• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II MODEL PEMBELAJARAN NOVICK DAN HASIL BELAJAR

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB II MODEL PEMBELAJARAN NOVICK DAN HASIL BELAJAR"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

11

BAB II

MODEL PEMBELAJARAN NOVICK

DAN HASIL BELAJAR

A. Model Pembelajaran Novick

Model Pembelajaran Novick merupakan salah satu model pembelajaran

yang merujuk pandangan konstruktivisme. Gagasan utama dari model ini adalah

proses dari perubahan konseptual dari pengetahuan awal siswa pada proses

pembelajaran. Proses perubahan konseptual ini terjadi melalui akomodasi

kognitif. Untuk menciptakan proses akomodasi kognitif tersebut, Novick (Natsir,

1997) mengusulkan tiga fase pembelajaran sebagai berikut :

1. Fase pertama, Exposing alternative framework (mengungkap konsepsi awal

siswa).

2. Fase kedua, Creating conceptual conflict (menciptakan konflik konseptual).

3. Fase ketiga, Encouraging cognitive accommodation (mengupayakan

terjadinya akomodasi kognitif).

Tiap-tiap fase dengan jelas menginstruksikan apa yang harus dilakukan,

baik yang dilakukan oleh guru maupun yang dilakukan siswa ketika pembelajaran

berlangsung. Untuk lebih jelas dalam memahami fase-fase pembelajaran yang

(2)

1. Fase Exposing alternative framework (mengungkap konsepsi awal siswa) Konsepsi awal dalam pembelajaran terutama dalam pembelajaran fisika

merupakan hal yang sangat penting karena membantu siswa dalam proses

pembelajaran selanjutnya. Konsepsi awal siswa yaitu cara menerima atau

mengemukakan sebuah pendapat yang bersifat subyektif. Konsepsi awal siswa

dapat dibagi menjadi dua yaitu konsepsi awal yang bersifat ilmiah dan konsepsi

awal yang bersifat tidak ilmiah. Tujuan dari mengungkap konsepsi awal siswa

adalah supaya terjadi perubahan konseptual dimana konsepsi yang bersifat tidak

ilmiah dapat berubah menjadi ilmiah.

Untuk mengungkap konsepsi awal siswa dalam pembelajaran dapat

dilakukan kegiatan berikut yaitu menghadirkan suatu peristiwa lalu meminta

siswa mendeskripsikan konsepsi awalnya. Sedangkan untuk mengevaluasi

konsepsi awal dilakukan pada saat refleksi setelah fase ketiga dilakukan. Untuk

lebih jelasnya langkah-langkah dalam pembelajaran untuk mengungkap konsepsi

awal siswa, dapat dilihat pada poin-poin berikut dibawah ini :

a. Menghadirkan suatu peristiwa

Menghadirkan peristiwa fisika dalam pembelajaran dapat berupa model

atau kejadian sebenarnya. Selanjutnya siswa diminta pendapatnya untuk menelaah

peristiwa tersebut. Proses menelaah adalah keadaan dimana para siswa

menggunakan konsepsi yang telah ada dalam pemikirannya untuk menjelaskan

peristiwa yang disajikan. Keadaan yang terjadi adalah peristiwa tersebut pernah

(3)

Pada keadaan dimana siswa tidak tahu keadaan tersebut, guru dapat

meminta siswa meramalkan apa yang terjadi dengan peristiwa yang disajikan dan

meminta penjelasan hal yang mendasari ramalan para siswa. Sedangkan apabila

siswa mengetahui peristiwa tersebut, guru hanya meminta siswa menjelaskan

tentang peristiwa yang disajikan.

b. Meminta siswa mendeskripsikan konsepsi awal

Guru dapat meminta siswa mendeskripsikan pendapatnya melalui

berbagai cara dan berbagai aktivitas. Cara-caranya antara lain siswa dapat

menuliskan uraian, menggambar ilustrasi, menciptakan model, menggambarkan

peta konsep, dll. Tujuannya membantu siswa mengetahui sejauh mana

pemahaman dan konsepsi awal mereka tentang pokok bahasan yang akan

dipelajari. Apabila konsepsi awal siswa telah diketahui, maka guru dengan mudah

melakukan langkah selanjutnya dalam pembelajaran.

2. Fase Creating conceptual conflict (menciptakan konflik konseptual)

Pada fase ini guru diharapkan menciptakan konflik konseptual atau

konflik kognitif dalam pemikiran siswa. Tahapan menciptakan konflik sangat

penting dalam pembelajaran karena dapat membuat siswa lebih tertantang dan

termotivasi untuk belajar. Dengan kata lain menciptakan konflik konseptual

membuat siswa menjadi merasa tidak puas terhadap kenyataan yang dihadapi.

Menghadirkan konflik konseptual atau konflik kognitif dalam

pembelajaran dapat dilakukan oleh guru dengan cara sebagai berikut :

a. Mengajak siswa berdiskusi baik dalam kelompok kecil maupun kelompok

(4)

b. Memberikan kegiatan kepada siswa (misalnya melakukan eksperimen).

Setelah diadakannya konflik kognitif pada pembelajaran diharapkan

konsep yang dikuasai siswa perlahan-lahan menuju arah ilmiah. Peran guru

dalam fase pembelajaran ini adalah sebagai berikut :

a. Membantu siswa mendeskripsikan ide-idenya.

b. Membantu siswa menjelaskan ide-idenya kepada siswa yang lain yang terlibat

dalam diskusi.

c. Membimbing siswa melakukan percobaan dan mengarahkan interpretasi siswa

terhadap pengamatan yang telah mereka lakukan.

3. Fase Encouraging cognitive accommodation (mengupayakan terjadinya akomodasi kognitif)

Dalam menghadapi rangsangan atau pengalaman baru seseorang tidak

dapat mengasimilasikan pengalaman yang baru dengan intelegensi yang telah

dipunyai. Pengalaman yang baru itu bisa jadi sama sekali tidak cocok dengan

skema yang telah ada. Dalam keadaan demikian orang akan mengadakan

akomodasi. Akomodasi terjadi untuk membentuk skema baru yang cocok dengan

rangsangan yang baru atau memodifikasi skema yang telah ada sehingga cocok

dengan rangsangan itu. Menurut Piaget (Dahar, 1996:151) adaptasi merupakan

suatu kesetimbangan antara asimilasi dan akomodasi. Bila dalam proses asimilasi

seseorang tidak dapat mengadakan adaptasi terhadap lingkungannya maka

terjadilah ketidakseimbangan (disequilibrium).

Akibat ketidakseimbangan itu maka terjadilah akomodasi dan struktur

(5)

Pertumbuhan intelektual ini merupakan proses terus menerus tentang keadaan

ketidakseimbangan dan keadaan setimbang (disequilibrium-equilibrium). Tetapi bila terjadi kesetimbangan maka individu akan berada pada tingkat yang lebih

tinggi daripada sebelumnya.

Mendorong terjadinya akomodasi dalam struktur kognitif siswa dalam

pembelajaran perlu dilakukan agar fikiran mereka kembali ke kondisi equilibrium.

Hal ini dapat dilakukan oleh guru dengan cara menyediakan suatu pengalaman

belajar misalnya percobaan yang lebih meyakinkan mereka bahwa konsepsinya

kurang tepat. Untuk sampai pada tahap meyakinkan siswa, guru perlu

menggunakan pertanyaan yang sifatnya menggali konsepsi siswa misalnya : Apa

yang Anda maksud dengan …, mengapa … bisa terjadi, Bagaimana hasilnya jika

… , dsb.

Dengan akomodasi, siswa mengubah konsep yang tidak cocok lagi

dengan fenomena baru yang ia hadapi. Strike dan Posner (Komala, 2008)

menyatakan bahwa syarat terjadinya akomodasi, adalah sebagai berikut:

a. Harus ada ketidakpuasan (dissatisfaction) terhadap konsepsi lama yang telah

ada dalam struktur kognitif

b. Ada konsepsi baru yang lebih bisa dimengerti (intelligible)

c. Ada konsepsi baru yang lebih masuk akal (plausible)

(6)

B. Belajar dan Hasil Belajar

Gagne mengemukakan (Dahar, 1996) belajar dapat didefinisikan sebagai

suatu proses di mana suatu organisma berubah perilakunya sebagai akibat dari

pengalaman. Perilaku yang dimaksud adalah kemampuan pengetahuan, perilaku

sikap, dan kemampuan keterampilan. Pernyataan Gagne diperkuat oleh Makmun

(2002:157) belajar selalu menunjukkan kepada suatu proses perubahan perilaku

atau pribadi seseorang berdasarkan praktik atau pengalaman tertentu. Lebih jauh

lagi Makmun (2002:158) mengutarakan beberapa ciri perubahan yang merupakan

perilaku belajar, yaitu :

1. Perubahan bersifat intensional, dalam arti bahwa perubahan perilaku yang

terjadi merupakan hasil dari pengalaman, praktik atau latihan dalam belajar

yang dilakukan dengan sengaja dan disadari.

2. Perubahan bersifat positif, dalam arti bahwa perubahan perilaku yang terjadi

sesuai dengan yang diharapkan (normatif).

3. Perubahan bersifat efektif, dalam arti bahwa perubahan perilaku yang terjadi

membawa pengaruh dan makna tertentu bagi siswa.

Makmun (2002:159) mengemukakan bahwa yang dimaksud perubahan

dalam konteks belajar bersifat fungsional atau structural, material dan behavioral,

serta keseluruhan pribadi (gestalt atau sekurang-kurangnya multidimensional).

Berikut penjelasannya mengenai ketiga makna perubahan dalam konteks belajar

(7)

1. Belajar merupakan perubahan fungsional. Dalam konteks ini belajar

mengandung arti melatih daya (mengasah otak) agar menjadi tajam dan

berguna untuk memecahkan persoalan-persoalan.

2. Belajar merupakan perkayaan materi pengetahuan (material) dan atau

perkayaan pola-pola perilaku baru (behaviour). Dalam konteks ini belajar

diartikan sebagai suatu proses pengisian jiwa dengan pengetahuan dan

pengalaman yang sebanyak-banyaknya melalui hapalan (memorizing).

3. Belajar merupakan perubahan perilaku dan pribadi secara keseluruhan. Dalam

konteks ini belajar bukan hanya bersifat mekanis, melainkan perilaku

organisme sebagai totalitas yang memiliki tujuan (purposive).

Dari ketiga pandangan mengenai makna perubahan dalam konteks

belajar di atas, dapat disimpulkan bahwa dalam belajar bukan hanya pengetahuan

siswa saja yang mengalami perubahan, melainkan sikap dan kemampuan siswa

secara keseluruhan juga mengalami perubahan.

Selanjutnya perubahan dalam pengetahuan, sikap dan kemampuan

secara keseluruhan setelah pembelajaran dinamakan Hasil Belajar. Munaf

(2001:67) mengemukakan bahwa Hasil Belajar adalah kemampuan-kemampuan

yang dimiliki siswa setelah menerima pengalaman belajar.

Kemampuan-kemampuan yang dimaksud ini adalah yang dikemukakan oleh Bloom (Wilson,

2005) yaitu Hasil Belajar diklasifikasikan ke dalam tiga kategori. Tiga kategori ini

antara lain adalah domain kognitif (thinking), domain afektif (feeling), dan

(8)

1. Hasil Belajar Aspek Kemampuan Kognitif (Thinking)

Munaf (2001: 67) mengemukakan bahwa aspek kognitif meliputi

kemampuan menyatakan konsep atau prinsip yang telah dipelajari dan

kemampuan intelektual. Bloom (Wilson, 2005) membagi aspek kognitif ke dalam

enam tingkatan. Enam tingkatan tersebut adalah sebagai berikut :

a. Pengetahuan/ C1 (Knowledge)

Pengetahuan merupakan kemampuan mengingat atau mengambil materi

yang telah dipelajari sebelumnya. Jenjang ini adalah jenjang yang paling rendah

tapi menjadi prasyarat bagi tingkatan kognitif selanjutnya. Kata kerja operasional

yang biasa digunakan adalah menyebutkan, mendefinisikan.

b. Pemahaman/ C2 (Comprehension)

Pemahaman merupakan kemampuan untuk memahami atau membangun

makna dari materi yang telah dipelajari sebelumnya. Siswa dituntut untuk dapat

menafsirkan bagan, diagram atau grafik, meramalkan, mengungkap suatu konsep

atau prinsip dengan kata-kata sendiri. Kata kerja operasional yang biasa

digunakan adalah membedakan, menginterpretasi, menjelaskan.

c. Penerapan/ C3 (Application)

Penerapan merupakan kemampuan untuk menggunakan atau

menerapkan materi yang dipelajari dalam situasi yang baru dan konkrit. Kata

kerja operasional yang biasa digunakan adalah menerapkan, menghubungkan,

(9)

d. Analisis/ C4 (Analysis)

Analisis adalah kemampuan untuk menganalisa atau merinci konsep

menjadi susunan-susunan yang teratur serta memahami hubungan diantara satu

materi dengan materi yang lain. Kata kerja operasional yang biasa digunakan

adalah menganalisa, menemukan, membandingkan.

e. Sintesis/ C5 (Synthesis)

Sintesis merupakan kemampuan untuk menyatukan bagian-bagian

materi sehingga menjadi satu gabungan yang berpola dan berkaitan satu sama

lain. Contoh kemampuan sintesis adalah kemampuan merencanakan eksperimen.

Kata kerja operasional yang biasa digunakan adalah mensintesis,

menghubungkan, merumuskan, menyimpulkan.

f. Evaluasi/ C6 (Evaluation)

Evaluasi adalah kemampuan untuk menilai, memeriksa, dan bahkan

mengkritik sesuatu untuk tujuan tertentu. Kata kerja operasional yang biasa

digunakan adalah menilai, menentukan, memutuskan.

2. Hasil Belajar Aspek Kemampuan Afektif (Feeling)

Afektif berkaitan dengan sikap, sebagai hasilnya berupa perubahan

tingkah laku. Wilson (2005) juga mengatakan bahwa afektif juga berkaitan

dengan berkaitan dengan perasaan atau emosi. David Krathwohl (Wilson, 2005)

membagi afektif terdiri dari lima jenjang sebagai berikut :

1. Penerimaan (receiving)

Penerimaan mengacu pada sensitivitas siswa dengan adanya stimulus,

(10)

pembelajaran antara lain mendengarkan penjelasan guru, kesadaran, keinginan

untuk menerima stimulus, kontrol dan seleksi gejala atau rangsangan dari luar,

senang mengerjakan latihan soal.

2. Jawaban (responding)

Jawaban mengacu pada perhatian aktif siswa terhadap stimulus dan

motivasi untuk belajar, menyetujui, tanggapan bersedia dan perasaan puas.

Kegiatan dalam pembelajaran antara lain bertanya pada guru mengenai materi

yang belum jelas, siswa menjawab pertanyaan guru dan mau bekerja sama dalam

penyelidikan, menanggapi pendapat, menerima koreksi, melakukan introspeksi.

3. Penilaian (valuing)

Penilaian berhubungan dengan nilai dan kepercayaan terhadap gejala

atau stimulus tertentu. Kegiatan dalam pembelajaran antara lain menunjukkan rasa

tanggung jawab terhadap alat-alat laboratorium setelah dipakai, bersikap jujur

dalam kegiatan pembelajaran.

4. Organisasi (organization)

Organisasi berhubungan dengan konseptualisasi nilai-nilai menjadi satu

sistem nilai. Kegiatannya dalam pembelajaran antara lain misalnya dapat

membedakan dampak positif dan negatif terhadap situasi tertentu, menerima

kelebihan dan kekurangan pribadi, bertanggung jawab terhadap perilaku.

5. Karakteristik (characterization)

Karakteristik merupakan keterpaduan semua sistem nilai yang telah

dimiliki seseorang yang mempengaruhi pola kepribadian dan tingkah lakunya.

(11)

yang lebih autentik, rajin, tepat waktu, berdisiplin diri, objektif dalam

memecahkan masalah

3. Hasil Belajar Aspek Kemampuan Psikomotorik (Kinesthetic, Tactile, And/Or Physical)

Aspek psikomotorik berhubungan dengan kemampuan motorik, sebagai

hasilnya dilihat dalam bentuk keterampilan dan kemampuan bertindak (Munaf,

2001: 77). Terdapat beberapa ahli pendidikan yang mengelompokkan aspek

psikomotorik yaitu Dave, Simpson, Harrow dan Romiszowski. Psikomotor yang

digunakan adalah yang dikemukakan oleh Dave (Sumaryanto, 2010:26) dibagi

menjadi lima kategori sebagai berikut:

a. Imitation (Peniruan)

Kemampuan ini dimulai dengan mengamati suatu gerakan kemudian

memberikan respon serupa dengan yang diamati. Kegiatan dalam pembelajaran

antara lain kemampuan menggunakan alat ukur setelah diperlihatkan cara

menggunakannya.

b. Manipulation (Manipulasi)

Kemampuan ini merupakan kemampuan mengikuti pengarahan

(instruksi), penampilan dan gerakan-gerakan pilihan yang menetapkan suatu

penampilan. Kegiatan dalam pembelajaran antara lain mampu melakukan kegiatan

penyelidikan sesuai dengan prosedur yang dibacanya, merencanakan apa yang

(12)

c. Precision (Ketetapan)

Kemampuan ini lebih menekankan pada kecermatan, proporsi dan

kepastian yang lebih tinggi. Kegiatan dalam pembelajaran antara lain

menggunakan alat ukur, memperhatikan skala alat ukur yang digunakan dan

satuan yang digunakan juga dalam mengambil data, orang yang memiliki

ketetapan biasanya melakukan pengamatan berulang kali untuk mendapatkan hasil

yang lebih pasti.

d. Articulation (Artikulasi)

Merupakan kemampuan koordinasi suatu rangkaian gerakan dengan

membuat urutan yang tepat dan mencapai yang diharapkan atau konsistensi

internal di antara gerakan-gerakan yang berbeda. Kegiatan dalam pembelajaran

antara lain menulis dengan rapi dan jelas, mengetik dengan cepat dan tepat dan

menggunakan alat-alat sesuai dengan ketentuannya.

e. Naturalization (Pengalamiahan)

Menekankan pada kemampuan yang lebih tinggi secara alami, sehingga

gerakan yang dilakukan dapat secara rutin dan tidak memerlukan pemikiran

terlebih dahulu. Kegiatan dalam pembelajaran antara lain kemampuan membuat

(13)

C. Hubungan Model Pembelajaran Novick Dengan Hasil Belajar

1. Hubungan Model Pembelajaran Novick Dengan Hasil Belajar Aspek Kemampuan Kognitif

Hasil Belajar kognitif terdiri dari enam tingkatan. Enam tingkatan

(Bloom dalam Wilson, 2005) tersebut dimulai dari pengetahuan, pemahaman,

penerapan, analisis, sintesis hingga evaluasi. Untuk melihat hubungan antara

Model Pembelajaran Novick dengan Hasil Belajar pada aspek kognitif dapat

dilihat pada Tabel 2.1 dibawah berikut ini :

Tabel 2.1 Hubungan Model Pembelajaran Novick dengan Hasil Belajar Aspek Kemampuan Kognitif

Fase Pembelajaran Kegiatan dalam Pembelajaran

Aspek kognitif yang dipelajari Fase pertama, Exposing

alternative framework

(mengungkap konsepsi awal siswa). Diskusi Demonstrasi Mengungkapkan pendapat Pengetahuan Pemahaman

Fase kedua, Creating conceptual conflict (menciptakan konflik konseptual). Eksperimen Kerjasama Diskusi Pengerjaan LKS Presentasi kelas Pengetahuan Pemahaman Penerapan Analisis Sintesis Fase ketiga, Encouraging

cognitive accommodation (mengupayakan terjadinya akomodasi kognitif). Diskusi Penguatan konsep Pengetahuan Pemahaman Penerapan Analisis Sintesis Evaluasi

(14)

Berdasarkan Tabel 2.1, terlihat bahwa dalam fase pembelajaran pertama

aspek kemampuan kognitif yang dapat digali adalah pengetahuan dan

pemahaman. Sedangkan pada fase kedua, aspek kognitif yang dapat digali dimulai

dari pengetahuan hingga sintesis. Pada fase ketiga, aspek kognitif yang dapat

digali dimulai dari pengetahuan hingga evaluasi.

2. Hubungan Model Pembelajaran Novick dengan Hasil Belajar Aspek Kemampuan Afektif

Jenjang afektif menurut Krathwohl (Wilson, 2005) terdiri dari lima

tingkatan. Lima tingkatan tersebut dimulai dari Penerimaan, Jawaban, Penilaian,

Organisasi hingga Karakteristik. Untuk melihat hubungan antara Model

Pembelajaran Novick dengan Hasil Belajar aspek kemampuan afektif dapat dilihat

(15)

Tabel 2.2 Hubungan Model Pembelajaran Novick dengan Hasil Belajar Aspek Kemampuan Afektif

Fase Pembelajaran Kegiatan dalam Pembelajaran

Aspek afektif yang dapat teramati

Fase pertama, Exposing alternative framework

(mengungkap konsepsi awal siswa). Diskusi Demonstrasi Mengungkapkan pendapat Penerimaan, Jawaban, Penilaian, Organisasi Fase kedua, Creating

conceptual conflict (menciptakan konflik konseptual). Eksperimen Kerjasama Diskusi Pengerjaan LKS Presentasi kelas Penerimaan, Jawaban, Penilaian, Organisasi, Karakteristik Fase ketiga, Encouraging

cognitive accommodation (mengupayakan terjadinya akomodasi kognitif). Diskusi Penguatan konsep Penerimaan, Jawaban, Penilaian, Organisasi, Karakteristik

Berdasarkan Tabel 2.2, pada fase pertama kegiatan penerimaan,

jawaban, penilaian, dan organisasi siswa dapat teramati. Sedangkan pada fase

kedua dan pada fase ketiga seluruh kegiatan afektif dapat teramati.

3. Hubungan Model Pembelajaran Novick dengan Hasil Belajar Aspek Kemampuan Psikomotorik

Jenjang psikomotorik terdiri dari lima tingkatan. Lima tingkatan tersebut

menurut Dave (Sumaryanto, 2010) dimulai dari Peniruan, Manipulasi, Ketetapan,

(16)

Pembelajaran Novick dengan seluruh jenjang Psikomotorik dapat dilihat pada

Tabel 2.3 berikut ini :

Tabel 2.3 Hubungan Model Pembelajaran Novick dengan Hasil Belajar Aspek Kemampuan Psikomotorik

Fase Pembelajaran Kegiatan dalam Pembelajaran

Aspek psikomotorik yang dapat teramati Fase pertama, Exposing

alternative framework (mengungkap konsepsi awal siswa). Diskusi Demonstrasi Mengungkapkan pendapat Peniruan, Manipulasi,

Fase kedua, Creating conceptual conflict (menciptakan konflik konseptual). Eksperimen Kerjasama Diskusi Pengerjaan LKS Presentasi kelas Peniruan, Manipulasi, Ketetapan, Artikulasi Pengalamiahan Fase ketiga, Encouraging

cognitive accommodation (mengupayakan terjadinya akomodasi kognitif). Diskusi Penguatan konsep Peniruan, Manipulasi, Ketetapan, Artikulasi, Pengalamiahan

Berdasarkan Tabel 2.3, pada fase pertama kegiatan peniruan dan

manipulasi siswa dapat teramati. Sedangkan pada fase kedua dan pada fase ketiga

Gambar

Tabel  2.1  Hubungan  Model  Pembelajaran  Novick  dengan  Hasil  Belajar  Aspek Kemampuan Kognitif
Tabel  2.2  Hubungan  Model  Pembelajaran  Novick  dengan  Hasil  Belajar  Aspek Kemampuan Afektif
Tabel 2.3 berikut ini :

Referensi

Dokumen terkait

Meningkatkan suasana kerja yang kondusif merupakan tugas dari seorang pemimpin, dengan terciptanya suasana kerja yang kondusif tingkat kenyamanan bekerja akan semakin

Hasil penelitian yang dilakukan menunjukkan bahwa variabel yang menjadi preferensi konsumen petis ikan tuna H.M.S adalah variabel kemasan dan harga.. Dan variabel yang

Narkoba Kepolisian Resor Buleleng sering kali jika dimintai keterangan pasti memutus rantai yang berarti dan tidak memberikan informasi terkait barang tersebut sehingga

Penyelidikan tanah diperlukan sebagai pendukung dalam menentukan kesesuaian atau kecocokan terhadap suatu kontruksi jembatan, hasil penyelidikan tanah dapat mewakili

Teguran tersebut disampaikan oleh pengawas BPJS Ketenagakerjaan kepada perusahaan yang bersangkutan, karena BPJS Ketenagakerjaan mempunyai kewenangan dalam hal ini

Nilai dapat diinterpretasikan sebagai persentase pengaruh variabel stres kerja terhadap variabel turnover intention yang sebesar 36%, sedangkan 64% sisanya dipengaruhi

Untuk memenuhi harapan konsumen ini ada beberapa pertimbangan dari berbagai macam segi dari produsen.. Konsumen memiliki harapan produk cokelat dengan penambahan alkohol atau tidak