• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA - Hanif Romadhani Bab II

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "BAB II TINJAUAN PUSTAKA - Hanif Romadhani Bab II"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A.Metformin Hidroklorida

Tablet Metformin Hidroklorida sistem lepas lambat mengandung NLT

90% dan NMT 110% dari jumlah Metformin Hidroklorida berlabel (The United States Pharmacopeial Convention Revision Bulletin Official September 1, 2010).

Identifikasi tablet Metformin Hidroklorida dapat dilakukan dengan

metode Kromatografi dan Spektrofotometri UV-Visible. Identifikasi dengan

metode Kromatografi menggunakan larutan buffer yang menyesuaikan asam

fosfat dengan pH 3,85 dan Acetonitrile : larutan buffer (1 : 9) sebagai fase

gerak. Panjang gelombang maksimum yang diperoleh dengan metode

Kromatografi adalah 218 nm. Sedangkan identifikasi dengan metode

Spektrofotometri UV-Visible menggunakan larutan buffer fosfat pH 6,8.

Panjang gelombang maksimum yang diperoleh dengan metode

Spektrofotometri UV-Visible adalah 232 nm (The United States PharmacopeialConvention Revision Bulletin Official September 1, 2010).

Metformin Hidroklorida memiliki nama IUPAC N,N-

dimetilimidodikarbonimidik diamida dengan rumus molekul .HCl.

Metformin Hidroklorida mengandung tidak kurang dari 93,5% dan tidak lebih

dari 101,0% .HCl, dihitung terhadap zat yang telah dikeringkan.

Metformin Hidroklorida memiliki pemerian serbuk hablur putih, tidak berbau

atau hampir tidak berbau, higroskopis (Depkes RI, 1995).

(2)

Metformin Hidroklorida mudah larut dalam air, praktis tidak larut

dalam eter dan dalam kloroform, sukar larut dalam etanol (Depkes RI, 1995).

Jika dilihat dari strukturnya, Metformin Hidroklorida mempunyai ausokrom

dan kromofor serta mempunyai nilai koefisien ekstingsi molar sebesar 57.049 L

(Sujana et al, 2011). Kromofor adalah gugus fungsional yang mengabsorbsi radiasi ultraviolet dan tampak, jika diikat oleh gugus ausokrom.

Hampir semua kromofor mempunyai ikatan rangkap berkonjugasi

(diena(C=C-C=C), dienon (C=C-C=O), benzen dan lain-lain. Ausokrom adalah gugus

fungsional yang mempunyai elektron bebas, seperti –OH, N , N , -X

(Harmita, 2006).

Chirag et al (2014) menyebutkan bahwa panjang gelombang maksimal metformin hidroklorida dengan pelarut air adalah pada 232 nm.

Gambar 2.2. Panjang gelombang maksimal Metformin Hidroklorida konsentrasi 20 µg/ml dengan pelarut air (Chirag et al, 2014)

B.Spektrototometri 1. Spektrofotometri

Spektrofotometri Sinar Tampak (UV-Vis) adalah pengukuran energi

cahaya oleh suatu sistem kimia pada panjang gelombang tertentu (Day,

2002). Sinar ultraviolet (UV) mempunyai panjang gelombang antara

200-400 nm, dan sinar tampak (visible) mempunyai panjang gelombang 200-400-750

nm. Spektrofotometri digunakan untuk mengukur besarnya energi yang

(3)

larutan yang mengandung zat yang dapat menyerap sinar radiasi tersebut

(Harmita, 2006). Pengukuran spektrofotometri menggunakan alat

spektrofotometer yang melibatkan energi elektronik yang cukup besar pada

molekul yang dianalisis, sehingga spektrofotometer UV-Vis lebih banyak

dipakai untuk analisis kuantitatif dibandingkan kualitatif. Spektrum UV-Vis

sangat berguna untuk pengukuran secara kuantitatif. Konsentrasi dari analit

di dalam larutan bisa ditentukan dengan mengukur absorban pada panjang

gelombang tertentu dengan menggunakan hukum Lambert-Beer (Rohman,

2007).

Hukum Lambert-Beer menyatakan hubungan linearitas antara

absorban dengan konsentrasi larutan analit dan berbanding terbalik dengan

transmitan. Dalam hukum Lambert-Beer tersebut ada beberapa pembatasan

(Rohman, 2007) yaitu:

a. Sinar yang digunakan dianggap monokromatis

b. Penyerapan terjadi dalam suatu volume yang mempunyai

penampang yang sama

c. Senyawa yang menyerap dalam larutan tersebut tidak tergantung

terhadap yang lain dalam larutan tersebut

d. Tidak terjadi fluorensensi atau fosforisensi

e. Indeks bias tidak tergantung pada konsentrasi larutan

Hukum Lambert-Beer dinyatakan dalam persamaan (Rohman,

2007):

A = a.b.c (1)

Keterangan:

A = absorban

a = absorpsivitas molar

b = tebal kuvet (cm)

c = konsentrasi

Salah satu syarat senyawa dianalisis dengan spektrofotometri adalah

karena senyawa tersebut mengandung gugus kromofor. Kromofor adalah

(4)

diikat oleh gugus ausokrom. Hampir semua kromofor mempunyai ikatan

rangkap berkonjugasi (diena(C=C-C=C), dienon (C=C-C=O), benzen dan

lain-lain. Ausokrom adalah gugus fungsional yang mempunyai elektron

bebas, seperti –OH, N , N , -X (Harmita, 2006).

2. Instrument Spektrofotometri Uv-Vis

Menurut Khopkar (2003) Instrument Spektrofotometri Uv-Vis

adalah:

a. Sumber Cahaya

Sumber yang biasa digunakan pada spektroskopi absorbsi adalah

lampu wolfram. Pada daerah UV digunakan lampu hidrogen atau lampu

deuterium. Kebaikan lampu wolfram adalah energi radiasi yang

dibebaskan tidak bervariasi pada berbagai panjang gelombang.

b. Monokromator

Monokromator adalah alat yang akan memecah cahaya polikromatis

menjadi cahaya tunggal (monokromatis) dengan komponen panjang

gelombang tertentu. Monokromator berfungsi untuk mendapatkan radiasi

monokromator dari sumber radiasi yang memancarkan radiasi

polikromatis. Monokromator terdiri dari susunan: celah (slit) masuk –

filter – prisma – kisi (grating) – celah (slit) keluar.

c. Wadah sampel (kuvet)

Kuvet merupakan wadah sampel yang akan dianalisis. Kuvet dari

leburan silika (kuarsa) dipakai untuk analisis kualitatif dan kuantitatif

pada daerah pengukuran 190 – 1100 nm, dan kuvet dari bahan gelas

dipakai pada daerah pengukuran 380 – 1100 nm karena bahan dari gelas

mengabsorbsi radiasi UV.

d. Detektor

Detektor akan menangkap sinar yang diteruskan oleh larutan. Sinar

kemudian diubah menjadi sinyal listrik oleh amplifier dan dalam rekorder

(5)

e. Visual Display/Recorder

Merupakan sistem baca yang memperagakan besarnya isyarat listrik,

menyatakan dalam bentuk % transmitan maupun Absorbansi.

3. Prinsip Kerja Spektrofotometri

Cahaya yang berasal dari lampu deuterium maupun wolfram yang

bersifat polikromatis di teruskan melalui lensa menuju ke monokromator

pada spektrofotometer dan filter cahaya pada fotometer. Monokromator

kemudian akan mengubah cahaya polikromatis menjadi cahaya

monokromatis (tunggal). Berkas-berkas cahaya dengan panjang tertentu

kemudian akan dilewatkan pada sampel yang mengandung suatu zat dalam

konsentrasi tertentu. Oleh karena itu, terdapat cahaya yang diserap

(diabsorbsi) dan ada pula yang dilewatkan. Cahaya yang dilewatkan ini

kemudian di terima oleh detector. Detektor kemudian akan menghitung

cahaya yang diterima dan mengetahui cahaya yang diserap oleh sampel.

Cahaya yang diserap sebanding dengan konsentrasi zat yang terkandung

dalam sampel sehingga akan diketahui konsentrasi zat dalam sampel secara

kuantitatif (Triyati, 1985).

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam analisis Spektrofotometri

Uv-Vis menurut Rohman (2007):

1) Pembentukan molekul yang dapat menyerap sinar Uv-Vis

Hal ini perlu dilakukan jika senyawa yang dianalisis tidak menyerap pada

daerah tersebut. Cara yang digunakan adalah dengan merubah menjadi

senyawa lain atau direaksikan dengan pereaksi tertentu.

2) Waktu Operasional (operating time)

Cara ini biasa digunakan untuk pengukuran hasil reaksi atau

pembentukan warna. Tujuannya adalah untuk mengetahui waktu

pengukuran yang stabil. Waktu operasional ditentukan dengan mengukur

(6)

3) Pemilihan Panjang Gelombang

Panjang gelombang yang digunakan untuk analisis kuantitatif adalah

panjang gelombang yang mempunyai absorbansi maksimal. Untuk

memilih panjang gelombang maksimal, dilakukan dengan membuat

kurva hubungan antara absorbansi dengan panjang gelombang dari suatu

larutan baku pada konsentrasi tertentu.

C.Validasi Metode Analisis

Validasi metode analisis adalah suatu tindakan penilaian terhadap

parameter tertentu berdasarkan percobaan dari laboratorium, untuk

membuktikan bahwa parameter tersebut memenuhi persyaratan untuk

penggunaanya (Harmita, 2004).

Beberapa parameter yang dipertimbangkan dalam validasi metode

analisis meliputi:

1. Linearitas

Linearitas adalah kemampuan metode analisis yang memberikan

respon yang secara langsung atau dengan bantuan transformasi matematik

yang baik, proporsional terhadap konsentrasi analit dalam sampel (Harmita,

2004). Linearitas biasanya dinyatakan dalam istilah variansi sekitar arah

garis regresi yang dihitung berdasarkan persamaan matematik data yang

diperoleh dari hasil uji analit dalam sampel dengan berbagai konsentrasi

analit. Sebagai parameter dengan adanya hubungan yang linier digunakan

koefisien korelasi (r) pada analisis regresi linear dengan persamaan y=bx+a. Hubungan linear yang ideal dicapai jika nilai a=0 dan r=+1 atau -1

tergantung pada arah garis. Nilai b menunjukkan kepekaan analisis terutama

instrumen yang digunakan (Harmita, 2004). Nilai r hitung yang

dibandingkan dengan r tabel pada taraf kepercayaan dan derajat kebebasan

tertentu yang menunjukkan r hitung > r tabel dapat dikatakan linearitasnya

baik, dan dapat digunakan untuk perhitungan (De Muth, Cit Utami, 2006).

(7)

bersamaan dengan besarnya skor pada variabel yang lain dan rendahnya

skor pada satu variabel terjadi bersamaan dengan kecilnya skor pada

variabel yang lain dan rendahnya skor pada variabel yang satu terjadi

bersamaan dengan tingginya skor pada variabel yang lain (Azwar, 2007).

2. Batas Deteksi (limif of detection: LOD) dan Batas Kuantitasi (limit of quantity: LOQ)

a. Batas deteksi (limif of detection: LOD)

Batas deteksi (limif of detection: LOD) adalah jumlah terkecil analit yang dapat dideteksi yang masih memberikan respon signifikan

dibandingkan dengan blanko. Batas deteksi merupakan parameter uji

batas (Harmita, 2004).

Batas deteksi (limif of detection: LOD) dapat dihitung secara statistik dengan persamaan:

LOD =

atau LOD =

(2)

Keterangan:

k = konstanta (untuk LOD k = 3)

Sb = simpangan baku

b = slope

b. Batas kuantitasi (limit of quantity: LOQ)

Batas kuantitasi (limit of quantity: LOQ) merupakan parameter pada analisis renik dan diartikan sebagai kuantitas terkecil analit dalam

sampel yang masih dapat memenuhi kriteria cermat dan seksama. Pada

analisis instrument batas deteksi dapat dihitung dengan mengukur respon

blanko dan formula (Harmita, 2004).

Batas kuantitasi (limit of quantity: LOQ) dapat dihitung secara statistik dengan persamaan:

LOQ =

atau LOQ =

(8)

Keterangan:

k = konstanta (untuk LOQ k = 10)

Sb = simpangan baku

b = slope

3. Keseksamaan (Precision)

Keseksamaan atau ketelitian dapat dinyatakan sebagai keterulangan

(repeatability) atau ketertiruan (reproducibility). Keterulangan adalah keseksamaan metode jika dilakukan berulang kali oleh analis yang sama

pada kondisi sama dan dalam interval waktu yang pendek. Keterulangan

dinilai melalui pelaksanaan penetapan terpisah lengkap terhadap

sampel-sampel identik yang terpisah dari batch yang sama, jadi memberikan ukuran keseksamaan. Ketertiruan adalah keseksamaan metode jika dikerjakan pada

kondisi yang berbeda. Biasanya analisis dilakukan dalam

laboratorium-laboratorium yang berbeda menggunakan peralatan, pereaksi, pelarut, dan

analis yang berbeda pula. Analis dilakukan terhadap sampel-sampel yang

diduga identik yang dicuplik dari batch yang sama. Ketertiruan dapat juga dilakukan dalam laboratorium yang sama dengan menggunakan peralatan,

pereaksi, dan analis yang berbeda pada kondisi yang normal (Harmita,

2004).

Keseksamaan diukur sebagai simpangan baku relatif atau koefisien

variasi. Kriteria keseksamaan diberikan jika metode memberikan koefisien varian (KV) 2% atau kurang. Tetapi kriteria ini sangat fleksibel tergantung pada konsentrasi analit yang diperiksa, jumlah sampel dan kondisi

laboratorium. Pada kadar 1% atau lebih KV 2,5% dan satu per seribu adalah

5%. Pada kadar satu per sejuta (ppm) KV 16% dan pada kadar satu per

milyar (ppb) adalah 32% (Harmita, 2004).

Keseksamaan dapat dihitung dengan persamaan:

KV =

(9)

Keterangan:

KV = koefisien variasi

SD = standar deviasi

̅

= kadar rata-rata

Percobaan keseksamaan dilakukan terhadap paling sedikit enam

replikasi sampel yang diambil dari campuran sampel dengan matriks yang

homogen (Harmita, 2004).

4. Kecermatan (accuracy)

Kecermatan atau ketepatan adalah ukuran yang menunjukkan derajat

kedekatan hasil analisis dengan kadar analit sebenarnya. Kecermatan

dinyatakan sebagai persen perolehan kembali (recovery) analit yang ditambahkan. Kecermatan hasil analisis sangat tergantung kepada sebaran

galat sistematik didalam keseluruhan tahapan analisis. Oleh karena itu untuk

mencapai kecermatan yang tinggi hanya dapat dilakukan dengan cara

mengurangi galat sistematik tersebut seperti menggunakan peralatan yang

telah dikalibrasi, menggunakan pelarut yang baik, pengontrolan suhu, dan

pelaksanaan yang tepat, taat asas sesuai prosedur (Harmita, 2004).

Kecermatan dapat dilakukan dengan dua cara yaitu metode simulasi

(spiked-plasebo recovery) atau metode penambahan baku (standard addition method). Dalam metode simulasi, sejumlah analit bahan murni (senyawa pembanding kimia) ditambahkan kedalam campuran bahan

pembawa sediaan farmasi (plasebo) lalu campuran tersebut dianalisis lalu hasilnya dibandingkan dengan kadar analit yang ditambahkan (kadar

sebenarnya). Dalam metode penambahan baku, sampel dianalisis lalu

sejumlah tertentu analit yang diperiksa ditambahkan kedalam sampel

dicampur dan dianalisi lagi. Selisih kedua kadar dibandingkan dengan kadar

sebenarnya (hasil yang diharapkan). Vanderwielen, et.al menyatakan bahwa selisih kada pada berbagai penentuan harus 5% atau kurang pada setiap

(10)

Perhitungan perolehan kembali ditetapkan dengan persamaan

(Harmita, 2004):

% Perolehan kembali =

x 100% (5)

Rentang kesalahan yang diizinkan pada setiap konsentrasi analit

pada matriks dapat dilihat pada tabel dibawah ini (Harmita, 2004):

Tabel 2.1. Rentang kesalahan yang diizinkan pada setiap konsentrasi analit pada matriks (Harmita, 2004)

Analit pada matriks sampel Rata-rata yang diperoleh (%)

100% 98-102

>10% 98-102

>1% 97-103

>0,1% 95-105

0,01% 90-107

0,001% 90-107

1 ppm 80-110

100 ppb 80-110

10 ppb 60-115

Gambar

Gambar 2.2. Panjang gelombang maksimal Metformin Hidroklorida konsentrasi 20
Tabel 2.1. Rentang kesalahan yang diizinkan pada setiap konsentrasi analit

Referensi

Dokumen terkait

Pemilihan cairan penyari yang akan digunakan dalam ekstraksi dari bahan mentah obat tertentu berdasarkan pada daya larut zat aktif dan zat tidak aktif serta zat yang tidak

Fungsinya digunakan dengan membaca warna yang terbentuk dari sebuah reaksi antara sampel yang mengandung bahan kimia tertentu dengan reagen yang terdapat pada

Atas dasar hal tersebut diatas, maka kebutuhan zat besi pada trimester II dan III akan jauh lebih besar dari jumlah zat besi yang didapat dari makanan, walaupun makanan

Bila suatu kation ditukar dengan kation lain dengan valensi yang berbeda, maka afinitas ion dengan valensi yang lebih tinggi terhadap zat penukar ion akan bertambah pada

Luas puncak proporsional dengan konsentrasi senyawa dalam sampel yang diinjeksikan sehingga dapat digunakan untuk menghitung konsentrasi senyawa dalam sampel pada analisis

Maserasi merupakan suatu proses penarikan suatu zat yang dilakukan dengan cara penyarian simplisia yang mengandung zat yang mudah larut dalam cairan penyari, tidak mengandung zat

Kelarutan didefinisikan dalam bentuk kuantitaif sebagai konsentrasi zat terlarut dalam suatu larutan jenuh pada temperatur tertentu; secara kualitatif, kelarutan didefinisikan

Metode titrasi Karl Fischer biasanya digunakan untuk mengukur kadar air sampel yang mengandung gula dalam jumlah cukup tinggi atau konsentrasi yang tinggi pada gula dan