• Tidak ada hasil yang ditemukan

MENTERI KEHAKIMAN REPUBLIK INDONESIA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "MENTERI KEHAKIMAN REPUBLIK INDONESIA"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

SAMBUTAN PEMERINTAH ATAS

PERSETUJUAN

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA TENTANG

PENYELENGGARA NEGARA YANG BERSIH

DAN BEBAS DARI KORUPSI, KOLUSI, DAN NEPOTISME DALAM RAPAT PARIPURNA TERBUKA

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA TANGGAL, 22APRIL 1999

DEPARTEMEN KEHAKIMAN REPUBLIK INDONESIA Jalan H.R. Rasuna Said Kav. 4 - 5 Jakarta

ARSIP DPR RI

(2)

SAMBUTAN PEMElUNTAU

ATAS

PERSETUJUAN RANCANGAN UNDANG-UNDANG

TENT ANG

PENYELENGGARA NEGARA YANG BERSJH DAN BEBAS DARI KORUPSI, KOLUSI, DAN NEPOTISME

DALAM RAPAT PARIPURNA TERBUKA

DEWAN PERW AKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA TANGGAL, 22 APRIL 1999

Saudara PiDtpinan dan Aag&Qta Dewan Yang

Terborma~

Serta Hadlrln Sekalian Yang Kanai

Hormat~

Dengan mengucapkan puji syukur Albamdulitlab kehadirat Allah SWT kami mengawali Sambutan Pemerintah

ini~

karena hanya dengan karunia-Nya kita dapat menyeJenggarakan

Rapat Paripuma

Dewan Petwakilan Rakyat untuk mengambil keputusan persetujuan atas RUU tentang Penyelenggara Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi, Kolusi.

dan

Nepotisme pada hari ini Kamis, 22 April 1999.

ARSIP DPR RI

(3)

Dengan perasaan lega dan bahagia, baru saja dengan suara bulat kita dengar dan saksikan bersama-sama persetujuan Dewan Perwak.ilan Rakyat atas RUU tentang Penyelenggara Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi, Kolusi,

clan

Nepotisme.

Mudah-mudahan RUU yang baru saja disetujui tersebut dapat segera disahkan oleh Presiden dan diundangkan sebagai landasan hukum untuk mempersiapkan perangkat lunak. dan keras sebagai pelaksanaan Undang- undang tersebut.

Selanjutnya, kami atas nama Pemerintah mengucapkan terima kasih kepada Dewan yang terhormat atas kesempatan yang diberikan kepada kami untuk menyampaikan Sambutan Pemerintah atas persetujuan Dewan terhadap RUU tentang Penyelenggara Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi, Kolus~

dan Nepotisme.

Saudara Pimpinan dan Anggota Dewan Yang Terhormat,

Rancangan Undang-undang tentang Penyelenggara Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme disampaikan kepada Pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat dengan Amanat Presiden tanggal 4 Februari 1999 Nomor R.03/PU/Il/1999. Kemudian, dilanjutkan dengan Keterangan Pemerintah di hadapan Rapat Paripuma Dewan pada tanggal 18 Februari 1999, Pemandangan Umum Fraksi-fraksi pada tanggal 4 Maret 1999, Jawaban Pemerintah atas Pemandangan Umum Fraksi-fraksi pada tanggal

ARSIP DPR RI

(4)

15 Maret 1999 dan dilanjutkan pembahasan secara intensif dalam Pembicaraan Tingkat III yang berlangsung sejak tanggal 5 sampai dengan 20 April 1999.

Para Anggota Dewan dalam pembahasan RUU ini telah menwijuk:kan perhatian yang sungguh-sungguh, Pemerintah sangat menghargai dan dengan rasa tulus menyampaikan terima kasih kepada Anggota Dewan khususnya Panitia Khusus yang telah membahas RUU

ini

dengan sungguh-sungguh dan penuh kecermatan. Kesungguhan dan kecermatan Anggota Dewan tersebut, telah membawa implikasi dalam Pembicaraan Tingkat III yang serhestinya RUU ini pada tanggal 16 April 1999 telah mendapat persetujuan Panitia Khusus untuk diteruskan pada Pembicaraan Tingkat IV pada tanggal 20 April 1999 guna mendapat persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat. Nam~

persetujuan Panitia Khusus baru dapat dilaksanakan pada tanggal 20 April 1999 dan persetujuan Dewan dalam Pembicaraan Tingkat IV pada hari ini Kamis tanggal 22 April 1999.

DaJam pembahasan RUU ini, Dewan yang terhormat dengan kerja keras telah melakukan penyempurnaan baik mengenai substansi, sistematika, maupun rumusan redaksional untuk mempersembahkan produk legislatif yang terbaik yang memenuhi cita hukum, cita keadilan, cita ketertiban, dan kepastian sebagaimana diamanatkan dalam TAP MPR Nomor XI/MPR/1998.

Pemerintah menyadari dan sangat memahami bahwa ketika Fraksi-fraksi bersama Pemerintah melewati proses pembahasan substansi RUU terdapat

ARSIP DPR RI

(5)

perbedaan pandangan yang cukup mendasar baik antar-Fraksi maupun antara Fraksi dengan Pemerintah yang memerluk.an penelaahan mendalam. Namun, perbedaan pandangan dalam rangka mencari persamaan visi, persepsi, dan interprestasi tersebut berkat adanya sikap arif, bijaksana, saling memahami, dan penuh perhatian dalam suasana keterbukaan dan kekeluargaan antara Fraksi-fraksi dan Pemerintah dengan dilandasi semangat musyawarah untuk.

mufakat, justru telah melahirkan suatu kesepakatan obyektif.

Saudara Pimpinan dan Anggota Dewan Yang Terhormat,

Mengikuti dan mengamati pembahasan suatu RUU di Dewan Perwakilan Rakyat senantiasa mendapat pengalaman, pelajaran dan wawasan yang sangat berharga baik yang bersifat teknis, akadernis, maupwi politik.

Pelajaran berharga dipetik karena kadang kala pembahasan suatu RUU temyata dapat diselesaikan lebih awal dari jadwal yang telah direncanakan, namun pembahasan suatu RUU lain

tidak

dapat diselesaik.an sesuai jadwal yang telah direncanakan.

Kesungguhan, prestise, sikap populis karena tuntutan reformasi dan kebanggaan Fraksi berinteraksi secara positif, sehingga pada tahap permulaan berjalan alot dan tersendat-sendat - tetapi selanjutnya berjalan lancar dan mulus demi kepentingan nasional. Untuk. itu, sudah semestinya buk.anlah waktu yang harus ditempatkan sebagai penentu utama penyelesaian pembahasan suatu RUU, yang lebih utama adalah bagaimana melakukan pembahasan suatu RUU secara profesional.

ARSIP DPR RI

(6)

Suatu Undang-undang diharapkan baik, apabila dipenuhi 3 (tiga) komponen utama yaitu dasar yang baik, teknik yang baik, dan proses yang baik.

Dasar yang baik adalab apabila dipenuhi unsur-unsur filosofis, sosiologis, yuridis, adaptif terhadap perkembangan dan dilandasi oleh "academic reasoning'·' yang mantap.

Teknik yang baik adalah apabila dipenuhi unsur-unsur teknis antara lain hubungan kesisteman antara berbagai ketentuan baik dengan peraturan lain atau dalam peraturan yang sama (sinkronisasi vertikal dan horizontal), penggunaan bahasa yang konsisten, baku, dan lain-lain.

Sedangkan proses yang baik antara lain menunjukkan bahwa setiap undang- undang harus :

1. dapat mencerminkan suatu mission yang jelas, baik dalam

arti

tujuan maupun sasaran tertentu (goal pu.rsuance );

2. dapat menunjukkan dengan jelas kebutuhan

akan

undang-undang tersebut (actual legal need);

3. memperhitungkan kemungkinan pelaksanaannya. Bagaimanapun ideal isi suatu undang-undang akan dikatagorikan k.urang baik, kalau temyata tidak dapat terlaksana secara baik (enforceability);

4. memperhatikan dengan sungguh-sungguh dan komprehensif kepentingan yang akan terkena (aspiratif); dan

5. melalui 3 (tiga) koridor yaitu : koridor akademis, koridor birokratik,

dan

koridor sosial politik.

ARSIP DPR RI

(7)

Saudara Pimpinan dan Anggota Dewan Yang Terhormat,

Perkenankan1ah dalam kesempatan yang berbahagia ini kami mengemukakan beberapa substansi RUU tentang Penyelenggara Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme yang dalam pembahasannya memerlukan penelaahan yang mendalam.

Adapun substansi RUU yang memerlukan penelaahan mendalam antara lain sebagai berikut :

1. JudulRUU

Judul RUU akhimya seluruh Fraksi secara resmi tetap menyetujui RUU tentang Penyelenggara Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme. Hal ini sesuai dengan Amanat TAP MPR Nomor XI/MPR/l 998 tentang Penyelenggara Negara yang Bersih dan Bebas Korupsi, KoJusi, dan Nepotisme. Di samping itu, lebih mencerminkan suatu mission yang menjadi tujuan (end) atau sasaran (objective) yang diatur dalam RUU. Namun sangat disadari bahwa "Penyelenggara Negara" selalu terikat pada "state administration" yang merupakan salah satu lingkup strategis yang mempengaruhinya.

2. Penyelenggara Negara

Agar mencapai yang menjadi tujuan dan sasaran, penyusunan RUU ini sebagaimana diamanatkan dalam TAP MPR Nomor XI/MPR/1998, maka disepakati "pengertian Penyelenggara Negara" penekanannya

ARSIP DPR RI

(8)

tidak hanya pada "pejabat negara" tetapi diperluas tennasuk "pejabat lainnya yang memiliki fungsi strategis yang berkaitan dengan penyelenggaraan negara". Pendekatan yang bersikap purposive ini memberik.an tekanan bahwa "pejabat negara plus" merupakan

"Critical Mass" yang menjadi penggerak utama (Prime Mover) dan panutan. "Noble brings obligation".

Oleh karena yang rentan dan rawan terjadi praktek-praktek korupsi, kolusi, dan nepotisme tidak hanya pada pejabat negara, tetapi justru pada pejabat lain yang memiliki fungsi strategis yang berkaitan dengan Penyelenggara Negara. Dengan demikian yang dirnaksud dengan

"Penyelenggara Negara" pengertiannya meliputi : I) Pejabat Negara pada Lembaga Tertinggi Negara;

2) Pejabat Negara pada Lembaga Tinggi Negara;

3) Menteri;

4) Gubernur;

5) Hakim meliputi Hakim di semua tingkatan Pengadilan;

6) Pejabat Negara yang lain misalnya, Kepala Perwakilan Republik Indonesia di luar negeri yang berkedudukan sebagai Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh, Wakil Gubemur, Bupati/W alikotamadya; dan

7) Pejabat lainnya yang memiliki fungsi strategis yang meliputi Direksi, Komisaris, dan pejabat struktural lainnya pada Badan Usaha Milik Negara dan Badan Usaha Milik Daerah, Pimpinan Bank Indonesia dan Pimpinan Badan Penyehatan Perbankan Nasional, Pimpinan Perguruan Tinggi Negeri, Pejabat Eselon I

ARSIP DPR RI

(9)

dan pejabat lain yang disamakan di lingkungan sipil, militer, dan kepolisian negara Republik Indonesia, Jaksa, Penyidik, Panitera

Pengadil~ Pemimpin, dan Bendaharawan Proyek.

3.. Peran Serta Masyarakat

Pengaturan mengenai Peran Serta Masyarakat dalam RUU ini, di satu sisi untuk memberdayakan dan mendorong tumbuhnya sikap kepedulian dan tanggung jawab masyarakat untuk berani melaporkan dan memberi infonnasi mengenai hal-hal yang berkaitan dalam pengungkapan, pencegahan, dan pemberantasan korupsi, kolusi, dan nepotisme yang dilakuk.an antar-Penyelenggara Negara atau antara Penyelenggara Negara dengan pihak lain. Sedangkan, di sisi lain ditujukan untuk menggugah sikap keterbuk.aan dan meningkatkan profesionalisme Penyelenggara Negara dalam menjalankan fungsi dan tugasnya secara sungguh-sungguh, penuh rasa tanggung jawab, yang dilaksanakan secara efektif, efisien, bebas dari korupsi, kolusi, dan nepotisme serta tunduk pada "standard minimum of service". Yang terpenting adalah perlindungan hukum terhadap hak-hak masyarakat untuk berperan serta dalam mewujudkan Penyelenggara Negara yang bersih dan bebas dari korupsi, ko1usi, dan nepotisme. Pelaksanaan adanya peran serta tersebut, harus dilakukan dalam proporsi yang selaras dan seimbang sehingga segala

hat

yang dilakukan masih dalam rambu-rambu yang dapat dipertanggungjawabkan atas dasar huk:um yang berlaku.

ARSIP DPR RI

(10)

4. Komisi Pemeriksa Kekayaan Penyelenggara Negara

Sebagai lembaga yang bertugas untuk memeriksa kekayaan Penyelenggara Negara dan mantan Penyelenggara Negara guna mencegah praktek korupsi, kolusi, dan nepotisme lembaga ini ditegaskan sebagai lembaga yang "independen". Penegasan ini untuk menunjukkan kemandirian lembaga tersebut dalam melaksanakan tugasnya bebas dari campur tangan pihak luar. Komisi Pemeriksa tersebut akan mempunyai makna apabila para anggotanya yang terdiri dari unsur Pemerintah dan masyarakat benar-benar mempunyai integritas yang tinggi. Dengan demikian, akhimya terpulang kepada para anggota dari Komisi Pemeriksa dalam melaksanakan tugas- tugasnya untuk tetap berpegang teguh pada hakekat independensi atau kemandirian yang menjadi spirit R UU tentang Penyelenggara Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme.

5. Sanksi

Untuk memberi kejelasan dan kepastian hukum bagi Penyelenggara Negara, masyarakat, dan para Anggota Komisi Pemeriksa sebagai upaya preventif dan represif serta berfungsi sebagai jaminan atas ditaatinya ketentuan tentang asas-asas umum penyelenggaraan negara, hak dan kewajiban Penyelenggara Negara dan ketentuan lainnya, sehingga memperkuat norma kelembagaan, moralitas individu dan sosial, ditegaskan dalam RUU ini mengenai pengenaan sanksi pidana, perdata, dan administrasi. Dalam RUU ini telah dirumuskan norma

ARSIP DPR RI

(11)

dan sanksi baru terhadap ko1usi dan nepotisme sebagai langkah pencegahan (preventive measure) agar tidak terjadi korupsi di kalangan Penyeleriggara Negara dan pihak lain.

Saudara Pimpinan dan Anggota Dewan Yang Terbormat,

Pemerintah menyadari bahwa kehadiran Undang-undang tentang Penyelenggara Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme, bukan sekedar produk legislasi yang bersifat administratif, tetapi merupakan kebijakan (policy) sebagai perwujudan politik hukum nasional dalam pembentukan hukum baru. Oleh karena itu, kehadiran Undang-undang tersebut diharapkan :

Pertama,

dapat memperkuat dasar hukum yang sejalan dengan tuntutan hati nurani rakyat yang menghendaki terwujudnya Penyelenggara Negara yang mampu menjalankan tugas dan fungsinya secara profesional, penuh rasa tanggung jawab, bersih, dan bebas dari praktek-praktek korupsi, kolusi, dan nepotisme sebagaimana telah ditetapkan dalam TAP MPR Nomor Xl/MPR/1998.

Kedua,

merupakan bagian atau subsistem dari peraturan perundang- undangan yang berkaitan dengan kebijakan penegakan hukum (law enforcement policy) terhadap tindak pidana korupsi, kolusi, dan nepotisme yang khusus ditujukan kepada pejabat negara dan pejabat lainnya yang memiliki fungsi strategis yang berkaitan dengan penyelenggaraan negara.

ARSIP DPR RI

(12)

Ketiga, merupakan pendorong untuk menumbuhkan sikap kehati-hatian dan kewaspadaan (alertness) para Penyelenggara Negara dalarn melaksanakan tugas dan fungsinya agar tidak merusak sendi-sendi kehidupan demokrasi dan membahayakan eksistensi negara.

Sehubungan dengan hal tersebut, melalui mimbar yang sangat terhonnat

ini,

karni ingin menyerukan dengan rasa tulus kepada segenap unsur Penyelenggara Negara, masyarakat baik individu maupun kelompok,

dan

para Anggota Komisi Pemeriksa Kekayaan Penyelenggara Negara dengan sungguh-sungguh melaksanakan Undang-undang ini demi mewujudkan Penyelenggara Negara yang berwibawa, baik, bersih,

dan

bebas dari korupsi, kolusi,

dan

nepotisme. Dengan demikian, di kelak kemudian hari tidak akan lagi ada penilaian atau berita keprihatinan atau kesedihan bahwa Penyelenggara Negara itu sarat dengan praktek-praktek korupsi, kolusi,

dan

nepotisme. Tindakan korupsi, kolusi,

dan

nepotisme merupakan tindakan malprak.tek atau tindakan "substandarcf' yang bertentangan dengan kewajiban, menyimpang

dari

standar profesi, dan terbukti mengak.ibatkan kerugian bagi individu, masyarak.at, dan negara

Narnun demikian, karni ingin menggarisbawahi bahwa pengaturan mengenai pejabat lainnya yang tidak termasuk pengertian pejabat negara dalarn Undang-undang ini, yang melakukan tindak pidana korupsi, kolusi, dan nepotisme tetap dapat dikenakan sanksi sesuai aturan hukum yang dilanggarnya, seperti mengenai pegawai negeri atau pegawai lainnya di

ARSIP DPR RI

(13)

dalam 1ingkungan atau jajarannya yaitu Undang-undang Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Kepegawaian dan peraturan pelaksanaannya.

Saudara Pimpinan dan Anggota Dewan Yang Terhormat,

Dengan segala kelebihan dan kekurangan yang ad.a, apa yang telah dibasilkan dari RUU ini sudah cukup memadai karena inilah yang mungkin kita capai bersama untuk mencapai tujuan, memberikan landasan hukum guna mewujudkan penyelenggara negara yang baik, beiwibawa, dan bebas

dari

tindak pidana korupsi, kolusi, dan nepotisme yang menjadi tuntutan rakyat melalui TAP MPR Nomor XI/MPR/1998. Untuk itu, Pemerintah menyampaikan terima kasih yang sedalam-dalamnya atas segala kesungguhan hati Pimpinan dan Anggota Dewan yang telah berusaha dengan keras sehingga RUU tentang Penyelenggara Negara yang Bersib dan Bebas dari Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme memperoleh persetujuan Dewan.

Sebelurn kami mengakhiri sambutan ini, izinkanlah kami untuk mengingatkan bahwa efektivitas Undang-undang ini sedikit banyak akan tergantung pada prak.ondisi yaitu : konsistensi peraturan pelaksanaan yang masih dibuat, kemauan politik dari seluruh Penyelenggara Negara, kualitas sumber daya pendukung, sarana dan prasarana penunjang, sosialisasi Undang-undang ini, dan partisipasi seluruh masyarakat.

Pengalaman dan suasana kerja yang kondusif dengan para Anggota Dewan, yang penuh dedikasi, penuh pengabdian, toleransi yang tinggi, keterbukaan dan rasa kekeluargaan yang mendalam, menurnbuhkan keyakinan bahwa

ARSIP DPR RI

(14)

tugas-tugas tersebut ak.an selesai pada waktunya dengan basil yang baik, Insya Allah.

Ucapan terima kasih Pemerintah sampaikan pula kepada setiap warga masyarak.at yang telah memberikan sumbangan pikiran, dan k.alangan media massa atas segala perhatian dan pengertiannya

Akhimya kepada Sekretariat Jenderal

DPR-RI

yang senantiasa menjamin kelancaran persidangan, Pemerintah juga berterima kasih.

Mudah-mudahan segala bentuk kegiatan yang ikhlas itu mendapat anugerah

dari

Allah SWT.

Wabillahittauji9 Walhidayah

Wassalamu 'alaikllm Warahmatullahi Wabarakatuh.

ATAS NAMA PEMERINTAH

MENTERI KEHAKIMAN REPUBLIK INDONESIA,

ARSIP DPR RI

Referensi

Dokumen terkait

pelayanan dari perusahaan yang sesuai dengan harapan konsumen. Kepuasan konsumen dapat dilihat dengan cara membandingkan antara harapan dan kenyataan yang di dapat oleh konsumen.2.

Dalam p engolahan data surat perintah perjalanan dinas yang dilakukan telah menggunakan aplikasi microsoft office yaitu word & excel , kendala yang ada dengan menggunakan

"roses pengeluaran sputum dari paruparu, bronkus dan trakea yang dihasilkan oleh klien "roses pengeluaran sputum dari paruparu, bronkus dan trakea yang dihasilkan oleh

Kondisi SM Rimbang Baling sangat memprihatinkan saat ini, dan sangat disayangkan jika pada akhirnya, pemasalahan yang terjadi di kawasan konservasi menyebabkan

analyze and identify entrepreneur behaviour on business performance especially to Small Medium Enterprise (SMEs) banana processing in South Garut.. The study was

Pada saat Peraturan Daerah ini mulai berlaku, Peraturan Daerah Kabupaten Nomor 7 Tahun 2001 tentang Retribusi dan Sewa Pemakaian Kekayaan Daerah (Lembaran Daerah

Dari uraian diatas mengenai program IMC yang telah dilakukan oleh SPC Mobile sebagai bagian dari aktifitas promosi, penulis menyimpulkan bahwa dalam pelaksanaan kegiatan

Ayat (3) Yang dimaksud dengan penatagunaan tanah, penatagunaan air, penatagunaan udara, dan penatagunaan sumber daya alam lain, antara lain, adalah penguasaan,