian tradisional ini tetap dipertahankan meskipun harus bersaing dengan hiburan yang bersifat modern seperti organ tunggal, atau hiburan orchestra.
Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui eksistensi dan perkembangan serta pengaruh budaya islam dalam kesenian Biduk Sayak. serta untuk mengetahui kendala-kendala yang dihadapi dalam mempertahankan kesenian Biduk Sayak dan mengupayakan peningkatan eksistensi Biduk Sayak.
Berdasarkan temuan lapangan, kesenian tradisional Biduk Sayak ini merupakan pertunjukkan hiburan saling berbalas pantun yang berisi nasehat bagi tiap penikmatnya, serta diiringi dengan tarian daerah yang menceritakan bagaimana pergaulan muda-mudi seharusnya. upaya yang dapat dilakukan dalam mempertahankan biduk sayak adalah mengajak muda-mudi dan masyarakat untuk mencintai kebudayaan daerah, serta peran pemerintah untuk menjadikan biduk sayak sebagai bagian bidang studi kesenian di sekolah.
Kata Kunci : Eksistensi, Kesenian Tradisional, Kesenian Islam
PENGESAHAN ... iii
MOTTO ... iv
PERSEMBAHAN ... v
KATA PENGANTAR ... vi
ABSTRAK ... viii
DAFTAR ISI ... ix
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Rumusan Masalah ... 6
C. Batasan Masalah... 6
D. Tujuan Penelitian ... 7
E. Manfaat Penelitian ... 7
F. Kerangka Teori... 8
BAB II METODE PENELITIAN ... 21
A. Lingkup Penelitian ... 21
B. Jenis dan Sumber Data ... 23
C. Subjek Penelitian ... 24
D. Teknik Pengumpulan Data ... 25
E. Teknik Analisis Data ... 28
BAB III GAMBARAN UMUM DESA LUBUK SEPUH ... 31
A. Sejarah Singkat Desa Lubuk Sepuh ... 31
B. Letak Geografis Desa ... 32
C. Keadaan Penduduk ... 32
D. Keadaan Agama ... 33
E. Keadaan Pendidikan ... 35
F. Keadaan Mata Pencarian Penduduk ... 36
BAB IV TEMUAN DAN PEMBAHASAN ... 39
A. Eksistensi Kesenian Tradisional Biduk Sayak ... 39
B. Pengaruh Budaya Islam dalam Kesenian Biduk Sayak. ... 46
1. Aspek busana ... 46
2. Aspek gerak ... 47
dalam Mempertahankan Budaya Islam ... 55
1. Upaya yang dilakukan masyarakat untuk meningkatkan Eksistensi kesenian Biduk Sayak agar tetap eksis dalam mempertahankan budaya Islam55 2. Upaya yang harus dilakukan pemerintah dalam meningkatkan eksistensi kesenian Biduk Sayak di Desa Lubuk Sepuh ... 57
BAB V PENUTUP ... 60
A. Kesimpulan ... 60
B. Saran - saran ... 63 DAFTAR PUSTAKA
INSTRUMEN PENGUMPULAN DATA DATA INFORMAN
DOKUMENTASI
DAFTAR RIWAYAT HIDUP PENULIS
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Manusia sebagai ciptaan tuhan yang lengkap dengan pikiran dan perasaan, disamping itu manusia juga diberikan kemampuan lebih untuk berfikir. Hal ini lah yang membedakan manusia berbeda dengan makhluk yang lainnya. Manusia mampu berimajinasi, berkreasi untuk menciptakan suatu keidahan. Keindahan itulah yang berasal dari kebudayaan. Kebudayaan merupakan hasil dari cipta, karsa, dan rasa. Dimana kebudayaan itu bisa dirasakan oleh setiap orang didunia.
Indonesia sebagai negara kepulauan memiliki wilayah yang luas, terbentang dari Aceh sampai Papua, terdapat 17.504 pulau yang tersebar di seluruh kedaulatan Republik Indonesia. Selain kekayaan alam dengan keragaman hayati dan nabati, Indonesia dikenal dengan keberagaman budayanya. Setiap suku bangsa memiliki kebudayaan dan tradisi masing-masing yang menjadi ciri khas masyarakat. Kebudayaan dalam satu masyarakat memiliki makna tersendiri bagi anggotanya serta diwariskan secara turun-temurun di lingkungan keluarga ataupun dalam komunitasnya. Kebudayaan adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar.2 Dengan kata lain kebudayaan merupakan aktifitas
2Koentjaraningrat, Pengantar Ilmu Antropologi, (Jakarta: PT Rineka cipta.2009), hal. 144
manusia yang terdiri dari pengetahuan, kepercayaan, seni, hukum, moral, dan adat istiadat sebagai anggota masyarakat.
Dengan memahami arti kebudayaan tersebut menunjukan bahwa segala aspek yang dibuat oleh manusia adalah kebudayaan. Sedangkan menurut Malinowski kebudayaan mempunyai fungsi sebuah pendirian bahwa aktifitas kebudayaan itu sebenarnya bermaksud memuaskan suatu rangkaian dari sejumlah kebutuhan naluri makhluk manusia yang berhubungan dengan seluruh kehidupannya.3
Secara umum kebudayaan adalah istilah untuk segala hasil karya manusia yang berkaitan erat dengan pengungkapan bentuk. Kebudayaan merupakan wadah tempat hakikat manusia dan pengembangan diri (kebudayaan) tersebut terjalin hubungan yang tidak dapat dipisahkan. Kebudayaan lahir dari akal budi, jiwa atau hati nurani manusia. Bentuk kebudayaan tersebut selalu mencerminkan jika ada pertunjukan seni di daerah mereka, mereka akan berbondong-bondong mendatangi tempat pertunjukan untuk menonton. Dalam antropologi manusia melakukan aktifitas tersebut karena manusia memiliki dorongan naluri. Menurut ahli psikologi paling sedikit ada tujuh macam dorongan naluri salah satunya, yaitu: Dorongan akan keindahan, dalam arti keindahan bentuk, warna, suara, atau gerak. Beberapa ahli berkata bahwa dorongan ini merupakan landasan dari suatu unsur yang penting dalam kebudayaan manusia, yaitu kesenian.4
Secara umum kesenian adalah salah satu di antara tujuh unsur kebudayaan yang bersifat universal. Pada umumnya kesenian yang tumbuh dan berkembang
3Koentjaraningrat, Sejarah Teori Antropologi, (Jakarta: UI-Press. 1987), hal. 171
4Koentjaraningrat, Pengantar Ilmu Antropologi,hal. 109-111
dalam masyarakat bersifat sosio relegius. Dalam hal ini kesenian tidak dapat dipisahkan dengan kehidupan sosial, dilihat dari sisi lain kesenian muncul atas dasar kepentingan yang erat hubungan nya terhadap kepercayaan masyarakat setempat. Dengan kata lain kesenian itu sangat dibutuhkan dalam kehidupan bermasyarakat selain itu juga berfungsi utnuk memenuhi kebutuhan psikis manusia, juga hiburan masyarakat sehingga dapat memberikan sesuatu yang memuaskan.
Dilihat dari sekian banyaknya pulau beserta dengan multietnik yang lahir, tumbuh, dan berkembang, kesenian merupakan identitas, jati diri dan media ekspresi dari masyarakat pendukungnya. Kesenian di Indonesia ini merupakan hasil local genius budaya yang sudah berusia cukup lama, bahkan ada yang berusia ratusan tahun. Seni yang diciptakan dan didukung oleh masyarakat daerah setempat dikenal sebagai kesenian Tradisional. Kesenian tradisional merupakan unsur kesenian yang menjadi bagian hidup masyarakat dalam suatu kaum atau bangsa tertentu.
Kesenian tradisional menggambarkan budaya setempat dan memberi warna pada masyarakat di tempat itu, serta memberi gambaran umum tentang wujud suatu bangsa. Pada setiap kelompok muncul berbagai jenis kesenian yang bersifat khas identitas kebudayaan masing-masing. Salah satu antara kesenian itu adalah seni musik. Keunikan dalam seni musik bisa dilihat dari teknik permainannya, suara (sound), penyajiannya maupun bentuk/organologi instrumen musiknya. Selain lagu daerah, hampir di seluruh wilayah Indonesia mempunyai seni musik tradisi, seperti tarling, campur sari, jaipongan, degung, gambang
kromong, langgam jawa (dikenal sebagai bentuk musik campur sari). Ada yang telah punah namun masih ada yang bertahan walaupun dengan kesulitan karena diterjang badai berbagai aliran musik modern mulai dari pop hingga musik beraliran keras yang memang lebih mudah diterima di telinga, terutama, kalangan muda.
Begitu juga dengan Jambi yang merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang memiliki berbagai macam bentuk kesenian tradisional, seperti seni vocal berupa lagu khas daerah, seni rupa, seni pertunjukan, cerita rakyat, permainan tradisional, tekstil tradisional yaitu kain tradisional yang disebut batik Jambi dengan corak khas Jambi, pasar tradisional, kesenian tradisional, dan upacara tradisional. Keragaman seni, budaya dan tradisi yang merupakan hasil karya budaya ini perlu untuk dikembangkan. Pengembang seni budaya memiliki peranan yang sangat penting dalam meningkatkan apresiasi masyarakat dari generasi ke generasi terhadap keragaman budaya. Tumbuh dan berkembangnya kesenian dipengaruhi oleh kondisi masing-masing wilayah, sehingga kesenian dapat berbeda-beda di setiap tempat.5
Kesenian tradisional Jambi sangat banyak jenisnya, salah satu diantaranya adalah seni musik. Seni musik di Jambi ini cukup memiliki banyak ragam serta coraknya pada tiap-tiap daerah dan suku dalam kelompok masyarakat adat Jambi. Beberapa seni musik yang dikenal di provinsi Jambi, yaitu Kesenian Rentak Kudo dan Krinok dari Muaro Bungo, Gitar Tunggal dari Batang Asai, Pantun Besaut dari Batanghari 9, Manau dari Bangko dan masih banyak lainnya.
5H. Hasip Kalimudin Syam Datuk Setio Agamo, Seni dan Budaya Adat Jambi, jilid V, (Jambi:
Lembaga Adat Propinsi Jambi. 2013), hlm. 3
Salah satu kekayaan lagu dan musik yang tumbuh di Jambi, Desa Lubuk Sepuh adalah Biduk Sayak. Biduk sayak merupakan pertunjukkan musik tradisional daerah yang ditampilkan sebagai hiburan ketika terdapat acara adat desa. Biasanya biduk sayak ditampilkan dalam pernikahan, panen padi, menyambut pejabat pemerintahan atau peringatan acara besar di Sarolangun serta acara adat lainnya. Kesenian biduk sayak ini adalah pertunjukkan berbalas pantun yang diiringi oleh sekelompok pemain musik dan diiringi tarian-tarian. Pada acara pernikahan biasanya pertunjukkan ini dilaksanakan pada malam hari sebelum pesta pernikahan dimulai. Dari segi alat musik, biduk sayak masih menggunakan alat-alat musik tradisional sebagai pengiring pertunjukkannya, seperti gendang kulit, gitar gambus dan lain-lain.
Biduk sayak merupakan seni pertunjukkan yang bersifat sebagai hiburan dan menjadi media untuk silaturahmi warga desa. Pantun yang dibawakan dalam kesenian tradisional biduk sayak memiliki makna tersendiri dari sisi lantunan syair serta gerakan yang dibawa oleh sang penari.
Namun berdasarkan lapangan kesenian buduk sayak ini sudah jarang dilaksanakan hal ini disebabkan karena mulai masuknya alternative hiburan modern yang terlihat lebih menarik minat masyarakat desa. Maka biduk sayak harus bersaing dengan hiburan yang bersifat modern seperti organ tunggal yang praktis dari segi alat dan bisa mengundang lebih banyak warga yang datang untuk meramaikan acara, terlebih lagi muda-mudi yang lebih menyukai hiburan modern.
Kekhawatiran muncul ketika kesenian biduk sayak ini tidak dilakukan upaya pelestarian akan menyebabkan redupnya eksistensi biduk sayak. Terlebih lagi
biduk sayak merupakan salah satu kesenian tradisional yang sangat memperhatikan norma-norma keislaman dalam pelaksanaannya dan muatan nasehat yang dituturkan dalam syairnya.
Dari latar belakang masalah yang telah dipaparkan di atas penulis ingin mengangkat masalah dengan judul “Eksistensi Kesenian Tradisional Biduk Sayak di Desa Lubuk Sepuh Kecamatan Pelawan Kabupaten Sarolangun Ditinjau Dari Pengaruh Kebudayaan Islam” sebagai pembahasan yang akan dibahas oleh penulis.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian dari latar belakang masalah diatas, maka penulis merumuskan beberapa permasalahan di antaranya sebagai berikut:
1. Bagaimana eksistensi dan pengaruh budaya Islam dalam kesenian Biduk Sayak ?
2. Apakah kendala-kendala perkembangan kesenian Biduk Sayak dalam mempertahankan budaya Islam ?
3. Apa upaya untuk meningkatkan eksistensi kesenian Biduk Sayak dalam mempertahankan budaya Islam?
C. Batasan Masalah
Untuk lebih terarahnya pembahasan dalam penelitian ini maka penulis membatasi batasan disekitar hal-hal yang terkait dengan :
1. Eksistensi dan perkembangan serta pengaruh Islam dalam kesenian Biduk Sayak
2. Serta kendala dan upaya untuk meningkatkan budaya Islam dalam kesenian biduk Sayak di Desa Lubuk Sepuh Kecamatan Pelawan Kabupaten Sarolangun.
D. Tujuan Penelitian
Berdasarkan permasalahan di atas adapun tujuan penelitian dalam skripsi ini adalah :
1. Mengetahui eksistensi dan perkembangan serta pengaruh budaya Islam dalam kesenian Biduk Sayak di Desa Lubuk sepuh.
2. Mengetahui kendala-kendala perkembangan Kesenian Biduk Sayak dalam mempertahankan budaya Islam di Desa Lubuk Sepuh.
3. Mengetahui upaya untuk meningkatkan ekistensi Kesenian Biduk Sayak dalam mempertahankan budaya Islam di Desa Lubuk Sepuh.
E. Manfaat Penelitian
Adapun manfaat yang dapat diambil dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan pengertian serta melihat perkembangan antropologi budaya, khususnya tentang kesenian biduk sayak.
Sehingga mendapatkan pemahaman tentang biduk sayak dan sebagai upaya pelestarian dan publikasi terhadap masyarakat dari generasi kegenerasi.
2. Dengan penelitian ini dapat memberikan wawasan pengetahuan tentang kebudayaan dan kesenian tradisional biduk sayak.
3. Penelitian ini di harapakan agar mendapatkan perhatian dari pemerintah serta masyarakat untuk ikut melestarikannya.
4. Untuk menambah referensi perpustakaan, serta dapat digunakan dalam penelitian selanjutnya dalam skala yang lebih luas, dan dapat memberikan informasi serta acuan bagi pembaca dan penulis.
F. Kerangka Teori
Sebagai landasan dasar untuk mempermudah penulis dalam penelitian proposal sekripsi, maka diperlukan suatu kajian yang bersifat teoritis yang ada kaitannya dengan permasalahan yang akan diteliti dilapangan dengan kerangka teori yang diperlukan sebagai berikut:
1.Eksistensi
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia eksistensi adalah keberadaan, kehadiran yang mengandung unsur bertahan.6 Eksistensi berasal dari bahasa Latin yaitu existere, yang artinya keluar dari, “melampaui” atau “mengatasi”.7 Hal ini berarti eksistensi tidak bersifat kaku dan terhenti, melainkan lentur atau kenyal
6 Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 1990) hl. 221
7 https://id.wikipedia.org/wiki/Eksistensi (diakses pada Rabu, 8 November 2017, pukul 11.30 WIB).
dan mengalami perkembangan atau sebaliknya kemunduran, tergantung pada kemampuan dalam mengaktualisasikan potensi-potensinya. Eksistensi merupakan keberadaan wujud yang tampak, maksudnya yaitu eksistensi merupakan konsep yang menekankan bahwa sesuatu itu ada dan satu-satunya faktor yang membedakan setiap hal adalah fakta. Dengan demikian, eksistensi atau keberadaan dapat diartikan sebagai hadirnya atau adanya sesuatu dalam kehidupan. Sehingga peneliti menyimpulkan bahwa eksistensi merupakan hadirnya sesuatu dalam kehidupan baik benda atau manusia menyangkut apa yang dialami.
Maka dalam skripsi ini, peneliti akan melihat bagaimana keberadaan Biduk Sayak dalam kehidupan masyarakat sehari-hari.
Keberadaan kebudayaan Indonesia merupakan kekayaan budaya bangsa yang bersumber dari keanekaragaman tradisi dan akar budaya daerah, masing- masing memiliki latar belakang sejarah dan perkembangan sendiri. Perkembangan dan pertumbuhan tersebut tidak terlepas dari perkembangan dan pertumbuhan masyarakat Indonesia pada umumnya. Setiap kebudayaan di Indonesia mengalami perkembangan dan pertumbuhan sesuai dengan perkembangan zaman. Untuk itu, supaya kebudayaan di Indonesia tetap berada pada eksistensinya, setiap warga Indonesia harus bisa melestarikan budayanya sesuai dengan perkembangan zaman. Apabila dalam hal ini generasi penerus tidak memperhatikan zaman, maka kebudayaan bangsa semakin lama akan hilang termakan oleh waktu. Untuk mempermudah dalam melestarikan sebuah kebudayaan, kita sebagai warga yang peduli budaya bisa mengklasifikasikan budaya dalam beberapa macam.
2. Kebudayaan
Kata kebudayaan berasal dari kata sansekerta buddhayah, yaitu bentuk jamak dari buddhi yang berarti “budi” atau “akal”. Dengan demikian kebudayaan dapat diartikan “hal-hal yang bersangkutan dengan akal”. Apabila dilihat dari kata dasarnya, kata budaya merupakan majemuk budi-daya, yang berarti “daya dan budi”.8 Budaya adalah “daya” dan “budi” yang berupa cipta, karsa dan rasa.
Sedangkan “kebudayaan” adalah hasil dari cipta, karsa dan rasa itu.9 Kebudayaan menurut Mukti Ali adalah budi daya, tingkah laku manusia digerakan oleh akal dan perasaannya.10
Sedangkan menurut ilmu antropologi, kebudayaan adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar.11
Adapun pengertian kebudayaan dari beberapa tokoh : a. Edward B. Taylor
Kebudayaan merupakan keseluruhan yang kompleks, di dalamnya terkandung pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan kemampuan lain yang didapat oleh seseorang sebagai anggota masyarakat.
8Rafael Raga Maram, Manusia dan Kebudayaan. (Jakarta: Rineka Cipta, 2007), hal. 24
9Pengantar Ilmu Antropologi.(Jakarta: Rineka Cipta. 2009), hal. 146
10Ahmad Mustofa, Ilmu Budaya Dasar, (Bandung: Pustaka Setia. 1999), hal. 59
11Koentjaraningrat, Pengantar Ilmu Antropologi.(Jakarta: Rineka Cipta. 2009), hal. 144
b.M.Jacobs dan B.J Stern
Kebudayaan mencangkup keseluruhan yang meliputi bentuk teknologi, sosial, ideologi, religi, kesenian, serta benda yang kesemuanya merupakan warisan sosial.
c. Dr.K. Kupper
Kebudayaan merupakan sistem gagasan yang menjadi pedoman dan pengaruh bagi kehidupan manusia dalam bersikap dan berprilaku. Baik secara individu maupun kelompok.
d. Arkeolog R. Soekmono
Kebudayaan adalah hasil dari usaha manusia. Baik berupa benda maupun buah pikiran dalam penghidupannya.
Kebudayaan adalah suatu fenomena universal. Setiap masyarakat bangsa di dunia memiliki kebudayaan, meskipun bentuk dan coraknya berbeda-beda dari masyarakat bangsa satu ke masyarakat bangsa lainnya. Kebudayaan secara jelas menampakkan kesamaan kodrat manusia dari berbagai suku, bangsa dan ras.
Orang bisa mendefinisikan manusia dengan caranya masing-masing, namun manusia sebagai cultural being, makhluk budaya merupakan suatu fakta historis yang tak terbantahkan oleh siapapun juga. Sebagai cultural being, manusia adalah sebagai pencipta kebudayaan. Dan sebagai ciptaan manusia kebudayaan adalah
ekspresi eksistensi manusia di dunia. Pada kebudayaan, manusia menampakkan jejak-jejaknya dalam panggung sejarah.12
Berdasarkan pernyataan Kroeber dan Kluckhohn, definisi kebudayaan dapat digolongkan menjadi 7 hal, yaitu:
Pertama, kebudayaan sebagai keseluruhan hidup manusia yang kompleks, meliputi hukum, seni, moral, adat-istiadat, dan segala kecakapan lain, yang diperoleh manusia sebagai anggota masyarakat. Kedua, menekankan sejarah kebudayaan, yang memandang kebudayaan sebagai warisan tradisi. Ketiga, menekankan kebudayaan yang bersifat normative, yaitu kebudayaan dianggap sebagai cara dan aturan hidup manusia, seperti cita-cita, nilai dan tingkah laku.
Keempat, pendekatan kebudayaan dari aspek psikologis, kebudayaan sebagai langkah penyesuaian diri manusia kepada lingkungan sekitarnya. Kelima, kebudayaan dipandang sebagai struktur, yang membicarakan pola-pola dan organisasi kebudayan serta fungsinya. Keenam, kebudayaan sebagai hasil perbuatan dan kecerdasan. Kebudayaan adalah sesuatu yang membedakan manusia dengan hewan, misalkan manusia pintar menggunakan simbol dalam komunikasi sedangkan hewan tidak. Ketujuh, definisi kebudayaan yang tidak lengkap dan tidak bersistem.13 Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial, yang digunakannya untuk memahami dan menginterprestasikan lingkungan serta pengalamnya, kemudian menjadi pedoman bagi tingkah lakunya. Kebudayaan merupakan milik bersama anggota masyarakat atau golongan sosial tertentu, yang
12Rafael Raga Maram, Manusia dan Kebudayaan. (Jakarta: Rineka Cipta, 2007), hl. 16
13 Suwardi Endraswara, Metodologi Penelitian Kebudayaan, (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. 2013), hl.4
disebarkan oleh anggota masyarakat dan pewarisnya kepada generasi berikutnya.
Penyebaran tersebut dilakukan melalui proses belajar dan dengan menggunakan simbol-simbol yang terwujud dalam bentuk yang terucapkan maupun yang tidak terucapkan ( termasuk sebagai peralatan yang di buat oleh manusia ). Oleh karena itu, setiap anggota masyarakat mempunyai perbedaan pengetahuan mengetahui kebudayaan dengan anggota masyarakat lainnya karena pengalaman dan proses belajar yang berbeda dan lingkungan-lingkungan yang mereka hadapi pun tidak selamanya sama.14
3. Fungsi Kebudayaan
Kebudayaan mempunyai fungsi yang sangat besar bagi manusia dan masyarakat. Kebutuhan masyarakat bidang spiritual dan materiil sebagian besar dipenuhi oleh kebudayaan yang bersumber pada masyarakat itu sendiri. Hasil karya masyarakat melahirkan teknologi atau kebudayaan kebendaan yang mempunyai kegunaan utama di dalam melindungi masyarakat terhadap lingkungan alamnya.
Pada taraf permulaan, manusia semata-mata bertindak dalam batas-batas untuk melindungi dirinya. Taraf terseut, masih banyak dijumpai pada masyarakat yang hingga kini masih rendah tahap kebudayaannya.Keadaannya sangat berlainan dengan masyarakat yang sudah kompleks, dimana taraf kebudayaannya lebih tinggi. Hasil kebudayaannya yang berupa teknologi memberikan
14Parsudi Suparlan, Suku Bangsa dan Hubungan Antara Suku Bangsa, (Jakarta: Yayasan Pengembangan Kajian Ilmu Kepolisian. 2005), hl. 5
kemungkinan-kemungkinan yang sangat luas untuk memanfaatkan hasil-hasil alam dan apabila mungkin menguasai alam.
4. Kesenian
Salah satu kebudayaan di Indonesia adalah seni. Seni adalah hasil perbuatan manusia yang timbul dari perasaannya dan bersifat indah, sehingga dapat menggerakan jiwa dan perasaan manusia. Manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan dikaruniai kemampuan dan akal untuk menciptakan sesutu yang bernilai seni. Setiap kebudayaan memiliki ekspresi-ekspresi artistik. Maka dari itu, seni dikatakan sebagai hasil ekspresi individual, sebab karya seni merupakan bahasa ungkap baik melalui media gerak, suara ataupun rupa. Kesenian tidak akan bisa berdiri tanpa adanya dukungan dari beberapa pihak. Adanya suatu kesenian dalam masyarakat sangat memerlukan dukungan dari masyarakat dimana kesenian tersebut tumbuh dan berkembang. Tidak hanya masyarakat yang mendukung kesenian suatu daerah. Namun, pemerintah setempat juga memegang peranan penting dalam keberadaan suatu kesenian di suatu daerah.15
Seni adalah suatu nilai hakiki yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan manusia.16 Seni merupakan suatu hasil karya manusia yang mempunyai nilai keindahan yang dapat di nikmati serta dirasakan oleh manusia.17 Seni yaitu penjelmaan rasa indah yang terkandung dalam jiwa manusia, dilahirkan dengan perantara alat komunikasi ke dalam bentuk yang dapat ditangkap oleh indra
15 Tim Penyusun, Ensiklopedi Umum (Yogyakarta: KANISIUS, 1973) hl. 557
16Rafael Raga Maram, Manusia dan Kebudayaan, hl. 103
17Triyanto Haryanto, Antropologi, 2012, hl. 3
pendengar (seni suara), penglihatan (seni lukis), atau dilahirkan dengan perantara gerak (seni tari,drama).18
Kesenian mengacu pada nilai keindahan (estetika) yang berasal dari ekspresi hasrat manusia terhadap keindahan yang dinikmati dengan mata atau telinga. Sebagai makhluk yang mempunyai cita rasa tinggi, manusia menghasilkan berbagai corak kesenian mulai dari yang sederhana hingga perwujudan kesenian yang kompleks.19 Oleh karena itu, setiap bangsa memiliki ekspresi-ekspresi estetis yang khas. Apa yang disebut universalitas seni tidak terletak pada corak dan bentuk ekspresi seni, melainkan pada kenyataan bahwa ekspresi seni itu terdapat di setiap kebudayaan.20
5. Bentuk-bentuk Seni
Pada umumnya, kesenian dapat di nikmati oleh manusia melalui dua macam indera, yaitu indra mata dan indra telinga atau keduanya secara serentak.
Keindahan dalam hubungan kedua macam indra, dibedakan dalam tiga bentuk, yaitu seni rupa, seni suara, dan seni pertunjukan. Seperti yang di jelaskan seperti berikut :
a. Seni rupa
Seni rupa merupakan kesenian yang dapat dinikmati melalui indra mata sehingga sifatnya visual. Wujudnya antara lain adalah seni bangunan, seni realif atau ukiran timbul, seni lukis, dan seni rias.
18Abdurrahman Al Baghdadi, Seni dalam Pandangan Islam Seni, vocal, Seni musik dan Tari, (Jakarta: Gema Insani Press. 1991), hal. 13
19 Sulasman, dan Setia Gumilar, Teori- Teori Kebudayaan dari Teori Hingga Aplikasi (Bandung:
CV Pustaka Setia, 2013) hl. 43
20Rafael Raga Maram, Manusia dan Kebudayaan. (Jakarta: Rineka Cipta, 2007) hl. 46
b. Seni suara
Seni suara merupakan kesenian yang dapat dinikmati melalui indera telinga,sehingga sifatnya audio. Wujudnya antara lain seni vocal, seni instrumental dan seni sastra lisan.
c. Seni pertunjukan
Seni pertunjukan adalah kesenian yang dapat dinikmati melalui indra mata dan telinga sekaligus sifatnya audio visual. Wujudnya antara lain adalah seni tari, seni drama, dan seni film.
Dunia ini pada hakikatnya bukanlah sekedar materi yang brsifat keterampilan belaka, tetapi juga merupakan wahana siswa untuk mengembangkan kreatifitas, budi, dan kepekaan akan keindahan (estetika).
Menurut K. Langerdalam Dharsono, menyatakan bahwa seni merupakan symbol dari perasaan. Seni merupakan kreasi bentuk simbolis dan dari perasaan manusia bentuk-bentuk simbolis yang mengalami transformasi yang merupakan universalisasi dan pengalaman dan merupakan terjemahan dari pengalaman tertentu dalam karya seninya melainkan formasi pengalaman emosional yang bukan dari pikiran semata.
6. Kesenian Tradisional
Kesenian tradisional adalah kesenian yang diciptakan oleh masyarakat banyak yang mengandung unsur keindahan yang hasilnya menjadi milik bersama.
Kesenian tradisional bukanlah kesatuan ikatan gaya dalam seni, tetapi sebuah kemajemukan cara pandang para seniman perintis abad ke-20 yang dapat
diterangkan melalui pemahaman konteks sejarah perkembangan musik seni dimata masyarakat. Di tegaskan pula bahwa pewarisan tradisi berlansung di dalam segala aktifitas sehari-hari,oleh sebab itu tradisi bukanlah suatu yang baku, atau tidak berkembang. Suatu kesenian tentunya memiliki ciri-ciri, begitu juga kesenian tradisional mempunyai sifat atau cirri-ciri seni tradisional. Pertama, menyatakan bahwa ciri-ciri seni tradisional meliputi,
1. Seni tradisional tumbuh secara konstan selama beratus-ratus tahun.
2. Ada yang selaras dengan orang-orang di daerah kekuasaan.
3. Dalam seni tradisional ada renungan pandangan kehidupan.
7. Kesenian Islam
Agama islam tidak memberikan atau menggariskan teori dan ajaran yang rinci tentang seni dengan bentuk-bentuknya, sehingga belum memiliki „batasan‟
tentang seni Islam yang diterima semua pihak. Meskipun demikian, Sayyed H.
Nasr memberikan ciri-cirinya, bahwa:
Seni Islam merupakan hasil dari pengejawantahan Ke-Esaan pada bidang keanekaragaman yang merefleksikan Ke-Esaan Illahi, kebergantungan keanekaragaman kepada Tuhan yang Maha Esa, kesementaraan dunai dan kualitas-kualitas positif dari eksistensi kosmos atau makhluk sebagaimana difirmankan oleh Allah SWT dalam Al-Qur‟an.21
21 Sayyed Hossein Nasr (terj. Afif Muhammad). Spiritualitas dan Seni Islam. ( Bandung: Mizan, 1933) hl. 18
Kemudian pandangan dari M. Quraish Shihab tentang seni islam yaitu,
Kesenian islam tidak harus berbicara tentang isalam, ia tidak harus berupa nasihat langsung atau anjuran berbuat kebajikan, bukan juga abstrak tentang akidah. Seni yang islami adala seni yang dapat menggambarkan wujud ini, dengan bahasa yang indah serta sesuai dengan cetusan fitrah.
Seni Islam adalah ekspresi tentang keindahan wujud dari sisi pandangan Islam tentang Islam, hidup dan manusia yang mengantar menuju pertemuan sempurna antara kebenaran dan keindahan.22
Objek dan cara penampilan seni dapat bebas, artinya boleh menggambarkan kenyataan yang hidup dalam masyarakat dan memadukannya dengan apa saja. Lapangan seni Islami adalah semua wujud, tetapi seni yang ditampilkan todak bertentangan dengan fitrah atau pandangan islam tentang wujud itu sendiri. Pada saat seni telah berfungsi sebagai sarana dakwah Islamiyah dan bertujuan untuk memeprhalus budi, mengingatkan tentang jati diri manusia serta menggambarkan baik atau buruknya suatu pengalaman, maka seni tersebut merupakan seni yang bernafaskan Islam.
Seni Islam adalah seni yang dapat mengungkapkan keindahan konsep tauhid sebagai esensi akidah, tata nilai dan norma islam, yaitu menyampaikan pesan keesaan tuhan. Hasil perwujudan seni Islam dibentuk oleh karakteristik tertentu, diantaranya adalah estetika dan kreatifitas. menurut penilaian Islam bahwa segala bentuk seni selain merupakan karya ibadah (pengabdian kepada Allah) juga mengandung dan mengungkapkan keindahan.
22 Quraish Shihab. Wawasan tentang Al-Qur’an. (Bandung: Mizan, 1996) hl. 398
Estetika Islam tidak dapat dicapai melalui penggambaran manusia dan alam. Estetika yang islami merujuk pada penilaian dan norma abadi dalam Al- Quran dan As-Sunah, karena seni Islam pada satu segi dibatasi oleh nilai-nilai azasi, etis dan norma-norma Illahi yang umum serta pada segi lain dibatasi oleh kedudukan manusia sendiri sebagai abdi Allah. Berbagai tantangn terhadap kreatifitas estetis telah dialami sejak awal perkembangan kesenian Islam.
Kesenian dikembangkan sesuai dengan inspirasi yang tumbuh dari nilai-nilai dan norma Islam. Kemudian terjadi proses akulturasi dari budaya lokal dan disesuaikan dengan ajaran Islam. Model ini telah ditetapkan sebagai dasar kesatuan estetika dalam dunia Islam tanpa mengabaikan keberagaman budaya lokal. dalam kaitan ini pengertian estetika nampaknya lebih ditekankan pada penghayatan kreasi budaya lokal (local genius) yang bertentangan dengan nilai tauhid.
Secara khusus seni yang bernafaskan Islam dasar pemikirannya adalah niat beribadah dan keikhlasan pengabdian kepada Allah, dengan mengakomodasi nilai tradisi budaya lokal. Setelah memahami alam semesta dan qira’ah Al- Qur‟an, penciptaan karya seni dilandasi oleh kreatifitas dan rasa estetis, logis, etis serta azas manfaat. kemudian dirumuskan konsep dan gagasan serta dipertimbangkan teknis pelaksanaannya hingga terwujudnya sebuah karya.
Demikian seni yang dihasilkan merupakan ekspresi syukur dan dzikir sebagai rahmatan lil‟alamin.23
23 Nanang Rizali, “Kedudukan Seni Dalam Islam”. TSAQAFA: Jurnal Kajian Seni Budaya Islam (Yogyakarta: Lembaga Seni Budaya dan Olahraga PP Muhammadiyah, 2012), hl. 1-8
8. Musik
Istilah musik berasal dari bahasa Yunani, mousikos. Kata ini diambil dari nama salah satu dewa Yunani yang bernama Mousikos,Mousikos dilambangkan sebagai dewa keindahaan dan menguasai bidang kesenian dan ilmu pengetahuan.
Musik dapat diartikan sebagai ungkapan perasaan yang di tuangkan dalam bentuk bunyi-bunyian. Ungkapan yang dihasilkan melalui suara manusia disebut vocal,sedangkan ungkapan yang dihasilkan melalui alat musik disebut instrumental.24
Sementara Ahmad mustofa dalam bukunya mengatakan bahwa Seni Musik ada dua jenis25 :
1. Musik daerah seperti: seni karawitan, degung Sunda, musik kolintang,dan gending sriwijaya.
2. Musik Nasional, seperti: Padamu Negeri, hallo-hallo Bandung, Gugur Bunga, dan Syukur.
Musik adalah ungkapan rasa indah manusia dalam bentuk suatu konsep pemikiran yang bulat, wujud nada-nada atau bunyi lainnya yang mengandung ritme dan harmoni, serta mempunyai suatu bentuk dalam ruang waktu yang dikenal oleh diri sendiri dan manusia lain dalam lingkungan hidupnya, sehingga dapat dimengerti dan dinikmatinya.26
24Triyanto Haryanto, Antropologi,37
25Ahmad Mustofa, Ilmu Budaya Dasar, 48
26R. M. Soedarsono, Pengantar Apresiasi Seni, (Jakarta: Balai Pustaka. 1992), hal. 13-14
Musik-musik yang bersifat tradisional selalu berhubungan dengan kehidupan suatu komunitas sehari-hari. Pada umumnya,musik-musik tradisional digunakan untuk keperluan hidup komunitas masyarakat setempat, misalnya untuk keperluan upacara yang bersifat ritual (dalam wujud doa atau pujian kepada Sang Pencipta), untuk kepentingan pekerjaan (misalnya untuk menyambut musim panen), mengiringi tari-tarian tradisional atau juga bisa sebagai sarana menyebarkan nilai-nilai budaya ataupun sejarah komunitas setempat. Dalam kasus ini musik-musik tradisional memang dianggap lebih fungsional dibandingkan musik-musik kotemporer. Ciri khas musik tradisonal ialah tradisi lisan dalam hal proses penyebaran pewarisannya. Dengan proses penyebaran secara lisan, musik tradisional senantiasa hanyalah mengandalkan cara-cara lisan (tanpa tulisan).
Penyebaran dilalakukan melalui komunikasi langsung dari mulut-ke mulut.
Perkembangan musik ini semata-mata hanya mengandalkan daya ingat manusia pendukungnya, yang disebar-sebarkan ketempat-tempat lain dari satu generasi ke generasi berikutnya.27
27R. M. Soedarsono, Pengantar Apresiasi Seni, hl. 51
BAB II
METODE PENELITIAN
Penelitian ini merupakan penelitian yang berbentuk deskriptif kualitatif (penelitian lapangan). Metode penelitian deskriptif adalah suatu metode yang digunakan untuk menemukan pengetahuan terhadap subjek penelitian pada suatu tertentu. Penelitian deskriptif merupakan penelitian yang dimaksudkan untuk mengumpulkan informasi mengenai subjek penelitian dan perilaku subjek penelitian pada suatu metode tertentu. Penelitian kualitatif deskriptif berusaha mendeskripsikan seluruh gejala atau keadan yang ada, yaitu keadaan gejala menurut apa adanya pada saat penelitian dilakukan.28
Dalam hal ini peneliti mencoba untuk mendeskripsikan tentang kesenian Tradisional Biduk Sayak di Desa Lubuk Sepuh Kecamatan Pelawan Kabupaten Sarolangun.
A. Lingkup Penelitian
Penelitian ini tentang kesenian Tradisional Biduk Sayak di Desa Lubuk Sepuh Kecamatan Pelawan Kabupaten Sarolangun. Penelitian ini berbentuk deskritif kualitatif yang dilihat dari sudut pandang kesenian tradisional biduk sayak di kecamatan Pelawan. Instrument pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara, observasi, rekaman dan dokumentasi.
28 Mukhtar, Metode Praktis Penelitian Deskriptif Kualitatif, (Jakarta: Referensi. 2013), hal. 10-11
B. Jenis dan Sumber Data
Untuk memperoleh gambaran maupun data yang dikumpulkan dalam penulisan dan penyusunan skripsi, maka peneliti melakukan penelitian atau riset di berbagai perpustakaan yang memungkinkan dan memudahkan penulis memperoleh data dan gambaran masalah yang di bahas.
1. Jenis Data
Data yang diperlukan dalam penulisan dan penyusunan skripsi dibagi atas dua bagian, yaitu:
a. Data Primer
Data primer adalah data yang diperoleh langsung dari masyarakat baik dilakukan melalui wawancara, observasi, dan alat lainnya.29
Adapun yang menjadi data primer dalam penelitian ini adalah data pokok yang berkaitan langsung dengan pokok permasalahan dalam penelitian, yaitu kesenian Tradisional Biduk Sayak di Desa Lubuk Sepuh Kecamatan Pelawan Kabupaten Sarolangun. Sebagaimana pokok permasalahan tersebut telah dirinci sebagai sub-sub masalah untuk mendapatkan jawaban setelah penelitian dilakukan.
b. Data sekunder
Data sekunder adalah data yang diperoleh atau dikumpulkan oleh orang yang melakukan penelitian dari sumber-sumber yang telah ada. Data ini biasanya di peroleh dari perpustakaan atau laporan-laporan terdahulu.30
29P. Joko Subagyo, Metode Penelitian, (Jakarta: Rineka Cipta. 2004), hal. 87
30Iqbal Hasan, Analisis Data Penelitian dengan Analisis Statistik, (Jakarta: Bumi Aksara.
2006),hal. 19
Data sekunder dalam penelitian ini adalah data pendukung penelitian yang melengkapi atau pendukung dari penelitian tersebut. Data sekunder yang dimaksudkan antara lain:
1.) Historis dan geografis 2.) Struktur organisasi 3.) Keadaan masyarakat 2. Sumber Data
Sumber data utama adalah “kata-kata dan tindakan orang-orang yang diamati atau di wawancarai”.31
Sumber data yang dijadikan sumber utama penelitian adalah:
a. Pemilik Sanggar kesenian tradisional biduk sayak b. Tokoh-tokoh adat
c. Kepala desa dan masyarakat
C. Subjek Penelitian
Penelitian bersifat kualitatif deskriptif, dalam penelitian ini teknik pengumpulan data bersifat Purposive sampling. Purposive sampling adalah teknik pengumpulan sample sumbar data dengan pertimbangan tertentu. Orang tersebut yang dianggap paling mengetahui tentang apa yang diharapkan, atau mungkin sebagai penguasa sehingga akan memudahkan peneliti menjajahi objek atau situasi social yang diteliti.32 Sesuai dengan kebutuhan peneliti maka yang menjadi
31Lexy J. Moleong, Metode Penelitian Kualitatif, (Bandung: Remaja Rosdakarya. 2000), hal. 112
32Sugiono, Metode Penelitian Kualitatif dan Kuantitatif dan R & D, (Bandung: Alfabeta. 2012), hal. 218
subjek dalam penelitian ini adalah para pemain biduk sayak yang berkompeten dibidangnya, perangkat desa seperti kades, RT dan masyarakat selain itu sebagai data sekunder lain yang digunakan peneliti yaitu sumber tulisan seperti buku, skripsi, artikel, Koran, blog, dan situs web yang berkaitan dengan penelitian ini.
D. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data merupakan langkah yang paling strategis dalam penelitian, karena tujuan utama penelitian adalah mendapatkan data.33 Dalam peneliti ini penulis menggunakan metode penelitian kualitatif (penelitian lapangan). Dalam hal ini penulis mencoba mendeskripsikan tentang kesenianTradisional Biduk Sayak di Desa Lubuk Sepuh Kecamatan Pelawan Kabupaten Sarolangun. Penulis melakukan pengumpulan informasi yang dibutuhkan dalam penelitian ini.
Berbagai metode pengumpulan data yang penulis gunakan dalam melakukan penelitian yaitu sebagai berikut:
1. Observasi
Observasi merupakan proses yang komplek, suatu proses yang tersusun dari berbagai proses biologis dan psikologis. Dua diantara yang terpenting adalah proses-proses pengamatan dan ingatan.34 Cartwright menjelaskan dalam bukunya Haris Herdiansyah, bahwa:
33Sugiono, Metode Penelitian Kualitatif dan Kuantitatif dan R & D, hal. 224
34Prof. Dr. Husaini Usman,M.Pd. M.T & Purnomo Setiady Akbar, M. Pd, Metode Penelitian Sosial,Edisi ke Dua. ( Jakarta: PT. Bumi Aksara. 2009), p. 52
Observasi sebagai suatu proses melihat ,mengamati, dan mencermati serta “merekam” perilaku secara sistematis untuk suatu tujuan tertentu35. Dapat disimpulkan bahwa, Observasi ialah suatu kegiatan mencari data yang dapat digunakan untuk memberikan suatu kesimpulan atau diagnosis.
Dalam hal ini peneliti melakukan pengamatan yang tidak berperan serta, artinya peneliti hanya melakukan satu fungsi saja yaitu hanya mengadakan pengamatan.36 Jadi dalam hal ini peneliti datang di tempat kegiatan orang yang diamati, tetapi tidak ikut terlibat dalam kegiatan tersebut.37 Peneliti berperan sebagai pengamat. Hasil observasi tersebut selanjutnya di catat dalam lembar catatan peneliti.
2. Wawancara mendalam (in-depht interview)
Wawancara merupakan alat pengumpulan data untuk memperoleh informasi langsung dari sumbernya.38 Dalam hal ini, penulis menggunakan teknik wawancara untuk mendapatkan data. Menurut Moleong(2005) dalam bukunya Haris Herdiansyah:
Wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu.
Percakapan itu dilakukan oleh dua pihak, yaitu pewawancara yang mengajukan pertanyaan dan terwawancara yang memberikan jawaban atas pertanyaan tersebut.39
35 Haris Herdiansyah, Metodologi Penelitian Kualitatif. ( Salemba Humanika. 2010), p. 131
36Lexy J. Moleong, Metode Penelitian Kualitatif, hal. 174
37Sugiono, Metode Penelitian Kualitatif dan Kuantitatif dan R & D, hal. 227
38Drs. Hermawan Wasito, Pengantar Metodologi Penelitian. ( Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama. 1997), 71
39Haris Herdiansyah, Metodologi Penelitian Kualitatif, 118
Gorden juga menjelaskan dalam bukunya Haris Herdiansyah, bahwa:
Wawancara merupakan percakapan antara dua orang yang salah satunya bertujuan untuk menggali dan mendapatkan informasi untuk suatu tujuan tertentu.40
Dalam hal ini peneliti dibantu dengan alat perekam, dengan wawancara terarahdan wawancara tidak terarah. Wawancara terarah adalah wawancara yang dilakukan dengan mempersiapkan fokus pertanyaan. Cara ini memudahkan peneliti, meskipun kadang-kadang menjadi belenggu juga. Karena peneliti menjadi terpaku pada hal-hal yang telah disiapkan sebelumnya. Sedangkan wawancara yang tak terarah, lebih natural dan dapat dilakukan dimana saja. Sehingga peneliti lebih bebas menanyakan apa saja yang berkaitan dengan Kesenian Biduk Sayak.41
Wawancara mendalam tidak berisi pertanyaan yang mendetail, tetapi sekedar garis besar tentang data atau informasi apa yang ingin didapatkan dari informan yang nanti dapat dikembangkan, konteks, dan situasi wawancara.42
Metode wawancara ini banyak di gunakan oleh peneliti untuk mendapatkan gambaran yang berkaitan dengan kesenian tradisional biduk sayak.
40 Haris Herdiansyah, Metodologi Penelitian Kualitatif, 118
41 DR. Suwardi Endraswara, Metodologi Penelitian Sastra: Epistemologi, Model, Teori, dan Aplikasi. (Center for Academic Publishing Service(CAPS). 2013), hlm, 153
42Pawito, Penelitian Komunikasi Kualitatif, (Yogyakarta: Lkis. 2008), hal. 133
3. Dokumentasi
Selain menggunakan teknik observasi dan teknik wawancara, penulis juga menggunakan teknik dokumentasi dalam mengumpulkan data sebagai data sekunder. Dokumentasi adalah teknik yang digunakan dalam menganalisa data mengenai hal-hal atau variable-variabel yang beupa benda-benda tertulis seperti buku-buku, majalah, document, peraturan- peraturan, notulen rapat,dan lain sebagainya.
Metode dokumentasi peneliti gunakan untuk memperoleh data berupa dokumentasi maupun catatan yang berkaitan dengan kesenian tradisional biduk sayak.
E. Teknik Analisis Data
Data yang telah di peroleh akan diuji melalui kritik ekstern dan kritik intern. Kritik ektern dilakukan dengan tujuan untuk melihat keaslian sumber dengan melihat waktu, tempat, dan siapa penulis sumber tersebut. Kritik inten dilakukan dengan melihat sejauh mana keterkaitan data yang tersedia dengan tema-tema penting dalam penelitian.
Setelah semua data terkumpul, maka penulis akan menganalisis data tersebut. Menurut Bogdan dan Biklen (1992) di dalam bukunya Husaini Usman dan Purnomo Setiady Akbar, bahwa: Analisis data ialah proses pencarian dan penyusunan data yang sistematis melalui transkrip wawancara, catatan lapangan, dan dokumentasi yang secara akumulasi menambah pemahaman peneliti terhadap
yang ditemukan.43 Nasution juga menjelaskan bahwa: analisis data ialah proses menyusun data agar dapat ditafsirkan.44
Dari definisi diatas, dapat disimpulkan bahwa analisis data adalah kegiatan analisis mengategorikan data untuk mendapatkan pola hubungan, tema, menaksirkan apa yang bermakna, serta menyampaikan atau melaporkan kepada orang lain yang berminat.
Ada berbagai cara untuk menganalisis data, yaitu sebagai berikut:
1. Redukasi Data
Redukasi data adalah proses penggabungan dan penyeragaman segala bentuk data yang diperoleh menjadi satu bentuk tulisan (script) yang akan dianalisis. Hasil wawancara, hasil observasi, dan hasil studi dokumentasi diubah menjadi bentuk tulisan (script) sesuai dengan formatnya masing-masing.45 Dalam hal ini peneliti merekam data lapangan kemudian ditafsirkan atau diseleksi masing-masing data yang relevan dengan fokus pada masalah yang diteliti.
2. Penyajian Data
Penyajian data (Display Data) adalah menyajikan data dalam bentuk matriks, network, chart atau grafik, dan sebagainya.46 Penyajian data ini dilakukan ketika data yang diperoleh sudah terkumpul, sehingga memudahkan peneliti dalam menyimpulkan hasil dari analisis redukasi data. Dengan demikian, peneliti dapat menguasai data dan tidak terbenam dengan setumpuk data.
43Prof. Dr. Husaini Usman,M.Pd. M.T & Purnomo Setiady Akbar, M. Pd, Metode Penelitian Sosial, Edisi ke Dua. p. 84
44 Prof. Dr. Husaini Usman,M.Pd. M.T & Purnomo Setiady Akbar, M. Pd, Metode Penelitian Sosial, Edisi ke Dua. p. 84
45 Haris Herdiansyah, Metodologi Penelitian Kualitatif, p.165
46 Prof. Dr. Husaini Usman,M.Pd. M.T & Purnomo Setiady Akbar, M. Pd, Metode Penelitian Sosial, Edisi ke Dua,p. 85
3. Pengambilan Kesimpulan dan Verifikasi
Tahap kesimpulan (Verifikasi) merupakan tahap terakhir. Kasimpulan menjurus pada jawaban pertanyaan penelitian yang diajukan dan mengungkap
“what” dan “how” dari temuan penelitian tersebut.47 4. Triangulasi Data
Tringulasi merupakan teknik yang digunakan untuk menguji kepercayaan data (memeriksa keabsahan data atau perifikasi data dengan memanfaatkan hal- hal yang ada diluar data tersebut untuk keperluan mengadakan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data yang telah di kumpulkan.
Penelitian dengan sumber ini dapat dilakukan dengan cara:
a. Membandingkan data hasil observasi dengan data hasil wawancara
b. Membandingkan apa yang dikatakan orang di depan umum dengan apa yang dikatakan secara pribadi
c. Membandingkan apa yang di katakan orang-orang tentang situasi peneliti dengan apa yang dikatakan sepanjang waktu
d. Membandingkan hasil wawancara dengan isi suatu dokumen yang berkaitan.
47 Haris Herdiansyah, Metodologi Penelitian Kualitatif, hlm. 179
BAB III
GAMBARAN UMUM DESA LUBUK SEPUH
A. Sejarah Singkat Desa Lubuk Sepuh
Desa Lubuk Sepuh terletak di Kecamatan Sarolangun sebelum menjadi perkampungan, Desa ini mempunyai sejarah yang cukup menarik, untuk itu penulis ceritakan sejarah berdirinya Desa Lubuk Sepuh ini.
Desa Lubuk Sepuh merupakan salah satu desa di Kecamatan Pelawan Kabupaten Sarolangun. Desa Lubuk Sepuh pada zaman pemerintahan Marga yang di pimpin oleh seorang Pasirah termasuk dalam wilayah Marga Pelawan.
Adapun asal usul dinamakan Desa Lubuk Sepuh, bahwa pada zaman dahulu di daerah tersebut, di pinggir sungai batang Asai terdapat sebuah lubuk, yang kemudian dijadikan oleh orang sebagai tempat untuk menyepuh senjata.
Pertama kali di lakukan oleh dua orang pendatang yang habis bertarung dalam memperebutkan seorang wanita, dan senjata salah seorang diantaranya mengalami patah, penggunaan selanjutnya digunakan oleh masyarakat setempat secara turun temurun untuk sebagai tempat menyepuh senjata dan di kenal sampai zaman penjajahan. Dan terkenallah daerah tersebut dengan nama Lubuk Sepuh, setelah daerah tersebut resmi menjadi Desa, maka masyarakat setempat sepakat menamakan Desanya dengan nama Desa Lubuk Sepuh.48
48 Dokumen,Desa Lubuk Sepuh, 2016
B. Letak Geografis Desa
Letak Desa Lubuk Sepuh secara geografis berada pada wilayah Kabupaten Sarolangun, dengan letak dan perbatasan daerah sebgai berikut:
a. Sebelah Utara berbatasan dengan Desa Muara Danau.
b. Sebelah Selatan berbatasan dengan Desa Bukit.
c. Sebelah Barat berbatasan dengan Desa Pulau Aro.
d. Sebelah Timur berbatasan dengan Desa Beringin Teluk.
C. Keadaan Penduduk
Berdasarkan data yang ada di kantor kepala desa dan keterangan dari kepala desa bahwa kondisi kependudukan di desa Lubuk Sepuh mengalami sedikit peningkatan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Penduduk Desa Lubuk Sepuh sampai dengan bulan Maret 2016 berjumlah 3625 jiwa dengan data pembagian menurut tabel berikut :
Tabel 1
Jumlah Penduduk Menurut Jenis Kelamin di Desa Lubuk Sepuh
No Jenis Kelamin Jumlah
1 Laki-laki 1828 jiwa
2 Perempuan 1797 jiwa
Jumlah 3625 jiwa
Dari tabel di atas, terlihat bahwa penduduk Desa Lubuk Sepuh penduduk terbanyak laki-laki, namun tidak begitu besar selisih dengan perempuan.
D. Keadaan Agama
Agama adalah tuntunan hidup manusia dalam kehidupannya di dunia.
Agama juga menyelamatkan manusia diakhirat kelak jika manusia konsisten berpegang teguh pada ajaran yang diperintahkan. Hal ini akan terjadi pada agama yang benar yaitu Agam Islam. Agama merupakan kepercayaan kepada Tuhan yang Maha Esa, yang mesti di anut oleh setiap warga negara yang menghuni di permukaan bumi persada ini. Maka setiap daerah memiliki berbagai corak kepercayaan terhadap Tuhan yang Maha Esa.
Dalam menjalankan kehidupan beragama masyarakat desa Lubuk Sepuh terkenal dengan keteguhannya di dalam menjalankan syari‟at, hal ini terlihat banyak penduduk yang mengikuti shalat Magrib berjamaah, shalat isya maupun shalat subuh. Kemudian terlihat juga masyarakat dalam mengikuti kegiatan- kegiatan keagamaan, seperti majlis ta‟lim, pengajian ibu-ibu dan remaja. Untuk lebih jelasnya penganut agama bagi masyarakat di Desa Lubuk Sepuh akan terlihat pada tabel di bawah ini :
Tabel 2
Penganut Agama bagi Masyarakat di Desa Lubuk Sepuh
No Pemeluk Agama Jumlah Penganut Keterangan
1 Islam 3625 Jiwa Mayoritas
2 Kristen - -
3 Katolik - -
4 Budha - -
5 Hindu - -
Jumlah 3625 Jiwa
Kepentingan masyarakat terhadap Agama sangat penting karena Agama merupakan kontrol dalam kehidupan dengan didukungi oleh berbagai syi‟ar keagamaan itu sendiri seperti kegiatan-kegiatan ibadah dan pengajian-pengajian.
Dalam menjalankan kehidupan beragama terlihat masyarakat cukup antusias dalam mengikuti kegiatan-kegiatan keagamaan, seperti majlis ta‟lim pengajian ibu-ibu dan remaja.49
Kemudian untuk menunjang kegiatan-kegiatan dalam menjalankan keagmaannya maupun kegiatan-kegiatan dalam menjalankan keagamaanya
49 Dokumentasi Kantor Kepala Desa Lubuk Sepuh. 16 Maret 2015
maupun kegiatan yang lainnya sangat diperlukan saran-sarana penunjang terhadap kegiatan tersebut. Adapun sarana kegiatan yang ada di Desa Lubuk Sepuh pada daftar tabel berikut:
Tabel 3
Sarana Ibadah Masyarakat Desa Lubuk Sepuh
No Nama Sarana Jumlah
1 Masjid 2
2 Langgar 7
3 Gereja -
Jumlah 9
Dari tabel di atas, dapat diterangkan bahwa penduduk Desa Lubuk Sepuh pada saat ini seluruhnya beragama Islam. Di Desa ini tidak ada pemeluk agama selain Islam seperti Kriste, Hindu dan Budha. Penduduk umum Desa Lubuk Sepuh termasuk pemeluk agama islam yang taat, ini di buktikan dengan terdapatanya 7 Langgar 2 Masjid.
E. Keadaan Pendidikan
Pendidikan merupakan salah satu hal yng penting bagi masyarakat dalam rangka proses peningkatan sumber daya manusia. Masyarakat tanpa pendidikan tidak akan maju dan berkembang, akibatnya akan terjadi kebodohan dan
keterbelakangan yang akibatnya menjadi maslah bagi dirinya maupun bagi negara. Untuk menunjang proses pendidikan sangat di perlukan beberapa sarana untuk tempat pendidikan. Adapun sarana pendidikan yang ada di Desa Lubuk Sepuh dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 4
Sarana Pendidikan di Desa Lubuk Sepuh
No Tingkat Pendidikan Jumlah
1 SMA / ALIYAH 3
2 SMP / MTS 1
3 SD / MIS 3
4 PAUD 2
Jumlah 9
Berdasarkan tabel di atas sarana prasarana pendididkan di Desa Lubuk Sepuh sudah cukup memadai, yaitu 3 SMA/Aliyah, 1 Smp\MTS, 3 SD\MIS, dan2 PAUD.
F. Keadaan Mata Pencarian Penduduk
Mata pencarian penduduk adalah hal yang sangat vital atau penting sekali untuk dipersoalkan dalam konteks sebagai penduduk itu sendiri, sebab mata
pencarian berhubungan langsung dengan hajat hidup manusia. Mata pencarian yang beragam memberikan ilustrasi bahwa manusia diciptakan Tuhan tidak sama termasuk dalam hal pekerjaan. Mata pencarian penduduk secara umum adalah petani padi, sawit, dan petani karet. Namun tidak sedikit yang menggeluti bidang lain seperti PNS, guru honor, pedagang, tukang bangunan, dan buruh.
Daerah ini merupakan daratan yang sangat luas dan subur, maka kehidupan perekonomiannya tergantung pada hasil perkebunan seperti sawit, karet, dan bertani padi. Secara umum perekonomian di wilayah ini cukup baik.
Lebih lanjut tentang kondisi di Desa Lubuk Sepuh berdasarkan hasil wawancara yaitu pendapatan penduduk rata-rata Rp 1.000.000/bulan.50 Desa lubuk sepuh merupakan daerah penghasil padi, karet, sawit dan lainya.
Sebagaimana yang terdapat pada tabel berikut.
Tabel 5
Mata pencarian
No Mata Pencaharian Jumlah Keterangan
1 Perkebunan 50% [ 500 Orang ] Kepala Keluarga
2 Tani 20% [ 200 Orang ] Kepala Keluarga
3 Dagang 15% [ 150 Orang ] Kepala Keluarga
50M.Rusli, 2016
4 PNS 10% [ 100 Orang ] Kepala Keluarga
5 Pengusaha 5% [ 50 Orang ] Kepala Keluarga
BAB IV
TEMUAN DAN PEMBAHASAN
A. Eksistensi Kesenian Tradisional Biduk Sayak
Setiap masyarakat pada kehidupannya pasti mengalami perubahan- perubahan. Berdasarkan sifatnya, perubahan yang terjadi bukan hanya menuju kearah kemajuan, namun juga dapat juga menuju kearah kemunduran. Perubahan yang terjadi memang telah ada pada zaman dahulu, bukan hanya karena faktor perkembangan zaman, tapi karena adanya pengaruh dari masyarakat sebagai subjek perubahan itu sendiri, yaitu sebagai rasa tidak puas/ tidak pernah puas yang memang merupakan sifat dasar seorang manusia.
Masyarakat manapun menyukai hiburan khususnya kesenian. Bahkan seringkali masyarakat tertentu memiliki corak kesenian tersendiri. Pada awal kemunculannya nama biduk sayak diambil dari tradisi daerah orang Melayu yang berarti berbalas pantun yang diiringi dengan musik. Kesenian biduk sayak ini merupakan kesenian tradisional yang bersifat sebagai hiburan. Dalam pelaksanaannya, biduk sayak merupakan kesenian tradisional yang menampilkan pertunjukkan saling berbalas pantun antar dua orang sambil diiringi alunan musik.
Pernyataan ini berdasarkan wawancara dengan Bapak Abu bakar sebagai pelaku seni di bawah ini :