KALPATARU
MAJALAH ARKEOLOGI
Penerbit
PUSAT PENELITIAN ARKEOLOGI NASIONAL
KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
2016
ii
DEWAN REDAKSI
Penanggung Jawab (Chairperson)
Kepala Pusat Penelitian Arkeologi Nasional
(Director of The National Research Centre of Archaeology
Pemimpin Redaksi (Editor in Chief)
Dra. Vita (Arkeologi Lingkungan)
Dewan Redaksi (Boards of Editor)
Dr. R.R. Triwurjani (Arkeologi Prasejarah)
Drs. Jatmiko, M.Hum. (Arkeologi Prasejarah)
Dra Retno Handini, M.Si. (Arkeologi Prasejarah)
Agustijanto Indradjaja, M.Hum. (Arkeologi Sejarah)
Mitra Bestari (Peer Reviewers)
Prof. Ris. Dr. Bagyo Prasetyo (Arkeologi Prasejarah, Pusat Penelitian Arkeologi Nasional)
Prof. Ris. Dr. Bambang Sulistyanto (Arkeologi Publik, Pusat Penelitian Arkeologi Nasional)
Prof. Ris. Dr. Dwi Purwoko (Sejarah Politik Indonesia, Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Kebudayaan)
Prof. Dr. Yahdi Zaim (Geologi, Institut Teknologi Bandung)
Dr. Supratikno Rahardjo (Arkeologi dan Manajemen Sumber Daya Arkeologi, Universitas Indonesia)
Mitra Bestari tamu (Peer Reviewers Guest)
Prof. Ris. Dra Naniek Harkantiningsih (Arkeologi Sejarah, Pusat Penelitian Arkeologi Nasional)
Penyunting Bahasa (Editor)
Drs. Prih Suharto, M.Hum. (Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa)
Aulia Muharini, S.S.
Redaksi Pelaksana (Managing Editor)
Harry Octavianus S, S.Hum.
Tata Letak dan Desain (Layout and Design)
Atika Windiarti, A.Md.
Alamat
(Address)
Pusat Penelitian Arkeologi Nasional
Jl. Raya Condet Pejaten No. 4, Pasar Minggu, Jakarta Selatan 12510 Indonesia
Ttelp.+62 21 7988171 / 7988131 Fax. +62 21 7988187
E-mail: [email protected] / [email protected]
litbang.kemdikbud.go.id/arkenas
Produksi dan Distribusi (Production and Distribution)
PUSAT PENELITIAN ARKEOLOGI NASIONAL
(THE NATIONAL RESEARCH CENTRE OF ARCHAEOLOGY)
2016
KALPATARU
MAJALAH ARKEOLOGI
Volume 25, No.2, November 2016 ISSN 0126-3099
Kalpataru,
Majalah Arkeologi, merupakan jurnal ilmiah tematik yang menyajikan artikel
orisinal tentang pengetahuan dan informasi hasil penelitian, atau aplikasi hasil penelitian dan
pengembangan terkini dalam bidang arkeologi beserta ilmu terkait, seperti kimia, biologi, geologi,
paleontologi dan antropologi.
Pengajuan artikel di jurnal ini dialamatkan ke Dewan Redaksi. Informasi lengkap mengenai
pengajuan artikel dan petunjuk penulisan terdapat di halaman akhir dalam setiap terbitan. Artikel
yang masuk akan melalui proses seleksi Dewan Redaksi.
Semua tulisan di dalam jurnal ini dilindungi oleh Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI).
Mengutip dan meringkas, gambar, dan tabel dari jurnal ini harus mencantumkan sumber. Selain itu,
menggandakan artikel atau jurnal harus mendapat izin penulis. Jurnal ini terbit dua kali setahun,
yaitu pada bulan Mei dan November, serta diedarkan untuk masyarakat umum dan akademik,
baik di dalam maupun luar negeri.
Kalpataru
Archaeological Magazine, is a thematic scientific journal, which presents
original articles on the subject of knowledge and information about results of research or
application of result of current research and development in the field of archaeology and related
sciences, such as chemistry, biology, geology, palaeontology, and anthropology.
Submission of articles for this journal should be addressed to the Board of Editors.
Detail information on how to submit articles and guidance to authors on how to write the articles
can be found on the last page of each edition. All of the submitted articles are subject to be
peer-reviewed and edited.
All articles in this journal are protected under the right of intellectual property. Quoting
and excerpting statements, as well as reprinting any figure and table in this journal have to
mention the source. Reproduction of any article or the entire journal requires written permission
from the author (s) and license from the publisher. This journal is published twice a year, in
May and November, and is distributed for general public and academic circles in Indonesia and
abroad.
KATA PENGANTAR
Dengan memanjatkan puji dan syukur kepada Tuhan yang Maha Esa, Dewan Redaksi
dapat menghadirkan kembali berbagai artikel yang berkaitan dengan tema “Wilayah Perbatasan
dan Pulau-Pulau Terluar”. Tema ini cukup penting karena seperti diketahui bahwa masyarakat
yang berada di wilayah perbatasan memegang peranan penting dalam mengembangkan budaya
nasional. Potensi arkeologi yang tersebar di wilayah perbatasan maupun di kawasan pulau terluar
telah banyak ditemukan oleh peneliti dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional maupun dari
Balai Arkeologi. Melalui Majalah Arkeologi Kalpataru vol 25 No. 2 November 2016 beberapa
aspek budaya masa lalu yang berkaitan dengan proses migrasi, tinggalan budaya masa lalu, serta
berbagai potensi arkeologi telah disampaikan oleh penulis.
Diawali dari artikel Bagyo Prasetyo yang mencoba mengamati keterkaitan kehadiran
peninggalan megalitik di wilayah perbatasan Kalimantan terhadap kontak hubungan budaya
antara megalitik di wilayah Kepulauan Indonesia dengan megalitik di wilayah Asia Tenggara,
khususnya di wilayah negara-negara yang ada di sekitarnya. Dalam bahasannya terbukti adanya
peran wilayah perbatasan sebagai pintu masuk maupun keluar jalur migrasi budaya megalitik
antara kepulauan Indonesia dengan daerah-daerah di luar Indonesia. Terdapat kesamaan temuan
dalam bentuk tempayan batu yang tersebar tidak hanya di wilayah perbatasan Kalimantan Utara
maupun di Dataran Tinggi Kelabit (Serawak), tetapi juga di beberapa wilayah di Indonesia seperti
di Sulawesi (Sulawesi Tengah dan Selatan), Sumatera (Sumatera Utara), dan di NTB. (Donggo).
Artikel selanjutnya dengan judul Prospek Sumber Daya Arkeologi Prasejarah Pulau
Rote Ndao ditulis oleh Nasruddin. Melalui observasi lapangan dan dilanjutkan dengan tindakan
ekskavasi, Nasruddin memperoleh sejumlah data artefak litik berupa alat-alat serpih, tembikar
dan deposit cangkang moluska dan tulang. Potensi data arkeologi (prasejarah karst) Pulau Rote
Ndao memiliki nilai penting untuk mengungkapkan jalur migrasi, terutama posisi geografinya
sebagai pulau terdepan dan wilayah perbatasan antara Timor Leste dan Australia.
Potensi Arkeologi di Pulau Alor merupakan artikel hasil kolaborasi antara Nyoman Rema
dan Hedwi Prihatmoko. Mereka membahas tentang peningkatan kesejahteraan masyarakat Alor
dengan mendata potensi tinggalan arkeologi di pulau ini. Berbagai potensi arkeologi tersebut
membuktikan tingginya nilai peradaban masyarakat Alor, sekaligus sebagai media komunikasi
dalam membangun hubungan harmonis dengan Tuhan, sesama, dan lingkungannya.
Lukisan Dinding Gua Prasejarah di Perbatasan Indonesia – Papua Niugini memberikan
penjelasan dan mengidentifikasi terhadap persebaran lukisan dinding gua di Kampung Kibay.
Melalui pendekatan etnoarkeologi, Klementin menjelaskan tentang peran lukisan gua yang
merupakan suatu hasil karya seni manusia (seniman) masa lampau yang ditorehkan pada dinding
dalam gua dan tebing karang. Hasil karya seni tersebut merupakan himpunan simbol-simbol atau
lambang-lambang yang mengandung nilai kehidupan.
Terakhir artikel yang ditulis oleh M. Fadhlan S. Intan yang berjudul Eksplorasi
Geoarkeologi Pulau Sabu. Sesuai dengan judulnya penulis melakukan pemetaan geologi
permukaan secara umum sebagai salah satu upaya untuk menyajikan informasi geologi yang
ada, serta melakukan suatu analisa berdasarkan atas data pada daerah penelitian, disamping itu
penulis membahas tentang kondisi lingkungan geologi Pulau Sabu secara detail yang meliputi
geomorfologi, stratigrafi dan struktur geologi.
Akhir kata, edisi Kalpataru vol. 25 no 2 tahun 2016 diharapkan dapat menjadi media
komunikasi antara penulis dan pembacanya serta dapat memberikan informasi, memperluas
pengetahuan dalam dunia pendidikan khususnya dan masyarakat luas pada umumnya. Tak luput
dari kesalahan, maka masukan ataupun saran konstruktif dari ilmuwan, birokrat ataupun peminat
budaya sangat diharapkan untuk peningkatan mutu tulisan dan majalah Kalpataru
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
Peninggalan Megalitik di Wilayah Perbatasan Kalimantan: Kontak Budaya Antara
Kepulauan Indonesia dan Serawak
Megalithic Remains in Kalimantan Borderline: Cultural Contact between Indonesia
Islands and Serawak
Bagyo Prasetyo
Prospek Sumber Daya Arkeologi Prasejarah Pulau Rote Ndao dalam Konteks
Pengembangan Kawasan Perbatasan
The Prospect of Prehistoric Archaeology Recources in Rote Ndao Islands Within Context
of Borderline Region Development
Nasruddin
Potensi Arkeologi di Pulau Alor
Archaeological Potentials in Alor Island
Nyoman Rema dan Hedwi Prihatmoko
Lukisan Dinding Gua Prasejarah di Perbatasan Indonesia – Papua Nugini
Prehistory Rock Arts in Indonesia – Papua New Guinea Borderline
Klementin Fairyo
Eksplorasi Geoarkeologi Pulau Sabu: Salah Satu Pulau Terdepan di Nusa Tenggara
Timur.
Sabu Island Geoarchaeological Exploration as One of The Outer Islands in East
Nusa Tenggara
M. Fadhlan S. Intan
v
vii
75-86
87-102
103-116
117-130
131-146
KALPATARU
MAJALAH ARKEOLOGI
Volume 25, No.2, November 2016 ISSN 0126-3099
DDC.930.1 Bagyo Prasetyo
Pusaka Budaya Kawasan Pesisir: Tinjauan Arkeologis Peninggalan Megalitik di wilayah Perbatasan Kalimantan: Kontak Budaya Antara Kepulauan Indonesia dan Serawak
Vol 25 No. 2, November 2016, hlm. 75 - 86
Kawasan pesisir sejak lama telah menjadi salah satu Sebagai wilayah perbatasan, Kalimantan Utara mengandung kekayaan budaya terkait dengan peninggalan megalitik. Kurangnya sarana dan prasarana mengakibatkan akses ke situs-situs tersebut sangat sulit untuk dicapai, sehingga eksplorasi yang telah dilakukan dari beberapa kegiatan belum bisa menjangkau keseluruhan. Permasalahan yang muncul dengan keterbatasan itu adalah belum diketahui secara jelas sejauh mana kontak budaya antara megalitik wilayah perbatasan Kalimantan Utara dengan megalitik yang ada tempat-tempat lain. Tujuan dari penelitian ini untuk memberikan gambaran hubungan antara megalitik di perbatasan Kalimantan Utara dengan megalitik di Serawak serta megalitik di Indonesia. Metode yang digunakan adalah melalui pendekatan difusi budaya melalui studi literatur hasil-hasil penelitian terhadap megalitik di wilayah perbatasan Kalimantan Utara dan megalitik yang ada di Serawak dan di Indonesia secara umum. Hasil yang dicapai menunjukkan bahwa didasarkan atas persebaran bentuk-bentuk tempayan batu di wilayah perbatasan menunjukkan adanya koneksitas budaya dengan tempayan-tempayan batu di Serawak dan beberapa tempat lain di Indonesia (Sulawesi Tengah, Samosir, Toraja, dan Bima).
Kata Kunci: Kalimantan Utara, Budaya megalitik, Difusi budaya, Tempayan batu.
KALPATARU
Volume 25, Nomor 2, November 2016 ISSN 0126-3099
Lembar abstrak ini boleh diperbanyak/dicopy tanpa izin dan biaya
DDC.930.1 Nasruddin
Prospek Sumber Daya Arkeologi Prasejarah Pulau Rote Ndao dalam Konteks Pengembangan Kawasan Perbatasan
Vol 25 No. 2, November 2016, hlm. 87 - 102
Potensi warisan budaya terutama situs-situs prasejarah di sepanjang bukit-bukit karst di Pulau Rote memiliki nilai penting dalam konteks pemahaman dan pengetahuan arkeologi Nusa Tenggara Timur. Posisi geografis Pulau Rote di masa lalu, setidaknya pada masa akhir plestosen dan holosen dengan adanya jejak-jejak hunian manusia di gua dan ceruk. Bukti historis lainnya adanya temuan kapak perunggu yang menunjukkan bahwa Pulau Rote merupakan wilayah yang strategis pada era paleometalik. Ditemukannya berbagai jenis pecahan tembikar, serpih dan fragmen tulang fauna, sisa-sisa makanan moluska menimbulkan beberapa pertanyaan terhadap lokasi ini di masa lalu, apakah situs ini memiliki fungsi hunian semata, ataukah mempunyai fungsi lain. Tujuan penelitian
ini untuk mengungkap sumberdaya arkeologi beserta kondisi geologi yang dimiliki Pulau Rote. Metode yang digunakan yaitu melakukan observasi lapangan (survei) dan dilanjutkan dengan ekskavasi terhadap situs yang memiliki indikasi kuat sebagai hunian prasejarah Rote dan dianggap mewakili situs hunian prasejarah Rote Ndao. Dari penelitian ini diperoleh sejumlah data artefak litik berupa alat-alat serpih, tembikar dan deposit cangkang moluska dan tulang. Potensi data arkeologi (prasejarah karst) Pulau Rote Ndao memiliki nilai penting untuk mengungkap jalur migrasi, terutama posisi geografinya sebagai pulau terdepan dan wilayah perbatasan antara Timor Leste dan Australia.
Kata Kunci : Prasejarah, Paleometalik, Wilayah per-batasan
DDC.930.1
Nyoman Rema dan Hedwi Prihatmoko Potensi Arkeologi di Pulau Alor
Vol 25 No. 2, November 2016, hlm. 103 - 116
Alor merupakan salah satu pulau terluar Indonesia yang berbatasan dengan Negara Republik Demokratik Timor Leste dan memiliki berbagai tinggalan budaya penting dari masa lampau, berupa tradisi megalitik hingga berkembangnya agama-agama besar di Nusantara. Tulisan ini bertujuan untuk mengetahui potensi arkeologi di pulau Alor, yang kemudian perlu dikembangkan untuk memperkuat karakter dan jati diri, cinta tanah air, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat Alor. Data penelitian ini dikumpulkan melalui studi pustaka. Setelah data terkumpul, pengolahan dilakukan secara descriptif-kualitatif dengan mendeskripsikan tinggalan arkeologi, fungsi dan maknanya berdasarkan hasil penelitian yang kemudian diakhiri dengan penyimpulan. Potensi tinggalan arkeologi di pulau ini berupa misba, rumah adat, moko, struktur bangunan, Al Quran kuno, kubur tempayan, kubur ceruk, dan periuk tumbuh. Berbagai potensi arkeologi tersebut membuktikan tingginya nilai peradaban masyarakat Alor, sekaligus sebagai media komunikasi dalam membangun hubungan harmonis dengan Tuhan, sesama, dan lingkungannya.
Kata kunci: Alor, Potensi arkeologi, kualitatif
DDC.930.1
Klementin Fairyo
Lukisan Dinding Gua Prasejarah di Perbatasan Indonesia – Papua Nugini
Vol 25 No. 2, November 2016, hlm. 117 - 130
Penelitian tentang lukisan dinding gua di Keerom yang berbatasan dengan Papua Niugini menarik untuk dikaji. Informasi dari masyarakat menyebutkan bahwa di wilayah perbatasan banyak lukisan dinding gua yang belum diteliti
x
DDC: 551
M. Fadhlan S. Intan
Eksplorasi Geoarkeologi Pulau Sabu: Salah Satu Pulau Terdepan di Nusa Tenggara Timur.
Vol 25 No. 2, November 2016, hlm. 131 - 146
Pulau Sabu dengan gugusan pulaunya termasuk Kabupaten Sabu Raijua, terletak di selatan Negara Republik Indonesia. Penelitian di Nusa Tenggara Timur berawal oleh Th. Verhoeven tahun 1950an di Pulau Flores dan Timor. Selanjutnya Pusat Penelitian Arkeologi Nasional pada tahun 1970 di Flores, Timor, dan Sumba, tahun 1980 di Atambua dan Pulau Sabu, serta tahun 2010 di Pulau Sabu. Penelitian yang telah dilaksanakan di Pulau Sabu selama ini, lebih banyak terfokus pada
arkeologi, etnografi, sedangkan penelitian yang bersifat
geologi belum pernah dilaksanakan. Berdasarkan hal tersebut, maka permasalahan penelitian di Pulau Sabu adalah bagaimana kondisi geologi secara umum. Maksud dan tujuan penelitian adalah untuk mengetahui kondisi geologi Pulau Sabu secara detil yang meliputi bentang alam, batuan penyusun, dan struktur geologi. Metode yang digunakan, adalah survei geologi. Hasil penelitian di Pulau Sabu terdiri dari satuan morfologi dataran, dan satuan morfologi bergelombang lemah, dengan ketinggian adalah 0-350 meter diatas permukaan air laut. Batuan penyusun adalah napal, tufa, batugamping, dan aluvial, serta dilalui Sesar Normal. Kepurbakalaan di Pulau Sabu berupa paleolitik, megalitik, perkampungan adat, dan gua.
Kata kunci: Pulau Sabu, Lingkungan geologi, Sumberdaya arkeologi
secara mendalam. Tulisan ini bertujuan untuk mengetahui ragam bentuk lukisan dinding gua di Keerom, fungsi dan makna lukisan dinding gua tersebut bagi masyarakat pendukungnya serta peran lukisan dinding gua dalam mempertahankan wilayah perbatasan Indonesia. Metode penelitian yag digunakan yaitu pengumpulan data berupa studi kepustakaan, observasi lapangan dan wawancara. Pengolahan data meliputi analisis morfologi, analisis teknologi dan cara perekaman piktorial. Hasil penelitian menunjukkan bentuk lukisan dinding gua di Web dan Kibay yaitu lukisan figuratif dan non figuratif. Hasil karya seni tersebut merupakan himpunan simbol-simbol atau lambang-lambang yang mengandung nilai kehidupan. Makna lukisan adalah makna religi, komunikasi dan sosial. Peran lukisan dinding gua adalah sebagai tradisi berlanjut, jati diri dan mempertahankan wilayah adat.
Kata kunci: Lukisan dinding gua, Fungsi, makna,
DDC.930.1
Bagyo Prasetyo
Megalithic Remains in Kalimantan Borderline: Cultural Contact Between Indonesia Islands And Serawak
Vol 25 No. 2, November 2016, pp. 75 - 86
As a region in borderline, North Kalimantan is rich of cultures, especially megalithic remains. The lack of facilities and infrastructures resulted in minimum access to these sites, so that explorations can’t be done completely. The problem that appears is that the length of cultural contact between borders is still unknown. The purpose of this study is to explain the connection of megalithic cultures of North Kalimantan (Indonesia), Serawak (Malaysia), and also other megalithic cultures in Indonesia. The method used in this study is cultural diffusion approach through literature studies about megalithic in the border region of North Borneo and Sarawak as well as Indonesia in general. The results shows that the distribution of stone jars in the borderline regions indicated a cultural connection between Sarawak in Malaysia and several places in Indonesia (Central Sulawesi, Samosir, Toraja, and Bima).
Keywords: North Kalimantan, Megalithic culture, Cultural diffusion, Stone jar
KALPATARU
Volume 25, Number 2, November 2016 ISSN 0126-3099
These Abstract Can be Copied without Permission and Fee
DDC.930.1
Nasruddin
The Prospect of Prehistoric Archaeology Recources in Rote Ndao Islands Within Context
of Borderline Region Development Vol 25 No. 2, November 2016, pp 87 - 102
The potential of cultural heritage especially prehistoric sites along the karst hills on Rote island has significant value in the context of understanding and knowledge about archeology in East Nusa Tenggara. Cave sites in Rote island were started to be inhabited since the late Pleistocene and early Holocene, based on the presence of human settlement traces found in the caves and niches. Another historical evidence was a bronze axe which showed that Rote Island was a strategic region on Paleometalic era. The fragments of potteries, flakes, animal bones, dan mollusc shells found in the area sprang some questions if this area was used only as a
from megalithic tradition to the development of major religions in Indonesia. This article is written to share about archaeological potentials in Alor island which can be developed to strengthen national identity, to settlement or had any other purposes. The aim of this research is to reveal the archaeological resources owned by the island, along with its geological condition. The method applied in this study is using field observation (survey) followed by excavation on prehistory sites that represent Rote Ndao human settlements. Numerous lithic artifacts were gathered
for reasearch data, such as flakes, pottery, and mollusc shell and bone deposits. These data about prehistoric karst in Rote Ndao island have important value to reveal the migration path, particularly its geographic position as the foremost island and borderline region between East Timor and Australia.
Keywords: Prehistory, Paleometalic, Borderline region
DDC.930.1
Nyoman Rema dan Hedwi Prihatmoko Archaeological Potentials in Alor Island Vol 25 No. 2, November 2016, pp. 103 - 116
Alor is one of the outer islands in Indonesia bordered with Democratic Republic of Timor Leste which has numerous significant cultural heritages from the past, patriotism, and improve the prosperity of Alor community. The data of this research was collected through literature reviews. The completed data was then managed using descriptive-qualitative method by defining the archaeological remains, the function, and the meaning based on the result of the research, then sum it up, a conclusion. Some archaeological potentials in this island are misba, traditional houses, moko, bulding structures, old Quran, burial urns, and mystical-growing pots. Those archaeological potentials prove that Alor community still upholds their high cultural values and also become a communication media that establishes a harmony with God, humans, and environment.
Keywords: Alor, Archaeological Potentials, Descriptive- qualitative
DDC.930.1
Klementin Fairyo
Prehistory Rock Arts in Indonesia – Papua New Guinea Borderline
Vol 25 No. 2, November 2016, pp. 117 - 130
The existence of rock art in Keerom area is very interesting to study because located in the border area between Indonesia and Papua New Guinea. The Purpose of this Papua is to determine the different forms of rock art in Keerom area regarding to the function and its meaning in the past and also in order to build. An understanding of the culture in the border region. The method used in this study consist of literature studies field observations and interview and use morphological and piktoral in the analysis processed. The result showed about the form of figurative and non figurative painting on cave walls, especially in the Web and Kibay sites. The meaning of the rock art associated with a symbol of religy and as a symbol of social comunications. The
xii
role of the rock arts shows about identify and also has and important meaning in an attempt to preserve the indigenous territories.
Keywords: Rock Art, Function,Meaning, Border
DDC: 551
M. Fadhlan S. Intan
Sabu Island Geoarchaeological Exploration as One of The Outer Islands in East Nusa Tenggara
Vol 25 No. 2, November 2016, pp. 131 - 146
Savu island with its cluster islands including Sabu Raijua Regency is located in the south of Republic of Indonesia. Researches conducted in East Nusa Tenggara began in 1950s by Th. Verhoeven in Flores and Timor islands. Next research was by National Research Center of Archaeology in Flores, Timor and Sumba (1970), in Atambua and Savu (1980), and in Savu (2010). The researches in Savu so far were focused more on archaeology and ethnography, while geological aspect has not been done yet. This article will try to explain about geological condition in Savu island in general. The purpose and goal of the research is to determine the geological condition Savu in detail, including landscape, rock composition, and geological structure. The method used in this study is a geological survey. The results shows that Savu consists of plain morphological unit and feeble wave morphological unit with altitude 0-350 meters above sea level. Rock composition consists of marl, tufa, limestone, alluvial, and passed by normal fault. Archaeological data in Savu island are in form of paleolithic, megalithic, indigenous villages, and caves.
Keywords: Savu, Environmental geology, Archaeology resources