i
KABUPATEN GOWA
SKRIPSI
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat ujian Skripsi guna Mencapai Gelar Sarjana Pendidikan Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar
ABD. HALIM 10540 4122 09
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN JURUSAN PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
2014
ii
HALAMAN PENGESAHAN
Nama : ABD HALIM
Nim : 10540 4122 09
Jurusan : Pendidikan Guru Sekolah Dasar
Judul Skripsi : Peningkatan Hasil Belajar PKn melalui penerapan pendekatan Reciprocal Teaching pada murid kelas V SD inpres
Talaborong kecamatan Bajeng Barat kabupaten Gowa.
Makassar, 20 September 2014 Disetujui oleh:
Pembimbing I Pembimbing II
Drs. H. Andi Baso, M.Pd.I Drs. H. Nasrun Hasan, M.Pd Mengetahui,
Dekan FKIP Plt. Ketua Prodi PGSD
Universitas Muhammadiyah Makassar
Dr. Andi Sukri Syamsuri, M. Hum Sulfasyah, MA.,Ph.D
ii
HALAMAN PENGESAHAN
Nama : ABD HALIM
Nim : 10540 4122 09
Jurusan : Pendidikan Guru Sekolah Dasar
Judul Skripsi : Peningkatan Hasil Belajar PKn melalui penerapan pendekatan Reciprocal Teaching pada murid kelas V SD inpres
Talaborong kecamatan Bajeng Barat kabupaten Gowa.
Makassar, 20 September 2014 Disetujui oleh:
Pembimbing I Pembimbing II
Drs. H. Andi Baso, M.Pd.I Drs. H. Nasrun Hasan, M.Pd Mengetahui,
Dekan FKIP Plt. Ketua Prodi PGSD
Universitas Muhammadiyah Makassar
Dr. Andi Sukri Syamsuri, M. Hum Sulfasyah, MA.,Ph.D
ii
HALAMAN PENGESAHAN
Nama : ABD HALIM
Nim : 10540 4122 09
Jurusan : Pendidikan Guru Sekolah Dasar
Judul Skripsi : Peningkatan Hasil Belajar PKn melalui penerapan pendekatan Reciprocal Teaching pada murid kelas V SD inpres
Talaborong kecamatan Bajeng Barat kabupaten Gowa.
Makassar, 20 September 2014 Disetujui oleh:
Pembimbing I Pembimbing II
Drs. H. Andi Baso, M.Pd.I Drs. H. Nasrun Hasan, M.Pd Mengetahui,
Dekan FKIP Plt. Ketua Prodi PGSD
Universitas Muhammadiyah Makassar
Dr. Andi Sukri Syamsuri, M. Hum Sulfasyah, MA.,Ph.D
iii
PERSETUJUAN PEMBIMBING
Nama : ABD HALIM
Nim : 10540 4122 09
Jurusan : Pendidikan Guru Sekolah Dasar
Judul Skripsi : Peningkatan Hasil Belajar PKn melalui penerapan pendekatan Reciprocal Teaching pada murid kelas V SD inpres
Talaborong kecamatan Bajeng Barat kabupaten Gowa.
Setelah diperiksa dan diteliti, skripsi ini telah memenuhi persyaratan untuk diseminarkan.
Makassar,20 September 2014 Disetujui oleh:
Pembimbing I Pembimbing II
Drs. H. Andi Baso, M.Pd.I Drs. H. Nasrun Hasan, M.Pd Mengetahui,
Dekan FKIP Plt. Ketua Prodi PGSD
Universitas Muhammadiyah Makassar
Dr. Andi Sukri Syamsuri, M. Hum Sulfasyah, MA.,Ph.D
iii
PERSETUJUAN PEMBIMBING
Nama : ABD HALIM
Nim : 10540 4122 09
Jurusan : Pendidikan Guru Sekolah Dasar
Judul Skripsi : Peningkatan Hasil Belajar PKn melalui penerapan pendekatan Reciprocal Teaching pada murid kelas V SD inpres
Talaborong kecamatan Bajeng Barat kabupaten Gowa.
Setelah diperiksa dan diteliti, skripsi ini telah memenuhi persyaratan untuk diseminarkan.
Makassar,20 September 2014 Disetujui oleh:
Pembimbing I Pembimbing II
Drs. H. Andi Baso, M.Pd.I Drs. H. Nasrun Hasan, M.Pd Mengetahui,
Dekan FKIP Plt. Ketua Prodi PGSD
Universitas Muhammadiyah Makassar
Dr. Andi Sukri Syamsuri, M. Hum Sulfasyah, MA.,Ph.D
iii
PERSETUJUAN PEMBIMBING
Nama : ABD HALIM
Nim : 10540 4122 09
Jurusan : Pendidikan Guru Sekolah Dasar
Judul Skripsi : Peningkatan Hasil Belajar PKn melalui penerapan pendekatan Reciprocal Teaching pada murid kelas V SD inpres
Talaborong kecamatan Bajeng Barat kabupaten Gowa.
Setelah diperiksa dan diteliti, skripsi ini telah memenuhi persyaratan untuk diseminarkan.
Makassar,20 September 2014 Disetujui oleh:
Pembimbing I Pembimbing II
Drs. H. Andi Baso, M.Pd.I Drs. H. Nasrun Hasan, M.Pd Mengetahui,
Dekan FKIP Plt. Ketua Prodi PGSD
Universitas Muhammadiyah Makassar
Dr. Andi Sukri Syamsuri, M. Hum Sulfasyah, MA.,Ph.D
iv
SURAT PERJANJIAN Dengan ini menyatakan perjanjian sebagai berikut :
1. Mulai penyusunan proposal sampai selesainya skripsi ini, benar-benar saya yang menyusunnya sendiri (tidak dibuat oleh siapapun).
2. Dalam penyusunan skripsi ini, selalu melakukan konsultasi dengan pembimbing yang telah ditetapkan oleh Pimpinan Fakultas.
3. Saya tidak melakukan perjanjian (plagiat) dalam menyusunan skripsi ini.
4. Apabila melanggar perjanjian seperti yang tertera pada butir 1,2, dan 3 maka saya bersedia menerima sanksi dengan aturan yang berlaku.
Makassar, September 2014 Yang membuat pernyataan
ABD HALIM
iv
SURAT PERJANJIAN Dengan ini menyatakan perjanjian sebagai berikut :
1. Mulai penyusunan proposal sampai selesainya skripsi ini, benar-benar saya yang menyusunnya sendiri (tidak dibuat oleh siapapun).
2. Dalam penyusunan skripsi ini, selalu melakukan konsultasi dengan pembimbing yang telah ditetapkan oleh Pimpinan Fakultas.
3. Saya tidak melakukan perjanjian (plagiat) dalam menyusunan skripsi ini.
4. Apabila melanggar perjanjian seperti yang tertera pada butir 1,2, dan 3 maka saya bersedia menerima sanksi dengan aturan yang berlaku.
Makassar, September 2014 Yang membuat pernyataan
ABD HALIM
iv
SURAT PERJANJIAN Dengan ini menyatakan perjanjian sebagai berikut :
1. Mulai penyusunan proposal sampai selesainya skripsi ini, benar-benar saya yang menyusunnya sendiri (tidak dibuat oleh siapapun).
2. Dalam penyusunan skripsi ini, selalu melakukan konsultasi dengan pembimbing yang telah ditetapkan oleh Pimpinan Fakultas.
3. Saya tidak melakukan perjanjian (plagiat) dalam menyusunan skripsi ini.
4. Apabila melanggar perjanjian seperti yang tertera pada butir 1,2, dan 3 maka saya bersedia menerima sanksi dengan aturan yang berlaku.
Makassar, September 2014 Yang membuat pernyataan
ABD HALIM
v Carilah Ilmu Untuk Suatu Kebaikan, Karena Ilmu Yang Baik Adalah
Ilmu Yang Menuntun Kita Kejalan Yang Benar
Barang Siapa Yang Menuntut Ilmu Maka Allah Akan Memudahkan Baginya Jalan Ke Syorga (HR. Muslim).
PERSEMBAHAN
Kuperuntukan karya ini kepada
kedua orang tua tercinta dan saudara-saudaraku yang tersayang serta sahabat yang dengan tulus dan ikhlas selalu berdoa
dan membantu baik, material maupun moril demi keberhasilan penulis
vi
SURAT PERNYATAAN
Saya yang bertanda tangan dibawah ini :
Nama : ABD HALIM
Nim : 10540 4122 09
Jurusan : Pendidikan Guru Sekolah Dasar
Judul Skripsi : Peningkatan Hasil Belajar PKn melalui penerapan pendekatan Reciprocal Teaching murid kelas V SD inpres Talaborong kecamatan Bajeng Barat kabupaten Gowa.
Dengan ini menyatakan bahwa :
Skripsi yang saya ajukan di depan TIM penguji adalah ASLI karya saya sendiri, bukan hasil ciplakan dan tidak dibuat oleh siapapun.
Makassar, September 2014 Yang membuat pernyataan
ABD HALIM Diketahui oleh :
Pembimbing I Pembimbing II
Drs. H. Andi Baso, M.Pd.I Drs. H. Nasrun Hasan, M.Pd
vi
SURAT PERNYATAAN
Saya yang bertanda tangan dibawah ini :
Nama : ABD HALIM
Nim : 10540 4122 09
Jurusan : Pendidikan Guru Sekolah Dasar
Judul Skripsi : Peningkatan Hasil Belajar PKn melalui penerapan pendekatan Reciprocal Teaching murid kelas V SD inpres Talaborong kecamatan Bajeng Barat kabupaten Gowa.
Dengan ini menyatakan bahwa :
Skripsi yang saya ajukan di depan TIM penguji adalah ASLI karya saya sendiri, bukan hasil ciplakan dan tidak dibuat oleh siapapun.
Makassar, September 2014 Yang membuat pernyataan
ABD HALIM Diketahui oleh :
Pembimbing I Pembimbing II
Drs. H. Andi Baso, M.Pd.I Drs. H. Nasrun Hasan, M.Pd
vi
SURAT PERNYATAAN
Saya yang bertanda tangan dibawah ini :
Nama : ABD HALIM
Nim : 10540 4122 09
Jurusan : Pendidikan Guru Sekolah Dasar
Judul Skripsi : Peningkatan Hasil Belajar PKn melalui penerapan pendekatan Reciprocal Teaching murid kelas V SD inpres Talaborong kecamatan Bajeng Barat kabupaten Gowa.
Dengan ini menyatakan bahwa :
Skripsi yang saya ajukan di depan TIM penguji adalah ASLI karya saya sendiri, bukan hasil ciplakan dan tidak dibuat oleh siapapun.
Makassar, September 2014 Yang membuat pernyataan
ABD HALIM Diketahui oleh :
Pembimbing I Pembimbing II
Drs. H. Andi Baso, M.Pd.I Drs. H. Nasrun Hasan, M.Pd
vii
melalui pendekatan penerapan Reciprocal Teaching murid kelas V SD Inpres Talaborong Kecamatan Bajeng Barat Kabupaten Gowa. Dibimbing oleh H. Andi Baso dan H. Nasrun Hasan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar.
Jenis penelitia adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Tujuan penelitian adalah untuk meningkatan hasil belajar PKn melalui pendekatan penerapan Reciprocal Teaching pada murid kelas V SDI Talaborong tahun ajaran 2014/2015 sebanyak 32 orang. Tekhnik pengumpulan data melalui observasi dan tes. Data yang terkumpul kemudian dianalisis secara kuantitatif dan kualitatif.
Hasil penelitian yaitu terdapat peningkatan hasil belajar PKn Murid di kelas V SDI Talaborong melalui pendekatan penerapan Reciprocal Teaching, yaitu pada siklus I nilai rata-rata mencapai 64,31% berada pada kualifikasi rendah, kemudian pada siklus II nilai rata-rata mencapai 78,33% menjadi kualifikasi tinggi. Demikian pula partisipasi atau keaktifan murid, pada siklus I tingkat keaktifan murid berada dalam kategori cukup dan pada siklus II sudah berada dalam kategori sangat baik.
Berdasarkan hasil observasi dan tes maka dapat disimpulkan bahwa pendekatan penerapan Reciprocal Teaching adalah model pembelajaran yang efektif dalam meningkatkan kemampuan berpikir anak dalam menemukan penyelesaian terhadap suatu permasalahan pembelajaran khususnya dalam mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) sehingga hasil belajar murid kelas V SDI Talaborong dapat meningkat.
Kata Kunci : Hasil belajar PKn, Model pembelajaran Reciprocal Teaching (Pembelajaran Terbalik)
viii
Puji syukur penulis ucapkan kehadirat Allah swt yang telah melimpahkan Rahmat-Nya sehingga skripsi dapat penulis selesaikan dengan baik.
Shalawat dan salam semoga tercurah kepada sang pemimpin yang patut kita teladani yakni nabiyullah Muhammad saw, para sahabat dan keluarganya yang patut kita jadikan sebagai uswatun hasanah dalam melaksanakan segala aktifitas demi kesejahteraan dan kemakmuran hidup di dunia dan di akhirat kelak.
Adapun tujuan penulis Skripsi ini adalah memenuhi salah satu syarat guna memperoleh gelar sarjana pendidikan. Banyak pengalaman berharga yang dapat menjadi pelajaran bagi penulis dalam mengerjakan Skripsi ini. Tidak sedikit pula hambatan dan kesulitan yang didapatkan, namun berkat ketabahan, kesabaran, keikhlasan, kerja keras dan kemauan yang disertai dengan doa dan bantuan serta motivasi dari berbagai pihak, Alhamdulillah Skripsi ini dapat diselesaikan dengan baik.
Pertama penulis menyampaikan ucapan terima kasih yang teristimewa kepada yang terkasih Ayahanda Abbas dan Ibunda Jumaria yang melahirkan, mengasuh dan membesarkan dengan penuh kasih sayang serta senantiasa membimbing dan memberikan motivasi serta mendoakan keberhasilan penulis.
Selanjutnya penulis menyampaikan ucapan terima kasih yang tak terhingga kepada: Dr. H. Irwan Akib, M.Pd., Rektor Universitas Muhammadiyah
ix
pelayanan akademik selama kuliah di Jurusan PGSD SI. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis menghaturkan penghargaan yang setinggi-tingginya dan ucapan terima kasih yang tulus kepada Drs. H. Andi Baso, M.Pd.I pembimbing I dan Drs. H. Nasrun Hasan, M.Pd. pembimbing II yang senantiasa mengarahkan dan memberikan bimbingan mulai dari perencanaan sampai penyusunan skripsi ini.. Bapak dan Ibu Dosen PGSD FKIP Unismuh Makassar yang telah memberikan bekal Ilmu Pengetahuannya kepada penulis. Hj. Hasmah. R, S.Pd.I Kepala Sekolah SD Inpres Talaborong Kec. Bajeng Barat Kab. Gowa yang telah memberikan izin untuk melaksanakan penelitian. Mustamin. S.Pd, guru kelas V SD Inpres Talaborong Kec. Bajeng Barat Kab. Gowa serta adik-adik murid kelas V yang telah banyak membantu penulis selama penelitian berlangsung.
Hanya kepada Allah SWT jualah penulis berdoa semoga segala bantuan, pengorbanan serta perhatiannya dapat bernilai disisi Allah SWT dan mendapat pahala yang berlipat ganda.
Makassar, April 2014
ABD. HALIM
x
HALAMAN PENGESAHAN ... ii
PERSETUJUAN PEMBIMBING ... iii
SURAT PERJANJIAN ... iv
MOTTO ... v
SURAT PERNYATAAN ... vi
ABSTRAK ... vii
KATA PENGANTAR ... viii
DAFTAR ISI ... xi
DAFTAR GAMBAR ... xiii
DAFTAR TABEL ... xiv
BAB I. PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang... 1
B. Masalah Penelitian ... 5
1. Identifikasi Masalah ... 5
2. Rumusan Masalah... 7
3. Alternatif dan prioritas ... 7
C. Tujuan Penelitian ... 7
D. Manfaat Penelitian ... 7
BAB II. KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA PIKIR DAN HIPOTESI... 10
xi
4. Penelitian Tindakan Kelas ... 16
5. Hasil Belajar ... 17
6. Reciprocal Teaching ... 17
7. Mata Pelajaran PKn ... 20
B. Kerangka Pikir ... 23
C. Hipotesis Tindakan ... 24
BAB III. METODE PENELITIAN... 25
A. Jenis Penelitian ... 25
B. Lokasi dan Subjek Penelitan ... 25
C. Faktor yang Diselidiki ... 25
D. Prosedur Kerja Penelitian ... 26
E. Teknik Pengumpulan Data ... 30
F. Teknik Analisis Data ... 30
G. Indikator Keberhasilan ... 31
BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 32
A. Penyajian Data Proses dan Hasil Penelitian ... 32
B. Pembahasan Hasil Penelitian ... 48
BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN... 50
A. Kesimpulan ... 50
B. Saran ... 51
DAFTAR PUSTAKA ... 52
LAMPIRAN ... 53
xii
xiii
Tabel 3. Distribusi frekuensi skor persentase hasil belajar pada Siklus I ... 37
Tabel 4. Disribusi Ketuntasan murid pada siklus I ... 38
Tabel 5. Statistik Skor Hasil Belajar Pada Siklus I... 38
Tabel 6. Statistik skor hasil belajar pada siklus II ... 42
Tabel 7. Distribusi frekuensi skor persentase hasil belajar pada Siklus II ... 43
Tabel 8. Disribusi Ketuntasan murid pada siklus II ... 44
Tabel 9. Statistik Skor Hasil Belajar Pada Siklus II ... 45
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, bakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Bertitik tolak dari dasar tujuan pendidikan nasional tersebut menjadi jelas bahwa manusia Indonesia yang hendak dibentuk melalui proses pendidikan bukan sekedar manusia yang berilmu pengetahuan semata tetapi sekaligus membentuk manusia Indonesia yang berkepribadian sebagai warga Negara Indonesia yang demokratis dan bertanggung jawab.
Mata Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan merupakan mata pelajaran yang memfokuskan pada pembentukan warga negara yang memahami dan mampu melaksanakan hak- hak dan kewajibannya untuk menjadi warga Negara yang baik, yang cerdas, terampil, dan sesuai dengan karakter yang diamanatkan oleh Pancasila dan UUD 1945.
Minat belajar murid pada pembelajaran PKn ini perlu mendapat perhatian khusus karena minat merupakan salah satu faktor penunjang keberhasilan proses belajar. Disamping itu minat yang timbul dari kebutuhan murid merupakan faktor penting bagi murid dalam melaksanakan kegiatan-kegiatan atau usahanya.
1
Oleh karena itu minat belajar murid harus diperhatikan dengan saksama. Hal ini untuk memudahkan membimbing dan mengarahkan murid belajar, sehingga murid mempunyai dorongan dan tertarik untuk belajar.
Untuk mengetahui proses pelaksanaan pembelajaran Pkn yang terjadi di lapangan, maka penulis melakukan observasi pada hari Selasa tanggal 18 September 2014 di kelas V SD Inpres Talaborong Kabupaten Gowa. Berdasarkan data awal, selama ini pembelajaran PKn pada murid kelas V SD Inpres Talaborong Kabupaten Gowa masih bersifat monoton dan kurang menarik, Sehingga setiap pelajaran berlangsung, murid jadi kurang tertarik dan kurang berminat dalam mengikuti pelajarannya. Selain itu di dalam pembelajaran PKn masih menghadapi banyak kendala-kendala. Kendala-kendala yang dimaksud antara lain :
Pertama, guru pengajar mata Pelajaran PKn masih mengalami kesulitan dalam mengaktifkan murid untuk terlibat langsung dalam proses penggalian dan penelaahan bahan pelajaran.
Kedua, jumlah murid dalam kelas (32 murid). Terkait dengan jumlah murid yang cukup besar di dalam kelas ini, Perhatikan table berikut.
Tabel 1. Nilai hasil observasi murid.
No Nama Murid Nilai
1. Ismail 65
2. Ramadhan 50
3. Rio Ramadhan 40
4. Muh. Rizal Rajab 40
5. Rusdianto 40
6. Muh. Taisir Muhlas. S 50
7. Muh. Alvito Deanova 65
8. Muh. Rizal 70
9. Aswin Nur 40
10. Ibnu Ichsan Husain 60
11. Muh. Firman 50
12. Ilham Hidayat 70
13. Musnadi 40
14. Abd. Majid 70
15. Arfan 65
16. Muh. Dirham Akbar 50
17. Muh. Ichsan 60
18. Muh. Adrian 70
19. Teguh Anugrah 60
20. Ariel Ismail 50
21. Awanda Fauziah 65
22. Sri Wulan Dari 60
23. Anggih Fauziah 70
24. Mus Fira 70
25. A. Kurnia Pratama 80
26. Muliati 70
27. Kartini 60
28. Rika Arianti Syam 85
29. Nurul Aqsa Dewi 80
30. Nurul Mafidah 70
31. Nurul Azizah 60
32. Jumriati 50
Jumlah 1.925
Rata-rata 60,16
Dengan hasil observasi nilai rata-rata murid kebanyakan di bawah 70 dari nilai KKM, sedangkan yang mendapat nilai di atas rata-rata kelas sebanyak 3 orang dan murid yang mendapat nilai dibawah rata-rata kelas sebanyak 11 orang, ini berarti nilai pencapaian KKM mata pelajaran PKn sangat mempengaruhi proses belajar, dimana murid yang memperoleh nilai sangat tinggi 1 orang dan murid yang mendapat nilai tinggi 2 orang, sementara yang mendapat nilai sedang 3 orang, kemudian sisawa yang mendapat nilai sangat rendah 5 orang. Proses belajar dihadapkan pada kenyataan keberadaan sarana dan prasarana pembelajaran yang kurang memadai, sehingga hal tersebut juga menyebabkan guru kurang dapat mengenali sikap dan perilaku individual murid atau murid secara baik. Hal ini dapat berdampak pada kurangnya perhatian murid terhadap materi pembelajaran.
Ketiga, sebagian murid memandang mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan sebagai mata pelajaran yang bersifat konseptual dan teoritis.
Akibatnya murid ketika mengikuti pembelajaran PKn merasa cukup mencatat dan menghafal konsep-konsep dan teori-teori yang diceramahkan oleh guru, tugas- tugas terstruktur yang diberikan dikerjakan secara tidak serius dan bila dikerjakan pun sekedar memenuhi formalitas.
Kendala-kendala dalam penyelenggaraan Pembelajaran PKn sebagaimana dikemukakan di atas, jelas membawa pengaruh pada kualitas proses dan hasil pembelajaran. Kondisi semacam ini tentu tidak sejalan dengan semangat untuk menciptakan pembelajaran yang bermakna bagi murid. Pembelajaran yang kurang bermakna ini akan semakin meluas dan apabila pada proses pembelajaran tersebut guru masih menerapkan strategi dan pendekatan pembelajaran konvensional yang memandang murid sebagai objek, komunikasi lebih banyak berlangsung searah, dan penilaian lebih menekankan aspek kognitif akan berakibat hasil belajar PKn tidak akan mencapai standar KKM yang telah ditetapkan oleh sekolah.
Dalam proses pembelajaran PKn, yang diinginkan adalah pola pembelajaran PKn yang dapat membuat PKn terasa mudah dan menyenangkan. Untuk itu diperlukan suatu strategi baru berupa pendekatan yang lebih memberdayakan murid. Salah satunya pendekatan reciprocal teaching. Reciprocal teaching adalah pendekatan yang berdasar pada prinsip-prinsip pembuatan/pengajuan pertanyaan, dimana keterampilan-keterampilan metakognitif (merangkum, meringkas, mengklarifikasi dan memprediksi) diajarkan melalui pengajaran langsung dan pemodelan oleh guru untuk penampilan murid terhadap materi pelajaran. Nur dan Wikandari(2000).
Berdasarkan uraian di atas, dan mengingat pentingnya proses pembelajaran
PKn sebagai langkah untuk meningkatkan prestasi belajar murid maka kelemahan-kelemahan dalam proses pembelajaran harus diperbaiki. Maka peneliti tertarik untuk mengangkat sebuah penelitian yang berjudul "Peningkatan Hasil Belajar PKn Melalui Penerapan Pendekatan Reciprocal Teaching Pada Murid Kelas V SD Inpres Talaborong Kecamatan Bajeng Barat Kababupaten Gowa.”
B. Masalah Penelitian
1. Identifikasi Masalah
Dari latar belakang masalah, dapat diidentifikasikan masalah sebagai berikut:
a. Pembelajaran PKn dikelas masih menoton (tidak ada perubahan) b. Belum ditemukan strategi pembelajaran yang tepat.
c. Belum ada kolaborasi sebagai penghubung timbal balik antara guru dan murid dimana (pemberi pelayanan) memegang tanggung jawab paling besar.
d. Metode yang digunakan masih bersifat konvensional karena merupakan metode pembelajaran tradisional atau disebut juga dengan metode ceramah, karena sejak dulu metode ini dipergunakan sebagai alat komunikasi lisan antara guru dengan anak didik dalam proses belajar.
e. Rendahnya kualitas pembelajaran PKn disebabkan karena kurangnya minat belajar murid.
f. Rendahnya prestasi murid dalam pembelajaran PKn.
2. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang, maka dapat penulis rumuskan permasalahan yang akan diteliti yaitu:
“Apakah penerapan pendekatan reciprocal teaching dapat meningkatkan hasil belajar PKn pada murid kelas V SD Inpres Talaborong Kecamatan Bajeng Barat Kabupaten Gowa.”
3. Alternatif dan prioritas pemecahan masalah
Berdasarkan masalah yang dihadapi murid kelas V SD Inpres Tala’borong, yaitu kurangnya minat murid terhadap pelajaran PKn khususnya pada pemahaman materi yang mengakibatkan rendahnya prestasi belajar murid, sehingga peneliti menggunakan model pendekatan pembelajaran reciprocal teaching untuk meningkatkan hasil belajar PKn pada murid kelas V SD Inpres Talaborong Kecamatan Bajeng Barat Kabupaten Gowa.
C. Tujuan Penelitian
Penelitian bertujuan untuk meningkatan hasil belajar PKn murid kelas V SD Inpres Talaborong Kabupaten Gowa melalui penerapan pendekatan reciprocal teaching.
D. Manfaat Penelitian
Manfaat penelitian yang dapat diambil dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Manfaat Teoretis
a. Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai media alternatif bagi guru sekolah lain dalam mengajarkan materi PKn agar lebih mudah bagi murid.
b. Bagi pihak-pihak yang terkait dengan pengajaran PKn dapat digunakan sebagai pengetahuan untuk kelayakan pengajaran PKn yang akan datang.
2. Manfaat Praktis a. Bagi guru
Sebagai upaya untuk menawarkan inovasi baru dalam pembelajaran PKn b. Bagi murid murid
Mengembangkan dan meningkatkan kemampuan murid dalam proses pembelajaran, sehingga hasil belajar murid dapat meningkat.
c. Bagi Sekolah
Menciptakan integritasi nilai-nilai kearifan lokal dalam pembelajaran untuk menanamkan nasionalisme di Sekolah Dasar.
d. Bagi pembaca
dengan adanya skripsi yang berjudul “Peningkatan Hasil Belajar PKn melalui penerapan pendekatan reciprocal teaching pada Murid Kelas V SD Inpres Talaborong kecamatan Bajeng Barat Kabupaten Gowa” ini, penulis mengharapkan pembaca yang budiman dapat mengetahui bagaimana kondisi pendidikan di tanah air kita saat ini, sehingga dengannya dapat mengetuk hati dan perasaan pembaca sekalian untuk senantiasa terus berbuat yang terbaik untuk pendidikan kita.
e. Bagi peneliti
Dengan menerapkan bentuk pembelajaran ini, dapat melakukan penelitian serupa terhadap materi lain. Karena pendekatan reciprocal teaching tidak hanya cocok untuk pembelajaran PKn namun mata pelajaran lain juga dapat digunakan.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA PIKIR DAN HIPOTESIS TINDAKAN
A. Kajian Pustaka 1. Pengertian Belajar
Belajar merupakan proses perubahan yang terjadi pada diri seseorang melalui penguatan ( reinforcement), sehingga terjadi perubahan yang bersifat permanen dan persisten pada dirinya sebagai hasil pengalaman (Learning is a change of behavior as a result of experience), demikian pendapat John Dewey, salah seorang ahli pendidikan Amerika Serikat dari aliran Behavioural Approach. (Fattah Nanang, 2000 : 58).
Perubahan yang dihasilkan oleh proses belajar bersifat progresif dan akumulatif, mengarah kepada kesempurnaan, misalnya dari tidak mampu menjadi mampu, dari tidak mengerti menjadi mengerti, baik mencakup aspek pengetahuan (cognitive domain), aspek afektif (affective domain) maupun aspek psikomotorik (psychomotoric domain) (Fattah Nanang, 2000 : 58).
Belajar merupakan suatu proses usaha yang dilakukan oleh individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungan
Nana Sudjana (1989:5) menuliskan definisi belajar sebagai berikut :
Belajar adalah proses dalam bentuk pengetahuan, pemahaman sikap dan tingkah laku, ketrampilan, kecakapan, kebiasaan, serta perubahan
10
aspek-aspek lain pada individu yang belajar. Perubahan tingkah laku tersebut disebabkan karena adanya interaksi.
Beberapa dari sekian banyak ahli mendefinisikan belajar sebagai suatu perubahan ( Darsono, 2002:3-4):
a. Morris L. Bigge
Belajar adalah perubahan yang menetap dalam kehidupan seseorang yang tidak diwariskan secara genetis. Perubahan itu terjadi pada pemahaman (insight), perilaku, persepsi, motivasi atau campuran dari semuanya secara sistematis sebagai akibat pengalaman dalam situasi- situasi tertentu.
b. Aaron Quin Sartain
Belajar adalah perubahan perilaku sebagai hasil dari pengalaman.
Perubahan ini antara lain cara merespon sinyal, cara menguasai suatu keterampilan, dan mengembangkan sikap terhadap suatu obyek.
Berdasarkan pendapat para ahli diatas maka dapat disimpulkan bahwa belajar adalah proses yang dilakukan manusia dari tahu menuju ke tidak tahu, baik melalui pendidikan formal maupun non formal yang mana hal yang ingin dicapai adalah proses dalam bentuk pengetahuan, pemahaman sikap dan tingkah laku, ketrampilan, kecakapan, kebiasaan, serta perubahan aspek-aspek lain pada individu yang belajar.
2. Pembelajaran
Pembelajaran adalah upaya bersama guru dan murid untuk berbagi mengelola informasi dengan tujuan agar pengetahuan yang terbentuk dapat di
internalisasi dalam diri peserta pembelajaran dan menjadi landasan belajar secara berkelanjutan secara mandiri. Kasbollah, Kasihani (2001 :18).
Proses internalisasi ini sangat penting dalam pembelajaran, dimana murid memerlukan bantuan seorang guru selama pembelajaran dan pada akhir internalisasi, antara murid dan guru harus ada mekanisme komunikasi mengenal tingkat keberhasilan proses tersebut, sehingga pada akhir proses internalisasi dapat disimpulkan bahwa “pengetahuan yang baru” sudah menjadi bagian integral struktur perilaku murid untuk digunakan sebagai landasan pembelajaran selanjutnya. Evaluasi hasil belajar dan tugas selalu mengakhiri pembelajaran untuk dapat menyimpulkan keberhasilan seluruh proses Kasbollah, Kasihani (2001: 35).
Pembelajaran akan dapat diterapkan dengan tepat, apabila pada awal proses guru dan murid mempunyai kemampuan dasar sebagaimana diungkapkan oleh Kasbollah, Kasihani (2001: 69 ) sebagai berikut :
a. Kemampuan dasar guru
1) Kemampuan subjek kajian (pada dasarnya seorang guru adalah spesialis dalam subjek kajian mata pelajaran yang menjadi tanggung jawab).
2) Kemampuan kurikulum (setiap guru harus mengerti dan dapat mengartikulasi kedudukan dan keterkaitan pelajaran yang diampu).
3) Kemampuan pedagogik (seorang guru harus mampu untuk melaksanakan pembelajaran yang efektif dalam subjek kajian spesialisasinya.
b. Kemampuan dasar murid
1) Kemampuan untuk menjelaskan dan menalar apa-apa yang diterimanya.
2) Kemampuan yang terbuka untuk belajar (mandiri maupun kooperatif) 3) Kemampuan untuk menerima, mengolah, dan menyerap informasi
secara kritis dan terbuka.
Seorang murid yang memasuki kelas untuk mengikuti pelajaran, ia akan mengharapkan banyak hal seperti: pengajar yang berwibawa dan kompeten, rasa aman, aturan kelas yang jelas, aturan yang jelas, atau hubungan sosial yang baik sesama murid. Untuk memenuhi harapan tersebut, hal-hal berikut perlu diperhatikan oleh guru menurut Kasbollah, Kasihani (2001: 103 ) sebagai berikut :
a. Tujuan
Menyampaikan tujuan atau arah kegiatan pada awal pembelajaran.
Komunikasi persyaratan mata pelajaran yang mencakup garis besar kegiatan dan persayaratan yang harus dipenuhi selama pembelajaran, merupakan salah satu cara untuk membuat para murid sadar akan tujuan yang dicapai dan persyaratan untuk mencapainya.
b. Respek (rasa hormat)
Rasa hormat murid terhadap guru dapat ditumbuhkan dengan cara menunjukkan lebih dahulu rasa respek guru terhadap murid. Rasa saling menghormati antara guru dan murid perlu dipelihara karena hal ini akan menumbuhkan lingkungan belajar yang sehat.
c. Keteraturan
Aturan kelas yang jelas, seperti cara mengajukan pertanyaan yang sopan, batas waktu penyerahan tugas yang jelas, memperhatikan apa yang disampaikan guru, akan membuat keteraturan dan rasa aman dalam kelas.
d. Perlakuan adil
Perlakuan adil yang ditunjukkan oleh guru terhadap murid, terutama yang berkaitan dengan aturan dan persyaratan pembelajaran yang disepakati sebelumnya, akan membantu menumbuhkan iklim pembelajaran yang positif.
e. Rasa aman
Menjaga rasa aman para murid dengan mencegah terjadinya kekacauan merupakan tantangan berat bagi seorang guru, ketegasan, ketepatan, dan kecepatan bertindak merupakan salah satu kunci dalam mencegah terjadinya hal-hal yang menghilangkan rasa aman murid.
f. Penuh Perhatian (caring)
Perhatian guru terhadap murid baik melalui kontak pandang, senyuman, maupun kata-kata yang wajar, akan membantu iklim kelas yang kondusif, dan memenuhi harapan murid (Wardani, 2001:14-15).
Sedangkan menurut (Sudjana, 2004: 76) seorang guru akan dapat menjadi dekat dengan murid apabila secara ideal guru tersebut :
1. Berkepribadian hangat/supel (warm personality), mampu memberi dan menerima informasi dan umpan balik ke murid dan dari murid.
2. Memiliki “sosial skill”, yaitu mampu membawa kelas dalam satu kesatuan.
3. Menguasai cara mengajar yang baik.
4. Mampu menata materi secara baik (organizing ability).
5. Pemerhati yang baik (skill in noticing), dan cekatan membantu kesulitan murid.
6. Bersemangat (antusiasme for the subject).
7. Menguasai materi (Flexibility to student changing needs).
8. Menguasai materi (knowledge of the subject).
Dalam proses penyampaian materi kepada peserta didik, terdapat
“lima butir emas” (five nuggets) yaitu:
1. Dimulai dengan menarik perhatian, diikuti dengan penjelasan rinci.
2. Murid umumnya hanya mampu mengingat beberapa butir kunci (key point).
3. Konsentrasi akan berkurang bila masa proses pembelajaran panjang, sehingga perlu variasi dalam penyampaian.
4. Pengulangan dapat membantu daya ingat.
5. Penyampaian yang monoton hendaknya dihindari, dengan visualisasi, latihan, jokes, atau bahkan istirahat.
3. Belajar PKn
Mata Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) merupakan mata pelajaran yang memfokuskan pada pembentukan warganegara yang memahami dan mampu melaksanakan hak- hak dan kewajibannya untuk
menjadi warga Negara yang baik, yang cerdas, terampil, dan karakter yang diamanatkan oleh Pancasila dan UUD 1945.
Dalam kaitannya dengan pembentukan warga negara Indonesia yang demokratis dan bertanggung jawab, pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) memiliki peranan yang strategis dan penting, yaitu dalam membentuk murid maupun sikap dalam berperilaku keseharian, sehingga diharapkan setiap individu mampu menjadi pribadi yang baik.
Melalui mata pelajaran PKn ini, murid sebagai warga negara dapat mengkaji Pendidikan Kewarganegaraan dalam forum yang dinamis dan interaktif. Jika memperhatikan tujuan pendidikan nasional di atas, Pembangunan dalam dunia pendidikan perlu diusahakan peningkatannya.
Pada penelitian ini peneliti meneliti pembelajaran pada bidang studi PKn, karena PKn bukan sejarah maka hal yang sangat substansial yang harus dipelajari adalah bagaimana penanaman moral pada murid sejak dini.
4. Penelitian Tindakan Kelas
PTK berkembang dari penelitian tindakan (action recearch) yang dapat diartikan sebagai suatu bentuk penelitian reflektif dan kolektif yang dilakukan oleh peneliti dalam situasi sosial untuk meningkatkan penalaran praktik sosial mereka. Arti penelitian tindakan kelas (PTK) itu sendiri adalah penelitian yang dilakukan oleh guru di dalam kelasnya sendiri melalui refleksi diri dengan tujuan untuk memperbaiki kinerjanya sebagai guru sehingga hasil belajar murid meningkat (Wardhani, 2007:14)
5. Hasil Belajar
Hasil belajar merupakan perubahan perilaku yang diperoleh murid setelah mengalami aktivitas belajar (Anni, 2004:4). Hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki murid setelah ia menerima pengalaman belajarnya. (Satmoko, 2000).
Belajar merupakan proses aktif dari murid dalam membangun pengetahuan, bukan hanya proses pasif yang hanya menerima kucuran ceramah guru tentang pengetahuan. Sehingga jika pembelajaran tersebut tidak memberikan kesempatan pada murid untuk berperan aktif, maka pembelajaran tersebut bertentangan dengan hakikat belajar. Peran murid sangat penting dalam rangka pembentukan generasi yang kreatif, yang mampu menghasilkan sesuatu untuk kepentingan dirinya dan orang lain.
Ketrampilan memproses hasil belajar berupa konsep dan fakta yang sudah diperoleh itu, untuk mengembangkan diri, untuk menemukan sesuatu yang baru sangat penting. Dengan konsep dan fakta yang tidak banyak tetapi dipahami betul, dapat diproses untuk menguasai dan atau menemukan fakta dan konsep yang lebih banyak.
6. Reciprocal Teaching
Reciprocal teaching adalah pendekatan yang berdasar pada prinsip- prinsip pembuatan/pengajuan pertanyaan, dimana keterampilan-keterampilan metakognitif (merangkum, meringkas, mengklarifikasi dan memprediksi) diajarkan melalui pengajaran langsung dan pemodelan oleh guru untuk penampilan murid terhadap materi pelajaran. Nur dan Wikandari (2000)
Dalam reciprocal teaching, mula-mula guru memberikan model-model pertanyaan sedangkan murid diminta untuk membaca teks bacaan materi kemudian murid ditetapkan seolah-olah menjadi guru (murid-guru) untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan pada murid yang lain. Guru memberi model perilaku yang diinginkan pada muridnya untuk mampu bekerja sendiri dan mengubah peranan sebagai fasilitator serta mengatur murid mulai membuat pertanyaan-pertanyaan yang aktual.
Prinsip reciprocal teaching melalui beberapa tahap yaitu perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi. Secara lebih rinci, bagaimana melaksanakan reciprocal teaching dapat diuraikan berikut ini:
a. Pengenalan Reciprocal Teaching
Pada fase ini, guru memperkenalkan reciprocal teaching pada murid, dengan memulai cara sebagai berikut:
1) Untuk memikirkan pertanyaan-pertanyaan yang mungkin muncul tentang hal apa yang kamu baca dan untuk meyakinkan bahwa kamu dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan itu.
2) Untuk merangkum informasi-informasi penting dari bacaan-bacaan yang telah kamu baca.
3) Untuk memprediksi apa yang dibahas oleh pengarang pada pokok bahasan berikutnya.
4) Untuk memberi tanda hal-hal yang tidak jelas dengan paragraf yang telah kamu baca. Nur dan Wikandari (2000)
Apabila dalam belajar melakukan empat langkah kegiatan, yaitu memikirkan pertanyaan-pertanyaan yang penting, merangkum, memprediksi, dan mengklarifikasi serta mengambil peran seolah-olah menjadi guru selama satu pertemuan kegiatan, maka pada dasarnya telah melakukan kegiatan belajar mengajar dangan pendekatan reciprocal teaching.
b. Prosedur Harian Reciprocal Teaching
Dalam tahap pelaksanaan reciprocal teaching melalui prosedur harian sebagai berikut:
1. Disediakan teks bacaan materi yang dapat diselesaikan kira-kira satu pertemuan.
2. Dijelaskan bahwa pada segmen pertama anda sebagai gurunya (model).
3. Murid diminta untuk membaca dalam hati seluruh teks bacaan dan untuk memudahkan murid diminta membaca paragraf demi paragraf.
4. Jika murid telah melaksanakan membaca, dilanjutkan dengan membuat berbagai model pertanyaan.
5. Murid dilatih berperan sebagai seorang guru melalui kegiatan pengenalan belajar mengajar dengan reciprocal teaching. Murid lain diminta untuk berpartisipasi dalam dialog dan selalu diingatkan bahwa pada segmen ini murid berperan sebagai guru sebenarnya menuntun dialog meyakinkan murid dengan banyak memberi umpan balik dan ujian untuk berpartisipasi.
6. Pada pertemuan berikutnya dicoba lebih banyak dialog, sehingga pada saat murid berperan sebagai guru sudah mulai berinisiatif pada kegiatan mereka sendiri. Nur dan Wikandari (2000).
7. Mata Pelajaran PKn
Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) termasuk pelajaran bidang ilmu pengetahuan sosial yang mempelajari teori-teori serta perihal sosial yang ada di sekitar lingkungan masyarakat kita.
Oleh karena itu dalam pembelajaran PKn perlu diberikan pengarahan, mereka harus terbiasa untuk mendengar ataupun menerapkan serta mencatat hal-hal yang berkaitan dengan ilmu PKn, salah satu keberhasilan pembelajaran adalah jika murid yang diajar merasa senang dan memerlukan materi ajar. Selain itu juga dengan diterapkannya pemberian tugas dengan bentuk portofolio akan dapat memberikan diskripsi baru mengenai pembelajaran PKn, dan hal tersebut juga sebagai penunjang agar murid tidak merasa kebosanan dalam mengikuti pembelajaran portofolio.
Faktor-faktor yang mempengaruhi pembelajaran PKn antara lain:
a. Guru
Seorang guru yang profesional dituntut untuk mempunyai kemampuan-kemampuan tertentu, Guru merupakan pribadi yang berkaitan erat dengan tindakannya di dalam kelas, cara berkomunikasi, berinteraksi dengan warga sekolah dan masyarakat umumnya.
Membicarakan masalah guru yang baik, (S. Nasution dalam Amin
Suyitno, 1997:25) mengemukakan sepuluh kriteria yang baik bagi seorang guru sebagai berikut :
1. Memahami dan menghormati murid.
2. Menguasai bahan pelajaran yang diberikan.
3. Penyesuaikan metode pengajaran dengan bahan pelajaran.
4. Penyesuaikan bahan pengajaran dengan kesanggupan individu 5. Mengaktifkan murid dalam belajar.
6. Memberikan pengetahuan sehingga terhindar dari sikap verbalisme.
7. Menghubungkan pelajaran dengan kebutuhan murid.
8. Mempunyai tujuan tertentu dengan tiap pelajaran yang diberikannya.
9. Tidak terikat oleh teks book.
10. Tidak hanya mengajar dalam arti menyampaikan pengetahuan saja kepada murid melainkan senantiasa membentuk pribadi anak.
b. Murid
Jika ditinjau dari murid maka banyak faktor-faktor yang perlu mendapat perhatian, lebih-lebih hubungannya dengan belajar PKn. PKn bagi murid pada umumnya merupakan pelajaran yang kurang disenangi karena kurangnya antusias murid terhadap pelajaran ini. Karena itu dalam interaksi belajar mengajar PKn seorang guru harus memperhatikan faktor- faktor yang menyangkut murid
1) Apakah murid cukup cerdas, cukup berbobot, dan siap belajar PKn?
2) Apakah murid berminat, tertarik dan mau belajar PKn?
3) Apakah murid senang dengan cara belajar yang kita berikan?
4) Apakah murid dapat menerima pelajaran dengan baik dan benar?
5) Apakah suasana interaksi belajar mengajar mendorong murid belajar?
Dengan faktor-faktor di atas guru dapat menentukan strategi pembelajaran yang seperti apa agar murid berhasil dalam belajar.
c. Sarana dan prasarana
Pembelajaran akan dapat berlangsung lebih baik jika sarana dan prasaranya menunjang. Sarana yang cukup lengkap seperti perpustakaan dengan buku-buku PKn yang relevan.
d. Strategi pembelajaran PKn disekolah
Strategi pembelajaran PKn adalah strategi pembelajaran yang aktif, Pembelajaran aktif ditandai oleh dua faktor sebagai berikut:
1) Adanya interaksi antara seluruh komponen dalam proses pembelajaran terutama antara guru dan murid
2) Berfungsi secara optimal seluruh murid yang meliputi indera, emosi, karsa, dan nalar.
Dalam pembelajaran murid aktif, metode-metode yang dianjurkan antara lain metode tanya jawab, diskusi, eksperimen, pemberian tugas, dan lain-lain. Pemilihan metode yang diterapkan tentu saja disesuaikan dengan mata pelajaran, tujuan pembelajaran, maupun sarana yang tersedia.
B. Kerangka Pikir
Kerangka berpikir bertujuan untuk memberikan gambaran tentang konsep dasar yang digunakan dalam penelitian ini sehingga dapat menunjukkan alur pikir secara tepat sekaligus mampu mengakomodasi semua permasalahan-permasalahan yang ada cara permasalahannya.
Permasalahan yang terjadi adalah rendahnya hasil belajar PKn murid kelas V SD Inpres Talaborong Kababupaten Gowa. Hasil belajar sangat dipengaruhi oleh penerapan apa yang dipakai dalam pembelajaran.
Penerapan pendekatan reciprocal teaching dalam pembelajaran dapat mengakibatkan hasil belajar murid kelas IV dapat meningkat, sehingga dapat meningkatkan prestasi belajar murid,maka kerangka berpikir dalam penelitian ini dapat digambarkan sebagai berikut :
Gambar 2.1. Kerangka pikir
1. Guru menggunakan metode ceramah sehingga guru yang aktif dan murid pasif.
2. Murid lebih banyak bermain dan bercengkerama dengan temannya 3. Motivasi belajar rendah
4. Nilai hasil belajar murid tidak mencapai standar nilai KKM
5.
Penerapan Pendekatan Reciprocal Teaching
Kondisi Akhir Hasil belajar meningkat sesuai dengan nilai KKM Tindakan
Kondisi Awal Murid Kelas V SD Inpres Talaborong
C. Hipotesis Tindakan
Dengan menerapkan pendekatan reciprocal teaching pada pembelajaran PKn, maka hasil belajar murid kelas V SD Inpres Talaborong Kabupaten Gowa dapat meningkat.
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas dengan fokus kajian peningkatan kemampuan membaca murid melalui pembelajaran dengan pendekatan reciprocal teaching.
Secara garis besar pelaksanaan penelitian ini dibagi dalam dua siklus dengan empat tahapan yaitu: a. Perencanaan tindakan b. Pelaksanaan tindakan c. Observasi dan evaluasi d. Analisis dan refleksi.
B. Lokasi dan Subjek Penelitian 1. Lokasi
Obervasi penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 16 Agustus 2014 samapai 16 september 2014. Penelitian ini berlokasi pada SD Inpres Talaborong Kabupaten Gowa.
2. Subjek
Subjek penelitian ini adalah murid kelas V yang berjumlah 32 orang yang terdiri dari 20 laki-laki dan 12 perempuan pada semester ganjil.
C. Faktor yang Diteliti
Adapun faktor-faktor yang diselidiki pada penelitian ini adalah:
1. Faktor proses, yaitu melihat bagaimana keaktifan murid dalam proses pembelajaran melalui penerapan pendekatan reciprocal teaching.
2. Faktor hasil, yaitu bagaimana ketuntasan belajar murid setelah melakukan proses pembelajaran dengan menggunakan pendekatan reciprocal teaching.
25
D. Prosedur Kerja Penelitian
Pelaksanaan penelititan tindakan kelas ini dirancang dalam dua siklus kegiatan, dengan perincian sebagai berikut:
1. Siklus I dilaksanakan selama 3 minggu ( sebanyak 3 kali pertemuan atau 6 jam pelajaran).
2. Siklus II dilaksanakan selama 3 minggu ( sebanyak 3 kali pertemuan atau 6 jam pelajaran).
Menurut Arikunto (2003) skematik kegiatan inti penelitian ini adalah:
Gambar 3.1. Skema kegiatan inti penelitian Perencanaan
SIKLUS I
Evaluasi
Pelaksanaan
Perencanaan Refleksi
SIKLUS II
Evaluasi
Pelaksanaan Refleksi
1. Gambaran Kegiatan pada Siklus I
Dalam siklus I hal-hal yang dilakukan adalah:
a. Tahap Perencanaan
Sebelum memulai kegiatan pada siklus I hal-hal yang pertama dilakukan adalah: Disediakan teks bacaan materi yang dapat diselesaikan kira-kira satu pertemuan.
b. Tahap Pelaksanaan Tindakan
Langkah-langkah yang diajukan dalam pelaksanaan tindakan adalah Dijelaskan bahwa pada sekmen pertama anda sebagai gurunya (Model), Murid diminta untuk membaca dalam hati seluruh teks bacaan dan untuk memudahkan murid diminta membaca paragraf demi paragraph,
c. Tahap Observasi dan Evaluasi
Observasi dilakukan dengan cara mengidentifikasi keadaan murid selama proses belajar mengajar berlangsung dan mencatat pada lembar observasi. Hal-hal yang dicatat adalah sebagai berikut:
1. Jika murid telah melaksanakan membaca, dilanjutkan dengan membuat berbagai model pertanyaan.
2. Murid dilatih berperan sebagai seorang guru melalui kegiatan pengenalan belajar mengajar dengan reciprocal teaching. Murid lain diminta untuk berpartisipasi dalam dialog dan selalu diingatkan bahwa pada segmen ini
murid berperan sebagai guru sebenarnya menuntun dialog meyakinkan murid dengan banyak memberi umpan balik dan ujian untuk berpartisipasi.
3. Pada pertemuan berikutnya dicoba lebih banyak dialog, sehingga pada saat murid berperan sebagai guru sudah mulai berinisiatif pada kegiatan mereka sendiri.
4. Murid yang bertanya pada saat pembelajaran berlangsung.
5. Murid yang mengerjakan soal.
Sedangkan informasi data yang diperoleh pada akhir siklus dengan memberikan tes bentuk uraian.
d. Tahap Refleksi
Hasil yang didapatkan dalam tahap observasi dikumpulkan dan dianalisis pada tahap ini. Demikian pula hasil evaluasi, hal-hal yang masih perlu diperbaiki dan dikembangkan dengan tetap mempertahankan hasil yang diperoleh pada setiap pertemuan.
Hasil analisis siklus I yang dijadikan acuan untuk merencanakan siklus II, sehingga yang dicapai pada siklus berikutnya sesuai yang diharapkan.
2. Gambaran Kegiatan pada Siklus II
Pelaksanaan kegiatan siklus II ini relatif sama dengan pelaksanaan kegiatan siklus I. Namun dalam pelaksanaan ini dilakukan perbaikan- perbaikan dari siklus I sehingga aktivitas murid dalam belajar lebih meningkat. Adapun langkah-langkah pelaksanaan kegiatan siklus II, yaitu:’
a. Tahap Perencanaan
Pada tahap ini, dirumuskan perencanaan siklus II sesuai pelaksanaan siklus I dengan menambahkan atau mengurangi bagian-bagian yang dianggap perlu berdasarkan hasil refleksi pada siklus I. Selain menelaah kurikulum untuk materi pada siklus II penulis juga tetap mempelajari materi dan berbagai sumber baik dari buku paket maupun dari buku penunjang yang lainnya.
b. Tahap Pelaksanaan Tindakan
Langkah-langkah yang dilakukan pada pelaksanaan tindakan ini merupakan penambahan kegiatan pembelajaran pada siklus I, yang diharapkan dapat memperbaiki kekurangan yang terdapat pada siklus sebelumnya. Seperti lebih banyak memberikan penyajian materi melalui pendekatan reciprocal teaching yaitu memberikan contoh-contoh yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari, yang pembahasan soal murid lebih banyak diaktifkan. Dalam penyajian bahan pelajaran, selalu diupayakan setiap langkah pendekatan dimulai dari yang sederhana hingga tahap akhir.
Setelah penyajian materi murid diberi kesempatan untuk bertanya tentang hal-hal yang belum dimengerti. Kemudian murid diberikan soal-soal untuk dikerjakan.
c. Tahap Observasi dan Evaluasi
Observasi yang dilkukan pada dasarnya sama dengan siklus I yaitu dengan cara mengidentifikasi keadaan murid selama proses belajar mengajar berlangsung dan mencatat pada lembar observasi. Sedangkan
informasi diperoleh pada akhir siklus dengan memberikan tes dengan bentuk uraian.
d. Tahap Refleksi
Pada tahap refleksi umumnya sama dengan yang dilakukan pada siklus I, data yang diperoleh pada tahap observasi selanjutnya dianalisis kemudian dilakukan refleksi terhadap kegiatan yang telah dilakukan.
E. Teknik Pengumpulan Data
1. Jenis data: Jenis data yang diperoleh adalah kuantitatif dan kualitatif yang a. Hasil belajar sebagai data kuantitatif
b. Hasil observasi sebagai data kualitatif
2. Adapun teknik pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
a. Data tentang ketuntasan belajar PKn murid diperoleh dari tes hasil belajar PKn yang dilakukan pada setiap akhir siklus.
b. Data mengenai keaktifan murid diperoleh dari observasi selama kegiatan belajar mengajar berlangsung.
F. Teknik Analisis Data
Dalam penelitian, analisis data dilakukan selama dan setelah penelitian pada saat refleksi dari setiap tindakan pembelajaran. Data yang dikumpulkan pada setiap kegiatan observasi dari pelaksanaan siklus penelitian dianalisis secara kuantitatif digunakan statistik diskriptif untuk mendeskripsikan karakteristik responden. Untuk analisis kualitatif digunakan kategorisasi.
Kriteria digunakan untuk menentukan kategori skor penguasaan mata pelajaran PKn adalah sangat tinggi (90–100), Tinggi (79–89), sedang (68–78), Rendah (57-67), Sangat Rendah ( < 56).
G. Indikator Keberhasilan
Indikator keberhasilan dalam penelitian ini ada dua macam, yaitu:
1. Indikator keberhasilan yang berkaitan dengan peningkatan hasil belajar PKn murid minimal 75% murid telah memperoleh nilai minimal 70.
2. Indikator keberhasilan yang berkaitan dengan proses pelaksanaan pembelajaran yaitu minimal 75% skenario pembelajaran yang dibuat telah dilaksanakan dengan benar.
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A.Penyajian Data Proses dan Hasil Penelitian Siklus I dan II 1. Deskripsi Penelitian
SD Inpres Talaborong Kecamatan Bajeng Barat Kabupaten Gowa terdiri dari 6 ruangan kelas dan peneliti akan melaksanakan penelitian di kelas V yang jumlah muridnya sebanyak 32 murid, terdiri dari 20 orang murid laki-laki dan 12 orang murid perempuan.
Sebelum mengadakan penelitian peneliti terlebih dahulu mengadakan konsultasi dengan Kepala Sekolah SD Inpres Talaborong dalam hal pelaksanaan penelitian. setelah itu peneliti melakukan diskusi dengan pihak guru kelas V untuk mendapatkan gambaran bagaimana pelaksanaan pembelajaran PKn melalui penerapan pendekatan reciprocal teaching. Dalam pertemuan tersebut peneliti dan guru kelas V sepakat untuk melakukan tindakan siklus I pada hari selasa tanggal 18 Agustus 2014. Selain itu peneliti juga mengadakan observasi awal terhadap pelaksanaan pembelajaran PKn melalui penerapan pendekatan reciprocal teaching di kelas agar dapat memahami karakteristik pembelajaran serta gambaran pelaksanaan pembelajaran melalui penerapan pendekatan reciprocal teaching . Sebagai langkah awal yang akan digunakan dalam pelaksanaan tindakan.
32
2. Data Proses Dan Hasil Penelitian Siklus I dan II a. Perencanaan Siklus I
Setelah ditetapkan oleh peneliti dan guru kelas V bahwa solusi dari masalah yang dihadapi oleh kelas V SD Inpres Talaborong dalam pembelajaran PKn adalah dengan menerapkan pendekatan reciprocal teaching, maka kegiatan selanjutnya adalah menyiapkan semua hal yang diperlukan dalam pembelajaran PKn dengan menggunakan pendekatan reciprocal teaching. Setelah berkonsultasi dengan dosen pembimbing, kepala Sekolah SD Inpres Talaborong, guru kelas V serta teman sejawat, maka peneliti melakukan hal-hal sebagai berikut:
1) Membuat rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) sesuai dengan langkah-langkah dalam pendekatan reciprocal teaching untuk tindakan siklus I.
2) Membuat lembar kerja murid (LKS) dalam melakukan pengamatan terhadap materi yang dipilih.
3) Membuat lembar observasi terhadap peneliti dan murid selama pelaksanaan proses pembelajaran di kelas.
4) Menyiapkan perangkat pembelajaran yang diperlukan dan berguna untuk memudahkan murid memahami materi yang diajarkan.
5) Membuat alat evaluasi untuk tes tindakan siklus I.
b. Pelaksanaan Tindakan Siklus I
Pelaksanaan pembelajaran pada siklus I dilaksanakan pada hari Selasa tanggal 18 Agustus 2014. Dengan tema “Negara Kesatuan Republik Indonesia”.
Tema tersebut diambil dari buku paket bahasa PKn membuatku cerdas untuk SD kelas V Semester I, yang sesuai dengan Kurikulum 2013 dengan alokasi waktu 2 x 35 Menit (70 Menit).
Adapun tahap kegiatan belajar mengajar yang dilakukan guru adalah sebagai berikut:
1) Tahap persiapan pembelajaran PKn dengan menggunakan pendekatan reciprocal teaching yaitu: menyiapkan sarana pembelajaran, mengucapkan salam kepada murid, menata tempat duduk, mendata kehadiran murid, berdoa bersama agar pelaksanaan pembelajaran berlangsung dengan lancar., menyampaikan apersepsi, menyampaikan tujuan pembelajaran. Dan menjelaskan langkah-langkah pembelajaran dengan menggunakan pendekatan reciprocal teaching. Dalam proses pembelajaran siklus I murid yang hadir sebanyak 28 orang dan 4 orang alfa.
2) Tahap pelaksanaan pembelajaran PKn dengan menggunakan pendekatan reciprocal teaching yaitu:
a. Memotivasi murid terhadap materi pelajaran
Pada tahap ini guru melakukan apersepsi untuk memotivasi dan meningkatkan konsentrasi murid. Agar saat membaca perhatian difokuskan pada bahan bacaan maka gagasan dan gambaran tentang isi bacaan akan nampak jelas dan mudah dipahami.
b. Teks bacaan dibagikan kepada tiap murid
Pada tahap ini guru membagikan teks bacaan kepada tiap murid, setelah dibagikan murid diharapkan untuk membaca secara cermat untuk memahami isi bacaan atau beberapa informasi yang tersurat maupun tersirat dalam teks bacaan dengan waktu seefisien mungkin.
Setelah semua tahap usai dilakukan guru mengevaluasi proses pembelajaran. serta mengamati keantusiasan murid selama proses pembelajaran PKn dengan memberikan tes formatif kepada murid dalam bentuk esai tes sebanyak lima nomor. Dengan deskripsi penilaian untuk soal nomor 1- 5 jika jawaban tepat bobotnya 20.
3) Tahap akhir pembelajaran PKn hal yang di lakukan guru adalah sebagai berikut :
(a) Guru merefleksi proses pembelajaran yang telah dilakukan, menemukan kendala-kendala yang dihadapi selama pembelajaran dan menemukan solusinya,
(b) Guru membimbing murid untuk menyimpulkan materi pelajaran yang diajarkan, dan
(c) Guru memotivasi murid agar giat belajar membaca di rumah serta (memberikan tugas rumah).
c. Observasi dan Evaluasi
Hal-hal yang diobservasi dalam pelaksanaan tindakan pada siklus I adalah melihat apakah pelaksanaan pembelajaran PKn melalui pendekatan
reciprocal teaching ini sudah sesuai dengan skenario pembelajaran yang telah dibuat serta melihat aktivitas peneliti dan murid dalam proses pembelajaran.
1. Pembahasan Siklus I
Berdasarkan hasil tes yang telah dilaksanakan pada siklus I,maka skor tes hasil belajar pada murid kelas V SD Inpres Talaborong setelah diterapkan model pembelajaran reciprocal theaching dalam pembelajaran PKn adalah sebagai berikut:
Tabel 2: Statistik Skor Hasil Belajar pada Siklus I
Statistik Nilai Statistik
Jumlah Murid 32
Skor Ideal 100
Nilai Tertinggi 80
Nilai Terendah 50
Rentang Skor 30
Skor rata-rata 63
Berdasarkan table 2 di atas dapat dilihat bahwa skor rata-rata hasil tes siklus I kelas V SD Inpres Talaborong melalui penerapan pendekatan reciprocal teaching adalah 63%. Skor yang dicapai responden tersebut dengan skor tertinggi adalah 80 dan skor terendah 50 dan skor tertinggi yang mungkin dicapai adalah 100 dan skor terendah adalah 0. Ini menunjukkan bahwa tingkat kemampuan murid bervariasi.
JIka hasil tes murid dikelompokkan ke dalam skala lima kategori, maka diperoleh distribusi frekuensi dan prasentase sebagai berikut:
Tabel 3. Distribusi frekuensi skor dan persentase hasil belajar pada siklus I
No Skor Kategori Frekuensi Presentase (%)
1. 90 – 100 Sangat Tinggi 0 0,00 %
2. 79 – 89 Tinggi 3 9,38 %
3. 68 – 78 Sedang 11 34,37 %
4. 57 – 67 Rendah 10 31,25 %
5. < 56 Sangat Rendah 8 25,00 %
Sumber: Diolah dari hasil instrumen soal siklus I dan standar kategori tingkat pemahaman pembelajaran.
Tabel 3 di atas menunjukkan bahwa presentase hasil belajar PKn dari 32 murid kelas V SD Inpres Talaborong, setelah dilaksanakan pembelajaran dengan menggunakan penerapan pendekatan reciprocal teaching , 8 murid (25,00%) yang berada pada kategori sangat renda , 10 murid (31,25 %) yang berada pada kategori rendah, 11 murid (34,37 %) yang berada pada kategori sedang, 3 murid (9,38 %) yang berada pada kategori tinggi, dan tidak ada murid (0,00 %) yang berada pada kategori sangat tinggi.
Kemudian untuk melihat persentase ketuntasan belajar murid setelah tindakan pembelajaran pada siklus I dapat dilihat pada tabel berikut ini:
Tabel 4. deskripsi ketuntasan murid pada siklus I
Skor Kategori Frekuensi Persentase
0 – 67 68 – 100
Tidak Tuntas Tuntas
18 14
56,25 % 43,75 %
Jumlah 32 100
Berdasarkan tabeldi atas tampak bahwa dari 32 murid kelasV SD Inpres Talaborong terdapat 18 murid (56,25 %) yang belum tuntas belajar dan 14 murid (43,75%) yang telah tuntas belajar, ini berarti ketuntasan klasikal belum tercapai.
Data aktifitas murid pada siklus I diperoleh melalui hasil pengamatan aktifitas dan sikap murid selama proses pembelajaran disetiap pertemuan. Adapun deskripsi aktifitas murid pada siklus I dapat dilihat pada tabel 5 berikut:
Tabel 5: Lembar observasi aktivitas murid Siklus I
No Komponen yang diamati
Pertemuan Presentase (%)
pertemuan Rata-rata presentase
I II III I II III
1. Jumlah murid yang aktif pada saat kegiatan
pembelajaran
28 27 32 87,50 84,37 100 90,63
2. Murid yang
merperhatikan temannya pada saat
24 24 28 75,00 75,00 87,50 79,16
menjelaskan bacaan teks.
3. Murid yang pandai menjelaskan
12 15 19 37,50 46,87 59,37 47,92
4. Murid yang masih perlu bimbingan oleh guru
8 8 8 25,00 25,00 25,00 25,00
5. Murid yang kurang terampil dalam menjelaskan
8 8 4 25,00 25,00 12,50 20,83
6. Murid yang aktif dalam mengajukan pertanyaan
20 19 24 62,50 59,37 75,00 65,62
7. Murid yang tidak aktif bertanya
12 13 8 37,50 40,62 25,00 34,37
Berdasarkan tabel di atas, diperoleh data dari empat kali pertemuan pada siklus I, untuk pertemuan pertama yang aktif sebanyak 28 orang murid atau 87,50%, pertemuan kedua sebanyak 27 orang murid atau 87,37%, pertemuan ketiga sebanyak 32 orang murid atau 100%, pada pertemuan keempat saat tes untuk siklus I dilaksanakan murid yang aktif sebanyak 32 orang murid atau 100%. Untuk kriteria murid yang memperhatikan temannya pada saat menjelaskan bacaan teks pada
pertemuan pertama dan kedua sebanyak 24 orang murid atau 75%, pertemuan ketiga sebanyak 28 orang murid atau 87,50%, dan pertemuan keempat saat pelakanaan tes. Murid yang pandai menjelaskan tek baacaan pada pertemuan pertama 12 orang murid atau 37,50%, pertemuan kedua 15 orang atau 46,87%, pertemuan ketiga 19 orang murid atau 59,37%, dan pertemuan keempat adalah pelaksanaan tes. Murid yang masih perlu bimbingan pada pertemuan pertama, dua dan tiga ebanyak 8 orang murid atau 25%. Murid yang masih kurang terampil dalam menjelakan pada pertemuan pertama dan kedua sebanyak 8 orang murid atau 25%, pertemuan ktiga 4 orang atau 12,50%. Murid yang aktif dalam mengajukan pertanyaan pertemuan pertama sebanyak 20 orang murid atau 62,50%, pertemuan kedua 19 orang atau 59,37%, pertemuan ketiga sebanyak 24 orang atau 75%. Sedangkan murid yang tidak aktif bertanya pada pertemuan pertama sebanyak 12 oarang atau 37,50%, pertemuan kedua sebanyak 13 orang murid atau 40,62%, pertemuan ketiga sebanyak 8 orang murid atau 25%.
c. Pelaksanaan Tindakan Siklus II
Pelaksanaan tindakan siklus II dilaksanakan pada hari Selasa tanggal 1 September 2014. Adapun kegiatan guru dalam melaksanakan tindakan pembelajaran PKn melalui penerapan pendekatan reciprocal teaching yaitu sebagai berikut:
1).Tahap persiapan pembelajaran PKn murid melalui penerapan pendekatan reciprocal teaching yaitu: : memberi salam, melakukan persiapan kegiatan belajar mengajar, melakukan pengelolaan kelas, berdoa bersama, mendata kehadiran murid serta melakukan apersepsi, menyampaikan tujuan pembelajaran, memotivasi murid agar semangat dan serius dalam belajar, dan menjelaskan langkah-langkah pembelajaran.
2).Tahap pelaksanaan pembelajaran PKn dengan menggunakan pendekatan reciprocal teaching yaitu:
a. Memotivasi murid terhadap materi pelajaran
Pada tahap ini guru melakukan apersepsi untuk memotivasi dan meningkatkan konsentrasi murid. Agar saat membaca perhatian difokuskan pada bahan bacaan maka gagasan dan gambaran tentang isi bacaan akan nampak jelas dan mudah dipahami.
b.Teks bacaan dibagikan kepada tiap murid
Pada tahap ini guru membagikan teks bacaan kepada tiap murid, setelah dibagikan murid diharapkan untuk membaca secara cermat untuk memahami isi bacaan atau beberapa informasi dalam teks bacaan dengan waktu seefisien mungkin.
Setelah semua tahap usai dilakukan guru mengevaluasi proses pembelajaran. serta mengamati keantusiasan murid selama proses pembelajaran PKn dengan memberikan tes formatif kepada murid dalam bentuk esai tes sebanyak lima nomor. Dengan deskripsi penilaian untuk soal nomor 1- 5 jika jawaban tepat bobotnya 20.
3) Tahap akhir pembelajaran PKn hal yang di lakukan guru adalah sebagai berikut :
(a) Guru merefleksi proses pembelajaran yang telah dilakukan, menemukan kendala-kendala yang dihadapi selama pembelajaran dan menemukan solusinya,
(b) Guru membimbing murid untuk menyimpulkan materi pelajaran yang diajarkan, dan
(c) Guru memotivasi murid agar giat belajar membaca di rumah serta (memberikan tugas rumah).
d. Observasi dan evaluasi
Pada pelaksanaan tindakan pada siklus II secara umum hasil observasi dan evaluasi terjadi peningkatan dibandingkan dengan siklus I. Hal ini terlihat pada hasil observasi peneliti dan murid.
a. Pembahasan Siklus II
Berdasarkan hasil tes yang telah dilaksanakan pada siklus II,maka skor tes hasil belajar pada murid kelas V SD Inpres Talaborong setelah diterapkan model pembelajaran reciprocal theaching dalam pembelajaran PKn adalah sebagai berikut:
Tabel 6: Statistik Skor Hasil Belajar pada Siklus II
Statistik Nilai Statistik
Jumlah Murid 32
Skor Ideal 100
Nilai Tertinggi 90
Nilai Terendah 50
Rentang Skor 40
Skor rata-rata 70
Berdasarkan table 6 di atas dapat dilihat bahwa skor rata-rata hasil tes siklus I kelas V SD Inpres Talaborong melalui penerapan pendekatan reciprocal teaching adalah 70%. Skor yang dicapai responden tersebut dengan skor tertinggi adalah 90 dan skor terendah 50 dan skor tertinggi yang mungkin dicapai adalah 100 dan skor terendah adalah 0. Ini menunjukkan bahwa tingkat kemampuan murid bervariasi.
JIka hasil tes murid dikelompokkan ke dalam skala lima kategori, maka diperoleh distribusi frekuensi dan prasentase sebagai berikut:
Tabel 7. Distribusi frekuensi skor dan persentase hasil belajar pada siklus II
No Skor Kategori Frekuensi Presentase (%)
1. 90 – 100 Sangat Tinggi 1 3,13 %
2. 79 – 89 Tinggi 7 21,87 %
3. 68 – 78 Sedang 15 46,87 %
4. 57 – 67 Rendah 6 18,75 %
5. < 56 Sangat Rendah 3 9,38 %
Sumber: Diolah dari hasil instrumen soal siklus II dan standar kategori tingkat pemahaman pembelajaran.
Tabel 7 di atas menunjukkan bahwa presentase hasil belajar PKn dari 32 murid kelas V SD Inpres Talaborong, setelah dilaksanakan pembelajaran dengan menggunakan penerapan pendekatan reciprocal teaching , 3 murid (9,38 %) yang berada pada kategori sangat renda , 6 murid (18,75 %) yang berada pada kategori rendah, 15 murid (46,87 %) yang berada pada kategori sedang, 7 murid (21,87 %) yang berada pada kategori tinggi, dan 1 murid (3,13 %) yang berada pada kategori sangat tinggi.
Kemudian untuk melihat persentase ketuntasan belajar murid setelah tindakan pembelajaran pada siklus II dapat dilihat pada tabel berikut ini:
Tabel 8. deskripsi ketuntasan murid pada siklus II
Skor Kategori Frekuensi Persentase
0 – 67 68 – 100
Tidak Tuntas Tuntas
9 23
28,13 % 71,87 %
Jumlah 32 100
Berdasarkan tabel di atas tampak bahwa dari 32 murid kelasV SD Inpres Talaborong terdapat 9 murid (28,13 %) yang belum tuntas belajar dan 23 murid (71,87%) yang telah tuntas belajar, ini berarti ketuntasan klasikal belum tercapai.
Data aktifitas murid pada siklus II diperoleh melalui hasil pengamatan aktifitas dan sikap murid selama proses pembelajaran disetiap pertemuan. Adapun deskripsi aktifitas murid pada siklus II dapat dilihat pada tabel 5 berikut: