11
BAB II
MODEL PEMBELAJARAN NOVICK
DAN HASIL BELAJAR
A. Model Pembelajaran Novick
Model Pembelajaran Novick merupakan salah satu model pembelajaran
yang merujuk pandangan konstruktivisme. Gagasan utama dari model ini adalah
proses dari perubahan konseptual dari pengetahuan awal siswa pada proses
pembelajaran. Proses perubahan konseptual ini terjadi melalui akomodasi
kognitif. Untuk menciptakan proses akomodasi kognitif tersebut, Novick (Natsir,
1997) mengusulkan tiga fase pembelajaran sebagai berikut :
1. Fase pertama, Exposing alternative framework (mengungkap konsepsi awal
siswa).
2. Fase kedua, Creating conceptual conflict (menciptakan konflik konseptual).
3. Fase ketiga, Encouraging cognitive accommodation (mengupayakan
terjadinya akomodasi kognitif).
Tiap-tiap fase dengan jelas menginstruksikan apa yang harus dilakukan,
baik yang dilakukan oleh guru maupun yang dilakukan siswa ketika pembelajaran
berlangsung. Untuk lebih jelas dalam memahami fase-fase pembelajaran yang
1. Fase Exposing alternative framework (mengungkap konsepsi awal siswa) Konsepsi awal dalam pembelajaran terutama dalam pembelajaran fisika
merupakan hal yang sangat penting karena membantu siswa dalam proses
pembelajaran selanjutnya. Konsepsi awal siswa yaitu cara menerima atau
mengemukakan sebuah pendapat yang bersifat subyektif. Konsepsi awal siswa
dapat dibagi menjadi dua yaitu konsepsi awal yang bersifat ilmiah dan konsepsi
awal yang bersifat tidak ilmiah. Tujuan dari mengungkap konsepsi awal siswa
adalah supaya terjadi perubahan konseptual dimana konsepsi yang bersifat tidak
ilmiah dapat berubah menjadi ilmiah.
Untuk mengungkap konsepsi awal siswa dalam pembelajaran dapat
dilakukan kegiatan berikut yaitu menghadirkan suatu peristiwa lalu meminta
siswa mendeskripsikan konsepsi awalnya. Sedangkan untuk mengevaluasi
konsepsi awal dilakukan pada saat refleksi setelah fase ketiga dilakukan. Untuk
lebih jelasnya langkah-langkah dalam pembelajaran untuk mengungkap konsepsi
awal siswa, dapat dilihat pada poin-poin berikut dibawah ini :
a. Menghadirkan suatu peristiwa
Menghadirkan peristiwa fisika dalam pembelajaran dapat berupa model
atau kejadian sebenarnya. Selanjutnya siswa diminta pendapatnya untuk menelaah
peristiwa tersebut. Proses menelaah adalah keadaan dimana para siswa
menggunakan konsepsi yang telah ada dalam pemikirannya untuk menjelaskan
peristiwa yang disajikan. Keadaan yang terjadi adalah peristiwa tersebut pernah
Pada keadaan dimana siswa tidak tahu keadaan tersebut, guru dapat
meminta siswa meramalkan apa yang terjadi dengan peristiwa yang disajikan dan
meminta penjelasan hal yang mendasari ramalan para siswa. Sedangkan apabila
siswa mengetahui peristiwa tersebut, guru hanya meminta siswa menjelaskan
tentang peristiwa yang disajikan.
b. Meminta siswa mendeskripsikan konsepsi awal
Guru dapat meminta siswa mendeskripsikan pendapatnya melalui
berbagai cara dan berbagai aktivitas. Cara-caranya antara lain siswa dapat
menuliskan uraian, menggambar ilustrasi, menciptakan model, menggambarkan
peta konsep, dll. Tujuannya membantu siswa mengetahui sejauh mana
pemahaman dan konsepsi awal mereka tentang pokok bahasan yang akan
dipelajari. Apabila konsepsi awal siswa telah diketahui, maka guru dengan mudah
melakukan langkah selanjutnya dalam pembelajaran.
2. Fase Creating conceptual conflict (menciptakan konflik konseptual)
Pada fase ini guru diharapkan menciptakan konflik konseptual atau
konflik kognitif dalam pemikiran siswa. Tahapan menciptakan konflik sangat
penting dalam pembelajaran karena dapat membuat siswa lebih tertantang dan
termotivasi untuk belajar. Dengan kata lain menciptakan konflik konseptual
membuat siswa menjadi merasa tidak puas terhadap kenyataan yang dihadapi.
Menghadirkan konflik konseptual atau konflik kognitif dalam
pembelajaran dapat dilakukan oleh guru dengan cara sebagai berikut :
a. Mengajak siswa berdiskusi baik dalam kelompok kecil maupun kelompok
b. Memberikan kegiatan kepada siswa (misalnya melakukan eksperimen).
Setelah diadakannya konflik kognitif pada pembelajaran diharapkan
konsep yang dikuasai siswa perlahan-lahan menuju arah ilmiah. Peran guru
dalam fase pembelajaran ini adalah sebagai berikut :
a. Membantu siswa mendeskripsikan ide-idenya.
b. Membantu siswa menjelaskan ide-idenya kepada siswa yang lain yang terlibat
dalam diskusi.
c. Membimbing siswa melakukan percobaan dan mengarahkan interpretasi siswa
terhadap pengamatan yang telah mereka lakukan.
3. Fase Encouraging cognitive accommodation (mengupayakan terjadinya akomodasi kognitif)
Dalam menghadapi rangsangan atau pengalaman baru seseorang tidak
dapat mengasimilasikan pengalaman yang baru dengan intelegensi yang telah
dipunyai. Pengalaman yang baru itu bisa jadi sama sekali tidak cocok dengan
skema yang telah ada. Dalam keadaan demikian orang akan mengadakan
akomodasi. Akomodasi terjadi untuk membentuk skema baru yang cocok dengan
rangsangan yang baru atau memodifikasi skema yang telah ada sehingga cocok
dengan rangsangan itu. Menurut Piaget (Dahar, 1996:151) adaptasi merupakan
suatu kesetimbangan antara asimilasi dan akomodasi. Bila dalam proses asimilasi
seseorang tidak dapat mengadakan adaptasi terhadap lingkungannya maka
terjadilah ketidakseimbangan (disequilibrium).
Akibat ketidakseimbangan itu maka terjadilah akomodasi dan struktur
Pertumbuhan intelektual ini merupakan proses terus menerus tentang keadaan
ketidakseimbangan dan keadaan setimbang (disequilibrium-equilibrium). Tetapi bila terjadi kesetimbangan maka individu akan berada pada tingkat yang lebih
tinggi daripada sebelumnya.
Mendorong terjadinya akomodasi dalam struktur kognitif siswa dalam
pembelajaran perlu dilakukan agar fikiran mereka kembali ke kondisi equilibrium.
Hal ini dapat dilakukan oleh guru dengan cara menyediakan suatu pengalaman
belajar misalnya percobaan yang lebih meyakinkan mereka bahwa konsepsinya
kurang tepat. Untuk sampai pada tahap meyakinkan siswa, guru perlu
menggunakan pertanyaan yang sifatnya menggali konsepsi siswa misalnya : Apa
yang Anda maksud dengan …, mengapa … bisa terjadi, Bagaimana hasilnya jika
… , dsb.
Dengan akomodasi, siswa mengubah konsep yang tidak cocok lagi
dengan fenomena baru yang ia hadapi. Strike dan Posner (Komala, 2008)
menyatakan bahwa syarat terjadinya akomodasi, adalah sebagai berikut:
a. Harus ada ketidakpuasan (dissatisfaction) terhadap konsepsi lama yang telah
ada dalam struktur kognitif
b. Ada konsepsi baru yang lebih bisa dimengerti (intelligible)
c. Ada konsepsi baru yang lebih masuk akal (plausible)
B. Belajar dan Hasil Belajar
Gagne mengemukakan (Dahar, 1996) belajar dapat didefinisikan sebagai
suatu proses di mana suatu organisma berubah perilakunya sebagai akibat dari
pengalaman. Perilaku yang dimaksud adalah kemampuan pengetahuan, perilaku
sikap, dan kemampuan keterampilan. Pernyataan Gagne diperkuat oleh Makmun
(2002:157) belajar selalu menunjukkan kepada suatu proses perubahan perilaku
atau pribadi seseorang berdasarkan praktik atau pengalaman tertentu. Lebih jauh
lagi Makmun (2002:158) mengutarakan beberapa ciri perubahan yang merupakan
perilaku belajar, yaitu :
1. Perubahan bersifat intensional, dalam arti bahwa perubahan perilaku yang
terjadi merupakan hasil dari pengalaman, praktik atau latihan dalam belajar
yang dilakukan dengan sengaja dan disadari.
2. Perubahan bersifat positif, dalam arti bahwa perubahan perilaku yang terjadi
sesuai dengan yang diharapkan (normatif).
3. Perubahan bersifat efektif, dalam arti bahwa perubahan perilaku yang terjadi
membawa pengaruh dan makna tertentu bagi siswa.
Makmun (2002:159) mengemukakan bahwa yang dimaksud perubahan
dalam konteks belajar bersifat fungsional atau structural, material dan behavioral,
serta keseluruhan pribadi (gestalt atau sekurang-kurangnya multidimensional).
Berikut penjelasannya mengenai ketiga makna perubahan dalam konteks belajar
1. Belajar merupakan perubahan fungsional. Dalam konteks ini belajar
mengandung arti melatih daya (mengasah otak) agar menjadi tajam dan
berguna untuk memecahkan persoalan-persoalan.
2. Belajar merupakan perkayaan materi pengetahuan (material) dan atau
perkayaan pola-pola perilaku baru (behaviour). Dalam konteks ini belajar
diartikan sebagai suatu proses pengisian jiwa dengan pengetahuan dan
pengalaman yang sebanyak-banyaknya melalui hapalan (memorizing).
3. Belajar merupakan perubahan perilaku dan pribadi secara keseluruhan. Dalam
konteks ini belajar bukan hanya bersifat mekanis, melainkan perilaku
organisme sebagai totalitas yang memiliki tujuan (purposive).
Dari ketiga pandangan mengenai makna perubahan dalam konteks
belajar di atas, dapat disimpulkan bahwa dalam belajar bukan hanya pengetahuan
siswa saja yang mengalami perubahan, melainkan sikap dan kemampuan siswa
secara keseluruhan juga mengalami perubahan.
Selanjutnya perubahan dalam pengetahuan, sikap dan kemampuan
secara keseluruhan setelah pembelajaran dinamakan Hasil Belajar. Munaf
(2001:67) mengemukakan bahwa Hasil Belajar adalah kemampuan-kemampuan
yang dimiliki siswa setelah menerima pengalaman belajar.
Kemampuan-kemampuan yang dimaksud ini adalah yang dikemukakan oleh Bloom (Wilson,
2005) yaitu Hasil Belajar diklasifikasikan ke dalam tiga kategori. Tiga kategori ini
antara lain adalah domain kognitif (thinking), domain afektif (feeling), dan
1. Hasil Belajar Aspek Kemampuan Kognitif (Thinking)
Munaf (2001: 67) mengemukakan bahwa aspek kognitif meliputi
kemampuan menyatakan konsep atau prinsip yang telah dipelajari dan
kemampuan intelektual. Bloom (Wilson, 2005) membagi aspek kognitif ke dalam
enam tingkatan. Enam tingkatan tersebut adalah sebagai berikut :
a. Pengetahuan/ C1 (Knowledge)
Pengetahuan merupakan kemampuan mengingat atau mengambil materi
yang telah dipelajari sebelumnya. Jenjang ini adalah jenjang yang paling rendah
tapi menjadi prasyarat bagi tingkatan kognitif selanjutnya. Kata kerja operasional
yang biasa digunakan adalah menyebutkan, mendefinisikan.
b. Pemahaman/ C2 (Comprehension)
Pemahaman merupakan kemampuan untuk memahami atau membangun
makna dari materi yang telah dipelajari sebelumnya. Siswa dituntut untuk dapat
menafsirkan bagan, diagram atau grafik, meramalkan, mengungkap suatu konsep
atau prinsip dengan kata-kata sendiri. Kata kerja operasional yang biasa
digunakan adalah membedakan, menginterpretasi, menjelaskan.
c. Penerapan/ C3 (Application)
Penerapan merupakan kemampuan untuk menggunakan atau
menerapkan materi yang dipelajari dalam situasi yang baru dan konkrit. Kata
kerja operasional yang biasa digunakan adalah menerapkan, menghubungkan,
d. Analisis/ C4 (Analysis)
Analisis adalah kemampuan untuk menganalisa atau merinci konsep
menjadi susunan-susunan yang teratur serta memahami hubungan diantara satu
materi dengan materi yang lain. Kata kerja operasional yang biasa digunakan
adalah menganalisa, menemukan, membandingkan.
e. Sintesis/ C5 (Synthesis)
Sintesis merupakan kemampuan untuk menyatukan bagian-bagian
materi sehingga menjadi satu gabungan yang berpola dan berkaitan satu sama
lain. Contoh kemampuan sintesis adalah kemampuan merencanakan eksperimen.
Kata kerja operasional yang biasa digunakan adalah mensintesis,
menghubungkan, merumuskan, menyimpulkan.
f. Evaluasi/ C6 (Evaluation)
Evaluasi adalah kemampuan untuk menilai, memeriksa, dan bahkan
mengkritik sesuatu untuk tujuan tertentu. Kata kerja operasional yang biasa
digunakan adalah menilai, menentukan, memutuskan.
2. Hasil Belajar Aspek Kemampuan Afektif (Feeling)
Afektif berkaitan dengan sikap, sebagai hasilnya berupa perubahan
tingkah laku. Wilson (2005) juga mengatakan bahwa afektif juga berkaitan
dengan berkaitan dengan perasaan atau emosi. David Krathwohl (Wilson, 2005)
membagi afektif terdiri dari lima jenjang sebagai berikut :
1. Penerimaan (receiving)
Penerimaan mengacu pada sensitivitas siswa dengan adanya stimulus,
pembelajaran antara lain mendengarkan penjelasan guru, kesadaran, keinginan
untuk menerima stimulus, kontrol dan seleksi gejala atau rangsangan dari luar,
senang mengerjakan latihan soal.
2. Jawaban (responding)
Jawaban mengacu pada perhatian aktif siswa terhadap stimulus dan
motivasi untuk belajar, menyetujui, tanggapan bersedia dan perasaan puas.
Kegiatan dalam pembelajaran antara lain bertanya pada guru mengenai materi
yang belum jelas, siswa menjawab pertanyaan guru dan mau bekerja sama dalam
penyelidikan, menanggapi pendapat, menerima koreksi, melakukan introspeksi.
3. Penilaian (valuing)
Penilaian berhubungan dengan nilai dan kepercayaan terhadap gejala
atau stimulus tertentu. Kegiatan dalam pembelajaran antara lain menunjukkan rasa
tanggung jawab terhadap alat-alat laboratorium setelah dipakai, bersikap jujur
dalam kegiatan pembelajaran.
4. Organisasi (organization)
Organisasi berhubungan dengan konseptualisasi nilai-nilai menjadi satu
sistem nilai. Kegiatannya dalam pembelajaran antara lain misalnya dapat
membedakan dampak positif dan negatif terhadap situasi tertentu, menerima
kelebihan dan kekurangan pribadi, bertanggung jawab terhadap perilaku.
5. Karakteristik (characterization)
Karakteristik merupakan keterpaduan semua sistem nilai yang telah
dimiliki seseorang yang mempengaruhi pola kepribadian dan tingkah lakunya.
yang lebih autentik, rajin, tepat waktu, berdisiplin diri, objektif dalam
memecahkan masalah
3. Hasil Belajar Aspek Kemampuan Psikomotorik (Kinesthetic, Tactile, And/Or Physical)
Aspek psikomotorik berhubungan dengan kemampuan motorik, sebagai
hasilnya dilihat dalam bentuk keterampilan dan kemampuan bertindak (Munaf,
2001: 77). Terdapat beberapa ahli pendidikan yang mengelompokkan aspek
psikomotorik yaitu Dave, Simpson, Harrow dan Romiszowski. Psikomotor yang
digunakan adalah yang dikemukakan oleh Dave (Sumaryanto, 2010:26) dibagi
menjadi lima kategori sebagai berikut:
a. Imitation (Peniruan)
Kemampuan ini dimulai dengan mengamati suatu gerakan kemudian
memberikan respon serupa dengan yang diamati. Kegiatan dalam pembelajaran
antara lain kemampuan menggunakan alat ukur setelah diperlihatkan cara
menggunakannya.
b. Manipulation (Manipulasi)
Kemampuan ini merupakan kemampuan mengikuti pengarahan
(instruksi), penampilan dan gerakan-gerakan pilihan yang menetapkan suatu
penampilan. Kegiatan dalam pembelajaran antara lain mampu melakukan kegiatan
penyelidikan sesuai dengan prosedur yang dibacanya, merencanakan apa yang
c. Precision (Ketetapan)
Kemampuan ini lebih menekankan pada kecermatan, proporsi dan
kepastian yang lebih tinggi. Kegiatan dalam pembelajaran antara lain
menggunakan alat ukur, memperhatikan skala alat ukur yang digunakan dan
satuan yang digunakan juga dalam mengambil data, orang yang memiliki
ketetapan biasanya melakukan pengamatan berulang kali untuk mendapatkan hasil
yang lebih pasti.
d. Articulation (Artikulasi)
Merupakan kemampuan koordinasi suatu rangkaian gerakan dengan
membuat urutan yang tepat dan mencapai yang diharapkan atau konsistensi
internal di antara gerakan-gerakan yang berbeda. Kegiatan dalam pembelajaran
antara lain menulis dengan rapi dan jelas, mengetik dengan cepat dan tepat dan
menggunakan alat-alat sesuai dengan ketentuannya.
e. Naturalization (Pengalamiahan)
Menekankan pada kemampuan yang lebih tinggi secara alami, sehingga
gerakan yang dilakukan dapat secara rutin dan tidak memerlukan pemikiran
terlebih dahulu. Kegiatan dalam pembelajaran antara lain kemampuan membuat
C. Hubungan Model Pembelajaran Novick Dengan Hasil Belajar
1. Hubungan Model Pembelajaran Novick Dengan Hasil Belajar Aspek Kemampuan Kognitif
Hasil Belajar kognitif terdiri dari enam tingkatan. Enam tingkatan
(Bloom dalam Wilson, 2005) tersebut dimulai dari pengetahuan, pemahaman,
penerapan, analisis, sintesis hingga evaluasi. Untuk melihat hubungan antara
Model Pembelajaran Novick dengan Hasil Belajar pada aspek kognitif dapat
dilihat pada Tabel 2.1 dibawah berikut ini :
Tabel 2.1 Hubungan Model Pembelajaran Novick dengan Hasil Belajar Aspek Kemampuan Kognitif
Fase Pembelajaran Kegiatan dalam Pembelajaran
Aspek kognitif yang dipelajari Fase pertama, Exposing
alternative framework
(mengungkap konsepsi awal siswa). Diskusi Demonstrasi Mengungkapkan pendapat Pengetahuan Pemahaman
Fase kedua, Creating conceptual conflict (menciptakan konflik konseptual). Eksperimen Kerjasama Diskusi Pengerjaan LKS Presentasi kelas Pengetahuan Pemahaman Penerapan Analisis Sintesis Fase ketiga, Encouraging
cognitive accommodation (mengupayakan terjadinya akomodasi kognitif). Diskusi Penguatan konsep Pengetahuan Pemahaman Penerapan Analisis Sintesis Evaluasi
Berdasarkan Tabel 2.1, terlihat bahwa dalam fase pembelajaran pertama
aspek kemampuan kognitif yang dapat digali adalah pengetahuan dan
pemahaman. Sedangkan pada fase kedua, aspek kognitif yang dapat digali dimulai
dari pengetahuan hingga sintesis. Pada fase ketiga, aspek kognitif yang dapat
digali dimulai dari pengetahuan hingga evaluasi.
2. Hubungan Model Pembelajaran Novick dengan Hasil Belajar Aspek Kemampuan Afektif
Jenjang afektif menurut Krathwohl (Wilson, 2005) terdiri dari lima
tingkatan. Lima tingkatan tersebut dimulai dari Penerimaan, Jawaban, Penilaian,
Organisasi hingga Karakteristik. Untuk melihat hubungan antara Model
Pembelajaran Novick dengan Hasil Belajar aspek kemampuan afektif dapat dilihat
Tabel 2.2 Hubungan Model Pembelajaran Novick dengan Hasil Belajar Aspek Kemampuan Afektif
Fase Pembelajaran Kegiatan dalam Pembelajaran
Aspek afektif yang dapat teramati
Fase pertama, Exposing alternative framework
(mengungkap konsepsi awal siswa). Diskusi Demonstrasi Mengungkapkan pendapat Penerimaan, Jawaban, Penilaian, Organisasi Fase kedua, Creating
conceptual conflict (menciptakan konflik konseptual). Eksperimen Kerjasama Diskusi Pengerjaan LKS Presentasi kelas Penerimaan, Jawaban, Penilaian, Organisasi, Karakteristik Fase ketiga, Encouraging
cognitive accommodation (mengupayakan terjadinya akomodasi kognitif). Diskusi Penguatan konsep Penerimaan, Jawaban, Penilaian, Organisasi, Karakteristik
Berdasarkan Tabel 2.2, pada fase pertama kegiatan penerimaan,
jawaban, penilaian, dan organisasi siswa dapat teramati. Sedangkan pada fase
kedua dan pada fase ketiga seluruh kegiatan afektif dapat teramati.
3. Hubungan Model Pembelajaran Novick dengan Hasil Belajar Aspek Kemampuan Psikomotorik
Jenjang psikomotorik terdiri dari lima tingkatan. Lima tingkatan tersebut
menurut Dave (Sumaryanto, 2010) dimulai dari Peniruan, Manipulasi, Ketetapan,
Pembelajaran Novick dengan seluruh jenjang Psikomotorik dapat dilihat pada
Tabel 2.3 berikut ini :
Tabel 2.3 Hubungan Model Pembelajaran Novick dengan Hasil Belajar Aspek Kemampuan Psikomotorik
Fase Pembelajaran Kegiatan dalam Pembelajaran
Aspek psikomotorik yang dapat teramati Fase pertama, Exposing
alternative framework (mengungkap konsepsi awal siswa). Diskusi Demonstrasi Mengungkapkan pendapat Peniruan, Manipulasi,
Fase kedua, Creating conceptual conflict (menciptakan konflik konseptual). Eksperimen Kerjasama Diskusi Pengerjaan LKS Presentasi kelas Peniruan, Manipulasi, Ketetapan, Artikulasi Pengalamiahan Fase ketiga, Encouraging
cognitive accommodation (mengupayakan terjadinya akomodasi kognitif). Diskusi Penguatan konsep Peniruan, Manipulasi, Ketetapan, Artikulasi, Pengalamiahan
Berdasarkan Tabel 2.3, pada fase pertama kegiatan peniruan dan
manipulasi siswa dapat teramati. Sedangkan pada fase kedua dan pada fase ketiga