BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
Skizofrenia adalah bagian dari gangguan psikosis yang terutama di tandai dengan kehilangan pemahaman terhadap realitas dan kehilangan pemahaman terhadap realitas dan hilangnya daya tilik diri (Mubin, 2019). Menurut (Wardani &
Dewi, 2018) Skizofrenia adalah suatu penyakit otak persisten dan serius yang mengakibatkan perilaku psikotik, pemikiran konkret dan kesulitan dalam memperoleh informasi, hubungan interpersonal, serta memecahkan masalah.
Kekambuhan sering kali terjadi pada pasien skizofrenia. Beberapa faktor yang bisa memicu terjadinya peningkatan kekambuhan pada pasien gangguan jiwa adalah pasien tidak mau minum obat, tidak menjalani kontrol secara teratur, menghentikan sendiri obat tanpa petunjuk dokter dan kurangnya dukungan dari keluarga, dukungan sosial dari masyarakat serta terjadinya stress akibat masalah kehidupan yang berat sehingga pasien kambuh dan memerlukan perawatan kembali di rumah sakit (Evins, 2019)
Kekambuhan merupakan kondisi pemunculan kembali tanda dan gejala suatu penyakit setelah mereda. Kekambuhan adalah salah satu permasalahan yang sering terjadi pada pasien gangguan jiwa, kekambuhan yang terjadi pada pasien gangguan jiwa seringkali kali dialami oleh pasien skizofrenia. pasien skizofrenia mengalami kekambuhan berulang. Banyak faktor yang memperngaruhi atau menyebabkan kekambuhan, seperti pola asuh, kepatuhan minum obat dan faktor sosial ekonomi pasien. Ketidak patuhan dikaitkan dengan program terapi/pengobatan, karakteristik pasien, lingkungan dan pemberi pelayanan.
Stressor sosial dikaitkan dengan lingkungan sosial, pendidikan, pekerjaan, ekonomi, akses pelayanan dan problem interaksi interpersonal (Rahmawati, 2020).
Kekambuhan pada penderita gangguan jiwa khususnya schizofenia dapat memperburuk kondisi Gangguan jiwa ini sering disertai dengan kekambuhan bahkan saat pengobatan dan perawatan. Oleh sebab itu perlu dilakukan penanganan kekambuhan pada pasien gangguan jiwa, karena kekambuhan dapat memperburuk proses penyembuhan (Rahmawati, 2020).
Pada gangguan jiwa kronis diperkirankan mengalami kekambuhan 50%
pada tahun pertama, dan 70% pada tahun kedua. kekambuhan biasanya terjadi dikarenakan adanya kejadian-kejadian buruk sebelum mereka kambuh. Menurut (RISKESDAS) tahun 2018, kekambuhan disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya faktor internal dan faktor eksternal. Pada faktor eksternal kekambuhan dapat disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya dukungan keluarga, kepatuhan minum obat, dukungan petugas kesehatan. Dengan kurangnya dukungan dan perhatian keluarga, maka penderita merasa dirinya terasingkan dan juga merasa rendah diri, sehingga ia lebih sering mengasingkan diri dan lebih banyak bermenung, maka dengan demikian penderita kembali memikirkan hal-hal yang di bawah alam sadarnya. Maka terjadilah kekambuhan berulang pada penderita gangguan jiwa tersebut (Sari & Sapitri, 2018).
Di Indonesia, 49% penderita gangguan jiwa mengalami perawatan ulang setelah dipulangkan selama 1 tahun, dalam kurun waktu 6 bulan pasca rawat inap didapatkan 30%-40% penderita mengalami kekambuhan, sedangkan setelah 1 tahun pasca rawat inap sebesar 40%-50% penderita mengalami kekambuhan, sedangkan setelah 3-5 tahun pasca rawat inap didapatkan 65%-75% penderita mengalami kekambuhan (Sari & Sapitri, 2018).
WHO (World Health Organization) menyatakan satu dari empat orang di dunia mengalami masalah mental, diperkirakan ada sekitar 450 juta orang di dunia yang mengalami gangguan kesehatan jiwa. Di Indonesia sendiri menurut Riset Kesehatan Dasar (RISKESDES) tahun 2013 Prevalensi gangguan jiwa berat pada penduduk Indonesia 1,7 per mil dan gangguan jiwa terbanyak adalah Skizofrenia.
Provinsi Jawa Tengah merupakan provinsi yang menempati urutan ke lima yang memiliki penderita skizofrenia terbanyak setelah DI Yogyakarta, Aceh, Sulawesi Selatan, dan Bali. Prevalensi Skizofrenia di Jawa Tengah yaitu 0,23% dari jumlah penduduk melebihi angka nasional 0,17%.
Menurut Riset Kesehatan Dasar (RISKESDES) 2018 juga menunjukan prevelensi skizofrenia sebanyak 6,7% per 1000 rumah tangga. Artinya, dari 1000 rumah tangga 6,7% mempunyai anggota rumah tangga yang mengidap skizofrenia.
Badan Pencatatan Sipil (BPS) 2015, mengungkapkan prevalensi orang dengan
gangguan jiwa di Indonesia mencapai 15,3% dari 259,9 juta jiwa penduduk Indonesia.
Berdasarkan Depkes RI 2015 prevalensi gangguan jiwa tertinggi di Indonesia terdapat di provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta (24,3%), di ikuti Nanggro Aceh Darussalam (18,5%), kemudian disusul oleh Sumatera Barat (17,7%), NTB (10,9%), Sumatera Selatan (9,2%) (Aini, 2015). Menurut National Allianceof Mental Ilness (NAMI) berdasarkan hasil sensus penduduk Amerika Serikat tahun 2013, diperkirakan 61,5 juta penduduk yang berusia lebih dari 18 tahun mengalami gangguan jiwa, 13,6 juta diantaranya mengalami gangguan jiwa berat seperti skizofrenia.
Pasien skizofrenia bisa dikatakan sembuh di rumah sakit jika hilangnya gejala akan terjadinya kekambuhan dan kemampuan pasien untuk kembali bersosialisasi. Begitu pula jika di masyarakat, pasien skizofrenia bisa dikatakan sembuh jika mampu bersosialisasi dengan baik antar orang dan aktif mengikuti kegiatan-kegiatan di lingkungan masyarakat (Aini, 2015)..
Perawatan keluarga sangat dibutuhkan oleh semua pasien, terutama pada pasien dengan skizofrenia. Dengan adanya perawatan keluarga, keluarga mampu berfungsi dengan berbagai caregiver kepandaian dan akal untuk meningkatkan kesehatan dan adaptasi keluarga dalam kehidupan, adapaun contoh untuk aspek dukungan keluarga yaitu aspek control pemantauan, aspek keterlibatan diri, aspek komunikasi, aspek pendekatan dan aspek kedisiplinan. Dengan demikian peranan keluarga berkaitan dengan kekambuhan gangguan jiwa tidak dapat diabaikan dalam penatalaksanaanya (Amelia, 2020).
Di Indonesia pasien dengan skizofrenia masih kurang mendapat perhatian.
Apalagi dalam kondisi krisis ekonomi, keadaan mereka semakin tidak mendapat perhatian dari banyak pihak (Andari, 2017). Pada kasus pasien yang mengidap skizofrenia bila terlambat untuk diobati keadaanya bisa jadi akan semakin memburuk, bahkan berlangsung terus seumur hidup, hal tersebut akan mempengaruhi kinerja seseorang (Andari, 2017).
Pada kasus tertentu, penderita juga bisa mengalami kemunduran fungsi sebagai manusia pada umumnya. Selain itu pasien skizofrenia juga membutuhkan
peranan keluarga yang menyeluruh, sehingga mampu memberikan perawatan secara optimal. Tetapi keluarga sebagai sistem pendukung utama sering kali mengalami beban yang tidak ringan dalam memberikan perawatan dirumah sakit maupun setelah kembali ke rumah. Beban tersebut yaitu beban finansial dalam biaya perawatan, beban mental dalam menghadapi pasien, dan beban sosial terutama menghadapi stigma dari masyarakat tentang anggota keluarganya yang mengalami gangguan jiwa. Dampak dari beban yang dirasakan keluarga akan mempengaruhi kemampuan keluarga dalam merawat pasien (Andari, 2017).
Tingginya prevalensi kekambuhan pada penderita skizofrenia perlu dilakukan berbagai macam penyuluhan dan sosialisasi mengingat bahwa penyakit ini masih kurang populer di kalangan masyarakat awam, dan sampai saat ini masih belum juga ditemukan terapi yang manjur untuk menyembuhkannya. Keluarga merupakan faktor yang sangat penting dalam proses kesembuhan gangguan jiwa.
Keluarga merupakan lingkungan terdekat pasien, dengan keluarga yang bersikap terapeutik dan mendukung pasien, masa kesembuhan pasien dapat dipertahankan selama mungkin (Andari, 2017)..
Pengetahuan yang perlu dimiliki oleh keluarga untuk mencegah terjadinya kekambuhan pasien skizofrenia di rumah antara lain memberikan perhatian dan rasa kasih sayang kepada pasien, mengawasi kepatuhan minum obat, membantu pasien untuk selalu berinteraksi dengan lingkungan, memberikan kegiatan positif untuk mengisi waktu di rumah, tidak membiarkan pasien menyendiri, memberikan pujian jika pasien melakukan hal yang positif, tidak mengkritik pasien jika melakukan kesalahan, menjauhkan pasien dari keadaan yang menyebabkan pasien merasa tidak berdaya serta membawa pasien untuk kontrol rutin ke palayanan kesehatan (Limbong, 2019).
Berdasarkan penjelasan diatas peneliti tertarik untuk meneliti “Faktor Yang Berhubungan Dengan Kekambuhan Pada Pasien Skizofenia” diharapkan hasil studi analisis ini dapat menjadi landasan teori baru dan referensi yang dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam bentuk penanganan kekambuhan dalam menangani pasien skrizofrenia.
1.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian di atas maka penulis merumuskan masalah penelitian yaitu Bagaimana Faktor Yang Mempengaruhi Kekambuhan Pada Pasien Skizofenia?
1.3. Tujuan Penelitian
Untuk mengidentifikasi Faktor Yang Mempengaruhi Kekambuhan Manfaat Penelitian
1.4.1 Manfaat Teoritis 1. Bagi peneliti
Penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan untuk meningkatkan pengetahuan dan wawasan terkait faktor yang berhubungan dengan kekambuhan pada pasien skizofrenia
2 Bagi praktisi kesehatan
Hasil penelitian ini dapat dijadikan referensi atau tambahan bagi tenaga kesehatan khususnya dalam bidang keperawatan untuk meningkatkan layanan edukasi pada pasien skizofrenia
1.4. Keaslian Penelitian
Penelitian dengan judul “Studi Literatur Analisis Faktor Yang Berhubungan Dengan Kekambuhan Pada Pasien Skizofrenia” belum pernah dilakukan tetapi terdapat kemiripan pada beberapa penelitian sebelumnya sehingga dijadikan acuan pada penelitian ini, beberapa penelitian yang mirip antara lain.
1. Penelitian oleh Yuni Agustia, Triana Harlia Putri, Faisal Kholid Fahdi.
(2020) dengan judul “Hubungan Dukungan Keluarga Dengan Pencegahan Kekambuhan Pada Pasien Skizorenia Rawat Jalan Di Rsjd Sungai Bangkong Pontianak”. Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengidentifikasi hubungan dukungan keluarga (dukungan emosional, dukungan instrumental, dukungan informasional dan dukungan penilaian atau penghargaan) dengan pencegahankekambuhan pasien skizofrenia di RSJD Sungai Bangkong Pontianak. Penelitian ini menggunakan metode cross sectional. dengan populasi 435 orang.telnik pengambilan sampelnya menggunakan purposive sampling yang merupakan teknik non probality
sampling dan rumus untuk menentukan besaran sampel menggunakan rumus salvina sehingga mendapatkan sampel 81 orang.24,7% (n=20/81) adalah lansia , 22,2% (n=18/81) adalah Dewasa awal, 19,8%(n=18/81) adalah dewasa akhir, 16%(n=13/81)adalah lansia akhir, 9,9%(n=8/81) adalah remaja akhir, dan 7,4%(n=6/81) adalah manula.Untuk itervensinya sendiri menggunakan kuisioner dukungan keluarga yang terdiri dari 15 pertanyaan yang terbagi atas 4 jenis dukungan keluarga yaitu dukungan emosional, dukungan instrumental, dukungan informasional, dan dukungan penghargaan,dan kuisioner kekambuhan terdiri dari 1 pertanyaan dengan alternatif pilihan yaitu tidak pernah, 1 kali, 2 kali dan lebih dari 2 kali. Untuk hasilnya sendiri menunjukan bahwa terdapat hubungan antara dukungan keluarga dengan penvegahan kekambuhan pada pasien skizofrenia, menurut berbagai konsep teoritis, dukungan yang diberikan anggota keluarga kepada pasien skizofrenia sehingga pasien merasa nyaman, merasa dicintai meskipun saat mengalami suatu masalah atau sakit. Pertolongan yang diberikan dalam bentuk semangat dan empati yang diterima pasien juga dapat membuat pasien merasa berharga.
2. Penelitian oleh Roastime Hermayerni Simanullang (2018) dengan judul
“The Correlation Betewen Family Support Andrelapse in Schizophrenia at the Psychlatric Hospital” penilitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara dukungan kekambuhan pada skizofrenia. Penelitian ini menggunakan metode study cross-sectional korelasional. Dengan jumlah sampelnya adalah 90 orang yang memiliki anggota keluarga yang menderita skizofrenia di rumah sakit jiwa di meddan sumatera utara indoneisa. Dengan problem skizofrenia adalah penyakit jiwa yang parah dengan sebagian besar pengalaman pasien kambuh. Dukungan keluarga memang bukan topic baru, tapi teteap dianggap sebagai faktor penting untuk mencegah penyakit kambuh. Namun sedikit yang diketahui tentang korelasi antara dukungan keluarga dan kekambuhan pada pasien skizofrenia. Untuk intervensinya sendiri adalah memberikan kuisioner tentang dukungan dan kekambuhan skizofrenia pada penderita kepada anggota keluarga. Kekambuhan skizofrenia diukur dengan mengamati berapa kali kambuh selama dua tahun terakhir. Sedangkan kuisioner
dukungan keluarga terdiri dari dua puluh pernyataan dengan menggunakan skala likert selalu, sering, jarang dan tidak pernah, dengan skala skor 80. Untuk perbedaanya sendiri tidak ada kelompok didalam jurnal. Sedangkan hasilnya sendiri penelitian ini menunjukan bahwa ada hubungan yang signifikan antara dukungan keluarga (dukungan informasional, penilaian, dukungan instrumental dan emosional) dengan kekambuhan pada skizofrenia. Oleh karna itu, tenaga kesahatan dianjurkan untuk terus menerus mengedepankan pentingnya dukungan keluarga dan meningkatkan pengetahuan mereka tentang jenis dukungan yang diperlukan untuk pasien skizofrenia.
3. Penelitian oleh Lourdes Luceno-Moreno, Beatriz Travera-Velasco, Yolanda Garcia-Albuerne dan Jesus Martin-Garcia (2020) dengan judul
“Symptoms of Posttraumatic Stress, Anxiety, Depression, Levels of Resilience and Burnout in Spanish Health Personnel during the COVID-19 Pandemic”
penelitian ini bertujuan Untuk mengetahui apakah ada hubungan dukungan keluarga dengan kekambuhan pasien skizofrenia di Rumah Sakit Jiwa Provinsi Lampung. Penelitian ini menggunakan metode survey cross-sectional dengan jumlah populasinya Seluruh data pasien yang mengalami gangguan jiwa Skizofrenia yang dirawat di Rumah Sakit Jiwa Provinsi Lampung pada bulan Januari - Mei tahun 2020 sesuai kriteria inklusi sebanyak 38 responden. Pengumpulan data skunder dengan menggunakan teknik total sampling . Dengan problem Gangguan jiwa termasuk status kesehatan mental dan sosial yang sangat berbahaya walaupun tidak langsung menyebabkan kematian, namun akan menimbulkan penderitaan yang mendalam bagi individu dan beban yang berat bagi keluarga. Dukungan keluarga mampu berfungsi untuk berbagai kepandaian, akal untuk meningkatkan kesehatan dan adaptasi keluarga dalam kehidupan. Dan hasilnya sendiri adalah Diketahui distribusi frekuensi dukungan emosional pada pasien skizofrenia mayoritas mendapatkan dukungan emosi kurang baik sebanyak 52,6%, dukungan informasional pada pasien skizofrenia mayoritas mendapatkan dukungan informasi baik sebanyak 63,2%, dukungan nyata pada pasien skizofrenia mayoritas mendapatkan dukungan nyata baik sebanyak 68,4%, dukungan
pengharapan pada pasien skizofrenia mayoritas mendapatkan dukungan pengharapan baik sebanyak 73,7%, terdapat hubungan dukungan emosional dengan kekambuhan pada pasien skizofrenia, terdapat hubungan dukungan informasional dengan kekambuhan pada pasien skizofrenia, terdapat hubungan dukungan nyata dengan kekambuhan pada pasien skizofrenia, terdapat hubungan dukungan pengharapan dengan kekambuhan pada pasien skizofrenia (p-value : 0,001 ; 0,020;
0,000 ; 0,004).