• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. a. Definisi Usaha Kecil Menengah (UKM) pada fokus permasalahannya masing-masing.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II TINJAUAN PUSTAKA. a. Definisi Usaha Kecil Menengah (UKM) pada fokus permasalahannya masing-masing."

Copied!
26
0
0

Teks penuh

(1)

commit to user BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Landasan Teori

1. Usaha Kecil Menengah (UKM)

a. Definisi Usaha Kecil Menengah (UKM)

Usaha kecil menengah (UKM) dapat didefinisikan sebagai suatu kegiatan usaha yang berskala kecil menengah, dan dapat ditinjau dalam berbagai pendekatan. Pendekatan itu dapat diukur dari volume penjualan, nilai aset, jumlah tenaga kerja, pendekatan dari jumlah kredit yang diterima atau dengan kata lain pendekatannya tergantung pada fokus permasalahannya masing-masing.

UU No.9 tahun 1999 bahwa Usaha Kecil (UK) adalah suatu unit usaha yang memiliki nilai asset netto (tidak termasuk tanah dan bangunan) yang tidak melebihi Rp 200 juta sedangkan melalui Instruksi Presiden (Inpres) No.10 tahun 1999 bahwa Usaha Menengah (UM) adalah suatu unit usaha dengan nilai asset netto (selain tanah dan bangunan) antara Rp 200 juta hingga Rp 10 Milyar.

Badan Pusat Statistik (BPS) memberikan klasifikasi usaha kecil menengah (UKM) berdasarkan skala penggunaan tenaga kerja yaitu usaha kecil (UK) menggunakan tenaga kerja kurang dari 20 orang sedangkan usaha menengah (UM) menggunakan tenaga kerja antara 20 orang sampai dengan 99 orang.

(2)

commit to user

Definisi usaha kecil menengah (UKM) dari sejumlah lembaga- lembaga pemerintah berbeda-beda namun UKM mempunyai karakteristik yang sama yakni :

1. Kebanyakan usaha kecil menengah dikelola oleh perorangan yang merangkap pemilik dan pengelola perusahaan dengan memanfaatkan tenaga kerja dari keluarga sehingga tidak adanya pembagian tugas yang jelas antara bidang administrasi dan operasi.

2. Adanya kecenderungan UKM menggantungkan pembiayaan usahanya dari lembaga-lembaga kredit nonformal (keluarga, pedagang perantara dan renternir) yang disebabkan rendahnya akses UKM terhadap lembagalembaga kredit formal.

3. Sebagian besar belum berstatus badan hukum.

4. Sebagian besar UKM bergerak pada kelompok usaha industri makanan, minuman, tembakau, barang galian bukan logam, tekstil, kayu, rotan, kertas, dan kimia.

Perkembangan UKM di Indonesia tidak lepas dari berbagai macam permasalahan yang tingkat intensitas dan sifatnya berbeda tidak hanya menurut jenis produk atau pasar yang dilayani, tetapi juga berbeda antarwilayah atau lokasi. Beberapa permasalahan yang umum dihadapi oleh UKM (Tulus Tambunan, 2000).

1. Masalah-masalah yang bersumber dari dalam meliputi :

(3)

commit to user

a. Permasalahan permodalan yang pada umumnya kelemahan pada struktur permodalan dalam modal kerja / modal investasi.

b. Permasalahan pemasaran yang pada umumnya terjadi keterbatasan untuk memperbesar pangsa pasar disebabkan banyaknya tekanan-tekanan persaingan baik di pasar domestik maupun pasar ekspor; memperoleh peluang pasar dan kurangnya informasi, komunikasi, transportasi yang up to date mengenai peraturan-peraturan tata niaga pasar baik

regional maupun internasional.

c. Permasalahan manajemen yang pada umumnya terdapat keterbatasan sumber daya manusia (SDM) berkualitas yang disebabkan pendidikan yang ditempuh.

d. Permasalahan produksi yang pada umumnya kesulitan memperoleh bahan baku yang berkualitas dengan harga terjangkau.

e. Permasalahan teknologi yang pada umumnya masih menggunakan teknologi sederhana.

2. Masalah-masalah yang bersumber dari luar :

a. Permasalahan mengenai keterbatasan akses ke bank.

b. Kebijaksanaan-kebijaksanaan pemerintah yang tidak kondusif dan lebih mementingkan usaha besar.

Potensi usaha kecil menengah cukup besar untuk dikembangkan. Kontribusi usaha kecil menengah terlihat pada

(4)

commit to user

pembangunan nasional yang berhubungan dengan pemerataan pendapatan, mengurangi pengangguran, dan memerangi kemiskinan.

Potensi yang besar bukan berarti secara otomatis akan memperbesar usaha kecil menengah itu sendiri, sebab potensi tersebut tanpa digali dan dibudidayakan akan berhenti sebagai potensi semata.

Alternatif tindakan yang dapat dilakukan untuk mewujudkan industri atau usaha yang tangguh, tidak hanya bertanggung jawab dalam memberikan modal saja tetapi diperlukan juga pembinaan dan pengawasan terhadap kegiatan dari usaha kecil menengah (UKM).

Bentuk dari pembinaan dan pengawasan terhadap UKM dapat dilakukan dengan mengadakan program kemitraan dan pemberian bantuan pendidikan dan latihan. Hal tersebut dilakukan melalui (Falikhatun,2001:5) :

1. Hubungan kerjasama yakni hubungan yang dilakukan dengan kerjasama antar sektor industri maupun sektor industri dengan sektor ekonomi lainnya, antar usaha besar, usaha menengah, usaha kecil dan koperasi.

2. Hubungan dagang yakni hubungan dagang yang dilakukan dengan melakukan pemesanan produk yang dihasilkan mitra usahanya dari para UKM oleh usaha besar yang menjadi bapak angkat.

3. Hubungan subkontrak yakni hubungan yang dilakukan melalui produk yang dihasilkan oleh UKM menjadi bagian dari produk

(5)

commit to user

yang dihasilkan oleh usaha besar yang menjadi bapak angkatnya.

4. Hubungan pembinaan yakni hubungan yang dilakukan dengan melakukan pembinaan oleh bapak angkat atau instansi terkait.

Tambunan (2002) UKM di Indonesia menghadapi dua masalah utama dalam aspek finansial yaitu mobilisasi modal awal dan akses modal kerja jangka panjang untuk pertumbuhan output jangka panjang.

Memang dalam kenyataan UKM kesulitan modal dalam kegiatan ekonomi, masalah usaha kecil menengah orang sering mengidentifikasi sebagai usaha yang memiliki modal kecil dan sangat rapuh dalam kegiatan perekonomian, tetapi tidak demikian di Indonesia. Usaha Kecil Menengah telah membuktikan dalam mempertahankan kegiatannya meski dalam kondisi ekonomi di tahun 1997.

Tuntutan untuk meningkatkan kesejahteraan sosial ekonomi di tingkat rumah tangga menjadi motivasi utama. Keterlibatan seseorang dalam melakukan kegiatan UKM, baik sebagai pekerja atau pengusaha/pemilik dan biasanya mereka terbentuk karena keterpaksaan atau memang ingin melakukan karena ingin suatu keuntungan. (Tambunan 2000).

Pertama-tama kegiatan UKM ditingkat Industri Rumah Tangga (IRT) terbentuk karena kekuatan untuk mempertahankan hidup yaitu memenuhi kebutuhan pokok seperti sandang, pangan, dan papan atau

(6)

commit to user

dalam mengembangkan kegiatan usahanya untuk memenuhi kebutuhan hidup, hal ini sangat kental dengan jiwa wirausaha.

UKM dalam usahanya selalu diperkuat dengan potensi yang sudah tersedia, keberadaan bahan baku yang mudah didapat serta ketersedian tenaga kerja yang murah termasuk merekrut pekerja- pekerja yang masih dalam hubungan keluarga. Perkembangan usaha ini tidak lepas dari sosialitas ligkungan yang saling melengakapi, termasuk dalam hal ini dapat dimanfaatkan juga keberadaan UKM untuk menampung tenaga kerja tidak terdidik, membentuk paguyuban.

Kepentingan sosial didasari atas ras kebersamaan dalam usaha untuk saling memenuhi kebutuhan serta keinginan untuk mempertahankan kegiatan usahanya. Paguyuban berfungsi untuk mempermudah mendapatkan modal dengan kredit lunak dan meminimalkan persaingan misalnya kebijakan paguyuban dalam menentukan harga dan menghadapi kondisi ekonomi ke depan.

UKM juga tidak lepas dari keinginan untuk membentuk modal usaha guna menunjang kegiatan usaha jangka panjang, dengan demikian usaha kecil menengah tidak lepas dari kepentingan untuk memaksimalkan laba. Kepentingan pribadi adala kebijakan pengusaha dalam mengelola usahanya, bagaimana memaksimalkan laba, memanfaatkan kondisi ekonomi dengan tidak merusak komitmen paguyuban.

(7)

commit to user

b. Karakteristik Sosial dan Ekonomi Usaha Kecil Menengah

Savio (2003), bisnis tidak hanya untuk keuntungan pribadi tetapi juga untuk memberikan suatu nilai manfaat kepada masyarakat.

Meskipun ada pandangan tanggung jawab sosial akan mengurangi pencapaian tujuan bisnis.

Tujuan utama usaha karena keinginan untuk meperoleh laba, tetapi tidak dipungkiri dalam mencapai kegiatan tersebut berdampak pada sektor sosial seperti pembuatan asset jalan, pembukaan lapangan pekerjaan dan lainnya. pengaruh sosial tersebut merupakan akibat adanya suatu usaha, tetapi dampak tersebut bermanfaat bagi kehidupan lingkungan masyarakat.

Perkembangan dunia bisnis yang mengarah pada era pembangunan yang berkelanjutan telah menciptakan tanggung jawab sosial pengusaha terhadap sosial ke masyarakat, salah satu wujud peranan tersebut adalah masuknya unsur masyarakat sebagai pengontrol suatu usaha agar tetap pada jalur sosial masyarakat dan tetap menjaga manfaat bagi lingkungan masyarakat yang disebut dengan stakeholder.

Savio (2003) stakeholder yaitu pihak-pihak yang memainkan pengaruh atas sebuah bisnis dan pihak-pihak yang terkena pengaruh dari sebuah bisnis. Stakeholder mencerminkan keragaman kelompok kepentingan dalam masyarakat tempat perusahaan beroperasi dengan cara yang secara sosial lingkungan dapat dipertanggungjawabkan.

(8)

commit to user

Seperti yang sudah dijelaskan diatas UKM dalam usahanya tidak lepas dari 2 motif yaitu :

a. Motif sosial yaitu etika kegiatan UKM yang pengembangannya karena didukung oleh potensi-potensi lingkungan atas rasa kebersamaan, senasib dan sepenanggungan, UKM saling melengkapi satu dengan yang lain.

1) Dalam motif ini penciptaan pemerataan pendapatan, penciptaan kesempatan kerja dan pengentasan kemiskinan menjadi ciri sosial.

2) Termasuk perekrutan tenaga kerja tidak terdidik, tenaga kerja dengan keterikatan sebagai saudara dan tetangga.

b. Motif ekonomi yaitu usaha ini tidak lepas dari keingginan untuk membentuk modal dan keinginan untuk mengembangkan usaha. Kegiatan ini pun tidak lepas dari sosial ekonomi seperti : 1) Kemitraan yang tidak lepas dari pola kemitraan yang

didasarkan atas prinsip saling menguntungkan.

2) Termasuk bantuan pemerintah, yaitu fasilitas yang didapat dari pemerintah seperti pinjaman lunak, penyediaan bahan baku pembentukan koperasi dan penyuluhan.

3) Operasional yang dijalankan oleh paguyuban-paguyuban juga mencerminkan kegiatan perekonomian sosial yang didasarkan atas usaha bersama.

(9)

commit to user

Tanggung jawab sosial dan tanggung jawab ekonomi dalam Usaha Kecil Menengah (UKM) dalam kegiatan usahanya sangat beda tipis. Hal ini karena adanya karakteristik dasar dari usaha itu sendiri.

c. Karakteristik Umum Usaha Kecil Menengah

Tabel 2.1 Karakteristik Usaha dan Perbedaan Ukuran Usaha UMKM

No Keterangan Usaha Mikro Kecil Kecil-Menengah Menengah 1

Jumlah Tenaga Kerja

1-4 5-9 10-29 30-49

2 Tempat

Usaha Di rumah

Disebelah dekat rumah

Terpisah dari rumah

3 Proses

Produksi Sederhana

Sederhana, sedikit

maju, banyak tahapan

Lebih maju beberapa tahapan

yang berbeda

Proses produksi rumit, kemungkinan

lebih banyak modal insentif

4 Sistem

Keuangan

Akutansi Perputaran Uang

Sistem dasar akutansi

Sistem dasar akutansi

Sistem akutansi, keuangan terjaga terencana,

laporan manajemen

terbukti

5 Sumber

Kredit

Sumber Informal dengan tingkat

bunga tinggi.

Tidak ada saluran kredit formal karena kurang catatan transaksi

usaha dan jaminan

Sumber informal,

kredit formal tapi

sulit didapat

Sumber informal, kredit formal tapi

sulit didapat

Memiliki beberapa kesempatan kredit formal

6 Pasar Pasar Setempat

Pasar setempat

dengan beberapa perluasan

Pasar setempat persaingan jelas, kebutuhan bahan

baku dan persediaan besar keterkaitan usaha

hulu hilir terhadap ekonomi masyarakat

Pasar wilayah nasional bila perlu ekspor

7 Kekuatan

Hukum

Tidak berbadan hukum, beroperasi pada ekonomi informal

Tidak

terdaftar Terdaftar

Terdaftar memenuhi

peraturan pemerintah Sumber : Tanwilly Sutanto, 2004 (Peta Gaya Manajemen Bisnis Usaha Kecil Menengah/UKM Surabaya)

(10)

commit to user 2. Teori Produksi

a. Pengertian Produksi

Produksi adalah suatu transformasi atau pengubahan faktor- faktor produksi menjadi barang produksi, atau suatu proses dimana masukan atau (input) diubah menjadi keluaran atau output (Boediyono, 1991). Wijaya (1991) produksi adalah suatu kegiatan dimana perusahaan atau industri menghasilkan suatu produk berupa barang atau jasa. Kegiatan ekonomi dalam suatu masyarakat modern adalah sangat kompleks. Kegiatan tersebut meliputi berbagai jenis kegiatan produksi, konsumsi, dan perdagangan. Ahli-ahli ekonomi telah dapat membagikan berbagai masalah ekonomi yang dihadapi terdapat tiga persoalan yaitu :

1. Menentukan barang dan jasa yang harus diproduksi 2. Menentukan cara barang diproduksi

3. Menentukan untuk siapa barang-barang diproduksi.

Ari Sudarman (1997:119), mendefinisikan produksi sebagai penciptaan guna. Guna berarti kemampuan barang dan jasa untuk memenuhi kebutuhan manusia. Proses perubahan bentuk faktor-faktor produksi disebut dengan proses produksi. Produksi tidak hanya mencakup pembuatan barang-barang yang dapat dilihat tetapi termasuk juga didalamnya produksi jasa.

(11)

commit to user b. Fungsi Produksi

Sugiarto (2002:202) menyatakan bahwa fungsi produksi menunjukkan jumlah maksimum output yang dapat dihasilkan dari pemakaian sejumlah input dengan menggunakan teknologi tertentu.

Salvatore (1995:147) menyatakan bahwa suatu fungsi produksi pertanian yang sederhana diperoleh dengan menggunakan berbagai alternatif jumlah tenaga kerja per unit waktu untuk menggarap sebidang tanah tertentu yang tetap dan mencatat alternatif output yang dihasilkan per unit waktu.

Hubungan antara input dan output dari faktor produksi dapat ditunjukkan secara matematis sebagai berikut :

Q = f (X1,X2,X3,... ,Xn) Q = Tingkat produksi (output)

X1,X2,...Xn = Berbagai input yang digunakan

Teori ekonomi menjelaskan satu asumsi dasar mengenai sifat dari fungsi produksi, yaitu fungsi produksi dari semua produksi dimana semua produsen dianggap tunduk pada suatu hukum yang disebut The Law of Diminishing Return. Hukum ini mengatakan bila satu macam

input ditambah penggunaannya sedangkan input-input lain tetap maka tambahan output yangdihasilkan dari setiap tambahan satu unit input yang ditambahkan tadi mula-mula menaik, tetapi kemudian seterusnya menurun bila input terus ditambah.

Grafik fungsi produksi dapat digambarkan dengan kurva melengkung dari kiri bawah ke kanan atas, setelah mencapai titik

(12)

commit to user

maksimal kemudian berubah arah turun kembali, seperti yang ditunjukkan oleh gambar dibawah ini:

Y

Output

TP

0 X

Input

Gambar 2.1. Fungsi Produksi

(Sumber: Mubyarto, 1995)

Periode produksi dibagi menjadi dua bagian, yaitu fungsi produksi jangka pendek (short run) dan fungsi produksi jangka panjang (long run). Fungsi produksi jangka pendek adalah periode waktu dimana paling tidak hanya ada satu input yang tetap dan kuantitasnya tidak dapat diubah-ubah. Seorang produsen ingin menambah produksinya dalam jangka pendek, maka hal ini hanya dapat dilakukan dengan jalan menambah jam kerja dan dengan tingkat skala perusahaan yang ada.

Fungsi produksi jangka panjang adalah suatu periode waktu yang cukup panjang, dimana semua input dan teknologi berubah, tidak ada input tetap dalam jangka panjang. Pembagian fungsi produksi ini tidak didasarkan pada lama waktu yang dipakai dalam suatu proses produksi, akan tetapi dilihat dari macam input yang digunakan (Ari Sudarman, 1999 : 122).

c. Produksi Total, Produksi Rata-rata dan Produksi Marginal

Produksi total menunjukkan total output yang diproduksi dalam unit fisik. Kurva produksi adalah kurva yang menunjukkan hubungan

(13)

commit to user

antara jumlah output yang dihasilkan pada berbagai tingkat penggunaan input variable dan input-input lain dianggap tetap (Sadono Sukirno, 2002).

TP atau Q = f (x)

di mana : X = jumlah input variabel yang digunakan TP = Q = produksi total

Produksi rata-rata yaitu output yang secara rata-rata dihasilkan oleh setiap unit input yang digunakan dalam suatu proses produksi.

Kurva produksi rata-rata adalah kurva yang menunjukkan output rata-rata per unit input pada berbagai tingkat penggunaan input tersebut (Sadono Sukirno, 2002).

) 2 . 2 ( ...

...

...

...

...

...

...

...

X atau Q X APTP

Dimana AP = produksi rata-rata TP = Produksi Total

X = Jumlah input X yang digunakan

Produksi marginal merupakan tambahan output yang diakibatkan oleh bertambahnya satu unit input variabel, sedangkan input lain dianggap tetap. Kurva produksi marginal adalah kurva yang menunjukkan tambahan output yang disebabkan oleh adanya tambahan satu unit input variabel (Sadono Sukirno, 2002).

) 3 . 2 ...(

...

...

...

...

...

...

...

...

x Q X MP TP





Dimana MP = Produksi marginal = Tambahan output

(14)

commit to user

= Tambahan input X yang digunakan

Secara grafik hubungan antara kurva-kurva TPP, MPP dan APP adalah sebagai berikut:

Produksi Total

Q C

TP

tahap I B tahap II

tahap III

A AP

0 Faktor Produksi MP P Gambar 2. 2 Hubungan TP, MP, dan AP

(Sumber: Sadono Sukirno, 2002)

Hubungan istimewa antara TP, MP, dan AP dapat dijelaskan sebagai berikut:

1) Penggunaan input variabel (X) sampai pada titik dimana TP cekung terhadap titik origin, maka MP naik demikian pula AP.

2) Pada titik A, MP mencapai nilai maksimum, kurva TP telah berubah bentuk dari cekung menjadi cembung terhadap titik origin, dimana titik ini disebut titik infeksi.

3) Pada titik B, AP mencapai nilai maksimum, kurva MP memotong AP dari atas (MP=AP), dan kurva TP bersinggungan dengan garis lurus dari titik origin dengan slope terbesar.

(15)

commit to user

4) Pada titik C, TP mencapai maksimum dan MP bernilai nol.

Gambar ini menunjukkan berlakunya Law of Diminishing Return atau hukum hasil lebih yang semakin berkurang.

d. Tahap-tahap Produksi

Berdasarkan gambar 2. 2 di atas, tahap-tahap dalam fungsi produksi adalah sebagai berikut (Adiningsih, 1998):

1) Tahap I

Yaitu tahap yang dibatasi oleh titik asal sampai titik maksimum rata-rata yaitu pada saat produksi marginal (MP) sama dengan produksi rata-rata (AP). Tahap ini dikatakan produksi belum efisien karena produksi rata-rata masih dapat naik, penambahan faktor produksi masih menyebabkan kenaikan produksi total.

2) Tahap II

Yaitu tahap yang dibatasi oleh titik pada saat produksi rata- rata (AP) mencapai titik maksimum sampai dengan pada saat produksi total (TP) mencapai maksimum. Tahap ini adalah tahap yang rasional untuk berproduksi karena penambahan faktor produksi masih menyebabkan kenaikan produksi total.

3) Tahap III

Yaitu tahap dimana produksi total (TP) terus menurun dan produksi marginal (MP) mulai negatif. Tahap ini dikatakan tidak rasional bagi produsen untuk berproduksi karena pada tahap ini penambahan faktor produksi yang bersifat variable tidak lagi menaikkan produksi tetapi justru menurunkan total produksi (TP).

(16)

commit to user e. Faktor Produksi

Menurut Sadono Sukirno (2003:192) mengatakan bahwa faktor produksi sering disebut dengan korbanan produksi untuk menghasilkan produksi. Faktor- faktor produksi dikenal dengan istilah input dan jumlah produksi disebut dengan output. Faktor produksi atau input merupakan hal yang mutlak untuk menghasilkan produksi. Proses produksi ini seorang pengusaha dituntut untuk mampu mengkombinasikan beberapa faktor produksi sehingga dapat menghasilkan produksi yang optimal.

Faktor produksi dianggap tetap kecuali tenaga kerja, sehingga pengaruh faktor produksi terhadap kuantitas produksi dapat diketahui secara jelas. Ini berarti kuantitas produksi dipengaruhi oleh banyaknya tenaga kerja yang dipergunakan. Faktor produksi yang dianggap konstan disebut faktor produksi tetap, dan banyaknya faktor produksi ini tidak dipengaruhi oleh banyaknya hasil produksi. Faktor produksi yang dapat berubah kuantitasnya selama proses produksi atau banyaknya faktor produksi yang digunakan tergantung pada hasil produksi yang disebut faktor produksi variabel. Periode produksi jangka pendek apabila di dalam proses produksi yang bersifat variabel dan yang bersifat tetap. Proses produksi dikatakan jangka panjang apabila semua faktor produksi bersifat variabel.

(17)

commit to user f. Macam-macam Faktor Produksi

1) Tenaga Kerja

Faktor produksi tenaga kerja merupakan faktor yang penting dan perlu diperhitungkan dalam proses produksi, baik dalam kuantitas dan kualitas. Jumlah tenaga kerja yang diperlukan harus disesuaikan dengan kebutuhan sampai tingkat tertentu hingga dicapai hasil yang optimal. Undang-Undang RI No. 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan, tenaga kerja adalah setiap orang yang mampu melakukan pekerjaan guna menghasilkan barang dan/atau jasa baik untuk memenuhi kebutuhan sendiri maupun untuk masyarakat. Tenaga kerja adalah penduduk yang berumur 10 tahun atau lebih yang sudah atau sedang mencari pekerjaan dan melakukan kegiatan lainnya seperti sekolah dan mengurus rumah tangga (Simanjuntak Payaman J, 1985:

81). BPS (1997:52) menyatakan bahwa tenaga kerja terdiri dari angkatan kerja dan bukan angkatan kerja. Angkatan kerja adalah penduduk usia kerja (10 tahun atau lebih) yang bekerja atau punya pekerjaan sementara tidak bekerja dan yang mencari pekerjaan. Bukan angkatan kerja adalah penduduk (10 tahun atau lebih) yang kegiatannya tidak bekerja maupun mencari pekerjaan atau penduduk usia kerja dengan kegiatan sekolah, mengurus rumah tangga maupun lainnya (pensiunan, cacat jasmani).

2) Bahan Baku

Menurut Sukanto Rekso Hadiprojo dan Indriyo Gito Sudarmo (1998:199) mengatakan bahwa bahan baku merupakan salah satu faktor

(18)

commit to user

produksi yang sangat penting. Kekurangan bahan dasar yang tersedia dapat terhentinya proses produksi karena habisnya bahan baku untuk diproses. Tersedianya bahan dasar yang cukup merupakan faktor penting guna menjamin kelancaran proses produksi. Oleh karena itu perlu diadakan perencanaan dan pengaturan terhadap bahan dasar ini baik mengenai kuantitas maupun kualitasnya. Cara penyediaan bahan baku ada 2 alternatif, yaitu

1. Dibeli sekaligus jumlah seluruh kebutuhan tersebut kemudian disimpan di gudang, setiap kali dibutuhkan oleh proses produksi dapat digunakan.

2. Berusaha memenuhi kebutuhan bahan dasar tersebut dengan membeli berkali-kali dalam jumlah yang kecil dalam setiap kali pembelian.

Agus Ahyari (1989:150) beberapa kelemahan apabila perusahaan melakukan persediaan bahan baku yang terlalu kecil, antara lain:

1. Harga beli dari bahan baku tersebut menjadi lebih tinggi apabila dibandingkan dengan pembelian normal dari perusahaan yang bersangkutan.

2. Apabila kehabisan bahan baku akan mengganggu kelancaran proses produksi.

3. Frekuensi pembelian bahan baku semakin besar mengakibatkan ongkos semakin besar.

(19)

commit to user

Lebih lanjut Agus Ahyari mengatakan bahwa beberapa kerugian yang akan ditanggung oleh perusahaan berkaitan dengan persediaan bahan baku yang terlalu besar, antara lain:

1. Biaya penyimpanan atau pergudangan yang akan menjadi tanggungan perusahaan yang bersangkutan akan menjadi semakin besar.

2. Penyelenggaraan persediaan bahan baku yang terlalu besar akan berarti perusahaan tersebut mempersiapkan dana yang cukup besar.

3. Tingginya biaya persediaan bahan baku, mengakibatkan berkurangnya dana untuk pembiayaan dan investasi pada bidang lain.

4. Penyimpanan yang terlalu lama dapat menimbulkan kerusakan bahan tersebut.

5. Apabila bahan dasar tersebut terjadi penurunan harga, maka perusahaan mengalami kerugian.

3. Efisiensi Ekonomi

Kamus bahasa Indonesia, efisiensi memiliki arti sebagai ketepatan cara (usaha kerja) dalam menjalankan sesuatu (dengan tidak membuang waktu dan biaya) dan kemampuan menjalankan tugas dengan baik dan tepat. Tingkat efisiensi diukur dengan indikator yang dihitung dari rasio antara nilai tambah (value added) dengan nilai output. Semakin tinggi nilai ratio tersebut semakin tinggi tingkat efisiensinya, karena semakin rendah biaya output yang diperlukan untuk menghasilkan suatu unit output.

(20)

commit to user

Efisiensi merupakan tolak ukur yang dapat digunakan untuk berbagai keperluan. Suatu pekerjaan dapat dinyatakan efisien jika pekerjaan tersebut dilakukan dengan pengorbanan yang sekecil mungkin tetapi dapat menghasilkan manfaat yang sebesar-besarnya. Perusahaan yang bekerja secara efisien akan mendapatkan laba maksimal. Efisiensi adalah perhitungan atau pengukuran output aktual terhadap kapasitas efektifnya (Barry R dan Jay H, 2001:581)

Efisiensi dapat didefinisikan sebagai rasio antara output dengan input (Kost dan Rosenwig dalam Danang Widjanarko, 2007). Analisis efisiensi sangat penting untuk mengetahui dan menentukan penyebab perubahan tingkat efisiensi dan selanjutnya menentukan tindakan koreksi untuk peningkatan efisiensi. Tiga faktor yang menyebabkan efisiensi, yaitu apabila dengan input yang sama menghasilkan output yang lebih besar, dengan input yang lebih kecil menghasilkan output yang sama, dan dengan input yang lebih besar menghasilkan output yang lebih besar pula. Kinerja suatu perusahaan biasanya diukur dengan efisiensi ekonomi. Endang Suhendar dalam Dieny Setyowati (2011), mengemukakan bahwa ada beberapa cara untuk mengukur atau membandingkan tingkat efisiensi antar perusahaan yaitu efisiensi ekonomi, efisiensi teknis, efisiensi alokatif (efisiensi harga).

a) Efisiensi ekonomi terdiri atas efisiensi teknis (technical efficiency) dan efisiensi alokasi (allocative efficiency). Dimana dua perusahaan mempunyai tingkat efisiensi yang berbeda walaupun keduanya beroperasi pada kondisi pasar faktor produksi atau pasar produk yang

(21)

commit to user

sama tetapi mungkin masing-masing mendapat perlakuan harga yang berbeda. Efisiensi ekonomis, untuk proses produksi produsen menghadapi kendala besarnya harga input, sehingga harus dapat memaksimalkan penggunaan input sesuai dengan anggaran yang tersedia.

b) Efisiensi teknis adalah kombinasi antara kapasitas dan kemampuan unit ekonomi untuk memproduksi sampai tingkat output maksimum dari sejumlah input dan teknologi. Suatu unit kegiatan ekonomi (UKE) dapat dikatakan efisien secara teknis apabila menghasilkan output maksimal dengan sumberdaya tertentu atau memproduksi sejumlah tertentu output menggunakan sumberdaya yang minimal.

Dua perusahaan mempunyai tingkat efisiensi teknis yang berbeda jika tingkat penggunaan input yang sama tingkat output yang dihasilkan berbeda. Efisiensi teknis mengukur keberhasilan suatu kegiatan ekonomi dalam memproduksi output maksimal dari kombinasi input tertentu.

c) Efisiensi alokatif (harga) adalah kemampuan dan kesediaan unit ekonomi untuk beroperasi pada tingkat nilai produk marginal (marginal value product atau MVP) sama dengan biaya marginal (marginal cost atau MC), dengan kata lain MVP = MC. Efisiensi alokatif mengukur keberhasilan perusahaan dalam mengalokasikan input dalam mencapai keuntungan maksimum. Dua perusahaan mempunyai kesanggupan yang berbeda dalam hal menyamakan nilai

(22)

commit to user

produk marjinal dari input perubah terhadap harga opportunitas sehingga gagal memaksimumkan harga.

Secara matematik, hubungan antara efisiensi teknik, efisiensi ekonomi dan efisiensi harga adalah sebagai berikut (Soekartawi, 1994 : 218) :

EE = ET x EH

Dimana, EE adalah efisiensi ekonomi ET adalah efisiensi teknis EH adalah efisiensi harga

Efisiensi produksi adalah terjadinya penghematan biaya per unit dari input yang digunakan dengan menerapkan teknik produksi yang lebih baik. Efisiensi produksi yang diperoleh dari fungsi produksi mempunyai pengertian efisiensi teknis. Efisiensi produksi menggambarkan besarnya biaya atau beban atau pengorbanan yang harus ditanggung untuk menghasilkan suatu produk. Dalam fungsi dirumuskan bahwa untuk menghasilkan output mutlak diperlukan faktor produksi atau input.

Banyak sedikitnya kuantitas faktor produksi yang harus digunakan untuk menghasilkan output menentukan keadaan efisiensi (Sudarsono, 1995 : 140).

B. Penelitian Terdahulu

Pengukuran efisiensi telah banyak dilakukan oleh peneliti untuk mengukur kinerja suatu unit kegiatan ekonomi (UKE). Penggunaan Data Envelopment Analysis (DEA) digunakan untuk mengukur efisiensi teknis suatu UKE yang menggunakan banyak variabel input dan menghasilkan

(23)

commit to user

banyak variabel output. DEA digunakan pada sampel UKE yang bersifat homogeneosus seperti rumah sakit, pusat kesehatan, lembaga pendidikan, instansi pemerintah, perusahaan asuransi, perbankan, dan UKE lainnya.

Metode DEA juga digunakan untuk mengukur efisiensi teknis pada sektor industri manufaktur, sub sektor industri manufaktur dan kinerja wilayah.

Bambang Budiarto (2002) mengukur kinerja industri kecil di Magetan dengan menggunakan alat analisis Data Envelopment Analysis (DEA), untuk meneliti tingkat efisiensi dari variabel input dan output yang digunakan dalam UKE pada Lingkungan Industri Kecil (LIK) di Kabupaten Magetan (LIKKM). Input yang digunakan dalam penelitian ini adalah jumlah tenaga kerja yang terserap (JTK) dan gaji yang diterima oleh seluruh tenaga kerja (GYD), kemudian output yang digunakan dalam penelitian ini adalah total sepatu dan sandal yang diproduksi (SPT) dan total tas dan lain-lain selain sepatu atau sandal yang diproduksi. Berdasarkan hasil analisis, dapat disimpulkan bahwa pada tahun 2000 dari 5 UKE yang diteliti, yang menunjukkan tingkat efisiensi 100% ada 3 UKE, yaitu Uke-1, Uke-2, dan Uke-4, sedangkan 2 UKE lainnya menunjukkan tingkat efisiensi yang bervariasi, yaitu antara 44,21% untuk Uke-5 dan 77,33% untuk Uke-2.

Penyebab inefisiensi dikarenakan, belum mampunya usaha tersebut menghasilkan output secara optimal dengan input yang digunakan.

Irwan Susila dan Muzakar Ali (2006) mengukur efisiensi usaha mebel di Seranan, Kabupaten Klaten dengan menggunakan alat analisis Data Envelopment Analysis (DEA). Penelitian ini mengukur efisiensi teknis yang dilihat dari variabel input dan output yang digunakan. Penelitian ini

(24)

commit to user

didasarkan pada faktor bahan baku, modal, pendidikan pengusaha, pengalaman kerja dan tenaga kerja. Berdasarkan analisis data diperoleh bahwa semua variabel input yang digunakan mempunyai pengaruh positif dan nyata terhadap output yang dihasilkan. Penelitian ini, meneliti 7 Unit Kegiatan Ekonomi (UKE), dimana terdapat 4 UKE yang sudah efisien secara teknis yaitu UKE 1, UKE 2, UKE 4, dan UKE 6. Dan terdapat 3 UKE yang belum efisien secara teknis yaitu UKE 3, UKE 5, dan UKE 7. Hasil yang dapat disimpulkan bahwa 38,7% usaha mebel di Serenan sudah efisien dan 61,37% tidak efisien dengan nilai rata-rata efisiensi teknis usaha mebel sebesar 68,69%. Hasil tersebut menunjukkan bahwa usaha mebel di Serenan belum mencapai tingkat efisiensi teknis.

Abidin dan Endri (2009) “Kinerja Efisiensi Teknis Bank Pembangunan Daerah : Pendekatan Data Envelopment Analysis (DEA).

Penelitian ini menganalisis efisiensi teknis BPD selama periode 2007-2007 terhadap 26 BPD di Indonesia menggunakan analisis non parametrik DEA.

Input yang digunakan adalah total simpanan, biaya tenaga kerja, dan aktiva tetap. Output yang digunakan adalah kredit dan total pendapatan. Hasil studi enunjukkan bahwa kinerja efisiensi teknis BPD belum mencapai tingkat efisiensi optimum 100%. Secara rata-rata, BPD dengan aset yang lebih besar lebih efisien dibandingkan dengan BPD dengan aset menengah dan kecil.

(25)

commit to user C. Kerangka Pemikiran

Gambar 2.3 Kerangka Pemikiran

Berdasarkan kerangka tersebut, dapat dijelaskan bahwa usaha kecil menengah batik memerlukan input berupa modal, tenaga kerja, kain, lilin batik, obat pewarna untuk memproduksi barang/jasa (output) yang dinilai dengan pendapatan dan hasil produksi. Dengan membandingkan variabel input dan outputnya dapat diketahui tingkat efisiensi dari usaha kecil menengah batik, dimana dalam pengelolaannya diperlukan adanya minimalisasi input dan maksimisasi output sehingga dapat mencapai efisiensi.

Usaha Kecil Menengah Batik

INPUT :

1. Biaya Tenaga Kerja 2. Nilai Kain

3. Nilai Bahan Penunjang 4. Nilai Lain-lain

OUTPUT:

Nilai Produksi Batik

Efisiensi Inefisiensi

Usaha batik produksi yang memiliki showroom Usaha batik produksi tanpa

memiliki showroom

(26)

commit to user D. Hipotesis

Hipotesis adalah jawaban sementara masalah yang dibahas, yang kebenarannya masih harus diuji. Hipotesis merupakan rangkuman dari kesimpulan teoritis yang diperoleh dari penelitian kepustakaan. Hipotesis merupakan jawaban terhadap masalah yang secara teoritis dianggap paling mungkin dan paling tinggi tingkat kebenarannya (Djarwanto, 2000). Hipotesis dari penilitian ini adalah:

1. Diduga usaha batik di Kampung Batik Laweyan Kota Surakarta belum mencapai efisien.

2. Diduga ada variabel input yang belum efisien pada usaha batik di Kampung Batik Laweyan Kota Surakarta.

Gambar

Tabel 2.1 Karakteristik Usaha dan Perbedaan Ukuran Usaha UMKM
Grafik  fungsi  produksi  dapat  digambarkan  dengan  kurva  melengkung  dari  kiri  bawah  ke  kanan  atas,  setelah  mencapai  titik
Gambar 2.1. Fungsi Produksi
Gambar ini menunjukkan berlakunya Law of Diminishing Return  atau hukum hasil lebih yang semakin berkurang
+2

Referensi

Dokumen terkait

Demikian halnya, Layanan Pengusulan dan Penganugerahan Satya Lancana Karya Satya mendapat predikat Baik (81,91) dari survei pada 31 responden, terdapat unsur layanan ; (U6)

Hasil penelitian ini sesuai dengan hipotesis yang diajukan oleh peneliti, yaitu ada hubungan negatif yang sangat signifikan dapat dijelaskan bahwa semakin rendah

Apabila timbul kasus AI di daerah bebas/terancam dan telah didiagnosa secara klinis, patologi anatomis, dan epidemiologi serta dikonfirmasi secara laboratoris, maka

Menimbang : bahwa dalam rangka melaksanakan Pasal 31 Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 41 Tahun 2012 tentang Organisasi dan Tata Kerja Pusat

Undang- Undang Nomor 1 Tahun 1974 yang belum berlaku efektif di Desa Manggihan, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang menyebabkan warga yang ingin melangsungkan

Pada hasil yang telah ditunjukkan di atas, terbukti secara ilmiah bahwa tanah yang digunakan memiliki signifikansi yang baik dalam menyisihkan senyawa fosfat daripada

Pemodelan sistem pakar deteksi dini resiko HIV/AIDS menggunakan metode Dempster-Shafer ini dapat mengetahui keputusan dari pakar dengan cara menghitung nilai

Lusi Fausia, M.Ec yang telah membimbing dan memberikan masukan kepada penulis untuk menyelesaikan skripsi yang berjudul “Analisis Kelayakan Usaha Penyulingan Minyak