BAB I PENDAHULUAN
A.Latar Belakang Masalah
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi informasi yang begitu cepat di era global ini tanpa disadari telah mempengaruhi setiap aspek kehidupan manusia, termasuk dalam dunia pendidikan. Perubahan-perubahan besar dan cepat di dunia luar merupakan tantangan-tantangan yang harus dijawab oleh dunia pendidikan.
Untuk menjawab tantangan tersebut, maka upaya pengembangan merupakan suatu keharusan, mengingat tuntutan standar kualitas serta kebutuhan di lapangan yang terus-menerus mengalami perubahan dan perkembangan. Hal tersebut menuntut sumber daya manusia yang handal dan mampu berkompetisi secara global yang memerlukan keterampilan tinggi atau melibatkan pemikiran kritis, kreatif, sistematis, logis, dan kemampuan pemecahan masalah.
Keterampilan tingkat tinggi dapat dikembangkan melalui pembelajaran matematika karena tujuan pembelajaran matematika di sekolah menurut Depdiknas (2004) adalah: 1) melatih cara berpikir dan bernalar dalam menarik kesimpulan, 2) mengembangkan aktivitas kreatif yang melibatkan imajinasi, intuisi, dan penemuan dengan mengembangkan pemikiran divergen, orisinil, rasa ingin tahu, membuat prediksi dan dugaan, serta mencoba-coba, 3) mengembangkan kemampuan memecahkan masalah, dan 4) mengembangkan kemampuan menyampaikan informasi dan mengkomunikasikan gagasan.
Namun fakta di lapangan, penguasaan siswa terhadap matematika masih tergolong rendah, hal ini sesuai dengan hasil penelitian Wahyudin (1999) yang menyatakan bahwa rata-rata tingkat penguasaan siswa dalam mata pelajaran matematika adalah 19,4% dan simpangan baku 9,8% dengan model kurva positif (miring ke kiri) yang berarti sebaran tingkat penguasaan para siswa terhadap matematika cenderung rendah.
Demikian pula dengan hasil studi Trend in International Mathematics and Science Study (TIMSS) yang memperlihatkan bahwa nilai matematika siswa Indonesia berada di ranking ke-35 dari 44 negara. Dalam hal ini, penguasaan matematika siswa Indonesia berada jauh di bawah siswa Malaysia dan Singapura. Hasil serupa juga disampaikan oleh Global Campaign for Education (GCE) yang melaporkan penguasaan matematika siswa di Indonesia pada posisi ke-37 dari 44 negara (Samba, 2007: 11). Hasil studi Program for International Student Assessment (PISA) tahun 2009 yang dikoordinir oleh Organization for Economic Co-operation and Development (OECD) menunjukkan kondisi yang tidak jauh berbeda yaitu prestasi Indonesia pada bidang matematika berada pada rangking 10 besar terbawah dari 65 negara, jauh tertinggal dari Singapura yang berada pada posisi kedua. Siswa Indonesia tidak mampu menjawab soal-soal matematika tidak rutin yang memerlukan kemampuan berpikir tingkat tinggi.
Salah satu kemampuan berpikir tingkat tinggi adalah berpikir kritis. O‟Daffer dan Thornquist (Suryadi, 2005) berdasarkan hasil penelitiannya menyatakan bahwa siswa sekolah menengah kurang menunjukkan hasil yang memuaskan dalam akademik yang menuntut kemampuan berpikir kritis.
Demikian halnya dengan hasil penelitian Priatna (2003) menunjukkan bahwa kemampuan penalaran (analogi dan generalisasi) yang di dalamnya termuat kemampuan berpikir kritis, pada siswa SLTP di Bandung hanya sekitar 49% dari skor ideal. Begitupun dengan hasil penelitiannya Runisah (2006) yang melaporkan bahwa kemampuan berpikir kritis matematis siswa SMA masih rendah.
Penelitian lainnya adalah hasil survey IMSTEP-JICA (1999) di Kota Bandung yang menemukan sejumlah kegiatan yang dianggap sulit oleh siswa antara lain pembuktian, pemecahan masalah yang memerlukan penalaran matematis, menemukan generalisasi dan konjektur, dan menemukan hubungan antara data-data atau fakta yang diberikan. Jika diperhatikan, kegiatan-kegiatan tersebut merupakan kegiatan yang menuntut kemampuan berpikir kritis dari siswa. Selanjutnya, Suryadi (2005) melaporkan bahwa siswa kelas delapan SMP di Kota dan Kabupaten Bandung mengalami kesulitan dalam mengajukan argumen, menerapkan konsep yang relevan, serta menemukan pola bentuk umum (kemampuan induksi). Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan berpikir kritis matematis siswa di kota Bandung masih rendah, sehingga diperlukan strategi pembelajaran yang dapat meningkatkan prestasi siswa dalam bidang matematika.
Berkenaan dengan berpikir kritis, Wahab (1996) mengemukakan empat alasan pentingnya mengembangkan kemampuan berpikir kritis, yaitu: 1) tuntutan zaman yang mengharuskan warga negara dapat mencari, memilih, dan menggunakan informasi untuk kehidupan bermasyarakat dan bernegara; 2) setiap warga negara senantiasa berhadapan dengan berbagai masalah dan pilihan
sehingga dituntut untuk mampu berpikir kritis dan kreatif; 3) kemampuan memandang sesuatu dengan cara yang berbeda dalam memecahkan masalah; dan 4) berpikir kritis merupakan aspek dalam memecahkan permasalahan secara kreatif agar peserta didik dapat bersaing secara adil dan mampu bekerja sama dengan bangsa lain.
Kemampuan berpikir kritis dapat bermanfaat untuk menghadapi berbagai kemungkinan dan kemampuan berpikir kritis ini memiliki karakteristik yang paling mungkin dapat dikembangkan melalui pembelajaran matematika (Depdiknas, 2004). Untuk itu, sudah sepatutnya bagi pengajar matematika membiasakan menggunakan model atau pendekatan pembelajaran yang tidak hanya dibawa ke arah taraf berpikir kritis tentang apa, tetapi dibawa kepada taraf berpikir tentang mengapa dan bagaimana. Marzano (Harsanto, 2005) menyatakan bahwa seharusnya anak-anak sejak dini dibiasakan untuk bertanya „mengapa‟ atau ditanya „mengapa‟ karena kebiasaan ini merupakan sarana dan jalan efektif menuju kemampuan berpikir analitis, kritis, dan kreatif.
Berkaitan dengan prestasi siswa yang rendah, salah satu penyebabnya adalah ketidaksenangan siswa terhadap matematika yang menganggap bahwa matematika sebagai pelajaran yang sulit dan susah dimengerti. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Ruseffendi (1984: 15) “matematika (ilmu pasti) bagi anak-anak pada umumnya merupakan pelajaran yang tidak disenangi, kalau bukan pelajaran yang dibenci”. Demikian halnya dengan pernyataan Turmudi (2008: 1) yang mengemukakan bahwa pendidik dan ahli pendidikan matematika telah mengupayakan agar matemtika dapat dikuasai dengan baik oleh siswa, namun
pada kenyataannya banyak siswa yang tidak menyukai matematika. Ketidaksenangan siswa terhadap pelajaran matematika kemungkinan disebabkan oleh sukarnya memahami pelajaran matematika dan juga desain pembelajaran yang disampaikan oleh guru. Ketidaksenangan terhadap mata pelajaran matematika dapat berpengaruh terhadap keberhasilan belajar matematika siswa.
Salah satu cabang matematika yang dianggap sulit oleh siswa adalah geometri. Di dalam geometri dipelajari objek-objek seperti titik, garis, bidang, ruang, serta hubungan-hubungannya yang keseluruhan objeknya bersifat abstrak. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Stein (Yadnya, 2011: 1) berikut ini: “Geometry is the study of points, lines, planes and spaces, of measurement and construction of geometric figures, and of geometric facts and relationships”. Hal ini kontras dengan kebanyakan siswa pada umumnya yang terbiasa berpikir objek-objek yang konkret. Oleh karena itu, konsep-konsep geometri tidak sekedar ditransfer begitu saja dalam bentuk kumpulan informasi kepada siswa. Melainkan diberikan suatu proses aktivitas belajar yang bermakna agar siswa dapat memahami objek-objek kajian geometri. Proses pembelajaran tersebut hendaknya mengantarkan siswa pada proses melakukan dan mengalami kegiatan-kegiatan ke arah pembentukan konsep-konsep geometri.
Geometri diajarkan di sekolah berguna untuk meningkatkan berpikir logis, mengembangkan intuisi keruangan, membuat generalisasi secara benar dan menanamkan pengetahuan untuk menunjang materi yang lain, maka kemampuan konsep geometri oleh siswa harus dikuasai secara mendalam karena konsep-konsep geometri berperan sebagai alat.
Pada dasarnya geometri mempunyai peluang yang lebih besar untuk dipahami siswa, karena refresentasi geometri telah dikenal siswa sejak mereka belum masuk sekolah, misalnya garis, bidang, dan ruang. Namun, bukti-bukti di lapangan menunjukkan bahwa hasil belajar geometri siswa masih rendah dan perlu ditingkatkan. Bahkan, di antara cabang matematika, geometri menempati posisi yang paling memprihatinkan.
Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa geometri merupakan salah satu bagian dari matematika sekolah yang cukup bermasalah. Bukti-bukti empiris di lapangan menunjukkan bahwa masih banyak siswa yang mengalami kesulitan dalam belajar geometri, mulai dari tingkat dasar sampai perguruan tinggi.
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa prestasi geometri siswa SD masih rendah (Husnaeni, 2006: 1), sedangkan di SMP ditemukan bahwa masih banyak siswa yang belum memahami konsep-konsep geometri. Sesuai penelitian Sunardi (Abdussakir, 2010) dilaporkan bahwa banyak siswa yang salah dalam menyelesaikan soal-soal mengenai garis sejajar pada siswa SMP dan masih banyak siswa yang menyatakan bahwa belah ketupat bukan jajargenjang. Di SMU, Madja (Abdussakir, 2010) mengemukakan bahwa hasil tes geometri siswa kurang memuaskan jika dibandingkan dengan materi matematika yang lain. Kesulitan siswa dalam memahami konsep-konsep geometri terutama pada konsep bangun ruang.
Bukan hanya di Indonesia saja, di belahan dunia lainnya pun mengalami hal yang sama. Di Amerika Serikat, hanya separuh dari siswa yang ada mengambil pelajaran geometri formal, dan hanya sekitar 34% siswa-siswa
tersebut dapat membuktikan teori dan mengerjakan latihan secara deduktif. Selain itu, prestasi semua siswa dalam masalah yang berkaitan dengan geometri dan pengukuran masih rendah. Selanjutnya Hoffer (Siswanto, 2011: 3) menyatakan bahwa siswa-siswa di Amerika dan Uni Soviet sama-sama mengalami kesulitan dalam belajar geometri.
Rendahnya kemampuan siswa dalam bidang geometri bertolak belakang dengan presentase keseluruhan isi kurikulum matematika pada jenjang SMP yang berdasarkan pada kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP). Dengan kata lain, materi geometri mendapatkan porsi yang lebih besar jika dibandingkan dengan beberapa materi yang lain seperti aljabar, peluang atau statistika. Hal ini menggambarkan bahwa geometri merupakan salah satu komponen penting pada kurikulum matematika di SMP, sehingga ketidaksenangan siswa pada geometri akan berpengaruh besar terhadap keberhasilan atau ketidakberhasilan pembelajaran matematika di sekolah secara keseluruhan. Di lain pihak, siswa SMP berada pada perkembangan fase konkrit, selayaknya digunakan alat peraga dalam proses pembelajaran.
Keterbatasan alat peraga atau media pembelajaran di sekolah menjadi suatu penghambat dalam pengajaran geometri. Dengan kata lain, permasalahan pengajaran geometri muncul ketika guru tidak mampu atau memandang tidak perlu untuk melakukan visualisasi objek-objek geometri yang abstrak. Bahkan tidak jarang, sebagian guru bersikap tidak peduli dan pasrah terhadap keadaan sekolah yang tidak memiliki sarana (dalam hal ini media) pembelajaran matematika khususnya materi geometri. Sebagian lainnya menunggu bantuan alat
dari pemerintah atau pihak-pihak lainnya, tanpa berupaya membuat alat sendiri, sehingga jelaslah materi tentang geometri sulit untuk dipahami oleh siswa dan siswa pun tidak dapat mengembangkan kreativitas dan kemampuan berpikir logis yang merupakan komponen dari berpikir kritis.
Demikian halnya dengan model atau pendekatan pembelajaran yang digunakan oleh guru, memberi pengaruh besar terhadap keberhasilan siswa. Salah satu cara belajar yang memberikan kesempatan pada siswa untuk ikut terlibat aktif dalam pembelajaran, dan berorientasi konstruktivisme atau pembelajaran yang berpusat pada siswa (Student-Centered Learning) adalah pembelajaran dengan pendekatan induktif.
Selama ini, guru-guru lebih senang menggunakan model pembelajaran ceramah tanpa menerapkan pendekatan induktif. Hal ini diperkuat dengan temuannya Dahiana (2010) yang mengatakan bahwa guru-guru di Kota Bandung masih sedikit mengimplementasikan pendekatan induktif, dan kebanyakannya lebih memilih metode ceramah dan ekspositori dalam pembelajaran, guru asyik sendiri menyampaikan materi dan siswa hanya mendengarkan apa yang dijelaskan guru. Pembelajaran seperti ini menjadikan rendahnya sikap positif siswa terhadap materi yang disampaikan, siswa merasa jenuh dan bosan dalam mengikuti pelajaran yang akhirnya berdampak buruk pada keberhasilan siswa. Padahal menurut Ruseffendi (1991) sikap positif siswa berkorelasi positif terhadap prestasi belajar siswa.
Bahkan peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 tahun 2006 menjadikan sikap dan minat belajar sebagai tujuan dalam pembelajaran. Dengan
demikian, guru perlu memilih cara atau strategi pembelajaran yang dapat meningkatkan sikap dan minat belajar siswa. Hal ini sejalan dengan pernyataannya Turmudi (2009:87) yang mengatakan bahwa perlu adanya strategi yang menarik, memberikan motivasi, rasa aman belajar, dan menyenangkan bagi siswa, sehingga siswa bersikap positif terhadap matematika.
Hal tersebut diperkuat dengan Permendiknas RI No. 41 tahun 2007 yang menyebutkan bahwa proses pembelajaran pada setiap satuan pendidikan dasar dan menengah harus interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, dan memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik.
Dalam pendekatan induktif, siswa dituntut untuk melakukan analisis terhadap suatu persoalan matematika, kemudian mengkonstruksi pemahamannya dan pada akhirnya siswa dapat memberikan suatu dugaan terhadap apa yang telah ditemukannya. Kegiatan ini bersesuaian dengan metode penemuan. Dengan pembelajaran seperti ini, diharapkan dapat menguatkan kemampuan pemahaman dan hapalan siswa terhadap apa yang telah dipelajarinya, serta dapat mengembangkan kemampuan berpikir kritis siswa dalam menghadapi suatu permasalah, baik dalam bidang matematika, bidang lain maupun permasalahan dalam kehidupan sehari-hari.
Kemampuan berpikir kritis dapat dikembangkan dengan pembelajaran matematika melalui pendekatan induktif. Pada proses induktif menuntut siswa untuk berpikir dalam membuat konjektur dan membuat kesimpulan. Priatna
(2003) menyebutkan bahwa penalaran induktif merupakan proses berpikir berupa penarikan kesimpulan yang umum (berlaku untuk semua/ banyak) atas dasar pengetahuan tentang hal yang khusus yang dimulai dari sekumpulan fakta yang ada dengan berproses dari hal-hal yang bersifat konkrit ke yang bersifat abstrak. Untuk menemukan suatu formula siswa terlibat aktif dalam mengobservasi, berpikir dan bereksperimen.
Dalam perkembangan matematika, penalaran induktif sangat berperan. Hal ini ditandai dengan banyak penemuan konsep matematika berawal dari penarikan kesimpulan dengan menerapkan penalaran induktif. Selain itu penalaran induktif banyak dijadikan sebagai pijakan untuk mendapatkan suatu konsep dalam matematika. Dengan kata lain, penalaran secara induktif dapat menggiring siswa menemukan pola berpikir deduktif.
Berkaitan dengan pembelajaran geometri khususnya segitiga, penyajian bahan ajar yang menggunakan pendekatan induktif dimulai dari pemberian contoh-contoh yang bersifat khusus artinya diberikan berbagai ukuran segitiga yang berbeda-beda, siswa dibimbing untuk menggambarkannya, kemudian siswa dibimbing dan diarahkan untuk membuat suatu kesimpulan tentang konsep atau definisi yang sesuai dengan materi geometri yang diberikan. Kegiatan seperti ini, dapat membuat ingatan siswa lebih lama, dibandingkan dengan pembelajaran menggunakan metode ceramah, siswa hanya mendengarkan penjelasan guru, tidak diberi kesempatan untuk mengkonstruksi pemahaman yang telah dimilki sebelumnya.
Pengajaran geometri di sekolah diharapkan dapat mewujudkan sikap dan kebiasaan sistematis bagi siswa untuk dapat memberikan gambaran tentang hubungan dan pengklasifikasian di antara bangun-bangun geometri. Karena itu, perlu disediakan kesempatan dan alat yang dapat mendukung agar siswa dapat mengeksplorasi, mencoba, dan menemukan prinsip-prinsip geometri lewat aktivitas informal dan kemudian melanjutkannya pada aktivitas formal, dan menerapkan pengetahuan yang telah dipelajari.
Penggunaan media dalam proses pembalajaran dapat menarik minat dan motivasi siswa, sebagaimana yang dikemukakan oleh Sadiman (2011: 17) bahwa penggunaan media pendidikan secara tepat dan bervariasi dapat mengatasi sikap pasif siswa, yaitu siswa lebih bergairah dalam belajar, siswa belajar mandiri menurut kemampuan dan minatnya, sehingga dengan menggunakan media pembelajaran ini siswa dapat termotivasi untuk belajar.
Salah satu media pembelajaran yang dapat digunakan saat ini adalah media berbasis komputer. Komputer dapat membantu siswa dalam mengkonstruksi pengetahuannya dan mengembangkan kemampuan eksplorasi siswa pada suatu topik tertentu serta membantu siswa memahami keterkaitan antar konsep.
Penggunaan komputer dalam proses pembelajaran telah diinstruksikan oleh pihak pemerintah sebagai pemilik kebijakan yang tercantum dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi untuk Mata Pelajaran Matematika SD sampai dengan SMA: “Sekolah dapat menggunakan teknologi seperti kalkulator,
komputer, alat peraga atau media lainnya untuk meningkatkan efektifitas pembelajaran…”(Depdiknas, 2003).
Hal ini didukung oleh hasil penelitian di tahun-tahun sebelumnya yang menunjukkan bahwa keefektifan pembelajaran dengan menggunakan komputer dapat meningkatkan pemahaman kognitif siswa. Sebagaimana yang dikutip oleh Suherman (2003: 240) bahwa Bitter (1987), Kulik (1987), Liao (1992), Niemic dan Walberg (1992), dan Ryan (1991) telah menemukan bukti yang kuat tentang pemberdayaan teknologi komputer dalam pembelajaran matematika yaitu dapat meningkatkan kualitas pembelajaran. Begitupun dengan National Council of Teachers of Mathematics (NCTM, 1991), dan Mathematical Association of
America (MAA, 1991) merekomendasikan penggunaan komputer dalam
pembelajaran matematika.
Dengan melihat hasil penelitian-penelitian tersebut, maka sudah sepatutnya guru tidak hanya menggunakan komputer sebagai alat untuk mengetik dan menyimpan data saja, melainkan dapat mendayagunakan komputer dalam pembelajaran. Dengan menggunakan komputer dimungkinkan dapat meningkatkan motivasi dan minat belajar siswa terutama pada bidang matematika yang selama ini sebagian besar siswa menganggap pelajaran yang paling sulit dan menakutkan disebabkan banyaknya hitungan dan rumus yang harus dihafalkan. Ditambah metode dan gaya mengajar guru yang monoton, sehingga membuat siswa bosan serta tidak dapat mengembangkan kreativitasnya.
Salah satu teknologi komputer yang dapat digunakan dalam pembelajaran matematika adalah software Geometer’s Sketchpad. Software ini merupakan
software matematika yang dinamis (Dynamic Geometry software) yang di dalamnya mempelajari geometri, aljabar, kalkulus, dan sebagainya. Dengan menggunakan Geometer’s Sketchpad dimungkinkan siswa memiliki kesempatan untuk melihat bentuk-bentuk yang berbeda dalam konsep geometri, mengkonstruksi bangun-bangun geometri pada bidang datar, melakukan eksplorasi dan analisis terhadap bangun-bangun yang dikonstruksikan, sehingga hal ini dapat meningkatkan kemampuan kreatif dan kritis siswa dalam bereksperimen, berelabolari, berhipotesis, dan bersintesis.
Ada beberapa pertimbangan tentang penggunaan Dynamic Geometry
Software seperti Geometer’s Sketchpad dalam pembelajaran matematika,
khususnya geometri. Menurut Villiers (2004) pengajaran geometri dengan penggunaan dan pengelolaan alat bantu atau model pembelajaran yang baik (Sketchpad, teori Van Hiele, pendekatan Rekonstruktif) memberikan suatu aktivitas belajar yang bermakna bagi siswa, sehingga siswa dapat mengembangkan pemahaman matematika sebelumnya sebagai suatu bukti.
Dalam hal ini, siswa ikut terlibat dalam proses pembelajaran yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk melihat bentuk-bentuk yang berbeda dalam konsep geometri. Goindenber (Krismiati, 2011) menguatkan hal di atas, dengan mengatakan bahwa Dynamic Geometry Software memberikan kesempatan bagi siswa dalam mengkonstruksi, mengeksplorasi, serta melakukan proses penemuan yang merupakan ciri dari kemampuan berpikir kritis dan kreatif matematis.
Dalam pembelajaran matematika, selain dari aspek guru sebagai pengajar, aspek siswa pun perlu diperhatikan. Tidak dapat dipungkiri bahwa pada umumnya kemampuan siswa dalam satu kelas cendrung heterogen. Galton (Ruseffendi, 1991: 113) mengemukakan, “…dari sekelompok anak sebarang (yang tidak dipilih khusus) terdapat sejumlah anak-anak yang berbakat hebat yang ada di atas kelompok sedang (menengah) yang jumlahnya sama dengan anak-anak bodoh yang ada di bawah anak-anak yang sedang itu”. Dengan kata lain dapat dikatakan bahwa di dalam suatu kelas akan terdapat siswa-siswa yang memiliki kemampuan tinggi (atas), sedang (tengah) dan rendah (bawah). Dimana jumlah antara siswa yang berkemampuan tinggi relatif sama dengan siswa yang berkemampuan rendah, sehingga dalam satu kelas kemampuan siswa menyebar secara normal.
Pada siswa yang memiliki kemampuan tingkat tinggi, apapun pendekatan yang digunakan tidak terlalu berpengaruh terhadap peningkatan prestasi belajar, karena mereka sudah terbiasa dengan belajar yang disiplin, bersemangat, dan menantang. Namun lain halnya dengan siswa yang memiliki kemampuan tingkat sedang dan rendah, diperlukan pemilihan pendekatan yang tepat guna meningkatkan prestasi dan sikap siswa. Sebagaimana yang diungkapkan Ruseffendi (1991) bahwa perbedaan kemampuan yang dimiliki siswa bukan merupakan bawaan lahir seutuhnya, melainkan dipengaruhi pula oleh lingkungan sekitar. Oleh karena itu, pemilihan pendekatan pembelajaran yang merupakan lingkungan belajar siswa perlu diperhatikan sebagai pertimbangan dalam pengakomodasiaan kemampuan siswa yang heterogen.
Pendekatan induktif berbantuan Geometer’s Sketchpad dimungkinkan dapat memberikan perbedaan yang signifikan dalam meningkatkan berpikir kritis matematis siswa. Dengan demikian perlu pula diketahui pada tingkat kemampuan mana pendekatan induktif berbantuan Geometer’s Sketchpad memberikan peranan yang lebih besar dalam peningkatan kemampuan berpikir kritis.
Penelitian terhadap penggunaan Geometer’s Sketchpad dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis matematis siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) pernah dilakukan oleh peneliti sebelumnya dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif. Pada hasil penelitiannya terfokus pada diskusi yang merupakan komponen dari pembelajaran kooperatif. Dengan demikian, hasil penelitian tentang pembelajaran menggunakan pendekatan induktif berbantuan
Geometer’s Sketchpad belum ditemukan, sehingga perlu untuk diteliti lebih lanjut.
Berdasarkan uraian di atas, diduga pembelajaran dengan menggunakan pendekatan induktif berbantuan Geometer’s Sketchpad dapat dijadikan salah satu cara untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis matematis siswa. Untuk menguji kebenaran dugaan tersebut, maka dilakukan sebuah penelitian dengan judul “Peningkatan Kemampuan Berpikir Kritis Matematis Siswa Sekolah Menengah Pertama melalui Pembelajaran Geometri dengan Pendekatan Induktif Berbantuan Geometer’s Sketchpad”.
B.Rumusan masalah
Mengacu pada latar belakang masalah di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah:
1. Apakah peningkatan kemampuan berpikir kritis matematis siswa yang memperoleh pembelajaran dengan pendekatan Induktif berbantuan
Geometer’s Sketchpad lebih baik daripada siswa yang memperoleh
pembelajaran geometri secara konvensional?
2. Apakah terdapat perbedaan peningkatan kemampuan berpikir kritis matematis siswa yang memperoleh pembelajaran dengan pendekatan induktif berbantuan Geometer’s Sketchpad antara kelompok kemampuan tinggi, sedang dan rendah?
3. Bagaimana sikap siswa terhadap pembelajaran geometri dengan pendekatan induktif berbantuan Geometer’s Sketchpad?
C.Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk:
1. Menelaah perbedaan peningkatan kemampuan berpikir kritis matematis antara siswa yang memperoleh pembelajaran dengan pendekatan induktif berbantuan Geometer’s Sketchpad dan siswa yang memperoleh pembelajaran geometri secara konvensional.
2. Menelaah perbedaan peningkatan kemampuan berpikir kritis siswa yang memperoleh pembelajaran dengan pendekatan induktif berbantuan
Geometer’s Sketchpad antara kelompok kemampuan tinggi, sedang dan rendah.
3. Mengetahui sikap siswa terhadap pembelajaran geometri dengan pendekatan induktif berbantuan Geometer’s Sketchpad.
D.Manfaat Penelitian
Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat dan masukan bagi semua pihak, yaitu:
1. Bagi guru, penelitian ini mengenalkan salah satu software pembelajaran matematika dan diharapkan dapat memberi motivasi bagi guru (calon guru) matematika untuk memanfaatkan kemajuan teknologi komputer dan sarana yang telah tersedia dalam bentuk media pembelajaran berbasis komputer berupa program Geometer’s Sketchpad.
2. Bagi siswa, melalui hasil penelitian ini dapat meningkatkan minat, kesan positif, dan hasil belajar siswa pada pelajaran matematika, khususnya kemampuan berpikir kritis dan kreatif matematis siswa.
3. Bagi peneliti, dapat dijadikan sebagai bahan rujukan dalam melakukan penelitian selanjutnya yang berkaitan dengan media pembelajaran berbasis komputer.
E.Definisi Operasional
Definisi operasional yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Kemampuan berpikir kritis matematis yang dimaksud dalam penelitian ini adalah kemampuan melakukan menganalisis suatu permasalahan dan manipulasi matematika dalam membuat generalisasi (menghasilkan pola atas permasalahan yang dihadapi dalam kategori yang lebih luas).
2. Pendekatan induktif yang dimaksud dalam penelitian ini adalah sebuah proses berpikir dalam pembelajaran geometri yang memfokuskan pada
pengalaman siswa seperti mengamati gejala (menganalisis), mencoba suatu proses (melakukan konjektur), kemudian mengambil kesimpulan (generalisasi).
3. Model Pembelajaran geometri konvensional yang dimaksud dalam penelitian ini adalah pembelajaran yang biasa digunakan oleh guru yaitu model ceramah.
4. Geometer’s Sketchpad adalah sebuah software matematika yang dirancang untuk mendukung pembelajaran geometri dan dapat mendorong siswa untuk melakukan eksplorasi dari pengetahuan yang telah diperolehnya dan mengkontruksi objek-objek geometri, mengembangkan konjektur, melakukan proses penemuan, serta dapat membuat animasinya. Geometer’s