1 BAB I
PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
Salah satu tugas penting dan paling mendasar dari seoarang jurnalis ialah menyusun bahasa jurnalistik kedalam sebuah kalimat-kalimat Jurnalistik.
Kalimat-kalimat Jurnalistik ini nantinya menjadi sajian baik kepada public lewat media massa cetak ataupun media penyiaran. Bahasa Jurnalistik yang baik mempunyai ciri yang enak dan terus mengalir, bersifat lugas dan tegas, padat dan juga tidak berbelit-belit, tepat sasaran, dan akurat, sehingga seseorang yang mendengar akan lebih mudah menangkap makna yang akan disampaikan. Akan tetapi untuk sampai pada bahasa Jurnalistik yang berkualitas, tidak melalui proses yang sederhana. Tentunya akan ada proses yang tidak instan dan cukup panjang. Terkadang akan menemukan hambatan yang sulit serta sarat dengan ketekunan dan keuletan. Jadi sudah dapat dipastikan untuk sampai pada tataran bahasa jurnalistik yang sesuai dengan standar kelayakan adalah hal yang tidak mudah. Tidak sedikit pelaku jurnalis yang meng-iya-kan proses ini. Dalam bukunya Radio: Penyiar, its not just a talk karya Harley Prayudha (2006) juga mengatakan bahwa
Keterampilan menjadi seorang jurnalis tidak diperoleh begitu saja, tetapi melalui serangkaian proses yang menentukan apakah seseorang bisa menjadi seorang jurnalis atau tidak. Proses pembelajaran tersebut harus dilalui dengan keseriusan agar dapat memahami dan melaksanakan profesi bidang jurnalistik secara optimal
Dalam bukunya Sumadiria (2006) yang berjudul Bahasa Jurnalistik juga mengatakan:
Seorang jurnalisharus terampil berbahasa. Keterampilam berbahasa mempunyai empat komponen, yaitu keterampilan menyimak, keterampilan berbicara, keterampilan membaca, dan keterampilan menulis.Bahasa seorang jurnalis mencerminkan pikirannya. Semakin terampil seseorang itu berbahasa, semakin cerah dan jelas pula jalan pikirannya
2 Seorang wartawan dan juga editor sebuah koran dituntut untuk menyuguhkan bacaan sesuai standar koran tempat mereka bekerja. Tentunya standar tersebut sesuai dengan ketentuan kalimat jurnalistik yang berkualitas.
Apalagi koran tersebut merupakan koran punya nama, perhatian terhadap kalimat-kalimat beritanya mendapat porsi lebih. Tidak heran bila akhirnya satu berita bisa mendapatkan lebih dari satu kali revisi terhadap setiap kalimat-kalimat yang digunakan. Belum lagi bila ternyata bahasa yang digunakan tidak sesuai dengan standar kalimat juranlitik koran tersebut. Jelas editor mempunyai peran penting dalam hal penataan ulang kalimat berita yang akan naik cetak. Hal ini menjadi lebih baik, karena berita yang keluar melalui proses editor. Paling tidak berita atau informasi yang disuguhkan sudah melalui proses penyaringan bahasa Jurnalistik berkualitas. Lain halnya dengan pelaku jurnalis dalam tehnik penyiaran yang bersifat spontan. Seperti pada instansi radio, yaitu seorang penyiar Radio.
Menjadi seorang penyiar radio diyakini cukup menyenangkan, itu menurut kebanyakan orang yang sudah menerjuni profesi tersebut. Hanya dengan modal suara enak didengar dan sedikit ‘cerewet’ bisa dipastikan punya bakat menjadi penyiar. Belum tentu. Sebenarnya menjadi seorang penyiar radio tidak hanya modal bisa bicara saja, namun lebih dari itu. Banyak hal yang perlu dipelajari dan dipahami dari serangkaian sistem penyajian siaran pada media radio ini.
Terutama tata bahasa jurnalistik yang memang dituntut dalam teknik penyiaran.
Bila dalam penyajian berita koran, berita sudah melalui editor, tidak begitu dengan radio. Memang untuk naskah berita yang akan dibacakan sudah melalui editor namun demikian cara pembacaan, intonasi dan bagaimana membacakan sering kali terabaikan dari perhatian editor. Beda dengan berita televisi. Berita
3 televisi terdapat gambar sebagai pengalih perhatian. Kita memang dituntut untuk memperhatikan suara ancor berita, namun dilain sisi perhatian akan teralih oleh gambar ke ancor tersebut. Tidak dapat disangkal bila akhirnya perhatian kita teralih kepada pakaian modis pembaca berita, atau gaya rambut pembaca berita dan bahkan kecantikan pembaca berita. Bisa jadi kita tertarik melihat berita televisi dikarenakan bukan meteri beritanya, namun karena gambar yang disajikan. Jauh berbeda dengan media radio yang hanya mengandalkan suara penyiarnya. Tidak cocok sedikit dengan bahasa yang kurang enak didengar, pendengar dengan mudah menggantinya.
Selama ini kita berfikir bahwa penyiar radio yang sudah jadi atau sudah bekerja bertahun-tahun, begitu mudah dan rileksnya berbicara untuk menyampaikan informasi, begitu akrabnya membangun suasana dengan pendengar dan menyajikan lagu yang enak sekali didengarkan. Maka yang seharusnya kita pikirkan bagaimana mereka dapat mencapai keahlian seperti itu.
Keterampilan menjadi penyiar radio tidak diperoleh begitu saja. Menjadi penyiar radio harus melalui serangkaian proses yang nantinya akan menentukan bisa atau tidaknyaa seseorang tersebut menjadi penyiar radio. Satu hal yang dalam pasti proses pembelajaran kepenyiaran radio, serius agar dapat memahami dan melaksanakan profesi dibidang kepenyiaran radio secara optimal.
Pada dasarnya setiap orang mampu menjadi penyiar radio. Menurut Harley Prayudha dalam bukunya yang berjudul Radio:Penyiar, it’s not just a talk, terdapat 3 hal penting yang harus dimiliki seorang penyiar radio, yaitu Science, Art, Skill.
Science atau ilmu pengetahuan menjadi salah satu modal penting bagi penyiar radio. Proses panjang yang menjadikan seorang penyiar radio terus
4 belajar dan tidak cepat puas dengan wawasan atau pengetahuan yang didapat.
Bahkan proses untuk menjadi seorang penyiar radio pun tidak memakan waktu yang singkat. Semisal, belajar memahami proses komunikasi siaran radio dengan model-model komunikasi yang berhubungan dengan media radio. Hal lain yang perlu diperhatikn adalah belajar karakeristik radio mulai dari kelebihan hingga kekurangan radio. Memahami spesifikasi musik dan bentuk siaran serta berbagai program radio. Selain itu, perlu juga memahami fungsi dan cara kerja serta pengoperasian peralatan siaran, seperti Audio, CD Player, Tape player, mixer, system komputer dan lain sebagainya. Setelah semua pendukung siaran sudah dimengerti dan dipahami, maka peningkatan wawasan pengetahuan baik sosial, budaya, ekonomi, politik, hukum dan lainnya juga harus diprioritaskan.
Wawasan pengetahuan umum ini nantinya digunakan untuk referensi materi bicara yang mencakup berbagai aspek kehidupan dan keilmuan.
Art atau seni, lebih menitik beratkan pada hal yang sifatnya individual.
Setiap orang pastinya memiliki seninya sendiri, baik dalam berbicara mauapun keindahan penggunaan gaya bahasa. Oleh karena itu art atau seni menjadi penting untuk penyiar radio dalam rangka menarik perhatian pendengar ketika melakukan siaran.
Skill atau keterampilan juga salah satu aspek yang harus dimiliki calon penyiar radio dan juga penyiar radio. Optimalisasi keterampilan kepenyiaran radio harus melakukan latihan terus menerus agar menjadi kebiasaan. Jika sudah terbiasa, proses selanjutnya tinggal meningkatkan hal-hal lain yang menyangkut proses menjadi penyiar radio.
Seorang penyiar harus berusaha diminati oleh pendengar. Salah satu caranya adalah penggunaan bahasa jurnalistik yang pas, menghibur,
5 menyenangkan dan juga membawa kesedihan. Penggunaan bahasa Jurnalistik dapat melibatkan emosi kita. Dalam buku bahasa Jurnalistik yang ditulis Sumadiria mengatakan:
kita kerap terhanyut, seperti mengalami sendiri berbagai fenomena dan peristiwa secara langsung. Ada saatnya kita tertawa. Tetapio ada saatya pula kita merasa sedih dan nestapa. Kita pun banjir airmata. Semua ini terjadi karena kekuatan dahsyat Bahasa Jurnalistik. Kita disuguhi berbagai informasi yang membahagiakan sekaligus informasi yang menyakitkan. Kita kerap diajak untuk berkelana secara mengasyikkan ketitik terjauh tata surya. Tetapi tak jarang, kita juga dibawa untuk menyaksikan berbagai peristiwa yang amat menyesakkan dada, kelaparan, kebakaran, kerusuhan dan pembunuhan
Akan lebih optimal lagi bila Bahasa Jurnalistik diterapkan pada siaran radio.
Penyiar harus mampu memengaruhi pendengarnya dari segi emosi dan memainkannya. Tempat, waktu dan situasi juga harus bisa dibaca oleh penyiar.
Hal ini berkaitan dengan mood pendengar, karena tidak bisa dielakkan bahwa pendengar juga memiliki peran dalam menentukan persuasi siaran.
Penyiar harus bisa menggunakan bahasa yang mudah dimengerti oleh pendengarnya. Hal ini bertujuan agar pendengar semakin loyal terhadap stasiun radio. Dengan begitu akan terjalin keakraban antara stasiun Radio, pendengar dan penyiar. Hal ini sesuai dengan pendapat Sumadiria dalam bukunya Bahasa Jurnalistik yang membahas tentang salah satu karakteristik stasiun Radio, yaitu:
Radio siaran bersifat akrab, intim. Seorang penyiar radio seolah-olah berada dikamar pendengar yang dengan penuh hormat dan cekatan menghidangkan acara-acara yang menggembirkan kepada penghuni rumah.
Dari situ dapat diketahui bahwa penyiar radio memiliki peran penting bagi penyampaian pesan kepada khalayak. Seperti yang sudah disinggung diatas, penyiar harus mampu memberikan bahasa yang mudah dimengerti dan menyenangkan untuk didengar. Penyiar harus menguasai bahasa Jurnalistik untuk memudahkannya memikat hati pendengar. Bahasa Jurnalistik menjadi
6 sangat penting karena bahasa jurnalistik wajib digunakan bagi semua pelaku pers, baik dalam tulisan maupun lisan. Bahasa Jurnalistik Radio adalah bahasa spesifik yang harus diaplikasikan penyiar radio dalam siarannya. Bahasa yang digunakan harus komunikatif dan mengenai sasaran. Kunjana Rahardi dalam Bukunya yang berjudul Asyik Berbahasa Jurnalistik, menyebutkan salah satu ciri bahasa dalam ragam Jurnalistik adalah Komunikatif, yakni:
Bahasa Jurnalistik berciri tidak berbelit-belit, tidak berbunga-bunga, tetapi harus terus langsung pada pokok permasalahannya (straight to the point).
Jadi bahasa jurnalistik haruslah lugas, haruslah sederhana, haruslah tepat diksinya, dan harus pula menarik sifatnya. Bahasa Jurnalistik yang memenuhi tuntutan-tuntutan demikian itu, akan menjadi bahasa yang komunikatif.
Dengan bahasa komunikatif yang diterapkan dalam siaran radio, tidak akan mudah terjadi kesalahpahaman dalam maksud pesan yang disampaikan.
Bahasa komunikatif juga akan mencegah terjadinya tafsir ganda.
Teknologi yang semakin berkembang pesat, kebutuhan akan media yang tidak hanya dalam hal infomasi melainkan juga hiburan, tuntutan pendengar terhadap penyiar untuk membawakan siaran dengan penuh tawa dan menarik, keinginan pasar untuk mendengar siaran dengan bahasa gaul atau bahasa trend masa kini, menjadikan bahasa Jurnalistik kurang diminati. Justru terkadang penyiar telah mengaplikasikan bahasa Jurnalistik sesering siaran yang dilakukan, namun mereka tidak menyadari. Lebih fatal lagi, mereka sama sekali tidak menyentuh bahasa Jurnalistik dan jauh dari bahasa Jurnalistik. Padahal sudah menjadi kewajiban media massa menggunakan bahasa Jurnalistik baik formal atau informal. Hal inilah yang akhirnya menggugah rasa ingin tahu peneliti untuk mengobservasi, sejauh mana penyiar radio menggunakan bahasa Jurnalistik dalam setiap kesempatan siaran radio. Peneliti mencoba untuk mengukur
7 besarnya penggunaan bahasa Jurnalistik yang nantinya akan dikomparasikan antara stasiun radio yang satu dengan stasiun radio yang lain. Stasiun radio yang menjadi tempat penelitian adalah stasiun radio di Malang, yaitu Radio Elfara FM dan Radio Tidarsakti FM. Alasan pemilihan stasiun radio tersebut karena keduanya termasuk stasiun radio yang memiliki program acara berita dengan frekuensi siaran berita lebih banyak di bandingkan radio yang lain.
Ketiga radio ini dapat menjadi wilayah studi penelitian karena memiliki kesamaan, baik dalam segi porsi hiburan, program dan juga segmentasi. Selain itu, penelitian ini menitik beratkan pada komparasi antar stasiun radio, sehingga pemilihan wilayah studi pun harus berada pada level yang sama.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dijelaskan diatas, maka dapat diidentifikasi rumusan masalahnya seberapa besar penggunaan bahasa Jurnalistik pada Radio Elfara FM dan Radio Tidarsakti FM dalam siaran radio?
Selain itu juga seberapa besar perbedaan penggunaan bahasa Jurnalistik di kedua Radio tersebut?
1.3 Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan sebagai berikut untuk mengukur penggunaan bahasa jurnalistik dalam Siaran Radio Elfara FM dan Radio Tidarsakti FM.
Selaini tu juga bertujuan untuk mengetahui seberapa besar perbandingan penggunaan bahasa Jurnalistik dalam siaran Radio Elfara FM dan Radio Tidarsakti FM.
8 1.4 Signifikansi Penelitian
1.4.1 Kegunaan Akademis
Secara akademis penelitian ini diharapkan dapat memberikan pemikiran dan peningkatan wacana keilmuan terhadap pengembangan ilmu komunikasi pada bidang Jurnalistik khususnya bahasa jurnalistik dalam siaran radio.
Penelitian ini nantinya juga dapat dijadikan referensi penelitian lain yang memiliki permasalahan yang sama.
1.4.2 Kegunaan Praktis
Penelitian ini diharapkan memberi referensi bagi penyiar radio dan stasiun radio dalam pengaplikasiannya pada siaran radio, khususnya dalam penggunaan bahasa Jurnalistik dalan naskah berita radio
1.5 Tinjauan Pustaka 1.5.1 Bahasa Jurnalistik
Hampir setiap hari, setiap orang tidak luput dari media massa, Hampir setiap saat, setiap waktu seseorang melihat televisi, membaca Koran dan mendengar radio. Saat jam pagi untuk memulai aktivitas tidak ketinggalan mencari informasi terlebih dahulu tentang kejadian yang mungkin terlewatkan.
Informasi tersebut didapatkan dari media yang bersa disekitar kita. Seorang karyawan berkendara mobil, tidak jarang berngkat kekantor sambil mendengarkan radio dalam mobil. Ibu rumah tangga tidak ketinggalan mendengar gosip-gosip yang dipaparkan televisi. Mahasiswa tidak lupa membaca Koran untuk mendapat informasi kejadian demonstrasi yang mungkin diikutinya. Tanpa kita sadari, kita terhanyut seperti mengalami sendiri berbagai
9 fenomena dan peristiwa secara langsung. Ada saatnya kita terhibur, ada pula saatnya kita merasa sedih. Emosi turut serta terlibat dalam setiap pesan yang kita baca, kita lihat atau kita dengar. Semua itu terjadi karena kekuatan dari bahasa jurnalistik. Semua berita dan laporan itu, disajikan dengan bahasa yang mudah kita pahami dan melibatkan emosi, yang lazim kita sebuat bahasa jurnalistik.
Bahasa Jurnalistik sangat demokratis dan populis. Disebut demokratis karena, dalam bahasa jurnalistik tidak dikenal istilah tingkat, pangkat dan kasta.
Sebagai contoh, penyiar akan menggunakan kata ‘makan’ untuk semua makhluk hidup, seperti kucing makan, presiden makan, pengemis makan, dan lain-lain.
Semua mendapatkan perlakuan bahasa yang sama, tidak ada yang diistimewakan atau ditinggikan derajatnya. Bahasa jurnalistik disebut populis karena menolak semua klain dan paham yang ingin membedakan si pintar dan si bodoh, si terpelajar dan si kurang ajar, si kaya dan si miskin, si pejabat dan di pengemis. Bahasa jurnalistik digunakan sebagai media menyampaikan pesan dengan melibatkan emosi pendengar untuk semua kalangan masyarakat, tanpa membeda-bedakan. Khalayak menuntut kepada media massa, pesan dan informasi yang bersifat formal maupun informal harus bisa dimengerti tanpa bantuan pengetahuan khusus dan tanpa tingkat pendidikan yang dibedakan.
Namun dalam hal ini sudah tentu tuntutan tersebut sesuai dengan kebutuhan khalayaknya. Kebutuhan akan hal tersebut tentu berbeda-beda. Kebanyakan mereka memanfaatkan media sebagai pemenuhan terhadap kebutuhan yang bersifat hiburan, namun belakangan ini tidak jarang khalayak yang menuntut informasi diluar kebutuhan hiburan, seperti berita criminal, harga saham, jadwal pertandingan bola, dan lain-lain. Khalayak memiliki keinginan bahwa pelaku
10 media dapat memberikan suguhan informasi yang merujuk pada ilmu pengetahuan kepada mereka yang bukan ilmuwan.
Secara sederhana, penjelasan diatas lebih merujuk pada apa yang disebut dan dimaksud dengan bahasa jurnalistik. Jurnalistik berasal dari kata journ. Dalam bahasa Perancis, journ diartikan sebagai catatan atau laporan harian. Secara sederhana, Jurnalistik dapat diartikan sebagai kegiatan yang berhubungan dengan pencatatan dan pelaporan setiap hari. Bila dilihat dari kamus, jurnalistik berarti kegiatan untuk menyiapkan, mengedit, dan menulisa surat kabar, majalah atau berkala lainnya. Jurnalistik merupakan pekerjaan mengumpulkan, menulis, menyunting dan menyebarkan berita dan karangan untuk surat kabar, majalah dan media massa lainnya seperti radio dan televisi.
F.Fraser Bond dalam bukunya An introduction to Journalism (1961:1) menyatakan bahwa jurnalistik adalah segala bentuk yang membuat berita dan ulasan mengenai berita sampai pada kelompok pemerhati. Sedangkan Roland E.
Worseley dalam bukunya Understanding Magazines (1969:3) menyebutkan jurnalistik adalah pengumpulan, penulisan, penafsiran, pemrosesan, dan penyebaran informasi umum, pendapat pemerhati, hiburan umum, secara sistematik dan dapat dipercaya untuk diterbitkan pada surat kabara dan majalah serta disiarakan di stasiun radio dan televisi.
Menurut Sumadiria dalam bukunya Bahasa Jurnalistik (Sumadiria 2005:4), jurnalistik merupakan kegiatan menyiapkan, mencari, mengumpulkan, mengolah, menyajikan dan menyebarkan berita melalui media berkala kepada khalayak seluas-luasnya dengan secepat-cepatnya. Pengertian dan defines bahasa jurnalistik dengan sendirinya harus merujuk pada kaidah dan unsur-unsur pokok yang terdapat dan melekat dalam definisi jurnalistik. Bahasa jurnalistik
11 yang baik dapat dilihat dari kalimat-kalimat yang mengaliar lancar dari awal hingga akhir, menggunakan kata-kata umum yang merakyat dan akrab ditelinga masyarakat. Bahasa Jurnalistik tidak menggunakan susunan kaku formal dan sulit dicerna, namun menggunakan susunan kalimat yang pas untuk menggambarkan suasana serta isi pesannya. Bahkan maksud yang terkandung dalam masing-masing kata pun perlu diperhitungkan.
Dalam bukunya yang berjudul Bahasa Jurnalistik, Sumadiria membagi 4 komponen yang menyaratkan keterampilan berbahasa yaitu keterampilan menyimak (listening skill), keterampilan berbicara (speaking skill), keterampilan membaca (reading skill) dan keterampilan menulis (Writing skill). Komponen- komponen tersebut saling berhubungan dan saling memengaruhi. Keterampilan tersebut juga berhubungan erat dengan proses-prose yang menjadi dasar balam berbahasa. Bahasa seseorang mencerminkan pikirannya. Keterampilan tersebut dapat dikuasi dengan baik dengan cara mempraktikkannya dan berlatih. Dapat dikatakan bila kita melatih berbahasa maka kita akan melatih keterampilan berfikir pula.
Bahasa yang digunakan wartawan lebih kita kenal dengan bahasa pers atau bahasa jurnalistik. Bahasa jurnalistik merupakan salah satu ragam bahasa yang memiliki sifat singkat, padat, sederhana, lancar, jelas, lugas dan menarik.
Menurut S. Wojowasito dari IKIP Malang dalam karya Latihan Wartawan Perastuan Wartawan Indonesia (KLW PWI) di jawa timur tahun 1978, menyatakan bahasa Jurnalistik adalah bahasa komunikasi massa seperti yang terlihat dalam harian-harian dan majalah-majalah. Dengan demikian bahasa dalam media tersebut harus jelas dan mudah dibaca bagi khalayaknya dengn ukuan intelektual yang minimal, sehingga sebagian besar khalayaknya dapat
12 menikmati apa yang disajikan. Wajar bila akhirnya bahas jurnalistik haruslah sesuai dengan norma-norma tata bahasa, anatara lain harus terdiri dari susunan kalimat yang benar dan pilihan kata yang sesuai.
Singkat, padat, jelas, sederhana, lugas dan selalu menarik. Sifat-sifat tersebut harus terkandung dalam bahasa jurnalistik mengingat media massa dinikmati oleh lapisan masyarakat yang tidak sama tingkat pengetahuannya.
Selain itu, bahasa jurnalistik juga merujuk pada bahasa baku. Bahasa baku biasanya digunakan oleh masyarakat yang luas pengaruhnya dan memiliki wibawa disetiap kesempatan. Bahasa baku juga biasa digunakan dalam situasi resmi baik bahasa tulisan maupun bahasa lisan. Dengan adanya bahasa baku dalam berbahas jurnalistik maka pemahaman seseorang setiap kali memabaca dan mendengarkan informasi melalui media akan tersampaikan dengan benar dan sesuai isi pesan.
Kata dan kalimat dalam bahasa jurnalistik juga efektif. Efektif disini, dimaksudkan kata dan kalimat yang digunakan harus tepat mewakili atau mengambarkan pikiran dan perasaan penulis atau penyiarnya sehingga menimbulkan kesan dan gagasan yang sama tepatnya dengan pikiran dan perasaan khalayaknya. Kalimat efektif biasanya memiliki pola kalimat yang gramtikal, pilihan kata yang tepat, menghindari kata dan kalimat yang bertutur dan juga menghindari kata dan istilah asing, mengutamakan pemakaian kata yang bernilai rasa tinggi, kongret, bermakna khusus, tepat, serasi, tidak goyah, hemat dan bervariasi untuk menghindari kejenuhan.
Secara garis besar, Soemadiria dalam bukunya bahasa jurnalistik, memberikan definisi bahasa Juranalistik, yaitu bahasa yang digunakan oleh para wartawan, redaktur dan pengelola media massa dalam menyusun dan
13 menyajikan, memuat, menyiarkan, dan menayangkan berita serta laporan peristiwa atau pernyataan yang benar, aktual, penting dan menarik dengan tujuan agar mudah dipahami isinya dan cepat ditangkap maknanya.
1.5.2 Karakteristik Bahasa Jurnalistik
Dalam bukunya Bahasa Jurnalistik, Sumadiria (2006:13) membagi 17 karakteristik bahasa jurnalistik, yaitu:
1. Sederhana
Selalu memilih kata dan kalimat yang paling banyak diketahui maknanya oleh khalayak pembaca yang heterogen, baik dari segi intelektual ataupun karaketeristik demografis dan psikoligisnya. Kata dan kalimat yang sederhana akan lebih mudah dalam penyampaian maksud pesan, sehingga apa yang akan disampaiakan dapat diterima oleh khalayaknya. Kata dan kalimat yang rumit akan dipahami maknanya oleh orang-orang tertentu saja, hal tersebut mengurangi minat khalayak dalam menikmati media. Dapat dikatakan kalimat yang yang rumit dengan intelektualitas tinggi tabu digunakan balam bahasa Jurnalistik.
2. Singkat
Kalimat yang dugunakan harus langsung pada pokok masalah (to the point), tidak bertele-tele, tidak berputar-putar dan tidak memboroskan waktu khalayak dengan terbuang percuma. Ruangan yang tersedia dalam kolom dan halaman media cetak sangat terbatas sementara isinya banyak dan beraneka ragam. Radio dan televisi memiliki waktu yang tidak cukup banyak dengan berbagai informasi dan iklan yang akan disampaikan. Dengan menggunakan
14 bahasa Jurnalistik yang singkat maka akan membantu media massa dalam menyampaikan informasi secara maksimal.
3. Padat
Padat dalam dunia jurnalistik berarti sarat akan informasi. Setiap kalimat dan paragraf yang ditulis sarat informasi penting dan menarik untuk dibaca khalayak. Setiap siaran radio dan televisi mengandung pesan yang dibutuhkan oleh khalayaknya. Hal ini menjadi penegas yang membedakan kalimat singakat dan kalimay padat, namun dalam bahasa Jurnalistik, kedunya saling berhubungan. Singkat tidak berarti memuat banyak infomasi. Tetapi kalimat singkat yang padat akan sesuai dengan karakter bahasa Jurnalistik, karena keduanya memiliki kedudukan yang sama untuk saling mengisi.
4. Lugas
Lugas berarti tegas, tidak ambigu dan tidak membingungkan serta menghindari eufimisme atau penghalusan kata dan kalimat yang bisa membingungkan khalayak. Hal ini sangat tidak diinginkan oleh media massa manapun, kebingungan khalayak akan menyebabkan perbedaan persepsi, prosentase khalayak meninggalkan media yang memdingungkan juga lebih besar. Kata yang lugas selalu menekankan pada satu arti sehingga tidak ada penafsiran lain terhadap arti dan makna dari kata dan kalimat yang digunakan.
5. Jelas
Kalimat yang jelas adalah kalimat yang mudah dimengerti maksud yang ada dibaliknya. Tidak kabur dan berbasa-basi. Kalimat jelas sangat dituntut dimedia massa manapun. Kejelasan akan meningkatkan loyalitas secara tidak langsung kepada khalayaknya, karena semakin jelas memberikan informasi maka semakin fokus dengan informasi yang disampaikan.
15 6. Jernih
Dalam arti yang sebenarnya jernih berarti bening, tembus pandang dan transparan. Dalam bahasa jurnalistik jernih merujuk pada hal yang bersifat jujur, tulus, tidak mengada-ada dan tidak menyembunyikan maksud negatif dalam menyampaikan informasi. Jernih dalam kata dan kalimat juga tidak ada agenda tersembunyi dibalik pemuatan suatu berita atau laporan kecuali fakta dan kebenaran serta kepentingan publik. Hal ini sering disalah gunakan, tidak jarang berita dengan muatan propaganda atau pembelaan terhadap golongan tertentu sering di beritakan. Jelas sekali hal ini tidak memiliki karakter jernih dalm bahasa jurnalistik dan hal itru menyalahi kaedah dan prisnsip jurnalistik.
7. Menarik
Bahasa jurnalistik yang digunakan dalam media harus menarik. Menarik dalam hal ini adalah mampu membangkitkan minat dan perhatian khalayak dan meningkatkn selera baca, dengar dan lihat khalayaknya. Sekeras apapun bahasa jurnalistik yang digunakan, ia tidak akan membangkitkan kebencian serta permusuhan dari pembaca dan pihak manapun. Bahasa jurnalistik memang harus provokatif tetapi tetap merujuk pada kaidah norma yang berlaku, tidak lantas semana-mena dan semaunya sendiri.
8. Demokratis
Bahasa jurnalistik tidak mengenal tingkatan, pangkat, kasta atau perbedaan dari pihak antara komunikator ataupun komunikan. Khalayak yang bersifat heterogen akan sama kedudukannya dalam bahasa Jurnalistik. Bahasa Jurnalistik menolak pendekatan diskriminatif dalam penulisan berita, laporan, gambar, karikator, siaran, dan juga lainnya yang masih berhubungan dengan isi informasi dalam media massa. Idealnya, bahasa jurnalistik melihat setiap
16 individu memiliki kedudukan yang sama didepan hokum sehingga orang tersebut tidak diperkenankan mendapat perlakuan yang berbeda atau dispesialkan.
9. Populis
Setiap kata, istilah dan kalimat dalam bahasa lisan ataupun tulisan jurnalistik diwajibkan akrab ditelinga, dimata dan dibenak pikiran khalayak pembaca, pendengar atau pemirsa. Bahasa Jurnalistik harus merakyat, artinya diterima dan diakrabi oleh semua lapisan masyarakat. Kebalikan dari populis adalah elitis, maksudnya bahasa yang dimengerti dan dipahami hanya oleh sebagian orang yang memiliki intelektualitas diatas rata-rata dan kedudukan serta pendidikan yang tinggi.
10. Logis
Semua yang terdapat dalam kata, istilah, kalimat, atau paragraf jurnalistik harus dapat diterima dan tidak bertentangan dengan akal sehat. Bahasa Jurnalistik harus memberikan nalar yang dapat diterima pikiran, sehingga hokum logika berlaku dalam hal ini. Sebagai contoh: Hingga berita kecelakaan pesawat ini diturunkan, 576 penumpang yang dianggap tewas belum juga melapor.
Kalimat berita tersebut sudah jelas tidak masuk akal, karena sangat tidak mungkin korban tewas dapat melapor.
11. Gramatikal
Kata, istilah dan kalimat apapun yang dipakai dan dipilih dalam bahasa jurnalistik harus mengikuti kaidah tata bahasa yang baku. Bahasa baku dalam hal ini adalah bahasa resmi sesuai dengan ketentuan tata bahasa serta pedoman ejaan yang disempurnakan. Bahasa baku merupakan bahasa yang paling besar pengaruhnya dan paling tinggi wiabawanya disetiap lapisan masyarakat.
12. Menghindari kata tutur
17 Kata tutur adalah kata yang biasa digunakan dalam percakapan sehari- hari secara informal. Kata tutur biasa digunakan dengan mencampur bahasa inonesia dengan bahasa daerah, atau bahasa yang biasa digunakan dengan menambah kata-kata khas daerah masing-masing.
13. Menghindari kata dan istilah asing
Berita ditulis untuk dibaca dan didengar. Pembaca atau pendengar harus tahu arti dan makna setiap kata yang dibaca dan didengarnya. Berita atau laporan yang terkadang terdapat bahasa asing didalamnya, selian tidak informatif dan komunikatif, juga sangat membingungkan khalayak yang tidak mengerti bahasa tersebut. Kata atau istilah asing dalam hal ini tidak lantas bahasa dari negara lain. Bisa saja wartawan atau penulis menyisipkan kata dari daerah tertentu dalam kalimat yang akan menjadi berita. Hal ini tidak dibenarkan karena bahasa daerah yang satu dengan daerah yang lain berbeda. Khalayak memiliki sifat heterogen dan majemuk. Tidak saling mengenal, terdiri atas berbagai suku, latar belakang sosial, pendidikan, pekerjaan, profesi dan tempat tinggal.
14. Pilihan kata yang tepat
Setiap kata dalam bahasa Jurnalistik tidak hanya diwajibakan bersifat produktif tetapi juga tidak boleh keluar darai efektivitas. Artinya setiap kata yang dipilih memang tepat dan akurat sesuai dengan tujuan pesan pokok yang ingin disampaikan kepada khalayak. Pilihan kata atau diksi dalam bahasa Jurnalistik tidak semata-mata sebagai variasa ataupun gaya, Pilihan kata dan diksi yang digunakan akan diputuskan sebagai suatu keputrusan yang didasarkan kepada pertimabangan matang guna pencapaian optimal dari pesan yang disampaikan.
15. Mengutamakan kalimat aktif
18 Kalimat aktif akan lebih mudah dimengerti dan dipahami, khalayak juga lebih nyaman dengan penggunaan kalimat aktif. Bahasa Jurnalistik harus jelas susunan katanya dan kuat maknanya. Kalimat aktif lebih mempermudah pengertian dan penjelasan pemahaman. Contohnya: /presiden mengatakan…/
dengan /dikatakan oleh Presiden…/, Kalimat lebih sederhana, lebih nayaman ditelinga dan tidak boros kata. Sebaliknya kalimat pasif terdengat bertele-tele dan terlalu panjang.
16. Menghindari kata atau istilah teknis
Karena ditujukan untuk umum maka hindari kata atau istilah teknis. Kata atau istilah teknis hanya digunakan untuk kelompok tertentu atau khalayak yang sifatnya homogeny. Semua hal yang sifatnya homogen tidak akan membantu bila diterapkan pada khalyak yang heterogen. Bila dipaksakan akan terjadi kesalahpahaman makna pesan. Sebagai contoh, istilah teknis kedokteran tidak efektif bila digunakan dalam pesan yang akan disampaikan kepada khalayak.
Walaupun isi pesan berkenaan dengan dunia kedokteran, sebisa mungkin gunakan kata atau istilah umum. Namun bila isi pesan mengharuskan mengenakan kata atau istilah tersebut, maka beri penjelasan singkat terhadap kata atau istilah tersebut.
17. Tunduk kepada kaidah etika
Salah satu segi postif yang dapat dikembangkan dalam dunia media massa adalah unsure edukatif. Edukatif tidak hanya merujuk pada isi pesan, laporan gambar, artikel dan juga bahasannya, namun juga terealisasi dalam bahasanya. Pada dasarnya, bahasa tidak hanya mencerminkan pikiran dan karakter seseorang tetapi juga menunjukkan aetika orang yang menulis atau
19 membacanya. Dalam etika berbahasa, pers tidak diperkenankan menggunakan kata yang vulgar, mengandung unsur pelecehan dan pornografi.
1.5.3 Bahasa Jurnalistik Radio
Berdasarkan sifat radio siaran yang auditif, mengandung gangguan dan juga akrab ditelinga pendengarnya, dalam buku Bahasa Jurnalistik yang ditulis oleh Sumadiria, menyatakan bahwa bahasa yang digunakan dalam siaran radio harus memenuhgi 5 syarat yaiatu kata-kata yang sederhana, susunan kalimat yang rapi, angka-angka yang dibulatkan, kalimat-kalimat yang ringkas, susunan kalimat yang bergaya percakapan. Bila melihat dari sudut pandang pendengar radio yang heterogen, pribadi, aktif dan juga selektif, maka penulisan dari bahasa radio harus terdiri atas: kata-kata yang umum dan lzim dipakai, kata-kata yang tidak melanggar kesopanan, kata-kata yang mengesankan, mengulang kata-kata yang penting dan susunan kalimat yang logis. Dapat dikatakan bahwasannya, bahasa jurnalistik radio terdiri dari 10 unsur diatas, dengan pembahasan masing- masing unsur sebagai berikut:
1. Kata-kata sederhana
Siaran harus radio harus menggunakan kata-kata yang sederhana dan sangat umum ditelinga khalayaknya. Dalam hal ini penyiar memiliki peran yang sangat besar delam menyampaian materi siaran. Dengan kalimat-kalimat yang mudah dipahami arti dan maknanya akan lebih mudah sampai ditelinga pendengar. Stasiun radio juga wajib memperhatikan karakteristik penyiarnya, hal ini dimaksudkan untuk menjadikan penyiar sesuai dengan karaker stasiun radionya. Kata-kata sederhana menjadi salah satu bahasa Jurnalistik tidak hanya
20 dalam media radio namun hampir dalam semua media massa yang ada. Bukan hal yang aneh bila akhirnya kata-kata sedehana memiliki peran yang penting dalam penyampaian pesan dari media massa kepada khalayaknya. Selaini tu dalam kata-kata sederhana ini lebih memfokuskan pada kata-kata yang tepat dalam pengetikan dan harus mengikuti kaedah bahasa Indonesia yang baik dan benar.
2. Angka-angka dibulatkan
Siaran radio lebih mengandalkan telinga sebagai indra pendengaran.
Indra pendengaran manusia memiliki kemampuan mendengar secara selintas.
Dalam hal penyajian angka pada siaran radio, bila menyebutkan secara terperinci, justru akan membuat khalayak tidak mendapatkan angkanya. Hal ini bisa saja menuai protes dari pendengarnya. Maka gunakan pembulatan angka pada setiap pesan yang didalamnya terdapat angka., contoh: 678.987.998,25 rupiah sangat sulit dibaca, apalagi harus diingat oleh pendengarnya. Akan lebih efektif bila angka tersebut disingkat menjadi 678 juta rupiah.
3. Kalimat-kalimat ringkas
Pada pembahasan karakteristik radio, sudah jelas bahwa siaran radio dibatasi oleh waktu dan daya tangkap telinga yang terkadang terbatas, maka kalimat-kalimat dalam bahasa Jurnalistik radio disajikan secara ringkas. Kalimat- kalimat yang terlalu panjang tidak perlu dimunculkan pada saat siaran. Apabila naskah asli terdiri dari kalimat-kalimat yang panjang, maka harus melalui edit ulang (rewriting) untuk akhirnya di siarkan. Sudah pasti rewriting disesuaikan dengan kaidah penulisan bahasa radio.
4. Susunan kalimat rapi
21 Susunan kalimat dalam siaran radio yang mencerminkan bahasa jurnalistik adalah rapi. Rapi dalam hal ini berarti sistimatis, berurutan, beraturan, tidak meloncvat-loncat dari satu bahasan ke bahasan lainnya. Rapi juga berarti gunakan kata-kata yang tepat mengenai sasaran, kata-katanya terpilih, kata-kata yang mampu menyentuh hati khalayak pendengar. Tidak jarang penyiar terkadang memberikan improvisasi pada siaran. Perlu diperhatikan bahwa improvisasi terkadang melebar pada bahasan yang keluar dari tema siaran.
Maka sebisa mungkin improvisasi yang digunakan penyiar harus tetap pada kaidah dan prinsip bahas jurnalistik radio.
5. Susunan kalimat bergaya percakapan
Siaran radio melarang kalimat yang kaku, terlalu formal, lurus, kering dan monoton. Sesuai dengan karakteristiknya, radio harus akrab dengan pendengarnya. Hilangkan kesan jarak psikologis antara penyiar dan pendengar.
Penyiar harus dapat memberikan soul pada setiap kalimat yang disampaikan.
Kalimta yang bergaya paparan akan terdengar membosankan dan monoton bagi pendengarnya. Yang harus diperhatikan oleh penulis naskah radio adalah tulisan jangan kaku dan jangan terlalu formal. Untuk menyiasatinya penulisa dapat menulis sambil berbicara, seakan-akan penulis sedang menyiarkan berita yang sedang ditulisnya. Gunakan kalimat ujaran dan bahasa lisan.
6. Kata umum dan lazim dipakai
Pendengar radio jelas tersebar diberbagai tempat, diberbagai situasi, diberbagai kondisi dan juga pada lapisan sosial yang berbeda satu sama lain.
Sifat heterogen inilah yang membuat khalayak menuntut siaran radio lebih beragam dalam hal materi. Namun keberagaman materi siaran radio tidak lantas menggunakan kata-kata khusus disetiap program yang berbeda. Penyiar harus
22 tetap menggunakan kata-kata yang umum dan lazim dipakai. Minimalkan istilah bahasa gaul dalam siaran radio. Untuk beberapa program siaran radio mungkin ada yang dituntut menggunakan bahasa agaul atau bahasa adding, namun tidak lantas menyamaratakan bahasa tersebut didetiap program acara yang disiarkan.
Hal ini dimaksudkan untuk menghindari intepretasi yang salag dari pendengar terhadap isi pesan yang disampaikan.
7. Kata tidak melanggar kesopanan
Sudah sangat jelas, bahwa siaran radio harus menggunakan bahasa jurnalistik yang terikat pada situasi dan nilai nilai kesopanan. Dalam etika berbahasa sehari-hari bahasa yang tidak sopan sudah pasti dilarang. Terlebih lagi dalam hal siaran radio yang notabennya adalah media informasi hampir keseluruh wilayah dalam jangkuannya. Penyiar harus dapat menempatkan bahasa-bahasa yang sopan walaupun terkadang materi yang disampaikan untuk dewasa. Misal materi sex education, Penyiar wajib menyaring kata dan istilah yang sekiranya tidak pantas untuk didengar.
8. Kata-kata yang mengesankan
Sangat manusiawi bila pendengar lebih menyukai bahasa yang indah dan menyenangkan daripada kata-kata yang tidak mengenakkan. Kata-kata yang enak didengar akan lebih mudah tersampaikan, mudah diingat, dapat pula menjadi motivasi. Kata-kata yang membangkitkan inspirasi sangat dianjurkan dalam siaran. Salah satu tujuan pendengar mendengarkan radio selain untuk mendapatkan informasi juga karena adanya kebutuhan hiburan. Sudah wajar bila hiburan didapatkan dari bahasa yang menyenangkan dan tidak dilarang bila sesekali menyisipkan sedikit gurauan dalam siaran yang cukup formal, agar tidak terlalu monoton.
23 9. Pengulangan kata-kata yang penting
Sifat siaran radio yang selintas menjadikan pesan yang disampaikan terkadang tidak sepenuhnya tersampaikan, maka diperbolehkan bagi penyiar untuk menguloang pesan yang sifatnya penting. Pengulangan tersebut sebagai penegas dan penekanan untuk membantu pendengar memperoleh infomasi terpenting. Khalayak juga memiliki seleketivitas dalam hal ini, dalam hitrungan detik bisa saja pendengar nebgubah saluran radio. Bila pesan yang disampaikan belum dimengerti oleh pendengarnya dan sudah merubah kesaluran yang lain, maka sangat disayangkan pesan tersebut tidak sampai ke pendengarnya.
10. Susunan kalimat yang logis
Apapun pesan yang disampaikan kepada pendengar baik yang bersifat formal ataupun hiburan, harus logis. Logis berarti bisa diterima oleh akal sehat manusia. Kalimat yang logis adalah kalimat yang mengandung sebab akibat didalamnya. Tidak mungkin menginformasikan seorang mahasiswa menabrak truk hingga truk tersebut tewas seketika.
Selain itu dalam bukunya Harley Prayudha (2006) yang berjudul Radio:Penyiar, its not just a talk juga menyebutkan terdapat 12 karakteristik bahasa Jurnalistik pada gaya penulisan berita radio, yaitu:
1. Bahasa yang baik
Struktur kalimat dan paragraf perlu mengikuti aturan tata bahasa. Jika hanya satu kata yang tepat untuk menyampaikan maknanya dan terdapat keyakinan bahwa penggunaan kata tersebut dapat dimengerti oleh pendengar maka gunakan kata tersebut. Sebaliknya bila terdapat banyak kata yang dapat disampaikan untuk menyampaikan makna maka piliha kata-kata yang mudah dipahami dan dimengerti oleh pendengar.
24 2. Kosakata Terbatas
Hindari kata-kata besar atau panjang ketika kata-kata yang lebih pendek dan umum bisa memberikan pemikiran yang sama. Selain itu hindari istilah-istilah bias dan abstrak. Kosakata yang digunakan harus cocok dengan selera pendengar.
3. Kata-kata yang deskriptif, konotatif dan kuat
Dalam bahasa jurnalistik terkadang konotatif juga diperlukan, namun harus deskriptif dan kuat. Kata-kata yang memiliki konotatif akan mewarnai suatu narasi. Deskritif akan membantu pendengar dalam membuat gambaran pikiran dari pesan yang disampaikan. Kuat disini berarti penggunaan kata-kata yang selalu menjelaskan makna dari kalimat tersebut.
4. Gunakan kalimat aktif
Dalam percakapan sehari-hari kita sering menggunakan kalimat aktif, mengingat dalam radio suara menjadi faktor utama, maka kalimat aktif juga tepat bagi sebagian besar siaran radio. Kalimat aktif lebih dinamis dan kuat sehingga membuat iklan atau beriat menjadi lebih hidup.
5. Singkatan-Singkatan
Dalam bahasa lisan maupun bahasa tulisan sering menggunakan singkatan-singkatan. Dalam radio, khususnya naskah berita singkatan-singkatan wajib dihindari, hal ini untuk mengantisipasi terjadi kesalahan membaca naskah berita radio atau naskah siaran lainnya.
6. Gunakan kata ganti personal secara luas
Penggunaan kata ganti pertama dan kedua akan membuat naskah siaran radio menjadi lebih personal, pribadi dan menarik daripada jika penulis menggunakan kata benda atau kata ganti orang ketiga. Pada dasarnya perhatian
25 pendengar akan lebih mudah ditangkap oleh cerita yang terlihat melibatkan pendegar. Penggunaan ‘anda’, ‘kami’ dan kata ganti orang akan menunjukkan keterlibatan ini.
7. Gunakan kalimat-kalimat sederhana
Umumnya, kalimat-kalimat yang kita gunakan dalam percakapan akan lebih sederhana daripada kalimat-kalimat yang kita tulis. Satu masalah bagi penulis naskah radio yakni penempatan keterangan dengan tepat. Jika keterangan-keterangan ditempatkan dengan tidak tepat, maka pendengar akan bingung. Jangan memulai kalimat yang terlalu panjang di awal. Berikan informasi sederhana dan menerangkan pada kalimat pertama. Semisal:
“berusia 34 tahun dengan rambut emas dan badan tinggi 176cm. Menjadi teman Rio dari kecil hingga dewasa. Mendapatkan pekerjaan yang layak hingga mendapatkan jabatan. Ira biasa mereka memanggil dan…………”
Pendengar tidak mengetahui siapa yang dibicarakan. Hal ini membuat pendengar bingung dan tidak menangkap maksud yang akan disampaikan.
Dalam siaran radio hal ini harus dihindari.
8. Gunakan kata-kata transisi dan petunjuk suara lebih sering
Walters dalam bukunya Broadcasting Writing berpendapat agar pesan tersampaikan depat tepat kepada pendengar, maka pendengar diarahkan dengan 3 jenis petunjuk, yakni kata-kata transisi, infleksi dan jeda suara.
Terdapat beberapa jenis kata-kata transisi. Kata-kata transisi yang berhubungan dengan urutan waktu seperti sekarang, kemudian, masih, berikutnya, ketika, besok, kemarin, dan lain-lain. Selain itu terdapat kata-kata transisi lainnya yang menunjukkan sebab akibat, seperti karena, untuk, sebab, maka, dan lain-lain.
Kata transisi lainnya membantu membuat hal yang kontras dalam berita, seperti
26 namun, sebaliknya, tetapi, akan tetapi dan lain-lain. Ada juga kata penghubung sepeti dan, juga, atau dan lain-lain.
Perubahan dalam infleksi suara juga digunakan para penyiar untuk memberikan petunjuk suara bagi pendengar.Penulis naskah radio dapat memberikan petunjuk dalam naskahnya diman letak inflesi suara yang diinginkan dengan member garis bawah untuk menunjukkan penekanan. Yang ketiga, naskah siaran sering kali menggunakan jeda untuk memberikan waktu bagi pendengar untuk memproses informasi sebelumnya sebelum meneruskan informasi selanjutnya. Penulis naskah siaran radio sering menggunakan tanda baca untuk menunjukkan jeda seperti tanda koma, tanda (-). Tanda-tanda seperti ini akan lebih sering muncul dalam naskah penyiaran daripada media cetak.
9. Pertahankan kecepatan yang tepat dalam kemampuan pendengar untuk memahaminya
Para penulis dan produser harus memberikan perhatian yang lebih untuk melihat bahwa materi bertutur dibaca dalam kecepatan yang bisa diterima oleh pendengar. Terlalu banyak ide, terlalu panjang kalimatnya dan terlalu cepat penyajiannya akan menjadikan informasi hanya sekedar serangkaian kata-kata membosankan bagi pendengar.
10. Hindari susunan kalimat negatif
Kalimat negatif dalam siaran radio adalah kalimat yang tidak memeberikan informasi cukup sehingga inteprtasi dari pendengar bisa jadi tidak sama dengan maksud dari pesan yang disampaikan.
11. Hindari Homofon
27 Homofon adalah kata-kata yang bunyinya sama, namun artinya berbeda.
Pendengar belum tentu mendapatkan makna yang sama dengan yang disampaikan penyiar yang menggunakan kata homofon.
12. Hindari redudansi, omong kosong, klise
Redudansi dalam hal ini adalah penggunaan kata yang berlebihan pada naskah, penggunaan kata berlebihan ini akan menimbulakan kalimat-kalimat yang tidak diperlukan. Pada tahap tertentu, kalimat tersebut menjadi omong kosong dan nantinya hanya menjadi klise. Tidak ada unsur fakta yang seharusnya menjadi faktor terpenting dalam siaran berita radio.
1.5.4 Naskah Berita Radio
Radio memiliki sejumlah funsgi seperti mentrasmisikan pesan, mendidik, membujuk dan juga sebagai hiburan tentunya. Dalam menyampaikan pesannya, radio bisa menyampaikan pesan dengan berbagai model komunikasi apa saja.
Entah itu model satu arah atau model dua arah. Model satu arah berarti mengasumsikan bahwa Radio sebagai komunikastor tunggal yang menyampaikan kepada khalayak pasif. Sedangkan model dua arah memosisikan radio sebagai komunikator yang melakukan interaksi timbal balik dengan khalayak atau pendengarnya. Dalam hal ini siaran berita mengambil model satu arah karena lebih kepada memberikan informasi kepada pendengarnya. Berita merupakan informasi baru atau informasi mengenai sesuatu yang sedang terjadi, disajikan lewat bentuk cetak, siaran, Internet, atau dari mulut ke mulut kepada orang ketiga atau orang banyak. Berita pada Radio bisa didapatkan dari berbagai sumber baik wawancara dengan narasumber lain, mengambil topik berita melalui
28 internet, atau melangsir dari surat kabar dengan ketentuan tertentu. Adapun unsur-unsur berita (www.wikepedia.com) adalah :
1. Aktual (baru). Hal-hal yang baru lebih memiliki nilai berita dibandingkan hal-hal yang terjadi sudah lama
2. Jarak (jauh/ dekat). Khalayak lebih tertarik akan kejadian yang terjadi di sekitar mereka dibandingkan dengan kejadian di tempat yang lebih jauh.
3. Penting. Sesuatu menjadi berita saat dianggap penting, karena berpengaruh pada kehidupan langsung, contoh: UU larangan merokok.
4. Akibat. Sesuatu menjadi berita karena memiliki dampak yang besar, contoh: penayangan film Fitnah di situs YouTube.
5. Pertentangan/ konflik.
6. Seks. Contohnya seperti perceraian, perselingkuhan, dan lain sebagainya 7. Ketegangan. Contohnya seperti saat-saat pelantikan presiden.
8. Kemajuan-kemajuan. Inovasi baru atau perubahan.
9. Emosi, segala sesuatu yang apabila dikabarkan akan membuat marah, sedih, kecewa. Contohnya: pemberitaan tentang bayi baru lahir yang ditemukan di tempat sampah.
10. Humor
1.5.4.1 Naskah Berita
Secara umum naskah adalah bentuk tertulis dari sebuah aplikasi ide atau gagasan kedalam tulisan yang disusun sedemikian rupa untuk mencapai suatu tujuan tertentu, dan Naskah Program Acara Siaran adalah menurut Darmanto dalam buku Teknik Penulisan Naskah Acara Siaran Radio Adalah :
Naskah Program Acara Siaran dapat di artikan sebagai bentuk tertulis
29 dari suatu gagasan atau pemikiran orang/ kelompok yang telah disistematisasikan dan dimaksudkan untuk mencapai tujuan penyelenggaraan siaran radio atau pun televisi”(Darmanto,1998:1).
Sedangkan pengertian berita menurut Sumadiria (2006:65), adalah:
Laporan tercepat mengenai fakta atau ide terbaru yang benar, menarik dan atau penting bagi sebagian besar khalayak, melalui media berkala seperti surat kabar, radio, televisi, atau media on-line internet
Berdasarkan kutipan di atas maka dapat di ambil kesimpulan bahwa Naskah Program Acara Siaran Berita adalah, suatu bentuk tertulis dari suatu gagasan atau pemikiran orang/kelompok yang telah disistematisasikan dan dimaksudkan untuk memberikan informasi aktual fakta atau ide terbaru yang benar, menarik dan atau penting bagi sebagian besar khalayak melalui siaran radio ataupun televisi. Menurut Darmanto (1998:1-2), Naskah program acara siaran sedikitnya mengandung sedikitnya 3 unsur pokok yaitu Voice adalah suara yang keluar secara teratur, diproduksi dengan penuh penghayatan, memperhatikan segi Intonasi, Diksi, Presering, dan Imphasing. Bukan suara yang keluar secara spontan dan tidak beraturan. Musik dalam konteks ini tidak terbatas pada jenis musik modern saja, melainkan musik dalam pengertian yang luas, yaitu: semua bentuk perpaduan bunyi yang memiliki arti dan memiliki nilai artistik tinggi. Sound adalah suara-suara yang munculnya tidak direncanakan, spontan, tidak beraturan namun berfungsi sebagai atmosfir yang menjelaskan seting suasana, seting tempat,seting waktu, dan sebagainya dari suatu peristiwa.
Agar menghasilkan paket yang baik maka semua materi disusun secara berurutan menurut kaidah-kaidah produksi program siaran radio. Proses pengurutan tersebut perlu memperhatikan strukutr dramatik sehingga menghasilkan karya yang menarik dan mempunyai nilai artistik yang tinggi. Suatu siaran radio dapat dikatakan baik dari segi isi jika penyelenggaraannya
30 mempunyai visi dan misi yang jelas. Kedua segi itu dapat di capai melalui perencanaan yang matang dan pelaksaannya sempurna. Indikasi tingkat kematangan tersebut dapat dilihat dari tersedia tidaknya naskah siaran yang berkualitas. Maka tidak berlebihan apabila naskah mempunyai kedudukan dan peranan yang sangat penting dalam penyelenggaraan suatu program acara siaran radio. Naskah program acara siaran mempunyai fungsi praktis, yaitu menyatukan pandangan dan kehendak dari semua orang yang terlibat dalam Proses Produksi Program Acara Siaran Radio. Dan peranan dalam proses produksi yaitu sebagai sarana komunikasi antar orang yang terlibat produksi dan sekaligus menjadi pedoman kerja yang utama.
1.5.4.2 Naskah Berita Radio
Penulisan naskah untuk disiarkan di radio secara teknis berbeda dengan cara penulisan di media massa cetak. Perbedaan utamanya, naskah berita radio harus menggunakan bahasa tutur atau bahasa percakapan (Spoken Words) dengan mengunakan kata-kata yang biasa diucapkan sehari-hari dalam obrolan lisan (spoken words). Secara umum, prinsip penulisan naskah berita radio antara lain ringkas, jelas, sederhana dan mudah dimengerti, serta untuk diucapkan, bukan untuk dibaca. Karakteristik penulisan naskah siaran mengacu pada aspek bahasa, yang menurut Darmanto (1998:17). berdasarkan kesimpulannya dari buku AIBD, terutama pada Unit Writing For Radio, adalah:
menulis untuk radio pada dasarnya untuk kepentingan berbicara (diucapkan).
Oleh karena itu hindari cara penulisan sebagaimana kalau hendak membuat buku. Kalimatnya tidak selalu sempurna, dan menggunakan idiom sehari-hari.
Untuk itulah tahap-tahap penuangannya sebagai berikut : pikirkan, katakan,
31 baru kemudian ditulis. Menulis untuk radio pada dasarnya untuk komunikasi orang perorang (person to person), komunikasi antara Anda (kamu,kau) dengan saya. Oleh karena itu kalimat atau kata-katanya tidak bersifat formal, dan penuh keakraban. Adalah lebih baik menggunakan kalimat aktif dari pada pasif.
menulis naskah untuk siaran radio pada dasarnya hanya untuk sekali dengar.
Oleh karenanya gunakan bahasa yang sederhana (hindari pemakaian istilah- istilah asing yang belum memasyarakat), gunakan kalimat sederhana, dan pendek-pendek, jangan terlalu menjejalkan informasi, dan bawa sesegera mungkin pada sasarannya, kemudian penjelasan latar belakang masalahnya.
menulis naskah untuk siaran radio berarti hanya mengandalkan pada media sound (suara).sehubungan dengan itu maka implikasi kebahasaannya, antara lain : pergunakan kata-kata yang dapat memberi imajinasi nyata, menggunakan gaya bahasa enak didengar, pengulangan untuk memberikan tekanan- tekanan tertentu dan usahakan pendengar tertarik dengan pengucapan kalimat pertama.
Menurut Alex Santosa pemilik website RadioClinic, penulisan Naskah Berita radio harus memperhatikan :
1. Penggunaan kata kerja
Kata kerja memegang peranan penting dalam penulisan bahasa tutur.
Pikirkanlah secara serius, karena pemilihan kata kerja akan mempengaruhi gaya penyampaian. Contoh: Gempa bumi hebat mengguncang kawasan barat daya China. Di provinsi Sichuan gedung-gedung bertingkat terkoyak dan hancur luluh lantak. Gempa yang memukul China dengan kekuatan 7,8 pada skala richter ini merenggut nyawa sedikitnya 10.000 jiwa.
32 2. Hati-hati menggunakan kata sifat
Penulisan naskah naratif dan deskriptif, akan banyak ditolong oleh penggunaan kata sifat. Namun perlu dihindari penggunaan kata sifat yang bisa menimbulkan berbagai macam persepsi karena justru dapat mengaburkan pesan yang ingin kita sampaikan. Contoh:
besar -> sebaiknya rincikan besarnya seperti apa
bewarna-warni -> sebaiknya sebutkan apa saja warnanya
drastis -> sebaiknya dijelaskan seberapa drastic dan lain sebagainya
3. Gunakan kalimat aktif
Dalam membuat bahasa tutur, penggunaan kalimat aktif adalah yang terbaik. Susunan kalimat aktif ‘Subyek – Predikat – Obyek’ akan mempermudah pemahaman naskah yang akan dibaca, sehingga newscaster akan menjadi lebih lancar dalam menyampaikan sebuah kalimat berita. Contoh:
Bukan: 10.000 jiwa direnggut dalam gempa berkekuatan 7,8 skala richter di China
Tetapi: Gempa berkekuatan 7,8 skala richter merenggut 10.000 jiwa di China
4. Gunakan kalimat ‘kini’ atau present tense
Teorinya, sebuah berita radio menyajikan apa yang baru saja terjadi, apa yang sedang terjadi dan kira-kira apa yang akan segera terjadi. Sehingga lebih tepat jika sebuah naskah berita radio disusun dengan menggunakan present
33 tense. Penggunaan kalimat yang mengesankan bahwa sebuah peristiwa sedang terjadi akan menimbulkan kesan bahwa berita yang kita siarkan adalah berita fresh dan menjadi hal yang menyegarkan di telinga pendengar. Sedangkan susunan kalimat yang menggambarkan kejadian kemarin (past tense) dan yang akan datang (future tense) lebih cocok digunakan oleh jurnalis media cetak.
Contoh:
Bukan: Gempa bumi dahsyat telah mengguncang China.
Tetapi: Gempa bumi dahsyat mengguncang China.
Bukan: China akan menjadi tuan rumah olimpiade 2008
Tetapi: China menjadi tuan rumah olimpiade 2008
5. Gunakan kalimat dengan bahasa sehari-hari
Penggunaan bahasa sehari-hari akan membuat berita kita membumi, lebih akrab dengan telinga pendengar dan menambah vitalitas dari berita yang kita sampaikan. Caranya adalah dengan menyederhanakan bahasa formal, baik kata-kata maupun frasa yang kita jumpai dalam sebuah berita. Contoh:
Bukan: Banjir telah membuat bengkel mendapat banyak pesanan untuk menservice banyak mobil yang tidak bisa berfungsi sebagaimana mestinya.
Tetapi: Bengkel kebanjiran order memperbaiki mobil yang rusak terkena banjir.
Rasakan, bahasa sehari-hari seperti ‘kebanjiran order’ justru lebih
‘bernyawa’ dibandingkan dengan bahasa resmi.
34 6. Hindari bentuk negatif
Seperti halnya penggunaan kalimat aktif, sebuah naskah berita radio akan lebih mudah dipahami dan dibawakan oleh newscaster jika dibuat dengan menggunakan kalimat positif. Untuk itu rubahlah kalimat negatif menjadi positif, terutama pada saat membuat kalimat awal atau lead berita. Contoh:
Bukan: Jika pemerintah tidak mengurangi subsidi BBM, sektor keuangan dan perekonomian Indonesia bisa mengalami krisis hebat seperti pada tahun 1997 silam dan yang paling menderita adalah rakyat.
Tetapi: Pemerintah mengurangi subsidi BBM. Jika hal ini tidak dilakukan, sektor keuangan dan perekonomian Indonesia bisa mengalami krisis hebat seperti pada tahun 1997 silam dan yang paling menderita adalah rakyat.
7. Berikan tanda baca yang benar
Selain titik, koma, dan tanda tanya, tanda baca yang lazim digunakan dalam penulisan naskah radio adalah slash ‘/’ sebagai tanda jeda dan double slash ‘//’ untuk berhenti atau mengakhiri sebuah kalimat. Penggunaan tanda baca yang benar dan pada tempatnya, akan membantu penyiar dalam menyampaikan pesan yang tertulis melalui naskah. Selain agar pendengar bisa menangkap dengan tepat apa yang disampaikan oleh penyiar. Penggunaan tanda baca juga akan membantu penyiar dalam menata suara dan melagukan susunan kalimat yang disiarkan. Seorang newscaster diharuskan membaca terlebih dahulu naskah berita atau tulisan yang akan disiarkannya dan biasakan untuk memberikan tanda secara pribadi, seperti garis bawah atau tanda-tanda tertentu
35 dibagian yang harus diberi penekanan, dibaca dengan intonasi naik atau turun dan lain sebagainya.
Sedangkan menurut Asm. Romli dalam tulisannya berjudul “Jurnalistik Radio: Produksi Berita teknik penulisan harus memperhatikan bahasa Jurnaslitik yang terdapat beberapa ketentuan seperti :
1. Spoken Words
Pilih kata-kata yang biasa diucapkan sehari-hari. Kata-kata ini nantinya akan mempermudah penyiar dalam membaca naskah, selain itu juga pesan yang disampaikan kepada khalayak dapat tersampaikan dengan baik. Contoh :
Pukul 16.00 WIB – Jam Empat Sore
Nurhaliza (30) – Nurhaliza berusia 30 tahun
Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) – Dewan Pimpinan Wilayah atau D-P-W Harganya Rp 15.000 – Harganya 15-ribu rupiah
2. Sign Posting
Sebutkan jabatan, gelar, atau keterangan sebelum nama orang.
Atribusi/predikat selalu mendahului nama. Contoh :
Ketua DPR –Agung Laksono— mengatakan…
Seorang warga Cipadung –Anton—ditemukan…
3. Stay Away From Quotes
Jangan gunakan kutipan langsung. Ubah kalimat langsung menjadi kalimat tidak langsung. Contoh :
“Saya siap memimpin demo,” katanya – Ia mengatakan siap memimpin demo
36
“Kebijakan itu salah besar,” tegasnya – Ia menegaskan kebijakan itu salah besar.
4. Avoid Abbreviation
Hindari singkatan atau akronim, tanpa menjelaskan kepanjangannya lebih dulu. Hal ini sangat penting karena singkatan dan akronim terkadang tidak diketahui makanya oleh pendengar atau penyiarnya. Selain itu juga untuk menjelaskan arti dari singkatan tersebut. Contoh :
Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Islam Negeri –BEM UIN—Bandung menggelar… Ketua BEM UIN Bandung –Fulan—mengatakan…
5. Subtle Repetition
Ulangi secara halus fakta-fakta penting seperti pelaku atau nama untuk memudahkan pendengar memahami dan mengikuti alur cerita. Pengulangan ini dapat dilakukan terhadapa informasi yang akan disampaikan. Hal ini akan membuat pendengar yang tidak mendengar berita dari awal dapat mengikuti alur berita yang ada. Contoh :
Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono mengatakan… Menurut Presiden….
Kepala Negara juga menegaskan….
Menteri Agama –Maftuh Basuni—mengatakan…. Menurut Maftuh…. Menteri juga mengatakan…
6. Present Tense
Gunakan perspektif hari ini. Untuk unsur waktu gunakan kata-kata
“kemarin”, “hari ini”, “besok”, “lusa”, bukan nama-nama hari (Senin samapi dengan Minggu). Dalam Radio perspektof hari ini membuat nilai berita lebih
37 actual dan tepercaya karena sifatnya yang sekilas. Contoh :
Mahasiswa UIN Bandung melakukan aksi demo hari ini… Besok mereka akan melanjutkan aksi protesnya…
7. Tanda Baca Khusus
Dash. tanda garis pisah (--) untuk sebelum nama atau kata penting atau butuh penekanan. Punctuation. Tanda Sengkang, yaitu tanda-tanda pemenggalan (-) untuk memudahkan pengucapan singkatan kata yang dieja. M- U-I, B-A-P, W-H-O, P-U-I, dan lainnya. Garis Miring. Jika perlu, gunakan garis miring satu (/) sebagai pengganti koma atau sebagai tanda jeda untuk ambil nafas, garis miring dua (//) untuk ganti titik, dan garis miring tiga (///) untuk akhir naskah. Contoh :
Menjelang Pemilu 2009/ sedikitnya sudah 54 partai politik/ mendaftarkan diri ke Departemen Hukum dan HAM// Mereka akan diverifikasi untuk ikut Pemilu.
Menurut pengamat politik –Arby Sanit/ banyaknya parpol itu menunjukkan animo elite untuk berkuasa masih tinggi///
8. Mata uang ditulis pengucapannya dibelakang angka.
Pengucapan mata uang harus ditulis dibelakang angka, hal ini untuk membuat penyiar tidak kebingungan saat membaca nasakh berita. Selain untuk memperlancar hal itu, pesan juga tersampaikan. Contoh :
Rp 600.000 – 600-ribu rupiah
US$ 50.000 -- 500-ribu dolar Amerika Serikat 9. Satu Kalimat Satu Tarikan Nafas
38 Upayakan tidak ada anak kalimat, sedapat mungkin satu kalimat dapat disampaikan dalam satu tarikan nafas. Atau setidaknya berikan tanda jeda pada kalimat yang terlalu panjang sehingga intonasi tetap terjaga dan cara membcanya tetap menarik.
1.5.5 Radio
Radio adalah teknologi yang digunakan untuk pengiriman sinyal dengan cara modulasi dan radiasi elektromagnetik (gelombang elektromagnetik).
Gelombang ini melintas dan merambat lewat udara dan bisa juga merambat lewat ruang angkasa yang hampa udara, karena gelombang ini tidak memerlukan medium pengangkut (seperti molekul udara). Gelombang radio adalah satu bentuk dari radiasi elektromagnetik, dan terbentuk ketika objek bermuatan listrik dimodulasi (dinaikkan frekuensinya) pada frekuensi yang terdapat dalam frekuensi gelombang radio (RF) dalam suatu spektrum elektromagnetik. Gelombang radio ini berada pada jangkauan frekuensi 10 hertz (Hz) sampai beberapa gigahertz (GHz), dan radiasi elektromagnetiknya bergerak dengan cara osilasi elektrik maupun magnetik. Gelombang elektromagnetik lainnya, yang memiliki frekuensi di atas gelombang radio meliputi sinar gamma, sinar-X, inframerah, ultraviolet, dan cahaya terlihat. Ketika gelombang radio dipancarkan melalui kabel, osilasi dari medan listrik dan magnetik tersebut dinyatakan dalam bentuk arus bolak-balik dan voltase di dalam kabel. Hal ini kemudian dapat diubah menjadi signal audio atau lainnya yang membawa informasi.
39 1.5.6 Karakteristik Radio
Seorang penyiar perlu pengetahuan dan pemahaman mengenai karakteristik radio, hal ini berguana untuk mempersuasi pendengarnya. Radio memliki karakteristik yang tidak dapat dipisahkan dari bagian kehidupan manusia, kerena membrikan kontribusi yang besar bagi perkembangan komunikasi massa.Dengan memahami kelebihan dan kekurangan radio, penyiar dapat merencanakankonsep implementasi untuk menghasilkan produksi siaran yang lebih efektif dan efisien. Karakteristik juga memberikan manfaat yang cukup unik, diantaranya bisa menarik imajenasi seseorang; radio cukup cepatr, memberikan informasi yang efisien; mudah dibawa; tidak memerlukan kemampuan membaca dan menulis; tidak memerlukan konsentrasi yang penuh saat kita mendangrakannya; cukup murah dan mudah penggunannya.
Meskipun radio terkadang dikatakan media buta karena hanya berupa suara, namun suara merupakan sebuah instrumen penting yang perlu dikaji lenih mendalam. Sculberg dalam bukunya radio Advertising-The advertising handbook mengatakn bahwa para ahli psikolog teleh menyimpulakn bahwa memori ingatan yang berasal dari aspek pendengaran manusia, ternyata jauh lebih kuat dibandingkan ingatan yang diperoleh dari indera penglihatan ataupun indera penciuman. Menurut Harley Prayudha dalam bukunya, Radio; Penyiar, it’s not jusat a talk, mengatakan :
Kecepatan respons manusia terhadap suara yang langsung masuk ke otak sekitar140milidetik, sedangkan respons terhadap cahaya berupa kata-kata dan gambar mencapai 180milidetik. Perbedaan waktu sekitar 40milidetik ini merupakan waktu yang diperlukan untuk merespons gambar yang diteruskan kebagian otak untuk mendapatkan proses identifikasi sebelum gambar tersebut bergeark dan masuk ke system penerimaan visual di otak
40 Tidak dapat dipungkiri bahwa akhirnya radio dapat dikatakan sebagai media terbaik untuk berimajinasi terhadap apa yang didengarkan dan apa yang dijelaskan. Saat radio melakukan siaran dengan kreativitas oleh penyiar dan program-program serta pengiklannya, maka dapat memberikan kesan tersendiri dalam pikiran orang. Bila televisi menayangkan gambar dengan berbagai sudut pandang dan sanagt variatif, maka radio menyediakan imajinatif gambar tanpa batas. Seseorang yang melihat berita di televisi akan terfokus hanya pada gambar yang ditayangkan televisi. Beda dengan radio, seseorang yang mendengarkan berita di radio akan membayangkan berbagai gambar dalam pikiran mereka secara emosional.
Book, D.Cary, Tannenbaum (1995) dalam bukunya The Radio and Television Commercial menulis beberapa karakteristik radio sebagai berikut:
1. Radio terdapat dimana-mana
Hasil penelitian menyebutkan bahwa setengah miliar pesawat radio yang ada, 73% diantaranya berada pada di rumah, toko-toko, tempat potong rambutdan dikantor-kantor, bahkan sekitar 100jutaan berada pada mobil dan truk. Belum lagi radio portable yang jumlahnya lebih banyak. Tidak seperti media cetak, radio tidak dapat diabaikan, jika berada pada jarak dengar radio yang sedang menyala, maka kita akan mendengarnya, baik kita menginnginkan ataupun tidak.
2. Radio bersifat memilih
Geografi, demografi, dan keragaman program stasiun radio membantu pengiklan untuk menetapkan target audiencenya. Spot iklan dapat disiarkan pada jaringan regional ataupun nasionaldan dapat diudarakan pada pagi, siang, sore ataupun malam hari. Dari berbagai stasiun radio yang ada dengan format yang
41 berbeda, para pengiklan bisa memilih stasiun yang diinginkan, Baik AM maupun FM.
3. Radio bersifat ekonomis
Iklan radio relatif tidak mahal. Semua pesan dapat dihasilkan dari sebuah lembar fakta spontan atau naskah yang digunkan oleh seorang penyiar secara langsung ataupun dengan produksi spot yang dianggarkan dengan menggunakan music dan efek pengisi suara.
4. Radio cepat dalam menyampaikan informasi
Apabila muncul kebutuhan mendesak, maka pengiklan dapat mengiklankan produk/jasa yang langsung dapat diudarakan dalam hitungan jam.
Bila dibutuhkan spot yanglebih menarik maka penggunaan efek suara, music/jingle dan beberapa suara dapat diulangi lagi, direkam, dicampur, di- dubbing, kemudian diudarakan dalam hitungan hari. Hal ini memerikan efisiensi waktu dan menguntungkan bagi pengiklan jika memerlukan media radio sebagai media promosi dalam keadaan-keadaan darurat.
5. Radio bersifat partisipasif
Setiap radio membutuhkan imajinasi berupa cerita-cerita komersial yang tidak terbatas pada tempat dan waktu. Efek suara, music, deskripsi dan dialog menjadi sangat menarik jika karakter-karakter dapat dimainkan dengan baik dan sederhana, Dalam hal ini, pendengar radio ukut berperan serta. Pendengar menggunakan imajinasi untuk mengisi ‘warna’ siaran radio. Rasa persahabatan dan kesetiaan pendengar terhadap stasiun radio tertentu membuat para pendengarnya mengembangkan sebuah rasa keterlibatan yang semakin kuat.