BAB 3
OBJEK PENELITIAN DAN METODE PENGUMPULAN DATA
3.1 Gambaran Umum KPP Pratama Jakarta Setiabudi Satu
Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Jakarta Setiabudi Satu beralamat Jl.HR.
Rasuna Said Blok B. Kav.8 Jakarta-12910. KPP Pratama Jakarta Setiabudi Satu merupakan lingkup dari Kanwil DJP Jakarta Selatan, dan merupakan pecahan dari KPP Jakarta Setiabudi menurut KMK No : 433/kmk.01/2001 tanggal 1 juli 2001. Dengan ruang lingkup luas wilayah kerja yang begitu luas maka KPP Jakarta Setiabudi Satu dipecah menjadi KPP Pratama Jakarta Setiabudi Satu dan KPP Pratama Jakarta Setiabudi Tiga menurut PMK : 55/KMK.01/2007 tanggal 31 Mei 2007.
Gambar 3.1 Gambaran Umum KPP Pratama Jakarta Setiabudi Satu
KMK No : 433/KMK.01/2001 Tgl 1 juli 2001
PMK:55/KMK.01/2007 31Mei 2007
Sumber : KPP Pratama Jakarta Setiabudi Satu
KPP JKT SETIABUDI
KPP JKT SETIABUDI SATU
KPP JKT SETIABUDI DUA
KPP PRATAMA JKT SETIABUDI SATU
KPP PRATAMA JKT SETIABUDI TIGA
KPP Pratama Jakarta Setiabudi Satu terdiri dari 5 ( lima ) lantai, dengan fungsi sebagai berikut :
Lantai I : a. Tempat Pelayanan Terpadu b. Seksi Pelayanan
Lantai II : a. Seksi Pengolahan Data dan Informasi b. Seksi Ekstensifikasi perpajakan Lantai III : a. Kepala Kantor
b. Sub-bagian Umum c. Seksi Penagihan d. Sekretaris e. Ruang Rapat
Lantai IV : a. Seksi Pengawas dan Konsultasi 1 b. Seksi Pengawas dan Konsultasi 2 c. Seksi Pengawas dan Konsultasi 3 d. Seksi Pengawas dan Konsultasi 4
Lantai V : a. Seksi Pemeriksaan dan Kepatuhan Internal b. Ruang Pertemuan
c. Seksi Fungsional
3.1.1 Wilayah Kerja KPP Pratama Jakarta Setiabudi Satu
Wilayah kerja KPP Pratama Jakarta Setiabudi Satu meliputi daerah administrasi kota Jakarta Selatan, berada pada ketinggian 26,2 meter di atas permukaan laut, dengan luas wilayah 272,53 Ha. Batas-batas wilayah kerja KPP Pratama Jakarta Setiabudi Satu adalah sebagai berikut :
1. Sebelah Utara : Kelurahan Setiabudi (masuk wilayah KPP Pratama Jakarta Setiabudi Dua )
2. Sebelah Timur : Kelurahan Menteng Atas ( wilayah KPP Pratama Jakarta Setiabudi Dua )
3. Sebelah Selatan : Kelurahan Kuningan Timur ( wilayah kerja KPP Pratama Jakarta Setiabudi Tiga)
4. Sebelah Barat : Kelurahan Semanggi (wilayah KPP Pratama Jakarta Setiabudi Tiga)
Gambar 3.2 denah wilayah kerja KPP Pratama Jakarta Setiabudi Satu
Sumber : KPP Pratama Jakarta Setiabudi Satu 3.1.2 Luas Wilayah dan Jumlah Penduduk
Luas keseluruhan wilayah kerja KPP Pratama Jakarta Setiabudi Satu adalah 272,53 Ha dengan jumlah penduduk sebanyak 46.397 jiwa sedangkan jumlah kepala
keluarga adalah 9.066 kartu kelurga. Adapun rincian dari jumlah tersebut adalah jumlah penduduk kelurahan Karet 16.635 jiwa dengan kepadatan penduduk 16.150 jiwa/Km persegi, sedangkan jumlah penduduk Karet Kuningan adalah 29.762 jiwa dengan kepadatan penduduk 17.507 jiwa/Km persegi.
Tabel 3.1 Luas Wilayah dan Jumlah Penduduk Wilayah Kerja
NO KELURAHAN LUAS JUMLAH
Jiwa KK
1 Karet 102.93 16.635 3.303
2 Karet Kuningan 169.60 29.762 5.763
Total 272.53 46.397 9.066
Sumber : KPP Pratama Jakarta Setiabudi Satu
3.1.3 Visi dan Misi 3.1.3.1 VISI
“Menjadi model pelayanan masyarakat yang menyelenggarakan sistem dan manajemen perpajakan kelas dunia, yang dipercaya dan dibanggakan masyarakat.”
Visi KPP Pratama Jakarta Setiabudi Satu adalah suatu gambaran menantang tentang keadaan masa depan KPP Pratama Jakarta Setiabudi Satu yang sungguh-sungguh diinginkan untuk ditransformasikan menjadi realitas melalui komitmen dan tindakan oleh segenap jajaran KPP Pratama Jakarta Setiabudi Satu. Dalam pernyataan visi dimaksud terkandung tiga cita-cita utama yang ingin dituju yaitu :
a. Menjadi model pelayanan masyarakat yang merefleksikan cita-cita untuk menjadi contoh pelayanan masyarakat bagi unit-unit instansi pemerintah lainnya.
b. Berkelas dunia (World Class) yang merefleksikan cita-cita untuk mencapai tingkatan standar dunia atau standar internasional baik untuk kualitas aparatnya maupun kualitas kinerja dan hasil-hasilnya.
c. Dipercaya dan dibanggakan masyarakat yang merefleksikan cita-cita untuk mendapatkan pengakuan dari masyarakat bahwa eksistensi dan kinerja memang benar- benar berkualitas tinggi dan akurat, mampu memenuhi harapan masyarakat serta memiliki citra yang baik dan bersih.
3.1.3.2 MISI
Misi adalah suatu pernyataan yang menggambarkan tujuan keberadaan, tugas, fungsi, peranan dan tanggung jawab KPP Pratama Jakarta Setiabudi Satu sebagaimana diamanatkan oleh UU dan peraturan serta kebijakan pemerintah dengan dijiwai oleh prinsip-prinsip dan nilai-nilai strategis organisasi di dalam berbagai bidang lingkungan tempat KPP Pratama Jakarta Setiabudi Satu beraktivitas dan berinteraksi.
a. Misi Fiskal :
Menghimpun penerimaan dalam negeri dari sektor pajak yang mampu menunjang kemandirian pembiayaan pemerintah berdasarkan Undang-undang Perpajakan dengan tingkat efektivitas dan efisiensi yang tinggi. Misi fiskal adalah misi utama KPP Pratama Jakarta Setiabudi Satu sekaligus menjadi tugas dan fungsi keberadaannya, namun misi ini tidak semata-mata menghimpun penerimaan pajak melainkan disertai dengan batasan yang harus dipenuhi, yaitu segala usaha dan kegiatan yang dilakukan harus sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku, pajak yang dihimpun harus mampu
memenuhi harapan masyarakat sebagai pendukung kemandirian pembiayaan pemerintah, dan dilaksanakan dengan efektif dan efisien sehingga cost of collection dan cost of compliance dapat ditekan serendah mungkin serta mampu mencegah tax evasion dan tax avoidance secara optimal.
b. Misi Ekonomi :
Mendukung kebijaksanaan Pemerintah dalam mengatasi permasalahan ekonomi bangsa dengan kebijaksanaan perpajakan yang meminimalkan distorsi. Dampak-dampak dari kebijakan perpajakan yang bersifat distorsi terhadap perekonomian sejauh mungkin harus dihindari sehingga kebijakan perpajakan tidak menjadi penghambat kebijakan ekonomi.
c. Misi Politik :
Mendukung proses demokratisasi bangsa dimana hak-hak masyarakat untuk menyatakan keinginannya harus dihormati, dilayani dan diakomodasi oleh pemerintah. Dalam kondisi tersebut Kantor Pelayanan Pajak Pratama Jakarta Setiabudi Satu Memiliki kewajiban dan peranan untuk mendukung proses demokratisasi bangsa yang pada tahap awal ini akan di fokuskan untuk mendukung suksesnya proses otonomi daerah.
d. Misi Kelembagaan :
Senantiasa memperbaharui diri, selaras dengan aspirasi masyarakat dan teknokrasi perpajakan serta administrasi perpajakan mutakhir. Misi ini adalah misi internal yang merupakan kewajiban dan tugas KPP Pratama Jakarta Setiabudi Satu untuk senantiasa membangun dan memelihara diri agar terus berkembang baik secara phisik maupun dalam kemampuan dan kualitasnya sehingga mampu melaksanakan misi-misi lainnya.
3.1.4 Struktur Organisasi
Gambar 3.3 Struktur Organisasi KPP Pratama Jakarta Setiabudi Satu
Sumber : KPP Pratama Jakarta Setiabudi Satu a. Subbagian Umum
Melakukan urusan kepegawaian, keuangan, tata usaha dan rumah tangga.
b. Seksi Pengolahan Data dan Informasi
Melakukan pengumpulan, pencarian dan pengolahan data, pengamatan potensi perpajakan, penyajian informasi perpajakan, perekaman dokumen perpajakan, pelayanan dukungan teknis komputer, pemantauan aplikasi e-SPT dan e-Filing, serta penyiapan laporan kinerja.
c. Seksi Ekstensifikasi
Melakukan kegiatan penambahan jumlah wajib pajak baik dari kalangan karyawan ( employee base ) maupun wajib pajak dari kalangan usahawan (property base), serta
melakukan kegiatan penilaian terhadap objek PBB yang mengalami pengalihan hak dan perubahan objek pajak.
d. Seksi Pelayanan
Melakukan penetapan dan penerbitan produk hukum perpajakan, pengadministrasian dokumen dan berkas perpajakan penerimaan dan pengolahan surat pemberitahuan serta penerimaan surat lainnya, penyuluhan perpajakan serta pelaksanaan registrasi Wajib Pajak.
e. Seksi Pengawasan dan Konsultasi (Waskon)
Melakukan pengawasan kepatuhan kewajiban perpajakan Wajib Pajak, bimbingan/himbauan kepada Wajib Pajak dan konsultasi teknis perpajakan, penyusunan profil Wajib Pajak, analisis kinerja Wajib Pajak, melakukan rekonsiliasi data Wajib Pajak dalam rangka melakukan intensifikasi, serta melakukan hasil banding.
f. Seksi Pemeriksaan dan Kepatuhan Internal
Melakukan penyusunan rencana pemeriksaan, pengawasan pelaksanaan aturan pemeriksaan, penerbitan dan penyaluran Surat Perintah Pemeriksaan Pajak, melakukan pengawasan kepatuhan internal, serta administrasi pemeriksaan perpajakan lainnya.
g. Seksi Penagihan
Melakukan urusan penatausahaan piutang pajak, penundaaan angsuran tunggakan pajak, penagihan aktif, usulan penghapusan piutang pajak, serta penyimpanan dokumen- dokumen penagihan.
3.1.5 Jumlah Wajib Pajak
Jumlah Wajib Pajak terdaftar berdasarkan pada Master File per tanggal 31 Desember 2012, adalah sebagai berikut:
Tabel 3.2 Jumlah Wajib Pajak KPP Pratama Jakarta Setiabudi Satu
No. Wajib Pajak Wajib Pajak terdaftar
1. Wajib Pajak Badan 9456
2. Wajib Pajak Orang Pribadi 16527
3 Wajib Pajak Bendaharawan 245
Total Wajib Pajak 26473
Sumber : KPP Pratama Jakarta Setiabudi Satu
3.2 Desain Penelitian 3.2.1 Jenis dan Sumber Data
Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu data primer. Data primer yaitu data yang berasal dari sumber asli atau narasumber ( Jonathan Sarwono : 2012).
Sumber data primer dalam penelitian ini diperoleh dari para Wajib Pajak Badan yang sedang melakukan konsultasi perpajakan di Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Jakarta Setiabudi Satu. Data ini berupa kuisioner yang nantinya akan diisi oleh para Wajib Pajak Badan yang menjadi responden terpilih dalam penelitian ini.
Sejumlah pertanyaan diajuakan kepada responden dan kemudian responden yang sempat dan bersedia langsung untuk menjawab sesuai dengan pendapat mereka.
Untuk mengukur pendapat responden digunakan skala lima angka yaitu mulai angka 5 untuk pendapat sangat setuju (SS) dan angka 1 untuk sangat tidak setuju (STS).
Perinciannya adalah sebagai berikut :
Angka 1 = Sangat Tidak Setuju (STS) Angka 2 = Tidak Setuju (TS)
Angka 3 = Biasa Saja (BS)
Angka 4 = Setuju (S)
Angka 5 = Sangat Setuju (SS) 3.2.2 Penentuan Jumlah Sampel
Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah Wajib Pajak Badan yang terdaftar di Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Jakarta Setiabudi Satu. Di mana kategori Wajib Pajak Badan merupakan Direktur, Manager, Konsultan dan Staf Karyawan badan yang terdaftar di KPP Pratama Jakarta Setiabudi Satu yang sedang melakukan konsultasi di Seksi Pengawasan dan Konsultasi (Waskon). Sedangkan populasi dalam penelitian ini adalah Wajib Pajak Badan yang terdaftar sampai dengan tahun pajak 2012 di Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Jakarta Setiabudi Satu adalah 9,456. Dalam menentukan jumlah sampel menggunakan rumus slovin dikutip oleh (Jualiansyah Noor, 2012), sebagai berikut :
N n =
1+Ne2 Di mana :
n = jumlah elemen/anggota sampel N = Jumlah elemen/anggota populasi
E = error level (tingkat kesalahan) kesalahan sampel yang masih dapat ditolerir atau diinginkan, dalam sampel ini adalah 0,1
9456
n = = 98,95 dibulatkan 99 sampel 1 + (9456 (0,1)2)
Berdasarkan rumus slovin, jumlah sampel yang digunakan adalah 99 sampel.
Dari 99 sampel tersebut merupakan jumlah Wajib Pajak Badan yang terdaftar di KPP
Pratama Jakarta Setiabudi Satu yang sedang melakukan konsultasi perpajakan. Oleh karena itu, peneliti mengambil 60 sampel yang digunakan dalam penelitian ini dikarenakan tidak setiap waktu Wajib Pajak badan datang untuk melakukan konsultasi secara terus-menerus.
Penentuan jumlah sampel dalam penelitian ini dilakukan dengan berdasarkan saran Roche (1975) yang dikutip Umi Sekaran (2006) yang menyatakan bahwa :
a. Jumlah sampel yang memadai dalam penelitian adalah antara 30 hingga 500 responden.
b. Pada penelitian yang menggunakan analisis multivariate (seperti analisis regresi berganda), ukuran sampel harus sebaiknya 10 kali dari jumlah variabel bebas / independen yang digunakan dalam penelitian.
c. Untuk ukuran penelitian eksperimental sederhana dengan kontrol eksperimen yang ketat, penelitian yang sukses adalah mungkin dengan ukuran sampel kecil antara 10 sampai 30. Penentuan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik pengambilan sampel dengan metode convenience sampling yaitu pengambilan sampel secara acak dengan pertimbangan kemudahan akses yang dapat dijangkau oleh peneliti.
3.2.3 Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah melalui kuisioner yang berupa angket. Jenis kuisioner yang digunakan kuisioner tertutup.
a. Kuisioner tertutup dalam penelitian adalah pertanyaan-pertanyaan yang harus dipilih oleh responden dari berbagai pilihan jawaban yang tersedia.
b. Pengambilan sampel dilakukan dengan metode convenience sampling. Dalam pengambilan sampel berdasarkan akses yang dapat dijangkau oleh peneliti dalam menyebarkan kuisioner.
3.2.4 Metode Penyajian Data
Hasil analisis data akan disajikan secara gabungan antara informal dan formal.
Informal adalah penguraian dalam deskripsi kata-kata. Dan juga disajikan data formal berupa bagan, tabel, dan gambar. Secara sistematika sajian penulisan penelitian ini dituangkan dalam lima (5) bab, tiap-tiap bab dikembangkan menjadi subbab dan seterusnya.
3.2.5 Metode Analisis Data
Penelitian ini menggunakan program pengolahan data yaitu SPSS versi 21. Data penelitian yang akan dianalisis
3.2.5.1 Analisis Deskriptif
Analisis deskriptif digunakan untuk memberikan penjelasan gambaran umum demografi responden penelitian dan deskripsi mengenai variabel-variabel penelitian untuk mengetahui gambaran mengenai persepsi responden mengenai modernisasi administrasi perpajakan. Menjabarkan hasil jawaban responden atas kuisoner yang diberikan kepada responden.
3.3 Uji Statistik
Menurut Juliansyah Noor (2012:130) kuisioner dapat digunakan sebagai alat ukur penelitian validitas dan reliabilitas, karena syarat instrument penelitian yang baik digunakan untuk mengukur variabel harus memenuhi unsure-unsur akurasi, presisi dan peka. Agar diperoleh distribusi nilai hasil pengukuran mendekati normal, maka
sebaiknya jumlah responden untuk uji coba kuisioner paling sedikit 30 orang. Prosedur kualitas data adalah sebagai berikut :
3.3.1 Uji Validitas
Uji validitas digunakan untuk mengukur sah atau tidaknya suatu kuisioner.
Suatu kuisioner dikatakan valid apabila pertanyaan pada kuisioner mampu untuk mengungkapkan sesuatu yang akan diukur oleh kuisioner tersebut. Uji validitas dapat dilakukan dengan melihat correlated Item atau membandingkan r hitung dengan r tabel.
Total Correlation dengan criteria sebagai berikut : jika r hitung lebih besar dari r tabel untuk degree of freedom (df)=n-2, dalam hal ini n adalah jumlah sampel dan nilainya positif, maka semua butir pertanyaan atau indicator tersebut dikatakan “valid”
(Ghozali,2012). Namun sebaliknya, jika r hitung lebih besar dari r tabel untuk degree of freedom (df)=n-2, maka semua indicator pertanyaan tersebut dikatakan “tidak valid”.
3.3.2 Uji Reliabilitas
Uji reliabilitas digunakan untuk mengukur suatu kuisioner yang merupakan indikator dari variabel. Untuk diketahui bahwa uji reliabilitas harus dilakukan hanya pada pertanyaan yang telah memiliki atau memenuhi uji validitas. Hasil dari analisis reliabilitas dengan teknik Cronbach’s Alpha. Untuk menentukan suatu instrument reliable atau tidak maka bias menggunakan batas nilai Alpha 0,6. Menurut Sekaran (1992) yang dikutip oleh Priyatno (2012:187), reliabiltas kurang dari 0,6 adalah kurang baik, sedangkan 0,7 dapat diterima dan di atas 0,8 adalah baik.
3.3.3 Uji Asumsi Klasik Regresi
Karena pengujian hipotesis dalam penelitian ini menggunakan alat analisis regresi berganda (multiple regression), maka terlebih dahulu dilakukan uji asumsi klasik yang terdiri dari :
3.3.3.1 Uji Normalitas
Uji Normalitas digunakan untuk menguji apakah nilai residual yang dihasilkan dari regresi terdistribusi secara normal atau tidak. Model regresi yang baik adalah yang memiliki normal residual yang terdistribusi secara normal. Alat analisis yang digunakan dalam uji ini adalah uji Kolmogorov-Smirnov. Alat uji ini digunakan dalam memberikan angka-angka yang terlebih detail untuk menguatkan apakah terjadi normalitas atau tidak dari data-data yang digunakan. Normalitas terjadi apabila hasil dari uji Kolmogrov- Smirnov lebih dari 0,05 (Priyatno. 2012:147)
3.3.3.2 Uji Multikolonearitas
Uji Multikolonearitas untuk menguji apakah model regresi ditemukan adanya kolerasi yang sempurna atau mendekati sempurna antarvariabel bebas (independen). Uji Multikolonearitas data dapat dilihat dari besarnya nilai VIF (Variation Inflation Factor) dan nilai toleransi. Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi di antara variabel independen atau tidak terjadi multikolonearitas. Untuk mengetahui suatu model regresi bebas dari multikolinearitas, yaitu mempunyai VIF kurang dari 10 dan mempunyai angka tolerance lebih dari 0,1.
3.3.3.3 Uji Heteroskedastisitas
Uji heteroskedastisitas untuk menguji apakah model regresi terjadi ketidaksamaan residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain. Model regresi yang baik adalah homoskeastisitas atau tidak terjadi heteroskedastisitas. Salah satu cara untuk mendeteksi ada tidaknya heteroskedastisitas adalah dengan melihat grafik plot (ZPRED)
dengan adanya residualnya (SRESID). Apabila ada pola tertentu, seperti titik-titik yang ada membentuk pola tertentu yang teratur ( bergelombang, menyebar kemudian menyempit), maka hal tersebut menunjukan bahwa terjadi heteroskedastistas pada model regresi. Akan tetapi, apabila pada grafik scatterplot tidak ada pola yang jelas, serta titik- titik menyebar di atas dan di bawah angka 0 pada sumbu Y, maka dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi heteroskedastisitas pada model regresi. Selain itu, untuk memperkuat asumsi dari uji scatterplot maka terdapat cara lain yang dilakukan dengan pengujian secara statistik adalah uji Park. Dalam uji Park apabila variabel independen tingkat signifikansinya melebihi 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi gejala heteroskedastistas.
3.3.4 Model Regresi
Dalam menganalisis hipotesis dalam penelitian ini, metode analisis data yang digunakan adalah analisis regresi berganda yaitu melihat pengaruh pesepsi Wajib Pajak atas modernisasi administrasi perpajakan. Model regresi yang digunakan dapat dirumuskan dengan persamaan sebagai berikut :
Y = α + β1 X1 + β2 X2 + β3 X3 + β4 X4 + e
Keterangan :
Y = Kepatuhan Wajib Pajak α = Bilangan Konstanta 1β…..nβ = Koefisien regresi X1 = Struktur Organisasi
X2 = Prosedur Organisasi X3 = Strategi Organisasi X4 = Budaya Organisasi
e = kesalahan Pengganggu (disturbance’s error)
3.3.5 Analisis Regresi ( Pengujian Hipotesis)
Analisis regresi digunakan untuk mengukur kekuatan hubungan antara dua variabel atau lebih dan untuk menunjukan arah hubungan antara variabel dependen dengan variabel independen. Variabel dependen diasumsikan random atau stokastik, yang berarti mempunyai distribusi probabilistic. Variabel independen diasumsikan memiliki nilai tetap ( dalam pengambilan sampel yang berulang).
Ketepatan fungsi regresi sampel dalam menaksir nilai actual dapat diukur dari nilai goodness of fit-nya. Secara statistik, setidaknya ini dapat diukur dari nilai koefisien determinasi, nilai statistik F, dan nilai statistik t. Adapun pengujian yang dilakukan dalam analisis regresi linier berganda dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
3.3.5.1 Uji Koefisien Determinasi ( R2)
Uji Koefisien Determinasi ( R2) pada intinya mengukur seberapa jauh kemampuan model dalam menerangkan variasi variabel dependen. Nilai koefisien determinasi antara nol dan satu. Nilai R2 yang kecil berarti kemampuan variabel-variabel independen dapat menjelaskan variasi variabel dependen amat terbatas. Nilai yang
mendekati angka satu berarti variabel-variabel independen memberikan hamper semua informasi yang dibutuhkan untuk memprediksi variabel dependen.
3.3.5.2 Uji Signifikansi Parameter Simultan (Uji F)
Uji F atau uji koefisien regresi secara bersama-sama digunakan untuk mengetahui apakah secara bersama-sama variabel independen berpengaruh signifikan terhadap variabel struktur organisasi, prosedur organisasi, strategi organisasi dan budaya organisasi berpengaruh secara signifikan atau tidak terhadap tingkat kepatuhan Wajib Pajak. Pengujian menggunakan tingkat signifikansi 1%, 5% dan 10%. Pengujian dilakukan dengan cara sebagai berikut :
a. Membandingkan F hitung dengan F tabel. Jika F hitung lebih besar F tabel maka Ho diterima
b. Menggunakan signifikan level 0,01 , 0,05 dan 0,10 Jika nilai signifikansi < 0,01 , 0,05 dan 0,10 maka Ho diterima, yang berarti koefisien regresi signifikan. Hal ini berarti bahwa secara simultan kedua variabel independen tersebut mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap variabel dependen dan sebaliknya.
3.3.5.3 Uji Signifikansi Parameter Individual (Uji t)
Uji statistik t pada dasarnya menunjukan seberapa jauh pengaruh satu variabel independen secara individual terhadap variabel dependen. Pengujian dilakukan dengan membandingkan signifikansi t-hitung dengan ketentuan :
a. Jika nilai signifikansi t < 0,01 , 0,05 , Dan 0,10 maka Ha ditolak dan Ho diterima, artinya terdapat pengaruh yang signifikan antara variabel independen terhadap variabel dependen.
3.4 Operasionalisasi Variabel
Dalam penelitian ini terdapat dua variabel, yaitu variabel dependen dan variabel independen. Variabel dependen adalah variabel yang dijelaskan atau dipengaruhi oleh variabel independen. Variabel dependen yang digunakan adalah kepatuhan Wajib Pajak.
Variabel independen adalah variabel yang menjelaskan atau mempengaruhi variabel yang lain. Penelitian ini menggunakan variabel independen adalah persepsi Wajib Pajak atas modernisasi administrasi perpajakan yang terdiri atas variabel : Struktur organisasi, Prosedur organisasi, Strategi organisasi, dan Budaya organisasi.
3.4.1 Variabel Dependen : Kepatuhan Wajib Pajak
Kepatuhan pajak menurut Siti Kurnia Rahayu (2010:139) didefinisikan sebagai tindakan wajib pajak dalam pemenuhan kewajiban perpajakannya sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan dan peraturan pelaksanaan perpajakan yang berlaku dalam suatu Negara. Maka dalam konteks kepatuhan dalam penelitian ini mengandung arti bahwa wajib pajak berusaha untuk memenuhi peraturan hokum perpajakan yang berlaku, baik memenuhi kewajiban ataupun melaksanakan hak perpajakannya.
3.4.2 Variabel Independen : Persepsi Wajib Pajak atas modernisasi administrasi perpajakan
Persepsi wajib pajak atas modernisasi administrasi perpajakan (X) merupakan pandangan Wajib Pajak terhadap modernisasi administrasi perpajakan. Modernisasi administrasi perpajakan adalah penerapan sistem administrasi perpajakan yang transparan dan akuntabel, dengan memanfaatkan sistem informasi teknologi yang handal dan terkini. Modernisasi administrasi perpajakan (X) yang dikembangkan dalam variabel reformasi administrasi perpajakan menurut Chaizi Nasucha, terdiri atas :
1. Struktur Organisasi (X1) 2. Prosedur Organisasi (X2) 3. Strategi Organisasi (X3) 4. Budaya Organisasi (X4)
Variabel penelitian yang telah diuraikan, selanjutnya dapat diuraikan suatu kisi-kisi penelitian. Kisi-kisi penelitian antara lain berisi variabel-variabel, sub-sub variabel, dimensi-dimensi variabel, dan indikator variabel yang berkaitan dengan penelitian yang dilakukan. Kisi-kisi penelitian berdasarkan teori-teori dan penelitian yang telah ada sebelumnya, diuraikan pada tabel 3.3.
Tabel 3.3 Variabel, Sub Variabel dan Dimensi Penelitian
Variabel Sub Variabel Dimensi
1. Struktur Organisasi a. Pembentukan organisasi berdasarkan fungsi dalam rangka client oriented.
b. Pembentukan Account Representative
MODERNISASI ADMINISTRASI PERPAJAKAN (X)
2. Prosedur Organisasi a. Pembentukan teknologi informasi dan komunikasi.
b. Pelayanan satu pintu
melalui Account
Representative.
3. Strategi Organisasi a. Penyuluhan dan sosialisasi.
b. Penyempurnaan sumber daya manusia.
c. Sarana dan fasilitas tempat pelayanan
4. Budaya Organisasi a. Kode Etik Pegawai Pajak.
KEPATUHAN WAJIB PAJAK (Y)
Dimensi
Pengisian SPT sesuai undang-undang Melaporkan SPT tepat waktu
Menghitung pajak dengan benar Melakukan pembukuan dan pencatatan Membayar kekurangan pajak sebelum dilakukan pemeriksaan.