ANALISIS PENERAPAN GLS (GERAKAN LITERASI SEKOLAH)
DI SMP NEGERI 1 BATU
An Analysis of the Implementation of School Literacy Movement (GLS) at State Junior High School 1 Batu Wahidah Al-Mutmainnah1, Yuni Pantiwati2, Elly Purwanti3
123 Program Studi Pendidikan Biologi, FKIP-Universitas Muhammadiyah Malang Jl. Raya Tlogomas No. 246 Malang
e-mail korespondensi: [email protected]
ABSTRAK
Literasi Sekolah dalam konteks GLS adalah kemampuan mengakses, memahami, dan menggunakan sesuatu secara cerdas melalui berbagai aktivitas, antara lain membaca, melihat, menyimak, menulis, dan/atau berbicara. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan penerapan GLS pada tahap pembiasaan, pengembangan dan pembelajaran, menganalisis kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman (SWOT) dalam penerapan GLS pada tahap pembiasaan, pengembangan dan pembelajaran, memaparkan strategi yang tepat pada penerapan GLS di 3 tahap dan memberikan Solusi yang tepat untuk mengatasi permasalahan dalam penerapan GLS di tiga tahap. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, SMPN 1 Batu sudah melaksanakan kegiatan GLS pada 3 tahap. Tahap pembiasaan sudah dilaksanakan mulai tahun 2004 yaitu kegiatan membaca 15 menit. Tahap pengembangan yang sudah dilaksanakan adalah menulis jurnal yang berisikan komentar tentang buku yang telah dibaca sedangkan untuk menulis jurnal tanggapan buku bacaan dan membuat graphic organizer setelah membaca masih belum dilaksanakan. Tahap pembelajaran dalam kegiatan GLS sudah dilaksanakan di dalam kegiatan belajar mengajar dalam beberapa mata pembelajaran dan sudah disosialisaikan oleh kepala sekolah. Strategi yang tepat untuk melaksanakan kegiatan GLS di SMPN 1 Batu adalah menggunakan strategi Deversifikasi (perbedaan) yaitu memanfaatkan fasilitas dan lingkungan sekolah agar siswa lebih antusias dalam melaksanakan kegiatan GLS, pelibatan publik, dan partisipasi penuh tenaga pendidik.
Kata Kunci: Analisis GLS, tahap pembiasaan, pengembangan, pembelajaran, Strategi.
ABSTRACT
School Literacy in the context of GLS is the ability to access, understand, and use things intelligently through various activities, including reading, viewing, listening, writing, and / or speaking. This research aims to describe the implementation of GLS on adaptation, development, and learning phase, analyse the strength, weakness, opportunity, and threat (SWOT) on the implementation of GLS on adaptation, development, and learning phase, expose the accurate strategy on the implementation of GLS in three phases and give a right solution in order to cope the problem in the implementation of GLS in three phases. The result of this research presents that SMPN 1 Batu has implemented the GLS in three phases. The adaptation phase has been done start from 2004 that is reading for 15 minutes. The development phase that has been done is to write a journal containing comments about the book that has been read while to write journal textbook responses and make a graphic organizer after reading has not been done yet. The learning phase in GLS activity has been done in teaching and learning process in some subjects and has been socialised by the headmaster. The accurate strategy to do the GLS activity in SMPN 1 Batu is using diversification strategy that takes advantage of the facilities and the school environment in order to make students more enthusiast in doing GLS activity, public involvement, and full participation from teachers.
Keywords: GLS analysis, adaptation, development, and learning phase, strategy. Pada abad ke-21 ini, kemampuan literasi peserta
didik berkaitan erat dengan tuntutan keterampilan membaca dan kemampuan memahami informasi secara analitis, kritis, dan reflektif. Akan tetapi, pembelajaran di sekolah saat ini belum mampu mewujudkan hal tersebut. Pemahaman membaca peserta didik Indonesia telah diuji dalam (PISA) Programme for International Student Assessment pada tahun 2009 di tingkat sekolah menengah (usia ±15 tahun) yang diikuti oleh 65 negara. Hasil dari program tersebut menunjukkan bahwa peserta didik Indonesia berada pada peringkat ke-57 dengan skor 396 (skor rata-rata 493), sedangkan PISA 2012 menunjukkan peserta didik Indonesia berada pada peringkat ke-64 dengan skor 396 (skor rata-rata 496). Berdasarkan kedua
hasil ini dapat dikatakan bahwa praktik pendidikan yang dilaksanakan di sekolah belum memperlihatkan fungsi sekolah sebagai organisasi pembelajaran yang berupaya menjadikan semua warganya menjadi terampil membaca dan kemampuan memahami informasi secara analitis, kritis, dan reflektif untuk mendukung mereka sebagai pembelajar sepanjang hayat.
Berdasarkan hal tersebut, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengembangkan gerakan literasi sekolah (GLS) yang berlandaskan atas Permendikbud No 23 tahun 2015 tentang penumbuhan budi pekerti anak dengan melibatkan semua pemangku kepentingan di bidang pendidikan, mulai dari tingkat pusat, provinsi, kabupaten/kota, hingga satuan pendidikan. Selain itu,
Diselenggarakan oleh Prodi Pendidikan Biologi-FKIP bekerjasama dengan Pusat Studi Lingkungan dan Kependudukan (PSLK) Universitas Muhammadiyah Malang, tanggal 29 April 2017
pelibatan unsur eksternal dan unsur publik, yakni orang
tua peserta didik, alumni, masyarakat, dunia usaha dan industri juga menjadi komponen penting dalam GLS. Pelaksanakan kegiatan GLS memerlukan bantuan dan peran serta warga sekolah (guru, kepala sekolah, peserta didik, orang tua, tenaga pendidikan, pengawas sekolah, dan Komite Sekolah) yang dapat berpartisipasi selama pelaksanaan GLS tersebut.
GLS saat ini sudah banyak di laksanakan di sekolah akan tetapi masih ada permasalahan yang ditemukan di dalamnya seperti kurangnya minat siswa dan belum tersedianya fasilitas yang memadai dalam pelaksanakan GLS. Dilansir oleh metrotvnews.com (2016) bahwa masih banyak sekolah-sekolah yang tidak menyediakan fasilitas berupa buku bacaan yang menarik khususnya di sekolah daerah terpencil serta kurangnya perhatian pihak sekolah mengenai kondisi perpustakaan sekolah sehingga menyebabkan siswa tidak antusias dalam melaksanakan program GLS.
Sejalan dengan program GLS tingkat Nasional, SMPN 1 Batu merupakan salah satu sekolah yang baru menerapkan program ini sehingga perlu adanya bimbingan mengenai pelaksanaan dan untuk mengetahui apakah sekolah ini sudah melaksanakan GLS sesuai dengan ketentuan yang terdapat dalam buku panduan GLS untuk SMP yang telah diterbitkan oleh kemendikbud. Pelaksanaan GLS ini memerlukan bantuan dan peran serta warga sekolah misalnya kepala sekolah, guru dan tenaga kependidikan lainnya untuk dapat berpartisipasi selama pelaksanaan GLS tersebut. Warga sekolah tersebut tentunya harus memiliki pengetahuan yang baik tentang pelaksanaan GLS sehingga ketika diterapkan dapat mencapai hasil yang sesuai dengan tujuan GLS tersebut. Tingkat keberhasilan dalam penerapan GLS dapat diukur dari beberapa kriteria yang sudah dicantumkan dalam buku panduan GLS untuk sekolah menengah pertama (SMP).
Berdasarkan uraian di atas maka peneliti mengadakan penelitian dengan Judul “Analisis Penerapan GLS (Gerakan Literasi Sekolah) di SMP Negeri 01 Batu”.
Tujuan dari penulisan ini adalah sebagai berikut: 1. Menentukan strategi yang diperoleh berdasarkan
matrik SWOT, matriks SPACE, dan matrik Grand Strategic.
2. Memberikan rekomendasi strategi yang tepat berdasarkan tahap keputusan dengan matriks QSPM.
METODE
Beberapa langkah yang dilakukan didalam menyelesaikan penelitian ini adalah
Tahap Pendahuluan yang meliputi tahap
identifikasi masalah dan penetapan tujuan penelitian. Ditahap ini diputuskan obyek penelitian yaitu peneran GLS di SMPN 1 Batu sedangkan konsep pustaka yang akan digunakan adalah analisa metode manajemen strategic.
Tahap Pengumpulan Data, yaitu tahap perancangan alat pengumpulan data yang berupa kuisioner, dimana sebelumnya dilakukan uji validitas dan reliabilitas sebelum dilakukan penyebaran kuisioner resmi
Tahap Pengolahan dan Analisa Hasil,
merupakan tahap pengolahan data berdasarkan tahapan analisa manajemen. strategik sehingga ditentukan strategi yang tepat berdasarkan tahap keputusan melalui matriks QSPM.
Tahap Kesimpulan dan Saran, merupakan tahap
akhir sebagai tahap kesimpulan dari apa yang telah dianalisa pada tahapsebelumnya.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Data dari sekolah SMPN 1 Batu yang telah dikumpulkan dan dilakukan analisis mengenai bagaimana penerapan GLS pada faktor internal dan eksternal kemudian digunakan untuk menentukan faktor strategis penerapan kegiatan GLS untuk analisis SWOT. Faktor internal dan eksternal penerapan GLS di SMPN 1 Batu adalah sebagai berikut:
a. Kekuatan
1. Kegiatan GLS merupakan kegiatan yang inovatif 2. Fasilitas sekolah sudah mendukung berjalannya
kegiatan GLS
3. Lingkungan sekolah mendukung berjalannya kegiatan GLS
4. Kepala sekolah dan tenaga pendidik lainnya Komitmen dalam menerapkan kegiatan GLS 5. Terdapat jurnal membaca harian yang diisi oleh
siswa setelah kegiatan GLS
6. Sekolah menyediakan sudut baca atau area membaca untuk kegiatan GLS
7. Terdapat Tim GLS yang menunjang keterlaksanaan kegiatan ini
8. Ketersedianya buku untuk pelaksanaan GLS yang ada di sekolah
b. Kelemahan
1. Kurangnya tenaga pendidik yang berkompoten dalam melaksanakan kegiatan GLS
2. Siswa kurang antusias dalam mengikuti kegiatan GLS
3. Belum ada kegiatan yang melibatkan publik dikalangan orang tua, alumni dan masyarakat sekitar dalam melaksanakan kegiatan GLS 4. Kurangnya waktu yang disediakan dari sekolah
untuk kegiatan GLS
5. Belum ada strategi yang digunakan untuk meningkatkan mutu kegiatan GLS
6. Kegiatan GLS belum diikuti oleh berbagai tagihan tugas, informasi dan keterkaitan dengan pelajaran.
c. Peluang
1. Buku yang dibaca oleh siswa sesuai dengan minat siswa
2. Suasana kegiatan GLS sangat santai dan menyenangkan
3. Sekolah ini sudah menerapkan 3 tahap dalam
GLS yaitu pembiasaana, pengembangan dan pembelajaran
4. Dukungan dari pemerintah pusat dan daerah mengenai kegiatan
5. Kerjasama dengan pihak lain di luar sekolah seperti perpustakaan kota, dinas pendidikan dll 6. Kesempatan untuk mengajak siswa gemar
membaca dan berliterasi d. Ancaman
1. Kurangnya respon dari siswa mengenai kegiatan GLS
2. Partisipasi dari orang tua, alumni dan masyarakat masih belum maksimal
3. Tenaga pendidik masih belum menggunakan buku panduan sebagai acuan dalam pelaksanaan GLS
4. Kurangnya bantuan dari pemerintah untuk menunjang program
5. Kurangnya pengetahuan warga sekolah tentang kegiatan GLS.
Matriks IFAS dan EFAS
Berdasarkan atas penyebaran kuisioner kepada responden, dan dari hasil analisa Internal dan Eksternal pada penerapan GLS di SMPN 1 Batu maka di dapatkan matriks IFAS (matriks evaluasi faktor internal) dan EFAS (matriks evaluasi faktor internal) seperti Tabel 1 berikut:
Tabel 1. Matriks IFAS
No Faktor-faktor Stategi Internal (IFAS) Faktor Kekuatan
1. Kegiatan GLS merupakan kegiatan yang inovatif 2. Fasilitas sekolah sudah mendukung berjalannya kegiatan 3. Lingkungan sekolah mendukung berjalannya kegiatan GLS
4. Kepala sekolah dan tenaga pendidik lainnya Komitmen dalam menerapkan kegiatan GLS 5. Terdapat jurnal membaca harian yang diisi oleh siswa setelah kegiatan GLS
6. Sekolah menyediakan sudut baca atau area membaca untuk kegiatan GLS 7. Terdapat TIM GLS yang menunjang keterlaksanaan kegiatan ini 8. Ketersedianya buku untuk pelaksanaan GLS yang ada di sekolah?
Faktor Kelemahan
9. Kurangnya tenaga pendidik yang berkompoten dalam melaksanakan kegiatan GLS 10. Siswa kurang antusias dalam mengikuti kegiatan GLS
11. Belum ada kegiatan yang melibatkan publik dikalangan orang tua, alumni dan masyarakat sekitar dalam melaksanakan kegiatan GLS
12. Kurangnya waktu yang disediakan dari sekolah untuk kegiatan GLS 13. Belum ada strategi yang digunakan untuk meningkatkan mutu kegiatan GLS
14. Kegiatan GLS belum diikuti oleh berbagai tagihan tugas, informasi dan keterkaitan dengan pelajaran. (Sumber: Data diolah)
Tabel 2. Matriks EFAS
Faktor-faktor Stategi Eksternal (EFAS) Faktor Peluang
15. Buku yang dibaca oleh siswa sesuai dengan minat siswa 16. Suasana kegiatan GLS sangat santai dan menyenangkan?
17. Sekolah ini sudah menerapkan 3 tahap dalam GLS yaitu pembiasaana, pengembangan dan pembelajaran 18. Dukungan dari pemerintah pusat dan daerah mengenai kegiatan GLS
19. kerjasama dengan pihak lain di luar sekolah seperti perpustakaan kota, dinas pendidikan dll 20. Kesempatan untuk mengajak siswa gemar membaca dan berliterasi?
Faktor Ancaman
21. Kurangnya respon dari siswa mengenai kegiatan GLS
22. Partisipasi dari orang tua, alumni dan masyarakat masih belum maksimal
23. Tenaga pendidik masih belum menggunakan buku panduan sebagai acuan dalam pelaksanaan GLS 24. Kurangnya bantuan dari pemerintah untuk menunjang program
25. Kurangnya pengetahuan warga sekolah tentang kegiatan GLS (Sumber: Data diolah)
Pemberian Bobot dan Rating
a. Pemberian bobot
Pemberian bobot pada faktor internal dan eksternal didasarkan pada penyebaran angket yang telah dilakukan pada guru SMPN 1 Batu. Rata-rata dari faktor internal dan eksternal yang diperoleh atas pendapat guru-guru dengan rumus sebagai berikut
Diselenggarakan oleh Prodi Pendidikan Biologi-FKIP bekerjasama dengan Pusat Studi Lingkungan dan Kependudukan (PSLK) Universitas Muhammadiyah Malang, tanggal 29 April 2017
1). Kekuatan
Tabel 3. Indikator bobot kekuatan
No Indikator Jum
lah
Bobot
1. Kegiatan GLS merupakan kegiatan
yang inovatif 190 4,49 2. Fasilitas sekolah sudah mendukung
berjalannya kegiatan GLS 169 3,99 3. Lingkungan sekolah mendukung
berjalannya kegiatan GLS 165 3,90 4. Kepala sekolah dan tenaga pendidik
lainnya Komitmen dalam menerapkan kegiatan GLS
162 3,83 5. Terdapat jurnal membaca harian
yang diisi oleh siswa setelah kegiatan GLS
136 3,21 6. Sekolah menyediakan sudut baca
atau area membaca untuk kegiatan GLS
160 3,78 7. Terdapat TIM GLS yang menunjang
keterlaksanaan kegiatan ini 167 3,95 8. Ketersedianya buku untuk
pelaksanaan GLS yang ada di sekolah
170 4,02 Rata-rata Bobot 3,90 (Sumber: Data diolah)
Data tersebut diperoleh dari hasil penjumlahan skor setiap indikator kekuatan pada seluruh responden kemudian dibagi dengan jumlah keseluruhan responden yang berjumlah 50 responden. Nilai bobot rata-rata 3,90 yang memiliki arti setiap responden memberikan nilai pada Faktor kekuatan baik hingga sangat baik.
2). Kelemahan
Tabel 4. Indikator bobot kelemahan
No Indikator Jumlah Bobot
1. Kurangnya tenaga pendidik yang berkompoten dalam melaksanakan kegiatan GLS
168 3,97 2. Siswa kurang antusias dalam
mengikuti kegiatan GLS 156 3,69 3. Belum ada kegiatan yang
melibatkan publik dikalangan orang tua, alumni dan masyarakat sekitar dalam melaksanakan kegiatan GLS
169 3,99
4. Kurangnya waktu yang disediakan dari sekolah untuk kegiatan GLS
135 3,19 5. Belum ada strategi yang
digunakan untuk meningkatkan mutu kegiatan GLS
157 3,71 6. Kegiatan GLS belum diikuti oleh
berbagai tagihan tugas, informasi dan keterkaitan dengan pelajaran.
170 4,02 Rata-rata Bobot 3,76 (Sumber: Data diolah)
Data tersebut diperoleh dari hasil penjumlahan skor setiap indikator kelemahan pada seluruh responden
kemudian dibagi dengan jumlah keseluruhan responden yang berjumlah 50 responden. Nilai bobot rata-rata 3,76 yang memiliki arti setiap responden memberikan nilai pada Faktor kelemahan tinggi hingga sangat tinggi. 3). Peluang
Tabel 5. Indikator bobot peluang
No Indikator Jumlah Bobot
1. Buku yang dibaca oleh siswa sesuai dengan minat siswa
160 3,78 2. Suasana kegiatan GLS sangat
santai dan menyenangkan
162 3,82 3. Sekolah ini sudah menerapkan
3 tahap dalam GLS yaitu pembiasaana, pengembangan dan pembelajaran
167 3,95
4. Dukungan dari pemerintah pusat dan daerah mengenai kegiatan
165 3,90 5. kerjasama dengan pihak lain
di luar sekolah seperti perpustakaan kota, dinas pendidikan dll
159 3,76
6. Kesempatan untuk mengajak siswa gemar membaca dan berliterasi
166 3,92 Rata-rata Bobot 3,85 (Sumber: Data diolah)
Data tersebut diperoleh dari hasil penjumlahan skor setiap indikator peluang pada seluruh responden kemudian dibagi dengan jumlah keseluruhan responden yang berjumlah 50 responden. Nilai bobot rata-rata 3,85 yang memiliki arti setiap responden memberikan nilai pada Faktor kekuatan baik hingga sangat baik.
4). Ancaman
Tabel 6. Indikator bobot ancaman
No Indikator Jumlah Bobot
1. Kurangnya respon dari siswa
mengenai kegiatan GLS 169 3,99 2. Partisipasi dari orang tua,
alumni dan masyarakat masih belum maksimal
174 4,11 3. Tenaga pendidik masih
belum menggunakan buku panduan sebagai acuan dalam pelaksanaan GLS
166 3,92
4. Kurangnya bantuan dari pemerintah untuk menunjang program
137 3,24 5. Kurangnya pengetahuan
warga sekolah tentang kegiatan GLS
165 3,90 Rata-rata Bobot 3,83 (Sumber: Data diolah)
Data tersebut diperoleh dari hasil penjumlahan
skor setiap indikator peluang pada seluruh responden kemudian dibagi dengan jumlah keseluruhan responden yang berjumlah 50 responden. Nilai bobot rata-rata 3,83 yang memiliki arti setiap responden memberikan nilai pada Faktor ancaman tinggi hingga sangat tinggi.
Nilai bobot dari masing-masing indikator pada faktor kekuatan dan faktor kelemahan dibagi jumlah keseluruhan bobot faktor kekuatan dan faktor kelemahan (faktor internal) yang berjumlah 58,2. Sedangkan nilai bobot dari masing-masing indikator pada faktor peluang dan faktor ancaman dibagi jumlah keseluruhan bobot faktor peluang dan faktor ancaman (faktor eksternal) yang berjumlah 41,7.
Jumlah total bobot yang dimasukkan dalam tabulasi tidak boleh melebihi satu (1), sehingga unntuk menghasilkan nilai yang sesuai dengan teori maka nilai bobot tersebut dilakukan perhitungan sebagai berikut: 1) Kekuatan
Tabel 7. Indikator bobot item kekuatan
N
o Indikator Bobot Bobot Item
1. Kegiatan GLS merupakan kegiatan yang inovatif
4,49 0,077 2. Fasilitas sekolah sudah mendukung
berjalannya kegiatan GLS
3,99 0,068 3. Lingkungan sekolah mendukung
berjalannya kegiatan GLS
3,90 0,066 4. Kepala sekolah dan tenaga pendidik
lainnya Komitmen dalam menerapkan kegiatan GLS
3,83 0,065 5. Terdapat jurnal membaca harian
yang diisi oleh siswa setelah kegiatan GLS
3,21 0,055 6. Sekolah menyediakan sudut baca
atau area membaca untuk kegiatan GLS
3,78 0,064 7. Terdapat TIM GLS yang menunjang
keterlaksanaan kegiatan ini
3,95 0,067 8. Ketersedianya buku untuk
pelaksanaan GLS yang ada di sekolah
4,02 0,068
Hasil pada kolom bobot item indikator kekuatan diperoleh dari nilai bobot pada setiap indikator kekuatan dibagi total bobot faktor internal yaitu penjumlahan bobot kekuatan dan kelemahan dengan jumlah 58,2. Secara singkat, bobot item= (bobot : 58,2).
2) Kelemahan
Tabel 7. Indikator bobot item kelemahan
N
o Indikator Bobot Bobot Item
1. Kurangnya tenaga pendidik yang berkompoten dalam melaksanakan kegiatan GLS
3,97 0,095 2. Siswa kurang antusias dalam
mengikuti kegiatan GLS 3,69 0,088 3. Belum ada kegiatan yang
melibatkan publik dikalangan orang tua, alumni dan masyarakat sekitar dalam melaksanakan kegiatan GLS
3,99 0,095
4. Kurangnya waktu yang disediakan dari sekolah untuk kegiatan GLS
3,19 0.076 5. Belum ada strategi yang digunakan
untuk meningkatkan mutu kegiatan GLS
3,71 0,088 6. Kegiatan GLS belum diikuti oleh
berbagai tagihan tugas, informasi dan keterkaitan dengan pelajaran.
4,02 0.096
Hasil pada kolom bobot item indikator kelemahan diperoleh dari nilai bobot pada setiap indikator kelemahan dibagi total bobot faktor internal yaitu penjumlahan bobot kekuatan dan kelemahan dengan jumlah 58,2. Secara singkat, bobot item= (bobot : 58,2).
3) Peluang
Tabel 8. Indikator bobot item peluang
No Indikator Bobot Bobot
Item
1. Buku yang dibaca oleh siswa sesuai dengan minat siswa
3,78 0,064 2. Suasana kegiatan GLS sangat santai
dan menyenangkan
3,82 0,065 3. Sekolah ini sudah menerapkan 3 tahap
dalam GLS yaitu pembiasaana, pengembangan dan pembelajaran
3,95 0,067 4. Dukungan dari pemerintah pusat dan
daerah mengenai kegiatan
3,90 0,066 5. kerjasama dengan pihak lain di luar
sekolah seperti perpustakaan kota, dinas pendidikan dll
3,76 0,064 6. Kesempatan untuk mengajak siswa
gemar membaca dan berliterasi 3,92 0,067 (Sumber: Data diolah)
Diselenggarakan oleh Prodi Pendidikan Biologi-FKIP bekerjasama dengan Pusat Studi Lingkungan dan Kependudukan (PSLK) Universitas Muhammadiyah Malang, tanggal 29 April 2017
Hasil pada kolom bobot item indikator peluang diperoleh dari nilai bobot pada setiap indikator peluang dibagi total bobot faktor eksternal yaitu penjumlahan bobot peluang dan ancaman dengan jumlah 41,7. Secara singkat, bobot item= (bobot : 41,7).
4) Ancaman
Tabel 9. Indikator bobot item ancaman
No Indikator Bobot Bobot
Item
1. Kurangnya respon dari siswa mengenai kegiatan GLS
3,99 0,095 2. Partisipasi dari orang tua,
alumni dan masyarakat masih belum maksimal
4,11 0,098 3. Tenaga pendidik masih belum
menggunakan buku panduan sebagai acuan dalam pelaksanaan GLS
3,92 0,093
4. Kurangnya bantuan dari 3,24 0,077
pemerintah untuk menunjang program
5. Kurangnya pengetahuan warga sekolah tentang kegiatan GLS
3,90 0,093 (Sumber: Data diolah)
Hasil pada kolom bobot item indikator ancaman diperoleh dari nilai bobot pada setiap indikator ancaman dibagi total bobot faktor eksternal yaitu penjumlahan bobot peluang dan ancaman dengan jumlah 41,7. Secara singkat, bobot item= (bobot : 41,7).
b. Pemberian Rating
Nilai rating diberikan dengan meminta bantuan kepala sekolah SMPN 1 Batu sebagai patokan. Kepala sekolah dianggap sebagai sumber yang paling mengerti kondisi sekolah baik internal maupun eksternal. Hasil pemberian rating sebagai berikut:
Tabel 10. Rating patokan dalam perhitungan
No Indikator Rating
Faktor Kekuatan
1. Kegiatan GLS merupakan kegiatan yang inovatif 3
2. Fasilitas sekolah sudah mendukung berjalannya kegiatan 4
3. Lingkungan sekolah mendukung berjalannya kegiatan GLS 3
4. Kepala sekolah dan tenaga pendidik lainnya Komitmen dalam menerapkan kegiatan GLS 3
5. Terdapat jurnal membaca harian yang diisi oleh siswa setelah kegiatan GLS 4
6. Sekolah menyediakan sudut baca atau area membaca untuk kegiatan GLS 4
7. Terdapat TIM GLS yang menunjang keterlaksanaan kegiatan ini 4
8. Ketersedianya buku untuk pelaksanaan GLS yang ada di sekolah? 4
Faktor Kelemahan Rating
9. Kurangnya tenaga pendidik yang berkompoten dalam melaksanakan kegiatan GLS 2
10. Siswa kurang antusias dalam mengikuti kegiatan GLS 3
11. Belum ada kegiatan yang melibatkan publik dikalangan orang tua, alumni dan masyarakat sekitar dalam
melaksanakan kegiatan GLS 3
12. Kurangnya waktu yang disediakan dari sekolah untuk kegiatan GLS 1
13. Belum ada strategi yang digunakan untuk meningkatkan mutu kegiatan GLS 3
14. Kegiatan GLS belum diikuti oleh berbagai tagihan tugas, informasi dan keterkaitan dengan pelajaran. 4
Faktor Peluang Rating
15. Buku yang dibaca oleh siswa sesuai dengan minat siswa 3
16. Suasana kegiatan GLS sangat santai dan menyenangkan? 3
17. Sekolah ini sudah menerapkan 3 tahap dalam GLS yaitu pembiasaana, pengembangan dan pembelajaran 3
18. Dukungan dari pemerintah pusat dan daerah mengenai kegiatan GLS 4
19. kerjasama dengan pihak lain di luar sekolah seperti perpustakaan kota, dinas pendidikan dll 3
20. Kesempatan untuk mengajak siswa gemar membaca dan berliterasi? 3
Faktor Ancaman Rating
21. Kurangnya respon dari siswa mengenai kegiatan GLS 3
22. Partisipasi dari orang tua, alumni dan masyarakat masih belum maksimal 3
23. Tenaga pendidik masih belum menggunakan buku panduan sebagai acuan dalam pelaksanaan GLS 3
24. Kurangnya bantuan dari pemerintah untuk menunjang program 4
25. Kurangnya pengetahuan warga sekolah tentang kegiatan GLS 3
(Sumber: Kepala Sekolah SMPN 1 Batu) Pelaksanaan Strategi Penerapan GLS
Identifikasi pada faktor internal dan eksternal pada penerapan GLS di sekolah SMPN 1 Batu setelah dianalisis, kemudian diberikan bobot dan rating. Susunan tabel berikut merupakan hasil analisis berupa
matrik IFAS dan EFAS yang telah dilakukan pada penerapan GLS di SMPN 1 Batu serta dapat digunakan dalam pelaksanaan strategi dalam penerapan GLS.
Tabel 11. Faktor Strategi Internal Penerapan GLS di SMPN 1 Batu
No Faktor-faktor Stategi Internal Bobot
Item
Rating Skor Bobot Faktor Kekuatan
1. Kegiatan GLS merupakan kegiatan yang inovatif 0,077 3 0,231 2. Fasilitas sekolah sudah mendukung berjalannya kegiatan 0,068 4 0,272 3. Lingkungan sekolah mendukung berjalannya kegiatan GLS 0,066 3 0,198 4. Kepala sekolah dan tenaga pendidik lainnya Komitmen dalam menerapkan kegiatan GLS 0,065 3 0,195 5. Terdapat jurnal membaca harian yang diisi oleh siswa setelah kegiatan GLS 0,055 4 0,22 6. Sekolah menyediakan sudut baca atau area membaca untuk kegiatan GLS 0,064 4 0,256 7. Terdapat TIM GLS yang menunjang keterlaksanaan kegiatan ini 0,067 4 0,268 8. Ketersedianya buku untuk pelaksanaan GLS yang ada di sekolah? 0,068 4 0,272
Total 2,113
Faktor Kelemahan
9. Kurangnya tenaga pendidik yang berkompoten dalam melaksanakan kegiatan GLS 0,095 2 0,19 10. Siswa kurang antusias dalam mengikuti kegiatan GLS 0,088 3 0,264 11. Belum ada kegiatan yang melibatkan publik dikalangan orang tua, alumni dan masyarakat
sekitar dalam melaksanakan kegiatan GLS 0,095 3 0,285 12. Kurangnya waktu yang disediakan dari sekolah untuk kegiatan GLS 0.076 1 0,076 13. Belum ada strategi yang digunakan untuk meningkatkan mutu kegiatan GLS 0,088 3 0,264 14. Kegiatan GLS belum diikuti oleh berbagai tagihan tugas, informasi dan keterkaitan dengan
pelajaran. 0.096 4 0,384
Total 1,463
Total IFAS 3,576
Total bobot item x rating pada tabel 13 yang bernilai 3.576 diperoleh dari penjumlahan bobot item x rating faktor kekuatan dan kelemahan, yang digunakan
sebagai acuan titik kondisi internal pada penerapan kegiatan GLS di SMPN 1 Batu. Hasil ini digunakan untuk melihat posisi GLS saat ini.
Tabel 12. Faktor Strategi Eksternal Penerapan GLS di SMPN 1 Batu
Faktor-faktor Stategi Eksternal Bobot
Item Rating Bobot Skor Faktor Peluang
15. Buku yang dibaca oleh siswa sesuai dengan minat siswa
0,064 4 0,256 16. Suasana kegiatan GLS sangat santai dan menyenangkan? 0,065 3 0,195 17. Sekolah ini sudah menerapkan 3 tahap dalam GLS yaitu pembiasaana, pengembangan
dan pembelajaran 0,067 4 0,268
18. Dukungan dari pemerintah pusat dan daerah mengenai kegiatan GLS 0,066 4 0,264 19. kerjasama dengan pihak lain di luar sekolah seperti perpustakaan kota, dinas
pendidikan dll 0,064 3 0,192
20. Kesempatan untuk mengajak siswa gemar membaca dan berliterasi? 0,067 4 0,268
Total 1,443
Faktor Ancaman
21. Kurangnya respon dari siswa mengenai kegiatan GLS 0,095 3 0,285 22. Partisipasi dari orang tua, alumni dan masyarakat masih belum maksimal 0,098 2 0,196 23. Tenaga pendidik masih belum menggunakan buku panduan sebagai acuan dalam
pelaksanaan GLS 0,093 3 0,279
24. Kurangnya bantuan dari pemerintah untuk menunjang program 0,077 3 0,231 25. Kurangnya pengetahuan warga sekolah tentang kegiatan GLS 0,093 2 0,186
Total 1,177
Total EFAS 2,62
(Sumber: Data diolah)
Total bobot item x rating pada tabel 14 yang bernilai 2,62 diperoleh dari penjumlahan bobot item x rating faktor peluang dan kancamann, yang digunakan sebagai acuan titik kondisi internal pada penerapan kegiatan GLS di SMPN 1 Batu. Hasil ini digunakan untuk melihat posisi GLS saat ini.
Penilaian terhadap faktor eksternal dan internal yang dimiliki pada penerapan GLS di SMPN 1 Batu dapat diperoleh total skor yang merupakan jumlah hasil perkalian bobot dengan rating. Penerapan GLS di SMPN 1 Batu memperoleh total skor 3,576 untuk faktor strategis internal, sedangkan pada faktor strategis eksternal menghasilkan total skor 2,62. Tahap selanjutnya
Diselenggarakan oleh Prodi Pendidikan Biologi-FKIP bekerjasama dengan Pusat Studi Lingkungan dan Kependudukan (PSLK) Universitas Muhammadiyah Malang, tanggal 29 April 2017
berdasarkan total skor yang diperoleh dalam tabel faktor
strategis internal dan eksternal tersebut dapat dilihat posisi penerapan GLS untuk menerapkan strategi yang sesuai kondisi sekolah saat ini dengan melakukan analisisa SWOT. Dari total nilai skor bobot keempat faktor dilakukan perhitungan matriks sebagai berikut: Total Skor Bobot Kekuatan – Total Skor Bobot Kelemahan
= 2,113 - 1,463 = 0,65
Total Skor Bobot Peluang – Total Skor Bobot Ancaman = 1,443 - 1,177
= 0,266
Berdasarkan hasil dari perhitungan diatas maka dapat dibuat diagram analisa strategi SWOT sebagai berikut:
Gambar 1. Diagram Analisa Strategi SWOT
Berdasarkan diagram SWOT di atas, maka diketahui bahwa strategi yang cocok dengan kondisi internal maupun eksternal adalah mendukung strategi
Deversifikasi (perbedaan) yaitu menjalankan strategi ST (strategi menggukanakan kekuatan (S) untuk mengatasi berbagai ancaman (T).
Tabel 13. Strategi Matriks SWOT
Kekuatan-Kelemahan Kekuatan (S)
1) Kegiatan GLS merupakan kegiatan yang inovatif
2) Kegiatan GLS mudah diterapkan disemua kalangan siswa baik SD, SMP, SMA maupun SLB
3) Fasilitas sekolah sudah mendukung berjalannya kegiatan GLS
4) Lingkungan sekolah mendukung berjalannya kegiatan GLS
5) Kepala sekolah dan tenaga pendidik lainnya Komitmen dalam menerapkan kegiatan GLS
6) Terdapat jurnal membaca harian yang diisi oleh siswa setelah kegiatan GLS 7) Sekolah menyediakan sudut baca atau
area membaca untuk kegiatan GLS 8) Terdapat TIM GLS yang menunjang
keterlaksanaan kegiatan ini
9) Dukungan dari pemerintah pusat dan daerah mengenai kegiatan
Kelemahan (W)
1) Tenaga pendidik kurang berkompoten dalam melaksanakan kegiatan GLS 2) Siswa kurang antusias siswa dalam
mengikuti kegiatan GLS
3) Kegiatan belum melibatkan publik dikalangan orang tua, alumni dan masyarakat sekitar dalam melaksanakan kegiatan GLS
4) Kurangnya waktu yang disediakan dari sekolah untuk kegiatan GLS 5) Belum ada Strategi yang digunakan
untuk meningkatkan mutu kegiatan GLS
6) Kegiatan GLS belum diikuti oleh berbagai tagihan tugas, informasi dan keterkaitan dengan pelajaran
BERBAGAI PELUANG KEKUATAN INTERNAL KELEMAHAN EKSTERNAL BERBAGAI ANCAMAN 0,65 0,26 1. Mendukung Strategi Agresif 2. Mendukung Strategi Diversifikasi 3. Mendukung Strategi Turn
Around
4. Mendukung Strategi Defensive
Peluang-Ancaman
Peluang (O)
1) Buku yang dibaca oleh siswa sesuai dengan minat siswa 2) Suasana kegiatan GLS
sangat santai dan menyenangkan
3) Sekolah ini sudah menerapkan 3 tahap dalam GLS yaitu pembiasaana, pengembangan dan pembelajaran
4) Ketersedianya buku untuk pelaksanaan GLS yang ada di sekolah
5) kerjasama dengan pihak lain di luar sekolah seperti perpustakaan kota, dinas pendidikan dll
6) Kesempatan untuk mengajak siswa gemar membaca dan berliterasi
Strategi SO
1) memanfaatkan fasilitas yang ada untuk memaksimalkan kinerja tim literasi 2) mendekorasi ruang kelas dan sudut baca
agar terciptanya suasanya yang menyenangkan sehingga siswa lebih tertarik untuk membaca
3) menjaga komitmen kepala sekolah dan guru untuk tetap melaksanakan kegiatan GLS di 3 tahap
4) memanfaatkan kerjasama dari pihal luar sekolah untuk menambah wawasan dan mengajak siswa berliterasi
Strategi WO
1) mengadakan kerjasama dengan publik seperti orang tua, alumni, dan masyarakat sekaligus mengundang agar siswa lebih antusias dalam kegiatan GLS
2) mengadakan pelatihan khusus untuk tenaga pendidik dalam melaksanakan GLS
3) mencoba berbagai strategi untuk meningkatkan mutu membaca sehingga siswa tidak mudah bosan 4) memcoba memberikan siswa tagihan
tugas, informasi dan keterkaitan dengan pelajaran setelah selesai membaca 15 menit.
Ancaman (T)
1) kurangnya respon dan sikap dari siswa mengenai GLS 2) kurangnya partisipas dari
orang tua, alumni dan masyarakat
3) Tenaga pendidik belum menggunakan buku panduan sebagai acuan dalam pelaksanaan GLS
4) Belum adanya bantuan dari pemerintah untuk menunjang program
5) Pengetahuan warga sekolah tentang kegiatan GLS masih kurang
Strategi ST
1) memanfaatkan fasilitas dan lingkungan sekolah agar siswa lebih antusias dalam melaksanakan kegiatan GLS
2) mengundang alumni, orang tua dan masyarakat agar berpasrtisipasi dalam kegiatan GLS
3) Tenaga pendidik berkewajiban untuk memahami GLS dengan beracuan pada buku panduan GLS
Strategi WT
1) Memaksimalkan partisipasi dari pihak luar sekolah
2) Meningkatkan pengetahuan warga sekolah mengenai GLS dan di sosialisasikan secara terbuka
(Sumber: Data diolah)
Berdasarkan keterangan pada tabel internal faktor strategi/tabel eksternal faktor strategi (IFS/EFS) tersebut maka dapat dijabarkan sebagai berikut:
a. Strategi SO (strength dan opportunities)
Strategi ini dilakukan untuk memanfaatkan kekuatan dari penerapan GLS serta untuk menangkap peluang yang dimiliki sekolah. Memanfaatkan fasilitas yang ada untuk memaksimalkan kinerja tim literasi, mendekorasi ruang kelas dan sudut baca agar terciptanya suasanya yang menyenangkan sehingga siswa lebih tertarik untuk membaca, menjaga komitmen kepala sekolah dan guru untuk tetap melaksanakan kegiatan GLS di 3 tahap, serta memanfaatkan kerjasama dari pihal luar sekolah untuk menambah wawasan dan mengajak siswa berliterasi. b. Strategi ST (strength dan treats)
Strategi ini diterapkan dimana kekuatan yang dimiliki dari penerapan GLS untuk mengatasi ancaman yang mungkin dapat dihadapi Strategi. Memanfaatkan fasilitas dan lingkungan sekolah agar siswa lebih antusias dalam melaksanakan kegiatan GLS, mengundang alumni, orang tua dan masyarakat agar
berpasrtisipasi dalam kegiatan GLS serta tenaga pendidik berkewajiban untuk memahami GLS dengan beracuan pada buku panduan GLS.
c. WO (weakness dan opportunities)
Strategi ini diterapkan pada saat adanya peluang yang dimiliki dari penerapan GLS guna mengatasi ancaman dalam pelaksanaan. Mengadakan kerjasama dengan publik seperti orang tua, alumni, dan masyarakat sekaligus mengundang agar siswa lebih antusias dalam kegiatan GLS, mengadakan pelatihan khusus untuk tenaga pendidik dalam melaksanakan GLS, mencoba berbagai strategi untuk meningkatkan mutu membaca sehingga siswa tidak mudah bosan memcoba memberikan siswa tagihan tugas, informasi dan keterkaitan dengan pelajaran setelah selesai membaca 15 menit.
d. Strategi WT (weakness dan treats)
Strategi ini diterapkan saat sekolah harus mampu mengatasi kelemahan yang dimiliki agar terhindar dari ancaman penerapan GLS yang akan dihadapi. Memaksimalkan partisipasi dari pihak luar sekolah,
Diselenggarakan oleh Prodi Pendidikan Biologi-FKIP bekerjasama dengan Pusat Studi Lingkungan dan Kependudukan (PSLK) Universitas Muhammadiyah Malang, tanggal 29 April 2017
dan meningkatkan pengetahuan warga sekolah
mengenai GLS dan di sosialisasikan secara terbuka.
Matriks Posisi Strategis dan Evaluasi Tindakan (SPACE)
Analisis matriks SPACE menggunakan beberapa atribut utama yang diambil dari matriks IFAS dan EFAS.
Matriks SPACE (Strategic Position and Action Evaluation), digunakan untuk evaluasi posisi strategi. Analisa ini merupakan pendekatan yang digunakan untuk menentukan posisi strategi penerapan GLS di SMPN 1 Batu, berdasarkan atribut yang ada maka dapat dibuat matriks SPACE seperti pada tabel berikut:
Tabel 14. Matriks Posisi Strategis dan Evaluasi Tindakan (SPACE)
Posisi Strategis Internal Rating Posisi Strategis Eksternal Rating Financial Strength (FS)
1) Buku untuk kegiatan GLS 2) Dukungan dari pemerintah 3) Bantuan dana dari pemerintah
5 5 2
Environmental Stability (ES)
1) Tuntutan pelajar abad 21 wajib berliterasi
2) Mengajak siswa berliterasi 3) Respon dan sikap siswa
-2 -3 -4
Total 12 Total -9
Rata-rata 4 Rata-rata -3
Competitif Advantage (CA)
1) Tagihan jurnal setelah kegiatan GLS 2) Sudut baca disetiap kelas
3) Pelibatan publik
-1 -1 -5
Industry Strength (IS)
1) Sarana dan prasarana 2) TIM GLS
3) Pengetahuan warga sekolah
5 4 3
Total -7 Total 12
Rata-rata -2,33 Rata-rata 4
(Sumber: Data diolah)
Dari total rating yang ada, maka dilakukan perhitungan untuk mendapatkan posisi kuadran seperti pada gambar dibawah, sehingga diperoleh strategi berdasarkan analisa matriks SPACE.
Garis Vertikal = FS + ES = 4 + (-3) = +1 Garis Horizontal= CA + IS = (-2,33) + 4 = +1,67
Gambar 2. Diagram SPACE analisis
Berdasarkan gambar terlihat jelas garis vektor bersifat positif, sehingga dapat disimpulkan bahwa sekolah mendapatkan dukungan yang relatif kuat baik dari pemerintah maupun warga sekolah itu sendiri dapat mengoptimalkan keuntungan kompetitif dengan cara melaksanakan tindakan internal yang lebih agresif misalnya mengadakan pelatihan untuk tenaga pendidik mengenai pelaksanaan GLS, menciptakan strategi yang tepat untuk meningkatkan respon dan minat siswa dalam melaksanakan GLS, serta memaksimalkan waktu 15 menit dalam kegiatan GLS dengan partisipasi yang
penuh dari guru sebagai pendamping kegiatan GLS tersebut.
Matriks Strategi Besar (Grand Strategy Matrix)
Matriks strategi besar merupakan teknik yang digunakan untuk merumuskan setrategi alternatif, berikut perhitungan matriks strategi besar yang di jabarkan dalam tabel:
Financial Strength (FS) Industry Strength (IS) Competitif Advantage (CA) Environmental Stability (ES) 1,67 1 Agresif Competitive Contervative Defensive
Tabel 15. Competitive Matriks Strategi Besar
Atribut Bobot Rating Bobot Skor
Tagihan jurnal setelah kegiatan
GLS 0,26 4 1,03
Sudut baca disetiap kelas 0,22 4 0,87 Pelibatan publik 0,26 2 0,51 Komitmen kepala sekolah dan
tenaga pendidik 0,26 3 0,81
Total 1 3,22
Tabel 16. Market Growth Strategi Besar
Atribut Bobot Rating Bobot Skor
Dukungan dari pemerintah 0,25 4 1,01 Pendidik yang berkompoten 0,25 2 0,50
TIM GLS 0,25 3 0,75
Pelaksanaan 3 tahap kegiatan yaitu pembiasaan,
pengembangan dan pembelajaran
0,25 3 0,74
Total 1 3,00
Dari gambar diagram Grand Strategy Matrix bahwa posis sekolah berada pada kuadran I yaitu posisi strategi sempurna, yaitu dengan tingginya kompetitif yang ada, maka strategi integrasi adalah strategi yang efektif. Sekolah hendaknya terus meningkatkan kemampuan dari seluruh sumber daya internal untuk penerapan GLS sehingga dapat mencapai peluang dan kesempatan yang tersedia dari pihak luar seperti orang tua, alumni dan masyarakat.
Matriks Perencanaan Strategi Kuantitatif (Quantitative Strategic Planning Matrix-QSPM)
Matriks Perencanaan Strategis Kuantitatif (Quantitative Strategic Planning Matrix-QSPM) merupakan matrik analisa keputusan didalam mengevaluasi berbagai strategi alternatif yang ada secara objektif. Beberapa Rekomendasi keputusan strategi yang telah diperoleh seperti Matriks SWOT (Strategi ST), Matriks SPACE (strategi Agresif pengembangan mutu dan diversifikasi) serta Matriks Grand Strategik (Strategi Integrasi Horisontal), akan dianalisis lebih lanjut untuk menentukan strategi terbaik melalui analisa keputusan berdasarkan Matriks QSPM.
Gambar 3. Diagram Grand Strategy Matrix
Tabel 16. Matriks Perencanaan Strategis Kuantitatif (QSPM)
Faktor-faktor Utama Bobot Item Strategi ST Strategi agresif Strategi Integrasi
AS TAS AS TAS AS TAS
Faktor Peluang
1. Buku yang dibaca oleh siswa sesuai dengan minat
siswa 0,064 3 0,192 2 0,128 3 0,192
2. Suasana kegiatan GLS sangat santai dan
menyenangkan 0,065 3 0,195 1 0,065 2 0,13
3. Sekolah ini sudah menerapkan 3 tahap dalam GLS yaitu pembiasaana, pengembangan dan
pembelajaran
0,067 3 0,201 3 0,201 3 0,201 4. Dukungan dari pemerintah pusat dan daerah
mengenai kegiatan GLS 0,066 4 0,264 2 0,132 1 0,066 5. kerjasama dengan pihak lain di luar sekolah seperti
perpustakaan kota, dinas pendidikan dll 0,064 3 0,192 2 0,128 1 0,064 6. Kesempatan untuk mengajak siswa gemar 0,067 3 0,201 4 0,268 3 0,201
1,6 Pertumbuha n Pasar Cepat Posisi Kompetitif Kuat Pertumbuha n Pasar Lambat 1 Posisi Kompetitif Lemah Kuadran I Kuadran IV Kuadran II Kuadran III
Diselenggarakan oleh Prodi Pendidikan Biologi-FKIP bekerjasama dengan Pusat Studi Lingkungan dan Kependudukan (PSLK) Universitas Muhammadiyah Malang, tanggal 29 April 2017
membaca dan berliterasi
Faktor Ancaman
1. Kurangnya respon dari siswa mengenai kegiatan
GLS 0,095 3 0,285 4 0,38 3 0,285
2. Partisipasi dari orang tua, alumni dan masyarakat
masih belum maksimal 0,098 3 0,294 2 0,196 1 0,098 3. Tenaga pendidik masih belum menggunakan buku
panduan sebagai acuan dalam pelaksanaan GLS 0,093 3 0,279 2 0,186 2 0,186 4. Kurangnya bantuan dari pemerintah untuk
menunjang program 0,077 4 0,308 1 0,077 1 0,077
5. Kurangnya pengetahuan warga sekolah tentang
kegiatan GLS 0,093 3 0,279 3 0,279 4 0,372
Total 1,00
Faktor Kekuatan
1. Kegiatan GLS merupakan kegiatan yang inovatif 0,077 3 0,231 1 0,077 1 0,077 2. Fasilitas sekolah sudah mendukung berjalannya
kegiatan 0,068 4 0,272 4 0,272 4 0,272
3. Lingkungan sekolah mendukung berjalannya
kegiatan GLS 0,066 3 0,198 3 0,198 2 0,132
4. Kepala sekolah dan tenaga pendidik lainnya
Komitmen dalam menerapkan kegiatan GLS 0,065 3 0,195 4 0,26 4 0,26 5. Terdapat jurnal membaca harian yang diisi oleh
siswa setelah kegiatan GLS 0,055 4 0,22 2 0,11 2 0,11 6. Sekolah menyediakan sudut baca atau area
membaca untuk kegiatan GLS 0,064 4 0,256 2 0,128 4 0,256 7. Terdapat TIM GLS yang menunjang
keterlaksanaan kegiatan ini 0,067 4 0,268 4 0,268 4 0,268 8. Ketersedianya buku untuk pelaksanaan GLS yang
ada di sekolah? 0,068 4 0,272 2 0,136 4 0,272
Faktor Kelemahan
1. Kurangnya tenaga pendidik yang berkompoten
dalam melaksanakan kegiatan GLS 0,095 2 0,19 3 0,352 4 0,264 2. Siswa kurang antusias dalam mengikuti kegiatan
GLS 0,088 3 0,264 4 0,19 3 0,095
3. Belum ada kegiatan yang melibatkan publik dikalangan orang tua, alumni dan masyarakat sekitar dalam melaksanakan kegiatan GLS
0,095 3 0,285 2 0,304 1 0,152 4. Kurangnya waktu yang disediakan dari sekolah
untuk kegiatan GLS 0,076 1 0,076 4 0,264 2 0,352 5. Belum ada strategi yang digunakan untuk
meningkatkan mutu kegiatan GLS 0,088 3 0,264 3 0,192 4 0,192 6. Kegiatan GLS belum diikuti oleh berbagai tagihan
tugas, informasi dan keterkaitan dengan pelajaran. 0,096 4 0,384 2 0,128 2 0,192
Total 1,00 6,266 5,143 5,088
(Sumber: Data diolah)
Catatan: AS adalah “Skor Daya Tarik” yaitu 1 = tidak memiliki daya tarik, 2 = daya tariknya rendah, 3 = daya tarik sedang, 4 = daya tariknya tinggi. Sedangkan TAS adalah “Total Skor Daya Tarik” merupakan hasil perkalian antara bobot dengan AS.
Dari strategi altenatif matriks QSPM, dihasilkan nilai TAS tertinggi yaitu sebesar 6,266 adalah pada Strategi ST (strategi menggukanakan kekuatan (S) untuk mengatasi berbagai ancaman (T), sehingga strategi optimal yang sesuai digunakan adalah strategi yang cocok dengan kondisi internal maupun eksternal dan mendukung strategi Deversifikasi (perbedaan) yaitu memanfaatkan fasilitas dan lingkungan sekolah agar siswa lebih antusias dalam melaksanakan kegiatan GLS, mengundang alumni, orang tua dan masyarakat agar berpasrtisipasi dalam kegiatan GLS, dan tenaga pendidik berkewajiban untuk memahami GLS dengan beracuan pada buku panduan GLS.
PENUTUP
Strategi yang tepat untuk melaksanakan kegiatan GLS di SMPN 1 Batu adalah menggunakan strategi yang cocok dengan kondisi internal maupun eksternal dan mendukung strategi Deversifikasi (perbedaan) yaitu memanfaatkan fasilitas dan lingkungan sekolah agar siswa lebih antusias dalam melaksanakan kegiatan GLS, mengundang alumni, orang tua dan masyarakat agar berpasrtisipasi dalam kegiatan GLS, dan tenaga pendidik berkewajiban untuk memahami GLS dengan beracuan pada buku panduan GLS sehingga diperlukan beberapa solusi dalam penerapan GLS diantaranya adalah pihak sekolah sebaiknya menentukan waktu tambahan untuk
kegiatan GLS dan memaksimalkan kerja tim literasi serta
memberikan penghargaan kepada peserta didik dalam melaksanakan GLS, tenaga pendidik harus berpartispasi penuh dalam kegiatan GLS dan memasukkan dalam kegiatan pembelajaran serta mencari strategi untuk meningkatkan pemahaman memahami teks peserta didik, dan perlu adanya pelibatan-pelibatan publik dengan sekolah untuk membantu pelaksanaan GLS.
DAFTAR RUJUKAN
Beers, C. S., Beers, J. W., & Smith, J. O. 2009. A Principal’s Guide to Literacy Instruction . New York: Guilford Press.
David, Fred R, 2006, Manajemen Strategis , Edisi Sepuluh, Salemba Empat, Jakarta
Dirjen Pendidikan dasar dan menengah. 2016. Panduan Gerakan Literasi Sekolah untuk SMP. Jakarta : Kemendikbud.
Dirjen Pendidikan dasar dan menengah. 2016. Buku Saku Gerakan Literasi Sekolah. Jakarta : Kemendikbud. Donald, M. 1991. Origins of the modern mind: three
stages in the evolution of culture and cognition. Cambridge MA: Harvard University Press. Emzir. 2011. Metodologi Penelitian Kuantitatif dan
Kualitatif edisi revisi. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Hadi, S. 2009. Ringkasan Laporan Penelitian Model Trend Prestasi Siswa Berdasarkan Data PISA Tahun 2000, 2003 dan 2006. Jakarta: Pusat Penilaian Pendidikan Departemen Pendidikan Nasional.
Husamah, dan Yuni P. 2015. Analisis Kemampuan Literasi Sains pada Siswa SMP di Kota Malang. Prosiding Himpunan Evaluasi Pendidikan Indonesia. Malang.
Hariastuti, N.L.P. 2012. Perencanaan Manajemen Strategis dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan di Sekolah Menengah Atas Negeri. Prosiding Seminar Nasional Manajemen Teknologi. 43 (1). 1-10.
Islami, A. 2013. Berfikir Kreatif dalam Pemecahan dan Analisis Masalah. Jakarta: Pusdiklat PPSDM. Janjic;Watrich, Vera. 2009. “The cambridge handbook of
literacy” by Olson, D.R. & Torrance, R. (Eds).
Books Review. Journal of Educational Research, Winter, 55,4. Diunduh pada 2 Februari 2017. http://www.proquest/umi/pqd. Web.
Kintsch, W. & Kintsch, E. 2005. Comprehension. Dalam S.G. Paris & S.A. Stahl (Eds). Children’s Reading Comprehension and Assessment. Mahwah, NJ: Erlbaum.
Metrotvnews. (2016). Gerakan Literasi Sekolah. (online) diakses tanggal 20 Februari 2017.
Musfiroh, Tadkiroatun dan Beniati Listyorini. 2016. Jurnal Literat. Konstruk Kompetensi Literasi untuk Siswa Sekolah Dasar. Vol 15(1).
Moleong. 2006. Metodelogi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya
Muhana Gipayana. 2004. Jurnal Ilmu Pendidikan. Pengajaran Literasi dan Penilaian Portofolio dalam Konteks Pembelajaran Menulis di SD. Vol 11(1).
Park, Y. 2008. Patterns and predictors of elemnetary students’ reading performance: evidence from the data of the Progress in International Reading Literacy Study (PIRLS). ProQuest Dessertasion and Theses. Diunduh pada 2 Februari 2017. http://www.proquest/ umi/pqd.web
Pearce II, John dan Richard B. (2016). Manajemen Strategis Formulasi, Implementasi, dan Pengendalian. Jakarta: Salemba Empat.
PISA. 2010. Assesment Framework Key Competencies In Reading. Mathemathics, and Science. OECD. Poerwanti, Endang. 2013. Metodelogi Penelitian Modul
Minggu Pertama.
Poerwanti, Endang. 2013. Populasi dan Sampel, Modul Minggu Ketiga Pertemuan Kedua.
Stack, M. 2006. Testing, testing, real all about it: Canadian press coverage of the PISA result. Canadian Journal of Eduation 29,1 49-69.
Sugiono. 2015. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta.
UNESCO. 2007. Education for all by 2015: Will we make it? EFA global monitoring report 2008. UK: Oxford University Press.