7 A. Kinerja Keuangan Perusahaan
Penilaian merupakan suatu hal yang penting dalam proses perencanaan dan pengendalian. Melalui penilaian perusahaan dapat memilih strategi dan struktur keuangannya. Penilaian kinerja perusahaan didasarkan pada dua aspek, yaitu penilaian kinerja keuangan dan non keuangan. Keduanya merupakan unsur penting dalam penilaian kinerja perusahaan.
Tujuan utama suatu perusahaan adalah mencari laba, terutama di tengah persaingan usaha yang semakin ketat sekarang ini, semua perusahaan bersaing untuk meningkatkan laba. Dengan meningkatnya laba perusahaan menarik investor untuk menanamkan modalnya dalam perusahaan tersebut. Oleh karena itu investor harus mengetahui kondisi keuangan perusahaan dimana modalnya diinvestasikan. Laba perusahaan merupakan faktor utama dalam penilaian kinerja keuangan perusahaan (analisis fundamental perusahaan) karena laba perusahaan selain menjadi indikator kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban bagi para investor, juga sarana untuk menciptakan nilai perusahaan yang menunjukkan prospek perusahaan di masa yang akan datang.
Penilaian kinerja keuangan perusahaan dimaksudkan untuk menilai dan mengevaluasi tujuan perusahaan melalui laporan keuangan perusahaan
tersebut. Pengukuran kinerja keuangan merupakan suatu perhitungan tingkat efektivitas dan efisiensi suatu perusahaan dalam kurun waktu tertentu untuk mencapai hasil yang optimal.
Penilaian kinerja keuangan perusahaan akan menunjukkan pada kondisi kesehatan perusahaan. Oleh karena itu, kinerja keuangan perusahaan menjadi salah satu informasi yang sangat berpengaruh dalam keputusan berinvestasi. Salah satu informasi yang dibutuhkan dalam penilaian kinerja keuangan perusahaan adalah laporan keuangan perusahaan. Laporan keuangan bukan hanya berguna bagi pihak manajemen sebagai dasar pengambilan keputusan, tetapi juga sangat dibutuhkan oleh pihak investor sebagai bentuk pertanggung jawaban dari perusahaan atas modal yang telah ditanamkan oleh investor.
Laporan keuangan mencerminkan keadaan atau tingkat likuiditas, profitabilitas, dan solvabilitas suatu perusahaan pada suatu periode tertentu. Likuiditas adalah kemampuan suatu perusahaan untuk memenuhi kewajiban finansialnya yang segera harus dipenuhi. Profitabilitas menunjukkan kemampuan suatu perusahaan untuk menghasilkan laba selama periode tertentu, sedangkan solvabilitas adalah kemampuan perusahaan untuk memenuhi segala kewajiban finansialnya, apabila perusahaan pada saat itu akan dilikuidasi.
Kinerja keuangan sebuah perusahaan lebih banyak diukur berdasarkan rasio-rasio keuangan selama satu periode tertentu. Pengukuran berdasarkan rasio-rasio keuangan ini sangat bergantung pada metode atau perlakuan akuntansi yang digunakan dalam menyusun laporan keuangan perusahaan,
sehingga seringkali kinerja perusahaan terlihat baik dan meningkat , yang mana sebenarnya kinerja tidak mengalami peningkatan bahkan menurun.
Rasio keuangan dikelompokkan menjadi empat kategori (Agus Sartono, 2001):
1. Rasio Likuiditas
Likuiditas perusahaan menunjukkan kemampuan untuk membayar kewajiban financial jangka pendek tepat pada waktunya. Merupakan ketersediaan kas jangka pendek di masa depan setelah memperhitungkan komitmen yang ada. Likuiditas perusahaan ditunjukkan oleh besar kecilnya aktiva lancar yaitu aktiva yang mudah untuk diubah menjadi kas, surat berharga, piutang, persediaan. Rasio likuiditas meliputi:
a. Current Ratio
Rasio lancar (Current Ratio) merupakan rasio yang paling umum digunakan untuk menaksir resiko hutang yang disajikan dalam neraca. Rasio ini menguhubungkan aktiva lancar terhadap kewajiban lancar untuk mencoba memperlihatkan keamanan klaim pemberi hutang jika ada kegagalan. Semakin tinggicurrent ratio berarti semakin besar kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban finansial jangka pendek.
.b. Acid Test Ratio
Rasio ini digunakan untuk menguji kemampuan membayar kewajiban lancer bilamana terjadi krisis yang nyata. Perhitungan
acid test ratio atau quick ratio adalah dengan menghubungkan aktiva lancar yang benar-benar likuid, yaitu aktiva lancar diluar persediaan terhadap kewajiban lancar.
2. Rasio Aktivitas
Rasio aktivitas menunjukkan bagaimana sumber daya yang dimiliki perusahaan telah dimanfaatkan secara optimal. Rasio ini terdiri dari:
a. Periode Pengumpulan Piutang
Periode pengumpulan piutang adalah rata-rata hari yang diperlukan untuk mengubah piutang menjadi kas. Terlalu tinggi periode pengumpulan piutang berarti kebijakan kredit terlalu bebas, akibatnya timbul bed-debt dan investasi dalam piutang menjadi terlalu besar akibatnya keuntungan akan menurun. Sebaliknya periode pengumpulan yang terlalu pendek berarti kebijakan kredit terlalu ketat dan besar kemungkinannya perusahaan akan kehilangan untuk memperoleh keuntungan. .b. Perputaran Persediaan
Perputaran persediaan mengukur tingkat perputaran barang dari persediaan ke penjualan dan dinyatakan dengan rasio antara harga pokok penjualan terhadap tingkat persediaan. Semakin tinggi jumlah perputaran berarti semakin efisien.
c. Perputaran Aktiva Tetap
Merupakan rasio antara penjualan dengan aktiva tetap neto. Rasio ini menunjukkan bagaimana perusahaan menggunakan aktiva tetapnya seperti gedung, kendaraan, dan perlengkapan kantor.
d. Perputaran Total Aktiva
Perputaran total aktiva menunjukkan bagaimana efektifitas perusahaan menggunakan keseluruhan aktiva untuk menciptakan penjualan dan mendapatkan laba. Dihitung dengan membagi penjualan dengan total aktiva.
3. Rasio Solvabilitas
Rasio solvabilitas menunjukkan proporsi atas penggunaan utang untuk membiayai investasinya atau untuk mengukur seberapa bagus struktur permodalan suatu perusahaan. Termasuk dalam rasio ini adalah:
a. Debt Ratio
Rasio ini mengukur prosentase penggunaan dana yang berasal dari kreditur. Semakin tinggi rasio ini maka semakin besar risiko yang dihadapi dan investor akan meminta tingkat keuntungan yang semakin tinggi. Rasio yang tinggi juga menunjukkan proporsi modal sendiri yang rendah untuk membiayai aktiva.
b. Debt to Equity Ratio
Merupakan perbandingan jumlah modal saham dengan modal keseluruhan.
c. Time Interest Earned Ratio
Rasio ini mengukur kemampuan perusahaan memenuhi beban tetapnya berupa bunga, atau mengukur seberapa jauh laba dapat berkurang tanpa perusahaan mengalami kesulitan keuangan karena tidak mampu membayar bunga.
d. Fixed Charge Coverage Ratio
Mengukur seberapa besar kemampuan perusahaan untuk menutup beban tetapnya termasuk pembayaran deviden saham preferen, bunga, angsuran pinjaman, dan sewa.
4. Rasio Profitabilitas
Rasio profitabilitas menunjukkan kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba selama periode tertentu. Rasio ini terdiri dari:
a. Gross Profit Margin
Rasio ini mengukur kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba kotor dari setiap penjualannya. Dihitung dengan mengurangkan harga pokok penjualan dari penjualan dan membagi sisanya dengan penjualan.
b. Net Profit Margin
Rasio ini mengukur kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba laba bersih dari setiap penjualannya. Dihitung
dengan membagi keuntungan bersih setelah pajak terhadap penjualan.
c. Return On Investment
Rasio ini menunjukkan kemampuan perusahaan menghasilkan laba dari aktiva yang digunakan. Dihitung dengan membagi keuntungan bersih setelah pajak terhadap jumlah aktiva keseluruhan.
d. Return On Equity
Digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan memperoleh laba yang tersedia bagi pemegan saham perusahaan. Rasio ini dihitung dengan membagi laba setelah pajak dengan modal sendiri.
B. PengertianCorporate Social Responsibility(CSR)
Di Indonesia sampai saat ini, masih banyak perbedaan dalam memahami konsep Corporate Social Responsibility (CSR), dimana banyak instansi maupun industri yang memberikan pengertian dan ruang lingkup yang berbeda untuk melihat konsep CSR. Pada dasarnya, CSR merupakan suatu bentuk tanggung jawab sosial yang berkembang sebagai wujud dari sebuah good corporate governance. Pada sisi lain, CSR dilihat sebagai aplikasi dari keberadaan perusahaan sebagai salah satu elemen sosial (corporate citizenship) yang merupakan bagian dari etika bisnis. Dalam hal ini, pelaksanaan CSR mengacu pada konsep yang lebih luas dan global.
Corporate Social Responsibility (CSR) atau Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (TSP) merupakan suatu komitmen perusahaan untuk membangun kualitas kehidupan yang lebih baik bersama dengan para pihak yang terkait, terutama masyarakat disekelilingnya dan lingkungan sosial dimana perusahaan tersebut berada, yang dilakukan terpadu dengan kegiatan usahanya secara berkelanjutan (Budimanta, 2008).
Menurut UU No. 25 Tahun 2007 Tentang Penanaman Modal, yang dimaksud dengan CSR adalah tanggung jawab yang melekat pada setiap perusahaan penanaman modal untuk tetap menciptakan hubungan yang serasi, seimbang, dan sesuai dengan lingkungan, nilai, norma, dan budaya masyarakat setempat. Sedangkan menurut UU No. 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas, tanggung jawab sosial dan lingkungan adalah komitmen Perseroan untuk berperan serta dalam pembangunan ekonomi berkelanjutan guna meningkatkan kualitas kehidupan dan lingkungan yang bermanfaat, baik bagi Perseroan sendiri, komunitas setempat, maupun masyarakat pada umumnya.
C. KonsepStakeholder
Secara definitif, stakeholder mempunyai pengertian sebagai sebagian anggota komunitas, atau kelompok individu, masyarakat yang tidak semua berasal dari wilayah perusahaan berdiri, wilayah negara dan bisa juga negara lain (global) yang mempunyai pengaruh terhadap jalannya suatu perusahaan. Stakeholder dapat pula diartikan sebagai pihak-pihak yang memiliki
kepentingan dan mempunyai pengaruh terhadap jalannya operasi suatu perusahaan (Budimanta, 2008).
Setiap perusahaan baik itu perusahaan besar maupun kecil akan mempunyai berhubungan dengan investor, karyawan, peminat atau konsumen, pemasok, kreditur, dan masyarakat. Menurut Ann (1998) dalam Budimanta (2008), istilah stakeholder mengacu pada individu atau kelompok yang dapat mempengaruhi atau dipengaruhi oleh aktivitas perusahaan. Mengacu pada pengertian aslinya, stakeholder berarti seseorang atau organisasi yang mempunyai bagian dan kepentingan pada bentuk perusahaan atau perusahaan (Oxford dictionary,2005). Seseorang atau organisasi yang dianggap sebagi stakeholder mempunyai tiga atribut, yaitu kekuasaan, legitimasi, dan kepentingan.
Beberapa bentuk stakeholder yang ada di masyarakat yang berada di lingkungan sebuah perusahaan dapat diidentifikasi menjadi beberapa bentuk, masing-masing stakeholder ini berada di dalam perusahaan itu sendiri sebagai bagian dalam perusahaan maupun yang berda di luar perusahaan sebagai elemen yang mempengaruhi jalannya aktivitas sebuah perusahaan. Sehingga sebuah perusahaan dengan segala elemenya baik dari dalam maupun dari luar akan berbentuk sebuah sistem yang saling berkaitan membentuk struktur dan berfungsi satu sama lain serta mempunyai tujuan masing-masing. Berikut pengelompokkanstakeholder(Budimanta, 2008):
1. Di dalam perusahaan, terdiri dari: a) Pemilik saham/investor
b) Pensiunan karyawan pemegang dana c) Manajer penyandang dana
2. Konsumen terdiri dari: a) Individu pembeli b) Pasar tradisional c) Lembaga konsumen d) Asosiasi konsumen 3. Karyawan terdiri dari:
a) Karyawan baru b) Karyawan lama c) Karyawan minoritas d) Pensiunan
e) Karyawan dengan keluarganya f) Perusahaan
4. Korporat terdiri dari: a) Pemasok (supplier) b) Kompetitor
c) Asosiasi korporat d) Asosiasi keuangan 5. Komunitas terdiri dari:
a) Penduduk yang tinggal dekat dengan usaha b) Asosiasi masyarakat
d) Sekolah dan universitas
e) Kelompok-kelompok kepentingan 6. Lingkungan terdiri dari:
a) Lingkungan alam b) Spesies bukan manusia c) Generasi mendatang d) Ilmuan
e) Kelompok-kelompok lingkungan 7. Media massa terdiri dari:
a) Wartawan b) Kolumnis
8. Pemerintah terdiri dari:
a) Pengambil keputusan (DPRD, DPR) b) Pemerintah daerah
D. PengungkapanCorporate Social Responsibility(CSR)
Laporan tahunan perusahaan merupakan media komunikasi antara perusahaan dengan masyarakat yang membutuhkan informasi keuangan perusahaan dan kinerja serta perkembangan perusahaan. Laporan tahunan tidak hanya menyajikan laporan keuangan selama periode tertentu, tetapi juga mencakup bidang yang lebih luas. Masyarakat pengguna laporan tahunan menuntut agar perusahaan juga mengungkapkan informasi tentang tanggungjawab sosial perusahaan atau lebih dikenal dengan CSR. Berkaitan dengan pengungkapan CSR, Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) dalam PSAK
No.1 (Revisi 1998) paragraf sembilan secara implisit menentukan sebagai berikut:
“Perusahaan dapat pula menyajikan laporan tambahan seperti laporan mengenai lingkungan hidup dan laporan nilai tambah (value added statement), khususnya bagi industri dimana faktor-faktor lingkungan hidup memegang peranan penting dan bagi industry yang menganggap pegawai sebagai kelompok pengguna laporan yang memegang peranan penting”.
Menurut Gray et al (1995) dalam Rohman (2001), terdapat tiga studi yang menjelaskan mengapa perusahaan cenderung untuk mengungkapkan informasi yang berkaitan dengan aktivitasnya dan dampak yang ditimbulkan oleh perusahaan tersebut, yaitu:
Pertama, Decision-userfulnes studies yang menunjukkan bahwa informasi tentang kinerja sosial perusahaan dibutuhkan oleh para pemakai seperti para analis, banker, dan pihak lain yang terkait. Studi ini menyebutkan bahwa informasi tentang aktivitas sosial perusahaan adalah pada posisi mandatory important.
Kedua, Economic theory study, studi dalam corporate responsibility reporting ini berdasarkan pada economic agency theory dan accounting positive theory yang menganalogikan manajemen sebagai agen dari prinsipal. Prinsipal diartikan sebagai pemegang saham dantraditional userslain. Namun, pengertian users tersebut telah berkembang menjadi seluruh interest group perusahaan yang berkaitan. Sebagai agen, manajemen akan berupaya mengoperasikan perusahaan sesuai dengan keinginan shareholders dan memberikan informasi tentang aktivitas usahanya, dampak yang ditimbulkannya, serta tanggungjawab sosial perusahaan.
Ketiga, social and political theory studies yang mendasarkan pada teori stakeholders, teori legitimasi organisasi, dan teori ekonomi publik. Teori stakeholdersmengasumsikan bahwa perusahaan berusaha mencari pembenaran dari para stakeholders dalam menjalankan operasi perusahaannya, salah satunya dengan menyampaikan informasi yang lebih transparan tentang kinerja perusahaan dari berbagai aspek. Semakin kuat posisi stakeholders, semakin kuat pula kecenderungan perusahaan untuk mengadaptasi diri terhadap keinginan parastakeholders.
Di samping itu, dalam penerapan Good Corporate Governance (GCG) khususnya transparency, perusahaan wajib menyediakan informasi yang cukup, akurat, dan tepat waktu kepada seluruh stakeholders, sehingga semua pihak yang mempunyai keterkaitan dengan perusahaan (kreditur, pemasok, investor, konsumen, pemerintah dan masyarakat umum) mengetahui risiko yang mungkin terjadi dan keuntungan yang dapat diperoleh dengan adanya perusahaan, serta dalam melakukan transaksi dengan perusahaan, dan sekaligus ikut serta dalam mekanisme pengawasan terhadap jalannya perusahaan (John D. Sullian, 2000 dalam Rohman, 2001).
Selanjutnya gagasan utama Good Coorporate Governance (GCG) atau tata kelola perusahaan yang baik adalah mewujudkan tanggung jawab sosial (CSR). Hal ini sejalan dengan kesimpulan yang terangkum dalam Konferensi CSR yang diselenggarakan oleh Indonesia Business Links (IBL) pada 7-8 September 2006 di Jakarta yaitu “Responsible business is good business”. Menteri Koordinator Perekonomian, Dr Boediono (Republika, 2006) saat
membuka konferensi ini mengatakan, “CSR merupakan elemen prinsip dalam tata laksana kemasyarakatan yang baik. Bukan hanya bertujuan memberi nilai tambah bagi para pemegang saham. Pada intinya, pelaku CSR sebaiknya tidak memisahkan aktifitas CSR dengan Good Corporate Governance. Karena keduanya merupakan satu continuum (kesatuan), dan bukan merupakan penyatuan dari beberapa bagian yang terpisahkan”.
Pengaturan pengungkapan tanggungjawab sosial perusahaan di suatu negara bisa berbeda dengan negara lain (Nola Buhr dan Marty Freedman, 2000 dalam Rohman,2001). Jenis informasi yang bersifatmandatorydi suatu negara dapat masuk kelompok informasi yang bersifat voluntary di negara lain, dan juga sebaliknya. Di samping itu, setiap perusahaan melakukan pengungkapan CSR dengan cara yang berbeda satu sama lain, ada yang mengelompokkannya sebagai bagian dari laporan tahunan perusahaan dan ada yang mengungkapkannya secara tersendiri atau terpisah dari laporan keuangan tahunan.
Menurut Hendriksen dan Breda (1992) dalam Sueb (2001) bahwa metode pengungkapan yang biasa digunakan dapat diklasifikasikan sebagai berikut : 1) bentuk dan susunan laporan formal, 2) terminology dan penyajian yang terperinci, 3) informasi parentis yang disajikan dalam bentuk tanda kurung (parenthetical information), 4) catatan kaki (footnotes), 5) laporan dan daftar pelengkap (skedul-skedul), 6) komentar dalam laporan auditor, dan 7) surat direktur utama dan/atau ketua dewan komisaris.